Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2012

Menyalakan Tombol Kehidupan

Minggu,30 Des 2012, pada 17:08

DARI Sdr. RS.

[dzikrullah] Memerangi hawa nafsu

Assalamu alaikum,

Milist yang terhormat, sudilah kiranya membagi kiat-kiat untuk memerangi hawa nafsu berbuat maksiat.

Gagal dan selalu gagal, itulah yang selalu dialami ,,, berat sangat untuk menghadapinya. Selalu terjatuh dan menyesal setelahnya ,,, mohon pencerahannya sudah membuncah rasa penat di hati untuk menghadapi tapi tak kuasa menolak.

Wassalamu alaikum.

RS
——-

Alaikum salam Mas RS.

Insyaallah kegalauan mas RS ini akan saya coba urai benang merahnya dalam sebuah artikel yang berjudul: “Menyalakan Tombol Kehidupan”. Mohon bersabar ya mas. Tapi kalau ada sahabat lain yang mau berbagi kiatnya silahkan saja, monggo…

Yang pasti adalah bahwa kita tidak akan pernah bisa memerangi hawa nafsu kita. Karena hawa nafsu itu telah menjelma menjadi diri kita sendiri. Hawa nafsu itu telah menetap menjadi Maqam kita sendiri. Bagaimana bisa kita memerangi diri kita sendiri. Masak jeruk makan jeruk.

Lalu harusnya bagaimana?.

“Menyalakan Tombol Kehidupan”

Wassalam
Deka

Read Full Post »

Maaf akhirnya mencoba singkat menjadi sedemikian panjang. Namun ketika dituliskan juga menjadi sedemikian dangkalnya. Setiap orang mampu berkata dan menuliskan kalimat yang sama atau bahkan ratusan dan ribuan kali lebih baik dari ini.

Namun ketika memasuki hal (keadaan) rasa yang dimaksudkan ketika dialiri “daya” maka hanya yang mampu bersaksi saja yang bisa membaca ini. Seumpama bercerita tentang buah kelengkeng atau buah persimon maka hanya yang pernah merasakan. Atau seperti brotowali. Maka bagi yang pernah merasakan pahitnya saja yang mampu merasakan. Demikianlah rasa ketika dialiri oleh sebuah daya atau aliran rasa tahu. Sangat sederhana. Sayangnya ketika dituliskan menjadi sibuk. Berbelit dan tak terarah. Maka hanya cobalah dan ikuti serta nikmati rasanya. Rasa ketika dialiri dayaNya dalam keyakinan tentuNya.

Semua itu mampu kita dapatkan ketika sudah mengenal Sang Pembeda yang ada dalam jiwa. Banyak sekali istilahnya tentang itu. Padahal merujuk pada hal yang sama. Ya itu-itu saja. Dialah aku. Dialah dia. Dia si A, si B dan dia pula yang biasa dipanggil nama si fulan. Si Ib. Si Deka. Si anu. Dia memiliki satu bagian yang disebut “hati”. Dalam bagian ini sering terbolak-balik. Di bagian terkecil ada satu bagian yang disebut nurani. Atau hati nurani. Karena kecilnya disebut juga hati kecil atau dalam hati. Bisa juga disebut yang tahu. Aku yang tahu. Aku sejati. Sejatinya diri. Dan semua istilah yang membingungkan. Yang intinya ada suatu entitas. Karena jarang digunakan terpencil dan terpojok maka disebut saja menjadi hati kecil.

Demikianlah ketika sudah terbiasa menggunakan hati nurani ini maka sudah akan menjadi bagian terbesar dari hati. Atau hati besar. Yaitu hati yang terisi nurani. Hati yang berisi Dzat Tuhan. Hati yang berihsan.

Semoga.

Wah akhirnya ingin bercerita seolah menjadi “mengajari”. Saya mohon maaf karena saya yakin mas Deka jauh lebih tahu. Namun menjadi sangat sulit tanpa menuliskan ini.

Secara sederhana. Sebetulnya mudah. Kita mainkan alat musik kita. Kita nikmati dan rasakan keindahan iramanya. Maka kitapun tahu berada di rumah yang sama. Insya Allah.

Dan tentu saja saya ingin meminta maaf “seolah” saya ingin meninggikan diri saya sehingga berada pada posisi mas Deka. Padahal tidak. Saya hanya ingin membenarkan. Menjadi saksi atas rasa yang mas sampaikan itu saja. Atau justru mungkin saja saya di atas mas….ha…ha… Bercanda lho.

Demikianlah. Resonansi itu menguatkan jiwa saya.
Insya Allah akan dilanjutkan.

Deka:
Alhamdulillah, sampai di cilegon lagi, tadi itu saya nyetir sendiri mas, nyetir sambil mengulang suasana di cibubur. Salam

IB:
Terima kasih. Alhamdulillah sudah sampai. Ikut senang dan bersyukur dengan kabar pertemuan tersebut. Selamat. Salam.
Sekedar informasi. Renungan saya lanjutkan lewat email. Terima kasih. Wassalam.

Deka:
Saya membacanya mas insyaaallah akan saya upload ke blog saya, sambil saya mengamati sebuah daya baru tentang: “sungguh islamku nggak ada seujung jarum”.

IB:
Alhamdulillah. Saya hanya ikut mengalir saja. Mengikuti kalimat mas Deka dahulu. Kalimat tanya yang masih terus saya dalami dengan kesungguhan. “Bersediakah menerima Allah?”.

Lalu atau selanjutnya saya diperjalankan. Kadang mengerti tapi lebih sering tidak. Hanya mampu menikmatinya saja. Hanya bersyukur. Semakin bersyukur. Bertingkat dan bertambah syukur. Dan sekarang saya bersyukur karena saya mampu bersyukur. Bersyukur atas anugerah syukur itu sendiri.
Bersyukur tanpa merasa sedang bersyukur.
Rela tanpa merasa sedang rela.
Ikhlas tanpa merasa sedang ikhlas.
Terima kasih atas tumpangan bahtera perjalanan ini.
Perjalanan yang hanya nampak ketika kita sadar dan mau menikmatinya. Mengamati perjalanan itu sendiri. Salam. Selamat bekerja.
Wassalam
Deka & IB

Read Full Post »

IB:
Ada satu hal yang aneh dan luar biasa yang saya lakukan. Setiap membaca tulisan mas, setelah rasa itu mengendap maka saya lupakan semua tulisan dan semua isinya.
Tidak ada lagi tulisan mas Deka dalam diri saya. Karena saya adalah saya. Aku bukanlah Deka.

Demikianlah saya hanya menikmati rasa yang mas Deka sampaikan untuk menguatkan rasa dalam diri saya. Untuk resonansi. Menguatkan gelombang jiwa saya dan tidak mengubah gelombang jiwa saya menjadi gelombang jiwa Deka. Gelombang saya tetap irama seruling. Yang akan memiliki keunikan dan keindahan seruling. Yang memiliki kadar tertentu. Intensitas tertentu. Sebuah ketetapan yang mendahului. Dan demikian pula gelombang jiwa mas Deka yang saya misalkan dengan gelombang bunyi terompet yang memiliki kekuatan. Daya jangkau. Memiliki kadar ukuran dan ketetapan yang berbeda dengan seruling. Tetaplah menjadi nada terompet. Gelombang bunyi terompet dan bukan bunyi seruling. Masing-masing berada dalam ukuran dan ketetapan yang mendahului. Sebuah sunatullah.

Demikianlah setiap membaca satu tulisan maka tulisan itupun saya lupakan total. Saya simpan. Saya kunci dalam kotak. Kuncinya saya buang. Namun anehnya kapan saya perlukan seolah ada saja yang mengantarkan kunci itu dan mempersilahkan membuka kotak itu dan membaca ulang pelajaran itu kembali.

Demikian resonansi kita. Tentu saja disamping dengan mas sayapun melakukan resonansi dengan sahabat seperjalanan dengan yang lain. Namun sangat sulit untuk ber resonansi dan selaras. Hanya dengan beberapa yang bisa selaras. Sekali lagi itu bukan karena saya namun karena Allah. Karena sebuah rencana yang mendahului.

Aliran rasa tahu (ilham) atau aliran informasi yang mampu menjadi rasa. Demikian kata sederhana mas. Namun untuk memahami atau menyadari kalimat yang sangat mudah ini saya sudah jatuh bangun. Dalam belitan beribu rasa. Merintih. Menangis. Tersiksa. Menderita. Rasa ingin mati. Namun juga sebaliknya sedemikian indah berbunga. Menarik. Nikmat. Mempesona. Membahagiakan. Tiada kata yang tepat untuk menjelaskan ini. Dan maaf sayapun tidak mampu menjelaskan secara sederhana. Kata sederhana aliran rasa tahu ini ketika dijelaskan akan memerlukan jutaan kitab.

Dan tidak lagi saya jelaskan aliran itu. Karena benar-benar dialirkan. Saya sadar dan dialiri rasa itu. Saya tidur dan rasa itu hilang. Suatu saat nanti saya pikun maka berhenti pula aliran itu. Demikian pula saat saya lupa. Dan akhirnya saatnya nanti saya mati. Rasa tahu itupun akan berhenti.

Namun aliran “tahu” yang membentuk pengetahuan ini akan terus dialirkan kepada para penerus kita. Dan demikianlah sebagian tugas kita. Yaitu sebagai alat (media) Allah untuk sebagai alat estafet. Penyampai. Penerus bagi aliran rasa tahu ini. Semoga aliran yang kita alirkan dan teruskan adalah jalan lurus. Atau ilham kebaikan. Karena baik ilham kebaikan atau keburukan ini akan terus dialirkan sepanjang peradaban manusia. Manusia memiliki kesadaran dan tugas kita adalah mengalirkan pengetahuan atau petunjuk “pembeda”. Yaitu yang membedakan. Yang membedakan dua buah jalan. Agar manusia menetapkan pilihan atau jalan yang akan dipilihnya. Kita hanyalah menunjukkan jalan itu dan agar mengalirkan rasa itu kepada yang lain sehingga merekapun memiliki referensi atau pembanding. Dalam setiap masa diperlukan pembanding rasa agar kita mampu “membedakan”. Tanpa referensi pembanding ini tidaklah mungkin kita mampu memilih.

Tanpa yang dingin maka tidaklah ada rasa panas. Tanpa yang gelap maka tidak ada yang terang. Tanpa keburukan maka tidak ada kebaikan. Dualitas. Keberpasangan. Kita yang seharusnya mampu menjadi pertengahan. Sang Pembanding. Tolok ukur. Referensi. Yang membedakan.

Sehingga tentu saja mampu berada dimana saja karena mampu mengenal hakekat rasa. Dan tidak terpengaruh. Berada di dalamnya dan diluar. Meliputi dan diliputi. Mampu membedakan. Karena telah ada Sang Pembeda (Furqon) di dalam jiwa. Karena ayat-ayatnya ada dalam rasa di jiwa. Telah mampu membedakan rasa iman, sabar, khusyu, takwa ddan sebagainya sebagaimana mampu membedakan senang sedih kecewa marah benci dan cinta. Mampu membedakan rasa munafik, rasa terhijab. Rasa fasik. Atau rasa lain dari yang dijelaskan didalam Al Quran. Inilah ketika kita mampu mengenal diri sendiri.

Ketika mampu mengenal diri maka mulailah mengenal Islam. Yaitu mengenal fitrah mengenal kesederhanaan agama atau jalan hidup. Mengenal sesuatu yang menghidupkan. Ibarat mengenal “makanan”. Fitrah manusia adalah makan dan minum. Tanpa ini maka kita akan mati. Agama dikembangkan sesuai kebutuhan raga atas jenis makanan. Makan yang menyehatkan. Itulah makanan jiwa atau agama. Sebuah kebutuhan dasar (fitrah) setiap manusia. Jenis makanan berkembang dari waktu ke waktu dari tempat ke tempat. Aturan dan jenis makananpun telah menjadi ilmu dan peradaban sendiri bagi umat manusia. Demikianlah agama. Demikianlah pengelompokan agama telah mengikuti waktu dan tempat. Mengikuti kondisi dan masa. makanan yang menyehatkan dan lezat. Demikianlah seharusnya agama itu. Maka mendebatkan jenis makanan adalah tiada guna. Memaksakan satu jenis makanan juga tiada guna.

Maka hanya memberikan referensi tentang jenis aturan dan cara memasak. Memberikan referensi tentang gunanya dan segala seluk beluk makanan dan minuman. Agar mau “merasakan”. Demikianlah mengenal diri maka akan mampu mengenal fitrah jiwa yang mampu mengenali “makanan jiwa”. Semua makanan yang menghidupkan jiwa disebut Islam. Orang yang mampu menikmati makanan jiwa akan dialirkan rasa nikmat. Orang tersebut diberi nikmat rasa.

Orang yang telah mampu mengenali fitrah makanan jiwa akan mampu mengenali sang pemilik jiwa. Yang menghidupkan jiwa. Yang mengalirkan rasa. Maka diapun pasti akan mengenali Tuhannya. Orang tersebut disebut orang beriman. Yaitu yang selalu dialiri rasa nikmat makanan jiwa (makanan jiwa itu disebut fitrah/islam).

Kondisi yang terus menerus mampu bertemu Tuhan. Atau melihat Tuhan dalam kesadarannya akan menimbulkan ketenangan. Jiwa yang tenang. Mampu harmoni melihat keadaan di sekitar. Di semua ciptaan Tuhan. Berada dan menyatu dengan alam. Jiwa mengapung dalam kesadaran alam semesta. Dialiri oleh rasa tahu. Dialiri oleh energy alam. Menjadi bagian dari alam. Mampu “merasakan” dzikir atau gerak alam. Mampu merasakan keberadaan Tuhan dalam setiap bagian di seluruh ufuk dan penjuru alam semesta. Maka mampu menjadi saksi akan keberadaan Sang Pencipta. Dan mampu pula merasakan orang yang menjadi saksi dalam sebuah persaksian yang sama yaitu syahadat.

Demikian memasuki fitrah atau Islam. Diliputi Ihsan. Menjaga keyakinan atau iman.

Wassalam
Deka & IB

Read Full Post »

IB:
Rasa diberi izin. Rasa tahu yang dialirkan. Rasa demikian itu ketika dibicarakan sangat sederhana. Mudah. Semua orang bisa berbicara. Sedemikian wajar. Namun jujur untuk menjadi sebuah keyakinan yang membumi memerlukan keteguhan yang sungguh-sungguh. Memerlukan keseriusan yang luar biasa. Ada berapa di antara kita yang mau dan mampu?.

Perjuangan sehingga mendapatkan rasa tersebut berada antara jiwa dan raga. Antara gaib dan realitas. Itulah peperangan dalam jiwa. Seolah raga tidak berbuat apa-apa namun jiwa yang berpacu bagai kuda perang dalam makrifat. Namun sepertinya justru sebaliknya jiwa tidak berbuat apa -apa hanya menyerah kepada Allah justru raga yang ngotot dan bersungguh menjalankan syariat seperti pengendara atau pengendali kuda perang yang berlari kencang diantara barisan musuh (hawa nafsu).

Sungguh untuk mendapatkan sang pembeda (furqon) dalam jiwa yang mampu diamati dalam bentuk “aliran kesadaran” atau aliran rasa tahu adalah sebuah anugerah dan rahmat dari Tuhan. Terutama bagi diri saya. Sebuah hal yang tidak masuk akal dan logika bagi kemampuan atau sebuah realitas atas keterbatasan ilmu atau atas usaha dan amal yang sangat minim. Sehingga tidak mungkin mampu menjadi sebuah keyakinan yang kuat atas sebuah aliran rasa tahu (ilham). Dan menjadi sebuah hikmah. Menjadi sebentuk kebijaksanaan dalam diri. Rasanya tidak mungkin diri ini mendapatkan itu sesuai kemampuan yang ada. Maka sungguh sebuah nikmat namun juga sebuah cobaan atau ujian yang besar.

Agar menjadi semakin bersyukur atau justru menjadi sombong. Ketika aliran rasa tahu ini dialirkan sepertinya “pintu gaib” terbuka dan seolah mampu mengintip “dimensi gaib”. Suatu keadaan gelombang dan juga energy atau bahkan potensi energy dalam bentuk informasi yang dialirkan yaitu berbentuk ilham atau “membaca simbol alam”. Walaupun sedikit namun menimbulkan ego yang tak terbendung yaitu “rasa mengaku” atau rasa lebih. Atau rasa memiliki. Atau kasarnya lebih berilmu. Lebih hebat atau lebih suci. Atau lebih dekat dengan Tuhan. Atau lebih tepatnya menjadi sebuah “kesombongan”. Aku memiliki sesuatu kelebihan. Demikianlah rasa ini menjebak perlahan ke dalam jiwa seperti belitan benang laba-laba yang kuat mengikat.

Deka:
Saya baru saja selesai acara di cibubur dengan pak h slamet oetomo mas. Acara sejak sabtu pagi ssampai dengan barusan. Nanti saya share dengan mas IB 🙂 lanjut dulu mas, saya nyimak

IB:
Oke. Terima kasih. Selamat. Saya ikut senang dan bahagia mendengarnya. Bersyukur. 🙂 .
Menyimak perjalanan komunikasi kita atau resonansi gelombang jiwa kita maka sungguh aneh dan luar biasa.
Seolah nyata tapi juga sangat gaib. Sepertinya teramat sangat biasa namun juga seolah sangat luar biasa. Sepertinya kebetulan semata tetapi seperti sebuah rencana yang tersusun rapi. Saya hanya bingung. Terpana dan terdiam dan terdiam dalam rasa tunduk dan ketidak tahuan.
Namun demikianlah secara nampak mata biasa dan demikianlah secara nampak mata hati yang membentuk sebuah keyakinan.
Seperti sebuah gelombang bunyi yang saya mainkan dalam irama seruling yang memadu dengan gelombang bunyi dari irama terompet yang tengah mas Deka alunkan. Sedikit demi sedikit memandu saya bermain seruling. Irama seruling yang lemah dan sumbang semakin lama semakin kuat dan teguh. Semakin lembut dan harmoni dalam irama alam. Dalam simpony alam. Demikianlah rasa dalam mengalunkan gelombang bunyi seruling saya menjadi sebuah simbol dari posisi jiwa saya.
Apakah mas Deka juga merasakan. Tentu saja hanya mas yang tahu dan bisa menjelaskan dan urusan dengan Tuhan. Urusan saya adalah urusan pribadi dengan Tuhan terasa sangat privacy. Namun saya tahu ketika nada bermain musik itu terasa selaras.

Ketika mas Deka menyampaikan hal baru. Atau irama baru atau nada musik baru seolah saya sudah sangat mengenal lagu baru tersebut. Seolah nada itu sudah dialirkan kedalam diri saya. Hanya perlu membaca. Rasa itu telah dialirkan. Rasa tahu itu ada. Namun apakah sebetulnya lagu baru?. Lucu sebetulnya karena kenyataannya justru sebaliknya. Justru lagu yang sangat lama. Justru nada dasar dan nada alami. Nada yang sama yang disampaikan Tuhan kepada para Nabi dan Rasul. Nada yang sama yang dialirkan kepada pada orang yang shaleh. Orang yang diberi nikmat. Bukan ilmu yang baru. Justru ilmu usang dan ilmu yang sangat lama. Ilmu yang telah dilupakan sebagian besar orang.
Justru tidak menggali ilmu baru. Sama sekali tidak justru sebuah hal kuno dan teramat kuno. Ribuan tahun lalu rasa ini dialirkan dan akan terus dialirkan kepada manusia yang rela.

Deka:
Saya mulai merasakan bibit keselarasan itu saat membaca kiriman tulisan mas IB ramadhan yang lalu

IB:
Demikian pula saya mas. Terasa sekali. Seperti sering saya sampaikan. Seolah kalau saya ingin menuliskan maka seperti itulah. Namun tulisan mas jauh lebih pas. Lebih lengkap. Lebih mengena dan lebih sesuai. Karena memang melalui saluran yang tepat.

Wassalam
Deka & IB

Read Full Post »

IB:
Rasa atau dorongan rasa sudah ingin menulis. Terasa sudah di ujung jari. Namun ada sesuatu dalam diri yang sadar. Ada “hawa” nafs yang sedang meliputi. Maka seperti melarang atau menyuruh menunda untuk menuliskannya. Sekarang hanya kembali untuk diam dahulu dalam lindungan atau liputan dzikir surah An-Nas agar Allah membebaskan diri dan jiwaku dari hawa yang menimbulkan was-was. Maka tulisan kali ini hanya menyampaikan dan mohon maaf. Mungkin nanti malam atau mungkin besok atau mungkin juga minggu depan disambung. Insya Allah. Sementara tafakur dalam diam. Allah meliputi.

Deka:
Persis mas IB. Begitulah licinnya hawa nafsu kita. Dia selalu mencari kesempatan untuk nongol kedepan 😀
Alhamdulillah, mas IB sdh dipahamkan untuk membedakan mana dorongan yang berasala dari hawa nafsu, dan mana yang murni ilham.

IB:
Terima kasih. Begitulah. Sederhana. Hanya yakin berdasarkan tanda-tanda “rasa” di hati. Adanya rasa tertentu ketika hadir maka langsung mengenalnya. Sepertinya seolah mengenal rasa jeruk. Maka bercampur dengan rasa apapun masih dengan mudah mengenali. Tentu saja ini hanya sebuah keyakinan semata. Namun lebih baik diikuti. Berdasarkan pengalaman lho.
Karena sebelum terjadi sesuatu selalu atau seringkali diberikan rasa. Jadi tidak kaget. Hanya perlu bersiap ketika saat itu terjadi. Bersiap untuk kaget. Bersiap sedih. Bersiap atas pemberian rasa sebelumnya.

Deka:
yap, itu yang banyak kita langgar selama ini, makanya kita jadi sombong luarbiasa. Astagfirulllah

IB:
Betul. Mencoba melepas ego. Mengedepankan Allah saja.
Ketika hawa (ego) menguasai. Kita diam. Mohon pertolongan Allah.
Sehingga hanya menjadi alat (media) Allah saja. Menjadi penaNya atau apa saja.

Deka:
Rasanya seperti diberi izin gitu:)
Ada rasa tahu dulu ya dialirkan, lalu hawa nafsu kita buru buru ingin mengakui rasa tahu itu sebagai milik kita.
Kemudian ada rasa bangga yang mengalir sehingga kita ingin melakukan sesuatu.
Kalau saat itu kita segera melakukannya, walau pekerjaan itu baik sekalipun. Tetap yang menang adalah hawa nafsu kita
Tugas kita hanyalah seperti seorang seniman yang meletakkan matahari pada tempatnya sehingga kita hanya menjadi saksi kegembiraan kupu kupu beterbangan melintasi cahaya.
Untuk itu kita hanya butuh satu rasa lagi, rasa diberi izin.

IB:
Alhamdulillah. Tepat sekali gambaran itu.
IB: 🙂

Deka:
Saya jumatan dulu mas, salam

IB:
Silahkan. 🙂 . Saya juga.
Wassalam
Deka & IB

Read Full Post »

IB:
Alhamdulillah. Tulisannya sudah selesai di upload semua. Semua ada banyak yang mampu merasakan sebagaimana yang mas Deka rasakan. Seperti balasan saya pertama membaca tulisan di awal. Saya hanya diam. Membaca diam-diam. Lalu saya lupakan semua isinya. Namun saya nikmati rasanya. Kemudian saya cari dalam bahasa yang ada di dalam diri saya padanan perumpamaannya. Ternyata sepertinya semakin menguatkan dan meyakinan. Menjadi sebuah resonansi gelombang. Lalu perlahan terasa ada daya yang mulai mengalir dan memaksa atau meminta saya menuliskan lagi. Artinya saya diminta untuk menuliskan pengalaman atas kejadian resonansi. Sebuah kisah pengalaman atau pengajaran Allah dalam bentuk resonansi ini. Kisah ini terutama untuk mas Deka dan juga bagi siapa saja yang mengalami resonansi ini. Baik yang masih ataupun yang sudah pernah. Sebuah kisah perjalanan yang aneh. Kisah perjalanan dua buah jiwa yang membentuk gelombang cahaya ber resonansi saling menguatkan. Daya untuk menulis itu sudah ada dan akan mulai saya tuliskan dan hanya saya kirimkan untuk mas Deka. Silahkan di upload apabila berkenan. Siapa tahu ada sebagian yang bisa mengambil hikmah pelajaran atas kisah yang sebenarnya terjadi ini. Sebuah kisah sederhana. Kisah resonansi gelombang jiwa: memetik hikmah pelajaran.
Bisa pula dianggap sebagai point atau resume atas resonansi. Bisa pula sebagai catatan perjalanan dan bisa bila sebagai sebuah hikmah. Apapun itu mencatat sebuah pelajaran adalah sebuah keharusan.

Deka:
Menyimak mas:)

IB:
Wah… Mas Deka membuat saya rikuh dan malu nih. Seolah atau seperti saya yang mengajari. Ha…ha…ha.

Deka:
Ha ha ha, lanjut mas,

IB:
Padahal masih teringat beberapa tahun saat kita mulai berkenalan. Atau saya mengenal mas Deka. Bisa dianggap lama namun bisa pula sangat singkat. Dalam hitungan tahun masih dalam sebelah jari tangan. Sebentar sekali. Awalnya…ya awalnya… Melihat atau membayangkan mas Deka seperti melihat “mercu suar” atau melihat “menara gading”. Atau melihat burung yang terbang jauh tinggi di awan. Hanya ada dalam angan. Mungkinkah menjadi seperti itu?.

Mungkin demikian pula apa yang terlintas dari sebagian orang yang membaca tulisan mas. Andaikata sudah mencapai seperti itu. Andai sudah merasakan seperti itu. Andai dan beribu andai. Lalu seolah dengan membaca dan memahami tulisan mas maka ingin memakai jubah mas Deka untuk badan sendiri. Ya pastinya kedodoran. Tidak nyaman. Tidak enak. Kurang sreg rasanya.

Nah diawal itulah mas Deka mulai menempatkan posisi saya dalam bahasa yang lugas dan sederhana yaitu “resonansi”.

Sebuah hal yang berlebihan dan terlalu mengangkat tinggi diri saya sebetulnya. Namun saya terima dengan syukur. Bagaimana tidak. Dengan pengalaman mas Deka. Ilmu dan pemahaman. Mau ber resonansi dengan saya yang awam. Tidak bisa apa-apa. Tidak mengerti apapun. Hanya bermodal satu “iqro”. Melihat. Mengamati. Observasi. Membaca. Menilai. Merasakan. Ya sebuah proses belajar seorang anak kecil yang tanpa bertanya. Hanya meniru. Berusaha melakukan dengan serius.

Tidak mudah tentunya ibarat gelombang maka frekuensi saya sangat tinggi dan tidak menentu. Naik turun dengan cepat. Dan intensitasnya sangat kecil. Bayangkan seperti gelombang bunyi yang ditimbulkan oleh irama seruling orang yang sedang belajar. Naik turun menyakitkan dan suaranya lemah dan sumbang. Sedangkan mas Deka ibarat seorang yang akhli bermain terompet. Yang mahir dan iramanya sangat harmoni. Nadanya indah dan menyenangkan. Banyak mengenal nada dan lagu serta improvisasi.

Sebaliknya suara seruling saya buruk sumbang lemah dan tidak teratur namun saya mampu memainkan dengan sepenuh jiwa dan perasaan. Walaupun sering tidak enak. Namun bagi pendengaran mas Deka mampu menangkap gejolak murni perasaan saat memainkannya.

Nah demikianlah akhirnya sebuah resonansi bermain musik untuk menyelaraskan irama seruling dan terompetpun terjadi. Agar mampu harmoni. Saling menguatkan. Saling mengisi. Saling menutup kekurangan. Tentu saja masih banyak yang bisa masuk ke dalam syimphony ini. Yang memakai gitar. Yang membawa bass atau drum atau yang membawa suling atau terompetpun silahkan.

Karena nada yang dimainkan adalah nada harmoni dengan alam. Maka semakin bermain semakin harmonis.

Deka:
Ha ha ha, perumpamaannya menarik juga mas

IB:
Betul kok…. Sederhana. Bahasa perumpamaan lebih mudah dan mengena.

Deka:
Perumpamaan adalah bahasa bumi, ya ya ya… Membumikan bahasa langit

IB:
Makanya leluhur kita memberi petuah dalam peribahasa dan perumpamaan atau ibarat. Dan Al Quran itupun penuh dengan perumpamaan.
Tanpa perumpamaan. Sangat sulit menjelaskan. Bahasa sangat terbatas ketika berbicara “rasa”.
Oke. Nanti dilanjut lagi. Salam:)

Deka:
Oke, mas
Wassalam
Deka & IB

Read Full Post »

Terasa kesejukan menjalari seluruh tubuh
terasa kedamaian menyusuri setiap bagian tubuh
membaca kata demi kata
mengikuti ayunan kalimat demi kalimat
mengayun, membuai, menyusur
mengendap, lalu mengayun lalu
tenang, mengalir dalam kedamaian
dalam kepasrahan, dalam gerak melentur
mengikuti ayunan dan bergetar dalam getaran yang lembut
sedemikian lembutnya sampai tak terasa
namun sedemian kuat rasa yang ditimbulkannya
seolah hanya inilah yang bergetar
mengikuti irama dan makna yang disampaikan
takjub
…diam

terpesona

lalu
seolah “sang aku pun”
berkelana dengan fikiranku
sang fikiranpun lalu mengaku-aku
“aku merasakan pula apa yang diceritakan ini”
akupun mengalaminya, aku merasakannya
lalu “sang akupun” mulai menaksir dan membandingkannya
apakah rasa yang kurasakan sama dengan yang dia rasakan
lalu sang akupun mulai mengaku-aku
aku merasa lebih “merasakan”
rasa yang kurasakan lebih kuat, lebih bermakna dan lebih hebat

lebih lanjut lagi, aku mulai merasa tinggi dan besar
aku lebih hebat, aku lebih baik, aku lebih dekat

dengan sangat lembut, sedemikian lembutnya
sang aku mulai memakai “baju kebesaran kesombongan”

ternyata demikian pula ujungnya ketika sang aku yang mengaku
maka hanya dengan “menyerah” dan sebenar menyerah
yang akan tak lagi mengaku-aku
dalam sebuah istilah nan indah “ikhlas”
maka diri ini tak akan lagi “mengaku”

mulai melayang bersama daya yang tak diaku lagi
mulai menikmati rasa yang tak lagi diaku

apapun rasa yang ada
apapun yang terjadi
apapun yang dirasa
semua dalam sebuah keyakinan kuat: Dari Allah, bersama Allah
Sesungguhnya sholahku, hidupku dan matiku
adalah kepunyaan Allah

maka mengalirlah sang nafas
dalam sebuah aliran sederhana, mengikuti hukum-hukum yang meliputinya
ketika berada di alam materi: Maka sang nafaspun
bergerak menjadi oksigen dan berputar dalam siklus oksigen
yang terikat di dalam air (H20), yang terbang di dalam bentuk uap air
dan berubah bentuk dalam bentuk gas O2
berpindah dari satu makhluk ke makluk lain
maka nafasku adalah nafas alam
nafasku tergantung tumbuhan yang mengeluarkan oksigen

dan nafasku berpindah dari satu manusia ke manusia lain
dan nafasku berkelana menuju alam semesta

aku hanya sadar mengamati sang nafasku yang terus berputar
dalam sebuah “ketetapan yang mendahului”
– Kuperhatikan nafasku
• Diam…
• Pikiranku ikut diam.
• Perasaanku ikut tenang.
• Akupun ikut diam…
• Diam…
• Diam untuk menyerah…
• Menyerah kepada Sang Maha Diam.
• Menyerah untuk DIPENUHI…
• Dipenuhi oleh rasa bahagia yang amat sangat…
• Bahagia diatas bahagia…
• Bahagia diatas segala rasa bahagia yang pernah ada.

Mulai aku mengamati diamku
aku diam dan terus diam dalam sebuah “ketetapan yang mendahului”
ternyata nafasku telah ada dalam sebuah ikatan
dalam sebuah ketentuan, dalam sebuah ukuran
dan akupun harus rela dan harus patuh dalam ukuran tersebut
suka tidak suka, mau tidak mau ukuran itu dalam batasan bagi nafasku

aku dibatasi oleh gerak, aku dibatasi oleh ukuran
aku dibatasi oleh keadaan, aku dibatasi oleh lingkungan

maka akupun ingin menjelasakan dalam sebuah permisalan sederhana
ukuran dan ketetapanku, seandainya saja aku hanyalah sebuah pohon

pohon yang memiliki gerak terbatas,
dia hanya tumbuh membesar dan meninggi
dia harus kuat mencengkeram bumi (akarnya), menghisap energy (daya) bumi
dia harus terus naik dan naik agar mendapatkan cahaya matahari (cahaya langit)

demikianlah nafs-ku, satu sisinya (sisi dalamnya)
yang harus semakin kuat mencengkeram dan menghisap bumi dan unsur-unsurnya
semakin dalam dan semakin dalam dan semakin kuat menghujam bumi

dan sisi luarnya adalah daun-daun yang merimbum
yang semakin lebat untuk menghirup cahaya langit
untuk menumbuhkan batangku semakin tinggi dan semakin tinggi

semoga mampu tumbuh agar mampu menghasilkan bunga nan indah
agar bisa menumbuhkan buah-buahkan yang lezat dan ranum
bukan untukku, tentunya, karena aku tak memerlukan itu
namun untuk yang sadar dan mengerti manfaatku
kupersembahkan bagi siapapun yang mengerti gunaku

demikianlah nafs
dia tergantung kesadaranmu mengenalinya
dia tergantung keyakinanmu memaknainya
dia tergantung ilmu dan pemahamanmu
dia berada di alam “materi” dan menjadi materi bersama unsur bumi lainnya
dan tentu saja mengikuti Hukum-hukum materi yang meliputinya
dia menjadi gelombang dan tentu saja berada di alam materi
yang akan nampak sebagai gelombang dan mengikuti Hukum-hukum gelombang

dan diapun menjadi energy
dan mampu berada dalam gerak perputaran energy
berpindah dari energy potensi menjadi energy gerak
terus bergerak dan berpindah mengikuti sebuah kehendak yang mendahului

maka demikianlah nafs
menjadi sederhana dengans ebuah contoh yang mampu kita amati sehari-hari
nafs adalah raga, sedangkan sebagian besar unsur dari raga adalah air
maka nafs adalah air di dalam diri, air yang murni yang mengisi ketubuhan
yang akan mengalir menuju alam semesta, air yang sama yang menuju perputaran air
bersama perputaran air di alam semesta ini, karena itulah air kehidupan
air yang tergantung keadaan alam, yang mampu berubah bentuk
mengikuti perubahan suhu di alam raya ini
ketika dingin maka air akan membeku dan mengeras
namun akan menguap menjadi uap ketika dipanaskan
dan akan terurai menjadi atom Oksigen dan Hidrogen

atom Oksigen tak akan mampu melepaskan diri dari atmosfer bumi
karena dialah nafas, nafas bumi, dialah unsur bumi
gerak perputaran Oksigen di bumi yang terus bergerak dan berputar dan berpindah

kalau terus dipanaskan maka atom Hidrogen akan lepas membentuk cahaya
yang akan mampu menembus alam semesta, sebagai cahaya alam

demikianlah perumpamaan nafs, di alam manapun dia akan bermakna
dalam makna yang berbeda, dalam dimesni energy
maka gerak adalah perubahan energy, perpindahan potensi ada dan tiada

dan sang aku: Hanya pasrah menyerah
seumpama sebuah pohon
dalam sebuah gerak aktif, yaitu “tumbuh dan hidup” mengikuti gerak hidup
akarku akan menembus bumi, terus mencari unsur-unsur bumi
memanfaatkannya dalam perputaran Oksigen (gerak-hidup)
yaitu menyerap energy dari cahaya langit

naik dan naik terus ke langit mencari rahmat dan karunia Allah
yang terus dicurahkan dari langit berupa cahaya-cahaya Allah (matahari dll)

dan akar nafasku terus menghujam bumi, kuat berakar, menyerap semua unsur bumi
menyerap energy bumi, menyerap “api” bumi untuk sumber kehidupan

Maka gerak naik akan diikuti gerak turun menembus bumi
merasakan kenikmatan bumi, apa saja yang disajikan oleh bumi
untuk terus dinikmati dan diserap

gerak nafs, naik menyerap cahaya langit menggapai rahmat Allah
gerak nafs, turun menembus bumi, menyerap dan dalam sebuah daya nikmat, nikmat Allah

mengalun dalam gerak kehidupan

indahnya hidup.
bersama Allah

Wassalam
Deka on behalf Mas IB

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: