Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2019

Wasiat Arif Billah

Anakku yang dikasihi. Loh Mahfuz ibarat sebuah Jigsaw Puzzle (Sebuah Susunan potongan-potongan gambar) yang besar. Maka semua ciptaan termasuk Ruang dan Masa adalah potongan-potongan gambar yang disusun memenuhi dan menjadi sebuah gambaran yang besar lagi lengkap. Gambaran yang lengkap itulah Loh Mahfuz. Sesuai dengan firmanNya bahwa Ketetapan atau RencanaNya adalah tetap dan teguh karena tidak satupun dilupakanNya. Seperti kita melihat sebuah Jigsaw Puzzle yang padat, lengkap lagi sempurna.

 

Kalau kesemua ciptaan adalah potongan-potongan gambar yang tersusun padat dalam Loh Mahfuz, ini berarti kesemua fisikal Kita (potongan-potongan gambar) adalah termelekat ke Loh Mahfuz. Karena Loh Mahfuz adalah 12 biliun tahun luasnya maka potongan-potongan gambar yang melekat dalam sesuatu petak masa tidak dapat beralih ke petak masa yang lain. Ini adalah karena bukan saja ia (potongan gambar) melekat ke petak masanya, tetapi juga potongannya tidak dapat “fit” (menyeyuai) ke dalam petak masa yang lain. Justeru itu, potongan gambar dalam petak satu tidak bisa “fit” dirinya dalam petak enam.

 

Kefahaman ini membuat Kita sadar bawa yang bisa miraj dari satu petak masa kepada satu petak masa yang lain, iaitu petak masa ke 3 (Masa miraj) pergi ke petak masa ke 6 (Gambaran ahli Syurga & Neraka), mestilah sesuatu yang tidak terikat kepada petak-petak masa yang luas itu.

 

Oleh karena itu, yang miraj adalah dijalani oleh MALAIKAT dan JIWA RASULULLAH, yang tidak terikat kepada Masa. Dengan ini jelaslah bahwa Jiwa Rasulullah saw yang miraj bukan Jasad baginda. Karena itu, Siti Aisyah rdh berkata bahwa tempat duduk Rasulullah saw masih terasa panas apabila baginda pulang sahaja dari miraj. Ini berarti jasad baginda tidak ikut bersama.

 

Semoga anakku dapat memfaat dari apa yang Ayah sampaikan, aamin Ya Rabbil alamin!

Iklan

Read Full Post »

Anakku yang disayangi. Maka ada sahabat bertanya kepada Rasulullah saw bahwa kalau semua sudah tersirat dalam Loh Mahfuz maka bukankah lebih baik Kita hidup berpeluk tangan sahaja. Maka Rasulullah saw bersabda jangan berbuat begitu tetapi hendaklah Kita hidup seperti biasa.

 

Hidup seperti biasa maknanya kalau lapar, makan (jangan tidak makan), kalau haus, minum (jangan tidak minum), kalau mau pandai, belajar (jangan tidak belajar), kalau sakit, jumpa dokter (jangan tidak pergi), kalau anak jahat, nasihatkan (jangan tidak nasihat), kalau mahu dikasari atau mahu diperkosai atau dicopet, lawan (jangan tidak lawan) dan kalau berkerja atau berusaha, hendaklah bersungguh-sungguh (jangan tidak bersungguh-sungguh).

 

Itulah maksudnya hidup seperti biasa.

 

Namun bagi yang sudah makrifat, walaupun Hidup macam biasa yang maksudnya adalah seperti yang sudah diterangkan diatas, namun dari sudut kacamata mereka (yang sudah makrifat) berbeda. Karena dalam pandangan mereka:

  1. Ciptaan tidak wujud. Karena kedua-dua pelaku tidak wujud.
  2. Kedua-dua pelaku itu adalah sebenarnya DzatNya.

 

Sesuai dengan firmanNya bahwa bukan Muhammad yang membunuh tetapi yang membunuh adalah (Dzat)Ku.

 

Anakku, sebenarnya apa yang berlaku di antara pelaku-pelaku itu adalah suatu Ujian Ilahi untuk mempastikan Kalian masih ingat kedua-dua prinsip bahwa (i) kalian tidak wujud, dan (ii) yang berlakon adalah DzatNya.

 

Oleh karena itu, sekiranya Kalian berkata bahwa anak saya jahat maka saya mesti menasihatinya, atau saya sakit tak kan saya tidak mau pergi jumpa dokter. Maka dengan itu, Kalian sudah gagal dalam ujian Allah swt. Karena Kalian sudah kembali buta semula. Sesuai dengan firmanNya bahwa jangan kamu kata kamu sudah beriman sebelum kamu diuji oleh Ku.

 

Anakku jangan sekali-kali kamu lupa akan firmanNya bahwa Dialah Yang Zahir dan Dialah Yang Batin. Justeru itu hanya ada satu wujud iaitu Dzat (ciptaan)Nya yang Halus lagi Meliputi semua termasuk Ruang dan Masa.

 

Semoga anakku yang dirindui dapat sematkan pengajian di atas ini dalam diri kalian supaya Kalian, Insya-Allah, tidak akan gagal apabila datang ujianNya, aamin Ya Rabbil alamin!

 

Anakku yang dirindui.  Sesudah kedua-dua prinsip (Ciptaan tidak wujud dan yang wujud ialah Dzat) ini sudah bermastautin (berkekalan) di dalam diri Kalian, oleh karena itu di mana sahaja Kalian memandang, Kalian akan saksikan DzatNya bersandiwara mengikut rentak Loh Mahfuz. Sesuai dengan firmanNya bahwa hidup di dunia ini hanyalah senda gurauan dan main-main.

 

Maka apa yang Kalian saksikan adalah Rahasia Ilahi yang hanya bisa dilihat oleh Kalian yang sudah makrifat karena Mata Kalian sudah tajam, tidak buta seperti dahulu. Justeru ramai yang menangis apabila menyadari Rahasia atau Kebenaran ini.

 

Sesudah mengetahui akan Rahasia ataupun Kebenaran ini maka apakah mesti Kalian buat?

 

Jawapannya ialah hendaklah KALIAN BANYAK DIAM. Seperti Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata bahwa kalau Ibadah itu 10 maka 9 adalah diam.

 

Anakku yang disayangi. Kenapa mesti Kalian diam dan tidak menjejeh (memperkatakan) akan Rahasia ini?.

 

Karena anakku kalian sudah berpegang kepada dua prinsip dan prinsip yang pertama ialah (i) Kalian tidak wujud. Justeru kalau Kalian tidak wujud maka bagaimana Kalian bisa berkata-kata? Karena kalau Kalian buat begitu maka Kalian sudah wujud sekali lagi. Dengan itu Kalian kembali menjadi buta.

 

Karena itu Nabi Khidir as berkata kepada Nabi Musa as bahwa Nabi Musa as tidak akan memahami ilmu yang ada pada diri Nabi Khidir as. Justeru itu, Nabi Musa as tidak akan dapat bersabar.

 

Maka apabila Nabi Khidir as memecahkan perahu-perahu serta membunuh seorang budak maka Nabi Musa as tidak dapat menerimanya. Walaupun Nabi Musa as tidak dapat menerimanya namun Nabi Khidir as bisa melakukannya. Ini adalah karena Nabi Khidir as berpegang kepada dua prinsip seperti Kalian iaitu (i) Tiada pembunuh dan yang dibunuh karena ciptaan tidak wujud dan (ii) yang berlakon adalah Dzat. Namun Nabi Khidir as tidak bisa menerangkan seperti ini kepada Nabi Musa as. Karena Nabi Khidir memandangkan Nabi Musa as masih “buta”. Maka penjelasan yang diberikan oleh Nabi Khidir as adalah penjelasan yang bisa diterima oleh orang-orang yang tidak mempunyai ilmu ini atau yang buta. Karena penjelasan yang Nabi Khidir as beri masih bisa dipertikaikan lagi oleh mereka ini, seperti mengapa tidak Allah swt menengelamkan perahu-perahu itu dan buat budak itu serta merta sakit lalu mati. Justeru itu, Nabi Khidir as tidak akan berbuat kemungkaran yang besar itu (memecahkan harta benda orang lain dan membunuh).

 

Bagaimana Nabi Khidir as tidak menjejehkan (memperkatakan) Rahasia Ilahi, begitu juga Rasulullah saw. Apabila banyak kaum Quresh mati dipanah oleh baginda maka baginda dituduh membunuh umatnya sendiri. Walaupun berhadapan dengan tuduhan yang sangat berat ini, namun baginda tidak membuka Rahasia Ilahi serta hanya berdiam diri. Kenapa baginda buat begitu?. Karena baginda juga berpegang kepada kedua prinsip seperti Kalian dan juga karena kaum Quresh pada masa itu masih buta dan tidak bisa faham atau menerima penjelasan baginda berkenaan Rahasia Ilahi.

 

Oleh karena itu, Allah swt yang memfirmankan Rahasia ini untuk menjadi rujukan bagi mereka yang tahu akan Rahasia atau Kebenaran ini. Firman Allah swt yang berhubung dengan ini ialah bahwa “maka (yang sebenarnya) bukan kamu (Muhammad) yang membunuh tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu (Muhammad) yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (al Anfal 17)

 

 

Read Full Post »

Wasiat Arif Billah Ustd H Hussien BA Latiff

 

Anakku, Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw serta juga kita, orang-orang yang beriman supaya menyerah diri sepenuhnya. Inilah Islam iaitu “Submission to the Will of Allah swt” ataupun Penyerahan Sepenuhnya kepada Takdir Allah swt.

 

Untuk Penyerahan Sepenuhnya, Kita yang sudah makrifat mesti sentiasa “Nafi & Isbat”. Minda sentiasa menafi setiap sifat termasuk diri Kita sendiri serta mengisbatkan Dzat yang meliputi lagi berlakon mengikut skrip yang tersirat dalam Loh Mahfuz. Sesuai dengan firmanNya bahwa apabila semua dinafikan (binasa) yang tinggal Dzat (ciptaan)ku. Sesuai juga dengan firmanNya bahwa bukan Rasulullah saw yang membunuh tetapi yang membunuh adalah (Dzat)Ku.

 

Apabila Minda Kalian sudah bisa berbuat demikian maka sadarlah Kalian bahwa kesemua ciptaan termasuk diri Kalian serta juga iblis dan syaitan tidak wujud karena yang sebenar wujud ialah DzatNya. Sesuai dengan kekata Imam Ghazali bahwa apabila Kalian mengenal Tuhan dan diri Kalian maka kalian tahu Kalian tidak wujud.

 

Apabila ini difahami maka Kalian tahu bahwa bukan Sifat yang berlakon tetapi yang berlakon adalah Hakikat segala ciptaan iaitu Dzat Wajibul Wujud mengikut Ketetapan Allah swt yang tidak akan berubah di dalam Loh Mahfuz. Karena itu syaitan berkata (seperti tertera dalam Al Quran) bahwa mereka hanya boleh menggoda yang sudah ditetapkan untuk mereka dalam Loh Mahfuz.

 

Justeru anakku, apa juga yang berlaku adalah lakonan Dzat mengikut yang sudah ditetapkan dalam Loh Mahfuz. Maka apa juga kebaikkan atau keburukkan yang datang menjelang di Bulan Ramadan yang mulia ini Redhalah dengan KehendakNya yang sudah ditetapkan sebagai Takdir Kalian. Dengan ini, Kalian akan terlepas daripada termasuk ke dalam golongan yang sudah ditetapkan yang dapat digoda oleh Syaitan. Sesuai dengan kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani bahwa dalam hidup ini yang dilambung-lambung oleh ombak Takdir, tidak ada untung dan tiada rugi.

 

Semoga dan Insya-Allah, anakku yang dikasihi lagi dirindui dapat memfaat dari apa yang Ayahmu sampaikan. Dan Ayah mengucap kpd kalian selamat menyambut Bulan Ramadan yang mulia yang akan menjelang pada Hari Isnin ini serta Selamat Berpuasa.

 

Maka apabila Kalian sudah memahaminya, maka tidak akan ada pada seseorang itu mukjizat, atau keramat atau kelebihan atau kemuliaan. Sebab kalau ada, maka orang itu sudah melawan “taukeh”. Karena dengan begitu yang menjadi popular adalah dia dan bukan Allah swt. Juga dia sudah mewujudkan dirinya maka terhijablah Dzat daripadanya, maka dia sudah menjadi buta lagi seperti semula.

 

Inilah masalah utama bagi yang belum bermakrifat dan tidak bisa Nafi & Isbat. Oleh karena itu, diri mereka senantiasa wujud didepan mata mereka dan ini akan sentiasa membawa mereka kepada pertanyaan “Kenapa?”, yang Nabi Isa as bersabda bahwa itulah Pintu Neraka.

Karena dirinya sendiri tidak dapat dinafikannya, maka datanglah keegoan, rasa mulia, rasa hebat, rasa berkuasa, rasa dia bisa berbuat yang luar biasa, tidak bisa berendah diri, sombong, bongkak dll. Ini terjadi karena Kewujudan yang tunggal, iaitu Allah swt, langsung tidak disadarinya.

 

Maka anakku yang dicintai:

  • Senantiasalah sematkan di dalam Minda Kalian bahwa Kalian tidak wujud serta,
  • Senantiasalah Mata Kalian Nafi & Isbat.

 

Dengan itu, maka Kalian akan menerima serta memahami Hakikat, bahwa Kalian adalah sebenar-benarnya tidak wujud.

 

Harap anakku yang dicintai memahami apa yang Ayahmu mahu sampaikan.

 

Anakku yang dicintai. Sesudah MINDA Kalian sentiasa ingat bahwa Kalian adalah tidak wujud dan MATA Kalian sentiasa pula Nafi & Isbat, maka Kalian akan sampai kepada kesimpulan bahwa kesemua ini adalah lakonan Dzat mengikuti dengan taat apa yang sudah tertera di Loh Mahfuz.

 

Apabila Kalian sudah memahami apa yang tertulis di atas ini, maka hendaklah kalian faham bahwa segala kesusahan, penderitaan, bala bencana, ketagihan, kesalahan, kelemahan, kemaksiatan, dll adalah suatu UJIAN.

 

Suatu Ujian untuk menguji apakah Kalian lupa atau tidak bahwa semua ini adalah Lakuan Dzat mentaati yang tersirat di Loh Mahfuz.

 

Sekiranya Kalian lupa, maka ujian ini akan menjadi satu PENYIKSAAN atau BEBAN yang sukar lagi berat untuk Kalian pikul. Sesungguhnya ini pasti akan berlaku, karena Kalian kembali merasakan akan Kewujudan Kalian, serta Kalian telah buta karena Kalian melihat bahwa Kalianlah yang berlakon.

 

Hendaklah dalam masa-masa ujian itu, Kalian memegang kuat kefahaman bahwa Kalian adalah tidak wujud, dan yang berlakon adalah DzatNya, serta hendaklah Kalian langsung kembalikan perkara-perkara itu kepada Allah swt. Seperti yang diperintah oleh Allah swt kepada Rasulullah saw dan orang-orang beriman supaya segera berserah diri dengan sepenuhnya kepada Allah swt atau TakdirNya.

 

Kalian harus mengambil iktibar dari lakuan Nabi Ayub as yang senantiasa rujuk kepada Allah swt dalam masa-masa dia sangat tertekan oleh ujian Allah swt. Juga seperti Nabi Yakub as yang senantiasa kembali kepada Allah swt apabila ditimpa kesusahan. Mereka hanya menceritakan dan mengembalikan kesusahannya kepada Allah swt saja, tidak kepada yang lain.

 

Apabila Kalian juga berbuat hal yang demikian, maka artinya Kalian sudah berpegang kepada SATU BUHUL TALI YANG KUAT. Dan syaitan tidak dapat mengugat keimanan kalian yang kokoh seperti yang dinyatakan oleh Kalian dalam shalat Kalian bahwa: “hidupku dan matiku hanya untuk Allah swt”.

 

Dengan begitu, maka Kalian tidaklah tertera dalam senarai (daftar list) yang telah ditetapkan sebagai orang-orang yang dapat digoda oleh Syaitan.

 

Semoga anakku yang diingati dapat mamfaat dari apa yang disampaikan ini, Insya-Allah, aamin Ya Rabbil alamin!

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: