Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2015

KITAB TAK BERTEPI

Banyak orang yang membaca kitab-kitab Suci…

Banyak orang yang membaca Al Qur’an…

Banyak orang yang membaca As Sunnah…

Banyak orang yang membaca Injil Perjanjian Lama…

Banyak orang yang membaca  Perjanjian Baru…

Banyak orang yang membaca Taurat…

Banyak orang yang membaca Talmut…

Banyak orang yang membaca Zabur…

Banyak orang yang membaca Veda…

Banyak orang yang membaca Tripitaka…

Banyak orang yang membaca Kitab Ajaran Besar,Kitab Tengah Sempurna,Kitab Sabda Suci,dan Kitab Meng Zi…

Banyak orang yang membaca kitab karangan si A…, si B…, dan si C…

Banyak orang yang membaca kitab yang jumlahnya berlemari-lemari…

 

Tapi anehnya…

Banyak orang yang tidak tahu apa sebenarnya yang dicari…

Banyak orang yang tidak paham akan makna-makna…

Banyak orang yang tidak menangkap akan esensi-esensi…

 

Sehingga…

Semakin membaca kitab, orang malah menjadi semakin ada…

Semakin membaca kitab, orang malah menjadi semakin wujud…

Semakin membaca kitab, orang malah menjadi semakin memiliki…

Semakin membaca kitab, orang malah merasa menjadi semakin lebih baik…

Semakin membaca kitab, orang malah merasa menjadi semakin lebih hebat…

Semakin membaca kitab kebaikan, orang merasa itu adalah: “Gua banget…”.

Semakin membaca kitab keburukan, orang merasa itu adalah: “Bagian Lu…”.

Semakin membaca kitab, orang malah semakin terbagi-bagi…

Semakin membaca kitab, orang malah semakin tercabik-cabik…

Semakin membaca kitab, orang malah semakin terpisah-pisah…

Semakin membaca kitab, orang malah semakin bergolong-golongan…

 

Dan…

Langkah berikutnya adalah perdebatan…,

Muaranya adalah perkelahian…,

Hasilnya adalah hancur-hancuran…

Bahkan ujung-ujungnya bisa bunuh-bunuhan…

 

Akan tetapi…, ketika:

Membaca matahari, orang bisa sepakat tentang panas yang membakar…

Membaca air, orang bisa sepakat tentang pelepasan dahaga…

Membaca angin, orang bisa sepakat tentang pertukaran cuaca…

Membaca tumbuhan, orang bisa sepakat tentang keindahan…

Membaca hewan, orang bisa sepakat tentang keanggunan…

Membaca langit dan bumi, orang bisa sepakat tentang harmoni dalam gerak…

 

Dan…

Hasilnya adalah sebuah peradaban…

Hasilnya adalah berbagai teknologi untuk memudahkan kehidupan…

 

Tapi cukupkah hanya sampai disitu???.

Ternyata tidak…

Bahwa kitab-kitab itu, sebenarnya tengah bercerita tentang kehebatan Sang:

Pemilik Matahari itu…

Pemilik Air itu…

Pemilik Tumbuhan itu..

Pemilik Hewan itu…

Pemilik Langit dan Bumi itu…

Pemilik diri manusia…

 

Bahwa matahari itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

Bahwa air itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

Bahwa angin itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

Bahwa tumbuhan itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

Bahwa hewan itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

Langit dan bumi itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

Bahwa diri manusia itu adalah penzahiran dari sedikit Dzatnya yang ada di Lauhul Mahfuz…

 

Bahwa pada hakekatnya tidak ada matahari, tidak ada air, tidak ada angin, tidak ada tumbuhan, tidak ada hewan, tidak ada langit dan bumi, tidak ada diri manusia, kecuali semata-mata hanyalah Dzat-Nya yang sedikit sahaja. Karena semuanya itu hanyalah Sifat-Sifat yang terdzahir saja dari Dzat-Nya Yang sedikit yang sedang dikenai oleh aktifitas dan perbuatan Allah sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

 

Dengan begitu maka nyatalah bahwa:

Matahari itu tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

Air itu tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

Angin itu tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

Tumbuhan itu tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

Hewan itu tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

Langit dan bumi itu tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

Diri manusia tak lain adalah Dzat-Nya yang Dzahir.

 

Disebalik semua Dzat-Nya Yang Dzahir itu adalah Dzat-Nya Yang Sedikit, Dzat semata wayang yang amat sangat kecil, yang menjadi Bathin (Dzat-Nya yang Bathin) dari semua Dzat-Nya Yang Dzahir itu.

Dan pada Dzat Semata Wayang yang sangat kecil, atau Dzat-Nya Yang Bathin, atau Lauhul Mahfuz, inilah MUARA dari segala kitab itu berujung dan berakhir.

Bahwa Ujung dari Al Qur’an adalah Dzat-Nya yang sedikit…

Bahwa Ujung dari As Sunnah adalah Dzat-Nya yang sedikit…

 

Dan Allahlah yang berbicara melalui atau melewati Dzat-Nya yang sedikit itu yang kemudian menzhahirkan Al Qur’an dan As Sunnah…

Dan tidaklah Al Qur’an dan As Sunnah itu berfungsi kecuali hanya untuk Allah:

Meluruskan kembali Taurat yang sudah compang camping.

Meluruskan kembali Injil yang sudah “tertukuk dan tertambahi”.

Meluruskan kembali Zabur yang sudah tercerai berai.

Meluruskan kembali berbagai persepsi yang tumbuh begitu liar.

Meluruskan kembali berbagai paradigma yang berkembang begitu rumit.

 

“Kutinggalkan kepadamu dua perkara, dan kamu sekalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an dan As Sunnah Rasul-Nya)” Al Hadist…

 

Wallahu a’lam bishawab…

Read Full Post »

Akan tetapi, kalau kita melihat kepada sejarah Nabi-Nabi, Rasul-Rasul, dan orang-orang shaleh terdahulu, keberadaan di wilayah batas sepi dan rindu ini adalah posisi yang paling dekat bagi mereka dengan Allah. Mari kita lihat terlebih dahulu beberapa kisah mereka yang sangat terkenal, diantaranya adalah:

  1. Siti Hajar, istri dari Nabi Ibrahim

Di dalam sejarah Nabi-Nabi ceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS dengan istri pertama Beliau, yaitu Siti Sarah, untuk sekian lamanya, masih belum diberikan anak keturunan. Sampai suatu saat, kemudian Beliau menikah kembali dengan istri kedua Beliau yang bernama Siti Hajar. Dengan Siti Hajar inilah Beliau punya anak laki-laki yang Beliau beri nama dengan Ismail AS, yang nantinya juga akan bertugas sebagai seorang Nabiullah pula.

Tentu saja Beliau dan Siti Hajar sangat berbahagia dengan kelahiran Ismail ini. Sudah sepantasnya kalau kasih sayang mereka tercurah kepada Ismail kecil ini setiap saat. Akan tetapi karena Kisah Kehidupan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail ini akan menjadi sebuah contoh tauladan dan bahan pelajaran bagi seluruh umat manusia kelak, maka di dalam kisah itu harus termuat pelajaran tentang lika-liku kehidupan yang berisikan kerinduan, kesabaran, kebahagiaan, kepatuhan, keridhaan, dan tentu saja jalan keluar yang sangat mencengangkan dari setiap persoalan yang Beliau hadapi.

Ditengah-tengah kebahagiaan itu, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk membawa Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi itu ke sebuah bukit pasir yang sekarang dikenal sebagai bukit Shafa di Bakkah (Mekkah). Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu dari Allah untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di tengah-tengah gurun pasir yang sangat panas dan gersang itu. Tiada sebarang pepohonan yang tersedia untuk berlindung dari teriknya sinar matahari. Tiada tetes air yang mengalir untuk mendinginkan tubuh saat kepanasan ataupun untuk diminum saat kehauasan. Tiada rumah yang bisa dipakai untuk melindungi diri beliau dan anaknya Ismail dari serangan hewan padang pasir yang berbisa dan untuk berlindung dari dinginnya angin malam yang menusuk tulang.

Saat itu, Nabi Ibrahim dipisahkan oleh Allah dari anak dan istri Beliau. Padahal anak tersebut telah Beliau harap-harapkan selama sekian puluh tahun lamanya. Akan tetapi begitu anak yang diharap-harapkan itu lahir, dalam hitungan bulan kemudian Beliau harus merelakan anak tersebut dijauhkan dari sisi Beliau. Anak dan istri Beliau itu harus Beliau tinggalkan di sebuah tempat yang sangat keras dan kejam kalau tidak mau dikatakan mematikan. Di padang pasir yang kering kerontang, yang di sana juga barangkali belum ada kehidupan.

Akan tetapi karena yang memerintahkan itu adalah Allah, maka Nabi Ibrahim AS sudah menjadi sangat yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Walaupun pada saat itu air mata Beliau boleh saja jatuh berderai-derai dan perasaan Beliau remuk-redam, akan tetapi keyakinan Beliau atas penjagaan Allah atas keluarga Beliau itu sangatlah kuat. Sehingga Beliaupun akhirnya meninggalkan kedua orang yang Beliau cintai itu tanpa menoleh-noleh  lagi kebelakang…

Begitu juga yang terjadi dengan Siti Hajar. Ketika Siti Hajar menanyakan kepada Nabi Ibrahim AS:  “apakah penyebab dari tindakan Nabi Ibrahim itu adalah akibat adanya rasa cemburu dari Istri pertama Beliau (Siti Sarah) ataukah ini memang murni atas perintah Allah ?”; dan kemudian Nabi Ibrahim menjawabnya bahwa Ini adalah murni atas perintah Allah, maka Siti Hajarpun menjadi tenang. Sangat tenang sekali. Karena Beliau yakin bahwa kalau Allah yang memerintahkan, maka Allah pasti akan menjamin segala kebutuhan Beliau. Sebuah keyakinan yang sangat kokoh akan perlindungan Allah kepada Beliau dan anak Beliau Ismail dalam keadaan yang sesulit apapun juga. Tidak ada ketakutan dan kekhawatiran sedikitpun yang Beliau rasakan.

Ketika bekal makanan dan minuman yang Beliau bawa sudah habis, dan anak Beliau menangis karena kelaparan dan kehausan yang mendera, Beliau juga hanya sekedar menjalankan apa yang harus Beliau jalankan saja. Yaitu Beliau berjalan hilir mudik antara bukit Shafa dan Marwa. Perjalanan penuh harap. Beliau hanya berjalan saja bolak-balik dengan sebuah harapan yang pasti bahwa bahwa Allah pasti akan menolong Beliau dan Ismail. Walaupun ketika Beliau berjalan sekali dua kali balik, ternyata masih belum ada hasil apa-apa, namun Beliau sudah diberikan KEYAKINAN oleh Allah bahwa hasil yang beliau harapkan itu hanyalah menunggu WAKTU saja untuk pengkabulannya dari Allah.

Pada saatnya, setelah tujuh kali Beliau bolak balik antara puncak bukit Shafa dan puncak bukit Marwa dengan keyakin yang sangat kokoh bahwa Allah pasti akan menolongnya, maka Allahpun menzahirkan apa yang sudah ditakdirkan-Nya. Bahwa air yang merupakan sumber kehidupan akan memancar dari cerukan pasir yang terkena hentakan kaki kecil Ismail AS. Dan semenjak saat itu, merekahlah fajar kehidupan yang akan bertahan selama ribuan tahun yang disangga oleh aliran air yang tidak pernah meluap dan tidak pernah pula berkurang dari sumur yang terkenal dengan sumur ZAMZAM…

Kalau kita yang mengalami hal yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS ini, logika berpikir kita akan sangat sulit untuk bisa menerimanya. Kita akan menganggap bahwa perintah itu adalah sebuah perintah sangat kejam dan tidak masuk akal. Kita akan bertanya dan bertanya:

“Nanti istri dan anak saya bagaimana hidupnya disana?.

Bagaimana makan dan minumnya kalau bekal yang mereka bawa sudah habis?.

Bagaimana kalau disana banyak binatang buas dan binatang berbisa?,

Bagaimana mereka akan berlindung dari panas dan dinginnya cuaca?.”

Saat kita meninggalkan anak dan istri kita dirumah saja, yang notabene sudah sangat lengkap dengan makanan dan minuman, sudah terlindung dari berbagai perubahan cuaca, dan sudah aman pula dari gangguan binatang dan dari  orang-orang yang ingin berbuat tidak baik, kita masih saja merasa khawatir. Apalagi kalau kita diperintahkan untuk meninggalkan mereka disebuah tempat yang sangat kejam, sangat keras, dan sangat tidak layak untuk dihuni oleh binatang sekalipun seperti yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim AS. Pastilah kita akan selalu bertanya: “kenapa…, kenapa…”. Silih berganti, kita akan dilanda oleh rasa khawatir, marah, sedih, kecewa, tidak percaya, dan rasa-rasa negatif lainnya selama berhari-hari… Itu pasti…

Bersambung

Read Full Post »

Pertanyaan Pak Tomi…
Assalamu’alaikum Pak Yusdeka,

Taqqobalallohu minna wa minkum..mohon maaf lahir dan bathin

Pertanyaan yang masih mengusik saya adalah

Tentang firman Allah yang artinya “Allah berfirman kepada Nya Kun Fayakun”

Sebagian besar terjemahan bermakna “,nya” pada kata tersebut

Menggunakan huruf kecil. 

Kenapa hal tersebut bisa berbeda penafsiran..padahal yang

Menerjemahkan sudah tentu pakar dibidang bahasa.

Demikian pak mohon jawabannya.

Jazakamullah

Wassalam
Ulasan….

Ya begitulah Pak Tomi. Ternyata selama ini banyak umat Islam yang tidak tahu tentang hal ini. Padahal ini adalah hal yang sangat VITAL bagi keimanan kita, karena ia berkenaan dengan TAUHID kita.
Kalau ADA sesuatu selain Dzat-Nya tempat Allah SWT bersabda KUN, maka saat itu sudah ada DUA yang ada atau wujud, yaitu Allah sendiri dan sesuatu yang lain tempat Allah bersabda KUN. Dengan begitu, maka gugurlah TAUHID kita. Itulah gunanya kita memahami ilmu makrifatullah. sehingga setelah itu insyaalah tidak akan ada lagi kejahilan. 
Ada tiga Paham yang akan membawa kita bisa membawa kita untuk memahami hakekat dari semua ciptaan dan peristiwa. yaitu Paham Dzatiyah, paham Wahdatul Wujud, dan paham Nur Muhammad. 
Jawaban yang sederhana ini akan mengulas apa yang membedakan paham Dzatiyah dengan paham Wahdatul Wujud dan paham Nur Muhammad. 
Pada paham Dzatiyah, Nya itu adalah sedikit saja dari Diri atau Dzat Allah tempat Allah bersabda Kun itu. sehingga dari SEDIKIT Dzat-Nya itulah kemudian tercipta SEMUA CIPTAAN DAN PERISTIWA. Paham ini menganggap bahwa disebalik semua ciptaan dan peristiwa adalah Dzat Allah yang SEDIKIT, yang besarnya tidak lebih dari sebutir pasir di padang pasir, atau setetes air dilautan. jadi kecil sekali dzat Allah yang menjadi batin bagi semua ciptaan dan peristiwa. Sehebat, sekuat, sebesar, setinggi, sesedahsyat, seluarbiasa apapun juga yang ada dialam ciptaan, maka itu hanyalah tak lebih dari sedikit saja dari Dzat Allah yang sedang menjalankan peranan sesuai dengan Takdir yang telah ditentukan oleh Allah untuk terdzahir pada waktu tertentu. Paham ini meyakini bahwa semua ciptaan dan peristiwa adalah TIDAK WUJUD, yang WUJUD Adalah sedikit dari Dzat Allah yang sedang berperan menjalankan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah sejak dari zaman KUN.
Pada Paham Dzatiyah ini, untuk BISA memahami hakekat semua ciptaan dan peristiwa yang akhirnya akan membawa kita UNTUK mengenal Allah (Makrifatullah), kita cukup hanya berbekal ILMU saja, yaitu Ilmu pembukaan pintu Makrifatullah. Dan untuk itu kita hanya butuh waktu yang sangat Sedikit. SEBENTAR SAJA. Setelah kita bermakrifat itu kita tinggal hanya melaksanakan Syariat yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan sikap IHSAN. 
Jadi langkahnya hanya: Dari Sifat kepada Hakekat untuk kemudian Bermakrifatullah … SIFAT – HAKEKAT – MAKRIFAT. . Simple sekali, dan itu bisa kita tamatkan dalam waktu sekejap. Setelah itu kita tinggal Bersyariat saja dengan sikap Ihsan
Pada paham Wahdatul Wujud, Nya itu adalah SELURUH Diri atau DZat Allah tempat Allah bersabda KUN itu. sehingga dari SELURUH Diri Allah itulah kemudian tercipta SEMUA CIPTAAN DAN PERISTIWA. Paham ini menganggap bahwa disebalik semua yang dzahir adalah Allah, disebalik semua peristiwa adalah Allah, disebalik semua gerak adalah Allah, disebalik semua nafas adalah Allah, disebalik semua ucapan adalah Allah, disebalik semua alam adalah Allah. Alam adalah Allah, Allah adalah alam. Makanya ada orang yang seringkali berkata: “aku tidak ada yang ada adalah Allah”; ” Allah tidak ada yang ada adalah aku”; “aku adalah Aku”; ” tidak ada aku kecuali Aku”; “Dia adalah dia”; “aku adalah Allah”, “marahku adalah marah Allah”, dan berbagai ungkapan syatahat lainnya. 
Pada Paham Nur Muhammad, Nya itu adalah SETENGAH atau 50% DIRI atau DZAT Allah. Artinya Allah terlebih dahulu membelah Diri atau Dzatnya menjadi dua bagian. Yang setengah bagian adalah Dzat-Nya yang Asli, sedangkan yang setengah bagian laginya adalah Dirinya yang kemudian menjelma menjadi Nur Muhammad. Lalu kemudian Allah bersabda KUN kepada Nur Muhammad itu, sehingga dari Nur Muhammad itu kemudian terciptalah semua ciptaan dan peristiwa. Jadi pada paham ini, hakekat dari semua ciptaan dan peristiwa adalah Nur Muhammad. Disebalik semua ciptaan dan peristiwa adalah Nur Muhammad. Batin dari semua makhluk adalah Nur Muhammad. Tidak akan mengenal seseorang kepada Allah sebelum ia mengenal Nur Muhammad. Setelah mengenal Nur Muhammad, barulah ia bisa bermakrifat kepada Allah. Dan setelah itu, ungkapan-ungkapan syatahat seperti dalam paham Wahdatul wujud diataspun sangat sering pula ia ucapkan.
Pada Paham Wahdatul Wujud dan Paham Nur Muhammad, dua-duanya membutuhkan dzikir-dzikir khusus dengan jumlah yang sangat-sangat-sangat banyak yang harus dilakukan dalam waktu tahuna bahkan puluhan tahun untuk mendapatkan peringkat makrifatullah. Untuk dzikir itu, kita harus pula diajarkan oleh mursyid yang konon kabarnya haruslah sudah berperingkat Kamil dan Mukamil melalui CARA-CARA atau JALAN-JALAN atau TAREKAT tertentu. Tanpa mengikuti tarekat tertentu kita dianggap tidak akan pernah bisa bermakrifat. Karena menurut kedua paham ini langkah yang harus dilakukan seseorang untuk ia bisa bermakrifat adalah dengan urutan: SYARIAT – TAREKAT – HAKEKAT – MAKRIFAT. Jadi amalan apapun yang kita lakukan tanpa mengikuti cara-cara dari sebuah tarekat muktabarah tertentu, maka amalan kita itu, menurut paham ini, akan menjadi sia-sia. Melalui talian atau tautan rohani kita dengan rohani mursyid kita dan rohani guru-guru dari muryid kita itu, kemudian sampailah ruhani kita kepada ruhani Nabi Muhammad, kemudian Jibril, dan setelah itu barulah kita akan bisa mengalami ekstase makrifatullah. Biasanya kita akan bergetar hebat, berteriak -teriak, menangis histeris, guling-gulingan, dan akhirnya kita akan diam seperti pingsan. Kalau kita sudah bisa melalui fase diam seperti pingsan itu, maka kita akan dianggap sudah FANA. Dalam Fana itu kita biasanya akan bisa pula mengalami pengalaman Out of body experience. kita seperti bisa mikraj ke alam-alam gaib. Bahkan kalau kita fana di dalam shalat yang ditandai dengan kita terjatuh kebelakang seperti pingsan, maka shalat kita itu dianggap shalat yang sudah mikraj. Dan kita tidak perlu mengulang shalat itu lagi walau saat kita jatuh itu adalah pada rakaat pertama. Kalau kita sudah bisa seperti ini, maka kita akan dipanggil sebagai khalifah, yang merupakan jalan awal agar kita bisa pula menjadi mursyid disuatu saat kelak. 
Nah, silahkan pakai yang mana saja yang Pak Tomi anggap mudah untuk pak Toni pahami. Tidak pakai salah satu dari tiga paham itupun tidak apa-apa. Kalau saya DULU memakai paham Nur Muhammad, dan sedikit paham Wahdatul Wujud. Sejak saya mendapatkan Ilmu Makrifatullah dari Arif Billah Ustad Hussien BA. Latiff, saya hanya memakai Paham Dzatiyah saja… Paham-paham lain sudah saya masukkan ke dalam musium ilmu…
Demikian Pak Tomi, wassalam…

Read Full Post »

Ada Masalah Denganmu..?

DZHAHIR-BATHIN SIFAT-HAKEKAT-MAKRIFAT TAkdir TAQWA-FUJUR

Kalau seperti ini apa ada masalah denganmu…?…

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: