Feeds:
Pos
Komentar

Pribadi dengan Belahan Otak Kiri yang Dominan.

Ketika PIKIRAN lebih banyak BERPIKIR menggunakan BELAHAN OTAK KIRI, maka seseorang akan keluar menjadi pribadi yang PEMAHAMAN dan KARAKTERNYA yang KENTAL dengan hal-hal sebagai berikut:

  • Ia berpikir secara Linier atau SERIAL. Semua harus runut sesuai dengan urutannya.
  • IA selalu berpikir tentang Konteks Masa Lalu (PAST) dan Masa Depan (FUTURE). Segala sesuatu yang terjadi Hari Ini selalu ditarik ke Masa Lalu dan ke Masa Depan. Ia tidak bisa keluar dari masa lalu yang sudah dipelajarinya dan juga tidak bisa lepas dari proyeksi masa depan yang telah diimpikannya.
  • Ia selalu ingin mencari detail demi detail dari suatu permasalahan yang ada. Kalau perlu, detail baru dari sebuah detail yang sudah adapun masih akan dicarinya sampai dapat.
  • Ia selalu berpegang pada angka-angka, rumus-rumus, dan logika-logika.
  • Ia cenderung melakukan kategorisasi, pengelompokan, mengasosiasikan, dan membandingkan-bandingkan.
  • Ia lebih senang bergelut dengan definisi, bahasa atau tekstual.
  • Ia akan fokus untuk menjaga image, hubungan-hubungan, dan peduli dengan jumlah.
  • Ia sanggat sulit keluar dari Zona Nyaman yang sedang dia rasakan.
  • Ia mudah sekali terusik dengan orang lain yang berada di luar zona nyamannya.
  • Ia selalu mencari perbedaan demi perbedaan.
  • Ia sangat pendendam.
  • Ia memiliki rasa takut yang berlebihan
  • Ia adalah penjaga status quo yang sangat kuat. Kalau sudah begitu, maka ia akan begitu saja seterusnya.
  • Ia mengkondisikan dirinya sebagai “orang lama” yang serba tahu.
  • Ia lebih condong menjadi seorang Administrator ketimbang menjadi Inisiator.

Dengan keadaan seperti itu, maka pikirannya selalu penuh dengan “chatting”. Banyak suara yang saling bersahut-sahutan di dalam pikirannya. Ia menjadi pribadi yang melihat kehidupan ini sebagai dualitas keberadaan. Yaitu apa-apa yang ada dunia luar (ekternal) dirinya dan dunia yang ada di dalam dirinya sendiri (internal), sehingga ketika ia berkata SAYA, maka yang dimaksudnya dengan SAYA itu adalah:

  • Hanya sebagai SATU INDIVIDU TUNGGAL yang dibatasi oleh daging dan kulit saja, atau paling tinggi hanya sebatas kelompoknya saja.
  • Pribadi yang terpisah dengan manusia lain dan lingkungan.
  • Pribadi yang TIDAK dapat merasakan adanya aliran energi-energi yang ada di alam semesta.
  • Pribadi yang TIDAK mempunyai “fluidity” atau kelenturan, kecairan, fleksibilitas di dalam hidupnya.
  • Pribadi yang menganggap hanya dirinya sajalah orang yang ahli, yang intelek, yang berilmu.

Oleh sebab itu, pikirannya TIDAK bisa memanfaatkan kapasitas otak belahan kanannya dengan maksimal untuk menjelajahi berbagai alam PERASAAN. Karena kemampuan pikiran dibelahan otak kanan itu selalu dibatasi oleh KOTAK-KOTAK tekstual yang sudah tertanam dengan kuat di dalam pikiran di belahan otak kirinya.

Berbagai cara untuk mengaktifkan pikiran di dalam belahan otak kiri ini adalah melalui: membaca (tekstual), diskusi, pengajian, pengkajian, hitung-hutungan, matematika, mencari dalil, BERBANTAHAN, PERKELAHIAN, PEMBATASAN, dan sebagainya. Semakin sering aktifitas-aktifitas itu dilakukan, maka Rasa yang muncul dibelahan otak kanannya juga semakin beragam. Akan tetapi kualitas rasanya tidak terlalu menimbulkan perasaan ekstastis. Karena rasanya serba dibatasi. Serba jangan begini dan begitu.

Yang banyak mengemuka malah pertanyaan-pertanyaan dan penilaian-penilaian yang tak berkesudahan seperti: kenapa begini dan begitu…, seharusnya…, sebaiknya…, mana keadilan…, mana dalilnya…, dan sebagainya. Dimana kesemuanya itu menjadi beban tersendiri yang harus dipikul seseorang dari hari ke hari. Pikirannya selalu chatting di dalam benaknya.

Cuma entah kenapa, orang-orang yang pikirannya bekerja di belahan otak kirinya ini adalah MAYORITAS dari keseluruhan umat manusia. Sebagian besar manusia hidup dengan Pikirannya berada di belahan otak kirinya yang AKTIF, sehingga kehidupan ini benar-benar menjadi ramai dan riuh rendah dengan berbagai pertengkaran, pertentangan, dan perseteruan.

Bersambung

Bahwa Kehidupan Dunia ini akan dijalankan dengan melibatkan beragam peranan, misalnya, baik dan buruk, senang dan susah, hidup dan mati. Ia adalah Peran Dualitas yang akan dimainkan oleh pelakon Protagonis (Jagoan Utama), Antagonis (lawan jagoan Utama) dan Pemain pembantu lainnya (baik untuk membantu Protagonis maupun Antagonis). Semua peran itu, proses awalnya dimulai dari dalam PIKIRAN dengan menggunakan kedua belahan otak untuk kemudian barulah disalurkan menjadi sebuah aktifitas tindakan melalui Raga (Fisik).

 

Seperti halnya juga dengan mata yang hanya bisa membuat penglihatan (mata hati) melihat bentuk, rupa, warna, cahaya; dan telinga yang hanya bisa membuat pendengaran mendengar suara, bunyi, gema; maka masing-masing belahan otak kiri dan kanan itupun juga punya fungsinya masing-masing yang membuat PIKIRAN bisa MEMAHAMI REALITAS ESTERNAL yang terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga.

 

Belahan OTAK KIRI hanya akan bisa membawa PIKIRAN untuk memroses hal-hal yang berkenaan dengan ILMU, DALIL, RUMUSAN atau keterangan TEKSTUAL lainnya, yang hasilnya adalah berupa PEMAHAMAN. Sedangkan Belahan Otak Kanan hanya akan bisa membawa PIKIRAN untuk merealisasikan PEMAHAMAN TEKSTUAL yang sudah ada di Belahan otak kiri untuk menjadi KONTEKSTUAL. Yaitu ilmu dan dalil itu akan dibuktikan kebenaran dan keberadaannya dengan munculnya indikator RASA, EMOSI, MOOD, dari apa-apa yang sudah dipahami itu. Singkatnya adalah, Pemahaman yang ada dibelahan otak kiri) akan menumbuhkan PERASAAN yang ada di belahan otak kanan.

 

Artinya, belahan otak kanan akan membawa pikiran untuk selalu ingin merasakan RASA BAHAGIA, MELUAS, BERGEMBIRA, BERSENANG-SENANG dengan cara-cara yang sebebas-bebasnya alias tanpa batas. Sedangkan belahan otak kiri akan selalu pula membatasi perasaan yang muncul itu sesuai dengan kota-kotak ilmu dan dalil yang ada dibelahan otak kiri itu.

 

Pikiran kita seperti ditarik-tarik antara ingin bebas sebebas-bebasnya di satu sisi, tapi pada saat yang sama selalu pula dihalangi dengan sangat ketat oleh batas-batasan Ilmu yang tidak dapat dilewati. Itulah yang membuat suasana seperti ada “chatting” atau perbantahan setiap saat di dalam pikiran kita. Perbatahan antara benar atau salah, lakukan atau jangan lakukan, besar atau kecil, gelap atau terang, luas atau sempit, berbahagia atau berduka. Lalu perbantahan itu keluar menjadi tindakan kita yang juga saling berbantahan, saling bertentangan, saling bertikai, dan berbantahan yang sangat ramai.

 

Oleh sebab itu, orang yang Pikirannya lebih banyak bekerja di belahan otak kirinya akan berbeda karakternya dengan orang yang pikirannya lebih banyak bekerja memakai belahan otak kanannya. Dari perbedaan itu lahirlah berbagai karakter yang menjelma menjadi peran-peran yang akan dijalankan oleh milyaran manusia yang hidup di setiap masa. Manusia yang menjalankan peran itu jadi sangat profesional. Kalau dalam peran itu harus ada yang berdarah-darah dan mati, maka pemeran itu benar-benar akan berdarah-darah dan mati. Kalau ada yang harus berperan menjadi orang kaya dan berkuasa, maka pemeran itu benar-benar akan kaya dan berkuasa, dan seterusnya.

 

Gambar-gambar berikut ini bisa mempermudah pemahaman kita tentang bagimana PIKIRAN yang bekerja di dalam kedua belahan otak kita membentuk PEMAHAMAN dan PERASAAN, atau dalam istilah sekarangnya disebut TEKSTUAL dan KONTEKSTUAL.

Bersambung

Salah dua CONTOH dari KEHEBATAN PIKIRAN (Hati Rohani) yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah:

 

  • “…, Jika kamu MENGETAHUI dengan PENGETAHUAN yang yakin (ILMUL YAKIN), niscaya kamu benar-benar akan MELIHAT Neraka Jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan MELIHATNYA (Neraka Jahim itu) dengan ‘AINUL YAKIN (Pandangan Matahati), QS at Takaastur (102: 5-7)”
  • “IHSAN adalah Engkau beribadah kepada Allah Swt seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak bisa melakukannya, maka (ketahuilah) sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)”

 

Dalam contoh pertama, seperti di dalam Surat At Takaastur diatas, Allah Swt sudah MEMBERITAHU dan MENJAMIN bahwa jika kita bisa Mengetahui dan Memahami tentang Neraka Jahim melalui Pemahaman dan Pengetahuan yang menimbulkan KEYAKINAN (Ilmul Yakin), maka PASTILAH kita akan dapat Melihat (dengan matahati kita) akan kebenaran Neraka jahim itu. Sampai-sampai Allah Swt menjaminnya dua kali. Itu sungguh lho kata Allah Swt.

 

Dalam contoh yang lebih hebat lagi adalah berkenaan dengan IHSAN. Bahwa Ihsan itu adalah ketika Pikiran (Hati Spiritual) kita sudah mampu memberikan ILMU dan KEPAHAMAN kepada MATAHATI kita, sehingga Matahati kita sudah menjadi TAJAM dan bisa Melihat Allah Swt ketika kita Shalat. Namun jika Matahati kita belum tajam, maka paling tidak kita sudah mengetahui dengan Ilmu Yakin bahwa Allah Melihat kita di dalam shalat itu.

 

Al Hadist ini menyatakan bahwa IHSAN Tingkat PERTAMA adalah bahwa dengan berbekal Pengetahuan atau Ilmu yang yakin (Ilmul Yakin), bahwa kita DILIHAT oleh Allah Swt di dalam shalat kita. Itu saja sudah lebih dari cukup. Ini sudah Ihsan juga namanya. Jika keyakinan bahwa kita sedang dilihat Allah Swt itu sudah tumbuh, maka Rasa shalat kita sudah akan jauh berbeda dengan shalat yang hanya sekedar Shalat saja.

 

Sedangkan IHSAN Tingkat KEDUA adalah bahwa Pikiran kita sudah mampu memberikan Kepahaman kepada Matahati kita sehingga Matahati kita itu sudah menjadi TAJAM dan dapat Melihat Allah Swt (tingkat ‘ainul Yakin) yang nantinya akan membawa langsung ketingkat Haquul Yakin. Yaitu tingkatan yang sudah tidak memerlukan lagi Ilmu Yakin dan ‘ainul Yakin.

 

Lalu bagaimana itu bisa terjadi?. Padahal Allah Swt adalah Maha Ghaib. Dia Tidak bisa dilihat dengan mata. Dia tidak serupa dan tidak seumpama dengan apapun juga.

 

Disinilah letak sangat pentingnya Ilmu Makrifatullah. Dengan bekal Ilmul Yakin, matahati kita sudah menjadi Tajam. Sehingga matahati kita sudah bisa Melihat KEBENARAN akan Kewujudan, Kebesaran, dan Keesaan Allah Swt. Impaknya akan membuat PERTUKARAN dalam kehidupan kita. Airmata kita akan mudah runtuh tak tertahankan. Ibadahpun akan menjadi sesuatu banget.

 

Namun ini akan kita bahas pada bagian berikutnya, kita fokus dulu membahas bagaimana pikiran kita bekerja pada kedua belahan otak kita.

 

Bersambung

Dengan berbagai perbedaan persepsi seperti diatas, muncul pertanyaan bahwa KENAPA pada orang-orang yang mengamalkan Perjalanan Rohani (salik), baik yang nanti ujungnya adalah pada Wahdatul Wujud atau pada Nur Muhammad, selalu ada kesan yang mendalam atau pengalaman Rohani yang didapatkan oleh para salikun itu?. Sehingga dengan berbagai pengalaman rohani itu, semakin yakinlah mereka dengan apa yang mereka amalkan. Apa salahnya kalau begitu?. Bahkan kalau ada yang menyalahkan mereka, dengan lantang mereka akan menjawab: “kalian mengerti apa?, sebab kalian hanya mengkaji kulitnya saja, sedangkan kami sudah bisa mengkaji sampai kepada isi”. Sehingga merekapun akan tetap memegang apa-apa yang telah mereka amalkan itu dengan penuh semangat. Dilarang oleh siapapun itu berarti perang bagi mereka.

 

Untuk menjawab ini memang tidak mudah. Akan tetapi kalau masalah itu mau disibak terlebih dahulu melalui kajian tentang cara kerja HATI ROHANI (SPIRITUAL) manusia, namun BELUM menyentuh kajian dalam Ilmu TASAWUF, maka ia akan sedikit lebih mudah untuk dimengerti.

 

Bahwa Hati Rohani yang terdiri dari tiga serangkai (yang tak pernah berpisah) yaitu Pikiran, Pendengaran, dan Penglihatan, yang berada di dalam kepala atau benak manusia, mempunyai alatnya masing-masing untuk bisa beraktifitas. Dimana Pendengaran memerlukan Telinga untuk berfungsi. Penglihatan membutuhkan Mata untuk bisa berfungsi. Sedangkan Pikiran membutuhkan Benak atau Otak untuk bisa berfungsi.

 

Tentang hubungan antara penglihatan (mata hati) dengan mata, serta hubungan antara pendengaran (telinga hati) dengan telinga, kita bisa memahaminya dengan cukup mudah. Karena fungsinya memang bisa terlihat jelas yaitu untuk mengkonfirmasi apa-apa yang di lihat dan di dengar.  Fungsi-fungsi sudah sangat jelas dan terukur.

 

Akan tetapi hubungan antara Pikiran dengan Otak, ternyata lebih rumit lagi, karena otak tempat dimana pikiran itu akan bekerja terdiri dari DUA belahan besar, yaitu belahan KIRI dan belahan KANAN. Setiap belahan itupun juga mempunyai bagian-bagian yang lebih kecil yang sangat berbeda pula fungsinya. Sementara Pikiran itu sendiri hanya SATU saja. Ketika kita berpikir atau mengingat, kita tidak dapat merasakan bagian otak mana yang kita pakai. Akan tetapi, adanya DUA belahan otak kiri dan kanan itu serta bagian-bagai kecil lainnya, bukan tanpa maksud dan tujuan diciptakan oleh Allah Swt. Penciptaan otak yang sangat RUMIT itu, tempat dimana bekerjanya Pikiran (Hati Yang Halus), sangat berkaitan dengan PERANAN yang akan dimainkan oleh setiap manusia ketika menjalani kehidupan di ALAM DUNIA ini.

 

Nah…, agar setiap kita bisa menjalankan peranan kita dalam Drama Ilahi itu di alam dunia, maka kita dibekali dengan DUA belahan otak (Kiri-Kanan) agar HATI SPIRITUAL (Pikiran, bersama dengan Pendengaran dan Penglihatan) bisa BEKERJA dengan baik mengatur segala aktifitas yang akan dijalankan oleh RAGA kita. Hati spiritual (PIKIRAN) itu hanya satu saja, akan tetapi ia dapat BERPIKIR dan melahirkan berbagai PEMIKIRAN nyaris tidak ada batasnya.

 

Walau Anasir PIKIRAN itu hanya satu, namun ia dapat menggunakan belahan otak kiri dan/atau kanan dengan sama baiknya. Hanya saja HASIL PEMIKIRAN yang didapatkan ketika Pikiran menggunakan Otak Kiri dalam BERPIKIR akan berbeda dengan ketika Pikiran menggunakan Otak Kanan. Bedanya sangat amat signifikan. Seakan-akan ketika Pikiran itu BERPIKIR dengan menggunakan belahan otak kiri, hasilnya akan BERTENTANGAN atau BERTOLAK BELAKANG dengan ketika ia menggunakan belahan otak kanan. Dan dalam perbedaan inilah tersimpan sebuah Rahasia Allah Swt yang Maha hebat.

 

Bersambung

Akan tetapi umat Islam kembali dikejutkan dengan kenyataan bahwa semua yang telah dilakukan itu ternyata tidak atau belum mampu membuat CITRA ISLAM yang dikatakan; ”al Islam Ya’lu, wala Yu’laa ‘alaihi, Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari Islam)” belum terbukti dengan cukup meyakinkan. Semuanya masih dalam tataran hasrat dan impian yang belum nampak muncul kepermukaan. Ibarat membina sebuah pohon, yang dibina itu hanya masih sebatas Dahan, Ranting, Daun saja. Sedangkan Pohonnya sendiri belum terlihat kokoh dan mengesankan, sehingga ketika pohon itu digoyang sedikit saja, maka dahan, ranting, dan daunnya segera saja berguguran dan berjatuhan. Dan buahnya sendiripun BELUM terasa manis dan nikmat untuk dimakan.

Sudah kelihatan memang pohon itu menjadi rimbun, dahan dan rantingnya sudah bercabang banyak, daunnyapun sudah mekar menyundul awan, buahnya sudah mulai bisa dipanen sesekali, namun ketika pohon itu dilanda oleh angin, yang tidak terlalu kuat sekalipun, dahan dan rantingnya mudah sekali patah, daun dan buahnyapun jatuh berguguran, dan bahkan pohonnya sendiri juga mudah sekali tumbang dan terbongkar sampai keakar-akarnya. Seakana-akan terlihat bahwa akar pohon itu adalah akar yang sangat lemah menghadapai berbagai tantangan cuaca.

Begitulah perumpamaan perjalanan Umat Islam selama beratus tahun belakangan. AKAR dari Risalah Islam yang dibawa oleh 124.000 Nabi-Nabi dan Rasul-rasul, yang tidak lain adalah Makrifatullah (Pengenalan kepada Allah Swt) sudah sedikit sekali yang bisa untuk mengajarakannya, kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Sehingga akibatnya Akar dari pohon Islampun menjadi lemah. Padahal makrifatullah itu adalah Fondamen bagi semua peribadatan dan aktifitas yang akan dijalankan oleh Umat Islam.

Ilmu Makrifatullah, atau pengenalan kepada Allah Swt dengan pengenalan yang sebenarnya, itulah yang disebut Ilmu TAWASUF. Bukan ilmu Mistik. Dan dengan berlandaskan Ilmu TASAWUF itulah kemudian baru semua AMALAN dan IBADAH akan bisa kita dirikan dengan tidak mensyirikkan Allah Swt. Amalan dan Ibadah itu akan menjadi aktifitas keseharian kita yang sangat mengasyikkan dan mengharubirukan hati.

Sebab setelah bermakrifatullah, maka barulah akan jelas bagi kita KEBENARAN tentang Kewujudan, Keesaan, dan Kebesaran Allah Swt serta sifat-sifat-Nya yang lain, sehingga air mata kitapun akan jatuh bercucuran. Ketika itu “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini maka Kami SINGKAPKAN daripadamu TUTUP (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu AMAT TAJAM. (Qaaf (50):22)”.

Pikiran kita yang sudah terilhami dengan pengertian tentang Makrifatullah itu akan memberikan pengertian pula kepada kita setiap kali Matahati kita melihat sesuatu, terutama yang berkaitan dengan Ketuhanan. Matahati kita sudah menjadi “tajam” untuk dapat memahami apa yang kita lihat berkenaan Ketuhanan. Ketajaman matahati yang sudah diberikan pengertian oleh Pikiran itu misalnya adalah:

  1. Dapat Memahami ayat-ayat Al Quran atau Al Hadith yang berkenaan dengan Ketuhanan (ayat-ayat dan hadist Makrifatullah).
  2. Dapat memahami berkenaan Ketuhanan ketika melihat pada alam sekitar dan pada diri kita sendiri.
  3. Sehingga dalam hidup keseharian kita hampir selalu mendapatkan Bimbingan.

Bukan saja Pandangan atau Mata hati kita yang akan menjadi tajam, pendengaran kita pun akan menjadi bening pula, sehingga Pendengaran yang sudah mendapatkan pemahaman dari Pikiran akan mudah untuk mendengar serta memahami bacaan Al Quran serta lain-lain bimbingan-Nya supaya kita mendapat pertunjuk dan menjadi hamba yang bersyukur kepadaNya.

Sesungguhnya:

  • Hanya orang-orang yang MENDENGAR sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan. Al Anaam (6):36
  • Alangkah terangnya PENDENGARAN mereka dan alangkah tajamnya PENGLIHATAN mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Mariam (19):38

Oleh sebab itu, selagi masih ada seorang Arif Billah yang hidup pada zamannya, yang waktunya hanya singkat sekali, maka sebelum terlambat segeralah cari Cahaya Bicara Arif Billah itu sebelum kewafatannya.

Ilmu yaqin untuk pemilik akal, Ainul Yaqin untuk pemilik Ilmu dan Haqqul yaqin untuk pemilik ma’rifat (al Risalatul al Qusyairiyyah hal 85)

Pengkihatan orang Makrifat

Bersambung…

Tentu banyak orang yang bertanya kenapa seseorang itu disebut Arif Billah, dan apa peranannya dalam kehidupan umat manusia sejak dari masa kemunculannya sampai dengan munculnya Arif Billah yang berikutnya.

 

Kalau ada yang menyatakan dirinya sebagai seorang Arif Billah, maka lihatlah ILMU apa yang disampaikannya dan bagaimana lakuannya dalam hidup kesehariannya. Sebab Arif Billah adalah seseorang yang:

 

  1. “Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahasia-raahsia yang tidak diberinya kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka ke sisi-Nya. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahasia-rahasia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi. Allah menjadikan mereka itu pelaku dan lakuan-Nya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu “orang-orang Allah”. Mereka mendapat bimbingan yang benar. Mereka bisa memberi pertolongan kepada orang-orang yang benar dan mengesahkan (membenarkan) kebenaran orang lain. Mereka ibarat timbalan (wakil) Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah. Mereka sentiasa mendapat taufik dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 95 (1990)”.

 

  1. “Mereka itu, Allah telah menetapkan iman dalam hati mereka dan telah menguatkan mereka dengan semangat pertolongan daripada-Nya dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka tetap kekal di dalamnya. Allah reda akan mereka dan mereka reda akan nikmat pemberianNya. Merekalah penyokong-penyokong Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya penyokong-penyokong Allah itu ialah orang-orang yang berjaya. Al Mujadilah (58):22”.

 

  1. Musa bertanya, “Wahai Tuhanku, lalu siapakah Ahli Syurga yang paling tinggi kedudukannya?.” Allah berfirman, “Mereka adalah orang-orang yang Aku pilih, yang Aku tanamkan kehormatan mereka dengan tanganKu dan Aku tutupkan itu sehingga mata tidak biasa melihat, telinga tidak dapat mendengar dan tak pernah terlintas di hati manusia.” Terjemahan Sahih Muslim, Bk 1, 261 (1994).

 

  1. Mereka (di sisi Allah) adalah orang-orang yang sangat berhak dengan “kalimah Takwa” itu serta menjadi ahlinya: Al Fat-h (48):26

 

  1. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. Al Isra’ (17):85

 

  1. Mereka terus beribadat kepadaKu dengan TIDAK MEMPERSEKUTUKAN sesuatu yang lain denganKu. An Nur (24):55

 

Kalau kita bertemu dengan orang-orang dengan kualitas Arif Billah yang seperti ini, maka: “Hendaklah kamu segera mencari cahaya bicara orang-orang Arif-Billah itu sebelum kewafatannya, Saiyid Ahmad Ar Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 112 (1994)”. Karena mereka adalah Wakil Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul dalam menyampaikan Risalah yang dibawa oleh 124.000 Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, yaitu untuk Mengenalkan umat manusia kepada Allah Swt, Tuhan yang Satu, kemudian mereka mengajak untuk menyembah Allah dengan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Merekalah “ulama warasatul ambiya (ulama pewaris Nabi)”.

 

Apa-apa yang mereka sampaikan dan ajarkan hanyalah untuk memulyakan dan menghormati Allah dengan pemulyaan dan penghormatan yang sebenar-benarnya pemulyaan dan penghormatan. Pemulyaan dan Penghormatan yang sudah tidak berbelah bagi lagi dengan pemulyaan dan penghormatan kepada yang lain-lain selain dari hanya kepada Allah Swt.

 

Kemunculan mereka hanya sekali dalam 1000 tahun. Artinya, kalau seorang Arif Billah sudah muncul pada suatu masa, maka Arif Billah yang berikutnya baru akan muncul kembali 1000 tahun kemudian. Itulah sebabnya selama beratus-ratus tahun sejak kewafatan Imam Ghazali, yang diyakini sebagai Arif Billah Pertama, berjuta orang telah merindukan munculnya cahaya bicara seorang Arif Billah yang berikutnya.

 

Sebab selama dalam masa penantian itu, umat Islam telah terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan kelompok, dimana masing-masing golongan dan kelompok itu LEBIH memulyakan dan menghormati golongan dan kelompok mereka sendiri dibandingkan DARIPADA memulyakan dan menghormati Allah Swt, sehingga akibatnya ketinggian Risalah Islampun menjadi tidak terlihat lagi, kalau tidak mau dikatakan padam.

 

Selama itu, Umat Islam merindukan untuk kembali bisa merasakan ketinggian Risalah Islam itu. Semboyan untuk kembali kepada Al Quran dan Hadist digaungkan, keinginan untuk mencontoh generasi awal Islam sering digembar-gemborkan, kajian ilmu tasawuf kembali dibongkar dan dipelajari. Maka bermunculanlah kolompok-kelompok yang dengan penuh semangat melakukan kajian, pangajian, penghafalan Al Quran, latihan-latihan kerohanian, pengajaran khusyuk, tasawuf, pembersihan hati, dan juga pengamalan-pengamalan ilmu-ilmu baru dari Barat dan Timur.

 

Bersambung

Tetapi Alhamdulilllah, syukurlah bahwa sekitar 1000 tahun setelah Imam Ghazali, Tasawuf Jalan Nabi-Nabi kembali bisa berkembang dibawah bimbingan Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff, dari Singapore. Dengan adanya konci Makrifatullah yang diberikan kepada Beliau, Kajian Makrifatullah yang merupakan fokus utama atau induk ilmu dari risalah yang dibawa oleh 124.000 Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, kembali menemukan bentuknya. Pengenalan kepada Allah Swt (makrifatullah) yang dalam tradisi Tasawuf jalan wali-wali dan Tarekat begitu sulit untuk didapatkan dan dipahami, dibawah bimbingan Beliau, menjadi sesuatu yang mudah dan mengesankan. Dengan anak konci Makrifatullah yang Beliau punyai, terbukalah berbagai pintu makrifatullah dengan sangat cepat dan mengesankan, TANPA bersentuhan sedikitpun dengan Pahaman Wahdatul Wujud dan Nir Muhammad.

 

Dengan syarahan-syarahan yang Beliau sampaikan, peran GURU MURSYID, yang dalam Tasawuf Jalan Wali-wali & Tarekat adalah sangat penting dan WAJIB, menjadi bisa diabaikan kalau mau dikatakan tidak diperlukan lagi. Bahkan dengan hanya mendengarkan syarahan Beliau di Youtube pun orang sudah bisa bermakrifatullah dengan sangat cepat. Dengan begitu, maka anggapan orang selama ini bahwa untuk mengenal Allah Swt (makrifatullah) yang memerlukan Guru Suci, Guru Mursyid, Abah Guru, atau seseorang yang berkualitas INSAN KAMIL pun bisa TERHAPUSKAN.

 

Hasilnyapun sungguh sangat menakjubkan. Dahulu, dimana penghormatan yang sangat berlebihan yang diberikan kepada seorang Guru Mursyid, Guru Suci, Abah Guru, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, langsung berubah menjadi penghormatan dengan sebenar penghormatan yang hanya ditujukan kepada Allah Swt saja. Ustads H. Husssien BA Latiff pun hanya menganggap diri Beliau sebagai SAHABAT dari orang-orang yang belajar langsung dari Beliau, tidak lebih. Ini seperti juga halnya Rasulullah Muhammmad Saw menganggap orang-orang yang belajar langsung dari Beliau sebagai para sahabat Beliau.

 

Oleh sebab itu, sudah sangat lumrah ketika ada jumpa antara Ustad Hussien BA Latiff dengan para pembelajar dari Beliau, suasananya lebih penuh dengan nuansa persahabatan dibandingkan dengan suasana antara guru dan murid. Seakan-akan Beliau tiada bedanya dengan para sahabat Beliau. Hanya saja tanda-tanda bahwa Beliau adalah seseorang yang menyandang TUGASAN sebagai Arif Billah adalah Syarahan-syarahan Beliau yang tersusun dengan rapi dan sekaligus merekonstruksi kembali Ilmu Tasawuf Jalan Nabi-Nabi untuk menjadi sebuah Ilmu yang sangat layak dipelajari dan diamalkan oleh siapapun yang ingin Cahaya Makrifat yang masih redup di dalam jiwanya kembali menjadi bersinar terang dalam sebuah Penyaksian yang Utuh dan Peribadatan yang maksimum kepada Allah Swt.

 

Sedangkan di dalam tradisi sistem tasawuf Jalan wali-wali & Tarekat, memang peran Guru Mursyid, Sang Guru, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal begitu sentral dan penting. Ia tidak boleh dilawan, dibantah, atau dianggap orang biasa. Perannya adalah sebagai wasilah agar dada muridnya bisa terbuka untuk menerima ilmu. Melawan Sang Guru berarti menutup pintu ilmu dari Sang Guru.

 

Sebelum berdzikirpun para muridnya harus membayangkan wajah mursyidnya terlebih dahulu, yang disebut sebagai proses RABITHAH. Bahkan tidak jarang Foto atau gambar wajah Guru Mursyidnya yang sudah meninggalpun dipajang ditempat muridnya berdzikir. Kalau tidak, maka dzikirnya tidak akan berhasil.

 

Pada hari-hari tertentupun diadakanlah HAUL untuk mengingat dan menghormati seorang Guru Mursyid yang sudah meninggal. Acara haul itu bisa dilakukan lebih dari satu hari. Kuburan sang Guru Mursyid itu dihiasi dengan berbagai pernak pernik termasuk fotonya. Lalu para murid berkeliling di kuburan mursyid itu untuk berdzikir. Selama berdzikir itulah para muridnya akan mengalami ekstasis seperti menari-nari, menangis histeris, dan sebagainya. Keadaan yang seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh para muridnya, karena kalau dilakukan sendirian dirumah hasilnya tidak seperti saat Haul itu.

 

Arif Billah Ustad Hussien BA Latiff, bukan saja merekonstruksi kembali pengajaran Makrifatullah, tetapi Beliau juga merekonstruksi kembali pengertian tentang HATI, sehingga DZIKRULLAH (mengingat Allah) pun juga menjadi sebuah aktifitas keseharian yang sangat mengesankan. Di dalam shalat, di luar shalat, saat berdiri, saat duduk, saat berbaring, bahkan dalam perdagangan dipasar sekalipun, mengingat Allah (dzikrullah) itu, yang tadinya sangat sulit untuk dilakukan, berubah menjadi mudah untuk dilakukan.

 

Nanti akan dibahas hal-hal lain yang di rekonstruksi oleh Beliau dengan sangat radikal dari Tasawuf Jalan Wali-wali & Tarekat kembali menjadi Tasawuf Jalan Nabi-Nabi.

 

Bersambung

%d blogger menyukai ini: