Feeds:
Pos
Komentar

Pandangan Sifat (Loh Mahfuz Berjalan)

Pandangan Hakekat (Hanya Ada Peranan (Lakonan) Dzat-Nya

Pandangan Makrifat (Allah Bergurau Senda dengan Dzat-Nya)

Iklan

Petak 4 – Hidup di Sebenar Alam (Kampung Akhirat), Sambungan

Pada akhir atau penghujung Fasa ke 5 (10 biliun tahun), Matahari gering. Dengan itu daya tarikannya menjadi lemah maka terjadilah perlanggaran di antara bintang-bintang dan planet-planet di sistem solar Kita dan juga pada yang lain. Oleh sebab itu terjadilah KIAMAT. Sejurus itu akan di tiup sangkakala, maka matilah mereka yang masih hidup dan pingsanlah jiwa-jiwa yang ada di alam Barzah dan dilangit1-7. Inilah kiamat pertama.

Pada pertanyaan berkenaan Jasad yang ditanam di bumi ada yang sudah hancur dan ada yang masih utuh, harap maklum bukan saja Jasad, bumi ini juga akan hancur lebur.

Maka ditiup sangkakala sekali lagi. Lalu bangkitlah Kita semua dengan Jasad yang baru, berumur 33 tahun. Kita dibangkitkan di bumi yang lain yang dikenali dengan nama Padang Masyar.

Sesudah itu Kita di suruh oleh Malaikat untuk MENGHISAB atau melihat Kitab Kehidupan atau Takdir kita masing-masing yang “tersangkut”di leher Kita. Oleh karena itu hisab itu cepat saja. Apabila Kita melihat Kitab-kitab Kita itu, maka sadarlah kita bahwa sebenarnyalah hidup Kita di Alam Dunia ini adalah suatu Drama Ilahi. Maka kemudian datanglah Malaikat menyatakan bahwa memang benar hidup Kita di Alam Dunia hanyalah suatu senda gurauan serta main-main belaka. Lalu Kita semua dijemput masuk ke kampung Akhirat iaitu Syurga.

Dalil yang memperkuatkan pandangan ini ialah:

1. Kita hidup di Alam Dunia mengikut Kitab Takdir Kita tanpa pilihan.
2. Rahmat-Nya mendahului KemurkaanNya. Maka sejak di Alam Azali, sudah Dia sematkan Cahaya Aqidah (Makrifatullah) dalam diri Kita serta dicatat dalam tulisan tentang pernyataan Kita bahwa Benar…, Dia-lah Tuhan Kita. Di akhirat kelak diperintah kepada Malaikat supaya JANGAN MEMBIARKAN sesiapa saja yang mempunyai sebiji sawi iman kepada-Nya berada di dalam Neraka. Maka kesemua Kita manusia mempunyai sebiji sawi iman itu, yaitu Cahaya Aqidah (Makrifatullah) di dalam diri Kita, yang Nabi Isa (as) bersabda: “walaupun dikelamkan oleh dosa, namun Cahaya Aqidah itu tidak hilang. Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda bahwa setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan Muslimin/Muslimat.
3. Setiap ciptaan Allah swt bertasbih kepada-Nya. Jasad manusia itu sebenarnya adalah gumpulan atom yang lebih dari 50 biliun Atom. Ketahuialah bahwa Atom-atom ini sentiasa bertasbih kepada-Nya. Lalu bagaimana bisa tempatnya di Neraka?
4. Sembilan puluh sembilan (99) Kasih Sayang-Nya menunggu Kita diakhirat kelak. Dan Rasulullah saw bersabda bahwa kalau orang kafir tahu berkenaan ini maka tidak seorang dari mereka akan kecewa untuk masuk ke Syurga.

Ada juga dalil yang menyatakan bahwa ada mereka yang mendapat Kitab mereka lebih dahulu yang masuk Syurga tanpa hisab. Mereka yang dapat Kitab mereka dari sebelah kanan selamat ke Syurga dan mereka yang mendapat Kitab mereka dari sebelah kiri, akan ke Neraka.

Kedudukan Kita (AT) ialah: JANGAN BUAT KEPUTUSAN. Karena kedua pandangan ini mempunyai dalil yang kuat. Justeru, biar Allah swt saja yang memutuskannya di Hari Kemudian. Dengan ini Kita bisa kenal mengenali dengan mereka yang bukan Islam. Lalu hidup di Dunia ini menjadi aman.

Di dalam Syurga, kita sudah tidak ada peranan lagi seperti di Alam Dunia, karena sudah TIDAK ADA skrip baru. Semua Kita berumur 33 tahun, serta mengetahui (sesudah melihat Kitab Kita) hidup di Alam Dunia ternyata memang hanyalah suatu sandiwara Ilahi belaka.

Karena Kita dibangkitkan dengan fakultas-fakultas (pelajaran-pelajaran) yang ada semasa Kita berada di Alam Dunia, maka Kita bisa mengenali segala macam buah-buahan, sayur-sayuran, perikanan dan lain-lain yang ada di Syurga dan juga ada di Alam Dunia.

Maka berdiamlah Kita KEKAL di dalam Syurga itu selagi masih ada langit dan bumi Syurga itu, atau Allah swt menghendaki yang lain.

Harap anakku mendapat pencerahan, aamin Ya Rabbil alamin!

Petak 4 – Hidup di Sebenar Alam (Kampung Akhirat)

Anakku yang di rindui lagi disayangi.

Bersangkutan dengan kematian, pandangan AS dan AT berbeda.

AS TIDAK dapat menerima Kematian sepenuhnya dan masih berpaut kepada si Mati. Maka datang andaian yang dia masih dapat berjumpa dan bekomunikasi dengan si Mati. Serta mengandaikan bahwa si Mati itu masih berupa seperti rupanya di Alam Dunia ini.

Maka pertanyaannya adalah, kalau si Mati itu kanak-kanak berumur 10 tahun maka di Alam Bazakh dia tetap 10 tahun. Maka bagaimana pula kalau si Mati itu bayi berumur 8 bulan? Bagaimana pula si Mati yang meninggal dunia karena tidak tahan terhadap “mental torture” (siksa mental) oleh suami dan ibu mertuanya lalu dia jatuh sakit, murung dan akhirnya meninggal dunia. Di Alam Barzakh, masihkah dia tetap menjadi isteri kepada suaminya dan menantu kepada mertuanya? Bagaimana pula nasib anak tiri yang disiksa hingga mati apakah dia akan tetap menjadi anak tiri kepada ibu tirinya di Alam Bazakh? Bagaimana pula si Mati yang meninggal dunia saat berumur 25 tahun sewaktu ia melahirkan anaknya, sementara anaknya itu hidup sehingga berumur 95 baru ia meninggal dunia, maka siapa yangg jadi Ibu di Alam Bazakh, anaknya ataukah ibunya?.

Karena AS tidak dapat menerima bahwa dengan kematian putuslah segala pertalian Kita dengan si Mati maka timbul rasa kesedihan yang berkepanjangan, kerinduan yang melampau-lampau (berlebihan), rasa tidak senang hati dengan Allah swt, dan sebagainya. Terlebih lagi, karena tidak dapat menerima fakta bahwa kematian akan memutuskan segala pertalian dengan yang hidup, maka dikirimkannya makanan, minuman (termasuk arak), disembelihkannya binatang untuk makanan si Mati dan sebagainya. Ini langsung menjadi satu adat atau kegiatan tahunan.

Kenapa ya kamu (AS) merindui sesuatu yang bukan hak milik kamu? Sudah itu kamu tidak mahu menerima bahwa Allah swt bisa berbuat apa yang dikehendaki-Nya kepada hak milikNya. Mana nikmat-Nya yang kamu ragu atau nafikan? Tidak malukah kamu menangis dan merintih terhadap sesuatu yang bukan hak kamu? Maka adakah Allah swt itu zalim karena mengambil kembali hak-Nya?. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata bahawa orang yang zalim itu ialah mereka yang mengambil hak orang lain. Adakah Allah swt mengambil hak orang lain bila Dia mendatangkan kematian kepada seseorang?

Karena si mati itu adalah hak mutlakNya, maka sesudah Dia mengambilnya kembali, maka Dia akan menjagai akan hakNya. Oleh karena itu Dia berfirman bahwa jangan kamu katakan mereka yang mati di jalan Allah itu mati, mereka hidup dan mendapat rezki dari Allah swt. Maka Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata bahwa kamu menjadi seorang kafir karena menuduh Allah swt membuat sesuatu kesalahan apabila dikatakannya ini adalah tidak benar. Maka Allah swt berfirman bahwa mereka tidak menghormati-Nya seperti yang sepatutnya.

Insaflah wahai AS. Selagi kamu tidak mau menerima bahwa semua ini adalah hak mutlak Allah swt dan Dia tidak berkongsi milik dengan sesiapapun juga, maka selagi itu pula kamu akan bersedih, merintih, merasa tidak puas. Dan andai-andai kamu bahwa kamu masih mempunyai hubungan terus dengan si Mati langsung tidak bisa diperhitungkan, karena mereka itu bukanlah hak kamu.

“Oh Mana pergi kewarasan?
Hak Allah, dikatakan warisan!
Maka senantiasa dia kerinduan,
Hak yang bukan kepunyaan.”

Azri Acong:
Alhamdulillah terima kasih ustaz
Assalamualaikum ustaz, pertanyaan daripada sahabat malaysia saudara zamri,

As salam Azri… Saya ada baca dalam grup telegram tentang alam azali dan alam barzakh. Mohon pencerahan:

1. Bagaimana hendak membezakan mimpi bertemu arwah saudara/sahabat itu adalah qarin dari golongan jin atau dari golongan malaikat?

2. Berkenaan rupa roh di alam barzakh, ada tak dinyatakan oleh Lazarus dalam gospel barnabas? (Diceritakan Lazarus yang telah mati selama 4 hari telah dihidupkan semula oleh Nabi Isa)

Utd Hussien Abdul Latiff:
Untuk pertanyaan pertama, hendaklah Kalian pegang kepada:
1. Hanya Rasulullah saw saja syaitan tidak bisa memyerupai.
2. Oleh karena itu, untuk keselamatan Aqidah Kita maka hendaklah Kita berpegang kepada selain dari Rasulullah saw, yang lain itu adalah Qarin
3. Qarin Malaikat memberi ILHAM ATAU MENGAJAR KEBAIKAN tetapi Qarin syaitan MEMBISIKKAN FIKIRAN DAN MEMBAWA KEPADA KEMAKSIATAN

Untuk Pertanyaan kedua, Lazarus langsung TIDAK MENCERITAKAN tentang rupa Jiwa di Alam Bazakh dan adanya siksa kubur.

Memandangkan Lazarus tidak menceritakan tentang Jiwa di Alam Bazakh atau berkenaan siksa kubur, maka berkemungkinan rohnya di simpan ditempat yang bukan Alam Bazakh menunggu pulang ke Alam Dunia untuk beberap waktu.

Ahmad Saifudin:
Alhamdulillah, penjelasan Ayah khususnya petak 1- 4? Melengkapkan pemahaman ananda tentang: SANDIWARA ILAHI dan TIDAK WUJUD sehingga ananda insaAllah dapat bersikap “lebih kuat” didalam MENYERAHKAN DIRI serta Ridla kepada Ilahi Rabbi, mohon doanya Ayah.

Sri Puji Astuti:
Assalamualaikum Ayah, ada titipan pertanyaan dari sahabat Indonesia:

Ayup Ramadan:
Apakah jin atau setan juga syahadah?

Jin atau setan di alam azali apakah juga berumur 33 thn? Mohon di jelaskan agar lebih bisa di pahami.

Utd Hussien Abdul Latiff:
Jawaban ini mau ditunggui Arif Billah sesudah Saya, dia atau mereka yang ditugaskan (diamanatkan) kepada golongan jins justeru bisa memberi jawapan.

Sudah saya beritahu beberapa kali kepada kebanyakan Kalian bahwa sekiranya tugasan Saya juga merangkumi jin-jin, maka Saya di suatu Masa akan hilang (ghaib). Tetapi pada masa sekarang belum ada berita.

Ada tidak yang ingat kata-kata Saya ini.

Yusdeka:
Betul ayah, ananda ingat sekali

Yusdeka:
Ada satu pertanyaan dari ananda berkenaan Israk mikraj. Nabi Saw bertemu dengan beberapa Nabi lain di Langit 1 sd 7. Apakah langit 1-7 itu bisa disebut terletak di Alam Barzah?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Jiwa Nabi-nabi diletakkan di bumi-bumi di dalam Langit 1 – 7. Bumi-bumi ini bukan dalam Alam Bazakh. Bumi-bumi ini juga berjisim tetapi Alam Bazakh tidak berjisim (“Mass”)

Oleh karena itu, Nabi Isa (as) yg belum wafat berada di bumi di langit kedua.

Efendy Yasin:
Alhamdulillah … terimakasih ayah, jadi makin tenang menjalani hidup karena sudah tahu master plan alur perjalanan hidup ini.
Hanya sedikit yang ingin saya tanyakan, jika jiwa2 para nabi ada di langit 1-7 tidak masuk alam barzah berarti jiwa2 para nabi ini masih ikut script dan bertugas sampai hari kiamat, betul kah ayah?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Karena Jiwa Nabi-nabi ini tidak berjasad justeru itu mereka tiada berskrip melainkan Nabi Isa (as)

Efendy Yasin:
Karena buku kehidupan itu dikalungkan pada leher maknanya catatan script itu ada/melekat pada jasad … betul kah ayah ?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Benar

Efendy Yasin:
Termasuk jiwa2 yang saat sakaratul maut dia di jemput guru2 mereka karena ada perjanjian sebelumnya sehingga tak masuk alam barzah … jiwa2 inipun tak ikut script … benarkah ayah ?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Benar

Efendy Yasin:
Alhamdulillah … terimakasih ayah … sangat clear penjelasannya sehingga tak ada lagi kebimbangan

SAHRY RAMADHAN ABDUH:
Assalamu’alaikum Ustadz, dalam Al Quran Surah Al Mukminun :100-101 diceritakan tentang orang yang khafir dan dzalim menyesal dan mohon dikembalikan kedunia, dan berdalih akan berbuat baik bila dikembalikan kedunia Saat Menjelang Kematian. Tapi tidak bisa, dan Allah Swt berkata Didepan mereka ada Barzakh (dinding) sampai mereka akan dibangkitkan kembali….

Pertanyaan: Apakah firman ini adalah salah satu bukti pada Petak-3 di Barzakh, yang sebenarnya adalah cerita lain yang tidak berhubungan dengan skripnya didunia (usia kembali 33). Hingga nanti akan dikembalikan ingatan mereka pada saat hari perhitungan (persidangan) dihadapan Allah swt. Bagaimana pendapat ustad? Wassalam

Utd Hussien Abdul Latiff:
Dinding itu yg Saya sebut Hadangan di dalam tulisan Petak 4 dan benar ini menjelaskan Alam Bazakh itu tersendiri serta terpisah bukan sambungan dari Alam Dunia.

Berkenaan dikembalikan Ingatan, harap sabar menunggu sambungan Petak 4.

Yusdeka:
Ayahanda, kalimat penutup pada artikel-4 ini maksudnya bagi AS ataukah AT Ayah?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Disebut AS dalam Petak-3, karena mau diperjelaskan nanti dalam Petak 4. Kalimat itu dalam Petak 3 adalah dimaksudkan untuk AS namun di Petak 4, diperjelaskan dari sudut AT.

Petak 3 – Hidup di Alam Bazakh, Sambungan.

Anakku yang disenangi lagi disayangi.

Walaupun Jiwa dari Alam Azali apabila turun ke Alam Dunia langsung tidak mempunyai memori atau Ingatan yang berkenaan Alam Azali, namun ia tetap dewasa serta berumur 33 tahun. Dengan ini ia bisa berlakon mengikut skrip di Alam Dunia.

JASAD bayi yang dimasuki Jiwa (dari Alam Azali) adalah menjadi Acuan. Oleh karena itu, Jiwa (dari Alam Azali) yang masuk ke dalam jasad bayi mengambil bentuk, umur serta peranan sesuai dengan Acuan itu. Karena Jiwa (dari Alam Azali) itu tanpa memori, maka ia bisa berkesinambungan dengan Acuan (bayi) yang langsung tidak berilmu.

Oleh karena itu, Jiwa itu berlakon mengikut Acuan itu setiap masa. Sehingga apabila Acuan berumur melebihi 90 tahun maka Jiwa terpaksa mengikutinya, yaitu berlakon menjadi seorang tua, lemah lagi tidak berdaya. Begitu juga kalau Acuan itu Gila, Pikun, Cacat mental atau fisikal dll, Jiwa mesti juga mengikutinya. Jiwa juga mesti berlakon mengikut jantina (kelamin), bangsa, bahasa serta agama dari Acuan.

Karena Acuan ini, maka Kalian bisa melihat Jiwa atau Roh Kalian itu, apakah di dalam mimpi atau saat terjaga, berbentuk rupa Acuan itu. jadi bukan berbentuk rupanya yang asli seperti di Alam Azali.

Jelaslah, bahwa Jiwa (yang dari Alam Azali) itu, saat berada di Alam Dunia, terikat erat dengan Acuan di Alam Dunia. Dan Acuan ini terikat erat dengan Kitab Takdir Kita.

Dengan kematian, maka terlepaslah Acuan dari ikatan Kitab Takdir lalu hancurlah ia (Jasad yang ditanam). Dengan itu, maka terlepaslah Jiwa dari Acuannya lalu kembalilah ia ke asal rupanya (seperti di Alam Azali) lalu mendiami Alam Bazakh.

Maka di sini yang dikatakan bila wafatnya anak Adam maka terputuslah segala amalannya. Maksudnya, maka terhentilah segala LAKUAN atau LAKONANNYA.

Seperti Jiwa dari Alam Azali masuk ke Alam Dunia berbekalkan Cahaya Makrifat, begitu juga Jiwa yang terlepas dari Alam Dunia masuk ke Alam Bazakh berbekal Cahaya Aqidah (Makrifatullah), maka oleh sebab itu ia sudah TIDAK perlu lagi bersyahadah (Kau-lah, Tuhan kami!).

Kalau Jiwa di Alam Azali dan di Alam Bazakh sudah berbekal Cahaya Aqidah (Makrifatullah), maka mengapakah kita di Alam Dunia mesti bersyahadah,”Tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad, Pesuruh Allah!”

Anakku, Sesungguhnya Alam Dunia itu hanyalah Pentas Ilahi. Karena itu Syahadah ini hanya berada di Alam Dunia saja dan tidak ada dalam Alam Azali dan Alam Bazakh. Dengan ini apa juga yang yang berkait dengan Alam Dunia tertinggal di Alam Dunia tidak kembali masuk ke Alam Azali atau maju masuk ke Alam Bazakh.

Apakah corak hidup di Alam Azali dan Alam Bazakh, hanya Allah swt yang tahu. Sehubungan dengan ini, Allah swt memerintah Rasulullah saw supaya berkata bahwa baginda hanya manusia biasa tidak mengetahui langsung kepada perkara-perkara yang ghaib. Kunci kepada yang ghaib adalah dengan Allah swt.

Petak 3 – Hidup di Alam Bazakh

Anakku, yang disayangi.

Begitu terjadi kematian, maka terlepaslah JIWA dari berlakon watak yang sudah ditetapkan untuknya (di Alam Dunia) oleh Loh Mahfuz. Jiwa akan kembalilah ke rupa asalnya seperti rupanya di Alam Azali namun tanpa memori dari Alam Azali dan dari Alam Dunia. Memori di Alam Azali tertinggal di Alam Azali dan memori (termasuk rupa) di Alam Dunia tertinggal di Alam Dunia. Semuanya tidak dibawa masuk ke Alam Bazakh.

Di Alam Barzah, maka kembalilah ia ke rupa asalnya seperti di Alam Azali yang berumur 33 tahun. Harus diingat bahwa Roh adalah DICIPTAKAN, bukan dilahirkan. Oleh sebab itu umurnya adalah sentiasa 33 tahun, karena 33 tahun itulah ketentuan umurnya semasa ia diciptakan.

Pertanyaannya, bagaimana Kalian bisa mengenal anak atau ibu atau bapa atau nenek atau datuk Kalian di Alam Bazakh kalau rupa semuanya sudah berubah kembali kepada rupa seperti di Alam Azali dan umur semuanya 33 tahun?. Bukan saja itu, jiwa (yang berupa seperti di Alam Azali) tiada berbangsa, berbahasa, berkebudayaan, berjantina, berwajah (Alam Dunia) dan bentuk-bentuk lain yang berkait dengan Alam Dunia.

Jawabnya, Apa yang berlaku di Alam Dunia, akan tertinggal di Alam Dunia. Karena di Alam Dunia itulah tempat Allah swt bergurau senda dengan Dzat yang berlakon dalam bentuk sifat-sifat tertentu. Lakonan tertentu itu akan langusng terhenti dengan adanya kematian.

Allah swt ada berfirman bahwa janganlah Kalian menyatakan orang yang mati dijalan Allah swt (syahid) itu mati, tidak begitu mereka hidup dan mendapat rezki daripadaNya. Sehubungan dengan firman ini maka diketahuilah tentang adanya cara hidup di Alam Bazakh. Tetapi cara hidup yang bagaimana? Adakah rezeki yang diberikan kepada mereka di Alam Barzah sama dengan rezeki yang diberi di Alam Dunia?. Bisakah jiwa yang tidak berjisim memakan sesuatu yang berjisim (“mass”)? Lalu rezki macam apakah yang dimaksudkan oleh Allah swt yang diberi kepada mereka? Juga, apa makna mereka hidup? Adakah mereka berjasad semula lalu bernyawa, oleh karena itu dapat menikmati rezki seperti rezeki yang dapat di Alam Dunia ini? Adakah skrip yang baru yang mesti dilakonkan oleh jiwa-jiwa ini di Alam Bazakh?

Seperkara lagi, jiwa yang sudah berada di Alam Bazakh TIDAK bisa kembali ke Alam Dunia karena:

1. Buku Kehidupannya (Script) sudah ditutup.
2. Watak yang dahulu dia lakonkan sebelum kematian sudah tiada.
3. Ia langsung tidak ada memori Alam Dunia.

Maka siapakah yang dijumpai oleh seseorang, ketika ia berjumpa atau bermimpi berjumpa dengan arwah Ahli keluarganya dll. Yang dijumpai ini tidak lain adalah Qarin (syaitan dampingan Kita yang bersama Kita sejak Kita lahir). Ini yang disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa anak Adam menangis semasa dilahirkan karena dia diganggui oleh syaitan.

Maka jumhur ulama AS menyatakan bahwa apabila matinya Anak Adam maka terputuslah dengan segala amalannya.

Asmady Kabisa:
Ustaz ingin bertanya ada hadis Rasulullah berkata, ada 3 Amal jariah yang tidak terputus selepas kenatian iaitu sedekah, ilmu yang bermunafaat, doa anak yang soleh. Apakah ini masih terpakai walaupun kita ke Alam Bazrah.

Utd Hussien Abdul Latiff:
Di sini sekali lagi menyentuh perbedaan AS dan AT.

Bagi AS, mereka melihat kepada perbuatan itu adalah perbuatannya dan dengan perbuatannya itu maka datanglah pahala dan dosa. Natijah dari itu adalah Syurga dan Neraka.

Bagi AT, Imam Ghazali berkata bahwa kalau kamu kenal dirimu dan kamu kenal Tuhanmu, maka kamu tahu kamu tidak wujud. Maka Allah swt ada berfirman bahwa apakah nikmatKu kau nafikan.

Maka anakku, kalaupun kamu beramal jariah bermacam-macam, hendaklah kamu ROC Dan “make don’t know”. Ini seperti kekata Pak Pandir:
“Ada Mata lihat,
Ada Telinga dengar,
Ada mulut diam,
Tepuklah tangan.
Buat tak tahu!”
Disambut oleh Luncai,”Bairkan, biarkan!”

Rio Benny Arya:
Assalamualaikum Ustadz. Apakah tidak ada kemungkinan sama sekali untuk bertemu arwah keluarga yang sudah meninggal ustadz?. Berarti setiap mimpi bertemu arwah keluarga apakah sudah pasti qarin ustadz?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Bagaimana mau berjumpa (melainkan jumpa Rasulullah saw) apabila rupa diri jiwa yang di dalam Alam Bazakh itu berlainan dengan rupa di alam Dunia. Kita tidak pernah melihatnya di Alam Dunia. Bukan saja itu, jiwa itu juga berumur 33 tahun. Juga, bagaimana jiwa itu mau masuk ke Alam Dunia apabila Allah swt ada berfirman bahwa ada Hadangan (BATAS) yang memisahkan Alam Bazakh dengan Alam Dunia. Karena itu, sudah beribu tahun berlalu tidak seorang atau jiwapun yang datang dari Alam Bazakh menceritakan Kehidupan di sana. It is a total cut-off (langsung terputus).

Maka apa yang serupa dengan rupa si arwah dalam Alam Dunia (termasuk mimpi) kalau bukan si arwah?. Maka jawapan ialah Qarin. Harap diingati bahwa rupa Kita juga tertinggal di Alam Dunia ini.

Faizal Daira:
Maaf Ustadz ijin bertanya, apakah ada jiwa yang tertolak masuk ke alam Bazakh sehingga jiwanya mengembara di alam dunia…

Utd Hussien Abdul Latiff:
Rupa Jiwa yang berada di Alam Dunia mengikut rupa yang tertera di Kitab Takdir (Buku Kehidupan). Rupa ini berubah mengikut Masa serta mirip rupa Jasad di Alam Dunia.

Jiwa di Alam Bazakh mengikut rupanya aslinya di Alam Azali serta berumur 33 tahun dan umur ini tidak berubah.

Untuk Jiwa di Alam Bazakh kembali ke Alam Dunia dan menjadi Jiwa Alam Dunia adalah seperti Itik yang panjat masuk ke kandang Ayam lalu menjadi Ayam! Bisakah?

Zain Yamas:
Mohon izin Ayah , Zainul ingin bertanya..

Adakah qorin yang menjelma menjadi arwah di dalam mimpi itu qorin dari golongan malaikat atau juga qorin dri golongan jin” seperti hadis di bawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ، وَقَرِينُهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ “… (اخرجه أحمد وصححه الألباني)

Dari Abdullah Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: “Setiap kalian (manusia) ada Qarin (pendamping) dari bangsa jin, dan juga Qarin dari bangsa Malaikat…” (Shahih HR Ahmad, dishahihkan al-albani (Shahihul jami’:

Utd Hussien Abdul Latiff:
Benar karena yang membisikkan kepada Ibu Nabi Musa (as) supaya meletakkan Nabi Musa (as) semasa bayi ke dalam bakul Dan hanyutkannya di Sungai Nile adalah Malaikat.

Petak 2 – Hidup di Alam Dunia

 

Semasa Kita di Alam Azali, Kita sudah dewasa (33 umur), bisa berbicara, bisa berfikir dan bisa membuat keputusan. Namun apabila Kita masuk ke Alam Dunia, karena kita masuk ke dalam Jasad seorang bayi, maka hilanglah semua daya Kita dalam bertutur, memikir, membuat keputusan dan tanda-tanda kedewasaan kita. Memori Kita di Alam Azali lansung Hilang atau padam. Jiwa Kita yang di Alam Azali sudah dewasa kini menjadi bayi yang langsung tiada punya daya dan kuasa apa-apa. Yang bisa Kita perbuat hanya menangis. Memori kita yang berpuluh-puluh (mungkin ratusan atau ribuan) tahun di Alam Azali langsung hilang menjadi Nol begitu kita masuk ke Alam Dunia. Juga terputus apa juga perhubungan Kita dengan mereka yang di Alam Azali dan juga antara mereka dengan Kita. Oleh karena itu, kita tidak mengetahui apa yang sedang berlaku di Alam Azali dan mereka juga di sana tidak mengetahui apa yang berlaku kepada Kita di Alam Dunia.

 

Setelah dilahirkan, lalu hiduplah Kita sebagai manusia di Alam Dunia berpandukan Kitab Takdir Kita. Dan kehidupan Kita di Alam Dunia ini hanya akan berakhir dengan kematian Kita.

 

Maka Allah swt berfirman bahwa apabila Kita wafat, maka tertinggal segala anugerah Allah swt kepada Kita dan segala andaian-andaian Kita.

 

“Tertinggallah segala anugerah” ini termasuk memori. Yaitu, semasa kita meninggalkan Alam Azali masuk ke Alam Dunia, memori Kita berkenaan Alam Azali langsung hilang atau padam. Begitu juga apabila Kita masuk ke Alam Barzakh, sesudah kematian kita, maka memori Kita di Alam Dunia juga akan hilang dan padam. Bukan saja itu, perandaian Kita seperti Tahlil, Haul seseorang Alim dan sebagainya langsung jadi tidak bermakna. Ia hanya andaian orang-orang tertentu saja.

 

Berarti apabila Kita tinggalkan Alam Dunia dan masuk ke Alam Bazakh, Kita juga akan tinggalkan segala-galanya.

 

Oleh karena itu, kalau Kita renungkan permulaan hidup Kita di Dunia ini, maka kesimpulannya ialah Kita memulai hidup yang baru yang tiada kaitan langsung dengan Alam Azali.begitu juga, apabila Kita tinggalkan Alam Dunia ini, hidup Kita di Alam Dunia ini juga berakhir dan tidak terbawa ke Alam Bazakh. Apabila hal ini Kita renung lebih mendalam, maka sadarlah Kita bahwa benarlah firman Allah swt yang meyatakan bahwa hidup di Dunia hanyalah satu drama saja. Yaitu Drama Ilahi, dan Dunia ini hanyalah pentasnya. Lakonan hidup Kita bermula dan berakhir hanya di atas Pentas Dunia saja.

Rangkuman Syarahan Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff..

Anakku, yang disayangi.

Kalau Kita boleh membagi Masa dari Kita di Alam Azali hingga Kita masuk ke Syurga sampai kiamat kedua, semuanya bisa diletakkan dalam 4 petak.

Petak 1 – Hidup di Alam Azali.

Kita langsung tidak ada pengetahuan berkenaan dengan hidup Kita di Alam Azali. Berapa lama Kita sudah berada di sana? Bagaimana keadaan hidup di sana? Adakah Kita mempunyai keluarga sanak saudara dan sahabat tolan? Adakah ada jiwa (ciptaan) yang lain di sana selain Kita? Atau, adakah semua jiwa di sana “homogeneous” (sejenis) dan mendapat peranan masing-masing bila masuk ke Alam Dunia?.

Kita hanya tahu bahwa Kita pernah berada di Alam Azali karena firman Allah swt yang bertanya,”Bukankah Aku TuhanMu?” Dan Kita menjawab,”Benar, Kaulah, Tuhan Kami!”.

Hasil dari renungan atas firman ini membuktikan bahwa Kita sudah dewasa. Kalau tidak dewasa, bagaimana kita bisa diambil kesaksiannya), bagaimana Kita bisa memikir & bertutur. Dan dengan kenyataan Kita itu (kita menjawab: “Benar Kaulah, Tuhan kami!”) berarti Kita sudah beragama. Sehubungan dengan ini, muncul pertanyaan, adakah kita beribadah di sana dan bagaimana caranya? Adakah di sana mempunyai kerajaan, perundangan, pembangunan, pengajian dll.

Herannya, sudah beribu tahun berlalu, tak ada satu jiwapun dari Alam Azali turun atau Nabi-nabi, Wali-wali, Manusia dll untuk menceritakan akan kehidupan di Alam Azali. Juga Kita apabila masuk ke Alam Dunia, langsung tidak teringat apapun semasa Kita di Alam Azali. Seolah-olah, Kita semua mengalami “amnesia”. Sehubungan dengan ini, adakah kelahiran Kita ke Dunia ini adalah Kematian Kita di Alam Azali? Berarti juga Kita di sana pun bersandiwara?

Apa pun juga, semua ini adalah pertanda Kebesaran Allah swt bahwa hanya Dia saja yang Maha Mengetahui yang ghaib. Oleh karena itulah ada firman-Nya yang memerintahkan Rasulullah saw untuk berkata bahwa baginda hanya manusia biasa yang tidak ada pengetahuan pada yang ghaib.

%d blogger menyukai ini: