Feeds:
Pos
Komentar

“Sekarang coba kamu lihat anak lelaki kecil berumur dua tahun yang sedang berjalan dengan ibu bapaknya itu”, kata Ayahnya menunjuk seorang anak lelaki berpakaian bagus yang sedang melintas bersama kedua orang tuanya di depan mereka yang tengah asyik menyeruput secangkir kopi yang sudah mulai habis mereka minum.

 

“Lihatlah, anak itu sesekali kelihatan meronta untuk bisa lepas dari pegangan tangan ibunya. Ia seperti ingin menjauh dan lari dari orang tuanya. Ia ingin mengarungi kehidupannya sendiri. Karena ia merasa sudah bukan seorang bayi lagi. Ia merasa sudah menjadi seorang anak kecil yang sudah bisa berjalan sendiri, dan ia sudah tahu pula keadaan sekelilingnya yang menarik perhatiannya”.

 

“Dan sekarang coba kamu bandingkan pula dengan anak remaja lelaki yang sedang berjalan dengan seorang perempuan setengah baya itu. Ayah yakin perempuan itu adalah ibunya. Kamu lihat bahwa remaja itu sudah tidak mau lagi berjalan dengan tangannya dipegangi oleh ibunya. Ia seperti sudah bisa lepas dari keterikatannya dengan ibunya. Ia sudah bisa melakukan segala hal sendiri dan dengan caranya sendiri pula. Ketika ia menghadapi berbagai masalah, ia seperti sudah merasa malu untuk minta tolong kepada ibunya. Kalaupun ia minta tolong kepada ibunya, paling-paling ia hanya minta doa saja kepada ibunya. Setelah itu ia kembali merasa bisa untuk menjalani kehidupannya secara sendiri-sendiri”.

 

“Demikianlah wahai anakku, kebanyakan manusia semakin tua umurnya, maka ia akan semakin jauh pula dari raihan jemari tangan ibunya”, kata Ayahnya sambil sejenak meneguk sisa kopi yang masih ada dicangkirnya.

 

Ia lalu terdiam mengingat keadaan dirinya sendiri dalam usianya yang sudah lebih dari setengah abad. Entah kapan saat terakhir ia merasakan kegembiraan seorang anak yang berada dalam genggaman jemari tangan ibunya, yang juga sudah almarhumah. Sudah lama sekali… dan segera saja ia disergap oleh kerinduan kepada almarhumah ibunya yang ia tahu sangat amat sayang kepadanya…

 

“Begitu pulalah perilaku manusia kepada Tuhannya, wahai anakku. Makin banyak yang bisa ia ketahui, ia kerjakan, ia lakukan, dan ia miliki, maka ia akan merasa semakin bisa pula berdiri diatas kaki sendiri. Ia seakan-akan tidak membutuhkan lagi Allah di dalam hidupnya. Ia merasa bisa melakukan segala-galanya dengan kemampuannya sendiri. Ia merasa bisa memikirkan, ia merasa bisa mengubah hidupnya, ia merasa bisa berusaha, ia merasa bisa merencana, ia merasa bisa menentapkan, ia merasa bisa memutuskan, ia bahkan merasa bisa menciptakan. Ia merasa bisa segala hal, sehingga ia pun merasa bebas dan merdeka pula untuk menyatakan keberadaan dirinya dan segala kebisaannya itu yang nantinya akan berubah menjadi kepemilikannya”.

 

“Dengan penuh semangat ia ingin mendeklarasikan kepada seluruh isi dunia: inilah “aku”, ini milikku, dan aku bisa pula ini dan itu”.

 

“Apakah itu yang disebut merasa wujud ayah?, tanyanya menyela nasehat ayahnya.

 

“Benar anakku, itulah yang disebut sebagai orang yang merasa wujud”

 

“Karena merasa wujud, maka segera saja ia akan merasa “terpisah” dengan segala sesuatu. Ia merasa terpisah dengan sesama makhluk, terpisah dengan alam. Ada dia dan ada orang lain, atau ada dia dan ada makhluk yang lain. Bahkan ia juga merasa terpisah dengan Allah. Ada dia dan ada Allah swt”

 

“Karena merasa terpisah dan dengan segala kepemilikannya, maka ia pun dengan sangat mudah BERGADUH dengan orang lain, dengan makhluk lain, dengan alam, dan bahkan juga dengan Allah swt. Pergaduhan itu ditandai dengan mudahnya terucapnya dari bibirnya tanya “kenapa” dan ia merasa berhak pula untuk “menetapkan dan memikirkan” segala sesuatu. Dan dari sinilah kegaduhan itu muncul dan berkembang kesegala arah yang menimbulkan kepedihan bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Darah dan air matapun tumpah mengiringi kepedihan demi kepedihan itu”.

 

“Pada puncak kepedihan itu, barulah ia merasa bahwa ternyata sebenarnya ia tidaklah sehebat, seberkuasa, dan sekuat yang ia duga, ditambah pula dengan pancaran cahaya makrifat atau kekuatan fitrah yang sudah tertanam di dalam hatinya sejak di alam azali dulu, yang selalu menarik-nariknya untuk kembali menemui Tuhannya, maka ia pun mulai mencari tempat berpegang, tempat bergantung, tempat meminta bantuan dan pertolongan. Dorongan kekuatan fitrah inilah kemudian yang membuatnya mulai mencari-cari PINTU agar ia bisa kembali menghadap dan bertemu dengan Tuhannya”.

 

“Siapapun juga ternyata akan melakukan hal yang sama ketika mereka mulai merasakan kepedihan di dalam hidup mereka. Begitu mereka ditimpa oleh kepedihan dan permasalah hidup, maka mereka mencari-cari dan menggapai-gapai menemukan pintu agar mereka bisa keluar dari permasalahan mereka.  Mereka baru ingat bahwa Allahlah sebenarnya yang bisa membantu mereka. Mereka akan berdoa lebih khusyuk. Cuma anehnya, begitu kepedihan mereka sudah hilang, masalah-masalah mereka sudah teratasi, maka kebanyakan merekapun kembali lupa dengan Allah. Itulah memang jalan cerita yang sudah dituliskan oleh Allah untuk sebagian besar umat manusia untuk terjadi dari masa ke masa. Itulah Fitrah manusia…”.

 

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”,  (QS YUNUS:12)

 

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”, (QS HUD:9)

 

Bersambung

Iklan

Ditengah-tengah pertanyaan-pertanyaan yang kembali menerobos alam pikirannya itu, ayahnya tiba-tiba berkata memecahkan keheningan saat itu:

 

“Kamu lihat bayi kecil yang sedang tertidur lelap dipangkuan ibunya itu”, kata ayahnya sambil menunjuk kepada seorang ibu yang sedang duduk di sebuah kursi tunggu di dalam sebuah mall yang besar. Dipangkuan ibu itu ada seorang bayi sedang tertidur lelap dengan tenang dan nyamannya.

 

“Sang bayi tidak pernah memikirkan apapun di dalam hidupnya. Mindanya tidak pernah berkocak walau apapun permasalahan yang menimpa dirinya. Saat ia merasa tidak nyaman, ia hanya tinggal semakin memeluk ibunya dengan lebih erat. Kalaupun ia bersuara, nada yang keluar hanyalah keluhan atau erangan ringan yang menandakan bahwa ada sedikit suasana yang berubah yang ia rasakan. Ia merasa tidak nyaman. Begitu jejari tangan ibunya menyentuh kepalanya dengan lembut, atau ibunya memeluknya dengan lebih ketat, atau ibunya cukup hanya sekedar berdesis “hush…, hush… huss”, ia kembali akan merasa tenang dan nyaman”. Respon ibunya itu sungguh membuatnya merasa aman dan damai, merasa tenteram.

 

“Ketika ia terbangun dari tidurnya, tapi masih dalam dekapan ibunya, dan matanya mulai memandang kesekelilingnya, sang bayi juga seperti tidak terpengaruh dengan apa-apa yang dilihatnya. Seakan-akan apa yang dilihatnya itu tidak teregistrasi di dalam mindanya. Rupa apapun yang dilihatnya, itu seperti tidak mengganggunya sama sekali. Andaikan disampingnya ada bayi lain dengan jenis kelamin yang berbeda, tidak ada sedikitpun nafsu syahwat kepada lawan jenis yang muncul di dalam mindanya. Andaikan saat itu ada orang yang memperlihatkan uang, emas, dan perhiasan yang sangat banyak di depan matanya, semua itu seperti tidak berpengaruh sedikitpun baginya. Tidak ada nafsu untuk memiliki harta dan perhiasan itu yang muncul di dalam hatinya”.

 

“Ia seperti bisa memandang dengan cara pandang yang lain dari pada pandangan orang dewasa. Kalau pada pandangan orang dewasa, apapun yang dia lihat didepan matanya, maka semuanya itu langsung masuk dan teregistrasi di dalam hatinya. Saat matanya memandang lawan jenisnya, maka lawan jenisnya itu langsung masuk kedalam hatinya dan menimbulkan nafsu syahwat kepada lawan jenis yang naik secara perlahan tapi pasti. Saat matanya memandang pada berbagai harta kekayaan dan perhiasan emas, maka harta kekayakan dan perhiasan emas itu langsung menempel di didalam hatinya sehingga memunculkan hawa nafsu untuk memilikinya dengan berbagai cara dan usaha”.

 

“Dari dua contoh yang ayah berikan itu, apakah kamu dapat membedakan KEADAAN hati antara seorang bayi dengan hati seorang dewasa?”, tanya ayahnya seperti tengah menyelidiki kepahamannya.

 

Ia terdiam dan mencoba mencari jawaban di dalam benaknya. Tapi ia tidak menemukan jawaban itu di dalam benaknya.

 

“Anak tidak tahu ayah”, katanya perlahan.

 

“Kamu coba perhatikan dengan baik:

 

Yang pasti adalah bahwa minda si bayi masih relatif KOSONG dari berbagai rupa, umpama, serta sampah dan sarap lainnya. Mindanya masih suci dan bersih seperti ketika ia baru dilahirkan. Sedangkan minda orang dewasa sudah sangat amat penuh dengan berbagai sampah dan sarap yang telah teregistrasi dan masuk ke dalam mindanya selama hidupnya yang sekian belas atau puluh tahun lamanya. Minda orang dewasa itu boleh dikatakan sudah penuh dengan bintik-bintik hitam akibat dosa-dasanya, atau mindanya telah menjadi kuning dan menjijikkan karena dibalut dan ditutupi oleh hawa nafsunya.

 

Karena si bayi itu mindanya masih kosong dari berbagai sampah dan sarap pikiran, maka tentu saja mindanya itu akan menjadi bersih, suci, dan bercahaya. Mindanya tidak berkocak sedikitpun seperti permukaan air laut yang sangat tenang ketika dilihat dari tempat ketinggian. Minda yang tidak berkocak itulah yang disebut dengan HATI YANG TENTERAM.

 

Kamu tentu masih ingat apa yang pernah Ayah ajarkan kepadamu bahwa hati yang Ayah maksud itu adalah hati yang halus yang terdiri dari tiga anasir, yaitu Minda, Penglihatan, dan Pendengaran. Hati yang halus itu tidak ada kaitannya sedikitpun dengan Hati jasmani yang terletak di dalam dadamu. Sebab hati yang halus itu bertempat di dalam benakmu membentuk minda, penglihatan, dan pendengaran.

 

Kamu tentu juga masih ingat wahai anakku, bahwa Hati yang halus itu akan berhubung kait dengan Ruhmu. Tenang atau tidaknya ruhmu itu sangat amat tergantung kepada keadaan dari hatimu itu. Kalau hatimu tenteram, maka ruhmu juga akan menjadi tenteram pula. Sebaliknya kalau hatimu bergolak dan kacau, maka ruhmu juga akan bergolak dan kacau balau pula.

 

Hati yang tenteram beserta dengan ruh yang juga ikut menjadi tenteram inilah yang disebut sebagai JIWA yang tenteram, Jiwa Muthmainnah. Karena Hati yang bersama dengan Ruh itulah yang disebut dengan JIWA atau NAFS”.

 

“Nah…, jiwa yang tenteram seperti jiwa seorang bayi inilah yang berkenan untuk dipanggil oleh Allah untuk kembali kepada-Nya dengan ridho dan diridhoi-Nya”, kata ayahnya dengan lebih tegas.

 

“Sekarang tentu kamu sudah dapat melihat persyaratan dari JIWA YANG TENANG ITU, yaitu orang-orang yang MINDANYA SUDAH KOSONG dari berbagai sampah dan sarap berupa ingatan-ingatan kepada segala sesuatu yang ada bentuk, rupa, dan umpama. Inilah persyaratan utama bagi Jiwa yang Tenteram. Mindanya harus kosong, sehingga hatinya juga otomatis menjadi kosong dari berbagai ISI berupa ingatan-ingatan akan bentuk, rupa dan umpama. Sebab ingatan-ingatan itulah yang kelak akan memberikan berbagai beban pikiran bagimu. Dan engkau akan selalu menjunjung beban pikiranmu itu dimanapun kamu berada dan kemanapun kamu pergi”.

 

Bersambung

 

HATI YANG KOSONG

 

“Anakku, pagi ini ayah akan bercerita kepadamu tentang makna sebenarnya dari istilah Pembersihan Jiwa, atau lebih dikenal orang sebagai Tadzkiyatunnafs. Tentu kamu pernah mendengar dan membaca tentang istilah itu bukan?”, tanya sang ayah kepada anaknya.

“Tentu saja ayah”, timpal sang anak dengan penuh semangat.

 

Buat sejenak dia seperti terlambung kembali kepada kenangan masa lalunya yang kala itu dia sangat getol melakukan berbagai proses yang kata guru-gurunya nya waktu itu adalah proses tadzkiyatunnafs. Dan ayahnya seperti tahu tentang apa yang sedang berkecamuk di dalam benak anaknya. Makanya ayahnya hanya diam saja sambil menyeruput secangkir kopi dan kudapan sepotong goreng pisang menunggu anaknya selesai melakukan proses seperti past life regresssion ke masa lalunya.

 

Betapa saat itu dia ingin sekali hatinya menjadi bersih dan suci seperti bersih dan sucinya hati seorang bayi. Sementara hatinya sendiri saat itu seperti dipenuhi dengan hawa nafsu yang selalu menarik-nariknya untuk berbuat fasiq. Dalam rentang waktu belasan tahun, berbagai cara telah ia lakukan, misalnya: dari cara-cara yang non agamis seperti meditasi cakra, meditasi pernafasan, dan meditasi-meditasi lainnya, sampai kepada cara-cara yang bersentuhan dengan agama Islam seperti membaca al quran, shalat-shalat sunnah, puasa senen-kamis, dzikir-dzikir ala tarekat “N”, Patrap 1-2-3 baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, Uzlah dan menyepi ketempat yang jauh dari keramaian untuk beberapa lama, bahkan komunitas Shalat Khusyu yang saat itu kelihatan baginya sangat keren, juga dimasukinya dengan penuh semangat. Sebanyak itu proses tadzkiyatunnafs yang dia lakukan, dan sesering itu pula malah perbuatan fasiq yang mencuat kepermukaan jalan hidupnya. Seakan-akan proses yang dia lakukan itu hanya memberikan bekas perbuatan taqwa yang sangat sedikit, kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali. Apalagi bekas taqwa yang permanen.

 

Ia seperti berjalan dari satu pintu kamar ke pintu kamar yang lain di dalam sebuah rumah yang lorong-lorong terhubung bak sebuah labirin. Memang setiap kamar itu ada fenomenanya dan keadaannya sendiri-sendiri. Ada memang hal-hal yang luar biasa yang dia alami di dalam setiap kamar rumah itu.  Ada fenomena baru, dan ada pula fenomena yang hanya berupa ulangan dari fenomena sebelumnya yang ada di dalam kamar yang lain.

 

Misalnya: ada fenomena getaran tubuh atau fisiknya yang bersentuhan dengan getaran-getaran yang ada di alam sekitarnya; ada getaran halus di dalam dadanya; ada perasaan bahwa dirinya, yang katanya itu adalah dirinya yang sejati, seperti bisa keluar dari badannya; ada perasaan dirinya yang berubah menjadi sangat luas dan tak terbatas; ada fenomena tenaga atau power yang seakan akan bisa dikontrol dan dikendalikannya; ada perasaan yang sangat nyaman dirasakannya di dalam shalatnya (akan tetapi diluar shalat, ternyata kenyamanan itu menghilang dengan cepatnya); ada perasaan bahwa hatinya, yang saat itu dia kira ada di dalam dadanya, bisa terhubung dan tersambung dengan Allah swt; dan sebagainya.

 

Semua yang dia alami itu kalau dilihatnya secara jernih lebih banyak kepada fenomena Mistiknya, daripada fenomena Ibadahnya. Sehingga yang dia cari adalah fenomena mistiknya itu, walaupun di dalam shalatnya sekalipun.

 

Yang lebih mengherankannya adalah bahwa fenomena-fenomena mistik yang dialaminya itu kalau dicarikan ayat Al Qur’an atau Al Hadist yang mendukungnya, ternyata ada pula. Cukup banyak malah.

 

Sungguh, dengan semua yang dilalui dan dialaminya itu, saat itu rasanya sudah finallah perjalanan pencariannya tentang jati dirinya. Namun ternyata dia belum merasa sampai di titik akhir perjalanan dan pencariannya. Masih ada satu FITRAH yang selalu bergejolak di dalam hatinya. Fitrah yang selalu membawanya ingin masuk ke dalam kenyataan atau realitas dari ayat Al Quran berikut ini:

 

Wahai Jiwa yang mutmainah (tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kedalam surga-Ku“. (QS Al-Fajr 27-30)

 

Ayat inilah yang selalu membawanya untuk bertanya dan bertanya: Orang macam apakah gerangan yang disebut oleh Allah sebagai orang yang memiliki Jiwa yang tenang itu, Jiwa Muthmainnah, sehingga Allah berkenan memangilnya untuk datang dan kembali kepada-Nya dengan hati yang RIDHO dan diridhoi-Nya pula. Serta bagaimana pulakah karakter orang-orang yang dipanggil oleh Allah sebagai hamba-hamba-Ku itu. Sehingga jamaah itu dimasukkan oleh Allah ke dalam Syurga-Nya.

 

Pertanyaan itu demikian terngiang di dalam hatinya. Seperti ada sebuah kerinduan yang amat sangat yang menarik-nariknya untuk bisa kembali datang menghadap kepada Allah seperti saat pertama kali Allah menyatakan Diri-Nya kepadanya di alam azali dengan sebuah pertanyaan yang sangat fenomenal: “Alastu birabbikum, bukankah Aku ini Tuhanmu”, dan saat itu jiwa-nya menjawab dengan tanpa keraguan sedikitpun: “bala syahidnya, benar ya Allah aku bersaksi bahwa engkaulah Tuhanku”.

 

Tanya jawab singkat antara hamba dengan Tuhannya ini ternyata telah menimbulkan bekas yang sangat dalam dihatinya, bahkan bekas itu juga terjadi pada hati setiap manusia yang lahir. Bekas itu membentuk cahaya makrifat yang tersemat erat di dalam hati semua manusia. Cahaya ini tidak akan pernah hilang, walau hati manusia itu digelapkan oleh dosa-dosa seberat dan sebesar apapun. Cahaya inilah yang menari-narik hati setiap manusia untuk kembali untuk bertemu dan menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Esa.

 

Cahaya inilah yang membuat setiap manusia selalu ingin mencari dan menemukan pintu untuk bisa kembali bertemu dengan Allah Swt. Apapun agamanya, apapun kepercayaannya, semua orang sebenarnya ingin bertemu dengan Allah Swt sebagai Tuhan mereka. Akan tetapi jalan ceritanya sudah ditulis sejak firman “kun”. Bahwa ada manusia yang sudah bisa menemukan pintu untuk kembali bertemu dengan Allah, dan ada pula manusia yang belum menemukannya dan masih sibuk mencari-cari pintu itu dengan berbagai cara dan metoda.

 

Seyogyanya, berbagai proses tadzkiyatunnafs yang telah dilaluinya itu akan membuahkan hasil berupa Jiwanya menjadi Tenang seperti yang dipersyaratkan oleh ayat diatas. Akan tetapi dia sendiri malah menjadi terheran-heran. Kenapa dia masih sangat sering gelisah dan selalu bertanya “kenapa dan kenapa” baik kepada orang lain maupun kepada Allah sendiri atas apa-apa yang dialaminya di dalam hidupnya.

 

Bersambung

Wasiat Arfif Billah mengenai Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw:

My advice to a dear friend about selawat to Rasulullah saw:

Yes is ok to selawat to Rasulullah saw, but to subordinate the Greatness of Allah to that of Rasulullah saw by heralding Rasulullah saw all the times is not what Rasulullah saw and all the other Prophets were sent to do by Allah swt.

We must all the times heralded the Greatness of Allah swt though we may love Rasulullah saw. In other words, don’t over do it with regard to heralding Rasulullah saw.

Let it known that because of heralding Rasulullah saw, many have made Rasulullah saw equal to Allah swt like Christians heralding Jesus and in the end made him God.

So beware my dear with regard to those heralding Rasulullah saw as they may be the ones subscribing to the concept that Rasulullah saw is Ahmad without “m” = Ahad. These are the peoples who greatly heralded Rasulullah saw.

Anakku…,

  1. Semasa di Alam Sakinah, kalian akan diajarin ILMU YANG JATI yang akan menjadi dasar atau asas tugasan kalian. Dan dengan ilmu ini kalian tidak akan menjadi jahil lagi akannya. Sesuai dengan firmanNya bahwa Dia mengajar manusia ilmu yang tidak diketahui mereka. Juga sesuai dengan sabda Rasulullah saw bahwa apabila Allah swt menyayangi seorang, Dia akan memberi orang itu kefahaman dalam agama.

2. Apabila Alam Sakinah sudah BERCAHAYA maka kalian akan DITURUNKAN (dikeluarkan dari Alam Sakinah itu), Oleh sebab Itu:

a. Ruang Minda kalian akan berubah menjadi WADAH ILMU ataupun menjadi MADRASAH di mana turunnya ilmu dari sisi Allah swt.

b. Serta di Madrasah ini juga kalian diberi LATIHAN ROHANI seperti OBE, Wisata Bertujuan (Astral Projection), Kasyaf, Mata Ketiga dan sebagainya, demi untuk menyiapkan kalian untuk tugasan yang akan kalian terima.

Oleh sebab itu, apabila kalian mendapat tugasan seperti mengajar maka setiap kenyataan ataupun pelajaran yang diucapkan atau diajarikan oleh kalian adalah sesuatu ilmu yang kalian sudah mantap. Justeru itu, apabila ilmu itu disampaikan atau diajarkan, maka ia menjadi mudah, senang difahami, tersusun, dibantu oleh rujukan-rujukan seperti al Quran, Ahadith, kitab-kitab yang mutakbar dll, dibantu juga oleh ilmu-ilmu seperti Sains, Astronomy, Engineering dll, dibantu oleh ilustrasi, gambaran, video dll, dan akhir sekali senantiasa dibantu oleh ilham-ilham yang turun ke Minda kalian.

Karena itu Syeikh Abdul Qadir al Jelani berkata bahwa kalian menjadi gedung ilmu ilahi dan ilmu yang pelik-pelik akan turun kepada kalian.

Sampai sini sahaja anakku tazkirah ini, insya-Allah, akan kita ketemu lagi di lain masa.

PENUTUP

Dengan selesainya artikel berkenaan dengan seluk beluk Dzikrullah ini, maka selesai pulalah pembahasan Dzikrullah ini di dalam WEBSITE PELITA DZATIYAH ini. Setelah ini tidak ada lagi pembahasan tentang dzikrullah di Web site ini. Karena artikel ini sudah memuat sedemikian lengkapnya serba serbi dzikrullah dari awal sampai akhir. Bak kata pepatah, “Kok ilmu lah sampai di qatam, kok jalan lah sampai di ujung”, setelah itu tinggal hanya menjalaninya saja lagi.

Semoga dengan ini, umat Islam sudah tidak “gamang” lagi ketika bercerita tentang dzikrullah, sebuah amalan yang sangat tinggi nilainya, lebih tinggi dari memberi sedekah emas dan perak, dan lebih baik daripada kamu semua bertemu musuh lalu kamu penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kamu semua.” Bahkan saking tingginya nilai Dzikrullah ini, andaikan seseorang sibuk dengan Dzikrullah ini dan ia lupa untuk berdoa kepada Allah untuk kepentingan pribadinya, malah Allah akan memberinya apa-apa yang melebihi orang-orang yang berdo’a. Ini seperti hadist yang dinukilkan oleh Malih bin Harits, bahwasanya Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang disibukkan dengan dzikir kepada-Ku hingga melupakan ia dari berdoa (memohon) kepada-Ku, maka Aku akan memberikannya melebihi yang Aku berikan kepada orang-orang yang berdoa.”

Begitu juga, umat Islam nantinya agar bisa memahami bahwa Dzikrullah itu bukanlah pada akhirnya bermuara pada bermain-main MAGIK atau KERAMAT atau untuk MENUNJUKKAN KELEBIHAN-KELEBIHAN kita di depan umum, seakan-akan doa kita, ibadah kita, dan dzikir-dzikir kita telah menjadi sangat ampuh untuk, sehingga seakan-akan bisa memerintah-merintahkan Allah Swt untuk memakmulkan apapun keinginan kita. Bukan begitu.

Dzikrullah yang selalu kita lakukan dengan senantiasa, malah akan meningkatkan pula amalan-amalan kita seperti:

  1. Shalat malam seberapa yang mampu, (paling tidak 20 rakaat dan 3 witir).
  2. Puasa seberapa yang mampu melainkan 5 hari yang dilarang iaitu 2 Hari Raya dan 3 Hari Tasrik.
  3. Banyak membaca al Quran.
  4. Banyak bersedeqah.
  5. Bersifat kasih sayang karena di mata kalian yang wujud hanyalah Dzat.
  6. Memegang kuat akan Syariah.
  7. Sebenar-benar takut kepada Allah swt yang Maha Ghaib namun sentiasa Melihat, Mendengar, Mengawasi dan Mengetahui,

Semuanya kita lakukan seperti orang yang sedang KETAGIHAN atau KASAMARAN kepada kekasih kita. Kita tidak mau beranjak TURUN dari Base Camp atau Bilik Khalwat kita yang berada paling kurang SATU JENGKAL diatas ubun-ubun kita. Disitulah kita banyak duduk Dzikrullah, NST jika kita punya masalah, dan ROC jika kita tidak punya masalah. Tempo-tempo kita bisa bermain-main pula dengan Tenaga atau Power, mumpung kita belum ada tugasan. Biarlah kita tidak dikenal oleh siapapun, kecuali oleh sahabat-sahabat kita seperjuangan. Kita menunggu Panggilan dan Jemputan Ilahi, untuk dimasukkan-Nya ke dalam rombongan orang-orang Allah yang memang tidak banyak jumlahnya.

Artikel ini boleh jadi bukan ditujukan untuk generasi yang hidup sekarang ini. Ia bisa saja ditujukan untuk generasi yang akan datang. Sebab mungkin saja banyak yang bisa membaca artikel ini pada saat ini, akan tetapi ia tidak diberikan hidayah oleh Allah swt untuk mendapatkannya sampai tuntas. Ada saja halangan baginya untuk melakukannya sampai selesai.

Akan tetapi, bagi yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt baginya Hidayah, maka ia akan mencari dan mempelajari Ilmu Makrifatullah dan Dzikrullah seperti yang diterangkan dalam artikel ini dengan semangat 45. Jarak dan waktu bukan lagi menjadi penghalang baginya. Ia akan kejar ilmu ini sampai dapat.

Satu hal yang wajib untuk diperhatikan disini adalah bahwa, DZIKRULLAH tidak akan mungkin bisa dilakukan dengan BENAR dan TEPAT tanpa kita memahami ILMU MAKRIFATULLAH terlebih dahulu. Sebab ilmu Makrifatullah akan mengantarkan kita untuk bisa MENGINGAT ALLAH Swt tanpa menyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Sebab banyak pula orang yang sudah berdzikir, atau menyebut-nyebut Nama Allah swt, atau Subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illa Allah, Allahu Akbar, akan tetapi saat melakukan itu mereka belum mengenal Allah Swt dengan pengenalan Yang Jati, sehingga yang mereka dapatkan umumnya adalah fenomena MAGIK, KESAKTIAN, KERAMAT, dan rasa SERBA BISA dan SERBA TERPELIHARA oleh Allah Swt yang sebenarnya kesemuanya itu lebih condong untuk meningkatkan KESOMBONGAN mereka.  

Namun begitu, kalau ada yang ingin mempelajarinya lebih dalam, silahkan lihat syarahan-syarahan Arif Billah Ustad Hussien BA Latiff di website http://yamasindonesia.org. Atau datanglah kepada sahabat-sahabat Beliau yang memang sudah pernah diajarkan langsung oleh Beliau, dan telah dibolehkan pula oleh Beliau untuk mengajarkannya. Atau bisa pula, selagi Beliau masih ada, datanglah untuk bertemu Beliau walau hanya sekali saja…

Dengan demikian, selesailah Artikel tentang Dzikrullah ini.

Wallahu A’lam.

Wassalaamualaikum warah matullaahi wabarakaatuh.

Anakku, dalam keadaan sesuci bayi, kalian hanya berpaut dan pasrah kepada Allah swt sahaja. Itulah yang difirmankan kepada Rasulullah saw supaya menjadi orang yang pertama-tama menyerah sepenuhnya (berpaut dan pasrah) kepadaNya.

 

Dalam pada masa yang sama, kalian redha akan ketentuanNya tanpa rungutan. Sesuai dengan firmanNya memerintah Jiwa yang tenteram kembali kepadaNya dengan rasa puas lagi diredhaiNya.

 

Beginilah keadaan kalian Di Luar Alam Sakinah yang kalian tidak dapat naik lagi karena kuatnya sinaran di dalamnya (Ambient Light).

 

Dalam keadaan kalian seperti ini, dzikrullah kalian akan senantiasa “on” (berterusan). Namun ada-ada masa keadaan suci kalian membuat dzikrullah kalian bergegar hebat natijah dari ini maka terbukalah mata ketiga kalian.

 

Firman Allah swt ada menyebut bahwa semasa kalian tidur dipegangnya Jiwa kalian. Bagi yang hidup, dilepaskan Jiwa mereka apabila bangun dari tidur, iaitu roh dan hati, kembali ketempat masing-masing.

 

(Perjalanan Jiwa kalian kembali ke KEPALA KALIAN. Itulah perjalanan yang kalian selalu amalkan dan dikenal sebagai “Naik”.)

 

Namun bagi mereka yang sudah SAMPAI AJAL mereka sesuai dengan firman Allah swt, roh mereka dihantar ke kerongkong mereka.

 

Inilah juga perjalanan untuk terbukanya mata ketiga. Roh berjalan naik kekerongkongan. Perjalanan roh ini yang bermula dari bahagian ulu hati hingga ke kerongkongan, akan memberikan rasa sejuk atau dingin naik dari dada ke kerongkongan.

 

Sementara itu, hati sudah kembali ketempatnya.

 

Dari kerongkong, roh naik melintasi kedua mata membuatnya terbalik iaitu mata hitam terputar masuk ke belakang dan hanya mata putih saja yang kelihatan di balik kelopak mata. Dari situ, roh masuk ke dalam Otak lalu pergi kebelakang Otak sebelum membuat pusingan (putaran) kembali (U turn) menuju ke depan Otak. Sesuai dengan firman Allah swt iaitu masa mata dan hati terbalik.

 

Sesampai roh ke depan Otak di antara kedua kening maka terbunyi “plop”. Maka terbukalah ruang di antara kedua kening itu laksana tingkap terbuka. Lalu roh (dalam bentuk yang sangat kecil) itu tertolak keluar dari tingkap itu. Inilah keadaan terbukanya mata ketiga.

 

Bagi mereka yang sudah sampai ajalnya maka akan bermulalah gelombang sakaratul maut menolak roh mereka ke pintu Alam Bazakh. Bagi mereka yang belum sampai ajal mereka, roh mereka bisa kembali masuk ke jasad mereka melalui tingkap yang disebutkan tadi.

 

BERSAMBUNG

c. SETELAH HATI SESUCI BAYI

 

Anakku, sesudah kalian menjadi sesuci bayi dengan fitrah yang bersih lagi suci seperti kain putih, kalian akan dicorakkan oleh Ilahi. Karena itu Khidir berkata bahwa dia berbuat sesuatu itu bukan dengan kemahuannya. Karena itu Syeikh Abdul Qair Al Jilani berkata bahwa apabila ombak Takdir memukul kalian ke sana dan ke sini hendaklah kalian berkelakuan pasif iaitu kepasrahan sepenuhnya (Total). Maksudnya, ikutkan sahaja. Ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw bahwa hendaklah kita hidup macam biasa.

 

Pengertian akan sesuatu perkara itu adalah dengan Allah swt bukan dengan kalian. Karena itu Khidir berkata kepada Musa (as) supaya jangan bertanya kenapa Khidir melakukan sesuatu sehingga Khidir sendiri memberitahunya (sesudah pengertian diberi Allah swt kepadanya). Ini sesuai dengan firman Allah swt bahwa Dia tidak ditanya. Karena itu apabila Nabi Nuh (as) dan Rasulullah saw terlupa akan fakta ini dan bertanya maka Allah swt berfirman maksudnya,”Jangan kamu jadi orang yang jahil.”

 

Begitulah anakku, keadaan Boneka atau Alat Perkakas Ilahi. Dan dari mereka terbitlah Af’al Ilahi seperti mukjizat, wahyu, ilmu dan sebagainya.

 

Untuk memahami konsep ini maka amat perlulah tersemat dalam diri kalian bahwa “Aku tidak wujud”, barulah kalian tidak buta lagi dan matahati kalian menjadi tajam bisa melihat sandiwara Ilahi. Sehubungan dengan ini Imam Ghazali berkata bahwa apabila kita mengenal akan Tuhan kita dan mengenal akan diri kita maka kita tahu kita tidak wujud.

 

Maka kalau tidak wujud apa bikin tanya?

Benar nggak anakku?

Faham anakku?

Ada masalah?

 

Kalau kalian jawab kepada satu atau lebih soalan di atas ini berarti kalian masih ngak faham lagi dan tidak mendapat pencerahan.

 

Hehehe “tricky” atau “pusing”…

 

Bersambung

%d blogger menyukai ini: