Feeds:
Pos
Komentar

Wasiat Arif Billah

Anakku yang dikasihi. Loh Mahfuz ibarat sebuah Jigsaw Puzzle (Sebuah Susunan potongan-potongan gambar) yang besar. Maka semua ciptaan termasuk Ruang dan Masa adalah potongan-potongan gambar yang disusun memenuhi dan menjadi sebuah gambaran yang besar lagi lengkap. Gambaran yang lengkap itulah Loh Mahfuz. Sesuai dengan firmanNya bahwa Ketetapan atau RencanaNya adalah tetap dan teguh karena tidak satupun dilupakanNya. Seperti kita melihat sebuah Jigsaw Puzzle yang padat, lengkap lagi sempurna.

 

Kalau kesemua ciptaan adalah potongan-potongan gambar yang tersusun padat dalam Loh Mahfuz, ini berarti kesemua fisikal Kita (potongan-potongan gambar) adalah termelekat ke Loh Mahfuz. Karena Loh Mahfuz adalah 12 biliun tahun luasnya maka potongan-potongan gambar yang melekat dalam sesuatu petak masa tidak dapat beralih ke petak masa yang lain. Ini adalah karena bukan saja ia (potongan gambar) melekat ke petak masanya, tetapi juga potongannya tidak dapat “fit” (menyeyuai) ke dalam petak masa yang lain. Justeru itu, potongan gambar dalam petak satu tidak bisa “fit” dirinya dalam petak enam.

 

Kefahaman ini membuat Kita sadar bawa yang bisa miraj dari satu petak masa kepada satu petak masa yang lain, iaitu petak masa ke 3 (Masa miraj) pergi ke petak masa ke 6 (Gambaran ahli Syurga & Neraka), mestilah sesuatu yang tidak terikat kepada petak-petak masa yang luas itu.

 

Oleh karena itu, yang miraj adalah dijalani oleh MALAIKAT dan JIWA RASULULLAH, yang tidak terikat kepada Masa. Dengan ini jelaslah bahwa Jiwa Rasulullah saw yang miraj bukan Jasad baginda. Karena itu, Siti Aisyah rdh berkata bahwa tempat duduk Rasulullah saw masih terasa panas apabila baginda pulang sahaja dari miraj. Ini berarti jasad baginda tidak ikut bersama.

 

Semoga anakku dapat memfaat dari apa yang Ayah sampaikan, aamin Ya Rabbil alamin!

Iklan

Anakku yang disayangi. Maka ada sahabat bertanya kepada Rasulullah saw bahwa kalau semua sudah tersirat dalam Loh Mahfuz maka bukankah lebih baik Kita hidup berpeluk tangan sahaja. Maka Rasulullah saw bersabda jangan berbuat begitu tetapi hendaklah Kita hidup seperti biasa.

 

Hidup seperti biasa maknanya kalau lapar, makan (jangan tidak makan), kalau haus, minum (jangan tidak minum), kalau mau pandai, belajar (jangan tidak belajar), kalau sakit, jumpa dokter (jangan tidak pergi), kalau anak jahat, nasihatkan (jangan tidak nasihat), kalau mahu dikasari atau mahu diperkosai atau dicopet, lawan (jangan tidak lawan) dan kalau berkerja atau berusaha, hendaklah bersungguh-sungguh (jangan tidak bersungguh-sungguh).

 

Itulah maksudnya hidup seperti biasa.

 

Namun bagi yang sudah makrifat, walaupun Hidup macam biasa yang maksudnya adalah seperti yang sudah diterangkan diatas, namun dari sudut kacamata mereka (yang sudah makrifat) berbeda. Karena dalam pandangan mereka:

  1. Ciptaan tidak wujud. Karena kedua-dua pelaku tidak wujud.
  2. Kedua-dua pelaku itu adalah sebenarnya DzatNya.

 

Sesuai dengan firmanNya bahwa bukan Muhammad yang membunuh tetapi yang membunuh adalah (Dzat)Ku.

 

Anakku, sebenarnya apa yang berlaku di antara pelaku-pelaku itu adalah suatu Ujian Ilahi untuk mempastikan Kalian masih ingat kedua-dua prinsip bahwa (i) kalian tidak wujud, dan (ii) yang berlakon adalah DzatNya.

 

Oleh karena itu, sekiranya Kalian berkata bahwa anak saya jahat maka saya mesti menasihatinya, atau saya sakit tak kan saya tidak mau pergi jumpa dokter. Maka dengan itu, Kalian sudah gagal dalam ujian Allah swt. Karena Kalian sudah kembali buta semula. Sesuai dengan firmanNya bahwa jangan kamu kata kamu sudah beriman sebelum kamu diuji oleh Ku.

 

Anakku jangan sekali-kali kamu lupa akan firmanNya bahwa Dialah Yang Zahir dan Dialah Yang Batin. Justeru itu hanya ada satu wujud iaitu Dzat (ciptaan)Nya yang Halus lagi Meliputi semua termasuk Ruang dan Masa.

 

Semoga anakku yang dirindui dapat sematkan pengajian di atas ini dalam diri kalian supaya Kalian, Insya-Allah, tidak akan gagal apabila datang ujianNya, aamin Ya Rabbil alamin!

 

Anakku yang dirindui.  Sesudah kedua-dua prinsip (Ciptaan tidak wujud dan yang wujud ialah Dzat) ini sudah bermastautin (berkekalan) di dalam diri Kalian, oleh karena itu di mana sahaja Kalian memandang, Kalian akan saksikan DzatNya bersandiwara mengikut rentak Loh Mahfuz. Sesuai dengan firmanNya bahwa hidup di dunia ini hanyalah senda gurauan dan main-main.

 

Maka apa yang Kalian saksikan adalah Rahasia Ilahi yang hanya bisa dilihat oleh Kalian yang sudah makrifat karena Mata Kalian sudah tajam, tidak buta seperti dahulu. Justeru ramai yang menangis apabila menyadari Rahasia atau Kebenaran ini.

 

Sesudah mengetahui akan Rahasia ataupun Kebenaran ini maka apakah mesti Kalian buat?

 

Jawapannya ialah hendaklah KALIAN BANYAK DIAM. Seperti Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata bahwa kalau Ibadah itu 10 maka 9 adalah diam.

 

Anakku yang disayangi. Kenapa mesti Kalian diam dan tidak menjejeh (memperkatakan) akan Rahasia ini?.

 

Karena anakku kalian sudah berpegang kepada dua prinsip dan prinsip yang pertama ialah (i) Kalian tidak wujud. Justeru kalau Kalian tidak wujud maka bagaimana Kalian bisa berkata-kata? Karena kalau Kalian buat begitu maka Kalian sudah wujud sekali lagi. Dengan itu Kalian kembali menjadi buta.

 

Karena itu Nabi Khidir as berkata kepada Nabi Musa as bahwa Nabi Musa as tidak akan memahami ilmu yang ada pada diri Nabi Khidir as. Justeru itu, Nabi Musa as tidak akan dapat bersabar.

 

Maka apabila Nabi Khidir as memecahkan perahu-perahu serta membunuh seorang budak maka Nabi Musa as tidak dapat menerimanya. Walaupun Nabi Musa as tidak dapat menerimanya namun Nabi Khidir as bisa melakukannya. Ini adalah karena Nabi Khidir as berpegang kepada dua prinsip seperti Kalian iaitu (i) Tiada pembunuh dan yang dibunuh karena ciptaan tidak wujud dan (ii) yang berlakon adalah Dzat. Namun Nabi Khidir as tidak bisa menerangkan seperti ini kepada Nabi Musa as. Karena Nabi Khidir memandangkan Nabi Musa as masih “buta”. Maka penjelasan yang diberikan oleh Nabi Khidir as adalah penjelasan yang bisa diterima oleh orang-orang yang tidak mempunyai ilmu ini atau yang buta. Karena penjelasan yang Nabi Khidir as beri masih bisa dipertikaikan lagi oleh mereka ini, seperti mengapa tidak Allah swt menengelamkan perahu-perahu itu dan buat budak itu serta merta sakit lalu mati. Justeru itu, Nabi Khidir as tidak akan berbuat kemungkaran yang besar itu (memecahkan harta benda orang lain dan membunuh).

 

Bagaimana Nabi Khidir as tidak menjejehkan (memperkatakan) Rahasia Ilahi, begitu juga Rasulullah saw. Apabila banyak kaum Quresh mati dipanah oleh baginda maka baginda dituduh membunuh umatnya sendiri. Walaupun berhadapan dengan tuduhan yang sangat berat ini, namun baginda tidak membuka Rahasia Ilahi serta hanya berdiam diri. Kenapa baginda buat begitu?. Karena baginda juga berpegang kepada kedua prinsip seperti Kalian dan juga karena kaum Quresh pada masa itu masih buta dan tidak bisa faham atau menerima penjelasan baginda berkenaan Rahasia Ilahi.

 

Oleh karena itu, Allah swt yang memfirmankan Rahasia ini untuk menjadi rujukan bagi mereka yang tahu akan Rahasia atau Kebenaran ini. Firman Allah swt yang berhubung dengan ini ialah bahwa “maka (yang sebenarnya) bukan kamu (Muhammad) yang membunuh tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu (Muhammad) yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar…” (al Anfal 17)

 

 

Wasiat Arif Billah Ustd H Hussien BA Latiff

 

Anakku, Allah swt berfirman kepada Rasulullah saw serta juga kita, orang-orang yang beriman supaya menyerah diri sepenuhnya. Inilah Islam iaitu “Submission to the Will of Allah swt” ataupun Penyerahan Sepenuhnya kepada Takdir Allah swt.

 

Untuk Penyerahan Sepenuhnya, Kita yang sudah makrifat mesti sentiasa “Nafi & Isbat”. Minda sentiasa menafi setiap sifat termasuk diri Kita sendiri serta mengisbatkan Dzat yang meliputi lagi berlakon mengikut skrip yang tersirat dalam Loh Mahfuz. Sesuai dengan firmanNya bahwa apabila semua dinafikan (binasa) yang tinggal Dzat (ciptaan)ku. Sesuai juga dengan firmanNya bahwa bukan Rasulullah saw yang membunuh tetapi yang membunuh adalah (Dzat)Ku.

 

Apabila Minda Kalian sudah bisa berbuat demikian maka sadarlah Kalian bahwa kesemua ciptaan termasuk diri Kalian serta juga iblis dan syaitan tidak wujud karena yang sebenar wujud ialah DzatNya. Sesuai dengan kekata Imam Ghazali bahwa apabila Kalian mengenal Tuhan dan diri Kalian maka kalian tahu Kalian tidak wujud.

 

Apabila ini difahami maka Kalian tahu bahwa bukan Sifat yang berlakon tetapi yang berlakon adalah Hakikat segala ciptaan iaitu Dzat Wajibul Wujud mengikut Ketetapan Allah swt yang tidak akan berubah di dalam Loh Mahfuz. Karena itu syaitan berkata (seperti tertera dalam Al Quran) bahwa mereka hanya boleh menggoda yang sudah ditetapkan untuk mereka dalam Loh Mahfuz.

 

Justeru anakku, apa juga yang berlaku adalah lakonan Dzat mengikut yang sudah ditetapkan dalam Loh Mahfuz. Maka apa juga kebaikkan atau keburukkan yang datang menjelang di Bulan Ramadan yang mulia ini Redhalah dengan KehendakNya yang sudah ditetapkan sebagai Takdir Kalian. Dengan ini, Kalian akan terlepas daripada termasuk ke dalam golongan yang sudah ditetapkan yang dapat digoda oleh Syaitan. Sesuai dengan kata Syeikh Abdul Qadir Al Jilani bahwa dalam hidup ini yang dilambung-lambung oleh ombak Takdir, tidak ada untung dan tiada rugi.

 

Semoga dan Insya-Allah, anakku yang dikasihi lagi dirindui dapat memfaat dari apa yang Ayahmu sampaikan. Dan Ayah mengucap kpd kalian selamat menyambut Bulan Ramadan yang mulia yang akan menjelang pada Hari Isnin ini serta Selamat Berpuasa.

 

Maka apabila Kalian sudah memahaminya, maka tidak akan ada pada seseorang itu mukjizat, atau keramat atau kelebihan atau kemuliaan. Sebab kalau ada, maka orang itu sudah melawan “taukeh”. Karena dengan begitu yang menjadi popular adalah dia dan bukan Allah swt. Juga dia sudah mewujudkan dirinya maka terhijablah Dzat daripadanya, maka dia sudah menjadi buta lagi seperti semula.

 

Inilah masalah utama bagi yang belum bermakrifat dan tidak bisa Nafi & Isbat. Oleh karena itu, diri mereka senantiasa wujud didepan mata mereka dan ini akan sentiasa membawa mereka kepada pertanyaan “Kenapa?”, yang Nabi Isa as bersabda bahwa itulah Pintu Neraka.

Karena dirinya sendiri tidak dapat dinafikannya, maka datanglah keegoan, rasa mulia, rasa hebat, rasa berkuasa, rasa dia bisa berbuat yang luar biasa, tidak bisa berendah diri, sombong, bongkak dll. Ini terjadi karena Kewujudan yang tunggal, iaitu Allah swt, langsung tidak disadarinya.

 

Maka anakku yang dicintai:

  • Senantiasalah sematkan di dalam Minda Kalian bahwa Kalian tidak wujud serta,
  • Senantiasalah Mata Kalian Nafi & Isbat.

 

Dengan itu, maka Kalian akan menerima serta memahami Hakikat, bahwa Kalian adalah sebenar-benarnya tidak wujud.

 

Harap anakku yang dicintai memahami apa yang Ayahmu mahu sampaikan.

 

Anakku yang dicintai. Sesudah MINDA Kalian sentiasa ingat bahwa Kalian adalah tidak wujud dan MATA Kalian sentiasa pula Nafi & Isbat, maka Kalian akan sampai kepada kesimpulan bahwa kesemua ini adalah lakonan Dzat mengikuti dengan taat apa yang sudah tertera di Loh Mahfuz.

 

Apabila Kalian sudah memahami apa yang tertulis di atas ini, maka hendaklah kalian faham bahwa segala kesusahan, penderitaan, bala bencana, ketagihan, kesalahan, kelemahan, kemaksiatan, dll adalah suatu UJIAN.

 

Suatu Ujian untuk menguji apakah Kalian lupa atau tidak bahwa semua ini adalah Lakuan Dzat mentaati yang tersirat di Loh Mahfuz.

 

Sekiranya Kalian lupa, maka ujian ini akan menjadi satu PENYIKSAAN atau BEBAN yang sukar lagi berat untuk Kalian pikul. Sesungguhnya ini pasti akan berlaku, karena Kalian kembali merasakan akan Kewujudan Kalian, serta Kalian telah buta karena Kalian melihat bahwa Kalianlah yang berlakon.

 

Hendaklah dalam masa-masa ujian itu, Kalian memegang kuat kefahaman bahwa Kalian adalah tidak wujud, dan yang berlakon adalah DzatNya, serta hendaklah Kalian langsung kembalikan perkara-perkara itu kepada Allah swt. Seperti yang diperintah oleh Allah swt kepada Rasulullah saw dan orang-orang beriman supaya segera berserah diri dengan sepenuhnya kepada Allah swt atau TakdirNya.

 

Kalian harus mengambil iktibar dari lakuan Nabi Ayub as yang senantiasa rujuk kepada Allah swt dalam masa-masa dia sangat tertekan oleh ujian Allah swt. Juga seperti Nabi Yakub as yang senantiasa kembali kepada Allah swt apabila ditimpa kesusahan. Mereka hanya menceritakan dan mengembalikan kesusahannya kepada Allah swt saja, tidak kepada yang lain.

 

Apabila Kalian juga berbuat hal yang demikian, maka artinya Kalian sudah berpegang kepada SATU BUHUL TALI YANG KUAT. Dan syaitan tidak dapat mengugat keimanan kalian yang kokoh seperti yang dinyatakan oleh Kalian dalam shalat Kalian bahwa: “hidupku dan matiku hanya untuk Allah swt”.

 

Dengan begitu, maka Kalian tidaklah tertera dalam senarai (daftar list) yang telah ditetapkan sebagai orang-orang yang dapat digoda oleh Syaitan.

 

Semoga anakku yang diingati dapat mamfaat dari apa yang disampaikan ini, Insya-Allah, aamin Ya Rabbil alamin!

(oleh Utd Hussien Bin Abdul Latiff)

Berkayuh sampan
Di Laut Hidup,
Yang di penuhi oleh pulau-pulau,
Setiap satu hanya
Ada satu penghuni
Mereka hidup bergaya tersirat,
Tersirat oleh lumrah-lumrah,
Yang memenuhi
Kepulauan itu
Termasuk segala ruang dan tempat
Lumrah-lumrah yang sedia ada
Sebelum mereka ditempatkan disitu
Mereka mengikut Lumrah yang ada
Tiada pilihan, tiada tukaran.

Namun aku tidak di kepulauan
Kerana sudah aku pulangkan
Ku pulangkan pulau ke Empunya
Maka berbekal sampan ini
Berkayulah aku di Laut Hidup
Menyerah penuh kepadaNya
Yang Empunya Laut dan pulau

Maka berjagalah Aku bila berkayuh
Tersinggah jangan kepulauan
Lalu terperangkap
Lumrah-lumrah
Yang sukar dapat dilepaskan.
Maka sentiasalah
Aku berawas
Sambil mengayuh
Di Laut Hidup
Yang luas terbentang.

Dalam aku mengayuh Laut
Terpandangku
Ramai sampan
Sepertiku,
Sepertiku, mereka pulangkan pulau
Kepada yang Empunya
Lalu bersampan
Di Laut Hidup.

Apabila ku dekati
Aku terperanjat
Melihat Rasulullah
Sahabat-sahabat,
Orang beriman
Berada di sampan sampan itu
Berkayuh di Laut Hidup sepertiku.

Maka turunlah badai yang mengerunkan
Lalu memukul sampan-sampan
Yang ada,
Yang di hadapan
Sampan Rasulullah
Namun ku lihat
ramai lagi sampan
berhampiran baginda
Rupanya sampan nabi-nabi dahulu

Sesudah itu badai memukul pula
Sampan-sampan semua sahabat
Namun badai tidak sekuat dulu yang
Memukuli sampan Rasulullah dan para Nabi.
Sesudah itu badai datang kepada kami
Namun tidak sekuat dialami
Para sahabat nabi

Beginilah ragam di Laut Hidup
Sentiasa diuji
kekentalan Kita
Masih mahu
memegang ke taliNya serta berkata,”Cukup Allah swt bagiku!”

Bagaimana badai memukul
serta hidup menderita
namun ku terasa
puas lagi redha
kerana dapat bergantung hanya kepadaNya
juga terlepas aku
dari lumrah-lumrah
Pulau Hidup
Yang sangat
merbahaya lagi
menghayalkan.

Maka ku kayuh
Akan sampanku
Di Laut Hidup
Berpegang teguh kepada satu:
“Hidup dan matiku hanya untukNya!”

Maka kayuhku akan sampanku
Di Laut Hidup
Serah sepenuh
Kepada yang Empunya
Hidup dan matiku
DitentukanNya.

Apabila ku lihat
Ke belakangku
Ramai Sampan
Hampiriku
Dikayuh oleh anak-anak muda
Keadaan cemas kelihatan bingung
Seperti Rusa masuk kampung

Maka mereka mendekati sampanku lalu berkata,”Apa yang harus kami buat Pak Tua bersampan di Laut Hidup?”

Maka aku menjawab, “Teruskan mendayung di Laut Hidup berpaut hanya kepada yang Empunya walaupun dipukul badai yang kuat. Namun jangan sekali-kali kamu dekati atau Naik ke pantai Pulau Hidup, kerana akan kamu dijerat oleh lumrah-lumrah yang memenuhi segala ruang dan tempat Pulau itu.”

Lalu sambung aku kepada mereka,”Ingatlah anak muda duduklah kamu dalam sampanmu dan jangan sekali-kali kamu turun ke Pulau Hidup, kerana kamu sudah dahulu pulangkan Pulau kamu kepada yang Empunya.”

Sambungku lagi,”Ketahuilah anak muda Pulau Hidup itulah pentas Empunya dan siapa ada di Pulau itu adalah senimanNya. Lumrah-lumrah itu adalah skripNya.”

Lalu aku pun berkayuh meninggalkan mereka sambil  berpesan,”Ingat anak muda kalau kamu turun ke Pulau Hidup maka akan kamu dapati bahawa kamu tiada pilihan melainkan berlakon mengikut skrip Empunya.,,, Selamat Tinggal anak muda!”

Semasa mendayung sampanku, terlihatku peristiwa yang aneh,
Seorang tua di dalam sampannya yang sedikit jauh dari pantai Pulau Hidup, memanggil-manggil akan kenalannya yang asyik bergaya mengikut lumrah-lumrah di Pulau itu.
Setelah lama dan kepenatan ia menunggu dan memanggil akan temannya lalu dibocorkan kesemua Sampan yang berada di pantai itu.
Apabila temannya sudah puas bermain dengan lumrah Hidup lalu mahu menaiki  Sampan untuk bersama rakannya yang menunggunya di Sampan maka alangkah terperanjatnya melihat semua Sampan di Pantai itu sudah dibocorkan. Justeru itu berkata ia kepada sahabat yang di Sampan,”kerana sudah kesemua sampan-sampan ini dibocorkan maka tidaklah dapat aku mengikutimu!”
Maka sahabatnya yang berada di Sampan berkata,” Di sinilah sempadan perpisahan Kita, selamat Tinggal Musa!”.

 

Note:

Lumrah = unwritten rules or norms,

Contoh Lumrah,

Lapar + makan

Ngantuk + tidur

Haus + minum

Sedih + nangis

Kerusi + duduk

Gembira + ketawa

 

Lumrah adalah sesuatu yg Kita buat tanpa disedari. Sesuatu kebiasaan atau kelaziman

 

 

 

 

 

 

Oleh sahabat saya “BO”

 

“Innalloha yab’atsu lihadzihil ummati ala ro’si kulli miati sannatin man yujaddidu laha diinaha”. (HR. Abu Daud no. 3740).

 

Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun Allah SWT akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbaharui Agama mereka.

 

Al-Tajdid menurut bahasa maknanya berkisar pada “Al-Ihyau”: menghidupkan, “Al-Ba’tsu”: membangkitkan, “Al-Iadatu”: mengembalikan.

 

Makna-makna ini memberikan gambaran tentang 3 unsur, yaitu:

Wujudu kauniyah: keberadaan sesuatu,

Bala aw Durus: hancur atau hilang, kemudian

Al-Ihyau aw Al-Iadatu: dihidupkan dan atau dikembalikan.

 

Kata Tajdid merupakan Bahasa Arab yang berkata dasar dari akar kata: jaddada – yujaddidu – tajdiidan, yang artinya memperbaharui.

 

Kata ini kemudian menjadi jargon dalam gerakan pembaharuan Islam, agar terlepas dari Bid’ah, Takhayul, dan Khurafat serta hal-hal yang bersifat Syirik.

 

Dalam Tajdid itu bukan saja berbicara tentang Pembaharuan, tapi juga tentang Pemurnian.

 

Pembaharuan dengan melakukan kreasi dan inovasi Metodologi berupa konsep yang memudahkan dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya, berupa pemahaman Wahyu Allah yang tertuang dalam Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW (Hadits).

 

Pemurnian dengan mengembalikan pemahaman ajaran Islam sebagaimana aslinya dari ajaran Allah dan RasulNya yang masih murni dari pengaruh Bid’ah, Takhayul, Khurafat dan Syirik.

 

Dikatakan Pembaharuan sebagai sebuah Metodologi yang baru bukan berarti benar-benar baru, dimungkinkan bisa jadi hal tersebut sudah pernah ada namun karena keterbatasan referensi dan pemahaman kita hal tersebut terdengar baru.

 

Begitu luar biasa plan Allah dengan “menurunkan” hamba-hambaNya baik yang dalam kurun Satu Abad sekali, maupun yang dalam kurun Satu Milenium sekali dll. Baik yang Allah nyatakan maupun yang Allah rahasiakan ataupun yang Allah bukakan hanya bagi sebagian kecil orang saja. (Wallahu a’lam).

 

Alhamdulillah saya pernah bertemu dengan seorang hamba Allah sebagaimana tertuang dalam Testimoni saya di Yamas, bahwa Beliau memperoleh “mandat” untuk menyampaikan pemahaman Ma’rifatullah dan Dzikrullah berdasarkan Ilham yang Beliau terima, untuk kurun waktu Satu Abad sekali untuk seluruh dunia hanya satu orang.

 

Beliau biidzinillah pernah berbicara kepada saya bahwa sepeninggal Beliau nanti akan ada orang (Hamba Allah) yang akan menyampaikan pemahaman seperti Beliau namun lebih jelas dan terperinci. Beliau pun berbicara InsyaAllah kamu (maksudnya saya “BO”) akan Allah pertemukan dengan Beliau itu.

 

Alhamdulillah proses waktu Allah memperjalankan saya untuk bertemu dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff sebagai Mujaddid yang Allah turunkan dalam kurun waktu Satu Milenium atau Seribu tahun sekali untuk seluruh umat di dunia dan hanya satu orang.

 

Dibalik persamaan dari kedua Beliau hamba pilihan Allah tersebut ada sisi perbedaan yang membedakan antara Mujaddid kurun waktu Satu Abad dengan Mujaddid kurun waktu Satu Milenium.

 

Beliau yang dalam kurun waktu Satu Abad itu pada awalnya sekitar tahun 60-an membimbing ajaran pokok selama lebih kurang Satu Bulan nonstop, lalu sekitar tahun 70-an menjadi Satu Minggu, lalu sekitar 80-an menjadi hanya Satu hari saja s/d menjelang Beliau wafat. (Jujur saya belum / tidak tau persis kurikulum yang diringkas tersebut terdiri dari apa saja).

 

Berdasarkan keterbatasan pemahaman saya, diantara perbedaan itu diantaranya, yaitu:

 

  1. Beliau yang satu abad itu membimbing pemahaman Ma’rifatullah itu secara simpel, yaitu intinya mengimani Allah sebagai Yang laisa kamislihi syaiun.

 

Imam Al-Ghozali menyatakan bahwa standar minimal keimanan hamba Allah yang diselamatkan, yaitu mengimani/ menyakini Allah sebagai Yang laisa kamislihi syaiun.

 

Sedangkan Beliau hamba Allah sang Mujaddid dalam kurun waktu satu Milenium yaitu Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff memberikan Syarahan Ma’rifatullah dengan mengenalkan kita dengan Allah dan menumbuhkan keimanan bahwa Dia laisa kamislihi syaiun. Namun terkait penciptaan kita dikenalkan ajaran Ma’rifatullahl dengan “konsep Dzatiyah”.

 

Husnudzhon saya bila sebelumnya Ma’rifatullah dan Iman Billah dalam standar minimal keimanan, maka Beliau Arif Billah mengenalkan Allah dalam standar maksimal keimanan. (Wallahu a’lam).

 

  1. Beliau yang dalam kurun Satu Abad mengajarkan Dzikrullah, menerangkan hanya sebatas praktek Amaliyahnya persis sebagaimana yang diajarkan Beliau yang dalam kurun waktu Satu Milenium, namun penjelasan dalil secara simpel.

 

Sedangkan Beliau Arif Billah kurun waktu satu Milenium menjelaskannya dengan dalil-dalil Al-Qur’an Hadits yang lebih detil / secara terperinci.

 

  1. Beliau yang kurun waktu Satu Abad, hanya sebatas menyampaikan yang benar saja dari Ajaran (Ilmu) Allah dan RasulNya.

 

Sementara Beliau yang kurun waktu Satu Milenium, selain menyampaikan yang benar juga meluruskan yang salah/ keliru.

 

Diantara ajaran yang diluruskan, yaitu :

  • Ajaran Thoriqoh (Tasawuf jalan Wali-wali);
  • Ajaran Robithoh;
  • Ajaran Nur Muhammad;
  • Ajaran Wahdatul Wujud termasuk didalamnya ajaran Hulul, Ittihad, Manunggaling Kawulo Gusti, dll.

 

Beruntung sekali kita Allah anugerah kan dengan keberadaan Beliau Sang Mujaddid yang merupakan Pembaharu Ajaran Islam dan mengembalikan pemurnian ajaran Islam (atau Bang Yusdeka senang dengan istilah “Restorasi”), yang menyampaikan ajaran Islam secara Kaffah (komprehensif).

 

Wallahu a’lam.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh Sahabat saya “MZ”

 

Yang saya fahami dari Ustadz ialah mujaddid yang 100 tahun 1 orang ialah mujaddid yang membaharukan akan syariat.

 

Kalau mujaddid yang membaharukan dalam tasawuf ialah 1000 tahun 1 orang

 

Dari massa Imam Al Ghazali hingga ke Ustadz Hussien BA Latiff, Ustadzlah satu satu nya mujaddid yang bertaraf Arifbillah yang mengajarkan tasawuf jalan nabi nabi. Hanya 1 orang saja, yaitu Ustadz 1000 tahun 1 orang. Lain dari itu bukanlah mujaddid dalam tasawuf.

 

Di antara masa Imam Al Ghazali dan masa Ustadz Hussien BA Latiff, semua tentang ketuhanan (tasawuf) tidak bisa di jadikan aqidah. Hanya beliaulah yang mempunyai susunan ilmu tentang makrifatullah, sehingga bisa mengajar.

 

Ustadz memberi contoh: seperti huruf A sampai Z ustadz tahu susunan nya: abcdefj dst, sehingga Beliau bisa mengajar dan mempunyai mandat untuk mengajar. Sedangkan yang lain tidak mempunyai susunan nya. Mereka bisa faham ini A, ini D, ini H dan lain lain, tetapi mereka tidak tahu susunannya yang benar, sehingga mereka tidak bisa bisa mengajar. Dan juga orang-orang yang membaca kitab-kitab mereka malah bingung dan bisa tersesat

 

 

Tambahan Penjelasan oleh Sahabat saya “AT”

 

Apa yang disampaikan Bang “MZ” sesuai dengan apa yang disampaikan Ustadz.

Memang banyak orang yang makrifat namun tidak kesemuanya mempunyai kemampuan untuk menyampaikan/mengajarkan dalam artian bertaraf Arifbillah.

 

Ibarat ABJAD, banyak orang tahu ini A, ini D, ini Z, ini B tapi mereka tidak mengenali susunanya ABCDE dst.

 

Ustadz pun sebelum menyampaikan/mengajar juga sudah faham ini H, ini J, ini N namun belum memahami susunannya. Barulah setelah dikasih mandat oleh Rosulullah Muhammad SAW lengkap dengan kunci dan susunannya, Ustadz baru mampu menyampaikan/mengajar.

 

Namun sekali lagi yang perlu ditegaskan disini, Ustadz sering menekankan bahwasannya beliau hanya pemegang kunci makrifatullah.

Artinya untuk hal2 lain berkenaan syariah, fikh dsb di luar makrifatullah, masing-masing ada pemegang kunci/ahlinya.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh sababat saya “BO”

 

Tulisan saya itu untuk beberapa hal sudah saya konfirmasi dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff secara langsung pada saat pertemuan (Syarahan) di Kaliurang- Yogyakarta.

 

Saya pun ada mendapatkan penjelasan, bahwa secara umum Mujaddid yang kurun waktu Satu Abad lebih didominasi pada Mujaddid dalam bidang Syariat.

 

Bila masih ada yang belum pas saya serahkan kepada Allah Yang Maha memegang (memiliki) kunci semua Ilmu. (Astaghfirullah. Wallahu alam).

 

Inti dari tulisan saya, saya ingin menggugah para sahabat tentang betapa keberuntungan yang sangat besar terkait keberadaan Beliau, oleh karena itu manfaatkanlah peluang dan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, namun jangan pula disalah artikan.

 

Jangan hanya berhenti pada sifat, dalam hal ini:

 

Sifat: Beliau Arif Billah

Hakikat: Peranan Dzatnya

Ma’rifat: Allah itu sendiri.

 

Terkait dengan hal itu ada cerita sejarah yang cukup menarik, yaitu pada saat Nabi Muhammad Rasulullah SAW wafat.

 

Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Umar bin Khattab RA tidak mempercayainya sekalipun Beliau membuka sendiri kain penutup wajah Rasulullah SAW.

 

Sahabat Umar RA berkata: ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Demi Allah sebenarnya tidak meninggal, melainkan dia pergi kepada Robbnya seperti Musa bin Imran….

 

Sungguh Rasulullah akan kembali seperti Musa juga….

 

Sahabat Abu Bakar As-Siddik RA menenangkan Umar bin Khatab RA: Sabar, sabarlah Umar, dengarkanlah….

 

Namun Umar bin Khatab RA masih tetap tidak mau tenang, sehingga sahabat Abu Bakar RA:

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah Abu Bakar RA berkata: Saudara-saudara barang siapa yang mau menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal dunia, tetapi barang siapa yang mau menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak akan pernah mati.

 

Kemudian Abu Bakar RA membacakan firman Allah pada surat Ali Imron ayat 144:

 

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (Murtad), maka dia tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

 

Setelah itu Umar bin Khattab RA tersungkur ke tanah, beliau akhirnya tersadar bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah wafat.

 

 

Tambahan Penjelasan oleh “YDK”

 

Beliau Ustsdz Hussien BA Latiff, beberapa kali berkata bahwa: “Beliau hanyalah KALAM (tempat keluarnya Ilmu), sedangkan yang mengajar adalah ILMU itu sendiri. Itulah sebabnya banyak orang yang bisa bermakrifatullah tanpa kehadiran dan bertemu dengan Beliau. Banyak sekali yang sudah bermakrifatullah melalui Chanel Youtube “farhan4u2c”, dan “yamasindonesia”.

 

Akan tetapi, fakta bahwa adalah sebuah kesempatan emas untuk bisa bertemu dengan Beliau, walau hanya sekali saja, adalah satu hal yang lain lagi yang sangat sayang untuk dilewatkan. “Believe it ot not…”.

 

Oleh sebab itu:

 

ALHAMDULILLAH nya InsyaAllah kita bisa bertemu bagi yang belum pernah bertemu dan bisa bersilaturahmi lagi bagi yang sudah pernah bertemu dengan Beliau Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff, pada:

Tanggal: 26 s/d 29 April 2019.

Tempat: Hotel Asoka Luxury di Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung- Indonesia.

Acara: Seminar Makrifatullah, Era Globasisasi dan Ibadah, Keredhaan, dan Arah Tujuan Ummah.

Anakku, sesudah jiwa Kita masuk ke Alam Bazakh dan apabila Jiwa kita pandang kembali kepada dunia maka datanglah kesedaran:

1. Dunia ini adalah pentas Ilahi. Tempat Dia bergurauan dan bermain-main seperti firmanNya, Dunia ini hanya senda gurau dan main-main.

2. Jasad Kita yang diciptakan bernyawa lagi berwatak. Dicontohkan dalam firmanNya sebagai seorang bayi di mana amal perbuatannya udah tersangkut di lehernya. Teringat akan Jasad Nabi Adam as terbujuh layu dalam Syurga selama 40 tahun.

3. Pelakon sebenarnya ialah Jiwa yg turun dari Alam Azali lalu masuk kepada Jasad yg bernyawa lagi berwatak. Lalu bermulalah Kehidupan kepada Jasad yg bernyawa itu. Seperti memasuknya duit siling kedalam lobang di kereta robot di pusat riadah setelah meletakkan anak Kita diatasnya lalu kereta itu bergeraklah diikuti alunan musik ke depan, ke belakang, ke kiri dan ke kanan.

4 Maka berlakonlah Jiwa berpakaian (jasad yg bernyawa) serta mengikut watak yg udah tersedia ada dengan pakaian itu. Inilah kehendakNya dan hanya ada Satu Kehendak. Maka ditegur Rasulullah saw bahawa kalau Dia mahu, Dia bisa menjadikan semua di dunia beriman kepadaNya apabila Baginda merasa hiba kerana ramai umat baginda masih belum beriman. Begitu juga apabila Rasulullah saw merasa hiba kerana ada yg dekat dengan baginda masih belum beriman maka Allah swt berfirman bahawa hanya Dia sahaja yg bisa membuat orang yg terdekat dengan baginda beriman.

5. Maka sedarlah Jiwa bahawa ia tiada sedikit pun campur tangan dalam pentas Ilahi. Seperti firmanNya bahawa tidak sedikit campur tangan Kita atas urusan ini.

6. Fahamlah Jiwa bahawa Kita tidak ada pilihan melainkan patuh tunduk kepada perwatakan yg sedia dengan pakaian (Jasad bernyawa) Kita itu. Inilah yg Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata bahawa Kita tidak ada pilihan melainkan mengikut sahaja alunan perwatakan Kita atau Takdir Kita

7. Maka berlakonlah Jiwa sehingga dikunjungi kematian maka terlepaslah ia dari pakaian (Jasad bernyawa) dan perwatakan yg sedia ada lalu masuklah ia ke Alam Bazakh dalam keadaan ia yang asli (sebelum masuk kepada Jasad yg bernyawa itu).

Maaf anakku, mata ayah sekarang mahu masuk ke keadaan asli tidak mahu berlakon lagi… 😴😴😴

Anakku, sesungguhnya apabila kalian jejak ke Alam Bazakh segala talian dengan dunia Kita ini terputus samasekali. Contoh;

 

  1. Penyakit sama ada mental (seperti gila, pikun, dementia dll) atau fisikal (sakit kulit, kusta, kurap dll), semua penyakit ini tertinggal di dunia tidak ikut sama ke Alam Bazakh.

 

  1. Kecacatan mental (

Mental Incapacity) atau fisikal (OKU – Orang kurang upaya), kecacatan ini tertinggal di dunia tidak ikut bersama masuk Alam Bazakh.

 

  1. Pekak, bisu, buta, bahlul (idiots), sengau, rabun dll kecacatan tertinggal tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Keadaan ekonomi – miskin, kaya, papa dll keadaan ini tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Status atau kedudukan hidup Kita – Sultan, Presiden, Perdana Menteri, Menteri, Jeneral, Profesor, Hakim, Peguam Negara Penghulu, doktor, lawyer, jurutera, Akitek dll, kedudukan semua ini tidak ikut masuk ke Alam Bazakh

 

  1. Umur – bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan tua, semua umur ini tidak ikut bersama masuk ke Alam Bazakh. Di Alam Bazakh semua jiwa berumur 33 tahun.

 

  1. Pertalian – hamba sahaya, ibu-bapa, datuk-nenek dan seterusnya, suami isteri, anak, cucu dan seterusnya, saudara-mara, ipar duai dll, pertalian ini tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Kedudukan ukrawi – Mufti, Kadi, ulama, asatizah, Hakim, Hakam dll, kedudukan semua ini tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Kejahatan atau kemaksiatan – penjenayah,, penagih (nakoba, arak, Judi dll), penipu, “playboy” dll, tidak ikut bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Jantina – lelaki, perempuan, “apa kabar, bang” dll tidak ikut masuk bersama ke Alam Bazakh.

 

  1. Agama – Islam, Kristian, Hindu, Buddhist dll, tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Ukuran badan – gemok, kurus, “slim” dll, tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Selera makan Dan minum tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Suara, cerdik, bodoh, bijak dll tidak ikut ke Alam Bazakh.

 

  1. Penyakit – kanker, leukamia, ahmar (stroke), masalah ginjal, natuk kering (TB), Aids atau HIV dll, tidak ikut ke Alam Bazaar.

 

Pendekkata, bagaimana Jiwa Kita di Alam Azali, begitu juga jiwa Kita di Alam Bazakh.

 

Maaf anakku, mata ayah nak masuk ke Alam Beradu dan kalian ngak bisa ikut bersama, harap maklum… 😴😴😴

 

 

Yusdeka

Pak Ustadz, mohon pencerahan tentang 3 hal ini yang sangat sering disebutkan: bahwa semua terputus kecuali tiga perkara :

Anak yang sholeh

Sodakoh jahriah

Ilmu yg diamalkan.

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

Dari pandangan Syariah Saya, benar inilah yang ditinggalkan selepas Kita meninggal dunia.

 

Seperti  Musa as benar apabila beliau menegur Khidir as kerana memecah harta benda orang dan membunuh seorang kanak-kanak

 

Azri:

Assalamualaikum ustaz

Mohon maaf kerana bertanya dan mengharapkan tunjuk ajar daripada ustaz.

 

Kebanyakkan soalan timbul dikalangan jemaah malaysia pada penyataan

 

“pendekkata, bagaimana Jiwa Kita di Alam Azali, begitu juga jiwa kita di Alam Barzakh”.

 

Jawapan umur setiap ruh adalah 33 tahun sudah mereka ketahui.

Persoalan mereka adalah Adakah rupa ruh itu sama di alam azali dan alam barzakh seperti rupa kita 33 tahun di dunia.

 

Terima kasih ustaz.

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

(B).”Begitu juga rupaku berubah, kembali ke rupa asli,

Rupa jiwaku semasa di Alam Azali.

Kesemua di Alam Bazakh berupa seperti ku,

Rupa yang berbeza dengan rupa di dunia,”

 

Semestinya rupa Kita berubah kerana rupa Kita mengikut kitab Takdir kita udah ditinggalkan di dunia. Justeru itu, rupa Jiwa Kita yang asli semasa di Alam Azali terlepas dari jasad dan dari skrip Kita lalu masuk ke Alam Bazakh.

 

Azri:

Pernah satu waktu dahulu, ustaz menceritakan perjumpaan ustaz dan abang ustaz di luar alam barzakh, adakah ustaz mengenali rupa abang ustaz didalam rupa azali, betul ke pemahaman saya ini ustaz.

 

🙏mohon maaf ustaz

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

Jumpa di alam mimpi. Kalau Alam mimpi rupa seperti rupa di dunia.

 

Azri Acong:

Alhamdulillah ustaz

Terima kasih diatas pencerahan yg cukup jelas.

Mohon maaf sekali lagi kerana banyak soalan yg saya bawa pada malam ini.

Selamat beristirehat ustaz.

%d blogger menyukai ini: