Feeds:
Pos
Komentar

 

NUR MUHAMMAD1

 

Paham Nur Muhammad adalah sempalan dari Paham Wahdatul Wujud.

Paham ini beranjak dari keyakinan bahwa sebelum Allah menciptakan semua Makhluk, maka terlebih dahulu setengah Dzat atau Diri Allah berubah menjadi Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad itulah kemudian Allah menciptakan semua ciptaan (makhluk). Allah bersabda “KUN” kepada Nur Muhammad, lalu dari Nur Muhammad itu terzahirlah semua ciptaan.

Sedangkan pada Paham Wahdatul Wujud, untuk menciptakan semua makhluk, Allah langsung bersabda “KUN” kepada seluruh Diri atau Dzat-Nya. Lalu dari seluruh Diri atau Dzat-Nya itu terzahirlah semua ciptaan (makhluk). Satu dalam ramai, ramai dalam satu.

Riyadah yang dilakukan orang yang berpahaman Nur Muhammad ini sama saja atau tidak jauh berbeda dengan orang yang berpahaman Wahdatul Wujud.

“aku” punya jasad, maka jasadku “aku” rilekskan…

“aku” punya pikiran (otak), maka pikiranku “aku” diamkan…

“aku” punya hati (di dalam dada), maka hatiku “aku” dzikirkan (dengan menyebut Allah sebanyak-banyaknya)…

“aku” punya roh / jiwa, maka rohku / jiwaku “aku” perjalankan (mikraj) menuju Allah…

“aku” dekatkan, sentuhkan, dan sambungkan rohku / jiwaku dengan Allah…

 

PERANTARA:

Sebelum “aku” sampai kepada Allah,

“aku” sambungkan rohku / jiwaku dengan roh / jiwa guruku…

roh / jiwa guruku tersambung pula dengan roh / jiwa gurunya…

roh / jiwa guru dari guruku tersambung pula dengan gurunya…, dst..

roh / jiwa guru-guru-guru…, tersambung pula dengan roh / jiwa Nabi Muhammad

Roh / Jiwa Nabi Muhammad adalah Nur Muhammad yang pernah berjumpa dengan Allah…

Dengan begitu, “aku” pun berharap bisa berjumpa dengan Allah…

KEADAAN atau HAL yang didapatkan pelakunya dalam riyadah Paham Nur Muhammad ini juga hampir sama dengan yang didapatkan dalam riyadah Paham Wahdatul Wujud…

Dan Rasulullah Muhammad SAW, Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in tidak pernah mengalaminya…

Wallahu a’lam…

wahdatul wujud

 

Paham Wahdatul Wujud tidak membedakan antara Makhluk dengan Allah.

Dimanapun Makhluk berada, maka disitu Ada Allah.

Makhluk punya “aku”, dan Allah juga punya “AKU”

 

MELAKUKAN RIYADAH:

“aku” punya jasad, maka jasadku “aku” rilekskan…

“aku” punya pikiran (otak), maka pikiranku “aku” diamkan…

“aku” punya hati (di dalam dada), maka hatiku “aku” dzikirkan (dengan menyebut Allah sebanyak-banyaknya)…

“aku” punya roh / jiwa, maka rohku / jiwaku “aku” perjalankan (mikraj) menuju Allah…

“aku” dekatkan, sentuhkan, dan sambungkan rohku / jiwaku dengan Allah…

“aku” bawa jasadku kepada Allah…

“jasadku” terasa bersandar kepada daya dan gerak…

“jasadku” terasa bergetar…

“rohku / jiwaku” terasa bergetar…

“rohku / jiwaku” juga terasa mengapung

“rohku / jiwaku” terasa meluas…

“rohku / jiwaku” jadi PEPADANG (ALAM  SEMESTA)…

airmataku jatuh bercucuran merasakan semua keadaan itu…

“aku” melakukan semua itu agar “aku” menemukan “aku yang sejati”.

 

PENYERAHAN:

“aku sejati” lalu menyerah dan lenyap kedalam “AKU”

“aku sejati” sudah tidak wujud, yang wujud adalah “AKU”.

“aku” adalah “AKU”

“AKU” adalah “aku”

“aku” telah menemukan “DIA”, HU, HU

“aku” adalah “DIA”

“DIA adalah “aku”

“aku” telah menemukan “ENGKAU”, Allah…

“aku” adalah “ENGKAU”

“ENGKAU” adalah “aku”.

Maka dengan mudah akan keluarlah kata-kata syatahat sebagai berikut:

“aku” tidak ada, yang ada adalah “Allah”

“Allah” tidak ada, yang ada adalah “aku”.

bukan “aku” yang berkata-kata tapi “Allah” sendiri yang berkata-kata…

bukan”aku” yang berkata-kata, tapi “Allah” yang menggerakkan lidahku…

bukan “aku” yang marah tapi “DIA” yang marah…

bukan “aku” yang bergerak tapi “ALLAH” yang menggerakkan tubuhku…

bukan “aku” yang bernafas, tapi “ALLAH” yang menafaskanku…

 

MENETAP DI WILAYAH AMBANG…

Sehingga akhirnya jadilah “aku” dengan “ALLAH” ibarat “debu” dengan “angin”.

Ada “DUA” wujud yang saling berasingan…

Bukan “debulah” yang bergerak, tapi “anginlah” yang bergerak…

Siapapun yang berada dan menetap di wilayah ini:

Ia  kadang akan merasa MABOK dan BINGUNG.

Ia kadang akan merasa KARAM, TENGGELAM, ISTIGHRAQ.

Ia kadang merasa WUJUD, dan kadang merasa FANA.

Ia kadang merasa wujud sehingga bisa beribadah, bisa berkuasa, dan bisa macam-macam.

Ia kadang merasa tidak wujud, sehingga tidak bisa beribadah. (mau menyembah siapa?, masak Allah menyembah Allah, katanya).

Keadaan seperti ini sangatlah MENYIKSA sekali…

Dan Rasulullah Muhammad SAW, Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in tidak pernah mengalaminya…

 

Wallahu a’lam…

DARI SIFAT KE HAKEKAT

PEMERAN TUNGGAL

Slide1

Slide2

 

 

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

 

Slide1

 

Slide1

Slide2

Slide3

Slide1

 

 

 

 

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

 

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15

Slide19

Slide16

Slide24

 

 

Slide18

Slide19

Slide20

Slide21

Slide30

 

Slide23

Slide24

Slide34

Slide35

 

 

Slide27

Slide28

Slide40

Slide29

 

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: