Feeds:
Pos
Komentar

Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa perjalanan-perjalanan ruhani atau SALIK seperti inilah yang sangat disukai oleh iblis atau syaitan. Saat itu terjadilah resonansi antara khayalan mereka itu dengan hembusan-hembusan telepati yang dipancarkan oleh iblis atau syaitan ke dalam hati atau minda mereka. Khayalan dan imaginasi mereka itu diperkuat dan dipertajam oleh iblis atau syaitan untuk berubah wujud menjadi berbagai bentuk, rupa, dan umpama.

Untuk mengesankan bahwa imaginasi-imaginasi liar mereka itu adalah benar, maka mereka ingin sekali merasakan sebuah sensasi atau fenomena yang bisa mereka rasa-rasakan ketika mereka berusaha fokus kepada sebuah imaginasi atau benih pemikiran yang mereka buat. Disinilah kemudian berlaku hukum getaran (vibrasi). Dimana setiap benih pikiran yang sedang mereka ingat-ingat itu getarannya akan bisa ditangkap oleh sesuatu yang berada di dalam dada mereka. Nanti pada bagian yang lain, akan kita bahas anasir apa yang bisa menangkap getaran ini yang pusatnya ada di dalam dada manusia, didekat ulu hati.

Getaran itu lalu merangsang kelenjer-kelenjer hormon tertentu untuk aktif dan memancarkan hormon yang berhubungan dengan rasa tenang dan bahagia kedalam aliran darah mereka. Hormon Endorpine, Dopamin, Serotonin, dan oxytocin pun membajiri pembuluh darah mereka yang bisa mengantarkan kita untuk bisa merasakan kebagiaan dan cinta kasih yang dalam.

Karena ada sensasi dan fenomenanya yang terasa, maka merekapun menganggap bahwa apa yang telah mereka imaginasikan itu adalah sesuatu yang BENAR dan BISA memberikan manfaat kepada mereka. Lalu imaginasi itu mereka pupuk dan sirami setiap waktu. Mereka menciptakan cara, mereka membentuk rupa dan umpama agar fenomena dan sensasi yang telah mereka rasakan itu bisa mereka dapatkan kembali secara berulang-ulang.

Akibatnya, mereka akan GAGAL TOTAL untuk bergantung hanya kepada Allah. Mereka gagal untuk merealisasikan kalimat-kalimat yang artinya sangat dalam seperti berikut ini: Hanya Allah penolongku; hanya Allah tujuanku; hanya Allah saja bagiku; hanya Allah tempatku bergantung; hanya Allah tempatku berpegangan, segala-galanya adalah atas Kehendak, Ijin, dan Ketetatapan Allah.

Mereka akan menjadi sangat tergantung dengan cara-cara yang mereka buat sendiri, dengan lamunan dan halusinas mereka. Mereka tidak bisa melakukan berbagai macam ibadah tanpa mereka terlebih dahulu melakukan ritual yang mereka ciptakan sendiri. Tanpa cara mereka itu, tanpa lamunan dan halusinasi ala mereka itu, mereka merasa seperti tidak berkutik sama sekali… Sehingga akhirnya mereka merasa bahwa cara-cara mereka itu lebih hebat dibandingkan dengan cara-cara yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Yang jadi populer akhirnya adalah cara mereka, nama mereka, kelompok mereka, identitas mereka…

Disinilah pentingnya sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa: “Ana ‘inda dzanni ‘abdii bii, Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku”, (Muttafaqun ‘alaih).

Selama ini banyak orang yang menafsirkan hadist ini hanya sebatas agar kita berhusnuzon (berprasangka baik) kepada Allah saja. Padahal Hadist ini bukan hanya menyuruh kita hanya untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, akan tetapi juga untuk memberikan sebuah peringatan yang sangat keras bagi seluruh umat manusia. Bahwa berhati-hatilah dalam berprasangka terhadap Tuhan. Karena kalau salah dalam bermakrifatullah, mengenal Allah, maka apa saja bisa dijadikan Tuhan oleh umat manusia. Karena segala sesuatu akan bisa memberikan fenomena dan sensasi kepada manusia ketika mereka mencoba untuk membangun hubungan dengannya, walau hanya sekedar hubungan melalui ingatan dan pikiran saja. Apalagi kalau sampai membangun hubungan melalui sebuah sentuhan fisik ataupun curahan emosi.

Kalau sesuatu itu adalah dalam bentuk benda, atau rupa, atau umpama, maka jadilah sesuatu itu menjadi berhala. Lalu Tuhan yang tidak serupa dan tidak seumpamapun berubah menjadi wujud makhluk mitologi. Tuhan mereka jadi seumpama dan serupakan dengan dewa-dewi. Merekapun menciptakan berbagai patung atau berhala yang akan mereka jadikan sebagai tempat untuk berhentinya pikiran dan khayalan mereka.

Yang lebih berbahaya sebenarnya adalah kalau sesuatu itu adalah dalam bentuk persepsi seperti jarak, tinggi, besar, depan, atas. Karena persepsi ini akan membawa seseorang untuk merasakan keterpisahan, jauh, menghadap, berjalan, tersambung, dan lain-lain sebagainya yang menandakan adanya dua kewujudan. Wujud yang satu merasa terpisah dengan wujud yang lain yang lebih besar. Wujud yang satu merasa lebih rendah dari pada wujud yang lain yang lebih tinggi. Wujud yang satu merasa lebih kecil dari wujud yang lain yang lebih besar.

Karena berjarak, oleh sebab itu mereka segera saja merasa terpisah dengan Allah. Karena merasa terpisah, mereka ingin merasakan bersatu dengan Allah, atau paling tidak mereka ingin merasa berjalan dan mendekat kepada Allah. Dan dari sinilah kemudian muncul Pahaman Wahdatul Wujud. Yaitu pahaman yang mengatakan bahwa manusia harus bisa bersatu dengan Allah. Kalau sudah bersatu, maka yang wujud tinggal hanya satu, yaitu Allah. Maka kalau dia marah, maka hakekatnya Allahlah yang marah, bukan dia yang marah. Kalau dia bergerak, maka hakekatnya Allahlah yang bergerak atau yang menggerakkannya. Kalau dia bernafas, maka Allahlah yang menggerakkan nafasnya itu, Allah berada diujung nafasnya itu.

Jadi ciri-ciri dari pahaman Wahdatul Wujud itu adalah ungkapan: “ya Dialah…, siapa lagi”. Kalau kita masih ada, ego kita masih ada, maka Allah mereka katakan tidak ada. Makanya kalau kita ingin merasakan kehendak Allah, maka katanya, kita harus menghilangkan ego atau kehendak kita. Kalau ego kita tidak kita hilangkan maka ego kita itu akan selalu bertentangan dengan kehendak Allah. Entah teori dari mana pula itu datangnya.

Yang lebih keren lagi adalah, kata mereka, kalau ego kita sudah hilang dan ruh kita sudah bisa nyabung dengan Allah, maka saat itulah kita akan bisa pula membaca berbagai ILHAM dari Allah. Makanya ada pula kursus dan pelatihan yang mereka tawarkan agar kita bisa membaca Ilham yang diturunkan langsung oleh Allah ke dalam hati kita. Sungguh hebat sekali.

Padahal apapun juga yang dilakukan oleh semua manusia, termasuk semua makhluk ciptaan yang lainnya, apakah itu perbuatan baik maupun perbuatan jahat, semuanya itu semata-mata adalah Ilham dari Allah saja. Ilham Fujur ataupun Ilham Taqwa. Dengan ilham itulah Allah memaksa agar setiap ciptaan hanya melakukan apa-apa yang sudah dituliskan untuk dilakukan dan diperankan oleh mereka masing-masing. Peran yang tidak akan pernah tertukar-tukar dan terbalik-balik.

Begitulah yang akan terjadi sampai dengan hari yang telah ditentukan. Ada yang bisa melanjutkan peran dan ajaran dari Nabi dan Rasul, terutama peran ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dan ada pula yang harus menjalankan peran dan ajaran dari orang-orang yang terdistorsi dari ajaran Nabi dan Rasul itu. Semuanya itu harus terjadi. Selalu saja ada problematika yang tak pernah berhenti sepanjang zaman. Karena memang designnya sudah begitu sejak firman KUN tersabda. Tidak bisa tidak.

Kalau memang rencana dan designnya sudah begitu, bagaimana kita haru bersikap dalam menghadapi segala fenomena kehidupan seperti itu. Bagaimana agar kita bisa tetap tenteram dalam berbagai gejolak yang sedang kita hadapi?. Mau tidak mau kita harus masuk kedalam tahapan ilmu yang lebih tinggi lagi dari ilmu Makrifatullah, yaitu tentang KEREDAAN. Insyaalah dilain kesempatan akan kita bahas pula dengan perlahan.

Bersambung

Padahal arti sebenarnya dari DZIKRULLAH itu adalah MENGINGAT ALLAH. Ya…, hanya dengan kita INGAT kepada ALLAH saja, itu artinya kita sudah DZIKRULLAH.

Ustadz Hussien BA Latiff telah menerangkan tentang Dzikrullah ini dengan sangat sederhana dan mudah sekali. Kita tidak perlu merupakan dan mengumpamakan Allah sedikitpun untuk mengingat Allah. Jadi ketika kita ingat kepada Allah, maka minda atau hati kita menjadi sangat bersih. Minda atau hati kita bebas dari sampah sarap karena kita tidak memikirkan apa-apa. Saat matahati kita melihat ke dalam minda atau hati kita yang sedang mengigat Allah itu, maka hati kita itu akan terlihat kosong begitu saja. BERSIH. Karena hati kita sudah kosong dan bersih dari segala rupa dan umpama, maka hati kita itupun menjadi tenteram. Hati yang tidak berkocak…

Ketika ada orang bertanya kepada kita: “siapa Tuhanmu ?”. Ketika kita menjawabnya: “Allah…, Tuhanku adalah Allah”, tanpa kita merupa-rupakan dan mengumpama-umpamakan Allah terlebih dahulu, tanpa kita “acting” merasa-rasakan sesuatu terlebih dahulu, maka itu namanya kita sudah ingat kepada Allah, sudah DZIKRULLAH.

Akan tetapi kalau jawaban kita bahwa Tuhan kita adalah sesuatu yang bukan Allah, seperti, misalnya, Yesus, atau Brahma, atau Uzer, atau Dewa-dewi, atau Budha, atau sesuatu apapun juga yang diberhalakan, maka saat itu kita dinamakan orang yang LUPA dengan ALLAH.

Jadi beda antara Ingat kepada Allah (dzikrullah) dengan tidak ingat kepada Allah adalah sesederhana itu. Tidak usah dibuat susah dan berbelit-belit. Tidak usah diistilahkan macam-macamlah. Kalau kita tidak ingat Allah sebagai Tuhan kita, maka akibatnya kita akan mempertuhankan segala sesuatu yang selain Allah. Kalau kita tidak ingat kepada Allah, kita lupa kepada Allah sebagai Tuhan kita, maka Allah akan segera saja MELUPAKAN kita (bukan LUPA kepada kita). Masak Allah lupa. Istilah yang tepat adalah “Dia akan melupakan kita”.

Oleh sebab itu sangat jelas dan mudah sekali untuk dipahami apa yang dikatakan Allah di dalam Al Qur’an tentang dzikrullah ini: “Fadzkurunii Adzkurkum, ingatlah kepada-Ku, pasti Aku akan ingat pula kepadamu”. Akan kelihatan aneh sekali kalau kita artikan dengan arti yang lain. Misalnya: “Sadarlah kepada-Ku nanti Aku akan sadar pula kepadamu”. Masak Allah bisa tidak sadar. Kan lucu.

Nah…, Keadaan minda atau hati kita saat kita ingat Allah (dzikrullah) ini sama saja dengan keadaan ketika kita ditanya tentang siapa bapak kita. Dengan cepat kita bisa menjawab: “bapak saya adalah Amir bin Umar, misalnya”. Kita bisa menjawabnya dengan cepat dan tanpa berpikir terlebih dahulu. Saat kita menyebut nama Amir bin Umar itu, walau kita tahu rupa bapa kita, tetapi kita TIDAK perlu membayangkan, tidak perlu merupakan, tidak tidak perlu mengeja nama bapak kita terlebih dahulu, baru setelah itu kita menjawabnya. Tidak perlu begitu. Jawabannya otomatis saja, karena kita sedang ingat kepada bapak kita itu.

Jadi ketika kita menjawab bahwa bapak kita adalah Amir bin Umar, maka kita disebut sebagai orang yang ingat kepada bapaknya. Makanya Al qur’an mengatakan bahwa Ingat kepada Allah itu realitasnya adalah sama seperti kita ingat kepada bapak kita (aba akakum), lihat Al Baqarah (2): 200. Tidak memikirkan, tidak mengumpamakan. Atau dalam bahasa orang sekarangnya adalah kita TIDAK perlu MENGASOSIASIKAN sesuatu terlebih dahulu dengan Allah, barulah setelah itu kita menjadi ingat kepada Allah. Tidak begitu.

Begitu juga saat kita ditanya tentang siapa kita. “Kamu ini siapa?”. Dengan cepat kita bisa menjawab: “saya Yusdeka, misalnya”. Ketika saya menjawab bahwa nama saya adalah Yusdeka, maka saya tidak membayangkan wajah saya terlebih dahulu, tidak saya tidak memikirkan keadaan diri saya terlebih, saya tidak mengeja nama saya terlebih dahulu. Jawaban saya otomatis saja, saya Yusdeka. Karena memang saya ingat siapa diri saya.

Sungguh simple sekali. Dan sesimple itu pulalah kalau kita ingat kepada Allah. Masak sih ingat kepada Allah bisa lebih sulit daripada ingat kepada diri kita. Harusnya ingat kepada Allah itu lebih sangat mudah dari ingat kepada apapun juga yang selain Allah. Karena Allah memang adalah Dzat Yang tidak serupa dan tidak seumpama. Mau diumpama, mau dirupakan, dan mau diasosiasikan seperti apa apa lagi?. Nggak ada kerja kok cari kerja… makanya kalau nekad jadinya aneh-aneh…

Jadi siapapun juga, kalau ia sudah mengenal Allah (makrifatullah), maka sebenarnya ia juga sudah tidak perlu repot-repot lagi pakai metoda ini dan metoda itu untuk bisa ingat kepada Allah. Ia tinggal hanya MEMBENAHI IBADAHNYA saja lagi, baik itu ibadah yang wajib maupun ibadah yang sunnah. Sedangkan fenomena-fenomena kerohanian yang bayak dicari-cari orang itu, sebenarnya itu hanyalah BONUS sampingan saja yang akan diberikan oleh Allah kepadanya untuk lebih memantapkan keimanannya kepada Allah…

Yang agak aneh adalah kalau jawaban kita sudah betul, bahwa Tuhan kita adalah Allah, artinya buat sekejap kita sudah ingat dengan Allah, akan tetapi setelah itu kita tidak berhasil mempertahankan keadaan ingat kepada Allah itu untuk jangka waktu yang lama. Sejekap ingat Allah, setelah itu dalam waktu yang lama ingatan kita malah kembali dipenuhi dengan ingatan kepada AMWAL (harta dan segala kepemilikan) dan AULAD (keluarga dan anak keturunan) kita. Itu namanya kita sedang lupa-lupa (tidak ingat) dengan Allah. Bahasa Al Qur’annya untuk keadaan yang seperti ini adalah keadaan orang yang MUNAFIK. Ia hanya sedikit sekali (illa qaliila) mengingat Allah…, lihat An Nisa (4): 142.

Keadaan yang dirasakan oleh orang yang munafik ini sangatlah menggenaskan dan menyedihkan sekali. Meskipun ia telah mengaku bahwa Tuhannya adalah Allah, dan ia sudah melakukan berbagai macam ibadah pula, akan tetapi efek pengakuannya itu terhadap ibadah-ibadah yang dilakukannya nyaris tidak ada. Tidak NGEFEK sama sekali. Hatinya masih tetap gelap dan mati. Tidak ada kelembutan dan kasih sayang yang dia tebarkan. Kalah dengan kasih sayang yang ditebarkan oleh orang-orang yang hanya melakukan meditasi dan olah pikir lainnya. Hatinya tidak tenteram. Karena memang ketenteraman hati itu sangat berbanding lurus dengan seberapa lama kita bisa INGAT kepada Allah.

Semakin lama kita bisa ingat kepada Allah, maka semakin tenteram pulalah hati kita dibuatnya. Sesimple itu… Dan ternyata hanya butuh sebuah cara yang sangat sederhana saja untuk bisa mengingat Allah itu dalam waktu yang lama. Contoh yang sangat pas tentang bagaimana cara kita mengingat Allah dengan tidak merupakan dan mengumpamakan Allah adalah ketika kita BERDOA. Apalagi saat kita berdoa itu kita sedang berada dalam keadaan yang mencekam dan darurat. Seakan-akan saat itu kita sedang naik sejengkal, atau sedepa, atau sehasta dari atas ubun-ubun kita. Kita tidak membayangkan dan merupakan apa-apa. Ingatan kita bisa fokus kepada Allah. Tidak ada rupa dan umpama Allah yang tergambar di dalam ingatan kita.

Hanya saja selama ini kita tidak bisa mempertahankan keadaan seperti kita sedang berdoa itu dalam waktu yang lama. Setelah berdoa, biasanya kita seakan-akan turun dan lupa kembali dengan Allah. Sayang sekali sebenarnya. Padahal kalau setelah berdoa itu, kita pertahankan ingatan kita yang sedang ingat kepada Allah itu untuk beberapa waktu lamanya, hasilnya akan sangat menakjubkan sekali.

Keadaan hati atau minda kita yang sedang ingat kepada Allah, seperti kita sedang berdoa itu, kita coba pertahankan keadaan itu dalam keadaan kita sudah tidak berdoa lagi. Mulut kita sudah tidak sudah minta apa-apa lagi. Tapi ingatan kita kepada Allahnya saja yang kita pertahankan. Diam dan pertahankan keadaan ingat kepada Allah seperti kita sedang berdo’a itu. Awalnya bisa satu atau dua menit saja, kemudian durasi waktunya diperpanjang dan diperpanjang dari waktu kewaktu. Bisa menjadi 10 menit, 1 jam, dan bahkan bisa dua atau tiga jam.

Kalau keadaan ingatan kita kepada Allah seperti kita sedang berdoa itu kita pakai untuk shalat, maka hasilnya akan sangat mencengangkan. Shalat dalam keadaan ingatan kita sedang kepada Allah itulah yang disebut sebagai shalat yang KHUSYUK. Keadaan ingat Allah seperti itu juga bisa rasakan saat kita diluar shalat, apakah itu sedang berdiri, duduk berbaring, berjalan, berniaga dan sebagainya. Keadaan ingat kepada Allah ini tidak berubah antara di luar shalat dengan di dalam shalat.

Jadi shalat yang khusyuk itu bukanlah shalat yang aneh-aneh dan penuh acting. Bukan Shalat yang harus menangis-nangis dan merinding-rinding, bukan shalat yang harus lama dan mendayu-dayu, bukan shalat yang harus macam-macamlah. Kalau ada yang pernah melihat Imam shalat Tarawih atau shalat Wajib di Masjidil Haram, ya seperti itulah khusyuk itu.

Kalaupun dalam shalat itu kita bisa menangis, tapi menangisnya itu adalah karena kita sedang merasa takut kepada Allah, atau takut kepada neraka, atau rindu kepada Allah, atau rindu kepada keadaan syurga yang diberitakan Allah dalam ayat-ayat-Nya yang sedang kita baca. Jadi menangis yang wajar-wajar saja. Bukan menangis karena merasakan GETARAN.

Dampak luar biasa lainnya kalau kita sudah mengenal Allah dan sudah bisa pula Ingat Allah kapanpun juga adalah: bahwa ketika kita shalat, andaikan ada orang yang meletakkan berhala, atau patung di depan sajadah kita, maka kita tetap lanjutkan saja shalat kita itu. Kita tidak perlu berhenti shalat. Sebab kita sudah tahu bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak serupa dan tidak seumpama. Bukan patung, bukan berhala. Kalau mereka berkata: “Kamu shalat menyembah patung ya?”. Kita tinggal jawab saja: “Itu Tuhan kamu?.”

Begitu juga ketika kita sedang shalat dan bisa ingat kepada Allah, lalu bila syaitan meletakkan berbagai ingatan ke dalam minda kita, maka kita tetap saja lanjutkan shalat kita itu, karena kita sudah ingat bahwa ingatan-ingatan yang dikirimkan oleh syaitan ke dalam minda kita itu bukanlah Tuhan kita.

Inilah makna Nafi Isbath yang sebenarnya. Dengan telah kenalnya kita kepada Allah, kita sudah mudah menafikan apapun juga yang selain Allah sebagai Tuhan kita dan mengisbathkan bahwa hanya Allah sajalah Tuhan kita yang sebenarnya.

So simple cara Dzikrullah yang diajarkan oleh Ustadz Hussien BA. Latiff ini…, kita tidak perlu pakai “acting-actingan” segala.

Bersambung

Dari pemaparan yang sangat singkat seperti diatas, dapat dilihat adanya seuntai benang merah yang menghubungan antara satu distorsi dengan distorsi yang lainnya yang terjadi sejak Nabi Musa as sampai dengan Nabi Isa as. Benang merah itu adalah MAKRIFATULLAH. Pengenalan kepada Allah. Sejarah awal dari munculnya agama Hindu, Budha, Yahudi, dan Nasrani adalah karena kegagalan segelintir pengikut Nabi-Nabi pada zamannya masing-masing untuk memahami konsep Tauhid di dalam masalah Ketuhanan. Mereka gagal untuk memahami ajaran Nabi Ibrahim as tentang Tuhan yang tidak serupa dan tidak seumpama.

Tuhan, yang Dia laisa kamistlihi syai’un. Tidak ada sesuatu pun serupa dengan Dia. Asy Syura, (42): 11.
Tuhan, yang Dia Tidak ada seseorangpun yang seumpama atau setara dengan Dia. Al Ikhlas (112):4.
Tuhan, yang Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. Al Anaam (60):103.

Karena gagal paham tentang Tuhan yang tidak serupa dan tidak seumpama, gagal bermakrifatullah, maka secara otomatis merekapun menjadi gagal pula untuk “berhenti berpikir” tentang Tuhan. Mereka lalu menjadi sibuk berpikir, melamun, dan mengkayal tentang Tuhan. Mereka berusaha untuk merupakan dan mengumpamakan Tuhan. Mereka berusaha mencari-cari Tuhan. Pikiran mereka menjadi liar dan berkelana masuk ke alam-alam khayali. Dan setelah itu tinggal selangkah lagi saja, mereka akan mempertuhankan berbagai berhala, baik berupa benda maupun suasana.

Sudahlah mereka lupa kepada Allah, artinya mereka sudah tidak kenal lagi kepada Allah, akan tetapi mereka sudah berani-beraninya atau nekad untuk memperjalankan sesuatu dari dalam diri mereka, yang katanya, bisa berjalan-jalan menuju Allah. Padahal mereka juga belum kenal betul dengan anasir-anasir apa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Mereka belum kenal tentang apa itu Ruh, Jiwa, Nyawa, Jasad, Minda atau Hati, Matahati, dan Pendengaran.

Artinya tujuan yang akan dicapai masih belum jelas, dan alat yang dipakai untuk mencapai tujuan itu juga masih keliru. Misalnya, alat untuk mengingat Allah dikira adalah jantungnya yang ada di dalam dadanya. Padahal jantung atau dada itu tidak bisa mengingat dan berpikir. Sehingga akibatnya yang muncul adalah sebuah perjalanan yang seakan-akan itu adalah sangat sufistik. Perjalanan jiwa. Perjalanan Ruhani. Dan tujuan dari perjalanan itu pada umumnya ada dua macam, yaitu perjalanan untuk mencari diri mereka yang sejati, dan setelah itu perjalanan untuk mencari Tuhan dengan menjalankan diri mereka yang sejati itu menuju Tuhan. Makanya anekdot yang sangat populer yang mereka pakai adalah: “barang siapa mengenal diri mereka maka mereka akan mengenal Tuhannya”.

1. Tujuan pertama. Karena mereka juga lupa dengan anasir-anasir diri mereka sendiri, maka merekapun menjadi sangat sibuk pula mencari-cari diri mereka yang mereka sebut sebagai Diri Sejati. Entah apa pula yang mereka maksud dengan diri mereka yang sejati itu. Mereka meraba-raba kesana kemari. Mereka membangun imaginasi. Mereka mencari-cari diri sejati mereka sampai mereka menemukan pula berbagai FENOMENA dan SENSASI.

Mereka mencari-cari mana diri mereka yang Ammarah, yang Lawwamah, yang Sufiah, dan yang Muthmainnah. Mereka berusaha berjalan dari Nafsul Ammarah menuju Nafsul Lawwamah, Sufiah dan kemudian berhenti di Nafsul Muthmainnah. Atau mereka berjalan dari satu titik ke titik lain yang ada di dalam diri mereka yang mereka sebuat sebagai cakra atau lathaif. Sensasi yang muncul saat itu bermula dari sensasi ketubuhan yang sangat kasar, tubuh bergundang keras, dan dada terasa sempit, kemudian berubah menjadi sensasi ruhaniah yang halus, lembut dan dada mereka menjadi terasa lapang. Diri mereka terasa berubah menjadi luas. Lalu mereka namakan diri mereka yang sudah luas itu sebagai diri mereka yang sejati. Ada yang menamakannya sebagai RUH-NYA (MINRUHI). Ada juga yang menamakannya sebagai Sang Pengamat atau Sang Pemerhati. Ada yang menamakannya sebagai “aku”, dan sebagainya.

Atau ada pula mereka yang membagi-bagi diri mereka menjadi bagian-bagian seperti Nafs Awwal (diri pertama), Nafs Tsani (diri kedua), dan Nafs Tsalist (diri ketiga). Nafs awwal adalah diri mereka yang masih dipengaruhi oleh alam pikiran. Nafs Tsani adalah diri mereka yang sudah mulai dipengaruhi oleh alam pikiran yang dirahmati oleh Al Qur’an. Sedangkan Nafs Tsalist adalah diri mereka yang sudah bersih dari pikiran-pikiran, sehingga pikiran merekapun diisi dengan pikiran-pikiran Allah.

Kata mereka, Nafs Tsalist inilah diri yang sudah bisa membaca Ilham dari Allah. Mereka merasa sudah bisa membaca dan membedakan mana ilham yang berasal dari hawa Nafsu mereka dan mana Ilham yang datang dari Allah. Mengada-ada sekali. Padahal ilham itu, baik ilham fujur maupun ilham takwa, dua-duanya datang dari Allah.

2. Tujuan kedua. Setelah mereka merasa menemukan diri mereka yang sejati, kemudian mereka ingin mencari-cari Allah. Mereka ingin merasa terhubung dan tersambung dengan Allah. Untuk itu mereka berusaha memperjalankan diri mereka yang mereka panggil “aku”, atau “ruh”, atau “jiwa”, atau diri mereka yang sejati ke suatu tempat yang biasanya ada diatas langit, atau paling tidak ada di depan mereka. Pokoknya jalan saja, lurus saja, tembus saja, tidak boleh berhenti. Inilah yang mereka sebuat sebagai SALIK. Sang Pejalan Ruhani.

Akan tetapi, karena cara yang mereka lakukan ini hanya berupa jalan coba-coba saja, maka ciri-ciri tentang apakah mereka sudah bertemu atau belum dengan Allah, atau apakah mereka sudah terhubung atau belum dengan Allah, atau apakah mereka sudah tersambung atau belum dengan Allah juga adalah kira-kira mereka pula.

Kalau mereka sudah bisa merasakan RESPON atau lebih tepatnya SENSASI yang bisa mereka rasa-rasakan, maka mereka katakan bahwa mereka sudah bertemu, sudah berjumpa, sudah terhubung, dan sudah tersambung dengan Allah. Kalau mereka belum bisa merasakan respon atau sensasi-sensasi tertentu, maka mereka menganggap bahwa mereka belum bertemu, belum terhubung, dan belum tersambung dengan Allah.

Misalnya, kalau di dalam shalat, kita belum merasakan ada respon atau sensasi yang kita rasakan di dalam dada kita, maka mereka mengangap bahwa shalat kita itu belum khusyuk. Dan kita diancam bahwa shalat kita adalah shalat yang belum menyembah Allah. Shalat kita baru hanya sebatas shalat yang menyembah tembok. Karena, katanya, kalau shalat yang menyembah Allah, dan Allah adalah Hidup, maka shalat kita itu harus ada rasanya. Harus ada respon dari Allah yang bisa kita rasakan. Kalau tidak ada rasanya, mungkin penyebabnya ada dua, kata mereka. Penyebab pertama adalah boleh jadi Allah sedang marah dan tidak suka dengan kita, atau penyebab kedua boleh jadi shalat yang kita lakukan itu masih salah. Kan menakutkan sekali kalau begitu. Ngeri sekali…

Makanya banyak orang yang berusaha untuk mencari-cari respon dan sensasi tertentu saat mereka melakukan shalat. Biasanya sensasi yang dicari itu adalah “tangisan”, rasa dingin di dalam dada, atau sensasi bergetar di tubuh dan di kulit mereka. Kalau sudah ada menangisnya, atau kalau sudah ada rasa dingin di dalam dada, atau sudah terasa tubuh bergetar, maka dengan penuh yakin mereka mengatakan bahwa mereka sudah bertemu dengan Allah. Mereka sudah tersambung dengan Allah. Duh begitu senang dan sumringahnya.

Kalau belum ada menangisnya, belum terasa dingin di dalam dadanya, belum bergetar tubuh atau kulitnya, maka dia akan membuat acara-acara, atau teknik-teknik tertentu, atau teknik-teknik hipnosa tertentu, sampai suatu saat muncullah fenomena dan respon yang ditunggu-tunggunya itu.

Kalau teknik itu adalah melalui shalat, maka shalatnya itu akan dilama-lamakannya, bacaannya dilirih-lirihkannya, gerakannya di lambat-lambatkannya, tubuhnya ditunduk-tundukkannya kepada Allah yang dikatakannya ada “didepannya”, hatinya disambung-sambungkanna dengan Allah. Semua itu dilakukannya untuk menunggu respon dan sensasi-sensasi seperti yang telah disebutkan diatas. Tetapi apa yang ada di dalam INGATANNYA saat itu Wallahu a’lam, hanya Allah saja yang tahu.

Saya juga begitu dulu…. Kalau saya saat itu, ingatan saya bukan kepada Allah, tetapi lebih kepada mengingat respon dan fenomena berupa getaran… Mana nih respon, mana nih fenomena… jadilah saya saat itu mempertuhankan respon, suasana, dan fenomena.

Contoh lain yang mereka lakukan, seperti juga yang pernah saya lakukan, adalah kalau mereka sedang menyebut-nyebut nama Allah, yang mereka sebut dengan dzikir, maka harus atau wajib pula ada respon dan sensasi yang bisa mereka rasakan. Biar ada sensasi dan fenomenanya, maka mereka buat pulalah cara atau teknik tertentu untuk berdzikir. Dzikir yang arti bahasanya adalah MENGINGAT lalu berubah menjadi sebuah teknik atau sistem. Ada teknik WIRID, ada teknik PATRAP, ada teknik SADAR Allah, dan sebagainya.

Karena teknik yang dilakukan itu adalah BUKAN dengan cara MENGINGAT, tapi dengan cara WIRIDAN, maka wiridnya jadi macam-macam. Macam-macam wirid itu kemudian dikenal sebagai Dzikir ala Tarikat tertentu. Ada dzikir tarekat A, Tarekat B, dan sebagainya. Ada pula dzikir yang dilakukan dengan cara memanggil-manggil Allah sambil menggerakkan sesuatu dari dalam dada yang katanya itu adalah hati atau ruh mereka ke atas, menuju tak terhingga.

Ada pula orang yang melakukan dzikir sambil mengasosiasikan gerakan nafasnya dengan Allah. Gerak nafasnya itu adalah Allah yang menggerakkan. Sesuai dengan makna dzikir yaitu INGAT, maka dzikir nafas secara bahasa adalah berarti Mengingat Nafas. Begitu juga, karena semuanya itu hanyalah angan-angan atau asosisasi belaka, maka namanyapun juga bisa macam-macam. Ada dzikir nafas, ada dzikir nufus, ada dzikir nafas 1,2,3,4,5, dan sebagainya.

Yang mereka lakukan itu ternyata tidak membawa mereka untuk bisa ingat kepada Allah. Bagaimana mereka akan bisa mengingat kalau mereka sedang lupa. Bagaimana mereka akan bisa ingat kalau mereka sudah tidak kenal lagi dengan apa yang harus mereka ingat.

Bersambung

 

 

Setelah Samiri, distorsi ajaran Nabi Ibrahim berikutnya terjadi pada bangsa Yahudi yang sebelumnya juga mengamalkan ajaran Nabi Musa yang terkumpul dalam Kitab Perjanjian Lama. Yahudi itu sendiri bisa berarti orang yang bertaubat, atau kembali ke jalan yang benar, dan bisa pula berarti bangsa yang berasal dari ketururan Yahuda. Dia salah seorang anak dari nabi Ya’qub.

Dalam perkembangannya, agama Yahudi, yang tadinya juga adalah agama yang monoteisme, berubah menjadi agama yang meyakini bahwa Allah memiliki anak, yaitu Uzair (Ezra).

Artinya : “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah : 30).

Sekitar 600 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa AS, muncullah Sidharta Gautama. Dia sudah dituliskan pula bahwa dia akan bertugas untuk memperbaiki distorsi yang sudah terjadi dari ajaran Nabi Ibrahim AS yang dipraktekkan oleh orang-orang Hindu. Akan tetapi tugas dia ternyata hanya lebih banyak ditujukan untuk memperbaiki kerohanian umat di zamannya saja. Saat itu orangpun mulai memilah antara kehidupan jasmani dan kehidupan rohani. Kehidupan jasmani dianggap mereka hanya akan membawa orang untuk mengejar-ngejar kemewahan duniawi. Orang-orang akan berebut mengejar kemewahan duniawi itu sehingga seringkali pertumpahan darah antar sesama umat manusiapun terjadi.

Sidharta Gautama, yang sebenarnya adalah anak seorang Raja, malah sering meninggalkan kemewahan kehidupan Istana. Dia dengan sengaja menyengsarakan dirinya sampai kebatas yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Dia seringkali duduk menyepi berlama-lama ditempat-tempat yang sunyi untuk melakukan meditasi. Dia meninggalkan kehidupan keduniaan dan hanya fokus kepada mengosongkan pikirannya dari berbagai hal yang berkenaan dengan kehidupan keduniaan itu.

Sampai pada suatu saat, dibawah sebuah pohon yang dikabarkan bernaman Bodhy Satwa, dia berhasil mendapatkan pencerahan. Minda atau hatinya bercahaya. Hatinya berubah jadi lembut dan penuh kasih sayang. Mereka tidak mengejar harta, takhta dan wanita. Mereka lebih banyak hidup dalam keprihatinan. Tidak menyakiti makhuk lain apalagi sampai membunuhnya. Dan sejak itupun dia mulai mempunyai banyak pengikut.

Setelah Sidharta Gautama wafat, terjadi pulalah pengkultusan yang sangat berlebihan kepadanya. Dirinya mulai dianggap sebagai Tuhan yang akan dijadikan pengikutnya sebagai objek sesembahan. Pengikutnyapun mulai membuat patung dirinya seperti juga dulu Samiri membuat patung lembu dari emas. Dari sinilah kemudian muncul ajaran baru yang terdistorsi dari ajaran Nabi Ibrahim. Ajaran itu kemuddian berkembang sampai sekarang dengan nama ajaran Budha atau Budhisme.

Alasan untuk membuat patung Budha itupun tentu saja mudah ditebak. Bahwa untuk mendapatkan hati yang bercahaya, lembut dan penuh kasih sayang seperti yang dulu didapatkan oleh Sidharta Gautama itu alangkah sulitnya. Itu membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Oleh sebab itu merekapun menciptakan objek antara sebagai sarana mereka untuk menghentikan pikiran mereka. Objek itu haruslah sebuah objek yang sangat mereka kultuskan. Sehingga dengan memandang dan berkonsentrasi kepada objek itu, pikiran merekapun bisa menjadi tenang dan tidak bergolak lagi. Sehingga dari keadaan inilah banyak pula orang yang beragama Budha mendapatkan minda yang bercahaya, serta hati yang lembut dan penuh kasih sayang.

Jadi pengakuan mereka akan sama saja dengan pengakuan pengikut Samiri bahwa mereka bukan menyembah Patung Budha. Tetapi patung Budha itu hanyalah sebagai alat bantu mereka saja untuk berhenti dari memikirkan berbagai macam hal, terutama saat mereka beribadah atau bermeditasi.

Dalam perkembangannya, baik di dalam agama Hindu dan Budha itu sendiri, maupun di dalam ajaran-ajaran lainnya yang dasar-dasarnya diambil dari agama Hindu dan Budha, kemudian berkembang pula berbagai objek pikir untuk menghentikan pikiran ini. Misalnya muncul tata cara pengolahan cakra-cakra yang diyakini mereka adalah sebagai pusat-pusat energi yang ada di dalam tubuh manusia. Dengan menatap dan berkonsentrasi kepada cakra-cakra itu, maka pusat energi itu akan menjadi aktif, sehingga energi yang muncul itu dapat mereka gunakan untuk berbagai hal dan keperluan. Salah satu pecahan agama Budha yang banyak berkembang adalah ajaran Taoisme yang banyak dianut oleh orang-orang di dataran Cina.

Sampai saatnya ke zaman Nabi Isa as terjadi pula hal yang sama dengan apa yang terjadi di zaman Nabi-Nabi terdahulu. Ajaran Nabi Isa as, yang pada awalnya juga adalah penerus ajaran Nabi Ibrahim, menjadi terdistorsi pula ditangan penerus-penerus Beliau. Setelah kewafatan Beliau, puncak distorsi yang mereka buat adalah dengan menjadikan Isa as sebagai anak Tuhan. Dan bahkan menjadikan Beliau sebagai Tuhan itu sendiri. Salah satu Tuhan dari Tuhan yang tiga. Sebuah konsep yang kemudian dikenal sebagai konsep Trinitas, yang juga sangat sulit untuk dimengerti oleh umat Nasrani sendiri. Sehingga sampai sekarang Agama nasranipun terpecah belah menjadi empat sekte besar, yaitu Kristiani, Katolik, Anglikan, dan Protestan.

Bersambung

Sebelum Nabi Ibrahim sudah ada 5 orang Nabi lain yang di utus Allah, yaitu Nabi Adam as, Idris as, Nuh as. Hud as, dan Shaleh as. Akan tetapi di zaman Nabi-Nabi yang awal itu belum begitu kentara adanya distorsi terhadap pengenalan terhadap Allah. Yang terjadi saat itu hanyalah masalah kepatuhan dan masalah ketidakpatuhan kepada Allah saja. Jadi belum tercatat di dalam Al Qur’an tentang adanya pemahaman yang melenceng tentang pengenalan kepada Allah.

Begitu juga di zaman Nabi Ibrahim as, walaupun saat itu sudah ada para penyembah patung berhala, termasuk ayah Beliau sendiri, namun sejarah pendistorsian pertama yang berkelanjutan dari ajaran agama Hanif yang dibawa oleh Nabi-Nabi tersebut, termasuk Nabi Ibrahim as, boleh dikatakan mulai terjadi di zaman Nabi Musa. Karena Nabi Ibahim as sendiri, sebelum Beliau mendakwahkan ajaran agama Hanif itu, Beliau juga mengalami proses yang sangat fenomenal untuk bisa kembali mengenal Allah (makrifatullah).

Pada awalnya, Beliau sempat mengira bahwa Allah yang harus Beliau sembah adalah bintang, bulan, dan matahari. Akan tetapi akhirnya Beliau sampai juga pada pengenalan kepada Allah yang sebenarnya. Bahwa Allah yang sebenarnya adalah Allah yang tidak sama dengan bintang, dengan bulan dan dengan matahari itu. Allah yang tidak sama dengan apa-pun juga. Allah yang tiada rupa dan tiada umpama. Laisa kamitslihi syai’un.

Sepeninggal Nabi Ibrahim As, pengenalan Beliau terhadap Allah yang Laisa kamitslihi syai’un ini kemudian diteruskan oleh Nabi-Nabi yang lainnya. Ada Nabi Ismail as, Luth as,…, sampai kepada Nabi Musa as. Dan di zaman Nabi Musa as inilah baru sejarah mencatat adanya pendistorsian ajaran Nabi Ibrahim as oleh salah seorang pengikut Nabi Musa as yang bernama SAMIRI bersama beberapa orang temannya.

Samiri dan teman-temannya itu nampaknya sangat kesulitan dalam memahami Allah yang tidak serupa dan tidak seumpama itu. Karena dia ingin melihat, merasakan, dan membayangkan bagaimana rupa dan umpama Allah. Sesuatu hal yang wajar saja sebenarnya yang mereka inginkan itu. Bahkan sekarangpun banyak juga orang yang ingin membayangkan rupa dan dan umpama Allah seperti yang diinginkan oleh Samiri dan teman-temannya dahulu kala.

Hal pertama yang mereka lakukan adalah dengan membuat patung lembu dari emas. Sebenarnya Samiri dan pengikutnya itu masih percaya kepada Tuhan Yang Esa seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa, sebagai pelanjut tradisi Nabi-Nabi sebelumnya. Akan tetapi dalam menyembah Tuhan Yang Esa itu mereka merasa sangat kesulitan. Karena Tuhan yang ingin mereka sembah itu tidak ada rupa dan tidak ada umpama. Oleh sebab itu, kata mereka, agar mereka bisa berkonsentrasi dalam menyembah Tuhan, maka merekapun membuat sebuah patung emas dalam bentuk rupa sapi betina.

Ketika mereka ditanya kenapa mereka menyembah patung sapi itu, mereka menjawabnya bahwa mereka sebenarnya bukan menyembah patung sapi itu. Mereka hanya menjadikan patung sapi itu sebagai alat bantu mereka untuk berkonsentrasi saja. Yang mereka sembah tetap adalah Tuhan Yang Esa. Dengan melihat patung itu, mereka merasa sudah tidak memikirkan hal-hal yang lain lagi. Pikiran mereka jadi fokus hanya kepada satu hal saja, yaitu kepada patung sapi itu. Setelah mereka merasa tidak memikirkan apa-apa lagi, kecuali hanya berkonsentrasi kepada rupa sapi itu, maka barulah mereka merasa bisa untuk fokus menyembah Tuhan Yang Esa.

Sekilas alasan mereka ini kelihatan logis sekali. Karena sampai sekarangpun banyak pula umat Islam yang pikirannya lari kesana kemari saat mereka melakukan shalat. Ini pengulangan sejarah Samiri dan pengikutnya saja sebenarnya. Makanya tidak sedikit umat Islam yang merasa baru bisa shalat lebih khusyu ketika mereka berada di depan Ka’bah. Banyak umat Islam yang bisa menangis saat shalat di depan Ka’bah, terutama bagi mereka yang baru pertama kali melihat Ka’bah. Tetapi, pada besok-besoknya, pada shalat yang kesekian kalinya di depan Ka’bah, suasana kejiwaan umat Islam itu, di dalam shalat, sudah kembali seperti biasa. Gramyangan kembali.

Kembali kepada Samiri dan pengikutnya, yang sudah terdistorsi dari ajaran Nabi Ibrahim. Sepeninggal mereka, keturunan merekapun menyebar ke berbagai penjuru benua. Terutama ke anak benua India. Semakin lebar perbedaan rentang waktu antara Samiri dengan para penerus ajarannya itu, maka makin besar pulalah distorsi ajaran-ajaran yang terbentuk. Mulailah mereka mengenal dewa-dewi.

Akan tetapi, walaupun mereka memuja dan menyembah dewa-dewi, namun secara samar-samar mereka masih ingat bahwa suatu saat dulu pernah ada orang yang memberitahukan bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang tidak ada rupa dan tidak ada umpama. Orang yang membawa ajaran itu adalah IBRAHIM. Karena ingatan mereka sangat samar-samar tentang sejarah itu, maka mereka menamakan saja, Tuhan yang tidak ada rupa dan tidak ada umpama itu, dengan nama BRAHMAN atau Brahma. Tuhannya Ibrahim. Sehingga kemudian jadilah Brahma itu menjadi dewa utama yang mereka sembah disamping dewa-dewa yang lainnya. Inilah kemudian, barangkali, yang berkembang menjadi agama HINDU yang masih eksis sampai saat ini. Sebagai buah yang lain dari ajaran Samiri yang masih eksis sampai sekarang adalah bahwa umat Hindu masih tetap menjadikan sapi sebagai binatang keramat dan yang disucikan.

Bersambung

 

Mengintip Arena Panggung Pembelajaran.

Sebagai petunjuk awal, Allah sudah menegaskan di dalam Al Qur’an bahwa:
1. Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah, (Adh Dhariyat 51: 49).

2. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa-apa yang telah kamu lakukan, (An Nahl 16: 93).

Dan sebagai realitas dari petunjuk awal yang diberikan oleh Allah di dalam Al qur’an ini antara lain adalah bahwa, sebagai wadah pembelajaran, panggung itu, by design, pastilah berisikan hal dan keadaan yang berpasang-pasangan.

Secara kelamin ada lelaki dan ada perempuan, ada jantan dan dan betina, ada putik dan ada benangsari. Secara wujud ada zahir dan ada batin. Secara pandangan mata ada gelap dan ada terang. Secara pendengaran ada sunyi dan ada hingar bingar. Secara rasa ada panas dan ada dingin, ada rasa dan ada hambar, dan sebagainya.

Panggung pembelajaran itu, by purpose, juga harus berisikan peristiwa berpasang-pasangan yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, pembentukan dan penghancuran, kehidupan dan kematian, keimanan dan kekafiran, kepahaman dan kebodohan, dan berbagai keadaan dualitas peristiwa dan perbuatan lainnya yang di dalam Al Qur’an diringkas menjadi istilah TAKWA dan FUJUR (FASIK). Dua-duanya WAJIB ada. Tidak bisa tidak.

Pemeran takwa dan fujur itupun juga wajib ada. Sebab kalau tidak ada fujur, maka orang tidak akan tahu apa itu takwa. Keduanya sudah terencana dengan sangat baik dan sangat sempurna. Siapa melakukan apa, akan mendapatkan apa, serta akan merasakan apa, sudah tertulis dengan sangat-sangat amat detail. Tidak ada yang bisa memilih dia akan melakukan apa, akan mendapatkan apa, dan akan merasakan apa. Tidak ada yang bisa merubah apa-apa yang sudah tertulis itu. Kalaupun ada perubahan, maka rincian dari perubahan itupun sudah tertulis dengan detail.

Jadi disini sudah benar-benar tidak ada lagi celah sedikitpun bagi siapa saja untuk berkata-kata: “saya bisa begini, saya bisa begitu, ini terjadi gara-gara itu, kalau tidak ada saya pasti hasilnya akan beda”, dan perkataan-perkataan lainnya yang menyiratkan adanya kewujudan bagi diri seseorang. Jika masih ada orang yang berkata-kata begitu, maka orang-orang yang sudah tahu “Rahasia Akbar” hanya akan tersenyum-senyum saja mendengarnya. Karena ia sudah paham bahwa kata-katanya yang terucap itupun sudah berada dalam bingkai rencana Allah semata…

Bagi pemeran LANGSUNG dari sebuah peran, apakah itu peran takwa ataupun peran fujur, peran itu benar-benar menguras pikiran, tenaga, dan perasaannya. Darah yang keluar adalah darah benaran, bukan darah buatan. Air mata yang keluar juga adalah air mata benaran, bukan air mata karena pengaruh bawang merah. Sakit yang dirasakan adalah sakit benaran, bukan sakit-sakitan.

Begitu juga bagi pemeran-pemeran TIDAK LANGSUNG sebuah peran, ketika mereka melakukan “framing” bahwa mereka seakan-akan sedang berada dipihak pemeran utama sebuah peristiwa yang sedang terjadi, artinya mereka sedang “binding” dengan pemeran utama itu, maka merekapun akan dilamun dan dihempaskan oleh berbagai perasaan.

Bagi pemeran langsung ataupun pemeran tidak langsung itu, kebahagian dan kepedihan datang silih berganti sesuai dengan setting waktu terjadinya sebuah peristiwa. Dan semuanya itu sangatlah menguras EMOSI. Bisa membuat orang terloncat kaget, berteriak histeris, menangis, marah, benci, dan bahkan pingsan dan mati seketika. Masak sih skenario bikinan Allah kalah greget dan kalah mengejutkan dengan skenario bikinan manusia seperti dalam film horor, film opera sabun, dan film-film lainnya. Ya nggak lah…

output_g9winv

 

Sebagai pemeran Utama (Protagonis) di dalam permainan itu adalah Manusia dan Jin, sedangkan pemeran yang akan selalu menyusahkan pemeran utama (Antagonis) adalah Iblis atau Syaitan. Peran-peran lainnya seperti peran Tritagonis, Deutragonis, Foil, Tetragonis, Compiden, Reisonneur, Yuticiling, dan lain-lainnya seperti dalam sebuah drama buatan manusia tentu saja ada. Misalnya ada malaikat, ada hewan dan lain-lain. Akan tetapi peran yang terpenting yang perlu dicermati sebagai sarana untuk pembelajaran umat manusia adalah peran Protagonis dan Antagonis yang dimainkan oleh manusia itu sendiri dan syaitan.

Itu perlu karena manusia itu sendiri sudah direncanakan oleh Allah untuk tidak hanya bisa menjalankan peran Protagonis saja akan tetapi juga peran Antagonis, serta peran-peran lainnya itu di dalam kehidupan sesama manusia. Itulah hebatnya rencana yang telah dibuat Allah untuk manusia.

Diantara sesama manusia itu sendiri ada pemeran utama yang akan selalu memerankan peran Protagonis, yaitu Para Nabi dan Para Rasul. Mereka semua mengingatkan sebuah sistem pembalasan yang lurus (Dinul Qayyim) atas setiap keadaan yang mungkin dialami oleh umat manusia. Kalau kebaikan, maka pembalasan lurusnya adalah pahala. Kalau sudah pahala, maka pembalasan lurusnya adalah kesenang di dunia dan syurga di akhirat kelak. Kalau keburukan, pembalasan lurusnya adalah dosa. Kalau sudah dosa, maka pembalasan lurusnya kepedihan di dunia dan neraka di akhirat kelak. Design dari awal sudah begitu. Dan itu tidak akan pernah berubah sampai akhir. Dalam perjalanannya, tidak akan ada pula yang terbalik-balik dan tertukar-tukar.

Misi utama mereka adalah untuk mengenalkan kepada umat yang hidup di zaman mereka untuk menyerah secara total kepada takdir yang telah dibuat, didesign, dan ditetapkan oleh Allah untuk setiap ciptaan-Nya, termasuk untuk setiap umat manusia itu sendiri. Menyerah total kepada takdir itulah yang disebut sebagai Islam (Dinul Islam). Sikap sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami patuhi. Karena dalam keberserahan kepada takdir itulah baru manusia akan bisa melihat kebaikan atas setiap kejadian dan peristiwa. Karena disitu ada bahan pembelajaran dari Allah yang Maha Bijaksana.

Dengan berislam, maka umat manusia sudah tidak akan melihat lagi adanya si kambing hitam yang akan dijadikan sebagai penyebab dari terjadinya suatu masalah yang tidak baik. Mereka juga tidak melihat lagi adanya si kambing putih yang akan mereka jadikan sebagai bahan sanjung-sanjungan untuk setiap kebaikan yang terjadi. Karena dengan pengenalan mereka terhadap kewujudan yang ada, mereka sudah dapat melihat bahwa pemeran dari peran baik dan buruk itu hanya satu pemeran belaka, yaitu sedikit Dzat-Nya saja. Allah sendirilah yang sedang mengatur dan bermain-main dengan sedikit Dzat-Nya itu. Sedangkan kebaikan dan keburukan itu sendiripun bagi mereka hanyalah sebatas bahan pembelajaran semata.

Keadaan seperti ini digambarkan dengan sangat indah oleh Syeikh Abdul Qadir Al Jilani sebagai berikut: Pada hakikatnya tidak ada pelaku atau penggerak atau yang mendiamkan kecuali Allah swt tidak ada baik dan tidak ada jahat, tidak ada rugi dan tidak ada untung dan tidak ada faedah dan tidak ada anugerah dan tidak ada sekatan, tidak ada terbuka dan tidak ada tertutup, tidak ada mati dan tidak ada hidup, tidak ada mulia dan tidak ada hina hina, tidak ada kaya dan tidak ada papa, bahkan segala-galanya adalah di dalam tangan Allah semata.

Untuk lebih mudahnya, kalau dalam sebuah permaian sepak bola, maka kesebelasan A, lawannya kesebelasan B, para penyerang, back, penjaga gawang, pemain sayap, penonton yang mendukung kesebelasan A, penonton yang mendukung kesebelasan B, wasit, hakim garis, bahkan bola dan gawang, semua itu pada hakekatnya dimainkan oleh SATU wujud saja, yaitu sedikit Dzat-Nya. Jadi apa yang mau dipermasalahkan?.

Selepas Rasulullah SAW, sebagai Nabi dan Rasul terakhir, wafat, maka peran protagonis inipun ternyata juga bisa diperankan oleh orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang mengikuti dan melanjutkan peran Rasulullah SAW walaupun mereka bukanlah Nabi dan bukan pula Rasul. Tapi mereka melanjutkan tradisi Nabi dan Rasul untuk mau BERSERAH TOTAL KEPADA TAKDIR. Itulah ISLAM.

Sedangkan untuk pemeran peran antagonisnya, atau orang-orang yang selalu menyusahkan dan berbuat jahat kepada Nabi dan Rasul, adalah orang-orang yang berkarakter dan berperilaku seperti Namrud, Fir’aun, Jalut, Abu Lahab, dan lain-lain sebagainya, termasuk Dajjal untuk peranan dimasa yang akan datang.

Peran mereka semua adalah untuk mendistori sikap umat manusia dari sikap yang diajarkan oleh para Nabi Dan Rasul dalam menghadapi takdir. Titik awal dari pendistorsian itu adalah melencengnya pengenalan umat manusia terhadap Allah (makrifatullah). Melenceng dalam bermakrifatullah, maka melenceng pulalah umat manusia dalam melihat kewujudan. Melenceng dalam melihat kewujudan, maka melenceng pulalah umat manusia dalam melakukan penghormatan dan penyembahan. Melenceng dalam penyembahan dan penghormatan, maka melenceng pulalah umat manusia dalam bersikap kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Bersambung…

Sehingga pada akhirnya tidak ada satu alasanpun bagi semua ciptaan untuk tidak menjalankan perannya masing-masing. Semuanya mau tidak mau, terpaksa atau tidak, akan menjalankan perannya sesuai dengan skrip atau skenario yang sudah tergantung dilehernya masing-masing pula. Just do it …

just-do-it-2

Oleh sebab itu, tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan. Karena semuanya terjadi “on pupose of Allah”. Nggak mungkin Allah akan berbuat zalim kepada Dzat-Nya sendiri. Allah jauh lebih sayang kepada ciptaan-Nya dibadingkan dengan sayang seorang ibu kepada anaknya. Adapun kalau, di dalam berbagi peranan itu, terlihat ada yang terluka, yang berdarah-darah, yang sakit, dan bahkan yang mati, tapi semua itu hanyalah sandiwara Dzat belaka. Masak ada Dzat yang luka, yang berdarah-darah, yang sakit, ataupun yang mati. Dzat hanya sedang menjalankan peranan saja sesuai dengan skrip atau skenario yang harus terzahir.

Bak dalam sebuah film atau sandiwara buatan manusia, dimana sehabis shooting habis-habisan, seusainya semua pemain akan duduk bersama-sama minum kopi, makan-makan, dan tertawa ria, sambil merayakan keberhasilan mereka dalam melakonkan peranan-peranan sesuai dengan skrip atau skenario yang telah ditetapkan sebelumnya. Semuanya akhirnya duduk happy, walaupun ketika di dalam film atau sandiwara itu mereka harus saling bermusuhan dan bahkan saling bunuh-bunuhan.

Begitu jugalah kelak di kampung akhirat, semua orang, termasuk iblis sekalipun, akan duduk “happy” di dalam naungan RAHMAN dan RAHIM Allah… karena: Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Dia telah membagi daripadanya sebuah rahmat untuk seluruh makhluk ciptaanNya. Dan dengan rahmat tersebut mereka saling berkasih sayang. Dan dengan rahmat tersebut binatang liar berbelas kasih kepada anak-anaknya. Dan Dia menunda sembilan puluh sembilan rahmat sisanya untuk Dia berikan pada-pada hambaNya pada hari kiamat.Sunan Ibnu Majah Bk.4, 1011 (1993)

Dan disinilah pentingnya kita mengetahui bahwa tugas kekhalifahan manusia yang sebenarnya itu adalah untuk membawa kembali iblis dan syaitan agar mereka mau kembali beriman kepada Allah…, sehingga Allah bisa membuktikan kata-kata-Nya kepada iblis, saat iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam ketika Nabi Adam diciptakan, bahwa mereka tidak mengetahui sedikitpun apa-apa yang ada dalam rencana besar Allah.

Dan tugas untuk mengajak iblis kembali beriman itu adalah amat sangat sulit. Oleh sebab itu Allah telah membuat sebuah mekanisme pembelajaran yang sangat hebat bagi umat manusia untuk menyongsong tugas yang sangat berat itu. Umat manusia digembleng oleh Allah dengan berbagai bencana, kesulitan, kesusahan, sehingga dari situ umat manusia bisa belajar. Manusia bisa belajar untuk mengatasi akibat dari gempa bumi, banjir, dan kebakaran. Manusia bisa belajar untuk mengatasi batasan jarak dalam bepergian. Manusia bisa belajar untuk mempertahankan diri dalam berbagai peperangan. Manusia bisa belajar kesehatan dari berbagai penyakit yang datang silih berganti.

Sehingga pada suatu saat kelak, akan terbentuklah sebuah masyarakat yang kehidupannya sangat kuat dan indah. Saat itu: Permusuhan hilang dan keracunan dalam apa bentuk pun menjadi biasa, kanak-kanak memasukkan tangannya ke mulut ular yang berbisa tidak mendapat kemudharatan. Begitu juga kanak-kanak perempuan yang bermain dengan singa yang buas. Serigala seperti menjadi anjing menjaga kambing-kambing. Bumi dipenuhi kedaimaian seperti air (yang tenang) dalam bejana. Terjemahan Ibnu Majah Bk. 4, 808 (1993)

Semuanya akan dipandu oleh skrip atau skenario maha sempurna untuk berjalan menuju zaman penuh pengharapan itu secara otomatis. Begitu sempurnanya rencana itu berjalan secara otomatis, sehingga orang-orang yang buta mata hatinya akan melihat:

• Bahwa segala sesuatu yang terjadi, itu terjadi hanya dengan sendirinya. Sehingga mereka berkesimpulan bahwa peran Allah tidak ada sama sekali.
• Bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada tumbuhan, hewan, dan manusia adalah semata-mata sebuah kemampuan berevolusi yang dipunyai oleh tumbuhan, hewan, dan manusia itu untuk menaklukkan tantangan hidup yang mereka lalui.

Kalau begitu, masih samakah orang yang buta dengan orang yang melihat?. Masih samakah orang yang tahu dengan orang yang jahil atau bodoh?.

Bersambung

%d blogger menyukai ini: