Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2013

IHSAN, ADALAH PAGAR HATI KITA DALAM SEGALA AKTIFITAS…

Kalau di dalam shalat kita berhasil mendapatkan suasana IHSAN, maka dalam kehidupan sehari-hari diluar shalatpun insyaallah kita akan BISA bersikap IHSAN pula. Kita akan BERPUASA dengan ihsan, kita akan membayar ZAKAT dengan ihsan, kita akan melaksanakan HAJI dengan ihsan, kita akan BERDZIKIR dengan ihsan. Kita akan bergaul di dalam keluarga secara IHSAN, kita akan bermasyarakat dengan sikap IHSAN, kita akan bekerja secara IHSAN.

Khususnya dalam BERDZIKIR, sebelum kita mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, kita TIDAK perlu lagi mengatur-ngatur OBJEK PIKIR kita terlebih dahulu agar OBJEK PIKIR itu bisa menjadi TUNGGAL. Misalnya, dengan cara pengaturan NAFAS, dengan bantuan titik-titik LATHAIF. Sebab makna kalimat dzikir itu yang sebenarnya bukanlah sebuah kalimat yang kita ucapkan berulang-ulang untuk mendapatkan sebuah sensasi rasa. Tapi kalimat dzikir itu adalah ungkapan kita atas keadaan yang sedang menyelimuti dada kita.

Misalnya, untuk mendapatkan sebuah rasa syukur, kita bisa mendapatkannya dengan dua cara:

Cara pertama, kita atur-atur objek pikir kita menjadi objek pikir tunggal seperti dengan mengamati dan mengikuti gerak keluar masuknya nafas kita, atau dengan berkonsentrasi ke lathaif tertentu, kemudian kita membaca berulang-ulang kalimat ya Allah…, Ya Syakuur… Boleh jadi setelah itu kita memang akan merasakan sebuah rasa atau suasana di dalam dada kita. Akan tetapi, karena diawalnya kita memulainya dengan keinginan untuk merasakan rasa syukur, ketika ada sebuah rasa muncul, maka kita sebutlah rasa itu sebagai rasa syukur. Jadi rasa syukurnya itu adalah rasa akibat dari proses pikiran.

Cara kedua, kita menunggu Allah menurunkan Riqqah rasa syukur itu kedalam dada kita. Seperti kisah yang terjadi dibawah ini:

“10/15/2013 05:27: Pak Salim, kemaren ada 4 orang ustad (umur 50 tahunan) dari Padang Panjang yang datang ke Bukittinggi, berlatih dan mendapatkan Riqqah. Mereka sudah kemana mana juga mencari Islam. Ada yang tamatan Gontor, IAIN, Tarekat, dan lain lain, tapi mereka mengaku tetap belum bertemu apa yang dicari.

Setelah berlatih dan mendapatkan Riqqah, mereka hanya berkata: “hari ini baru saya merasakan Ada Allah, hari ini saya baru IHSAN.

Dan dalam tahajud barusan, Allah ternyata juga menyatakan Terima Kasih Beliau kedalam dada saya. Rasanya nikmat sekali. Nikmat sekali pak. Ternyata Allah selalu menyatakan Terima Kasih (Syukur) Beliau untuk setiap kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain. Apa lagi kebaikan itu adalah mengenalkan Allah kepada mereka.

Sungguh Asy Syakuur adalah Nama dan Sifat Allah yang nyata. Ya Allah…, Ya Syakuur…, ya Allah…, ya Syakuur…”

Untuk cara pertama, kita melakukan olah pikir dan dzikir terlebih dahulu, lalu kemudian baru kita mendapatkan rasa. Tapi belum tentu rasa yang kita dapatkan itu adalah rasa yang sebenarnya. Boleh jadi rasa yang kita dapatkan itu adalah rasa akibat dari hasil HIPNOSA pikiran kita sendiri.

Sedangkan untuk cara kedua, kita cukup hanya berbuat amal shaleh saja dalam posisi IHSAN, kemudian pada saat-saat tertentu Allah akan menurunkan balasannya kepada kita berupa Riqqah yang didalamnya memuat rasa yang berbeda-beda. Rasa itu sendirilah yang akan kita ucapkan ketika kita berdzikir.

Dalam contoh diatas, misalnya, kalimat Asy Syakuur itu muncul dari bibir kita karena kita memang merasakan sekali rasa Syukur Allah itu masuk kedalam dada kita. Rasa ketika Allah mengenalkan Diri-Nya sebagai Asy Syakur itu akan sangat berbeda sekali dengan rasa ketika Allah ingin mengenalkan Diri-Nya sebagai Al Jalal atau Al Jamal-Nya. Cobalah kalau tidak percaya.

Selanjutnya, kalau kita punya masalah, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, kita lakukan saja SHALAT untuk minta petunjuk dan tuntunan kepada Allah, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, pasti masalah kita akan selesai. Nggak ada yang tidak selesai. Semua selesai. Cuma selesainya menurut “Pikiran dan Kemauan Allah”, bukan menurut pikiran dan kemauan kita. Dan selesainya itu ada RASA selesainya. Kita sangat Ridho dengan penyelesaian dari Allah itu. Ada riqqah, ada rasa nikmat, ada rasa “suueeejuukk” yang menembus masuk kedalam dada kita. Masak punya masalah datang ke dunia perdukunan, baik yang tradisional maupun yang ada nuansa modernnya seperti Hipnotis, Hipnoterapy, dan yang sejenisnya.

Sebab Allah sendiri yang menyampaikan rahasia tentang bagaimana cara agar kita mendapatkan pertolongan Allah:

“Wasta’iinu bishshabri washshalah…, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya sabar dan shalat itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, yaitu orang-orang meyakini bahwa mereka saat itu menemui Tuhannya, dan bahwa saat itu mereka kembali kepada Tuhannya”. (Al Baqarah 45, 46)

Jadi kalau punya masalah, sabarlah (beriman pada TAKDIR Allah), lakukan SHALAT dengan IHSAN, akan ada Riqqah dan solusinya. Selesai deh masalah kita dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Tegasnya…, dengan bersikap Ihsan, ada Allah di depan kita, masihkah kita berani untuk mencuri?, untuk korupsi?, untuk bermaksiat?, untuk suap menyuap?, untuk kongkalingkong?, untuk bertengkar?, untuk culas, untuk bergunjing?, untuk malas?, untuk tidak berkarya?, untuk marah-marah?, untuk mengumbar syahwat?, untuk dengki dan tamak?, untuk bakhil dan kikir?, untuk sombong?, untuk angkuh?, untuk lalai dalam shalat?, untuk tidak khusyu?, untuk tidak taqwa?, masihkah…?.

Dan yang tidak kalah pentingnya, kalau sudah Ihsan, ada Allah di depan kita, masih adakah ruang buat kita untuk bermain-main dengan perjalanan-perjalanan jiwa yang menipu dan melalaikan?. Perjalanan jiwa yang sangat-sangat bersentuhan dengan alam Jin dan Syetan. Seperti melakukan perjalanan ASTRAL, OBE, merogo Sukmo, dan bermain-main dengan Jiwa kita sendiri dan jiwa orang lain melalui praktek Hypnotis dan Hipnoterapy dan sejenisnya, yang kesemuanya itu “sebelas dua belas” saja sebenarnya dengan dunia perdukunan, tapi perdukunan yang telah dikamuflase dengan istilah-istilah modern dari Barat.

Sebab ternyata semua perbuatan buruk seperti itu dan perjalanan jiwa yang menipu dan melalaikan itu hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak IHSAN saja. Orang yang merasa bahwa “TIDAK ada Allah DIDEPANNYA”. Orang yang tidak takut kepada Allah. Ia hanya takut kalau ada orang lain yang melihat perbuatan buruknya itu. Untuk menutup keburukannya itu, maka dia akan pura-pura berbuat baik di depan orang lain. Ia berbuat dalam keadaan hatinya terisi rasa RIA. Dan selama dia berbuat baik dalam keadaan ria itu, ia akan merasakan rasa capek dan lelah sekali.

Sungguh, IMAN, ISLAM, dan IHSAN adalah satu paket utuh yang tidak bisa dipisah-pisahkan dalam kehidupan kita sepanjang masa. Ia ibarat “tiga tungku sejarangan” yang akan memasak kehidupan kita di dunia ini untuk mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Kurang satu, maka masalah besar segera menunggu kita. Kita menjadi sengasara dunia-akhirat.

Dan IHSAN khususnya, akan memagari kita agar terjauh dan terpelihara dari segala bentuk aktifitas yang akan menjauhkan kita dari Allah. Bagaimana kita akan BERPALING ke wujud atau wajah yang lain, kalau Allah ADA di depan kita. Nggak akan…!. Karena Allah akan selalu MENYAPA kita dengan Riqqah-Nya, yang membuat kita selalu RINDU untuk bersama-Nya…, kita selalu MENGHARAP tuntunan-Nya, kita TAKUT kalau-kalau Dia tidak berkenan terhadap apa-apa yang kita lakukan, kita TAKUT kalau Dia meninggalkan kita, kita MALU untuk berpaling dari Wajah-Nya, kita HARAP dan CEMAS menunggu Rahmat-Nya, kita… jadi kehilangan kata-kata dihadapan-Nya…, ya Allah…, ya Allah… Pantas Rasulullah selalu menangis dalam shalat Tahajud Beliau, Abu Bakar menangis dalam shalat Beliau, para wali Allah dan para Shalihin menangis dalam shalat mereka

Sebagai penutup,

Riqqah adalah sebuah tanda yang dikirimkan oleh Allah kedalam dada kita bahwa Dia telah menerima kita, Allah telah ridha atas apa-apa yang kita lakukan dihadapan-Nya. Selama Allah belum menerima dan ridha kepada kita, jangan harap riqqah itu akan masuk kedalam dada kita. Tapi kalau riqqah itu ada, maka terjadilah proses di dalam dada kita. Hati kita terasa lembut dan bergetar. Kulit-kulit kita merinding. Kemudian hati kita menjadi lapang, siap untuk menerima Hidayah atau petunjuk-petunjuk Allah.

“Allah telah menurunkan (nazzala) sebaik-baik perkataan berupa kitab yang serupa mutu ayatnya secara berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong (talinu) kulit-kulit mereka dan dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itulah (cara) petunjuk Allah (turun). Dia memberi PETUNJUK dengan kitab itu kepada siapa yang yang Dia kehendaki, dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak akan ada petunjuk baginya dari siapapun yang ingin memberinya petunjuk”. (Az Zumar 23).

Ustad Abu Sangkan pernah menerangkan dalam sebuah wejangan Beliau:

“Pada saat itu Ubay bin Ka’ab sedang membaca Al qur’an di sisi kanjeng Nabi Saw, tiba-tiba hati nya terasa “Al iqsi’raru wa taghayyuru fil jildin insani”, yaitu ada rasa lembut dan bergetar hatinya karena takut kepada Allah sehingga Rahmat Allah turun kedalam hati Ubay bin Ka’ab. Kadaan ini disebut ada Riqqah.

Tampak kelembutan dan kebahagiaan yang terpancar pada raut mukanya yang sudah mulai keriput.

Nabi bersabda ketika ditanya oleh salah satu sahabat : “bagaimana kami bisa mendapatkan keadaan hati yang dibukakan oleh Allah?.

“Qaala : idza dakhala nur Al qalba insaraha wan infasaha.” Apabila nur Allah masuk ke hati maka hati menjadi lapang dan lega. Nur Allah itu bukan sebuah kekuatan yang sampai mengguncang badan sampai terjatuh-jatuh. Tetapi kelembutan yang sangat halus yang kemudian melunaknya hati (layyinul qalb). Sebab kalau yang sampai terjungkal-jungkal itu berasal dari kekuatan emosinya yang sangat kuat. Makanya bagi nenek-nenek tidak mungkin mendapatkan keadaan yang sampai terjungkal-jungkal itu.

Bagi anak muda yang kuat emosinya maka ia akan bergetar semacam kesurupan dan terjatuh-terjatuh.

Kata Siti Asma binti Abu Bakar ketika ditanya soal ahli dzikir yang sampai terjatuh-jatuh, beliau menjawab “A’udzubillahi minasy syaithaanirrajim”. Aku tidak pernah melihat Rasulullah dan Sahabat melakukan hal seperti itu.

Lalu mengapa hal terjungkal-jungkal itu bisa terjadi?. Itu karena dorongan dari hawa nafsunya yang sangat besar, bukan dari getaran uluhiyah.

Terbukti ketika yang ikut anak muda getarannya makin keras, bagi yang emosinya sedang tinggi atau yang sedang ada rasa kecewa dihatinya, pasti teriakannya akan makin kuat. Itu bukan riqqah dan bukan pula rahmat.

Makanya tidak ada perubahan pada perilaku hatinya. Bahkan ia akan sulit untuk masuk ke alam ruhani. Karena alam ruhani hanya dapat dimasuki oleh hati yang ridho. Dan jiwa yang dapat ridho ini, salah satu penyebabnya adalah adanya ridho dari kedua orang tuanya.

Ridho ini tidak bisa ditangkap oleh hati yang keras dan sombong, dan tidak bisa pula ditembus dengan hawa nafsu”.

Alhamdulillah…,
Ya Allah…, maafkan hamba kalau hamba salah dalam menuliskan kalimat-kalimat ini. Sungguh hamba hanyalah orang yang bodoh tanpa ada Petunjuk dari-Mu.

Ya Allah…, bagi siapapun yang membaca artikel ini, berilah dia Hidayah-Mu, Petunjuk-Mu.

Ya Allah…, mohon sampaikan salam kami dan kerinduan kami kepada Rasulullah dan Keluarga Beliau, kepada para sahabat Beliau, dan kepada para Shalihin sepanjang zaman.

Ya Allah…

Wallahu a’lam

Selesai
Deka….

Read Full Post »

ISLAM, ADALAH CARA PARA NABI & RASUL MENGHADAP ALLAH YANG HAQ…

Kalau kita sudah percaya kepada ALLAH YANG HAQ, dan kita sudah percaya pula kepada TAKDIR NYA tanpa reserve, maka ketika itu berarti kita sudah selesai dengan Allah. Kita sudah tidak punya keraguan lagi terhadap Allah dan segala Aktifitas-Nya.

Dan terlebih lagi, Allah yang kita imani itu sudah memberikan respon-respon-Nya yang sangat luar biasa pula setiap kali kita berkomunikasi dengan-Nya, seperti yang dialami oleh Rasul-Rasul, Nabi-Nabi, para Shalihin, para Wali Allah, maka kita tinggal memperbaharui terus keimanan kita itu dengan cara kita sering-sering mengucapkan Syahadat kepada-Nya dan Syahadat kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.

Asyahaduallaa ilaha illallah…
Wa asyhaduaanna Muhammadan Rasulullah…

Dengan mengucapkan Syahadat seperti ini, Rukun Islam Pertama, maka sebenarnya saat itu kita tengah bersumpah bahwa Tuhan kita adalah Allah, tidak ada Tuhan kita selain Allah. Dan kita bersumpah pula bahwa kita akan mengikuti apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam bertuhankan Allah.

Kalau iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya sudah masuk kedalam dada kita, maka setiap kali kita mengucapkan syahadat itu, Allah akan menurunkan Riqqah-Nya ke dalam dada kita. Dengan Riqqah itu, rasa iman kita akan semakin meningkat dari hari ke hari. Setiap kali kita menyebut Nama Allah, setiap kali kita bershalawat kepada Rasulullah dan keluarga Beliau, itu akan menyejukkan dada kita. Kulit kita akan merinding dan bergetar seperti keadaan orang yang sedang kasmaran kepada Allah dan Rasulullah.

Selanjutnya, agar kita bisa menghadap dan berjumpa dengan Allah, Rasulullah telah mencontohkan ibadah SHALAT kepada kita. Keadaan yang Beliau alami ketika Shalat itu sama persis dengan keadaan ketika Beliau menjalani peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Sehingga Beliaupun menegaskan: “Ash shalatu Mi’rajul mukminin, bahwa shalat adalah proses Mi’raj bagi orang-orang yang beriman kepada Allah”.

Oleh sebab itu, kita tinggal pakai saja shalat itu sebagai sarana kita untuk Mi’raj kepada Allah, untuk bertemu dengan Allah. Jangan kita cari lagi cara-cara yang lain. Untuk bertemu Allah itu tidak perlu dengan cara kita melakukan perjalanan Astral, bukan dengan cara OBE (Out of Body Experience), dan bukan pula dengan proses merogo Sukma.

Sebab perjalanan Astral, OBE, dan merogo sukmo, yang merupakan salah satu pencapaian yang sangat diidam-idamkan oleh sekian banyak orang, ternyata tidak lain hanyalah proses pengolahan pikiran saja. Yang pada akhirnya teknik ini akan membawa seseorang merasakan dirinya seperti telah menyatu dengan Tuhan. MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI. Sebuah konsep kejawen yang masih sangat populer sampai saat ini.

Akan tetapi untuk berjumpa Allah (Mi’raj) di dalam Shalat sangat berbeda dengan semua perjalanan pikiran diatas. Ketika Shalat, kita hanya perlu bersikap TADARRU’ dihadapan Allah. Kita yakini saja Allah ada di depan kita ( sikap IHSAN). Lalu kita rendahkan hati kita dihadapan Allah. Kita berkata-kata dengan santun kepada Allah, kita rukuk dengan tadarru’kepada Allah, kita sujud dengan tadarru’ kepada Allah.

Kita pelihara sikap TADARRU’ kita kepada Allah sejak dari awal shalat (takbiratul ihram), sampai dengan selesai shalat (salam). Kita tidak memalingkan hati kita kepada apapun selain hanya kepada Allah yang sedang ada dihadapan kita.

Dalam bersikap tadarru’ ini kita tidak perlu mengatur-ngatur tubuh kita agar rileks, kita tidak perlu berkonsentrasi dengan mengatur-ngatur nafas, kita tidak perlu memejam-mejamkan mata, kita tidak perlu konsentrasi ketempat sujud, kita tidak perlu memakai lathaif-lathaif sebagai alat untuk menghentikan pikiran, kita juga tidak perlu merasa-rasakan getaran (bagi yang sudah bisa merasakan getaran-getaran) dalam setiap gerakan. Kitapun tidak perlu merasa-rasakan rasa gembira dengan mengatakan bahwa saya sedang gembira. Kita tidak perlu membayang-bayangkan kegembiraan seperti kita sedang berada dipantai yang indah. Tidak perlu.

Kita hanya cukup bersikap Tadarru’ (merendahkan hati kita), dan kemudian berbicara dengan Allah dalam sikap tadarru’ itu. Suara kita tidak usah keras-keras dan berteriak-teriak, tapi juga tidak seperti orang bisu. Cukup sambil berbisik lembut saja, atau dengan suara yang tidak keras dan juga tidak rendah. Suara pertengahan.

Dasar ayatnyapun sederhana sekali:

“Ingatlah, sebutlah (nama) Tuhanmu di dalam hatimu dengan TADARRU’ (merendahkan hatimu) dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Al A’raf 205).

Cara menyebut atau memanggil Allah itu juga sederhana saja:

“Katakanlah: “serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja yang kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kami mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya””, (Al Isra 110).

Mari kita coba melatihnya barang beberapa saat. Melatihnya boleh sambil berdiri, atau sambil duduk, atau sambil berbaring. Tapi untuk tahap awal, lebih baik kita lakukan dengan berdiri atau duduk. Biar sikap tadarru’nya bisa kita rasakan.

• Sekarang duduklah bersimpuh…
• Berimanlah bahwa Allah ada DI DEPAN kita (tapi DIA nggak perlu di cari-cari dan dirasa-rasakan). Inilah salah satu cara untuk bersikap IHSAN. Allah ada didepan kita.
• Rendahkan hati kita kepada Allah (dimana letak hati kita, juga tidak perlu dicari-cari dengan cara berkonsentrasi).
• Dengan merendahkan hati kita, hampir secara otomatis dada kita juga akan menunduk agak rendah, begitu juga kepala kita. Kita jadi bisa melihat tempat sujud kita.
• Secara otomatis tubuh kita akan rileks, tapi rileksnya bukan dengan cara mengatur-atur tubuh dan pikiran.
• Dengan merendahkan hati kita, pikiran kitapun dengan seketika menjadi lerem. Kita tidak perlu lagi mengatur-ngatur dan mengarah-arahkan pikiran kita kepada sebuah objek fikir tertentu.
• Merendahkan hati kita itu tidak perlu dipaksa-paksa. Misalnya dengan merendahkan hati kita seperti hati kita itu sampai masuk menembus bumi. Tidak begitu. Sebab kalau begitu, kita artinya sedang memainkan alam PIKIRAN kita juga.
• Kita hanya perlu merendahkan hati kita kepada Allah yang ada di depan kita.
• Rasakan kerendahan hati itu.
• Kita bisa merasakan hati kita yang sedang merendah itu kok.
• Pertahankan posisi kerendahan hati kita itu untuk beberapa saat.
• Lalu dengan tetap merendahkan hati, ucapkanlah
o “audzubillahiminasysyaithaanirrajim”,
o “bismillahiraahmaanirrahiim”.
• Lalu serulah Allah dengan dengan TADARRU’
• Serulah Allah dengan hati yang tetap merendah, dengan suara yang santun…
• Panggillah Allah dengan selalu menjaga kerendahan hati kita.

• Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…
• Diamlah sebentar dengan rendah hati.

• Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…
• Diamlah sebentar dengan hati yang tetap rendah..

• Ya Rahman…, Ya Rahman…, Ya Rahman…
• Diamlah dengan hati penuh harap kepada Allah.

• Ucapkanlah : “Allahu Akbar…”
• Diamlah dengan kerendahan hati di depan Allah Yang Maha Besar…

Kalau anda tadi melakukannya dengan benar, hati anda benar-benar merendah, suara anda benar-benar santun, maka sekarang anda pasti sudah merasakan sesuatu…, dan anda juga pasti tahu apa yang terjadi dengan pikiran anda. Lalu lihatlah Al Qur’an dan Al Hadist sebagai pembanding atas apa-apa yang anda rasakan itu.

Sekarang cobalah berwudu dan lakukan hal yang sama seperti diatas, rasakanlah bedanya.

Kemudian dirikanlah shalat, lakukanlah sikap tadarru’ seperti diatas, dan rasakan pulalah beda rasanya.

Kalau posisi hati yang rendah (tadarru’) seperti itu bisa kita pertahankan selama dalam shalat, akan terjadi proses dialogis antara kita dengan Allah.

Share lah pengalaman anda itu, karena anda sedang menceritakan pengalaman anda sendiri.

Kalau posisi hati yang rendah (tadarru’) seperti itu bisa kita pertahankan selama dalam shalat, akan terjadi proses dialogis antara kita dengan Allah.

Ketika kita mengucapkan doa Iftitah: “Wajjahtu wajhiya…, akan terasa sekali saat itu hati kita sedang menghadap dan merendah kepada Allah. Hati kita seperti dipegang oleh Allah, sehingga hati kita itu tidak bisa lagi berpaling kepada segala sesuatu yang selain Allah…”.

Ketika kita membaca Al Fatihah, ketika kita Rukuk, I’tidal, Sujud, duduk Iftirasy, duduk Tawaruk, kalau kita melakukan semuanya itu dalam keadaan hati yang merendah-rendah dihadapan Allah, maka setiap ucapan kita ketika itu akan ada balasannya dari Allah. Riqqah…

Riqqah itu akan turun kedalam dada kita secara sambung bersambung tak henti-hentinya. Kadangkala riqqah itu turun dengan sangat deras, dada kita dingin, kulit-kulit kita merinding, rasa tenang dan nikmat akan menjalar dari hati kita menuju dan menyebar keseluruhan tubuh kita. Otak kitapun seperti berhenti dari berbagai proses berpikir yang selama ini telah melelahkan kita. Kalau sudah begini, kita ingin rasanya berlama-lama dalam shalat itu.

Kadangkala riqqah itu hanya turun sedikit dan jarang-jarang periodenya. Kalau begini duh…, rasanya rindu sekali agar Allah segera menurunkan riqqah-Nya ke dalam dada kita. Rindu sekali. Terasa sekali bahwa riqqah itu tidak bisa kita paksa-paksa dan kita rekayasa. Sungguh riqqah itu bisa turun kedalam dada kita hanya dengan sebab adanya Rahmat dan Kasih sayang Allah kepada kita. Dan untuk itu Allah punya alasan Sendiri. Maka cari tahulah alasan-alasan Allah menurunkan Rahmat itu kepada kita…

Akan tapi kadangkala riqqah itu tidak turun sama sekali ke dalam dada kita. Kalau riqqah itu tidak turun, shalat kita alangkah hambarnya. Sekalipun kita mencoba melama-lamakan shalatnya, tapi tetap saja tidak ada rasanya. Paling-paling rasanya hanya tenang dan hening begitu saja. Tidak ada nikmatnya. Tidak ada bahagianya. Hanya tenang, hening dan diam begitu saja, tapi garing…

Kalau sampai riqqah tidak turun seperti ini, maka pastilah saat itu kita sedang punya masalah BESAR dengan Allah. Pastilah saat itu hati kita sedang LALAI dari Allah, pastilah saat itu hati kita sedang BERPALING dari Allah.

Dan…, kalau kita sedang punya masalah dengan Allah, dimana hati kita berpaling dari Allah, maka hal pertama yang akan terpengaruh adalah hati kita itu pula. Hati kita itu akan segera dikerumuni oleh Syetan. Karena begitu hati kita lalai dari Allah, Allah segera mengirimkan dan memasukkan Syetan ke dalam hati kita itu. Syetan itulah yang akan menjadi sahabat karib kita (QARIN).

“Barangsiapa yang BERPALING dari mengingat Tuhan yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (Az Zukhruf 43 : 36)

“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa (seterusnya) untuk mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (Al Mujaadilah 58 : 19)

Lalu hati kita menjadi keras, hati kita menjadi buta, hati kita menjadi mati. Karena hati kita dipenuhi oleh Syetan, maka tindakan-tindakan kitapun seperti tindakan orang yang sedang kesyetanan. Pikiran-pikiran kita akan membawa kita menjauh dari Allah. Hati kita jadi tertutup untuk melihat alam malakut. Dan kitapun tidak bisa lagi merasakan adanya Riqqah dari Allah yang hanya akan diturunkan-Nya kedalam hati orang-orang yang beriman.

Dengan ketiadaan riqqah seperti itu, walaupun hati kita serasa bisa luas sekali, tenang, dan hening, akan tapi tetap saja hati kita itu rasanya sempit sekali. Sehingga konflikpun menjadi sesuatu yang biasa bagi kita.

Akan tetapi, kalau riqqah itu bisa kita dapatkan di dalam shalat, maka ketika itu akan terasa sekali ada Allah di depan kita. Walaupun Dia tidak terlihat oleh mata kita, tidak teraba dengan panca indera kita, namun Dia selalu memberi tanda-tanda akan keberadaan-Nya di depan kita melalui HATI kita. Tanda-tanda itu berupa Riqqah, Ilham, dan Hidayah (petunjuk-petunjuk-Nya).

Inilah yang akan membuat kita INGIN selalu bersikap IHSAN kepada-Nya.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

20131025-045750.jpg

Read Full Post »

IMAN kepada TAKDIR (baik atau buruk).

Rukun iman itu ada 6, yaitu: Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Nabi dan Rasul, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada TAKDIR (baik-buruk). Diantara ke-6 rukun iman itu, beriman kepada rukun iman yang pertama dan yang terakhir adalah yang paling sulit untuk kita lakukan. Mari kita lihat dimana letak sulitnya.

Sebab, kalau iman kepada Malaikat, Nabi-Nabi, Kitab-kitab Allah, dan adanya Hari Akhir, rasanya kita tidak akan terlalu kesulitan untuk mengimaninya. Kita cukup mengatakan kita mengimaninya, dan setelah itu kita nyaris sudah selesai saat itu juga dengannya.

Tapi untuk beriman kepada Allah dan kepada Takdir-Nya, telah menjadi problematika umat manusia hampir disepanjang zaman. Bagaimana bisa kita beriman kepada sesuatu yang tidak terlihat, tidak terpikirkan, tidak terdengarkan, tidak teraba, sementara kita sudah terbiasa dengan sikap materialistis dalam menghadapi segala hal yang ada disekitar kita. Lalu bagaimana pula kita bisa menerima suatu keadaan yang kita sebut takdir buruk, sementara kita nyaris selalu menginginkan hanya takdir yang baik-baik saja yang akan kita lalui dan hadapi.

Untuk menerima takdir buruk Allah inilah yang menjadi problematika utama seluruh umat manusia dari sejak dulu sampai sekarang. Ketika kita menerima hal-hal yang baik dan sesuai dengan apa yang kita harapkan, biasanya kita memang bisa mengucapkan alhamdulillah dengan sangat sumringah sekali. Akan tetapi ketika kita menghadapi keadaan yang tidak kita inginkan, keadaan atau peristiwa yang kita sebut sebagi “takdir buruk”, maka kita selalu ingin menolaknya. Kita ingin takdir buruk itu menjauh dari kita. Dengan berkeluh kesah, kita berdo’a agar takdir buruk apapun juga tidak akan datang menghampiri kita. Kalaupun takdir buruk itu tetap menghampiri kita, kita akan berdoa dan berdoa agar takdir buruk segera berakhir.

Misalnya, ketika sebuah penyakit datang menghampiri kita, reaksi pertama kita adalah kita berkeluh kesah. Kita berdo’a agar penyakit kita segera sembuh. Sampai beberapa hari kita masih kuat untuk menerima sakit kita itu. Tapi ketika minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan bahkan tahun berganti tahun, penyakit kita itu tidak kunjung juga sembuh, maka kita akan mulai gelisah. Kita berdoa dan berdoa, kita berdzikir dan berdzikir agar penyakit kita itu cepat hilang dari diri kita.

Kalau dengan semua cara itu kita tetap tidak menemukan hasil apa-apa, maka mulailah kita mencari alternatif kesana kemari, kalau-kalau ada cara tertentu yang bisa menyembuhkan penyakit yang kita derita. Kita bisa datang kepada orang pintar, kita bisa datang kepada terapis-terapis, yang menurut iklannya, mereka sangat hebat-hebat. Atau kita bisa datang kepada majelis-majelis dzikir yang lokasinya sangat jauh dan terpencil. Semua itu kita lakukan dengan niat agar kita sembuh dari penyakit kita.

Kalau kita datang ke sebuah majelis dzikir, kita akan berusaha untuk berdzikir dan berdzikir, dengan harapan agar penyakit kita sembuh. Coba bayangkan, dzikir kita itu adalah untuk melawan takdir Allah berupa penyakit yang sedang menimpa kita. Sementara kita menyebutkan diri kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, kita beriman kepada takdir Allah. Ini kan sangat bertentangan sekali.

Kalau dari berdzikir itu kita masih saja tidak bisa sembuh, maka hanya tinggal selangkah lagi kita akan datang kepada berbagai macam teknik terapi yang sedang mengepung kita dengan penawaran-penawarannya yang hebat. Lalu kalau begitu, iman kita kepada Allah diletakkan dimana?.

Padahal ada ayat al Qur’an yang berbunyi:

“Tidak ada sesuatu MUSIBAHPUN yang menimpa seseorang kecuali dengan IZIN ALLAH. Dan barang siapa yang BERIMAN kepada ALLAH niscaya Allah akan memberi PETUNJUK (yahdi) kepada HATINYA (Qalbahu). Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, (QS At Taghabun 64: 11).

Ayat ini merupakan sebuah ayat yang sangat mendasar sekali bagi kita umat islam. Sangat mendasar sekali. Sebab ayat ini memberikan arahan kepada kita bahwa kalau ada sesuatu musibah yang menimpa kita, misalnya kita menderita sakit, kita kehilangan sesuatu, kita mengalami kecelakaan, maka kita diminta untuk percaya bahwa semua yang menimpa kita itu terjadi karena Allah sudah mengizinkannya untuk terjadi. Dengan begitu, tidak ada lagi kata-kata kita yang mengatakan bahwa: “musibah yang menimpa kita itu adalah gara-gara si A, gara-gara kita tidak patuh kepada guru, gara-gara kita kena santet, gara-gara kita kena ‘AIN seseorang, gara-gara kita kena keramat sebuah tempat, gara-gara ini… gara-gara itu…

Bukan…, kita mendapatkan takdir buruk itu, misalnya sakit, bukanlah gara-gara semua itu. Tapi musibah itu terjadi karena Allah sudah mengizinkan sakit itu menimpa kita. Makanya kita sakit. Sehingga kita berada dalam posisi seorang yang menerima sakit itu sebagai sesuatu yang sudah diizinkan oleh Allah menimpa kita. Dengan begitu, kita malah jadi semakin beriman kepada Allah. Kita tidak akan protes kepada Allah. Kita tambah beriman kepada Allah.

Kalau kita beriman kepada Allah, beriman kepada takdir buruk yang sedang menimpa kita, bahwa semua itu sudah melalui pertimbangan Allah yang sangat hebat, maka Allahpun akan menurunkan HIDAYAH atau petunjuk-Nya kedalam HATI kita.

Kembali lagi ke kaji kita, bahwa cara Allah memberi petunjuk itu adalah dengan menurunkan RIQQAH kedalam hati kita.
“Bukankah orang yang Allah telah lapangkan atau bukakan dada/hatinya untuk ISLAM lalu dia hidup diatas cahaya petunjuk dari Tuhannya?. Maka celakalah bagi yang telah membatu hatinya dari mengingat Allah, karena mereka saat itu berada dalam kesesatan yang nyata”. (Az Zumar 22)

“Allah telah menurunkan (nazzala) sebaik-baik perkataan berupa kitab yang serupa mutu ayatnya secara berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut dan condong (talinu) kulit-kulit mereka dan dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikian itulah (cara) petunjuk Allah (turun). Dia memberi PETUNJUK dengan kitab itu kepada siapa yang yang Dia kehendaki, dan adapun siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak akan ada petunjuk baginya dari siapapun yang ingin memberinya petunjuk”. (Az Zumar 23).

Jadi syarat untuk berlakunya proses seperti yang diterangkan dalam surat Az Zumar ayat 22-23 ini adalah bahwa kita harus sudah selesai dulu dengan masalah Iman kita kepada Allah dan iman kepada TAKDIR ALLAH (baik dan buruk) yang menimpa kita.

Selama kita belum tuntas dalam beriman pada rukun iman yang ke 6 ini, percaya kepada TAKDIR (baik/buruk), maka jangan harap Riqqah itu akan turun kedalam dada kita. Kalaupun kita bisa sampai menangis dalam berdoa, sementara kita masih tidak beriman pada takdir buruk dari Allah yang sedang menimpa kita, maka tangisan kita itu hanyalah sebatas tangisan emosional saja.

Tapi kalau kita kita sudah tuntas dalam beriman kepada takdir buruk yang menimpa kita, bahwa kita tetap beriman kepada Rahman dan Rahim-Nya Allah walau apapun musibah yang sedang menimpa kita, maka Allahpun akan memberi petunjuk-petunjuk-Nya kedalam hati kita. Riqqah Allah akan turun kedalam dada kita. Sering sekali. Walaupun kita sedang sakit, tiba-tiba kita merasa sangat bahagia, tiba-tiba dada kita dingin, hati kita talinu (tenang), kulit kita talinu (tenang). Kita tinggal hadapi saja semua proses pengobatan yang akan kita jalani. Kita ikuti pula petunjuk-petunjuk Allah yang diturunkan-Nya kedalam hati kita ketika Riqqah itu turun. Dalam menunggu kesembuhan itu, tidak lupa kita mempersiapkan diri untuk kembali kepada Allah. Karena boleh jadi dengan sakit itulah cara Allah untuk mengambil nyawa kita…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Awal Agama Islam.

Awal dari agama Islam adalah mengenal Allah yang HAQ. Kalau tidak dimulai dari sini, maka Allah kita akan menjadi sangat berbeda-beda satu sama lainnya. Untuk mengenal Allah inilah diperlukan sebuah dasar yang sangat kuat yang harus kita jadikan sebagi contoh. Sebab kalau tidak, Allah kita itu akan menjadi Allah yang “gado-gado”, Allah yang TIDAK jelas, Allah yang menuruti perkiraan-perkiraan pikiran kita masing-masing.

Semakin banyak perkiraan-perkiraan (dzan) yang kita alamatkan untuk Allah, maka semakin rumit pulalah amalan-amalan yang akan kita lakukan. Sejarahpun sudah membuktikan tentang berbagai kerumitan yang dialami oleh sebuah kaum ketika dia bertuhankan sesuatu yang rumit yang dia kira itu adalah Allah. Bahkan saking rumitnya bertuhankan Allah yang gado-gado ini, akhirnya banyak pula umat manusia yang masa bodoh saja dengan masalah ketuhanan ini. Sampai-sampai ada yang sama sekali tidak mempercayai keberadaan Allah sedikitpun.

Tapi dari sekian banyak kerumitan itu, ada segolongan kaum yang dari zaman dulu sampai dengan zaman sekarang yang bertuhankan ALLAH Yang HAQ dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.( QS, Maryam,19 :58)

Segolongan kaum itu, di setiap zaman, akan mengalami hal yang sama seperti yang diterangkan oleh ayat diatas, karena memang kaum itu bertuhankan Allah yang sama pula, yaitu Allah Yang HAQ. Allah yang selalu menurunkan Riqqah-Nya kepada mereka, sehingga merekapun sering menyungkur, sujud dan menangis. Itu semua terjadi karena mereka saking terharunya kepada Allah mereka yang Haq. Allah yang tidak sama dengan semua gado-gado pikiran dan persepsi-persepsi tentang Tuhan yang sangat banyak beredar disetiap zaman, termasuk di zaman kita sekarang ini.

Misi diturunkannya Nabi Muhammad oleh Allah kemuka bumi ini adalah untuk mengenalkan Allah Yang HAQ itu kepada seluruh umat manusia sampai ke umat akhir zaman nanti. Begitu juga sahabat-sahabat Beliau, serta para shalihin yang telah diberi petunjuk dan dipilih oleh Allah sampai akhir zaman, mereka menyampaikan hal yang sama. Menyampaikan tentang Tuhannya Muhammad dan Rasul-rasul sebelum Beliau, yaitu Allah Yang Haq. Mereka menyampaikan dan mencontohkan pula tentang bagaimana cara-cara Beliau dalam Beriman, Berislam dan Berihsan, agar kita semua sebagai penerus Beliau mampu pula berada dalam kehidupan syurgawi seperti yang Beliau dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat.

IMAN KEPADA ALLAH YANG HAQ…

Agar kita tidak salah-salah dalam beriman, Allah mengutus Rasulullah untuk memberitahu kita tentang Allah yang harus kita imani. Beliaupun diberitahu oleh Allah sendiri tentang Wujud Allah seperti apa yang harus kita imani. Bahwa sekiranya ada umat Beliau yang bertanya tentang Allah, maka katakanlah kepadanya bahwa Allah itu DEKAT, Dia lebih dekat dari urat lehermu, kemanapun engkau menghadap engkau akan berhadapan dengan Wajah Allah, Wajah-Nya Meliputi Timur dan Barat, Wajahnya Meliputi segala sesuatu, Dia tidak sama dengan apapun yang kamu pikirkan tentang Dia, Dia bersemayam di Arsy-Nya yang tak terbayangkan, (disarikan dari berbagai ayat di dalam Al Quran).

Dengan Allah yang seperti ini, maka tidak ada sedikitpun tempat bagi kita untuk bisa mengenal Allah dengan pikiran dan ilmu kita sendiri. Apalagi dengan ilmu yang kita ciptakan sendiri. Ilmu yang kita reka-reka sendiri. Sebab Ilmu tentang Allah itu sudah selesai di zaman Nabi Muhammad bersama-sama dengan Sahabat Beliau. Bahkan ilmu untuk menghadap Allahpun sudah selesai pula dizaman Beliau. Kita sebenarnya hanya tinggal meyakini dan memakainya saja saat sekarang ini, maupun dimasa-masa mendatang.

Iman kepada Allah ini kalau hanya sekedar untuk diucapkan, maka selesailah sampai disini. Semua orang akan sangat mudah mengucapkannya. Akan tetapi iman kepada Allah yang betul menurut Al Qur’an adalah Iman yang berada pada TEMPATNYA yang tepat, dan ada pula CIRI-CIRINYA.

Tempat bertahtanya IMAN itu adalah di dalam SUDUR atau DADA (SADRAHU) kita. Bukan didalam OTAK kita berupa ingatan-ingatan atau persepsi-persepsi kita. Bukan di kata-kata kita. Iman itu ada di dalam SUDUR atau HATi kita. Hati adalah alat atau instrument khusus yang diciptakan Allah untuk kita, agar kita bisa merasakan RASA IMAN. Fungsi sudur itu adalah ibarat fungsi telinga untuk mendengar rasa bunyi, mata untuk melihat rasa cahaya, hidung untuk mencium rasa bau, lidah untuk mengecap rasa asam-garam, dan kulit untuk meraba rasa panas-dingin.

Akan tetapi, agar hati itu bisa berfungsi menangkap Rasa Iman dengan baik dan benar, maka SUDUR itu harus HIDUP, BERSIH, dan LUNAK. Tanpa SUDUR yang bersih, hidup dan lunak, rasa IMAN yang sebenarnya tidak akan pernah bisa kita dapatkan. Sebab rasa iman itu ternyata sangat halus dan lembut sekali. Karena ia memang datang dari Dzat Yang maha Lembut, Allahu Al Lathief. Rasa Iman itu DITURUNKAN sendiri oleh Allah kedalam sudur kita, berupa RIQQAH. Ia bukan hasil dari rekayasa pikiran dan emosi kita.

Saking lembutnya RIQQAH itu diturunkan Allah kedalam sudur kita, maka ia tidak akan pernah bisa kita rasakan apabila sudur kita itu tengah dibungkus, walau setipis apapun, oleh HAWA NAFSU kita, yang wujudnya bisa saja dalam bentuk EMOSI, PIKIRAN, KEANGKUHAN, dan berbagai kesombongan kita yang lainnya. Begitu sudur kita itu di bungkus oleh HAWA NAFSU, maka keadaan SUDUR kita itu akan menjadi mati, gelap, keras dan membatu, buta, pekak dan tuli. Kalau sudah begitu, dengan seketika, kita akan berubah menjadi orang yang tidak bisa lagi merasakan getaran Riqqah yang membawa rasa iman, rasa islam, dan rasa ihsan yang hakiki, sebagaimana yang dirasakan oleh para Rasulullah, dan para Shalihin.

Sebab disamping untuk tempat merekah dan berkembangnya rasa IMAN, di dalam SUDUR ini pulalah ternyata tempat bergolaknya segala rasa yang disebabkan oleh berbagai PERSEPSI PIKIRAN kita tentang segala hal yang bisa kita persepsikan dan pikirkan. Ujung akhir dari persepsi-persepsi kita itu adalah munculnya rasa cinta kita kepada benda-benda, anak, istri, sesama manusia, harta benda, kekuasaan, materi, energi, getaran, daya, dan sebagainya. Kesemuanya itu akan menghalangi kita untuk mendapatkan rasa iman kepada Allah. Karena semua rasa-rasa yang berasal dari persepsi pikiran kita itu adalah rasa-rasa yang SEMU dan MENIPU.

Kalau kita berpresepsi tentang sesuatu, maka sebentuk rasa dari sesuatu itupun muncul di dalam dada kita. Dan kita tahu persis bahwa rasa itu akan berbeda dengan rasa-rasa lain yang berasal dari persepsi yang berbeda. Ciri-cirinyapun akan berbeda pula, baik secara fisik maupun secara non fisik (batin, atau jiwa).

Misalnya, karena kita memberikan sekedar “perhatian” yang lebih kepada sesuatu, maka seketika itu juga kita merasa seperti menjadi pemilik dari sesuatu itu. Dari rasa memiliki itu kemudian muncul rasa cinta kita kepada sesuatu itu. Rasa cinta itu akan sangat berbeda rasanya dengan rasa benci.

Begitu juga dengan rasa-rasa yang lainnya. Rasa marah akan sangat berbeda rasanya dengan rasa sabar. Rasa takut akan sangat berbeda rasanya dengan rasa aman. Rasa khawatir akan sangat berbeda rasanya dengan rasa tenang. Rasa-rasa lainnya yang bisa muncul didalam dada kita setiap saat, disebut orang juga dengan emosi.

Ketika sebuah rasa muncul di dalam dada kita, misalnya rasa cinta kepada seseorang, maka seketika itu pula ada sebentuk daya yang akan mendorong kita untuk melakukan sebuah tindakan atau aktifitas untuk menunjukkan rasa cinta kita itu kepadanya. Kalau orang yang kita cintai itu juga merasakan rasa cinta yang sama dengan yang kita rasakan, maka rasa “cinta bertemu cinta” itupun ada rasanya. Rasa KASMARAN. Dan rasanya akan sangat berbeda dengan rasa tatkala cinta kita bertepuk sebelah tangan.

Entah kenapa, rasa cinta kita kepadanya seperti mengisi penuh dada kita dengan rasa bahagia dan semangat. Atribut apa saja yang berkenaan dengannya, seperti ingin selalu kita ingat-ingat, rasa-rasakan, dan cerita-ceritakan kepada semua orang sepanjang waktu. Apapun yang kita lakukan untuknya, tidak sedikitpun membuat kita capek dan lelah.

Kalau karena sesuatu hal, dia marah dan cemberut kepada kita, maka rasanya juga segera berubah. Kita jadi gelisah, tidak enak makan dan tidur. Nelangsa sekali rasanya. Kita seakan-akan ingin bersimpuh minta maaf kepadanya. Kalau dia belum mengatakan maaf kita, maka kita ingin rasanya duduk didepannya untuk selamanya. Tapi begitu kata maaf terucap dari mulutnya, atau mungkin cukup hanya sebentuk senyum manis yang tersungging dibibirnya, maka kitapun seperti ingin bersorak kepada setiap orang untuk memberitahu mereka bahwa kita sudah dimaafkan oleh kekasih kita.

Jadi…, rasa yang dirasakan oleh para pecinta itu adalah rasa yang hidup. Rasa yang berubah-ubah setiap waktu, yang menyebabkan mereka juga berperilaku berubah-rubah dari waktu kewaktu. Perubahan itu sesuai dengan rasa yang dia rasakan atas respon yang diberikan oleh kekasihnya kepadanya. Bahkan kalau rasa cinta bertemu cinta ini sudah ada, jarakpun bukanlah sesuatu yang menghalangi rasa-rasa itu muncul. Walaupun para pecinta itu saling berjauhan, rasa cinta itupun tetap bisa tumbuh dengan sangat suburnya.

Dan tentu saja Rasa Iman (yakin, percaya) kepada Allah, berupa RIQQAH, akan sangat berbeda pula rasanya dengan rasa kafir (menolak, tidak yakin) kepada Allah. Beda rasanya seperti berbedanya Terang dan Gelap, seperti berbedanya Hidup dan Mati, seperti berbedanya Langit dan Bumi.

Itulah sebabnya sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj, SUDUR Nabi Muhammad SAW dibersihkan terlebih dahulu oleh Malaikat Jibril. Karena selama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu dan juga nanti selama masa-masa Kerasulan Beliau selanjutnya, ke dalam SUDUR Beliau itulah akan di masukkan oleh Allah berbagai rasa yang ada di dunia dan akhirat. Ada Rasa Syurga, ada Rasa Neraka. Sehingga kelak, setiap kali Beliau berkata-kata dan bertindak, maka kata-kata dan tindakan Beliau itu adalah tentang APA-APA yang sudah ada suasana dan keadaanya terlebih dahulu di dalam SUDUR Beliau. Apa-apa itu telah diturunkan oleh Allah kedalam SUDUR Beliau sebelum Beliau berkata-kata dan bertindak.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

TENANG dan BAHAGIA…

Tenang dan bahagia itu ternyata ada dua sumber penyebabnya, yaitu:

Pertama, rasa tenang dan bahagia karena kita berhasil Menenangkan Pikiran kita dari segala keruwetan pikiran yang ada. Dalam istilah barat, stage ini disebut sebagai ZERO MIND. Rasa Tenang yang dihasilkan adalah karena kita berhasil mengolah pikiran kita menjadi hanya satu bentuk pikiran saja. Kita hanya berkonsentrasi kepada Satu Objek Fikir saja. Sedangkan cara-cara mengolahnya bisa dengan olah nafas, olah objek fikir (Pikiran), dan olah gerak tubuh.

Misalnya, pikiran kita yang tadinya ruwet, kita sederhanakan menjadi sebuah pikiran saja. Misalnya pikiran yang terfokus pada pengolahan keluar masuknya nafas. Kita yang tadinya seolah-olah menjadi berbagai wujud seperti apa-apa yang kita pikirkan, artinya kita menjadi realitas dari objek pikir yang kita pikirkan, kemudian, karena kita terfokus hanya kepada keluar masuknya nafas saja, kita mengamati nafas kita, tiba-tiba wujud diri kitapun seperti bisa berubah menjadi wujud yang sederhana, yaitu menjadi nafas itu sendiri. Kita mengamati diri kita yang berupa nafas itu.

Karena objek fikir kita saat itu hanya gerakan keluar masuknya nafas saja, maka ketiadaan pikiran kita dari berbagai objek fikir yang lainnya akan memberikan efek rasa TENANG, LEGA, dan LUAS di alam pikiran kita maupun di alam perasaan atau emosi kita. Kalau sebelumnya kita belum pernah merasakan pikiran yang tenang, lega dan luas itu, maka ketika kita bisa merasakannya sekarang, kita akan mengalami efek rasa bahagia. Kita merasa bahagia karena saat itu kita seperti terlepas dari segala beban pikiran yang selama ini menghimpit kita. Saking bahagianya, bisa jadi kita akan menangis tersedu-sedu dan tubuh kita bergetar-getar dengan kuat.

Hal terjadinya bergetar tubuh kita dan menangis seperti ini, ternyata ada hubungannya dengan aktifitas OTAK KANAN kita yang saat itu mulai meningkat. Karena saat itu otak kiri yang tadinya dibanjiri oleh berbagai pikiran, hanya diberi beban dengan sebuah objek fikir saja. Ya…, otak kiri kita saat itu hanya aktif untuk merespon sebuah objek fikir saja, misalnya gerak nafas kita, maka dengan seketika itu pula otak kanan kita akan mulai aktif. Salah satu tanda atau ciri-ciri dari aktifnya otak kanan kita itu adalah tubuh kita menjadi BERGETAR dan pada keadaan tertentu kita bisa pula MENANGIS. Istilah umumnya adalah saat itu kita sedang mengalami rasa EKSTASIS.

Tubuh kita yang telah bergetar itu, lama-lama, akan membuat kita menjadi peka pula terhadap berbagai getaran atau vibrasi yang ada di alam ini, termasuk getaran-getaran “pikiran”. Karena memang salah satu fungsi dari otak kanan kita adalah agar kita bisa merespon dan mendeteksi adanya berbagai getaran yang ada di sekitar kita. Orang yang otak kanannya sudah sangat aktif, ia akan bisa merasakan getaran keindahan sekuntum bunga, getaran keindahan warna pelangi, getaran pribadi, getaran alam, getaran jin, getaran makhluk halus, getaran pikiran masa lalu maupun getaran pikiran masa depan.

Getaran-getaran inilah yang membuat seseorang seperti bisa berimanjinasi, mengkhayal, dan menjadi visioner. Makanya tidak aneh kalau ada beberapa orang yang sampai mengaku bisa bertemu dengan makhluk dari angkasa luar. ET. Saya kenal dengan beberapa orang yang mengaku bisa seperti ini, misalnya Mr. RCAT.

Tangisan awal kita itu pada akhirnya akan membuat kita seperti lepas dari segala beban yang menumpuk didalam dada kita selama ini. Dada kita seperti lega dan tenang. Sejenak kita seperti merasa bahagia. Dan tentu saja menangis…

Pada awal-awalnya memang begitu, akan tetapi lama-kelamaan, setelah berlatih selama beberapa tahun, rasa tangis itu akan menghilang entah kemana. Karena memang ketika itu sudah tidak ada lagi sensasi baru yang akan di respon oleh otak kanan kita. Dari hari ke hari, setiap kita melatihnya, yang ada hanyalah getaran dan getaran. Dan getaran itu yang pada awalnya memang sangat kuat dan mengguncangkan diri kita, lalu berubah menjadi getaran yang lembut namun dayanya sangat kuat mencengkram. Kalau kemudian getaran-getaran ini diolah dengan berbagai cara, akan menghasilkan berbagai ilmu kesaktian yang hebat-hebat.

Disamping itu, pikiran yang TENANG dan rasa LUAS ini, akan memudahkan otak kita untuk menangkap IDE-IDE (pikiran-pikiran) yang GETARANNYA memang sudah memenuhi alam semesta ini. Setiap benih pikiran manusia, sejak dari zaman dahulu sampai dengan zaman kita sekarang ini, akan menimbulkan bentuk-bentuk getaran pikiran yang melayang-layang bebas di alam semesta. Ketika pikiran kita tenang, bisa saja pikiran kita itu satu frekeunsi dengan getaran pikiran yang tengah melayang-layang itu. Getaran pikiran itu bergetar pula di dalam otak kita, sehingga saat itu kita seperti mendapatkan sebuah pencerahan.

Demikianlah seterusnya…, ada orang yang semakin lama semakin tinggi ilmu kesaktiannya, karena ia memang mengolah getaran-getaran itu menjadi ilmu kesaktian. Dan adapula orang yang semakin lama semakin banyak dan melimpah buah pikirannya, karena ia memang menyediakan otak kanannya untuk beresonansi dengan berbagai getaran pikiran yang memang telah tersedia di alam semesta ini.

Cuma saja siapa diantara kita yang tahu, kalau getaran-getaran dan pikiran-pikiran yang kita olah itu bersentuhan atau tidak dengan getaran dan pikiran JIN, IBLIS, dan SYAITAN. Sebab ternyata mereka juga punya alam getaran dan alam pikiran, yang telah bergetar sejak zaman penciptaan ADAM sampai dengan sekarang. Yang pasti alam getaran dan alam pikiran mereka itu bisa beresonansi dengan alam getaran dan alam pikiran kita. Mau percaya atau tidak, terserah. Sebab selama kita hanya berada ditataran dan tatanan alam-alam getaran dan alam-alam pikiran saja, maka tidak ada satupun diantara kita yang akan bisa mengetahuinya. Halus sekali resonansinya.

Disinilah bahayanya…, sangat berbahaya sekali. Tahu-tahu kita sudah angkuh saja, kita sudah sombong saja, kita sudah durhaka saja kepada Allah.

Dan bahaya yang paling besar adalah, kita menjadi lebih nikmat dalam bermain-main dengan getaran dan olah pikiran dibandingkan dengan SHALAT. Kita bisa berlama-lama dalam olah getaran dan pikiran ini, sementara untuk shalat kita hanya butuh waktu beberapa menit saja.

Padahal shalat adalah saat-saat perjumpaan antara hamba dengan Allah yang sangat SYAR’I. Tapi kita gagal dalam mendapatkan suasana berjumpa dengan Allah itu. Suasana IHSAN. Sebab ketika perhatian kita, objek pikir kita, objek kesadaran kita adalah sebentuk getaran dan sebuah objek pikiran, maka seketika itu pula kita akan kehilangan sebuah fundamental dari “tiga tungku sejarangan” di dalam agama Islam, yaitu IHSAN. Kita kehilangan suasana ketika Allah ada di DEPAN kita. Kita kehilangan keadaan ketika Allah MENATAP kita.

Di dalam shalat saja kita tidak bisa IHSAN, apalagi diluar shalat. Dengan begitu, sudah sangat sewajarnyalah kalau kita melihat semua macam kejahatan dan di semua level kehidupan masyarakat tumbuh dan meningkat dengan sangat tajam. Mencengankan sekali. Sungguh, kehilangan RASA IHSAN ini akibatnya sangat menakutkan.

Kedua, tenang dan bahagia karena Allah berkenan menurunkan RIQQAH-Nya kedalam dada kita karena IMAN dan IHSAN kita kepada Allah. Riqqah inilah yang nyaris sudah tidak dikenali lagi oleh umat Islam. Sehingga kitapun jadi kehilangan rasa IMAN dan IHSAN kita kepada Allah. Sebab riqqah adalah bentuk respon Allah kepada kita terhadap apa-apa yang kita lakukan. Riqqah itu berupa Rahmat Allah yang langsung disusupkan Allah kedalam dada kita ketika kita melakukan sebuah amal Shaleh.

Getaran Riqqah itu menyusup kedalam dada kita, sehingga dada kita menjadi DINGIN ibarat dada kita sedang di isi oleh “kal SALJI wal BARAD”, seumpama hati kita dialiri oleh AIR SALJU, seperti dada kita dipenuhi oleh rasa SEJUK air embun di pagi hari di sebuah puncak gunung yang tinggi. Rasa Sejuk dan Dingin di dalam dada kita itu kemudian menjalar keseluruh tubuh kita. Bulu roma kita merinding. Kulit-kulit kita bergetar lembut (bukan tubuh kita yang bergetar hebat dan bergoyang-goyang, bukan pula keter-keter). Rasa dingin itu bisa kita rasakan, seperti kita bisa merasakan rasa sedih, marah, takut, dan sebagainya.

Bersamaan dengan rasa dingin itu, muncullah dengan sangat kuat RASA BAHAGIA yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Dan itu akan selalu begitu. Sehingga rasa bahagia kita itu selalu diperbaharui setiap Riqqah itu muncul. Rasa Bahagia yang selalu baru dan intensitasnya semakin tinggi dari waktu ke waktu. Rasa bahagia kita itu bukan karena kita punya apa-apa. Bukan karena kita bisa makan sesuatu yang sangat enak, bukan karena kita berhasil punya rumah yang sangat bagus, bukan karena kita berhasil punya banyak uang, bukan karena kita berhasil punya istri yang sangat cantik, bukan karena kita punya anak yang luar biasa. Bukan…

Tapi rasa bahagia itu terjadi hanya karena Allah berkenan menurunkan Riqqah-Nya, Rahmat-Nya, kedalam dada kita. Riqqah inilah yang membuat Nabi Muhammad SAW selalu menunggu-nunggu masuknya waktu Shalat, selalu mendirikan shalat-shalat sunat, selalu shalat Tahajud. Menjelang masuknya waktu shalat, beliau selalu menyiapkan diri. Kadangkala terlebih dahulu beliau Qailula (tidur-tiduran) agak sejenak.

Riqqah itu membuat kita seperti orang yang sedang KASMARAN dengan Allah. Karena, dengan hanya menyebut Nama-Nya saja, sudah terasa ada rasa dingin dan bahagia yang mengisi dada kita. Nikmatnya sangat luar biasa. Kulit kita merinding-rinding. Saking nikmatnya, butiran-butiran air mata kitapun seperti ingin berkejar-kejaran keluar dari sudut-sudut mata kita. Dan untuk semua itu kita tidak perlu melakukan konsentrasi apa-apa. Kita hanya menunggu dengan sikap TADARRU’

Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar…

Dan setelah Riqqah itu turun, barulah kita melakukan komunikasi dengan Allah. Kita minta bimbingan dan tuntunan kepada Allah, kita minta petunjuk Allah, kita minta pemberitahuan Allah. Dalam keadaan penuh Riqqah itu, kita akan tahu kita ini sedang dibimbing dan dituntun kemana oleh Allah, kita sedang diberi petunjuk apa oleh Allah, kita sedang diberitahu apa oleh Allah. Inilah ILHAM…, dan kita tinggal mengikutinya.

Pantas Rasulullah mengatakan: ightanimu addu’a inda riqqati fainnaha rahmah, segeralah berdo’a ketika riqqah turun, karena saat itu ada rahmah.

Dengan Rahmat inilah kita kemudian akan diperkenalkan oleh Allah satu persatu dengan segala rahasia-Nya dan ilmu-Nya sesuai dengan qadar, atau apa-apa yang kita butuhkan, untuk menjalankan fungsi kekhalifahan kita, dan fungsi kehambaan kita kepada-Nya.

Ya Allah…, sungguh…, inilah mutiara yang nyaris tidak ditemukan lagi oleh umat islam sejak berbilang zaman.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Bismillahirrahmanirrahiim…

Agama Islam sebenarnya sangatlah sederhana sekali, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad sebagai hasil tanya Jawab Beliau dengan Malaikat Jibril di depan para sahabat Beliau yang sedang berkumpul disuatu tempat.

Untuk memahami Islam yang KAFFAH itu, paling tidak menurut pemahamann saya sendiri, adalah ibarat memaknai sebuah pepatah Minangkabau dalam bermasyarakat, yaitu filosofi “tungku tiga sejarangan”. Ketiga tungku itu haruslah dinyalakan pada saat yang bersamaan untuk menghasilkan sebuah peradaban bermasyarakat yang cemerlang. Sebab jika ada satu tungku saja yang tidak berfungsi, maka kehidupan dalam sebuah nagari akan menjadi pincang dan tidak berjalan dengan baik dan mulus. Ketiga tungku sejarangan itu adalah: adanya peran Ninik Mamak (adat istiadat), peran Alim Ulama (agama), dan peran Cerdik Pandai (ilmu pengetahuan/ pemerintahan) yang saling isi mengisi dan bergandengan tangan setiap saat.

Nah…, di dalam Agama Islam, tungku tiga sejarangan itu ada pula, tapi dalam bentuk lain, yaitu IMAN, ISLAM, dan IHSAN. Ketiga tungku sejarangan ini akan memasak AMAL KEHIDUPAN umat manusia sampai dengan waktu yang telah ditentukan, yaitu KIAMAT, saat mana setiap orang, ketika itu, akan menerima pembalasan sesuai dengan semua amal perbuatan dan bumbu-bumbu kehidupan yang telah ia racik dan masak selama hidupnya.

Dalam hal amal perbuatan dan racikan bumbu-bumbu kehidupan, setiap orang akan sangat berbeda. Inilah FITRAH, sesuatu yang sudah seharusnya begitu. Karena Allah sendiri memang mengizinkannya untuk berdeda.

FITRAH setiap orang inilah yang akan dimasak di “tungku tiga sejarangan” : IMAN, ISLAM, IHSAN, yang hasilnya akhirnya akan menentukan apakah seseorang itu akan masuk kedalam KEHIDUPAN SYURGAWI ataukah ia akan tercebur kedalam KEHIDUPAN WAIL (NERAKA).

Pada kesempatan ini, kita hanya akan mencoba untuk memahami makna dari tungku tiga sejarangan ini, yaitu IMAN, ISLAM, dan IHSAN, secara lebih membumi dan tidak berhenti hanya pada batas tatanan wacana ilmu saja. Sebab sebenarnya setiap umat ISLAM sudah sangat hafal sekali dengan istilah dan dalil-dalil dan ilmu tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN ini.

Hanya saja, ketika umat islam masuk kedalam kehidupan nyata, walaupun kita telah mencoba beriman, berislam, dan berihsan, rasanya kok tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, dan juga yang sangat diharap-harapkan oleh semua orang, yaitu bisa membawa kita masuk kedalam kehidupan syurgawi, yang bukan hanya diakhirat kelak, tapi juga di dunia saat ini.

Kita sebagai umat Islam merasa banyak gagalnya dalam memasak amal kehidupan kita. Walau kita sudah mengaku beriman, sudah shalat bertahun-tahun, dan sudah merasa ihsan pula, tapi tetap saja kita masih banyak yang mencuri, bermaksiat, dan melakukan perbuatan tercela lainnya. Atau dalam kehidupan ini, kita bahkan merasa belum pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian barang sekejappun. Rasanya hidup kita penuh dengan berbagai masalah yang tak kunjung habis. Misalnya, tiba-tiba kita bermasalah dengan pasangan, anak, adik-kakak, orang tua, teman kerja. Kita juga bermasalah dalam usaha dagang, kerjaan di kantor, atau aktifitas kita di masyarakat. Lalu, kita punya masalah dengan keuangan, kesehatan, dan sebagainya. Semua masalah itu seperti mengepung kita dari segala sudut dan sisi. Kita kelabakan, kita kebingungan.

Kenapa…?, kenapa…?, kenapa…?, tanya kita menyeruak tak henti-hentinya. Padahal kita sudah merasa shalat dan berdoa, kita sudah merasa puasa dan melakukan amalan-amalan shaleh lainnya, kita sudah merasa berdzikir ribuan kali. Tapi kok semua masalah-masalah itu tetap saja ada di dalam hidup kita. Tapi pertanyaan kita itu seperti tak pernah terjawab…

Ditengah-tengah kebingungan itulah biasanya kita jadi mudah sekali dipengaruhi oleh berbagai iklan, rekaman video atau suara, tulisan-tulisan atau cerita-cerita dari mulut ke mulut tentang keberhasilan sebuah metoda “penyembuhan dan penuntas masalah” yang bisa mengalahkan berbagai derita fisik dan jiwa seperti yang sedang kita alami.

Karena di dalam iklan itu disebutkan segala permasalahan umat manusia secara umum, maka begitu kita perhatikan iklan itu, kita merasa bahwa iklan itu kok sedang berbicara dengan kita. “Gue benget nih”, kata kita membatin. Dengan ditayangkannya kehebatan-kehebatan metoda itu secara berulang-ulang di berbagai media yang kita senangi, misalnya di FB, TW, BLOG, TV, atau media lainnya, apalagi disana sini kemudian ditambah-tambahi pula dengan berbagai kesaksian dari orang-orang yang sudah pernah merasakan manfaat dari metoda itu, maka pada suatu tahap tertentu, otak kita akan merespon iklan itu sebagai sebuah KEBENARAN, Sebutlah KEBENARAN BARU.

“Aaa…, barangkali metoda ini benar nih”, bisik pikiran kita.

Kalau sebelumnya sudah ada sebuah KEBENARAN lain di dalam otak kita, sebutlah KEBEBARAN AWAL, maka untuk sesaat kita akan mengalami suasana seperti kita sedang “chatting” di dalam otak kita. Kita seolah-olah berubah menjadi dua sosok diri. Satu diri kita yang menjadi kebenaran awal, dan yang satu lagi diri kita yang menjadi kebenaran baru. Kedua diri kita itu sedang saling beragumentasi dihadapan kita. Dan kita sendiri menjadi “saksi” atas chatting itu.

Pada keadaan ini kita seperti berada pada titik persimpangan jalan. Kita dipaksa untuk memilih apakah kita akan tetap berada pada pola kebenaran lama yang telah kita punyai, atau kita akan mengubah haluan kita dengan memakai kebenaran baru yang tengah gencar-gencarnya menyerang kesadaran kita. Biasanya kalau sudah ada ungkapan bahwa kita ingin mencobanya, maka hanya tinggal menunggu waktu saja bagi kita untuk mengubah kebenaran awal kita dengan kebenaran baru itu. Lalu kita akan mengikuti metoda baru itu. Kita ikuti pelatihannya, kita reguk hasilnya, kita ambil buah pikirannya, untuk kemudian ia kita gadang-gadangkan kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Kita berganti baju dengan baju kebenaran baru itu. Lalu kita memasak kehidupan kita dengan kebenaran baru itu…

Begitu masakannya matang, kehidupan kita ternyata memang berubah. Beberapa masalah kita yang tadinya sangat menyiksa kita, bisa selesai seperti apa yang kita harapkan. Bahkan, kadang-kadang hasilnya bisa pula diluar dugaan kita. Asyik sekalilah pokoknya…

Dan ternyata siapa saja bisa melakukannya. Metoda itu tak pandang bulu, tak pandang agama, tak pandang kepercayaan (iman). Hasilnya persis sama saja. Sehingga akhirnya kita TIDAK bisa lagi membedakan amal dan bumbu-bumbu kehidupan yang dimasak oleh seorang yang beragama Islam dengan yang bukan Islam. Sebab cara memasaknya nyaris hampir sama saja…

Hanya saja, karena ada beban pikiran kita tentang agama yang telah kita punyai sejak lahir, maka kitapun mencoba mengubah kebenaran baru kita itu dengan memasukkan beberapa istilah yang sesuai dengan agama kita.

Bagi yang beragam Islam, istilah pertama yang ditambahkan biasanya adalah istilah “ALLAH”. Lalu istilah-istilah lainnya menyusul, seperti “bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillah, allahu akbar, dan sebagainya. Penggunaannya misalnya: “Alhamdulillah, Ya Allah walaupun saya sangat takut terhadap……, saya ikhlas menerimanya dan saya pasrahkan kesembuhannya pada-Mu ya Allah…”, lalu metoda terapinyapun dilakukan beberapa kali. Sampai pengaruhnya ada.

Bagi yang beragama kristen, istilah yang ditambahkan adalah beberapa kata yang menunjukkan kekristenan seseorang, seperti kata Yesus…, didalam nama Yesus…, Roh Kudus…, dan sebagainya. Penggunaannya misalnya: “Di dalam nama Tuhan Yesus, Roh Kudus, dan Bapa di Syurga, walaupun saya sangat takut terhadap……, saya ikhlas menerimanya dan saya pasrahkan kesembuhannya padaMu ya Tuhan”, lalu metoda terapinyapun dilakukan beberapa kali. Sampai pengaruhnya ada.

Bagi yang merasa tidak terlalu terpengaruh dengan isitilah-istilah agama, maka ungkapannya cukup sederhana saja, misalnya: “walaupun saya sangat takut terhadap……, tapi saya ikhlas menerimanya dan saya pasrah untuk disembuhkan.”, lalu metoda terapinyapun dilakukan beberapa kali. Sampai pengaruhnya ada.

Dan ternyata, ketiga cara ini, ditambah atau tidak dengan istilah-istilah agama tertentu, akan memberikan hasil yang persis sama. Kadangkala ada menangisnya, ada bergetarnya, lalu ada tenangnya. Dan kemudian setelah itu masalahnya dianggap sudah terselesaikan. Kalau ada masalah-masalah berikutnya, maka dilakukanlah terapi-terapi lainnya, seperti terapi pengaturan pikiran dengan alat bantu seperti olah NAFAS, atau olah OBJEK FIKIR, atau olah GERAK TUBUH, dan sebagainya.

Karena yang di olah adalah NAFAS, OBJEK PIKIR, dan GERAK TUBUH, maka siapapun yang melatihnya, baik dengan manambah berbagai istilah-istilah agama tertentu atau bukan, hasilnyapun akan tetap persis sama. Biasanya, tubuhnya bergetar, ia menangis hebat bahkan sampai histeris, ia berteriak keras, adapula yang sampai berguling-guling ditanah, lalu pada akhirnya ia menjadi TERDIAM dalam HENING. Pikirannya menjadi luas. Emosinya menjadi berkurang. Masalah-masalahnya seperti selesai, dan ide-idenyapun bermunculan dengan sangat cepat di dalam otaknya. Lalu iapun kemudian berubah menjadi seorang yang hebat dan terkenal…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: