Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2014

Kalau hati kita sudah ditutup oleh Allah dengan mengirimkan syetan kedalamnya, maka kita tidak akan pernah bisa lagi untuk mendapatkan BUAH dari DZIKRULLAH itu, yaitu SIKAP IHSAN kita kepada Allah. Padahal Sikap Ihsan adalah buah yang PASTI dari proses mengingat Allah yang kita lakukan secara terus menerus. Sebab sikap Ihsan inilah yang akan menyebabkan HATI kita bisa MERASAKAN bahwa Allah melihat kita. Rasa Ihsan itu muncul karena Mata Hati kita sudah bisa melihat bahwa “Wujud yang paling terang dan nyata ialah Allah Ta’ala, dan ini menghendaki kepada Makrifatullah”, (Imam Al Ghazali, Ihya Ulumudin, Buku 7, 478, 1981)

 

Karena Mata Hati kita sudah bisa selalu kita tumpukan secara terus menerus untuk ingatan kepada Kemahasucian dan Kemahaindahan Dzat Allah, maka sebenarnya Allahlah yang membalas ingatan kita itu dengan memberikan RASA IHSAN ke dalam Hati kita. Tiba-tiba Allah akan merasakan kepada kita bahwa “Sesungguhnya Dia Maha Melihat, (Al Mulk 19); Dilain waktu kita dibawa oleh Allah untuk merasakan bahwa “Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan, (Al Baqarah 110, At Taghabun 2); atau memahami “Yang Melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud, (Al Syuara 218-219)”.

 

Kita sering punya pengalaman tentang rasa Ihsan ini kalau kita berhadapan dengan objek pikir yang selain Allah, misalnya Ihsan kita kepada program Piala Dunia Sepak Bola (PDSB). Maka selama acara PDSB itu, pintu ingatan kita yang selalu terbuka adalah pintu PDSB. Selama itu, pintu ingatan kita kepada objek pikir yang lain seperti tertutup. “Kehadiran” PDSB itu terasa sekali bagi kita. Apalagi kalau yang sedang bermain saat itu adalah kesebelasan yang kita favoritkan. Hasilnya yang sangat jelas terlihat adalah bahwa kita bisa berlama-lama menonton acara PDSB itu. Kalau acaranya di waktu sepertiga malam terakhir, ia seringkali mengalahkan shalat tahajud kita. Kalaupun kita shalat tahajud saat itu, maka shalat kita akan diburu-buru oleh acara PDSB yang sedang tayang bersamaan dengan shalat tahajud kita itu.

 

Begitu pulalah kalau kita sudah dapat merasakan rasa IHSAN kepada Allah. Semuanya akan kita kalahkan untuk Allah. Inilah buah yang sangat ranum dari KEIMANAN kita kepada Allah. Disini kita bukan lagi hanya sekedar bisa percaya (beriman) saja kepada Allah. Tapi keadaannya sudah jauh lebih dalam lagi, yaitu HATI kita sudah bisa merasakan bahwa “Allah selalu melihat setiap perbuatan kita, Allah setiap saat selalu mendengarkan kata-kata kita (baik yang sudah terucap ataupun yang belum), Allah selalu mengawasi segala seluk beluk pikiran kita. Dia sedang memandang kita, Dia sedang mendengarkan kita, Dia sedang mengamati kita.

 

Semua itu Dia lakukan melalui DZAT-NYA yang meliputi kita. Karena memang Dzat-Nya Maha Meliputi segala sesuatu, kita dikeliling dari segala arah oleh Dzat-Nya, kita di dalam genggaman Dzat-Nya, kita berada dalam pelukan Dzat-Nya. Kita juga seperti sedang berada di dalam sebuah ruangan yang dikelilingi oleh KACA SATU ARAH yang mengarah kepada kita, sementara kita tidak bisa melihat keluar. Kita jadi begitu transparan dihadapan Dzat Allah, sehingga kita merasa tidak bisa sedikitpun bersembunyi ataupun lari dari Penglihatan, Pengawasan, dan Pendengaran-Nya.

 

Dari keadaan seperti inilah kemudian muncul rasa tidak ketidakberkutikan kita kepada Allah. MATA HATI kita jadi TERKONCI untuk selalu ingin memandang kepada Kemahaindahan dan Kemahasucian Dzat Allah. Kita benar-benar merasa tidak berharga dihadapan Allah. Makanya, ketika kita memanggil Nama-Nya, sehingga saat itu muncullah NATIJAH demi NATIJAH yang menggetarkan hati kita. Natijah itu bisa berupa Riqqah dalam bentuk rasa yang sangat dingin yang terasa mengalir ke dalam dada kita, atau bisa pula berupa Ilham yang jelas terhadap suatu permasalahan, atau rasa tenteram yang diturunkan ke dalam ruang dada kita, dan sebagainya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah, GEMETARLAH HATI mereka, (Al Anfaal (8): 2).

 

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Untuk mengetahui apa maksud Allah yang seperti mewajibkan kita untuk mengingat-Nya setiap saat, kita buka saja Al Qur’an. “Waman ya’syu ‘andzikrirrahmaan nuqayyidh lahuu syaithaanan fahualahuu qariinun”, (Adz Dzukhruf 36). Ternyata kalau kita lupa dan tidak ingat kepada Allah Yang Maha Penyayang (walau hanya sebentar saja), seketika itu juga Allah mengirimkan syetan kepada kita. Syetan itulah yang akan menjadi teman karib kita sejak saat itu.

 

Keberadaan syetan disamping kita inilah kemudian yang akan menutup PINTU INGATAN kita kepada Allah. Tertutupnya pintu ingatan kita kepada Allah itu akan semakin kuat dan kokoh dari waktu ke waktu. Begitu kuatnya syetan menutup pintu ingatan kita kepada Allah, sehingga Hati kita sudah seperti tertutup mati untuk bisa menerima dan merasakan berbagai respon atau balasan Allah terhadap apa-apa yang kita lakukan, kerjakan, dan ucapkan, hatta di dalam do’a dan shalat sekalipun.

 

Sebaliknya, pintu ingatan kita kepada apapun juga YANG SELAIN ALLAH dengan sangat mudah BISA kita buka dan masuki. Misalnya, pintu ingatan kita untuk mencuri, berzina atau mendekati zina, minum arak, narkoba, kenakalan, judi, kriminal, obat-obatan terlarang, korupsi, mencuri, berbohong, dan sebagainya. Semuanya dengan sangat mudah bisa kita masuki. Lalu, sekali kita sudah memasuki pintu-pintu itu, maka kita tinggal setarikan nafas saja lagi untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif itu tanpa bisa kita cegah. Lagi…, lagi…, dan lagi…!.

 

Kita juga dengan sangat mudah membuka pintu ingatan kita untuk bisa marah, menangis, geram, takut, marah, dan sebagainya. Begitu pintu ingatan kita kepada apapun yang selain Allah itu kita buka, kita ingat-ingat objek pikir itu, kita sebut-sebut objek pikir itu, maka syetan segera mengganjalkan atau menopangkan kakinya kepintu yang sudah terbuka itu, sehingga dengan sekuat apapun daya dan upaya yang kita lakukan untuk menutup kembali pintu itu, kita akan mengalami kesulitan, kalau tidak mau dikatakan tidak akan pernah berhasil.

 

Keadaan pintu ingatan kita yang tetap terbuka, karena diganjal oleh iblis, inilah yang membuat kita seperti sulit untuk bisa keluar dari sebuah perbuatan Fujur, Fasik, Jahat. Karena…, begitu pintu ingatan untuk itu kita buka, apalagi kalau perbuatan itu sampai kita lakukan, maka nyeess…, langsung pula ada rasanya. Ada rasa Bahagia (Happiness), kadang Sedih (Sadness), bisa pula Takut (Fear), Marah (Angger), Kaget atau Heran (Surprise), dan Jijik (Disgust).

 

Misalnya, kita bisa merasa senang dan bahagia ketika kita bisa membuat orang lain SUSAH dan MENDERITA. Amerika Serikat, tidak akan mau membela-belain mengirimkan tentaranya untuk menghancurkan negara lain dan membunuhi penduduk negara lain itu kalau tidak ada ingatan dari Presiden dan Parlemen negara itu untuk membunuhi orang dan menghancurkan sebuah negara. Dan di sana pasti ada rasa menang dan rasa bangga atas apa-apa yang telah mereka lakukan itu.

 

Hal yang sama juga berlaku ketika kita memikirkan atau bahkan sampai melakukan sebuah aktifitas atau perbuatan yang sekilas kelihatan sangat baik dan bagus, akan tetapi karena perbuatan yang kita pikirkan dan lakukan itu tidak kita LANDASI dengan proses INGAT kita kepada Allah, maka apa-apa yang kita pikirkan atau kita lakukan itu, secara mengejutkan, akan membuat kita merasa ADA dan merasa HEBAT. Kita merasa EXIST dan merasa BISA. Rasa ada dan hebat inilah yang membuat kita enggan untuk melepaskan atau tidak mengaku memiliki sebuah pikiran atau perbuatan yang telah kita punyai itu. Karena rasa memiliki itu nikmat sekali rasanya. Nikmatnya pengakuan. Dan inilah yang akan menutup Hati kita secara perlahan-lahan, karena ada syetan yang sedang mendompleng rasa hebat dan sombong yang ada di dalam hati kita itu.

Bersambung

Read Full Post »

Akan tetapi, tanpa kita sadari, kita telah kehilangan sebuah fitrah tertinggi yang diberikan oleh Allah khusus kepada umat manusia, yaitu fitrah untuk merasakan KETERHUBUNGAN kita dengan Allah. Rasa terhubung itu melebihi rasa keterhubungan kita dengan orang tua kita, terutama dengan ibu kita. Sebab secara fitrah kita semua memang butuh SATU alamat tertinggi untuk menjadi tempat kita bersandar ketika kita mempunyai masalah, maupun tempat kita menumpahkan segala kegembiraan yang kita rasakan. Sebesar dan serumit apapun masalah yang muncul dihadapan kita, atau sebesar apapun kegembiran meluap-luap yang kita rasakan, ketika kita berucap “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”, maka sangat terasa sekali kita seperti terbebas dari masalah ataupun kegembiraan tersebut. Permasalahan dan kegembiraan kita itu seperti diambil kembali oleh Allah, sehingga beban kita seketika itu juga menjadi hilang lenyap tak berbekas.

 

Betapa tidak, masalah-masalah yang kita hadapi ataupun keberuntungan yang kita dapatkan itu tak lain dan tak bukan hanyalah bentuk penzahiran dari ketetapan-ketetapan dan takdir-takdir Allah saja terhadap sedikit Dzat-Nya. Sementara kita sendiri juga adalah penzahiran dari sedikit Dzat-Nya pula. Takdir dan ketetapan itu telah ditetapkan oleh Allah semenjak sabda “KUN” untuk pertama kalinya tersabda. Jauh sebelum semua ciptaan terzahir dari sedikit Dzat-Nya Yang Batin..

 

Dengan begitu, maka kita telah terbebas dari segala sebab dan penyebab, kita terbebas dari segala akibat dan pertanggungjawaban. Kita tidak lagi punya pengakuan-pengakuan. Karena saat itu kita sudah menyadari bahwa kita adalah TIDAK WUJUD. Yang Wujud adalah DZAT ALLAH YANG SEDIKIT yang TERKURUNG di dalam Lauhul Mahfuz, yang menjadi HAKIKAT dari semua CIPTAAN. Dzat-Nya yang sedikit, yang semata patuh dan tunduk kepada segala KEHENDAK, KETETAPAN, TAKDIR dari KESELURUHAN DZAT ALLAH Yang Maha Indah dan Maha Suci dari segala persepsi dan prasangka kita.

 

Jadi, dalam hal ini, Allah telah berhasil kita dudukkan pada Posisi-Nya yang sebenarnya. Bahwa Dialah alamat terakhir bagi kita untuk mengembalikan semua permasalahan ataupun keberuntungan yang kita lalui ataupun kita dapatkan setiap saat. Bukan alamat yang lain…

 

Sebab kalau tidak begitu, kita akan capek dan lelah untuk mencari dan mencari tempat bergantung dan tempat bersandar palsu yang sangat beragam sekali. Bisa saja kita seperti seorang anak kecil yang ditinggal pergi oleh ibu dan bapak kita dihutan yang banyak binatangnya. Lalu, misalnya, kita dibesarkan oleh sekumpulan kera, seperti Tarzan, sampai kita dewasa. Sehingga kemudian kera itulah yang kita anggap sebagai orang tua kita yang bisa melindungi dan membantu kita untuk keluar dari segala permasalahan kita.

 

Kalau kita tidak mampu menemukan alamat atau tempat kita bersandar yang tertinggi, yaitu Allah, maka kita akan mudah sekali merasa stress, kalut, galau, sakit jiwa, dan bahkan bisa sampai akhirnya bunuh diri. Dan sebenarnya untuk orang-orang yang seperti inilah ilmu-ilmu yang telah diterangkan diatas bisa terpakai dengan nyaman. Getaran atau Vibrasi, Hypnoterapi, NLP, Ilmu Hikmah, dan sebagainya itupun, tanpa kita sadari, telah berubah menjadi tuhan-tuhan kita yang baru, yang kita besar-besarkan dan sebut-sebut (wiridkan) setiap saat. Dan anehnya, dalam keadaan seperti itu, kita masih berani mengatakan bahwa Tuhan kita yang sebenarnya adalah Allah. Aneh sekali memang…

 

Padahal, keadaan seperti inilah yang menyebabkan semua ibadah yang kita lakukan menjadi kehilangan nilainya dihadapan Allah. Serajin apapun kita beribadah dan setinggi apapun intensitasnya, Allah tidak akan melihatnya. Karena ALLAH ternyata TIDAK melihat kepada apa yang kita baca dan apa yang kita lakukan. Allah melihat kepada INGATAN kita saat kita melakukan sebuah aktifitas, misalnya shalat, berdo’a, atau memanggil-manggil Nama-Nya dalam sebuah dzikir. Kalau kita INGAT kepada Allah, maka Allah memastikan bahwa Dia juga akan INGAT kepada kita. “FADZKURUNI-ADZKURKUM, ingatlah Aku maka Aku akan ingat kamu”, kata Allah dengan tegas.

 

Makanya, saat shalat, kita diwajibkan oleh Allah untuk mengingat Allah sejak dari awal sampai akhir shalat, “aqimishshalati lidzikri..”. Lalu selesai shalat, kita kembali diwajib Allah untuk mengingat Allah saat apapun juga. Apakah itu saat berdiri, saat duduk, ataupun saat tiduran, bahkan saat kita berdagang atau bekerja sekalipun. Artinya, di dalam waktu-waktu shalat dan di segala aktifitas kita diluar shalat atau diantara waktu-waktu shalat, kita diwajibkan pula oleh Allah untuk tetap dan selalu mengingat Allah. DZIKRULLAH, tetap mengingat Allah. Seperti yang dicontohkan oleh Nabi. Beliau mengingat Allah 24 jam: “Mataku tidur namun hatiku tidak”, Sahih Bukhari Vol 4. 495; Aishah Rha berkata yang bermaksud: Rasulullah (SAW) mengingat Allah swt sepenuh masa, Sunan Abu Dawud Vol 1, 5.

 

Mengingat Allah (dzikrullah) secara terus menerus ini tentu saja ini ada maksud dan buahnya yang akan kita petik. Tidak mungkin tidak ada. Pasti ada maksudnya dan ada pula buahnya yang akan kita dapatkan..!.

Bersambung

Read Full Post »

Ini baru satu cara, masih banyak cara-cara lain yang bisa kita pakai kok. Inikan hanya proses psikologi biasa saja sebenarnya, atau bisa meningkat sedikit kepada psikologi transpersonal. Kan ini yang banyak ditawarkan oleh para ahlinya sekarang ini kepada semua lapisan masyarakat. Dan…, karena hasilnya seperti bombastis begitu, ditambah penayangan yang masiv di program televisi-televisi, maka seakan-akan pamornya jauh mengalahkan DO’A dan SHALAT, yang keduanya dilaksanakan dalam keadaan INGAT ALLAH (Dzikrullah), sebagai sarana dan cara kita untuk meminta pertolongan kepada Allah sesuai dengan tuntunan Al Qur’an . Kalaupun ada do’a-do’a dan ayat-ayat Al Qur’an yang dibacakan saat proses terapinya, itupun tak lebih dari PEMANIS KATA saja kok. Karena objek INGATANNYA tidak ada perubahan apa-apa, bukan kepada Allah.

 

Dan penghancuran keunggulan Do’a dan Shalat yang lebih dahsyat adalah adanya istilah-istilah yang selalu didengung-dengungkan orang bahwa: ini metoda xyz modern kok, tidak ada ada hubungannya dengan agama, bukan magic dan bukan sihir, semua orang bisa, ini adalah murni kekuatan pikiran, tidak ada hubungan dengan syetan dan jin. Kalaupun ada disentuhkan dengan do’a dan shalat tapi itu hanyalah prioritas nomor sekian saja dari bawah, alias tidak begitu penting.

 

Sehingga ketika punya masalah, kita umat islam sudah sangat jarang yang melakukan shalat sunnah dan berdo’a secara pribadi kepada Allah, kecuali untuk hal yang wajib-wajib dan beberapa yang sunah-sunah saja. Makanya yang ramai adalah acara-acara pengajian, dzikir massal, shalawatan ramai-ramai, terapi-terapian, ngaji sambil curhat-curhatan, dan ngaji sambil lawak-lawakan, dan tentu saja seminar dan pelatihan ilmu-ilmu yang katanya modern seperti diatas. Karena memang pada hal-hal yang demikian itu ada rasanya, dan seperti ada pula pengaruhnya bagi kita menuju kepada hal-hal yang lebih baik, lalu kita menganggapnya sudah benar. Dan kitapun bertahan disana.

 

Akibatnya yang tidak kita sadari adalah, bahwa kita BISA INGAT kepada berbagai objek pikir dengan sangat mudahnya, dan kita bisa pula mengubah-ubah emosi kita dengan hanya mengubah-ubah objek pikir kita itu. Akan tetapi kita nyaris AMNESIA dan DIMENSIA (lupa ingatan) ketika kita ingin MENGINGAT ALLAH (DZIKRULLAH). Ya…, kita LUPA tentang bagaimana caranya agar kita bisa untuk mengingat Allah saat berdo’a maupun ketika shalat. Nantinya, amnesia dan dimensia kepada Allah inilah yang menjadi ciri utama dari hati kita yang telah buta dan tuli kepada Allah.

 

Boleh dikatakan lupa dan tidak ingat kepada Allah ini telah menjadi penyakit kronis bagi umat islam sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu. Empat abad setelah Rasulullah wafat, umat islam mulai LUPA cara-cara untuk MENGINGAT Allah. Sejak itu muncullah cara-cara baru dalam mengingat Allah yang katanya harus melalui hati atau jantung kita yang terletak di dalam dada kita. Untuk itu kita juga harus mencari MURSYID yang akan mengajari kita. Kalau tidak pakai Mursyid, jangan harap kita akan bisa melakukannya. Sebagian lagi mengatakan bahwa mengingat Allah itu baru bisa kita lakukan melalui detak jantung kita yang dalam hal ini ada yang menyebutnya sebagai Lathaif Qalb. Dan satu hal yang pasti bahwa semua cara-cara baru itu alangkah sulitnya, kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin bagi kita untuk bisa mengingat Allah dengan mudah.

 

Karena kita amnesia dan dimensia kepada Allah, walaupun nama Allah kita sebut-sebut dalam shalat dan do’a kita, bahkan kita wiridkan pula sampai ribuan bahkan ratusan ribu kali, tapi kita tetap TIDAK bisa lagi mengingati Allah, kecuali hanya SEDIKIT sekali. Kendatipun sudah kita latih dan olah dengan berbagai metoda modern terkini sekalipun, amnesia dan dimensia kita kepada Allah itu nampaknya masih saja belum bisa terobati.

 

Yang kita dapatkan dalam latihan-latihan itu hanyalah SEKEDAR SUNATULLAH tentang hubungan kerja antara otak atau PIKIRAN dan PERASAAN kita saja. Bahwa kalau kita ingat akan sesuatu objek pikir, maka objek pikir itu akan menimbulkan rasa tertentu bagi kita. Hubungan fitrah antara pikiran dan emosi saja sebenarnya. Bahwa kalau kita mengubah objek pikir yang kita pikirkan, maka rasa kitapun akan ikut berubah pula mengikuti rasa dari objek pikir kita itu. Karena ada rasa dan hasilnya, maka kita menganggap bahwa kita sudah berada pada jalur yang benar. Apalagi kalau dalam melaksanakannya kita sudah menukuk-menambahinya dengan berbagai ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist. Kita menjadi semakin sumringah dan mantap dengan cara kita itu.

 

Bersambung

Read Full Post »

 

Salah satu ilmu yang sering dipakai orang adalah melalui teknik mengubah-ubah objek pikir kita, ditambah dengan memberikan suatu stimulasi tertentu pada bagian tubuh kita yang tertentu, yang bisa disebut sebagai ANCHOR (jangkar) dari perasaan yang kita miliki.

 

Misalnya, kalau kita takut atau jijik kepada kucing maka kita bisa mengubah perasaan takut kita kepada kucing itu menjadi senang dengan cara mempemain-mainkan otak kita. Sebab ternyata otak kita ini memang sangat mudah dan senang dipermainkan. Kita bermain-main atau kejadian betulan tentang sebuah objek pikir tidaklah terlalu masalah bagi otak kita. Otak kita akan meresponnya nyaris SAMA saja, yaitu dengan menksekresikan hormon yang sama antara main-main atau kejadian betulan itu. Yang penting objek pikirnya harus sama.

 

Kita bisa melakukannya dengan mengingat kucing disatu saat, dan diwaktu yang lain kita mengingat satu objek pikir lainnya yang bisa membuat kita merasa senang atau lucu. Kita lakukan itu secara bergantian. Dua objek pikir yang berbeda itu harus kita jangkarkan dengan dua bagian tertentu dari tubuh kita. Yang paling mudah adalah kedua tangan kita, atau bisa pula titik-titik lainnya yang biasa dipakai dalam terapi EFT atau SEFT (setelah ditambah dengan embel-embel agama).

 

Dalam permainan otak ini sebenarnya kita tidak perlu menghipnosis orang yang akan kita ubah rasa traumanya. Hipnosis itukan hanya untuk memfokuskan dia kepada sebuah objek pikir saja pada satu saat sehingga kita lebih mudah untuk menggiring objek pikirnya sesuka hati kita.

 

Setelah dia fokus dengan sebuah objek pikir, ataupun dia berada dalam pengaruh hipnotis kita, maka mulailah kita jangkar ingatannya kepada kucing yang menimbulkan rasa takut dan jijik itu dengan tangan kanannya. Setiap kali kita ingatkan dengan kucing, dia akan memberikan respon ketakutan. Lalu kita asosiasikan ingatannya akan kucing dan rasa takutnya yang muncul itu dengan menjangkar di tangan kanannya. Jadi ingatan kepada kucing, rasa takut dan gerakan tangan tangan kanan yang berfungsi sebagai jangkar itu telah membentuk sebuah kesatuan di dalam memorinya.

 

Kemudian kita minta dia mengubah rasa atau emosinya menjadi emosi enak, nyaman, atau bisa pula aneh dan lucu, dengan cara ia kita menyuruhnya untuk mengingat sesuatu yang membawanya bisa merasa enak atau lucu, yang membuat dia bisa tersenyum atau tertawa. Lebih baik dia sendiri yang menentukan objek pikirnya itu. Misalnya dia merasa lucu dengan kareakter film UPIN dan IPIN. Lalu kita minta dia mengingat UPIN dan IPIN, ketika itu pasti dia akan tersenyum atau merasa lucu. Kemudian ingatan UPIN-IPIN dan rasa lucunya itu kita asosiasikan dengan tangan kirinya. Jadi ingatan UPIN-IPIN dan rasa lucunya itu sudah terjangkar ditangan kirinya.

 

Sekarang dengan beberapa kali permainan dan pemindahan objek pikir dan jangkar itu, dengan sedikit kejutan, kita ubah atau balikkan jangkar dari objek pikir semula. Tiba-tiba kita ubah jangkar ingatan kucing, yang tadinya di tangan kanan, menjadi di tangan kirinya, dan jangkar ingatan kepada UPUN dan IPIN ditangan kanannya.

 

Lalu kita kembali melakukan pengulangan-pengulangan dengan mengangkat dan menurunkan tangan kirinya yang tadinya adalah jangkar untuk rasa enak, aneh, dan lucu (jangkar untuk ingatan UPIN dan IPIN). Akan tetapi sekarang tangan kirinya itu sudah kita balikkan menjadi jangkar untuk ingatan kepada kucing. Dan disinilah anehnya otak ini. Ia akan bisa kita tipu. Ketika ia kita ingatkan kepada kucing, tetapi yang kita angkat adalah tangan kirinya, yang terasosiasi dengan rasa enak, aneh dan lucu, maka rasa yang dia rasakan sekarang telah berubah menjadi rasa enak, aneh, dan lucu. Jadi setiap kita ingatkan dengan kucing, maka sekarang ia akan merasa enak, aneh, atau lucu. Proses itu bisa kita ulang-ulang beberapa kali, sehingga perubahan itu bisa menetap. Lalu kita suruh dia buka mata, dan insyaallah kalau ada kucing didekatnya saat itu, rasa takut atau traumanya bisa berkurang, atau bahkan hilang sama sekali.

Bersambung

Read Full Post »

Membuka Rahasia Pintu Ingatan

Sejak lahir sampai dengan saat sekarang, kita telah menumpuk dan membangun berbagai macam ingatan dari berbagai macam objek pikir. Ingatan itu akan tersimpan dengan baik di dalam pusat ingatan kita. Tumpukan dan bangunan ingatan kita itu akan selalu bertambah sampai dengan saat kita kelak meninggal dunia. Setiap ingatan itu akan mempunyai rasa masing-masing. Jadi kita bisa merasakan sesuatu RASA yang berbeda ketika kita mengingat sebuah objek pikir dibandingan dengan objek pikir yang lainnya.

Rasa-rasa, atau emosi itu bisa dibedakan menjadi 6 bentuk dasar, yaitu: Bahagia (Happiness), Sedih (Sadness), Takut (Fear), Marah (Angger), Kaget atau Heran (Surprise), dan Jijik (Disgust). Pada suatu saat, kita bisa merasakan salah satu dari rasa-rasa itu, atau bisa pula gabungan dari dua rasa-rasa dasar itu sekaligus, misalnya Heran dan sekaligus Bahagia, Jijik dan sekaligus Takut. Kalau kita tidak bisa merasakan rasa-rasa diatas, maka kita disebut sebagai orang yang bermuka Datar (Neutral).

Yang menarik tentang ingatan ini adalah, bahwa kita bisa kembali mengingat-ingat berbagai ingatan itu dilain waktu, dan sekaligus kita bisa pula merasakan kembali RASA dari ingatan itu. Caranya hanya sederhana saja, yaitu kita masuk kembali ke dalam ingatan itu melalui Pintu Ingatan yang di dalamnya ada Objek Pikir yang bisa kita ingat (remember, dzikiri). Jadi setiap kita mengubah ingatan kita tentang sebuah objek pikir, maka sekaligus kita bisa pula mengubah rasa yang kita rasakan.

Kalau kita tertahan (binding) pada sebuah ingatan, yang tentu saja berhubungan dengan sebuah Objek Pikir tertentu, dalam waktu yang lama, maka kita juga pasti akan terpenjara dalam waktu yang lama di dalam emosi atau rasa dari ingatan kita itu. Misalnya, ketika kita ingin bertahan dalam waktu yang lama dalam ingatan tentang objek pikir yang menimbulkan Emosi Positif (senang dan bahagia), maka kita disebut sedang MENCINTAI objek pikir itu. Sebaliknya ketika kita tertahan cukup lama dalam mengingat sebuah objek pikir yang menimbulkan Emosi Negatif (Sedih, Takut, Marah, dan Jijik), maka kita disebut sedang MEMBENCI objek pikir itu. Membenci dalam waktu yang lama itu bisa disebut juga sebagai TRAUMA.

Sedangkan emosi yang menyebabkan kita merasa Surprise (heran, kaget), adalah bentuk emosi yang bisa memperkuat emosi positif ataupun emosi negatif yang sedang kita rasakan. Misalnya, ketika kita sedang merasa bahagia saat kita mengingat sebuah Objek Pikir dan kemudian kita diberikan hadiah-hadiah yang mengagetkan kita, maka kita bisa mencintai objek pikir kita itu lebih dari rasa cinta kita yang sebelum-sebelumnya. Kaget itu juga bisa memperkuat rasa benci kita terhadap sebuah objek pikir yang sedang kita pikirkan, sehingga kita semakin trauma dengan objek pikir kita itu.

Hal yang sederhana begini lalu menjadi sangat beragam dan rumit ketika kita mencoba membahasnya dengan teori-teori psikologi yang memang penuh tafsiran subjektif, sehingga lahirlah berbagai ilmu seperti yang telah disebutkan diatas. Padahal intinya hanyalah bagaimana agar kita bisa keluar dari emosi negatif akibat kita sedang memikirkan sebuah objek pikir tertentu untuk kemudian berubah sehingga kita bisa merasakan emosi positif.

Objek pikir yang kita ingat itu bisa bermacam-macam, mulai dari keluarga kita (anak, istri, bapak, ibu, saudara), sampai kepada benda-benda kepemilikan kita yang lainnya, seperti: harta, ilmu, jabatan, emas dan perak, dan sebaginya. Dan kita ingin agar semua objek pikir kepemilikan kita itu menjadikan kita merasa senang dan bahagia. Kalaupun suatu ketika kita merasakan emosi negatif terhadap objek pikir itu, kita ingin agar emosi negatif kita itu berubah menjadi emosi positif.

Misalnya, dengan mengingat seekor kucing, apalagi kalau berdekatan langsung dengan kucing tersebut, kita merasa takut atau jijik. Kita terlihat seperti membenci atau bahkan trauma kepada kucing tersebut. Karena emosi negatif itu sangat melelahkan, maka kita ingin agar ketika kita melihat kucing atau mengingat kucing itu, kita bisa merasa senang. Jadi objek pikirnya masih tetap sama, yaitu kucing, akan tetapi perasaan atau emosi yang kita rasakan bisa berubah dari takut dan jijik menjadi senang.

Nah…, kan bagaimana cara merubah perasaan atau emosi kita terhadap sebuah objek pikir ini saja yang menjadi masalah kita saat ini sebenarnya. Dan ini ternyata bisa menjadi ladang bisnis yang sangat menggiurkan, sehingga bermunculan berbagai terapi dan ilmu-ilmu yang larisnya bak kacang goreng.

Bersambung

Read Full Post »

Banyak juga orang sekarang yang sedang berbondong-bondong mengikuti gerak langkah pemikiran tentang getaran Power, getaran Force, NLP, Hypnotis dan Hypnoterapi, serta beberapa varian pemikiran lainnya. Walaupun namanya berbeda-beda, namun ada satu kesamaan di dalam prakteknya, yaitu semuanya berkenaan dengan bagaimana kita mengelola cara berpikir kita dengan mengubah-ubah OBJEK PIKIR kita, baik dengan usaha kita sendiri ataupun dengan bantuan orang lain, sehingga EMOSI kita juga bisa berubah-ubah sesuai dengan Rasa dari Objek Pikir yang sedang kita pikirkan itu.

Kalau tadinya emosi kita hanya berganti-ganti dari satu emosi negatif ke emosi negatif lainnya saja, seperti rasa minder, lalu ke rasa bersalah, kemudian ke ketakutan dan depresi, lalu ke marah dan sombong, setelah kita mengubah objek pikir kita kepada sebuah Objek Pikir yang bisa memberikan kita rasa tenang dan bahagia, maka emosi kita akan bisa ikut-ikutan berubah menjadi emosi positif seperti kerelaan, penerimaan, cinta kasih, suka cita, kedamaian, bahkan sampai kita merasa mendapatkan pencerahan.

Jadi disinilah menurut mereka kunci untuk mendapatkan perubahan-perubahan emosi kita itu, yaitu cukup hanya dengan cara mengubah-ubah objek pikir kita dari satu objek pikir kepada objek pikir yang lainnya, sehingga kita seperti bisa menemukan takdir kita sendiri yang katanya seperti lautan kemungkinan atau lautan kira-kira. Ah… masak sih Allah Yang Maha Bijaksana, Maha Hebat hanya mempunyai kekuatan sebatas kemungkinan atau kira-kira…, yang akhirnya akan sangat tergantung dari usaha kita atau pola pikiran kita?. Ya Ndaklah…!. Insyaallah hal ini akan kita bahas lebih dalam dalam artikel “Kalung Yang Sudah Terpasang Dileher”, mohon bersabar…

Misalnya, ketika objek pikir kita adalah masalah-masalah yang sedang kita hadapi, yang menyebabkan kita dilanda oleh emosi negatif, untuk mengubahnya, kita cukup hanya mengubah objek pikir kita kepada sesuatu yang pernah menggembirakan dan menyenangkan kita. Dan benar saja, tidak lama kemudian emosi kita seperti bisa berubah menjadi emosi positif. Kalau objek pikir kita itu pernah membuat kita bahagia, maka kita seperti bisa kembali merasakan rasa bahagia itu. Kalau objek pikir itu suatu saat dahulu pernah membawa kita kepada ketenangan, maka kitapun seperti dapat kembali merasakan ketenangan itu dengan hanya mengingat objek pikir itu kembali di saat ini. Walaupun kadarnya mungkin sedikit lebih rendah dari ketenangan yang kita rasakan sebelumnya.

Untuk mencapai keadaan seperti itu, nyaris sama sekali tidak membutuhkan hal-hal yang berkenaan dengan praktek-praktek agama islam yang kita anut, atau agama apapun juga. Tidak perlu juga menyebut-nyebut nama Allah sekalipun. Bahkan menyebut nama Allah atau tidak, keadaannya akan sama saja. Ini yang aneh…!. Seakan-akan dampak dari agama islam yang kita anut ini sedikit sekali, kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali. Ini yang sangat mengkhawatirkan sebenarnya.

Hanya saja untuk menimbulkan kesan bahwa kita adalah orang yang beragama sejak kecil, maka muncullah pencampuradukan praktek-praktek agama dengan praktek-praktek non-agama seperti menggabungkan SHALAT dengan TAICHI, sehingga shalat kitapun berubah menjadi shalat yang lemah gemulai seperti sedang berlatih taichi. Lalu saat shalat itu kita sedang MENGINGAT SIAPA?. Mengingat GETARAN atau aliran energi taichikah atau mengingat Allahkah?.

Bisa pula kita bermain-main dengan getaran (vibrasi) dari berbagai objek pikir yang sedang kita pikirkan. Kita cukup memikirkan sebuah objek pikir tertentu, baik itu gambar, konsep, angka, tulisan, huruf, kata-kata, warna, atau bisa pula kita masuk kedalam spektrum suara atau bunyi tertentu dengan cara kita mendengarkannya disertai sebuah NIAT atau keyakinan kita bahwa itu adalah bermanfaat, maka otak kita akan meresponnya dengan sangat menakjubkan. Kita akan merasakan bahwa semua permainan itu adalah sebuah KENYATAAN. Real dan terasa ada. Sekeresi hormon-hormon kita akan terpengaruh, bentuk dari butiran-butiran darah kita juga berubah-ubah, yang menyebabkan kita bisa berayun dari satu perasaan ke perasaan yang lainnya.

Permainan seperti inilah memang yang sedang menggejala di seluruh dunia. Sebutlah apa saja, seperti Hipnosis dan Hipnoterapi; NLP; Ho’oponopono; Sedona Method; Quantum macam-macam; berbagai macam zikir (wirid); ketawa-ketiwi, lompat-lompat, goyang-goyang, angguk-angguk, geleng-geleng; tarik ulur nafas (termasuk zikir nafas), meditasi cakra; meditasi penelurusan getaran-getaran di dalam tubuh sendiri maupun di alam sekitar; pengolahan energi, aura, tenaga dalam; jimat-jimat, wafak-wafak, rajah, dan sebagainya. Sangat banyak sekali, sebanyak apa saja yang BISA dan PERNAH kita pikirkan, lihat dan bayangkan, rasakan, dan dengarkan. Atau dengan sebuah kata yang sederhana “Apa-apa yang bisa kita INGAT (REMEMBER, DZIKR)”.

Tapi, adakah pengaruhnya?. Ada…!. Pengaruhnya untuk ketenangan pikiran dan perasaan akan terjadi dengan sangat meyakinkan. Ada menangisnya, ada rasa nyaman, ada rasa bahagia, ada rasa tenang, dan ada pula ilmu-ilmu yang luar biasa yang membuat hati kita terasa berbunga-bunga. Seringkali ujung-unjungnya adalah hal-hal yang berhubungan dengan alam metafisika dan kesehatan yang katanya adalah pengobatan secara alaternatif, atau bahasa kerennya pengobatan dan olah ilmu secara spiritual. Sangat mengasyikkan sekali. Tentu saja juga ada rasa marahnya, rasa militansinya, rasa heroiknya, dan emosi-emosi lainnya.

Dan karena ada pengaruh seperti inilah yang menyebabkan kita mengira bahwa apa yang kita lakukan adalah BENAR adanya. Apalagi kalau itu sudah kita tambah-tambahi dengan berbagai terminologi agama, potongan-potongan ayat Al Qur’an dan Al Hadist, atau dengan hanya sekedar bahasa arab tertentu, kita akan terlihat semakin agamis dan meyakinkan. Lalu kita akan tetap berada dalam keyakinan kita itu sampai ada hal-hal lain yang lebih baik kita temukan selama dalam perjalanan hidup kita. Dan tentu saja itu sangat ramai dan riuh rendah sekali.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: