Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2012

** Jan 14 Sat 15:03 **
DALYONO: Hadits masuk surga tanpa dihisab:
Nabi SAW bersabda: “Beberapa umat diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat ada seorang Nabi lewat bersama umatnya, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama beberapa orang, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama sepuluh orang, dan Nabi bersama lima orang, dan seorang Nabi yang berjalan sendirian. Tiba-tiba aku melihat ada rombongan besar, maka saya tanyakan kepada Jibril; ‘Apakah mereka umatku? ‘ ‘bukan, namun lihatlah ufuk, ‘ jawab Jibril. Aku melihat, tiba-tiba ada serombongan besar. Kata Jibril; ‘Itulah umatmu, dan itu ada tujuh puluh ribu orang mula-mula yang masuk surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa.’ Saya bertanya; ‘Mengapa mereka bisa seperti itu? ‘ Jibril menjawab; ‘Karena mereka tidak minta di obati (dengan cara) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal.”(Shahih Bukhari:6059 Muslim:320 Ahmad:115 Darimi:2686 )

** Jan 14 Sat 17:48 **
ABU SANGKAN: Jadi orang2 X… dan Y…. banyak mengembangkan ruqiyah gimana dong,

** Jan 14 Sat 19:57 **
Yan Kasiran: Semoga para sahabat LM tidak meminta selain kepada ALLAH SWT,apalagi dgn cara Ruqiyah,

** Jan 14 Sat 20:29 **
Edy Musoffa : Apakah ruqyah memang tdk boleh..” ‘An ‘auf bin malik, kunna narqaa filjahiliyah faqulna: ya Rasulallah kaifa tara dzalik? Faqala I’radluu ‘alyya riqaakum. La baksa birraqa malam yakun fihi syirkun”. (H Muslim dan Abi Dawud). Di masa jahiliyah, kami mlkkn pengobatan dg mantera (ruqyah). Lalu kami tanyakan: ya Rasulallah, bgmn pendapatmu dlm hal itu? Rasul mnjwb,: coba bawa kpdku mantera2 mu (ruqyahmu) itu. Kata Rasul, tdk apa2 mantera (ruqyah) selama tdk mengandung kemusyrikan”. (HR. Muslim dan Abi Dawud).

** Jan 14 Sat 20:29 **
ABU SANGKAN: Hadist ini rasulullah diminta pendapatnya, soal ruqyah, sebab mereka sebelum islam mempunyai tradisi jahiliyah membaca mantra, dalam hal ini nabi memproses peradaban jahliyah kpd tauhid, makanya yg penting jangan syirk, sama halnya soal tahlilan yg menggunkan hari kesatu sampai ketujuh dst, awalnya tradisi hindu yg diislamkan oleh para wali, tetapi lihatlah hadist yg mengatkan siapakah yg tanpa hisab, yaitu yg tdk melakukan ruqyah, konsep ini adalah nasikh wa mansukh, penghapusan dgn dengan dalil yg kebih jernih dalm bertauhid dan tdk bercampur, sama halnya dalm pelarangan terhadap khamr tdk langsung haram, pertama hanya jgn mendekati shalat kalau masih mabok,kemudian dijelaskan manfaatnya sedikit, ketiga barulah diharamkan. Contoh lain, pada mulanya ziyarah qubur dilarang, kemudian dinaskh dihapus dengan hukum terbaru diperbolehkan fa zuruha, dalil yg lain lagi, tadinya muth’ah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang, wallahu a’lam, terserah, mau pake ruqyah atau tdk, terserah yg mau pake hisab atau tdk pake hisab masuk syurganya ? Orang hakikat lebih memilih tawakkal ‘alallah tdk membaca mantra, sebab yg muncul malah khdam atau qarin.

** Jan 14 Sat 20:29 **
ABU SANGKAN: Memahami hadist jangan hanya melihat HR Bukhari Muslim dll, tetapi asbabul wurud nya, kalau tdk memahaminya disangkannya antara matan hadsit jadi bertentangan, seperti plin-plan. Periwat hanya pengumpul data atas kesahihan jalur matan hadist. Anehnya orang meruqyah membaca ayat yg tdk ada hubungannya dgn masalahnya, misalnya, ngobati orang kesurupuan malah pake surat al baqarah “faidzaa tadayantum binainin ila ajalamusamma faktubuh ,,,,,padahal ayat ini menerangkan tentang perjanjian jual beli”. Syetannya juga bingung, kata syetan : lha wong saya nyusup… malah dibacakan suruh bayar utang, kebetulan syetannya hapal betul surat tsb. He he he,

** Jan 14 Sat 20:58 **
Lulu Samodra: Matur nuwun pencerahannya….:):D

** Jan 14 Sat 21:02 **
DALYONO: Nyuwun sewu Ustadz, bagaimana dg kalimat:
“Itulah umatmu, dan itu ada tujuh puluh ribu orang mula-mula yang masuk surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa”. Apakah ini berarti ada gelombang ke2 ke3 dst yg tanpa dihisab, ustadz?

** Jan 14 Sat 21:09 **
Imam buchori: Sangat menarik pembahasannya, ustad abu.. Semoga menjadi ilmu manfaat.. Mohon ijin untuk dijadikan bahan ceramah.. 🙂

** Jan 14 Sat 21:09 **
ABU SANGKAN: Pak kyai kita mau pilih yg tanpa hisab, soalnya yg mau dihisab tdk ada, apanya yang mau dihisab, wong amalannya tdk memadai, terlalu banyak dosanya ketimbang amalannya. Tdk mungkin saya melalui jalur normal pak kyai, sampai sekarang sodaqah saya nggak sampe semilyar, ibadah tahajjud tdk setiap malam, puasa senin kamis sakit perut terus, baca Al qur’an tdk setiap hari. Yang pasti neraka sudah dikantong pak kyai, artinya pasti neraka sudah menunggu kita.

Nanti di akhirat pas antri nimbang amal, saya nggak mau ikut antri pak kyai, saya mau langsung saja nyebur, soalnya saya sadar apanya yg mau ditimbang, wong amalan tdk punya.

Jadi begini pak kyai, ini rahasia jangan bilang yang lain, kata imam syafi’i: “laisa lirabbikum lailan wa naharan”, dilanjutkan (jawaban atas) sebuah pertanyaan seorang hamba kepada rasulullah: faiza sa’alaka ‘ibadi ‘anni fa inni qariib,….wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid.

Berarti tdk ada bagi Allah waktu siang dan malam, Allah tdk perlu waktu dan tempat, tetapi Ia dekat, bahkan sangat dekat. Bagi Allah tdk perlu waktu akan datang dan masa lalu, Ia ada sekarang dan Abadi, al awalu wal akhiru, adh dhahiru wal bathinu.

Kemudian bisakah melalui jalan tdk normal tetapi menurut syar’i, fa inni qariib,..kita disuruh datang ke Allah terlebih dahulu apa ke syurga dulu ?

Lebih jauh mana antara Allah dan syurga neraka terhadap urat lehermu ? Allah lebih dekat berada lebih dekat dari pada urat leher, dan kita disuruh datang ke Allah bukan ke syurga, ir ji’ii ila rabbiki, bukan irji’i ilal jannah atau ilannar.

Bagi Allah siapapun yg berdosa melampau langit dan bumi, akan lebur sebelum ke syurga, ketika kita mendekat kpd yg maha dekat dlm keadaan membawa dosa yg besar akan lenyap oleh ridho dan rahmat-Nya, termasuk engkau ya rasulallah, ya aku masuk syurga karena rahmat Allah. Irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah. Kita disuruh datang ke Allah kemudian barulah ke syurga,

** Jan 14 Sat 21:20 **
Edy Musoffa : Syukran katsiran ustadz…. Lana walahumul-fatihah…. Amin..({})

** Jan 14 Sat 21:47 **
Imam buchori: Sepakat, ustad abu.. Sangat betul sekali.. Terlalu sombong rasanya kalo mengandalkan amal ibadah qt yg sangat sedikit sekali

** Jan 14 Sat 21:48 **
Imam buchori: Belum lagi ibadah kita hilangkan dg riya’ hasud dan ghibah..

** Jan 14 Sat 21:51 **
Imam buchori: Jadi bagaimana kita bisa berharap pada timbangan amal yg seperti itu ? Terima kasih ustad abu, atas taushiyah yg membuka wawasan

** Jan 14 Sat 21:55 **
DALYONO: قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰهَا

** Jan 14 Sat 22:01 **
Ustadz Hamid: Sy ikut pak abu dan pak kyai Iman. Males mikir. Datang kepada Allah dgn tdk membawa apa 2, ikhlas pasrah dgn keridloan Allah.

** Jan 14 Sat 22:01 **
Imam buchori: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينََ

** Jan 14 Sat 22:01 **
DALYONO: Ayat penutup tausyiah ustadz Abu akhir tahun di Jogja

** Jan 14 Sat 22:01 **
Imam buchori: Kyai hamid dan saya juga teman LM yg lain iinsya alloh setuju..

** Jan 14 Sat 22:24 **
Ustadz Hamid: Amiin. Di dunia seiman dan sejamaah di akhirat satu jamaah (zumara)

** Jan 14 Sat 22:30 **
DALYONO: Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin

** Jan 14 Sat 22:46 **
Lulu Samodra: O:)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Copied by Deka

Read Full Post »

Resonansi Ruhani – 2

Seorang teman saya (RD) dari Kutai Kalimantan, yang belum pernah bertemu muka dengan saya, tapi beberapa kali berkomunikasi dengan saya melalui telpon dan sms punya pengalaman menarik begini pada hari ini, tanggal 12 Januari 2011:

Jam 13:25: RD: “Maaf pak waktu mengambil air wudhu saja saya sudah mulai terisak-isak, apalagi dalam shalat. Isinya hanya tangisan saja, sampai saya membaca bacaan shalat dalam hati saja. Apalagi diluar shalat saya mudah sekali terharu pak. Saya tidak bisa melawan rasa itu pak. Apa yang harus saya lakukan pak?.

Jam 13:26: Deka: “lihatlah alam…”.

Jam 13:27: RD: “Alhamdulillah pak. Secepat kilat perubahannya”.

Jam 15:31: RD: “Alhamdulillah pak. Shalat ashar saya enak banget. Tidak ada isakan tangis. Yang ada hanya air mata menetes. Pokoknya Nikmat sekali pak. Susah saya menjelaskannya”.

Jam 15:36: Deka: “Ya itulah keadaan diatas rasa. Sekarang Mas RD jadi tahukan mana yang rasa dan mana yang aku. Sebelumnya aku berada dirasa, sehingga aku terjebak oleh rasa itu. Akan tetapi saat aku sadar alam yang maha luas, maka aku seperti keluar dari alam rasa. Yang ada adalah alam kehendak. Sekarang jadilah orang yang selalu bisa membaca kehendak Allah agar kita bisa dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya Berkehendak”.

Jam 18:23: RD: “Assalamualaikum pak. Sehabis shalat maghrib yang nikmat betul tadi, saya dituntun untuk memikirkan bumi Allah yang sangat luas, (saya tidak tahu istilahnya pak), saya dilihatkan DIA Maha Luas. Lalu tiba-tiba TANPA saya REKAYASA, saya dialiri oleh daya kesabaran, syukur, iman, daya untuk membantu yatim, fakir, masjid, langgar, sedekah kekayaan. Saya tersenyum sendiri pak. Terus ada daya yang mendorong saya untuk menyampaikan semua tadi kepada pak deka bahwa saya punya Allah Yang Maha-Maha segala-galanya”.

Jam 18:28: Deka: “Alhamdulillah…, berarti kita satu rumah…”

Jam 18:30: RD: “Sangat cepat sekali pak. Saya merasakan semua permasalahan yang saya alami diangkat oleh Allah. Semua kegundahan & ketakutan, was-was disingkirkan dari dada saya”.

Jam 18:31: RD: “Saya dialiri daya untuk mengucapkan salam kepada bapak barusan saja”.

Jam 18:34: Deka: “Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh…”.

Jam 18:39: RD: “Pak deka, saya sekarang punya Allah. Tidak ada tuhan diseluruh alam ini, alam dunia dan akhirat, kecuali Alllaaaaaaaaaah saya pak. Yang Maha segalanya. Saya pingin semua orang tahu pak”.

Jam 18:45: Deka: “Sekarang tugas Mas RD sudah jelas. Kabarkanlah dan ajaklah orang lain untuk singgah dirumah Mas RD sekarang. Salam…”

Sudah sejak lama teman saya ini punya belasan anak yatim dirumahnya untuk dibiayai. Dan sebenarnya memberi makan anak yatim inilah wasilahnya untuk seperrti bisa mendapatkan pengajaran Allah dengan demikian mudahnya.

Selesai….

Read Full Post »

Bahasa Ruhani

Mungkin tidak banyak kita yang tahu bahwa Allah punya cara sendiri yang sangat dahsyat untuk merestorasi kesadaran ruhani seseorang ataupun suatu kaum ketika seseorang atau kaum itu telah lupa dengan kesejatiannya dan mereka juga telah lupa pula atau sudah tidak lagi menjalankan tugas-tugas mereka, seperti yang seharusnya, sebagai seorang manusia atau sekelompok umat yang berguna untuk hidup dimuka bumi ini.

Sebab setiap orang diturunkan Allah kemuka bumi ini bisa menggunakan seluruh jasmani dan ruhaninya untuk menjadi berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan alam sekitar dimana dia berada. Dan di dalam menjalankan tugas kebergunaannya itu, seseorang hanya diminta oleh Allah untuk menyadari bahwa statusnya tetap hanyalah sebagai seorang hamba Allah yang sedang memikul amanah Allah, sedang menjalankan tugas-tugas dari Allah. Tidak lebih…!. Sehingga sampai kapanpun, dia akan punya rasa sungkan yang amat sangat untuk menyatakan pengakuannya: “ ini aku lho…, ini hebatku lho…, ini kekuatanku lho…, ana khairun minhu (aku lebih baik dari dia lho)…, aku…!.

Bagaimana dia akan bisa mengaku, ketika dia mau mengaku atas kekuatan dan kehebatan yang dia punyai, dia segera menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Sang Maha Meliputi yang sedang mengalirinya dengan daya yang membuat dia bisa kuat dan hebat. Sehingga dengan sangat malu diapun segera mengaku takluk kepada Sanga Maha Meliputi: “Laa haula wala quwwata illa billah…, Sungguh…, tiada daya dan kekuatan yang hamba miliki kecuali sekedar yang paduka turunkan kepada hamba…!”.

Begitulah seterusnya…

Ucapan-ucapan pengakuannya terhadap segala peran Allah, Sang Maha Meliputi, mengalir dari bibirnya dengan santun. Kadangkala ada sejumput pekat suasana takjub yang melanda batinnya, sehingga diapun berkata dengan santun kepada Sang Maha Meliputi; “Subhanallah…, Subhanaka…, subharabbial a’laa…, subhanrabbial adhiem…, subhanakallahuma wabihamdika…”. Derr…

Adakalanya ada suasana sukacita yang kental menyusup kedalam batinnya, sehingga diapun lalu bergegas mengucapkan “Alhamdulillah…, alhamdulillahirabbil ‘alamin…” tepat kepada Wajah Sang Maha Meliputi. Derr…

Ketika suasana kesendirian, yang tiada siapa-siapa dan tiada apa-apa, menyinggahi batinnya, sehingga dia langsung berhadapan dengan Wujud Yang Maha Meliputi segala sesuatu, maka saat itu dia diapun terpekik histeris kepada Sang Maha Meliputi “Laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illa anta…, laa ilaha illa anta inni kuntu minazzalimin…”. Derr…

Begitu juga ketika batinnya terangkat dan melayang menuju ruang kosong, tanpa batas dan tak bertepi, diapun berkata dengan dada yang bergemuruh dan kulit yang bergetar “Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar” kepada Sang Maha Meliputi Yang Memiliki Segala Ketinggian dan Kebesaran. Derr…

Sebaliknya, ketika ada sebentuk keadaan dan suasana kering, gersang, dan garing melanda batinnya, sebagai pertanda bahwa saat itu Sang Maha Meliputi sedang tidak berkenan kepadanya, diapun duduk bersimpuh bahkan sampai tersujud sambil berucap lirih kepada Sang Maha Meliputi Yang Maha Dekat: “astagfirullah…, astagfirullah…, rabbigfirli…, rabbigfirli…”. Derr…

Saat dia merasakan batinnya sedang menjerit minta tolong atas sesuatu beban yang tidak bisa dia pikul sendirian, maka diapun bersegera berpegangan teguh kepada Sang Maha Meliputi seraya berdoa: “warhamni…, wajburni…, warfa’ni…, wardzuqni…, wahdini…, wa’aa fini…, wa’fuanni…”. Dan berbagai do’a lainnyapun begitu santun keluar dari bibirnya, yang menandakan bahwa saat itu dia benar-benar telah kehilangan tempat bergantung kepada apapun dan siapapun juga selain daripada Allah, Sang Maha Meliputi. Derr…, Derr…, Derr…

Saat itu benar benar terjadi sebuah komunikasi timbal balik antara dia dengan Allahnya… ada think-thank, ada proses ajar mengajar, ada informasi yang mengalir antara yang membuka batin dengan yang dibuka batinnya. Sehingga tidak ada lagi apa-apa dan siapa-siapa yang membuatnya takut dan khawatir. Laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanun…. Ada proses bela membela antara Allah dengan dia. Ya…, ada pembelaan yang terus menerus dari Dzat Yang Maha meliputi terhadap diri dia yang diliputi, karena dia telah bersedia menyerahkan dan meluruhkan keakuannya kepada Dzat Yang Maha Meliputi.

Karena ada tempat bergantungnya ke Allah itu, dia seperti (seakan-akan) jadi orang yang angkuh dan tak kenal takut. Misalnya saja Nabi Muhammad. Saat Beliau mau dibunuh oleh Tsalabah dengan sebuah pedang yang sudah terhunus dileher Beliau, dan Tsalabah bertanya: “siapa yang yang akan membelamu dari tebasan pedang ini ya Muhammad?”. Dengan santai dan rileks saja Nabi menjawab: “Allah…!”. Karena memang Nabi dibela oleh Allah, maka seketika itu juga sebuah daya iman yang membuat lunglai menyapa tubuh Tsalabah.

Kalau dalam bahasa populernya sekarang, barangkali jawaban Beliau itu sesederhana ini: “Allahku…, INI lho”, kata Beliau dengan santai. Beliau hanya menunjukkan keberadaan Allah yang Maha Meliputi segala sesuatu kepada Tsalabah. INI…!. Seketika itu juga Ruhani Tsalabah seperti ditarik menuju Sang Maha Meliputi. Batinnya gemetar, tubuhnya gemetar, tangannya gemetar, sehingga pedangnyapun jatuh ketanah. Tsalabahpun kemudian menyatakan kesaksiannya terhadap keberadaan Allah dan terhadap kerasulan Muhammad Saw.

Andaikan kita yang menghadapi hal seperti diatas, barangkali yang kita lakukan adalah sebagai berikut:
Kalau kita merasa punya ilmu kebal, maka seketika itu juga kita akan ingat ilmu kebal kita. Kita akan melakukan persiapan kilat agar ilmu kebal kita itu muncul. Lalu kita akan menantang Tsalabah dengan jumawa: “hayooo… tebas, saya punya ilmu kebal kok”. Kalau kita merasa punya ilmu beladiri, maka kitapun akan mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari todongan pedang Tsalabah itu, sambil mencari kesempatan untuk melumpuhkan dan mengalahkannya. Ini mirip sekali dengan yang dilakukan Steven Siegel, atau James Bond, dalam filem-filemnya. Tapi kalau kita merasa tidak punya ilmu apa-apa, dan tidak punya siapa-siapa pula untuk tempat bergantung dan berlindung, maka kita akan menggigil ketakutan, kita akan terkencing-kencing dan gacar (mencret) menahan rasa takut, kita akan memelas untuk minta diampuni oleh Tsalabah. Beda sekali dengan yang dilakukan oleh Rasulullah ketika itu. Beda sekali…

Wassalam
Deka

Read Full Post »

RESONANSI RUHANI

Ini adalah pesan BBM dari seorang sahabat saya malam tadi…

“deleted”

Oh ya, ada yang komentar antara tulisan mas Deka, saya dan mas “Ax” itu mirip dan sulit membedakan kalau tidak ada nama penulisnya. Rasanya sih. Kalau saya membaca tulisan mas Deka. Maka saya merasa seperti ingin menulis seperti itu. Atau itu adalah tulisan saya. Aneh tapi nyata. Kok saya merasa seolah menjadi bagian dari tulisan itu.

Pada saat membaca tulisan mas Deka tentang Restorasi Ruhani pertama kali. Rasanya saya belum mampu menangkap ruhnya tulisan itu. Malam ini saya baca kedua kali. Ternyata mengalirlah semua informasi di balik tulisan ini. Saya merasa jiwa saya telah berada disini.

Jiwa iman saya berbeda sekali dg sebelumnya. Sekali lagi tulisan ini seperti yang seharusnya ingin saya tuliskan. Memang seperti ini. Hanya masih ada hal yang belum saya fahami yaitu rahasia.

Namun membaca alam. Rasanya memang sering berbicara atau tepatnya mendengar perkataan guruh. Alam. Dan lainnya. Rasa. Bahkan kemarin telah masuk ke dalam diri saya puluhan jenis entitas rasa yaitu yang jenaka, yg takwa, yang pendiam dan banyak lagi. Mereka seperti ruh-ruh yang bicara. Dan tubuh saya mampu digunakan oleh mereka untuk mengungkapkan pesan. Aku hanya mengamati. Sadar. Mampu mengontrol. Menghentikan. Menghilangkan. Saya tidak mencari. Tidak menggali. Hanya mengamati apa kehendak Allah. Menerima atau menyediakan tubuh saya menjadi alatNya.

Detik demi detik selalu yang ada bahagia dan bahagia. Dengan sangat sederhana saya tahu kapan tali kepada Allah itu putus (spt dalam tulisan mas Deka). Yaitu saat rasa syurgawi itu hilang. Karena hari-hari yang saya lalui adalah terisi rasa syurgawi ini.

Proses menyambung kembali juga kadang mudah-mudah-sulit. Kadang perlu tahu dulu penyebabnya. Misalnya kesombongan seperti BBM saya sebelum ini. Ketika kesombongan setitik muncul, maka rasa syurgawi menghilang. Jiwa rasanya bagai ikan terlempar ke darat gelagapan. Itulah cara Allah menegur. Aku mampu membaca teguran. Setelah meminta maaf. Rasa syurgawi langsung kembali seketika. Byaar. Menakjubkan. Sungguh ajaib.

Wassalam

Mr. X

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: