Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2010

Sebutir Sharing Pagi Ini

LS 19 Desember jam 20:01
Assalamu’alaikum Pak Deka:

Sungguh senang rasanya mau jumpa Bapak tanggal 9 January nanti. semoga Allah berkenan dengan cita2 saya menghadiri acara SCJB yang tempatnya belum ditentukan. Boleh kah nanti saya meminta tandatangan Bapak di Al Qur’an saya? ^_^

Bapak, Allah Maha Baiiik sekali telah banyak mengajarkan saya berbagai macam jalan menuju-Nya:

– Diajarkan-Nya saya mudah ‘connect’ dengan-Nya melalui majelis dzikir
– Diajarkan-Nya saya pandai membaca qur’an dengan tartil melalui Lembaga Tahfizhul Qur’an Jendela hati
– Diajarkannya saya sedikit mengenal tafsir qur’an dan hadits2 shahih dari pengajian rutin yang diadakan di kantor
– Diajarkan-Nya saya shalat dengan baik dan benar melalui Shalat Centre bersama Pak Yus Ansari dan Pak Eppy
– Dipertemukan-Nya saya dengan orang2 hebat, pinter, shalih melalui Facebook … belajar banyak mengenai sufisme dan membuat saya ingin menjadi seorang salik. Bertemu komunitas suluk. Bertemu Komunitas Whirling Dervish di Jakarta.

Sampai sekarang hati masih berbunga-bunga diberkahi Allah pertemuan dengan Mawlana Shaykh Hisham Kabbani, keturunan Rasulullah saw. minta didoakan beliau dan ngobrol dengan anak perempuannya Sayyida Kabbani.

Saya tinggal di Cimahi, kerja di Bandung. 4 tahun lagi saya pensiun … saya ingin menjadi Hafizhah dan Whirling Dervish. Sampai sekarang belum pernah diajari how to whirl. Tapi terakhir ngobrol dengan Kang Yusuf, Shalat Centre, dulu semasa SC masih bernama Patrap katanya Pak Abu, Pak Yus dan Pak Deka suka whirl.

Harusnya mungkin saya bicara begini sama Pak — (sengaja diahpus) tapi Allah lebih mencenderungkan hati saya untuk bicara kepada Bapak. I don’t know why. Mungkin juga karena saya lihat Pak Deka lebih aktif menyisihkan waktu di facebook dengan tulisan2 yang subhanallah … banyak membuat hati saya gerimis .. bahkan menangis.

Saya diberi tahu oleh Pak Arief Hamdani, seorang whirling dervish, dari thariqah naqsabandiyah di Jakarta bahwa whirl itu adalah salah satu bentuk meditasi. This whirling thing fascinated me. Kenapa bisa gak pusing?

Saya terpesona mendengar cerita Kang Yusuf kalau Pak Abu bisa sampai 4 jam whirling… just wondering how dan berharap Pak Deka bisa sedikit memberikan tips dan gambaran untuk saya bisa whirl sebelum belajar beneran dengan Pak Arief di Jakarta sesudah saya pensiun.

Semoga Pak Deka berkenan membalas inbox saya. Perkenankan Tuhanku… please.

LS (Ibu) ^_^

Sharing Singkat dari Deka

Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah.
Ibu LS yang baik,
Saya juga punya rumah di jalan permana Cimahi, Bandung.

Melihat pengalaman Ibu, perjalanan kita kelihatannya hampir sama. Tapi ibu ternyata punya nuansa yang lebih kaya dari saya. Sebuah sharing dengan ibu nanti kelihatannya akan sangat bermanfaat pula bagi saya untuk menimba butir-butir benih spiritual yang telah ibu peroleh selama ini.

Dulu kami memang sering Whirling yang disebut sebagai Patrap Gerak. Tapi ternyata itu tidak perlu kita lakukan terus menerus sepanjang masa. Karena dengan bimbingan Pak Haji Slamet Utomo dan Ustad Abu Sangkan, keadaan whirling itu bisa kita dapatkan dalam keadaan DIAM. Namun…, kalau nanti ibu sudah mencoba whirling tersebut dengan pak Arief Hamdani (salam hangat buat hangat beliau), mohon ibu berkenan pula sharing hasilnya dengan saya.

Yang pasti adalah bahwa setiap cara dan metoda dalam berspiritual seharusnya akan mampu membawa kita untuk mengarah kepada keadaan dimana kita sudah TIDAK PERLU LAGI BERIMAN kepada Allah, tapi kita sudah berada dalam keadaan atau suasana ADA ALLAH.

Sebab IMAN adalah sebuah tahapan untuk orang-orang yang BELUM PERCAYA kepada ALLAH agar mereka bisa DIBUAT PERCAYA. Sehingga disini Allah masih jadi topik perbincangan, Allah masih diperebutkan, Allah masih menjadi sebab perbenturan diantara kita satu dengan yang lainnya.

Sedangkan keadaan ADA ALLAH, adalah sebuah keadaan atau suasana dimana kita tinggal HANYA BERSIKAP SAJA DIHADAPAN ALLAH. Ya… kita tinggal hanya bersikap saja. Kita sudah tidak punya lagi pertanyaan walau sedikitpun tentang Allah. Kita sudah tidak sedikitpun merasa was-was bersama Allah.

Masak sih kita terus-terusan harus dibuat percaya, dipaksa percaya, diperintahkan percaya kepada Allah??.

Padahal saat kita berkata…. Allah…, kita hanya tinggal menunjuk… INI.

Lalu DERR…, lalu kita bergegas untuk TIADA

Ya…, Lalu kita bergegas untuk Tiada. Agar kita seketika dialiri dan dirembesi dengan 99 daya dari Allah yang tercermin di dalam nama-nama Allah Yang Maha Agung. Terserah Allah saja daya yang mana diantara 99 daya itu yang akan dialirkan Beliau buat kita.

Lalu kita tinggal bergantung kepada Allah melalui daya itu.

Al qur’an menyebut keadaan ini dengan istilah “wa’tashimu billah…., wa’tashimu bihablillah…”, berpegan teguhlah kepada Allah, bergantunglah kepada Allah, berpegang teguhlah dengan TALI Allah.

Nah ALAT untuk bergantungnya itu, ya dengan TALI ALLAH. Tali itu adalah DAYA itu tadi. Dimana 99 daya yang telah dipersiapkan Allah untuk kita agar kita bisa berpegangan kepada Allah.

Terserah ALLAH…, daya mana yang akan diturunkan Beliau kepada kita. Allah akan menurunkan (ANZALA) daya itu untuk kita tangkap, kita pegang, dan lalu kita alirkan dan kita panjangkan lagi untuk mengalirkan dan berbagi rahmat dengan alam sekitar dimana kita berada.

Jadi fungsi kita sebagai khalifah Allah sebenarnya hanya dan hanya sebagai penyalur, distributor, penyampai daya-daya Allah itu untuk kebaikan alam dimana kita berada.

Namun sayang seribu kali sayang, selama ini banyak diantara kita umat islam ini yang BELUM ketemu tali itu, sehingga kita lalu:

– menjadi orang yang meraba-raba didalam terang,
– kita menjadi orang yang tertatih-tatih merangkak didalam taman keindahan islam,
– kita menjadi orang yang tuli diantara indahnya nyanyian simponi kehidupan,
– kita menjadi orang yang buta ditengah-tengah warna-warni perbedaan umat manusia,
– kita tidak mampu menyusun gambar utuh kehidupan diantara lembaran puzzle peran sesama kita yang berserakan dimana-mana.

Demikan sekedar sharing pagi ini bu LS…

Wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh.

Deka

Read Full Post »

Allahu Kariim…

Subuh ini…
Kusebut Allahu Kariim…, Allahu Kariim…, Allahu Kariim…
Sebutan itu seperti Memancar Keluar dari Dalam.
Memancar dari Dalam yang terdalam tubuhku.
Memancar dari Dalam yang terdalam dadaku.
Memancar dari Dalam yang terdalam darahku.
Memancar dari Dalam yang terdalam jantungku.
Memancar dari Dalam yang terdalam atom-atom tubuhku.

Kusebut Allahu Kariim…, Allahu Kariim…, Allahu Kariim…
Sebutan itu seperti mengalir dan begerak bersama Nafasku.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak bersama Penglihatanku
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak bersama Pendengaranku.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak bersama Perasaanku.

Kusebut Allahu Kariim…, Allahu Kariim…, Allahu Kariim…
Sebutan itu seperti mengalir dan begerak bersama Angin.
Sebutan itu seperti mengalir dan begerak bersama iring-iringan awan.
Sebutan itu seperti mengalir dan begerak bersama lambaian dedaunan.
Sebutan itu seperti mengalir dan begerak bersama kedipan cahaya bintang.

Kusebut Allahu Kariim…, Allahu Kariim…, Allahu Kariim…
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak diujung Nafas.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak diujung Angin.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak diujung Cahaya.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak diujung Suara.

Kusebut Allahu Kariim…, Allahu Kariim…, Allahu Kariim…
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak diujung Getaran.
Diujung getaran halus dan lembut.

Kusebut Allahu Kariim…, Allahu Kariim…, Allahu Kariim…
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak menuju Ujung yang Terujung.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak menuju Rumah Nafas.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak menuju Rumah Angin.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak menuju Rumah Suara.
Sebutan itu seperti mengalir dan bergerak menuju Rumah Cahaya.

Aku tercekam…
Aku terdiam…

Lalu Allah ku berkenan meletakkan kedalam dadaku:
Sebutir bibit kerinduan untuk berbuat Kemuliaan.
Kemuliaan untuk istriku.
Kemuliaan untuk anakku.
Kemuliaan untuk perusahaan tempatku bekerja.
Kemuliaan untuk ibu dan bapakku.
Kemuliaan untuk para sahabatku.
Kemuliaan untuk guru-guruku.
Kemuliaan untuk Rasulullah.

Lalu Allah ku merekahkan bibit itu menjadi kesukacitaan.
Dan pagi ini akupun melangkah dalam anugerah citra kesukacitaan dari-Nya.

Alhamdulillah…
Deka, 17 Desember 2010
Jalan Permana, Bandung,

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: