Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2013

Kamu Merasa Dekat Dengan Siapa?

Saat kita merasa dekat dengan materi dan benda-benda, maka kita tidak akan pernah merasakan kedekatan dengan Allah. Kita akan merasa terpisah dan jauh dengan Allah.

Saat kita merasa dekat dengan pikiran kita yang tak lain dan tak bukan adalah materi dan benda-benda yang telah berubah wujud dan bentuk menjadi gelombang atau vibrasi di dalam otak kita, maka kita lebih tidak akan merasakan lagi kedekatan dengan Allah. Kita akan lebih merasa terpisah dan jauh dengan Allah.

Karena benda-benda, materi dan vibrasi pikiran kita itu akan menguasai dan memperbudak kita setiap saat. Kita akan merasa hidup bersama benda-benda, materi dan vibrasi pikiran itu. Kita akan sibuk mengelola semuanya. Kita akan sibuk “BERUSAHA DAN BERUSAHA” untuk melupakan yang satu demi mengingat yang lainnya. Mengingat apa-apa yang kita cintai yang ternyata selalu berubah-ubah. Prosesnya sangat menyakitkan, melelahkan, dan memakan waktu yang lama.

Pada puncak usaha kita itu, kita yang tadinya merasa terpisah dengan Allah, akan merasa bersatu dengan Allah, Wihdatul Wujud, Manunghaling kawulo Gusti. Kita juga akan merasa jadi kebenaran yang tertinggi, Anaa ul Haq. Sebuah kesombongan dan keangkuhan yang amat sangat. Sehingga Al Qur’an dan Al Hadist tidak lagi menjadi perhatian kita.

Sampai suatu saat Allah akan mengambil paksa semua benda-benda, materi dan vibrasi pikiran itu dari kita. Karena Dia memang sangat pencemburu. Dia tidak akan pernah rela kalau kita merasa dekat dengan susuatu yang selain Dia. Allah tidak akan pernah membiarkan kita memakai selendang-Nya, berupa kesombongan dan keangkuhan yang hanya milik-Nya. Tidak pernah…

Akan tetapi, saat kita bisa merasakan kedekatan dengan Allah, IHSAN, maka semua materi, benda-benda, dan pikiran-pikiran kita yang selama ini menguasa dan memperbudak kita, akan disingkirkan oleh Allah dari sisi kita. Kalau Allah sendiri yang memisahkan kita dari semua itu, prosesnya tanpa daya dan upaya dari kita sedikitpun. Kita tidak akan lelah dan capek. Kita tidak akan merasa sakit dan menderita. Dan waktunya juga hanya sekejap saja.

Sehingga yang menguasai dan memperbudak kita sekarang adalah Allah sendiri. Kita akan hidup bersama Allah. Kita akan sibuk menjaga Allah, sehingga Allahpun berkenan menjaga kita dengan penjagaan yang sangat ketat dan rapat. Kita akan sibuk membantu Allah, sehingga Allahpun berkenan membantu kita dengan bantuan yang melebihi ekspektasi kita.

Dan anehnya, Allah akan memperbudak kita dan berkenan memberikan “kuasa-Nya” kepada kita untuk menggunakan materi-materi, benda-benda, dan pikiran-pikiran kita untuk kepentingan Allah…

Sami’naa wa atha’naa ya Allah

Read Full Post »

Tempat Bersandar

– Tempat bersandar dan istirahatnya mata pada cahaya, warna, dan rupa.

– tempat bersandar dan istirahatnya telinga pada suara, bebunyian, dan tetabuhan.

– tempat besandar dan istirahatnya pikiran pada materi dan gelombang (vibrasi)

– tempat bersandar dan istirahatnya hati pada rasa iman dan ihsan kepada Allah…

Read Full Post »

Cara hidup bersama Allah

– mengenal Allah Yang Hidup
– mengerti Bahasa Allah
– manzahirkan kehendak Allah, yaitu syariat.

Kalau tidak begini, maka:
– dalam beribadah, kita akan selamanya seperti sedang berhadapan dengan tembok batu yang tuli, pekak, dan bisu
– kita akan sibuk mengolah pikiran kita dalam rangka mencari Allah dan diri kita sendiri.
– kita jadi malas menjalankan syariat (bersyariat hanya seadanya saja).
– kita menjalankan syariat seperti orang yang munafik

Read Full Post »

PENUTUP

Ketika kita ditimpa musibah, atau berbagai masalah mendatangi kita, Allah tidak meminta kita untuk memikirkan jalan keluar dari musibah dan masalah-masalah itu sehingga kita capek, penat dan RUWET sendiri. Allah hanya meminta kita untuk SABAR dan SHALAT. Tidak lebih…. Nanti Allah sendiri yang akan memberikan HIDAYAH (Pertolongan) kepada kita untuk menyikapi musibah itu dan menyelesaikan segala permasalahan kita

“Dan mintalah PERTOLONGAN kepada Allah dengan SABAR dan mengerjakan SHALAT, dan sesungguhnya SABAR dan SHALAT itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang KHUSYU, yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa SAAT shalat itu mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka SAAT shalat itu akan kembali kepada-Nya”, (Al Baqarah 45-46).

Jadi…, apapun masalah kita, tidak peduli musibah yang berat ataupun yang ringan, maka sebagai seorang yang beriman langkah yang seharusnya kita lakukan (ini hanyalah sebagai salah satu contoh sederhana saja) adalah sebagai berikut:

1. Kita segera masuk ke MIHRAB…, ya MIHRAB… Kalau belum punya, ya bikinlah….
2. Di mihrab itu kita hadapkan hati kita kepada Allah yang ada di depan kita, sikap IHSAN.
3. Biarkan hati kita “bersandar dan bertumpu” kepada Allah.
4. Apabila kita melakukannya dengan benar, akan terasa betul hati kita ini seperti BERISTIRAHAT di sisi Allah. Dan dengan sangat mengejutkan, secara otomatis pikiran kita juga akan istirahat. Pikiran kita akan mengalah. Ia akan lerem dan tidaki liar dan berkelana lagi seperti biasanya. Pikiran kita itu seperti mengikuti istirahatnya hati kita. Keadaan pikiran kita saat itu BUKAN seperti kondisi Zero Mindnya orang-orang yang sedang bermeditasi atau olah-olah pikir lainnya. Bukan…
5. Lalu SHALATLAH…, 2 rakat, atau 4 rakaat.
6. Atau kita bisa pula Shalat Wajib di Masjid maupun shalat Rawatib, Shalat Dhuha, Shalat Tahajud dan Witir…
7. Dan…, selama shalat itu, pada saat-saat tertentu terimalah setiap RIQQAH yang turun. Lalu perbanyaklah berdo’a saat itu. Atau dengan do’a-do’a dalam bacaan shalat saja juga sudah cukup kok sebenarnya. Sebab riqqah itu adalah sebagai tanda bahwa Allah sedang menurunkan Rahmat-Nya kedalam hati kita. Sabda Nabi: ightanimu addu’a ‘inda riqqati fainnaha rahmah, segeralah berdo’a ketika riqqah turun, karena saat itu ada rahmah…
8. Ciri-ciri turunnya RIQQAH itu adalah: Tiba-tiba dada kita menjadi dingin, hati kita gemetar, kulit kita merinding, bulu roma kita berdiri. Rasa dingin itu kemudian menjalar keseluruh sel-sel tubuh kita. Rasanya sangat nikmat sekali, melebihi nikmat apapun yang ada di dunia ini, Hatta nikmat orgasme sekalipun. Ketika itu, kita juga dengan sangat mudahnya jadi menangis. Kita jadi terisak dan bercururan air mata. Hati dan sel-sel tubuh kita seperti di SHIBGAH. Dicelup dengan celupan Allah (shibgatullah). Hati kita menjadi BERCAHAYA karena Allah sendiri yang memberikan cahaya-Nya kepada hati kita itu, yang boleh jadi sebelumnya dalam keadaan gelap gulita dan keras membatu.

Kemudian Allah menurunkan SAKINAH (ketenangan) ke dalam dada kita. KULIT, dan HATI kita akan menjadi tenang, lembut, dan lunak. TALINU dalam istilah Al Quran. HATI kita berubah menjadi lapang dan tenang. Kulit kita juga berubah menjadi lembut, lunak dan rileks. Perubahannya itu terasa sekali. Seperti membalik telapak tangan begitu. Hati kita yang tadinya sempit, gundah gulana, galau, dan bingung, tiba-tiba berubah menjadi hati yang LAPANG dan LUAS SEKALI. Tidak ada lagi rasa takut dan rasa khawatir di dalamnya. Kulit kita yang tadinya tegang dan kaku kemudian berubah pula menjadi kulit yang rileks dan lunak. Semua rasa sakit dan semua masalah kita, yang sebelumnya menimpa dan mendera kita, menjadi seperti TERPISAH dengan kita.
9. Sekarang DIAMLAH…, dan Biarkanlah hati kita DIBAWA oleh Allah (bukan berjalan dengan usaha kita sendiri) ketempat yang sangat Tinggi dan Luas. Hati kita semakin lapang, semakin dingin, sejuk, dan lunak. Kita ikuti saja hati kita yang sedang dituntun oleh Allah seperti itu. Setiap kali hati kita dituntun, maka yang ada saat itu adalah tangis bahagia kita. Ada rasa bahagia yang amat sangat ketika itu. Kulit kita akan merinding. Hati kita seperti terhubung dengan Allah melalui sebuah TALI (HUB) yang bergetar lembut. Lembut sekali. Kita tinggal berpegang teguh dengan TALI itu (wa’thasimu bihablillah, wa’tashimu billah). Jangan sampai tali itu putus dari hati kita. Sebab kalau tali itu putus, hati kita akan segera di dera oleh NESTAPA. Hati kita akan segera kempes dan mengecil kembali. Kita akan merasa seperti orang yang ditinggalkan oleh kekasihnya. Kita tak ubahnya seperti layangan yang talinya putus. Melayang tak tentu arah. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa… Sebab melalui HUB itulah Allah nantinya akan MENYUSUPKAN ILHAM kedalam hati kita.

10. Tetaplah DIAM menunggu Hidayah Allah berupa Ilham yang akan disusupkan-Nya kedalam hati kita. Kita SABAR saja menunggunya. Sampai pada suatu saat, solusi dari masalah kita, sudah ada saja masuk ke dalam hati kita. Masuknya itu terasa sekali. Keadaan pahamnya sangat pasti dan tidak tergoyahkan. Kita kemudian tinggal menjabarkannya. Biarkanlah otak kita kemudian bekerja membentuk logika-logika baru yang tak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Dan jangan lupa, untuk menjabarkannya itu, kita ucapkan Bismillahirrahmanirrahim terlebih dahulu, agar kita nantinya terhindar dari rasa sombong.

11. Lalu kita tinggal berusaha untuk melaksanakan dan merealisasikan ilham itu dihadapan Allah…

Jadi ketika kita ditimpa oleh sebuah MUSIBAH, seberat apapun, kita tinggal masuk MIHRAB, SANDARKAN dan TUMPUKAN hati kita kepada Allah, ISTIRAHATKAN hati kita disisi Allah, lalu kita SHALAT, lalu terimalah RIQQAH, lalu hati kita berubah menjadi LAPANG dan TENANG. Ada SAKINAH turun sebagai pertanda bahwa saat itu hati kita sudah siap untuk menerima HIDAYAH (petunjuk) dari Allah. SABARLAH menunggu hidayah itu dimasukkan oleh Allah kedalam hati kita. Selama menunggu itu akan ada TALI (HUB) yang menghubungkan hati kita dengan Allah.

Tugas kita selanjutnya hanyalah menjaga agar TALI (HUB) yang menghubungkan hati kita dengan Allah itu jangan sampai PUTUS atau DICABUT oleh Allah. Kita jaga tali (hub) itu dengan DZIKRULLAH, yaitu dengan tetap menyandarkan dan menumpukan hati kita kepada Allah, mengistirahatkan hati kita di “pangkuan Allah” dengan cara memanggil-manggil Nama-nama-Nya Yang Agung di dalam hati kita dengan sangat tadarru’. Kita lakukan pula secara berkala aktifitas uzlah, i’tikaf, wukuf, dzikir, tazkiyatun nafs, riyadhah, shaum, qiyamullail, dan ibadah-ibadah lainnya seperti yang dicontohkan oleh Nabi.

Sehingga setiap musibah yang menimpa kita itupun kemudian akan berubah fungsi menjadi batu pijakan kita untuk meningkatkan MAQAM kita, baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Iman kita insyaallah akan meningkat, begitu pula kesejahteraan lahiriah kita. Proses mendapatkan HIDAYAH itu, yang kalau ditulis seperti diatas terlihat sangat panjang, sebenarnya hanya terjadi dalam hitungan detik saja. Sebentar sekali. Hanya untuk membahasakan dan merealisasikannya saja yang akan memakan waktu…

Dengan hati yang terhubung terus kepada Allah begitu, kita tinggal lakukan saja aktifitas profesi keseharian kita untuk membentuk peradaban dizaman kita. Kalau profesi kita adalah jadi seorang dokter, maka kita menjadi dokter yang hatinya selalu terhubung dengan Allah. Begitu juga dengan profesi-profesi lainnya seperti Insinyur, peneliti, pedagang, pegawai pemerintahan atau perusahaan, hakim, jaksa, polisi dan tentara, politikus, guru dan pendidik, ahli berbagai pekerjaan pertukangan, sopir, montir kendaraan, pilot dan pramugari, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang TIDAK membawa dan menyebabkan orang lain LALAI DARI MENGINGAT ALLAH.

Kalau sudah begini, ketika kita punya masalah dalam kehidupan kita, ketika kita ditimpa musibah, masihkah kita akan datang kepada DUKUN, HIPNOTERAPIST, dan PRAKTEK-PRAKTEK SPIRITUAL lainnya yang TIDAK dicontohkan oleh NABI ?. Yang untuk semua itu, kita butuh biaya yang mahal, waktu yang lama, jarak yang lumayan jauh. Dan yang paling menakutkan sebenarnya adalah melorotnya iman kita kepada Allah ketingkat yang sangat rendah, kalau tidak mau dikatakan HILANG. Silahkan kita masing-masing menakar diri kita sendiri-sendiri. Mintalah Hidayah kepada Allah agar kita bisa memposisikan diri kita menjadi orang yang BERIMAN.

Sementara itu, ditengah-tengah kita saat ini, memang para dukun, orang pinter, ahli hipnoterapy, dan ahli-ahli therapi serta “spiritualis lainnya” sedang saling berlomba mengenalkan kehebatan mereka kepada kita. Mereka sangat kuat. Mereka juga waskita dan mampu mengetahui logika sesuatu sebelum terjadi. Tempat pemujaan dan padepokan mereka memiliki kekuatan magic (getaran) yang langsung dapat dirasakan.

Kita benar-benar seperti sedang hidup di zaman Nabi ketika Beliau berjuang melawan kaum Beliau sendiri, kaum quraisy, yang bukannya mereka tidak percaya kepada Allah. Mereka juga sangat percaya kepada Allah. Mereka bukan orang yang atheis. Hanya saja hati mereka MENDUA kepada Allah. Mereka tidak pernah minta tolong lagi kepada Allah. Mereka minta tolong kepada kekuatan selain Allah, memuja orang besar, memuja dukun alternatif, memuja metoda, memuja getaran, memuja pikiran dan angan-angan, memuja silsilah, dan sebagainya.

Padahal mereka sangat tahu bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Allah. Mereka bahkan sangat sadar dan marah ketika ditegur: “mengapa anda menyembah dan minta tolong kepada patung atau berhala itu?. Mereka menjawab dengan logika “helah” seperti diatas: “kami tidak menyembah dan minta tolong kepada mereka, tetapi mereka hanya sekedar untuk sarana mendekatkan hati kepada Allah, ma na’buduhum illa li yuqarribuna ilallahi zulfa”.

Ya Allah…, kuatkanlah hati hamba…

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

Wallahu a’lam
Wassalam
Deka

Read Full Post »

SABAR MENUNGGU ILHAM…

Untuk sesuatu hal yang sangat penting seperti ini, jarang sekali kita diberitahu cara-cara untuk mendapatkan petunjuk Allah. Padahal setiap shalat kita selalu minta Petunjuk kepada Allah. Tapi hampir disetiap shalat itu pula kita tidak mendapatkan Ilham apa-apa. Perilaku kita saat meminta dan berdo’a kepada Allah persis seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada ibunya. Ujug-ujug anak kecil itu minta kepada ibunya: “bu minta uang…”. Mintanya juga sambil lalu saja. Belum sempat ibunya meresponnya, dia sudah lari lagi dari ibunya menuju mainannya. Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.

Makanya ketika berdo’a duduklah diam, tunggulah proses dan respos dari Allah. Respon pertama rasanya hati kita sepi, hening, sejuk (dingin). Hati kita terasa lapang rasanya. Nah ketika sudah terasa seperti ini, tunggu saja, nanti akan ada lintasan (khatar ilham) berisi makna yang sangat jelas masuk ke dalam hati kita. Keadaannya jelas, suasananya jelas, maknanya jelas. Dalam kondisi ini otak dan hawa nafsu kita akan lerem (redam). Ia tidak menguasai keadaan batin kita. Ia betul-betul kalah, sehingga kita bisa membedakan mana keadaan yang berasal dari dorongan emosi kita dan mana yang berasal dari dorongan ilham (yang asli). Keadaan ini benar-benar sangat jelas perbedaannya. Kita akan mampu membedakan mana ketenangan yang berasal dari sekresi hormonal dan mana ketenangan yang berasal dari diturunkannya ilham kedalam hati kita.

Dalam berdo’a, kita harus sabar menunggu kehadiran makna yang dikandung dalam khatar tersebut, tugas kita adalah diam dalam kesambungan agar keheningan semakin jelas. Maka insya Allah, tiba-tiba dengan sadar kita akan dapat merasakan kenyataan pengkabulan atau tidak dikabulkannya doa kita itu yang kenyataannya memenuhi dada kita. Keadaannya tidak ada keraguan, tidak bisa di goyang-goyang. Dan reaksi otak kita kalah dengan kenyataan yang dikandung di dalam dada kita itu. Dengan begitu keyakinan kita itu didatangkan langsung oleh Allah melalui Ilham, bukan kita memaksa-maksakan diri untuk yakin. Hal ini sesuai firman Allah: “wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yakin. Sembahlah Allah sampai engkau diberi (didatangkan) keyakinan”, (Al Hijir 99). Tapi sayangnya dalam terjemahan Al Qur’an kata YAKIN disini selalu saja dibawa kepada makna AJAL atau KEMATIAN. Ya nggak nyambung…

Keadaannya saat itu adalah seperti proses komunikasi antara kita dengan seseorang. Misalnya, suatu saat ada seseorang yang menelpon kita, dia berkata mau mengirim uang kepada kita. Dan ketika itu juga, kita bisa tahu dan bisa betul-betul yakin tentang apakah si Fulan itu berkata benar atau dia tengah berpura-pura kepada kita. Keyakinan kita ini berasal dari sebuah berita yang didatangkan dari lawan bicara kita, yaitu si Fulan. Kita diyakinkan oleh lawan bicara kita!!. Nah…, orang yang berdoapun seharusnya sampai pada tahap mendapatkan sebuah keyakinan dari yang diajaknya bicara, yaitu Allah.

Proses ini benar-benar harus bersih. Semua hasil pikiran harus benar-benar hening mengikuti hati yang sedang hening (TALINU). Sebab menurut Ibnu Qayyim: ilmu, akal dan keadaan bathinmu merupakan penutup untuk menangkap berita (naba’un wa khabarun). Makanya orang yang berhasil menangkap berita dari Allah seperti ini disebut shiddiqiin atau muhaddatsun.

Ustad Abu Sangkan pernah kami tanya: “mungkinkah kita bisa seperti mereka ?”.

Jawab Beliau: “Bisa !!. Syaratnya sangat mudah. Tidak perlu mikir, tidak perlu banyak artikulasi. Tetapi diam dalam proses mengikuti pengajaran. Be patient…SABAR. Seperti sabarnya seorang yang sedang sakit menunggu dokter yang akan merawatnya. Kita harus banyak riyadhah, latihan…, latihan…, latihan…, latihan…, latihan…, latihan…, latihan…, dan yang terakhir…latihan !!, sehingga kita terlatih untuk menjadi orang yang SABAR.

Insya Allah proses ini akan lebih kita perdalam melalui Uzlah ramadhan. Kalian jangan kalah dengan orang barat yang dalam satu tahun meluangkan waktunya untuk liburan musim panas sampai berbulan-bulan lamanya meninggalkan kegiatan dunia.

Siapkan waktu kalian hanya beberapa hari saja. Sementara dalam satu minggu luangkan waktu satu hari dirumah untuk uzlah di dalam MIHRAB-mu. Misalnya hari sabtu dan minggu, pada minggu ketiga kita uzlah dirumah masing-masing tapi serentak !! BBM mati total ….besoknya kita beritakan hasilnya. Mari kita bangkit dan buktikan…
Ingatlah, seluruh wali menjalankan uzlah, i’tikaf, wukuf, dzikrullah, tazkiyatun nafs, riyadhah, shaum, qiyamullail, dan lain-lain. Indonesia terlena mau buat negara hukum dan syar’I, sementara ruhnya hilang. Sekian terimakasih”, ulas Beliau

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Nah…, tentang bagaimana cara Allah memberikan Hidayah kepada hati orang-orang yang beriman, telah diterangkan dengan sangat detail di dalam kitab Madarijus Salikin, yaitu:

1. Allah berbicara langsung dengan hamba-Nya tanpa perantara, ini terjadi dengan Nabi Adam, Nabi Musa.
2. Wahyu (pemberitahuan secara cepat dan rahasia) yang diberikan Allah untuk para Nabi.
3. Mengirim malaikat sebagai utusan kepada manusia.
Cara 1,2,3 ini hanya dikhususkan untuk para Rasul dan Nabi. Tidak berlaku untuk selain mereka.

4. AS SHIDDIQ, untuk sahabat Nabi seperti Abu Bakar yang sudah menyerahkan seluruh hatinya, lahir dan batin, untuk mengikuti Rasul. Disini tidak perlu lagi konfirmasi ulang
5. TAHDIST yang terjadi terhadap para sahabat Nabi, misalnya yang terjadi para Umar Bin Khattab. Beliau adalah orang yang sudah jernih dan sakinah seperti yang disampaikan oleh Rasulullah: “ja’ala Allahu sakinata ala lisani Umar wa qalbihi, dijadikan lisan Umar Sakinah (jernih) berasal dari Allah melalui hatinya”. Maksudnya lisan Umar itu berasal dari signal Allah secara langsung tanpa hambatan pikiran dan hawa nafsunya. Sehingga bisikan hati ini merupakan Ilham Khusus, atau bisa dikatakan wahyu yang diberikan kepada selain para nabi, baik Mukallaf atau bukan Mukallaf.
6. IFHAM, berupa pengertian (pemahaman) yang merupakan nikmat dari Allah kepada hamba-Nya, dan cahaya yang dilimpahkan-Nya kedalam hatinya, yang dengannya dia dapat mengerti dan mengetahui sesuatu yang tidak dimengerti dan tidak diketahui orang lain, Sehingga dengan nash itu dia dapat memahami nash yang tidak dipahami orang lain, meskipun sama-sama hafal nash itu dan sama-sama mengetahui makna asalnya.
7. AL BAYAN Al AM, penjelasan secara umum. Artinya penjelasan tentang kebenaran dan membedakannya dengan kebatilan, berdasarkan dalil, bukti, dan tanda-tandanya, yang disaksikan secara jelas oleh hatinya, sebagaimana apa yang tampak jelas terlihat mata. Peringkat ini merupakan hujjah Allah atas makhluk-Nya. Dimana Dia tidak akan menganiaya dan tidak menyesatkan seseorang kecuali setelah sampai kepada orang tersebut kebenaran, namun dia menolaknya.

Penjelasan itu ada dua macam: Penjelasan dengan ayat-ayat yang bisa didengar, dan penjelasan dengan ayat-ayat (tanda kekuasaan) yang bisa disaksikan dan dilihat dengan mata. Keduanya merupakan petunjuk dan ayat yang menunjukkan keesaan Allah dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya serta kebenaran informasi yang disampaikan Rasul-Nya.
8. AL BAYAN AL KHASUN, penjelasan khusus. Yaitu penjelasan yang mendatangkan hidayah khusus, yaitu penjelasan yang diiringi pertolongan, taufik, pilihan dan pengenyahan sebab-sebab kehinaan dari dalam hati, sehingga dia mendapatkan hidayah.
9. ISMA’ (lewat pendengaran). Yang dimaksud disini lebih khusus dari pendengaran hujjah dan menyampaikan hujjah, yang demikian termasuk isma’ telinga. Sedangkan yang dimaksud disini adalah ISMA’ hati..
10. ILHAM, Ilham bersifat umum bagi orang-orang Mukmin, sesuai kadar iman mereka (bihasbi imaanihim), setiap mukmin diberi ilham dari Allah karena keimanannya. Menurut syech Harawi (pengarang kitab Manazilus Sa’irin), Ilham ini lebih tinggi tingkatannya dari FIRASAT. Sebab firasat itu jarang terjadi dan tidak bisa ditentukan kapan akan didapatkan. Firasat ini jarang-jarang terjadi atau bersifat insidental. Terkadang muncul terkadang tidak, dan pelakunya tidak bisa menentukan kapan waktunya atau bahkan ia bisa mengecohnya. Semetara kedudukan Ilham sudah jelas. Ilham terjadi pada maqam yang stabil, yaitu maqam kedekatan dan kehadiran. Bisa dipastikan jika diminta sekarang, maka akan didapatkan sekarang juga.
Firasat lebih berkaitan dengan satu USAHA (kasb) atau upaya, sedangkan Ilham semata-mata pemberian Allah yang tidak bisa diperoleh dengan tindakan atau usaha tertentu. Jika mendapatkannya dengan perantaraan pendengaran bukanlah ilham
11. RU’YA ASH SHAADIQAH, mimpi yang benar, yang merupakan salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari Nubuwah.

Nah.., dari sekian banyak cara Allah berkomunikasi dengan hamba-Nya, bagi kita orang kebanyakan ini, ILHAM lah yang paling relevan untuk kita dalami. Sangat penting sekali. Itulah sebabnya kata Hidayah diletakkan pada awal firman dalam ummul Qur’an : “ihdinash shirathal mustaqiem, beri kami petunjuk yang lurus, jelas, dan shadiqah”. Doa-doa kita itu memohon petunjuk agar “jelas dan clear”. Dan ilham ini bentuknya pasti. Jika kita beriman maka pasti akan diberi petunjuk ke dalam hati kita, waman yu’min billahi yahdi qalbahu. Jadi ketika kita ucapkan IHDINA… (beri kami petunjuk ya Allah), seharusnya kita mendapatkan hidayah saat itu juga. Jika kita mendapat hidayah, maka kita disebut mendapatkan ILHAM.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

HIDAYAH…

Ayat dalam surat At Taghabun 64: 11 diatas hal pertama yang harus kita lakukan adalah kita beriman dulu kepada Allah, beriman bahwa musibah itu sudah diijinkan oleh Allah untuk terjadi kepada kita. Ayat ini menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada cobaan bagi orang beriman. Bahwa setiap mushibah itu berasal dari ijin Allah. Dan barang siapa yang mengimaninya, maka Allah akan memberinya HIDAYAH (PETUNJUK) hatinya. Yang di beri petunjuk itu hatinya, bukan pikirannya.

Kalau dilihat urut-urutan ayatnya, “waman yu’min billahi yahdi qalbahu”. Disini ada kalimat “yahdi” qalbahu, diberi hidayah (petunjuk) hatinya. Namun anehnya, kita sudah tidak terlalu peduli dengan kata-kata HIDAYAH ini. Sebab kata hidayah ini hanya kita anggap kata yang biasa-biasa saja. Kata hidayah itu biasanya kita pakai ketika ada seorang non muslim yang berubah menjadi muslim. Atau ketika ada orang yang belum menjalankan syariat agama, kemudian ia menjadi orang yang rajin menjalankan ibadah. Mereka itu kita sebut sebagai orang yang mendapatkan HIDAYAH Allah.

Sedangkan bagi kita, yang merasa sudah islam, sudah beriman, sudah beribadah yang banyak, kata HIDAYAH ini benar-benar kita sepelekan, kita lirik sebelah mata saja. Sehingga begitu punya masalah, kita malah mencari-cari petunjuk dan jalan keluarnya melalui jalan-jalan perdukunan seperti diatas. Padahal Allah sudah menyatakannya, kalau kita beriman kepada Allah ketika musibah apapun yang datang menimpa kita, maka seketika itu juga Allah akan memberikan PETUNJUK kepada HATI kita.

Tentang bagaimana cara petunjuk Allah itu datang kepada hati kita juga sudah di guide oleh Allah dalam “link” surat Al An’am ayat 125: “faman yuridillahi an yahdiyahu YASRAH SADRAHU…”, barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk dibuka hidayah, diberi petunjuk (yaitu bagi orang yang beriman kepada Allah), maka DILAPANGKAN DADANYA.

Jadi kalau kita beriman kepada Allah atas musibah itu, maka langsung ada PROSES di dalam dada kita. Dada kita menjadi lapang. Jadi orang yang dibuka hidayah itu dadanya terasa lapang. Dan bagi orang yang lapang dadanya, dia tidak akan merasakan adanya cobaan baginya. Tapi lapangnya dada kita itu disebabkan karena kita beriman kepada Allah, bukan karena pengaruh dari kalimat-kalimat HIPNOSA dari dukun atau hipnoterapist yang bermain-main dengan pikiran dan perasaan kita.

Untuk membedakan apakah lapangnya dada kita itu, ketika kita sedang menghadapi musibah, adalah hasil dari iman kita kepada Allah atau hasil dari HIPNOSA PIKIRAN baik dari orang lain maupun diri sendiri, Allah akan selalu menurunkan musibah ini kepada kita pada saat-saat tertentu. Allah akan menguji iman kita, apakah kita beriman kepada rukun iman yang ke enam atau tidak. Apakah tenangnya kita saat itu adalah sebagai hasil dari dada kita yang dilapangkan oleh Allah karena kita beriman kepada-Nya, atau tenang kita itu adalah “tenang artificial” karena kita mendapatkan kalimat-kalimat HIPNOSA dari dukun atau Hipnoterapist yang membantu kita.

Kalau tenang itu berasal dari Allah, maka kita tidak akan merasakan musibah itu sebagai cobaan sedikitpun. Kita tidak akan gelisah, kita tidak akan kalut sedikitpun. Saat itu kita tenang saja, dan iman kita akan bertambah dan bertambah. Ketika musibah lainnya datang, dada kita tetap lapang. Walaupun saat itu kita bisa menangis juga, tapi tangisan kita itu hanya sebatas isakan lirih dengan deraian airmata bercucuran saja. Kita tidak sampai meronta-ronta dan tidak berteriak-teriak menangis histeris.

Akan tetapi kalau tenang kita itu adalah karena hasil dari kalimat-kalimat hipnosa dari dukun dan hipnoterapist, karena olah pikiran dan olah objek fikir, maka setiap kita punya masalah kita akan tetap menjadi gelisah, kita akan kalut, kita akan kalang kabut, sebelum kita melakukan kembali olah-olah pikir dan proses hipnosa seperti sebelum-sebelumnya. Kalau ini yang terjadi, maka tenang kita adalah tenang yang palsu yang berasal dari pikiran kita. Bukan tenang karena adanya iman kita kepada Allah. Dengan begitu akan ketahuan apakah iman kita itu palsu atau iman benaran. Allah mengujinya dengan musibah.

Sebab pernah suatu ketika dizaman Rasulullah ada seorang badui datang menghadap Nabi. Dengan seenaknya si badui berkata: “aku telah beriman ya Rasulullah, qaalatil a’raab amanna !”. dengan seketika itu juga Allah mewahyukan kepada Nabi, “Qul lam tu’minuu walakin quluu aslamna walamma yadkhulil imaan fi quluubikum, katakanlah kepada badui itu, kalian belum beriman, tapi katakanlah kami berislam, karena iman belum masuk kedalam hatimu”

Jadi keadaan hati orang beriman itu sangat berbeda dengan keadaan hati orang yang tidak beriman. Kedua hati itu tidak akan pernah nyambung seperti tidak nyambungnya rasa cinta kita kepada orang yang tidak kita cintai. Tapi kalau orang-orang yang didalam hatinya sama-sama ada rasa iman bertemu, maka rasa sambungnya akan sangat terasa. Kita akan betah duduk berlama-lama dengannya.

Orang yang didalam hatinya sedang ada harta benda, maka dia juga akan betah berlama-lama duduk dan bercerita ngalur-ngidul dengan orang lain yang didalam hatinya juga sedang ada harta benda. Orang-orang yang didalam hatinya sama-sama ada dunia yang melalaikan, maka mereka akan betah duduk bersama-sama dalam waktu yang lama. Orang yang didalam hatinya ada OVJ, maka dia akan bisa duduk menontonnya satu atau dua jam tak kenal capek. Orang-orang yang di dalam hatinya ada sepak bola, maka mereka akan bisa bergadang tanpa bersusah payah.

Kalau hati kita dipenuhi oleh segala sesuatu yang menjauhkan kita dari Allah, artinya saat itu kita sedang berpaling dari Allah, kita menjadi musyrik, maka Allahpun TIDAK akan berkenan untuk menurunkan petunjuk (hidayah) kedalam hati kita. Tidak akan. Ciri-cirinya, hati kita tidak DILAPANGKAN oleh ALLAH. Punya masalah sedikit saja, kita akan gelisah dan galau yang sangat melelahkan.

Kalaupun dengan teknik-teknik hipnosa tertentu kita seperti bisa merasa bahwa dada kita sudah lapang, tapi lapangnya itu ternyata adalah “lapang artificial”. Lapang yang hanya sekedar untuk bisa bernafas lega untuk sesat, lalu kemudian kita tenggelam kembali kedalam dada yang sempit ketika kita menghadapi masalah-masalah berikutnya.

Namun, tetap saja ada nilai positif yang bisa kita dapatkan ketika dada kita sedang lapang secara artificial itu, yaitu otak kita seperti dibanjiri oleh berbagai macam informasi baru. Buah pikiran kita mengalir dengan derasnya. Ada saja pikiran baru yang muncul dibenak kita. Kita seperti tercerahkan. Bagi kita yang beragama Islam, seringkali kemudian kita menganggapnya sebagai Petunjuk dari Allah.

Masalahnya adalah, bagaimana kita bisa membedakan bahwa petunjuk itu benar-benar datang dari Allah dengan was-was yang ditiupkan oleh syetan?. Untuk itu harus ada PEMBEDA yang bisa membedakan antara keduanya.

Sebagai contoh tentang bagaimana petunjuk Allah itu bekerja, marilah kita tadaburi kisah nyata berikut ini:

“…, setelah 2 tahun mengikuti pelatihan shalat khusyu dengan Ust. Abu Sangkan, Ibu XYZ menceritakan pengalamanya. Waktu itu suaminya sedang sakit keras. Kemudian Bu XYZ minta ijin untuk mengikuti pelatihan shalat khusyu di Hotel Sahid Pekanbaru. Kemudian beberapa hari setelah mengikuti pelatihan shalat khusyu’ itu, Bu XYZ mempraktekan apa yang di ajarkan Ustadz untuk berserah diri. Semuanya di serahkan kepada Allah termasuk suaminya yang sudah lama sakit.

Apa yang terjadi ?… Setelah berpasrah diri pada Allah, 3 jam kemudian suaminya meninggal. Ibu XYZ bercerita bahwa ketika suaminya meninggal itu, dia mempunyai kelapangan dada yang luar biasa, sehingga menjadi bahan pertanyaan bagi keluarga, saudara, dan tetangganya, “suamimu meninggal kenapa engkau tidak ada kesedihan?”. “saya juga tidak tahu, hanya saja 3 jam sebelum suami saya wafat saya shalat, saya berserah diri secara total pada Allah…”, jawab Bu XYZ: ”

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: