Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2015

Memecahkan Gelembung Kerinduan.

Sahabat Ra selalu rindu untuk bertemu dengan Rasulullah SAW. Rindu Para Sahabat itu bukan untuk mendapatkan berkah dari Rasululah SAW atas pertemuan dengan Beliau. Bukan. Tapi rindu itu karena para Sahabat BERSYUKUR dapat hidup sezaman dengan Rasulullah SAW. Manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk menyampaikan penggajaran-pengajaran dari Allah melalui WAHYU kepada Rasulullah SAW untuk SELURUH umat manusia. Karena otomatis umat manusia yang hidup pada zaman Rasulullah SAW sampai dengan akhir zaman kelak adalah Umat Rasulullah, yang Beliau sebut-sebut saat Beliau mau wafat… Ummati…, Ummati…, Ummati…!.

Ya Allah…, begitu sayangnya Rasulullah terhadap ummat Beliau.

Hari ini tanggal 30 Oktober 2015 sampai dengan tanggal 1 November 2015, NUANSA sejarah pertemuan antara Rasulullah SAW dengan Para Sahabat Beliau Ra itu insyaallah akan terulang kembali dalam skala yang berbeda. Hari ini, di Jakarta, akan ada pertemuan antara seorang Arif Billah Ustadz H. Hussien B. Abdul Latiff Ra. dengan para Beliau dari beberapa negara dan juga dari berbagai penjuru tanah air tercinta, Indonesia.

Rasa menjelang pertemuan ini begitu aneh. Hari-hari sebelumnya yang muncul adalah kerinduan yang terus menumpuk untuk bertemu dengan Beliau. Awalnya sih saya tidak percaya dengan adanya kerinduan yang seperti ini. Kerinduan yang bukan untuk meminta berkah dari Beliau, kerinduan yang bukan untuk mendapatkan getaran-getaran melalui hati Beliau, kerinduan yang bukan untuk mendapatkan dan mengerti ilmu-ilmu melalui lisan Beliau, seperti dulu yang saya harap-harapkan ketika saya bertemu dengan GURU-GURU saya dalam berbagai acara.

Pertemuan dengan Ustadz Hussien BA Latiff sekarang ini, kali ini (karena saya sudah bertemu dengan Beliau berkali-kali), rasanya lain sekali. Yang terasa hanyalah gelembung kerinduan yang semakin membuncah dan membuncah. Rindu untuk berjumpa dengan Arif Billah dan para sahabat Beliau. Rindu untuk meresmikan Yamas Indonesia yang telah ditakdirkan Allah sebagai penyimpan Ilmu yang Allah telah ILHAMKAN kepada Beliau.

Inilah sedikit pesan Beliau sebelum pertemuan hari ini:

“Harap diingat Yamas menyimpan ilmu yang diilhamkan kepada saya bukan jasad atau baju saya. Di hari depan yang dicari adalah ilmu ini kerana itu Iqra 1- 5 (udah) adalah ilmu khusus untuk menyediakan kalian menjalankan tugas ini di hari muka sebagai sahabat saya dan Rasulullah saw.

Iqra 1-5 (hampir 500 slides) siap dalam masa 3 hari. Alhamdulillah sungguh menakjubkan saya, susunan dan ilmunya diilhamkan begitu cepat sekali.

Inilah Tasawuf Jalan Nabi-nabi dengan turunnya Iqra 1- 5, ilmu Tasawuf tidak akan sama seperti dahulu. Semoga kalian dapat menjalankan tugas ini di hari depan dengan kejujuran serta kasih sayang.

Kejujuran supaya ngak ada agenda peribadi, dan kasih sayang supaya ada keakraban sesama sahabat. Seperti yg dirasai kalian dengan saya sekarang ini. Alhamdulillah.

10 tahun dahulu saya mahu simpan ilmu ini di Singapure dan mahu menubuhkan Yayasan Tasawuf yg dinamakan ORISSA namun bila diminta pengiktirafan di Makkah ditolak. Dengan itu, Yamas Alhamdulillah amat bertuah mendapat pengiktirafan ini. Saya bahagia untuk kalian”.

Bismillahirrahmanirrahiim….
Ya Allah…, bimbinglah kami semua…

Read Full Post »

Perbedaan lainnya yang sangat menyolok antara TRANCE dan NATIJAH ini adalah, keadaan Trance seringkali tidak mempengaruhi qualitas maupun quantitas ibadah kita dengan signifikan. Tapi tenang dan bahagianya memang ada kita dapatkan. Ibadah kita hanya berubah sedikit sekali menjadi lebih baik dari biasanya. Itupun terjadi karena ada rasa yang kita rasakan akibat dari proses trance dan keter-keter disertai tangisan dan histeria yang kita alami itu. Namun rasa itu tidak akan bertahan lama…!.

Sedangkan kalau kita mendapatkan NATIJAH atau PUKULAN di dalam Hati kita karena kita mengingati Allah dan Allah meresponnya dengan sebuah respon yang menunjukkan KEBENARAN akan kebesaran-Nya, atau kebenaran akan Jalal-Nya, atau kebenaran akan Jamal-Nya, maka tangisan demi tangisan kita akan berderai-derai, tapi kita tidak sampai mengalami histeria atau teriak-teriak, tidak akan adajuga keter-keter atau guling-gulingan. Tangisan-tangisan itu malah akan memperlunak hati kita sendiri dari hari ke hari. Kualitas dan quantitas ibadah kita akan meningkat dengan sangat mengherankan.

Natijah ini akan membuat hati kita lama-lama menjadi bertambah bersih dan bersih karena HATI kita selalu mengingati Allah. Hati kita menjadi tidak berkocak lagi seperti keadaan sebuah samudera yang sangat tenang. Hati yang bersih karena Hati kita itu tersebut selalu mengigati Allah, akan menyebabkan RUH juga menjadi sangat Tenang dan Rileks. Ruh tidak gelisah lagi seperti gelisahnya Ruh pada proses Trance.

Keadaan HATI yang bersih (tidak ada pikiran-pikiran yang berkeliaran) dan RUH yang tenang karena HATI sedang mengingati Allah (dzikrullah) itu disebut juga dengan JIWA YANG TENTERAM (Nafsul Muthmainnah). Selanjutnya Jiwa yang tenteram itu akan membuat tubuh kita menjadi RILEKS dan LUNAK. Saat itu tubuh kita akan terasa seperti tubuh seorang bayi, berat tubuh kita akan terasa seperti berada pada setiap sendi-sendi tulang kita. Rileks dan tidak ada tekanan atau ketegangan untuk menyangga berat tubuh kita.

Keadaan JIWA kita yang TENTERAM, dimana tidak ada lagi pikiran-pikiran yang berkeliaran di dalam HATI atau AKAL kita karena saat itu kita hanya punya satu ingatan saja di dalam hati kita, yaitu ingatan kepada Allah, dan keadaan TUBUH atau RAGA kita juga menjadi RILEKS…, adalah pintu yang sangat sempurna untuk kita melanjutkan ke proses berikutnya… Misalnya…., atau…., dan sebagainya… Silahkan buktikan sendiri-sendiri….

Paling tidak bagi saya sendiri, saya tidak merasa bingung lagi dengan Hadist Rasulullah SAW yang berbunyi :“Al inabatu ila daril khulud wa tajafi an daril ghurur wa tahabu lil mauti qabla nuzulil maut. Kembali menuju perjalanan kekampung abadi (akhirat) meninggalkan kampung penuh tipuan (dunia) merasakan mati sebelum mati”, yang dulu sangat sulit saya pahami, ternyata tiba-tiba saja sudah langsung ketemu dalam prakteknya.

Bermakrifatullah, melalui tasawuf jalan Nabi-Nabi, seperti yang disyarahkan oleh Arif Billah Ustadz Hj. Hussien BA. Latiff, juga akan membawa kita untuk bisa menghadapi berbagai masalah kehidupan dengan tetap tersenyum (senyum Makrifat), tanpa kita harus terlebih dahulu bersentuhan dengan praktek-praktek NAM (New Age Movement), seperti Hipnotis, Hypnoterapi, NLP, dan berjibun teknik lainnya yang tengah mengepung umat Islam saat ini.

Karena setiap kali Beliau bersyarah, setiap kali itu pula Beliau seperti mengantarkan saya dan sahabat saya yang lainnya menaiki anak tangga demi anak tangga berpikir yang kemudian membuat kami semua tahu-tahu sudah berubah saja dalam hal PARADIGMA BERPIKIR kami. Perubahan itu sangat mencengangkan.

Dengan tetap memakai dalil-dalil Al Qur’an, Al Hadist, dan pendapat Arif Billah zaman lalu (Imam Al Ghazali) dan juga pendapat Syech Abdul Qadir Al Jailani, serta pendapat-pendapat Mujaddid Islam lainnya, Beliau seperti mengantarkan kami dan kita semua untuk SIAP memasuki zaman 1000 tahun berikutnya dari sekarang, sebelum Arif Billah berikutnya dimunculkan oleh Allah… Tidak percaya…?, ya ndak apa-apa…

Sampai disini selesailah Artikel yang berkenaan dengan DUDUKNYA ORANG BERMAKRIFATULLAH. Insyaallah kita akan lanjutkan, kalau Allah mengijinkan, dalam artikel berikutnya dengan judul “ANJAKAN PARADIGMA”.

Wallahu a’lam…

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Selesai

Read Full Post »

Walaupun dengan berbagai teknik NAM dan teknik-teknik yang sejenisnya seperti diatas, berbagai masalah kita pada suatu waktu memang kelihatan seperti bisa kita selesaikan, namun penyelesaiannya hanyalah di tingkat permukaannya saja, dan tidak tuntas. Karena saat itu HATI kita memang masih belum sampai untuk kita isi HANYA dengan INGATAN kepada Allah. Ya…, dzikrullah itulah…

Padahal hanya dengan mengingat Allah inilah HATI atau AKAL kita akan menjadi TENANG dan TENTERAM, yang menurut istilah agama islam disebut HATI yang bersih dan suci, sebersih dan sesuci hati seorang bayi. Jadi Istilah Tadzkiyatunnafs yang sering diterjemahkan orang dengan istilah Penyucian Jiwa atau Pembersihan Hati, koncinya hanyalah sederhana saja, yaitu kita selalu MENGISI HATI kita HANYA da HANYA dengan INGATAN kepada Allah.

Karena hati kita sudah hanya berisikan ingatan kepada Allah, maka ketika mata hati kita, kita tujukan atau tumpukan melihat kepada hati kita itu, maka mata hati kita, yang tadinya melihat berbagai bentuk dan rupa, sekarang berubah menjadi tidak melihat apa-apa. Sebab Allah memang tidak bisa diserupakan dengan apa-apa.

Kalau saat mengingat Allah itu mata hati kita melihat rupa, dan bentuk apapun juga, maka segera saja kita tebas segala rupa dan bentuk itu dengan pedang tauhid bahwa “Allah tidak serupa dengan apapun juga”, sehingga kembali setelah itu mata hati kita tidak melihat apa-apa.

Agar hati kita tidak kembali diisi oleh ingatan yang selain ingatan kepada Allah, maka hati kita yang sedang mengingat Allah tu kita KUNCI dengan MENUMPUKAN pandangan mata hati kita kedalam Hati kita itu. Mata hati kita kita FOKUSKAN ke dalam hati kita yang sedang kita jaga untuk selalu mengingati Allah.

Pada awalnya mungkin kita hanya bisa menjaga ingatan kita kepada Allah itu dalam beberapa menit, atau puluh menit saja. Akan tetapi dengan kita tetap melakukannya secara ISTIQAMAH, saat berdiri, saat duduk, atau saat tiduran, bahkan saat kita berkegiatan, maka kemudian ingatan kita kepada Allah itu lama-lama akan bisa meningkat dan bertahan menjadi beberapa puluh menit, atau bahkan beberapa jam.

Kalau sudah bisa bertahan untuk mengingati Allah dalam hitungan jam-jaman seperti ini, atau bahkan nyaris bisa 24 jam sehari, maka ciri-cirinya yang akan kita rasakan adalah, kita sudah tidak ingat lagi dengan tubuh kita, kita tidak ingat lagi dengan nafas kita, kita tidak merasakan lagi gatal-gatal atau sakit yang ada ditubuh kita, kita tidak ingat lagi dengan harta benda kita dan anak serta istri kita, kita tidak ingat lagi dengan masalah-masalah kita, kita tidak ingat lagi dengan berbagi ilmu kita seperti ilmu getaran, ilmu aura, ilmu power dan force, dan sebagainya. Apalagi untuk ingat kepada hal-hal yang berkaitan dengan kefujuran, itu hilang sama sekali Walaupun begitu, pada saat-saat tertentu kita masih bisa kembali mengolah kesemuanya itu, tapi dengan cara yang lain…

Ciri-ciri lainnya adalah kita jadi tidak cepat mengantuk saat kita ingat kepada Allah itu. Tubuh kita terasa segar karena RUH kita yang berada disekujur tubuh kita juga sedang ikut menerima keselasaan atau ketenteram karena hati kita juga sedang berada dalam ketenteraman karena sedang mengingati Allah.

Nah…, sekarang bayangkan saja, dalam beberapa menit, atau beberapa puluh menit, atau bahkan beberapa jam Hati kita KOSONG dari ingatan kepada apapun juga, karena saat itu kita hanya ingat kepada Allah sahaja, apakah itu tidak akan menenteramkan ?. Tentu itu akan sangat menenteramkan sekali. Lagi pula, pada saat itu Hati kita bukan hanya kosong sembarang kosong, tapi hati kita itu kosong karena hati kita itu sedang mengingati Allah.

Hal ini akan sangat jauh berbeda ketika kita berusaha mengosongkan hati kita dengan cara mengosong-ngosongkan pikiran kita dari berbagai ingatan dan pikiran dengan melakukan berbagai cara selain dari proses mengingat Allah, misalnya dengan mengingat KEKOSONGAN seperti dalam beberapa teknik MEDITASI atau TERAPI. Kalau hal seperti ini yang kita lakukan, maka hampir dapat dipastikan bahwa saat itu akan ada domplengan, yaitu Jin dan Syaitan. Tahu-tahu kita sudah menjadi seorang yang SAKTI saja, tahu-tahu kita sudah menjadi seorang DUKUN yang terkenal saja, atau paling tidak kita menjadi dikenal orang sebagai seorang yang punya kelebihan-kelebihan seperti seorang dukun. Percaya deh… He he he…

Tentu saja kalau kita shalat dan berdo’a kepada Allah dalam keadaan Hati yang kosong dari ingatan kepada apapun juga selain hanya ingatan kepada Allah itu, pengaruhnya sangat luar biasa sekali, yang biasa disebut dengan nama NATIJAH, atau PUKULAN dan HANTAMAN yang akan “melukai” HATI kita. Luka itu muncul karena balasan yang diberikan oleh Allah ketika kita sedang langsung berbicara, bersikap hormat, merendah, rukuk dan sujud kepada Allah yang sedang kita ingat di dalam shalat dan berdo’a itu.

Luka itu akan membekas dan akan kembali luka dan menganga lagi untuk sekian waktu lamanya setiap kali kita melakukan ibadah, shalat, berdo’a atau setiap kali kita mengingati Allah dengan mengikutkan perasaan-perasaan tertentu, misalnya rasa cinta, rasa rindu, rasa takur, dan sebagainya.

NATIJAH itu jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar keter-keter dan menangis-nangis karena kita merasakan getaran-getaran yang kita kira itu adalah ilham atau getaran sambungan dari Allah. Sebab kalau Hati kita sedang tidak ingat kepada Allah, tetapi saat kita melakukan ibadah tertentu kita sampai menangis histeris dan bahkan keter-keter, maka itu namanya kita sedang mengalami TRANCE seperti yang akan kita dapatkan dalam proses HIPNOSA pada teknik HIPNOTERAPY atau yang sejenisnya. Keter-keter atau gulingg-guling itu terjadi karena RUH kita sedang menderita karena Ia dibawa untuk mengikuti isi HATI kita yang saat itu sedang tidak mengingati Allah.

Bersambung

Read Full Post »

Setelah melihat semua kejanggalan-kejanggalan yang sedang menggejala ditengah-tengah Umat Islam saat ini seperti yang telah kita bahas di atas tadi, apakah kedudukan orang yang sudah bermakrifatullah itu memang sedemikian istimewanya melebihi semua kejanggalan diatas?. Apakah orang-orang yang sudah bermakrifatullah itu hidupnya juga dipenuhi pula dengan berbagai keajaiban, ia banyak tahu tentang hal-hal yang ghaib, ia sakti mandraguna, dan kata-kata dan do’a yang diucapkannya sangat sakti dan bertuah ?.

Ternyata tidak begitu-begitu amatlah. Bermakriftullah itu, terutama dengan memakai cara-cara tasawuf Jalan Nabi-Nabi, seperti yang disyarahkan oleh Arif Billah Ustadz Hj. Hussien Bin Abdul Latiff, hanyalah sebuah TITIK AWAL saja bagi kita untuk bisa BERIBADAH kepada Allah dengan SANGAT SENANG. Makrifatullah, dalam Tasawuf Jalan Nabi-Nabi ini, bukanlah sebuah akhir dari pencapaian kita dalam sebuah aktifitas ibadah. Ia justru adalah awal atau fondasi dasar bagi kita untuk melakukan Ibadah TANPA kita harus terlebih dahulu melalui jalan panjang yang sulit dan bertele mengikuti paktek Syariat -Tarekat – Hakekat – Makrifat, yang merupakan ciri-cri khas Tasawuf jalan Wali-Wali Tarekat.

Kenapa bisa beribadah dengan senang?. Karena memang saat beribadah itu kita sudah tidak ingat lagi kepada apapun juga selain hanya teringat kepada Allah (dzikrullah). Pikiran kita, yaitu kumpulan ingatan-ingatan yang saling terhubung dan berbelit-belit, berubah menjadi KOSONG. Karena memang sudah tidak banyak lagi kumpulan ingatan-ingatan yang terangkai-rangkai yang tersisa di dalam HATI kita disebabkan di dalam hati kita itu hanya tersisa SATU INGATAN saja, yaitu ingatan kepada Allah.

Ingat kepada Allah inilah yang MENGHAPUS ingatan kita kepada hal-hal yang lain selain dari Allah. Karena begitu kita INGAT kepada Allah, Dzat yang tidak bisa digambarkan, tidak bisa dirupakan, tidak bisa dihurufkan, tidak bisa disuarakan, tidak bisa diserupakan dengan apapun juga, maka ingatan kita secara OTOMATIS akan menjadi bersih…, semakin bersih…, dan semakin bersih dari waktu ke waktu.

Unsur diri kita yang berfungsi untuk MENGINGAT, dan juga untuk BERPIKIR, ini disebut dengan HATI atau AKAL. Inilah unsur diri kita yang sangat penting untuk kita ketahui. Sebab ia akan berfungsi sebagai PILOT, SOPIR, KUSIR bagi RUH dan TUBUH kita. Apa-apa yang kita ingat-ingat atau pikirkan di dalam hati atau akal kita akan memaksa RUH dan TUBUH kita untuk patuh mengikutinya, seperti patuhnya sebuah pesawat terbang mengikuti perintah pilotnya. Kalau sang pilot memerintahkan untuk memasuki cuaca buruk, maka pesawat itupun akan mengalami turbulensi, terbanting-banting, dan bahkan bisa jatuh kebumi. Hancur.

HATI atau AKAL kita itu mempunyai MATA yang disebut sebagai MATA HATI atau MATA AKAL. Fungsi dari mata hati atau mata akal ini adalah untuk MELIHAT dan MENDENGAR apa-apa yang sedang KITA INGAT-INGAT di dalam HATI atau AKAL kita. Istilah lain dari Mata Hati ini adalah BASHIRAH…

Hubungan antara Hati dan Mata Hati ini sangatlah penting untuk kita ketahui. Sebab mata hati kita ini tidak bisa berbohong terhadap apa yang kita ingat di dalam hati kita. Misalnya:

Bagi seseorang yang buta sejak lahir sampai ia dewasa, di dalam hatinya tidak ada INGATAN tentang CAHAYA. Ketika dikatakan kepadanya, saat siang hari ada cahaya matahari yang menerangi, maka mata hatinya tidak bisa melihat cahaya yang menerangi itu, walau mata lahirnya masih ada. Mata hatinya tetap hanya melihat gelap yang ada didalam hatinya. Sebab Hatinya belum pernah menyimpan ingatan tentang cahaya.
Bagi seseorang yang tuli sejak lahir sampai dewasa, di dalam hatinya tidak ada INGATAN tentang bunyi-bunyian. Ketika kepadanya diperdengarkan berbagai bebunyian dekat telinganya, maka mata hatinya tidak bisa mendengarkan bunyi apapun, walau telinganya masih ada. Mata hatinya tetap hanya mendengarkan kesunyian. Karena memang di dalam hatinya belum pernah tersimpan ingatan tentang sebarang bunyi apapun juga.
Begitu juga ketika dikatakan kepada seseorang tentang IMAN kepada Allah, kalau di dalam hatinya belum ada INGATAN tentang seperti apa keadaannya atau halnya kalau kita beriman kepada Allah itu, maka boleh jadi mata hatinya saat itu masih memandang dan mendengar keadaan atau hal tentang benda-benda dengan berbagai fenomenanya. Banyak kita yang mengaku-ngaku beriman kepada Allah, tapi mata hati kita saat itu masih melihat dan mendengar berbagai rupa, bentuk, warna, suara, huruf, patung, berhala, dan lain-lain sebagainya.

Kalau keadaan kita seperti ini, kita disebut sebagai orang yang (Mata) HATINYA BUTA dan TULI kepada Allah. Saat kita berkata bahwa kita beriman kepada Allah, mata hati kita saat itu masih melihat berbagai bentuk ciptaan-Nya di dalam hati kita. Sebab hati kita saat itu memang belum terisi dengan ingatan kepada Allah. Hati kita masih dipenuhi dengan ingatan-ingatan kita kepada anak dan istri kita, harta kita, ilmu kita, kedudukan kita, pangkat kita, pekerjaan kita, guru kita, mursyid kita, permasalahan-permasalahan kita, atau pada tingkatan yang lebih halus berupa ingatan kita tentang ilmu-ilmu kita, getaran-getaran, nafas, daya, quantum, aura, cakra, lathaif, qalbu, power, force, dan sebagainya.

Karena hati kita dipenuhi oleh ingatan-ingatan yang selain kepada Allah seperti itu, maka artinya saat itu Hati kita, Sang Pilot, tengah membawa RUH dan sekaligus TUBUH kita memasuki wilayah TURBULENSI KEHIDUPAN. Dan disitulah sebenarnya bermula berbagai permasalahan dan kesulitan yang akan mendera hidup kita. Ruh akan mengantarkan perasaan tidak enak, tidak nyaman ke dalam hati kita, yang akan mengakibatkan Nafas kita memburu seperti kita sedang mendaki gunung yang sangat tinggi, tekanan darah kita meningkat, dada kita terasa sempit dan panas.

Bersambung

Read Full Post »

Dari penafsiran Ustad Hussien BA Latiff itu sebenarnya sudah sangat jelas sekali, sehingga bisa menjawab berbagai hal, mulai dari tidur, comma, OBE, oRang gila, ruh terhalang (tindihan), pingsan, ruh di alam mimpi, jiwa di alam mimpi, jiwa yang tersesat, lumpuh, locked-in syndrom, aqal yang hilang, jasad yang hilang sebagian, sakaratul maut.

Mengenai Jiwa sendiri menjadi sangat clear pengertiannya, yaitu ketika RUH sedang bersama AQAL atau HATI. Inilah yang disebut dengan jiwa. Jadi sudah tidak diperlukan lagi ungkapan ungkapan seperti batin, rohani, sukma, sanubari, lubuk hati, mental, nurani, dan sebagainya. Karena dengan satu kata itu, JIWA, maka semuanya itu sudah terbabat habis.

Pengertain Qalb pun menjadi sangat jelas jadinya. Qalb adalah keadaan JIWA yang masih sering terbolak-balik antara yang baik dan yang buruk silih berganti.

Keadaan silih bergantinya perilaku JIWA itu, karena memang AQAL atau HATI sedang tidak diisi dengan ingatan kepada Allah ( dzikrullah), sehingga saat aqal atau hati tidak ingat kepada Allah itu, maka Allah mempersilahkan syaitan untuk mengisi aqal atau hati kita dengan berbagai ingatan dan lamunan.

Ruh akan mengantarkan kemana saja Aqal atau hati sedang CONDONG. Apakah sedang condong kepada kebaikan atau condong kepada keburukan. Dan Ruh akan mengantarkan pula berbagai rasa dari setiap kecondongan itu.

Nah, tulisan ini tidak akan dapat memberikan pengertian dan kepahaman, Allah lah yang akan memberikan kita pengertian dan kepahaman. Allah akan menahan kita pada TAKDIR kita dengan dengan mengindoktrinasi kita dengan pengertian dan kepahaman itu UNTUK maksud-maksud yang hanya Allah saja yang tahu…

Lalu apa ada masalah?…

Read Full Post »

MENGULANG-ULANG KAJI DIRI

DIRI MANUSIA terdiri dari 4 ANASIR:
1.Jasad, adalah ANASIR yang terdiri dari triliunan atom-atom seperti yang juga terdapat pada tanah, hewan, tumbuhan.

2.Nyawa, adalah ANASIR yang membuat Jasad itu HIDUP.

3.RUH, adalah ANASIR yang membuat Jasad bisa BERGERAK. RUH itu juga punya KEKUATAN dan PERASAAN.

4.AQAL atau HATI, adalah ANASIR yang bebas tempat Allah meletakkan ILHAM sehingga kita bisa MENGINGAT, MENGERTI, MEMAHAMI, BERPIKIR, MENGETAHUI, dan BERTAKWA serta BERSAKSI. Atau yang sebaliknya… TIDAK MENGINGAT, TIDAK MENGERTI, TIDAK MEMAHAMI, TIDAK MENGETAHUI, TIDAK BERPIKIR, dan TIDAK BERTAKWA serta TIDAK BERSAKSI…

AQAL atau HATI ini adalah ibarat PILOT bagi sebuah pesawat terbang, KUSIR bagi Bendi dan Pedati, JOKI bagi seekor KUDA TUNGGANGAN, SOPIR bagi MOBIL dan KENDARAAN.

AQAL atau HATI inilah nantinya yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat…

AQAL atau HATI ini punya MATA yang disebut MATA HATI atau MATA AQAL yang berguna untuk MELIHAT, MENDENGAR.

AQAL atau HATI, adalah ANASIR bebas yang dia bisa tinggal bersama TUBUH yang dalam hal ini tempat KEDUDUKANNYA adalah di dalam OTAK, dan dia bisa pula tinggal bersama RUH.

Sekarang mari kita lihat hubungan masing-masing Anasir diri kita itu:

JASAD dan NYAWA selalu bersatu, keduanya bisa kita sebut sebagai TUBUH kita. Jadi jasad dan nyawa itu bersatu seperti bak kata pepatah “selama HAYAT masih dikandung BADAN”. Kita dikatakan MATI kalau NYAWA sudah dicabut dari JASAD kita. Karena Nyawa itu melekat erat pada jasad, maka saat nyawa ini dicabut dari jasad, sakitnya sebenarnya sangat perih luar biasa.

Akan tetapi Allah sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sebelum nyawa kita dicabut, RUH kita yang dapat merasakan sakit, telah terlebih dahulu dipanggil keluar dari tubuh kita sehingga sakitnya saat nyawa kita dicabut itu sudah tidak terasa lagi….

Untuk mengenal lebih dalam tentang Jasad kita ini, maka ilmu biologi, kedokteran, fisika, kimia, dan ilmu-ilmu alam dan lainnya adalah ranah untuk mengamatinya. Siapapun yang melakukan pengamatan itu akan mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk memanjakan tubuhnya.

Tentang NYAWA, kita tidak tahu sama sekali. Jadi tidak perlu lagi kita untuk membahasnya, hanya saja nyawa itu bisa dicabut lewat kaki kita dan ada pula yang lewat kepala kita…

Sekarang tinggal RUH dan AQAL atau HATI kita…!. Pembentuk Ruh dan Aqal ini kita juga tidak tahu sama sekali. Tapi Ruh dan Aqal ini ikut AMR Allah…

Akan tetapi tentang Fungsinya, Allah menerangkan sedikit tentang itu, yaitu:

RUH saja adalah anasir diri kita yang BISA keluar masuk tubuh kita. RUH ini tidak ada hubungannya dengan hidup atau matinya kita. RUH ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk bisa atau tidak untuk BERGERAK dan MERASA.

SAAT TIDUR, RUH kita meninggalkan tubuh kita. Tapi tubuh kita masih tetap bisa HIDUP yang tandanya adalah adanya udara nafas kita yang keluar masuk paru-paru dan jantung kita yang tetap berdenyut. Akan tetapi saat TIDUR itu, kita sudah tidak bisa BERGERAK dan MERASAKAN lagi apa-apa yang terjadi pada tubuh kita saat kita. Tubuh kita luka dan berdarah-darahpun kita sudah tidak merasakannya.

Hal yang sama juga terjadi ketika kita COMMA, atau pingsan, atau keadaaan apa saja yang menyebabkan RUH kita keluar dari tubuh kita, misalnya ketika kita sedang mengalami sakit yang amat keras, penderitaan yang sangat berat, dan lain-lain sebagainya.

Kalau dalam keadaan comma itu AQAL kita masih tinggal di otak, hanya RUH kita saja yang keluar tubuh, maka kita akan dapat mendengarkan dan melihat apapun pembicaraan dan tindakan orang disekeliling kita. Tapi kita tidak dapat bergerak, bersuara, dan membuka mata. Sebab RUH kita yang punya tugas untuk itu sudah tidak berada di dalam tubuh kita. Hanya air mata kita saja yang menetes-netes… Kalau dalam keadaan comma itu RUH dan AQAL kita sudah meninggal tubuh kita, maka tubuh kita hanyalah seonggok daging yang masih dialiri NYAWA.

JIWA, AN NAFS.
Jika AQAL sedang bersama RUH, anasir ini disebut dengan JIWA (An Nafs).

Saat kita tidur itu ada keistimewaan, dimana Allah mengambil JIWA kita dan memegangnya sampai kita nanti bangun kembali (kalau kita memang masih ditakdirkan untuk Beraktifitas bersama JASAD kita).

JIWA inilah yang bisa berjalan ke alam JIN, atau bertemu dengan JIWA-JIWA lain yang sedang TERHALANG untuk masuk ke ALAM BARZAH, atau JIWA-JIWA lain yang telah dimudahkan Allah untuk bisa keluar masuk Alam Barzah, atau bertemu JIWA-JIWA lain yang tubuhnya masih hidup tapi ia telah dimudahkan Allah pula untuk keluar masuh tubuhnya.

Saat kita comma total, JIWA kita boleh jadi sedang berada di suatu tempat yang asing atau sedang berkelana dialam-alam tidak kasat mata yang sering diceritakan orang dalam pengalaman MATI SURI.

Orang yang bisa melakukan Perjalanan ASTRAL, atau Out of Body Experience (OBE), yang pergi dan berjalan itu adalah JIWANYA ini juga. Kalau kita OBE dengan tanpa tujuan, dan Aqal kita saat itu tidak ingat kepada Allah, maka hampir selalu akan ada DAMPINGAN. Kita akan bertemu dengan makhluk gaib lainnya, kita akan terbawa ke alam-alam yang bak dalam alam khayalan dengan berbagai fenomenanya.

Orang gila, Ruhnya masih berada di dalam tubuhnya, buktinya ia bisa berjalan dan bergerak dan juga merasa. Akan tetapi AQAL atau HATINYA tidak klop lagi untuk duduk di dalam otaknya. Boleh jadi ada fungsi otaknya yang saat itu sedang rusak sehingga AQALnya terhalang untuk duduk di otaknya.
Makanya bagi orang gila itu yang terganggu adalah fungsi AQAL atau HATINYA yang untuk MENGINGAT, MENGERTI, MEMAHAMI, BERPIKIR, MENGETAHUI. Sehingga kalau itu rusak, maka ia tidak dikenai lagi tanggung jawab apapu juga. Mata hatinya boleh jadi masih bisa melihat dan mendengar melalui mata dan telinganya. Akan tetapi ia sudah tidak mengerti lagi apa yang dia lihat dan dengar itu.

Bagi seseorang yang mengalami Trauma yang hebat di kepala, Aqalnya sudah tidak bisa lagi duduk di otaknya, maka dia akan kelihatan seperti orang yang tidak punya ekspresi apa-apa…

Bagi anak kecil, saat bangun dari tidur, Ruhnya masuk ke dalam tubuhnya lebih dulu dari Aqalnya. Kalau kita panggil namanya saat itu, anak kecil itu kelihatan untuk beberapa saat seperti orang yang “ngahuleung” alias bingung. Setelah Aqalnya masuk, baru dia sadar atas panggilan kita.

Bagi orang dewasa, sering hal sebaliknya yang terjadi, bangun tidur aqalnya masuk duluan, sedang ruhnya terlambat, sehingga menimbulkan efek “Tindihan”. Dimana saat itu jin menghalangi ruhnya masuh ke tubuhnya. Walaupun saat itu dia telah berteriak sekuat tenaga dan ingin bergerakr, namun dia tetap tidak bisa, karena memang ruhnya belum masuk kedalam tubuhnya.

Aha…, cukup sampai disini saja ya ulangan kajiannya. Sebab kajian berikutnya, seperti:

1.bagaimana proses kita meninggal dan proses mengantar orang yang meninggal,
2.bagaimana pengertian “irji’i ila rabbiki radhiatan mardhia” (yang berbeda dengan OBE yang dilakukan banyak orang selama ini),
3.bagaimana pengertian “pertemuan dengan jamaah hamba-Ku” yang sering dibaca-baca orang,
4.bagaimana dengan alam kubur dan alam barzah, dsb

Walaupun Ustad Hussien Bin Abdul Latiff telah menerangkan semua itu dengan sangat jelas kepada saya, namun saya merasa tidak punya KAPASITAS untuk menyampaikannya kepada orang lain…

Tapi keterangan-keterangan Beliau itu sungguh telah menambah jelas apa-apa yang selama ini masih abu-abu dan membingungkan saya… Tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi keraguan. Let’s just Do it…

Read Full Post »

Natijah Demi Natijah…

Untuk beribadah itu ternyata memang harus jelas betul Apa FONDASINYA, apa ALAT yang dihidupkan, dan apa AKTIFITAS yang harus DILAKUKAN…, setelah itu barulah kita bisa beribadah dengan SANGAT SENANG.

FONDASINYA adalah Makrifatullah.

ALAT yang dipakai adalah “HATI yang halus” atau AQAL yang berkedudukan di OTAK (bukan di dada) untuk MENGINGAT ALLAH. Sebab dada tidak punya instrumen untuk mengingat.

YANG DILAKUKAN adalah DZIKRULLAH, dimana HATI atau AQAL BERKEKALAN mengingat Allah yang akan menyebabkan AQAL Atau HATI itu menjadi TENTERAM.

Setelah itu, selama kita BERIBADAH, barulah akan datang NATIJAH demi NATIJAH (pukulan demi pukulan atau hantaman demi hantaman) yang akan membuat HATI atau AQAL kita itu LUKA dan berdarah…

Bekas luka itu tidak akan pernah sembuh. Luka itu akan kembali menganga setiap disentuh dengan Dzikrullah, secara istiqamah mengingati Allah. Dan Luka itu akan berdarahkan AIR MATA… yang jatuh berderai-derai…

Setiap tetes air mata yang turun itu, karena hati kita selalu luka dan luka ketika kita beribadah kepada Allah, lama-lama akan membuat HATI kita itu begitu halus, begitu lunak, begitu lembut, dan begitu tenteram, sehingga hampir secara otomatis TUBUH KITA pun bisa sangat-sangat RILEKS pula.

MATA HATI atau MATA AQAL kitapun ikut-ikutan menjadi sangat tajam…

Dan itu barulah AWAL untuk langkah selanjutnya….,

DUH… Alangkah Senangnya…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: