Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2019

Oleh Ustadz H Hussien BA Latiff.

27 Februari 2019

 

Setelah lama terlantarku di kamar,

Maka di awal pagi di dalam kedinginan rasa,

Terasa sesuatu bangkit dari ulu hatiku,

Sesuatu kesejukan yang menuju ke kerongkongku,

Dari situ, ia naik mendapatkan kedua mataku,

Lalu ia terbalikkan kedua mata hitamku,

Meninggalkan hanya keputihan biji mataku,

Justeru itu masuk ia ke dalam mindaku,

Lalu pergi ia kebelakang mindaku,

 

Sesampai ia ke hujung tempat mindaku,

Ia berpusing serta menuju pula ke hadapan mindaku,

Apabila sampai ke dahiku di atas kedua keningku,

Maka terbukalah jendela mata ke tiga,

Maka terkeluarlah ia dari jendela itu, rohku.

 

Rohku berbentuk mikro terapong di depan dahiku.

Sesudah itu, rohku ditolak gelombang,

Gelombang yang terbit dari denyutan nyawa,

Inilah yang dikatakan sakaratul maut,

 

Rohku ditolak sampai kepada sebuah pintu,

Pintu ini yang tertutup…, Pintu Alam Bazakh,

Maka tercegatku dihadapan pintu itu, menunggu.

 

Lalu terasa sesuatu di halkumku,

Maka terkeluarlah Minda batinku dari jasadku,

Lalu bersatulah dengan rohku yang menunggu,

 

Justeru itu, terberhentilah penafasanku,

Diikuti dengan nyawaku ditarik pergi.

Maka tinggallah jasadku terkulai sepi.

 

Maka terbukalah Pintu Alam Bazakh,

Maka jiwaku dijemput masuk ke Alam itu

Apabila masuk sahajaku ke dalamnya,

Maka tertanggal kesemua ikatanku kepada dunia.

 

Seperti aku dilahirkan semula lagi,

Tanpa apa jua ingatan serta memori lama.

Begitu juga rupaku berubah, kembali ke rupa asli,

Rupa jiwaku semasa di Alam Azali.

Kesemua di Alam Bazakh berupa seperti ku,

Rupa yang berbeza dengan rupa di dunia,

 

Maka ku pandang ke arah dunia yang ku tinggalkan,

Maka sedarlah aku, mereka dalam lakonan,

Lakonan dunia yang mesti dijalankan,

Mengikut Buku Kehidupan yang dinamakan Takdir,

Berlakonlah mereka sehingga akhir perjalanan,

Iaitu sampai ke akhir hayat mereka dituliskan,

Sesudah itu Jiwa mereka kembali ke Alam Bazakh,

Tempat berihat menunggu Hari Kebangkitan.

 

 

Catatan:

Halkum = Jakun = Adam’s apple

Yang menonjol di kerongkong lelaki

 

  1. Ada rasa DINGIN naik dari Ulu hati ke kerongkongan. Itulah gerakan RUH.
  2. Rasa dingin itu naik ke mata dan memutar bola mata ke atas. Bagian hitam bola mata naik, dan yang kelihatan hanyalah mata putih saja.
  3. Ruh terus di dorong masuk ke dalam kepala dan berputar ke belakang kepala.
  4. Dari belakang kepala Ruh itu di dorong bergerak ke depan ke arah Kening.
  5. Jendela di kening (mata ke tiga) terbuka, lalu ruh keluar dari jendela itu.
  6. Ruh itu bentuknya kecil, dan terapung begitu saja di depan DAHI.
  7. Lalu Ruh di dorong oleh gelombang menuju pintu yang tertutup, yaitu pintu Alam Barzah.
  8. Gelombang itu muncul dari denyutan NYAWA.
  9. Inilah yang dinamakan proses SAKARATUL MAUT.
  10. Ruh terdorong naik sampai Ruh tersebut terhenti di depan pintu Alam Barzah. Ruh itu menunggu hati atau minda batin yang masih tertinggal di jasad.
  11. Jakun terasa bergerak dan berbunyi ‘crk’, lalu hati atau minda batinpun terdorong pergi menyusul Ruh yang sudah menunggu di depan pintu Alam Barzah.
  12. Hati atau Minda Batin bersatu dengan RUH membentuk JIWA. Yang siap masuk ke Alam Barzah.
  13. Nafas berhenti, dan NYAWA ditarik dari Jasad untuk disimpan di Alam Nyawa.
  14. Jasad terkulai layu, dan lalu di kirim ke KUBURAN.
  15. Pintu Alam Barzah terbuka, lalu Jiwa di jemput masuk ke dalamnya.
  16. Begitu masuk Alam Barzah, maka segala ikatan dengan dunia terlepas.
  17. Rasanya seperti dilahirkan kembali seperti semula.
  18. Tidak ada lagi ingatan atau memori tentang kehidupan dunia.
  19. Rupa jiwa juga berubah seperti rupa asli ketika di alam azali.
  20. Rupa semua jiwa yang ada di alam Azali seperti itu. Rupa yang berbeda dengan rupa di alam dunia.
  21. Antara Alam Barzah dan Alam Dunia ada Batas yang tidak bisa ditembus.
  22. Dari Alam Barzah JIWA dapat melihat ke Alam Dunia. Tapi dari Alam Dunia MANUSIA tidak bisa melihat ke dalam Alam Barzah.
  23. Saat Jiwa dari Alam Barzah melihat ke Alam Dunia, sadarlah Jiwa itu bahwa istri (suami), saudara, handai taulan, anak-anaknya, yang masih hidup di dunia ternyata masih sedang menjalankan Peran atau Lakonan yang harus mereka jalankan sesuai dengan KITAB KEHIDUPAN mereka masing-masing, atau TAKDIR mereka. Mereka masih akan berlakon dan berperan di Alam Dunia itu, sesuai takdir mereka, sampai pada Akhir Perjalanan mereka masing-masing pula. Yaitu sampai akhir hayat mereka seperti yang sudah dituliskan dalam kitab takdir mereka masing-masing.
  24. Sesudah sampai akhir perjalanan mereka, maka kelak JIWA merekapun akan menyusul pula kembali ke Alam Barzah.
  25. ALAM BARZAH, adalah alam tempat Jiwa-Jiwa Beristirahat setelah penat menjalankan peranan atau lakonan di Alam Dunia.
  26. Jiwa-jiwa itu beristirahat menunggu Hari Kebangkitan.
  27. Di Alam Barzah itu sudah tidak ada skrip atau peranan yang akan dijalankan oleh Jiwa-Jiwa itu. Tidak ada lagi agama, tidak ada lagi makan dan minum, tidak ada lagi nafsu syahwat, tidak ada lagi ikatan keluarga.
Iklan

Read Full Post »

DZAT ADALAH CIPTAAN PERTAMA

Anakku yang disayangi lagi dirindui, semasa Allah swt berfirman, “Kun”, maka memancarlah pertamakali cahaya ataupun wajah. Dan wajah inilah yang dinamakan Dzat.

Anakku, Dzat inilah ciptaan yang awal yang menjadi Wujud yang Wajib (Wajibul Wujud) kepada kesemua ciptaan yang lain yang dinamakan Mungkinul Wujud (wujud yang mungkin).

Karena kesemua ciptaan yang lain terzahir daripada Dzat, ini juga bermakna Dzat adalah Hakikat segala ciptaan.

Apabila terzahirnya ciptaan daripada Dzat, maka berupalah atau bersifatlah ciptaan itu, sehingga dipanggil sebagai Sifat.

Maka kesemua ciptaan itu adalah Sifat, sedangkan Dzat adalah Hakikatnya.

Seperti yang telah dikatakan bahwa Dzat adalah ciptaan pertama yang terzahir, namun Dzat ini mengikut Rasulullah saw, hanyalah selaput atau sebesar sebiji sawi kepada Allah swt. Ini berarti bahwa Dzat ini tercipta dari hanya sedikit Diri Allah swt.

Ini juga bermakna bahwa disebalik Dzat, atau Hakikat segala ciptaan yang lain (yang dinamakan “Sifat”), adalah Allah swt. Karena tidak bercerai ekor gajah dengan gajah.

Pengenalan ini yang dinamakan “Makrifatullah”. Prof Aboebakar Atjeh berkata bahwa Hakikat membawa kepada Makrifat.

Untuk menerangkan kesinambungan daripada Sifat kepada Hakikat, Kita bisa merujuk kepada firman Allah swt (yang bermaksud) bahwa apabila kesemua ciptaan dibinasakan yang tinggal adalah DzatKu. Maknanya apabila kesemua kewujudan Sifat atau ciptaan dinafikan atau dibinasakan yang tinggal adalah Dzat. Ini juga bisa dikatakan “Nafi-Isbat” iaitu Kita nafikan Sifat atau Ciptaan dan Kita isbatkan Hakikat atau Dzat.

Lalu, untuk merujuk kepada sinambungan Hakikat kepada Makrifat, Kita bisa merujuk kepada Hadith Rasulullah saw yang bermaksud bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Indah. Maknanya, apabila Kita nafikan kewujudan Dzat (Hakikat), maka disebaliknya adalah Allah swt (Makrifat). Ia juga bisa diartikan bahwa Dzat yang sungguh-sungguh Indah itu datang dari Allah swt.

Maka bolehlah disimpulkan bahwa Allah swt tetap Pencipta dan Dzat tetap ciptaan walaupun Dzat adalah yang awal yang terzahir daripada sedikit Diri Allah swt.

Maka wajah yang dikatakan itu bukanlah Nur Muhammad. Karena wajah ataupun Dzat adalah ciptaan walaupun ianya adalah ciptaan yang pertama. Sedangkan Nur Muhammad, seperti diterangkan oleh mereka yang berfahaman ini, adalah sebahagian dari Allah swt, dan tidak berbeda Muhammad dengan Allah. Iaitu “Ahmad” (nama Rasulullah saw dilangit sebelum dilahirkan) dibuang “m” menjadi “Ahad” (Allah yang Satu).

Dan juga firman Allah swt yang bermaksud bahwa, apabila kesemua ciptaan (Sifat) binasa yang tinggal adalah Dzatku (bukan Nur Muhammad).

Serta Hadith Rasulullah saw yang bermaksud, ” Demi diriku dalam genggaman Dzat” bukan “dalam genggaman Nurku”

Rio Benny Arya:
Terimakasih ustadz. Semakin menjelaskan duduk perkaranya.

Dahulu sebagian orang. Masih bingung, adakah dzat itu diciptakan juga? Terutama pertanyaan2 dari web. Sekarang semakin jelas bahwa dzat itulah ciptaan pertama.
TIRAI NUR
Anakku, Ayah mau menyentuh berkenaan dengan Tirai Nur

Menurut Rasulullah saw ada 70 Tirai Nur yang menyelubungi Loh Mahfuz dari Dzat yang di luar. Sekiranya terangkat Tirai Nur ini, maka siapa saja terpandang Dzat yang di luar pastilah ia binasa.

Untuk memahami Hadith ini, lihat kepada susunan di bawah ini:

1. Kalau terangkat Tirai ini, siapa (dalam Loh Mahfuz) terpandang Dzat yang di luar pastilah ia binasa. Jelas dari penerangan ini, bahwa Tirai Nur dijadikan oleh Allah swt khusus untuk melindungi Loh Mahfuz (termasuk semua yang di dalamnya) dari Dzat diluar yang membinasakan. Oleh sebab itu, walaupun Dzat ada di belakang Tirai Nur ini, namun Tirai Nur ini tidak binasa.

2. Siapa terpandang Dzat di belakang Tirai Nur (apabila ia terangkat) pastilah ia binasa.

Pertanyaannya adalah: apakah di luar Tirai Nur itu, semuanya adalah Dzat?

Untuk menjawab pertanyaan ini, harap ikuti penjelasan di bawah ini:

1. Dalam Surah An Nur 35, “… di dalam sebuah Lobang yang tidak tembus, ataupun bekas, itu ada Minyak Zaitun yang bercahaya…”. Minyak Zaitun ini adalah (kiasan untuk) Dzat. Maka Dzat yang di dalam bekas itu, bagian tengahnya terzahir menjadi Loh Mahfuz (Pelita) yang diselubungi oleh Tirai Nur (Kaca yang bersinar seperti bintang).

2. Contoh, apabila Kalian tekan plastercine dengan tangan Kalian, maka akan ada bekas di plastercine itu. Sesudah itu, kalian taruh air setengah penuh ke dalam bekas itu. Lalu apa yang terjadi?. Pertengahan air itu mengeras menjadi AIS (ES) dikelilingi oleh air yang belum menjadi AIS (ES) di dalam bekas itu.

Di sini:
(i) Bekas itu adalah Lobang yang tidak tembus,
(ii) Air itu adalah Minyak Zaitun ataupun Dzat,
(iii) Dan AIS (ES) itu adalah penzahiran Dzat yang menjadi:
a. Loh Mahfuz (Pelita) dan
b. Tirai Nur (Kaca).

3. Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa Dzat yang di luar yang dimaksudkan adalah Dzat yang di luar Tirai Nur tetapi masih di dalam bekas.
Rio Benny Arya:
Assalamualaikum ustadz, mohon izin menyampaikan pertanyaan dari Web Yamas

*Deddy Firmansyah*
Ustadz, 70 tirai nur itu pernah terbuka/tersingkap sekali pada saat dan di masa Nabi Musa As.
Begitukah kemungkinannya ustadz…?!. Seandainya memang benar bahwa Tirai Nur dahulu di jaman Nabi Musa pernah tersingkap, kenapa yang hancur mesti gunung sinai dan yang pingsan Nabi Musa AS saja. Bagaimana dengan makhluk lain di sekitarnya, apakah ikut hancur juga pada masa itu… Ustadz…??!!.

Utd Hussien Abdul Latiff:

1. Yang terbuka hanya SEDIKIT Tirai Nur yang Pertama. Bukan kesemua 70 Tirai.

Harus diingat, Rasulullah saw melihat ahli syurga dan Neraka. Bagaimana ini bisa terjadi?. Padahal belum ada Kiamat dan Hari Hisab. Jawabannya ialah Rasulullah saw melihat GAMBARAN. Oleh sebab itu ada para Saintis berkefahaman bahwa kewujudan ini adalah gambaran 2-D, iaitu melekat kepada sesuatu.

Sehubungan dengan ini, Kewujudan ini melekat kepada Loh Mahfuz. Di belakang Loh Mahfuz adalah Tirai Nur dan dibelakangnya adalah Dzat yang di luar.

Contoh, gambar atau foto itu terzahir dari kertas putih. Kalau hilangkan sedikit akan gambar itu, maka di tempat yang sedikit itu akan terlihat adanya sedikit kertas putih. Inilah sedikit dari kesemua kertas putih disebalik gambar itu. Maka kalau kertas putih itu adalah Tirai Pertama maka Allah swt hanya perlu menghilangkan sedikit gambaran kewujudan di Bukit Thursina untuk memperlihatkan Tirai Nur Pertama disebaliknya.

2. Ada firman Allah swt berkenaan Bukit Thursina ini di angkat di atas Nabi Musa as dan Nabi Musa as di suruh melihat ke arah Bukit Thursina. Juga ada firman menunjukkan Nabi Musa as turun di waktu Malam setelah mendapat wahyu daripada Allah swt. Dan telah dikatakan bahwa muka Nabi Musa as bercahaya hebat semasa turun waktu malam itu sesudah menerima wahyu itu.

Maka jelas Bukit Thursina ini (i) tinggi dan (ii) jauh daripada Nabi Musa as. Karena itu dia disuruh melihat kearah Bukit ini sebelum Tirai Nur Pertama tajjali. Lalu dia pingsan, namun Bukit itu dan apa juga yang ada di Bukit itu hancur luluh.
Anakku, ayah akan sambung lagi berkenaan Tirai Nur.

Serentak dengan Allah swt berfirman “Kun” terjadi:

1. Satu bebola cahaya (wajah) yang boleh membakar siapa yang terpandang akannya.

2. Bebola cahaya ini dipanggil Dzat.

3. Dzat ini tertangkup dalam satu lobang kecil yang tidak tembus atau tidak ada pintu keluar. Kecil, sekecil sebiji sawi mengikut Rasulullah saw. Kecil, lebih kecil dari sebiji pasir mengikut Nabi Isa as dan kecil, lebih kecil dari zarrah (atom) mengikut Sains.

4. Dzat ini walaupun bercahaya yang membinasakan sesiapa terpandang akannya. Namun dalam perut Dzat ini terzahir:

a. 70 Tirai Nur.

b. Loh Mahfuz.

Tirai Nur ini adalah terzahir di dalam perut Dzat. Oleh sebab itu, Dzat yang di luar menjadi batinnya. Maksudnya, Dzat yang di dalam terzahir menjadi Tirai Nur, oleh karena itu Dzat yang di luar menjadi batinnya.

Selain dari terzahirnya di dalam perut Dzat ini menjadi Tirai Nur, juga terzahir Loh Mahfuz (Pelan Induk)

Tirai Nur menangkup keseluruhan Loh Mahfuz, oleh kerena itu Tirai ur ini melindungi Loh Mahfuz dari Dzat yang di luar yang membinasakan sesiapa yang memandangnya.

5. Dzat ini juga yang menjadi awal Dan akhir dari ciptaan. Sesuai dengan Hadith bahwa engkaulah Dzat mendahulukan dan mengakhirkan. Seiring dengan firmanNya,”Inna lillahi wainna ilaihi rajiun!”

6. Dzat ini juga menjadi wajibul wujud kpd kesemua ciptaan.
Apa yang Ayah ingin tekankan adalah bahwa:

1. Tidak bercerai Dzat yang terzahir menjadi Tirai Nur dengan Dzat yang di luar yang menjadi batin dari Tirai Nur.

2. Loh Mahfuz adalah Pelan Induk yang melekat kepada Tirai Nur (2 dimensi).

3. Selagi Tirai Nur tidak terbuka, maka selamatlah Loh Mahfuz dari Dzat yang di luar yang menangkup Tirai Nur itu.
Mohd Zain Othman:
Assalamualaikum Ustadz. Berhubungkait dengan Tirai Nur yang baru saja ustaz uraikan, izinkan saya menyampaikan apa yang saya fahami tentang perkara itu, untuk diperbetulkan.

Serentak dengan Allah berfirman ‘Kun’ maka sedikit dari diri Allah, tak sampai sebesar zarah atau sebiji pasir telah terzahir dari Diri Allah, menjadi Dzat Yang Wajibul Wujud. Dan di dalam Dzat ini, yang kedudukannya tidak terkeluar dari tempat kelahirannya, yaitu di lubang atau bekas yang tidak tembus di dalam Diri Allah itu sendiri, ini saya katakan karena Allah itu senditi Maha Besar Maha Luas Maha Tinggi (tidak bertepi). Dengan lain2 perkataan LM itu sendiri berada di dalam diri Allah itu sendiri ( pendapat saya). Di sini saya ingin bertanya ustaz, apakah LM Tirai Nur, Air, dan Arash itu juga melekat pada Dzat Wajibul Wujudc( ciptaan awal apabila Allah berfirman ‘ Kun’. Sekian terima kasih kepada ustaz karena sudi membetulkan.
Utd Hussien Abdul Latiff:
Alhamdulillah, semua Mungkinul Wujud melekat kepada hakikatnya yang Wajibul Wujud iaitu Dzat.
Rio Benny Arya:
Ustadz, Kekata “kun” itu juga melekat kepada Dzat. Begitukah ustadz? Karena kalimat KUN ada di dalam Loh Mahfuz. Betulkah ustadz?
Utd Hussien Abdul Latiff:

SERENTAK dengan Firman “Kun”, maka terciptalah:

1. Dzat yang Wajibul Wujud.

2. Loh Mahfuz, iaitu pelan induk Allah swt yang termasuk di dalamnya Tirai Nur, perkataan “Kun”, dan lain-lain ciptaan yang Mungkinul Wujud. Harus diingat bahwa LM adalah Pelan Induk Allah swt untuk kesemua ciptaanNya yang Mungkinul Wujud.

Penganut Kristian berkata bahwa perkataan “Kun” adalah sebagian dari Tuhan. Mereka berkata bahwa Pertama ada perkataan (Kun), perkataan ini ada bersama Tuhan dan perkataan menjadi (sebahagian) Tuhan. Ini tidak benar karena Rasulullah saw ada bersabda bahwa Dzat-lah yang mendahulukan dan Dzat-lah mengakhirkan.

Maka jawapan kepada pertanyaan sahabat Rio ialah: Perkataan “Kun” itu berada di dalam LM bukan melekat kepada Dzat. Yang melekat kepada Dzat ialah LM.

Rio Benny Arya:
Alhamdulillah. Clear ustadz. Kun di dalam LM. LM melekat pada dzat.

Mohd Zain Othman:
Assalamualaikum ustaz dan keluarga semuga sehat walafiat dan di barkati Allah. Izinkan saya membuka persoalan pada awal pagi ini dengan pertanyaan:

Apakah maksud ‘melekat’ itu sama dengan “tiada bercerai” seperti tiada bercerai sifat dengan dzat wajibul wujud seterusnya tiada bercerai dengan dzat Yang Maha Indah atau tiada bercerai “mungkinul wujud dengan wajibul wujud” dan seterusnya. Mohon pencerahan ustaz, terima kasih.

Utd Hussien Abdul Latiff:
Benar, sahabatku Hj Zain
Anakku, apabila terzahir (berbunyi) perkataan “Kun” di dalam Pelan Induk Ilahi (Loh Mahfuz) maka karena pada ketika itu belum ada Masa lagi maka serentak dengan itu terjadi:

1. Lobang yang tidak tembus.
2. Dzat di dalam Lobang itu.
3. Terzahir Tirai Nur.
4. Terzahir Loh Mahfuz.
5. Berbunyi perkataan, “Kun” di dalam Loh Mahfuz.

Sesudah itu Allah swt memasukkan Tirai Nur dan Loh Mahfuz ke dalam enam Masa (atau Fasa). Mengikut Sains, 6 Masa ini adalah 12 biliun tahun, iaitu satu Masa sama dengan 2 biliun tahun.

Kiamat Pertama berlaku pada Masa kelima, iaitu Masa 10 biliun tahun apabila matahari gering.

Kiamat kedua berlaku pada akhir Masa keenam apabila Tirai Nur terlerai (terbuka), dan Dzat yang luar lalu membinasakan Tirai Nur serta Loh Mahfuz. Melainkan jika Allah swt menghendaki yang lain.

Pada Kiamat kedua, Dzat akan hilang, begitu juga lobang yang ada akan tertutup. Walhasil, yang tinggal hanyalah Allah swt yang Tunggal, yang tiada diketahui lagi dan tiada dikenali.

Read Full Post »

Fulan-3: “Saya saat ini sedang bersama KH Fulan-1 dan bersama dengan Lurah desa Lebak Wangi Bapak Fulan-2″.
Fulan-3: “Barangkali ada pesan Mbah yang ingin disampaikan untuk para Santri”.
KH Fulan-1: “Ya pasti, saya sampaikan supaya bisa Santri-santri, itu ya ikut Kiyai”
“Jadi ini Pak Fulan-2 orang Dukuh dan Islam”
“Dan saya yakin ini akan menjadi besarnya Islam”
“Dan besarnya kemakmuran Desa”
Fulan-3: “Jadi bagaimana saat ini petunjuk, bagaimana santri untuk Pilkades mendatang Mbah?,
KH Fulan-1: “Ya harus ikut saya”
Fulan-3: “Kepada Pak Fulan-2?”
KH Fulan-1: “Ya Pak Fulan-2, siapa lagi?. Yang bersama saya, ya Pak Fulan-2 ini”
Fulan-3: “Mohon Doa Restunya Mbah”
“Terima Kasih Mbah”
“Terimakasih Pak Lurah”
Fulan-2: Terseyum senang
Fulan-3: Merasa puas
KH Fulan-1: Tersenyum penuh Makna…

Bahasa tingkat tinggi seperti ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Pada suatu kali diceritakan ada seorang laki-laki berlari dengan cepat melintasi Rasul saw. Tidak lama kemudian ada seorang laki-laki lain sambil membawa pedang yang terhunus seperti ingin membunuh seseorang yang ingin diburunya.

Begitu orang yang mengejar ini berhadapan dengan Rasul saw ia pun berkata, “Wahai Muhammad, apakah anda selama berdiri di sini pernah melihat orang lewat?”

Bisa dibayangkan dalam kondisi seperti ini Nabi dihadapkan oleh dua pilihan, pertama dia berbohong untuk menyelamatkan seseorang yang kabur hendak dibunuh, atau dia jujur memberitahukan keberadaan lelaki itu. Jika Beliau jujur apa adanya, maka  akan terjadilah pembunuhan atas orang yang belum tentu bersalah.

Dalam kondisi seperti ini, Rasul saw langsung mempunyai solusi yang sangat jitu. Bahwa dikisahkan Beliau yang tadinya berdiri di tempat awal, kemudian Beliau bergeser selangkah kebelakang dari tempat berdiri Beliau itu. Kemudian Beliau berkata: “Wallahi, demi Allah. Selama saya berdiri di sini (ditempat yang baru), saya tidak pernah melihat seorang pun lewat kecuali anda.”…

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: