Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2019

AKTIFASI RUH – 31

q-e) Naik-Serah-Tunggu (NST).

Ketika kita menghadapi masalah yang sangat berat di dalam hidup kita, karena kita sudah punya Base camp, maka kita segera Naik ke Base Camp. Lalu kita sampaikan dan serahkan segala permasalahan kita itu kepada Allah Swt. Kita balik dan datang kepada Allah. Kita rujuk (irji’i) kepada Allah untuk memohon pertolongan Allah bagi penyelesaian Permasalah berat yang sedang kita alami. Dari Base Camp itu, memancarlah permohonan kita kepada Allah Swt itu seperti pancaran gelombang komunikasi pada sebuah antena telekomunikasi. Lalu setelah itu kit aberdiam diri menunggu pertolongan Allah Swt.

Dengan begitu maka kita bebaskan Pikiran kita dari permasalahan itu. Kita tidak memikirkan masalah kita itu. Karena kita mau mencari jawabannya dimanapun di dalam Pikiran kita, solusi dari permasalahan itu tidak akan bisa kita temukan. Begitu juga; kita bertanya kenapa…, kenapa…; atau kita berandai-andai, seandainya…, kalau…; atau kita merungut dan bersungut-sungut, semuanya itu tetap tidak akan menyelesaikan masalah kita itu. Sebab masalah yang kita hadapai itu berada dalam SATU RANTAI sebab dan akibat yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt sejak dari Firman Kun. Kita hanya menunggu solusi-solusi itu dihantar kepada kita.

Artinya, bersamaan dengan masalah yang kita hadapi itu, sebenarnya sudah ada pula solusi-solusinya yang menyertainya. Kita tidak pelu memikirkannya. Kita hanya perlu Naik ke Base Camp, lalu serahkan permasalah kita itu kepada Allah Swt, kemudian kita TUNGGU jawaban-jawaban yang telah disiapkan oleh Allah Swt untuk menyelesaikan permasalah kita itu.

Inilah yang disebut dengan NST, yaitu Naik…, Serah…, dan Tunggu…!, atau DOA dalam istilah sehari-hari. Tetapi kita berdoa seperti kita sedang berada dalam sebuah keadaan yang sangat mengancam keselamatan jiwa kita sendiri, misalnya seperti saat kita berada di dalam sebuah perahu yang akan tenggelam dan kita tidak bisa berenang untuk menyelamatkan diri.

Solusi dari permasalahan itu bisa dihantarkan Allah Swt melalui ILHAM ke dalam Pikiran kita sendiri untuk kemudian kita laksanakan. Atau solusinya itu bisa pula dihantarkan Allah Swt kepada kita melalui orang lain, dan orang lain itulah kemudian yang akan membantu kita agar kita bisa keluar dari permasalahan kita itu. Atau bisa pula mengikuti perputaran waktu, pada hari “H”, masalah kita itu selesai dengan sendirinya.

Akan tetapi bagi orang-orang Allah, para ahli sufi dalam tasawuf jalan Nabi-Nabi, segala doa yang mereka mohonkan itupun mereka sudah paham pula bahwa mereka sebenarnya hanya KENA untuk BERDOA saja. Sebab permasalahn yang mereka hadapi itu, lalu berdoanya mereka, dan kemudian datangnya solusi dari permasalah mereka itu, semunya itu merupakan sebuah rangkaian yang SUDAH direncanakan oleh Allah Swt sejak Firman Kun. Semua itu SUDAH TERENCANA dengan sangat matang dan sempurna di Lauhul Mahfuz (LM). Waktu akan mengantarkan rencana-rencana itu untuk terzahir pada saatnya. LM terzahir menjadi permasalahan mereka, lalu terzahir menjadi doa mereka, dan kemudian terzahir menjadi solusi dari permasalahan mereka itu. Jadi mereka tidak pernah membusungkan dada bahwa doa-doa merekalah yang dikabulkan oleh Allah Swt. Dengan begitu, maka penghormatan mereka kepada Allah Swt tidak tercederai sedikitpun. Mereka sungguh menghormati Allah Swt dengan penghormatan yang sebenarnya penghormatan…

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 30

q-d) Base Camp.

Base camp adalah istilah yang dipakai oleh orang-orang yang sedang mendaki gunung. Ia adalah sebuah tempat berhenti sementara bagi para pendaki gunung sebelum mereka meneruskan perjalananannya naik kepuncak gunung. Di base camp ini para pendaki beristirahat sejenak, menyiapkan diri dengan berbagai keperluan pendakian sambil menunggu cuaca yang mendukung atau memudahkan mereka untuk naik ke puncak gunung. Jadi disini sudah tidak ada lagi aktifitas pendakian, kecuali hanya menunggu “panggilan cuaca” untuk bisa kembali naik mendaki ke puncak gunung. Sebab seperti kalau mendaki pegunungan Himalaya, puncak gunung itu sangatlah berbahaya, ia penuh dengan lembah dan bukit yang terjal, cuacanya sangat dingin dan tidak bersahabat. Kalau salah-salah mendaki pada saat cuaca yang tidak bersahabat itu, maka nyawa pendakinyalah yang akan menjadi taruhannya.

Nah…, dalam tradisi Dzikrullah yang diajarkan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff, istilah Base Camp ini juga dipakai untuk menggambarkan bagaimana keadaan Pikiran kita ketika kita mengingat Allah Swt. Ingatan kita kepada Allah Swt itu memang bisa hanya sampai berada di dalam kepala kita saja. Akan tetapi ingatan kita kepada Allah itu bisa pula kita naikkan “sejengkal, atau sehasta, atau sedepa” diatas ubun-ubun kita. Dasar dari keadaan ini adalah:

“… Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari…”

Caranya adalah, dalam keadaan Bilik Khalwat kita sudah terbentuk, atau kita sudah bisa merasakan bahwa kita seperti sedang berada di dalam Taman Larangan di Pekarangan Istana Raja, yang ciri-cirinya adalah Pikiran kita sudah padat dan pejal karena berisikan satu ingatan saja, yaitu ingatan kepada Allah Swt, lalu Pikiran kita itu kita dorong sejengkal naik keatas ubun-ubun kita. Dengan begitu maka Pikiran kita seakan-akan sudah terkeluar dari dalam kepala kita. Ingatan kita kepada Allah Swt itu menjadi begitu tajam dan fokus.

Keadaan pikiran kita saat itu itu sangat mirip dengan keadaan pikiran kita ketika kita sedang berdoa kepada Allah Swt saat kita menghadapi bahaya yang sangat mengancam diri kita dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi tanpa kita sadari Base Camp ini bisa terbentuk ketika kita berada dalam bahaya atau penderitaan yang mengancam keselamatan diri kita. Akan tetapi karena kita tidak tahu manfaatnya, maka setelah bahaya itu hilang, base camp kita itupun kembali hilang pula. Lalu kita kembali seperti biasa, tidak bisa istiqamah dalam mengingat Allah Swt. Kita sudah tidak punya base camp lagi, sehingga saat kita berdoa berikut-berikutnya, kita pun hanya sekedar membaca doa saja. Seperti “nyerosos” dan asal saja.

Nah…, dalam dzikrullah jalan Nabi-Nabi, Base Camp ini adalah tempat kita beristirahat sementara sebelum kita “digeret naik” kepuncak gunung Spiritual yang lebih lanjut. Hanya sampai disini sajalah yang bisa kita lakukan. Karena puncak gunung spiritual selanjutnya kita tidak ketahui keadaaanya. Rasulullah Saw saja, saat Mikraj dituntun oleh Malaikat Jibril dalam memasuki Alam Rohani.

Sebab kalau kita lanjutkan naik dengan upaya kita sendiri, maka kita akan naik dengan penuh lamunan. Kita akan terpengaruh dengan bahan bacaan yang pernah kita baca, atau cerita-cerita yang pernah kita dengar, atau film-film yang pernah kita tonton. Lamunan-lamunan seperti inilah yang sangat disukai oleh Syaitan. Karena syaitan akan menambah-nambahi lamunan kita itu dengan menyusupkan pikiran-pikiran tentang alam yang penuh dengan khayalan. Alam yang seakan-akan penuh dengan tuah dan sakti. Lalu tiba-tiba saja kita sudah menjadi pribadi yang sangat hebat, yang bisa ini, bisa itu, tahu ini, tahu itu.

Akan tetapi, bagi orang-orang yang menerapkan tradisi Tasawuf jalan Nabi-Nabi, base camp ini adalah tempat dimana kita menunggu dengan sabar Allah Swt menyeret kita naik meniti jalur puncak alam spiritual yang akan dianugerahkan oleh Allah Swt kepada kita sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas kita sendiri.

Di base camp ini kita menyibukkan diri dengan hal-hal seperti berikut ini:

• Kita PENUHI Minda atau Pikiran kita dengan INGATAN KEPADA ALLAH SWT. Artinya kita tidak membiarkan Pikiran kita KOSONG TANPA PENGHUNI atau kita tidak membiarkan Pikiran kita PENUH DIISI oleh Pemikiran-Pemikiran, Khayalan-Khayalan, Chatting atau bisikan-bisikan yang saling bersahutan di dalam Pikiran kita. Keadaan-keadaan dari Pikiran ini butuh penjelasan lebih lanjut seperti berikut ini:

Jadi Pikiran atau Minda kita bisa berada dalam DUA keadaan, yaitu
i. Berada dalam keadaan BERISI PENUH dengan Penghuni, atau
ii. Berada dalam keadaan KOSONG tanpa penghuni.

Pikiran kita bisa berada dalam keadaan PENUH dengan berisikan BERBAGAI penghuni berupa Pemikiran-pemikiran, atau PENUH dengan hanya berisikan SATU penghuni saja berupa Ingatan yang terus menerus kepada sesuatu Objek Pikir tertentu. Ketika Pikiran kita penuh dengan berbagai Pemikiran, maka di dalam Pikiran kita itu akan terbentuk atau tergambar berbagai rupa dan umpama. Lalu berbagai pemikiran itu akan memberati dan menawan kita agar kita memberikan perhatian penuh kepada mereka. Dari sinilah kemudian muncul berbagai permasalahan hidup kita yang tak kunjung selesai.

Makanya banyak orang yang berusaha untuk MENGOSONGKAN PIKIRAN mereka dari berbagai Pemikiran atau rupa dan umpama itu. Sebutlah Meditasi, ucapan-ucapan dzikir dalam tradisi tarekat, prosesi Suluk para Salikun, Merasakan rasa sakit, menyiksa diri dalam cuaca atau lingkungan ekstrim, mengamati lintasan-lintasan pemikiran yang datang dan pergi di dalam Pikiran, semua itu hanyalah sedikit dari sekian banyaknya metoda-metoda yang ada untuk mengosongkan Pikiran itu.

Akan tetapi dengan berbagai metoda tersebut, sebenarnya Pikiran kita tidak menjadi kosong sama sekali. Paling tidak, pikiran kita akan diisi oleh Pemikiran terakhir yang setelah itu tidak ada lagi yang bisa kita Pikirkan. Orang menyebut titik ini, dimana setelah itu tidak ada lagi yang bisa dipikirkan, sebagai TITIK NOL. Yaitu suatu keadaan dimana setelah itu tidak ada lagi Pemikiran, atau tidak ada lagi Objek Pikir yang bisa dipikirkan. Inilah sebuah PUNCAK pencapaian yang sangat dicari-cari dan ditunggu-tunggu oleh para pelaku meditasi dan berbagai tradisi olah pikiran diatas. Karena pada keadaan puncak itu, Pikiran mereka seakan-akan sudah menjadi KOSONG, Pikiran atau Minda mereka menjadi HENING dan DIAM.

Kemudian mereka merasakan bahwa mereka seakan bisa BERSATU dengan keheningan, kediaman, dan kekosongan itu. Mereka merasa bahwa mereka sendirilah yang duduk diam di dalam kekosong dan kehening itu. Karena mereka memang merasa bahwa hanya mereka sendirilah yang ADA saat itu. Pikiran mereka seperti tanpa penghuni lagi, kecuali hanya perasaan tentang keberadaan diri mereka sendiri. Diri yang sedang MENGAMATI keadaan mereka sendiri yang kosong dan hening.

Lama kelamaan mereka akan merasa bahwa seakan-akan diri mereka adalah abadi, diri yang tanpa batas, diri yang berlimpah dengan berbagai kekuatan. Dan dari sini pulalah kemudian muncul perasaan menjadi berkuasa, perasaan seperti menjadi Tuhan, Goddess (dewa-dewi), keilahian, batara, orang suci, dan sebagainya. Karena Pikiran yang sedang kosong tanpa penghuni seperti ini, kecuali penghuninya adalah perasaan mereka sendiri, akan menangkap dengan kuat sinyal was-wis dari syaitan yang akan mengajarkan mereka untuk merasa menjadi semakin wujud dan semakin berkuasa. Diri yang tidak perlu lagi beribadah dan minta pertolongan, walau kepada Allah Swt sekalipun.

Hal yang seperti ini jarang atau bahkan tidak akan terjadi pada orang-orang Allah yang mengikuti tradisi TASAWUF JALAN NABI-NABI. Karena untuk mengosongkan Pikiran mereka dari berbagai rupa dan umpama, mereka cukup hanya MEMENUHI Pikiran mereka dengan SATU INGATAN saja, yaitu Ingatan kepada Allah Swt (Dzikrullah). Ya…, Pikiran mereka dipenuhi dengan Ingatan Kepada Allah Swt.

Hal seperti ini bisa terjadi, karena memang sebelum mereka melakukan ibadah-ibadah dalam keseharian, mereka terlebih dahulu sudah membekali diri mereka dengan ILMU Makrifatullah (Pengenalan kepada Allah Swt). Yaitu Ilmu yang membawa mereka kepada Keyakinan (Ilmul Yakin) bahwa “Sebelum ada apa-apa hanya Allah Swt saja Yang Ada. Tidak ada sesuatu apapun yang bersama-Nya”. Oleh sebab itu, tiada sesiapa yang bisa menjelaskan tentang Dia. Misalnya, seperti apa Dia, seumpama apa Dia, serupa apa Dia. Sungguh, tidak ada yang akan bisa menjelaskan semua itu. Karena memang Dia adalah ibarat sebuah Rahasia yang berada dalam Kerahasia yang Teramat Rahasia.

Oleh sebab itu ketika orang-orang Allah Swt mengingat Allah Swt baik di dalam ibadah-ibadah mereka maupun di dalam kehidupan keseharian mereka, maka Pikiran mereka segera saja menjadi KOSONG dari berbagai RUPA dan UMPAMA. Akan tetapi, walaupun Pikiran mereka itu kosong dari berbagai rupa dan umpama, namun Pikiran mereka itu DIPENUHI dengan INGATAN kepada Allah Swt. Ya…, Pikiran mereka hanya DIISI dan DIPENUHI oleh Ingatan kepada Allah Swt. Sehingga Allah Swt berkenan untuk MENJAGA dan MELINDUNGI Pikiran mereka itu dari berbagai marabahaya.

• Kalau ada muncul Pemikiran-pemikiran ke dalam Pikiran mereka, maka kita tinggal isikan kembali Pikiran kita dengan Ingatan kepada Allah, atau bisa pula kita membersihkan Pikiran kita dengan membaca surat Al Ikhlas beberapa kali di dalam Pikiran kita (tanpa bersuara). Dan dengan sangat mengherankan Pikiran kita itu bisa bersih kembali dan dipenuhi pula dengan Ingatan kepada Allah Swt.
• Lama kelamaan Minda atau Pikiran kita yang sudah ingat kepada Allah Swt akan mencapai taraf baru, yaitu taraf MINDA yang TERJAGA. Ciri-cirinya adalah, dalam beribadah kita menjadi tidak “NGANTUKAN”, seperti tidak ngantuknya kita ketika kita sedang menonton pertandingan sepak bola, atau sedang memancing ikan selama berjam-jam. Artinya, kesadaran kita akan terjaga terus dalam waktu yang lama.
• Kita bisa sampai pada Taraf Pikiran yang TERJAGA ini, akan memberikan dampak pula bagi ibadah kita. Dimana kita akan menjadi sangat mudah untuk bangun di sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud. Dan setelah itu bisa pula kita lanjutkan kembali dengan Dzikrullah atau membaca Al Quran sampai waktu subuh. Semua itu bisa kita lakukan dengan mudah dan tanpa terasa mengantuk sedikitpun. Setelah shalat subuhpun kita bisa melanjutkan kembali dengan Dzikrullah sampai waktu terbitnya matahari, atau kita bisa pula istirahat tidur sejenak. Akan tetapi istirahat itupun kita lakukan karena tubuh kita yang sudah memberikan ISYARAT agar kita tidur untuk beristirahat.
• Sekarang dapatlah digambarkan apa yang disebut sebagai Base Camp dalam Tradisi Dzikrullah Tasawuf Jalan Nabi-Nabi yang diajarkan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff, yaitu:

i. Pikiran kita sudah DIPENUHI dengan hanya Ingatan Kepada Allah Swt.
ii. Pikiran kita sudah mencapai TARAF TERJAGA.
iii. Pikiran kita sudah bisa kita naikkan paling tidak SEJENGKAL diatas Ubun-Ubun.

Maka dalam keadaan seperti ini, Pikiran kita seakan-akan sudah berubah menjadi sebuah Antena Telekomunikasi yang SELALU memancarkan Gelombang Ingatan kita kepada Allah Swt secara terus menerus. Dan…, begitu Allah Swt menyambut dan membalas Ingatan kita itu, maka saat itu barulah kita RESMI dilantik menjadi orang-orang Allah Swt.

Lalu Pikiran kita itu akan berubah FUNGSI menjadi sebuah LINK (saluran) atau VPN (Virtual Private Network) yang di dalamnya terjadi lalu lintas Komunikasi Khusus antara orang-orang Allah dengan Allah Swt. Inilah makna sebenarnya dari FADZKURINI…, ADZKURKUM. Jadi bukan ingat sembarang ingat, tetapi ingat yang sudah berbalas dengan ingat dari Allah yang berisikan komunikasi khusus yang hanya diketahui Allah Swt dan kita saja.

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 29

q-c) Bak Berada di Dalam Taman Larangan Istana Raja.

Kalau dibuat sebuah perumpaan dari keadaan di dalam bilik Khalwat ini adalah bak kita berada di dalam sebuah Taman Larangan di dalam Istana Raja.

Alhamdulilah wa syukurilah, saat ini sudah ada ilmu yang diilhamkan kepada Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff dari Singapore, yang menerangkan bahwa untuk berjumpa dengan Allah Swt sebenanrya tidak perlu menjalan-jalankan Roh seperti yang dilakukan dalam tradisi Tasawuf Jalan Wali-wali & Tarekat. Kita cukup hanya Dzikrullah atau INGAT kepada Allah SWT yang tidak serupa dan tidak seumpama, lalu setelah itu kita memberikan PERHATIAN PENUH (fokus) kepada Ingatan Allah Swt yang sedang ada di dalam Pikiran kita. Kita menjaga dengan penuh kewaspadaan agar ingatan itu tidak luntur atau digantikan oleh ingatan kita kepada anak-istri (suami) atau harta benda kita. Kalau ada ingatan lain selain Ingatan kepada Allah Swt yang masuk kedalam Pikiran kita, maka dengan segera kita tebas hal-hal yang lain itu dengan pedang tauhid yang telah kita miliki. Bahwa Allah Swt tidak serupa dan seumpama, sehingga kita kembali bisa memberikan perhatian penuh kembali kepada Allah Swt.

Memberikan perhatian penuh kepada Allah Swt yang sedang kita ingat yang kita lakukan di dalam shalat akan membuat Shalat kita itu menjadi Khusyuk. Artinya, seluruh bacaan kita, ungkapan kita, gerak tubuh kita, gerak pikiran kita, rukuk dan sujud kita, semuanya dengan penuh perhatian dan kewaspadaan hanya kita tujukan kepada Allah Swt saja. Hal seperti itu kita lakukan terus menerus sejak dari Tabiratul Ihram sampai dengan kita mengucapkan Salam, dan bahkan berlanjut terus diluar waktu-waktu shalat.

Lama kelamaan, ingatan kepada Allah Swt itu menjadi BERMASTAUTIN (permanen atau menetap) di dalam Pikiran kita. Ingatan kepada Allah Swt itu tidak mau pergi-pergi lagi dari Pikiran kita. Seakan-akan Pikiran kita hanya dihuni oleh SATU penghuni saja, yaitu Ingatan kita kepada Allah Swt. Hal seperti ini membuat kita menjadi lupa kepada yang lain; Kita menjadi buta kepada yang lain; Kita menjadi tuli kepada yang lain. Yang kita tahu hanya Allah Swt saja.
Pikiran kita menjadi lapang, bersih dan terbebas pula dari berbagai mara bahaya. Seakan akan Pikiran kita itu sudah menjadi SEBUAH TEMPAT yang sangat tepat dan nyaman untuk kita duduk BEREHAT. Pikiran kita itu telah berubah fungsi menjadi sebuah BILIK KHALWAT atau TAMAN LARANGAN Istana Raja Yang Maha Agung. Kita tidak diperkenankan untuk membawa apa-apa untuk masuk ke dalam Taman Larangan itu. Diri kita harus bersih dari berbagai atribut yang akan membuat kita terlarang untuk masuk ke dalamnya. Dan dengan patuh kita buang semua atribut atau berhala yang mungkin saja tersangkut pada diri kita. Sebab kita sudah paham bahwa walaupun kita tidak bisa melihat Sang Raja, namun kita sudah tahu bahwa Sang Raja sedang memerhatikan kita dari dalam Istananya.

Karena tempat kita duduk beristirahat itu (bilik khalwat) berada di dalam Komplek Istana Raja, maka tentu saja orang-orang yang boleh duduk di dalam taman itu hanya orang-orang yang telah DIPILIH lalu DIIJINKAN oleh Sang Raja saja untuk bisa memasuki pekarangan Istananya itu. Dan siapapun yang berada di dalam Taman Istana itu akan dijamin seluruh kebutuhannya dan dijaga keamanannya dengan sebaik-baiknya oleh Sang Raja.

Yang kita lakukan di dalam bilik khalwat itu hanyalah diam menunggu dengan penuh kesabaran atas apa-apa yang akan diberikan Sang Raja kepada kita, apa-apa tugasan yang akan diperintahkannya kepada kita, apa-apa titah Sang Raja yang akan kita junjung. Kita duduk di dalam Taman Istana Raja itu dengan penuh perhatian dan kewaspadaan kalau-kalau Sang Raja memanggil kita untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang pasti bisa kita lakukan. Karena memang Sang Raja sudah tahu persis seberapa besar kemampuan dan kapasitas diri kita untuk melaksanakan tugasan itu. Sebab Sang Raja tidak akan pernah memberikan suatu tugas kepada kita diluar batas kemampuan dan kapasitas diri kita. Bahkan agar kita bisa melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya, maka Sang Raja juga akan membekali kita dengan berbagai fasilitas, ilmu, kepahaman, alat bantu, dan sebagainya.

Sebelum kita berangkat, maka Sang Raja juga tak lupa memberikan kita sebuah “tanda pengenal” yang menandakan bahwa kita sebenarnya adalah utusan Raja yang sedang menjalankan tugas tertentu yang diperintahkan oleh Sang Raja. Tanda ini akan bisa dikenal oleh sesama utusan Sang Raja yang lainnya, yang juga mungkin sedang menjalankan tugasnya yang lain pula dari Sang Raja. Kalau kita yang sesama utusan Sang Raja ini saling bertemu, maka kita hanya saling tersenyum saja untuk kemudian kita saling berlalu dan berpisah untuk mengerjakan tugasan kita masing-masing.

Cuma saja, walaupun kita sebagai petugas dari Istana Raja itu banyak jumlahnya, namun tugasan pokok yang kita semua emban adalah SAMA. Yaitu untuk mengenalkan Sang Raja kepada rakyat yang berada di dalam wilayah kekuasan Sang Raja. Lalu kalau rakyat sudah percaya bahwa Sang Raja adalah raja mereka, maka barulah setelah itu kita mengajak mereka untuk menghormati Sang Raja dengan penghormatan yang sebenar-benarnya penghormatan.
Disamping kita dilengkapi dengan tanda khusus tersebut, kita juga akan dibekali oleh Sang Raja dengan FASILITAS KHUSUS untuk secepat kilat bisa kembali ke Taman Istana apabila kita menghadapi kesulitan dalam menjalankan tugas kita. Dari taman larang Istana, kita tinggal ketuk pintu Istana dengan sangat santun. Kita hanya perlu mendengar jawaban dari Sang Raja walau hanya dalam bentuk “deheman, Hm…”, atau batuk kecil saja, yang menandakan bahwa Sang Raja memang ada di dalam Istana. Bagi kita, itu saja sudah cukup. Kita tidak perlu mengharapkan Sang Raja untuk membuka pintu Istananya untuk menemui kita. Tidak perlu. Karena Sang Raja adalah Pribadi yang sangat agung. Siapapun yang terpadang kepada wajah Sang Raja akan pingsan atau bahkan bisa hangus terbakar.

Dari balik pintu Istana itu, kita tinggal sampaikan saja semua permasalahan yang kita hadapi dan alami ketika kita menjalankan tugasan yang beberapa waktu yang lalu telah diberikan Sang Raja kepada kita. Tugas kita hanyalah menyampaikan semua permasalahan kita itu kepada Sang Raja dari balik pintu Istana. Tidak ada yang lain. Setelah itu kita hanya tinggal diam menunggu jawaban dari Sang Raja atas segala permasalahan kita itu. Boleh jadi jawaban dari Sang Raja adalah berupa petunjuk untuk menyelesaikan permasalahan itu. Atau bisa pula Sang Raja tidak memberikan petunjuk apa-apa kepada kita. Akan tetapi permasalahan yang kita hadapi ditempat kita bertugas itu akan diselesaikan oleh petugas-petugas Sang Raja yang lainnya. Karena memang sampai disitulah tugasan kita yang diberikan oleh Sang Raja. Lalu orang-orang yang berada di tempat kita bertugas itu akan melihat bahwa permasalahan mereka seperti selesai dengan sendirinya. Tetapi kita sudah tahu bahwa ada petugas yang lain dari Sang Raja yang menyelesaikan permasalahan yang kita tidak sanggup menyelesaikannya itu.

Kalau Sang Raja tidak memberikan kita tugasan yang baru, maka kita tinggal duduk diam dan berehat di dalam Taman Larangan Istana Raja, namun kita tetap dalam kewaspadaan yang tinggi bahwa kita berada sangat dekat dengan Sang Raja. Selama dalam masa berehat dan penungguan itu, kita bisa melakukan eksplorasi tentang semua keindahan yang ada di dalam Taman Larangan Istana Raja itu.

Karena tempo-tempo, Sang Raja akan berkenan membukakan pintu untuk masuk ke bagian lain dari Taman Larangan itu. Dimana pada bagian itu ternyata tersimpan berbagai keindahan yang sangat sedap untuk dipandang mata dan sangat berkesan untuk di dengar telinga. Namun pada keadaan yang seperti ini pulalah sebenarnya kita sedang berada dalam keadaan yang sangat berbahaya. Karena segala keindahan dan kesedapan yang ada di dalam Taman Larangan Istana Raja itu ternyata bisa mengalihkan Ingatan dan Perhatian kita dari Sang Raja.

Dan begitu Ingatan dan Perhatian kita beralih kepada segala macam keindahan dan kesedapan yang ada di dalam Taman Larangan Istana itu, dan kita menjadi Lupa kepada Sang Raja. Hal ini akan membuat Sang Raja menjadi murka. Lalu seketika itu juga tanpa ampun kita akan diusir dari dalam taman Larangan Istana itu.

Hal seperti inilah yang sering terjadi pada PENYUSUP GELAP yang masuk ke dalam Taman Larangan Istana Raja itu dengan TANPA SENGAJA atau TANPA DIUNDANG. Mereka keasyikan memerhatikan dan bermain-main dengan segala keindahan yang ada di dalamnya. Mereka lupa bahwa Taman itu adalah Taman Larangan milik Sang Raja. Mereka lupa pada Sang Raja, sehingga Sang Rajapun akan melupakan mereka pula. Lalu mereka terperosok ke dalam berbagai jebakan yang ada di dalam Taman Larangan itu. Mereka seperti berjalan di dalam lorong-lorong yang rumit dan tidak beraturan bersama dengan orang-orang yang tersesat lainnya. Mereka seperti berjalan di dalam sebuah LABIRIN, yang walaupun di dalamnya penuh keindahan, tetapi mereka tetap saja hanya berutar-putar ditempat yang sama tanpa mereka menemukan jalan keluarnya.

Akan tetapi, karena kita sudah Mengenal Sang Raja dengan pengenalan yang sudah tidak memberikan kita ruang sedikitpun untuk berpaling dari pada Sang Raja, maka walau bagaimanapun berlimpahnya keindahan yang ada di dalam Taman Larangan itu, namun ia tidak akan membuat kita melupakan dan memalingkan Perhatian kita dari Sang Raja. Kita dengan istiqamah tetap hanya memenuhi pikiran kita dengan ingatan kepada Allah Swt.
Perhatian kita juga kita jaga agar tidak terpalingkan kepada berbagai sandiwara yang begitu gegap gempita yang sedang tergelar diluar Taman Larangan Istana Sang Raja. Karena kita sudah tahu bahwa semua itu terjadi itu adalah atas Ijin dari Sang Raja. Dan para pelakunya juga adalah rakyat dari sang Raja sendiri.

Lama kelamaan, dalam masa rehat kita di dalam Taman Larangan Istana Sang Raja itu, kita merasakan seakan-akan kehilangan tubuh berserta keseluruhan anggota tubuh kita. Seolah-olah kita sudah berubah menjadi hanya bentuk sepuputan energi atau tenaga yang sangat halus dan tipis saja yang bisa mengingat, memahami, memerhati (melihat dan mendengar). Yaitu menjadi Roh yang sudah bisa mengingat, memahami, memerhati dengan penuh kewaspadaan menunggu kalau-kalau ada arahan yang akan di berikan oleh Sang Raja kepada kita. Kalaupun tidak, maka kitapun redha dengan segala sesuatu yang sudah Sang Raja berikan dan suguhkan kepada kita.

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 28

q-b) Bilik Khalwat.

Istilah bilik Khalwat ini kembali di perkenalkan oleh Ustadz Hussien BA Latiff untuk menggambarkan keadaan Pikiran kita ketika kita Dzikrullah (Mengingat Allah Swt). Dimana ketika kita dzikrullah itu, Pikiran kita menjadi kosong dari berbagai rupa dan umpama, kosong dari berbagai sampah dan sarap. Keadaannya seperti kita sedang berada pada tempat yang sunyi, sepi dan jauh dari keramaian. Kemanapun matahati kita memandang, maka yang terlihat oleh kita hanyalah kegelapan atau kehitaman saja. Kalau kita buka kelopak mata kita sedikit, maka kita seperti memandang keluar dari dalam sebuah gua. Kedua lobang mata kita itu tak ubahnya seperti dua buah lobang yang dari sana kita sedang “melihat dari dalam keluar”, sehingga apa-apa yang ada diluar lobang mata kita itu tidak teregistrasi di dalam pikiran kita. Inilah yang disebut padangan Matahati. Padangan yang sangat berbeda dengan pandangan mata Lahiriah.

Kalau kita memandang dengan mata lahiriah, seakan-akan apa saja yang ada diluar diri kita akan masuk ke dalam Pikiran kita. Kita seperti MENGIJINKAN semua rupa dan umpama yang ada diluar diri kita itu untuk masuk dan teregistrasi di dalam Pikiran kita. Lalu ia akan menjadi sampah dan sarap yang memenuhi Pikiran kita. Ia akan terasa membebani kita karena Ia akan meminta perhatian kita kepadanya. Sampah dan sarap itu menarik-narik kita untuk mengingat dan memperhatikannya. Ia seperti ingin menjadi diri kita sendiri. Ia ingin mendominasi Pikiran kita, perasaan kita, perhatian kita, sehingga otomatis ia pun akan mendominasi Roh kita. Roh kita akan dikuasai oleh Sampah dan Sarap itu. Roh kita akan diaktifasi oleh sampah dan Sarap itu untuk memenuhi segala keinginannya.

Dengan sampah dan sarap yang menenuhi Pikiran kita itu, walaupun kita menutup mata, ia seperti asyik saling berkata-kata di dalam Pikiran kita. ia seperti monyet-monyet yang saling ribut, saling bersahut-sahutan di dalam Pikiran kita. Kita seperti sedang berbantah-bantahan sendiri dengan diri kita, walau di dalam shalat sekalipun. Dan semua itu tentu membuat Pikiran kita menjadi tidak tenteram. Roh kita juga menjadi berkocak tidak karuan. Pikiran dan Roh yang seperti ini dipanggil dengan Jiwa yang kacau, jiwa yang tidak tenteram.

Akan tetapi kalau kita sudah berada di dalam Bilik Khalwat yang berada di dalam kepala kita, dimana di dalam Pikiran kita saat itu hanya ada satu penghuni saja, yaitu Ingatan kepada Allah Swt sehingga Pikiran kita itu bersih, lalu saat kita memandang dengan mata hati kita dari dalam keluar, maka walaupun kita sedang berada di jalan, di kantor, di pasar, ataupun ditempat-tempat yang penuh dengan keramaian dan hiruk pikuk kegiatan, kita akan bisa merasakan bahwa kita ternyata tidak terpengaruh sedikitpun dengan semua keadaan itu.

Kita seperti dengan tenang dan tenteram berada di dalam ruangan yang terletak di dalam kepala kita itu. Kalaupun kita memandang keluar, matahati kita hanya seperti memandang saja keluar melalui corong mata kita seperti kita sedang memandang dari dalam rumah keluar melalui jendela rumah kita. Walaupun diluar rumah kita cuacanya panas, hujan, berdebu, hiruk pikuk, tetapi kita tidak terpengaruh sedikitpun dengan segala keadaan diluar rumah kita itu. Kita akan merasa aman dan tenteram selama kita berada di dalam rumah kita.

Begitu jugalah keadaan yang akan kita rasakan ketika Pikiran kita sedang mengingat Allah Swt. Kita seperti sedang duduk di dalam kepala kita yang sudah bersih dari segala sampah dan sarap, baik itu dalam bentuk rupa maupun umpama. Kita seperti duduk di dalam sebuah ruangan atau gua yang gelap gulita tanpa cahaya. Seperti kita sedang berada di dalam Bilik KHALWAT. Kita hanya melihat gelap atau hitam pekat. Kita tidak terpengaruh sedikitpun dengan segala keadaan yang sedang terjadi diluar diri kita, karena kita merasa sedang berada di dalam diri kita. Walaupun kita membuka mata kita, semua yang diluar diri kita tidak masuk ke dalam Pikiran kita. Karena kita melihat dari dalam keluar, maka kita seperti tidak melihat dan tidak mendengarkan apa-apa yang ada diluar diri kita.

Abu Bakar Ash Shiddiq Ra pun keadaan Beliau seperti itu, sehingga pernah suatu kali Umar Bin Khattab Ra protes kepada Rasulullah Saw bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq Ra mendiamkan Umar Bin Khattab padahal Umar Bin Khattab ada di depan Abu Bakar Ash Shiddiq…

Kalau kita sudah bisa seperti ini, maka barulah shalat dengan membuka mata sudah tidak ada bedanya lagi dengan shalat sambil menutup mata. Biasanya kalau belum paham ini orang akan ribut terus bertanya: “shalat itu menutup mata ataukah membuka mata?. Selalu pertanyaannya begitu. Padahal shalat itu bukan masalah membuka atau menutup mata, tetapi tentang bagaimana kita bisa mengingat Allah secara terus menerus selama kita shalat itu.

Karena kita seperti berada di dalam Bilik Khalwat, dimana tidak ada sesuatu apapun yang berada di luar bilik khalwat kita itu yang menjadi Perhatian kita, yang ada didalam Pikiran kita saat itu hanyalah Ingatan Kepada Allah Swt saja, maka kita seakan-akan sedang duduk berduaan dengan Allah Swt di dalam Bilik Khalwati itu. Jadi untuk duduk berduaan dengan Allah Swt kita tidak perlu masuk hutan atau ke dalam goa-goa diperut gunung selama 40 hari seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut tradisi Tasawuf Jalan Wali-Wali & Tarekat.

Walaupun di dalam Bilik Khalwat itu gelap gulita, namun MATAHATI kita sudah sangat tajam untuk melihat bahwa dibalik gelap gulita itu ada Dzat-Nya yang tersembunyi dan menjadi batin bagi semua ciptaan. Dan dibalik Dzat-Nya itu ada Yang Maha Halus yang sedang memandang dan memerhati kita. Allah Swt pun berfirman bahwa Dialah Yang Maha Besar, dan Dialah Yang Maha Halus. Karena Yang Maha Halus itu juga adalah sebagian yang sangat kecil dari Yang Maha Besar. Artinya Allah Swt berhak untuk mengaku bahwa yang Maha Halus maupun Yang Maha Besar adalah Dia.

Akan tetapi kita sebagai ciptaan hanya diberi pengetahuan dan kepahaman tidak lebih dari yang berkenaan dengan sedikit Diri-Nya Yang Maha Halus saja. Kemanapun matahati kita memandang, yang terlihat oleh kita hanyalah Yang Maha Halus saja. Perumpamaannya adalah seperti seekor semut yang berada di dalam genggaman tangan kita. Semut itu hanya dapat melihat bagian yang sangat kecil dari diri kita. Yaitu sebatas genggaman tangan kita dimana semut itu berada.

Nah…, dari Yang Maha Halus inilah terzahir Dzat dan dari Dzat terzahirlah Sifat-sifat berupa ciptaan yang beragam. Jadi tidak mungkinlah manusia sebagai ciptaan bisa menjadi Allah Swt Yang Maha Besar seperti yang terjadi pada orang-orang yang berpahaman Wahdatul Wujud. Dimana mereka sering berkata: “akulah Allah, akulah Dia, akulah Kebenaran, dan sebagainya”. Seakan-akan mereka sudah merasa menjadi Yang Maha Besar…

Karena di dalam Bilik Khalwati itu kita berduaan dengan Allah Swt Yang Maha Bijaksana, maka tempo-tempo kita akan disuguhkan atau diperlihatkan dengan berbagai Keadaan atau Hal yang berkenaan dengan serba-serbi alam kerohanian. Kita tinggal menikmati saja suguhan itu. Kalaupun suguhan itu TIDAK ada, itupun tidak apa-apa bagi kita. Karena memang suguhan itu hanyalah peristiwa kebetulan atau insidental saja.

Bisa duduk berduaan dengan Allah Swt di dalam bilik khalwat itu, walau kadangkala hanya sebentar saja, itu sudah sangat amat berlebihan bagi kita. Itu sudah terlalu mewah bagi kita. Karena keadaan seperti ini adalah suguhan yang hanya diberikan kepada Nabi-nabi, Rasul-rasul, dan orang-orang Allah. Dimana semua mereka itu adalah Allah Swt sendiri yang memilihnya. Sedang kita ini siapalah…

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 27

q) MENGINGAT ALLAH DI BILIK KHALWAT:

Sampai kita dapat mengamalkan sembilan amalan-amalan sunnah diatas saja sudah lebih dari cukup sebenarnya. Namun pada bagian terakhir ini, kita akan coba membahas dua hal lainnya yang sangat amat bermanfaat kita amalkan ketika kita mendapat masalah hidup yang sangat berat dan ketika kita ingin berada dalam keadaan mengingat Allah yang lebih khusus dan lebih dalam. Ke dua hal ini kita lakukan dalam suasana seakan-akan kita sedang berada “Beduaan dengan Allah Swt” di dalam bilik Khalwat.

Sebab ternyata banyak pula orang yang beranggapan bahwa untuk bisa mencapai makrifatullah (pengenalan kepada Allah Swt), disamping mereka harus berdzikir menurut tradisi Tarekat tertentu, mereka juga harus mau pula melakukan tradisi MENYEPI (BERKHALWAT) di dalam hutan yang gelap selama 40 hari. Hal ini mereka lakukan seakan-akan mereka meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang juga berkhlalwat selama berhari-hari di dalam Gua Hira sebelum Beliau mendapatkan wahyu Kenabian.

Terlebih dahulu kita juga akan mengungkapkan beberapa rahasia yang berkenaan dengan SALIK yang sering dipakai oleh Tradisi Tasawuf Jalan Wali-wali & Tarekat. Kemudian kita akan tutup artikel ini dengan sebuah analogi tentang Base Camp yang digunakan oleh para pendaki gunung danTaman Larangan disebuah Istana Raja. Kedua istilah ini akan dipakai untuk menggambarkan berbagai aktifitas yang dilakukan oleh orang-orang Allah Swt sebagai penyintas Tasawuf Jalan Nabi-nabi.

q-a) Istilah SALIK dalam Tasawuf Jalan Wali-wali dan Tarekat.

• Dalam berbagai praktek Dzikrullah menurut tradisi tasawuf Jalan wali-wali & tarekat, banyak orang berpendapat bahwa Dzikrullah itu adalah sebuah aktifitas MENJALANKAN ROH untuk bisa BERTEMU dengan Allah Swt. Mereka mengatakan bahwa Perjumpaan Roh dengan Allah itu bisa mereka lakukan karena mereka juga beranggapan bahwa Roh mereka adalah MIN-RUHI, atau bagian dari Roh Allah Swt yang ditiupkan Allah Swt ke dalam tubuh mereka. Oleh karena itu, mereka mengganggap bahwa hanya Roh sajalah yang bisa berjumpa dengan Allah Swt. Lalu mereka berusaha MENJALANKAN Roh mereka dari dalam dada mereka NAIK KEATAS menuju ketidakberhinggaan. Menuju Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar.

• Karena prakteknya adalah dengan menjalankan Roh naik keatas, maka biasanya mereka akan sedikit mendongakkan kepala mereka keatas, lalu mereka seperti berusaha untuk mendorong Roh dari dalam dada mereka untuk naik keatas.

• Oleh karena Roh itu memang adalah sebentuk tenaga atau energi, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian anasir diri Adam As, maka ketika mereka mencoba untuk menekan Roh itu untuk naik keatas, memang akan terasa ada “sepuputan” energi atau tenaga yang sangat halus yang bergerak naik dari dalam dada mereka menuju ke atas kepala mereka. Kalau saat itu mulut mereka sedikit agak terbuka, maka tenaga atau energi itu mereka RASAKAN seperti bisa keluar dari kerongkongan mereka. Lalu Roh itu mereka tekan terus untuk tetap berjalan menuju Yang Maha Tinggi dan Yang Maha Besar.

• Selama mereka menjalan Roh mereka itu naik keatas, mereka juga bisa menambahkan bacaan-bacaan tertentu, seperti misalnya; Allah…, Allah…, Allah…, atau Hu Allah…, Hu Allah…, dan sebagainya. Akan tetapi tanpa menyebut apa-apapun, sebenarnya memperjalankan Roh seperti itu juga dapat mereka lakukan dengan sama baiknya.

• Walaupun mereka mengucapkan kata-kata Tahyyibah (yang baik) tersebut, namun belum tentu INGATAN dan PERHATIAN mereka tertuju kepada Wujud dari apa yang mereka sebut-sebut itu. Misalnya, walaupun mereka menyebut-nyebut atau memanggil-manggil Nama Allah Swt dalam aktifitas memperjalankan Roh mereka itu, namun Ingatan dan Perhatian mereka umumnya hanya TERFOKUS kepada MENGAMATI dan MERASAKAN PERJALANAN Roh mereka yang mereka dorong naik menuju ke atas melewati kepala mereka.

• Karena yang diingat dan diberi perhatian adalah Perjalanan Roh dengan cara merasakan PERJALAN Roh itu, maka yang akan ditemukan selama perjalanan itu juga adalah fenomena tenaga-tenaga, getaran-getaran, dan gelombang-gelombang. Lambat laun mereka memang akan dapat merasakan fenomena itu. Mereka seperti naik keatas, dan keluar dari badan mereka.

• Pada awalnya, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengamalkannya, tenaga Roh itu seperti tertahan atau tersangkut di dalam dada mereka. Ketika mereka terus menerus memaksa agar Roh itu naik ke atas menuju kerongkongan mereka, maka suatu ketika Roh itu memang seperti mau naik keatas dengan sendirinya. Roh itu seperti ada yang menariknya ke atas. Sementara badan mereka sendiri seperti ingin menahan gerakan Roh yang ingin naik ke atas tersebut. Badan mereka itu seperti mengikat dan tidak mengijinkan Roh itu untuk naik keatas dan lepas dari tubuh mereka. Maka akibatnya akan muncul fenomena-fenomena seperti:

o Tubuh mereka akan teguncang-guncang; atau mereka secara reflek akan berteriak dan mengerang seperti orang yang sedang merasakan kesakitan;
o Atau mereka akan menangis sambil berguling-guling;
o Atau mereka megap-megap seperti ada sesuatu yang tersangkut di kerongkongan mereka;
o Atau bagi yang saat itu sedang menyebut-nyebut Nama Allah Swt, mereka akan menyebut Nama Allah Swt itu dengan lebih keras sambil menangis;
o Atau tempo-tempo mereka seperti orang yang mengedan seperti mau BAB (buang air besar);
o Atau mereka menggelepar-gelepar yang kata mereka itu adalah seperti orang yang sedang meregang nyawa atau mau mati. Mati sebelum mati kata mereka. Padahal bukan. Itu hanya proses trance biasa saja seperti orang kesurupan;

• Keadaan seperti itu akan berlangsung beberapa waktu lamanya, lalu kemudian semua itu akan berhenti dengan sendirinya. Kalau sudah bisa mencapai keadaan diam kembali seperti ini, maka selesailah SATU PUTARAN prosesi mereka menjalankan Roh mereka itu. Rasanya setelah itu memang cukup nyaman, enak, dan rileks. Rasanya seperti orang yang baru saja melakukan sebuah pekerjaan yang berat. Atau bahkan nyaris seperti orgasme.

• Kalau dibahas lebih dalam lagi, proses trance itu, dimana dalam berdzikir seseorang menggelepar-gelapar seperti ayam yang disembelih, adalah disebabkan karena dalam keadaan JAGA atau BANGUN, Roh melekat sangat erat pada Jasad (terutama pada bagian dada). Karena memang Dada adalah pusat dari Roh itu. Oleh sebab itu setiap ada usaha untuk menggerakkan Roh itu keluar dari tubuh, maka akan menyebabkan tubuh menjadi berkelojotan, bergetar-getar (keter-keter). Tubuh seperti menahan keluarnya Roh tersebut.

• Itulah sebabnya dalam berbagai prosesi SULUK, para SALIKUN tidak dibenarkan untuk membawa benda-benda tajam. Karena memang seringkali beberapa Salik memukul-mukul dada mereka agar Roh mereka bisa keluar dari dalam dada mereka. Kalaulah mereka saat itu mereka memegang benda tajam, boleh jadi mereka akan melukai tubuh mereka agar Roh mereka bisa terbebas dari tubuh mereka. Saya sendiri pernah mengalami hal seperti ini. Saya memukuli dada saya dengan tangan agar Roh saya bisa keluar dari dari dalam dada saya. Karena ada bahaya seperti Itulah makanya dikatakan bahwa belajar tasawuf tanpa guru tidak akan bisa. Karena ada fenomena-fenomena yang bisa membahayakan para SALIK. Oleh sebab itu dibuatkanlah alasan bahwa kalau belajar tasawuf tanpa guru, maka yang akan menjadi gurunya adalah syaitan. Akan tetapi sekarang kita jadi tahu bahwa ternyata kalau fenomena-fenomena seperti itu dibiarkan saja, maka tidak lama kemudian semua keadaan itu sebenarnya akan berhenti dengan sendirinya.

• Kalau kemudian proses itu mereka lanjutkan kembali, maka fenomena-fenomena seperti itu akan akan muncul kembali, tetapi dengan getaran dan gerakan-gerakan tubuh yang semakin lama menjadi semakin halus dan lembut. Kalau proses seperti mereka lakukan berkali-kali dan dalam waktu yang lama pula, misalnya sampai 2-3 jam, maka saat itulah mereka akan menjadi mudah sekali untuk berkata-kata dengan kalimat-kalimat SYATAHAT, yang merupakan sebuah ciri-ciri terpenting dari Pahaman Wahdatul Wujud.

• Dan karena adanya fenomena inilah aktifitas itu dikatakan benar adanya. Bahwa itu adalah respon dari Allah SWT yang sedang mereka temui melalui sebuah perjalanan rohani. Padahal kalau mereka tidak ingat kepada Allah Swt, maka respon itu boleh jadi berasal dari Jin atau Syaitan.

• Respon-respon itulah kemudian yang membentuk pengalaman yang berbeda-beda antara satu tradisi SULUK dengan tradisi SULUK yang lain. Hal inilah yang menyebabkan munculnya perbedaan dari banyaknya metoda yang ada saat ini. Karena ia digagas berdasarkan pengalaman Suluk oleh bermacam ragam Salik.

• Dan juga, karena bersentuhan dengan Jin dan Syaitan inilah yang menyebabkan Perjalanan Rohani seperti ini menjadi sangat berbahaya untuk kita lakukan. Karena Jin syaitan selalu akan menjauhkan kita dari Allah Swt. Lamunan-lamunan kita menjadi-jadi, kita merasa jadi ini dan jadi itu. Sehingga puncaknya tercetuslah kata-kata SYATAHAT dari mulut kita. Tahu-tahu kita sudah berpahaman Wahdatul Wujud atau Nur Muhammad saja.

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 26

p) MEMPERKEMASKAN DIRI DALAM BERIBADAH SUNNAH:

Setelah mengenal bagaimana cara melakukan Aktifasi Ruh di dalam Dzikrulllah dan di dalam shalat yang Khusyu, maka setelah itu kita tinggal melakukan Aktifasi Roh kita dengan cara-cara yang diatur oleh Syariat. Yaitu dengan memperkemaskan diri untuk melakukan ibadah-ibadah atau amalan-amalan Sunnah yang sebenarnya itu bisa dilakukan oleh semua orang. Baik orang muda, maupun orang tua.

• Tidak ada cara yang dapat mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku seperti melaksanakan fardhu-fardhu-Ku dan sesungguhnya ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga cintalah Aku kepadanya. Dan sesudah Aku mencintainya aku jadi kakinya yang dengannya ia berjalan, tangan yang dengannya ia memukul, lidah yang dengannya ia berkata, dan hatinya yang dengannya ia BERFIKIR. Bila ia meminta kepada-Ku Aku memberi dan bila ia berdoa Aku menerima doanya” (H Salim Bahreisy, 272 Hadits Qudsi, 76)

Hadist Qudsi ini jelas sekali menerangkan bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, selain mengerjakan hal-hal yang Fardu adalah dengan mengamalkan amalan-amalan Sunnah. Kalau sudah Allah sendiri yang mengatakannya seperti ini, maka ia akan berlaku sampai akhir zaman. Karena tidak akan ada perubahan dari Sunatullah atau hukum-hukum Allah.

Hadist ini membatasi gerak langkah kita untuk membuat hal-hal baru di dalam beribadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Dalam hal inilah berlaku Hadist lain tentang BID’AH yang selama ini banyak dijadikan orang sebagai hukum karet untuk membid’ahkan hal-hal lain yang tidak berkenaan dengan Ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sekarang ada yang mempukulratakan saja bahwa semua yang baru adalah Bid’ah, sehingga kata bid’ah ini menjadi olok-olokan orang dan menjadi sarana bagi perpecahan umat Islam.

• Harithah (ra) malam beribadah dan siang berpuasa sehingga merasakan seolah-olah melihat Aras Allah terkeluar daripada langit. Apabila ini diketahui oleh Rasulullah (saw), baginda telah bersabda bahawa Harithah (ra) sudah mengenal keimanan dan hendaklah dia beristiqamah dengan amalannya itu. Al Hujwiri, Kasyful Mahjub, 43 (1994); Abdul Qadir As Sufi, The Way of Muhammad, 29 (1975).

Hadist ini mencontohkan ibadah yang dilakukan oleh Sahabat Haritsah, dimana Beliau istiqamah melakukan Shalat Tahajud yang sangat panjang di malam hari dan berpuasa di siang hari. Sehingga Beliau mendapat Natijah yang sangat berkesan.

Oleh sebab itu, diantaranya amalan-amalan Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff adalah:

1. Dzikrullah (mengingat Allah). Tentang Dzikrullah ini sudah kita bahas panjang lebar sebelumnya. Yang pasti adalah, Allah Swt telah menjamin bahwa:
• Aku bersamanya jika ia mengingati Aku. Sekiranya ia mengingati Aku dalam dirinya, Aku akan mengingatinya dalam DiriKu. Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

2. SHALAT MALAM (TAHAJUD) di akhir malam, yang dilakukan seolah-olah ibadah ini sudah menjadi wajib untuk kita dirikan. 20 rakaat tahajud dengan 2 rakaat satu putaran, dan 3 rakaat witir adalah sangat dianjurkan. Kalau masih kuatpun boleh ditambah bilangan rakaatnya. Dalam shalat tahajud ini biasanya kita akan lebih mudah untuk mendapatkan keadaan yang lebih berkesan dari shalat di siang hari.
• Bangunlah sembahyang Tahajud pada waktu malam, selain dari sedikit masa (yang tak dapat tidak untuk berehat), Iaitu separuh dari waktu malam atau kurangkan sedikit dari separuh itu. Al Muzammil (73):2-4
• Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Al Israa (17):79

3. PUASA Sunnah setiap haripun bisa kita lakukan. Sebab waktu-waktu yang tidak boleh kita berpuasa hanya 5 HARI dalam setahun, yaitu pada 2 HARI RAYA (Idul Fitri dan Idul Adha) dan selama 3 HARI TASYRIQ (11-13 Dzulhijjah). Tetapi kalau belum sanggup setiap hari, boleh dilakukan senen-kamis, atau puasa Daud (puasa berselang-seling atau berganti hari), atau bisa dari senen sampai Jumat saja. Manfaat puasa ini sangat baik bagi Jiwa dan Raga. Ia juga membantu kita untuk mengendalikan hawa nafsu kita yang tidak pernah tidur.
• Jumhur ulama’ termasuk Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad dan Imam Ishaq berpendapat seseorang itu boleh berpuasa sepanjang tahun kecuali 5 hari yang diharamkan. “Seseorang itu tidak diwajibkan berbuka kecuali pada 5 hari yang terlarang oleh Rasulullah (saw) iaitu: Idul Fitri, Idul Adha dan hari-hari Tasyriq” Terjemahan Sunan At-Tirmidzi, bk 2, 92, (1993)
• Seseorang yang berpuasa sehari karena mengharapkan keredhaan Allah akan Allah jauhkan neraka pada hari itu dari mukanya perjalanan tujuh puluh tahun. Terjemahan At Tirmidzi Bk. 3, 199 (1993)

4. Membaca AL QURAN, walaupun kita tidak mengetahui maknanya, adalah amalan yang sangat dianjurkan yang akan sangat berpengaruh Jiwa kita dan pada sistem hormonal dan sel-sel di dalam tubuh kita, termasuk pengaruh sangat baik pada otak kita.
• Orang yang membaca Al Quran dan ia pandai membacanya akan (dikumpulkan) bersama para utusan yang mulia lagi berbakti. Dan orang yang membaca Al Quran dan merasa payah maka baginya dua pahala. Sunan At Tirmidzi, Bk 4, 501 (1993)
• Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, dicatitkan baginya satu kebaikan (satu kebaikan), dan setiap kebaikan itu dilipat gandakan menjadi sepuluh seumpamanya. Aku tidak kata “Alif Laam Mim” itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Mim satu huruf. Sunan At Tirmidzi, Bk 4, 508 (1993)

5. Mudah memberikan SEDEKAH, yang maksudnya adalah sangat ringan untuk MEMBERI atau MENGASIHKAN sebagian harta benda kita kepada orang lain. Mengasihkan atau memberi ini adalah realisasi dari Sifat Maha Pengasih dari Allah Swt yang diberikan-Nya kepada kita. Dampaknya adalah ia bisa melepaskan keterikatan kita dengan harta benda yang kita miliki. Semakin mudah kita bersedekah dan dengan jumlah yang terbaik pula, maka akan semakin rendah pula keterikatan kita dengan harta benda yang kita miliki. Tanda-tandanya adalah setiap kali kita bersedekah, maka tidak ada rasa kekurangan sedikitpun yang kita rasakan. Karena kita merasa tidak kekurangan, maka kita juga tidak akan MEMINTA-MINTA kepada orang lain. Kita juga menjadi tidak serakah karena kita tidak memiliki banyak keinginan.
• Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu nafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Ali Imran (3):92

6. Hidup ZUHUD yang artinya adalah tidak terlalu diperbudak oleh harta benda yang kita miliki. Hidup zuhud inipun akan melepaskan kita dari keterikatan kita dengan harta benda kita. Semakin banyak harta benda kita, kalau kita semakin zuhud, maka harta benda kita itu akan terasa seperti berada diluar diri kita. Ia tidak menjadi bagian dari diri kita. Kita jadi terbebas dari jeratannya, yang selalu meminta perhatian kita.
• Nabi Muhammad saw, Baginda wafat dengan tidak meninggalkan apa-apa harta.
• Hamka ada menulis bahwa pada suatu hari Sayidina Umar Al Khattab (ra) memasuki bilik Rasulullah saw lalu dia menangis kerana dia lihat bilik itu tidak berperhiasan dan hanya ada sebuah bangku yang alasnya adalah daripada jalinan daun-daun kurma. Di dinding bilik itu ada tergantung sebuah guriba untuk berwudhu. Maka ditanya oleh Rasulullah (saw) sebab Sayidina Umar (ra) menangis dan Umar menjawab:
• Bagaimana aku tidak terharu ya Rasulullah (saw). Hanya sebegini keadaan ku dapati bilikmu ini. Tidak ada perkakas, tidak ada kekayaan. Padahal seluruh kunci Masrik dan Mahgrib telah dalam gengamanmu, kekayaan telah berlimpah-limpah. Hamka, Perkembangan Tasauf dari Abad ke Abad, 64 (1976).

7. Baik hati kepada siapapun yang ada disekitaran kita. Artinya, ketika kita bisa berbaik hati kepada siapapun yang ada disekitaran kita, maka berarti kita sudah merealisasikan Sifat Maha Penyayang yang diberikan Allah Swt kepada kita. Dengan berbaik hati itu, artinya kita SAYANG kepada kesekitaran kita, maka secara otomatis, akan hilanglah kebencian di dalam hati kita. Dengan hilangnya kebencian kita, maka hilang pulalah marah, iri, dengki, malu, dan sikap-sikap negatif kita kepada orang lain maupun makhluk-makhluk hidup lain yang ada disekitar kita. Jadinya kita ingin kesekitaran kita menjadi lebih baik, lebih teratur, lebih bersih, lebih aman, lebih maju, lebih beradab dan levih bermartabat.
• Sesungguhnya pada hari kiamat kelak Allah akan berfirman, “Manakah orang-orang yang saling mencintai kerana KebesaranKu? Pada hari ini Aku akan menaungi mereka dalam NaunganKu, di mana tidak ada nauangan sama sekali kecuali NauanganKu. Terjemahan Sahih Muslim Bk 4 :494
• Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. Mariam (19):96

8. Berpegang kepada syariat yang dijalankan oleh kelompok yang banyak, yaitu Ahlussunnah Wal Jamaah. Karena Nabi Saw pernah bersabda:
• Aku telah meninggal kepada kamu dua rujukan yang sekiranya kamu berpegang teguh kepada kedua-duanya kamu tidak akan sesat iaitu Kitab Allah swt (Al Quran) dan Ahadith ku (As Sunnah). Al Muwatta, Vol. II, 544 (1994).
• Sekiranya kamu ketemu sesuatu pembaharuan dalam IBADAH (bida’ah) hendaklah kamu rujukan kepada Sunnah ku dan sunnah khalifah yang mendapat pertunjuk. Hendaklah kamu pegang cara ini kuat-kuat. Elakkan bidaah karena setiap bidaah ada pembaruan (dalam Ibadah) dan setiap pembaruan (dalam Ibdaha) adalah kesesatan. Translation of Sunan Abu Dawud Bk. 3,1294 (1990).
• Sesungguhnya umatku tidak berhimpun dalam kesesatan. Maka apabila kamu melihat perselisihan hendaklah kamu tetap pada yang ramai. Terjemahan Sunan Ibnu Majah, Bk.4, 649 (1993).
• Bagi tiap-tiap umat Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan. Al Hajj (22):67
• Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Al Maidah (5):48
• Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Al Maidah (5):45

9. Sebenar-benar takut kepada Allah Swt yang tak terlihat oleh mata kita. Takut kepada Allah Swt inilah salah satu bekas dari Rasa Ihsan kepada Allah Swt. Manfaatnya sungguh banyak untuk menghindarkan diri kita dari berbagai perbuatan tercela. Karena ternyata Allah Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, dan Mengawasi setiap aktifitas, baik Jiwa maupun Raga kita.
• Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan manfaat yang besar Al Mulk (67):12.

Lalu mau beramal macam apa lagikah yang bapak, ibu, ananda, dan saudara(i) yang ingin lakukan?. Bisa Istiqamah dalam 9 amalan sunnah ini saja sudah sangat lebih dari cukup. Amalan-amalan yang lainnya sebenarnya hanyalah amalan insidental saja yang tergantung pada waktu dan urgensinya saja.

Jadi untuk mengamalkan Islam seperti yang dicontohkan Nabi Saw dan para Sahabat Beliau tidaklah sesulit yang kita kira selama ini. Sulitnya kita beragama yang kita rasakan selama ini sebenarnya adalah karena kita terlalu banyak MENGAJI atau lebih tepatnya mendengarkan CERAMAH tentang FIQIH dan kajian-kajian lainnya yang lebih banyak bersifat FURU’IYAH atau perbedaan pandangan, pola fikir, pendapat, faham, dan sebagainya. Hal yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Tetapi, entah kenapa, itulah ternyata yang disukai orang banyak. Ramai sekali dan gaduh memang. Masalah jenggot dan celana cingkrang saja bisa ramainya tidak ketulungan. Ampun deh…

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 25

o) MENGINGAT ALLAH DI LUAR SHALAT:

Setelah kita mengetahui bagaimana seluk beluk mengingati Allah Swt di dalam shalat, termasuk Ihsan, sekarang marilah kita bahas tentang bagaimana mengingati Allah Swt diluar shalat. Beberapa hal yang bisa dijadikan rujukan adalah:

• Ketika MUNAJAT (Berdoa) kepada Allah hendaklah gerak badan, gerak hati batin dan gerak fikiran diarahkan hanya mengingati Allah swt. Imam Ghazali, Roh Sembahyang, 17 (1994)

• Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, INGATLAH ALLAH di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. An Nisa’ (4):103

• Lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli daripada MENGINGATI ALLAH. An Nur (24):37.

• INGATLAH Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Al Jumu’ah (62):10.

• Dan ingatlah kepada Allah diwaktu petang dan pagi (Q.S Ar-Ruum (30) : 17)

• Dan Ingatlah nama Tuhanmu pada pagi dan petang. (Q.S Al-Insaan (76) : 25)

Jadi, diluar Shalatpun kita diperintahkan oleh Allah untuk banyak-banyak mengingat Allah. Ukuran banyak ini bukanlah dalam hal hitungan JUMLAH. Tetapi ia adalah dalam hitungan WAKTU. Semakin LAMA kita ingat kepada Allah Swt, maka semakin tinggi pula keberuntungan yang akan kita dapatkan. Mengingat Allah sebanyak-banyaknya itu bisa seperti ini:

 Sehabis shalat, kita langsung duduk sambil kita ingat kepada Allah. Dan ketika kita ingat kepada Allah itu, kita bisa membaca TASBIH, TAHMID, TAHLIL, TAKBIR, ISTIGFAR, beberapa kali, semampu kita, atau 33 kali untuk setiap bacaan.
 Selagi kita ingat kepada Allah, kita sampaikan do’a-do’a kita kepada Allah.
 Selesai berdoa, kalau masih ada waktu, kita teruskan duduk sambil kita mengingat Allah.
 Penat duduk, kita bisa berbaring sambil Pikiran kita tetap ingat kepada Allah.
 Bahkan saat kita berdiri dan berjalan sekalipun, kita masih bisa ingat kepada Allah.

 Dalam keseharianpun kita bisa selalu mengingat Allah. Misalnya:
 Baru saja kita membuka mata saat kita bangun tidur di sepertiga malam terakhir, maka ingatan pertama yang muncul di dalam Pikiran kita adalah Ingatan kepada Allah.
 Selama proses bersuci, Pikiran kita juga dipenuhi oleh ingatan kepada Allah,
 Dalam shalat tahajud, shalat wajib, dan shalat-shalat sunnah lainnya, Pikiran kita selalu dipenuhi oleh Ingatan kepada Allah.

 Sebelum makan dan selama kita makan, kita bisa selalu ingat kepada Allah.
 Saat di dalam kendaraan ketika kita mau pergi kekantor atau kepasar, Pikiran kita selalu ingat kepada Allah.
 Saat bekerja, saat berdagang, saat jual beli, Pikiran kita selalu kita isi dengan ingatan kepada Allah.
 Begitu waktu shalat masuk, kita lakukan shalat itu dengan selalu memelihara ingatan kita kepada Allah.

Kalau hal seperti ini bisa kita jaga terus secara Istiqamah, maka keadaan Pikiran kita ketika kita shalat dengan keadaan Pikiran kita diluar shalat tidak ada bedanya. Sama-sama ingat kepada Allah. Ya…, didalam dan diluar shalat Pikiran kita selalu ingat kepada Allah. Inilah sebenarnya yang dimaksudkan Al Quran sebagai Shalat DHAIM. “Shalat yang berketerusan”, Ma’arij (70): 23.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: