Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2014

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus mempertajam pandangan Mata Hati kita dengan memakai Kacamata Makrifatullah. Tidak bisa tidak…!. Sebab dengan memakai Kacamata Makrifatullah ini, kita akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa kita sebenarnya, HAKEKATNYA, tidaklah Wujud. Karena kita sudah dapat memandang dengan Mata Hati kita, yang sudah menjadi sangat tajam, bahwa yang boleh wujud hanyalah SATU, yaitu Dzat Wajibul Wujud. Apapun yang selain dari Dzat Yang Satu itu tidaklah wujud, karena semuanya hanyalah semata-mata penzahiran dari Dzat-Nya yang sedikit.

Sehingga dengan begitu, kita tidak sedikitpun berkeinginan untuk mengaku ADA, untuk mengaku Wujud. Bagaimana kita akan bisa mengaku wujud, sementara kita hanyalah bagian kecil dari Dzat-Nya yang sedikit dari Dzat-Nya Yang Maha Besar, dan Maha Agung. Inilah inti dari Tauhid…

Bahwa keempat anasir diri manusia itu, seperti juga ciptaan-ciptaan yang lainnya, berada di dalam LAUHUL MAHFUZ, yang dalam paham DZATIYAH dikatakan sebagai TEMPAT Allah menciptakan seluruh Makhluk Ciptaan-Nya. Semua proses penciptaan dan penghancuran makhluk yang berada di dalam Lauhul Mahfuz itu adalah AKATIFITAS ALLAH belaka terhadap sedikit dari Dzat-Nya, yang besarnya tidak lebih dari sebesar butiran pasir di padang pasir yang sangat luas, atau setetes air masin di dalam samudera raya.

Tatkala itu, Allah berkata KUN kepada Dzat-Nya yang sedikit itu, sehingga kemudian terzahirlah Rencana Induk (Lauhul Mahfuz) dari semua ciptaan-Nya. Waktu kemudian mengantarkan Rencana Induk itu untuk terzahir menjadi berbagai ciptaan dan peristiwa-peristiwa dengan Qada dan Qadarnya masing-masing. Proses penzahiran itu adalah bak sandiwara belaka bagi Allah. Karena semuanya adalah perbuatan Allah sendiri terhadap sedikit dari Dzat-Nya yang telah Dia isolasi dengan Tabir Nur dari keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Indah. Tabir Nur itu akan membatasi dan memelihara semua ciptaan-Nya yang berada di dalam Lauhul Mahfuz itu dari kemusnahan akibat terbakar hangus karena terpandang pada Kemulyaan Keseluruhan Dzat-Nya Yang Maha Indah.

Yang dicerita-ceritakan oleh Allah di dalam Al Qur’an, hampir semuanya berkenaan dengan serba-serbi dan perlakuan Allah terhadap Dzat-Nya yang sedikit itu, yang berada di Lauhul Mahfuz. Sebutlah ayat mana saja. Misalnya, ayat tentang Syurga dan Neraka. Maka ayat tentang Syurga dan Neraka itu tidak lain hanyalah cerita Allah tentang penzahiran dari Dzat-Nya yang sedikit itu yang nantinya akan diperuntukkan-Nya pula untuk Dzat-Nya yang sedikit itu yang terzahir menjadi manusia, jin, iblis, dan malaikat. Insyaallah, kalau Allah berkenan, tentang hal ini akan kita bahas tersendiri pada saatnya.

Sedangkan terhadap Dzat-Nya secara keseluruhan Dia hanya berkata sangat sederhana, bahwa Dzat-Nya yang keseluruhan itulah Dzat Yang Awwal. dan Dzat-Nya yang keseluruhan itu pulalah nantinya Yang Akhir. Dzat Yang Maha Indah, Dzat Yang Maha Agung. Dzat yang akan membakar hangus apapun juga yang terpandang oleh-Nya.

Jadi SEMUA yang berkenaan dengan CIPTAAN, mestilah berada di dalam LAUHUL MAHFUZ. Tidak bisa tidak. Sebab apapun juga yang di luar Lauhul Mahfuz, tetaplah Dia akan menjadi MISTERI yang ABADI Sepanjang Masa. Misteri yang tidak sedikitpun disadari oleh para penganut Paham Wihdatul Wujud, Paham Nur Muhammad, dan Paham Rabithah Mursyid. Apalagi oleh orang-orang yang Mata Hatinya Buta dan Tuli.

Sedikit dari Dzat-Nya yang terkurung di Lauhul Mahuz itu boleh kita sebut sebagai Dzat Yang Batin. Dzat yang tidak dapat dilihat dengan mata. Dzat yang tidak dapat diumpamakan, Dzat yang tidak ada rupa dan warna. Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan apapun juga. Sama halnya dengan Dzat-Nya secara Keseluruhan yang ada di luar Lauhul Mahfuz. Ya…, Dialah Dzat Yang Batin.

Dzat-Nya Yang Batin yang sedikit itu kemudian terkena kalimat KUN dari-Nya. Sehingga lalu dari Dzat Yang batin itu terbentuklah Lauhul Mahfuz, atau Gambaran Besar, atau Rencana Induk yang memuat skenario Allah yang sangat detail dan rinci terhadap setiap makhluk yang akan Dia ciptakan sebagai penzahiran dari Dzat-Nya Yang Batin itu. Salah empat dari semua ciptaan-Nya itu adalah JASAD, NYAWA, RUH, dan PIKIRAN, yang masing-masingnya telah diberikan pula taqdir oleh Allah untuk dijalaninya.

Bersambung

Read Full Post »

Untuk menahan kita agar kita bisa terus menerus berada dalam Pintu Ingatan kepadanya, Objek pikir kita itu akan memberi kita Rasa Bisa, Rasa Memiliki, Rasa Tahu, Rasa Hebat, Rasa Senang, Rasa Diri. Aku…!. Ya… GUE banget begitu loh. Aku ada, Aku Wujud. Karena aku ada, maka aku akan marah kepada siapun yang menolak aku. Aku akan balik menghina orang-orang yang berani-beraninya menghina aku itu. Aku akan hancurkan dia.

Objek Pikir itu juga seperti ikut memberi NAFKAH kepada kita. REZKI kita ikut mengalir melalui Objek pikir kita itu. Hanya saja karena umumnya kita adalah orang yang beragama, maka Objek pikir kita itu kemudian kita poles dengan berbagai istilah dari agama yang kita anut. Kalau tidak maka kita seolah-olah telah menjadi orang yang lebih hebat dari orang-orang yang beragama tertentu. Tanpa kita sadari kita telah menciptakan agama untuk diri kita sendiri, yaitu agama Objek Pikir kita.

Sebaliknya, aku akan tersenyum sumringah ketika orang mau mengikutiku. Aku akan JAIM (Jaga Image) dengan senyuman dan tingkah lakuku yang menandakan bahwa itulah aku. Aku ada nih…!. Bisik kita kepada mereka, di dalam Hati kita.

Bahkan karena kita merasa ADA, kita merasa WUJUD, maka kita bisa sampai pada taraf ingin BERBENTURAN atau BERGADUH dengan Allah. Karena begitu kita mengau wujud, maka saat itu akan ada dua wujud, yaitu kita yang mengaku wujud dan Dzat Yang Wajibul Wujud. Saat itu hilanglah Tauhid kita dengan seketika. Lalu kita “seakan-akan” ingin selalu MENENTANG TAQDIR. Seakan-akan apa yang sudah Allah Taqdirkan untuk kita, itu tidak cocok untuk kita.

“Allah kok begitu ya ?, harusnya kan begini. Ya Allah mohon ubah dong jadi begini…”, rengek kita menghiba-hiba.

“Kenapa…., kenapa…., kenapa… ya Allah”, protes kita hampir setiap hari.

Kalau setiap saat kita merasa bisa untuk menentukan taqdir kita sendiri, karena kita ADA dan WUJUD untuk menetukan taqdir kita itu, maka kita disebut sebagai orang yang berpaham MUKTAZILAH atau QADARIYAH, Atau RASIONALIS. Biasanya ungkapan yang kita pakai adalah: “Kita adalah apa yang kita pikirkan. Kita bisa merubah masa depan kita dengan merubah pikiran kita saat ini atas masa lalu yang telah kita hadapi”. Jika dalam paham Rasionalis itu, kita poles dengan istilah-istilah agama, maka kita disebut sebagai kaum RASIONALIS-AGAMIS.

Kalau kita tetap merasa WUJUD, namun pada saat yang sama kita merasa tidak akan sanggup untuk melawan Allah, maka kemudian kita bersedia untuk tunduk, menyerah dan takluk kepada Allah, kita Pasrah saja kepada Allah, maka paham ini disebut dengan paham JABARIYAH atau FATALIS, yang jika kita poles dengan agama menjadi FATALIS-AGAMIS.

Paham jalan AMAN, yang paling banyak kita pakai, adalah Paham ASY’ARIYAH, Pahan Jalan tengah. Dalam paham ini kita TETAP merasa WUJUD. Cuma saja sesekali kita merasa bisa meminjam pakai Paham Qadariyah kalau kita merasa bisa merubah taqdir kita, dan di lain waktu kita seperti berpegang teguh pada Paham Jabariyah kalau kita merasa tidak bisa merubah taqdir kita. Dalam paham ini, kita seperti duduk diatas PAGAR. Sesekali kita mencondongkan diri kita kepada Paham Qadariyah, sesekali kita merebahkan diri kita kepada Paham Jabariyah. Aman.

Tetapi ada sebuah paham yang hanya dianut oleh sedikit umat manusia. Ya…, hanya sedikit manusia saja bersedia untuk masuk kedalam paham ini. Paham yang akan membuat kita menjadi orang yang aneh dan ganjil. Orang yang hidup “dalam kesendirian” ditengah-tengah keramaian. Karena ditengah keramaian itu kita merasa tidak wujud sama sekali. Kita tidak ada. Kita tidak wujud. Paham itu adalah Paham Makrifatullah…

Bahwa, semua pembicaraan kita tentang JASAD, NYAWA, RUH, HATI, dan MATA HATI seperti yang diterangkan diatas, pada hakekatnya barulah berbicara tentang SIFAT-SIFAT dari diri kita. Karena masih dalam tatanan SIFAT, maka boleh jadi ada pendapat lain yang jauh lebih baik dari pendapat ini. Ya…, nggak apa-apa. Namanya juga berbicara tentang SIFAT. Kita belum sampai dalam membicarakan diri kita dari segi HAKEKAT. Ya… Hakekat.

Kalau begitu, apa sih HAKEKAT dari semua anasir diri kita yang telah kita bahas diatas?.

Bersambung

Read Full Post »

JASAD, NYAWA, RUH, dan AKAL

Sekarang kita sudah menjadi sederhana saat menelisik diri kita, bahwa diri kita ini paling tidak terdiri dari 4 anasir utama, yaitu: JASAD, NYAWA, RUH, dan AKAL.

AKAL kadangkala kita sebut juga sebagai PIKIRAN, atau HATI, atau SANUBARI. AKAL ini juga punya MATA yang disebut dengan MATA AKAL, atau MATA HATI, atau MATA SANUBARI.

AKAL/HATI dan MATA AKAL / MATA HATI adalah anasir yang bisa melihat, mendengar, merasakan, berpikir, dan mengingat. Sehingga HATI dan MATA HATI ini boleh juga dikatakan sebagai anasir yang serba tahu (BASHIRAH). Ia adalah SANG PILOT, SANG SOPIR, SANG KUSIR, SANG HAKIM, SANG PENGENDALI atas DUA KENDARAAN yang difasilitasi oleh Allah kepadanya, yaitu JASAD dan RUH.

Sedangkan NYAWA adalah anasir yang memberikan KEHIDUPAN kepada JASAD sampai waktu yang telah ditentukan.

Kalau kita sudah paham tentang anasir-anasir diri kita ini, dan kita sudah paham pula cara kerja dan taqdirnya masing-masing, yang telah dibuatkan oleh Allah, maka kita sebenarnya sudah tidak perlu lagi ribet-ribet untuk memahami dan bergumul setiap hari dengan istilah-istilah yang lainnya. Misalnya: Pikiran Sadar (conscious mind), Pikiran Bawah Sadar (subconscious mind), Pikiran Tak Sadar (unconscious mind), Pikiran Super sadar (Supra conscious mind), Perasaan, Power, Force, Quantum ini dan itu (quantum-quantuman). Lalu dari sana kita pasti selanjutnya akan dibawa ke dalam dunia terapi-terapian, healing-healingan, power-poweran, dan meditasi-meditasian. Misalnya, Pemulihan Jiwa, Terapi ini dan itu, Metafisika ini dan itu, Spiritualitas ini dan itu, Hipnoterapy ini dan itu, Tenaga dalam ini dan itu, meditasi ini dan itu, dan sebagainya. Dan ternyata kesemuanya itu hanyalah OBJEK PIKIR yang akan menjadi objek PERMAINAN bagi AKAL atau PIKIRAN, atau HATI belaka. Sang Pilot.

Objek Pikir itu, yang pada awalnya adalah alat untuk bermain-main bagi Sang pilot. Akan tetapi, tanpa disadari oleh Ang Pilot, dia sendiri malah berbalik menjadi objek yang dipermainkan oleh Objek Pikir itu selama dia masih bertahan di pintu ingatan kepada objek-pikir itu. Dan itu tidaklah aneh.

Sebab kesemuanya itu hanyalah proses biasa saja yang terjadi secara otomatis ketika PIKIRAN atau AKAL masuk ke PINTU INGATAN tentang salah satu dari Objek Pikir tersebut diatas. Sekali kita masuk ke PINTU INGATAN tentang Objek Pikir itu, maka AKAL atau PIKIRAN akan disambut oleh cabang dan ranting dari Objek Pikir itu yang jumlahnya sangat banyak dan bervariasi. Objek pikir itu akan menawan kita, memperbudak kita. Objek pikir itu akan memaksa kita untuk mengagung-agungkannya, kita akan dipaksa untuk menjajakannya kesana kemari, kita dipaksa berjalan dari satu tempat ketempat yang lain, kita tidak akan dibiarkannya untuk istirahat barang sesaatpun, bahkan kita akan dikejarnya sampai kealam mimpi sekalipun.

Tanpa kita sadari, begitu kita terikat (binding) dengan sebuah Objek Pikir yang selain dari Allah, maka saat itu juga objek pikir itu akan menghalangi RUH kita untuk kembali kepada Allah. Ruh kita akan terpenjara di dalam Objek Pikir itu. Dan itu sangatlah menyakitkan sekali, sehingga kita disebut sebagai si Ruhani yang sakit. Tapi Sang RUH punya cara sendiri untuk bisa terlepas dari penjara objek pikir kita itu. Ia menggeliat, ya meronta, yang akibatnya akan berpengaruh buruk terhadap JASAD kita. Rongga dada kita terasa sempit, nafas kita tersengal-sengal, darah dan sistem hormonal kita mengalir diluar takarannya yang normal, sehingga membuat kita ambruk. SAKIT, atau bahkan bisa MATI…

Bersambung

Read Full Post »

RUH + AKAL + NYAWA sudah diambil kembali oleh Allah. JASAD sudah terbaring kaku. Saat itulah akhir dari hidup kita. MATI. Proses kematian ini di awali dengan RUH kita ditarik kembali secara paksa oleh Allah dalam sebuah peristiwa sakaratul maut. Kalau selama hidup kita, kita tidak pernah menyerahkan RUH kita itu secara sukarela dan ridha kepada Allah, maka saat sakaratul maut itu kita akan gelisah, nafas kita tersengal-sengal. Kita sangat tersiksa sekali. Kalaulah pada saat-saat yang genting itu TIDAK ada diantara keluarga kita, yang paling afdal adalah anak kita, yang membantu kita mengarahkan RUH kita kepada Allah dengan sukarela, maka alangkah sengsaranya keadaan kita saat itu. Akan tetapi kalau saat itu ada anak kita, atau saudara kita yang sudah tahu jalan pulang, dan dia mengantarkan kita untuk pulang itu, maka tidak berapa lama, nafas kita akan jadi teratur, wajah kita akan tenang dan damai. Dari ulu hati kita akan mengalir Ruh kita yang rasanya dingin. Naik kekerongkongan, lalu masuk kedalam kepala kita. Hitam bola mata kita akan IKUT naik ke arah kening mengikuti perginya RUH kita itu. Sang Ruh kemudian berputar kearah belakang kepala kita untuk kemudian berbalik dan keluar melalui KENING kita. AKAL kita saat itu masih ada di JASAD kita. Kita masih bisa mendengarkan suara-suara tangis dan pembicaraan orang-orang yang ada disekitar JASAD kita. Tetapi kita sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebab saat itu RUH kita sudah meninggalkan JASAD kita untuk pulang kepada Allah.

Anak atau saudara kita yang mengantarkan kita saat itu kemudian akan mendengarkan suara KLEK, yang merupakan pertanda bahwa saat itu AKAL sudah harus ikut dengan RUH untuk kembali kepada Allah. AKAL + RUH, yang biasa disebut dengan JIWA, akan mengalami prosesi untuk pulang ke Alam Barzakh:

“Dan didadapan mereka ada Alam Barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari mereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat), Al Mukminun (23):100.

Setelah RUH dan AKAL meninggalkan JASAD, maka tidak lama kemudian NYAWA kitapun diambil oleh Allah. Kalau nyawa itu diambil dari kepala kita, maka kepala kita akan bergerak untuk terakhir kalinya. Kalau NYAWA itu diambil dari kaki kita, maka kaki kitalah yang akan bergerak untuk terakhir kalinya. Lalu setelah itu tinggallah JASAD kita yang kaku dan yang dengan cepat akan membusuk.

Kalaulah saat kita sakaratul maut itu, kita hadapi dalam keadaan dimana kita tidak pernah sekalipun menyerahkan RUH kita dengan sukarela kepada Allah dalam sebuah proses Dzikir seperti di dalam Shalat ataupun Dzikir diluar Shalat, atau tidak ada pula anak dan saudara kita yang bisa menunjukkan jalan pulang dan mengantarkan kita untuk pulang kembali kepada Allah, sungguh saat itu kita sedang berada dalam keadaan nestapa yang sangat mencekam:

“Alangkah dahsyatnya sekira kamu melihat di waktu orang-orang zalim (berada dalam tekanan sakaratul maut”. Al An’aam (6): 93.

Sebab saat RUH kita sudah dipanggil oleh Allah, namun AKAL kita masih sibuk dengan semua yang jadi miliknya saat hidup di dunia, maka perjalanan RUH itu akan terhambat. Saat itulah AKAL kita akan dimintakan pertanggungjawabannya terhadap apa-apa YANG SELAIN DARI ALLAH, yang membuat kita BINDING (TERIKAT) selama kita hidup di dunia. Kita akan ditanyai dan dimintakan pertanggungjawaban kita tentang itu semua. Dan itu dahsyat sekali.

POSISI IDAMAN yang harus dilatih terus oleh orang-orang yang beriman adalah:

JASAD + NYAWA ada di dalam tubuh kita, sedangkan RUH dan AKAL tengah berada dalam keadaan DZIKIR kepada Allah (DZIKRULLAH), MENGINGATI ALLAH, misalnya di dalam SHALAT, dan juga berketerusan diluar SHALAT. Posisi seperti inilah yang seharusnya kita asah dan kita lakukan terus menerus (ISTIQAMAH). Oleh setiap orang yang beriman kepada Allah. Proses mati sebelum mati. Dalam kitab Madarijus Salikin hal ini diterangkan dengan sangat jelas:

Apabila kalian melaksanakan shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan dunia. (HR. Ibnu Majah, dari abi Ayyub dan Al hakim, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, sanadnya shahih ).
Berdasarkan hadist diatas Imam Al ghazali menegaskan pentingnya ruhani terfokus kepada Allah saja dalam melaksanakan setiap ibadah, seperti keadaan menjelang kematian. Ia harus meninggalkan dirinya, meninggalkan hawa nafsunya, meninggalkan urusan dunianya dalam menuju Allah. Karena ia sedang berhadapan dengan Allah. Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah, “Al inabatu ila daril khulud wa tajafi an daril ghurur wa tahabu lil mauti qabla nuzulil maut. Kembali menuju perjalanan kekampung abadi (akhirat) meninggalkan kampung penuh tipuan (dunia) merasakan mati sebelum mati” .

Untuk prakteknya silahkan lihat kembali artikel mengingati Allah, kalau berkenan.

Sebab kalau kita sudah terbiasa dengan aktifitas seperti inilah nantinya yang akan mempermudah kita saat menghadapi proses sakaratul maut bagi diri kita sendiri, dan juga ketika kita mengantarkan orang tua atau saudara kita yang sedang dalam keadaan sakaratul maut itu.

Bersambung

Read Full Post »

Sekarang kita sudah menjadi sederhana dalam menelisik anasir diri kita. Bahwa ternyata anasir diri kita itu ada EMPAT entity, yaitu: JASAD, NYAWA, RUH, dan AKAL (HATI). Sementara bersama AKAL atau HATI itu ada pula MATA AKAL atau MATA HATI.

JASAD adalah tubuh Lahiriah kita, sedangkan RUH adalah tubuh BATINIAH kita. NYAWA adalah pemberi kehidupan terhadap JASAD. Jadi NYAWA dan JASAD akan selalu bersama selama kita masih hidup. Namun Nyawa itu TIDAK akan memberikan kehidupan kepada RUH. Sebab RUH adalah anasir yang selalu hidup dan tidak akan pernah mati.

Saat kita BANGUN dan SADAR, anasir JASAD, NYAWA, RUH, dan PIKIRAN (AKAL atau HATI) kita berada dan berkumpul menjadi satu di dalam JASAD kita. Dengan begitu, kita akan bisa melakukan berbagai aktifitas kita di muka bumi ini. Kita bebas pulang dan pergi ke berbagai pelosok dunia. Kita bisa menikmati keindahan alam dengan menggunakan panca indera. Kita bisa merasakan suka dan duka kehidupan. Kita bisa berpikir dan berkarya membangun peradaban umat manusia.

Saat kita TIDUR, anasir yang ada di dalam JASAD kita hanyalah NYAWA saja. Keberadaan nya ditandai dengan NAFAS kita yang bergerak keluar-masuk paru-paru kita, dan Jantung kita yang berdetak dengan teratur. Sedangkan RUH + PIKIRAN dipegang oleh ALLAH di alam RUHANI, sampai nanti kita dibangun kembali (kalau Allah masih menakdirkan kita untuk hidup). Pikiran yang bersama RUH di alam RUHANI ini bisa pula disebut sebagai JIWA atau AN NAFS. Kalau kita bangun, maka AN NAFS ini akan dikembalikan oleh Allah ke dalam Jasad kita, sehingga kemudian kita bisa kembali menjalani aktifitas keseharian kita.

Beberapa kemungkinan keberadaan keempat anasir diri kita itu adalah:

JASAD + NYAWA + RUH + AKAL, semuanya berada di dalam jasad kita. Maka kita disebut Si Sadar dan bisa berkarya.

JASAD + NYAWA, ada di dalam tubuh kita, sedangkan RUH + AKAL tengah kembali kepada Allah, maka kita disebut TIDUR yang Lelap.

JASAD + NYAWA, ada di dalam tubuh kita, sedangkan RUH + AKAL tengah berkelana di Alam gaib, atau sedang tersesat di suatu tempat, maka kita disebut sedang BERMIMPI, atau OOBE, atau TERSESAT tidak bisa pulang kembali ke Jasad, atau bisa pula COMMA.

RUH sudah bersama dengan JASAD dan NYAWA kita, akan tetapi AKAL kita masih tertahan diluar JASAD kita, maka kita disebut orang yang hilang AKAL, GILA, atau NGAHULEUNG. Kalau bagi anak-anak, keadaan ini akan berlangsung saat dia bangun tidur dan itu terjadi untuk beberapa waktu lamanya. Satu atau dua menit. Kalau bagi orang dewasa, keadaan ini jelas sekali terlihat pada Orang Gila.

AKAL sudah bersama dengan JASAD dan NYAWA kita, akan tetapi RUH masih tertahan di luar JASAD kita. Keadaan ini biasa didapatkan oleh orang dewasa yangvdisebut dengan EUREUP-EUREUP atau TINDIHAN. Walaupun rasanya kita sudah berteriak sekuat tenaga minta tolong, akan tetapi karena RUH kita belum ada di JASAD, maka suara kita itu tidak akan yang mendengarnya.

Besambung

Read Full Post »

Kita sudah tahu bahwa untuk mendengar dan melihat di alam Jasmaniah kita membutuhkan MATA dan TELINGA. Akan tetapi untuk melihat dan mendengar di alam Ruhaniah kita membutuhkan MATA HATI atau MATA RUHANI. Begitu juga untuk berpikir dan merasakan di alam jasmaniah kita membutuhkan OTAK yang ada dirongga kepala kita. Sedangkan untuk berpikir dan merasakan di alam Ruhaniah kita hanya membutuhkan satu alat saja, yaitu HATI yang juga berkorelasi sangat erat dengan OTAK RUHANI kita. Ya…, hati yang berguna untuk melihat dan mendengarkan serba serbi alam Ruhaniah itu ternyata bukanlah terletak di DADA kita. Tidak. Ia lebih dekat kepada OTAK yang berada di dalam kepala kita.

Hanya saja karena kita sudah terbiasa berkata bahwa hati kita terletak di dalam dada kita, maka kita seakan-akan merasakan hati kita itu memang adanya di dalam dada kita. Al quran juga seakan-akan mengiyakan bahwa hati itu terletak di dalam dada kita, SUDUR. Dan kalau kita sedang marah, dada kita seperti sempit dan nafas kita tersengal-sengal seperti kita sedang naik ke langit yang tinggi. Akan tetapi keadaan dada kita yang seperti itu hanyalah sekedar sebuah AKIBAT saja dari keadaan Hati, atau AKAL, atau PIKIRAN kita yang berada di dalam otak kita. Tapi kalau ada yang tetap tidak setuju tentang letak hati ini yang ada di dalam kepala, ya tidak apa-apa.

Begitu juga untuk mengekspresikan keadaan alam Ruhani itu, bisa kita lakukan dengan tanpa berkata-kata atau bersuara, yang disebut sebagai BAHASA HATI, yang juga keberadaannya bukanlah di dalam dada kita. Tapi di dalam PIKIRAN atau HATI kita. Bahasa hati adalah sebuah bahasa yang tanpa aksara, tanpa nada, dan tanpa suara. Seperti halnya bahasa seorang bayi yang sedang tidur lelap. Tapi dalam tidurnya, ia bisa tersenyum bahagia, yang bahagianya itu bisa pula menyebar dan menular kepada orang-orang yang melihatnya. Kalau bagi kita, orang dewasa, bahasa hati ini lebih dekat kepada bahasa INGATAN.

Ketika shalat, agar shalat kita itu khusyuk, kita sebagai Sang PILOT haruslah mampu melakukan dan menjaga sebuah sinkronisasi yang sangat intens dan istiqamah antara aktifitas Jasmaniah dan aktifitas Rohaniah kita pada saat yang bersamaan. Mulut dan lidah kita mengucapkan bahasa LIDAH dan bahasa SIKAP tubuh kita yang berupa puja-pujaan dan penghormatan kita kepada Allah, sedangkan hati kita mengucapkan Bahasa HATI kita,berupa INGATAN kita secara berketerusan (istiqamah) kepada ALLAH yang kita puja-puja dan hormati itu.

Bukan hanya itu, ketika mata lahiriah kita melihat ketempat sujud, mata hati kita sudah bisa pula dengan sangat tajam memandang bahwa disebalik tempat sujud itu, bahkan juga disebalik udara yang kita hirup, yang wujud semata-mata adalah kewujudan Dzat-Nya. Mata lahiriah memandang tempat sujud, mata hati memandang Dzat-Nya yang tidak terlihat oleh mata lahiriah kita.

Karena aktifitas ruhaniah dan jasmaniah kita saat shalat itu sudah sinkron tertuju kepada Allah semata, Dzikrullah, dimana ucapan-ucapan dan sikap kita adalah ucapan dan sikap yang memuliakan Allah, Hati kita senantiasa mengingati Allah, dan Mata Hati kita tak lepas-lepas dari memandang Dzat-Nya yang meliputi segala sesuatu, maka Allahpun kemudian berkenan memberikan respon-respon-Nya kedalam HATI kita dalam bentuk gegaran, goncangan, atau benturan keras ke dalam HATI kita.

Gegaran itu bukanlah seperti adanya GETARAN atau VIBRASI yang melanda dan memasuki tubuh kita, dan bukan pula seperti hasil dari kita mengulang-ngulang (wiridan) mengucapkan kalimat-kalimat HIPNOSA tertentu, seperti aku bahagia, aku tenteram, aku tenang, aku memakai POWER (bukan FORCE), aku memaafkan, aku melepaskan, dan kalimat-kalimat HIPNOSA lainnya. Bukan.

Boleh jadi tubuh kita tetap hanya diam. Boleh jadi lidah kita juga hanya diam dalam sebuah sikap rukuk dan sujud yang sangat dalam. Akan tetapi HATI kita berkocak keras, seperti berkocaknya lautan yang tengah dilanda oleh angin badai. Karena ketika itu Mata Hati kita dikejutkan oleh KEWUJUDAN DZAT-NYA yang mengisi setiap sudut RUANG, MATERI, dan WAKTU. Dzat-Nya Yang Batin. Kemanapun Mata Hati kita memandang, yang terpandang adalah Dzat-Nya yang Batin. Dzat-Nya yang merupakan unsur awal, unsur azali, unsur azazi yang menzahirkan semua CIPTAAN. Sehingga semua ciptaan bisa pula disebut sebagai Dzat-Nya Yang Dzahir, yang bisa terpandang oleh Mata Lahiriah kita. Makanya Allah dengan tegas bisa berkata: “Akulah Yang Batin, dan Aku pulalah Yang Dzahir”. Karena Yang Zhahir dan Yang Batin itu tak lain dan tak bukan adalah Dzat-Nya sendiri. Dzat-Nya yang sedikit dari keseluruhan Dzat-Nya yang Maha Indah.

Pada saat-saat seperti itulah HATI kita juga seperti disayat-sayat yang menimbulkan bekas luka yang sangat dalam, sehingga setiap kali kita mengingati Allah, setiap kali kita menyebut nama Allah, luka itu kembali merekah dan menganga lebar. Keadaan Hati yang seperti ini akan menyebabkan air mata kita tak henti-hentinya keluar membanjiri kedua sudut mata kita.

Untuk beberapa waktu, kita hanya bisa menangis dan menangis. Bisa sehari, bisa pula dua atau lima hari. Itu semua terjadi karena kita seperti menemukan kembali suasana alam azali yang sudah lama kita tinggalkan dan lupakan. Sejak berbilang tahun, kita sudah lupa pintu masuk ke alam azali itu. Sebuah Alam yang saat itu kita sangat dekat dengan Allah. Sehingga kita bisa berbincang-bincang dengan Allah:

Yang mula pertama dijadikan oleh Allah ialah AKAL, MIND. Maka Allah berfirman kepada-nya, “Menghadaplah!”, lalu menghadaplah dia. “Membelakanglah!”, lalu membelakanglah dia (Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin, Bk 1, 308 (1991): Diriwayatkan At Tabarani dari Abi Amaman dengan isnad Dhaif.

“Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang sulbi mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas Nafs (anfus) mereka : ‘Bukankah Aku Tuhan kamu ?’ ; Mereka berkata : ‘Betul ! kami menyaksikan.’ ; Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat : ‘Sungguh kami lalai dari perjanjian ini’. – Qs. 7 al-A’raf : 172
Alam azali itu ternyata bisa kita masuki kembali saat kita hidup di dunia ini dengan melalui PINTU MENGINGATI ALLAH, yang salah satunya adalah melalui SHALAT. Pintu alam Azali itu kembali dibuka oleh Allah ketika kita mengingat Allah. Karena ketika kita mengingat Allah, maka Allahpun berkenan pula mengingat kita. FADZKURUNI ADZKURKUM.

Bersambung

Read Full Post »

Setelah Allah MENYEMPURNAKAN anasir JASAD dan NYAWA kita di alam rahim ibu kita, Allah kemudian memasukkan anasir baru ke dalam Jasad yang sudah diberi Nyawa itu, yaitu anasir RUH. Allah tidak menjelaskan kepada kita tentang anasir Ruh ini. Misalnya: Ia terbuat dari anasir apa?, bentuknya seperti apa?, dan sebagainya. Ia tetap akan menjadi rahasia Allah sepanjang masa. Hanya sedikit saja dari rahasia Ruh itu yang diberitahukan kepada kita.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya RuhKu, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. QS. Al Hijr (15) : 29

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. QS. Al Israa’ (17) : 85

Sekarang kita sudah punya tiga anasir dari diri kita, yaitu JASAD, NYAWA, dan RUH.

JASAD adalah Anasir FISIK dari diri kita, atau bisa pula disebut sebagai anasir LAHIRIAH. Sedang RUH adalah Anasir NON FISIK dari diri kita, atau bisa pula disebut sebagai anasir BATINIAH, atau ROHANI, atau ROHANIAH. Jasad juga adalah alat pengembaraan kita di alam LAHIRIAH, sedangkan RUH adalah alat pengembaraan kita di alam RUHANIAH. Sebagai alat, baik di alam lahiriah maupun di alam ruhaniah, kedua-dunya (JASAD dan RUH) tidak akan bisa kemana-mana kalau tidak ada PILOT atau SOPIR yang mengendalikannya. Siapakah Sang Pilot ini?.

NYAWA adalah anasir yang menghidupkan JASAD kita. Ia adalah anasir yang akan tetap terhubung dengan Jasad sampai akhir dari umur kita yang telah ditentukan. Bisa 1 tahun, 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun. Tanda-tanda bahwa nyawa kita masih dikandung badan adalah adanya gerak nafas kita dan gerak denyut jantung kita. Nyawa itulah yang menjadi pertanda bahwa jasad kita masih hidup. Nyawa itu bergerak bersama NAFAS kita. Kalau nafas kita sudah berhenti, maka nyawa kitapun akan hilang. MATI. Sedangkan RUH adalah anasir diri kita yang tidak pernah mati. Ruh akan tetap hidup walaupun Jasad kita sudah mati.

RUH adalah diri kita dalam bentuk Anasir Batin yang bisa berada bersama JASAD dan NYAWA, dan bisa pula terpisah sebagai Anasir yang berdiri sendiri. Ruh akan terpisah dari Jasad dan Nyawa ketika kita TIDUR. Nantinya, kalau kemudian Allah masih berkenan, maka ketika kita bangun dari tidur Ruh kita akan dikembalikan oleh Allah kepada JASAD ita.

Tentang JASAD, NYAWA, hampir semua orang bisa memahami dan menerima bahwa ia adalah CIPTAAN Allah. Hanya saja tentang RUH, selama ini banyak orang yang ragu-ragu untuk menyikapi apakah ia itu ciptaan Allah atau atau bukan. Sebab Allah sendiri di dalam Al Qur’an juga menyebutkan RUH itu sebagai MIN-RUHI (RUH-KU).

Maka sampai sekarang ada dua pendapat utama yang berkenaan dengan RUH ini. Marilah kita lihat sejenak.

Pendapat pertama, Ruh itu adalah murni ciptaan Allah seperti juga dengan ciptaan-ciptaan Allah yang lainnya. Pendapat kedua, Ruh itu adalah milik Allah sendiri yang diberikan kepada manusia, sehingga dengan begitu ada yang mengaku bahwa ia yang hakiki adalah Ruh Allah.

Kedua pendapat ini sekilas seperti tidak ada titik temunya sama sekali, sehingga tidak jarang pula terjadi pergesekan diantara para pemegang pendapat yang satu dengan yang lainnya. Padahal kalau kita lihat dengan memakai Kacamata Makrifatullah, maka kebingungan itu akan segera sirna.

Tapi sebelum melihat hakekat kesemuanya itu, marilah sejenak kita terlebih dahulu melihat sebuah lagi anasir diri kita yang nayris saja tetap menjadi sebuah rahasia yang luput menjadi perhatian kita. Yaitu Sang Sopir, Sang Pilot. Anasir yang dikatakan oleh Allah di dalam surat As Sajdah ayat 7-9, yang kemudian diperkuat oleh surat Al Qiyamah ayat 14.

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kepadanya RUH-NYA dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.( As Sajdah ayat 7-9)

“Bahkan pada manusia itu diatas dirinya ada yang tahu (BASHIRAH). (Al Qiyamah, ayat 14)

Sang Sopir adalah Anasir yang bisa melihat, mendengar, berpikir, dan merasakan. Anasir ini bisa disebut dengan berbagai nama, misalnya: HATI, atau AKAL, atau PIKIRAN, atau HATI SANUBARI. Pada anasir ini ada kemampuan yang membuat Ia serba tahu sehingga ia disebut juga sebagai Bashirah, atau dalam bahasa umum disebut sebagai MATA HATI, atau MATA AKAL, atau MATA PIKIRAN, atau MATA SANUBARI. Jadi Mata Hati itu melekat pada Hati. Bahwa: Hati adalah untuk mengingat, berpikir, dan merasakan; dan Mata hati untuk melihat dan mendengar.

Untuk anasir keempat ini, Sang Pilot, mari kita sederhanakan sebutannya sebagai PIKIRAN atau MIND saja. Pikiran ini tidak terikat kepada JASAD maupun RUH. Ia bisa berada bersama JASAD dan bisa pula bersama RUH saja. Ia adalah anasir yang BEBAS. MERDEKA.

Tempo-tempo Sang Sopir bisa berada di alam JASADI sehingga ia bisa MENGETAHUI seluk beluk Alam Lahiriah baik melalui pengembaraan bersama FISIK maupun melalui pencitraan Panca Indera Lahiriah, dan ia bisa pula BERPIKIR dan MERASAKAN suka-duka yang menimpa Jasad kita melalui aktifitas OTAK lahiriah yang berada di dalam kepala kita. Pengungkapan suka dan duka itupun bisa kita lakukan melalui SUARA yang akan terdengar oleh telinga lahiriah kita.

Tempo-tempo Sang Pilot juga bisa berada di alam RUHANI yang bisa ia selancari dengan mengendarai kendaraan RUH. Pengembaraan di alam ruhani ini bisa ia lakukan saat Jasadnya TIDUR yang wujudnya adalah perjalanan ke alam-alam mimpi. Namun, tidak hanya melalui pintu tidur, perjalalan ke alam ruhani ini dapat pula ia lakukan apabila ia sudah bisa memisahkan RUH dari JASAD secara sadar, yang sering disebut orang sebagai pengalaman OBE (out of body experience), atau Perjalanan Astral.

Namun, ada satu lagi Perjalanan yang bisa dilakukan oleh Sang Pilot ini, yaitu Perjalanan Ruhani yang terjadi dan terlaksana HANYA dan HANYA dengan sebab ia MENGINGATI ALLAH. Sungguh Perjalanan Ruhani karena ia mengingati Allah ini sangat-sangat berbeda dengan Perjalanan Astral yang banyak dijajakan oleh berbagai kalangan saat ini. Walau keduanya adalah perjalanan Sang Pilot di luar Alam JASADI untuk masuk ke Alam Ruhani, tapi beda keduanya seperti berbedanya langit dan bumi.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: