Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2014

Membaca tulisan di blog tentang anasir diri. Terasa sekali ada yang kurang lengkap dan ini sedikit membuat kerancuan dan sulit menghubungkan dengan ilmu pengetahuan alam dan juga dengan pemahaman agama. Seolah ngambang. Kekurangannya adalah tidak menjelaskan hubungannya dengan anasir alam. Keterikatan dengan alam. Ketergantungannya dengan alam. Anasir diri adalah anasir alam. Siklus anasir diri dan anasir alam.

Perputaran dan siklus inilah yang meliputi diri. Diri adalah bagian integral alam yang tak terpisahkan. Diri tergantung alam. Diri adalah alam kecil yang merupakan puzzle kecil membentuk alam semesta. Kekurangan penjelasan ini terasa sekali mengganjal waktu itu. Mungkin ini persepsi atau ingatan semata saat dahulu membacanya. Karena sudah cukup lama. Namun endapan rasa itu masih teringat sekarang dan saya belum membacanya lagi saat menulis ini. Jadi hanya mengungkap residu rasa yang tersisa saat membaca dahulu.

Semisal membahas anasir diri hakekatnya adalah membahas ruh. Membahas ruh diri adalah membahas ruh alam semesta. Dimulai dengan diri yang tubuh. Hakekat tubuh atau materi adalah kumpulan bermilyar sel. Yang sebenarnya adalah samudraria atom dan partikel. Tiada bedanya atom tubuh kita dan atom di alam semesta ini. Maka ruh yang meliputi atom tubuh adalah juga ruh yang meliputi atom seluruh alam semesta.

Sel-sel tubuh ini diliputi air (darah) yang menggerakkan dan menghidupkan sel. Maka hakekat ruh yang meliputi sel adalah aliran air tubuh. Air di tubuh yang menghidupi ini adalah siklus air di alam semesta. Perputaran air atau siklus air inilah yang menghidupkan. Tiada beda air yang di dalam tubuh dan air di luar tubuh atau alam semesta.

Maka air inilah ruh yang menghidupkan sel dan ruh inilah bagian dari ruh di alam semesta. Samudraria air di alam semesta dalam siklus perputaran air yang menakjubkan.

Air di tubuh diliputi oleh hawa atau udara atau oksigen. Udara dan hawa di dalam tubuh ini berputar dalam siklus perputaran dengan alam semesta. Udara di dalam sama dengan yang diluar dalam siklus atau proses.

DK: Silahkan dilengkapi mas, saya hanya menyampaikan hal-hal yang paling sederhana saja,

IBA: Ha..ha..ha.. saling resonansi. Agar bisa menyesuaikan persepsi saja.

DK: Sekarang saya menjadi sederhana sekali dalam berpikir mas. Ada The Essense yang merupakan Primary Source yang benar-benar tak terdefinisikan.

Sedikit dari The Essense itu di jadikan oleh Allah sebagai essense yang merupakan secondary source.

Dari secondary source inilah tercipta semua ciptaan. Secondary source itulah yang merupakan BATHIN dari semua ciptaan yang akan menzahirkan semua ciptaan. Jadi yang dzahir maupun yang batin, ya tetap saja merupakan essense yang merupakan bagian dari The Essense.

IBA: Saya hanya mengalir saja kok. Tidak tahu apa-apa. Saat tidak ada daya untuk kontak ke mas. Ya saya diam saja. Nunggu. Sampai daya itu muncul. Lalu seolah saya hanya membiarkan tangan saya menulis untuk mas. Makanya nulisnya juga random. Bisa tengah malam. Pagi. Bahkan kadang lagi sangat sibuk. Terpaksa saya ikuti saja. Saya tidak tahu hasil akhir dan penerimaan mas. Apakah kebaikan ataukah keburukan. Apakah mas akan sebel. Bosen atau merasa diajari. Saya hanya mengapung dalam daya. Dalam energy. Dalam source. Dalam potensi.

Dan ketika yakin bahwa itu sebuah tugas. Lalu saya ikuti saja tugas itu. Termasuk mengirim ini. Otak saya lebih sering kosong. Saya seperti tidak berfikir apapun. Selain memikirkan Allah. Dan saya tidak tahu apa yang akan saya tulis untuk mas. Tidak ada rencana apapun. Saat harus menulis kadang saya seperti diseret. Dipaksa. Pontang panting saat sibuk kerja..ha..ha..ha.

Tapi kalau tidak ada daya. Ya.. tidak ada keinginan untuk menulis. Apalagi menulis panjang. Di antara kesibukan kerja yang lagi peak ini…

DK: Jadi begitu melihat yang dzahir, maka yang bathin juga kelihatan jelas sekali. Yang dzahir patuh kepada ketetapan yang telah dibuatkan Allah untuk masing yang dzahir itu.

Kemana saja saya melihat sekarang. Maka saya langsung melihat KETETAPAN Allah atas Dzat-Nya sendiri. Ya seperti Mas IBA inilah contohnya. Nulis, nulis dan nulis ha ha ha.

IBA: Ya.. seperti melihat gelombang air. Kalau melihat airnya terus yang terlihat ya air saja. Apalagi bila tengah menyelam dalam air. Yang terasa cuma tekanan saja.

Tapi kalau mau keluar dari air. Maka terlihat bentuk air itu. Bentuk perubahan air inilah yang muncul dari gaibnya energy. Kita tidak pernah tahu seperti apa energy itu. Tetapi ada bukti dan efek di air. Yang membuktikan keberadaan energy itu. Melihat perubahan air maka melihat energy.

Sayapun demikian kok mas. Kalau dulu kita seolah bisa menghitung kapan kita ingat Allah. Sekarang yang kita hitung adalah justru kapan kita tidak ingat Allah. Justru sulit sekali untuk tidak ingat Allah.

Selesai….

Iklan

Read Full Post »

IBA: Segala puji bagi Allah. Masih bisakah seseorang dianggap sebagai manusia bila telah kehilangan fikiran. Hilang akal. Tidak!. Dia sebut gila dan selevel dengan makhluk binatang. Yang tersisa adalah nafs atau hidup. Disebut makhluk hidup. Maka berfikir adalah untuk menyempurnakan nafs meningkat menjadi manusia. Dan selanjutnya mengingat Allah terus menerus (makrifat) adalah untuk menyempurnakan nafs manusia menjadi abdullah.

Dan dengan memasuki rasa iman dan takwa maka akan menyempurnakan nafs menjadi khalifatullah. Pintu ingat atau pintu berfikir adalah untuk membuat sang aku (akal/hati/bashiroh/aku) menjadi ada. Layak disebut manusia. Seperti filsafat yang sering kita dengar aku berfikir maka aku ada. Dan dalam Islam berfikir atau mengingat yang layak disebut ingat adalah dzikrullah yaitu mengingat Allah. Ketika itu maka memasuki pintu makrifat.

Petunjuk atau pesan Allah bagi hambaNya yang memasuki makrifat itu bisa datang dari mana saja dipancarkan seperti siaran radio. Hanya melalui channel tertentu. Bisa saja saat ini saya tengah menjadi channel-Nya. Maka fine tune receiver agar mampu menangkap signal (pesan) Tuhan dan memfilter noise yaitu semua yang berasal dari nafs saya.

Bisa jadi jadi signal dari channel saya pantulkan terlalu lemah dan terlalu banyak noise dari nafs dari maka perlu boster dan filter untuk menangkap pesan Tuhan itu. Tetapi bisa ternyata tidak maka carilah chanel dari yang lain.

IBA: Daya apakah yang memaksa mas menulis ke saya?. Tentu tahu jawabnya. Daya apakah yang membuat saya terikat terus menerus menjawab?. Saya tahu jawabnya.

Memasuki pintu ingat masih mudah. Dan siapa saja imasih bisa dan sanggup. Namun ketika memasuki pintu rasa. Tidak banyak yang sanggup.

Ketika rasa telah dipergilirkan. Ketika rasa cinta dan benci. Ketika senang dan sedih. Ketika bahagia dan duka. Ketika setitik rasa racun telah menetes di dalam gelas air jiwa?. Atau setetes madu. Bagaimana rasa air itu?.

Bersambung

Read Full Post »

Sungguh sulit sekali mencari referensinya di dalam diri kita. File kesadaran kita menolak hal ini. Apakah yang Tuhan berikan kepada kita. hingga kita patut mencintai-Nya ?. Hujatan atas ini sedemikian kuatnya. Semua dikarenakan kita tak pernah sedikitpun merasakan adanya kasih-sayang atau cinta dalam kehidupan. Mengenali cinta adalah memasuki kegaiban.

Kenikmatan apakah yang terindah di dunia ini ?. Seluruh umat manusia mencari hakikat ini. Tak terhitung banyaknya manusia mencoba mencari kesana kemari, menghambakan dirinya kepada materi demi mencari kenikmatan sejati. Tiada satupun manusia yang mau dirinya hidup dalam penderitaan. Yaa, tiada satupun manusia menghendaki penderitaan. Tidak juga saya, kau, kita, mereka atau dia. Semua diri dalam hakikat pencarian kenikmatan sejati dalam hidup . Pertanyaan dalam diri manusia terus menggeliat akan hal ini. Beguliran di dalam diri yang ingin mencari jalan. Dalam peradaban dalam kajian, dalam wacana, dalam pencarian jati diri manusia itu sendiri. Dimanakah kenikmatan sejati ?. Mereka terus mencari dan mencari lagi. Sekali lagi dan sekali lagi, kemudian di coba lagi dan di coba lagi. Apakah kemudian terpenuhi ?. Tidak !. Manusia kemudian kebingungan sendiri. Karena banyak jalan, banyak peradaban, banyak pemikiran, yang kemudian berkembang melingkupi diri manusia dalam upaya pencarian ini. Manakah jalan yang lurus ?. Manakah jalan yang pas buat diri ini ?. Semua bertanya tak berkesudahan. Begitu sulitkah mendapatkan kenikmatan hakiki ?. Manusia resah dan selalu gelisah di himpit beban-beban hidup, di terpa gelombang peradaban yang mereka buat sendiri. Dalam perambahan kota, tidak ada sisa ruang untuk bernafas. Kerja, kerja dan kemudian kerja lagi. Penat sekali melakoni ini.

Maka manusia kemudian ber doa, di ajarkannya doa kepada mereka agar senantiasa memohon kepada Tuhannya. “Tunjukanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat “. Pertanyaannya adalah maukah manusia kemudian mengikuti jalannya orang-orang yang telah diberikan nikmat-Nya. Ketika manusia di tunjukkan jalan-Nya orang-orang yang telah diberi nikmat. Mereka kebanyakan meragukan jalan tersebut, mengingkari, mendustakannya. Sebab jalan tersebut tidaklah seperti yang diangankannya. Manusia telah ber presepsi atas jalan tersebut. Mereka sudah mengangankan jalan tersebut dalam akal pikirannya sendiri. Mereka terhijab angannya sendiri. Maka ketika datang petunjuk atas jalan tersebut, mereka mendustakannya

Ketika seseorang telah mampu menjadi saksi atas perguliran rahsa di jiwa, ketika seseorang sudah tidak dipengaruhi oleh pergolakan rahsa, ketika seseorang mampu menjadi pengamat atas rahsa di jiwa, ketika seseorang tidak lagi mengikuti daya tarik menarik rahsa dalam dirinya, maka AKU akan dalam posisi keseimbangan. Posisi (makom) ini akan menimbulkan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Nikmat yang tak mampu disandingkan dengan kenikmatan apapun di dunia ini.

Diri dalam suasana keadaan khusuk, tenang, luas, bebas, harmoni, senyum, lapang, suwung, entah apalagi perbendaharaan kata manusia yang mampu mewakili keadaan ini. Sungguh sulit mencari padaan katanya. Kenikmatan seperti inilah yang di cari sepanjang peradaban manusia. Berada dalam keadaan ‘kenikmatan sejati’ sehingga manusia puas dan ridho, serta tenang menjalani takdir-takdir mereka sendiri. Ketenangan jiwa yang sempurna, dan karenanya ini manusia kemudian berhak mendapatkan surga. Surga di kedua alam, dunia dan akherat. Maka Islam mempermudah jalan bagi mereka. Mempermudah agama, Islam tidak mempersulit manusia. Maka Islam memberikan kesempurnaan jalan, sebagaimana firman Allah sbb:

Sesungguhnya agama bagi Allah ialah sikap pasrah pada-Nya (al-Islam) (QS. Al-Imran 3:19).

Maka jalan lurus untuk mendapatkan ‘kenikmatan sejati/hakiki’ adalah jalan ini. Jalan berserah (Islam) kepada-NYA. Kenikmatan inilah yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang yang menempuh jalan ini.

DK: Ya mas, saya juga merasakan bahwa doa ternyata juga adalah sebuah pintu untuk mengingat Allah.

Bersambung

Read Full Post »

Ketika manusia tidak mampu menetapi realitas atas rasa maka manusia tersebut tidak akan pernah mendapatkan nikmat apapun di dalam hidupnya. Manusia yang di berikan nikmat adalah manusia yang mampu menyakini dan menetapi rahsa bagaimanapun, apapun yang berguliran dalam dirinya adalah berasal dari Allah.

Perguliran dimaksudkan agar manusia mengenal betapa besar kekuasaan-Nya, betapa Allah telah menciptakan pelbagai macam rasa. Mengembalikannya kepada Allah jika rahsa tersebut telah mengganggu akal dan logikanya. Menyerahkan semua rasa, mengakui bahwa hakekat rasa tersebut bukan miliknya lagi. Sehingga, karenanya dirinya kemudian akan merasakan kenikmatan terus menerus di dalam kehidupannya. Dalam kondisi dan posisi apapun, tetap dalam keadaan mengingat Allah. Bersyukur atas di pilih dirinya itu untuk menjadi saksi atas kesemuanya ini. Bersyukur atas nikmat segala rahsa yang diberikan-Nya ini. Jalannya orang-orang inilah, jalan yang lurus. Orang yang mengetahui hakekat nikmat sesungguhnya. Orang-orang yang sanggup menjadi saksi atas kekuasaan Allah. Itulah jalan orang-orang yang diberikan nikmat sanggup menjadi saksi atas rahsa. Sehingga dirinya hanya akan mengenal satu keadaan rahsa, yaitu rahsa ingat Allah saja. La ila hailalllah. Tiada sesuatu,dan tiada rasa yang ada hanyalah Allah. Ingat Allah. Mengingat Allah.

DK: Sayangnya pintu ingatan untuk mengingat Allah inilah banyak yang tidak tahu. Sehingga rasa yang dirasakan juga belum rasa ingat Allah yang sebenarnya. Misalnya orang nasrani, pintu masuk ingatannya lewat ingatan kepada yesus, baik hanya melihat fotonya, patungnya, dsb.

Karena masuk pintu ingatan yang menganggap yesus sebagai tuhan, maka ada rasanya. Rasa bertuhankan yesus. Makanya kalau hati atau Akal ingat sesuatu, maka mata hati atau mata akal akan bisa memandang wujud dari sesuatu itu

Memahami wujud sesuatu itulah yang disebut dengan hakekat. Bahwa semua ciptaan ini hakekat yang sebenarnya apa sih. Kalau sudah tahu hakekatnya, maka tinggal selangkah lagi saja bagi kita untuk bermakrifat, yaitu tempat untuk berhentinya kita berpikir.

Dengan begitu maka semua puzzle kehidupan akan tersusun dan tertata rapi dengan sangat menakjubkan.

IBA: Subhanallah. Maha suci Allah. Maha besar Allah, sedikit demi sedikit dan pasti, ditunjukan-Nya jalan dimana dan bagaimana harus memulai. Bersiap mengarungi samudaria makrifat yang tiada bertepi. Menuju sebuah hakekat. Menetapi keghaiban itu sendiri. Namun ketika bukti ditunjukkan betapa jiwa ternganga sendiri. Sebab nyatanya keghaiban yang coba dimaknai tersebut nyatanya adalah realitas itu sendiri. Membalikkan kesadaran itulah yang terjadi. Bagaimana harus menjelaskan ini ?.

Terpana, tak percaya. Nyatanya Allah SWT menunjukkan begitu adanya.

REALITAS NYATANYA ADALAH KEGHAIBAN itu sendiri. Dan KEGHAIBAN SEJATINYA ADALAH REALITAS YANG SEJATI. Allah SWT (ghaib) nyatanya lebih realitas dari alam semesta dan diri kita sendiri. Dalam kesadaran kita hanya Allah yang nampak nyata (realitas). Bumi dan alam semesta ini nyatanya hanyalah semu (ghaib). Begitulah dalam kesadaran. Membalik kesadaran. Yang nyata adalah gaib. Yang gaib adalah hakekat kenyataan itu sendiri. Bagaimanakah menghadirkan rahsa cinta dalam menyebut nama Allah. Sementara diri tidak mengenal kata itu, tidak pernah merasakan rahsa cinta itu seumur hidup. Bagaimanakah kita datang kepada Allah dengan rahsa cinta dan rindu?.

Bersambung

Read Full Post »

IBA: Kita sudah sekian banyak menerima dan menerima “nikmat” Tuhan. Maka sudah saatnya sebagai “wakil” Tuhan yang telah memberi kita. Kita selayaknya memberi dan memberi kepada alam. Kepada makhluk yang lain. Kepada manusia. Memberi hanya karena Allah yang maha pengasih.

Menulis di blog… mengajar adalah memberi… menuangkan air ilmu dari kendi pengetahuan kita. Sampai kosong. Agar Tuhan mengisi dengan air yang lebih baik dan lebih jernih. Be humble..berendah diri. Santun dalam memberi. Hanya memberi dan itu saja. Berikan yang kita tahu. Dan biarkan berproses. Apapun yang telah diberikan bukanlah milik kita. Sesuatu itu telah diberikan. Telah kita berikan dan bukan lagi milik kita. Kita hanya perlu menunggu dialiri lagi dengan yang lebih baik lagi.

Lembut. Santun. Pemaaf. Berkasih sayang. Empathy. Penuh perasaan dan selalu dalam akhlak yang ridho dan diridhoi Allah dalam memberi. Memberikan kembali ke alam apa yang telah Allah beri (pinjamkan) kepada kita.

Dalam setiap kejadian. Allah telah memberikan mata untuk melihat “diriNya” yang meliputi apapun di alam ini maka selalu bersiap melihat “tanda-tanda (kekuasaan) Nya” dalam setiap yang datang dan hadir.

Allah memberikan telinga agar mampu mendengar. Guruh yang bertasbih. Angin yang bertasbih. Alam yang bertasbih. Mendengar tanda-tanda diriNya.

Allah memberikan fikiran untuk berfikir. Memikirkan penciptaan alam semesta. Proses jejadian diri. Entitas diri. Memikirkan dengan posisi apapun.

Allah memberikan rasa. Untuk merasakan. Bayangkan satu ini diambil. Di offkan. Mata diambil kembali. Telinga diambil kembali. Fikiran diambil kembali dan rasa diambil kembali. Semua akan diambil saat kita mati. Ketika menua satu demi satu diambilNya.

Semua yang kita miliki mengingatkan keberadaan sang Pencipta. Apapun yang kita lihat maka akan mengingat Allah. Apa yang kita dengar akan mengingat Allah. Apapun yang kita fikirkan akan mengingat Allah. Apapun yang kita rasakan akan mengingat Allah. Ketika kita mengingat Allah. Maka Allah mengingat kita.

Dengarkan dari manapun bisa jadi ada pesan Allah dan kita akan yakin dengan mengamati tanda-tandaNya. Kita yang telah memasuki pengajaran Allah adalah kaum yang memiliki SPIRITUAL INTELEGENSIA yang tinggi, sangat mumpuni. Maka begitu arif, sopan santun, begitu lemah lembut, tindakannya tegas, tidak pernah ragu-ragu, mereka hanya berserah kepada Allah, mengikuti kehendak Allah, sebagaimana bumi yang berputar mengelilingi matahari. Kita tidak ‘galau’ dengan adanya golongan-golongan yang memperebutkan kebenaran, karena telah bulat keyakinannya. Tidak menyisakan keraguan sedikitpun.

Kaum terdahulu senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Proses berserah diri, adalah proses yang mendaki lagi sukar, maka mereka ber doa. Dan doa tersebut di abadikan dalam Al qur an surah Al baqoroh :286. Sebuah kepasrahan dan pengakuan ketak mampuan diri yang total. Mereka adalah orang-orang yang diberikan nikmat Allah atas ilmu, dan mereka juga merasa tak mampu, membebaskan diri mereka dari belitan rahsa.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. 2:286)

Manusia senantiasa berdoa memohon kepada Tuhannya, memohon diberikan jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah di berikan nikmat. Namun apakah manusia mengerti nikmat seperti apakah yang diinginkan manusia itu bagi dirinya sendiri ?. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

(QS. Al Fatihah)

Jalan yang lurus yaitu jalannya orang-orang yang telah diberikan nikmat. Sebuah rangkaian doa yang sempurna. Jalan lurus adalah jalannya orang yang di berikan nikmat. Begitulah keadaannya. Maka jika manusia tidak mendapatkan nikmat setelah menempuh jalan tersebut maka jalan tersebut tidak dapat di katakan jalan yang lurus. Dengan kata lainnya, jika manusia benar-benar telah mendapatkan jalan yang lurus pastilah manusia tersebut akan mendapatkan nikmat yang banyak. Yang akan dirahsakan oleh jiwa dan raga nya. Inilah hukum sebab-akibat.

Bersambung

Read Full Post »

DK: Sekarang saya benar benar melihat segala sesuatunya denga penuh kekaguman. Betapa tidak. Yang dzahir terlihat mata, Dzat-Nya, yang Batin yang tak terlihat mata tapi jelas, juga Dzat Dia.

Segala yang terjadi telah ditetapkan oleh Allah sejak KUN. Dan itupun perlakuan Allah terhadap setetes DzatNya yang terzahir jadi semua ciptaan. Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk mencela, ha ha ha

Kalau saya mencela, berarti mencela Dzat Allah, mencela perlakuan Allah. Terhadap Dzat-Nya

IBA: Alhamdulillah. Benar sekali. Itulah yang seharusnya. Bersuka cita menjemput takdir-Nya.

Konsep kebenaran dalam pandangan Tuhan adalah seumpama cahaya putih. Memasuki kegelapan. Gelap terang. Namun dalam pandangan manusia cahaya itu terdifraksi dalam warna-warni. Setiap warna akan mengumpul membentuk cahaya asal. Cahaya putih. Maka sebagai murid hanyalah memberitakan. Mengabarkan. Mengungkapkan hukum cahaya dan perwujudannya. Apa adanya tanpa mencoba memasukkan opini. Pandangan. Pendapat diri. Semakin obyektif terhadap fakta. Maka kebenaran itu semakin teruji. Seperti sikap saintis yang jujur dengan pengamatannya. Menyajikan data dan hukum yang diamatinya. Bersiap untuk berubah bila ada data lain yang lebih akurat. Bersiap menerima informasi dan berita dari arah mana saja. Semua yang terjadi pada diri kita di akhirnya hanyalah tahu dan rasa. Tahu ada yang diyakini dan ada yang kenangan pengalaman dan ilmu. Dan yang satunya adalah rasa.Ujungnya hanya tahu dan rasa

DK: Dan semuanya hanya diberi dan dialirkan. Kalau tidak dialirkan, berarti tidak diberitahu dan diberi rasa. Ya diamlah. Rileks lah. Bina apa apa yang sudah dialirkan. Sambil mata lahir dan mata hati tajam melihat pada keabadian Dzat. Dia terlalu maha sempurna untuk tidak meletakkan sebarang hikmah pada setiap ciptaan-Nya. Yang tak lain adalah Dzat-Nya jua.

IBA: Betul. Tahu dan rasanya. Rasa tahu. Mengingat lalu ada rasa ingat. Mengingat Allah lalu muncul rasanya. Rasa ingat. Rasa rindu. Rasa cinta. Semua mengalir karena dialirkan.

Memiliki dan muncul rasa memiliki. Mengaku lalu muncul rasa aku atau mengaku. Dengan melepaskan aku dan menerima aliran AKU maka rasa yang muncul dialirkan dari AKU bukan dari aku.

Maka sampaikan yang dialirkan AKU. Bukan yang aku inginkan atau yang aku miliki atau aku fikirkan. Berbuatlah yang AKU ilhamakaan bukan yang aku inginkan

DK: Image es duren
Seperti mengalirnya selera ketika melihat es duren di jakarta fair, ha ha ha

IBA: Ya… Dengan melihat gambar saja. Selera sudah muncul. Dengan memikirkan saja rasa ingin itu sudah hadir. Kalau belum bertemu maka fikirkan saja. Itu sudah menimbulkan rasa ingin makan.

Bagaimana orang yang tidak memiliki referensi apapun tentang durian?. Apakah tertarik?. Bagaimana orang yang membenci durian?. Maukah menerima kiriman itu

Bersambung

Read Full Post »

MAKRIFATULLAH, SULITKAH??

Sebuah pertanyaan yang menggelitik tentang makrifatullah:

“Pak Deka, bagi yang sudah ma’rifat mungkin akan lebih tepat menyikapi & mensyukuri apapun yang terjadi dalam hidup ini. Saya perlu saran Pak Deka sikap hidup yang bagaimana yang harus dibangun bagi yang belum ma’rifat …?” dari INAWAI…

Jawaban:
Pertanyaan diatas merupakan pandangan TYPICAL dari hampir seluruh umat Islam terhadap Makrifatullah. Seakan-akan Makrifatullah itu adalah sebuah JENJANG atau MAQAM keilmuan yang sangat WAH, yang tidak sembarangan orang bisa mendapatkannya.

Inilah DISTORSI ILMU yang sangat parah yang telah terjadi dalam mempelajari ISLAM akibat dari praktek tasawuf-tarekat dan juga tasawuf-wali-wali, dibandingkan dengan praktek tasawuf-jalan Nabi-Nabi.

Dalam ajaran Tasawuf-jalan Nabi-Nabi, makrifatullah adalah pelajaran yang PALING DASAR, yang akan menjadi PONDASI bagi siapapun juga, SEMUA ORANG, dalam kehidupan BERSYARIAH yang akan kita amalkan dan dirikan diatasnya.

Sedangkan dalam ajaran tasawuf-tarekat dan tasawuf-wali-wali, makrifatullah adalah sebuah puncak MENARA GADING ILMU, yang hanya bisa dicapai oleh segelintir orang-orang khusus, yang telah menjalani berbagai cara yang .mungkin hanya bisa diamalkan dengan mudah oleh kurang dari 1% dari keseluruhan umat Islam.

Oleh sebab itu, BERSEGERALAH bermarifatullah, mengenal Allah, karena kita akan menyembah Allah dalam shalat, kita akan berihsan kepada-Nya dalam setiap saat.

Karena Makrifatullah adalah Ilmu yang PALING DASAR yang kita butuhkan untuk hidup bertuhankan Allah. Makrifatullah bukanlah ilmu yang baru akan bisa kita dapatkan setelah 20 tahun berdzikir ( wirid). Bukan.

Bahkan Anak TK / SD sekalipun bisa diajarkan untuk bermakrifatullah. Sebab makrifatullah adalah ilmu yang wajib kita punyai kalau kita ingin menjadi orang yang beriman kepada Allah.

Makrifatullah adalah ilmu dasar yang harus kita punyai agar kita bisa menjalankan Syariat dengan tanpa beban. Karena syariat tak lain adalah pengamalan dan penghayatan tentang berhakekat dan bermakrifat.

Wallahu a’lam
Wassalam.

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: