Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2015

2. Sikap seperti diatas, sikap orang bermakrifatullah yang sekilas kelihatan seperti Pak PANDIR, bisa kita lakukan karena kita sudah tahu rahasia-Nya. Bahwa disebalik semua kejadian dan peristiwa yang menimpa kita, orang lain, maupun keseluruhan Alam-alam yang ada di dalam Lauhul Mahfuz, sebenarnya yang sedang berperan dan bermain-main pada peristiwa dan kejadian itu adalah sejumput kecil saja dari DZAT-NYA.

 

Bukan hanya sekedar sejumput kecil Dzat-Nya saja yang telah Dia Sabda dengan Sabda “Kun”, tetapi bersamaan dengan Sabda Kun itu, terbentuklah sebuah Rancangan Azali Yang Maha Sempurna (Lauhul Mahfuz) yang sudah LENGKAP dari AWAL sampai AKHIR. Rencana itu memuat gambaran rangkaian yang sangat rinci dari proses yang akan dijalani dan dilalui oleh Dzat-Nya dari waktu ke waktu dan di tempat yang telah ditentukan pula.

 

Dzat-Nya akan PATUH mengikuti Rancangan Azali itu. Waktu akan mengantarkan Dzat-Nya yang sejumput itu untuk terzhahir menjadi berbagai kehidupan dan kematian, menjadi pergiliran siang dan malam, menjadi berbagai penciptaan dan penghancuran, menjadi tumpahan rezki dan jeratan kelaparan, menjadi ketumbuhan dan kemusnahan.

Waktu juga akan mengantarkan Dzat-Nya yang sejumput itu untuk terzhahir menjadi kata dan perbuatan, menjadi mimpi dan perwujudan, menjadi silang dan sengketa, menjadi pengakuan dan pemilikan, menjadi kelembutan dan kekuatan, menjadi kebaikan dan keburukan, menjadi kegembiraan dan kekecewaan, menjadi keberanian dan ketakutan,

 

Waktu akan menjembatani perjalanan Dzat-Nya yang sejumput itu untuk terzhahir menjadi peperangan dan perdamaian, pembunuhan dan penolongan, menjadi deraian airmata dan kucuran keringat, dan bahkan menjadi genangan darah…, darah…, dan darah…

 

Dzat-Nya yang sejumput itu akan tetap patuh tatkala ia ditakdirkan harus menjadi manusia biasa, menjadi manusia luar biasa, dan bahkan menjadi manusia yang  tidak biasa (cacat). Dzat-Nya yang sejumput itu akan patuh pula tatkala ia harus menjadi Malaikat, Iblis, Jin, hewan, tumbuh-tumbuhan dan peran-peran lainnya.

 

Semua peran, semua pertukaran, semua perubahan, semua kemungkinan yang akan dihadapi oleh setiap pribadi, setiap diri, setiap benda, setiap atom, bahkan setiap getaran sekalipun, sudah di tulis dan digambarkan dengan SANGAT SEMPURNA. Dan untuk masing-masing diri itu, tulisan dan gambaran yang akan dilaluinya itu sudah digantungkan dilehernya masing-masing. Itulah TAKDIR yang harus dilaluinya masing-masing.

 

Barang siapa yang jalan takdirnya akan berakhir di neraka, maka ia akan menjalankan kehidupan dunianya yang ciri-cirinya sungguh jelas terlihat secara terang benderang dengan mamakai kacamata Al Qur’an. Ia akan dimudahkan untuk menjalankan kehidupan dunianya yang mengarah ke kehidupan neraka itu. Ia akan diberikan rezki, tapi rezkinya itu adalah rezki yang haram. Maka makanan dan minumannya akan diberikan Allah dari sumber dan bahan yang haram. Ia akan dimudahkan untuk menjadi tidak BERTAUHID. Ia akan mudah untuk tidak beribadah. Ia akan dimudahkan untuk menjadi orang yang kafir, di lahirkan di keluarga yang kafir, mendapatkan pendidikan untuk menjadi kafir, beribadah sesuai dengan ibadah orang kafir. Ia tidak akan dapat mengelak dari itu. IA akan diberikan alasan-alasan dan logika-logika untuk bertahan di dalam kekafirannya.

 

Akan tetapi tatkala di dalam bukunya sudah dituliskan pula bahwa di akhir hidupnya ia akan masuk syurga, walaupun pada awal hidupnya ia beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang akan masuk neraka, dengan sebuah cara yang sangat aneh ia akan bisa berubah menjadi orang yang mengerjakan amalan orang-orang yang masuk syurga. Ia akan dapat hidayah, ia akan dapat pencerahan, ia akan mendapat RAHMAT ALLAH dengan sebab-sebab yang kadangkala kelihatannya sangat sepele. Misalnya, dalam sebuah hadist, seorang perempuan lacur bisa masuk syurga hanya karena ia memberi minum seekor anjing dengan sepatunya.

 

Begitu juga, barang siapa yang sudah ditetapkan takdirnya untuk penjadi penghuni syurga, maka ia akan dimudahkan di dunia ini untuk menjalankan amalam-amalan yang akan membawanya ke syurga. Ia dilahirkan di keluarga orang yang beriman, ya dibesarkan dan dididik untuk menjadi orang yang beriman. Ia akan dimudahkan untuk menda[atkan rezki yang halal, ia akan makan dan minum dari yang halal. Ia akan dihalangi untuk melakukan amalan-amalan untuk orang-orang yang akan masuk neraka.

 

Akan tetapi, walaupun pada awalnya ia sudah beramal seperti amalan orang-orang yang akan masuk syurga, kalau diakhir hayatnya ia sudah di tuliskan untuk masuk kedalam neraka, maka dengan berbagai cara, suatu ketika dibelakan hari ia akan digelincirkan untuk beramal dan bersikap seperti amalan dan sikap orang yang akan masuk neraka.

 

Boleh jadi pula, jika sudah ditakdirkan, hanya dengan disebabkan oleh satu kalimat yang kita ucapkan, itu akan bisa membuat kita tergelincir masuk ke neraka yang jauhnya sejauh barat dan timur, seperti yang telah terjadi dengan Abu Lahab. Ia mencelakakan Rasulullah dimasa-masa awal Baginda berda’wah, sehingga turunlah ayat: Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya ia akan binasa…, (Al Lahab (111):1)

 

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

DETACHED

 

Kalau sudah sampai disini, maka kita tinggal hanya memakai Kacamata Makrifatullah saja lagi dalam mengharungi samudera kehidupan kita sehari-hari. Dan dengan sangat mengejutkan kita akan DETACHED (TERLEPAS) dari rasa sakit akibat dari berbagai masalah yang kita hadapi seperti terlepasnya duri dari tangan kita yang sebelumnya tertusuk duri. Kita akan menarik nafas dengan lega karena kita seperti TERBEBAS dari sesaknya nafas kita seperti orang yang sedang mendaki gunung yang sangat tinggi akibat dari berbagai persoalan hidup yang kita hadapi. Kita akan berjalan dengan penuh kegembiran seperti gembiranya seekor ikan yang kembali bisa berenang bebas setelah ia megap-megap beberapa saat akibat terdampar di bibir pantai saat pasang sedang surut. Kita akan kembali bisa mengecap kehidupan seperti seorang bayi yang tanpa beban, tanpa problem, tanpa masalah, tanpa takut, tanpa khawatir, tanpa iri, tanpa dengki, bahkan tanpa takut akan penyakit dan kematian sekalipun. Kita akan fokus dengan tugas-tugas yang harus kita jalankan seperti fokusnya seekor elang di udara dalam mencari makanannya.

 

Semua kegembiraan dan kelapangan itu terjadi karena pandangan mata kita sudah sangat tajam melihat:

 

  1. Bahwa kemanapun MATA kita memandang, MATA HATI kita sudah tajam untuk melihat bahwa HAKEKAT disebalik semua SIFAT yang terpandang mata kita itu semata-mata adalah DZAT. Artinya Dzatlah yang menjadi BATHIN dari semua SIFAT itu. Dan semua Sifat itu hanyalah PENDZAHIRAN dari yang Bathin itu. Tidak berpisah antara Sifat dengan Hakekat, tiada bercanggah antara Dzahir dengan Bathin.

 

Disini Mata Hati kita sudah dapat melihat bahwa Yang Dzahir dan Yang Bathin itu adalah SATU, Yaitu Dzat-Nya yang sejumput saja, yang berada di dalam Lauhul Mahfuz, sehingga kitapun boleh mengumandangkan kesaksian kita: Laa maujud illa Dzatillah…!”.

 

Sampai pada TAHAPAN ini, kita barulah sampai kepada memandang segala sesuatu yang berada DI DALAM LAUHUL MAHFUZ. Kita BELUM boleh mengatakan Laa Maujud Illallah…!. Belum boleh.

 

Sebab sampai disini kita masih berada di dalam tatanan Makhluk Ciptaan-Nya di dalam Lauhul Mahfuz. Makhluk-Nya yang berada di dalam Lauhul Mahfuzlah yang mempunyai Dzahir dan Bathin. Makhluk-Nya yang berada di dalam Lauhul Mahfuz pulalah yang Berawal dan yang Berakhir. Sedangkan bagi Allah tidak ada Awal dan tidak ada Akhir. Bagi Allah juga tidak ada Dzahir dan tidak ada Bathin.

 

Akan tetapi, kalau kita nekat untuk mengatakan Laa Maujud Illallah pada tahapan ini, maka mau tidak mau, sadar tidak sadar, kita akan sangat mudah sekali terperosok dan terjatuh ke dalam pahaman Wahdatul Wujud. Biasanya sensasi kewahdatulwujudan ini akan muncul setelah kita mulai bisa bermain-main dan mengeksplorasi wilayah Alam Bathin, yang ditandai dengan mampunya kita untuk MERASAKAN getaran-getaran tertentu yang menguasai kita atau yang bisa kita kuasai. Kita juga mampu untuk merasakan diri kita menjadi meluas dan membesar seperti tanpa batas.

 

Karena kita bisa merasakan getaran-getaran inilah yang menyebabkan kita mengira bahwa kita sudah memasuki alam Bathin. Alam yang halus yang meliputi segala sesuatu. Dan ketika itulah kita mengira bahwa alam Bathin itu adalah Allah. Sebab memang ada dalilnya di dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher kita, bahwa Dia meliputi segala sesuatu, bahwa kemanapun kita menghadap kita akan menjumpai Wajah-Nya.

 

Itulah yang menyebabkan kita mengira bahwa dengan memasuki alam Bathin kita itu, kita sudah berjumpa dengan Allah, sehingga muncullah ungkapan-ungkapan kita yang contohnya adalah ungkapan Allah ada DISINI dan INI seperti ungkapan-ungkapan saya dahulu kala. Ungkapan-ungkapan bahwa kita diisi oleh Allah, kita aliri oleh Allah, kita dikuasai oleh Allah atau istilah lainnya adalah ISTIGHRAQ atau FANA menurut Paham Wahdatul Wujud.

 

Itu pulalah yang menyebab tidak munculnya NATIJAH atau PUKULAN bathin kepada kita, Karena kalau hanya seperti itu, Allah kita alangkah kecilnya. Allah kita hanya sebesar Alam semesta, hanya sebatas pikiran dan prasangka kita saja. Padahal itu barulah Alam Dzat-Nya yang sejumput kecil saja, yang menjadi Hakekat dari semua Ciptaan.

 

Dengan mengetahui Alam Hakekat yang sangat kecil itu yang merupakan Hakekat dari semua ciptaan, maka kita akan berhenti untuk bermakrifat kepada Dzat Yang Maha Indah. Bahwa Dzat Yang Maha Indah itu pastilah Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Luas. Dzat Yang menamakan Diri-Nya dengan Allah. Kalau sudah begitu barulah kita bisa mengucapkan Laa Maujud Illallah. Dan kita sudah tidak bisa mengaku apa-apa lagi. Diamlah, Jahitlah mulut kita, buatlah diri kita seperti Pak Pandir:

 

Ada mata pandang

Ada telinga dengar

Ada mulut diam

Ada tangan garuk

Ada kaki goyang

Ada otak pandai

Ada akal pakai

Ada bijak gadai

Ada mata pejam

Ada mulut kunyah

Buatlah, buatlah tak tahu

Tepuklah tepuklah tanganmu

 

Biarkan si Luncai terjun dengan labu-labunya.

Biarkan-biarkan!.

 

Bersambung…

Read Full Post »

Bagi yang berkenan, dan tentu saja bagi yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk bisa mengenal kehidupan kerohanian yang lebih dalam, untuk lebih memahami artikel-artikel saya sejak bulan Februari 2014 yang lalu sampai sekarang, silahkan dengarkan Syarahan Arif Billah Ustadz H. Hussien BA. Latiff di Youtube: “farhan4u2c”. Dengarkanlah syarahan yang sangat penting bagi kita sebelum kita memulai kehidupan kerohanian itu, misalnya untuk shalat dan dzikrullah. Mulailah dari bab dasar atau basic seperti: Makrifatullah, Pembukaan Pintu Makrifatullan, Hati dan Mata Hati, Dzikrullah.

 

Sebab dalam sebuah Hadist, Rasulullah berkata kepada seorang sahabat Beliau yang akan pergi ke medan da’wah: “Engkau akan datang kepada suatu kaum Ahli Kitab. Karena itu, hendaklah yang pertama-tama engkau serukan kepada mereka ialah BERIMAN kepada Allah Azza wa Jallah. Apabila mereka telah MENGENAL ALLAH (MAKRIFATULLAH), maka beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka SHALAT lima waktu sehari semalam”, Shahih Muslim Buku 1, 28 (1998).

 

Dan pengenalan akan KEBENARAN ini akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan kerohanian kita setelah itu, misalnya:

 

  1. “Pengenalan kepada Allah swt melalui KESADARAN YANG JATI dimana seseorang itu benar-benar sadar atau DIKEJUTKAN kepada Kewujudan-Nya, atau Keesaan-Nya, atau Kebesaran-Nya”, Sayyid Ahmad Ar Rifai, Benteng Ahli Hakikat dalam Meniti Makrifat kepada Allah, 42 (1994).
  2. “Terangkat tutup yang menutupi (Hijab) sehingga jelaslah kenyataan KEBENARAN Allah pada semuanya itu dengan sejelas-jelasnya laksana mata memandang yang tidak diragukan lagi”, Imam Al Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.1, 97 (1981).
  3. “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”, Qaaf 50: 22.
  4. “Kamu melihat mata mereka mengucurkan air mata disebabkan KEBENARAN yang telah mereka ketahui; seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi”, Al Maidah 5: 83.

 

Note: kita mengucurkan air mata itu bukanlah karena kita merasakan “GETARAN-GETARAN” halus di dalam dada kita. Bukan. Sebab tangisan karena getaran-getaran itu hanyalah tangisan karena kita merasakan sensasi keluasan. Sensasi seperti ada getaran yang ingin bergerak keluar dari tubuh kita karena kita memang dengan sengaja ingin keluar dari tubuh kita.

 

Akan tetapi kita menangis disini disebabkan karena kita mengetahui KEBENARAN akan Kewujudan-Nya, atau Keesaan-Nya, atau Kebesaran-Nya. Dan kita DIKEJUTKAN akan KEBENARAN bahwa ALLAH Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Mengetahui, Maha Mendengar MELALUI DZAT-NYA Yang Maha Halus, Yang Maha Meliputi segala sesuatu. Jadi menangisnya kita itu lebih disebabkan oleh karena adanya NATIJAH, PUKULAN yang akan melembutkan HATI kita…

 

Bagi kita yang belum diijinkan dan belum ditakdirkan oleh Allah untuk itu, tentu saja kita akan menjadi berat untuk melakukannya. Sebab:

 

  1. “Tak seorangpun daripada kamu kecuali sudah ditetapkan tempatnya di syurga atau di neraka”, Terjemahan Sunan Ibnu Majah Buk.1, 66 (1992).
  2. “Semuanya akan dipermudah untuk yang mana telah ditentukan untuknya”, Terjemahan Sahih Al Bukhari Bk. 8, 402 (1987).
  3. “Orang-orang golongan bahagia, mereka akan dipermudah untuk melakukan amalnya orang-orang bahagia. Adapun golongan orang celaka, dia pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang celaka”, terjemahan Shahih Muslim Bk.4, 575 (1994), Terjemahan Shahih Bukhari Bk. 8, 402 (1987).

Bersambung

Read Full Post »

Kita akan bisa memahami HAKEKAT itu melalui Syarahan Pembukaan Pintu MAKRIFATULLAH, dari seseorang yang memang telah memegang KUNCI dari Ilmu Makrifatullah ini, Yaitu seorang yang bertaraf ARIF BILLAH. Sebab banyak memang orang yang sudah memberikan kajian makrifatullah ini, yang sudah tersebar luas sejak abad ke-4 Hijriah lalu, apalagi saat sekarang ini, namun Allah ternyata sudah MENAKDIRKAN pula bahwa sejak saat itu yang akan berkembang luas adalah Pelajaran Hakekat dan Makrifat melalui praktek-praktek Dzikir di dalam TAREKAT-TAREKAT. Bahkan beberapa orang juga mengenalkan dirinya sebagai Arif Billah, atau paling tidak Waliyullah.

 

Akan tetapi tidak ada perbedaan yang sangat signifikan antara satu dengan yang lainnya dalam hal ajaran dan cara-cara yang dilakukan. Ciri-cirinya adalah Hakekat dan Makrifat itu baru bisa kita dapatkan setelah kita berlatih dzikir, tadzkiyatunnafs, pengembelangan lahir dan batin selama TAHUNAN kalau tidak mau dikatakan belasan atau puluhan tahun. Dan selama itu pula kita akan seringkali duduk di alam khayal menunggu-nungu Ilham untuk bermakrifatullah atau untuk hal-hal yang lainnya. Sehingga terbengkalai pulalah peran pembangun peradaban umat manusia oleh umat Islam.

 

Tapi Alhamdulillah, SERIBU TAHUN kemudian barulah muncul seorang Arif Billah, karena Arif Billah itu memang diturunkan Allah sekali dalam seribu tahun. Beliau memahamkan saya dan ribuan orang lainnya tentang HAKEKAT dan MAKRIFAT dalam waktu yang sangat singkat. Dan itu dengan terang benderang.

 

Sehingga dari itu, saya akhirnya paham bahwa semua yang saya sebut dengan INI, DISINI dan terjadi SAAT INI itu ternyata sebenarnya barulah berbicara tentang ALAM HAKEKAT saja. Alam yang HANYA berkenaan dengan SEDIKIT DZAT ALLAH, yang besarnya tak lebih dari seukuran sebutir pasir terhadap padang pasir, atau setetes air di dalam lautan, atau lebih kecil dari sebutir ATOM, terhadap keseluruhan DZAT ALLAH Yang Maha Besar dan Maha Indah.

 

Jadi ungkapan INI, dan DISINI itu ternyata barulah berbicara tentang DZAT ALLAH YANG SEDIKIT itu, yang menjadi HAKEKAT dari semua CIPTAAN. Artinya saya belum sampai berbicara tentang Alam MAKRIFATULLAH. Sehingga apa-apa yang saya perbincangkan itu tidak sedikitpun bisa mewakili Allah. Sebab Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi, Allah Maha Luas, Allah tidak bisa diserupakan dan dirupakan. Jadi…, Allah TIDAK dapat dikatakan sebagai INI, yang berada DISINI…

 

Sebab INI dan DISINI itu ternyata barulah berbicara tentang SEDIKIT dari DZATNYA yang terzahir menjadi semua CIPTAAN. Dzat-Nya yang berada disebalik semua Ciptaan, yang menjadi BATHIN dari semua Ciptaan, yang Maha Halus dan Yang Maha meliputi segala CIPTAAN. Jadi…, kemanapun mata kita memandang dan kemanapun wajah kita menghadap, maka kita akan memandang dan menghadap kepada DZAT-NYA yang sedikit itu, bukan sedang memandang dan menghadap kepada Allah. Sebab Allah tidak berada didepan, tidak dibelakang, tidak diatas, dan tidak dibawah.

 

Oleh sebab itu, di dalam shalat misalnya, kita TIDAK harus berakting seakan-akan Allah ada di depan kita. INI dan DISINI. Kita tidak perlu pula merasa-rasakan adanya GETARAN di dalam dada kita. Seperti orang lebay begitu. Bukan begitu sebenarnya. Kita hanya perlu menjaga HATI kita untuk selalu INGAT kepada Allah selama kita shalat itu. DZIKRULLAH…!.

 

Dan untuk mengunci ingatan kita kepada Allah itu agar bisa BERTAHAN lama dan BERKETERUSAN, maka ketika hati kita ingat kepada Allah, kita tumpukan mata hati kita kepada ingatan kepada Allah itu, sehingga hati kita TIDAK bisa lari lagi kemana-mana selama kita shalat itu. Hati kita akan menjadi FOKUS pada ingatan kepada Allah (Dzikrullah). Ini sesuai dengan Al Qur’an: “dirikanlah Shalat untuk MENGINGAT AKU (ALLAH)). Sebab kalau tidak kita TAHAN, hati kita itu ternyata sangat mudah sekali untuk lari dari satu ingatan kepada ingatan-ingatan yang lain. LIAR sekali…

 

Demikinlah, setelah itu Beliau melakukan pula pembetulan terhadap paradigma berpikir saya tentang hal-hal berikut ini:

 

  1. Makna HATI dan dimana LETAKNYA di dalam diri kita.
  2. Pengertian tentang DZIKIR dan DZIKRULAH.
  3. Rukun Iman ke-6
  4. Ibadah-ibadah,
  5. Keredhaan
  6. Fana, Lebur, Nol menurut Tasawuf jalan Nabi-Nabi, yang sangat berbeda dengan menurut Tasawuf jalan Wali-Wali /Tarekat.
  7. Dan sebagainya…

 

Dan hasilnya adalah…, paradigma berpikir sayapun berubah drastis dari paradigma sebelumnya yang sangat sempit menjadi paradigma yang sangat lapang dalam memandang kehidupan. Sebab ternyata kehidupan ini semata-mata hanyalah penzahiran aktifitas sedikit dari Dzat Allah yang sangat patuh mengikuti TAQDIR yang telah dibuatkan oleh Allah untuk menjadi berbagai Ciptaan-Nya.

Bersambung

Read Full Post »

Dimana intisari dari istilah ISTIGHROQ ini adalah kita sudah merasakan diri kita ini fana atau LEBUR MENYATU kedalam Allah dan bersama Allah. Ada juga yang mengistilahkan Fana Fillah, Fana Billah, Tahkalli, Tahalli, Tajalli, fana ul fana, dan sebagainya. Dan semuanya itu ada rasanya. Rasa seperti diisi atau dialiri yang menyebabkan kita nyaris tidak bisa menggerakkan badan kita. Badan kita terasa rileks dan lemas, pasrah, nol, merasa mati sebelum mati, tertunduk dihadapan Alloh SWT (LILLAH)

 

Di dalam istilah TASAWUF JALAN WALI-WALI /TAREKAT, keadaan atau hal seperti ini tak ubahnya seperti BESI yang telah dibakar dengan API sehingga besi itu menjadi panas pula seperti panasnya api. Ada DUA WUJUD yang telah bersatu padu menjadi SATU. Dimana saat itu sudah tidak dapat dibedakan lagi antara besi dan api. Dua-duanya telah LEBUR menjadi satu, yaitu API yang menghasilkan PANAS.

 

Antara besi dan api sudah tidak dapat dibedakan lagi. Yang ada hanya Api yang Panas. Sehingga besi bisa berkata-kata  bahwa besi adalah api, api adalah besi. Ketika sebuah kertas didekatkan kepada besi yang sepanas api itu, dan kertas itu terbakar hangus, maka besi seakan-akan merasa berhak untuk berkata-kata: “aku yang membakarmu wahai kertas, sebab aku adalah api, api adalah aku”.

 

Kalau kita tidak hati-hati, maka sikap seperti besi panas yang mengaku-ngaku seperti ini bisa pula kita lakukan ketika kita sudah merasa ISTIGHROQ, atau terlempar ke kedalaman rasa dekat dengan Allah. Ada Istighroq Ahadiayah. Ada rasa bersama Allah yang sangat dalam (FANA FILLAH, FANA BILLAH), sehingga ketika kita bergerak kita merasa kita sedang bergerak bersama Allah, atau kita merasa dan mengaku digerakkan oleh Allah. Misalnya, saat shalat kita mengaku dishalatkan oleh Allah. Kita bahkan merasa berhak pula untuk memarahi, membenci, menghakimi, menghukum orang lain yang tidak sesuai dengan keinginan kita…

 

Akan tetapi itu dulu. Sekarang ALHAMDULILLAH, dengan sebuah sebab yang sangat aneh, saya telah ditakdirkan oleh Allah untuk bertemu dengan seorang ARIF BILLAH di awal 2014. Pertemuan-pertemuan dengan Beliau itupun masih berlanjut sampai sekarang. Beliau telah mengkalibrasi paradigma berpikir dan pemahaman-pemahaman saya selama ini melalui sebuah pembukaan “Pintu Makrifatullah” yang begitu gamblang, sehingga tidak ada lagi keraguan saya setelah itu…

 

Bahwa semua ungkapan-ungkapan saya dulu itu, ternyata diakibatkan oleh masih kurangnya satu langkah awal yang harus saya pahami. Tapi langkah awal itu justru adalah langkah yang paling penting untuk saya pahami terlebih dahulu, sebelum saya memasuki dunia kerohanian. Kalau tidak, maka belum apa-apa saya sudah mengatakan “LAA MAUJUD ILLALLAH…, tiada yang Wujud yang Wujud kecuali Allah”. Makanya akan mudah sekali muncul pemahaman saya seperti diatas yang mendekati paham Wahdatul Wujud yang kental dengan istilah-istilah mendekati “satu dalam ramai, ramai dalam satu; aku adalah Dia, Dia adalah aku; Aku adalah aku, aku adalah Aku…; dan sebagainya”.

 

Langkah yang belum saya ketahui itu adalah, saya belum memahami HAKEKAT dari semua CIPTAAN. Sebab dengan langkah-langkah Mengupas Kulit Bawang yang saya ungkapkan di dalam buku “MRS”, pada akhirnya sebenarnya saya barulah bertemu dengan Alam Hakekat ini. Alam yang sangat KECIL terhadap Dzat Allah Yang Maha Besar. Walaupun alam yang sangat kecil itu besarnya adalah sebesar Alam Semesta yang tidak kita ketahui ujungnya, namun ya tetaplah sangat kecil terhadap Dzat Allah Yang Maha Agung.

 

Dan untuk memahami Alam Hakekat ini, ternyata sebelumnya kita tidak perlu melakukan wirid-wirid atau dzikir, shalawat-shalawat yang banyaknya ratusan ribu kali, seperti yang banyak dilakukan dan dipraktekkan oleh orang-orang yang menyesuai tarekat-tarekat atau majlis-majlis dzikir tertentu. Tidak perlu, dan bahkan untuk hal-hal seperti itu tidak ada dalilnya dari Nabi dan tidak dipraktek pula oleh para sahabat Beliau, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in.

Bersambung

Read Full Post »

Makanya saat dulu itu seringkali muncul ungkapan-ungkapan saya yang cenderung dan lebih dekat kepada Paham Wahdatul Wujud sebagai berikut:

 

INI… ADA!. INI…!!!!.

Maka INI ADA..!.

OOO… INI….!!!!!.

Dimana INI…???!.

Yaa…, DI SINI….!.

OOO…, ADA INI DI SINI..!.

Allah berada DI SINI…

Karena Dia Meliputi Segala Sesuatu, maka
Barat berada dalam Liputan-Nya
Timur berada dalam Liputan-Nya.
Segala Pandangan kita berada dalam Liputan-Nya.
Segala Pendengaran kita berada dalam Liputan-Nya
Kemanapun kita menghadap, kita menghadap pada Liputan-Nya.
Yang Dekat berada dalam Liputan-Nya.
Yang Sangat dekat berada dalam Liputan-Nya.
Yang kecil berada dalam Liputan-Nya.
Yang sangat kecil berada dalam Liputan-Nya.
Zarrah berada dalam Liputan-Nya.
Yang Tinggi teramat Tinggi berada dalam Liputan-Nya.
Yang Luas teramat luas berada dalam Liputan-Nya.
Orang kafir berada dalam Liputan-Nya
Seluruh manusia berada dalam Liputan-Nya

Karena Segala Sesuatu berada dalam liputan-Nya, maka
Dia berbeda dengan apa-apa yang Dia Liputi.
Dia tidak sama dengan apapun yang Dia Liputi.
Karena dia meliputi segala sesuatu, maka
Dia pastilah Tunggal.
Satu
AHAD.

 

Aku kembali mengamati Yang LUAS, INI…
Aku kembali mengamati Yang SENDIRI, INI…
Aku kembali mengamati Yang tiada apa-apa, INI..


Nah…, kalau Sang INI sudah nyata ada, DISINI..!, INI telah Meliputi Semuanya …!., maka dengan merunduk-runduk:

barulah kita panggil Sang Ada INI… dengan panggilan, ALLAH…!, ALLAH…!, ALLAH…!

Lalu aku hanya tinggal memanggil-manggil PEMILIKNYA.

Aku MENGIMANI bahwa pemilik Yang Luas INI, adalah ALLAH…
Aku MENGIMANI bahwa pemilik Yang Sendiri INI, adalah ALLAH…
Aku MENGIMANI bahwa pemilik Kesendirian INI, adalah ALLAH…
Aku YAKIN dan PERCAYA bahwa pemiliknya adalah ALLAH…

 

Kemudian, kalau kita sudah menyaksikan Sang INI menyibakkan Kemahasucian-Nya, maka:

barulah kita puja, Sang INI dengan ungkapan SUBHANALLAH,

Kemudian, kalau kita sudah menyaksikan Sang INI mencurahkan segala rahmat dan karunia-Nya kepada Alam semesta dan diri kita, maka:

barulah kita ucapkan terima kasih kita kepada Sang INI dengan ungkapan ALHAMDULILLAH.

Kemudian, kalau kita sudah menjadi saksi atas semakin nyatanya Sang INI, maka:

barulah kita ungkapkan kesaksian kita terhadap Sang INI dengan ungkapan LAA ILAHA ILLALLAH,

Kemudian, kalau kita sudah menyaksikan Sang INI menguakkan Kemahabesaran dan Kemahaluasan-Nya, maka:

barulah kita sungkem kepada Sang INI dengan mengucap ALLAHU AKBAR,

Kemudian, kalau kita sudah merasakan adanya DAYA dan KEKUATAN dari Sang INI yang mengalir di seluruh penjuru UFUK, maka:

barulah kita ungkapkan pengakuan kita terhadap KEKUATAN dan DAYA Sang INI dengan ungkapan LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH,

Biarkanlah Sang INI mengaku kepada kita, yang kalau dibahasakan menjadi bahasa manusia kira-kira akan berbunyi seperti berikut ini:

INI adalah AKU…!.

AKU…!. AKU…!. ANA…!, ANA…!

Yang ADA adalah AKU, Laa ilaha illa ANA…!.

Yang Maha Suci adalah AKU, Subhani…!.

Yang Maha Besar adalah AKU, ANA akbaru ‘ala kulli syaiin…!!.

Lalu…, biarkanlah Sang INI memberi tahu  kita:

Melihatmu ini adalah Melihat-KU,

Mendengarmu ini adalah Mendengar-KU,

Tahumu ini  adalah Tahu-KU,

Dayamu ini  adalah Daya-KU,

Kekuatanmu ini  adalah Kekuatan-Ku,

Hidupmu ini  adalah Hidup-KU,

Gerakmu ini   adalah Gerak-KU,

Adamu ini adalah Ada-Ku,

Semua ini  adalah karena RUH-KU…!,

RUH-KU Yang KU tiupkan kepadamu,

RUH-KU Yang KU liputkan kepadamu…!

Aaaa…, MILIK-KU KESEMUANYA ini…!.

Ungkapan-ungkapan diatas (yang ada di dalam buku Membuka Ruang Spiritual) sungguh sangat dekat atau sangat populer bagi orang-orang yang berpahaman dengan paham Wahdatul Wujud. Dan yang membuat mata hati saya buta waktu itu adalah bahwa semua itu ada GETARANNYA, ada TANGISANNYA, dan ada TENANGNYA juga.

 

Dan semua itu terjadi karena pada saat itu saya memang BELUM dibekali dengan ILMU HAKEKAT dan MAKARIFATULLAH yang betul sebelum saya menjalankan kehidupan kerohanian. Dimana dengan pengertian seperti diatas, terlihat sekali kepahaman saya yang tidak tepat. Bahwa seakan-akan hakekat diri saya adalah diri Allah, hakekat perbuatan saya adalah perbuatan Allah. Dan dengan begitu waktu itu saya beranggapan bahwa Allah seakan-akan hidup bersebelahan dengan saya. Sehingga kadang-kadang saya merasa seperti ada, dan kadang-kadang saya ingin seperti menyerahkan diri saya kepada Allah, dan seakan-akan ingin tenggelam yang sangat dalam ke dalam liputan Allah…, ISTIGHROQ…

Bersambung

Read Full Post »

Akan tetapi sejak abad ke-4 Hijriah, mulailah tumbuh dengan subur ajaran-ajaran yang melenceng dari ajaran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sampai dengan Tabi’it Tabi’in. Melencengnya ajaran-ajaran itu bermula dari kelirunya tokoh-tokoh pembawa ajaran itu tentang memaknai HATI dan LETAKNYA di dalam diri kita.

 

Dimana Hati itu dimaknai mereka sebagai QALB dan letaknya berada DI DALAM DADA kita. Kekeliruan ini kemudian membawa kekeliruan pula dalam proses TADZKIYATUNNAFS yang dimaknai mereka sebagai proses MEMBERSIHKAN HATI (Qalb) yang berada di dalam dada kita itu. Jadilah dada atau jantung kita itu yang kita gempur dengan dzikir beribu-ribu kali. Dengan harapan dada atau jantung kita itu menjadi bersih.

 

Kita juga mengira bahwa RASA itu adanya di dalam dada kita, seperti kata penyanyi “CC, Sakitnya tu disini”, sambil ia menepuk-nepuk lembut dadanya. Sehingga kitapun ada yang ikut-ikutan ikut berusaha dengan berbagai CARA dan METODA untuk menjaga agar GETARAN PERASAAN yang katanya berada di dalam DADA atau JANTUNG kita itu selalu positif. Entah itu dengan cara kita hanya mengucapkan kalimat yang sekilas memperlihatkan kita seakan-akan sedang menjadi orang yang berbahagia dan penuh dengan rasa CINTA: Hai teman, peace, love you, salam superrrr…, Salam XYZ, dan sebagainya; atau dengan cara kita berkhayal bahwa kita sedang berada di tempat-tempat yang indah dan nyaman. Kita jadi SYUK-MASYUK, SYIK-ASYIK, dan terbuai di alam khayalan kita itu. Seperti seorang anak kecil yang dininabobokkan oleh orangtuanya.

 

Akan tetapi, ketika kita diberitahu bahwa perasaan kita yang seperti itu adalah perasaan yang PALSU, dan bukan perasaan yang ASLI yang datang dari Tuhan (ILHAM), karena ia datang dari proses berpikir kita, maka kita akan bingung untuk memilah-milah dan mematut-matut perasaan kita itu. Ini rasa aslikah atau bukan. Ini ilhamkah atau dorongan hawa nafsukah. Kita jadi ragu-ragu terus dengan kualitas beragama kita. Apalagi kalau itu dihubung-hubungkan pula dengan kekhusyukan kita di dalam shalat. Akan semakin membuat kita sedih dengan kualitas diri kita. Kita jadi pesimis. “Auk ah gelap…”, kata kita seperti orang yang sedang berputus asa. Sehingga banyak pula kita yang berusaha dengan berbagai cara dan sekuat tenaga agar kita bisa pula mendapatkan ilham yang kualitasnya adalah ilham asli yang datang dari Allah, dan ditambahi harapan bahwa dengan begitu kita akan bisa pula khusyuk di dalam shalat kita.

 

Akhirnya, yang paling berat, kita bermasalah pula dalam proses MENGINGAT ALLAH (DZIKRULLAH). Kalau mengingat Allah itu harus kita lakukan di dalam dada kita, atau tepatnya di dalam QALB atau JANTUNG kita, maka kita akan sangat kesulitan sekali dibuatnya. Sebab ternyata Jantung kita itu tidak punya instrumen apa-apa untuk MENGINGAT. Kalau jantung atau  qalb kita itu bisa mengingat, tentu tidak perlu orang gila atau sakit jiwa kita kurung di rumah sakit jiwa. Mereka tidak perlu kita kirim ke rumah sakit jiwa untuk diobati, atau untuk mencegah mereka membuat kerusakan di tengah-tengah masyarakat. Sebab instrumen mereka yang bermasalah kan OTAKNYA, sedangkan JANTUNGNYA, atau QALBNYA kan masih UTUH dan bekerja dengan baik.

 

Dari sejak abad ke-4 Hijriah itulah muncul berbagai cara baru untuk mencapai Maqam Makrifatullah, dan yang paling populer adalah dengan melalui anak tangga: SYARIAT-TAREKAT-HAKAKET-MAKRIFAT. Artinya, orang yang hanya menjalankan SYARIAT saja tidak akan pernah bisa mencapai maqam MAKRIFATULLAH tanpa ia menjalankan ajaran sebuah TAREKAT tertentu yang MU’TABARAH (yang berstandar). Dimana kemu’tabarahan sebuah tarekat itu bisa dilihat dari SANAD para MURSYIDNYA yang MUTTASHIL sampai kepada Rasulullah SAW. Padahal cara-cara berdzikir mengikuti kaedah ilmu tarekat ini baru muncul pada abad ke-4 Hijriah…

 

Bagi kita yang malu-malu untuk memakai istilah TAREKAT, kita bisa memakai istilah TADZKIYATUNNAS. Proses PENYUCIAN DIRI, HATI, ATAU NAFS. Akan tetapi walaupun namanya berbeda, akan tetapi yang harus kita lakukan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan praktek di dalam tarekat. Ada yang harus berdzikir dalam waktu yang lama. Ada yang harus bershalawat berulang-ulang dalam waktu yang lama, misalnya dengan ucapan “YAA SAYYIDII YAA RASULALLAH”. Dan berbagai praktek lainnya…

 

Dan dulu, selama belasan tahun, saya berada dalam posisi kebingungan seperti ini. Tanpa saya sadari, hasilnya adalah saya ternyata lebih dekat kepada paham Wahdatul Wujud ini sampai dengan akhir tahun 2013 yang lalu. Ciri-cirinya yang sangat kental untuk itu adalah ungkapan-ungkapan saya seperti: “Allah ada DISINI, INI…”

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: