Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2013

NGGAK NYAMBUNG.

Oleh sebab itu, kalau rasa bahagia yang kita rasakan hanya sekelas bahagia OVJ dan yang sejenisnya, atau rasa bahagia sekelas getaran hipnosa dan yang sejenisnya, maka ketika kita mencoba untuk bercerita tentang rasa bahagia akibat BERIMAN kepada Allah, ya nggak nyambung.

Karena rasa bahagia karena adanya getaran IMAN di dalam dada kita sangat jauh berbeda dengan rasa bahagia yang kita ciptakan sendiri dengan pikiran kita. Kalau kita masih nekat juga menyampaikannya, maka saat itu kita akan berhadapan dengan ayat Al Qur’an dimana Allah sangat marah kepada orang-orang yang menyampaikan, memperkatakan apa-apa yang tidak ada suasananya didalam dadanya. Hambar.

Sebab dengan begitu, berarti kita telah ikut pula berperan menyebarluaskan ketidakpahaman kita itu kepada orang banyak. Jika kita memberitahu dan mengajarkanya kepada satu jamaah, maka akan menghasilkan sekumpulan orang yang sama-sama tidak pahamnya dengan kita. Apalagi kalau jamaah kita itu adalah masyarakat luas yang ada disebuah negara atau bahkan di berbagai penjuru dunia. Alangkah akan mengerikan sekali akibatnya. Ketidakpahaman bertemu dengan ketidak pahaman lainnya, sehingga yang muncul adalah kelompok-kelompok yang saling membenarkan dirinya sendiri. Seperti yang terjadi sekarang inilah. Allah di dalam Al qur’an tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa keadaan seperti ini adalah termasuk musyrik. Ya… MUSYRIK.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang MUSYRIK (mempersekutukan Allah), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” , (Ar Ruum 30: 30 – 32)

Namun, ditengah-tengah ancaman Allah seperti itu, sa(ha)ya masih memberanikan diri untuk menulis ini hanya karena sa(ha)ya sudah menyerahkan diri sa(ha)ya kepada Allah untuk diapakan saja oleh Allah. Sa(ha)ya hanya berharap, selama penulisan artikel ini, Allah berkenan memasukkan suasana demi suasana yang sa(ha)ya tulis itu kedalam dada sa(ha)ya. Ya Allah…, hamba sahaya bersedia ya Allah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Atau bisa kita katakan kehebatan kita dengan agak lengkap seperti berikut:

“Bagi siapapun yang punya:

Hambatan emosi seperti: Depresi / Trauma, Phobia, Sulit tidur, Mudah Marah, Tersinggung, Dendam lama, Perselingkuhan, Tidak Percaya Diri berbicara di depan Publik, kecanduan Obat Terlarang.

Atau hambatan Fisik seperti: Sakit kepala / Migrain, Nyeri Punggung, Maag Akut, Kanker, Penyembuhan pasca stroke, Hypertensi, Asma, Vertigo, Sakit Jantung, dll.

Atau Masalah Keluarga: Rasa kecewa karena pasangan / istri / suami / anak tidak bersikap seperti yang diharapkan; Rasa terlalu posesif atau protektif yang tidak produktif, Rasa takut kehilangan, Hilangnya romantisme atau rasa cinta; Ingin (dan bernafsu untuk) selingkuh.

Atau Masalah Anak: Hiperaktif, Ngompol (enuresis), Gagap, Autis, Suka Berbohong, Pemalu, Gangguan Konsentrasi Belajar /Prestasi belajar rendah, Mudah Emosi (perasaan takut, cemas, Marah, sedih, dll), Anak & Remaja Membangkang, Suka Memberontak, Manja & Sangat bergantung dengan orang tua, Anak yang tidak mau menurut, Mudah tersinggung, Cemburu yang berlebihan, dll.

Atau ingin menghasilkan Kinerja Unggul: Pelayanan Prima terhadap Pelanggan, Prestasi penjualan yang mengesankan, Tingkat produksi yang tinggi, Ide-ide kreatif inovatif, Budaya kerja yang efisien, Karyawan Lebih Puas, Lebih Loyal, Menerima kondisi yang ada dsb.

Atau banyak lagi hal-hal negative lainnya yang sering disebut sebagai penyakit masyarakat.

Maka datanglah ketempat saya, ketempat pelatihan saya, ketempat training saya. Karena saya punya gabungan banyak metoda untuk memperbaiki bahkan menghilangkan semua penyakit masyarakat itu. Yaitu:

1. Powerfull Prayer (Spirituality)
2. Provocative Therapy
3. Energy Therapy (EFT)
4. Loving Kindness Therapy.
5. Cognitive Therapy (NLP)
6. Behavioral Therapy
7. Logotheraphy
8. Psychoanalisa
9. Self Hypnosis (Ericksonian)
10. Sugesty & Affirmation
11. Visualization
12. Gestalt Therapy
13. Meditation
14. Sedona Method

Sehingga saya menjamin anda akan sehat, unconditional bahagia, meraih sukses, keberuntungan, keberhakan, hidup yang mulia, berguna bagi orang lain. Saya garansi. Lihatlah beberap tokoh penting memberikan testimoninya tentang saya”.

Demikianlah kita akan bercerita tentang suasana yang ada di dalam dada kita. Kita bisa mengungkapkannya dengan berbagai cara. Kita ungkapkan dalam bentuk bahasa berbagai macam ilmu yang kita punyai, dalam bentuk bahasa kehebatan metoda kita. Kalau perlu itu kita tambah-tambahi dengan ucapan-ucapan dzikir dengan menyebut nama Allah, biar umat islam yang ingin mengikutinya bisa percaya bahwa itu adalah sebuah cara yang sangat islami. Bahkan kemudian ditambahi pula dengan acara-acara pengajian, shalat, baca al qur’an. Sungguh islami sekali kelihatannya. Sehingga banyak pula orang yang tertarik dan melatihnya dengan semangat 45.

Yang lebih konyol sebenarnya adalah ketika didalam dada seseorang sedang ada rasa bahagia, tapi asal rasa itu adalah karena dia baru saja selesai menonton OVJ, maka ceritanya pastilah tentang kelucuan si S, A, N, A, P, dan anggota-anggota OVJ lainnya. Ceritanya pas banget. Karena dia memang sedang bercerita tentang suasana yang ada di dalam dadanya.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Nah…, kalau saat itu kita bercerita dan berkata-kata, kita tidak akan jauh-jauh dari suasana yang ada didalam dada kita sekarang. Cara bercerita kita bisa bermacam-macam. Berikut ini kita akan melihat beberapa cerita yang sedang menjadi TREND ditengah-tengah masyarakat, sehingga banyak pula diantara kita yang ingin ikut-ikutan melakukannya. Seakan-akan hal seperti ini sudah merupakan jalan keluar dari rasa DUKACITA yang kita alami selama ini sehingga kemudian kita bisa merasakan rasa SUKACITA dalam bentuk rasa bahagia, rasa aman, rasa sehat, rasa kaya, atau rasa dihormati.

Misalnya,
“Tadinya saya sakit, galau, marah, sedih, gelisah. Kemudian saya ikut hipnoterapi, saya di hipnotis. Atau saya ikut pengajian anu, saya datang kepada ustad ini dan disuruh berdzikir, lalu sakit saya berkurang, galau saya hilang, marah saya lenyap, sedih saya terobati. Saya menjadi tenang dan berbahagia. Hebat deh instrukturnya, ustadznya keren habis”.

Atau,
“tadi itu saya bermasalah, kemudian saya lepaskan diri saya dari masalah itu, saya lupakan, saya terima, dan ndilalah masalah saya itu selesai dengan sendirinya dengan cara-cara yang tak terduga, saya benar-benar merasa bahagia saat itu, saya “terhipnotis” dengan hasilnya, dan berbagai istilah lainnya”.

Atau,
“ketika tadi saya ingin melakukan sesuatu, ternyata disitu saya harus antri yang sangat panjang. Kemudian saya akses “getaran” dan saya katakan saya akan bisa segera melakukan aktifitas saya tanpa ikut antrian. Tiba-tiba antrian itu seperti terurai sehingga sayapun bisa melakukan aktifitas saya dengan sangat mudahnya, tanpa ikut antrian”. “Hebatkan?, siapa yang mau belajar hayoo..?”,

Atau,
“tadinya saya adalah seorang yang penakut, saya sebenarnya mendambakan rasa aman dari semua gangguan dimanapun saya berada. Kalau ada musuh yang menggangu, saya ingin musuh saya itu bisa terjengkang dan jumpalitan tanpa saya sentuh sedikitpun. Lalu saya datang kepada si “A”. Setelah perut saya di “gores”-nya sedikit dengan tangannya (di inisiasi, di isi atau attunement) kemudian saya uji coba kepada beberapa orang yang ada disitu, benar lho…!. Para penyerang saya itu benar-benar bisa terjengkang dan jumpalitan. Jadi sekarang saya tidak pernah takut lagi kemana-mana. Karena saya sudah punya ilmu kontak ini”.

Atau,
“tadinya saya seperti nggak habis-habisnya dirundung malang. Saya sangat miskin. Rejeki saya seperti mandeg. Kemudian saya ikut sebuah pelatihan tentang Magnet Rejeki atau cara-cara lain seperti Bersedekah. Saya ikuti metodanya. Saya bayangkan saya bisa menarik Rejeki itu, atau saya perbanyak bersedekah. Eh iya lho, alhamdulillah, rejeki saya sekarang jadi sangat mudah”. Sehingga setelah itu kitapun bisa berpromosi agar orang lain bisa pula melakukan apa-apa yang kita lakukan: ” Coba deh anda ikut pelatihan Magnet Rejeki itu atau bersedekahnya diperbanyak. Pasti anda juga akan mengalaminya. Eh insyaallah maksud saya”.

Atau,
Kalau kita sudah hebat, kita bisa berkata:
“Saya itu bisa mengobati penyakit. Supaya tidak dianggap sombong kita tambahkan sedikit kalimat “alhamdulillah”, atas izin Allah. Pernah orang datang kesaya, kelihatannya dia sakit, stress. Kemudian saya coba menyembuhnya. Saya konsentrasi, saya kirimkan beberapa getaran kedalam tubuhnya. Sampai dia itu keter-keter, melotot-melotot, dan kadang-kadang muntah-muntah. Saya minta jin atau makhluk halus yang ada di dalam tubuhnya untuk keluar. Di bergetar-getar dan muntah-muntah. Setelah getarannya hilang, kemudian dia menjadi tenang. Siapa yang mau belajar ke saya?”.

Atau kesaksian atas keberhasilan seseorang atas sebuah metoda hipnotis sbb:

“Tuan XYZ, saya mengucapkan terimakasih, sudah puluhan tahun saya belajar hipnotis, tapi baru kali ini saya paham dan menjadi percaya diri dan langsung bisa….Salam hormat tuan XYZ yang sangat hebat….Saya mohon ijin untuk mengajarkannya kepada orang lain”
Tuan. P, dari sebuah Kota

“Sekarang saya menjadi pribadi penuh percaya diri seperti Rajawali sakti….Saya sudah frustasi awalnya, belajar hipnotis di hotel mewah dengan biaya mahal dan diajar oleh pakar hipnotis terkenal, tapi tidak bisa, tapi melalui modul sederhana XYZ sekarang saya gagah perkasa menghipnotis orang tiap hari minimal 10, bahkan 40 orang perhari….Hidup Hipnotis!….
Mr. X, dari sebuah kota.

“Pak XYZ, saya hanya ingin memberitahukan melalu SMS ini dan berterimakasih sebesar-besarnya bahwa saya sudah bisa menghipnotis dengan mudah….”
Mr. X, di S

“Dulu saya waktu kecil saya sempat ingin belajar hipnotis, tapi dilarang oleh orang tua, ternyata sekarang saya bisa menghipnotis orang dengan mudah melalui paket pembelajaran dari anda, terimakasih wawasan saya jadi terbuka lebar!”
Mr. X, di A

“Saya sudah puluhan tahun mengajar prana dan tenaga dalam, dan ikut pelatihan hipnotis berkali-kali, tapi saya baru mendapatkan kejelasan dan pencerahan melalui Bapak XYZ, terimakasih…
Mr. X, Guru Besar perguruan esoterik di S

“Tuan saya rata-rata perhari menghipnotis 20 orang, di mana saja, di pura, di pasar, di manapun….Sangat seru….Terimakasih Tuan…..”
Mr. X, di K

BAnyak kok iklan seperti ini bertebaran di dunia maya atau di berbagai surat kabar dan majalah.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Bagi orang yang tidak diberi ilmu, dia tidak akan bisa merasakan perubahan-perubahan suasana yang ada di dalam dadanya setiap saat. Karena dada orang yang tidak beriman kepada Allah itu keadaaanya adalah seperti batu hitam yang sangat keras. Dadanya telah mati, keras, dan membatu. Suasana di dalam dadanya tidak bergeming sedikitpun ketika dia membaca nama Allah, membaca ayat, ayat Al Qur’an, mendirikan shalat, berdzikir, dan sebagainya. Dada yang seperti itu sebenarnya sangat berat sekali menekan dan membebaninya. Dia membawa-bawa beban itu kesana-kemari setiap saat. Itu capek sekali rasanya. Ketika dia berkata-katapun, ujung-ujung perkataannya tidak akan jauh-jauh dari memperkatakan kesulitannya, penderitaannya, kegalauannya, kesakitannya, ketersiksaannya, problematikanya. Tidak jauh-jauh dari sana.

Jadi yang akan membedakan kita satu sama lainnya hanyalah tentang SUASANA seperti apa yang sedang mekar dan berkembang di dalam dada kita saat ini. Bisa tidak kita untuk membaca suasana yang ada di dalam dada kita itu. Kemudian bisa tidak kita untuk membaca setiap perubahan yang terjadi di dalam dada kita setelah kita melakukan sesuatu aktifitas.

Nah…, cerita-cerita kita kepada orang lain nantinya tidak akan jauh-jauh dari itu. Kita akan bercerita tentang suasana yang ada di dalam dada kita dahulu kala (kemaren-kemaren) dibandingkan dengan suasana sekarang. Kalau ada perubahan, perubahannya itu seperti apa, dan bagaimana sejarahnya sampai kita bisa mendapatkan perubahan itu. SEBAB berubahnya kenapa, dan CARANYA bagaimana?. Kalaupun tidak ada perubahan, kita juga akan bercerita tentang tidak berubahnya suasana hati kita itu, walau kita sudah melakukan berbagai hal dan bermacam cara. Kalau masalah cara bercerita kita dan pemilihan kata-kata kita, itu sih hanya tergantung kepada seberapa banyak perbendaharaan kata kita, ilmu kita, dan pengalaman kita. Itu tidak terlalu penting sebenarnya.

Suasana yang ada didalam dada kita itulah yang disebut sebagai ayat-ayat Allah yang sebenarnya. Ayat-ayat Allah yang NYATA. Ayat-ayat yang tidak pernah bohong. Kalau kemudian kita berkata-kata, tapi perkataan kita itu tidak sesuai dengan keadaan yang sedang mekar di dalam dada kita, maka dengan sangat pas kita bisa menghakimi diri kita sendiri: “Ah…, kayaknya saya bohong deh…”. Dan rasa bohongnya itu pas sekali. Dan saat kita berbohong itu, Al Qur’an menyebut kita sebagai orang yang zalim. Kita zalim terhadap diri kita sendiri. Kita menyakiti diri kita sendiri. Karena rasanya memang sakit sekali, seperti di palu begitu rasanya dada kita. Kalau sampai tidak terasa, ya nggak apa-apa…

Jadi da’wah itu lebih cocok dikatakan sebagai aktivitas kita untuk menyampaikan keadaan yang muncul atau sedang ada di dalam dada kita setelah kita menjalankan sebuah praktek agama Islam, misalnya shalat, membaca Al Qur’an, puasa, zakat, sedekah, haji, dan sebagainya. Kemudian kita mengajak orang lain untuk singgah sejenak guna menikmati suasana seperti yang ada di dalam dada kita itu. Hanya mengajak singgah saja. Bukan memaksa orang lain agar mereka mau ikut dengan kita.

Dan untuk pembanding antara apa yang kita dapatkan dengan apa yang kita lakukan itu, petanya cukup dua saja, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Jelas kok peta suasana dada kita yang digambarkan oleh Al Qur’an dan Al Hadist itu. Kita tidak perlu mencari-cari peta yang lain. Saat Al Qur’an berkata: kalau kita shalat, hasilnya begini…, begitu…, dada kita lapang, kita bahagia, lalu ketika kita shalat ternyata kita tidak bahagia, maka berarti shalat kita itu masih salah. Simple sekali.

Oleh karena itu, da’wah akan sangat berbeda dengan cara-cara motivasi yang disampaikan di dalam training-training hipnosis yang sangat banyak ditawarkan kepada kita saat ini. Training seperti itu bisa dilakukan oleh semua orang tanpa memandang apapun agamanya. Bahkan orang yang nggak jelas agamanyapun bisa menyampaikan kata-kata hipnosa tertentu kepada kita, dan itu ada hasilnya. Da’wah itu juga sangat berbeda dengan pengajian-pengajian olah emosional yang di dalamnya bisa membuat orang yang sebelumnya sakit menjadi sehat, membuat orang-orang yang tadinya galau menjadi sumringah, membuat pesertanya saling bertangis-tangisan. Dan jebakan kedua-duanya, baik training hipnosis maupun pengajian-pengajian mengolah emosi seperti itu seolah-olah ADA HASILNYA. Biasanya suasana di dalam dada kita sejenak bisa agak LONGGAR dari biasanya.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

BERBAGAI MACAM PERJALANAN RUHANI.

Dalam artikel ini, kita akan berbicara banyak tentang serba serbi perjalanan ruhani yang merupakan kajian paling lama menjadi topik perbincangan umat manusia di seluruh dunia. Topik yang mampu melintasi zaman, ruang, dan waktu untuk sampai kepada kita sekarang ini. Tapi nampaknya perbincangan ini hampir selalu saja menuai pro dan kontra, debat kusir yang tak kunjung selesai, baik bagi orang-orang yang berbeda agama maupun bagi orang-orang yang beragama sama. Dalam penganut agama Islam sendiri, topik perjalanan ruhani ini telah menciptakan friksi yang sangat tajam setajam pisau silet. Menyayat-nyayat persatuan umat Islam tanpa ampun.

Akar masalah dari adanya debat kusir ini sebenarnya hanya satu, yaitu dalam belajar kita saling tidak mengerti dan tidak sampai pada kepahaman yang benar, sehingga kita pun saling tidak bisa pula mengamalkannya dengan benar. Kita saling tidak paham satu sama lainnya. Itu karena kita masing-masing belajar kepada orang yang tidak paham dan tidak mengamalkannya seperti apa yang diinginkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Itu saja kok akar permasalahannya.

Makanya Allah sangat marah didalam Al Quran kepada orang-orang yang mengatakan atau mengajarkan kepada orang lain apa-apa yang sebenarnya tidak dia pahami dan tidak dia alami sendiri terlebih dahulu sebelumnya. Ini berlaku terutama untuk hal-hal yang berkenaan dengan IMAN, KHUSYU’, IHSAN, dan masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan sebuah KEADAAN yang ada didalam dada kita. Karena Allah sendiri mengatakan bahwa kalau kita ingin berbicara tentang IMAN, maka iman itu, terlebih dahulu, harus sudah masuk ke dalam dada kita, berupa cahaya yang menerangi. Dan setelah itu akan ada keadaannya, ada suasananya, ada realitasnya.

Nah…, yang dikatakan da’wah itu adalah bahwa kita sedang bercerita tentang keadaan dan suasana yang ada di dalam dada kita sendiri, bukan apa yang ada di dalam otak kita berupa hafalan-hafalan terhadap berbagai hukum-hukum-hukum dan ilmu-ilmu Islam, hafalan ayat-ayat Al Qur’an dan Al hadist, sejarah-sejarah orang terdahulu, doktrin-doktrin, dan sebagainya. Sebab kalau kita hanya sekedar menyampaikan hal-hal seperti ini, itu namanya kita sedang bercerita diluar kepala kepada orang lain tentang istilah-istilah agama.

Karena Allah sendiri yang menyatakan bahwa Al Qur’an yang sebenarnya itu adalah apa-apa, keadaan apa, suasana apa yang sedang ada di dalam dada kita saat ini.

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yg nyata di dalam dada orang-orang yg diberi ilmu. Dan tak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Al Ankabut 49).

Karena memang suasana yang ada di dalam dada kita itu tidak pernah berbohong. Misalnya, kalau kita kafir kepada Allah, maka suasana di dalam dada kita itu pas kafirnya, sehingga kita bisa dengan lantang berkata: “ah…, saya nggak percaya tuh”. Atau, kalau kita ragu-ragu kepada Allah atau kepada siapapun, atau apapun juga, maka suasana di dalam dada kita juga pas ragu-ragunya, sehingga kita bisa berbicara dengan penuh ekspresi: “kok saya ragu ya ?, bagaimana dong”. Atau, kalau kita berbahagia, maka suasana di dalam dada kita juga pas bahagianya, sehingga kita bisa berbicara dengan mata berbinar-binar: “Duh…, hari ini saya sangat berbahagia sekaliiiiiii…”. Kita seperti ingin menceritakan kepada siapapun juga tentang kebahagiaan kita itu. Bahagia itu benar-benar sudah ada terlebih dahulu didalam dada kita dengan sangat padat dan kuatnya.

Begitu juga dengan keadaan-keadaan lain yang menandakan bahwa kita ini telah beriman kepada Allah. Iman itu sudah ada terlebih dahulu muncul dan berkembang di dalam dada kita, sehingga keadaan-keadaan lainnya, sebagai ciri-ciri dari seorang yang beriman, kemudian bermunculan di dalam dada kita. Misalnya muncul keadaan Taqwa, Sabar, Ihsan, Ikhlas, suasana Zuhud, Taubat, dan sebagainya. Semua kata-kata yang kita ucapkan itu bermuara dan berujung pada sebuah keadaan yang khas yang sedang ada di dalam dada kita. Kata-kata kita itupun hanya sekedar meloncat saja keluar dari ujung lidah kita. Kitapun kemudian bisa berkata-kata tentang suasana macam apa yang ada di dalam dada kita, sehingga kita tidak lagi dicap sebagai seorang yang munafik.

Hanya orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah lah yang akan bisa membaca suasana macam yang sedang ada di dalam dadanya, kemudian dia tahu pula suasana macam apa yang seharusnya dia masuki. Sehingga dengan seketika, dia bisa merasakan perubahan suasana dadanya yang awalnya bersuasana munafik, atau tidak beriman, kemudian berubah menjadi dada orang beriman. Dan setiap perubahan itu bisa terjadi karena dia segera datang kepada Allah, untuk minta ampun, dan minta dituntun oleh Allah untuk kembali memiliki suasana dada orang beriman seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, Sahabat-sahabat Beliau dan Wali-wali Allah. Makanya kalau kemudian berkata-kata, dia hanya akan bercerita tentang kehebatan Allah yang merubah suasana kekafiran dan kemunafikan yang ada di dalam dadanya, menjadi dada yang beriman dan yang diberi cahaya oleh Allah sendiri.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

HIDUP ADALAH PERJALANAN…

Hidup adalah sebuah perjalanan tiada henti yang mau tidak mau harus kita lalui. Dari tiada, kita lalu ada, dan kemudian kita kembali tiada. Kita kecil, besar, dewasa, tua, lalu mati. Kita tidak bisa menahan ketuaan kita. Dalam setiap langkah perjalanan kita itu selalu ada dua rasa yang berbeda yang datang silih berganti yang mengisi rongga dada kita. Kadangkala kita merasakan rasa SUKACITA yang menguasai kita, dan adakalanya pula kita merasakan rasa DUKACITA yang mewarnai setiap langkah yang kita lalui. Kedua rasa itu, sukacita dan dukacita, berganti-ganti memenuhi rongga dada kita. Sehingga kitapun berasa terbolak balik. Ronga dada kita (SUDUR) yang dapat menangkap keadaan yang bisa berubah-ubah itu disebut QALB (HATI).

Kalau rongga dada kita sudah tidak bisa lagi berubah dari DUKACITA menjadi sukacita, maka rongga dada kita itu disebut sebagai QALB yang sudah mati, hati yang keras membatu, hati yang gelap, hati yang buta dan tuli. Rongga dada yang seperti ini akan SULIT menerima pengajaran-pengajaran dari Allah berupa ILHAM tentang KETAQWAAN. Biasanya hanya menerima ILHAM tentang KEFUJURAN yang akan membuat suasana di rongga dada kita semakin gelap dan mati. Inilah kesesatan atau kesalahan kita dalam memilih jalan yang sangat nyata kata Allah didalam surat Az Zumar ayat 22.

Sebaliknya, kalau rongga dada kita itu selalu diisi oleh keadaan SUKACITA yang dari waktu ke waktu selalu bertambah kuat, maka rongga dada kita itu disebut QALB yang sudah diberi CAHAYA, sehingga rongga dada itu menjadi hidup, lunak (talinu), lembut, sehingga sangat mudah untuk menerima pengajaran-pengajaran dari Allah berupa ILHAM tentang KETAQWAAN. Dada yang mudah sekali diresapi oleh suasana atau rasa IMAN, KHUSYU, SABAR, IKHLAS, IHSAN, ZUHUD, WARA, TAWAKKAL, RIDHA, SYUKUR, dan lain-lain sebagainya. Suasana atau rasa yang dari dulu dan sampai kapanpun juga sama keadaannya. Inilah yang disebut sebagai AYAT-AYAT ALLAH yang nyata dan berulang-ulang disampaikan kedalam dada kita. Rasa dan suasana yang sudah berulangkali diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terdahulu, dan juga kepada kita. Keadaan dada yang seperti ini diindikasikan oleh Allah di dalam surat Az Zumar ayat 23.

Semenjak kita baligh (dewasa) yang berlanjut sampai kita tua dan mati, sepertinya kita lebih banyak menjalani berbagai peristiwa kehidupan yang menimbulkan rasa DUKACITA yang dalam di rongga dada kita. Paling tidak ada 6 rasa DUKACITA yang selalu menghiasi jalan hidup kita:

1. Rasa TAKUT yang kadangkala seperti tanpa alasan yang jelas.
2. Rasa SAKIT dalam waktu tertentu atau rasa sakit yang berkepanjangan.
3. Rasa MISKIN yang berkepanjangan.
4. Rasa DILECEHKAN oleh orang lain.
5. Rasa SEDIH yang muncul terus menerus.
6. Rasa TERSIKSA yang sangat pedih tiap sebentar.

Oleh sebab itu, kita ingin selalu berjalan kemana-mana, minta tolong kesana-kemari, berusaha sekuat tenaga, agar kita bisa mendapatkan 6 rasa SUKACITA berikut ini selama kita menjalani kehidupan kita, yaitu:

1. Rasa AMAN.
2. Rasa SEHAT.
3. Rasa KAYA
4. Rasa DIHORMATI orang lain.
5. Rasa BAHAGIA
6. Rasa SYURGA yang tanpa siksa dan tanpa kepedihan lagi.

Inilah yang disebut sebagai perjalanan abadi kita. Yaitu perjalanan dari kecil, besar, tua, lalu mati yang tidak bisa kita tahan dan hentikan sedikitpun. Dan selama dalam perjalanan kita itu, kita berusaha pula mendapatkan rasa SUKACITA yang tiada henti-hentinya. Karena kita seperti ingat-ingat lupa bahwa kita pernah mengalami keadaan SUKACITA yang amat sangat itu di suatu saat dulu, saat kita berhadapan dengan Allah SWT. Kita ingin mendapatkan suasana itu kembali. Sehingga kitapun ingin berjalan dan berjalan selama hidup kita untuk bisa kembali mendapatkan dan menikmati suasana seperti dulu itu di saat sekarang ini. Setiap saat malah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Wahai para Sahabat sesama pencinta Allah….

Alhamdulillah, kemaren tanggal 25 April 2013, selesai artikel “Yang Berjalan dan Yang Kembali”. Lumayan banyak juga ternyata. Ada 65 halaman. Saya akan bagi artikel ini menjadi 30 tayangan dengan sub topik seperti dibawah ini.

Artikel ini insyaallah akan mengupas perbedaan yang sangat signifikan antara “Perjalanan Spiritual yang ARTIFICIAL dengan “Perjalanan Spiritual yang HAKIKI. Disini akan dikupas tentang rahasia alam hipnotis dan rahasia alam ilmu-ilmu kesaktian untuk dibandingkan dengan Alam IMAN kepada Allah.

Beda banget…

Tujuannya adalah agar masyarakat, terutama umat ISLAM, menjadi melek ilmu dan menjadi tidak asal ikut-ikutan lagi dengan sesuatu yang sedang menjadi trend saat ini.

Kerangka tulisan ini nanti adalah sebagai berikut:

HIDUP ADALAH PERJALANAN…
BERBAGAI MACAM PERJALANAN RUHANI.
NGGAK NYAMBUNG.
DENGAN IJIN ALLAH, BISMILLAHI ALLAHU AKBAR…
BERJALAN DIANTARA BEBATUAN.
PULANG KE RUMAH
VIBRASI ALAM vs VIBRASI IMAN KEPADA ALLAH.
VIBRASI ALAM…
RASA atau SUASANA, KEADAAN.
LEPAS UNTUK TIDAK LEPAS
VIBRASI IMAN KEPADA ALLAH.
PROSES BERIMAN ITU MUDAH.
AKU DAN PIKIRANKU
AKU YANG BERJALAN
AKU YANG MENGAKALI DIRIKU
AKU YANG MENYIKSA DIRIKU SENDIRI
INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN
ANTARA KAFIR, MUNAFIK, DAN MUSYRIK.
BERHALA-BERHALA…
BISMILLAH
MENGENAL AKU
AKU DAN GERAK NAFASKU.
DUA JALAN YANG MEMBENTANG LUAS.
MENGENAL ALLAH DENGAN ALLAH.
RAHASIA MENCARI SANG TELADAN…
MENGCOPY RASULULLAH…
BERAMAL SHALEH DAN BERSYUKUR

Wasaalam
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: