Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2011

RESTORASI RUHANI

Banyak orang yang bertanya-tanya atau ingin tahu, tentang sebenarnya apa sih yang diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw ketika Beliau mengenalkan Islam kepada para sahabat Beliau. Sehingga begitu Beliau menyampaikan Risalah Islam, seakan-akan para sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, istri Beliau Khadijah, seketika itu juga langsung beriman kepada Rasulullah setelah mereka bertemu dengan Rasulullah.

Sebenarnya tidak ada yang aneh yang Beliau lakukan kalau ditinjau dari sudut ilmu komunikasi, psikologi, para psikologi, dan ilmu-ilmu lain yang sangat banyak berkembang dizaman sekarang ini. Pada dasarnya Beliau hanya melakukan restorasi ulang (memulihkan kembali) ruhani para sahabat itu agar mereka bisa kembali berada dalam suasana semula jadi. Para sahabat itu bisa kembali merasakan suasana azali. Sehingga akhirnya mereka merasa tidak punya alasan lagi untuk menolak kerasulan Muhammad Saw. Wong ada buktinya…, ada proses berubahnya, ada proses menjadinya.

Risalah Islam itu pada hakekatnya hanyalah ingin memulihkan kembali suasana hati, suasana jiwa, suasana batin, suasana ruhani umat manusia, sehingga kegembiraan syurgawi yang dulu pernah dirasakan oleh Adam dan Hawa mampu kita restor ulang dan kita rasakan kembali disaat sekarang ini.

Saat ini, jauh diruang batin terdalam kita, yang menurut istilah ilmu zaman sekarang disebut sebagai alam bawah sadar, sebenarnya sudah tertanam dua macam memori yang saling bertolak belakang. Yaitu memori tentang nikmatnya kehidupan di alam syurgawi, disatu sisi, dan memori tentang kepedihan panjang Adam dan Hawa ketika suasasa alam syurgawi itu lenyap tak berbekas dari kehidupan mereka, disisi lainnya.

Dengan sebuah proses panjang yang sangat rumit dan cerdas, yang sekarang dikenal orang sebagai proses hereditas, proses genetika, suasana ruang batin itu seperti diturunkan dari Adam dan Hawa sampai kepada kita saat ini, dan juga kepada anak cucu kita kelak. Sehingga kita sekarang tidak pernah belajar sedikitpun untuk bisa merasakan tentang bagaimana rasanya bahagia, senang, tenang, sukacita, rindu yang merupakan beberapa contoh dari memori kehidupan syurgawi. Dan kita juga kita tidak pernah belajar sedikitpun untuk merasakan rasa sedih, takut, marah, benci, iri, dan kepedihan yang merupakan beberapa contoh dari suasana diluar alam syurgawi (alam neraka).

Tiba-tiba saja, berbarengan dengan sebuah peristiwa, ada rasa sukacita yang menyeruak kedalam dada kita. Tempo-tempo dada kita seperti digandoli oleh rasa pedih yang amat sangat akibat dari sebuah kejadian yang menimpa kita.Tidak ada sekolahnya untuk kita bisa merasakan sukacita atau untuk bisa merasakan kepedihan itu. Sebab sukacita dan kepedihan itu sudah ada didalam memori batin kita terdalam. Derr…, tiba-tiba kita dialiri rasa sukacita. Wuuss…, tiba tiba kita dilanda kepedihan. Semuanya itu muncul kembali kepermukaan rasa kita dengan sangat mudahnya.

Rasulullah hanya mengajak para sahabat itu untuk singgah diruangan batin Beliau yang ternyata telah direstorasi oleh Allah di Gua Hira. Beliau bisa kembali merasakan suasana kehidupan syurgawi yang alangkah menakjubkan. Lalu beliau berkata: “Singgahlah wahai Abu Bakar, singgahlah wahai sahabatku, ada syurga nih. Diluar itu nggak enak, diluar itu neraka namanya”.

Untuk itu, Rasulullah hanya mengenalkan kembali kepada Abu Bakar tentang Ada SATU DZAT YANG MAHA MELIPUTI SEGALA SESUATU. DZAT YANG MAHA DEKAT. Dzat Yang Maha Memulihkan, Maha Memperbaiki, Maha Mengajari, Maha Merespon, Maha Menjawab, Maha Memberi Petunjuk. Maha Memaafkan, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi…, Maha Segalanya…!. Setelah itu Beliau hanya mengajarkan Abu Bakar cara untuk berpegang teguh dan menggantungkan batinnya kepada Dzat itu dengan TALI yang kokoh. Wa’tashimu billah…., wa’tashimu biHABlillah…!. Dan sebagai hasilnya, Abu Bakarpun seketika bisa merasakan dan mengalami kembali suasana syurgawi seperti yang dirasakan oleh Rasulullah.

Begitu Rasulullah memberi petunjuk, dan Abu Bakar BERSEDIA menghubungkan batinnya dengan Allah, maka seketika itu pula seuntai Tali, Hab, diulurkan oleh Allah kedalam dada Abu Bakar. Lalu melalui tali itu turunlah sebentuk vibrasi iman yang sangat berbeda dengan “vibrasi-vibrasi kasar” lainnya. Daya IMAN itu tidak sama dengan daya-daya atau getaran-getaran yang berhubungan dengan dunia fisika mulai dari fisika klasik sampai ke fisika quantum, atau dunia metafisika sekalipun. Berbeda sekali. Bedanya seperti perbedaan antara siang dan malam.

Getaran iman itu adalah sebentuk Sirr ul Asrar. Petunjuk rahasia antara dua batin yang saling mencintai. Petunjuk yang tak terdengar dan tak terbaca oleh orang lain, oleh jin dan oleh syaitan sekalipun. Petunjuk dimana yang memberi petunjuk ingin memperlihatkan kepada kekasihnya sesuatu yang terdalam dan rahasia secara bolak balik dan berulangkali…!. Allahu Akbar…

Allah menantang kita semua dengan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana: “Apakah sama dada orang beriman dengan dada orang yang mengikuti hawa nafsunya?”. Tentu yang bisa menjawabnya adalah kita dengan berbagai pengalaman kita masing-masing. Menurut pengalaman saya sih itu tidak sama…, entahlah bagi yang lain…

Dengan cara seperti itu, Dada Abu Bakar seperti DIRESTORASI (DIPULIHKAN) menjadi seperti sediakala. Dada Abu Bakar kembali bisa menangkap suasana dan keadaan “semula jadi” (azali) saat mana Allah pernah bercakap-cakap dengan Beliau di alam ruh:

“Alastu birabbikum??, Bukankah Aku Tuhan mu ya Abu Bakar?”, Dan saat itu setiap Ruh, semua Ruh, akan menjawab: “Bala Syahidna…, Benar Ya Allah, hamba bersaksi bahwa Padukalah Tuhan Hamba…”.

Keadaan dan suasana semula jadi itulah yang tertangkap kembali oleh batin Abu Bakar. Dan seketika itu juga Abu Bakarpun dengan lancar bisa mengulang kembali kesaksian Beliau dihadap Allah itu. Dengan penuh takjub Abu Bakarpun segera bersyahadat kembali: “Asyhadu an laa ilaaha ilallaah…!.

Abu Bakar menjadi sangat yakin dan beriman pula, bahwa Muhammad ini pastilah seorang yang dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya untuk menyampaikan risalah tentang ada Allah Yang Maha Merestorasi. Lalu terloncatlah dari bibir Abu Bakar ungkapan “Sadaqta ya Muhammad, Benar engkau Ya Muhammad. Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, dan aku bersaksi pula bahwa benar engkau adalah seorang utusan Allah”. Sejak itu Abu Bakarpun dikenal orang sebagai As Siddiq, seorang yang selalu membenarkan Rasulullah.

Begitulah cara Rasulullah menyampaikan Risalah Islam kepada penduduk Mekkah dan Medinah. Sehingga dalam kurun waktu 20 tahunan kerasulan Beliau, puluhan ribu orang telah dipulihkan kembali suasana atau keadaan ruang dadanya oleh Allah menjadi seperti sediakala. Suasana alam kesaksian (Musyahadah). Suasana Syurgawi. Suasana alam Ruh.

Setelah itu, hasil yang mencengangkanpun muncul. Penduduk Mekkah dan Medinah berbondong-bondong datang kepada Rasulullah untuk menyatakan kesedian mereka menjadi Abdullah, menjadi hamba yang menyediakan diri mereka (tubuhnya, pikirannya, dan hatinya) dipakai oleh Allah sebagai Allat-Nya untuk menyampaikan serta mengalirkan rahmat dan berkah dari Allah untuk semesta alam, bagi seluruh umat manusia.

Ada mereka-mereka yang menyediakan dirinya dipakai oleh Allah untuk membuka berbagai rahasia ilmu Allah dialam semesta ini. Merekapun menjadi Abdul ‘Alim. Berbagai ilmu pengetahuanpun memancar deras keluar dari otak mereka. Diantaranya ada Al Kindi, Ibnu Rusydi, Ibnu Sina, Al Farabi, Al Biruni, Jabir Ibn Hayyan, Al Khawarizmi, Al Mas’udi, Ibnu Batuta, Ibnu Maskawih, Ibnu Haitham, Ibnu Tufail, Ibnu Bajjah, Ar Razi, dan sebagainya.

Ada pula orang-orang yang menyediakan dirinya untuk dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya untuk memelihara syariat islam, al qur’an dan al hadist. Misalnya ada Abu Hasan Al Asy’ari, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Bukhari dan Muslim, Imam Ghazali, Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyyah, dan lain-lain.

Banyak pula orang yang bersedia untuk memanfaatkan harta dan kekuasaannya untuk membantu fakir miskin, anak yatim, dan untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Para dermawan itu bermunculan sebagai perwujudan nyata dari seorang Abdur Razaq, seorang hamba Allah yang bersedia dirinya dipakai oleh Allah untuk memberi rejeki kepada orang-orang yang Allah hendak beri rejeki.

Antar sesama manusia terjalin pula hubungan persaudaraan yang kental dengan rasa tolong menolong dan saling menghargai. Apalagi penghargaan seorang anak terhadap orang tuanya. Karena mereka tahu bahwa ridha Allah adalah buah manis dari ridho orang tua, terutama ridho ibu, kepada anaknya.

Semua aktivitas mereka itu tak lain dan tak bukan adalah bentuk nyata dari pengamalan agama dalam keseharian manusia seperti yang seharusnya. Amal shaleh saja sebenarnya. Tapi, walaupun biasa, mereka sangat bergairah untuk berlomba-lomba memberikan yang terbaik dalam beramal shaleh itu.

Jika Allah merestorasi diri orang-orang yang bersedia untuk dipulihkan oleh Allah, maka hasilnya adalah munculnya umat yang terbaik yang mewarnai peradaban zamannya. Makanya zaman itu, sekitar tahun 750-1250 M, dikenal orang sebagai zaman keemasan peradaban Islam. Zaman dimana cikal bakal ilmu dan peradaban modern berhasil digali oleh orang-orang yang menyediakan tubuhnya, otaknya, an hatinya dipakai Allah untuk menyibakkan berbagai HIJAB (tabir) Allah.

Itu semua bisa terjadi karena mereka punya hubungan batin dengan Allah. Ada tali Allah, hablillah, yang menghubungkan batin mereka, dada mereka, ruh mereka dengan Allah. Sehingga Allah pun berkenan menurunkan ilham dan wahyu-Nya kepada mereka tentang berbagai rahasia kehidupan. “ ‘Allamal insana ma lam ya’lam. Allahlah yang mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahui mereka”. Sementara di Eropa sendiri saat itu masih berada dalam zaman kegelapan.

Namun, ditengah gemerlapan ilmu dan peradaban itu, mulai pula muncul keadaan dimana ruhani umat islam mulai terputus dari Allah. Tali batin mereka mulai terikat dengan berbagai materi, dengan berbagai buku, dengan berbagai kelompok, dengan berbagai golongan. Saat itu banyak orang yang sudah tidak punya lagi tali yang menghubungkan batin mereka dengan Allah. Tidak ada lagi hubungan rahasia antara dua batin yang saling mencintai. Sehingga dengan ketiadaan tali itu, terputus pulalah turunnya pengajaran-pengajaran langsung dari Allah dalam bentuk ilham atau wahyu.

Umat islam tidak bisa lagi membaca bahasa Allah yang ada di seekor lebah, di tiupan angin, di dalam cahaya matahari, di kilatan petir, di getaran alam, di sejuta tabir-Nya. Sebagai gantinya, umat islam mulai sibuk dan asyik saling membahas kitab-kitab yang ditulis oleh para pendahulu mereka, yang menuliskan kitab itu berdasarkan pengalaman mereka dalam menjalankan syariat agama. Karena yang dibahas adalah kitab, maka terjadilah perang pikiran, perang kata-kata, dan perang senjata benaran antara sesama umat islam sendiri. Masing-masing ingin mempertahankan kebenaran sebuah buku sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing.

Peran Allah sebagai Rabbi, sebagai Murabbi, juga telah diambil alih oleh umat manusia. Ada pengkultusan umat kepada para guru dan mursyid. Ada pengagungan berlebihan oleh sebagian orang, kepada sesama manusia, termasuk kepada Rasulullah dan Ahlul Bait sekalipun. Ada binding (kemelekatan) pikiran dan hati sebagian besar umat islam terhadap konsep-konsep dan persepsi-persepsi yang sudah mengarah kepada pertentangan hebat antar golongan-golongan. Semuanya itu nyaris berfungsi seperti berhala yang telah memutus tali hubungan batin manusia dengan Allah.

Sejak itu, sebuah prinsip yang sangat penting dicabut oleh Allah dari kesadaran sebagian besar umat islam. Yaitu kenyataan bahwa Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu, bahwa Allah senantiasa Maha Sibuk Setiap Saat.

Ya…, prinsip-prinsip super penting ini dicabut oleh Allah dari pemahaman umat islam, walau saat itu banyak orang yang hafal dan tahu tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan prinsip itu. Sehingga jadilah umat islam hanya bisa memahami bahwa saat ini Allah sedang duduk jauh di Arsy sana, dilangit ketujuh yang entah dimana. Sedang untuk mengurus alam semesta ini, Allah telah mendelegasikannya kepada para malaikat-Nya.

Umat islam juga digiring untuk mempercayai bahwa Allah sudah tidak pernah lagi menurunkan ilham dan wahyu semenjak wafatnya Rasulullah. Untuk menyelesaikan berbagai masalah dan problematika hidup, umat islam juga diarahkan untuk cukup tinggal membaca dan melihatnya didalam al qur’an, al hadist, dan kitab-kitab ulama yang ada saja. Jadilah ketika menghadapi berbagai masalah, mereka terjauhkan dari Allah.

Padahal kalau kita lihat ayat-ayat Al qur’an dan Al Hadist itu, begitu kita punya masalah, kita disuruh Allah untuk datang menghadap Allah dan minta pertolongan kepada Allah. Tapi ketika kita ingin minta tolong ke Allah, kita dibuat tidak percaya lagi kalau cara Allah mengajari kita ini adalah melalui bahasa ilham atau wahyu. Sementara itu, kita sendiri tidak pernah tahu lagi dengan bahasa ilham dan bahasa wahyu itu. Bagimana cara menangkap bahasa ilham itu, bagaiman bentuknya. Kan semua jadinya seperti MBULAT begitu. Nggak jelas ujung pangkalnya. Akhirnya kita hanya bisa duduk termangu merenungi ketidakmampuan kita. Kalaupun kita berjalan, pundak kita seperti digayuti oleh beban dihati hati kita yang seberat gunung. Capek, lelah, dan putus asa.

Akibatnya…, selama ratusan tahun yang lalu bahkan nyaris sampai sekarang ini umat islam seperti terkucil dari peradaban dunia. Sebenarnya ruang batin kita semua sedang dilanda oleh berbagai kepedihan, dan itu kan seperti kepedihan hidup di dalam neraka saja sebenarnya…

Lalu masihkah kita tidak bersedia untuk singgah diruang batin kita sendiri, dimana Allah berkenan untuk dengan mudah merestorasinya menjadi ruang batin seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali?. Seperti juga ruang batin para Waliyullah, misalnya Al Ghazali, Ibnu Qayyum, Ibnu Athailah, dan sebagainya?.
Entahlah…,

Fabiayyiaala irabbikuma tikazzibaan…

Wallahu a’lam

Deka,
Penghujung tahun,
29 Desember 2011
Jl. Santani No 31, Cilegon.

Iklan

Read Full Post »

Kisah ini adalah “sejumput” pengalaman pribadi saya dari Temu Nasional Little Madinah di Shalat Center Jatibening tanggal 24-25 Desember 2011…

Shalat Dzuhur…

Siang itu, 600 orang jamah siap-siap melakukan shalat Dzuhur berjamaah. Karena jamaah yang ikut adalah orang-orang yang sudah pernah mengikuti pelatihan Shalat khusyuk, maka dengan logika berfikir sederhana saja, semuanya tentu ingin khusyu pula dalam shalat Dzuhur itu.

Pak Ewien meminta saya untuk jadi imam…

Allahu akbar…
Lho kok…Hambar…

Entah kenapa, Dzuhur ini shalatnya terasa hambar. Banyak jemaah yang ngantuk dalam shalat itu.
Saya sebagai imam, jadi asyik sendiri dengan rasa sambung saya, sementara jemaah tidak terbawa. Lokomotifnya tidak membawa gerbongnya. Walaupun rukuk sujudnya lama, tapi shalat itu tetap hambar…, kosong…!. Siang itu saya digayuti oleh sebongkah rasa bersalah kepada para sahabat saya. Karena saya tidak bisa memegang amanah sebagai seorang imam.

Tapi alhamdulillah, Allah menurunkan sebentuk kepahaman kedalam dada saya.
“La tahzan…, diamlah hamba-Ku…
Akulah yang menurunkan kekhusyuan itu. Siang ini, Ku buat shalat kalian hambar, sebagai pelajaran pertama bagi kalian semua. Agar kalian punya rasa pembanding. Agar kalian tahu bahwa walaupun kalian sudah tahu khusyu, sudah paham khusyu, tapi ada Aku yang menurunkan rasa khusyuk itu kedalam dadamu…!. Ketika kalian luput menghadap kepada-Ku, maka Akupun tidak menurunkan respon-Ku”.

Ketika materi pelatihan berikutnya disampaikan oleh Ustad Abu Sangkan, terbetiklah dari mulut Beliau tentang KEADAAN shalat Dzuhur tadi. Bahwa Itu adalah shalat dzuhur yang kosong dan hambar. Tidak ada sinkronisasi antara imam dan jamaah. Walaupun secara fisik, kami semua kelihatan shalat berjamaah, tapi pada kenyataannya kami shalat sendiri-sendiri, karena shaf-shaf rohani imam dan jamaah tidak lurus menghadap kepada Sang Akbar, Sang A’laa, Sang Adhiem…, sehingga tidak ada respon-Nya yang turun dalam shalat itu. Jadilah shalat dzuhur itu hambar dan kosong…

Saat Ustad Abu menyebutkan kesalahan saya itu, sayapun memandang Sang Maha Meliputi…, saya hanya berucap kepada Sang Maha Meliputi: “Benar ya Allah…, maafkanlah hamba…”.

Lalu acarapun berlanjut dengan berbagai pemahaman dan sekaligus prakteknya.

Bahasa Allah…

Banyak diantara kita yang mengira bahwa iman, taqwa, ihsan, ikhlas, sabar, bahagia, khusyuk, dan beberapa terminologi lainnya dalam agama islam, seperti zuhud, ikhbat, wara’, raja’, istiqamah, tawakkal, ridha, syukur, tawadhu’, azam, mahabbah, musyahadah, mukasyafah, musyahadah, hayat, ma’rifat, fana, wujud, dan lain-lain sebagainya adalah ilmu yang bisa dipelajari melalui buku-buku maupun melalui ceramah-ceramah agama. Makanya umat islam seperti berusaha untuk membeli berlemari-lemari buku, dan menghadiri berbagai pengajian serta ceramah seperti tak henti-hentinya. Kelihatan sekali kita umat islam ini sibuk dan ramai mencari sesuatu yang belum ketemu. Entah apa yang kita cari.

Padahal sebenarnya banyak sekali terminologi dalam agama islam ini yang berkenaan dengan keadaan atau suasana didalam diri kita sendiri. Yaitu keadaan atau suasana jiwa kita, keadaan dada kita, keadaan hati kita sebelum, sedang, dan sesudah kita melakukan sebuah aktifitas agama (syariat). Tidakkah aktifitas shalat itu mudah sekali kita lakukan?. Puasa dan dzakatpun pada tatanan tertentu sangat mudah kita laksanakan. Begitupun menunaikan ibadah haji. Apalagi kalau hanya sekedar menyebut nama Allah dan kalimat-kalimat thayyibah (baik) lainnya. Sama mudahnya.

Tetapi masak sih agama islam itu hanya begitu-begitu saja. Mungkinkah dulu Rasulullah akan berhasil mengislamkan dan mengimankan bangsa Arab jahiliyah saat itu, kalau kualitas beragama yang Beliau sampaikan hanya seperti yang kita sampaikan dan lakukan sekarang-sekarang ini?. Bukankah dengan cara-cara seperti yang kita lakukan sekarang ini malah membuat umat islam ini terpecah-pecah jadi nggak karuan?. Padahal dulu Beliau berhasil merubah sebuah kaum, bangsa, dari bangsa yang berada dalam masa kegelapan dan keterpurukan yang amat sangat menjadi umat yang terbaik yang pernah hidup dimuka bumi ini.

Saat itu ditengah-tengah panas terik cahaya matahari gurun yang memanggang kulit, bangsa arab malah seperti hidup dalam keadaan gelap gulita yang terus menerus. Cahaya matahari itu seperti tidak berhasil menembus hati mereka, sehingga hati mereka tetap gelap gulita.

Tapi cukup dengan hanya sebuah peristiwa, yaitu peristiwa di Gua Hira’, maka penduduk Mekkah seperti mulai mendapatkan sinar matahari yang menerangi jalan-jalan yang akan mereka lalui. Ada cahaya yang menerangi batin mereka. Sehingga dengan pasti merekapun seperti menjalani sebuah destiny mereka untuk menjadi umat yang terbaik.

Ketika di Gua Hira’ tersebut, Beliau dituntun oleh Malaikat Jibril untuk membaca “sesuatu”: “Iqraa ya Muhammad…, bacalah ya Muhammad…!”. Beliau menjawab: “Ma ana bi qari…, saya nggak bisa baca…, apa yang harus saya baca…, saya nggak ngerti?. Berkali-kali Beliau disuruh membaca oleh Jibril, dan berkali-kali pula Beliau hanya menjawab bahwa Beliau tidak tahu apa yang akan dibaca. Sebab didepan Beliau hanya ada keadaan yang gelap gulita dengan sedikit cahaya dari kerlap-kerlip bintang dilangit.

Iqraa’ bismirabbik…, bacalah dengan nama Tuhanmu…!. Bacalah…
Lalu Beliaupun memanggil nama Allah…!.

Ya Allah…,
Ya Allah…, lalu dengan seketika itu juga terbentuklah sebuah TALI hubungan batin yang sangat rahasia antara Beliau dan Allah. Batin Beliau seperti dibuka oleh Allah untuk menerima seuntai TALI yang dijulurkan oleh Allah sendiri. Nantinya tali itu akan berfungsi sebagai sarana bagi kedua batin itu untuk saling membawa dan mengantarkan informasi.

Karena Beliau memang seorang manusia yang agung, diri yang dipilih oleh Allah sendiri untuk menyampaikan ayat-ayat Allah kepada seluruh umat manusia, maka Allah sendiri pulalah yang membuat tali penghubung antara batin Beliau dengan Allah itu. Akibatnya, melalui tali itulah Beliaupun dengan deras menerima berbagai informasi yang memang seharusnya diketahui oleh seluruh umat manusia.

Melalui tali antara dua batin itu, maka kemudian mengalirlah sebentuk vibrasi atau daya yang tidak terbaca oleh hati yang gelap. Daya yang tak terbaca oleh Iblis. Daya atau vibrasi itu hanya akan terbaca oleh hati yang bening seperti hati yang dimiliki oleh Beliau. Proses mengalirnya informasi dan kepahaman dari Allah kedalam dada Beliau inilah yang disebut juga sebagai Wahyu, atau Ilham.

Begitu vibrasi itu turun, tubuh Beliaupun bergetar hebat. Tapi bergetarnya tubuh Beliau itu hanya sebagai pertanda awal saja bahwa, setelah itu, sebuah informasi penting siap untuk diturunkan Allah melalui Tali penghubung antara kedua batin yang saling mencintai itu tadi.

Lalu beberapa saat kemudian, sejumput Daya vibrasi yang sangat lembut yang membawa kepahaman, yang membawa kemengertian, yang membawa pengetahuan, yang membawa keadaan saat awal penciptaan awal manusia di dalam rahim ibupun turun memasuki dada Beliau. Malaikat Jibrilpun hanya tinggal menuntun Beliau untuk membahasakan Wahyu Pertama itu kedalam bahwa Arab. Bahasa kaum Beliau dimana Beliau akan memulai tugas Beliau sebagai Rasulullah. Beliau dituntun untuk membahasakan wahyu pertama itu menjadi beberapa ayat didalam surat Al ‘Alaq.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS Al ‘Alaq 1-5)

Begitulah, salah satu diantara beberapa cara, turunnya setiap Pengajaran dan Perintah dari Allah kepada Beliau untuk dipakai oleh seluruh umat manusia untuk menyelesaikan urusan-urusan mereka, atau segala informasi yang akan berguna untuk kebaikan hidup seluruh suku dan bangsa. Memang ada beberapa lagi cara Beliau menerima Pendidikan dan Pengajaran dari Allah. Tapi itu bukan menjadi sesuatu hal perlu dibahas disini.

Dengan turunnya Wahyu Pertama ini, maka metoda pengajaran Allah kepada Beliau kembali mengikuti cara-cara seperti yang pernah dialami oleh Nabi-Nabi dan Rasul-rasul sebelum Beliau. Dan dengan metoda seperti ini pulalah kelak Allah akan mengajari seluruh umat manusia setelah Beliau wafat. Yaitu melalui bahasa ilham. Bahasa wahyu yang langsung diturunkan Allah kedalam dada setiap umat manusia.

Atau, bahasa Allah itu bisa pula terlebih dahulu diawali dengan sebuah tabir (tanda) yang diperlihatkan oleh Allah, dimana dengan tabir itu sebenarnya Allah sedang menyampaikan sebuah informasi yang baik ataupun yang buruk kepada umat manusia. Atau, bisa pula Allah mengutus seseorang yang sebelumnya telah diberi pengertian dan pemahaman terlebih dahulu melalui wahyu atau ilham seperti diatas untuk kemudian dia tinggal hanya menyampaikannya kepada orang-orang yang sama-sama mau belajar dan memahami tentang hal yang sebenarnya.

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (As Syuura 51).

Dengan cara seperti inilah Allah akan mengajarkan umat manusia yang bersedia untuk diajari Allah tentang keadaan yang sebenarnya dari: iman, taqwa, ihsan, ikhlas, sabar, bahagia, khusyuk, dan beberapa terminologi lainnya dalam agama islam, seperti zuhud, ikhbat, wara’, raja’, istiqamah, tawakkal, ridha, syukur, tawadhu’, azam, cinta, mahabbah, musyahadah, mukasyafah, musyahadah, hayat, ma’rifat, fana, wujud, dan lain-lain sebagainya.

Yaitu melalui tali yang menghubungkan dua batin. Melalui tali itulah Allah menurunkan vibrasi pengajaran-Nya kepada orang-orang yang bersedia untuk menyediakan batinnya untuk dihubungkan dengan batin Allah.

Tapi, percaya atau tidak, Allah tidak akan mengalirkan informasi itu kalau kita tidak punya urusan dengan Allah, dan Allah tidak punya urusan pula dengan kita. Allah hanya akan menurunkan ilham tentang serba serbi ketaqwaan itu hanya bagi orang-orang yang bersedia untuk menjadi penyampai ayat dan pengajaran Allah kepada orang lain disekitarnya. Walau itu hanya sekedar satu atau dua ayat sekalipun, itu tidak jadi masalah. Sebab Allah, dengan segala keagungan-Nya, selalu mencari dan mencari orang-orang yang mau dan bersedia dipakai oleh Allah sebagai alat-Nya untuk menyampaikan pengajaran-Nya dan untuk menjadi agen bagi kemaslahatan umat manusia. Siapapun yang bersedia, pasti akan dibantu dan dibela oleh Allah. Pasti.

Kalau kita ujug-ujug datang kepada Allah, walau dengan dzikir dan wiridan yang sebanyak apapun, Allah tidak akan menurunkan pengajaran-Nya kecuali untuk apa-apa yang kita kehendaki ketika kita datang menghadap kepada-Nya. Walau dengan zikir atau wiridan itu kita bisa menangis dan tubuh kita bergetar, Allah tetap hanya akan memberikan apa-apa yang kita minta didalam doa kita itu sekedar apa yang Dia ijinkan. Allah hanya akan memberikan respon-Nya sekedar atas apa-apa yang kita niatkan.

Kalau kita menghadap Allah dengan membawa keinginan hawa nafsu kita, maka Allah tidak akan memberi yang lain kecuali apa-apa yang berguna untuk pemenuhan hawa nafsu kita itu. Dan nanti kita akan semakin diperbudak oleh keinginan berikutnya dari hawa nafsu kita itu yang seperti tidak habis–habis. Dalam istilah agama islam keadaan seperti ini disebut sebagai ISTIDRAJ. Keadaan dimana kita seperti sedang diulur oleh Allah dengan cara kita bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan. Bisa?. Ya bisa. Karena Allah sendiri menyatakan bahwa Dia itu berkenan bersifat dan berbuat seperti apa yang kita pikirkan.

Sebenarnya tugas kita ini mudah saja. Yaitu untuk mengamati batin kita. Kita sedang menghubungkan batin kita dengan siapa ataupun apa. Kalau batin kita sedang terhubung dengan benda, maka pastilah pembicaraan kita akan selalu tentang benda itu. Kalau batin kita sedang terhubung dengan sebuah konsep atau persepsi, maka seluruh pembicaraan dan tingkah laku kita pastilah akan berkenaan dengan konsep dan persepsi itu. Kalau batin kita sedang menghubungan batin kita dengan batin guru kita sekalipun, maka pembicaraan kita pastilah akan lebih sering untuk mengagungkan guru kita itu. Kalau batin kita sedang kita hubungkan dengan sebuah kitab atau buku, maka seluruh pembicaraan kita pastilah akan berkenaan dengan kehebatan kitab atau buku itu.

Lalu hubungan batin kita dengan batin Allah kita jadikan hubungan yang keberapa?. Bukankah Allah tidak berkenan untuk dinomorduakan?. Apalagi untuk dinomorsekiankan. Akibatnya, karena ketiadaan Tali yang menghubungan batin kita dengan Allah, maka maka segera saja batin kita akan terhubung dengan apa-apa yang selain Allah. Dan kitapun akan menjadi budak dari apa-apa yang selain Allah itu.

Tahu tidak, bahwa akibat yang paling menyiksa sebenarnya adalah ketika kita tidak dapat lagi memahami jawaban Allah terhadap apa-apa yang kita lakukan atau kita sampaikan kepada Allah. Saat kita shalat, shalat kita hambar dan kosong. Saat kita berdo’a, kita tidak bisa lagi paham tentang apa jawaban Allah atas do’a-do’a kita itu. Saat kita berucap rabbighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, wardzuqni, wahdini, wa’afini, wa’fuanni, kita tidak paham apa jawaban Allah kepada kita.

Bahkan kita juga tidak paham apakah do’a kita itu adalah do’a karena keinginan hawa nafsu kita, atau apakah do’a itu karena Allah memang telah BERKENAN atau MENGIJINKAN kita untuk segera berdo’a.

Demikianlah sekelumit cara Allah merestorasi pemahaman saya dalam Temu Nasional Little Madinah di Shalat Center Jatibening tanggal 24-25 Desember 2011…

Allah memulai dulu dengan dengan sebuah keadaan dimana saya sebagai imam dan 600-an makmum gagal dalam mendapatkan keindahan shalat dzuhur dihari pertama temu nasional LM seluruh Indonesia. Lalu secara bertahap, kemudian Allah berkenan merestorasi, memulihkan kembali, kegagalan itu dalam sebuah proses yang alangkah lembutnya.

Setelah jamaah berlatih menghubungkan batinnya dengan Allah, maka jemaahpun secara mengejutkan dapat membaca keadaan yang turun melalui tali yang menghubungkan batin jamaah dengan Allah. Maka diakhir acara, jamaahpun seperti berebutan untuk mengucapkan kesediaan mereka untuk menjadi wakil Allah, menjadi wadah tempat dimana Allah menurunkan pengajaran-Nya untuk nantinya disampaikan kepada orang-orang yang ada disekitar mereka saat mereka nanti kembali pulang kedaerah masing-masing.

Bismilllahi Allahu akbar…

Lalu semua pesertapun pulang kedaerah masing-masing, termasuk Malaysia dan Singapore, dengan mata berbinar, dan dengan dada yang bergemuruh…

Salamun qaulan minRABBI rahim…

Deka
26 Desember 2011.
Cilegon, Jl . Santani no 31

Read Full Post »

Merujuk Peta Kehidupan

Muatan Utama Al Quran adalah untuk menunjukkan: “itu lho Allah”…!.

Tujuannya agar kita tidak ribut lagi berbicara tentang Allah.

Agar kita bisa berkata: “oo… iya ya…, Ehh… betul lho…”.

Dengan harapan kita bisa selesai tentang Allah…

Karena apapun perbincangan kita tentang Allah diluar Al Quran itu, pastilah Allah tidak serupa dengan isi perbincangan kita itu.

Selanjutnya, tinggal sederhana sekali sebenarnya:

Kita tinggal menghadap.

Kita tinggal merunduk.

Kita tinggal sujud.

Kita tinggal sering-sering mendekati-Nya.

Kita tinggal sering memanggil Nama-Nya dengan lembut setengah berbisik,

Seakan kita punya sebuah pembicaraa rahasia dengan-Nya,

Sebagai tanda kedekatan atau keakraban kita dengan-Nya.

Ya Allah…, kita diam sejenak menunggu respon Beliau.

Ya Rabbi…, kita berhenti sejenak menanti jawaban Beliau.

Ya Allah…, kita sabar sejenak sampai Beliau berkenan menyapa kita.

Karena Allah sebenarnya selalu bertanya kepada kita:

“Kau datang menghadap-KU dengan membawa amal shaleh apa kali ini, wahai hamba-Ku??”,

maka kita tinggal datang kepada Allah secara berkala untuk melaporkan progres amal saleh kita terhadap segenap penghuni bumi, terutama terhadap sesama manusia…!.

Al quran juga memberitahu tentang keberhasilan seorang Muhammad SAW.

“Ada Muhammad lho…”

Yang teguh dalam berketuhanan,

Yang menggigit kuat tali Allah,

Wa’tashimu bihablillah.

Yang SANGAT DEKAT dengan Allah disetiap saat.

Al Quran kemudian memperkenalkan hasil kedekatan Muhammad dengan Allah.

Muhammad yang berhasil MENJADI…

Sang berguna bagi alam semesta…

Sang peduli pada penderitaan umatnya…

Sang berkarya…

Sang pembaharu…

Sedang Al hadist berupaya menerangkan, ditengah kerumitan,

ADA Kesederhanaan Muhammad dalam tadzkiyatunnafs:

Bagaimana Beliau Dzikrullah.

Bagaimana Beliau Shalat.

Bagaimana Beliau Puasa.

Bagaimana Beliau Zakat, infaq, sedeqah.

Bagaimana Beliau melaksanakan Haji.

Kesederhanaan Beliau dalam bermuamalah.

Kegigihan Beliau dalam beramal shaleh

Kemumpunian Beliau dalam berbangsa dan bernegara.

Sebenarnya kita tinggal mengikuti dan mencontoh Beliau dengan PAS (TEPAT) tentang bagaimana Beliau BERKETUHANAN. Sedangkan dalam AMAL keseharian, kita tinggal mencontoh Beliau sesuai dengan FITRAH atau UKURAN kita masing-masing. Sebab setiap kita pastilah punya tugas khusus yang boleh jadi berbeda dari orang ke orang.

Tapi entah kenapa kebanyakan kita, sudah sejak lama sekali, malah senangnya:

Ngotot berbicara tentang Allah menurut pendapat si fulan.

Sibuk menafsirkan keteladanan Muhammad menurut persepsi golongan-golongan.

Akibatnya kita tidak bisa lagi dalam keseharian kita untuk:

Memahami KEHIDUPAN dan KEMATIAN secara sederhana.

Memilah antara BENAR dan SALAH secara sederhana.

Memisahkan antara BAIK dan BURUK secara sedehana.

Kita malah jadi sibuk dengan pesan LEGENDA.

Kita jadi terbelah dalam dunia serba KULTURAL.

Kita jadi sangat ahli dalam ILMU BAHASA dan HUKUM-HUKUM.

Kita jadi sibuk menjalankan RITUAL tanpa makna.

Kita jadi asyik BERMITOLOGI.

Ah…, apakah sama antara kesederhanaan dengan kerumitan?.

Wassalam

Deka.

Read Full Post »

Dihalangi Allah…

Selama ini mungkin kita menganggap enteng saja untuk menyebut nama Allah. Karena memang pada kenyataannya kalau hanya sekedar menyebut nama Alah, kesannya tidak ada susahnya sedikitpun. Nama Allah bisa diucapkan oleh orang beragama apa saja, bahkan orang yang tidak beragamapun dengan mudah bisa mengucapkannya.

Allah…, ah mudah sekali mengucapkannya.

Tapi berikut ini adalah dua buah kisah nyata tatkala ada orang yang sangat susah menyebutkan nama Allah itu, dan pada kesempatan lain ada pula orang yang terhalang rohaninya menuju Allah. Seakan-akan Allah menahan dan menghalangi seseorang untuk menyebut nama Allah yang sebenarnya menggetarkan alam semesta, atau Allah menghalangi seseorang untuk datang kepada-Nya, padahal itu hanyalah sebuah keniscayaan belaka. Kisah ini saya nukilkan dari pengalaman seorang sahabat saya ketika dia melatih berketuhanan kepada dua orang yang berbeda.

Kisah pertama:

Suatu saat seorang yang mengaku muslim ikut berlatih dengan sahabat saya tersebut. Pada awalnya saat disuruh menyebut nama Allah, dia bisa mengucapkannya dengan mudah. Ya Allah…, ya Allah…

Pada saat ruhaninya mulai direspon oleh Allah. Tubuhnya bergetar. Kemudian dia diminta untuk bersyahadat. Sahabat saya mencontohkan mengucapkan Laa ilaha illallah…. Tapi yang keluar dari mulut orang tersebut hanya ucapan laa ilaha illa…, berulangkali dia diminta untuk menyempurnakan kalimat tauhid tersebut, namun dia tetap hanya bisa mengucapkan laa ilaha illa… Tidak dengan kalimat yang lengkap. Dia seperti dihalangi untuk mengucapkan kata Allah dalam kalimat laa ilaha illa Allah… Dia tidak bisa mengucapkan kata Allah. Hatinya dan lisannya seperti dihalangi oleh Allah untuk mengucapkan kata Allah itu, untuk menyempurnakan kalimat tauhidnya. Akhirnya dia disuruh berhenti dan diam. Kemudian dia diminta kembali untuk menyebut nama Allah. Anehnya saat itu lidahnya kembali bisa menyebut nama Allah itu dengan mudahnya.

Lalu sahabat saya bertanya:

“Ada apa dengan anda, sampai-sampai anda tidak bisa sedikitpun mengucapkan dan menyebut nama Allah yang Agung dengan ruhani dan lisan anda tadi”.

Lalu dia bercerita panjang lebar, bahwa dia memang orang islam. Tapi beban hidupnya sangat berat. Sampai suatu saat karena sudah tidak kuat lagi menahan beban penderitaan, dia datang kepada seorang pintar. Dia berharap bahwa orang pintar itu bisa mengurangi penderitaannya. Singkat kata, sejak itu sampai sekarang dia selalu berharap bahwa orang pintar itu bisa membuat hidupnya lebih baik. Berkali-kali begitu.

Cuma sayang, orang ini setelah latihan pertama itu, tidak melanjutkan latihannya lagi sampai sekarang.

Kisah kedua:

Saat sahabat saya berlatih dengan seseorang yang lain lagi, kejadian diatas berulang kembali, tapi dengan keadaan yang berbeda. Rohani orang tersebut seperti tertahan dan tidak bisa bergerak. Walau dia sudah berteriak sekerasnya menyebut nama Allah, namun Allahnya seperti diam saja. Tidak ada respon sedikitpun dari Allah. Seakan-akan dia sedang memanggil benda mati. Memangggil batu. Dia memang menangis menangis, tapi tetap saja seperti ada yang menghalangi perjalanan ruhaninya menuju Allah Tuhan Semesta Alam.

Kepada orang ini, sahabat saya juga mengajukan pertanyaan yang sama:

“Ada apa dengan anda?. Anda seperti dihalangi oleh Allah untuk mendatangi-Nya.”

Orang tersebut lalu bercerita tentang dirinya. Bahwa dia sudah sekian lama belajar sebuah tarekat atau sebuah aliran tertentu. Setiap dia ingin berzikir, dia selalu harus terlebih dahulu membayangkan wajah gurunya. Begitulah setiap saat dia lakukan dari dulu sampai sekarang…

Singkat kata, akhirnya orang tersebut diminta untuk istighfar kepada Allah. Dia diberitahu dan ditunjukkan bahwa Allah kita adalah Tuhan Semesta Alam. Allah yang tidak mau disekutukan dengan siapapun dan disejajarkan dengan bentuk apapun juga. Allah yang tidak mau diserupakan Wajah-Nya dengan rupa dan wajah manusia atau benda-benda.

Lalu setelah itu, dia diminta menghadap kepada Allah. Lalu memanggil nama Allah dengan perlahan. Ajaib, rohaninya seperti melesat menuju Yang Maha Tinggi. Tubuhnya tersungkur. Dia menangis histeris. Saat dia diminta mengucapkan Laa ilaha Illallah…, ucapan laa ilaha illallah itu seperti keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Ucapan Laa ilaha illallah dia keluar dengan utuh dan sempurna. Ruhaninya bersaksi, lidahnya berucap. Diapun seperti terlepas dari sebuah tembok penghalang yang menghijab dirinya dengan Allah selama ini…

Pelajaran yang bisa dipetik…

Mengucapkan nama Allah…, memang sangat mudah sekali kita lakukan. Semudah menarik nafas kita. Karena untuk mengucapkan kata Allah itu kita hanya tinggal menggetarkan kerongkongan dan lidah kita, lalu keluarlah suara dengan lafaz berbunyi ALLAH…

Tetapi sungguh tidak banyak kita yang paham dan mengerti, walau kita sudah tahu, bahwa saat kita mengucapkan kata Allah itu berbarengan antara ruhani dan jasmani kita (ruh dan lidah kita), maka ucapan itu akan sangat jauh berbeda dengan ucapan yang hanya sekedar dibibir kita saja. Kalau ada yang tidak percaya, ya nggak apa-apa kok. Karena ini memang sebuah keadaan yang berasal dari pengalaman. Bukan hanya sekedar ilmu.

Pada dasarnya, karena ruh kita adalah milik Allah yang ditiupkan Allah kedalam jasmani (nafs) kita, maka ruh itu akan selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada Allah. Selalu begitu. Salah satu contoh saat-saat kembalinya ruh kita kepada Allah adalah ketika kita tidur. Ketika tidur itu ruh kita kembali kepada Allah. Ini adalah hal yang sangat niscaya. Makanya tidak ada manusia yang tidak ingin untuk tidur. Semua kita pada saat-saat tertentu ingin tidur. Saat tidur itu, tubuh kita seakan-akan telah menjelma menjadi seonggok daging hidup yang tidak punya kesadaran apa-apa. Ruh penghuni tubuh kita seperti sedang diambil kembali oleh Allah, sang empunya ruh itu. Oleh karena itu, walaupun saat tidur itu jantung kita masih berdenyut, paru-paru kita masih menguncup dan membuka, darah kita masih mengalir, namun rasa melihat kita, rasa mendengar kita, rasa tahu kita, rasa hidup kita, rasa kesadaran kita seperti hilang tak berbekas. Kita seolah-olah telah menjadi tubuh yang mati. Tubuh yang tidak bisa apa-apa. Nanti ketika ruh itu dikembalikan oleh Allah kedalam tubuh kita, maka kita kembali punya kesadaran. Kita kembali punya rasa melihat, rasa mendengar, rasa tahu, rasa hidup. Dan biasanya, setelah tidur itu kita akan menjadi lebih sehat dan lebih segar dari keadaan kita sebelum tidur.Selalu begitu.

Kadangkala perjalanan pulang ruh kita pulang ke Allah itu terhalang oleh sesuatu. Misalnya saja, sesaat sebelum tidur kita menonton sebuah film horor yang menakutkan didepan tivi, lalu kita tertidur, maka biasanya tidur kita akan seperti berhenti dialam film horor yang kita tonton tadi. Tidur kita akan gelisah. Kita seperti terkurung dialam yang menakutkan. Ini disebut juga berada di alam mimpi. Walaupun mimpinya hanya sebentar, tapi kita capeknya luar biasa.

Keadaan yang sama juga akan kita alami ketika kita tidak sering-sering melatih pengembalian ruhani kita ini kepada Allah dengan sukarela. Ketika perjalanan ruhani kita terbiasa kita hentikan kepada segala sesuatu yang bukan Allah, berhala, maka ruhani kita juga akan tertahan di berhala itu. inilah yang disebut sebagai syirik. Yaitu menempatkan sesuatu antara kita dengan Allah, sehingga kepulangan ruhani kita ke Allah jadi terhalang. Ruhani kita berhenti di berhala tersebut.

Syirik itu, memang sangat-sangat tidak kentara. Dulu saat saya sedang getol-getolnya ikut sebuah tarekat, dengan sedikit pengolahan pernafasan, saya ingin bertemu dengan seorang guru gaib, dan itu ternyata memang bisa. Tetapi dibalik itu semua, yang saya dapatkan saat itu, malah menyulitkan saya untuk memenuhi panggilan shalat dengan khusyu. Dalam shalat saya malah asyik berkelana kealam-alam yang entah alam apa namanya. Keadaan seperti Itu namanya adalah KARAM. Lebih enak karamnya dari pada shalatnya.

Ciri-ciri berikutnya tentang tanda-tanda adanya penghalang antara ruhani kita dengan Allah adalah munculnya keangkuhan kita. Kita merasa hebat dan serba bisa. Apa-apa, aku kitanya yang ditonjolkan. Sedikit-sedikit kita akan berbicara tentang saya. Dimana-mana berbicara tentang aku. Kalau berhala kita itu adalah guru kita, mursyid kita, maka dimana-mana pembicaraan kita adalah tentang mursyid kita itu, guru kita itu. Kita akan berbicara tentang kehebatan guru kita, kesaktian mursyid kita, kesucian mursyid dan guru kita. Kalau penghalang kita itu adalah berupa ilmu kita, maka setiap saat kita akan berbicara tentang ilmu kita, tentang tahu kita. Saat yang menjadi penghalang kita itu adalah harta kita, maka kita akan berbicara terus tentang seluk beluk harta kita, cara mendapatkan harta kita, tentang kedermawanan kita.

Kita jadi sulit sekali untuk merendah kepada Allah. Kalau hanya sekedar rukuk dan sujud saja sih sangat mudah sekali. Kalau hanya sekedar berkomat kamit sih gampang banget. Tapi untuk sujud dan rukuk yang ada rasa sujud dan ada rasa rukuknya jadi sulit sekali. Untuk merendah yang ada rasa merendahnya kepada Allah…, duh ampun sulitnya.

Jadi …, ternyata apapun juga bisa menjadi penghalang kita dengan Allah. Tahu tidak, akibat yang paling menggenaskan adalah bahwa kita sekarang ini sudah tidak sanggup lagi membaca dan memahami bahasa Allah dibalik hijab-Nya. Percaya atau tidak, sebenarnya, ketika hujan turun atau hanya sekedar mendung tebal menggayut dilangit, yang merupakan salah satu bentuk hijab-Nya, Allah saat itu sedang menyampaikan sebuah pesan kepada semua orang. Bisa saja pesan itu berupa kemurkaan-Nya, kemarahan-Nya, tidak ridha-Nya dan bisa juga itu hanya sekedar pesan awal dari-Nya atas sebuah kejadian yang akan terjadi. Begitu juga saat kilat menyambar, petir bergemuruh, saat itu Allah juga sedang menyampaikan sebuah pesan-Nya kepada kita. Pesan itu bisa berupa kesedihan, bisa juga sebuah kabar gembira. Pesan yang bisa ditangkap dengan mudah oleh lebah, oleh, semut, oleh binatang ternak, bahkan oleh tumbuhan.

Padahal Allah berpesan bahwa:

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (As Syuura 51).

Pembicaraan Allah yang bagaimanakah yang bisa kita tangkap, baca, dan pahami sekarang?. Sebab ketiga cara Allah berbicara dengan kita seperti yang diterangkan ayat diatas masih terjadi sekarang ini, saat ini juga, dan disini…

Astagfirullahal adhiem…

Ya Allah…, hamba berlindung kepada-Mu dari kemusyrikan. Sudah kusaksikan hamba-Mu yang mengaku muslim namun masih tetap berharap kepada orang pintar jadi tidak mampu menyebut namamu dari dalam hatinya hingga lisannya. Meski dalam keadaan biasa dia bisa menyebut nama-Mua lewat lisannya.

Ya Allah hamba berlindung kepada-Mu dari keakuan hamba yang membuat hamba digurukan. Sudah hamba saksikan para guru kerohanian menghijab pengikutnya untuk datang kepada-Mu…

Ya Allah…, ampunilah hamba kalau hamba bersalah…

Wassalam…
Cilegon, 19 Desember 2011
Deka, Jl. Santani no 31.

Read Full Post »

Dalam Sebuah Harmoni…

Akan tetapi syukurlah…!. Tatkala Yang Tersembunyi itu Mengenalkan Diri-Nya sendiri kepada kita, bukan dengan cara mencari-cari Sang Tersembunyi seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang selama ini, misalnya dengan permainan dan eksploitasi gelombang otak, maka seketika itu juga kita akan menjadi orang yang tersadarkan. Orang yang terbangunkan. Sadar dan bangun tentang adanya sebuah harmonisasi yang luar biasa ketika Yang Gaib bisa dipahami menjadi Yang Nyata. Kita menjadi sadar bahwa ada simfoni yang indah terjadi ketika Irrasional berubah menjadi Rasional, ada sebuah kesederhanaan ketika batas dualitas Ruhani dan Jasmani menjadi tak kentara, ada keseimbangan antara Non Materi dan Materi.

Ketika harmoni dan keseimbangan itu terjadi, maka keadaan akan jadi berubah total. Tidak ada lagi kebingungan. Yang ada adalah kejelasan yang terang benderang. Otak kita tidak mampu lagi untuk berlogika dan berfikir hanya terbatas pada yang serba materi dan serba rasional saja. Yang ada adalah sebuah kekaguman yang sangat luar biasa. Rasa kagum yang terus menerus. Rasa kagum yang tak kenal waktu. Kagum dan terpesona melihat Sang Maha Tersembunyi sedang Maha Sibuk mengatur segala sesuatu yang berada didalam liputan Wujud Esa-Nya. Kagum melihat Sang Maha Tersembunyi tengah memperlihatkan sebuah logika dan cara berfikir luar biasa yang jauh diluar jangkauan logika dan cara berfikir kita.

Akibatnya, belahan otak kiri kita, yang selama ini selalu sibuk chatting, sibuk ngoceh tidak karuan, sekarang jadi bungkam, silence, dan mute. Otak kiri kita tidak lagi protes dan bertanya tentang apa, tentang mengapa, tentang kok begitu, dan tentang seharusnya begini dan begitu. Otak kiri kita tidak lagi bertanya tentang detail-detail dan “more” detail, tentang dalil-dalil dan “more” dalil atas berbagai hal yang kita hadapi. Pokoknya otak kiri kita sudah tidak berkutik dan tidak berkuasa lagi terhadap kita.

Juga, saat kita berkata aku, otak kiri kita sudah tidak mampu lagi membatasi aku kita hanya sebatas nama kita, sebatas pekerjaan kita, sebatas kulit dan daging kita, atau sebatas pikiran kita saja. Aku yang kecil. Seperti dulu yang dilakukan oleh iblis saat dia mengatakan bahwa akunya hanyalah sekedar unsur api melawan aku Adam yang hanya sekedar unsur tanah saja. Picik sekali iblis waktu itu. Makanya si iblis jadi tersiksa.

Dengan diamnya otak kiri kita, seketika itu pula belahan otak kanan kitalah yang mulai aktif, bangkit, dan berpendar. Kita jadi bisa memahami keadaan alam disekitar kita dengan cara pandang yang sangat jauh berbeda dari cara pandang kita sebelum-sebelumnya. Kita jadi pengamat yang aktif, kita jadi pembaca keadaan yang waspada, dan kita juga jadi begitu bergairah untuk menemukan berbagai alternatif solusi terbaru atas permasalah hidup yang kita hadapi. Inikan bentuk nyata dari kata “inovasi” saja sebenarnya. Inovasi yang bukan hanya sekedar teori pemanis bibir saja. Tetapi inovasi yang ada barangnya, ada bentuknya. Seperti inovasi oleh Steve Jobs (alm) si penggadang Apple.

Dan yang lebih mengherankan adalah, dengan seketika itu pula dada kita seperti teraktifkan dan menjadi dada yang sangat sensitif. Dada kita seperti melembut dan melunak. Entah kenapa, dada kita sering bergetar halus yang kadangkala diiringi dengan mengalirnya setetes dua tetes air mata disudut-sudut mata kita. Dada kita jadi bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan suasana dan keadaan disekeliling kita. Berbagai keadaan atau suasana lingkungan kita jadi bisa ditangkap oleh dada atau hati kita.

Betul…, berbagai keadaan lingkungan luar, yang selama ini tidak pernah sedikitpun mampu menyentuh hati kita, tiba-tiba bisa kita rasakan sebagai bagian dari diri kita sendiri. Kesukacitaan orang-orang disekitar kita, seakan-akan juga mengalir masuk kedalam dada kita. Kesukacitaan matahari, bulan, awan, bintang-bintang yang tunduk dan patuh dalam rengkuhan daya Ar Rahman seperti membanjiri dada kita dengan deras. Semua itu sungguh membentuk rasa senang dan bahagia yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Tapi sangat terasa ada.

Sebaliknya, kepedihan umat manusia, ratapan matahari dan bulan, tangisan bintang, keluhan langit dan awan, kedukaan hewan dan tumbuhan, atas hilangnya daya Rahmat Allah akibat perbuatan kita umat manusia ini, akan terasa begitu menyakitkan. Kepedihan itu seperti telah menjadi kepedihan alam semesta. Karena tempo-tempo Allah akan mencabut daya Ar Rahman-Nya akibat dari perbuatan kita umat manusia ini yang memang sudah melampaui batas. Hati kitapun seperti disayat-sayat. Semua itu dilakukan Allah agar kita bisa kembali mengubah sikap kita kepada Allah. Tentu saja bagi yang mau.

Kenapa keadaan seperti ini terjadi?. Penjelasannya adalah begini…

Karena Yang Ghaib itu tak berbatas langit, Irrasional itu tak berbatas bentuk, Ruhani itu tak berbatas Nafs, maka kita akan merasakan sebuah dorongan untuk selalu ingin membubung tinggi seperti angin. Kita ingin menjadi non materi yang luas tak terbatas. Hal ini menyebakan hati kita juga menjadi semakin meluas, menjadi lebih peka dan sensitif. Range atau batas kepekaan dan kesensitifan hati kita akan semakin lebar dan luas. Menuju wilayah tanpa batas.

Akibatnya intansitas rasa yang kita alami juga semakin meningkat. Kita seperti bisa merasakan kepedihan, kesedihan, dan kesulitan yang lebih hebat dari sebelum-sebelumnya. Seakan-akan itu adalah kepedihan, kesedihan, dan kesulitan yang dialami oleh alam semesta sendiri. Akan tetapi sebagai imbangannya, kita juga bisa merasakan kesukacitaan, ketenangan dan kebahagiaan yang juga terasa semakin dalam tak terukur. Seakan-akan saat itu alam semesta sendiri pula yang tengah bersukacita, tenang, dan berbahagia.

Dualitas rasa seperti ini seperti mengalir silih berganti memasuki dada kita. Dan disinilah biasanya terbentang sebuah lorong jebakan rasa yang sangat hebat. Ya…, jebakan rasa. Selama ini, biasanya, kita ikut mengalir bersama rasa itu. Kita seperti ikut digulung oleh rasa yang ada itu. Saat ada rasa pedih ataupun rasa sukacita terasa didada, dan kita ikuti saja rasa-rasa itu, maka berhari-hari kita bisa dilanda oleh kekuatan rasa-rasa itu. Seakan-akan kita telah menjadi rasa-rasa itu sendiri. Tingkah laku dan perbuatan kitapun jadi cerminan dari sergapan rasa-rasa itu.

Namun ketika Sang Maha Tersembunyi telah mengenalkan Diri-Nya kepada kita, maka keadaannya sungguh menjadi lain. Kita menjadi sadar bahwa ternyata Sang Maha Tersembunyilah yang telah mengalirkan rasa-rasa itu kedalam dada kita. Dia mengalirkan rasa-rasa itu dengan telaten kedalam dada kita setiap saat. Termasuk juga ketika tidak ada rasa terasa. Karena tidak ada rasa itu sendiri sebenarnya adalah sebuah rasa. Rasa tidak ada rasa.

Begitu kita menyadari bahwa Ada yang mengalirkan rasa-rasa itu kedalam dada kita, maka saat itu pula kita seakan-akan berada dalam keseimbangan rasa. Semua rasa-rasa itu tadi seperti berada dibawah kita. Kita sendiri seperti terlontar berada diatas rasa. Diatas semua rasa. Dan itu identik dengan sebuah ketenangan yang luar biasa. Keadaan yang mungkin belum pernah ada terlintas dan terbayang didalam pikiran kita sebelumnya. Keadaan lembut, halus, luas, dan dalam tak terukur yang belum pernah terasakan didalam dada kita sebelum-sebelumnya. Apakah ini yang disebut sebagai kehidupan syurgawi di atas dunia ini??. Entahlah.

Yang pasti kehidupan kita semenjak itu seperti mulai berjalan dalam sebuah harmoni syurgawi. Walau secara fisik boleh jadi kenyataan hidup kita masih belum banyak berubah, tapi itu merupakan sebuah awal perubahan yang sangat kuat untuk menuju keadaan baru yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Ada sebuah perpaduan gerak antara Ruh dan Nafs. Ada keseimbangan yang kokoh antara harapan dan keinginan dengan keadaan dan kenyataan. Ada gairah dan optimisme yang menyala-nyala untuk maju dan berkembang ditengah-tengah ketawakkalan dan ketidakberkutikan kita kepada Allah.

Ketika itu, ruhani kita seperti ingin terbang menuju ketinggian yang tak terhingga, Yang Maha Tinggi, Al A’laa. Akan tetapi pada saat yang sama jasad kita tetap berpijak dan mengakar kuat ke bumi untuk menjalankan takdir kita yang telah dituliskan Allah untuk kita. Yaitu sebagai seorang hamba yang diturunkan Allah untuk hidup dan berkiprah aktif dikekinian waktu dan tempat. Bukan untuk melambung ke masa depan dan bukan pula untuk terlontar kemasa lalu. Tapi untuk di sini dan saat ini. Sebuah kehidupan yang wajar dan sederhana. Dimana kita bisa menerima dan menikmati apa-apa yang datang silih berganti kepada kita. Dan mencari makna dari setiap rasa yang muncul didalam dada kita tanpa kita ikut terperosok kedalam gelombang rasa yang sedang bergelora itu.

Kita jadi mampu untuk menjalani kehidupan ini dengan sewajarnya. Kita jadi bisa menikmati kelebihan dan kekurangan kita dengan sepenuh rasa syukur. Kadangkala kita akan dilanda oleh rasa senang dan gembira yang menggairahkan, adakalanya pula kita akan terpuruk dalam kesedihan dan duka cita yang dalam. Namun begitu, kita masih bisa menikmati kesemuanya itu dengan hati yang terbuka luas dan otak yang lapang menganga. Hati yang siap untuk menampung segala kejadian dan peristiwa, otak yang mampu menemukan solusi-solusi baru yang mencengangkan.

Yang tidak kalah mengherankan adalah bahwa ketika kita beribadah mendekatkan diri kepada Allah dan merealisasikannya dalam bentuk amal shaleh, semuanya itu kita lakukan sebagai sesuatu yang lumrah, wajar, dan normal saja. Bukan sesuatu yang wah yang perlu kita bangga-banggakan sedikitpun. Semua itu hanyalah sesuatu yang niscaya saja. Seniscaya cahaya matahari yang telaten menyinari bumi. Walaupun kadangkala ada arakan awan yang menghalangi cahayanya, namun sang matahari akan tetap dengan setia memancarkan sinarnya untuk memakmurkan bumi dan segala isinya.

Pantas Rasulullah berkali-kali mengatakan bahwa Beliau hanyalah manusia biasa. Manusia yang hidup dengan hati yang damai dan tenteram walau ditengah berbagai badai kehidupan yang melanda Beliau. Hati Beliau jadi sangat sensitif dan peka, terutama untuk menangkap petunjuk dan pengajaran dari Allah. Dalam kedamaian dan ketenteraman hati seperti itulah Beliau jadi mampu untuk menangkap wahyu dari Allah, pengajaran dari Allah. Seperti juga lebah mampu menangkap wahyu dari Allah walau dalam kadar yang terbatas, misalnya untuk membuat sarangnya dengan ketepatan ukuran yang sangat mengagumkan.

Sebenarnya dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, kita diajak oleh Beliau untuk bisa pula mengalami dan merasakan apa-apa yang dulu dialami dan dirasakan oleh Beliau. Agar kita mampu pula merasakan dan menerima Ilham, Wahyu, atau petunjuk berupa dorongan atau daya, baik untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain sesuai dengan Qadar kita sendiri.

Kenapa kita takut untuk mengatakan bahwa sampai sekarang Allah tetap aktif menurunkan ilham, wahyu, burhan kepada siapapun juga, termasuk kepada lebah, semut, dan makhluk lainnya, termasuk kita?. Sombong sekali kita dengan mengatakan bahwa Allah telah berhenti menurunkan ilham, wahyu, petunjuk-Nya sejak Rasulullah wafat sampai sekarang dan sampai dunia nanti kiamat. Terlalu memang kita ini.

Dengan ilham itu, kita akan mampu untuk membedakan apakah yang kita lakukan itu berasal dari dorongan kehendak hawa nafsu kita sendiri ataukah itu atas dorongan kehendak Allah yang dialirkan Allah sendiri kedalam dada kita. Karena dorongan hawa nafsu kita akan beda rasanya dengan dorongan daya dari Allah. Beda sekali. Kalau dorongan itu berasal dari Allah, maka kita akan sangat mudah untuk bersyukur. Kita akan tetap bisa bersyukur ketika kita sedang bergembira maupun ketika kita sedang bersedih dan berduka.

Misalnya, tatkala ada rasa marah atau rasa tidak suka masuk mengalir kedalam dada kita, maka kita tinggal mengamati dan membaca apakah rasa-rasa itu berasal dari dorongan hawa nafsu kita, atau itu berasal dari Sang Maha Tersembunyi sendiri yang sebenarnya sedang marah atau tidak suka kepada kita atau kepada orang yang ada disekitar kita. Dan tindakan kita setelah itu, apakah itu marah kita, atau tidak suka kita, itulah nantinya yang akan diberi nilai oleh Allah. Apakah tindakan kita itu berasal dari hawa nafsu kita atau itu adalah semata-mata mengikuti isyarat kehendak dari Allah.

Hal yang sama berlaku pula tatkala ada rasa senang dan rasa bahagia muncul dan mengalir didalam dada kita. Kita tinggal membaca apakah rasa bahagia dan rasa senang itu muncul akibat dari dorongan hawa nafsu kita sendiri, atau apakah itu semata-mata akibat adanya anugerah Allah “turun” kepada kita. Karena adanya rasa bahagia dan senang itu boleh jadi itu barulah sebuah pertanda awal saja atas sesuatu yang akan kita dapatkan dibelakang hari.

Indah sekali sebenarnya…

Nah…, sudahkah kita mampu membedakan mana-mana hasil yang berasal dari dorongan dan kehendak hawa nafsu kita, dan mana-mana pula hasil yang berasal dari adanya anugerah Allah turun mengalir kepada kita?. Lalu apakah hasilnya sama…??. Monggo dibaca.

Wassalam

Deka, Jl Santani No 31 Cilegon

Read Full Post »

Sepanjang perjalanan hidup, kita seakan-akan dihadapkan pada sebuah teka-teki atau puzzle yang harus kita cari sendiri jawabannya. Bahwa ada Perbendahaaran Tersembunyi, AL BATHINU, Yang Ingin Dikenal, AZH ZHAHIRU. Kita seakan-akan sedang dihadapkan kepada dualitas yang saling bertolak belakang satu sama lainnya. Kita seperti sedang berhadapan dengan Sesuatu yang Tiada tapi Ada. Dualitas…, yang sudah menjadi topik perbincangan agama-agama sepanjang masa.

Namun…, bagaimana kita akan bisa mengenal Yang Tersembunyi itu sementara Yang Tersembunyi itu sendiri tidak bisa terlihat oleh mata yang memandang, tidak bisa terdengar oleh telinga yang mendengar, tidak bisa terasa oleh kulit yang merasa, tidak bisa tercium oleh hidung yang menghirup, dan tidak terasa oleh lidah yang mengecap??.

Sementara alat yang kita punyai untuk mengenal Sang Perbendaharaan Tersembunyi itu seakan-akan hanyalah panca indera kita, yaitu Mata, Telinga, Kulit, Hidung, dan Lidah. Panca indera kita ini hanya bisa berfungsi untuk mengetahui apa-apa yang bisa bersentuhan dengannya. Alat-alat yang fungsinya hanya tertentu dan sangat terbatas untuk mengenal apa-apa yang menjadi tugasnya saja untuk dikenalinya.

Mata hanya bisa mengenal rupa dan warna yang menyala.
Telinga hanya bisa mengenal nada dan suara yang berirama.
Hidung hanya mampu mengenal bau dan aroma yang merebak.
Lidah hanya sanggup mengenal asam dan manis yang terasa.
Kulit hanya mampu mengenal benda yang teraba.

Bukankah ini seperti sebuah dilema dan rangkaian puzzle yang harus kita hadapi dan pecahkan rahasianya selama hidup kita?. Saat panca indera kita hanya bisa menjangkau segala sesuatu yang berkaitan dengan MATERI, pada saat yang sama kita diberitahu pula tentang keberadaan sesuatu yang NON MATERI. Ada Dzat Yang Tersembunyi yang sedang Merahasiakan Diri-Nya.
Seakan-akan kita dihadapkan pada sesuatu yang Irrasional ditengah-tengah dunia Rasionalitas yang selalu membutuhkan bukti ilmiah. Kalau itu Irrasional dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah di dunia kasat mata, maka dunia Rasionalitas akan menolaknya sebagai tidak masuk akal. Akan tetapi kalau kita hanya memfokuskan diri kepada hal-hal yang Rasional dan kasat mata saja, bukanlah kita hanya akan menangkap sebagian saja dari kenyataan yang ada disekeliling kita?. Padahal masih terlalu banyak hal yang tidak kita ketahui disekitar kita bahkan didalam tubuh kita sendiri.

Wass
Deka

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: