Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2019

AKTIFASI RUH-2

Buat sejenak marilah kita rangkai pengertian utuh tentang empat potongan ayat berikut ini:

 

  1. “…Yaa ayyuhalmuzammil, qumillail…, dst “, “Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat Malam (TAHAJUD)…”
  2. “… Fadzkuruni, adzkurkum…”, INGATLAH kepada-Ku, niscaya Aku INGAT pula kepadamu.
  3. “… Irji’i ila rabbiki rhadiyatan mardhiya…”, DATANG dan kembalikan segala hal kepada Tuhanmu dengan sukarela.
  4. “Walladzina JAHADU FIINA, LANAHdiyannahum subulana…”, barangsiapa yang JAHADU (bersungguh-sungguh) untuk Kami, Kami akan tunjukkan (BERI HIDAYAH) kepada mereka jalan-jalan Kami.

 

Sebenarnya potongan ayat-ayat diatas adalah intisari dari sebuah proses yang sangat luar biasa untuk melakukan Aktifasi Ruh yang tidak banyak diketahui orang.

 

Kita sudah membahas bahwa salah satu cara aktifasi Ruh yang tertinggi adalah melalui Shalat. Diantara shalat-shalat yang sunah, selain shalat wajib, mendirikanTahajud adalah cara aktifasi Ruh yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Hampir-hampir Beliau mewajibkan shalat tahajud itu ketika turun surat Al Muzammil, “wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk shalat di malam hari… dst”, karena begitu penting dan begitu besar manfaatnya.

 

Siapakah orang yang berselimut yang dipanggil oleh Allah Swt dalam ayat ini?.

 

Allah Swt sedang memanggil SEMUANYA…!. Semua orang yang sedang berselimutkan berbagai hal didalam kehidupan mereka:

 

“Wahai kalian yang sedang beselimutkan KESOMBONGAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEPONGAHAN, bangunlah, tahajudlah…

 

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEKUASAAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEKAYAAAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KECUKUPAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KESUKACITAAN, bangunlah, tahajudlah…

 

 

 

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEILMUAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan PEMIKIRAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEMAHZABAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan PENGGOLONGAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan PENGELOMPOKAN, bangunlah, tahajudlah…

 

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEBENCIAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEMARAHAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan DENDAM KUSUMAT, bangunlah, tahajudlah…

 

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEDUKACITAAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang beselimutkan KEPEDIHAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KETAKUTAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan PENDERITAAN, bangunlah…, tahajidlah…

Wahai kalian yang sedang berselimtukan KENESTAPAAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEANIAYAAN, bangunlah…, tahajudlah…

 

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KESEDIHAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEHAMPAAN, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KECEMASAN, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan RASA MALU, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KESAKITAN, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEPILUAN, bangunlah…, tahajudlah…

 

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KETIDAKTAHUAN, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KERAGUAN, bangunlah, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEBINGUNGAN, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEBODOHAN, bangunlah…, tahajudlah…

 

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEMAKSIATAN, bangunlah…, tahajudlah…

Wahai kalian yang sedang berselimutkan KEFUJURAN, bangunlah…, tahajudlah…

 

JAHADU FIINA…,

IRJI’I ILA RABBIKI RHADIYATAN MARDHIYA…

LANAHDIYANNAHUM SUBULANA,

 

BERSUNGGUH-SUNGUHLAH kalian DATANG dan MENGHADAP kepada Allah di dalam Shalat Tahajud itu untuk MENYAMPAIKAN, untuk MENGEMBALIKAN, semua permasalahan kalian kepada Allah Swt dengan SUKARELA dan tidak terpaksa. Karena Allah Swt akan memberi kalian HIDAYAH (PETUNJUK) agar kalian bisa lepas dari semua lapisan permasalahan yang sedang menyelimuti kalian itu.

 

Kalau kalian tidak juga datang menghadap kepada Allah Swt dengan sukarela, maka Allah Swt punya Mekanisme Sendiri yang akan menyeret kalian dengan paksa agar kalian mau melepaskan selimut kalian itu.

 

Oleh sebab itu, datanglah kalian dengan sukarela di dalam shalat tahajud itu. Karena di dalam shalat tahajud itulah kalian punya kesempatan yang sangat luas dan sebesar-besarnya untuk berkomunikasi secara langsung dengan Allah Swt tanpa banyak gangguan.

 

Kalian juga punya waktu yang panjang untuk mengarahkan gerak minda batin (hati), gerak pikiran, gerak Ruh kalian dalam sebuah prosesi penyembahan, penghormatan, pemujaan, pengharapan dan doa, yang semuanya itu hanya terfokus dan tertuju kepada Allah Swt yang sedang kalian Ingat.

 

Dengan begitu, maka kalian sudah siap untuk menerima berbagai petunjuk, bantuan, pertolongan, rizki, kepahaman, dan ilmu, yang dengan itu selimut kalian akan segera DIGANTIKAN dengan selimut KETENTERAMAN. Selimut MUTHMAINNAH. Selimut yang juga menyelimuti Nabi-Nabi, Rasul-Rasul Allah, dan juga orang-orang Allah yang lainnya…”

 

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 1

Setelah kita selesai dan tidak bermasalah lagi dengan:

 

  1. Makrifatullah, dimana sudah tidak ada lagi ruang di dalam minda kita untuk menuhankan sesuatu selain Allah Swt, artinya kita sudah Balik Ke Pangkal Jalan. Pangkal yang sudah tidak ada lagi rupa dan umpama. Laisa kamistlihi syai’un. Pangkal yang sudah tidak ada lagi lika dan liku. Cukup dengan hanya mengingat Allah (Dzikrullah), maka kita sudah langsung terhubung dengan pangkal Jalan itu. Bahwa sebelum ada apa-apa, hanya Allah swt saja yang Wujud, dan
  2. Dzikrullah yang kita lakukan sudah berhasil pula membina saluran atau corong di dalam minda kita. Saluran yang sudah bersih dari segala sekat-sekat amwal, aulad, dan hal-hal kedunian lainnya. Saluran yang sudah mampat (lihat artikel Saluran Jiwa),

 

maka langkah selanjutnya adalah kita melakulan AKTIFASI RUH…. dengan MEMAKAI fasilitas Saluran atau corong yang sudah ada itu.

 

Untuk aktifasi Ruh ini akan kita mulai dari proses aktifasi Ruh yang terhebat dan tertinggi yang telah diwariskan oleh Rasulullas SAW kepada seluruh umat manusia. Proses yang membuat dada Beliau, para Sahabat Beliau serta Orang-orang Allah Bergemuruh laksana air yang sedang mendidih. Proses yang membuat air mata Beliau, para Sahabat Beliau serta Orang-orang Allah jatuh bercucuran laksana mata air yang sedang menumpahkan airnya. Proses yang membuat tubuh Beliau, Para Sahabat Beliau serta Orang-orang Allah dingin seperti sedang disiram dengan air es. Proses aktifasi RUH yang tertinggi itu adalah SHALAT.

 

Shalat disebut sebagai salah satu sarana untuk melakulan aktifasi Ruh adalah karena di dalam shalat itu kita sudah tidak banyak lagi mengunakan minda kita.

 

Karena dengan tahapan satu dan dua diatas, minda kita sudah SELESAI dengan segala permasalahannya… Dimana Minda kita sudah membentuk Saluran atau corong Yang sangat bersih. Ia telah SIAP untuk menjadi Arah dan Tujuan kemana Ruh itu akan BERINTERAKSI dan BERKOMUNIKASI.

 

Sekarang kita tinggal melakukan aktifasi Ruh, sehingga dengan begitu, AKTIFITAS RUH DAN HATI (yang di dalamnya ada minda) akan membentuk AKTIFITAS JIWA yang sangat terarah kepada Allah Swt. Aktifitas Jiwa ini akan sekaligus membawa BADAN kita untuk ikut pula untuk patuh menjalankan apa- apa yang sedang dilakukan oleh Jiwa kita.

3. Shalat sebenarnya tidaklah membutuhkan ilmu yang tinggi dan macam-macam. Ia bukanlah ilmu rahasia yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang khusus atau tertentu saja. Untuk bisa KHUSYU di dalam shalatpun bukankah hak prerogatif milik sekelompok orang tertentu saja. Bahkan Khusyu itu juga bukan hanya milik orang-orang yang paham arti dari bacaan-bacaan shalat yang didirikan itu. Bukan…

 

Tetapi Rasulullah Saw sudah memberikan Clue bagaimana cara mengajarkan shalat kepada seseorang. Bahwa sebelum diajarkan shalat, imankan dan makrifatkanlah mereka terlebih dahulu, baru setelah itu mereka diajarkan shalat.

 

Sebab hanya orang yang sudah makrifatlah yang TIDAK akan mengalami masalah dan berbelit-belit lagi dalam dzikrullah. Sedangkan inti dari Shalat itu sendiri adalah Dzikrulah. Dan Fondamen atau alasnya adalah Makrifatullah.

 

Sebagus apapun ajaran shalat diberikan kepada seseorang, misalnya dengan metoda “SC”, tapi kalau ia tidak didahului dengan Makrifatullah yang tepat dan pas, hasilnya pastilah tidak maksimum, bahkan nyaris biasa biasa saja. Awalnya sih memang akan terasa berbeda dari orang kebanyakan, akan tetapi lama kelamaan ia tetap akan menjadi hambar saja.  Setidak- tidaknya begitulah pengalaman saya sendiri😊.

 

Oleh sebab itu, kalau sudah belajar makrifatullah dan dilanjutkan dengan dzikrullah seperti yang diajarkan oleh Ustadz Hussien BA Latiff, kalau hasilnya juga masih biasa- biasa saja, maka pastilah ada sesuatu yang salah. Apa ini…?. Begitulah saya membatin untuk beberapa lama.

 

Pada suatu saat di dalam shalat tahajud….

 

Aktifkan Ruhmu…, begitulah ilham itu muncul di dalam minda saya saat saya sedang shalat tahajud…

 

Sehabis tahajud, saya NST (Naik Serah Tunggu) saja, sebab nggak paham apa maksudnya aktifkan ruhmu itu.

 

Bukankah untuk membaca dan menggerakkan tubuh di dalam shalat itu sudah membutuhkan aktifitas Ruh?. Karena memang salah satu bentuk dari aktifitas Ruh itu sendiri adalah seperti sepuputan tenaga atau daya yang dapat digunakan untuk menggerakkan seluruh anggota tubuh.

 

Hanya Diam dan menunggu…

 

Dipertengahan suatu shalat tahajud, tiba-tiba saja ucapan saya yang selama ini hanya ucapan dibibir dan dilidah saja berubah menjadi sebuah RINTIHAN yang langsung keluar dari dalam rongga dada saya.

 

Rabbana lakalhamd…, rintihan itu menyeruak naik bersama hembusan nafas saya yang sedikit lebih kencang keluarnya dari biasanya. Rintihan itu menggetarkan pita suara saya dan suara yang keluar itu berubah bentuknya menjadi hanya berupa sedu sedan sahaja.

 

Suara Rintihan itu naik menyentuh bola mata saya sehingga dari sudut sudut bola mata saya itu bercucuranlah air yang entah dari mana sumbernya.

 

Suara rintihan itu seperti terpusat atau terfokus dari dalam dada menuju saluran atau corong, yang entah bagaimana caranya, tiba-tiba sudah ada saja di dalam minda saya. Suara Rintihan itu seperti sedang menghubungkan dada saya dengan saluran yang ada di dalam minda itu.

 

Sampai akhir shalat tahajud, setiap ucapan shalat saya telah berubah menjadi suara RINTIHAN yang langsung keluar dari dalam dada, naik keatas menyentuh pita suara, lalu naik menuju Saluran Ingat Allah swt yang sudah ada di dalam Minda saya.

 

Saat seperti itu, pada keadaan-keadaan tertentu, terutama sehabis rukuk dan sujud, tubuh serasa disiram oleh air es. Tapi rasa dingin itu seperti bergerak dari dalam keluar, lalu menembus ujung-ujung bulu roma….

 

Tidak hanya itu, gerakan rukuk dan sujudpun serasa bermula dari dalam dada. Rukuk dan sujud itu tertuju kuat kepada corong atau saluran dzikrullah yang juga semakin pejal di dalam minda. Maunya rukuk dan sujud itu lebih lama dari biasanya.

 

Sehabis tahajud, jiwa hanya bisa tercenung membisu, tubuh serasa luruh, pakaian basah oleh air mata. Tarikan nafas terasa sangat ringan dan lembut. Hembusan nafas yang keluar dari dalan paru-paru seperti ikut membawa teriakan tak bersuara dari kegembiraan Ruh yang telah berubah menjadi sangat tenang dan…, ahhh…., entahlah… ini sangat sulit untuk dibahasakan…

 

Sampai disini selesailah artikel “Aktifasi Ruh Melalui Shalat”. Ternyata Khusyu itu tidak macam-macam, hanya butuh Makrifatullah dan Dzikrullah…, setelah itu khusyu itu akan datang dengan sendirinya…, insyaallah…

 

Wallahu a’lam.

Read Full Post »

Ayahnya kemudian menghiburnya: “jangan khawatir anakku, untuk mempertahankan dan melanjutkan gegaran itu, kamu mestilah senantiasa Dzikrullah. Mindamu selalulah kamu penuhi dengan Ingatan kepada Allah. Karena INGATANMU itulah PINTU agar kamu bisa BERJUMPA dengan Allah. Pintu yang sudah tidak banyak lagi orang yang mengetahuinya.

 

Dengan engkau Ingat kepada Allah swt, maka mindamu akan senantiasa bersih dari segala sampah dan sarap. Dzikrullah yang seperti inilah yang disebut sebagai Proses Tadzkiyatunnaf yang dilakukan oleh Nabi-Nabi dan orang-orang Allah. Proses yang nantinya akan membuat mindamu jadi bersih dan bercahaya.

 

Minda yang sudah seperti itu, minda yang sudah selalu INGAT kepada Allah Swt, akan berubah menjadi sebuah SALURAN tempat kamu berpaut dan berpegang teguh kepada Allah Swt. Saluran tempat kamu berhubungan langsung dengan Allah. Tempat kamu menyampaikan segala pinta dan doamu. Bahkan melalui Saluran itu pulalah Allah Swt akan menurunkan ILHAM kepadamu setiap saat sebagai jawaban-Nya atas Ingatan kami yang selalu hanya kepada-Nya. Karena INGATAN kamu itu memang langsung tersambung kepada Allah Swt.

 

Note: Artikel tentang SALURAN ini akan dilanjutkan dalam artikel “Saluran Jiwa”

 

Dengan berbekal Saluran itu, maka kamu tinggal istiqamah mengamalkan amalan-amalan berikut ini:

  1. Selalu Shalat malam (Tahajud)
  2. Hari-hari Puasa sunat, kecuali pada dua Hari Raya dan tiga Hari Tasyrik.
  3. Zuhud
  4. Baca Al Quran selalu
  5. Banyak sedekah
  6. Bersifat kasih sayang
  7. Berpegang erat kepada Syariah
  8. Sebenar-benar takut kepada Allah swt.

 

Insyaallah kamu akan mendapatkan anugerah yang kamu sendiri kelak akan sangat bersyukur menerimanya.

 

Amalan-amalan itu akan membersikah Mindamu menjadi semakin bersih dan semakin bersih. Sehingga suatu saat Ruhmu yang pusatnya ada didalam dadamu akan Naik keatas ke dalam mindamu sehingga Ruhmu itu bercantum dengan Hatimu membentuk Jiwamu. Ruhmu akan duduk di dalam saluran itu…”.

 

Karena hari sudah beranjak tengah malam, lalu ayahnya meninggalkannya menuju pembaringan. Tinggallah ia duduk tercenung dengan bertemankan airmatanya untuk beberapa saat…

Selesai

 

Wallahu a’lam.

Read Full Post »

Lihatlah anakku, dalam setiap penderitaan itu terkandung sebuah proses penyadaran kepada kita bahwa apapun juga di alam dunia ini sebenarnya bukan kita yang mempunyai dan memilikinya, bahkan termasuk diri kita sendiri. Bahwa hanya Allah SWT sajalah yang berhak mengaku sebagai PEMILIK TUNGGAL dari semua yang ada di langit, di bumi, dan diantara keduanya. Tidak ada hak kita sedikitpun untuk mengaku sebagai pemilik apapun di dalam hidup kita, walau untuk hal-hal yang sekecil apapun.

 

Bagi orang-orang yang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt dan akan diberikan tugasan yang berat pula, misalnya menjadi Nabi-Nabi dan juga menjadi golongan orang-orang Allah swt, maka Allah Swt terlebih dahulu akan membersihkan jiwa mereka sampai sebersih-bersihnya. Karena hidup mereka selanjutnya setelah itu adalah ibarat sabut kelapa yang sedang mengapung diatas air, atau seperti tempayan pecah dan bolong-bolong sehingga ia tidak bisa lagi menampung air setitikpun, atau seperti bola yang disepak-sepak kian kemari oleh para pemain bola, atau seperti mayat yang diam saja ketika dimandikan oleh orang ramai. Sampai pada akhirnya mereka sampai pada keadaan dimana mereka BERGANTUNG PENUH hanya dan hanya kepada Allah Swt.

 

Untuk itu, mereka diuji dan digodog di kawah candradimuka kehidupan. Mereka terduduk, tersungkur, pontang-panting, dan terbanting-banting menghadapi aral, rintangan, dan dahsyatnya ayunan gelombang kehidupan. Dalam menjalani semua itu, mereka hanya tahu satu hal saja, yaitu mereka berpaut erat kepada Allah Swt. Karena mereka sangat amat yakin bahwa Allah swt pasti akan menolong mereka, walau untuk itu mereka harus kehilangan nyawa mereka sekalipun. Mereka tetap yakin kepada-Nya. Yakin yang sudah tak lagi berbelah bagi.

 

Rahasia dari proses ini adalah bahwa:

 

  1. Allah swt mau mereka yakin atas Kewujudan-Nya walaupun mereka tidak dapat melihat-Nya.
  2. Allah swt mau mereka yakin atas pertolongan Allah swt Yang tidak dapat dilihat (Yang Ghaib).
  3. Allah swt mau mereka sanggup untuk kehilangan segala-gala yang mereka punyai termasuk nyawa mereka sekalipun demi keyakinan mereka kepada Allah swt yang tidak dapat dilihat (Yang Ghaib).

 

Proses pembersihan diri yang seperti ini disebut juga sebagai Tadzkiyatunnafs. Yang pada akhirnya mereka yang mengalaminya telah berubah dan tertukar menjadi alat perkakas atau boneka Ilahi. Alat perkakas, atau boneka yang telah siap untuk menjalankan kesemua perintah Allah swt seperti yang nantinya akan diilhamkan kepadanya setiap saat.

 

Buat sesaat Ayahnya berhenti berbicara. Sang Ayah menetap anaknya dengan lembut.

Sementara sang anak hanya dapat tercenung dan menunduk penuh keharuan. Sudut-sudut matanya kelihatan berkilauan oleh pantulan sinar lampu yang mengenai tetesan airmata yang melelah deras tanpa bisa ia tahan.

 

Ketahuilah wahai anakku, dalam proses penyucian diri itu, mereka akan mendapatkan gegeran demi gegaran yang kemudian akan mengubah sikap dan perilaku mereka dari sikap dan perilaku mereka yang sebelumnya.

 

Iya…., orang-orang Allah swt adalah orang yang telah mengalami kesedaran yang jati (sudah melihat KEBENARAN) terhadap Kewujudan, Kesaan, ataupun Kebesaran Allah swt. Lalu bergoncanglah hatinya mereka. Sudah gegaran itu berhenti, maka impak dari gegaran itu akan meninggalkan parut (bekas yang mudah terbuka kembali) yang membuat orang itu menjadi gembeng [mudah terharu dan menangis] dan dengan perjalanan waktu, hatinya pun berubah menjadi lembut.

 

Diantara tanda-tanda gegaran yang lainnya yang membawa perubahan nyata itu adalah:

 

  • Dari garang berubah menjadi lembut.
  • Dari selalu marah berubah menjadi penyabar.
  • Dari sombong berubah menjadi amat rendah hati.
  • Sangat mudah tersentuh dan berurai air mata.
  • Hatinya terasa tenteram
  • Mukanya berseri.

 

Ia pun berkaca terhadap dirinya sendiri. “duh… Ayahanda, sungguh jauh ciri-ciri itu dari ananda”, katanya terisak.

 

Bersambung

Read Full Post »

JALAN CERITA.

 

Jadi dalam kehidupan di alam dunia ini, di dalam kitab takdir itu sudah tertulis mekanisme bagaimana setiap jiwa itu menjalankan kehidupannya sejak awal atau kelahiran sampai dengan kematiannya dan kemudian berlanjut sampai ke hari kebangkitan kelak. Setiap jiwa seperti sudah berada dalam Jalan Ceritanya masing-masing seperti juga halnya dengan setiap benda langit yang sudah mempunyai Jalur Edar atau manzilahnya masing-masing.

 

Begitu lahir ke alam dunia, maka Jiwa diberi baju atau bungkus berupa tubuh atau badan (raga). Badan ini adalah Jasad yang sudah diberi Nyawa, sehingga jasad itu bisa hidup dan tidak membusuk. Jiwa kemudian akan menjalankan peranannya masing-masing dengan berbekal Raga yang sudah hidup itu. Lalu perpaduan antara Jiwa dan Raga itulah kemudian yang dinamakan dengan Manusia. Kitab peranan atau takdir itu kemudian akan digantungkan dileher masing-masing manusia, sehingga setiap manusia akan menjalankan peranannya sesuai dengan jalan takdirnya masing masing seperti halnya juga setiap benda langit akan beredar menurut manzilah atau garis edarnya masing-masing.

 

Ayahnya kemudian berhenti sejanak sambil tersenyum jenaka melihat anaknya menganguk-anggukkan kepalanya tapi dengan dahinya yang sedikit berkerinyit menandakan bahwa ia masih belum melihat gambaran utuh dari keterang ayahnya itu…

 

Setelah meneguk secangkir kopi hangat yang sudah mulai dingin, Ayahnya kemudian melanjutkan lagi wejangannya kepada anaknya.

 

Kamu lihatlah wahai anakku, walaupun setiap manusia akan menjalankan jalan takdirnya masing-masing, namun ada berbagai JALAN CERITA yang akan dilalui oleh setiap manusia saat mereka hidup di alam dunia ini. Dan Jalan Cerita itu ada BERAWAL dan BERAKHIR. Ia diawali dengan kelahiran kemudian diakhiri dengan kematian. Perpindahan dari titik awal (kelahiran) menuju titik akhir (kematian) dengan berbagai keramaian dan keriuhrendahannya itulah yang disebut sebagai PERJALANAN.

 

Selama dalam masa perjalanan itu, setiap manusia akan diberi pengajaran agar ia bisa menjalani takdirnya dengan baik. Ia diberi kepahaman dan diberi pengertian atas berbagai hal yang akan memudahkannya dalam menjalankan peranannya menurut jalan ceritanya sendiri. Kepahaman dan Pengertian itu bisa datangnya dalam bentuk ilmu pengetahuan dan bisa pula dalam bentuk kejadian nyata yang terjadi di setiap saat yang didalamnya pasti ada bahan pelajaran.

 

Demikianlah, mulai dari sejak dilahirkan, kemudian beranjak menjadi kanak-kanak, remaja, orang dewasa, sampai menjadi tua dan kemudian mati, semua kepahaman dan pengertian yang dibutuhkan oleh setiap manusia akan diterima oleh Mindanya dan kemudian tersimpan di sana dalam bentuk memori. Memori-memori inilah nantinya yang akan ditarik dan dipanggil kembali pada saat-saat tertentu agar setiap manusia tetap berjalan sesuai dengan Jalan carita yang harus dijalaninya.

 

Setiap kali bangun dari tidur, ia diingatkan kembali tentang apa-apa yang harus dia lakukan pada hari itu. Apabila ia sedang menjalankan peranan sebagai seorang muslim, maka ia akan diingatkan berbagai hal tentang apa yang harus dia lakukan pada hari itu. begitu juga bagi yang sedang menjalankan peranan sebagai seorang kristiani, hindu, budha, ataupun seorang atheis. Semuanya akan diingatkan agar ia dengan mudah menjalankan peranannya itu.

 

Proses penarikan memori inilah yang disebut juga sebagai proses diturunkan Ilham ke dalam minda orang tersebut oleh Allah Swt. Orang itu seakan-akan diingatkan kembali bahwa ia adalah si Fulan dengan peran A, sehingga orang tersebut bisa menjalani takdirnya dari hari kehari sesuai dengan kitab takdirnya masing-masing. Ada yang diilhamkan dengan ilham Takwa, karena memang ia sedang menjalankan peran orang yang bertakwa, dan ada pula yang diilhamkan dengan Ilham Fujur (fasiq), karena ia memang sedang menjalankan peran orang yang Fujur.

 

Dari paparan sejarah Nabi-Nabi diatas beserta juga umat Beliau pada zamannya masing-masing, seperti yang dijelaskan di dalam Al Qur’an, semuanya itulah JALAN CERITA yang memang sudah seharusnya terjadi. Ia akan menjadi bahan pembelajaran bagi umat manusia setelah zaman kenabian dan kerasulan berakhir.

 

Dari cerita Nabi-Nabi diatas, dapatkah kamu melihat sebuah kesamaan prinsip yang terkandung di dalamnya?, tanya Ayahnya sambil tersenyum.

 

Ia menggelengkan kepalanya dengan lemah, “ananda tidak paham ayah”, tegasnya.

 

Lalu Ayahnya berkata dengan perlahan.

 

Bersambung

Read Full Post »

Ia dengarkan semua wejangan demi wejangan ayahnya itu dengan penuh perhatian. Ia lalu teringat kepada kehidupan Rasulullah SAW yang juga sangat luar biasa beratnya, baik sebelum masa kenabian Beliau maupun selama Beliau menjalankan misi kenabian Beliau. Sejak kecil Beliau sudah dipisahkan dengan Ibu dan Ayah Beliau. Ayah Beliau wafat sebelum kelahiran Beliau, dan Ibu Beliau Wafat ketika Beliau berumur 6 tahun. Artinya Beliau sudah jadi yatim piatu saat mana seorang anak kecil sebenarnya sedang butuh-butuhnya perhatian dari kedua orang tuanya. Begitu juga Setelah Beliau diangkat oleh Allah Swt sebagai Rasul-Nya, penderitaan Beliau pun tidak kalah beratnya…

 

Namun ia tetap belum dapat memahami apa hubungan antara semua cobaan dan kepedihan hidup itu dengan pencerahan demi pencerahan yang mereka semua dapatkan. Iapun menjadi risau dengan kebodohannya itu…

 

Ayahnya nampaknya dapat menangkap kerisausannya itu. Lalu ayahnya mulai mengurai kerisauannya itu dengan sangat telaten…

 

“Perhatikanlah wahai anakku, setiap kali manusia mengalami permasalahan dan cobaan di dalam hidupnya, yang pada puncaknya akan menimbulkan rasa pedih di dalam hatinya, maka manusia itu pasti akan dituntun oleh cahaya makrifat yang sudah ditanamkan oleh Allah swt ke dalam jiwanya untuk mencari kembali tempat bergantung dan berlindung yang sebenarnya, yaitu Allah swt.

 

Cahaya makrifat itu adalah cahaya Pengenalan kepada Allah swt yang pernah diucapkan oleh setiap Jiwa saat mana Jiwa itu masih di Alam Azali, yaitu alam sebelum kelahirannya ke alam dunia. Ketika itu setiap Jiwa diambil kesaksiannya oleh Allah Swt: “Alastu Birabbikum, bukankah aku ini Tuhanmu.? Lalu setiap jiwa akan menjawabnya dengan penuh kepastian: “bala syahidnya, benar ya Allah, kami bersaksi”.

 

Sejak dilahirkan itu, memori kesaksian jiwa di alam azali itu akan tetap tertinggal di alam azali. Kesaksian jiwa itu tidak terbawa masuk ke alam dunia. Akan tetapi cahaya makrifat atau cahaya dari kesaksian itu akan selalu tetap menyala di dalam hati setiap anak manusia. Ia tidak padam. Cahaya makrifat itulah yang nantinya akan menuntun setiap manusia, tanpa kecuali, hatta mereka atheis sekalipun, untuk kembali mencari Tuhannya ketika mereka menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan mereka di alam dunia ini.

 

Dan dengan cahaya makrifat itulah semua Jiwa, tanpa kecuali, dilahirkan ke alam dunia ini. Artinya, semua manusia dilahirkan kemuka bumi ini adalah dalam keadaan sudah beriman kepada Allah swt. Jadi, semua manusia begitu dilahirkan adalah MUSLIM.

 

Kemudian, begitu bayi dilahirkan, maka setiap jiwa bayi itu akan dikalungi dengan kitab takdirnya masing-masing. Kitab takdir itu dikalungkan dileher jasad sang bayi. Lalu kemudian setiap jiwa akan menjalani hidupnya sesuai dengan kitab takdir itu sampai mereka kelak meninggal dunia dan bahkan sampai hari kebangkitan.

 

“Dan berkatalah orang-orang yang berilmu serta beriman: Demi sesungguhnya, kamu telah tinggal menurut yang terkandung dalam Kitab Allah sampai ke hari kebangkitan”, Ar Rum (30):56.

 

Tidak akan ada perubahan dari kitab takdir itu. Setiap orang akan dipermudah jalannya untuk mengarungi takdir yang sudah dituliskan untuk mereka. Bagi yang takdirnya adalah sebagai penghuni neraka, maka mereka akan dipermudah untuk menjalankan perbuatan-perbuatan yang akan mengarahkan mereka ke neraka. Begitu juga bagi yang takdirnya adalah sebagai penghuni syurga, maka mereka juga akan sangat dipermudah melakukan amalan-amalan yang akan membawa mereka menjadi penghuni syurga.

 

Bersambung

Read Full Post »

Tapi sebelum menjawab pertanyaan anaknya itu, sang ayah malah bercerita lebih lanjut tentang keadaan yang juga dialami oleh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul terdahulu, serta juga orang-orang Allah swt, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

 

“Tahukah kau anakku, bahwa para Nabi dan Rasul pun mengalami hal yang sama, baik sebelum saat kenabian dan kerasulan mereka, maupun saat mereka tengah mengemban tugas kenabian dan kerasulan. Bahkan mereka semua berada pada puncak penderitaan lahir dan batin yang melebihi penderitaan orang awam atau orang kebanyakan”.

 

Misalnya:

“Bagaimana Nabi Nuh As kehilangan anak dan istri Beliau karena keduanya tidak mau mengikuti saran Beliau untuk menaiki kapal yang telah Beliau siapkan tatkala air bah dan topan yang sangat besar melanda kampung halaman Beliau. Begitu sedihnya Beliau tatkala melihat anak Beliau meninggal ditelan oleh air bah yang sangat deras. Anakku…, anak ku Ya Allah… seru Beliau dengan bersimbah air mata. Air mata seorang ayah yang kehilangan anaknya. Sebuah sikap yang sangat-sangat wajar sekali sebenarnya, sehingga Beliaupun “Naik” dan berdoa untuk keselamatan anak Beliau…

 

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar, dan Engkaulah hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud: 45)

 

“Namun, seduka dan sepedih apapun perasaan Beliau saat itu, Allah tetap tidak menyelamatkan anak Beliau itu. Bahkan Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia tidak termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya perbuatannya tidak baik. Sebab itu, janganlah engkau memohon kepadaku, sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya). Aku peringatkan kepadamu, janganlah kamu termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”” (QS. Hud: 46).

 

“Sehingga akhirnya Beliau telan semua kepedihan dan kedukaan itu dan menerimanya dengan penuh keredhaan… Sungguh kecintaan Beliau kepada anak Beliau telah bertukar menjadi sebuah keredhaan atas apa-apa telah Allah tetapkan untuk anak Beliau itu”.

 

“Nabi Yakub (as) pun demikian. Puncak kepedihan yang Beliau alami adalah ketika anak kesayangan Beliau, Yusuf (as), di celakakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Sedihnya Beliau benar-benar sampai ke puncaknya. Beliau menangis dalam waktu yang lama, sampai-sampai mata Beliau buta karenanya. “… Aduhai sedihnya aku karena Yusuf, dan putihlah dua belah matanya disebabkan ratap tangis dukacitanya kerana dia orang yang memendamkan marahnya di dalam hati.”, Yusuf [12]:84”

 

Nabi Ayub (as) juga mengalami puncak kepedihan saat Beliau ditimpa penyakit yang tidak ada obatnya. Badan Beliau membusuk sehingga banyak belatung menempel di tubuhnya. Istri-istrinya, satu persatu meninggalkannya. Yang masih tetap setia hanya satu orang istri Beliau saja. Bahkan Beliau diasingkan masyarakat yang awalnya memuja dan menghormatinya. Kemudian dia hidup terpencil di sebuah gua. Akan tetapi Beliau tetap selalu rujuk kembali kepada Allah:

 

Sesungguhnya Kami mendapati Nabi Ayub itu seorang yang sabar; dia adalah sebaik-baik hamba; sesungguhnya dia sentiasa rujuk kembali (kepada Kami). Sad (38):44

 

Lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Al Anbiya (21):83.

 

 

Dalam kisah lain diceritakan bagaimana Siti Masyitoh yang memercayai Allah sebagai Tuhannya, tidak gentar sedikitpun terhadap ancaman Firaun. Ia tetap yakin bahwa Tuhannya yang sesungguhnya hanyalah Allah, bukan Firaun, raja yang zalim itu. Pendirian Masyitoh semakin mempermalukan Firaun. Raja kejam itu memerintahkan pengawalnya segera melemparkan Masyitoh bersama anak-anaknya ke dalam minyak yang sedang mendidih.

 

Ibu mana yang akan tega menyaksikan satu persatu anaknya tergerus oleh minyak panas. Hatinya begitu pedih. Akan tetapi kepedihan hatinya itu ternyata dapat dikalahkan oleh kekuatan keimanannya kepada Allah swt.  Kepedihan hatinya itu malah tambah menguatkan keyakinan dan keikhlasannya kepada Allah swt. Ia segera balik, rujuk, dan kembali mengadu kepada Allah Swt, sehingga Allah Swt pun lalu menguatkan hatinya. Dengan Kekuasaan Allah, bayi yang masih dalam gendongannya tiba-tiba bisa berbicara kepadanya, “Jangan takut dan sangsi, wahai ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT, dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.” dalam riwayat lain, bayi Masyitoh meyakinkan ibunya, “Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya kita dalam pihak yang benar. Wahai ibu masukanlah, karena sesungguhnya siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.’’ (HR Ahmad).

 

Dengan penuh keyakinan dan keikhlasan kepada Allah, lalu ia membaca, “Bismillahi tawakkal tu ‘alallah wallahu akbar.’’ Dan ia beserta bayi yang digendongnya terjun ke dalam minyak mendidih di dalam kuali itu. Namun ajaib sekali, begitu minyak yang sangat panas menggerus raga mereka berdua, maka terciumlah wangi yang sangat harum dari dalam kuali itu. Wangi yang masih tercium oleh Rasulullah Saw saat Beliau menjalani peristiwa Israk dan Mikraj.

 

Begitu jugalah yang terjadi pada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah Swt yang lain, para Arif Billah, dan orang-orang yang sangat dekat dengan Allah Swt, mereka semuanya mengalami cobaan dan kepedihan hidup yang kadarnya diatas yang dialami oleh orang-orang kebanyakan. Namun kesemuanya itu telah melambungkan Jiwa mereka untuk selalu berpaut dan rujuk kepada Allah swt. Mereka semakin berpegang teguh kepada Allah Swt dan sekaligus mereka menjadi lupa dengan segala problematika hidup yang sedang mereka lalui.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: