Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2016

(disadur dengan sedikit editan dari artikel seorang sahabat saya, AS)

 

Saya sering merasa sulit keluar dari pikiran-pikiran kotor dan rasanya ingin sekali berbuat maksiat seperti berzina.

Kenapa kotor ?. Karena saya sudah beristri dan bahkan sudah punya 1 cucu, kapan-kapan saya butuh menyalurkan nafsu, sebenarnya juga tidak butuh waktu lama, atau secepatnya bisa disalurkan dengan benar bukan dengan cara maksiat berzina dengan wanita lain.

Ketika hasrat berzina muncul, maka hilanglah semua hukum, aturan, dan bahkan rasa takut kepada Allah berubah menjadi “sangat berani” melawan kepada Allah.

Status diri (kalau punya) itupun hilang, nggak perlu pedulikan orang, meskipun saya pensiunan perwira menengah berpangkat letnan kolonel, meskipun saya putra pertamanya seorang kiyahi, meskipun saya mantan dosen di 5 perguruan tinggi di Malang, meskipun saya dipanggil abah, dan mantan murid atau mahasiswa saya memanggil saya ustad atau kiyahi…..nggak….peduli….. Namanya saja nggak takut kepada siapa siapa…. Kepada Allah saja tidak takut…, apalagi kepada selain Allah.

Saya pun paham resiko resikonya, sangat dahsyat menghancurkan saya dan keluarga, anak, istri dan saudara-saudara saya yang sangat agamis …. Tetapi kenapa seolah enteng saja, seolah siap saja menanggungnya….. demi membayangkan kemolekan seseorang ……

Kenapa bisa begitu ?  Ya semua keinginan kehendak dan lakuan setiap manusia adalah ilham.

Dan jangan salah lho kalau bicara ilham, bukan yang bagus-bagus yang baik-baik saja yang datang dari Allah tetapi yang buruk dan jelek maksiat pun berasal dari Allah… ingat: “fa alhamaha fujuurahaa wa taqwaaha……qad aflaha man zakkaaha…waqad khaaba man dassaaha…..”. Dan ingat pula pujian menjelang subuh……. ”khairihi wasarrihi minallah”, lakuan elek apik maksiat iku kabeh songko Allah.

(Ada yang bergaya sopan, tawaddlu, ….menutup ceramah khotbahnya….dengan kata-kata indah….. “akhirnya saya menyampaikan…. yang baik-baik dari yang saya sampaikan adalah semata-mata dari Allah…, dan yang salah, jahat, tidak baik semata-mata dari saya pribadi yang dhaif, semata mata kesalahan saya pribadi…..).

Saat itulah rupanya saya nggak merasa sedang berteman dengan teman akrab… atau sahabat Qarib, sahabat sangat dekat yang bernama Qarin yang Syaitoon juga.

Siapa yang membawa sahabat saya itu datang menemani saya?. Ya, Allah sendiri.

Kenapa……?. Ya…, Allah tidak pernah ingkar janji apalagi lupa……
Ini lho janji Allah tentang itu: “wa man ya’syu ‘an dzikr ar Rahman nuqayyid lahu syaithoonan fahuwa lahu qariinun”, “Barangsiapa yang berpaling dari ingat kepada Yang Maha Pemurah Allah), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. Az Zukhruf (43): 36.

Siapa saja, tentu termasuk saya juga…. yang bergeser hatinya tidak mengingat Allah (walaupun sesaat), maka Allah mendatangkan, bagi yang tidak ingat Allah itu, syaitan untuk menemaninya.

Teman….., bagus banget bahasanya….. Kenyataannya memang teman-teman kitalah yang banyak mempengaruhi bagaimana hidup kita. Makanya kalau kita berteman dengan syaitan, maka… ya kita akan menjadi seperti apa yang diinginkan syaitan atas diri kita…..sampai kepada Allahpun tidak ada rasa takut lagi…, ruar biasa….

Mangkanya ayo…., jaga hati jangan sampai putus berdzikrullah, selalu berdzikrullah, kapan saja dimana saja, di wcpun…, selalu INGAT kepada Allah…

 

Iklan

Read Full Post »

(Disarikan semampu saya dari Syarahan Pandangan Mata Hati, Ustadz Hussien BA Latiff, dan tambahan sedikit dari pengalaman yang  saya alami)

MAJLIS KETUHANAN

Note: tanda panah adalah menunjukkan kemana Matahati memandang…

 

BILIK KHALWAT………

TEMPAT DUDUK DI DALAM MAJELIS ORANG-ORANG ALLAH

Wahai Jiwa yang Tenteram  (Nafsul Muthaminnah)…

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan RIDHA dan DIRIDHAI Tuhanmu…

Maka masuklah kamu kedalam golongan (Majelis) orang-orang-Ku.

Dan Masuklah ke dalam syurga-Ku.

Al Fajr (89): 27-30.

Maka hendaklah kamu masuk dengan sopan-santun dan penuh hormat.
(Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 31 (1990))

Tinggalkanlah apa sahaja di luar pintu Bilik Khalwat kamu itu dan masuklah ke dalam SEORANG DIRI. (Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 188 (1990))

Hati kamu hendaklah kosong dari yang lain dan dipenuhi oleh Allah semata-mata. Maka kamu akan jadi penjaga pintu hati kamu dan kamu diberi pedang tauhid dan kekuatan dan kekuasaan. Apa sahaja selain Allah yang hendak rempuh masuk dalam hati kamu itu hendaklah kamu penggal lehernya dengan pedang tauhid agar tidak ada dalam diri kamu nafsu kamu dan kerinduan kamu kepada dunia dan akhirat. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 70 (1990).

JANGAN membawa apa-apa dan MELALUI sifat-sifat apapun juga.

TINGGALKANLAH:

  • MENGAMATI-AMATI KELUAR-MASUK NAFAS…
  • GETARAN, DAYA, KEKUATAN…
  • MANTERA & DZIKIR-DZIKIR
  • BUNYI / SUARA / IRAMA…
  • PERGERAKAN / SIKAP FISIK YANG ANEH-ANEH DAN MENGADA-ADA…
  • IMAGINASI RUPA DAN UMPAMA
  • CAKRA, LATHAIF, AURA…
  • JARAK DAN ARAH…
  • PERJALANAN KHAYAL UNTUK MENUJU DAN BERTEMU DENGAN ALLAH…

Sebab semuanya itu adalah pintu-pintu tempat masuk syaitan untuk mengembangkan berbagai khayalan dan lamunan di dalam hati kita… dan syaitan akan membawa kita DEKAT ke alam kuasa PERDUKUNAN….

KEADAAN AWAL:

HATI INGAT ALLAH…, hati tidak ingat kepada yang lain selain hanya INGAT kepada ALLAH… (dzikrullah).

HATI menjadi BERSIH dari segala SAMPAH dan SARAP…

MATAHATI tumpukan (FOKUS) kepada HATI yang sedang Mengingat Allah (DZIKRULLAH).

HATI akan  akan terasa PENUH, PEJAL, KERAS, MAMPAT…

MATAHATI tidak melihat apa-apa (kosong). Tidak ada rupa, tidak ada umpama, dan tidak ada sifat-sifat…

Apabila kamu telah dapat melepaskan hati kamu dan apa sahaja selain Allah, maka barulah kamu lepas dari ikatan-ikatan yang menambat kamu untuk menuju kepada Allah. Apabila kamu telah lepas dari segala itu dan kamu sedang berada di HADRAT Allah, maka kamu akan dimuliakan. (Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 82 (1990). )

Aku bersamanya jika ia mengingati Aku. Sekiranya ia mengingati Aku dalam dirinya, Aku akan mengingatinya dalam DiriKu.  Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

Dengan itu hati kamu pun penuh dengan Allah sahaja. Tidak ada yang lain dari Allah dalam hati kamu itu. Kamu pun bersih dari yang lain daripada Allah. (Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 57(1990))

ISTIQAMAH…, bertahanlah dalam keadaan ini…., diamlah bersopan santun…

Ciri-ciri: Ketika kelopak mata di buka perlahan, ia terasa TERSANGKUT  (terbuka separo dan KUYU)

 

MELIHAT MELALUI CORONG MATA…

MATAHATI turunkan ke corong mata,

Matahati melihat melalui corong mata…, terlihat hanya gelap…

RASAKAN KITA ADA DI DALAM, SEDANG MELIHAT KELUAR MELALUI JENDELA (CORONG MATA)

HATI tetap mengingat Allah, hati akan tetap pejal, keras, dan mampat.

Keadaan INGAT ALLAH itu tidak akan hilang WALAU KITA SEDANG: DUDUK, BERJALAN, BERGERAK, BERBARING, MENOLEH KIRI-KANAN, TENGOK ATAS-BAWAH…

 

MEMBANGUN BASECAMP

NAIKKAN MATAHATI, dorong ingatan Allah menembus UBUN-UBUN.

INGATAN ALLAH DIATAS ubun-ubun akan terasa keras, pejal, dan mampat.

DORONG INGATAN KEPADA ALLAH ITU SEJENGKAL DIATAS UBUN-UBUN…

Sesungguhnya Allah swt telah berfirman, “Apabila hamba-Ku mendekati Aku SEJENGKAL maka Aku mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati Aku sehasta maka Aku mendekatinya sedepa. Dan bila dia mendekati Aku sedepa, Aku akan datang menemuinya lebih cepat lagi.”  Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

BERTAHAN  DAN ISTIQAMAHLAH DI SANA….

DUDUK DI DALAM BILIK KHALWAT, di dalam sana:
– TIDAK AKAN ADA GANGGUAN..
– TIDAK akan MENGGANGGU ORANG..

Keadaan di luar tidak akan MENGKORUPSI yang di dalam…

Kita seperti duduk di dalam rumah sedang melihat keluar melalui JENDELA rumah.

Di luar ada angin, ada panas, ada hujan, ada berbagai sifat yang sedang tergelar…

Tapi kita sudah tidak terpengaruh lagi dengan angin, panas, dan sifat-sifat itu….

Semua itu sudah tidak TEREGISTRASI lagi ke dalam…

Sebab kita sudah melihat semua sifat-sifat itu hanyalah GELARAN berbagai peran yang sedang dimainkan oleh Dzat yang sedang bersenda gurau.

Pemeran dalam GELARAN itu hanya satu, tunggal, yaitu Sedikit Dzat-Nya yang telah Dia Sabda dengan Firman KUN.

Dzat yang tidak bersifat, tidak “berjantina”, tidak berupa, tidak berumpama…

Dan Allah lah yang sedang bergurau senda dengan sedikit Dzat-Nya itu…

Sehingga tidak sedikitpun HAK kita untuk ikut campur tangan untuk memikir-mikirkan dan menetap-netapkankan…

Kitapun jadi TERDIAM, mulut kita terjahit untuk berkata-kata, karena kita segera saja menyadari bahwa kita ternyata, sebenarnya, hakikinya, adalah tidak wujud…

 

TENTERAM:

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.
Ra’d (13):28

 

SEMATA-MATA ROH:

Maka dengan itu dirinya pun hancur dan hawa nafsunya pun hilang dan hapuslah niat dan cita-citanya. Segala-segalanya kosong baginya. Perkara ini berkekalan sementara dan mungkin dihebatkan lagi penderitaannya itu. Sehingga sampailah masanya bila ia merasa tabiat-tabiat dan sifat-sifat kemanusiaannya hilang terus dan dia tinggal seolah-olah ROH sahaja. (Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 116 (1990)).

 

MENJADI ORANG-ORANG ALLAH:

Fadzkuruni…., Adzkurkum… (ingatlah Aku, Aku akan ingat kamu…)

Ketika Allah telah membalas ingat kita kepada-Nya, dengan Allah pun balas mengingat kita, maka saat itulah airmata kita jatuh berderai-derai, Jiwa (RUH dan HATI) terasa DINGIN, kulit menjadi lembut, bulu roma berdiri-diri…

Berpuashatilah kamu dengan apa yang ada padamu sehingga datang takdir Allah MENINGGIKAN TARAF kamu. (Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 64 (1990).)

 

Wallahu a’lam….

 

Read Full Post »

JALAN MAKRIFAT

PINTU DZIKIR, adalah pintu yang rumit dan berbelit-belit, banyak sekali ragam dan caranya, butuh Multi Level Hati (yang sambung menyambung), butuh waktu yang lama sekali, dan dengan hasil yang belum jelas pula… Jadilah dengan itu, selama kita beribadah, kita belum jelas sedang menyembah siapa. Dan kita tidak bisa pula mengingat Allah (dzikrullah), kecuali hanya wirid-wirid atau dzikir-dzikir dengan mulut berkomat-kamit menyebut (Nama) Allah. Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat lama, selama dalam masa penantian kita untuk mendapatkan ILHAM sebagai pertanda bahwa kita sudah bermakrifatullah..

PINTU ILMU (SYARAHAN), adalah pintu yang sangat cepat dan “to the point”, tidak butuh Multi Level Hati, dan hasilnya juga bisa terpantau dan dengan baik. LANGSUNG bisa MENGENAL KEBENARAN akan Kewujudan, Keesaan, dan Kebesaran Allah yang akan membuat airmata kita jatuh berderai-derai. Setelah makrifatullah itu, langsung, kita selanjutnya hanya tinggal memperkemaskan diri untuk BERIBADAH dan DZIKRULLAH (mengigat Allah) setiap saat. Sedangkan hasil-hasil  yang berikutnya dari proses Beribadah dan Dzikrullah yang kita lakukan itu hanyalah suatu kebetulan saja, atau “gula pemanis”, atau “garam pengasin”, atau “cabe pemedas” saja sebagai anugerah dari Allah buat kita…,sehingga akhir kita menjadi REDHA dengan segala ketetapan Allah yang telah Allah tetapkan buat kita semenjak Firman Kun tersabda….

Pilih yang mana??.  Itu tergantung dengan perjodohan kita masing-masing dengan kedua pintu itu. Dan kita akan dipermudah untuk memasuki pintu yang sudah berjodoh dengan kita itu nyaris tanpa halangan…

Pintu ILMU yang paling up-to-date saat ini untuk mengenal Allah (makrifatullah) ini adalah, melalui syarahan Arif Billah Ustadz  H. Hussien Bin Abdul Latiff…

Salam

Read Full Post »

MENGENALI PEMERAN HAKIKI

Ada masalah?…

Peranmu sendiri apa?

Dan kamu akan dipermudah untuk menjalankan peranmu itu…

pemeran hakiki-1

 

 

 

 

 

Read Full Post »

 

NUR MUHAMMAD1

 

Paham Nur Muhammad adalah sempalan dari Paham Wahdatul Wujud.

Paham ini beranjak dari keyakinan bahwa sebelum Allah menciptakan semua Makhluk, maka terlebih dahulu setengah Dzat atau Diri Allah berubah menjadi Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad itulah kemudian Allah menciptakan semua ciptaan (makhluk). Allah bersabda “KUN” kepada Nur Muhammad, lalu dari Nur Muhammad itu terzahirlah semua ciptaan.

Sedangkan pada Paham Wahdatul Wujud, untuk menciptakan semua makhluk, Allah langsung bersabda “KUN” kepada seluruh Diri atau Dzat-Nya. Lalu dari seluruh Diri atau Dzat-Nya itu terzahirlah semua ciptaan (makhluk). Satu dalam ramai, ramai dalam satu.

Riyadah yang dilakukan orang yang berpahaman Nur Muhammad ini sama saja atau tidak jauh berbeda dengan orang yang berpahaman Wahdatul Wujud.

“aku” punya jasad, maka jasadku “aku” rilekskan…

“aku” punya pikiran (otak), maka pikiranku “aku” diamkan…

“aku” punya hati (di dalam dada), maka hatiku “aku” dzikirkan (dengan menyebut Allah sebanyak-banyaknya)…

“aku” punya roh / jiwa, maka rohku / jiwaku “aku” perjalankan (mikraj) menuju Allah…

“aku” dekatkan, sentuhkan, dan sambungkan rohku / jiwaku dengan Allah…

 

PERANTARA:

Sebelum “aku” sampai kepada Allah,

“aku” sambungkan rohku / jiwaku dengan roh / jiwa guruku…

roh / jiwa guruku tersambung pula dengan roh / jiwa gurunya…

roh / jiwa guru dari guruku tersambung pula dengan gurunya…, dst..

roh / jiwa guru-guru-guru…, tersambung pula dengan roh / jiwa Nabi Muhammad

Roh / Jiwa Nabi Muhammad adalah Nur Muhammad yang pernah berjumpa dengan Allah…

Dengan begitu, “aku” pun berharap bisa berjumpa dengan Allah…

KEADAAN atau HAL yang didapatkan pelakunya dalam riyadah Paham Nur Muhammad ini juga hampir sama dengan yang didapatkan dalam riyadah Paham Wahdatul Wujud…

Dan Rasulullah Muhammad SAW, Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in tidak pernah mengalaminya…

Wallahu a’lam…

Read Full Post »

wahdatul wujud

 

Paham Wahdatul Wujud tidak membedakan antara Makhluk dengan Allah.

Dimanapun Makhluk berada, maka disitu Ada Allah.

Makhluk punya “aku”, dan Allah juga punya “AKU”

 

MELAKUKAN RIYADAH:

“aku” punya jasad, maka jasadku “aku” rilekskan…

“aku” punya pikiran (otak), maka pikiranku “aku” diamkan…

Note: Istilah lain dari MENDIAMKAN pikiran ini adalah ME-NOL-KAN pikiran, atau MENGISTIRAHATKAN pikiran, atau MENGOSONGKAN pikiran…

Akan tetapi sebenarnya yang kita lakukan bukanlah menolkan, atau mengistirahatkan, atau mengosongkan pikiran. Kita hanya berusaha FOKUS untuk  INGAT kepada SATU objek pikir saja, yang bisa diumpamakan, atau dirupakan, atau dikhayalkan, atau disifatkan. Atau bisa pula kita SADAR terhadap sesuatu yang bisa kita RASAKAN seperti gerak, daya, atau getaran. Sehingga seakan-akan pikiran kita bisa istirahat, diam, nol, atau kosong.

Dalam istilah meditasi, aktifitas seperti ini disebut juga dengan memberi TUGASAN atau AKTIFITAS  kepada “monkey mind” untuk MENGAMATI, MERASAKAN, atau MENYADARI sebuah objek pikir, sehingga monkey mind itu tidak ngoceh lagi kesana kemari. Monkey mind  jadi  asyik sendiri dengan TUGASANNYA itu selama waktu tertentu sampai suatu saat dia menjadi BOSAN. Kalau dia bosan, maka dia perlu diingatkan lagi berulangkali dengan objek pikir yang sama atau dengan memakai objek pikir yang lain.

Makanya latihannya harus berulang-ulang, dan berulang-ulang…, tapi yang didapatkan dari waktu ke waktu hanya begitu-begitu saja, nyaris tidak ada perubahan. Hasilnya hanya kita akan merasa lebih saja dari biasanya. Lebih WUJUD. Rasa lebih wujud ini ditandai dengan munculnya rasa lebih kita dari orang lain yang tidak melakukan atau mempraktekkan apa-apa yang kita lakukan. Misalnya kita merasa lebih bisa, lebih khusyu, lebih sadar kepada Allah, lebih kuat (hero), lebih sakti dari orang lain, dan sebagainya…

Berbagai objek pikir yang biasa atau sangat populer dipakai dalam teknik mendiamkan mongkey mind dengan cara seperti ini adalah:

  • MENGAMATI KELUAR MASUK NAFAS…
  • MERASAKAN GETARAN, DAYA, KEKUATAN…
  • MERAPALKAN MANTERA-MANTERA / DZIKIR-DZIKIR
  • MENDENGARKAN BUNYI / SUARA MONOTON…
  • MELAKUKAN PERGERAKAN / SIKAP TUBUH TERTENTU…
  • MENGAMATI CAKRA, LATHAIF, AURA…
  • MENGAMATI BERBAGAI IMAGINASI RUPA DAN UMPAMA…
  • MELAMUNKAN PERJALANAN JIWA NAIK KE TEMPAT YANG TINGGI, LUAS TAK TERHINGGA, ATAU MENUJU TUHAN…
  • MENGKHAYALKAN DAN MERASAKAN GETARAN PERTEMUAN DAN PERJUMPAAN DENGAN TUHAN…

“aku” punya hati (di dalam dada), maka hatiku “aku” dzikirkan (dengan menyebut Allah sebanyak-banyaknya)…

Note: tanpa menyebut Allah.., Allah…, Allah… pun sebenarnya hasilnya sama saja atau tidak akan banyak berbeda…

“aku” punya roh / jiwa, maka rohku / jiwaku “aku” perjalankan (mikraj) menuju Allah…

“aku” dekatkan, sentuhkan, dan sambungkan rohku / jiwaku dengan Allah…

“aku” bawa jasadku kepada Allah…

“jasadku” terasa bersandar kepada daya dan gerak…

“jasadku” terasa bergetar…

“rohku / jiwaku” terasa bergetar…

“rohku / jiwaku” juga terasa mengapung

“rohku / jiwaku” terasa meluas…

“rohku / jiwaku” jadi PEPADANG (ALAM  SEMESTA)…

airmataku jatuh bercucuran merasakan semua keadaan itu…

“aku” melakukan semua itu agar “aku” menemukan “aku yang sejati”.

 

PENYERAHAN:

“aku sejati” lalu menyerah dan lenyap kedalam “AKU”

“aku sejati” sudah tidak wujud, yang wujud adalah “AKU”.

“aku” adalah “AKU”

“AKU” adalah “aku”

“aku” telah menemukan “DIA”, HU, HU

“aku” adalah “DIA”

“DIA adalah “aku”

“aku” telah menemukan “ENGKAU”, Allah…

“aku” adalah “ENGKAU”

“ENGKAU” adalah “aku”.

Maka dengan mudah akan keluarlah kata-kata syatahat sebagai berikut:

“aku” tidak ada, yang ada adalah “Allah”

“Allah” tidak ada, yang ada adalah “aku”.

bukan “aku” yang berkata-kata tapi “Allah” sendiri yang berkata-kata…

bukan”aku” yang berkata-kata, tapi “Allah” yang menggerakkan lidahku…

bukan “aku” yang marah tapi “DIA” yang marah…

bukan “aku” yang bergerak tapi “ALLAH” yang menggerakkan tubuhku…

bukan “aku” yang bernafas, tapi “ALLAH” yang menafaskanku…

 

MENETAP DI WILAYAH AMBANG…

Sehingga akhirnya jadilah “aku” dengan “ALLAH” ibarat “debu” dengan “angin”.

Ada “DUA” wujud yang saling berasingan…

Bukan “debulah” yang bergerak, tapi “anginlah” yang bergerak…

Siapapun yang berada dan menetap di wilayah ini:

Ia  kadang akan merasa MABOK dan BINGUNG.

Ia kadang akan merasa KARAM, TENGGELAM, ISTIGHRAQ.

Ia kadang merasa WUJUD, dan kadang merasa FANA.

Ia kadang merasa wujud sehingga bisa beribadah, bisa berkuasa, dan bisa macam-macam.

Ia kadang merasa tidak wujud, sehingga tidak bisa beribadah. (mau menyembah siapa?, masak Allah menyembah Allah, katanya).

Keadaan seperti ini sangatlah MENYIKSA sekali…

Dan Rasulullah Muhammad SAW, Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in tidak pernah mengalaminya…

 

Wallahu a’lam…

Read Full Post »

SIFAT-HAKEKAT-MAKRIFAT

DARI SIFAT KE HAKEKAT

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: