Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2019

Nasihat Arif Billah…

Anakku yang disayangi.

Sesudah Kalian mengetahui dan dapat menerima bahwa Takdir yang ditetapkan untuk Kalian adalah yang terbaik (untuk Kalian), karena ia ditetapkan oleh Allah swt yang Maha Bijaksana yang tentunya tidak akan menetapkan sesuatu yang sia-sia, maka yang tinggal setelah itu hanyalah PENYERAHAN SEPENUHNYA KEPADA TAKDIR tanpa berbelah bagi lagi. Inilah maknanya yang sebenarnya dari Islam (Submission to the Will of Allah). Sehubungan dengan ini, Dia memerintah kita supaya jangan lagi memikirkan dan menetapkan. Karena kalau Kita berbuat begitu maka Kita sudah menjemput syaitan untuk menggoda kita. Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda bahwa apapun juga yang berlaku hendaklah kita berkata bahwa ini sudah ditakdirkan oleh Allah swt.


Harap diingat bahwa Allah swt sudah berfirman bahwasanya disebalik Takdir itu PASTI ada hikmah, keadilan, manfaat, ilmu dan sebagainya yang menguntungkan Kita. Karena kalau ia merugikan Kita, maka ketetapanNya itu tentulah menjadi sia-sia. Hal seperti itu tidak akan terjadi. Karena Allah swt, Dia adalah Maha Bijaksana. Oleh karena itu, selagi Kita tidak dapat menerima Takdir, maka selagi itu pula Kita tidak akan mendapat kebaikan yang banyak yang berada disebalik Takdir itu. Karena itu Allah swt berfirman bahwa Dia tidak akan menolong seseorang itu atau sebuah masyarakat selagi seseorang atau masyarakat itu tidak menolong dirinya sendiri. Maksudnya adalah, seperti yang sudah diterangkan tadi, selagi Kita tidak dapat menerima Takdir, maka selagi itu pula Kita tidak akan diberi kebaikan yang banyak di sebalik Takdir itu.


Namun Penyerahan Sepenuhnya kepada Takdir ini memerlukan keyakinan yang tidak berbelah bagi (Haqqul Yakin). Karena jurusan masa Takdir bukanlah hanya sehari-dua atau bulan atau tahun, akan tetapi selama 6 Fasa yang menurut Sains menjangkau masa 12 biliun (milyard-Indonesia) tahun (dimana 1 Fasa = 2 biliun tahun). 


Contohnya, lihat saja kepada kelahiran Kita ini. Takdir kelahiran Kita bermula dari Nabi Adam as sampai kepada kedua ibu-bapa Kita dan sesudah itu kepada kita. Takdir ini juga akan disambung oleh zuriat Kita sampai ke akhir Masa.


Lihat juga kepada Roh Rasulullah saw. Ia dijadikan 60 ribu tahun sebelum Langit dan Bumi diciptakan untuk menjadi Rahmatul alamin kepada kesemua ciptaan. Namun baginda hanya dilahir 1400+ tahun yang lalu. Dan Rahmatul Alamin baginda hanya dapat dirasakan sesudah baginda dilahirkan. Oleh karena itu, perjalanan Takdir baginda sampai pada masa kini sudah menjangkau 4.6 biliun tahun (tidak termasuk 60 ribu tahun yang disebutkan tadi). Berarti hikmah disebalik diciptakan Roh baginda hanya dapat disaksikan setelah 4.6 biliun tahun berlalu.


Maka anakku, karena masa perjalanan Takdir itu adalah panjang, lebih panjang dari umur Kalian, maka Hikmah disebalik Takdir itu sukar bagi Kalian untuk memahaminya atau untuk dapat menyaksikannya. Oleh karena itu, keyakinan Kalian bersangkutan dengan Takdir ini mestilah Keyakinan yang Haqqul Yakin. Maka apa juga yang berlaku hendaklah Kalian berpegang teguh dengan Haqqul Yakin, bahwa disebalik kejadian itu ada banyak kebaikan yang tersembunyi walaupun Kalian tidak dapat menyaksikan atau merasakannya karena perjalanan Masa dari Takdir itu adalah terlalu panjang.


Semoga anakku yang dirindui faham apa yang disampaikan oleh Ayahmu di tazkirah ini, Insya-Allah, aamin Ya Rabbil alamin!


bayu teguh prakoso: Selama menolak takdir maka akan semakin merasa tertekan dan menyiksa ya ustadz ?

Utd Hussien Abdul Latiff: Benar, Bayu, sahabatku!


Rio Benny Arya: Terimakasih ustadz. Baru saya paham, kita bisa ridho pada takdir menerusi ILMU. Tanpa ilmu seperti yang ustadz ajarkan, susah untuk ridho. Karena tak terfikirkan bahwa takdir sudah tertulis sepanjang 6 fasa. Meski sekarang tak faham hikmahnya, tapi pastilah hikmah itu terbuka suatu saat nanti.


Utd Hussien Abdul Latiff: Benar sahabatku Rio!


SAHRY RAMADHAN ABDUH: Terima kasih ustad. Ramai orang yang belum bermakrifatullah, ketika diberikan skrip Takdir yang enak dan nyaman (ukuran pandangan manusia), semuanya senang, dan mau berlama-lama. Tapi begitu takdir berbalik 180 derajat, menjadi susah, payah, maka umumnya ramai yang menggerutu, menyesali hidup…dll. Sungguhlah ini *sasaran empuk bagi syaitan* ya ustad, dan jalan ini terbuka terus untuk memberikan kesempatan bagi syaitan dan kuncu-kuncunya untuk menggoda manusia. Ujung-ujungnya kebanyakan tidak ridha atas jalan kehidupan yang diberikan Nya, dan tidak sedikit ada yang sampai mengakhiri hidupnya, tidak tahan dan tidak sabar. Seandainya Allah swt mengizinkan kita *sampai di maqam hikmah*, dimana takdir baik dan buruk sama saja, semua pada akhirnya berujung suatu pelajaran terbaik dari Nya… *Lets following only the will of Allah*, maka pastilah aman dan sentosa semua kehidupan ujian didunia ini. Apa begitu kiranya ustad? Mohon pencershan lanjut.


Utd Hussien Abdul Latiff: Benar, sahabatku Sahry

Read Full Post »

Nasihat Arfif Billah…

Anakku yang dirindui. Bulan puasa ini mempunyai kaedah yang berlainan kepada orang awam dan yang sudah bermakrifat.

Bagi orang awam, bulan Ramadan adalah bulan yang mulia dan diharuskan dipenuhi dengan ibadah sedaya bisa serta menjaga tingkah laku, lidah, pandangan, pendengaran dan Minda.

Bagi orang yang Makrifat, di buatnya semua ibadah yang diharuskan dan bahkan lebih (serta berdzikrullah sentiasa), namun dibenak Mindanya dia tahu yang melakukan kesemua ini adalah Dzat yang patuh mengikut skrip di dalam Loh Mahfuz. Karena dia sudah paham bahwa dia adalah tidak wujud. Lalu dia tidak akan samasekali mengaku bahwa dia sudah beribadah dengan sangat banyaknya dalam bulan Ramadan melebihi daripada ibadah orang awam. Dia hanya akan BERDIAM DIRI. Seperti Rasulullah saw, baginda tidak akan mengaku bahwa baginda dapat membunuh banyak kaum Quresh. Karena baginda sudah tahu bahwa yang membunuh adalah Allah swt menerusi (melalui) Dzat-Nya.

Maka awaslah anakku, jangan kalian mendabik Dada (sombong) mengatakan bahwa Kalian sudah beribadah dengan banyak sekali dalam bulan yang mulia ini. Karena kalian sudah mengetahui akan rahasia ini, rahasia dalam rahasia. Seperti firman Allah swt yang bermaksud bahwa tidak sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Ini juga seperti sabda Rasulullah saw bahwa hendaklah Kita hidup macam biasa.

Maka hendaklah kita seperti biasa dalam bulan puasa yang mulia ini. Beribadahlah dengan banyak sekali, namun tetaplah kalian membisu seribu bahasa (makna “Diam” Sepenuhnya) dan jangan mendabik Dada.

Sentiasalah anakku “Nafi & Isbat” supaya kalian senantiasa sadar bahwa Kalian adalah tidak wujud dan yang berlakon adalah Dzat. Dengan begitu, Kalian tidak akan terjatuh ke dalam perangkap ujian Ilahi.

Apabila Kalian senantiasa “Nafi & Isbat” lalu sadar akan Kebenaran bahwa kesemua ini adalah lakonan Dzat mengikut Loh Mahfuz, maka akhirnya akan datang kepada kalian satu hamparan, iaitu hamparan Tiada Pengertian. Kalau sudah begitu, maka benarlah perjalanan Kalian itu. Karena perjalanan Kalian akhirnya akan sampai kepada maqam Tiada Pengertian. Karena memang Dia-lah yang bermain dan bersenda gurauan dengan Dzat (ciptaan)Nya. Makanya tentu saja Pengertian dalam perkara ini hanya Dia saja yang tahu. Kalau saja Kalian berkata bahwa Kalian juga mengerti, maka sekali lagi Kalian sudah menjadi buta kembali.

Waspadalah anakku yang dikasihi supaya kalian tidak terjatuh dalam perangkap ujian Ilahi dalam bulan Ramadan yang mulia ini.

Anakku yang dirindui. Pada Akhir perjalanan, Kalian akan sampai kepada Hamparan ‘Tiada Pengertian’. Itu sudah tentu. Karena Kita memang tidak wujud dan hanya ada Dia yang bermain dengan Dzat (ciptaan)Nya. Maka tentu saja Pengertian atas permainan itu hanya berada denganNya saja.

Oleh karena itulah, Nabi Musa as tidak bisa mengerti akan kelakonan Khidir as, terutama dalam hal Khidir as memecahkan perayu orang serta membunuh seorang anak kecil. Inilah yang dikatakan Khidir as kepada Musa as apabila dia berkata mau berlajar ilmu yang ada pada Khidir as. Khidir as berkata kepadanya bahwa kamu tidak akan dapat bersabar terhadap ilmu yang kamu tidak akan dapat memahaminya.

Karena itu jugalah Allah swt memerintah Kita supaya jangan memikir dan menetapkan. Karena Pengertian atas sesuatu bukan dengan Kita.

Maka jangan berfikir kenapa “si Luncai terjun dengan labu-labunya”. Serta jangan pula menetapkan bahwa Si Luncai itu gila. Karena Kita tidak mempunyai Pengertian atas perbuatannya itu.

Maka ikutlah nasihat Pak Pandir, iaitu lihat dan dengar, tetapi mulut tetap diam, lalu tepuk-tepuklah tangan dan buatlah tidak tahu. Maka apabila kalian lihat atau dengar si Luncai terjun dengan labu-labunya, diam sajalah, namun tepuklah tangan mengikuti rentak orang ramai serta buatlah tidak tahu, iaitu hidup macam biasa.

Maka beribadahlah dengan sebaiknya dalam bulan Ramadan yang mulia ini. Namun JANGANLAH kalian BERFIKIR ‘kenapa aku beribadah dengan sesungguhnya sedangkan rekanku itu tidak berbuat begitu’. Dan JANGAN MENETAPKAN bahwa rugilah dia karena ini adalah bulan yang mulia lagi di penuhi barakah. Ingatlah kalian bahwa yang berlakon adalah Dzat-Nya dan Pengertian akan lakonan itu hanya ada dengan Allah swt saja, bukan pada kalian

Semoga anakku yang dikasihi mendapat memfaat atas tazkirah Ayahmu ini.

Read Full Post »

MAQAM KEKOSONGAN

Nasihat Arif Billah

Anakku yang dirindui.   Di akhir perjalanan, Kalian akan sampai kepada maqam KEKOSONGAN. Sesuai dengan kekata Imam Ghazali bahwa apabila kau kenal akan Tuhanmu dan dirimu maka kamu akan tahu bahawa kamu tidak wujud. Untuk sampai kepada makam ini maka perlulah Kalian;

 

  1. TIDAK BERFIKIR. Bagaimana Kalian bisa berfikir kalau Kalian tidak wujud. Bagaimana Kalian bisa berfikir kalau pengertian bukan dengan Kalian tetapi dengan Allah swt. Bagaimana Kalian bisa berfikir apabila pencipta fikiran adalah Allah swt bukan Kalian. Sayugia diingat bahwa Minda Kalian hanya untuk menerima arahan bukan membuat arahan. Seperti sebuah komputer yang menunggu perisian (software)

 

  1. SENTIASA DALAM KEADAAN DZIKRULLAH. Keadaan ini menghendaki Minda Kalian kosong. Walaupun Ingatan Allah swt ada, namun keadaan KEKOSONGAN tetap terpelihara karena Ingatan itu tidak dirupakan atau diumpamakan.

 

Apabila Kalian dalam keadaan Dzikrullah, Kalian bisa melihat gangguan yang dikirimkan oleh Syaitan menerusi gelombangnya dan Kalian bisa membatasinya dengan berada dalam keadaan Dzikrullah. Seperti Syeikh Abdul Qadir Al Jilani berkata hendaklah Kalian rebas dengan pedang tauhid apa juga yang mau merempuh masuk ke dalam Minda Kalian, karena di dalam Minda Kalian mesti hanya ada satu penghuni iaitu Dzikrullah. Juga dalam keadaan ini, Kalian bisa sadar dari sudut mana datangnya gelombang gangguan syaitan itu dan Kalian bisa mengirimkan gelombang Dzikrullah ke arah itu. Sayugia diingat bahwa gelombang Dzikrullah mempunyai KUASA MEMUSNAHKAN (Nafi dan Isbat).

 

  1. SENTIASA BERPAUT KEPADA ALLAH SWT seperti yang dikatakan oleh Kalian dalam shalat, “shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah swt”. Untuk memelihara keadaan ini perlulah Kalian merujuk segala masalah kepada Allah swt (Naik, Serah & Tunggu) seperti Nabi Ayub (as) yang senantiasa merujuk (masalahnya) kepada Allah swt dan seperti Nabi Yakub (as) hanya mencerita (NST) masalahnya kepada Allah swt tidak kepada yang lain.

 

  1. SENTIASA MENYERAH DIRI SEPENUHNYA Kepada ALLAH SWT dengan berpegang kuat kepada rukun iman ke 6 iaitu Takdir. Yakinlah setiap yang ditakdirkan mempunyai hikmah karena Pembuatnya adalah Allah swt yang Maha Bijaksana. Karena seperti dikatakan oleh Prof Ramadan Al Buti bahwa kalau Allah swt berbuat sesuatu yang sia-sia maka Dia tidak layak menjadi Tuhan. Kalau Kita tidak ada keyakinan ini maka Allah swt tidak akan menolong Kita dan Kita tidak akan dapat hikmah, kebaikan, ilmu, manfaat dll disebalik kejadian Takdir itu. Sesuai dengan firmanNya yang bermaksud bahawa Allah swt tidak akan menolong sesesuatu masyarakat selagi mereka tidak menerima TakdirNya. Sungguh benar ini, bagaimana Allah swt menolong kamu sekiranya kamu tidak yakin kepadaNya. Sehubungan dengan ini Rasulullah saw ada bersabda bahawa orang yang tidak percaya kepada Takdir belum lagi beriman dan apa juga sedekahnya akan ditolak oleh Allah swt. Rasulullah saw juga ada bersabda bahwa sesiapa berkata dia bisa merubah Takdir (tidak kena bisa dikenakan atau bisa mengelakkan yang sudah ditetapkan) pasti tempatnya di Neraka. Sayugia Rasulullah saw menasihatkan Kita supaya berkata apabila sesuatu berlaku, bahwa ini sudah ditakdirkan dan jangan memberi alasan. Kalau tidak, ini akan menjemput syaitan masuk campur dalam urusan ini.

 

  1. Bukan saja jangan memikirkan tetapi jangan juga memutuskan apa juga yang berlaku di Pintu depan. Ingat pengertian dengan Allah swt dan semua sudah ditakdirkan dan tidak ada yang  sia-sia. Seperti yang disyairkan oleh ayah tempoh Hari “kayuhlah sampanmu anakku di Lautan Kehidupan” dan samasekali jangan singgah di Pulau Kehidupan yang penuh dengan bermacam dugaan.

Inilah perjalanan fakir dijalan Allah swt, anakku. Semoga kamu mendapat pencerahan di dalam tazkirah pagi ini, aamin Ya Rabbil alamin!

Read Full Post »

Saduran dari Artikel Bapak Agus Tiyono, Yamas

 

Dalam pandangan makrifatullah, prinsip utamanya adalah bahwa CIPTAAN (SIFAT) itu sejatinya adalah tidak wujud, yang wujud adalah DZAT (HAKEKAT). Jadi dalam pandangan makrfitaullah hanya ada satu kewujudan saja, yaitu kewujudan Dzat-Nya. Dan oleh karena itu, maka segala tingkah dan kurenah segala ciptaan sebenarnya adalah Allah yang bermain-main dan bergurau senda dengan Dzat-Nya yang berasal dari sedikit Diri-Nya yang telah Dia sabda dengan Firman Kun.

 

Inilah makna dari apa yang pernah dinyatakan oleh Imam Al Ghazali 1400 yang lalu bahwa: Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahwa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981).

 

Konsekwensi dari pandangan ini adalah:

 

  1. Secara hakekat, Allah SWT tidak menyuruh maupun melarang kita untuk begini dan begitu. Adapun perintah ataupun larangan itu adalah pandangan kita sendiri karena kita masih merasa wujud. Karena kita merasa wujud, maka akhirnya kitapun merasa punya peran. Karena merasa punya peran inilah akhirnya kekuasaan Allah SWT yang mutlak kita anggap menjadi berkurang. Karena kita merasa telah mampu mengambil sebagian kekuasaan Allah SWT, dan kita malah merasa bisa pula berkongsi milik atau bersekutu dengan Allah SWT.

 

Oleh karena itulah dalam mengawali agama ini, kita mestilah terlebih dahulu berislam secara kaffah, yaitu menyerah/tunduk/patuh sepenuhnya (mutlak) kepada kekuasaan dan pengaturan Allah SWT.

 

Dan orang yang telah menyerah/menerima kekuasaan Allah SWT (Tuhan nya) secara mutlak ini tentu akan merombak kaidah berfikirnya. Dia tidak lagi merasa wujud (punya identitas). Dia telah menyadari bahwa dia hanyalah sebatas obyek belaka, bukan lagi sebagai subyek. Dia telah menyadari pula bahwasannya semua bukan lagi berceritya tentang dia, tapi semua adalah cerita tentang Allah SWT. Bahwa Dialah yang bermain-main dengan Diri-Nya sendiri.

 

Sedangkan Agama dan juga Al-Quran hanyalah sistem dan program untuk mengatur ciptaan-Nya sebagai perwujudan dari Lauhul Mahfuz (Rencana Induk-Nya) yang Dia tuliskan sejak Firman Kun.

 

Oleh karena itulah pandangan orang yang telah makrifatullah, kesadarannya sudah bergeser dari kedudukannya sebagai subyek telah lebur dan berganti menjadi kedudukannya hanya sebatas obyek. Obyek tentu saja hanya senantiasa patuh mengikuti peran yang ditentukan dan dikendalikan oleh subyek.

 

  1. Kedzaliman ataupun ketidakadilan hanya berlaku apabila ada dua kewujudan. Yang satu mendzalimi yang lainnya. Yang satu tidak adil kepada yang lainnya. Akan tetapi, apabila hanya ada satu kewujudan, siapa yang mendzalimi dan siapa yang didzalimi?, atau siapa yang tidak adil dan siapa yang dikenai ketidakadilan?.

 

Oleh karena itulah penting sekali meningkatkan kesadaran diri dari kesadaran personal meningkat kepada kesadaran keluarga, lalu menjadi kesadaran masyarakat, kesadaran kemanusian, kesadaran sebagai sesama ciptaan, kesadaran universal, dan akhirnya sampai pada kesadaran dzatiyah (Pandangan Hakekat, atau pandangan satu kewujudan).

 

  1. Dalam pandangan hakekat / satu kewujudan ini, tentu sudah tidak ada lagi identitas dan istilah.

 

Pada hakikatnya tidak ada pelaku atau penggerak atau yang mendiamkan kecuali Allah swt. Tidak ada baik dan tidak ada jahat, tidak ada rugi dan tidak ada untung, tidak ada faedah dan tidak ada anugerah, tidak ada sekatan, tidak terbuka dan tidak tertutup, tidak ada mati dan hidup, tidak ada mulia dan hina, tidak ada kaya dan papa, bahkan segala-galanya adalah dalam tangan Allah. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futh Ghaib, 20 (1990)

 

Kamu akan lihat bahwa untung, rugi, harapan dan ketakutan bahkan semuanya adalah dari Dia jua. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 51 (1990)

 

Kamu akan lihat bahwa untung, rugi, harapan dan ketakutan bahkan semuanya adalah dari Dia juga. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 51 (1990)

 

Dengan yang demikian itu, janganlah kamu menyalahi-Nya dalam lakuan-Nya yang terzahir melalui kamu meskipun itu tidak kamu sukai dan tidak sesuai dengan kehendak kamu dan meskipun pada zahirnya membahayakan kamu. Maka wajiblah kamu bersyukur, bersabar dan redha dengan Allah dan janganlah kamu merungut dan menyalahi Dia karena hal itu mungkin malah akan menyelewengkan kamu dari jalan Allah. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 163; 149; 145; 83; 56 (1990).

 

Hendaklah kamu senantiasa sabar, redha dan menyeyuaikan diri kamu dengan Allah, dan tenggelamkan diri kamu ke dalam lautan lakuanNya. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 153 (1990)

 

Oleh itu hendaklah kamu senantiasa redha, sabar dan berpegang teguh kepada Tuhan. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 83 (1990).

 

Redhalah ia dengan Allah. Bertambah hampirlah dia dengan Tuhannya. Bertambah cintanya kepada Allah. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 19 (1990

 

Wahai orang yang mempunyai jiwa yang tenteram kembalilah kepada Tuhanmu dengan berpuas hati lagi diredhai serta masuklah engkau dalam jemaah hamba-hambaku dan masuklah ke dalam SyurgaKu!. Al Fajr (89):27

 

Allah redha terhadap mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar. Al Maidah (5):119

 

Dan keredhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.   At Taubah (9):72

 

 

Dari semua itu, prinsipnya adalah bahwa:

  • Kalau masih nampak sifat, maka akan tertutuplah hakekat.
  • Segala keanekaragaman, identitas, istilah, masalah, semua itu sebenarnya hanyalah pandangan mata dhohir di alam sifat belaka.
  • Namun apabila sudah masuk dengan ilmu dan kefahaman hakekat, maka pandangan sifat itu akan lebur menjadi pandangan hakekat. Padangan tentang Satu kewujudan, yaitu kewujudan Dzat-Nya.

 

Oleh sebab itu tampaklah bahwa hasil awal/dampak/efek dari makrifatullah itu adalah sikap berislam secara KAFFAH, yaitu Penyerahan diri yang sudah tidak berbagi dan bercabang-cabang lagi kecuali hanya menyerah total kepada Allah Swt.

 

Langkah berikutnya, setelah kita Islam/tunduk/menyerah total kepada Kehendak dan Ketetapan Allah Swt, yang lebih baik, lebih afdhol dan lebih aman adalah apabila kita mendudukkan diri kita sebagai HAMBA yang selalu beribadah dihadapan Allah SWT.

 

Oleh karena itulah salah satu pilar bangunan tasawuf jalan Nabi-nabi adalah berbenah diri dalam beribadah. Dan dengan sangat mengherankan, dengan kerangka ibadah inilah kefahaman kita tentang ilmu makrifatullah ini akan semakin meningkat. Ketaatan dan ketundukan kita sebagai hamba di hadapan Allah SWT akan meng-up grade kefahaman kita atas ilmu-ilmu dan ajaran yang disampaikan oleh Arfif Billah Ustadz Hussien BA Latiff. Karena ibadah ini adalah ibarat mesin spiritual yang akan mengolah ilmu menjadi kefahaman, kefahaman menjadi amal. Lalu berputar lagi, dimana amal akan melahirkan ilmu baru dan kefahaman baru yang ujung-ujungnya akan berbuah taqwa (ketaatan senantias). Sami’na wa atho’na.

 

Taqwa inilah yang akan meningkatkan kesadaran kita dari kedudukan hamba menjadi kedudukan orang-orang Allah SWT. Yang dalam bahasa lainnya dikatakan Wali-Nya.

 

Tingkatan kesadarannya mungkin pelan, akan tapi pasti akan meningkat: dari kesadaran pribadi, kesadaran kekeluargaan, kekerabatan, kelompok, masyarakat, kebangsaan, kemanusiaan, universal (semesta), dan ujungnya adalah kesadaran dzatiyah. Leburnya ego dan identitas dalam lautan kesadaran dzatiyah. Hal ini ditandai dengan perubahan atau pertukaran minat, gairah, selera, perhatian pada hal2 yang dulunya material/duniawai menjadi spritual/ukhrowi. Juga terjadi perubahan/pertukaran mindset, life set, visioner yang berorientasi lebih luas. Contohnya: seorang ayah akan mempunyai kesadaran berkeluarga. Kepala negara akan mempunyai kesadaran kebangsaan. Nabi akan mempunyai kesadaran umat. Rosulullah mempunyai kesadaran rahmatan lil alamin.

 

Ketika sudah terjadi perubahan/pertukaran, yang dalam bahasa tasawuf disebut ABDAL, akan ada 2 akibatnya:

 

  1. Apabila dia dinaiktarafkan oleh Allah SWT menjadi orang-orang Allah (Wali-Nya) dia akan diberi tugas dan peran khusus. Dan akibatnya lakuan dia sudah bukan lakuan kemanusiaan lagi. “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah yang melempar”. Al Anfaal (8):17
  2. Apabila dalam taraf ini dia tidak dinaiktarafkan lagi oleh Allah SWT, maka dia akan menjadi pribadi yang menyendiri. Yang hanya asyik masyuk dengan Allah SWT saja.

 

Nah…, ilmu dan ajaran yang disampaikan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff ini pada intinya adalah untuk mencetak Orang-orang Allah SWT yang nantinya akan menjadi penolong agama-Nya. Sesuai dengan slogan Yamas Indonesia. Atau paling tidak untuk membentuk orang-orang yang selalu asyik masyuk dengan Allah swt.

 

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: