Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2010

POSITIONING

POSITIONING

Ada pertanyaan sederhana dari Pak Sofuani Bachsin:

“Menumbuhkan & melatih lalu mengelola kesadaran tuh bagaimana yak?”.

Jawaban singkat saya:

Pak S Bachsin yang dirahmati Allah.

Yang saya lakukan…, ya saya latih terus menerus, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur kembali.

Tapi semua itu mulai dari saya paham dulu sampai yakin seyakin-yakinnya tentang alamat tempat bergantung saya. Al Qur’an mengatakan WA’TASHIMU BILLAH…, bergantunglah, berpegang teguhlah kepada Allah. Lalu saya ikuti saja perintah ayat itu.

Jadi syarat awalnya hanya satu yaitu, tentang Allah kita harus sudah final. Tidak ada lagi pertanyaan kita tentang dimana Allah, tentang bagaimana kita berjumpa dan menghadap Allah, tentang bagaimana Allah merespon kita. Tinggal GO saja. Just do it…!, Menghadap Allah dan berbuah DERR.

Nah…, sebelum turun dari tempat tidur saya positioning dulu sampai DERR. Ini butuh 1-3 menit. Ada muncul suasana syukur yang penuh sukacita, yang kalau dibahasakan jadi sebentuk do’a: “Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba’damaa amaatanaa wailaihinnusyuur…”. Lalu baru saya turun dari tempat tidur dan beraktifitas sambil saya pertahankan suasana DERR itu. …

Suasana DERR itu kemudian diperkuat lagi dalam setiap shalat, dan juga dalam wirid-wirid sederhana seperti Subhanallah…, Alhamdulillah…, Laa ilaha Illallah…, Alahu Akbar…!. Singkat saja, tapi ada DERR nya. Kalau tidak ada DERR nya artinya itu kita sedang NGELINDUR.

Lalu saya positioning bahwa apapun yang saya lakukan hari ini hanya dan hanya karena saya semata-mata adalah hamba Allah. Saya siap untuk merangkai karya, cipta, dan karsa: “tugas hamba hari ini apa ya Allah…, DERR. Tuntun saya ya Allah…, DERR…

Saya lalu menarik nafas dengan sukacita, memandang istri dan anak dengan sukacita, kadang main GOLF dengan sukacita, sarapan dengan sukacita. DERR…

Saat berjalan ketempat kerja, ditempat kerja, sampai pulang lagi kerumah, saya coba mempertahankan suasana DERR itu.

Sesekali suasana DERR itu ada copotnya juga sih, dan itu akibatnya langsung terasa. GARING banget. Buru-buru saya positioning lagi agak sejenak. DERR lagi, dan tubuh ini terasa ringan sekali. Tubuh saya seperti dilewati oleh angin begitu saja. Karena RUH maknanya adalah ANGIN (RIH).

Saat mau tidur, saya “pandang” sekilas tubuh saya dan berkata: “Wahai tubuhku, rihlah lah, rehatlah, istirahatlah, rahmat Allah bersamamu. Kemudian saya menyampaikan kesiapan saya kepada Allah: “Saya siap ya Allah…, ambillah…, aku adalah milikmu, tempat kembaliku yang paling hakiki adalah disisi-Mu…, DERR”, lalu saya lenyap dalam hitungan belasan detik. Saya seperti berlalu bersama angin, kembali kerumah Angin, pulang kerumah Nafas.

Tidak ada mimpi, tidak ada apa-apa…. Bangun tidur, terasa seperti dirembesi gitu…, DERR…, DERR…

Begitulah siklus yang saya lakukan kalau saya terjemahkan kedalam bentuk kata-kata Mas Sofuani. Sedangkan suasana yang sebenarnya jauh lebih sederhana dari itu…

Terakhir, kalaupun ada orang yang tidak cocok dengan apa-apa yang saya lakukan ini, ya monggo saja. Dan saya juga tidak tahu apakah hal seperti ini ada referensi dari Al Hadist atau ayat Al Qur’annya.

Wallahu a’lam.

Salam
Deka
Jl. Kabel No. 16, Cilegon
Jam 12:00, Hari 20, bulan 03, tahun 2010

Read Full Post »

Sebuah ungkapan keheranan yang menakjubkan dari Mas Wastu…, atas artikel “Amalan Apa Dong..”

Ya…, sederhana sekali sebenarnya mas Wastu. Namun ajaran islam yang begitu sederhananya dizaman Rasulullah dulu, kemudian telah berubah menjadi ajaran yang rumit karena ulah para penerus Beliau yang telah berlomba-lomba menafsirkan ajaran Beliau itu dari berbagai sisi dan sudut yang terkecil sekalipun. Al Qur’an ditafsirkan, Hadist ditafsirkan, bahkan sampai ke kehidupan di Syurga dan Nerakapun ditafsirkan pula.

Tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN pun, yang sebenarnya lebih kepada sebuah sikap dari pada kata-kata dan kalimat-kalimat, malah dibahas dan ditafsirkan sampai menghasilkan ribuan halaman buku. Entah untuk apa maksud dari pembahasan itu. Barangkali tujuan awal dari penafsiran itu adalah untuk lebih menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat awam dalam bentuk bahasa manusia. Tapi alih-alih bisa lebih memahamkan umat, malah hasilnya adalah kata-kata IMAN, ISLAM, dan IHSAN itu jadi seperti kehilangan RUH. Terkatakan tapi tak terlaksanakan… Karena memang tafsir pada hakekatnya adalah bentuk yang lebih mengarah kepada buah dari KELIARAN fikiran kita daripada buah dari kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.

Sementara dizaman Rasulullah Al qur’an bukanlah ditafsirkan, tapi dijalankan dari titik yang PALING DASAR (laa ilaha illallah) sampai ketingkat yang lebih kompleks. Artinya Al Qur’an itu dijadikan Beliau sebagai TEROPONG untuk memandang berbagai bentuk perubahan yang sudah, sedang, dan akan terjadi selama masa kenabian Beliau, bahkan juga sampai menjangkau kealam Azali (akhirat). Lalu sikap dan tindakan Beliau dalam menghadapi perubahan demi perubahan itu mewujud membentuk perilaku (akhlak, peradaban) Beliau yang utuh, yang berkembang, yang sesuai dengan peruntukan detik, menit, jam, dan tahunannya satu persatu. Hal seperti inilah yang kemudian hari kita kenal sebagai Sunnah atau Al Hadist.

Nah…, kita saat ini seperti hidup dengan mewarisi ajaran-ajaran islam diberbagai bagian yang rumit-rumitnya saja. Kita malah seperti ketambahan tugas baru untuk mengurai benang kusut yang membelenggu ajaran islam itu. Kalaulah itu benar benang kusut yang akan kita urai, dengan sedikit kerja keras biasanya akan bisa juga kita urai. Akan tetapi kalau benang kusut itu adalah berupa gumpalan-gumpalan kusut pemikiran kita, ah…, itu alangkah sulitnya. Energi kita habis terserap dibuatnya. Sebab kalau kerumitan pemikiran itu dilawan dengan pemikiran pula, maka kerumitan yang barupun tercipta. Rumit berbuah rumit. Sehingga kitapun jadi lupa dengan tujuan kenapa kita ini diciptakan Allah kemuka bumi.

Padahal Allah menyatakan dengan sangat gamblang dan sederhana: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (liya’budun)”, (adz dzaarriaat 56). Sederhana sekali sebenarnya. Tapi akibat kerumitan tafsir-tafsir dan pemikiran-pemikiran yang kita serap dari satu pengajian kepengajian lain sepanjang masa, kita jadi terluput untuk menimba pengalaman Rasulullah dalam menjalankan makna MENYEMBAH kepada Allah itu sepanjang kehidupan Beliau. Maka jadilah bagi kebanyakan kita makna menyembah kepada Allah itu benar-benar dalam wujud MENYEMBAH secara harfiah, yaitu untuk kita selalu melakukan ibadah…, rukuk, sujud, tasbih, tahmid, tahlil, membaca dan menghafal al qur’an, mengaji, wirid, maksurat, berdo’a dan sebagainya. Ibadahnya para malaikat yang dulu sempat dibanggakan mereka dihadapan Allah saat mereka diperjumpakan Allah dengan Adam, yang kemudian malah dimentahkan oleh Allah. “Tidak cukup hanya ibadah seperti itu wahai para malaikat. Aku punya tugas lain yang hanya bisa diemban oleh ciptaanku yang sangat cerdas ini”, Allah menegur malaikat saat malaikat coba-coba menghalangi kehendak Allah dalam menciptakan Adam.

Kalaulah kita sedikit lebih jeli membaca Al qur’an dan Al Hadist, kita dapat memaknai kata liya’budun itu menjadi sebuah sikap dan perilaku kita kepada Allah, yaitu:

Bersedia untuk mengabdi dan menghamba kepada Allah, dengan resiko kita pastilah rela pula untuk diberi tugas, diperintah-perintah dan dilarang-larang oleh Allah.

Tugas liya’budun macam apa?. Itu juga tugas sederhana sekali sebenarnya, yaitu:

1. Agar kita bersedia menjadi wakil Allah untuk memelihara tubuh kita dengan segala instrumennya agar fungsinya bisa berjalan sesuai dengan fitrah penciptaannya. Kita ditugaskan Allah untuk mewakili Allah memberi makan dan minum tubuh kita. Maka rahmatilah tubuh kita itu dengan memberinya makanan dan minuman yang halal dan baik.

Kita mewakili Allah untuk menjaga penglihatan, pendengaran, lidah, perut, kelamin, tangan, kaki, otak kita, dada kita, jantung, ginjal kita agar semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah.

Otak kita yang disiapkan oleh Allah untuk menampung dan mengolah data-data kehidupan disekitar kita, lalu kita isi dengan berbagai ilmu pengetahuan yang akan memudahkan tubuh kita untuk menjalankan kehidupannya. Kita buat otak itu aktif menyerap setiap kejadian baik ataupun buruk yang bisa kita lihat, dengar, dan rasakan. Lalu kita wakili pula Allah untuk memilah pengetahuan baik dan buruk itu dengan cara kita merenungkannya sejenak dua jenak. Perenungan ini maknanya adalah untuk memilah-milahnya sebelum itu kita simpan didalam otak kita, sehingga kemudian dia bisa berubah menjadi sebuah bentuk kesadaran. Dan hebatnya, Allah berkenan pula menjawab perenungan kita itu dengan cara Dia mengalirkan rasa yang sesuai dan pas kedalam dada kita untuk masing-masing kebaikan dan keburukan itu.

Dengan kita merenungkan kebaikan buat sejenak dan kemudian kita melakukan kebaikan itu, maka sejumput rasa bahagia, nyaman, dan tenang akan dialirkan oleh Allah kedalam dada kita. Seakan akan Allah saat itu tengah berkata kepada kita: “Benar begitu wahai hamba-Ku, lakukanlah itu untuk-Ku, karena engkau adalah pesuruh-Ku”. Sebaliknya saat kita merenungkan keburukan, berkata-kata tentang keburukan, dan bahkan sampai melakukan keburukan, maka seketika itu pula Allah akan melemparkan rasa sempit, tertekan, dan tersiksa kedalam dada kita. Saat itu Allah sebenarnya tengah melarang kita untuk melakukannya: “wahai hamba-Ku, janganlah engkau melakukan keburukan itu, sungguh itu akan menyiksa tubuhmu sendiri…”.

Lalu, karena kita memang bersedia untuk menjadi wakil Allah, kita ikuti saja apa yang diperintahkan Allah itu. Kalau dilarang Allah, ya kita jauhi, kalau disuruh Allah, ya kita jalani saja dengan semangat empat lima.

Sesekali kita do’akan seluruh tubuh kita agar diberi rahmat, dijaga, disehatkan oleh Allah.

Nah…, kalaulah tidak kita sendiri yang menyayangi tubuh kita seperti itu, juga memintakan rahmat dan kesehatan kepada Allah untuk tubuh kita, siapa lagi…?. Masak orang lain yang akan melakukannya, ya nggak mungkinlah.

2. Tugas berikutnya adalah agar kita bersedia pula untuk membantu Allah, menjadi wakil Allah dalam mengalirkan kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi apapun ciptaan Allah yang ada diluar tubuh kita. Tugas inipun sebenarnya hanya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing saja. Tidak meloncat-loncat seperti sekarang ini. Dimana semua hal, yang dulu pernah dilakukan oleh Rasululah dan ribuan sahabat Beliau, ingin kita lakukan sendirian menjadi aktifitas kita sendiri. Akhirnya kita menjadi seperti orang yang sedang kelebihan beban dipundak kita. Kita tertatih-tatih dan limbung seperti orang mabok.

Sebenarnya tugas ini juga sederhana sekali. Kita tinggal melakukan apa saja yang sesuai dengan posisi kita masing-masing berikut dengan prioritas-prioritasnya. Kalau kita masih berposisi sebagai seorang anak sampai menjelang dewasa, maka kita berbuat baik saja sebanyak-banyaknya buat orang-orang yang paling dekat dengan kita. Kita tinggal berbuat baik kepada orang tua kita, saudara-saudara kita, dan teman-teman sepergaulan kita. Kita eksplorasi segala kebaikan yang mungkin bisa kita lakukan untuk mengembangkan dunia keanakan kita yang seharusnya penuh dengan citra kejenakaan, keriangan, dan kepolosan.

Kalau kita sedang berposisi sebagai seorang tua, maka kita kembangkan saja berbagai kebaikan, kebajikan, dan kemudahan untuk anak-anak kita, pasangan kita, tetangga kita, handai taulan kita, kolega kita, dan masyarakat disekitar kita dengan sebaik-baiknya. Salah satunya, ya seperti tulisan saya yang sebelumnya itu. Kita bersedia memberikan kemudahan bagi seorang pejalan kaki yang ingin menyebarangi jalan dengan nyaman. Dinegara maju seperti Amerika, Eropa, dan Jepang yang oleh sebagian kita masih dilabeli sebagai negara orang kafir, hal-hal seperti itu sudah menjadi sebuah kebaikan laten.

Begitu pula saat kita sedang diposisi anak buah dikantor atau diperusahaan, bos, atasan, manager, direktur, pejabat pemerintah, kita lakukan saja apa-apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita masing-masing dengan segala kemungkinan yang ada.

Misalnya, kita yang sedang mengemban tugas sebagai seorang pejabat pemerintahan, kita eksplorasi dan sempurnakan saja segala FASILITAS UMUM yang akan memudahkan masyarakat yang kita pimpin dalam menjalankan hidup kesehariannya. Kita ini sekaang kan nggak begitu. Saat jalan bolong dan berlobang bertebaran disana-sini, lampu lalin padam dan tidak berfungsi, banjir datang bertubi-tubi, kita yang seharusnya membenahi semua itu, seperti sedang pergi entah kemana. Kita lebih banyak sibuk dengan berbagai rapat dan kegiatan administratif saja, sehingga ada kesan bahwa negara ini jalan dengan sendirinya. Seperti negara tanpa pemerintahan. Ada atau tidak ada pemerintahan rasanya seperti sama saja. Padahal jumlah pejabat pemerintahan, lengkap dengan gedung-gedung megah, fasilitas yang wah, sudah meningkat dengan angka yang sangat menakjubkan.

Sungguh sangat banyak alternatif kebaikan, kebajikan, dan kemudahan yang bisa kita berikan kepada orang-orang disekitar kita. Tugas-tugas yang tidak harus sama dan persis amat dengan apa yang dulu dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau.

Kebanyakan kita kan nggak begitu. Kita malah tega menjejali otak kita dengan hafalan tentang segala kebaikan yang dulu dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau, dan ingin pula melakukannya sama dan sebangun dengan apa yang Beliau lakukan itu. Kalau keluar sedikit saja dari itu akan ada sebuah kata BERTUAH yang akan menghantam kita, yaitu kata BIDAH, yang ganjarannya adalah neraka. Kata yang menimbulkan ketakutan yang sangat kuat tertanam dialam bawah sadar kita. Artinya rasa takut itu sudah sangat laten bagi kita dan munculnya pun tanpa kita pikirkan lagi. Tanpa kita sadari kita telah menjadi takut untuk melakukan apa-apa. Neraka soalnya sebagai imbalannya. Sebuah imbalan yang alangkah menakutkan kita.

Ketakutan seperti ini persis dengan seseorang yang sejak dari masa kecilnya sering ditakuti-takuti oleh orang tuanya ketika orang tuanya ingin melarang anaknya melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang tuanya. Misalnya: “awas jangan lakukan itu, nanti ada bangkong…, tu ada bangkong”. Selama tahunan sianak ditakuti-takuti seperti, sehingga didalam otaknya terbentuk sebuah kapalan memori yang mengakibatkan setiap sianak melihat bangkong, akan mucul rasa takutnya yang tidak beralasan.

“Jangan lakukan itu, nanti Tuhan marah…, Tuhan marah…, nanti masuk neraka…, neraka…, neraka…. Kalau kamu lakukan juga nanti kamu akan berteman dengan iblis…, mudah dihasut iblis…, sedang disesatkan oleh iblis.”. Begitu terus kita ditakut-takuti disetiap pengajian ke pengajian dan bertahun-tahun pula lamanya. Sehingga akhirnya setiap nama Tuhan disebut, kita sudah ketakutan setengah mati. Begitu juga, kita sudah menggigil ketika nama neraka disebut-sebut.

Makanya ketika kita terlanjur melakukan sebuah keburukan, maka yang jadi sasaran adalah si iblis:

“Ah…, iblis telah menggoda saya, saya telah disesatkan oleh iblis..”.

Padahal saat itu si iblis juga tengah terheran-heran:

“Belum digoda dan belum disesatkan pun kalian umat manusia telah terlebih dahulu melakukan sendiri keburukan itu dengan sukarela”.

Walaupun dipengajian-pengajian kita seringkali pula diceritakan tentang kasih sayang Allah, tentang iman, tentang syurga, yang seharusnya bisa memunculkan rasa tenang, akan tetapi karena kualitas penyampaiannya tidak sampai menghasilkan rasa yakin didalam dada kita, rasa tenang itu tidak muncul. Rasa tenang itu seperti terbungkus oleh rasa takut yang kental. Inilah makna dari ayat Allah: “Faal amaha fujuraha wataqwaha…”. Bahwa pada dasarnya kefujuran itu lebih mudah kita dapatkan dari pada ketaqwaan. Ketakutan itu lebih mudah kita dapatkan dari ketenangan, kecuali bagi orang yang tahu posisinya dihadapan Tuhan.

Karena adanya rasa takut yang tidak berasalan seperti itu, kita yang tanpa sadar itu, kita bukannya menebar kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi sesama, kita malah berbalik menebarkan kesusahan, kesulitan, ketakutan, kekhawatiran dan kesempitan kepada mereka seperti kata pameo: “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah..”. Ah…, kita ini meman sering terbalik-balik.

Belum lagi melihat apa yang telah kita lakukan terhadap alam disekitar kita, sungguh memiriskan hati. Bumi telah semakin renta akibat ulah kita sendiri.

Jadi makna liya’budun dalam tatanan kita sebagai seorang manusia hanya seperti itu saja yang saya pahami. Yaitu agar kita bisa menjadi wakil Allah atau hamba Allah untuk bisa disuruh-suruh Allah untuk bisa berbuat baik, untuk bisa merangkai kebajikan, dan untuk bisa memberikan kemudahan bagi tubuh kita sampai tubuh kita itu nanti kembali ke tanah (mati) disatu sisi. Juga untuk bisa berbuat baik, untuk bisa merangkai kebajikan, dan untuk bisa memberikan kemudahan dan kepada orang-orang lain yang ada disekitar kita disisi lainnya. Kalau bisa itu malah untuk bisa dimanfaatkan oleh umat manusia diseluruh dunia.

Lalu bagaimana makna liya’budun dalam tatanan kita dengan Allah?. Itu juga tidak kalah sederhananya.

Bahwa sebenarnya semua ibadah berupa penyembahan, penghormatan, persujudan kita kepada Allah adalah untuk memantapkan dan mematangkan positioning kita dihadapan Allah saja. Kemudian bermodalkan posisi itu, akan muncul kesadaran kita bahwa apapun yang kita lakukan untuk tubuh kita dan untuk makhluk yang ada disekitar kita, semata-mata adalah atas nama Allah. Sehingga muncul sebuah suasana tanpa pengakuan didalam diri kita: “Saya melakukannya karena Allah yang memerintahkannya kepada saya untuk dilaksananakan. Saya hanya sekedar seorang pelaksana perintah Allah saja…”.

Kalau tidak atas nama Allah, maka yang muncul kemudian adalah kita dikuasai oleh fitrah ketubuhan kita tanpa ampun. Apa saja yang dinginkan oleh tubuh dan instrumen-instrumennya akan kita lakukan secara membabi buta. Otak kita akan membawa kita untuk berfikir liar kesana kemari, suasana panas di dada kita akan berubah-ubah dengan sangat cepat, fitrah kelamin kita akan membawa kita menjadi orang yang sangat liar dengan lawan jenis kita yang tidak sah untuk kita apa-apakan, perut kita akan memaksa kita untuk kita isi dengan gunung, hutan, laut. Semua yang kita lakukan itu semata-mata adalah untuk kepentingan tubuh kita sendiri, dan secara sangat berlebih-lebihan pula. Akhirnya tugas kita untuk memberikan kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi sesama akan terkubur dengan segera. Kita menjadi orang yang sangat egois. Ya…, seperti yang sering kita perlihatkan dijalan raya itulah.

Agar kita bisa terlepas dari cengkraman fitrah ketubuhan kita seperti itu, maka kita harus mencari tempat pegangan, tempat kita bergantung. Hasil akhirnya adalah agar kita bisa terlepas dan copot dari rongrongan ketubuhan kita. Sebagai gantinya kita terikat kuat dengan Allah. Lalu kita bertindak atas nama Allah untuk menjadi kusir atas tubuh kita dan segala apa yang melekat padanya. Untuk bisa seperti inilah fungsi ibadah-ibadah yang kita jalani dari waktu kewaktu yang menghasilkan tanda penyembahan dan kepatuhan kita kepada Allah.

Ibadah-ibadah yang harus kita lakukan itupun tidak banyak jumlahnya. Rasulullah telah mereduksi berbagai macam dan ragam ibadah penyembahan kepada “TUHAN” yang telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu menjadi hanya beberapa macam saja, yaitu SHALAT, DZAKAT, PUASA, dan HAJI. Dan itupun hanya untuk orang-orang yang sudah tidak punya masalah lagi tentang Allah.

Ibadah shalat, dzakat, puasa, dan haji itu hanyalah untuk orang yang sudah final dengan Allah, orang yang tidak punya lagi sedikitpun keraguan tantang Allah, orang yang kesadaran sudah tidak grambyanan lagi tentang Allah, orang yang tidak membahas lagi tentang Allah, orang yang tinggal hanya menghadap saja lagi kepada Allah. Untuk orang-orang yang sudah BERSYAHADAT kepada Allah dan Kerasulan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam dengan TEPAT saja sebenarnya. Sebab kalau posisi kita tidak tepat, maka yang akan kita dapatkan hanyalah rasa capek, lelah, haus, lapar, dan buang-buang harta dan tenaga saja sebenarnya. Tidak nyaman sama sekali.

Untuk mempertepat arah kita kepada Allah itu, dzikir-dzikir sederhana yang dicontohkan oleh Nabi pun cukup tersedia untuk kita lakukan.

Untuk ibadah-ibadah seperti ini, rasanya pantas Rasulullah melarang kita untuk melakukan hal-hal lain yang kita tambah-tambahi sendiri. Konteks BID’AH disini sungguh relevan sekali untuk kita cermati. Sudah dimudahkan Nabi kok kita malah ingin menambah dan mempersulit diri kita sendiri. Itu namanya kita kebablasan.

Sedangkan terhadap rukun-rukun iman seperti percaya kepada malaikat, kepada Nabi-nabi Allah, kepada kitab-kitab Allah, kepada hari akhir, dan kepada qadar baik & buruk, kita matangkan saja melalui berbagai pengalaman hidup yang kita lalui.

Sebagai penutup, tugas kita didunia ini, menurut pemahaman saya yang sederhana, adalah untuk mencapai posisi:

a. Dimana kita tentang Allah dan dengan Allah sudah final dan tuntas. Kita sudah tidak punya pertanyaan lagi, walau sedikitpun, tentang Allah.
b. Dimana kita dengan tubuh kita dan seluruh alat-alatnya juga sudah tuntas. Kita berhasil COPOT dari pengaruh ketubuhan kita itu secara membabi buta. Sebagai gantinya kita yang menjadi kusir atas tubuh kita berikut segala instrumennya.
c. Dimana hubungan kita dengan lingkungan sekitar kita juga sudah tuntas. Kita tinggal melakukan berbagai kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi orang lain, untuk alam, tumbuhan, dan hewan yang hidup disekitar kita sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Semua itu kita lakukan dalam kerangka sebagai pengabdian kita yang utuh kepada Allah. Karena kita memang hanya hamba Allah, Abdi Allah…, Abdullah…

Wassalam
Deka
14 Maret 2010
Jalan Permana, Cimahi, Bandung,

Read Full Post »

AMALAN APA DONG…

From: Lenny Nurk
Subject: Amalan yang diridhoi Allah

Ass. Wr Wb,
Saya new member di milis ini sekaligus orang awam yang mau belajar, saya mau menanyakan amalan amalan apa saja yang bisa mendatangkan cinta Allah serta tahapannya..

Wass
Nurkh

Assalamualaikum warah matulllahi wabarakatuh

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyapa teman-teman. Itu karena memang ada berbagai kesibukan baru yang saya hadapi baik itu ditempat kerja maupun diluar jam kerja. Tapi sekali-sekali saya akan tetap sharing dengan teman-teman semua, walau kuantitasnya menjadi sangat berkurang.

Pertanyaan Mbak Lenny diatas sunguh sangat sederhana dan mendasar sekali. Kalau kita mau membahasakannya melalui dalil-dalil, maka bahasannya tidak akan pernah selesai sepanjang masa. Karena dari pertanyaan itu akan lahir berbagai macam cabang pemahaman yang tak akan habis-habisnya untuk dibahas. Dalam kesempatan ini saya akan mencoba untuk menyampaikan sebuah alternatif pemahaman yang barangkali bisa teman-teman renungi maknanya. Ya…, alternatif saja sebenarnya, dan itu tidak perlu terlalu dipikirkan.

Amalan…!. Begitu kita berhadapan dengan kata amalan, maka biasanya kita akan segera saja muncul dengan dalil-dalil yang berasal dari berbagi hadist nabi berupa amalan seperti zikir, shalat (wajib dan sunnah), dan kebaikan amalan para sahabat dahulu yang kadangkala menerbitkan air liur kita agar kita bisa pula melakukannya. Kalau sudah begini, pada akhirnya kita biasanya menyerah. Dan kita kembali kepada amalan kita yang biasanya kita lakukan. Karena amalan seperti para sahabat itu terasa alangkah sulitnya. Misalnya, berapa banyak kita yang bisa menamatkan baca Al qur’an sampai Khatam dalam hitungan hari seperti sahabat-sahabat dulu. Berapa banyak umat islam yang jumlahnya ratusan juta ini yang shalat berjamaah ke masjid, apalagi bagi yang hidup dikota-kota besar yang sebagian waktunya habis diatas kendaraan pada saat-saat waktu shalat masuk.

Dilain pihak rasanya kita semua ingin agar Allah bisa pula mencintai kita, kalau bisa seperti cinta Allah yang didapatkan oleh generasi awal islam. Sementara amalan kita hanya begitu-begitu saja bila dibandingkan dengan amalan para sahabat dizaman Rasulullah. Nggak mungkinlah rasanya. Akhirnya kitapun berubah menjadi umat yang penuh dengan ILUSI, dan FANTASI. Ilusi terhadap kehebatan masa lalu, dan fantasi terhadap masa depan yang digambarkan dengan sangat fantastis. Fantasi syurgawi.

Karena kita memelihara ilusi dan fantasi itu, maka kitapun membutuhkan sekelompok orang yang mampu memelihara ilusi dan fantasi kita itu. Kemudian bermunculan dengan subur orang-orang yang kerjaannya hanya membangkitkan fantasi dan ilusi kita tentang syurga, tentang bahagia, tentang kenikmatan islam, tentang kehebatan menghafal Al Qur’an, kehebatan dzikir, tentang kehebatan sedekah, kehebatan wali-wali Allah, kehebatan shalat dan sebagainya. Sementara kelompok orang-orang yang menebarkan fantasi dan ilusi itupun sebenarnya hidup penuh dengan ilusi dan fantasi pula. Namun tentu saja ada diantaranya yang mampu mengajak kita merubah ILUSI dan FANTASI tersebut menjadi sebuah REALITAS yang bisa dirasakan saat ini juga. Pasti ada…

Padahal kalau kita mau berbicara amalan yang bisa kita lakukan dizaman kita sekarang ini sangatlah banyak dan mudah untuk dilakukan. Sebab saya memahami kata amalan ini sebagai segala perbuatan baik yang bisa kita lakukan saat kapanpun juga. Amalan itu adalah performance atau kualitas kebaikan yang kita jalani sehari-hari. Dan wujud dari cinta Allah kepada kita atas kualitas kebaikan yang kita lakukan itu pasti akan kita dapatkan seketika itu pula. Kita tidak perlu menunggunya sampai diakhirat kelak untuk mendapatkan cinta Allah itu.

Wujud cinta Allah itu kepada kita itu adalah, kita dialiri oleh Allah dengan kesadaran penuh dan utuh atas keberadaan dan kehadiran kita didunia ini, dan kemudian dirembesi-Nya pula dengan gelombang gelombang rasa kasih sayang, rasa suka cita yang dalam, dan rasa damai yang mencekam, sehingga dalam setiap tindakan kita akan terasa sekali tidak ada kekhawatian dan ketakutan sedikitpun yang menyertainya. Laa khaufun alaihim wala hum yah zanun, kata Allah didalam Al Qur’an. Sebuah suasana dan sikap hidup yang menurut Al Qur’an hanya dimiliki oleh wali-wali Allah.

Sebenarnya suasana dan sikap hidup seperti ini pulalah yang kita dambakan disetiap saat. Namun kita dengan malu-malu mengakuinya bahwa kita sebenarnya mendambakan dan bercita-cita hidup seperti kualitas wali-wali Allah itu.

“kalau begitu kamu ingin jadi wali Allah dong..?”, tanya seorang teman.
“ah nggak…”, jawab kita tersipu-sipu malu (tapi mau) dan rendah diri karena merasa tidak pantas.

Namun sayang, begitu kita berbicara tentang karakter wali Allah, maka suara-suara yang ada didalam otak kita saling bersahut-sahutan, bahwa wali-wali Allah itu pastilah seorang yang sakti mandraguna, dia bisa berjalan diatas air, dia bisa menghilang, dia bisa menyuruh angin dan hujan datang dan pergi, dia kebal senjata tajam, dia bahkan mengetahui hal-hal yang ghaib dan supranatural. Pokoknya sosok wali itu adalah sosok seperti yang hanya ada didalam cerita-cerita dan film-film yang penuh fantasi dan ilusi. Sementara didunia hiburan kita juga disodorkan dengan berbagai fantasi dan ilusi lain yang kelihatannya begitu mudah dan mempesona seperti yang ada dalam program-program TV seperti “Th Mstr”, atau UY KY, dan sebagainya.

Akhirnya tanpa kita sadari memori bawah sadar kita begitu penuh dengan alam fantasi dan ilusi tadi, sehingga setiap kita menjalankan amalan dan ibadah dalam beragama, kita jadinya sibuk mencita-citakan hal-hal yang absurd begitu. Saat kita beribadah, misalnya shalat-shalat sunnah, doa dan dzikir (wiridan), kita malah ingat akan semua ilusi dan fantasi kita itu tadi silih berganti. Jadilah kita sangat sedikit atau malah tidak ingat sama sekali kepada Allah (dzikrullah).

Kalaulah kita mau membuka sedikit saja kesadaran kita tentang Al Qur’an, maka macam apakah itu ciri-ciri dari wali Allah maupun pakar ilmu ilusi dan fantasi itu dan bagaimana pula cara mendapatkannya, semua ada di dalam Al Quran. Kalau mau menjadi wali Allah, maka bersedialah untuk dituntun dan diajari oleh Allah sendiri, sehingga hasilnya adalah sikap dan kualitas hidup kita yang tidak ada lagi ketakutan dan kekhawatiran yang menyinggahi kita. Sesederhana itu saja sebenarnya untuk menjadi wali Allah itu.

Sebaliknya kalau kita mau menjadi seorang ahli ilusi dan fantasi, maka didalam Al Qur’an juga ada caranya, yaitu “belajarlah dari ahlinya…”, he he he. Kalaulah semua orang belajar ingin menjadi seperti, misalnya UY KY, DC, atau para Th Mstr, maka dunia sekitar kita akan begitu ramai dan riuh rendah dengan berbagai ilusi dan fantasi. Atmosfir ana khairu minhu (saya lebih baik dari dia) yang dulu dipopulerkan oleh IBLIS dihadapan Adam, namun sekarang juga masih relevan, akan semakin subur menyinggahi sanubari kita.

Ada apa dengan kita ini sebenarnya…?. Jawabannya ada disanubari kita masing-masing.

Lalu amalan macam apa yang harus kita lakukan?.

Nggak usah sulit-sulit. Saat kita mengendarai kendaraan, misalnya, rajin-rajinlah kita melihat kepinggir jalan, kalau-kalau ada orang yang sedang ketakutan untuk menyeberangi jalan. Karena jalanan di Indonesia adalah salah satu jalan yang paling tidak ramah dengan penyeberang jalan, sama seperti halnya jalanan di Arab Saudi sana. Lalu amatilah dada kita. Ada nggak didalam dada kita ini ditarok oleh Allah RASA INGIN untuk membahagian orang yang sedang ketakutan menyeberang jalan itu. Kalau ada, ikuti saja rasa ingin itu dengan cara kita berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada orang yang ingin menyeberang itu untuk menyeberang ke sisi jalan yang lain. Kapan perlu kita langsung berbicara dengan Allah: “siap ya Allah…, hamba siap menjalankan titah yang telah Paduka tanamkan kedalam dada hamba”. Lalu dengan membaca bismillah (cukup didalam hati saja), atas nama Allah, dengan nama Allah, atas perintah Allah, kita persilahkan dia menyeberang dengan lambayan tangan yang lembut sambil kita tersenyum pula kepadanya.

Membaca bismillah yang sederhana itu begitu pentingnya sebenarnya, karena bacaan bismillah itu akan melepaskan kita dari pengakuan bahwa kitalah yang telah menolong orang tersebut untuk bisa menyeberang. Bacaan Bismillah itu akan mencabut RASA ANGKUH kita. Oleh karena kita tidak angkuh, kita kosong dari pengakuan, maka saat itu pulalah dada kita akan dirembesi oleh Allah dengan rasa sukacita yang amat sangat. Rasa aman orang yang menyeberang itu, dan senyuman balasannya (kalau ada) akan singgah pula kedalam dada kita melahirkan rasa sukacita yang hanya bisa dirasakan daripada dibicarakan. Namun dengan begitu, kita siap-siap pulalah untuk di klakson orang dari belakang, karena orang yang dibelakang kita itu biasanya ingin jalannya tidak tergangu he he he.

Akan tetapi begitu kita tidak bersedia melaksanakan RASA INGIN untuk menolong si penyebrang jalan yang sedang ketakutan itu, kita tidak berhenti dan tidak mempersilahkan orang tersebut untuk menyeberang, maka hari-hari berikutnya Allah mencabut rasa ingin menolong orang tersebut dari dada kita. Dada kita menjadi kering. Rasa ingin untuk menolong orang yang kesulitanpun dihari-hari berikutnya akan hilang dari dalam dada kita. Sikap kita ketika kita melihat seseorang yang sedang ketakutan untuk menyeberang jalan didepan kita sama dengan sikap seekor kucing melihatnya. Mata sikucing melihat, tapi dia tidak punya respon apa-apa. Lalu apakah bedanya kita dengan kucing kalau begitu?. Lha….

Sebaliknya, kalau rasa ingin berbuat baik yang tiba-tiba ditanamkan oleh Allah kedalam dada kita itu kita jalankan, maka dihari-hari berikutnya Allah akan berkenan pula untuk menanamkan rasa ingin berbuat baik berikutnya dan berikutnya tanpa perlu kita pikir-pikirkan terlebih dahulu. Rasa ingin itu seperti disusupkan begitu saja kedalam dada kita, yang dalam istilah agama islam disebut sebagai ILHAM atau WAHYU untuk berbuat kebaikan. Lalu Allah akan pamer kepada para Malaikat: “Lihatlah wahai para malaikat, dialah hambaku, dialah pesuruhku, dialah kurirku untuk merangkai kebaikan bagi sesama manusia disekitarnya. Untuk itulah sebenarnya dia kuciptakan dimuka bumi ini. Bukan untuk hanya sekedar penumpah darah seperti dugaanmu dulu. Lihatlah sebenarnya AKU lah yang menggerakkannya”.

Dan malaikatpun tidak bisa berbuat banyak, kecuali hanya sujud…, dan sujud… kepada… Allah, Sang Pengerak !, bukan kepada si hamba atau pesuruh Allah. Karena Saat Allah berkata “AKU…” kepada malaikat, para malaikat itu sudah tidak melihat lagi kepada si hamba yang hanya terbuat dari saripati tanah, karena saat itu pada hakekatnya si hamba sudah tiada. Saat itu ada Sang Maha Pengerak yang tengah berkata “AKU…”.

Dilain pihak ada wujud yang merasa terbakar oleh kebaikan hamba Allah yang tengah berbuat baik itu. Wujud dengan sikap seperti ini dipanggil didalam Al Qur’an dengan nama IBLIS…

Nah…, amalan-amalan lainnya sungguh sangat banyak yang bisa kita nikmati hasilnya seperti ini. Tinggal kita bersedia atau tidak saja sebenarnya. Kalau kita bersedia, maka seketika itu juga Allah akan berkenan mengalirkan rasa ingin berbuat baik itu kedalam dada kita. Kalaupun belum mengalir, maka buat sejenak kita duduklah merendah, sujudlah merendah, shalatlah merendah dihadapan Allah, seperti duduk seorang hamba sahaya yang sedang menunggu perintah tuannya. Duduk menunggu perintah seperti ini sangatlah elok kita lakukan di sebuah tempat khusus yang dizaman Rasulullah dan wali-wali Allah dulu dikenal sebagai MIHRAB.

Ahh…, Mihrab…, sebuah tempat yang sudah tidak banyak lagi kita yang mengenalnya. Sebuah tempat khusus dimana kita hanya berduaan saja dengan Allah. Tempat dimana kita bermunajad kepada Allah: “ya Allah…, apa lagi tugas hamba yang berikutnya…?, hamba siap”. Lalu diam…!. Tempat yang sangat pribadi sekali sebenarnya. Tempat dimana kita hanya diam menunggu sampai Allah berkenan merembeskan tugas-tugas berikutnya kedalam dada kita.
Subhanallah…

Wassalam, Deka
Jumat 12 Maret 2010, jam 00:12.
Jl. Kabel No. 16, Cilegon..

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: