Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2010

Malaikat juga pernah berbohong seperti ini, saat dia berkata kepada Allah: Ataj ‘alu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfikuddimaak wanahnu nusabbihu bihamdika wanukaddisulak…, …Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?…”. Namun atas rahmat Allah, Malaikat kemudian bisa memahami AF’AL Allah yang sedang bekerja membentuk Adam, sehingga akhirnya Malaikat tahu diri dan tidak meneruskan protesnya untuk sepanjang masa.

Akan tetapi ada yang tidak pernah sadar sepanjang masa, yaitu IBLIS. Dia selalu saja protes atas QADA dan QADAR Allah atas penciptaan ADAM. Iblis seakan bersikukuh:

“Ya Allah…, saya BERIMAN kepada Wujud-Mu”.
“Ya Allah…, saya BERIMAN kepada Zat-Mu”.
“Tapi ya Allah…, saya PROTES atas AF’AL-Mu terhadap adanya ADAM”.
“Tapi ya Allah…, saya PROTES atas QADA dan QADAR-Mu terhadap adanya ADAM.”
“Aku kan lebih hebat dari Adam…”,
“Aku dari api sedang Adam dari tanah…”
“Seharusnya Adamlah yang sujud kepadaku…”

Ternyata bukti Iman kepada Allah adalah berupa bisanya kita menerima Qada-Qadar Allah ini dengan ikhlas. Hal ini adalah sebuah aktifitas yang sangat SULIT untuk kita laksanakan kalau kita hanya berbekal kepada ilmu OLAH PIKIR dan OLAH EMOSI belaka. Dengan bekal seperti ini, kita tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah dengan utuh. Seperti tidak bisanya Iblis saat dia menggunakan olah pikir dan olah emosinya untuk menerima kenyataan tentang adanya ADAM. Bahwa dia pikir dia yang terbuat dari API lebih baik dari ADAM yang tercipta dari TANAH.

Astagfirullahal azhiim…, sejak dulu entah berapa lama saya pernah terjebak dalam keadaan protes terus menerus kepada Allah seperti yang dilakukan iblis kepada Allah. Ah…!, beriman kok masih ada tapinya…!.

Dulu Iblis hanya protes untuk satu hal saja, yaitu protes atas Af’al Allah terhadap penciptaan Adam. Sedangkan saya, dan mungkin juga beberapa orang diantara pembaca yang budiman, mungkin pernah protes…, protes…, protes…, dan menolak seribu satu keadaan dan Af’al Allah yang menjambangi saya. Protes itu saya bungkus dalam bentuk untaian do’a-do’a yang sekilas kelihatannya indah dan manis, tapi hakekatnya itu tetaplah sebuah bentuk protes kepada Allah. Lalu masihkah saya bisa mengaku bahwa iman saya kepada Allah lebih baik dari iman Iblis kepada Allah???.

Astagfirullahal azhiim…, Astagfirullahal azhiim…, Astagfirullahal azhiim……

Bersambung
Deka

Iklan

Read Full Post »

Sekedar Cerita Lama…

Masih segar dalam ingatan saya ditahun delapan puluhan, saat pertama kali saya memiliki buku-buku tasawuf, seperti Ar-Risalatul Qusyairiyah, dan Al Hikam, saya bersemangat sekali untuk mencoba mempraktekkan satu persatu tahapan-tahapan (maqam) para penempuh jalan sufi yang ada dibuku-buku tersebut. Misalnya didalam kitab Ar Risalatul Qusyairiah saja, sedikitnya ada 49 tahapan yang harus dijalankan oleh seorang penempuh jalan spiritual. Ada tahapan Taubat, Mujahadah, Khalwat, Taqwa, Wara’, Zuhud, Diam, Khauf, Raja’…, Ma’rifat, Cinta, Rindu, Menjaga hati Syech, dan Sima’. Belum lagi berbagai terminologi tasawuf yang sangat-sangat tidak mudah untuk dimengerti dengan olah pikir saya saat itu, seperti Waktu, Maqam, Qabdh dan Basth…, Warid…, Sirr. Satu kata saja didalam Al Hikam, yaitu “istirahatkanlah dirimu/pikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan dunia…, tidak pernah bisa saya lakukan walau sudah dibantu pula dengan meditasi-meditasi ala sebuah perguruan silat ternama di tanah air.

Baru ditahapan pertama saja, yaitu masalah TAUBAT, saya malah dihinggap rasa stress yang amat sangat ketika saya mencoba mengingat-ngingat dosa-dosa yang telah saya lakukan dimasa lalu. Apalagi kemudian saya juga membaca sebuah buku khusus setebal 272 halaman, yang membahas hanya masalah Taubat itu. Setelah itu ditambah lagi dengan berbagai bacaan dari Buku Madarijus Salikin, Minhajul Qashidin, Kimyatus-Saadah, dan puncaknya adalah buku “Sinar Keemasan” yang saya praktekkan dalam sebuah tarekat. Bahkan tidak ketinggalan pula untuk sekian tahun lamanya, saya terjun kedalam berbagai pengajian, diskusi, liqa, dan aktifitas lainnya.

Rasanya lengkap sudah jalan panjang yang saya lewati. Semua itu hanya untuk menemukan makna hakiki dari sepenggal kata yang sangat sederhana, yaitu IMAN. Namun hasilnya…?. Ampuuuun…mak, kepala saya rasanya mau pecah. Iman itu apaan sih…?

Ya…, sebenarnya keinginan saya sederhana saja. Saya hanya ingin untuk beriman kepada Allah. Namun dengan semua aktifitas menelusuri jejak iman itu melalui buku-buku yang ada, dan bahkan dengan langsung menceburkan diri ke sebuah tarekat, malah KEADAAN IMAN itu gagal saya raih. Semua ILMU dan AKTIFITAS itu tadi malah seperti MENGHIJAB saya dari KEADAAN atau SUASANA IMAN yang sesungguhnya.

Tanda-tanda kegagalan iman saya itu mudah sekali untuk dibuktikan. Yaitu betapa lancarnya saya protes kepada Allah atas kejadian dan peristiwa yang menurut saya itu tidak menguntungkan saya. Hampir setiap hari saya mengucapkan kata-kata (walau hanya sekedar didalam otak saya):

“Kok begini ya Allah, mbok ya jangan begitu?”.
“Ya Allah…, saya nggak kuat kalau begini, yang lebih baik sajalah buat saya..!”.
“Ya Allah saya ingin yang itu…, bukan yang ini…?”.

Dan dengan manis saya bungkus kalimat-kalimat protes saya kepada Allah itu dalam bentuk do’a-do’a baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Indonesia. Saya berdo’a dengan lancar, tekun dan panjang, tapi hakekatnya pada saat itu saya sedang protes berat kepada Allah atas apa-apa yang saya alami. Saya sedang protes atas QADA dan QADAR Allah, atas AF’AL Allah yang sampai kepada saya. Namun pada saat yang sama saya masih berani-beraninya berkata bahwa saya telah beriman kepada Allah. Ah…, betapa bohongnya saya kepada Allah waktu itu.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Alhamdulillah, sekarang saya dipahamkan Allah bahwa keadaan bertambah dan berkurangnya iman kita seperti yang dikatakan oleh Rasulullah itu hanya berlaku bagi orang yang mendapatkan rasa iman itu melalui cara-cara yang artificial seperti diatas. Cara-cara olah otak dan olah emosi belaka. Karena, seperti yang telah diterangkan diatas, otak kita ini memang punya karakter mudah BOSAN. Kalau tidak ada keadaan dan suasana baru yang masuk kedalam otak kita, maka otak kita akan TIDAK bereaksi lagi. Kita akan merasa bosan dengan aktifitas keberagamaan kita. Kita seakan-akan merasa iman kita berkurang. Sebenarnya yang terjadi adalah, karena otak kita tidak lagi mendapatkan suplai suasana dan keadaan baru, maka emosi kita juga tidak mendapatkan makanan barunya. Emosi kita, semangat kita dalam beragama, juga menjadi lemah, sehingga kita merasa iman kita sedang turun.

Padahal yang turun itu adalah emosi kita saja. Sedangkan iman yang sebenarnya belum kita dapatkan. Yang kita dapatkan barulah pengetahuan tentang iman. Dan pengetahuan iman kita itu akan ikut pergerakan turun naiknya suasana emosi kita. Saat emosi kita naik akibat sebuah stimulan, atau dipaksa, atau ditakut-takuti, kita juga merasa seakan-akan iman kita bisa ikut naik. Sebaliknya saat emosi kita turun, karena stimulannya sudah tidak kuat, atau kita sudah tidak mempan lagi untuk dipaksa-paksa dan ditakut-takuti, maka kita merasa iman kita ikut pula turun. Sesuai sekali dengan hadist Nabi yang mengabarkan suasana iman yang bisa turun naik itu. Iman yang artificial.

Karena iman ang sebenarnya baru bisa kita dapatkan dengan cara-cara yang bukan melalui olah otak dan bukan pula olah emosi. Tapi melalui cara dimana Allah sendiri yang menurunkan iman itu kedalam dada kita. DERR… Utuh iman itu kita dapatkan…

Saat kita mendapatkan rasa iman kepada Allah itu dengan cara Allah sendiri yang menaroknya kedalam dada kita, maka hasilnya sungguh sangat berbeda. Setiap kita membaca nama Allah dan ayat-ayat Allah yang sedang menyata dihadapan kita, maka iman kita kepada Allah PASTILAH akan selalu bertambah dan bertambah (lihat Al Anfaal ayat 2 diatas). Saat kita ditimpa oleh musibah ataupun nikmat apapun juga, rasa iman kita itu tetap kental dan kuat. Malah saat ditimpa musibah ataupun nikmat itulah kita punya fasilitas untuk segera berlari kepada Allah, menyungkur dihadapan Allah. Keadaan yang merupakan realitas dari kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Saat itu kita tinggal datang dan berlari kehadapan Allah untuk kemudian Allah menambah rasa iman kita kepada-Nya.

Ketika iman kita tidak bertambah dan bertambah, mbok ya… kita sadari sendirilah posisi kita. Bahwa saat itu kita sebenarnya tengah TIDAK beriman kepada Allah. Bukan malah dengan tenang mengambil kesimpulan sendiri bahwa saat itu iman kita sedang turun. Bukan…!. Tidak beriman kok ngaku-ngaku imannya sedang turun. Keterlaluan sekali memang kita ini dalam memaafkan ketidakberimanan kita.

Tatkala Allah sendiri yang melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan dada kita, maka kita seperti ditarok oleh Allah kedalam sebuah keadaan atau suasana yang disebut sebagai KEADAAN BERIMAN kepada Allah. Rasa nikmat beriman kepada Allah. Dan keadaan itu akan bertahan dalam waktu yang lama. Malah setiap aktifitas kita berikutnya, seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya, akan menambah pekat keadaan iman kita itu. Iman kita kepada Allah akan bertambah dan bertambah setiap waktu.

Jika tidak bertambah, artinya saat beraktifitas kita mulai rada-rada merasa GARING, tidak ada rasanya, hambar, maka dengan segera kita duduk bersimpuh dihadapan Allah untuk minta ampun: “Ya Allah…, salah hamba apa ya Allah. Ya Allah…, kenapa hamba tidak direspon ya Allah. Mohonlah hamba kembali disapa ya Allah, nggak nyaman ni ya Allah…!. Karena pada hakekatnya saat itu kita tengah tidak beriman kepada Allah, sehingga Allah mencabut rasa nikmatnya iman dari dalam dada kita. Bukan cengar cengir seperti keledai seperti yang sering kita lakukan selama ini.

Sebagai seorang yang beriman, tatkala dada kita garing, sebagai pertanda awal lunturnya iman kita kepada Allah, kita akan shalat dua raka’at, kita akan beristigfar, lalu kita kemudian duduk dengan diam, merendah, sampai Allah kembali merespon dan menyapa kita. Duduk diam berapa lama?. Ya tergantung Allah saja. Kita bisa duduk diam dan merendah terus kepada Allah itu hanya dalam hitungan menit, atau bisa pula dalam hitungan jam-jaman. Bahkan bisa pula kita dipaksa untuk mengusung sikap itu seharian bahkan bisa bulanan atau tahunan. Kita bisa berjalan dalam keseharian kita dengan ungkapan penuh penyesalan dan permintaan ampun.

Suasana penantian ini digambarkan oleh ayat Allah berikut ini: “rabbana zalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhana lanakunanna minal khaasirin…! Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”, (Al A’raaf 23). Yang kita tunggu adalah jawaban Allah yang menghujam kuat kedalam DADA kita: “Ya sudah…!, bangunlah wahai hamba-Ku…!”. DERR…, sungguh sukacita sekali keadaan kita saat itu….

Jika kita sudah mendapatkan iman itu melalui proses DERR…, setelah itu, dengan sangat mencengangkan, apa-apa yang dulu kita rasakan sulit ketika kita ingin menjalankan aktifitas beragama, berubah menjadi mudah. Kita juga jadi semakin kuat terikat dengan Allah. Antara kita dengan Allah seperti ada KABEL (HAB, HUB) yang terhubung dengan kuat. Ada rasa sambung yang hebat di dalam dada kita dengan Allah. Bicara kita apa-apa tentang Allah…, sedikit sedikit tentang Allah…, sebentar-sebentar tentang Allah, bukan tentang guru kita, bukan tentang syeikh kita, bukan tentang aliran kita, bukan tentang kelompok kita. Keyakinan kita akan Kerasulan Nabi Muhammad juga akan iktu menguat. Al Qur’an menyebutkan keadaan kita seperti ini sebagai keadaan orang yang bergantung kuat dengan Allah. Keadaan dimana ada KABEL atau TALI ALLAH yang ditancapkan oleh Allah kedalam dada kita. Wa’tashimu billah…, wa’tashimu biHABlillah… berpegang teguhlah kepada kabel dari Allah…

Demikianlah…, sederhana sekali sebenarnya al Qur’an itu. Dan yang terpenting sebenarnya adalah Setelah iman itu apa?. Kan ini sebenarnya yang lebih punya makna….

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Keadaan Iman itu dari dulu ya begitu itu. Keadaan iman yang bisa ditangkap dan dimengerti oleh Rasul-Rasul Allah, para sahabat Nabi dulu, serta wali-wali Allah disetiap zaman, akan persis sama dengan keadaan iman yang bisa kita tangkap saat ini. Keadaan Kafir juga begitu. Keadaan kafir yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan tepat dan pas oleh Fir’aun, sama persis dengan yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan akurat oleh Namrud, Abu Lahab, Abu Jahal, dan bahkan juga oleh kita-kita yang hidup saat ini. Tidak ada perbedaan sedikitpun.

Dan ternyata keadaan iman yang sebenarnya seperti yang dialami oleh Rasulullah ini tidak bisa dipaksa-paksakan. Kita hanya dan hanya bisa menerima KEADAAN IMAN itu DITURUNKAN oleh Allah sendiri kedalam dada kita. Keadaan Iman itu hanya bisa kita baca dengan DADA (SUDUR) kita. Karena memang alat penerimanya bukanlah panca indra kita yang bermuara pada olah otak kita semata. Alat penerima keadaan iman itu adalah berupa DADA yang lembut, lunak dan hidup. Bukan dada yang keras membatu, mati dan gelap.

Boleh jadi secara lahiriah kita bisa memaksa-maksa orang untuk beriman kepada Allah, dan dengan paksaan itu orang tersebut bisa pula melakukan setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah dengan semangat yang tinggi. Akan tetapi kebenaran keadaan iman kita yang seperti ini dibantah sendiri oleh Allah didalam Al Qur’an dengan menyamakan keadaan iman orang tersebut sama dengan keadaan iman seorang badwi dizaman Rasulullah dulu. Bahwa kita sebenarnya belum beriman, tapi baru hanya sekedar patuh saja. Karena keadaan iman itu hanya bisa menyentuh hati kita.

Namun begitu, saat dada kita diberi cahaya oleh Allah, maka dada kita yang tadinya keras membatu dan gelap gulita akan berubah seketika, ya seketika…!. Dada kita berubah menjadi dada yang lembut, lunak, dan hidup. Dada orang beriman. Dada yang dilunakkan, dilembutkan, dihidupkan, dan disucikan sendiri oleh Allah dengan cara Dia menyinari dada kita dengan sinar-Nya.

Kenapa harus ada aktifitas Allah untuk mengubah keadaan dada kita ini?. Karena memang ada seribu satu cara-cara artificial (buatan) lainnya yang SEAKAN-AKAN dapat melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan dada kita ini. Misalnya kita seakan-akan merasa dada kita menjadi lembut dengan cara mendengarkan irama musik yang lembut dan mendayu-dayu, atau dengan mendengarkan gelombang suara dengan frekuensi tertentu, atau bisa juga dengan mengingat-ingat penderitaan orang lain, atau dengan cara memaksa-maksakan diri untuk menangis dan meratap. Jadi proses melunaknya hati kita itu tidak lebih dari hasil aktifitas olah pikir dan olah emosi kita saja. Bahkan bentuk dzikir-dzikir tertentu yang sering dilantunkan oleh umat islam, juga lebih mengarah kepada bentuk artificial seperti ini.

Dengan cara-cara artificial ini, untuk sejenak memang terasa dada kita seperti berubah menjadi lebih lembut dari biasanya. Kita bisa lebih mudah untuk menangis, kita lebih mudah tersentuh, kita lebih mudah terharu dari biasanya. Kitapun merasa lebih mudah untuk berbuat baik kepada orang lain. Kita seperti punya rasa sosial yang tinggi untuk membantu sesama. Semangat kita untuk bekerjapun jadi begitu membara. Ini sudah bagus sebenarnya. Namun sayang, keadaan itu hanya bisa bertahan untuk sementara waktu saja. Tidak berapa lama kemudian, suasana dada yang lembut tadi berubah kembali menjadi keras. Tanpa kita melakukan kembali proses olah pikir dan olah emosi seperti diatas, kita merasa tidak akan bisa mendapatkan kembali suasana hati kita yang lembut seperti tadinya.

Jadilah kita menjadi orang yang terikat kuat dengan semua alat bantu olah pikir dan olah emosi itu tadi dalam mengolah keadaan dada kita. Tanpa alat itu rasanya kita tidak akan bisa membuat suasana dada kita menjadi lembut, lunak dan hidup. Ini kan bentuk perantara atau avatar juga namanya. Cuma saja avatarnya adalah benda-benda dan suara-suara.

Celakanya lagi, otak kita ini tidak pernah bisa menerima keadaan yang sama untuk kedua kalinya. Otak kita diciptakan Allah untuk bereaksi lebih sedikit dan lebih sedikit lagi saat kita melakukan hal sama secara berulangkali. Suasana pertama yang kita rasakan adalah munculnya Rasa BOSAN kita terhadap keadaan yang kita alami atau lakukan itu. Kita seperti merasa iman kita menjadi TURUN. Rasanya menjadi GARING. Tanda-tandanya sederhana saja, yaitu kita menjadi malas beribadah dengan khusyu kepada Allah. Walaupun ibadah itu masih kita lakukan, namun tidak ada KESUKACITAAN didalamnya. Kita beraktifitas ditengah-tengah KEPEDIHAN yang mendalam tanpa kita mampu untuk menyadarinya.

Kadang-kadang untuk menaikan rasa iman kita kembali, kita membutuhkan usaha yang lebih keras dari biasanya. Atau bisa pula rasa iman kita itu baru bisa bertambah kembali saat Allah menimpakan sebuah beban yang berat dipundak kita. Artinya saat itu kita dipaksa beriman oleh Allah dengan cara yang menyakitkan sekali. Setelah itu barulah kita merasa beriman kembali kepada Allah untuk kemudian melemah lagi. Kita merasa iman kita turun-naik begitu cepatnya. Iman kita seperti selalu berubah-ubah setiap saat. Tergantung mood kita katanya.

Sayangnya kita salah persepsi memaknai hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa iman kita ini bisa bertambah dan berkurang. Hadist itu begitu seringnya diberitahu oleh para da’i dan khatib kepada kita sehingga kitapun masih bisa tersenyum sumringah saat mana dada kita begitu garingnya ketika kita melakukan aktifitas keseharian kita. Dalam beraktifitas, kita seperti berenang didalam lautan yang isinya hanyalah KEPEDIHAN belaka, dan anehnya kita masih bisa tersenyum menjalaninya. Kita dengan bangga mengatakan bahwa iman kita saat itu sedang TURUN. Kita menyangka bahwa keadaan kita yang seperti itu dibenarkan oleh Rasulullah. Iman kita sedang turun. Dan kita tetap berlaku biasa-biasa saja.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Perbedaan antara keadaan Iman dan keadaan Kafir itu nyaris sama dengan perbedaan antara keadaan saat kita hidup didaratan yang penuh dengan udara segar dengan keadaan saat kita menyelam tanpa bantuan alat apa-apa didalam air. Saat kita berada didaratan, kita bisa dengan bebas dan nyaman menghirup nafas, hidup, berjalan, dan juga berkarya dengan sangat mudah dan leluasa. Akan tetapi saat kita berada didalam air tanpa bantuan alat apa-apa, kita bisa bertahan hidup dan berkarya hanya dalam hitungan detik atau menit saja. Dalam sejekap dua kejap kemudian kita akan megap-megap. Kita akan tersiksa…

Kalau batas antara udara dan air masih bisa kita lihat. Namun sayangnya antara keadaa IMAN dan keadaan KAFIR itu keduanya hanya dibatasi oleh selapis LABIRIN yang sangat tipis dan tidak kelihatan oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan tidak terwakili oleh kata dan aksara. Dan memang disinilah umumnya letak kekeliruan kita umat islam ini ketika kita ingin memahami tentang IMAN dan KAFIR ini. Yaitu kita ingin memahaminya melalui olah pikir, olah intelektual, olah mata, dan olah telinga. Artinya disini kita salah dalam memakai alat untuk mengolahnya, sehingga hasilnya juga tidak maksimal dan bahkan sering salah.

Padahal Al Qur’an paling tidak di lima ayat berikut ini sudah menyatakannya dengan sangat terang benderang:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (SADRAHU, SUDUR, DADA) untuk (menerima) agama Islam lalu ia (DADA ITU) mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 22).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23).

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk patuh (aslamna)”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Hujuraat 56).

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Al Fath 4).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (al Anfaal 2)”

Muatan kelima ayat ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Bahwa kita hanya tinggal bersedia menghadap kepada Allah dengan tepat dan lurus (hanif), lalu Allah sendiri yang akan membuka dan menyinari SUDUR (dada) saya sehingga dada kita menjadi lembut, lunak, dan cair. Dada yang seperti inilah yang akan mampu menangkap, dan menerima turunnya petunjuk dari Allah. Yaitu untuk menerima KEADAAN atau SUASANA yang sebenarnya dari perkataan-perkataan Allah, ilham-ilham Allah, yang dari dulu sampai sekarang dan masa datang yang tetap akan sama dan tidak berubah.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Padahal sebenarnya, kalaupun ada Sang Guru itu, peran beliau tidak lebih hanyalah sekedar sebagai penunjuk arah kesadaran yang PAS saja bagi kita pada SAAT AWAL perjalanan kita agar kita bisa keluar dari wilayah ketidaksadaran yang telah kita tempati sekian lamanya. Beliau hanyalah menunjukkan agar kita bisa duduk “di rumah” kita sendiri dengan sadar, sekali lagi dengan sadar…

Dulu, saat saya punya masalah, saya juga pernah datang kepada pak Haji Slamet Utomo dan utdz Abu Sangkan untuk minta dido’akan agar masalah saya teratasi. Sambil tersenyum arif Beliau berkata: “Allahmu manaaa..?. Suatu saat saya gelisah dan khawatir tentang sesuatu hal, lalu saya datang kepada Beliau untuk minta dido’akan, Beliau kembali hanya berkata lembut dan mengena sekali: “ada masalah apa engkau dengan Allah?, sehingga Allah tidak berkenan kepadamu..”. Sungguh dua kalimat inilah yang paling dalam menancap kedalam pikiran dan perasaan saya sampai saat ini. Kalimat tauhid banget…

Dalam pertemuan demi pertemuan saya selanjutnya dengan orang tua saya yang sangat saya hormati Pak Haji Slamet Utomo dan Utdz Abu Sangkan seringkali Beliau hanya mengajak saya untuk duduk didalam benteng Allah “laa ilaha illalhah…, DERR…, DERR…, DERR!”, lalu beliau berpesan kepada saya:

“Nah duduklah kamu disini…, didalam benteng Allah, dirumahmu…, diamlah dengan sabar (patien) seperti sabarnya seorang pasien dirumah sakit menunggu dokter yang akan memeriksa dan mendiagnosa penyakitnya…. Kamu harus begitu pula. Sabar…, patien. Duduklah dengan santun, merendah, dan DIAM. Karena saat itu kamu memang sedang berduaan dengan Allah. Saat itu kamu sedang menunggu-nunggu suatu petunjuk atau pengajaran dari-Nya. Lalu kemudian, saat pengajaran Allah itu “TURUN”, DERR…, DERR…, lalu kamu bacalah…, iqraa lah…, apa-apa yang diajarkan Allah kepadamu itu, sampai kamu paham. Sampai paham…

Ulang-ulang lah kamu duduk dirumahmu sendiri. Sebab kalau tidak diulang-ulang, nanti kamu akan lupa dan bingung untuk masuk kembali kerumahmu sendiri. Kamu jangan lupa lagi rumahmu ini…

Aku juga punya rumah sendiri. Aku juga akan duduk dirumahku sendiri. Syukur-syukur kamu bisa mampir dan singgah kerumahku, sehingga kamu bisa menjadi temanku, teman seperjalananku”.

Sederhana sekali yang Beliau ajarkan. Beliau sampaikan dulu ilmunya melalui sebuah wejangan singkat dan tidak rumit, tentu saja ada dasarnya didalam Al Qur’an dan Al Hadist. Lalu Beliau “mengajak” saya berlatih memasuki suasana atau keadaan dari ilmu tersebut… DERR. Kemudian saya duduk bersama Beliau beberapa saat, bisa 10 menit atau bisa pula 1 jam atau lebih, diwilayah realitas ilmu tersebut. Jadi ada ilmunya dan ada pula realitasnya. Ilmu itu ternyata mewakili sebuah realitas. Saya jadi yakin bahwa Al Qur’an itu adalah dari Allah, dan Muhammad SAW adalah memang Rasulullah.

Alhasil saya bisa pulang kerumah dengan lengkap dan utuh, walau kadang-kadang saya ada TELMInya juga. Sebab adakalanya ilmu dan wejangannya sudah saya dapat, tapi realitas keadaan dan suasananya baru saya pahami beberapa jam kemudian, atau beberapa hari kemudian, atau bisa pula beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Tapi kegagalan itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena memang bukan Beliau kok yang berhak untuk mengajari saya. Hanya Allah lah yang berhak mengajari dan menuntun saya untuk memahami apa-apa yang tidak saya ketahui.

Dengan Beliau, Al Qur’an Al Hadist itu tidak ditafsirkan atau tidak dibahas panjang lebar. Ilmu itu tidak dibahas menurut tafsiran imam ini, imam itu, ulama ini ulama itu. Tidak dibahas sanadnya, tidak dibahas fiqihnya, tidak mutar-mutar nggak karuan dalam permainan kata dan kalimat. Sebab Al Qur’an itu memang hanya memuat hal-hal yang sederhana saja. Al Qur’an adalah BENIH ILMU. Bahwa apapun ayatnya, kita akan selalu dibawa untuk MEYAKINI atau MENGIMANI ALLAH. Kalau tidak beriman kita akan hidup sengsara didalam alam kepedihan, atau sebaliknya kalau beriman kita akan hidup didalam alam kesukacitaan dan berkelimpahan.

Selanjutnya kita tinggal melaksanakan saja satu AMAL ke AMAL berikutnya sebagai tanda bahwa kita memang sudah beriman kepada Allah. Untuk mengetahui amal apa yang baik dan benar, ya… kita lihat saja amal seperti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau dulu. Kita lihat beberapa Al Hadist saja dulu. Kita nggak perlu harus hafal ribuan hadist dulu untuk beramal itu. Sebab MUATAN Al Hadist itu juga sangat sederhana sekali kok. Al hadist itu memberi tahu kita bagaimana amal atau perbuatan Rasulullah untuk memupuk keimanan Beliau kepada Allah; bagaimana Beliau berbuat baik kepada sesama manusia sehingga orang-orang percaya bahwa Beliau memang adalah Rasulullah; bagaimana Beliau memperlakukan alam dengan santun; dan bagaimana cara-cara Beliau menyelesaikan berbagai problematika hidup dizaman Beliau dulu. Al Hadist itu sungguh hanya memuat hal-hal yang manusiawi sekali. Nah…, kita tingal lakukan saja hal-hal yang manusiawi itu SATU PERSATU sesuai dengan KEMAMPUAN kita dan ZAMAN kita sekarang.

Kalau kebanyakan kita kan nggak begitu, walau kita seringkali membaca Al Qur’an namun kita tidak sampai TERBAWA masuk ke wilayah IMAN dan YAKIN kepada ALLAH. Kita juga seringkali membahas Al Hadist sampai berjam-jam, namun kita nyaris tidak melakukan apa-apa untuk memperkaya peradaban dizaman kita. Kita ada dan hidup dizaman sekarang, namun kita seperti tiada. Kita seperti entah sedang berada dimana…

Demikianlah…, berbilang hari dan tahun berlalu. Satu persatu KEADAAN demi KEADAAN, SUASANA demi SUASANA yang mewakili AYAT PERAYAT didalam Al QUR’AN, seperti menyata. Misalnya, untuk sepotong ayat Al Qur’an tentang kata IMAN kepada ALLAH saja, yang dulunya saya sangka akan sangat begitu sulit untuk saya dapatkan dan pahami maknanya, ternyata memahami dan memaknai kata IMAN itu sama mudahnya dengan memahami dan memaknai kata KAFIR atau TIDAK IMAN.

Ya…, ternyata untuk BERIMAN dan TIDAK BERIMAN (KAFIR) kepada Allah itu sama mudahnya. Karena masing-masing kata itu punya KEADAANNYA sendiri-sendiri. IMAN punya KEADAANNYA sendiri dan KAFIR juga punya KEADAANNYA sendiri. Jadi untuk beriman atau tidak itu hanya dan hanya ada dua keadaan saja, yaitu KEADAAN IMAN dan KEADAAN KAFIR. Namun dua keadaan itu tidak akan pernah bisa bersatu sepanjang masa. Kitapun ternyata tidak bisa pula hidup dikedua keadaan itu sekaligus. Kita hanya bisa hidup dalam suasana kafir saja atau dalam suasana beriman saja pada waktu tertentu. Hanya satu saja pilihan kita dari dua keadaan itu pada suatu saat tertentu. Keadaan Beriman saja ATAU Keadaan Kafir saja.

Atau kalau didalam otak kita kata “kafir” itu sangat menakutkan dan sadis amat, kata itu bisa kita ganti dengan kata “tidak beriman”, atau “ragu-ragu”, atau “was-was”. Walaupun kata-kata itu berbeda, tapi keadaannya tetap SAMA, yaitu TIDAK YAKIN. Jadi tidak ada itu yang namanya separo iman dan separonya lagi was-was atau ragu-ragu. Kita tinggal nyemplung saja kedalam suasana IMAN atau masuk kedalam keadaan KAFIR (atau TIDAK YAKIN).

DERR…, tiba-tiba saja kita sudah nyemplung berada dalam keadaan IMAN kepada Allah yang sangat pekat dan penuh dengan rasa SUKACITA dan BERKELIMPHAN. Atau DESS…, tiba-tiba saja sudah tercebur kedalam keadaan KAFIR, TIDAK IMAN, RAGU-RAGU, WAS-WAS kepada Allah yang akibatnya adalah hidup dan kehidupan kita akan dipenuhi oleh rasa KEPEDIHAN dan KESEMPITAN.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Dengan bekal ilmu “bingung dan merasa tidak bisa” seperti itulah yang menyebabkan munculnya dengan subur orang-orang atau kelompok-kelompok, yang kita anggap bisa membuat kita beriman kepada Allah. Tanpa orang-orang atau kelompok-kelompok tersebut, kita pikir, kita tidak akan mungkin atau tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah. Makanya dengan semangat 45 kitapun mengikuti pengajian demi pengajian, pelatihan demi pelatihan, dzikir khusus demi dzikir khusus yang dibimbing oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut.

Apalagi pada pelatihan pertama bonusnya ada, yaitu ada perubahan yang sangat berarti yang kita dapatkan setelah kita mengikuti cara-cara tertentu dari mereka itu. Misalnya bagi seseorang yang sakit bisa merasa sembuh seketika setelah dia dido’akan atau meminum air yang telah dido’akan oleh seseorang. Dengan itu kita seakan-akan bisa merasakan sebuah metamorphosis spiritual karena ada bantuan dan peran dari mereka yang kita anggap bisa membantu kita.

Akan tetapi kesalahan umum yang kita lakukan kemudian adalah bahwa untuk besok-besoknya, saat kita sendirian dirumah, kita tidak bisa lagi mengulangi capaian kita seperti saat kita dido’akan atau dibantu oleh orang lain sebelumnya. Ada sebuah ketidakpercayaan kita terhadap diri kita sendiri. Bahwa tanpa peran orang tersebut kita tidak akan pernah bisa mengulangi keberhasilan kita tempo hari.

Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, dengan sangat cepat orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut sudah berada dipuncak menara gading sebuah kepercayaan. Tiba-tiba saja penghormatan dan pengkultusan kita terhadap mereka jadi begitu tingginya, sehingga fungsi merekapun kemudian berubah menjadi fungsi AVATAR atau PERANTARA. Mereka kita anggap sebagai seorang “MAHA GURU”, MURSYID. Seorang yang punya peran yang sangat besar atas keberhasilan perkembangan rohani kita untuk masa-masa mendatang. Seakan-akan ada mereka diantara kita dengan Allah. Tanpa peran serta mereka, seakan-akan Allah akan sangat sulit kita jangkau.

Tanda-tanda utama bahwa kita telah mengkultuskan seseorang menjadi mursyid atau avatar kita adalah saat kita punya masalah, seketika itu juga kita cenderung untuk minta tolong, atau minta didoakan kembali oleh Sang Guru tersebut agar masalah kita itu segera lenyap dari hadapan kita. Kita tidak percaya diri untuk langsung menghadap dan berdo’a kepada Allah. Kita lalu datang kehadapan Sang Guru dalam keadaan rohani yang sempit dan mengecil. Seakan-akan keadaan rohani jauh berada dibawah rohani Sang Guru. Sehingga apapun kata Sang Guru akan kita lakukan dengan membabi buta. Secara psikologis, keadaan rohani yang seperti ini akan sangat mudah untuk dipengaruhi. Persis seperti orang yang siap untuk dihipnotis.

Tambahan pula, karena hasilnya juga ada, dimana keadaan kita berubah, kita menjadi sedikit lebih tenang, masalah kita seakan-akan sudah teratasi, dan sebagainya, maka kepercayaan kita akan menjadi semakin kuat bahwa hanya dan hanya atas adanya peran Sang Guru yang sangat besarlah yang menyebabkan kita baru bisa beriman kepada Allah. Dan kepercayaan seperti itu terjadi disetiap saat, disetiap waktu. Tanpa kita mengingat dan mengikatkan kesadaran kita kepada Sang Guru sebelum kita melakukan aktifitas agama, rasa-rasanya kita tidak akan pernah percaya diri untuk bisa beriman kepada Allah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: