Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2010

Waktu itu ahad tanggal 21 Mei 2006, jam 03:15 pagi waktu Cibubur. Saya dibangunkan kembali dengan mesra oleh Sang Maha Meliputi dari tidur saya yang hanya sekita 3 jam. Pagi itu adalah hari kedua saya bersama sahabat-sahabat saya dari hampir seluruh pelosok Indonesia yang berjumlah 300 orang berkumpul di Cibubur dalam rangka TOT (training of Trainers) pelatihan shalat khusyu’. Acara tersebut langsung dipimpin oleh Ustadz Abu Sangkan.

Pada hari pertama, sabtu, acara molor sampai dengan jam 23:00 malam, dan kemudian dilanjutkan lagi dengan diskusi ringan bersama dengan beberapa orang teman saya. Sehingga sekitar jam 24:00 barulah saya bisa masuk ke kamar penginapan sederhana yang ada di bumi perkemahan Cibubur itu.

Kesan saya pada hari pertama tersebut masih biasa-biasa saja. Cuma ada alunan musik yang dibawakan oleh sekelompok anak muda yang lirik, iramanya dan dayanya agak sedikit menyentakkan kesadaran saya.

Namun pada minggu pagi tersebut, tiba-tiba saja menyadari seperti ADA yang mengalirkan kesadaran kedalam diri saya. Dengan kesadaran itu saya menjadi seperti bisa melihat, mendengar, bergerak, dan juga “tahu” tentang keadaan saya dan sekeliling saya. Lalu saya perhatikan lagi…, ada daya kehendak yang mendorong saya untuk segera mandi dan berwudhu untuk kemudian daya itu mendorong saya pula agar saya segera ke aula tempat dimana acara TOT itu dipusatkan.

Di aula tersebut saya menyadari bahwa mata saya seperti dialiri rasa melihat sehingga saya bisa melihat puluhan atau mungkin ratusan orang sedang tunduk, sedang sujud, sedang berdiri dengan tadarru’ dalam sebuah ritual shalat tahajud yang mereka lakukan sendiri-sendiri. Ya…, mereka secara sendiri-sendiri sedang melakukan dialog dengan Tuhan mereka.

Saya didorong untuk mengamati sejenak suasana masing-masing orang yang sedang berada diruangan itu. Ada yang tersujud lama seperti enggan untuk bangun kembali, ada yang sedang terisak-isak dalam rukuknya yang panjang, ada yang sedang berdiri tenang seperti tengah menghadap kepada Wajah yang sangat dihormatinya, dan ada pula yang tengah duduk tertunduk diam dengan mata bersimbah air mata. Namun saat saya amati puluhan dada tersebut, ada sebuah kesamaan diantara kesemua mereka itu. Dada mereka tengah berguncang hebat dalam kerendahan hati tiada tara. Dada mereka sedang meleleh luruh dalam ketiadaan.

Lalu saya seperti di dorong pula berdiri untuk shalat tahajud barang dua rakaat, dan kemudian witir satu rakaat. Suasana shalat sayapun hanya seperti yang biasa saya lakukan saja. Ada suasana ketundukan, ada suasana kerendahan hati yang sudah tidak memunculkan tangisan lagi. Dan setelah itu saya tenggelam dalam aktifitas rohani untuk mengamati dan merasakan suasana-suasana yang sedang mengalir kedalam dada-dada hamba yang tengah asyik dengan Tuhannya. Waktupun menjalar dengan pasti menuju fajar.

Sekita jam 04:35, saya berdiri untuk menyuarakan Azan subuh. Saya berdiam diri sejenak, saya tundukkan lagi hati saya serendah-rendahnya sambil mohon izin kepada Allah, yang kalau dibahasakan dalam kalimat-kalimat adalah:

“Ya Allah…, izinkan saya mengundang hamba-hambamu untuk datang menghadap-Mu dalam shalat subuh ini, izinkan saya mengundang semuanya untuk mereguk kebahagiaan.

Ya Allah…, sebenarnya Engkaulah yang tengah mengundang hamba-hamba-Mu untuk datang kepada-Mu dalam shalat ini. Engkau hanya meminta saya untuk menyiapkan lidah saya, menyiapkan kerongkongan saya, menyiapkan paru-paru saya untuk Engkau aliri dengan Kehendak-Mu memanggil-manggil umat manusia agar mereka mau menuju bahagia”.

Lalu saya arahkan kesadaran saya kepada Allah, Sang Maha Besar. Dan kemudian meluncurlah kesaksian saya dalam bentuk kalimat:

Allahu Akbar…, Allahu Akbar….!.
Allahu Akbar…, Allahu Akbar….!.

Nada suara saya dalam kalimat takbir tersebut tidak tinggi dan tidak rendah, tidak cepat dan tidak lambat, juga tidak banyak cengkokan yang mendayu-dayu. Tapi saya merasakan adanya kebeningan dalam suara saya itu. Sebening suasana yang tiba-tiba merambat memasuki dada saya dan dada-dada teman yang lainnya. Isakan lirih dan satu-dua tetes airmata peserta mulai ada menetes.

Lalu saya hadapkan wajah saya ke Wajah, Sang Maha Besar, dan saya ungkapkan kesaksian saya dengan kalimat:

Asyhadu an laa ilaha illallah…
Asyhadu an laa ilaha illallah…

Lalu mata saya meleleh…, lalu mata peserta meleleh…, lalu mata alam semesta meleleh…

Kemudian saya ungkapkan kesaksian saya bahwa ternyata apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah benar, apa-apa yang diberi tahu Rasulullah adalah benar. Wahai saudara-saudaraku, benarlah Beliau adalah Rasul Utusan Allah…, Sungguh…!. Karena saat kita bersaksi terhadap Tuhan dihadapan Tuhan sendiri, ternyata Tuhan menyambut dan membalasnya dengan sangat mesra: benar wahai hamba-Ku…!!!, laa ilaha illa ana…, dan Muhammad adalah Rasul-Ku. Maka sayapun buru-buru mengiyakannya dalam sebuah kalimat persaksian, benar ya Allah…, Muhammad adalah Rasulullah:

Asyhadu anna Muhammadan rasulullah…
Asyhadu anna Muhammadan rasulullah…

Gumpalan kebahagian mulai menyelinap memenuhi dada saya. Karena saya bersaksi kepada Tuhanku tentang Diri-Nya Sendiri, dan kemudian bersaksi pula dihadapan Tuhan bahwa memang Muhammad adalah Rasulullah, Utusan Tuhan…!.

Dan…, subhanallah, ternyata kebahagian itu bukanlah hanya milik saya sendiri. Para peserta juga mulai merasakan kebahagiaan itu mengalir dalam isakan tangis mereka yang bersahutan-sahutan. Bahagia itu mengalir deras…, mengalir mengisi lorong-lorong hati kami yang selama ini kadang masih saja membeku, walau sudah berkali-kali di ingatkan oleh Allah : Nikmat-Ku yang bagaimana lagi yang ingin kalian mendustakannya…!.

Lalu kuteriakkan dengan lembut dan mesra:

Hayya ‘alashshalah…
Hayya ‘alashshalah…
Hayya ‘alal falah…
Hayya ‘alal falah…

Mari wahai sahabat-sahabatku…, kita shalat bersama-sama, kita rukuk bersama-sama, kita sujud bersama-sama dihadapan Tuhan. Karena di dalam rukuk itu ada bahagia, disaat sujud itu ada bahagia, Sekali lagi…, di dalam shalat itu nanti ada bahagia yang melebihi bahagia apapun juga, bahkan lebih bahagia dari tidur…

Asshalatu khairum minan naum…
Asshalatu khairum minan naum…

Dan semua pesertapun siap-siap untuk bermandikan bahagia…

Allahu Akbar…, Allahu Akbar…!.
laa ilaha illallah…!.

Sungguh Allah Sang Maha Besar…, tiada lagi sumber bahagia yang melebihi-Nya … !.

Lalu saya dan sahabat-sahabat saya menyiapkan diri untuk shalat berjamaah dengan sebaik-baiknya. Sebagai pembuka suasana, kami masing-masing memulainya dengan shalat sunnah fajar dua rakaat. Masing-masing kami mencoba untuk menggali lebih kuat lagi bahagia yang tadi telah mulai masuk menjalar di dalam dada kami. Sungguh pribadi sekali shalat ini rasanya…

Selang berapa saat…, ada sentuhan lembut di pundak saya…. Saya menengok, dan ternyata sahabat dan guru saya Abu Sangkan mempersilahkan saya untuk menjadi imam shalat shubuh berjamaah. Saya mencoba menolaknya dan mempersilahkan beliau yang jadi imam. Tapi dengan lembut beliau mendorong dan mempersilahkan saya untuk jadi imam.

Beliau lalu iqamat…!. Lembut sekali…, dan dahsyat sekali.

Setelah meluruskan wajah saya ke Wajah Allah, lalu saya puja kebesaran-Nya yang meluas meliputi segala apapun juga.

Allahu Akbar…,

Dan suasanapun mulai berubah. Ada rasa bahagia dan haru yang mulai datang menyelimuti dada saya, menyelimuti otak saya, menyelimuti semua yang ada diruangan itu, bahkan menyelimuti seluruh bumi dengan segala isinya. Baru beberapa ayat saja dari surat al fatihah yang saya baca dihadapan-Nya, tiba-tiba saja mata saya sudah meleleh, telinga saya sudah meleleh, otak saya sudah meleleh, dada saya sudah meleleh, suara saya sudah meleleh, bahkan nafas saya juga ikut-ikutan meleleh. Ruangan shalat itu seperti dipenuhi oleh lelehan diri-diri lainnya dalam sebuah gerak harmoni shalat yang menggetarkan seluruh sendi-sendi tulang.

Sebuah selimut getaran keheningan yang pekat menyapa, membawa, dan menarik-narik kesadaran saya untuk merunduk-rundukkan wajah kepada-Nya. Satu dua ayat keluar dari mulut saya dengan agak tertahan, tergetar, dan kadang nyaris hanya berupa keluhan saja. Ya…, saya mengeluhkannya nyaris dengan diam

Iyyaka na’budu wa iyya kaa nasta’iin…

“Duh Tuhanku…, Tuhanku…, tuntun saya melalui persembahan ini”, ungkap saya dengan suara yang tergetar. Dan ternyata keluhan saya itu mampu pula menembus jiwa sahabat-sahabat saya yang juga tengah berenang dalam lelehan dirinya masing-masing.

Tiba-tiba, saat membaca ayat: “Huwaaj tabakum wama ja’ala ‘alaikum fiddiini min haraj”, saya begitu bahagia. Karena Allah telah memilih saya dengan tidak memberatkan agama bagi saya. Agama yang tidak menyisakan sedikitpun kesempitan didalamnya. Agama Nabi Ibrahim. Saya begitu berbahagia saat Allah berkenan memanggil saya santun sekali dengan sebutan “wahai muslimin…”, “Hua samma kumul muslimina min kablu”, sungguh mesra sekali. Seperti juga Dia telah memangil umat-umat terdahulu yang sangat Dia cintai dengan sebutan tersebut. Kebahagian yang amat sangat tambah mengalir deras di dalam dada saya saat saya menyadari bahwa Rasulullahpun ternyata berkenan untuk menjadi saksi atas diri saya, “wafi haadza li yakunarrasuulu syahidan ‘alikum…, ‘alakum…, ‘alikum, bagimu semua wahai muslimin…!”. Dan sayapun lalu menyiapkan diri saya untuk menyampaikan kesaksian saya ini kepada segenap manusia, siapapun juga: “wataku nu syuhadaa a ‘alan naas…”.

“Aqiimushshalah…, dirikanlah shalat wahai sahabat-sahabatku, wahai seluruh umat manusia, dirikanlah…!!”. Lalu : “wa aatuzzakah…”, dan tunaikanlah zakat…!. Sungguh pada keduanya itulah ada bahagia yang teramat sangat.

Agar bahagia itu tidak buru-buru pergi menghilang dari dada saya, maka buru-buru saya memegang Tuhan dengan teguh, Saya berpegangan dengan kuat kepada Sang Perkasa. Lalu saya ajak pula peshalat lainya untuk memegang teguh Allah, jangan sampai lepas lagi, “wa’tashimu billah…”. Karena ternyata memang hanya Allahlah yang mampu melindungi dan menolong kita. “Hua maulakum…, fani’mal maula wani’man nashiir…”. Sungguh…, Dia sajalah Sang pelindung dan penolong kita yang terbaik. (al Hajj 78)

Ya waalii…, ya waalii…, Wahai Wali-ku, Wahai Pemimpin-ku, Wahai tempatku berwakil.

Saya terdiam sejenak…, tuma’ninah, mungkin itu hanya barang sehirupan nafas lamanya. Akan tetapi dalam waktu sesingkat itu, saya ternyata tengah dipahamkan oleh Allah, yang kalau dirangkai menjadi kalimat-kalimat masih saja sangat jauh dari suasana dan keadaan yang sebenarnya:

“Kau lihatlah nafasmu wahai hamba-Ku. Lihatlah…, begitu patuh dan penurutnya dia kepada-Ku. Ku-kuncupkan paru-parumu sehingga udara bisa keluar dari dalamnya. Dan lihatlah pula, Aku juga yang mengembangkan paru-parumu itu kembali agar dzat kehidupanpun, oksigen, bisa masuk kedalamnya. Andaikan Aku menahan dan memegang paru-parumu itu barang beberapa saat, tidak ku izinkan paru-parumu kembali menguncup dan mengembang, tepatnya tidak Ku-kuncupkan dan tidak Ku-kembangkan, maka saat itulah kau baru sadar bahwa sebenarnya Aku lah yang menggerakkan nafasmu itu dengan rahmat-Ku.

Cobalah perhatikan…, betapa patuhnya nafasmu itu kepada-Ku. Dan lihat pulalah…, betapa sibuknya Aku beraktifitas mengaturnya. Mengatur nafas seluruh umat manusia.

Cobalah kau wahai hamba-Ku untuk patuh seperti patuhnya nafas itu…!. Rukuklah wahai hamba-Ku…, Rukuk kepada-Ku saja…!!, jangan rukuk kemana-mana, Warka’uu rabbakum…!”.

Lalu saya amati nafas saya. Ah…, betapa patuhnya sang nafas saya mengikuti kehendak dari Sang Penggeraknya. Betapa merendahnya sang nafas dihadapan Tuhan. Sang nafas saya sudah ikut kehendak Tuhan dengan rela dan ridha selama bertahun-tahun lamanya. Sebuah kepatuhan total.

Sayapun merunduk malu…, lalu saya mencoba menyelaraskan kesadaran saya dengan pergerakan nafas saya. Begitu lembut nafas itu, begitu teratur nafas itu, begitu luas nafas itu…, seluas alam semesta. Dan dengan merendah-rendah sayapun ikut bersama alam semesta untuk rukuk kepada-Nya. Sayapun tunduk dan diam…

Suhnanallah…, subhanarabbiyal ‘adhzim…, ternyata alam semesta beserta semua isinya hakekatnya tunduk dan rukuk di hadapan Tuhan Yang Maha Agung. Semua meleleh dihadapan Tuhan, semua bersandar kepada Tuhan, semua berada dalam genggaman gerak tangan Tuhan. Dan…, sebenarnya saat itu juga saya ingin terus tunduk yang dalam melalui sebuah sujud persembahan kepada Tuhan. Saya ingin sujud merendah dan mendekatkan diri di hadapan Wajah Tuhan. Sungguh… saya ingin… sujud !. Tapi dengan sangat terkejut saya menyadari bahwa masih ada bersit-bersit kesombongan yang menyelimuti dada saya. Masih ada angkuh yang bergelantungan di dalam dada saya itu, melambaikan tangan agar saya mengikutinya. Patutkah diri dengan dada yang sombong dan angkuh ini sujud dihadapan Tuhan…!. Tidak…!. Tidak patut.

Lalu sayapun kembali berdiri…, merendah-rendah menghadapkan wajah saya ke Wajah-Nya, dan bergumam dengan tadarru’: “Rabbana laka al hamdu…, Duh Tuhan-ku, milik-Mu semua pujian ini, milik-Mu semua kesombongan dan keangkuhan ini. Bahkan pujian yang seluas langit dan bumi dan yang lebih dari itupun adalah milikmu..!. Milikmu…!, laka.., laka al hamdu… mil ussamawati wamil ul ardhi wamil umaa syi’ta min syaiin ba’du…!..

Biasanya…, walau selama ini saya sudah berkali-kali mengucapkan ungkapan penyerahan seperti ini di dalam shalat saya, akan tetapi tetap saja masih ada rasa sombong dan angkuh itu tersisa di sudut-sudut dada saya…!.

Namun di seujung waktu fajar ini, saya seperti dipahamkan bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang diizinkan Allah untuk sujud kepada-Nya selama dia masih memendam kesombongan dan keangkuhan. Ya…, sujud kepada Allah bukanlah untuk orang-orang yang angkuh dan sombong. Tidak…, karena kesombongan itu adalah selendang Allah..!.

Lalu…, andaikan si manusia yang angkuh dan sombong itu masih memaksakan diri untuk sujud kepada Allah, maka hasilnya sungguh memiriskan hati. Orang tersebut dengan sangat mengejutkan akan mendapatkan amunisi (daya) yang sangat hebat untuk bisa menjadi lebih sombong dan angkuh dihadapan sesama manusia. Sehingga hasilnya adalah kesengsaraan dan penderitaan bagi orang lain.

Misalnya…, saat dia menjadi pemimpin, maka hasilnya adalah pemimpin yang menyengsarakan rakyatnya sendiri, dan juga menghancurkan apa-apa yang dia pimpin. Saat dia menjadi rakyat jelata, maka dia hanya akan mementingkan dirinya sendiri. Saat dia menjadi ilmuan, maka ilmunya itu tidak mampu mewujudkan rahmat dan kesejahteraan bagi sesama umat manusia. Bahkan saat dia berdo’a, maka do’anya itu juga hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.

Suasana seperti ini sangat mirip, kalau tidak mau dikatakan sama, dengan hasil yang diraih oleh iblis. Iblis sujud dan tunduk kepada Allah…, tapi dia membawa kesombongannya terhadap Adam. Saat mau sujud, iblis masih membawa pengakuannya: “Aku lebih baik dari Adam…, Ya Rabbi… beri saya daya dan kekuatan agar saya bisa menyesatkan Adam dan keturunannya yang telah Engkau mulyakan. Padahal Adam hanyalah dari tanah, sedangkan saya Engkau ciptakan dari api…!”, ungkap iblis dalam kesombongannya. Ya…, iblis sujud kepada Allah di dalam keangkuhan dan kesombongannya terhadap Adam.

Dan hasil dari sujudnya iblis dalam kesombongannya itu kepada Tuhan sungguh menakjubkan. Dia seperti mendapatkan daya tiada habis-habisnya untuk menyesatkan umat manusia. Sehingga kebanyakan manusia menjadi tertatih-tatih dalam menghadapi gempuran iblis. Umat manusia seperti selalu dibuat was-was oleh iblis agar bisa menjadi orang-orang yang sombong pula seperti sombongnya iblis terhadap Adam. Lalu hasilnya bisa kita lihat: Si A merasa dan mengaku lebih baik dari si B. Begitu juga si B merasa lebih baik dari si C. Dan seterusnya begitu. Sehingga setiap orang kemudian merasa lebih baik dari yang lainnya. Lalu orang yang saling merasa lebih baik itu akan saling sikut sana sikut sini…, Subhanallah…, dahsyat sekali akibatnya.

Tapi anehnya…, semua orang tahu itu. Bahwa kita tidak boleh sombong, bahwa kita tidak boleh angkuh saat berhadapan dengan siapapun juga. Kita tahu persis tentang larangan itu…!. Namun dengan sangat mengherankan kita seolah-olah tak berkutik untuk menolaknya. Disana-sini kita masih saja dialiri oleh rasa angkuh dan sombong itu. Setiap kali kita berusaha untuk menghilangkan kesombongan itu, ee… yang muncul malah kesombongan-kesombongan kita berikutnya. Bagaimana kita akan bisa menghilangkan kesombongan dan keangkuhan itu, wong semuanya itu adalah anugerah yang memang diberikan Allah khusus buat kita umat manusia ini.

Aneh memang…, disatu sisi kita dilarang untuk sombong dan angkuh, karena angkuh dan sombong itu adalah selendang Allah. Akan tetapi disisi lain kita diberikan anugerah pengakuan oleh Allah yang memberikan ruang bagi kita untuk saling merasa sombong dan angkuh satu sama lainnya. Ah…, bagaimana ini ???…

Lalu saya dipahamkan Allah, bahwa hanya Allahlah yang bisa mengambil kesombongan itu dari dalam dada kita dan kemudian menggantinya dengan rasa rendah hati…!. Sekali lagi saya merendah dihadapan Tuhan. “Rabbana laka al hamdu…”, lalu saya diam sejenak.

Dengan seketika saya menyadari bahwa dada saya secara perlahan meleleh, mata saya meleleh, hidung saya meleleh, jantung saya meleleh, tulang saya meleleh, semua meleleh. Dan tiada lain yang dapat saya lakukan kecuali hanya merunduk, saya sujud, saya merendah, saya mendekat kepada Tuhan saya. Wasjud… waqtarib…. Ya…, saya sujud kepada Tuhan saya. Sujud…!.

Buat sesaat saya tidak mau berkata-kata, saya hanya diam dalam sebuah liputan suasana yang sungguh menggetarkan. Lalu dengan tadarru’, saya mencoba memuji Wajah-Nya. Tapi yang keluar hanya sebuah keluhan pendek, hahh…!, saat saya dibawa keruangan yang rendah tak terkira. Disana hanya ada segala sesuatu yang meleleh. Lelehan itu mengalir bersama air mata saya ditengah kebahagian saya memandang Wajah Allah yang sangat mempesona. Sungguh sujud ini merupakan sujud termanis yang pernah saya alami.

Dalam kekaguman itu, saya puja Wajah-Nya dengan santun dan lembut. “Subhanaka…, Subhanarabiyal a’la…”, puja saya kepada-Nya berulang kali. Sampai akhirnya Dia berkenan menyambut pujaan saya itu dengan Gagah Perkasa dan penuh Keangkuhan pula: “subhani…, subhani…, memang Aku sajalah sang Maha Suci. Mintalah kepada-Ku, wahai hamba-Ku…, mintalah kepada-Ku niscaya Aku akan meresponnya…!. Iblis saja kalau berdo’a kepada-Ku Aku kabulkan, apalagi engkau wahai hamba-Ku. Karena memang Aku adalah Sang Maha Merespon Doa…. Mintalah…!”.

Lalu saya bersimpuh saja duduk dihadapan-Nya. Saya sampaikan sepatah dua patah do’a yang muatannya sangat pribadi sekali. Hanya saya dan Allah sajalah yang tahu apa muatan do’a saya itu. Dan hanya saya dan Allah jugalah yang tahu apa jawaban dan respon Allah atas do’a-do’a singkat saya tersebut. Hanya saja ada sebuah kebahagian yang teramat sangat yang mengalir di dalam dada saya, saat menyadari bahwa ternyata sekarang saya punya Tuhan Yang begitu mempesona, Tuhan Yang begitu mendengarkan dan merespon do’a-do’a saya.

Hal ini sungguh beda sekali dengan do’a-do’a saya diwaktu yang lalu. Dulu, saat saya bermohon agar diampuni Allah, saya hampir tidak pernah merasakan apa respon Allah atas do’a saya itu. Saat saya mohon dirahmati Allah, saya hampir tidak pernah merasa pasti rahmat seperti apa yang diberikan Allah kepada saya. Saat saya mohon diberi hidayah pengetahuan, diberi rezki, di beri kesehatan, diberi ketinggian derajat, diberi maaf, sungguh saat itu saya hampir saja tidak merasakan apakah Allah meresponnya atau tidak. Do’a saya dulu itu seperti do’a yang ditujukan kepada benda mati. Tiada “rasa berbalas” sedikitpun yang bisa saya tangkap.

Tapi di dalam shalat saya di pagi ahad itu, rasa berbalas itu gelombang demi gelombang datang mengaliri dada saya. Membahagiakan sekali. Setiap kata puja, puji, do’a, dan harapan saya direspon Allah dengan kecepatan yang sangat mengagumkan. Bahkan respon Allah lebih cepat dari apa-apa yang saya lakukan. Mengagumkan sekali. Saat saya hanya datang memuja-Nya sejengkal, Dia membalas puja saya itu sehasta. Saat saya berjalan mengantarkan puji dan harapan, Dia membalasnya dengan berlari. Lebih cepat Dia dalam membalasnya. Sehinga tiada lain yang bisa saya lakukan, kecuali hanya mengulangi lagi menyembah-Nya dalam sujud saya. Mengulang lagi berdiri merendah dihadapan Wajah Tuhan, ruku, sujud, berdo’a, dan sujud kembali di rakaat yang kedua.

Walaupun rakaat kedua hanya pengulangan-pengulangan gerak dan do’a seperti rakaat sebelumnya saja, akan tetapi suasana yang muncul tidaklah membosankan. Malah intensitas suasana yang muncul meningkat saat demi saat.

Dipenghujung shalat subuh itu, saya dipahamkan tentang sebuah perosesi hubungan mesra antara hamba dengan Tuhannya dan keakraban berbalas do’a antara sesama hamba Tuhan dihadapan Tuhan sendiri.

Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan, adalah bagi Allah…

Dalam posisi ini, kembali lagi saya didudukkan dalam posisi menyadari penuh bahwa segala anugerah yang mengalir kedalam dada saya, kedalam dada alam semesta adalah semata-mata Anugerah Wajah Yang Sangat Terhormat, Wujud yang berkelimpahan Berkah, Diri Yang dari-Nya segala Kebahagiaan dan kebaikan. Dialah Allah…

Semoga keselamatan tetap bagimu, wahai Nabi, demikian juga rahmat Allah serta berkahnya buatmu…
Semoga keselamatan juga tetap bagi kami dan bagi hamba-hamba Allah yang shaleh…

Inilah posisi saling mendo’akan antar sesama jiwa-jiwa yang sedang berenang di samudera luas ketenangan yang Allah telah berkenan memanggil semuanya kesisi-Nya. Irji’I ila rabbiki radhiyatam mardiyyatan, fad khulii fi I’badii, wad khuli jannatii….

Dan kemudian jiwa-jiwa tersebut bersama-sama pula untuk saling mengungkapkan kesaksian bahwa: Bukankah INI Allah kita wahai jiwa-jiwa yang tenang…?. Lalu bergemuruhlah pembenaran akan adanya suasana saksi menyaksikan antara hamba dan Tuhan:

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau ya Allah…

Dan langkah berikutnya, atas segala yang saya alami dan saksiakan, maka tidak mungkin tidak bagi saya untuk tidak mengungkapkan kesaksian saya atas kebenaran Muhammad sebagai Rasul Allah:

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Mu…

Lalu saya lanjutkan saja permohonan saya kepada Allah untuk Nabi Muhammad dan keluarganya, serta untuk Ibirahim dan keluarganya;

Wahai Allah, Salam sejahtera buat Muhammad…, dan salam sejahtera pula buat keluarga Beliau…
Sebagaimana Engkau juga telah memberikan keselamatan dan kesejahteraan kepada Ibrahim dan keluarganya…
Dan berilah berkah kepada Muhammad berserta keluarga Beliau, sebagaimana Engkau juga telah berikan berkah kepada Ibrahim beserta keluarga Beliau di penjuru alam semesta…
Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia…

Dan selanjutnya kita tinggal saling menebarkan kesejahteraan, rahmat, dan berkah saja lagi antara satu sama yang lainnya…

Assalaamu’alakum Warahmatullahi wabarakaatuh…, Ini kuberikan buatmu keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah yang ada padaku…!!!.
Assalaamu’alakum Warahmatullahi wabarakaatuh…, Ini kuberikan buatmu keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah yang ada padaku…!!!.
Assalaamu’alakum Warahmatullahi wabarakaatuh…, Ini kuberikan buatmu keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah yang ada padaku…!!!.
“alaikum…, ‘alaikum…, ‘alaikum…, untukmu…, untukmu…, untukmu…!.
Lalu keselamatan, rahmat dan berkah Tuhan itupun bergemuruh memenuhi setiap titik sudut kehidupan untuk kemudian menyapa diri-diri yang mau saling membuka tangannya, yang mau saling membuka otaknya, yang mau saling membuka dadanya, yang mau saling membuka jantungnya untuk menerima semua kucuran anugerah Tuhan itu…

Rahmatan lil ‘alamin saja sebenarnya …!.

Lalu seiring dengan dzikir matahari, bumi, burung-burung dan tetumbuhan, saya dan anak saya, Karima, duduk di sebuah gazebo yang ada di taman pinggir danau cibubur. Sementara itu teman-teman yang lainnya melakukan olahraga jalan pagi dalam suasana sadar penuh kepada Allah. Dan saat itulah saya diingatkan dan dipahamkan kembali tentang sebuah pemahaman yang dulu di tahun 2002 sangat sulit untuk saya pahami. Tapi pada di pagi ahad tersebut, saya hanya dibuat tersenyum lapang dalam kepahaman tentang:

ANCAR-ANCAR 27 MACAM

1. Tidak ada apa-apa kecuali hanya Diri dengan Rasa. (Rasa itu tanpa batas bilangan dan uraiannya, sedangkan Diri: satu yang tetap abadi). Diatas itu, maksudnya lafal: Laailaaha illallah, Muhammad rasulullah.

2. Kalau si Dadap disentuh, hanya si Dadap sendiri yang merasakan, si Waru dan si Suta tidak ikut merasakan, dan seterusnya. Namun yang demikian itu jangan menjadikan anggapan terhadap adanya Pribadi dua atau tiga. Misalnya: kalau seseorang disentuh jarinya, ya hanya jarinya yang berasa, anggota badan yang lain tidak ikut merasakan, dan seterusnya. Berhubung karena si Dadap melingkupi rasa yang bermacam-macam serta jelas, apa kemudian si Dadap itu banyak ?. Kan tidak. Yang begitu itu jadikanlah perumpamaan, artinya ciri-ciri 1 tadi.

3. Si Suta bukan si Naya bukan si Karma. Perasaan si Suta bukan perasaan si Naya. Perasaan si Naya bukan perasaan si Karma. Singkatnya: sendiri-sendiri, karena rasa satu dengan lainnya terpisah-pisah. Namun: meskipun rasa itu terpisah-pisah, semua itu adalah perasaan kita sendiri (Pribadi – Aku). Elemen Pribadi itu adalah perasaan Suta serta perasaan Naya, termasuk perasaan Karma. Ibaratnya: orang satu merasakan kepala, merasakan tangan, merasakan lidah, dan seterusnya. Rasakan dengan kesungguhan.

4. Manusia itu bersatu dengan suasana hakiki yang berdiri sendiri, hanya rasa perasaan yang terpisah-pisah. Jadi: bersatu dengan yang melingkupi, namun yang dilingkupi itu terpisah-pisah. Berhubung yang dilingkupi itu sebenarnya tidak ada, maka jika yang dituju adalah hanya yang melingkupi, dirinya sirna. Hanya yang melingkupi yang ada. Bilamana yang dituju dirinya, kehilangan yang melingkupi, namun sebenarnya jelas, yaitu yang disebut silau / khilaf.

5. Yang disebut dengan menggunakan kata Ingsun, Pribadi, diri atau Aku, yaitu yang melingkupi atas semua rasa perasaan, yaitu yang disebut Dzat: wajibul wujud. Yaitu yang tanpa arah dan tanpa tempat, tiap tempat ketempatan. Dia yang lembut tak dapat diambil, namun besarnya memenuhi jagad raya. Yaitu yang tak dapat dibayangkan seperti apa. Yaitu yang abadi tidak berawal tidak berakhir. Yaitu yang beratnya diukur dengan ukuran yang keempat (makrifat). Yaitu yang disebut keadaan yang senyatanya. Yaitu yang tanpa warna dan tanpa rupa, tetapi semua warna macam-macam itu wajahnya. Yaitu yang paling dicintai oleh semua makhluk. Yaitu yang tanpa imbangan tidak ada yang menyamai / menyekutukannya. Yaitu yang dibahasakan lebah merindukan langit yang sepi. Yaitu yang memelihara / mengasuh jiwa. Yaitu yang disebut jagad raya yang sesungguhnya. Yaitu yang berada dipusat hati, menguasai atas batin / hati semua makhluk. Yaitu yang merajai / berkuasa di semua alam. Yaitu yang tidak diluar dan tidak didalam. Yaitu ditengah-tengah / pusat arah. Yaitu yang bersifat dua puluh. Yaitu yang menghidupi tiap-tiap / setiap nyawa yang ada di badan.

Oleh karena itu, jangan lengah dan mengangap mudah / menggampangkan terhadap apa yang kau sebut dengan istilah Aku atau Diri. Kalau salah, yang kau sebut Pribadi itu diri sendiri.

6. Kalau ada pertanyaan: Pribadi itu berwujud atau tidak. Jawabannya demikian: semua ini tidak berwujud, hanya Pribadi yang berwujud.

7. Perkiraan / dugaan (orang) yang belum paham, yang sering disebut dengan istilah aku itu berwujud jirin (orang) dan di dunia ini hanya ada satu, yaitu orang yang menduga tadi. Adapun orang yang lain, walaupun jika menyebut dirinya dengan menggunakan kata aku, dan semuanya sama-sama memiliki rasa perasaan, tetapi semuanya itu tidak dianggap Pribadi (Aku). Walaupun itu, Tuhan juga diangap bukan Pribadi. (Jadi Allah itu dianggap golongan tetangga)

Yang diduga keadaan yang sebenarnya oleh (orang) yang belum mengerti, yaitu: bumi, langit, matahari, bulan, manusia, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya yang terbeber / tergelar semuanya ini.

Masalah mati, lebur, atau berganti wujud: hanya dianggap sudah semestinya begitu, tidak menyebabkan tumbuh pemikirannya kalau yang tergelar itu bukan keadaan yang senyatanya. Walaupun dijelaskan bahwa Tuhan itu tetap abadi dan yang menjadikan / menciptakan keadaan semuanya, namun penerimaan hatinya tetap diangap sebangsa jirim yang makan tempat dan terpisah-pisah seperti halnya manusia, hanya bedanya didunia ini tidak ada yang mirip atas keluhurannya. Dugaan yang demikian itu sebaiknya diubah.

8. Siapa yang mencari kebijaksanaan atau kelebihan, padahal di hatinya senang pada rasa membanding-bandingkan diri, bahwasanya dia itu bijaksana atau mempunyai kelebihan, walaupun nyatanya memang demikian, ya masih menjadi pertimbangan diri, sebab kehilangan Pribadinya, karena terhisap oleh dirinya. Yang demikian itu karena hanya memusatkan perhatiannya pada tegaknya diri, tidak memusatkan perhatiannya pada yang berdiri Pribadi. Selagi memusatkan perhatiannya kepada tegaknya Pribadi, tak akan mau mengakui atas adanya diri, sebab Pribadi itu nyatanya adalah semua dari diri, tidak membeda-bedakan, sebab tanpa perbandingan, jadi salahnya / salah-salah tidak mengakui siapapun, ia mengakui semua diri. Adapun kalau tidak mengakui siapapun, atau mengakui adanya semua diri, sudah pasti lalu hilang kelakuannya dalam hal membanding-bandingkan diri, yang tanpa dituju / disengaja.

9. Segala macam makhluk itu, sesungguhnya meluhurkan Pribadi yang menguasai atas rasa perasaanya. Ya Pribadi itu yang paling disenangi, oleh segala macam makhluk, paling dicintai dan satu-satunya tempat mereka berbakti. Tetapi berhubung makhluk itu tidak waspada (tahu betul) terhadap Pribadinya, akhirnya salah dugaannya, yaitu: diri dikira Pribadi (yang diangap, Pribadi itu dirinya). Hal seperti ini bisa terjadi, sebab membedakan diri dengan Pribadi itu memang sukar.

10. Aku ada didalam badanku, itu salah, yang benar: badanku ono ing Aku. Aku ada disorga atau neraka, itu salah, yang benar: sorga atau neraka ada di Aku. Aku bertempat di dunia yang tujuh, itu salah, yang benar: dunia yang tujuh itu ada di Aku.

11. Yang disebut Aku itu bukan badan, bukan rasa, bukan angan-angan, bukan budi, bukan nyawa. Badan, rasa, angan-angan, budi, nyawa, itu semua jirim, yang dikuasai oleh Aku, adapun Aku itu bingkainya / yang menguasainya.

Berhubung rasa perasaan manusia tidak dapat dipergunakan untuk menyatakan bingkai / penguasa tadi, oleh karena itu kewajiban nyawa-nyawa hanyalah berbakti, menyatu menuju pusat hati. Semua rasa perasaan harus bersatu padu, menyatu menuju ke hati, hanya itulah kewajiban nyawa.

Bilamana nyawa sedang berjalan / mengarah dari lahir menuju ke batin, mau tidak mau: rasa yang tersebar semakin hilang (mati), semakin kuat, semakin banyak yang mati. Maksudnya semakin menjauhi kiblat lahir, mendekati batin. Agar dapat kuat tidak lain karena makin sering digunakan kekuatannya untuk berjalan / mengarahkan (kesadaran) dari lahir menuju ke batin (samadi, tafakur).

Perjalanan / perhatian / kesadaran nyawa dari lahir ke batin tadi, kalau hal itu terus berlangsung, makin lama makin rigan, tidak berat, sebab ditolong oleh kekuatan kehakikian (didorong oleh Pribadi). Pada akhirnya: nyawa tidak menggunakan daya kekuatannya sama sekali, hanya melulu daya kekuatan dari kehakikian, yaitu yang dinamai : ”CENGANG” (tenang dan damai).

12. Selagi rasa perasaan belum hilang / sirna, ya rasa perasaan itu yang dikira Pribadi oleh rasa perasaan. Artinya si rasa perasaan mengaku-ngaku supaya dianggap: Aku. Jadi rasa perasaan manusia itu jelas memang tidak dapat melihat / mengetahui kepada yang menguasainya. Kegiatan merasakan itu akhirnya malah menutupinya. Karena seperti itu halnya, agar dapat manusia melihat / tahu terhadap yang menguasainya: tidak ada jalan lain selain kalau tidak merasakan, yaitu: rasa perasaan kembali kepada yang menguasainya (Pribadi – rasa yang sesungguhnya). Kalau sudah tidak tertutup oleh daya kekuatan rasa perasaan, hanya Pribadi yang ada, di situ baru tahu kepada dirinya, yaitu yang memiliki rasa perasaan, bukan rasa perasaan yang dimilikinya.

13. Si Suta menuju kepusat hatinya sendiri, itu sesungguhnya: Si Suta itu mengarah kepada pusat hatinya manusia sedunia, sebab pusat hatinya si Suta itu juga pusat hatinya semua makhluk. Tetapi begitu sampai pada pusat hati, si Suta sudah tidak ada, diganti oleh Pribadi, yang waktu itu baru menguasai batinnya semua makhluk. (dikatakan: baru terhadap kehakikian tidak awal dan tidak akhir).

14. Tidak ada nyawa yang berdiri sendiri, tentu tergantung pada kehakikian. Kehakikian meninggalkan nyawa juga tidak bisa, kedua-duanya saling menetapi.

Barang yang berdirinya / keberadaannya ditetapkan oleh yang lain, dalam bahasa asing disebut: negatif. Seperti misalnya hijau itu negatifnya daun. Daun negatifnya hijau, kuning atau merah. Begitu juga: kehakikian itu: negatifnya nyawa, nyawa negatifnya kehakikian. Si Suta negatifnya kehakikian, kehakikian negatifnya si Suta.
Si Suta butuh akan kehakikian, sebab keberadaan si Suta berasal dari kehakikian. Adapun kehakikian, walaupun tidak butuh si Suta, tetapi butuh nyawa selain si Suta, sebab kelihatannya negatif. Bingkai mesti membutuhkan yang dibingkainya, (yang menguasai mesti membutuhkan yang dikuasainya), seperti halnya daun yang membutuhkan salah satu dari: hijau, merah, kuning atau putih.

Oleh sebab itu kehakikian itu bingkai dari semua nyawa, manusia tidak perlu mengingat-ingat bagaimana agar dapat berkuasa terhadap alam, berbakti saja kepada Pribadinnya saja. Mungkin dapat terjadi jalannya / kesadarannya nyawa tiba di pusat batinnya, sudah pasti berkuasa atas semua nyawa, sebab negatif.

15. Si Suta tidak dapat melihat / tahu akan kehakikiannya, sebab tertutup oleh penglihatan si Suta. Oleh karena itu tidak dapat mengira-ngira, sebab tertutup oleh angan-angan si Suta. Oleh karena itu tidak dapat merasakan atas kehakikiannya, sebab tertutup oleh perasaan si Suta (panca inderanya). Asal si Suta masih ada, ya tidak dapat melihat. (Yang tidak melihat itu perasaan orangnya). Dia dapat melihat kalau perasaan Suta-nya sudah tidak ada: tanpa bekas, jadi yang melihat tadi bukan si Suta, sesungguhnya: hakikinya.

Meski demikian walaupun andaikata ia bukan si Suta, juga bukan tetanga si Suta, masih tetap dirinya, hanya berbeda tadinya “Nyuta” lalu: sekarang tidak (selesai me-Nyuta). Mengapa demikian, sebab yang namanya si Suta itu memang tidak ada, yang ada hanya Diri, adapun Diri itu keadaan tunggal berada di atas semua rasa, juga berada di badannya / perwujudannya semua kejadian yang terbeber ini semua. Karena seperti itu halnya, yaitu berubahnya si Suta, sesungguhnya itu yang semula menjadi si Suta.

16. Pada suatu musim, jika angan-anganmu sedang mengendap, oleh nafsumu yang sedang tenang, serta tidak tumbuh niatmu yang mendua atau meniga, usahakan hanya tinggal satu niat yang mulia, yaitu niat yang arahnya hanya menuju kehakikian, di situ kamu sudah mendekati sampai di budimu, angan-anganmu terasa terang dan bersih.

17. Perbedaan antara dunia dan akhirat itu bukan: sekarang dengan kelak, hanya lahir dan batin. Lahirnya ada di dunia, batinnya ada di akhirat. Jadi: sekarang juga saya ada di akhirat, adapun yang ada didunia itu rasa perasaan yang dikuasai oleh Aku. Rasa yang dikuasai itu wujudnya seperti misalnya: pikiran, senang susahnya hati, terang gelapnya mata, dapatnya mata melihat keadaan yang terbeber, mendengarnya telinga terhadap suara, manis pahitnya rasa lidah, jendul dan kasarnya tangan, sakit enaknya badan, dan lain-lainnya. Itu semua bukan rasa yang hakiki. Hanya bayangan rasa hakiki.

18. Ingin mencapai suatu kenyataan, tidak boleh menyandarkan diri pada guru, ilmu atau surat. Yang perlu: memelihara diri, penerapan dugaan / pikiran, dan sucinya hati. Namun tanpa guru tidak akan jadi.

19. Tipisnya hawa nafsu diserta tebal dan makin kuatnya kepercayaan / iman terhadap tidak adanya apa-apa selain Allah, itu: menjauhkan coba dan godaan, mendekatkan keselamatan, untuk saat ini ataupun kelak.

20. Sorga itu buatan hati. Neraka juga buatan hati. Oleh karena itu yang paling perlu (perlunya perlu) tidak seperti perbuatan orang yang meluruskan jalan hatinya.

21.1. Tidak ada kejadian yang bukan karena Karsa Tuhan, walaupun tidak ada kejadian satupun yang tanpa sebab. Memang sebab dan yang disebabi: kedua-duanya Karsa Tuhan.
21.2. Tidak ada kejadian yang tanpa sebab, walaupun sebab tadi sebenarnya tidak berbekas. Memang Tuhan mengadakan keadaan tadi karsanya diserta sebab (21.1).

22. Tidak perlu memberatkan diri pada barang-barang buatan, senanglah pada: yang jadi. Tetapi jangan benci pada barang-barang buatan tadi, sebab disitu ada yang jadi.

23. Tuhan itu dekat sekali, malahan semua yang dekat-dekat itu semuanya kalah dekat, walaupun nyawa sekalipun kalah dekat. Namun orang sering mengira / merasa jauh: ya benar, sebab yang namanya jauh itu tempatnya hanya diperkiraan. Jelasnya demikian:

Jauh dan dekat itu, kedua saya umpamakan barang. Barang itu mesti ada di suatu tempat, tempatnya di dalam dugaan / angan-angan. Tidak ada lagi yang menguasai dugaan kecuali Tuhan.

24. 1). Si Suta sekarang ada, dulu tidak ada. Karena seperti itu adanya, si Suta itu adanya dari tidak ada. Kata-kata seperti itu juga benar. Tetapi maksud dari kata-kata adanya dari tidak ada: tidak mudah. Tidak mungkin terjadi, jika suatu keadaan bergantung pada sesuatu yang kosong. Kosong itu dapatnya hanya sepi, tanpa rasa, tidak dapat keluar Suta-nya.

2). Si Suta sekarang ada, dahulu juga sudah ada, tetapi belum lahir di dunia. Jadi si Suta itu adanya dari ada. Kata-kata demikian juga benar, tetapi maksud dari kata ada dari ada tidaklah mudah. Sebab kata “belum ada sudah ada”, itu tanpa arti (perkara yang berlawanan tidak dapat berkumpul). Selain dari itu, yang ditetapkan bernama si Suta itu janjinya kan sesudah lahir. Sebelum lahir si Suta, tidak ada yang ditetapkan bernama si Suta. Lagi pula si Suta itu jadi-jadian yang mudah berganti-ganti, persis seperti ombak atau mega. Berhubung keadaan si Suta tidak tetap, padahal sebelum lahir dinamakan si Suta, nah ketika belum lahir tadi seperti Suta berumur berapa tahun?, apa seperti Suta ketika anak-anak, apa seperti Suta ketika masih bayi, atau seperti Suta tua?.

Itu tadi tepatnya seperti ini:
Sebelum si Suta ada, yang ada hakikinya atau Pribadi si Suta. Belum adanya sebab hakiki tadi belum nyuta. Setelah hakiki tadi Nyuta, perNyutaannya berwujud jadi-jadian yang disebut si Suta. Lamanya ia ada di keSutaannya itu selama waktu saat hakiki tadi masih Nyuta. Kalau hakikinya berhenti dari Nyuta, jadi-jadian yang disebut Suta berhenti adanya.

Adakalanya yang bernama hakiki si Suta juga hakikinya si Naya, juga hakikinya si Dadap, singkatnya hakikinya jadi-jadian semuanya.

Walaupun Pribadi itu andaikan tidak dijelas-jelaskan: Satu, tunggal atau bulat, jika dirasakan sampai sekecil-kecilnya, mesti lalu jelas sekali kalau: tidak dapat tidak mesti hanya satu atau tunggal, malahan kalau dirasakan: tidak perlu disebut satu. Kata satu itu adalah kata-kata orang yang menentang pikirannya sendiri yang baru bingung. Sama saja dengan orang yang menjelas-jelaskan kalau malam itu tidak bersamaan waktu dengan siang.

Rasanya kata Pribadi juga sudah mengandung makna satu. Oleh karena itu disebut Pribadi, sebab tanpa imbangan. Andai kata ada imbangannya, tidak disebut Pribadi, sebab tidak Pribadi.

25. Kalau dirasa-rasakan dengan sungguh-sungguh, semua benih kesalahan, juga pintu yang menuju ke perbuatan sasar, sebetulnya tidak lain berasal dari manusia yang tidak dapat merasakan perbedaan diri dengan Pribadi, sampai-sampai diri dianggap Pribadi. Begitu juga perlawanannya, benih keutamaan atau pintu yang menuju ke pepadang / pembawa terang, ya dari manusia yang dapat merasakan bedanya diri dengan Pribadi.

Jelasnya sebagai berikut: semula dari hukum kodrat; segala macam yang hidup sangat cinta kepada Pribadinya, besarnya cinta kasih tanpa imbangan, tidak ada cinta / kasih yang besarnya melebihi cintanya kepada Pribadinya. Adapun hukum kodrat begitu itu sudah pasti benar, sebab sesungguhnya tidak ada apa-apa, hanya Pribadi yang ada.

Tetapi … berhubung yang dianggap Pribadi tadi diri, yaitu jirim (kasar dan halus), akhirnya cinta yang besar tanpa batas tadi jatuhnya pada diri. Diri yang harus diluhur-luhurkan.

Caranya menyatakan cinta atau melunturkan diri tadi seperti berikut:
Seperti halnya orang yang tidak mau mengalah pada kata sepotong, langkah setapak, atau dengan mati-matian menutupi kesalahannya yang sudah jelas sekali, sampai diperjuangkan dengan mengerahkan budinya dan memutar akal, agar dirinya tidak kelihatan jelek atau salah, itu kalau diteliti apa rahasianya?. Disitu akan ditemukan, bahwa pokok persoalannya dari begitu besar cintanya kepada Pribadi. Ia mengalami hal seperti itu hanya karena kesalahannya saja, yaitu: dirinya dirasakan Pribadinya, atau jirim dikira keadaan yang hakiki.

Yang andaikata dapat memisahkan diri dengan Pribadinya, tentu menjadi bertentangan, artinya malahan menghukum dan menbantah nafsunya yang mengajak seperti itu tadi, sebab demikian itu membuat kegelapan, semakin besar ia silau terhadap Pribadinya.

Yang menyebabkan manusia ketempatan kelakuan memiliki keinginan yang terlalu besar, jahil, dengki, suka ikut campur urusan orang lain, sombong, suka membanggakan diri, merasa paling pintar, iri dan lain sebagainya: Semuanya itu tumbuh dari rasa hati yang mengajak meluhurkan diri.

Dirinya dianggap lebih dan agar memperoleh sesuatu yang lebih dari yang lain. Tidak hanya pikiran orang lain yang disuruh demikian, pikirannya sendiripun juga diajak oleh nafsunya supaya mau menganggap baik, luhur dan benar kepada dirinya tadi. Pikirannya sendiri juga menurut, sampai tidak percaya kalau tindakannya / caranya tadi salah atau jelek, juga tidak percaya kalau gelap sebab dari caranya.

Orang mengalami hal seperti itu sebab dari: cinta pada diri. Sebab cinta pada diri semula dari: cinta kepada Pribadi. Adapun bisa menjadi cinta pada diri hanya karena salah anggapan. Sebabnya salah anggapan, sebab membedakan diri dengan Pribadi itu lebih dari sulit serta tidak dapat diterangkan dengan kata-kata.

Orang congkak, angkuh, suka berbuat jahat, sombong dan sebagainya; semuanya tumbuh dari: angan-angan yang mengajak meluhurkan diri. Pikiran yang demikian itu namanya percaya atau mengaggap, kalu dirinya itu kuasa, baik, luhur, serta tentu benar.

Berhubung semakin cinta pada diri semakin kehilangan Pribadinya (seperti hilangnya jirim tinggal bidang) oleh kaena itu aturan agama melarang dengan sungguh-sungguh kepada orang yang congkak, angkuh, suka berbuat jahat, sombong dan sebagainya. Larangan itu sebetulnya dari rasa sayang dan menjaga pada manusia, jangan sampai salah duga, tidak tahu akan Pribadinya. Jadi tidak disebabkab oleh guru yang tidak senang pada watak yang demikian tadi, dan bukan disebabkan oleh karena disikukan oleh Tuhan. Kata tersiku itu artinya yang hakiki: terbelit atau kesasar oleh caranya sendiri.

Kata: congkak dan lain-lainnya, kata-kata jawa: kumingsun (punya anggapan seperti Ingsun), berhubung bukan Ingsun, padahal dijadikan Ingsun, akhirnya menghilangkan Ingsun, mengadakan jirim. Yang benar: menyirnakan jirim mengadakan Ingsung.

Kelakuan yang timbul dari sangat cintanya pada diri, yang melupakan Pribadi, kalau digelar banyak macamnya. Seperti misalnya: seorang manusia gemar pada kehormatan, angkuh atau sikon, itu asal mulanya dari memegang teguh pada diri yang satu. Seorang manusia mempunyai watak suka mentang-mentang, tak mau berbuat baik, itu asal mulanya dari salah dugaan, diri dianggap Pribadinya. Seorang manusia mempunyai watak iri hati, terlalu sayang pada diri, mudah tersingung, suka memanas hati, itu tidak lain karena ia membeda-bedakannya dari salah satu diri.

Ada orang yang mencerca orang yang salah serta suka memuji kepada orang yang sedang bernasib baik, itu juga dari rasa hati yang mengajak memperlihatkan dirinya.

Ada orang yang berat hati jika merasa memperoleh pertolongan atau nasihat dari orang lain, senang mengaku memberi pertolongan atau nasihat kepada orang lain: itu sebabnya juga dari nafsu yang meluhurkan dirinya.

Ada orang yang wataknya selalu curiga terhadap hal yang macam-macam: itu juga dari terlalu sangat ia bercermin pada diri yang satu.

Ada orang yang tak mau menyatakan kebaikan yang berada pada orang lain, serta suka menceritakan kebaikan diri sendiri, itu sebabnya juga dari sangat cintanya kepada diri sendiri, tidak tahu / kenal pada Pribadi. Dan lain-lainnya. Semua watak yang jelek: sebabnya tidak lain dari tidak tahunya pada Pribadinya.

Manusia makin dapat membedakan diri dengan Pribadinya, semakin berkurang wataknya yang memaksa-maksa meluhurkan diri. Sebab yang diyakini hakiki dari semua diri. Jadi: salahnya tidak mendaku sesuatu, juga mendaku semua diri yang ada. Pendapat (kepercayaan) yang demikian itu besar sekali daya kekuatannya, mampu menghilangkan watak yang jelek, yang tersebut semuanya tadi. Lalu tumbuh watak sabar, cinta kasih, berserah, ikhlas, lega, dermawan, tenang, tenteram, nerima, akhirnya menjadikan jernihnya budi. (1) Sebelum berbadan “batahara” sudah mencicipi rakhmat, menikmati rasa yang mulia, nikmat dan manfaatnya melebihi orang kaya dan luhur.

Manusia selama bekerja atau beristirahat dari bekerja, pada waktu siang dan malam, jangan pisah dari kesadaran (eling) – kalau hanya Pribadi yang ada. Diri sifatnya Pribadi.

Yaitu maksud ayat : Laa ilaaha illaah, Muhammadar Rasulullah.

26. Menjelaskan sewaktu orang menggunakan atau membuang alat. (umpama A sampai F)

Umpama A: Orang yang pandai naik engrang atau sepeda itu tidak mentang-mentang orang yang kuat. Walaupun kurus dan lemah, kalau sudah terampil, kecakapannya melebihi yang gemuk dan kuat.

Begitu juga, selagi baru belajar atas kecakapan, harus menggunakan kekuatan juga. Gunanya kekuatan untuk menolong kekakuannya. Kalau sudah hilang kekakuannya, kekuatannya tidak dipergunakan. Yang dipergunakan hanya: kecakapannya.

Jelasnya diatas itu: Kekuatan itu sarana yang harus diusahakan dan dipergunakan oleh yang belajar naik engrang sewaktu belum cakap. Sesudah memperoleh kecakapan (buah dari rasanya yang selalu mengingat-ingat) disitu sudah mengurangi penggunaan kekuatan, akibat dari sudah ganti sarana: kecakapan. Akhirnya kekuatan badan seolah seperti tidak terpakai. Diganti dengan kecakapan.

Dari pikiran yang seperti itu, kita menemukan pokok pegangan: sarana itu harus diusahakan ketika belum ada, dan harus dipergunakan tatkala masih perlu menggunakannya. Tetapi: juga salah kalau kelanjutan (karam) ada di sarana saja.

Umpama B: Anak yang belum tahu dan merasa atas bergunanya mandi dan belajar, pasti tidak mau melakukan mandi dan belajar. Terhadap anak yang begitu itu perlu dipuji atau diberi hadiah kalau dia mau mandi dan belajar, adakalanya juga perlu diberikan hukuman atau dimarahi kalau tidak mau mandi dan belajar. Daya guna pujian dan hadiah menumbuhkan keinginan dan kehendak untuk mandi dan belajar. Daya guna hukuman dan memalu-malui menimbulkan rasa takut dan malu.

Seumpama ingin, takut, demikian juga malu, semuanya itu menjadi sarana menimbulkan kehendak dan menolak atas rasa malas atau ketidakmauannya. Sebab dari keinginan menjadi melakukannya. Sebab dari melakukannya berkali-kali, tumbuh pengertiannya dan rasanya atas faedahnya mandi dan belajar. Setelah cukup pengertiannya dan dapat merasakannya sendiri, di situ (ketika itu) sudah tidak mengunakan sarana yang berwujud keinginan memperoleh pujian dan takut atas hukuman, sebab sudah diganti dengan pengertian dan perasaan.

Umpama C: Orang yang baik itu bukan asal yang senang pada perbuatan baik dan benci pada perbuatan jelek. Walaupun tidak suka pada perbuatan baik dan tidak benci pada perbuatan jelek, kalau dasar wataknya orang tadi baik, ya lebih baik dari pada yang senang pada perbuatan baik dan benci pada perbuatan jelek. Sejauh itu tatkala baru melatih kelakuan baik; (karena belum baik) ia harus senang pada perbuatan baik, serta harus benci pada perbuatan jelek. Adapun gunanya hati suka dan benci tadi supaya menjauhi si jelek, mendekatkan diri pada si baik. Kalau sudah memperoleh dasar baik, menggunakan sarana senang atau benci pada semua hal, sebab yang bermanfaat: baiknya, bukan si suka dengan si benci. Malahan senangnya dan bencinya: mengganggu / menghambat, sebab yang namanya benci dan senang itu kekuatan nafsu.

(Menggunakan sarana tatkala masih perlu menggunakannya, itu dapat diumpamakan: naik kendaraan tatkala belum sampai di tempat yang dituju. Demikian juga lawannya: meninggalkan sarana sewaktu sudah tidak memerlukannya, itu seperti halnya orang yang harus turun dari kendaraan sewaktu sudah sampai ditempatnya).

Umpama D: Manusia yang utama itu sebenarnya tidak mentang-mentang yang malu terhadap celaan dan senang pada pujian. Walaupun manusia itu tidak senang terkenal dan tidak malu dicela oleh orang, kalau kenyataannya dasar mengerti dan sadar (sebab dari meyakini hakikinya, tidak menganggap penting dirinya) itu manfaatnya melebihi yang senang terkenal dan malu dicela. Sejauh itu usaha budi agar dapat sampai di pepadang / penerangan dan sadar: semula harus punya keinginan atas pujian dan malu dicela (menurut patokan aturan kepahlawanan). (1) gunanya saran itu untuk memajukan nafsu yang mengarah ke keutamaan, serta mengendalikan nafsu yang mengarah ke kehinaan. Adapun kalau sudah terlaksana sampai di keutamaan, tak mau pada kehinaan, sebab sudah tajam budinya, disitu sudah sampai waktunya tidak perlu mengingini pujian dan jangan malu dicela oleh siapapun, (ini namanya membelakangi diri, menghadap pada Pribadi), sebab nafsu yang mengarah pada kehinaan sudah hilang musnah. Diganti dengan adanya Rasa tunggal, bersatunya budi sadar. Bersamaan dengan hilangnya nafsu yang mengarah ke kehinaan, tinggal menghilangkan nafsu yang mengingini pujian dan malu dicela, sebab hal itu merupakan kekotoran terhadap kehakikian.

(Tak mau menggunakan sarana tatkala masih perlu mengunakannya: itu salah. Tetapi juga salah kalau sebetulnya sudah (waktunya) meninggalkan sarana masih juga berlanjut menggunakan sarana saja. Adapun sarana tadi dirasa atau dianggap yang memiliki sarana.)

Oleh karena itu mengingini pujian dan malu dicela harus dihilangkan, sebab hal itu juga nafsu yang menyesatkan angan-angan. Jelasnya si nafsu menyesatkannya itu: angan-angan diajak meyakini diri yang satu.

Padahal kalau meyakini diri, kehilangan Pribadinya, lupa bahwa hakiki yang ada. Oleh karena itu, yang wajib dituruti: budi, sebab dialah / ia itulah yang menunjukkan jalan: menyebabkan tahu akan kebenaran, seperti misalnya menyebabkan tahu pada tidak adanya apa-apa hanya Pribadi yang tunggal, jadi ia menunjukkan kalau yang dipuji dan dicela itu hanya bayang-bayang di dalam jiwa (cermin dari Pribadi), yang sementara waktu lagi akan sirna. Adapun yang memuji dan mencela itu rasa yang tidak hakiki (maya) yang terapung di Pribadi yang tunggal. Ringkasnya: yang memuji dan yang dipuji: kedua-duanya sama-sama tipuan, sebetulnya tanpa hasil / manfaat.

Oleh sebab itu jelaslah kalau perasaan hati yang senang kepada pujian dan malu dicela, itu hanya menjadi alat / sarana yang dipergunakan dalam sementara waktu saja. Kalau akan masuk ke kehakikian, alat itu harus dibuang (orang naik kendaraan, kalau sudah sampai ditempatnya, harus turun dari kendaraannya).

Umpama E: Keheningan samadi, itu tidak karena berada ditempat yang sunyi senyap. Walaupun berada ditempat yang banyak suara, kalau sudah terampil dalam menggunakan pangesthi (melaksanakan niat), dapat tetap melebihi yang berada ditempat yang sepi. Gunanya sepi untuk mencegah pada keterkejutan dan kedebarannya. Kalau sudah terlatih sepinya tempat sudah tidak perlu: keterampilannya.

Umpama F: Adapun yang sempurna itu tidak hanya orang yang memilih perbuatan baik, menolak pada perbuatan jahat. Walaupun melakukan perbuatan maksiat dan bergaul dengan orang yang senang pada perbuatan jahat / jelek, kalau memang hatinya suci (terlepas dari jahat / jelek) kesuciannya melebihi orang yang suka menonjolkan bahwa dirinya suci (sumuci-suci). Sejauh itu, baru berusaha pada ulah kesucian, ia harus memilih perbuatan baik, jangan bergaul dengan orang jahat, serta menolak melakukan perbuatan yan dapat menarik nafsu jahat. Faedahnya memilih yang baik, menjauhi perbuatan jahat tadi untuk mencegah kegelapan budinya dan belum mencapai kesucian, belum terlepas dari kejahatan, di situ / saat itu tidak perlu menolak memilih, yang perlu: kehati-hatiannya dan terlepasnya dari kejahatan.

27. Menjelaskan: sering salahnya kepercayaan / dugaan, yaitu:

Ada yang jatuh pada diri, ada yang jatuh pada Pribadi.

Kalau jatuh pada diri, bersatu dengan angan-angan mengadakan watak sombong. Kalau jatuh pada Pribadi bersatu dengan Rasa bertunggal, mengadakan semangat.

Manusia berusaha mencapai kehakikian itu wajib. Agar dapat selamat: harus percaya pada penguasa yang berada di dalam dirinya. Usahanya itu jangan direndahkan / disalahkan agar dapat terlaksana, artinya: jangan merendahkan / menganggap lemah pada dirinya. Sejauh itu ia harus tahu sebabnya dirinya tidak boleh direndahkan / dianggap lemah.

Adapun sebab dirinya tidak boleh direndahkan, sebab gerak-gerik hati manusia atau niat dan tekad manusia dalam mencapai kesempurnaan, sebenarnya (itu) perbuatan Tuhan, jadi kalau menusia tidak percaya pada dirinya, sama halnya tidak percaya kepada perbuatan Tuhan, atau tidak percaya kepada kuasanya Tuhan yang berada didalam dirinya. Jalannya keselamatan tertutup oleh penghinaan / perendahan diri sendiri, akhirnya dirinya mungkin dapat lemah / rendah sungguh-sungguh sebab dari anggapan Pribadi.

Tetapi jangan lalu mempunyai angapan: dirinya mampu atau kuasa. Oleh karena itu hati-hati terhadap sering salahnya anggapan. Walaupun salah anggapan itu berada didalam hati, namun dapat diketahui dan dirasakan, sebab terlihat pada perbuatan.

Pelajaran agama: jika mengaku dirinya Allah namanya tekad “kadariah”. Kalau tidak mengaku dirinya Allah namanya tekad “jabariah”. Kedua-duanya tidak benar.

Bagaimana betulnya?. Agar dapat mengerti betulnya kalau dapat merasakan bedanya diri dan Pribadi, sebab maksud perumpamaan, tidak lain agar meyakini hakikinya serta membelakangi dirinya

Subhanallah….

Wass
Deka

Comment:
From: luthfiyah ratnawati
Subject: Re: [dzikrullah] Sungguh …, Tak Biasanya Begitu – 7 (Selesai)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sekarang saya mengerti kenapa waktu TOT dulu saya merasakan hal yang luar biasa, antara lain pada saat P Deka adzan subuh dan mengimami sholat subuh. Saya rindu suasana seperti waktu itu.

Ada bbrp peristiwa saat TOT yg bagi saya itu sangat sangat luar biasa :

Peristiwa 1 :

Pada saat sholat subuh (peristiwa yg sama dg yg diceritakan P Deka). Waktu itu dengan penuh semangat kami para peserta menuju aula untuk melaksanakan sholat tahajud sendiri2. Tapi ntah kenapa sholat tahajud saya wkt itu ngga khusyu sama sekali, garing banget. Sambil nunggu subuh, karena dzikir pun garing, saya bicara basa-basi dengan teman di sebelah biar ngga ngantuk.

Tapi alangkah takjubnya saya, begitu terdengar adzan yang dikumandangkan oleh P Deka, tiba2 saja saat itu juga, saya dan teman di sebelah saya menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa saat itu suara adzan itu seolah Allah memanggil hamba-Nya. Tangisan haru, rindu pada Allah, bercampur aduk. Tangis yang tak bisa dibendung.

Sekarang saya tahu sebabnya. Bukan P Deka yang adzan waktu itu, tetapi Allah menggunakan P Deka untuk memanggil hamba-Nya. Begitupun waktu sholat subuh. Itu sholat subuh yang sangat nikmat…

Saya benar2 terpesona. Bagaimana itu bisa terjadi, terjawab sudah dari ulasan P Deka di atas.

Peristiwa 2:

Waktu pembukaan TOT, saat pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh P Deka – again 🙂 . Sebelum mulai baca Al Qur’an. kami disuruh mendengarkan dengan hati. Hasilnya : baru juga dibaca satu ayat, hati bergetar, tak terasa menetes air mata. Baru kali itu, pembacaan ayat suci Al Qur’an di pembukaan suatu acara mampu membuatku merasakan kedekatan dengan Allah. Biasanya pembacaan ayat suci Al Qur’an hanya seremonial belaka.

Peristiwa3:
Bada Dzuhur P Abu Sangkan menerangkan tentang Dzikir : Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar. Dilanjutkan praktek dzikir. Ketika mengucap Subhanalllah,….. sungguh tak terkira rasanya. Begitupun ketika mengucap Alhamdulillah. Dan bertambah dahsyat ketika dzikir Allahu Akbar. Benar-benar habis. Habis. Kita benar2 habis. Bagaimana mengatakannya ya? Yang jelas, rasanya kita benar2 habis, tidak bersisa. Semua hanya Allah saja. Begitu Maha Besarnya Dia hingga tak ada ruang yang bersisa. Terasa begitu kecilnya kita hingga habis sehabisnya. Luar biasa….!
Di situ kita merasa tidak ada apa-apanya. Luruhlah semua kesombongan, riya’, keangkuhan. Kita bukan siapa-siapa. We are nothing !
Yang ada hanya Allah saja. Bagaimana bisa kita sombong, sedangkan we are doing nothing. Semua Allah yang menggerakkan, kita hanya diam saja. Kita hanya sebuah kesadaran yang tidak bisa apa-apa, hanya bisa menyaksikan. Kita hanya penyaksi. That’s all.
Belum pernah saya menangis sedahsyat waktu itu. Benar2 loss. Tak bisa ditahan. Untunglah suara gemuruh tangis para peserta yang luar biasa menggetarkan -ntah berapa skala richter :), ntah berapa desible – mampu meredam suara tangisku. Luruh sudah kesombongan, baik yang kusadari maupun yang tidak kusadari, walau hanya sebesar dzarrah. Kita hanya bisa minta ampun pada-Nya. Saat itu Allah mengajarkan TAWADHU’ .

Peristiwa 4 :
Ketika penutupan TOT, P Abu Sangkan mengucapkan ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH…!
Kami yang dituju merasakan hal yang wow…. bagaimana mendeskripsikannya ya? Teman-teman peserta TOT saya yakin merasakan hal yang sama.
Serentak kami menjawab : WAALAIKUM SALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH….!
Bukan sekedar salam biasa..

Peristiwa 5 :
Sesi terakhir TOT, ketika kami para peserta ditanya : “Bersediakah kalian menjadi media bagi Allah untuk menyebarkan ajaran-Nya ?”

Serta merta kami menjawab dengan sepenuh hati : “BERSEDIA….!!!”.
Bergidik rasanya. Dahsyat sekali. Seolah itu adalah Perjanjian yang Agung antara kami dengan Allah. Mitsaqon gholidzoh. Benar2 bukan sekedar janji biasa namun ini adalah janji agung, bukan main-main.

Ketika kami bilang BERSEDIA, sejak saat itulah saya mulai merasa bahwa Allah memainkan peran-Nya atas tubuhku, pikiranku, hatiku, untuk melaksanakan janji itu.
Luar biasa…… Subhanallah….!
Allah benar2 bikin takjub. Allah benar2 mengagumkan. Sekali kenal Dia, makin penasaran dan ketagihan untuk kenal lebih dekat.
DIA benar2 tidak ada bandingannya.

P Deka kapan ada acara TOT lagi?

Wassalamualaikum warahmatullahu wabarakatuh.

Iklan

Read Full Post »

IBLISPUN BERDO’A

Pengantar…

Sejak beberapa waktu belakangan ini – terutama sejak beredarnya buku-buku best sellers: The Secret, The Law of Atraction (LOA), The Quantum Ikhlas, yang kesemuanya bisa dimampatkan kedalam topik tentang serba serbi pemanfaatan the LOA – milis dzikrullah yang kita cintai ini telah kebanjiran ulasan-ulasan tentang fenomena LOA ini. Ada yang bertanya-tanya dengan penuh penasaran dan bahkan selalu ingin bertanya, ada yang menjelaskannya dengan sangat bersemangat (bravo untuk pak Adhi Susilo), ada juga yang masih terbengong-bengong mengamati serbuan informasi dan testimony dari berbagai bahan bacaan. Ada yang kemudian menyangkutnya pula dengan Plurarisme, dan sebagainya. Rame sekali…, tapi ya ndak apa-apa…, otak kita harus ramai memang biar otak kita tersebut berfungsi.

Sebelum saya ikut serta menyedekahkan fikiran saya, terlebih dahulu saya ucapkan selamat hari raya idul fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin buat semua peserta milis dzikrullah ini. Bagaimana kabar Abang-abang dan Uni-Uni: John Bandempo, Doddy Ide, Fajar Buana, Kobink, M Husaini, Rita Maria, Aziz Fajar, I-ONE, Sadi Harjo, Abu Robert, Mardibros, dan lain-lain. Pokoknya semua…

Marilah kita semuanya selalu menyiapkan otak kita untuk menerima informasi-informasi baru dari berbagai sumber yang telah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Karena Allah selalu akan mengalirkan ilmu baru-Nya setiap saat melalui orang-orang yang mau menyiapkan otaknya dipakai oleh Allah untuk mengalirkan ilmu-Nya buat orang lain yang juga bersedia membuka otaknya untuk menerima ilmu tersebut.

Ilmu Allah yang diturunkan-Nya buat seluruh umat manusia ini selalu akan di update sehingga selalu pula up to date di setiap saat. Ilmu Allah tidak akan pernah obsolet. Dan Dia akan selalu mengalirkan KEBARUAN ilmu dan pemahaman disetiap nafas yang mengalir. Oleh sebab itu janganlah kita coba-coba untuk menahan aliran ilmu Allah itu dengan ilmu kita yang cetek ini. Karena pastilah kita akan keteteran. Dan anehnya, setiap kebaruan itu, berapa pun barunya, masih sangat bisa dilihat melalui ‘kacamata’ Al Qur’an.

Kalaupun kita belum mengerti dengan kebaruan ilmu itu, kita simpan dulu sebagai bahan perenungan kita untuk nanti kita tanyakan kepada Allah saat kita berduaan saja dengan Allah. Kita omongin ke Allah: “Ya Allah kok saya belum mengerti tentang ilmu yang tadi itu. Mohon tuntun ya Allah otak saya untuk bisa memahaminya, mohon ya Allah agar dada saya bisa menyerap suasana yang dimaksud oleh ilmu itu…”. Dan kemudian kita tinggal menanti saja, diam, hening, WUQUF, sampai kita dipahamkan-Nya. Insyaallah, tidak akan butuh waktu yang lama…, akan ada AHA…, OOO…, dan kita tinggal menikmatinya saja lagi…

Berbicara sedikit tentang the Law of Atraction, sebenarnya dapat dikatakan bahwa The Law of Atraction itu adalah salah satu dari sekian banyak hukum Allah yang ada dimuka bumi ini. Hukum-hukum Allah yang lain yang sudah dikenal orang misalnya adalah: Hukum Kekekalan Energi, Hukum Getaran, Hukum Polaritas, Hukum Irama, Hukum Pilihan Bebas, Hukum Aksi, Hukum Atraksi, Hukum Relativitas, Hukum Sebab Akibat, Hukum “karma”, Hukum Balas Jasa, Hukum Ketertarikan (Law of Attraction), Hukum Ganti-Rugi, Hukum Kebijaksanaan, Hukum “Reinkarnasi”, Hukum Keselarasan, Hukum Pelayanan, Hukum Kasih Tanpa Syarat, Hukum Kelimpahan, Hukum Evolusi, Hukum Kesesuaian, Hukum Gender (Yin Yang), Hukum Kesatuan, Hukum Tingkatan Keilahian, dan sebagainya… Dan anehnya semua pemahaman tentang hukum-hukum itu datangnya dari umat yang dikatakan bukan beragama islam, tapi tanpa mereka sadari mereka mampu bersikap islami (fitrah).

Sementara kita yang mengaku sebagai umat Islam ini masih saja berkutat dengan hukum-hukum dosa dan pahala, hukum neraka dan syurga. Dan untuk memahaminyapun kita masih saja menempelkan otak kita kepada tafsiran-tafsiran ulama masa lalu yang kadangkala kalau kita baca sekarang ini agak membuat kening kita berkerut marut. Otak kita berhenti di pemikiran ulama masa lalu. Begitu otak kita kita tempelkan dengan buku-buku masa lalu itu, maka otomatis kita akan berada di masa lalu pula. Otak kita tidak akan bergerak menjamah waktu sekarang, apalagi merengkuh waktu yang akan datang. Ada memang usaha kita merambah masa depan, tapi jangkauan waktunya masih sangat terlalu jauh, yaitu waktu diakhirat nanti. Jangkauan pikiran kita selalu berharap akan nikmat syurga yang nun jauh disana, sehingga hampir-hampir saja kita lupa dengan kehidupan kita saat ini. Kita jadi lupa berkarya untuk diri kita saat ini dan masa depan anak cucu kita. Kita nyaris menjadi manusia tanpa peran di zaman kita ini untuk membangun peradaban kita sendiri.

Akibatnya, jangan salahkan kalau Allah kalau Dia lalu memakai OTAK umat yang lainnya, selain Islam, untuk mengalirkan segenap ilmu-Nya yang baru sebagai bekal untuk melengkapi kebutuhan membangun peradaban umat manusia itu sendiri. Kita jadinya melongo terus dan terus melongo, atau paling banter kita masih mau menjadi pengekor saja dibelakang walau dengan agak malu-malu kucing…

IBLIS dengan LOA nya…

Suatu ketika, tatkala iblis bengong dan iri dengan bentuk Adam dihadapannya, sehingga dia tidak mau tunduk dan patuh atas perintah Allah agar dia sujud kepada Adam. Dipuncak kepenasarannya dia langsung protes menghadap kepada Allah dan menyampaikan “permintaannya” kepada Allah: Ya Rabbi, “demi Kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka kecuali hamba-hambaMu yang MUKHLISH diantara mereka (As Shaad 82-83)”. Dan…, ternyata Allah mengabulkan permintaan si iblis tersebut bahkan untuk jangka waktu sedemikian lamanya. Sampai akhir dunia ini bergerak. Kiamat.

Lalu apanya yang aneh dengan The Law of Attraction itu ??. Wong iblis saja yang notabene tidak patuh kepada Allah, namun permintaannya, do’anya, kenginannya tetap saja dikabulkan oleh Allah. Ndak aneh toh LOA itu, karena ini hanyalah kata lain dari proses pengkabulan atas apa-apa yang kita pikirkan atau inginkan?.

Begitu juga dengan do’a-do’a jutaan manusia lainnya. Allah akan kabulkan do’a itu selama si manusia itu YAKIN bahwa do’anya akan dikabulkan oleh “SESUATU” yang melampaui dirinya sendiri. Artinya saat berdo’a itu si manusia berada dalam kesadaran atas ketidakmampuan dirinya sendiri untuk mendapatkan apa-apa yang dia inginkan itu. Bahwa dia yakin atas adanya “aktivitas lain” yang akan mengantarkan apa-apa yang dia inginkan itu kepadanya. Hatta dalam memahami akan hakekat dari sesuatu itu umat manusia itu masih tersasar-sasar kemana-mana (belum tepat menghadap ke Wajah-Nya), namun Allah akan tetap saja mengabulkan doanya tanpa pandang bulu. Itulah kehebatan Allah yang tiada tandingannya…!. Karena Allah memang sudah menyatakan dengan tegas bahwa: ud’uni astajib lakum…, fadzkuruni adzkurkum…, terjemahan bebasnya: ”Berdoalah kepada-Ku, pasti Ku kabulkan, Ingatlah Aku dengan ingatanmu yang bagaimanapun juga, Akupun akan balas ingat kamu itu seperti ingatmu kepada-Ku itu”.

Malah rasanya sangat aneh kalau kita yang mengaku-ngaku sebagai umat Islam ini, jarang sekali kalau tidak mau dikatakan tidak pernah merasa yakin atas pengkabulan do’a-do’a yang kita lantunkan sehari-hari saat ini juga. Ya salah kita sendiri toh …?. Nggak YAKIN (IMAN) sih…!. NGGAK IMAN itu kan bahasa lain dari KAFIR ya ??. Atau paling tidak kita ragu-ragu terhadap Allah. RAGU-RAGU itu kan nama lain dari MUNAFIK ya nggak..?. He he he kok kaget …?

Penyebab keraguan kita itu apa ?…

Pertama, kita ragu-ragu terus atas pengkabulan Tuhan terhadap do’a-do’a yang kita lantunkan karena memang ada ilmunya yang terus kita pelihara. ILMU RAGU-RAGU. Dikabulkan Allah nggak sih do’a saya ini?. Atau baik nggak sih apa yang saya do’akan ini bagi saya?. Ditambah lagi dengan adanya ajaran yang disampaikan kepada kita selama ini bahwa kalau Allah tidak atau belum mengabulkan do’a kita didunia ini, maka kita diminta untuk yakin bahwa barangkali do’a kita itu memang tidak baik untuk kita nikmati di dunia ini, dan pastilah permintaan kta itu akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik di AKHIRAT kelak. Sehingga akhirnya dalam setiap do’a kita, muncul sedikit keraguan didalam diri kita atas pengkabulannya oleh Allah. Dikabulkan Allah nggak ya??.

Padahal begitu kita ragu, maka Allah pasti akan ragu pula dengan kita. Itulah sebabnya Allah di panggil juga dengan panggilan Al Mukmin. Dzat Yang Maha Yakin. Dzat Yang Tidak Boleh Diragukan Atas Keberadaan-Nya dan Atas Aktivitas Pengkabulan-Nya. Dan…, begitu kita berada dalam posisi YAKIN PENUH kepada Allah, YAKIN PENUH akan pengkabulan Allah atas do’a-do’a kita, maka kita juga akan di panggil oleh Allah sebagai Mukminin, Si Yakin.

Jadi begitu kita datangi Allah dengan rasa ingat (dzikir) kita dalam posisi sebagai si YAKIN, si MUKMIN, maka Allah akan menyambut rasa ingat kita itu dengan Rasa Ingat-Nya (Dzikir-Nya) sebagai AL MUKMIN, SANG MAHA YAKIN. Tegasnya, tugas kita ini sederhana saja sebenarnya, yaitu datangilah Allah dengan rasa ingat kita sebagai Mukminin, Si Yakin. Itu saja kok. Titik.

Dan selanjutnya adalah AKTIVITAS ALLAH. Maka seketika itu juga Allah akan menyambut rasa ingat kita itu dengan Rasa Ingat-Nya sebagai Al Mukmin, Sang Maha Yakin. Itu pasti. Dan kita tidak usah pikirkan bagaimana cara Allah menyambut rasa ingat kita itu dengan Rasa Ingat-Nya. Ini adalah hak Prerogatif Allah.

Jadi…, fadzkuruni…, datangilah Allah dengan rasa ingat kita sebagai Mukminin, Si Yakin, maka adzkurkum…, Allah akan mendatangi kita pula dengan Rasa Ingat-Nya sebagai Al Mukmin, Sang Maha Yakin.

Ssst…, let me tell you, sebenarnya Rasa Ingat Allah itu jauh melampau rasa ingat kita kepada-Nya. Saat kita datangi Allah dengan rasa ingat kita walau hanya sejengkal, maka Allah akan menyambutnya dengan Rasa Ingat-Nya dengan sehasta. Saat kita berjalan membawa rasa ingat kita kepada-Nya, maka Dia akan berlari membawa Rasa Ingat-Nya kepada kita. Artinya, sebenarnya (hakikinya) rasa ingat kita kepada-Nya itu adalah DITAROK, DISUSUPKAN, DIALIRKAN oleh Allah sendiri kedalam DADA kita. Dan aliran itu tidak akan pernah berhenti kalau kita tidak menghentikannya dengan penghalang-penghalang (HIJAB) yang kita buat sendiri. Lain kali akan kita bahas tentang hijab-hijab ini.

Kedua, kita tidak pernah Fokus serta Detail dalam berdo’a kepada Allah. Do’a kita begitu UMUM. Misalnya, kita minta kebaikan didunia ini, dan kebaikan pula diakhirat kelak, tanpa pernah kita detailkan kebaikan dunia macam apa yang kita inginkan itu. Barangkali Allah sendiripun “bertanya-tanya” atas doa-doa kita itu:

“Kau ini minta apa sebenarnya wahai hamba-Ku??. Ayo perjelas, ayo detailkan do’amu itu tentang wujud, jumlah dan kapan waktu dibutuhkan atas apa yang kau do’akan itu. Akulah yang akan mengabulkan do’amu itu. Aku akan kirim Keadaan (Hal), Orang-Orang, Situasi-Situasi, Peristiwa-Peristiwa, Kesempatan-Kesempatan yang harus kau amati dan tangkap terus disetiap saat. Karena dengan cara itulah Aku akan mengabulkan do’amu itu”.

Dan tidak jarang pula do’a kita itu begitu panjangnya sampai-sampai kita sendiri jadi bengong, bahwa sebenarnya yang kita inginkan dan mintakan kepada Allah itu itu apa sih?.

Catatan kecil:
Alhamdulillah bulan puasa kemaren ini (1428 H) saya umroh di 10 hari terakhir ramadhan. Do’a imam dalam witir dimalam 27 ramadhan begitu panjangnya. Dan banyak pula makmum yang menangis mengamininya, terutama saat imam juga menangis dalam berdo’a itu. Sepuluh tahun yang lalu, saat saya umroh ramadhan sebulan penuh, saya masih bisa menangis pula saat mendengarkan imam menangis dalam berdo’a. Tapi kemaren itu kok saya nggak bisa menangis lagi saat mendengarkan imam menangis dalam berdo’a itu ya ?. Pada saatnya nanti akan saya tulis juga sedikit pengalaman saya dalam berumroh ramadhan ini. Karena didalamnya ada suasana Mengupas Dinding Ka’bah; bermihrab di Gua Hiro (malam 27 Ramadhan); Pengajaran “Ana khairuminhu”; Didudukkan Dipinggiran Raudah; Shalawat (bukan) di makam Nabi; Deer di 1 Syawal 1428 H; Apa yang kau kejar wahai hamba-hamba-Ku?; Inikah peradaban Islam yang diinginkan Allah?.

Ketiga, kita jarang sekali menyerahkan, mendekatkan, menghantarkan (QURBAN) muatan atau suasana isi do’a kita itu kepada Allah. Kita jarang sekali merentangkan tangan kita untuk menghantarkan muatan do’a kita kepada Allah sampai isi dari do’a kita itu berpindah dari tangan kita ke tangan Allah. Padahal saat itu kita sedang meminta sesuatu kepada-Nya. Sebenarnya saat itu kita sedang menyerahkan sesuatu kepada Allah. “Ini do’a saya ya Allah…”. Tinggal kita Berikan…!, berikan…!, berikan…!, sampai tangan dan dada kita, tidak digandoli lagi oleh muatan do’a kita itu.

Keempat, Begitu selesai berdo’a kita jarang sekali merasakan kebahagiaan, hampir tidak pernah dada kita ini menjadi lapang, luas dan ringan setelah kita berdo’a itu. Kita belum bisa merasakan bahwa saat itu juga do’a kita itu sebenarnya sudah dikabulkan Allah. Karena bagi Allah tidak ada pembagian waktu seperti waktu kita. Bagi Allah tidak ada waktu lalu, waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Yang ada adalah SAAT INI. Sehingga kita tidak pernah menyiapkan otak dan dada kita untuk merasakan sudah terkabulnya do’a kita itu. Sehingga kitapun tidak pernah benar-benar bersyukur kepada Allah setelah kita menyampaikan do’a kita itu kepada Allah. Kita tidak pernah berterima kasih dengan tulus kepada Allah setelah berdo’a. Kita selalu hanya mau berterima kasih setelah do’a kita itu terwujud didepan mata kita. Kita seakan-akan tidak akan pernah menghantarkan rasa terima kasih kita kepada Allah kalau isi do’a kita itu belum dikabulkan oleh Allah. Selanjutnya kita malah sibuk mengatur PIKIRAN ALLAH dalam mengabulkan do’a kita itu. Kita tidak mau IQRA’, membaca PIKIRAN ALLAH. Duh…, betapa sombongnya kita ini memang.

Mau coba…?.

Nah…, agar kita umat islam ini tidak penasaran terus, atau siapapun juga sebenarnya boleh melakukannya, cobalah proses berdo’a berikut ini dengan rileks.

Duduklah dengan tenang dan rileks. Boleh bersimpuh ataupun bersila, atau berdiripun boleh juga:

• MENGHADAPLAH ke WAJAH ALLAH…, atau keliru-keliru sedikit maupun banyak sekalipun dalam memahami Wajah Allah ini tidak masalah yang besar kalau hanya sekedar untuk berdo’a meminta sesuatu seperti ini. Mau menghadap ke alam kek, mau mengarah ke semesta kek, mau dzikir ke pikiran universal kek, mau mi’raj ke pikiran bahwah sadar kek, disini nggak ada masalah sedikitpun.

Cuma bagi siapapun yang mau meningkatkan kesadarannya, ingatlah bahwa: saat itu juga sebenarnya Allah tengah mewanti-wanti dan berkata dengan TEGAS kepada kita: “Wahai Hamba-Ku, semua yang kau sebut itu tadi sebenarnya adalah milik-Ku, maka seyogyanya hanya kepada Aku sajalah kau seharus menghadap. Demi kebaikanmu, jangan keliru sedikitpun juga wahai Hamba-Ku…!.

• MENCIPTA DO’A: Mulailah membuat sebuah do’a yang detail. Pikirkan bentuk dari apa yang kita do’akan itu, misalnya sebuah rumah. Visualkan, berapa ruangannya, bagaimana tata letaknya, kemudian buat gambarnya dalam sebuah kertas lengkap dengan taman, instalasi air dan listriknya. Jadi visualkan, perjelas dan detailkan HASIL AKHIR yang kita inginkan.

• MEMINTA, QURBAN: Setelah detail, angkat tangan kita seperti berdo’a, rasakan dikedua telapak tangan kita muatan doa itu mengalir dan menggumpal. Angkat terus tangan kita itu keatas dan dan lepaskanlah isi muatan doa’ kita itu dari telapak tangan kita menuju ke ketidakterbatasan (bagi yang ingin meningkatkan kesadarannya serahkanlah muatan do’a itu kepada PEMILIK Ketidakterbatasan itu). Penyerahan itu SEKALI saja cukup.

• IMAN, YAKIN: Untuk masalah iman atau yakin ini, dengan hanya sekedar memotivasi (memaksa) diri kita bahwa apa yang kita inginkan itu Sudah dikabulkan dan Sudah menjadi milik kita saja sudah cukup sebenarnya. Percaya seperti ini bisa dimiliki oleh siapun juga. Orang yang tidak beragamapun bisa mendapatkan keyakinan akan adanya proses pengkabulan do’a ini. Sebab implikasi dari iman seperti ini tidaklah terlalu besar sebenarnya. Inilah yang disebut dengan pikiran iman. Iman yang dipikir-pikir, iman yang dikira-kira.

Akan tetapi ada iman atau yakin yang datangnya langsung dari Allah. Iman itu dialirkan, dicurahkan, ditarok langsung oleh Allah kedalam dada kita. Dada kita bergetar, otak kita berosilasi, seluruh jaringan otot, syaraf, kelenjer-kelenjer hormon kita bergerak menuju keharmonisan iman. Iman yang seperti ini disebut juga dengan rasa iman yang ditarok Allah. Dan implikasinya sangatlah besar. Karena dalam iman seperti akan ada penghormatan, akan ada penghambaan, akan ada penyembahan, akan ada ketersungkuran, akan ada kepatuhan, akan ada pemujaan dan pemujian, akan ada rukuk dan sujud, akan ada persaksian (syahadah) kedapa Wujud-Nya. Allah…!. Dan disinilah sebenarnya ketinggian ajaran islam dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya. Untuk ini akan kita bahas lagi nanti.

• BERSYUKUR: begitu kita yakin bahwa do’a kita itu sudah dikabulkan oleh Allah, SEGERALAH bersyukur kepada-Nya saat itu juga. Ungkapkanlah rasa syukur itu tidak hanya dalam bentuk ucapan lisan kita saja, tapi juga dalam bentuk kegiatan memberi kepada seseorang atau organisasi yang sedang membutuhkan bantuan kita. Karena memberi adalah bentuk rasa syukur yang paling tinggi. Karena sebenarnya kita diutus oleh Allah untuk turun kedua ini adalah untuk memberi kepada orang lain, bukan hanya untuk diri kita. Masalah memberi ini akan dibahas pula dilain waktu.

• MENERIMA: Setelah kita yakin bahwa apa yang kita do’akan itu dikabulkan oleh Allah, bentuk rasa syukur yang lainnya adalah menyiapkan diri kita untuk menerima pengkabulan do’a kita itu. Dalam proses menerima ini ada rasa senang, rasa bahagia, rasa ringan. Setiap kita memandang kembali detail rencana kita itu, rasa bahagia itu terus mengalir. Wajah kita akan cerah. Orang-orang akan senang melihat wajah kita, bergaul dengan kita, dan bekerjasama dengan kita. Kalau sudah begini, maka kita tinggal Iqra saja lagi. Karena aktifitas berikutnya adalah Aktivitas Allah.

• IQRA’: MEMBACA dan MELAKSANA. Selanjutanya Allah punya Mekanisme Sendiri dalam mengabulkan do’a kita itu. Kita tinggal membaca PIKIRAN TUHAN (MAKAR TUHAN). Untuk pengkabulan do’a kita itu Dia akan buatkan: Keadaan-keadaan (Hal), Orang-Orang, Situasi-Situasi, Peristiwa-Peristiwa, Kesempatan-Kesempatan secara silih berganti. Nah tugas kita selanjutnya hanyalah menyesuaikan tindakan kita dengan Pikiran Tuhan itu.

Ya…, Tuhanlah yang SIBUK mengabulkan do’a kita itu. Karena memang Dialah Sang Pengabul Do’a. Kita hanyalah masuk dan bergerak dari satu keadaan kekeadaan lain, dari satu orang ke orang yang lain, dari suatu situasi, peristiwa, dan kesempatan ke situasi, peristiwa, dan kesempatan yang lainnya. Kita jalani saja semua Pikiran Tuhan itu dengan rasa gembira dan rasa terima kasih kita kepada-Nya. Sampai pada saat yang tepat menurut Pikiran Allah, AHA…, tiba-tiba saja Do’a kita itupun sudah berwujud di depan kita. Setelah itu terserah kita saja, mau kita isi muatan do’a kita itu dengan hal yang baik atapun yang buruk, terserah kita saja. Nanti toh kita sendiri juga yang akan menuai hasilnya, baik ataupun buruk… Selamat mencoba…
Setelah itu apa…?.

Jadi kalau hanya sampai pada pengkabulan do’a seperti yang selalu diinformasikan sedemikian banyak orang dalam mempromosikan LOA yang sangat booming dipenjuru dunia saat ini, maka semua itu hanyalah sebuah keniscayaan saja. Ya…, itu adalah hal yang lumrah saja. Karena LOA itu memang sedang mencoba bermain diwilayah ke MahaRahmanan dan MahaRahiman Allah yang menjangkau seluruh alam semesta berserta segala isinya. Dan media yang dilalui untuk proses LOA itu adalah Wilayah GETARAN…

Saya jadi ingat pada pesan Pak Haji Slamet Utomo beberapa tahun yang lalu, saat saya dengan beberapa orang teman sedang di gembleng oleh Beliau di kegelapan malam Bumi perkemahan Cibubur. Ditengah-tengah latihan, beliau berhenti sebentar dan mengumpulkan kami.

“Apa kalian kira orang spiritual itu tidak bisa apa-apa?”, kata Beliau membuka obrolan.
“Maksud Pak Haji bagaimana??”, kata salah seorang dari kami untuk minta penjelasan.
“Patrap Satu itu adalah wilayah kesaktian, wilayah permintaan, wilayah pengkabulan do’a, wilayah keramaian manusia. Kalian minta apapun, pasti akan dijawab oleh Allah, pasti akan dikabulkan oleh Allah. Saya selama ini tidak membiarkan kalian berhenti diwilayah ini, karena saya khawatir kalian akan terlena diwilayah ini. Saya tidak ingin kalian akan dibuat sibuk oleh wilayah keramaian ini. Karena memang wilayah keramaian ini sangatlah mengasyikkan dan memabokkan. Selama ini dengan bersusah payah kalian saya ajak melewati wilayah Patrap Satu itu, masuk ke wilayah Patrap Kedua (Wilayah Pengembalian), dan bahkan sudah berkali-kali pula kalian kuajak duduk bersama-sama di wilayah Patrap Ketiga (Wilayah Berserah Mengikuti Dzat)”, kata beliau sambil berhenti sejenak.

“ ___”, kami hanya diam dan hening saja menunggu wejangan Beliau selanjutnya…

“Saya sudah mengenalkan Allah kepada kalian sampai “Ntek”. Sehingga kalian sekarang sudah tahu rumahmu yang sebenarnya, yaitu Disisi Allah. Saya menjadi lega sekarang, karena tugas saya sudah selesai”, kata Beliau lirih.

Tiba-tiba saja rasa haru yang sangat pekat menyelimuti dada saya, menyelimuti mata saya, menyelimuti pikiran saya. Sepatah kata yang menggema di hati saya waktu itu hanyalah satu, yaitu ALLAH…!, yang gemanya begitu dahsyat memenuhi rongga alam semesta yang lengang dan hening.

Beberapa lama berselang, Beliau melanjutkan kembali obrolan Beliau dengan kami.

“Nah…, sekarang kalian cobalah menyampaikan kehendak kalian. Pak Yusdeka coba minta kepada Allah pakerti Gubernur Jendral Deandles”, pinta Beliau

Tidak berapa lama kemudian lidah saya seperti bisa mengucapkan beberapa kalimat berbahasa Belanda yang tidak saya mengerti. Tapi saya tetap sadar.

“Sudah”, kata beliau lembut beberapa saat kemudian.

Dan anehnya semua itu bisa saya hentikan seketika tanpa ada kesulitan sedikitpun.

“Bagi yang lain, coba kalian minta kepada Allah pakerti si A, si B, dan seterusnya”, minta Beliau kepada beberapa orang teman saya yang lain yang hadir saat itu. Lalu ramailah bumi perkemahan Cibubur ketika itu untuk beberapa saat.

Berhubung waktu itu akan ada pemilu untuk pemilihan Presiden, saat itu masih ada nama Amin Rais dan sebagainya (sebelum Pemilu Tahap 1), Beliau minta kepada kami agar kami minta ditunjukkan oleh Allah siapa yang akan jadi Presiden yang akan datang.

“Ayo kalian minta diberitahu oleh Allah siapa yang akan menang dalam Pemilu Presiden yang akan datang” kata Beliau sambil tersenyum.

Lalu ada yang melihat Amin Rais mendahului calon-calon yang lain seperti dalam sebuah perlombaan. Lalu Amin Rais seperti didahului oleh Megawati. Dan SBY menguntit di belakang dengan ketat.

“Teruskan pengamatanmu”, kata pak Haji…

Sampai beberapa lama kemudian ada diantara kami yang nyletuk: “SBY pak Haji…”

Mendengar itu, Beliau hanya berguman dan berkata, “ya itu…”. Dan sejarahpun berbicara bahwa memang SBY lah yang naik menjadi Presiden RI sampai sekarang.

Lalu malam itu kami lewati dengan berbagai wejangan Beliau lainnya yang sangat bermanfaat.

“Sekali-sekali kalian sekarang boleh turun dan bermain-main dengan berbagai fenomena menarik diwilayah Patrap Satu itu. Itu gunanya sebagai pembuktian buat kalian bahwa kalian itu punya Tuhan yang sangat penyayang kepada kalian, tapi tetaplah ingat bahwa rumahmu bukan disitu. Rumahmu yang sebenarnya adalah diwilayah keberserahan kepada Kehendak Dzat”, kata Beliau menutup wejangan Beliau dimalam itu…

Jadi Bagaimana…?

Ya ndak gimana-gimana. LOA itu ternyata memang hanyalah secuil dari cara Allah dalam mengenalkan Diri-Nya kepada umat manusia agar manusia itu sendiri mau menyembah-Nya. Dan LOA itu sendiripun sudah berumur sangat tua sekali. Bahkan Iblispun ternyata sudah memakainya untuk mendapatkan kekuatannya agar dia tetap bisa sombong dan angkuh kepada Adam dan keturunannya.

Bagi yang sudah mendalami dan melatih Patrap, maka nenurut pemahaman saya, LOA itu masih bermain diwilayah Patrap Satu dibagian-bagian awalnya, karena kalau Wilayah Patrap Satu itu dijalani secara keseluruhan, pastilah akan mendudukan kita ke suasana yang lebih dari hanya sekedar pengkabulan-pengakabulan seperti itu. Karena memang sudah seharusnyalah pada setiap pengkabulan atas apa-apa yang kita inginkan itu akan menyeret kita untuk menyungkur rukuk dan sujud kepada Allah Sang Pengabul Permintaan.

Wilayah Patrap Satu ini akan:

Menghasilkan rasa mencintai Allah,
Menghasilkan rasa ikut (melok) Allah, berserah atas kehendak Allah
Memuji, bertasbih, mengagungkan Allah (muncul sendiri dari dalam jiwa)
Mengembalikan “wujud” diri kepada Allah, berserah diri…

Diujung wilayah Patrap Satu ini secara mengejutkan kita akan masuk ke wilayah Patrap Kedua. Wilayah dimana kita akan dibawa kesuasana kesadaran:

Memuja Allah:
Ya Allah, Engkau yang memiliki segala sesuatu, Engkau yang menguasai sesuatu. Kekuatan, keperkasaan, kekuasaan-Mu melebihi jagad raya. Ya Allah wujudku bentuk Qudrat-Mu, bentuk kekuasaan-Mu Yang Dahsyat

Kesadaran Roh:
Ya Allah rohku adalah Min-Ruhi, milik-Mu, berasal dari-Mu, atas kehendak-Mu kembali kepada Engkau ya Allah, dengan pertanda nafasku, masuk dan keluarnya nafasku karena Engkau, yang menyebabkan badanku hidup dan bergerak.

Timbul kesadaran rohani:
Penglihatan kembali kepada Allah, kekuasaan kembali kepada Allah, kekuatan kembali kepada Allah, kepandaian kembali kepada Allah, semua yang ada dalam diri kembali kepada Allah

(Pandanglah jagad raya sebagai tanda kekuasaan Allah, jangan pandang batinmu – dirimu).
Rohku adalah dari Allah, milik Engkau Ya Allah, Atas kehendak Engkau Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun
Qodrat Allah menghadap Allah
Min-Ruhi menghadap Allah
Rasa Ingat menghadap Allah

Dan diujung Patrap Kedua ini kita akan ditarik untuk masuk ke wilayah Patrap Ketiga:

Kesadaran Universal:
Menyadari (Ihsan) bahwa Dia Maha Meliputi Segala Sesuatu. Wujud kita bergantung dan diliputi oleh gerak yang tidak bisa kita tahan, bermula dari kecil menjadi besar, tua lalu mati. Juga terhadap tanaman pisang, bumi, matagari, alam semesta berada dalam SATU gerak yang Hidup

Kesadaran Aku:
Semua wajah, penglihatan kembalikan,
Yang melihat, mendengar adalah yang bergerak itu
Hilangkan diri kita
Yang bergerak itu hidup yang sejati
Hidup itu sifat Allah
Hidup itu punya kehendak
Hidup itu punya kemauan
Hidup itu punya diri
Yaitu AKU
Bersabda melakukan sesuatu melalui AKUNYA
AKU yang Tahu
Yang Maha Mengetahui (rahasia)
Maka sembahlah diri-Nya dengan kesempurnaan-Nya
Inna shalati wanusuki wamahyaaya wamamati lillahi rabbul ‘alamin;
Berserah mengikuti kemauan Zat:
Pandanglah jagad raya sebagai tanda kekuasaan Allah, jangan pandang batinmu – dirimu.
Pandanglah alam semesta,
perhatikan yang menggerakkan alam semesta itu

Wajahmu kembalikan kepada Yang Satu (Esa)
Letakkan pada Yang Meliputi

Penutup

Semua kalimat-kalimat dalam uraian patrap satu sampai ketiga diatas tidak akan pernah bisa mewakili keadaan yang sebenarnya. Karena Patrap Kesatu sampai Ketiga itu adalah sebuah laku, sebuah praktek yang hanya bisa dipahami melalui praktek langsung. Bagi yang tidak punya kesempatan untuk melakukannya, maka paling tidak lakukan sajalah praktek seperti yang sudah diajarkan oleh Ustad Abu Sangkan dalam buku Beliau “Pelatihan Shalat Khusyu…”, dan pelatihan-pelatihan yang telah Beliau kembangkan melalui Pelatihan umum diberbagai daerah dan juga melalui beberapa kali TOT di Jakarta…

Sebagai penutup, pada sekitar bulan April 2007 yang lalu saya mengunjungi Pak Haji Slamet Utomo di Banyuwangi dan mendapatkan sebuah wejangan Posisi Patrap Ketiga sbb:

SANG ADA

Kuperhatikan Sang Ada, yang ada kosong
Cahaya terang yang hidup, Sang Maha Tahu
“SANG AKU”

Awal kejadian
Dari satu berkaitan satu
SANG AKU amat sibuk
Mengatur Semesta, mengatur semua Makhluk

Uraikan, lepaskan
Aku berselimut cinta, berselimut ilmu
Gapailah ilmu sampai Ma’rifat
Tapi tinggalkan
Masuklah kepintu SANG AKU yang sibuk
Ma’rifat bukan Tuhan

Letakkan dalam SANG MUHITH
Itu bukan sifat, tapi Dzat Sang Penghidupan
Aku Pepadang
Sang Maha Tahu “AINILLAHA”, Alif Lam Mim
Yang punya sir
Yang punya kehendak Sang Ahad
Sang Penggerak tumbuh hidup

Aku tak mau Merampas kehidupan-NYA
Biarlah aku berserah untuk tiada
Berada dalam diam dalam tiada
Diam…., diam….., diam….

Banyuwangi, 27 April 2003

H. SLAMET OETOMO

Wassalam
Deka
Jalan Kabel no 16, Cilegon, Banten.

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: