Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2015

Umat Akhir Zaman…

Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Penutup, Nabi Terakhir. Nabi Isa ‘alaihissalam juga berkata: “Selepas Baginda tidak akan ada lagi Nabi-Nabi utusan Tuhan melainkan yang datang pada masa itu hanyalah pendusta-pendusta dan itu membuatku kini merasa sangat hiba”, Gospel Barnabas, 123.

Artinya, semua Umat Manusia sejak zaman kenabian Beliau sampai dengan akhir zaman kelak, tidak ada kecuali, adalah Umat Muhammad SAW, umat Penghabisan. Di belakang hari nanti, di hari berbangkit, saat umat Nabi-Nabi berlarian dalam keadaan bingung mencari masing-masing Nabinya sebagai penaungnya, maka saat kita Umat Muhammad SAW mencari dimana PENAUNG kita, maka kita lari kepada Rasulullah SAW. Ya…, kita lari kepada Beliau untuk bernaung di bawah Payung SYAFA’AT Beliau SAW.

Yang kasihan adalah umat manusia yang sebenarnya adalah umat Muhammad SAW tapi mereka masih berpegang kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Bila kelak mereka sampai kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, Nabi Isa ‘alaihissalam tidak akan kenal mereka. Itu yang membuat mereka meraung dibelakang hari. Disini tidak diterima. disana tidak diterima. Nabi Isa ‘alaihissalam tidak kenal mereka. Rasulullah SAW juga menolak mereka. Inilah yang sangat menyakitkan sekali. Mereka nak lari kemanakah?…

(syarahan Ustadz H. Hussien BA Latiff).

Read Full Post »

Paradigma Ericksonian

Pada Anjakan Paradigma Ketiga ini ternyata masih ada tersisa paling tidak satu paradigma berpikir lagi yang perlu sedikit banyaknya kita bahas, yaitu PARADIGMA ERICKSONIAN. Namun sebelum membahasnya mari kita lihat dulu apa HASIL dari berkembangnya paradigma pengkultusan pribadi, paradigma pengultusan teks, dan paradigma wali-wali tarekat di dalam UMAT ISLAM menggantikan paradigma berpikir yang dibawa oleh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul.

Hasil yang pertama adalah, kita masing masing akan berkata kepada orang lain dengan gagah: AKULAH KEBENARAN. AKULAH YANG PALING MENGERTI, AKULAH YANG PALING TAHU tentang Islam, tentang kehendak Allah, tentang syariat, tentang kehidupan.

Sebagai resikonya, kitapun dengan mudahnya MENETAPKAN orang lain yang bertentangan dengan kita bahwa: mereka itu adalah salah; mereka itu akan masuk neraka; mereka akan dilaknat Allah; mereka itu akan ditimpakan bala dan bencana oleh Allah; mereka itu gila, bodoh, idiot…; Itulah gue katakan, lue sih ngak percaya; Lue sih pilih nomor 5 bukannya No 3, rasakan sendiri akibatnya oleh penduduk di negara diatas angin ini sekarang; Pantas bencana ini muncul, penduduk ditempat ini sudah tidak beriman kepada Allah sih. Dengan gagah perkasa kita menetapkan dan menetapkan penilaian-penilaian atas perbuatan orang lain dan segala sesuatu kejadian sekehendak kita sendiri.

Kalau kita tidak menetapkan seperti diatas, paling tidak kita akan MEMIKIRKAN orang lain dan juga apa-apa yang menimpa kita tak henti-hentinya. Kita memikirkan KENAPA orang lain seperti itu, tidak seperti yang kita harapkan. Kenapa orang itu seperti itu. Kenapa si anu itu tidak amanah. Kenapa masalah ini sampai kepada saya, Kenapa harus saya yang menanggungnya bukannya si anu atau orang lain yang jelas-jelas lebih jelek amalnya dari saya…

MENETAP dan MEMIKIRKAN seperti ini, tanpa kita sadari, akan MEMBEBANI minda kita dari waktu ke waktu. Mulai bangun tidur saja, pikiran kita sudah mulai kusut. Berbagai objek pikir bersileweran seperti membenani otak kita dari mulai bangun tidur itu sampai dengan kita tidur kembali di malam hari. Seharian kepala kita seperti dibebani oleh beban yang sangat berat, tapi beban itu tidak kelihatan berada diatas kepala kita. Dan ternyata kita semua tidak ada yang KUAT untuk menanggung beban berat seperti ini berlama-lama.

Beban itu tidak saja melelahkan otak kita, tapi juga menyebabkan nafas kita sesak dan memburu, jantung kita berdetak lebih kencang, otot-otot kita menegang dan kaku, hormon adrenalin membajir aliran darah kita lebih dari biasanya. Kondisi kita seperti sedang dijepit dari atas dan bawah. Dari atas otak kita terasa mumet dan panas, dari bahwa dada kita terasa sempit mau pecah. STRESS…

Kita rasanya ingin segera MELEPASKAN atau MELETAKKAN beban berat dan tekanan kuat yang menghimpit kita dari atas dan bawah itu. Stress Release kata orang sekarang. “Kalau tidak bisa terbebas selamanya, ya sejenakpun bolehlah”, kata kita setengah mengeluh..

Masalahnya adalah, untuk melepaskan beban itu, kita membutuhkan TEMPAT atau ALAMAT dimana kita bisa meletakkan beban itu buat sesaat. Dan disamping itu, kita juga membutuhkan TEKNIK DAN CARA tertentu agar kita bisa melepaskan beban itu dari kepala dan dari dalam dada kita.

Seharusnya Islam bisa memberikan solusi dan jalan keluar yang terbaik untuk itu. Namun sayangnya, sejarah telah membuktikan bahwa Islam yang telah terpecah belah menjadi berbagai paradigma berpikir yang baru (BID’AH), paling tidak menerusi ketiga paradigma berpikir yang telah kita ulas diatas, jadinya tidak bisa lagi memberikan solusi yang TUNTAS agar kita bisa keluar dan terlepas dari BEBAN berat yang sedang menjepit kita. Aneh memang.

Misalnya, terlepas dari paradigma berpikir mana saja yang sedang kita anut dari tiga paradima diatas, SHALAT yang pasti kita lakukan berkali-kali dalam satu hari dan selama bertahun-tahun pula, ternyata tidak serta merta bisa melepaskan kita untuk SELAMANYA dari beban berat yang sedang menghimpit kita. Begitu juga dengan berbagai model DZIKIR dan DOA yang telah kita lakukan, hasilnya sangat minim sekali untuk melepaskan segala beban yang sedang kita pikul. Setelah Shalat, Dzikir, dan Doa yang kita lakukan itu, kita kembali SIBUK berperang melepaskan beban yang sedang menghimpir kita. Malah adakalanya beban kita itu menjadi BERTAMBAH berat.

Karena setiap saat kita selalu SIBUK berjuang untuk melepaskan beban yang sedang menghimpit kita, maka kitapun tidak sempat lagi untuk membaca (IQRA) segala fenomena Alam yang tidak hanya terjadi di depan sapuan pandangan mata kita, namun juga bahkan terjadi di ujung batang hidung kita sendiri. Kita benar-benar luput membaca ILMU dan HIKMAH yang disembunyikan Allah disebalik fenomena- fenomena Alam itu. Ilmu yang akan mempermudah kehidupan kita mengikuti perjalanan masa yang selalu berjalan tanpa bisa ditahan-tahan. Ilmu yang akan mempertinggi peradaban manusia dari zaman ke zaman.

Dan ternyata Ilmu serta hikmah ini dibaca oleh umat lain di benua Eropa, Amerika, Australia, dan beberapa negara di Benua Asia. Umat yang membaca ilmu dan hikmah ini ternyata juga telah meninggalkan atau tidak memakai lagi paradigma agama-agama yang mereka miliki, seperti agama kristen, katolik, budha, hindu, shinto, kong hu cu, dan lain-lainnya. Mereka telah memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Agama tinggal agama sebagai ranah pribadi mereka, dan pengetahuan mereka eksplorasi sampai kebatas materi dan energi, dan bahkan batas alam mimpi.

Selama ratusan tahun, hal yang seperti diatas terjadi pada Umat Islam, sehingga Umat Islam benar-benar telah berubah menjadi umat kelas dua, kalau tidak mau dikatakan umat yang terbelakang. Namun, walaupun terbelakang dalam hal Ilmu pengetahuan, dalam hal berperang melawan penjajah, umat Islam masih cukup disegani. Karena untuk berperang ini ada paradigma lain yang dipegang oleh umat islam, yaitu paradigma MATI SYAHID. Bahwa mati melawan orang yang dianggap kafir itu balasannya adalah SYURGA.

Sampai sekarang ternyata dampak dari ketertinggalan itu masih ingin dilestarikan oleh kelompok-kelompok yang berpegang teguh dengan paradigma-paradigma yang tiga macam tersebut. Semuanya sibuk berpolitik dan berstrategi untuk menancapkan kuku kelompoknya masing-masing. Saling jatuhkan, saling intai, saling maki, bahkan kalau bisa saling bunuh-bunuhan.

Yang bingung adalah kita umat yang banyak dan biasa-biasa saja. Kita seperti ditarik tarik untuk ikut golongan ini dan golongan itu. Sementara beban masalah hidup yang menimpa menimpa kita semakin berat dan berat saja. Shalat sudah, dzikir sudah, berdoapun sudah, tapi beban berat yang menjepit kita rasanya tidak pernah lepas dengan sempurna. Kita bertanya-tanya terus kenapa bisa seperti ini. Tidak seperti yang diceritakan sangat indah kepada kita oleh para khatib jumat atau guru-guru dalam pengajian.

Namun ada sedikit keanehan yang mungkin selama ini tidak jadi perhatian banyak orang, bahwa waktu kita duduk BAB di kamar mandi di pagi hari, semua beban pikiran kita seperti bisa hilang buat sejenak. Tidak jarang ada orang yang bisa menghasilkan ide-ide yang bagus saat dia BAB tersebut. Tiba-tiba seperti “clink” begitu. Ada ide baru yang muncul. Sehingga akhirnya banyak pula orang yang membuat kamar mandinya menjadi bagus dan enak untuk ditingggali berlama-lama. Kamar mandinya bisa dijadikannya sebagai tempat untuk bermeditasi, tapi meditasi sambil BAB.

Apalagi saat di kamar mandi itu ditambahinya pula dengan isapan-isapan panjang sebatang rokok, seakan-akan keruwetan beban pikirannya bisa ikut terbang bersama bulatan-bulatan asap rokok yang sedang membubung naik secara perlahan, atau ditingkahi pula dengan sebuah senandung samar-samar nyanyian yang tidak jelas, sehingga semakin menjadi-jadilah ide-ide aneh yang akan didapatkannya.

Bersambung

Read Full Post »

Ellsy (58 tahun, Malang, Pensiunan PNS dokter)

Kerinduan… Keingin tahuan… Rasa Nikmat yang tak bisa tergambarkan kata-kata… campur aduk jadi satu, sejak kecil, sejak nalarku mulai aktif berinteraksi dengan alam dan lingkungan ku, terbang kesana kemari, tanpa arah.

Sejak kelas 3-5 SD dari keluarga bukan taat beragama, bahkan bapak ku belum pegang satu agama pun, aku mencari Allah, mencari kerinduan dan kenikmatan yang:

* yang samar tapi rasa jelas…
* yang ada tapi tiada…
* yang menggetarkan seluruh jiwa ku… tapi aku tak tau..
* aku yang rindu… tak tau apa yang kurindu…

Aku yang sedari kecil mencari …
Aku yang meraba raba… sekenanya aku jalani…
Aku menangkap… apa yang bisa aku tangkap…
ADA SESUATU YANG AKU CARI… tapi aku tidak mengerti… tidak paham apa yang aku cari

TELINGA PENDENGARANKU AKU LEBAR KAN

Orang bilang baca surat al Ikhlas 1.000 kali seperti membangun rumah di surga… aku jalani di usia 10 tahun

Puasa Senin Kamis untuk kebaikan di masa yang akan datang, aku jalani mulai usia 10 tahun

Diusia 8-10 tahun bulan Ramadan aku minta diantar ke mbah Moeng (adek kakekku di Plampitan Peneleh lingkungan Santri asli Surabaya) untuk puasa dan tarawih.

Dari kecil sangat menentang klenik dan perdukunan, sedangkan kota tempat ku tumbuh dan berkembang di Probolinggo masa itu lingkungan nya sarat klenik dan keluargaku kena imbasnya. Aku menentang habis-habisan.

Periode anak, periode pondasi awal mencari Allah
* aku minta belajar silat dilingkungan pesantren ditolak orang tua ku
* aku minta belajar di pondok pesantren di tolak orang tua ku
* aku minta masuk pesantren kilat hanya saat Ramadan, ditolak orang tua ku.

Orang tua ku melihat potensiku hanya dari segi fisiknya saja, sehingga aku disekolahkan di SD – SMP – SMA Katolik… sebab sekolah terbaik di jaman nya saat itu.

Dan extra kulikuler nya hanya boleh menari jawa klasik, sampai 3 tahun belajar menari, mulai sering manggung.
Tapi, aku tidak bahagia dengan keadaan jadi artis. Aku memutuskan sepihak, stop manggung jadi penari, gara-gara menor dan telanjang dada.

 

Periode Remaja (SMP/SMA)
Ambisi orangtuaku pada anak pertama nya agar sukses menjadi dokter, agar bisa memberi contoh sukses kepada adik-adiknya yang 7 orang.

Periode Remaja ini, makin jelas kerinduanku itu, terus mengoyak hati ku.

Aku tidak kenal Rosulullah Muhammad SAW, membuat hampa hati ku, sampai sekarang aku menyesal. Cintaku kepada Rosulullah tidak setebal sahabat-sahabatku.

Aku lebih mengenal Yesus dengan perjanjian lama dan barunya.

Saat Ramadan adalah waktu yang paling menyiksa, sebab saat hamba-hamba Allah muslim dan muslimah menikmati Ramadan, hatiku menangis tidak bisa ikut Tarawih, sebab sekolah selalu mengadakan ulangan dan ujian.

Aku selalu menangis dalam solat solatku.

Sebagai pelajar yang bertanggung jawab, aku harus belajar. Nilai jelek bagiku menyedihkan. Membuat sedih orangtuaku yang sangat mencintaiku, membuat aku sedih juga.

Sampai lulus SMA, aku belum bisa membaca al Quran. Menyedihkan.

Aku tidak tega menyakiti, mengecewakan orangtuaku. Mereka memintaku menjadi dokter. Aku ikuti keinginan mereka.

Cita-citaku sebenarnya adalah menjadi Nahkoda Kapal, sehingga bisa menjelajah dunia, jauh dari lingkunganku, sehingga aku bisa menentukan tujuan hidupku, mencari apa yang aku rindu selama ini.

 

Periode Kuliah Fakultas Kedokteran di kota Malang dan pernikahanku

Kelahiran 2 anak perempuanku menutup kerinduanku, sebab :
* sibuk belajar
* sibuk di Rumah Sakit
* sibuk sebagai ibu bagi 2 anak balita

 

Periode mengikuti suami bekerja di Jayapura Papua.
Mulailah hidup yang sesungguhnya, diluar bayang-bayang orang tua.
Aku bebas menentukan tujuan hidupku. Peran multitalenta. Peran multifungsi. Banyak peran dan tugas pekerjaan harus aku jalani. Tuntutan keluarga aku tapaki.Membuatku ingat Allah. Hanya Allah tempatku bergantung.

Cintaku kepada Allah tumbuh subur kembali. Kerinduanku kembali muncul tak terbendung.

AKU BARU INGAT… AKU BELUM BISA MEMBACA AL QURAN!!
Aku menangiiis…aku sedih….aku lalai.

Disela-sela tugasku jaga UGD RS Jayapura, kalau tidak ada pasien aku belajar membaca al Quran dari alif… ba’…ta’… tsa’…

Belajar dari kaset jadul dan tape recorder. Sampai suatu Ramadan ditengah lautan saat mudik diatas kapal Umsini Jayapura Surabaya, aku mendengar suara gaib, hanya aku yang mendengar suara itu.
Suara tadarus Quran itu… aku yakin itu suara para malaikat.

Suara malaikat ditengah lautan, aku dengar dari tengah malam sampai fajar tiba.

Saat itulah aku sangat bahagia, sholat dan doa aku lakukan tiada henti, sambil bercucuran air mata. Sampai terbit fajar.

Sejak saat itu Alhamdulillah atas ijin-NYA, atas Cinta-NYA, aku lancar baca Quran.

 

KERINDUAN KU TERUS BERANAK PINAK…

Cara Allah mengajariku tentang agama Islam adalah dengan ditunjuk menjadi penceramah Kesehatan Islam khususnya wanita muslimah di Masjid Raya Jami’ Jayapura bergantian dengan 3 ustadz terkenal di kota Jayapura tiap 4 minggu sekali.

Terpaksa mencari referensi Islam dengan beli dan membaca buku-buku agama Islam.Mulailah kenal dengan para ustadz. Mulai kenal shalat Tasbih, solat rawatib, mulai kenal puasa sunnah lain nya selain Senin Kamis, mulai mencintai masjid, mulai ingin meninggalkan keduniaan… padahal baru mengenal dunia.

Saat gairah dekat dengan Allah sedang mekar-mekarnya. Saat selalu ingat Allah dengan ayat Kursi setiap saat. Saat selalu mengamalkan surat Yasin tiap hari dari 45 menis sampai bisa 10 menit. Saat hati tersiram Nikmat Allah.Saat merasakan Ketenangan bersama Allah saat solat malam tenggelam bersama Allah.

Datang musibah. Cobaan Iman hadir. Test Keimananku sedang di uji NYA. KLL… kecelakaan lalu lintas, ketetapan NYA ada padaku.

KLL mobil merusak wajah dan mata kiriku, masyaa Allah. Subhanallah… Allahu Akbar.

Saat KLL aku tetap sadar dengan kepala berdarah-darah bagai air kran sedang mengalir, sedangkan suamiku yang hanya luka ditangan pingsan, dan aku yg membantunya keluar dr mobil.

Tetap tenang atas kehendak Allah, selama evakuasi, pertolongan pertama di RS terdekat, ke RS Propinsi tempat ku bekerja, ke RS Rujukan di Surabaya, 3 kali operasi mata, sampai sembuh buta mata kiri ku. Tetap tenang. Alhamdulillah.

Allah hanya menguji imanku … tanpa rugi harta sedikit pun

Belum punya dasar ilmu apapun… aku mengalami kejadian LUAR BIASA. Saat operasi mata, saat dibius, Ruh ku lepas dari jasad ku…Ruh ku melihat hanya jasadku terbaring. Ruh-ku melayang-layang, nikmat ditempat seperti kubah masjid warna emas.

Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti itu sebelumnya dan sesudahnya, kemudian aku masuk kembali ke jasad ku sebab aku dijemput malaikat yang mau mencabut nyawaku.

Aku pasrahkan diriku dijemput malaikat, saat kepasrahan itu, ikhlas pergi, telingaku mendengar suara-suara manusia, dan aku tersadar dari pengaruh bius.

Aku ada di dunia yang ramai ini lagi. Makin yakin … Allah mengatur segalanya. Makin Haqqul Yakin. Allah Sang Maha Sutradara.

Makin kuat Iman, makin Cinta, makin Nikmat. Semua atas kehendak-NYA, dan atas Ketetapan NYA.

Sesudah Kecelakaan itui, aku memutuskan Haji dengan uang yang ada. Sebab Haji adalah wajib, sedangkan mobil, rumah, adalah sunnah.

 

Periode mengikuti suami pindah ke kota Kabupaten Paniai Papua

karier suami bagiku lebih penting daripada karier istri.

Ternyata kesibukanku lebih padat dari saat di Jayapura :
* jadi PJS Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai selama kepala Dinas tugas belajar ke Swedia
* jadi Direktur RSD Nabire
* praktek dokter karena tuntutan masyarakat.. sebab dokter di RS cuma 2 orang

Uang banyak tidak menjamin kebahagiaan:
* kembali Rindu menggebu.
* mulai gelisah tidak bisa solat khusyuk…

Kembali menangis ke Allah Ya Allah… aku rindu Cinta sejati ku. Ya Allah… aku rindu Kekasih yang kurindu. Ya Allah… aku pengen khusyuk. Ya Allah… aku rindu ketenangan hakiki.
Saat ituilah aku masuk Jamaah al Fithrah. Mencari Allah… ajaran lewat tol dalam mengenal Allah… lewat pintu Hakikat. Tetapi ajaran nya tidak jelas, tidak runtut, hanya latihan gerakan-gerakan rasa, hanya latihan kekebalan senjata tajam dan kebal orang jahat.

 

Periode mengikuti suami ke kota Madiun Jawa Timur
Kala itu masih asyiik dengan Allah, persepsi saya sederhana saja:

mulai mengamalkan puasa Daud
mengamal kan solat malam dan Dhuha.
mengamalkan itikaf di akhir Ramadan.
mengamalkan Surat Yasin dengan 7 mubin

 

Periode di Kota Batu Malang.

Saya berbaiat pada seorang guru… Guru mengajarkan Ruh lepas dari jasad sebagai latihan mati sempurna , seperti layak nya nabi Isa, hilang jasad dan ruh nya.

Tapi, saya malah gagal paham.

Capek dengan ilmu ilmu tidak jelas, akhirnya kembali ke al Quran dan Hadist, yang selama ini belum pernah aku pelajari. Mulai belajar Nahwu Sharaf, terjemahan di berbagai guru, dari privat, kelas tatap muka, dan beberapa on-line.

Setelah ibuku meninggal dunia dalam pelukanku, sangat kuat kerinduanku mengejar kebodohanku tentang Islam.

Aku putuskan Pensiun dini sebagai dokter, kan ibuku sudah merasakan menikmati anak nya jadi dokter 30 tahun. Sudah cukup aku membahagiakan ibuku, saat nya aku memikirkan diriku sendiri. Sudah selesai tugasku sebagai ibu, karena anak-anakku sudah menikah.

Saat itu sudah sekira 4 tahun aku belajar Makrifat pada sebuah pelatihan yang mengajarkan metoda sholat khusyu. Tapi, aku merasa masih belum sampai, belum berhasil, belum paham, Tapi… Allah tetap aku pegang dan genggam kuat kuat dengan menjalani semua takdir NYA.

 

Tanggal 5 Oktober 2015, melalui FB ustadz Yusdeka Putra, saya menemukan dan mulai browsing Web dan YouTube Syarahan Arif Billah Hj Hussein bin Abdul Latiif:

Kesan saya terhadap beliau dan kajian beliau:

Ajaran bliau Arif Billah, atas Ijin-NYA masuk dengan mudah
Meluncur deras syarahan-syarahan beliau saya ikuti, setiap pagi 2 sampai 3 video syarahan dan seperti ada kerinduan yang terjawab.
Syarahan mengalir dengan tenang, yakin, mantab.
Membaca Syarahan Arif Billah, makin memantapkan Iman, makin bertambah Iman, ada rasa ketenangan.
Menjalani taqdir baik dan buruk yang sudah tertulis di Loh Mahfuz dengan ikhlas, dan selalu belajar sabar
Tidak menuntut banyak, tidak ada target, tidak menjanjikan sesuatu yang tidak masuk akal, atau yang tidak terjangkau.

 

KESAN PERTAMA BERTEMU USTADZ YANG HANDSEM

wajah nya bersinar
wajah nya memancarkan kedamaian
wajah yang putih bersih, akhirnya mengakui,memang handsem
memancarkan rasa damai bagi yang memandangnya
memancarkan ketenangan
mengisyaratkan kemudahan

Sewaktu mengikuti syarahan ustadz Arif Billah H. Hussein

Rasa selalu ingin tau apa selanjutnya tanpa rasa lelah / bosan / ngantuk
Yang disampaikan, nyambung banget dengan apa yang sedang aku pelajari dan sedang aku cari selama ini.
Yang disampaikan menjawab pertanyaan-pertanyaanku selama ini :
* kerinduan karena Allah
* Cinta sejati NYA
* Kebahagiaan Hakiki
* Ketenangan yang damai
* Persahabatan dunia akhirat
Akan tetapi, masih ada sedikit saja yang mengganjal di hati ku. Kenyataan bahwa aku belum bisa mencintai baginda Rosulullah SAW denga total.

Aku akan selalu belajar, belajar, dari Arif Billah dan semua sahabatku.

Mohon bimbingan dan arahan nya, dengan Ridha Allah.

Al Fatihah untuk Ustadz Arif Billah H. Hussein bin Abdul Latiif. DanJazaakallah khairan katsiran untuk bapak Yusdeka Putra.

Salam penuh persahabatan dunia akhirat untuk semua sahabat ku. Aku mencintai kalian karena Allah.
Moga persahabatan ini sampai dunia akhirat, berada di surganya Allah bersama-sama, Aamiin.

Read Full Post »

Kesulitan kelima adalah dalam hal kita memahami HAKEKAT dari semua ALAM CIPTAAN ini termasuk hakekat dari diri kita sendiri. Sebab setelah kita melakukan dzikir-dzikir yang berat dan dalam waktu yang lama itu, ternyata akan muncul berbagai fenomena aneh yang bisa kita RASAKAN dan AMATI.

Fenomena umum yang muncul adalah, kita mulai bisa merasakan bahwa diri kita bukan lagi hanya sebatas tubuh fisik kita saja. Kita mulai bisa MERASAKAN diri kita ini ternyata bisa meluas dan membesar melampau batas-batas jaringan ketubuhan kita. Rasanya aneh sekali. Tubuh kita bisa terasa menjadi seluas angkasa raya. Kita seperti telah menjadi PEPADANG yang sangat luas. Kemanapun kita memandang, kita akan merasakan bahwa disitu ADA KITA. Pepadang yang sangat luas itu terasa sudah berubah menjadi DIRI KITA YANG BARU.

Keadaan yang sama juga akan bisa dirasakan oleh orang-orang yang melakukan aktifitas berputar-putar dilapangan terbuka dengan mata tertutup ataupun terbuka. Begitu juga dengan Tarian Sufi ala Rumi yang membuat tubuh kita berputar-putar mengikuti ritme irama musik tertentu. Kita akan merasakan keadaan yang sama. Seakan-akan kita MIKRAJ meninggalkan alam-alam ketubuhan menuju alam PEPADANG. Alam yang terasa luas, tinggi, dan besar.

Sampai pada keadaan yang seperti ini, mulailah kita dimain-mainkan oleh pengertian-pengertian yang muncul seperti dihembus-hembuskan kedalam pikiran kita. Misalnya,

Kita merasa bahwa kitalah yang menjadi pepadang yang luas itu. HAKEKAT diri kita ternyata adalah pepadang itu. Begitu juga dengan diri-diri orang lain, kita tidak melihat lagi ada orang lain disekitar kita. Yang ada adalah Pepadang. Pada tahapan berikutnya, kitapun akan merasa bahwa Hakekat Alam semestapun adalah pepadang itu juga.

Dari pemahaman hakekat seperti inilah kemudian berkembang menjadi pengertian-pengertian tentang hakekat yang selanjutnya, seperti ALAM ADALAH SAYA, SAYA ADALAH ALAM, yang biasa juga dinamakan orang sebagai Kesadaran Universal atau Kesadaran Cosmos. Siapa saja sebenarnya bisa sampai kepada pemahaman seperti ini. Beragama atau tidak beragamakah dia, shalat atau tidak shalatkah dia, dzikir atau tidak dzikirkah dia. Semuanya akan bisa merasakan hakekat diri yang seperti ini. Jadi mendapatkan hal seperti ini sebenarnya tidaklah sesuatu yang aneh apalagi wah begitu… Biasa saja.

Begitu juga dengan sensasi-sensasi ikutan lainnya, seperti kita bisa merasa tenang dan bahagia, kita bisa merasakan getaran-getaran yang ada disekeliling kita, kita bisa merasakan keadaan-keadaan yang ada disekitar kita, kita bisa mengendalikan gelombang dan getaran, kita bisa bersilancar di dalam alunan energi yang berputar-putar seperti gerakan taichi, bahkan sampai kita bisa OOBE, dan lain-lain sebagainya, itupun sebenarnya hal yang biasa saja. Walaupun disana memang ada kesaktian atau karomah, namun sebenarnya itu bukanlah apa-apa.

Hal-hal yang terjadi seperti berikut ini tentu saja tidak berlaku untuk semua pengamal Tarekat. Tetapi kita akan sangat mudah sekali untuk terjerumus ke dalam paradigma aneh berikut ini. Dikatakan aneh, karena dalam keadaan seperti itu, dimana kita sudah tidak terpandang lagi kepada apapun juga kecuali keluasan PEPADANG itu, maka mulailah kita mereka-reka. Di pepadang itu ADA ALLAH… Bahkan kita mulai menganggap bahwa pepadang itu sendiri adalah Allah. Ini bahayanya…

Dengan begitu, maka sekarang sudah ada DUA WUJUD yang eksis. Satu wujud adalah kita yang memandang Pepadang, dan wujud kedua adalah Allah sebagai Pepadang yang kita pandang. Maka mulailah terjadi PENYATUAN kedua wujud itu menjadi SATU.

Lalu tidak ada bedanya antara kita dengan pepadang itu. Kita merasa bahwa kita dengan pepadang itu sebenarnya SATU. Dari sinilah kemudian muncul PAHAM WAHDATUL WUJUD, yaitu paradigma yang menganggap adanya Kesatuan Wujud yang tunggal antara dua wujud makhluk dengan Allah. Sehingga muncullah puisi-puisi Wahdatul Wujud seperti:

aku adalah Dia.., Dia adalah aku…
aku adalah Aku…, Aku adalah aku…
Kau adalah aku…, aku adalah Kau…
kau adalah Dia…, Dia adalah kau…
aku adalah Kau…, Kau adalah aku…

Dimana huruf awal “kecil” adalah kata ganti untuk kita atau orang lain, dan huruf awal “besar” adalah kata ganti untuk Allah…

Dzikir kitapun akan berganti dari LAA ILAHA ILLALAH menjadi: “Hu Allah…, Hu Allah…, Hu Allah…”, atau “Hu…, Hu…, Hu…” saja. Dan tentu saja untuk setiap dzikir yang kita ucapkan itu akan ada pula fenomena-fenomena tertentu yang akan muncul mengikutinya. Fenomena-fenomena itulah yang menyebabkan kita bertambah yakin akan kebenaran tentang apa-apa yang telah kita lakukan.

Dari sinilah kemudian kita menganggap bahwa HAKEKAT dari DIRI KITA dan ALAM SEMESTA adalah ALLAH. Makanya setiap perbuatan yang kita lakukan bisa kita akui pula sebagai Perbuatan Allah. Misalnya:

– yang bergerak bukanlah saya, yang bergerak adalah Allah…
– yang marah bukanlah saya, yang marah adalah Allah…
– yang memukul bukanlah saya, yang memukul adalah Allah…
– yang membunuh bukanlah saya, yang membunuh adalah Allah…
– yang ada bukanlah saya, yang ada adalah Allah…
– yang bernafas bukanlah saya, tapi yang bernafas adalah Allah…

Apalagi untuk pemahaman yang seperti ini bisa dilengkapi pula dengan ayat Al Qur’an: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar….”, Al Anfal ayat 17.

Klop sudah…, keyakinan kita tentang paradigma berpikir Wahdatul Wujud ini akan semakin menjadi-jadi. Namun anehnya, banyak orang yang terjebak di wilayah ini dengan ditandai syariat kita mulai kedodoran. Shalat-shalat sunnah, apalagi shalat tahajud, akan mulai tidak kita lakukan. Al Qur’an sudah jarang kita sentuh. Kalaulah shalat wajib itu tidak wajib, mungkin kita juga tidak akan melakukannya.

Aneh memang, tapi keanehan itu terjadi karena saat berdzikir dan nyemplung ke Alam Hakekat itu ternyata kita merasakan jauh lebih nikmat daripada shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Nyemplung ke alam hakekat itu rasanya kita seperti DI ISI oleh Allah. Atau ada juga yang mengatakannya kita seperti di ISTIGHRAQ atau TENGGELAM ke dalam lakuan perbuatan Allah. KARAM…. Tanda-tandanya biasanya adalah kita menjadi sulit untuk bergerak… Dan asyiknya tuh di sini…

Emosi kitapun tambah mudah untuk meledak-ledak. Itu karena keakuan dan kepemilikan kita terhadap apa-apa yang telah kita dapatkan menjadi semakin besar. Kalau ada yang mengusik apa-apa yang kita lakukan, kita akan menjadi marah besar. Kita akan membela kepemilikan kita ini sampai titik darah penghabisan.

Akan tetapi, kalau kita belum mampu mencapai keadaan yang serupa dengan Paradigma Paham Wahdatul Wujud ini, kita bisa pula masuk kedalam paradigma yang sedikit berada dibawah Paham Wahdatul Wujud ini, yaitu paradigma Paham Nur Muhammad.

Paradigma Nur Muhammad ini meyakini bahwa HAKEKAT dari ALAM CIPTAAN dan DIRI KITA adalah NUR MUHAMMAD. Dimana Nur Muhammad ini adalah setengah dari Dzat Allah. Lalu dari Nur Muhamad inilah kemudian Allah menciptakan semua ciptaan, termasuk diri kita.

Jadi untuk mencapai Allah, kita terlebih dahulu harus berjumpa dengan Nur Muhammad yang sangat terang benderang. Bedanya disitu saja, sedangkan yang lain-lainnya, seperti dzikirnya, lathaifnya, dan fenomena-fenomenanya hampir sama saja dengan paradigma Paham Wahdatul Wujud.

Sebenarnya masih banyak lagi istilah-istilah yang ada dalam paradigma berpikir wali-wali tarekat ini, namun semuanya berhubungan erat dengan KEDEKATAN kita dengan Allah dan fenomena-fenomena yang kita alami dari waktu ke waktu ketika kita melakukan dzikir-dzikir tersebut diatas.

Misalnya, ada yang disebut dengan: Fana fi Af’al, Fana Fi Shifat, Fana fi Asma, dan Fana fi Dzat; ada yang disebut maqam-maqam seperti Musyahadah, Mukasysyafah, Muqabalah, Mukafahah, Fana Fillah, dan Baqa Fillah… Akan tetapi semuanya itu sungguh akan membuat kita tertekan untuk mendapatkannya. Hanya wali-wali Allah sajalah konon kabarnya yang akan bisa mendapatkan maqam-maqam seperti itu. Kita orang awam ini hanyalah bak punguk merindukan bulan untuk mendapatkannya.

Dengan begitu selesailah secara ringkas kita melihat paradigma berpikir wali-wali Tarekat yang mulai muncul sejak abad ke tiga setelah kewafatan Rasulullah SAW dan berkembang sampai sekarang ini.

Sekarang ini, didepan hidung kita tiba-tiba saja sudah tersaji paradigma berpikir yang berbeda dengan paradigma berpikir di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat Beliau masih hidup. Agama Islam yang satu seperti sudah terpecah-pecah menjadi 3 golongan besar paradigma berpikir seperti diatas, dimana paradigma yang satu dengan paradigma yang lainnya saling BEREBUT untuk mengakui bahwa merekalah yang layak untuk disebut sebagai golongan Islam yang benar-benar mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah.

Berebut itu ternyata bukan hanya sekedar berebut nash dan ayat-ayat saja, tetapi juga sampai pada tahap saling benci, saling dendam, saling menghujat, saling melaknat, bahkan sampai berdarah-darah dan bunuh-bunuhan. Kesemuanya itu menimbulkan penderitaan dan kepedihan yang panjang bagi Umat Islam diseluruh dunia.

Pantas saja Rasulullah mengatakan bahwa BID’AH itu akibatnya adalah NERAKA. Artinya, boleh jadi ke tiga paradigma berpikir diatas bisa kita di golongkan sebagai BID’AH melihat dampaknya yang sangat buruk bagi kehidupan Umat Islam secara keseluruhan. Kehidupan seperti di neraka dunia.

Kalau begitu, masih adakah kiranya tersisa jalan keluar yang terbentang dihadapan kita untuk kita pakai dari sekarang sampai di hari yang akan datang ?. Kalau ada, Paradigma Berpikir macam apakah itu gerangan?.

Bersambung…

Read Full Post »

ANJAKAN PARADIGMA, Bagian-9

Kesulitan keempat adalah untuk memaknai apa gunanya kita banyak-banyak berdzikir dengan menyebut-nyebut Nama Allah atau kalimat Laa ilaha illallah seperti itu.

Memang kalau tujuan akhirnya biasanya sudah jelas, yaitu agar suatu saat kelak kita bisa mendapatkan ilham tentang kalimat-kalimat yang bernuansakan Makrifatullah. Misalnya muncul ilham kepada kita tentang: “Akulah Yang Awal, Akulah Yang Akhir…”, “Akulah Yang Dzahir, Akulah Yang Bathin…”, dan sebagainya. Dan dengan mendapatkan ilham-ilham seperti itu kita dianggap sudah mencapai maqam Makrifatullah. Maqam yang tertinggi di dalam tarekat, yang setelah itu kita bisa pula bertindak sebagai mursyid bagi orang lain.

Akan tetapi untuk mencapai maqam Makrifatullah itu ternyata sungguh sangatlah sulit sekali. Kita kadangkala harus duduk diam menunggu dengan sangat sabar ilham tentang Makrifatullah itu turun kedalam hati kita. Banyak sekali orang yang gagal dalam menunggu Ilham ini, karena banyak yang kemudian terbawa oleh angan-angan, terbawa oleh lamunan, terbawa oleh “chatting” yang terjadi di dalam hati kita. Dimana sering seperti sedang terjadi tanya jawab yang berketerusan antara diri kita yang baik dengan diri kita yang buruk. Dan itu bisa lama sekali.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, untuk sampai ke maqam itu, terlebih dahulu diri kita haruslah sudah benar-benar bersih dari segala kekotoran jiwa. Hati kita haruslah sudah terbebas dari segala macam sifat-sifat tercela. Tidak boleh tidak. Sementara kita juga tahu dengan pasti bahwa hati kita, jiwa kita, selama ini dipenuhi oleh sifat-sifat tercela itu tanpa kita mampu untuk menolaknya. Tahu-tahu hati kita sudah dipenuhi oleh berbagai sifat tercela seperti yang telah diterangkan diatas.

Oleh sebab itu, agar dzikir yang kita lakukan itu ADA MAKNANYA, yaitu sebagai sarana untuk TADZKIYATUNNAFS (menyucikan diri atau nafs), maka harus ada pula TEMPAT-TEMPAT di sekujur tubuh kita yang akan kita bersihkan dengan dzikir yang sangat banyak tersebut. Tempat itu haruslah kita yakini menjadi tempat dimana hawa nafsu dan sifat-sifat tercela kita itu BERSARANG. Sarang dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela itupun kemudian disangka-sangka seperti berada di dalam beberapa titik disekujur tubuh kita.

Sementara itu dibelahan bumi sana, umat Hindu dan Budha telah lebih dahulu melakukan praktek-praktek meditasi dengan berkonsentrasi membersihkan beberapa titik disekeliling tulang belakang mereka, mulai dari tulang ekor naik keatas sampai keubun-ubun. Titik-titik konsentrasi itu mereka sebut dengan CAKRA.

Lalu dengan mudah terjadilah persinggungan yang cair antara paradigma berpikir Dzikir Tarekat dengan paradigma berpikir Meditasi Cakra yang telah lebih dahulu berkembang diwilayah Asia Selatan dan Cina. Persinggungan itu begitu kentara. dalam hal titik titik konsentrasi yang dipakai di dalam berdzikir. Beberapa titik itu letaknya mirip sekali dengan titik-titik di dalam meditasi cakra, terutama titik-titik yang letaknya di sekitar wilayah dada, atau Cakra Solar Fleksus dan Cakra Jantung. Biar berbeda dengan meditasi, maka titik titik konsentrasi di dalam dzikir itu kemudian disebut dengan LATHAIF.

Lathaif inilah kemudian yang akan kita gempur dengan dzikir-dzikir agar sifat-sifat tercela yang bersarang di dalamnya bisa dibakar habis dengan cahaya dzikir. Teknik menggempur lathaif-lathaif itu juga bermacam-macam. Tetapi umumnya adalah dengan mengarahkan pikiran kita ke dalam lathaif-lathaif itu, lalu kita tambahkan dengan membayangkan di dalam ingatan kita lafadz Allah, kemudian lafadz Allah itu kita hunjamkan kedalam lathaif-lathaif itu bersamaan dengan ucapan Allah yang kita ucapkan dengan JAHAR maupun secara SIRR.

Ucapan Allah…, Allah…., Allah… Allah…, dan bayangan lafadz Allah kita hunjamkan berkali-kali dan berirama ke dalam lathaif tertentu dengan jumlah yang tertentu pula. Biasanya lathaif yang terbanyak yang digempur adalah Lathaif Qalb yang berada di area Jantung (Heart).

Biar kita lebih bisa berkonsentrasi penuh kepada aktifitas dzikir yang kita lakukan, kadangkala dzikir jahar dengan dzikir qalb digabung menjadi satu. Dzikir jaharnya adalah dengan ucapan lisan laa ilaha illalah, dan dzikir qalbnya adalah dengan ucapan Allah… Allah…, yang dibaca secara sirr atau lembut di dalam hati.

Beberapa lathaif kadangkala juga harus digempur sekaligus dalam setiap kali ucapan dzikir laa ilaha illalah dan Allah Allah Allah itu. Untuk memudahkan kita berkonsentrasi, maka biasanya tubuh kita juga akan ikut kita condong-condongkan ke lathaif-lathaif yang berada di sisi kiri dan kanan dada kita. Sehingga tubuh kita akan kelihatan bergoyang ke kiri dan ke kanan menggikuti irama laa ilaha illallah yang semakin lama kita ucapkan semakin keras.

Sekarang sudah lengkaplah bekal kita untuk MEMULAI berdzikir dengan memakai paradigma berpikir wali-wali tarekat. Berbai’at kepada Mursyid sudah, rabitah mursyid (membayangkan wajah guru mursyid) agar pikiran kita tidak kemana-mana juga sudah siap kita lakukan, lalu kita membayangkan lafadz Allah, berkonsentrasi ke dalam lathaif tertentu, tasbih dan beberapa biji batu juga sudah kita siapkan, lalu kita tinggal go….

Mulut berucap laa ilaha illallah…
Hati berucap Allah… Allah…, Allah…,
Lafazh Allah dihunjamkan ke dalam Lathaif-lathaif.
Tubuh goyang kiri dan kanan.menerusi letak titik-titik lathaif tersebut
Dagu bisa pula didorongkan keatas dan kebawah mengikuti letak lathaif-lathaif…
Tangan sibuk menyisir satu persatu biji tasbih dan sesekali.memindahkan batu-batu sebagai alat penghitung sudah berapa banyak kita berdzikir.

Ini adalah benar-benar sebuah aktifitas yang sangat melelahkan dan sangat membutuhkan kosentrasi yang tinggi dalam waktu yang lama. Irama yang munculpun adalah Irama yang sangat MONOTON. Jika dzikir seperti ini dlakukan oleh banyak orang, sensasi yang akan muncul akan bertambah kuat lagi. Kalau kita sensitif terhadap terhadap getaran irama nada monoton ini, maka suatu saat tubuh kita akan terasa bergetar. Adakalanya seperti ada sesuatu daya yang mau naik dari dalam dada kita keatas menuju kerongkongan kita. Adakalanya pula kita bisa menangis meraung-raung, atau berteriak-teriak seperti kita sedang disengat oleh sebuah sebuah aliran gelombang tenaga yang tidak terlihat. Pada kejadian yang ekstrim, kadang-kadang tubuh kita bisa sampai jatuh berguling-guling tanpa bisa kita tahan-tahan. Di dalam sebuah acara Ruqyah massalpun sering terjadi hal yang seperti ini.

Keadaan seperti ini sebenarnya bisa hilang dengan cepat atau bisa pula bertahan berhari-hari lamanya. Itu tergantung kepada apakah kita berhenti di wilayah frekuensi getaran itu atau kita melanjutkan dzikir kita dengan tanpa menghiraukan semua fenomena getaran-getaran tersebut. Kalau kita berhenti disitu, maka kita akan lama mengalami keadaan tersebut. Akan tetapi kalau kita teruskan dzikir kita, dan kita tidak pedulikan semua fenomen awal itu, maka fenomena itu dengan sendirinya akan dengan cepat reda dan berhenti.

Kalau keadaan itu sudah reda, kita akan merasakan diri kita menjadi rileks, dada kita terasa luas dan lapang. Kita seperti sedang berada diruangan yang sangat lapang dan luas. Dan keadaan luas dan lapang itupun kemudian menjadi objek perhatian kita…

Sampai disini, sebenarnya selesailah satu putaran dzikir berikut dengan fenomena-fenomena umum yang akan kita alami. Dzikir-dzikir berikutnya adalah pengulangan pengulangan dzikir ini saja sampai kita mendapatkan fenomena-fenomena lanjutan lainnya, seperti kita bisa melakukan Out of Body Experience (OOBE), dan sebagainya.

Namun kalau kita bedah lebih dalam, yaitu selama kita melakukan DZIKIR seperti itu, kita sedang MENGINGAT APA atau SIAPA?. Benarkah saat itu kita sedang MENGINGAT ALLAH atau DZIKRULLAH…?. Jawabannya ada di dalam diri kita masing-masing…

Bersambung

Read Full Post »

ANJAKAN PARADIGMA, Bagian-8

Kesulitan ketiga adalah bahwa di dalam Paradigma Perpikir ini diperlukan sekali peran seorang Guru atau Mursyid yang akan membimbing kita memasuki dunia dzikir Tarekat. Dan Mursyid itupun bukan sembarangan mursyid. Ia haruslah Mursyid Yang Kamil Mukamil, setingkat Waliyyam Mursyida. Tanpa PERANTARA mereka, jangan diharap kita akan bisa bermakrifatullah sampai kapanpun juga. Mencari seorang mursyid yang kamil mukammil itupun sudah menjadi kesulitan tersendiri yang harus kita lakukan.

Peran Mursyid inipun sangatlah sentral sekali. Dari dalam Qalbunya yang sudah diangap bersihlah akan terpancar cahaya yang akan membersihkan Qalbu kita nantinya. Dan melalui Qalbunya pulalah rohani kita akan tersambung dengan Rohani Rasulullah SAW, dan setelah itu dari Rasulullah SAW baru tersambung kepada Allah. Betapa rumit dan berbelitnya paradigma yang harus kita tanamkan kedalam aqal pikiran kita.

Untuk bisa mengangkat seseorang sebagai Mursyid kita, maka kita harus terlebih dahulu melakukan BAI’AT kepadanya dengan tata cara tertentu. Kadangkala acara bai’at itu diikuti pula dengan prosesi dimana kita akan disuruh untuk merasakan mati sebelum mati. Tubuh kita dibungkus dengan kain kafan seakan-akan kita sudah mati dan dikafani. Kemudian kita disuruh membayangkan bahwa kita sudah dikubur di dalam tanah dan tubuh kita tidak boleh bergerak-gerak untuk sekian waktu lamanya. Saat itu bercampur aduklah berbagai perasaan dan angan-angan kita menjadi satu pengalaman yang tak terlupakan.

Dengan Bai’at itu, maka sejak itu perkembangan rohani kita sudah kita serahkan kepada keselarasan rohani kita dengan rohani sang Mursyid. Sang Mursyid telah berubah menjadi AVATAR bagi kita untuk berhubungan dengan Allah.

Hubungan kita dengan Sang Mursyid telah berubah menjadi hubungan Guru dan Murid, hubungan Mursyid dan Salik. Apapun kata mursyid atau guru kita itu, harus kita telan. Kita tidak boleh protes dan bertanya-tanya. Kita menjadi sangat takut kepada guru kita untuk berbuat macam-macam. Takut nanti mursyid kita melaknat kita, atau paling tidak berkata buruk kepada kita, sehingga hal-hal buruk bisa terjadi kepada kita.

Kalau mursyid kita itu berbuat yang aneh-aneh yang bahkan kadangkala tidak sesuai dengan syariat, kita tidak boleh menyalahkannya. Misalnya kalau kita melihat mursyid kita tidak shalat, maka kita harus memahaminya bahwa barangkali mursyid kita itu sudah shalat di Mekkah, atau shalatnya sudah dia lakukan dengan langsung MIKRAJ kepada Allah, dan itu lebih tinggi tingkatannya daripada shalat biasa.

Atau, ketika kita melihat mursyid kita berbuat sesuatu yang melanggar syarak, maka kita harus melihat itu sebagai perbuatan orang yang sedang KARAM, orang yang sedang JADZAB dalam lakuan Allah…

Dengan hubungan Guru dan Murid seperti itu, maka hilanglah sendi-sendi yang tumbuh sangat kuat dizaman Rasulullah SAW dengan para sahabat Beliau, yaitu sendi-sendi PERSAHABATAN. Dizaman Rasulullah SAW itu, tidak dikenal istilah Guru dan Murid, tidak ada istilah Mursyid dan Salik. Yang ada adalah sebuah HUBUNGAN PERSAHABATAN yang sangat kental dan erat antara Rasulullah SAW dengan para sahabat Beliau. Hubungan yang saling menyayangi dan saling merindui, hubungan yang saling mencintai yang tanpa pamrih.

Rasulullah akan sangat MERINDUI sahabat Beliau yang tidak nampak batang hidungnya untuk sekian waktu lamanya dihadapan Beliau. Begitu juga, sahabatpun merindui Rasulullah SAW jika Rasulullah SAW tidak kelihatan pada waktu-waktu dimana Beliau biasanya ada di depan para sahabat Beliau. Beliau-beliau akan saling menyapa, saling bertanya, saling bercanda sampai terlihat gusi Beliau saat tertawa ketika sedang bersama-sama.

Saat itu terbentuklah sebuah pergaulan yang sangat EGALITER, dimana antara satu sahabat dengan sahabat yang lain tidak ada bedanya sedikitpun, kecuali hanya dalam hal ketakwaannya saja. Dan juga diantara para sahabat itu telah terjalin sebuah hubungan yang ALTRUSTIK, dimana seorang sahabat menunjukkan perhatian yang lebih dan tanpa pamrih untuk kesejahteraan sahabatnya yang lain. Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan adanya sifat DENDAM (vindictive) juga sangat jarang terjadi. Sehingga kehidupan Beliau-beliau disaat itu sungguh merupakan sebuah kehidupan yang sekarang banyak didamba-dambakan orang untuk kembali bisa direguk oleh umat Islam. Namun untuk kesana ternyata tidaklah mudah…

Bersambung

Read Full Post »

Berita Bagi Para Penjaga

IMG_1401

Kalimat hai anak muda, merupakan sapaan Nabi SAW terhadap generasi sesudah Beliau yakni orang-orang muda. Kemudian kata AGAMA disini contentnya adalah untuk menjelaskan tentang “Awaluddin Makrufarullah”. Itu penafsiran yang diamanahkan oleh Ustadz H. Hussien Bin Abdul Latiff. Pesan ini menjadi tema pendamping bagi logo yamas.

Read Full Post »

ANJAKAN PARADIGMA, Bagian-7

Paradigma WALI-WALI TAREKAT.

Hidup dengan bertemankan sifat-sifat tercela seperti diatas sungguh sangat menyiksa sekali. Makan dan minum bisa terasa tak enak, tidur bisa tak lelap. Sementara itu, diluar sana dunia Islam sudah terpecah belah pula menjadi dua kubu paradigma berpikir seperti diatas yang satu sama lainnya saling bertentangan dengan hebat. Tapi anehnya kedua kubu inipun mengaku tetap berpegang teguh kepada Syariat Islam.

Ditengah-tegah keadaan yang sangat membingungkan seperti itu, muncullah kelompok-kelompok orang yang mengusung paradigma berpikir baru dengan mengambil pakem : SYARIAT – TAREKAT – HAKEKAT – MAKRIFAT.

Bahwa bagi Umat Islam, menjalankan SYARIAT saja belumlah cukup. Sebab Syariat saja dianggap tidak akan bisa membawa kita untuk mencapai Maqam yang tertinggi, yaitu maqam MAKRIFATULLAH. Maqam orang-orang yang sudah MENGENAL ALLAH.

Paradigma ini menegaskan bahwa siapapun tidak akan pernah bisa MENGENAL ALLAH tanpa dia terlebih dahulu memasuki sebuah TAREKAT tertentu yang dianggap MUKTABARAH. Yaitu tarekat-tarekat yang guru-guru atau para Mursyidnya dianggap mempunyai hubungan silsilah ILMU yang tersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Konon kabarnya, tarekat-tarekat Muktabarah ini menyebar melalui dua sumber awal penerima ilmu ini dari Rasulullah SAW, yaitu jalur silsilah ilmu yang melalui Abu Bakar Siddiq Ra, dan yang melalui Ali Bin Abi Thalib Ra. Kedua sahabat inilah yang diyakini oleh masing-masing penganut tarekat ini telah menerima ilmu yang sangat rahasia dari Rasulullah SAW yang mereka amalkan sampai saat ini. Tarekat-tarekat yang di luar kedua jalur silsilah ini, dianggap tidak atau kurang muktabarah.

Kita tidak akan membahas tentang tarekat-tarekat itu satu persatu. Yang akan kita lihat adalah bagaimana SENDI-SENDI dari paradigma berpikir seperti ini yang telah melahirkan paradigma berpikir tentang jalan wali-wali tarekat yang masih sangat kuat mengakar di dunia Islam saat ini. Kita juga akan melihat bagaimana dampaknya terhadap kehidupan umat Islam sejak dulu sampai sekarang, sehingga memungkinkan pula untuk kita menyebutnya sebagai BID’AH.

 

MUKTABARAH…

Kalau dikatakan bahwa untuk bisa mencapai maqam makrifatullah, kita wajib terlebih dahulu memasuki sebuah tarikat yang muktabarah, yang didalamnya diajarkan dzikir-dzikir khusus yang dulu hanya diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Abu Bakar Ash Shiddiq Ra dan Ali Bin Abi Tahlib Ra, maka sungguh ini telah merendahkan derajat Rasulullah SAW sebagai Nabi dan Rasul yang harus menyampaikan apa-apa yang diajarkan oleh Allah kepada Beliau kepada SELURUH umat manusia. Karena tugas Rasulullah SAW bukanlah hanya untuk segelintir orang saja.

Dengan paradigma berpikir muktabarah seperti ini, berarti Rasulullah SAW dianggap telah pilih kasih dalam menyampaikan ilmu-ilmu khusus yang hanya diberikan kepada dua orang sahabat Beliau itu saja, sehingga kelak hanya orang-orang yang mengamalkan dzikir-dzikir khusus dari kedua orang sahabat itu sajalah yang akan bisa MENGENAL ALLAH. Mencapai derajat atau maqam orang-orang yang BERMAKRIFATULLAH. Dengan begitu berarti Rasulullah dianggap telah mewariskan syariat yang tidak utuh atau tidak lengkap kepada umat Beliau sendiri. Tidak mungkinlah begitu. Itu namanya menghina Allah SWT dan merendahkan Rasulullah SAW. Maha Suci Allah dari hal mengutus Rasul-Nya yang seperti itu.

 

MAKRIFATULLAH…

Dari pakem SYARIAT – TAREKAT – HAKEKAT – MAKRIFAT, terlihat bahwa mengenal Allah atau Makrifatullah itu adalah HASIL dari mengamalkan ajaran-ajaran TAREKAT. Tanpa mengamalkan ajaran sebuah tarekat berarti kita tidak akan pernah bisa bermakriftullah.

Padahal Rasulullah SAW mengajarkannya sederhana saja: MAKRIFAT-SYARIAT. Bahwa untuk menjalankan ibadah-ibadah yang disyariatkan, seperti shalat, kita wajib mengenal Allah (makriftullah) terlebih dahulu. Setelah itu barulah kita bertebaran MEMBANGUN PERADABAN.

“Engkau akan datang pada suatu kaum Ahli Kitab. Kerana itu, hendaknya yang pertama-tama engkau serukan kepada mereka ialah beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Apabila mereka telah MENGENAL ALLAH, maka beritahulah mereka bahawa Allah mewajibkan kepada mereka SHALAT lima waktu sehari semalam”, Terjemahan Sahih Muslim Bk.1, 28 (1994).

Artinya, mengenal Allah (makrifatullah) itu adalah ASAS atau PONDASI yang WAJIB kita bangun terlebih dahulu, sebagai umat islam, sebelum kita mendirikan segala macam peribadatan yang diperintahkan oleh Allah. Tanpa pondasi ini, maka RUNTUHLAH segala macam ibadah yang kita lakukan disetiap waktu.

Karena tanpa mengenal Allah, kita tidak akan pernah bisa MENGINGATI ALLAH (dzikrullah). Alih-alih mengingati Allah, di dalam shalat atau ibadah-ibadah lainnya, kita malah asyik mengingati apa-apa yang selain Allah. Kita ingat anak istri, harta, pekerjaan, dan segala macam permasalahan kita. Padahal shalat itu sendiri adalah aktifitas ibadah penyembahan kita kepada Allah yang kita lakukan dalam keadaan kita senantiasa MENGINGATI ALLAH. Aqimish shalaati lidzikrii… Tidak bisa tidak. Kalau di dalam shalat itu kita tidak ingat sama sekali kepada Allah, itu namanya bukanlah shalat.

Pakem Syariat-tarekat-hakekat-makrifat ini jelas-jelas memutarbalikkan paradigma berpikir yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Makrifatullah yang seharusnya diletakkan paling awal sebelum kita melakukan ibadah, malah diletakkan di bagian paling belakang sebagai hasil dari pengamalan TAREKAT. Tentu saja ini sangat menyulitkan sekali bagi siapapun yang melakukannya.

 

Kesulitan pertama adalah, tanpa mengenal Allah terlebih dahulu, kita sudah diwajibkan untuk melakukan dzikir-dzikir dengan cara menyebut-nyebut NAMA ALLAH atau kalimat LAA ILAHA ILLALLAH yang jumlahnya bisa ribuan bahkan sampai puluhan ribu kali setiap kali berdzikir. Membaca dzikir seperti ini disebut juga dengan dzikir JAHAR atau dzikir LISAN.

Karena kita harus melakukan dzikir dalam jumlah yang banyak, misalnya 1000, 5000, 10000, maka kita butuh pula alat bantu seperti biji tasbih dan batu-batuan untuk menghitung berapa jumlah dzikir yang telah kita ucapkan . Dan untuk melakukannya kita butuh pula tempat khusus yang disebut rumah-rumah dzikir atau ZAWIYAH atau Rumah Suluk. Yang mana rumah dzikir ini biasanya terletak di daerah yang sunyi dan jauh dari tempat keramaian. Suasana ruangannya juga dibuat sesedikit mungkin dimasuki oleh cahaya matahari.

Agar peserta dzikir bisa berkonsentrasi dalam berdzikir dan tidak terganggu oleh peserta dzikir yang lainnya, maka tidak jarang pula setiap perserta dzikir itu dilengkapi dengan kasur dan kelambu yang di dalamnyalah setiap peserta dzikir melakukan semua aktifitas mulai dari makan dan minum, berdzikir, dan shalat-shalat sunat lainnya. Peserta hanya bisa keluar kelambu itu saat shalat wajib berjamaah dan untuk keperluan MCK saja.

Melihat begitu sulitnya aktifitas yang harus kita lalui untuk memulai dzikir tarekat ini, maka biasanya dzikir seperti ini diadakan di bulan Ramadhan mulai dari sejak awal ramadhan sampai beberapa hari setelah Idul Fitri. Jadi diperlukan waktu yang sangat khusus untuk bisa memulai dzikir Tarekat ini.

 

Kesulitan kedua adalah mengenai Objek Pikir atau Objek Ingatan kita selama kita melakukan dzikir-dzikir tersebut. Semua orang sudah paham bahwa hal yang paling sulit untuk kita lakukan adalah untuk membuat sinkron antara pikiran atau ingatan kita dengan apa-apa yang kita lakukan atau ucapkan. Ingatan kita selalu saja meloncat-loncat dari satu objek pikir ke objek pikir yang lain, sementara lidah kita sedang membaca tentang atribut dari objek pikir yang lain, dan tubuh kita juga tengah melakukan suatu aktifitas yang lain lagi. Ada ketidaksinkronan antara ingatan kita, dengan ucapan kita, dan dengan aktifitas tubuh kita.

Kita memang sedang menyebut-nyebut nama Allah, tetapi ingatan kita saat itu malah sedang jauh dari Allah. Ingatan kita saat dzikir dan shalat itu sedang berkelana kepada aribut kepemilikan kita dan kepada permasahaan yang sedang kita hadapi. Dan ini sangat melelah sekali, disamping hasilnya boleh dikatakan tidak ada.

Oleh sebab itu, untuk mengurai permasalah pikiran kita ini, dibuatlah beberapa aktifitas pemusatan pikiran sehingga dalam berdzikir itu pikiran kita hanya terpusat kepada objek pikir tertentu saja dalam waktu yang lama.

Objek pikir yang paling mudah untuk kita ingat adalah dengan membayangkan WAJAH GURU MURSYID yang sedang mengajarkan kita untuk berdzikir. Namun kita tidak cukup hanya dengan membayangkan wajah guru mursyid kita itu saja. Kita juga harus MEYAKINI bahwa guru mursyid kita itupun juga sedang membayangkan wajah guru mursyidnya pula. Guru mursyid kita itu harus yakin pula bahwa guru mursyidnya sudah tersambung ingatan dengan guru dari guru-guru-guru mursyidnya yang lain sampai kepada Raulullah SAW. Olah objek pikir seperti ini disebut sebagai RABITAH MURSYID.

Jadi setiap kali kita mau berdzikir, maka kita wajib membayangkan wajah guru kita terlebih dahulu. Dan kita juga harus yakin bahwa dengan membayangkan wajah guru kita itu, kita sudah tersambung bukan saja ingatan tetapi juga rohani dengan Rasulullah SAW, melalui PERANTARA ROHANI dari guru-guru-guru mursyid kita yang terdahulu.

Bertahun-tahun kita harus begitu, sehingga pantas saja ada orang yang sudah puluhan tahun melakukan ritual rabithah mursyid itu sebelum ia melakukan shalat dan dzikir-dzikir yang lain. Tanpa Rabithah Mursyid ini terlebih dahulu, ia merasa tidak akan pernah  mampu untuk memulai ibadah atau berdikir. Dan itu sangatlah menyiksa sekali…

 

Bersambung

Read Full Post »

ANJAKAN PARADIGMA, Bagian-6

Paradigma Pengkultusan Teks

Tentu saja paradigma pengkultusan individu atau pribadi seperti ini ada pula yang menentangnya. Mayoritas umat islam saat itu menolaknya. Akan tetapi kelompok mayoritas ini seperti membutuhan energi baru agar mereka bisa menghadapi kelompok pengkultus individu diatas dengan tak kalah bersemangatnya. Sebab lawan mereka sungguh sangat bersemangat dan emosional sekali.

Kalau hanya mau memakai paradigma berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah saja, rasa-rasanya itu tidak akan membawa dampak emosional dan semangat yang lebih kuat bagi kelompok ini untuk menghadapi lawan mereka. Karena paradigma kelompok pengkultusan pribadi diatas juga memakai hal yang sama. Mereka juga mengaku berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah (yang mereka terjemahkan sebagai Ahlul Bait).

Maka dalam perjalanan waktu, muncul pulalah paradigma berpikir yang isinya adalah agar umat Islam WAJIB berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah (Al Hadist) yang pemahamannya haruslah berdasarkan kepada pemahaman Salafush Sholeh saja.

Yaitu pemahaman generasi Awal Islam yang sering diterjemahkan sebagai generasi Sahabat sampai dengan generasi Tabiit Tabiin. Karena generasi awal inilah yang dianggap paling tahu tentang segala seluk beluk Agama Islam. Mereka dianggap sebagai generasi TERBAIK yang tahu tentang ilmu dan pengamalan syariat Islam.

Oleh sebab itu, paradigma berpikir ini, mewajibkan umat Islam setelah generasi mereka tersebut untuk selalu menyandarkan segala paradigma berpikir mereka hanya kepada apa-apa yang disampaikan dan dilakukan oleh para shalafush shaleh tersebut.

Dari sinilah kemudian muncul masalah baru. Langkah untuk kembali ke TEKS itu ternyata tidak menyelesaikan masalah seperti yang diharapkan. Karena yang dikultuskan itu adalah TEKS, padahal teks itu sangatlah banyak sekali dan bersumber dari riwayat berbagai orang pula, maka antara para pengkultus teks yang satu dengan yang lainnya saling bercanggah pula dengan penuh semangat.

Kelompok-kelompok kemudian terbentuk pula, yang tujuannya adalah untuk saling mempertahanan teks yang mereka pakai sebagai paradigma berpikir bagi kelompok mereka masing-masing. Lalu Islam yang satu, dengan Al Qur’an yang satu, dan Nabi yang satu, dengan syariat yang satu, kemudian menjadi seperti tercabik-cabik hanya disebabkan oleh karena perbedaan FIQIH, perbedaan kalimat, perbedaan guru, perbedaan kitab, perbedaan tafsir atas Al Qur’an dan Al Hadist yang dipegang oleh masing-masing kelompok itu. Dan itupun membuat kelompok-kelompok itu mempunyai militansi dan semangat yang sangat tinggi pula seperti lawan mereka.

Sejak saat itu, Agama Islam, yang sangat Indah dan Mudah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, sudah dipecah-pecah lagi oleh umat Islam sendiri menjadi berbagai kelompok dan golongan yang masing-masingnya saling menyalahkan dan bahkan saling mengkafirkan. Tiada hari tanpa pertengkaran, tiada hari tanpa pertikaian, tiada hari tanpa ketakutan. Bahkan tiada hati tanpa diisi dengan nafsu untuk saling mengalahkan dan menghancurkan.

Ilmu pengetahuan Islam, yang pada awalnya berkembang dengan sangat mencorong dan mencengangkan, dengan sangat cepat pula melorot dan mundur ketingkat yang sangat rendah dan nyaris tidak menghasilkan apa-apa lagi. Karena memang saat itu umat Islam sudah tidak sempat lagi melakukan IQRA terhadap segala sesuatu yang telah Allah letakkan dihadapan mata umat Islam untuk diteliti HIKMAHNYA.

Jadilah Umat islam tidak sempat lagi untuk membaca dan mempelajari bagaimana caranya manusia menguasai bumi dan angkasa, menguasai tanah pertanian, menguasai air dan lautan, menguasai angin, menguasai jarak tempuh, menguasai waktu, menguasai matahari, menguasai penyakit, dan bahkan untuk menguasai diri kita sendiri. Umat Islam seperti kehilangan dunia sementara kita semua masih sedang berada di dunia.

Majelis-majelis ilmu memang tumbuh subur dan bertebaran keberbagai pelosok. Namun AQAL umat Islam hanya seperti diisi dengan teks-teks agama Islam sampai kepada hal-hal yang detail diatas detail, tafsiran diatas tafsiran, yang tujuannya adalah agar antar golongan-golongan akan merasa benar sendiri dan ilmu itu dipakai sebagai senjata untuk menyalahkan golongan lain.

Secara umum, percanggahan dan pertentangan itu sangat hebat itu seharusnya hanya terjadi antara golongan-golongan yang berparadima pengkultusan INDIVIDU dengan golongan-gologan yang berpadadigma pengkultusan TEKS saja. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu. Bahkan diantara sesama penganut paradigma-paradigma itu sendiripun terjadi pula hal yang sama. Ramai dan gaduh sekali…

Sehingga dengan cepat nilai-nilai TASAWUF, yang sangat luhur di dalam Agama Islam, juga menghilang dari diri Umat Islam. Sebaliknya, sifat-sifat tercela tumbuh sangat subur menyelimuti kehidupan Umat Islam. Apa saja tumbuh menjadi masalah pelik.

Pergaulan sesama Umat Islam larut dalam lamunan ombak lakuan sifat-sifat tercela seperti:

Sombong (takabur);
Ria (ingin dipuji orang lain),
Benci dan bermusuhan yang memutus tali persaudaraan,
Ghadab (penuh marah dan emosi),
Penghardik dan Pemarah.
Suka Melaknat orang lain.
Hiqdu (pendendam),
Hasad (iri/dengki),
Merasa diri paling benar,
Ghibah (bergunjing atas kekurangan orang lain),
Namimah (mengadu domba dan menyebar fitnah) sehingga menimbulkan perpecahan dan pertengkaran ditengah-tengah masyarakat.

Sebagain besar Umat Islam hidup dalam kepedihan dari hari kehari. Pedih yang seperti sedang dibakar oleh API yang sangat panas dan tak pernah padam. Panasnya seperti panas api NERAKA yang bahan bakarnya adalah orang-lain atau golongan-golongan lawan bagi sebuah golongan tertentu.

Walaupun Umat Islam kelihatannya sangat bersemangan sekali dalam melakukan berbagai ibadah dan asyik pula menghadiri berbagai majelis pengkajian Ilmu, namun Ibadah-ibadah dan ilmu yang dikaji itu seperti tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk membersihkan sifat-sifat tercela itu dari diri Umat Islam.

Anomali ini sangat menyesakkan dada umat Islam sendiri. Sebab banyak pula umat islam yang ingin bisa kembali merasakan keindahan Ajaran Islam seperti yang dirasakan dulu oleh generasi-generasi awal Islam. Tetapi, caranya entah bagaimana…

Sementara itu, ditengah-tengah tanya yang sedang membuncah seperti itu, oleh sekelompok orang, muncul pulalah usaha-usaha untuk membersihkan sifat-sifat tercela itu dari diri mereka. Namun sayangnya, untuk mencapai kebersihan diri dari sifat-sifat tercela itu telah dibangun pula sebuah paradigma berpikir baru yang kemudian bisa disebut sebagai paradigma berpikir Tasawuf Jalan Wali-Wali Tarekat.

Bersambung

Read Full Post »

ANJAKAN PARADIGMA, Bagian-5

Paradigma Pengkultusan Individu

Catatan Penting: Dalam melihat paradigma berpikir yang tergolong Bid’ah ini kita tidak akan menyebutkan Nama-Nama Kelompok atau Golongan. Kita hanya akan melihat bagaimana ciri-ciri paradigma berpikir di dalam kelompok-kelompok itu yang diamalkan oleh penganutnya…

Saat Rasulullah SAW wafat, Umar Ibnu Khattab Ra. nyaris saja jatuh pada pengkultusan yang sangat berlebihan kepada Rasulullah SAW. Beliau tidak percaya bahwa Rasulullah SAW telah wafat. Beliau menantang dan akan memotong tangan siapapun juga yang menyatakan bahwa Rasulullah telah Wafat. Akan tetapi Abu Bakar Ash Shiddiq Ra dengan tegas berkata kepada Umar Bin Khattab Ra:

“Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Nabi Muhammad S.A.W, Nabi Muhammad S.A.W sudah meninggal dunia. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati!”.

Abu Bakar Ash Shiddiq Ra mengingatkan kepada para Sahabat yang sedang terguncang, termasuk Umar Bin Khattab Ra saat itu, bahwa Nabi Muhammad S.A.W, seperti halnya mereka, adalah seorang manusia biasa. Abu Bakar Ash Shiddiq Ra kemudian membacakan ayat dari Al Qur’an:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Al ‘Imran ayat 144).

Umar Bin Khattab Ra pun kemudian tersadar dan akhirnya menyerah dan membiarkan persiapan penguburan Jasad Rasulullah SAW untuk dilaksanakan. Dengan begitu, maka Umar Bin Khattab Ra pun terhindar dari pengkultusan yang sangat berlebihan terhadap Rasulullah SAW.

Akan tetapi, sejak itu pula ternyata mencuatlah sebentuk pengkultusan pribadi yang sangat berlebihan kepada Ali Bin Abi Thalib Ra oleh sekelompok orang yang menginginkan Ali Bin Abi Thaib Ra sebagai Khalifah pengganti kekuasaan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Sementara, dalam ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi SAW, tidak ada itu yang namanya pengkultusan kepada pribadi-pribadi manusia, bahkan termasuk kepada diri Beliau sendiri. Nantinya, dengan melihat dampak yang sangat besar dari pengkultusan keluarga Nabi SAW yang disebut oleh sekelompok orang sebagai AHLUL BAIT, sangat pantaslah ia disebut sebagai BIDAH. Sesuatu yang sangat dilarang oleh Nabi SAW.

Bibit pengkultusan kepada pribadi Ali Bin Abi Thalib Ra ini ternyata tumbuh seperti bara di dalam sekam. Walaupun, setelah Abu Bakar Ash Shiddiq Ra, Umar Bin Khattab Ra, dan Ustman Bin Affan Ra, akhirnya Ali Bin Abi Thalib Ra jadi juga diangkat sebagai Khalifah, namun sekam pengkultusan terhadap pribadi Ali Bin Abi Thalib Ra itu ternyata apinya semakin lama semakin membara. Ia nantinya akan menghanguskan Islam sehingga menjadi compang camping bahkan berserakan seperti perca-perca yang gosong terbakar api mulai dari sejak 3 abad sesudah wafatnya Rasulullah SAW.

Genderang perang sudah di tabuh. Pengkultusan pribadi kepada Ali bin Abi Thalib Ra itu kemudian merambat kepada konflik POLITIK yang berdarah-darah, yang terkenal dengan nama Perang Jamal (Onta), antara kelompok yang berpihak kepada Aisyah Rh dengan kelompok yang berpihak kepada Ali Bin Abi Thalib Ra, terutama setelah terbunuhnya Ustman Bin Affan Ra. Peperangan Jamal ini barulah titik awal saja dari peristiwa-peristiwa besar berikutnya yang ternyata sangat melemahkan umat Islam sendiri.

Sebenarnya Allah telah mengatur sedemikian rupa agar Umat Muhammad SAW tidak mengkultuskan Beliau dan anak keturunan Beliau kelak. Tiga orang putra Beliau, yaitu: al-Qashim bin Muhammad, Abdullah bin Muhammad, dan Ibrahim bin Muhammad, semuanya meninggal di waktu mereka masih kecil. Beliau-beliau tidak meninggalkan keturunan. Artinya secara garis keturunan bapak, keturunan Rasulullah SAW sudah tidak ada sampai sekarang ini.

Sedangkan dari 4 putri Rasulullah SAW, yaitu: Zainab binti Muhammad, Ruqayyah binti Muhammad, Ummu Kultsum binti Muhammad, dan Fatimah binti Muhammad, hanya Fatimah binti Muhammad Rh saja yang mempunyai anak laki-laki dari keturunan Ali Bin Abi Thalib Ra, yaitu Hasan Bin Ali Ra dan adiknya Husein Bin Ali Ra.

Ranji keturunan Nabi

Dari bagan diatas terlihat bahwa, sesuai dengan nasab garis keturunan bapak, yang berkembang saat ini adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib menerusi Hasan bin Ali dan Husein Bin Ali.

Akan tetapi Rasulullah memang pernah berkata bahwa:

“…Setiap anak memiliki penisbatan keturunan melalui ayahnya (‘ishbah) , kecuali kedua putra Fatimah (Hasan dan Husain) . Karena sesungguhnya akulah wali dan ishbah untuk keduanya!” (Hadits Riwayat al-Hakim dari Jabir).  Thabrani juga meriwayatkan hadits serupa dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra as. Thabrani juga meriwayatkan hadis lainnya dari Umar dengan lafaz yang berbeda: “…Setiap anak penisbatan keturunan mereka ikut sang ayah, kecuali putra Fatimah. Akulah ‘ishbat (marga) mereka sekaligus ayah mereka!”. Al-Hakim juga meriwayatkan hadits ini di dalam kitab haditsnya Mustadrak Al-Shahihain Jil. 3 hlm. 54.

Namunkita tidak akan menyoroti masalah NASAB keturunan Rasulullah ini. Yang akan kita soroti adalah perilaku pengkultusan segolongan umat Rasulullah yang sangat berlebihan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra, dan cucu Nabi, yaitu Imam Hasan dan Imam Husein. Ada juga golongan yang memberikan pengkultusan yang sangat berlebihan kepada Imam Husein yang penderitaan Beliau saat dibunuh di Padang Karbala telah dijadikan oleh golongan ini sebagai sarana untuk membangkitkan SEMANGAT dan mengangkat DAYA JUANG anggota dari golongan tersebut.

Kita tidak akan membahas tentang amalan-amalan dan perbuatan-perbuatan golongan ini, seperti: MELAKNAT Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq Ra, Umar bin Khattab Ra, Usman Bin Affan Ra, dan Aisyah Rh; Nikah Muth’ah (kontrak); melukai diri sendiri sampai berdarah-darah; memakai atribut-atribut pakaian yang khas; tata cara shalat yang tidak umum dilakukan oleh mayoritas umat Islam; dan perilaku-perilaku lainnya yang kelihatan aneh bagi penganut Islam yang banyak (jumhur).

Kita lebih akan membahas hal-hal lain yang lebih mendasar lagi, bahwa semua AMALAN IKUTAN itu mau atau tidak mau HARUS pula mereka amalkan dengan bersungguh-sungguh. Sebab tanpa amalan-amalan seperti itu, kelompok ini akan kehilangan SEMANGAT dan EMOSI dalam mempertahankan eksistensinya. Dan tanpa semangat dan emosi seperti itu, kelompok ini akan kehilangan makna dan akan bubar dengan sendirinya.

Dengan amalan-amalan itu, emosi mereka tersulut. Saat melakukan amalan-amalan itu, ada sebentuk energi dahsyat yang terkumpul di dalam diri mereka. Energi itu lalu dilampiaskan dan dilepaskan mereka dengan cara-cara seperti: bisa dengan menangis histeris, berteriak-teriak seperti orang kehilangan akal, bisa dengan menepuk-nepuk dada secara keras dan bertalu-talu, dan bahkan bisa pula dengan melukai diri mereka sendiri.

Setelah pelepasan energi seperti itu, akan ada perasaan senang, gembira, dan bahagia yang mengikutinya. Dengan begitu maka penganut kelompok ini akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah kebenaran mutlak yang WAJIB mereka JAGA dan KEMBANGKAN dengan sekuat tenaga dan usaha. Untuk mencapainya, berbohong, membunuh, berperang, dan sebagainya, sudah menjadi tidak masalah lagi bagi mereka. Semua akan mereka lakukan dengan sangat terstruktur rapi dan semangat yang menyala-nyala.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: