Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2014

Sang Fana, Bagian-5

MENGUAK TIRAI TAQDIR…

Dengan berbekal kacamata Makrifatullah, sedikit banyaknya kita sudah mulai bisa memahami kenapa kita begitu sulitnya untuk beriman kepada Rukun Iman ke-enam, yaitu beriman kepada Baik dan Buruknya Taqdir, yang keduanya berasal dari Allah.

Ternyata penyebab utamanya adalah karena adanya kesalahan paradigma berpikir kita tentang diri kita sendiri. Bahwa kita merasa WUJUD. Karena kita merasa wujud maka kitapun merasa seperti memiliki kehidupan kita. Sehingga kita sulit untuk menerima kenyataan bahwa apapun juga ternyata sudah ditetapkan oleh Allah untuk kita jalani sejak Firman KUN. Kita hanya tinggal menjalankan saja apa-apa yang sudah ditetapkan untuk kita masing-masing.

“Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepada kamu”, An Nur (24): 54.

KEKELIRUAN umum kita selama ini dalam memahami Taqdir ini barangkali sama dengan kekeliruan-kekeliruan yang telah saya buat selama ini. Kesalahan yang saya perbuat SEBELUM saya mengenal Ilmu Makrifatullah Jalan Nabi-nabi ini.

Disini saya tidak berani berkata KITA. Sebab boleh jadi ini hanya kekeliruan saya pribadi saja. Bukan kesalahan para sahabat yang lain. Saya sendirilah yang saat itu belum memakai kacamata Makrifatullah Jalan Nabi-nabi seperti yang saya pakai sekarang ini. Jadi kekeliruan yang saya maksudkan itu adalah KELIRU jika dilihat dari Sudut Pandang atau Paradigma berpikir Ilmu Makrifatullah.

Kesalahan pertama, saya mengira saat Allah pertama kali berfirman “KUN” itu, Allah berfirman kepada SESUATU yang BELUM ADA. Sesuatu KETIADAAN atau KEKOSONGAN. Saya kira Allah berfirman KUN kepada ketiadaan atau kekosongan itu, lalu FAYAKUN. Dari ketiadaan dan kekosongan itu kemudian terciptalah Makhluk-Nya satu persatu.

Karena saya merasa diciptakan dari tiada, berasal dari kekosongan, maka saya ingin kembali mencari kekosongan, saya berusaha “berjalan dan kembali” untuk menjadi tiada. Dan itu saya lakukan dengan berbagai cara, termasuk berbagai metoda meditasi, dzikir (lafal), dan teknik-teknik lainnya yang memang mengajarkan tentang kekosongan, terutama kekosongan di dalam pikiran. Mengosongkan pikiran. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak berpikir.

Kalau ada yang bertanya kepada saya: “kamu mau kembali kemana?. Walaupun saya menjawabnya saya: “ingin kembali kepada Allah”, namun jawaban saya itu ternyata tidak serta merta mencerminkan hal yang sebenarnya. Kembali kepada Allah itu saya kira bisa saya lakukan dengan mencoba-coba menjalankan sebuah rasa yang berasal dari dalam dada saya berupa sebuah getaran halus. Getaran itu saya tujukan keatas menuju ketinggian. Seakan-akan dengan begitu saya menjawabnya: “saya mau menuju ke kekosongan, saya ingin kembali ke kekosongan”.

Karena saya “mengingat” (DZIKIR) pada kekosongan, walaupun saya menyebut-nyebut nama Allah, ternyata ada yang ikut menemani saya, sebutlah itu iblis, syetan, atau jin. Sebab ada memang ayat yang mengatakan bahwa: “Waman ya’syu ‘andzikrirrahmaan nuqayyidh lahuu syaithaanan fahualahuu qariinun, Dan barangsiapa yang berpaling dari INGAT kepada Yang Maha Rahman (ALLAH), Kami akan mengirimkan syetan sebagai teman akrabnya, (Adz Dzukhruf 36). Dan dengan begitu, tahu-tahu saya sudah dekat saja dengan alam perdukunan, alam getaran (vibrasi), dan alam kesaktian, yang lama-kelamaan ternyata malah menjauhkan saya dari Allah. Salah satu ciri-cirinya yang sangat kentara adalah, waktu itu saya sangat sulit sekali untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Ketika saya punya masalah, dulu itu saya malah melakukan “XYZ” yang sebenarnya sama dengan bermeditasi. Dan itu bisa puluhan menit bahkan sampai jam-jaman. Tujuannya adalah agar masalah saya selesai, agar saya sembuh dari sakit, atau tujuan-tujuan lainnya. Padahal Nabi mencontohkan, kalau kita punya masalah, kita lakukan saja shalat dua rakaat, maka Allah akan memberikan kita tuntunan-tuntunan kepada kita agar kita bisa menghadapi masalah kita itu tanpa masalah. Padahal pada saat itu saya juga masih mengaku bahwa saya adalah umat Nabi Muhammad Saw. Umat yang akan mencontoh perilaku, sikap, dan tauladan dari Nabi Muhammad Saw. Tapi yang saya lakukan sangat berbeda dengan yang Beliau lakukan. Aneh sekali memang.

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-4

Kalau kita tidak wujud, apa pula yang akan bisa kita pilih dengan BEBAS?. Tidak ada. Kita tidak punya pilihan tentang siapa kita dan apa-apa yang akan kita lakukan atau akan kita lalui. Semuanya sudah diatur dan ditetapkan sejak Firman KUN. Kita hanya tinggal menjalani kehidupan ini seperti kita menjalani sebuah drama (soap opera) ciptaan komputer, seperti yang di katakan oleh Stephen Hawking. Karena semua sifat yang tergelar dihadapan kita memang sudah sedemikan sempurnanya berjalan.

Stephen Hawking sempat berkata: “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada ‘sesuatu’ dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta. (The Grand Design 2010).

Ternyata memang kita sudah tidak punya pilihan untuk berkeinginan, berkehendak, dan beraktifitas. Semuanya sudah tinggal berjalan secara otomatis mengikuti hukum-hukum atau fitrah yang sudah ditetapkan, sehingga Stephen Hawking sampai mengira bahwa Allah itu tidak ada. Sebab untuk kita bisa berkeinginan, berkehendak, dan beraktifitas itupun SUDAH ditetapkan oleh Allah, dimana Allah mengirimkan ILHAM, BENIH-BENIH PIKIRAN berupa KEBAIKAN dan KEBURUKAN kepada setiap manusia melalui DZAT-NYA sendiri, TSE.

Dan ini yang hebat…, bahwa ILHAM atau benih-benih pikiran itupun sudah TERTULIS di dalam Lauhul Mahfuz dengan sangat sempurna, dan tidak ada yang terlupakan. TSE (DZAT) memastikan ILHAM itu akan terzhahir menjadi segala keinginan, kehendak, dan aktifitas seluruh manusia yang mengikuti KETETAPAN-NYA.

ILHAM itu juga pastilah menimbulkan ILMU. Ilham fujur akan membawa kita untuk mengerti ilmu tentang berbagai perbuatan buruk. Sedangkan ilham taqwa akan membawa kita untuk memahami ilmu tentang berbagai perbuatan baik. Waktu akan mengantarkan kita untuk berbuat baik atau buruk seperti yang sudah ditetapkan untuk kita lakukan. Dzat memastikan bahwa kita akan melakukan perbuatan baik atau buruk itu tepat pada waktunya.

Makanya bagi orang yang mata hatinya sudah tajam, ketika ia melihat seseorang berbicara, berkeinginan, berkehedak, marah, benci, senang, dan tindakan-tindakan lainnya di depannya, maka ia hanya akan tersenyum saja, senyum Makrifat. Mulutnya tetap diam terkunci. Ia tidak akan menilai, tidak memutuskan, tidak menghakimi. Bagaimana ia akan mau menilai, memutuskan, atau menghakimi kalau ia sudah tidak wujud?.

Karena ia sudah dapat melihat bahwa disebalik semua tindakan seseorang itu sebenarnya, pada hakekatnya, adalah Allah sendiri bertindak MELALUI DZAT-NYA yang sedikit. Lalu dari Dzat-Nya itupun kemudian terzhahir menjadi perbuatan seseorang dan juga perbuatan semua manusia, termasuk ciptaan Allah yang lainnya, pada saat yang bersamaan. SERENTAK.

Tetapi, walau ia sudah dapat melihat dengan sangat tajam bahwa semua akitifitas makhluk apapun juga di alam semesta ciptaan ini adalah Aktifitas atau KESIBUKAN ALLAH melalui DZAT-NYA, namun ia tidak akan pernah berkata bahwa ketika ia bertindak, berbicara, beraktifitas itu, yang melakukannya adalah Allah, seperti ungkapan orang-orang yang menganut paham Wahdatul Wujud. Ia tidak pernah berkata begitu. Karena ia sadar betul bahwa ia tidak wujud. Yang wujud adalah DZAT Allah. Mulutnya sudah terkunci rapat, sehingga tidak ada lagi pengakuan-pengakuan yang lahir dari mulutnya.

Ia hanya diam, ia hanya senyum dengan senyuman makrifat, dan ia menjadi serba tidak tahu. Sehingga Ia seringkali dianggap oleh orang lain sebagai orang yang aneh. Bagaimana tidak akan aneh?. Rasulullah diludahi orang, disiram air kotor, dicaci dan dimaki, dan bahkan mau dibunuh, Beliau hanya diam dan tersenyum. Sebab Beliau sudah melihat bahwa disebalik apa-apa yang dilakukan orang lain terhadap Beliau itu sebenarnya adalah Perlakuan Allah terhadap Dzat-Nya. Beliau berperangpun hanya karena memang sudah diperintahkan oleh Allah untuk berperang.

Bahkan agar Beliau tidak ragu-ragu untuk membunuh, memanah, dan meleparkan senjata kepada musuh-musuh yang ada dihadapan Beliau, Allah berfirman: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika engkau melempar, tapi Allahlah yang melempar”, Al Anfal (8); 17. Sehingga Beliaupun berperang dengan tanpa beban sedikitpun…

Begitu juga dengan Khidir AS yang dianggap aneh oleh Musa, keanehan Uwais Al Qarni dihadapan sahabat Nabi, dan keanehan-keanehan orang-orang Allah yang lainnya yang mungkin saja ada salah satunya diantara para pembaca sekalian. Semuanya mereka lakukan karena mereka sudah tidak lagi mengaku Wujud. Fana…

Lalu kita kemudian akan bertanya-tanya tentang ayat-ayat Allah yang sangat populer disampaikan kepada kita ketika kita akan membahas taqdir, diantaranya:

“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…”, QS. Ar-Ra’du (13): 11.

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min 60).

Dengan berbekal dua ayat ini, kita merasa seakan-akan masih punya sedikit RUANG untuk mengatur hidup kita agar keluar dari taqdir yang sedang kita hadapi SAAT INI.

Bagaimana ini…?.

Untuk itu, agar kita menjadi paham, mari kita pakai kacamata makrifatullah kita kembali. Untuk menguak tabir membaca Takdir…

Bersambung

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-3

Akan tetapi, kalau kita ingin tahu bagaimana rasanya seandainya kita ingin mengaku wujud, maka Allah sudah memberikan contoh yang sangat dramatis seperti yang dirasakan oleh iblis ketika Nabi Adam AS diciptakan. Dzat memastikan bahwa iblis akan mengikuti KETETAPAN Allah yang telah menakdirnya untuk menjadi mahluk yang ingkar dan kufur kepada Allah.

Ia akan menjadi contoh bagi umat manusia tentang bagaimana jadinya kalau ada diantara umat manusia yang sudah ditetapkan oleh Allah pula untuk mengaku wujud. Keadaannya, rasanya, tersiksanya, sakitnya pun akan sama dengan apa-apa yang dirasakan oleh Iblis.

Iblis hanya mengaku wujud terhadap dirinya yang dia lihat terbuat dari API. Karena ia mengaku wujud, maka ia segera saja akan membandingkan dirinya dengan diri Nabi Adam AS yang dia lihat hanya terbuat dari TANAH. Ia hanya melihat SIFAT. Ia hanya akan membandingkan SIFAT. Ia merasa api lebih baik dari tanah. Ia mengira api lebih mulia dari tanah. Ia memang sudah ditetapkan oleh Allah untuk menjadi makhluk yang akan selalu mengaku dirinya wujud. Ia akan selalu menghina tanah. Ia akan selalu membenci tanah. Ia tidak dapat menghindar dari ketetapan untuk dirinya. Ia akan selalu menjadi contoh bagi umat manusia jika manusia itu mengaku wujud pula.

Sebagai pembanding, Allah telah menetapkan pula ada makhluk yang bersikap secara bertolak belakang dengan iblis. Allah telah menakdir malaikat untuk menjadi contoh bagi umat manusia tentang sebuah pertobatan, sebuah penyadaran, sebuah insight. Awalnya malaikat juga seperti ingin mengaku wujud karena aktifitasnya. Maklumlah bahwa ia adalah makhluk yang tercipta dari Cahaya dan selalu pula beribadah dan menyucikan Allah.

Buat sejenak malaikat melihat SIFAT dari diri Adam AS yang tercipta dari tanah, yang dia kira akan selalu menumpahkan darah. Boleh jadi sebelum Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah saat itu sudah ada pula hidup makhluk lain yang mirip dengan Nabi Adam As. Makhluk itu selalu menumpahkan darah bagi sesamanya. Mereka selalu bunuh-bunuhan antar sesamanya.

Buat sesaat malaikat juga terpaku melihat kepada diri Adam AS. Ia mengira dan berpersepsi bahwa Nabi Adam akan sama saja dengan makhluk yang sudah ada itu. Nabi Adam AS dan keturunannya kelak pastilah sama dengan makhluk yang selalu menumpahkan darah antar sesamanya itu. Lalu ia bertanya-tanya, “kenapa pula Allah harus menciptakan Adam padahal saat ini sudah ada dia yang selalu bertasbih menyucikan Allah?.

Ia mencoba membandingkan sifatnya dengan sifat yang akan disandang oleh Adam dan keturunannya kelak. Ia mengira sifatnyalah yang akan lebih baik dari sifat Nabi Adam dalam hal beribadah kepada Allah. Dzat memastikan bahwa malaikat pasti akan mengikuti KETETAPAN Allah yang telah menakdirkannya untuk menjadi makhluk yang ragu-ragu pada saat awal-awal penciptaan Adam.

Namun dengan sebuah proses yang sangat indah, dimana malaikat ditunjukan tentang kehebatan Nabi Adam dalam hal Ilmu Pengetahuan, maka akhirnya malaikat luruh pengakuannya. Ia tidak mengakui lagi akan kewujudan dirinya…

Begitu ia menyadari akan ketidakwujudan dirinya, maka seketika itu pula iapun tidak melihat akan kewujudan diri Adam AS. Malaikat sudah beranjak dari melihat SIFAT untuk melihat HAKEKAT. Bahwa Adam AS ternyata semata-mata hanyalah penzhahiran DZAT mengikuti KETETAPAN Allah. Lalu Malaikatpun sadar bahwa Dzat itu adalah sebagian kecil saja dari Diri Allah yang Maha Besar dan Maha Indah. Ia telah BERMAKRIFAT kepada Allah. Malaikat langsung tersungkur sujud kepada Allah. Dzat memastikan bahwa malaikat harus menjalani ketetapan Allah untuknya. Bahwa ia telah ditetapkan oleh Allah menjadi makhluk-Nya yang bertobat, yang tersadar dari kesalahannya.

Sementara Adam AS juga sudah ditetapkan oleh Allah untuk menghuni BUMI yang sudah disiapkan terlebih dahulu oleh Allah untuk dihuni oleh Adam AS dan keturunannya. Mau tidak mau Adam AS harus keluar dari “Tanah Syurga”. Dzat memastikan Adam AS akan keluar dari tanah syurga itu untuk menjalani ketetapannya sebagai Khalifah Allah di muka bumi. Proses keluarnya Nabi Adam dari syurga itu sudah ditetapkan oleh Allah dan HARUS terjadi. Kalau beliau tidak keluar dari Jannah, maka siapa yanga akan mengelola bumi yang telah diciptakan oleh Allah dalam jangka waktu jutaan tahun?.

Adam AS dan keturunannya kelak akan menjalani kehidupan di muka bumi itu dengan dua kualitas sikap pula. Ada keturunan beliau yang hidupnya sekualitas dengan iblis dan ada pula yang sekualitas dengan malaikat. Tapi umat manusia punya keistimewaan bahwa mereka bisa berpindah dari hidup yang sekualitas dengan iblis menjadi hidup yang sekualitas dengan malaikat melalui pintu taubat. Begitu pula mereka bisa berpindah dari kehidupan yang sekualitas dengan malaikat menjadi hidup yang sekualitas dengan iblis yang durhaka melalui pintu murtad. Tapi pintu kepatuhan, atau pintu murtad, ataupun pintu taubat itupun sudah ditetapkan siapa-siapa yang akan melaluinya. Dzat memastikan ketetapan Allah itu pasti akan terlaksana…

Oleh sebab itu masihkah kita punya pilihan, FREE WILL and FREE ACT di dalam hidup kita ?.

Bersambung

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-2

Sekarang mari kita lihat pula PIKIRAN kita….

Bangun tidur, kita masih belum mempunyai pikiran apa-apa. Pikiran kita seperti kosong begitu saja. DZAT memastikan bahwa kita akan berpikir tentang apa-apa yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz untuk kita pikirkan. DZAT akan memastikan pikiran itu mengalir kedalam otak kita. Tiba-tiba saja berbagai pikiran seperti menyelusup begitu saja kedalam otak kita. Kita mengatakan bahwa kitalah yang berpikir, padahal Dzatlah yang memastikan pikiran itu lahir dari keadaan tidak berpikir. Pikiran itu diberikan oleh Allah melalui Dzat-Nya kedalam otak kita. Sehingga jadilah kita merasa bahwa kitalah yang berpikir. Padahal DZATlah yang memastikan pikiran itu masuk kedalam AKAL atau HATI kita.

DZAT juga memastikan akan ada hormon-hormon dan enzim yang keluar mengikuti pikiran kita. DZAT akan memastikan terjadinya rasa-rasa atas pikiran itu. DZAT akan memastikan tindakan atau aktifitas yang akan kita lakukan akan sesuai dengan apa yang sudah TERTULIS di dalam Lauhul Mahfuz. DZAT akan memastikan…, memastikan…

Jadi DZAT yang ada di dalam tubuh kita akan memastikan bahwa semua bagian dari badan kita akan menjalankan atau memerankan peranan seperti yang telah di tuliskan di dalam Lauhul Mahfuz untuk kita jalankan atau perankan. Kalau tidak dituliskan, maka kita tidak akan melakukan apa-apa, karena Dzat tidak melakukan reaksi apa-apa. Sebab Dzat itu sangat patuh kepada ketetapan-ketetapan Allah.

Saat kita berbicara ataupun menulis, DZAT yang ada di dalam diri kita akan memastikan bahwa pembicaraan atau tulisan kita itu akan sesuai dengan apa yang telah DITETAPKAN di dalam Lauhul Mahfuz untuk kita bicarakan atau tuliskan. DZAT memastikan setiap kalimat, kata, dan huruf yang kita ucapkan atau tuliskan adalah kalimat-kalimat, kata-kata, dan huruf-huruf yang sudah DITETAPKAN di dalam Lauhul Mahfuz untuk kita ucapkan atau tuliskan.

Kalau semua yang ada pada diri kita, apa-apa yang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan adalah semata-mata Aktifitas DZAT yang sedang menjalankan PERANAN mengikuti KETETAPAN yang telah DITULISKAN di dalam Lauhul Mahfuz sejak masa KUN, lalu apa lagi yang bisa kita akui sekarang sebagai diri kita, sebagai wujud kita?.

Bukankah yang sedang menjalankan peranan itu adalah DZAT?.

Lalu kita mana ?…

Kita ternyata tidak ada…, kita tidak wujud, kita Nol…, Zero… Yang wujud adalah DZAT.

Ya…, ternyata tidak ada satupun yang bisa kita akui sebagai kita. AKU. Sebab setiap kali kita ingin berkata aku, maka Allah membantahnya dengan sangat pasti: “itu adalah Dzat-Ku, itu adalah sebagian dari Diri-Ku, itu adalah penzhahiran DZAT-KU yang mengikuti KETETAPAN-KU”.

Pantaslah Imam Al Ghazali pernah berkata: “Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya, niscaya sudah pasti ia mengenal bahwa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya”, Ihya Ulumudin, Bk 7, 427 (1981).

Kalau kita tidak wujud, masih adakah MILIK kita?.

Tentu saja kalau kita TIDAK WUJUD, kita tidak punya apa-apa lagi yang bisa kita akui sebagai milik kita. Begitu kita mau mengakui sesuatu sebagai milik kita, mata hati kita segera saja melihat bahwa disebalik sesuatu itu ada DZAT yang sedang menjalani dan KETETAPAN Allah untuk menjadi PERANAN. Lidah kita jadi tergigit untuk mengaku-ngaku. Tapi untuk sampai kesana kita akan memerlukan Makrifatullah…

Bersambung.

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-1

SANG FANA…

Dengan memakai kacamata makrifatullah, Mata Hati kita telah melihat dengan terang benderang bahwa Allah adalah Dzat Wajibul Wujud. Lalu dari Sedikit Dzat-Nya (The Secondary Essense) terzahirlah SEMUA CIPTAAN. Dengan memakai kacamata yang sama, sekarang mari kita buktikan pula bahwa kita sebagai salah satu dari ciptaan Allah sebenarnya adalah tidak wujud. Kita adalah SANG FANA.

Mari kita lihat tangan kita…
Tangan kita hanyalah sifat, ia berbeda dengan tangan monyet hanya dalam hal sifat-sifatnya saja. Ketika kita mencoba mengakui bahwa tangan itu adalah tangan kita. Allah akan membantahnya bahwa tangan kita itu adalah Dzat-Nya Yang Zhahir.

Mari kita lihat tubuh kita…
Tubuh kita hanya berbeda dalam sifat-sifat saja dengan tubuh binatang. Kita juga tidak bisa mengakui bahwa tubuh ini adalah tubuh kita, karena tubuh kita adalah Dzat-Nya Yang Zhahir.

Mari kita lihat panca indera kita…
Mata, telinga, hidung, lidah, kulit kita hanyalah sifat-sifat yang berbeda dengan panca indera binatang. Semua panca indera kita juga adalah Dzat-Nya yang Zhahir.

Mari kita lihat penglihatan, pendengaran, dan perasaan kita…
Penglihatan, pendengaran, perasaan kita itu ada karena ada HATI atau AKAL kita yang halus. Hati yang halus itu bukanlah lever dan bukan pula jantung. Ia juga hanyalah sifat-sifat saja yang sangat berbeda dengan yang ada pada binatang. Ia juga tidak bisa kita akui sebagai milik kita. Sebab ia juga adalah Dzat-Nya Yang Zhahir.

Begitu juga dengan RUH kita, Ia juga adalah Dzat-Nya Yang Zhahir. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Ruh itu adalah Ruh kita. Tentang Ruh ini dulu saya takut mengatakan bahwa Ruh itu adalah Ciptaan Allah. Akan tetapi dengan kacamata Makrifatullah sekarang jelas sekali terlihat bahwa Ruh itu juga adalah Ciptaan Allah karena ia berada di dalam Lauhul Mahfuz. Semua yang ada di dalam Lauhul Mahfuz adalah ciptaan. Tidak bisa tidak. Sebab Ruh adalah juga penzhahiran dari Dzat-Nya yang sedikit, seperti juga ciptaan-ciptaan-Nya yang lain.

Lalu bagainmana dengan Al Qur’an?. Apakah ia ciptaan atau bukan?. Silahkan para pembaca jawab sendiri. Saya sendiri sudah punya jawabannya untuk saya sendiri …

Untuk mengetahui diri kita lebih dalam lagi, mari kita melihat lebih tajam lagi tentang diri kita. Tapi sebelumnya kita pakai dulu kacamata makrifatullah pada MATA HATI kita. Bukan pada Mata Lahiriah kita. Dengan memakai Kacamata Makrifatullah ini, Mata Hati kita akan menjadi SANGAT TAJAM. Ia akan sanggup menembus semua SIFAT-SIFAT yang bentuk zahirnya adalah Alam Ciptaan. Bahkan ia dapat menembus sampai ke Neraka JAHIM sekalipun…, “Niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim…”, At Takatsur (102): 6.

Mari kita lihat diri kita sendiri dari ujung kaki sampai ke ujung rambut:

• Kuku kaki kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Kaki kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Tubuh kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Tangan kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Panca indera kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Kepala kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Rambut dan bulu-bulu kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Otak kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Jantung kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Lambung kita adalah Dzat yang seang mengambil peranana.
• Lever kita adalah Dzat yang sedang mengambil pernana.
• Usus kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Pembuluh darah kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Darah merah dan darah putih adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Semua enzim, dan hormon-hormon kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Sel-sel tubuh kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Penglihatan kita adalah Dzat yang seang mengambil peranan.
• Pendengaran kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Perasaan kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Nafas kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan
• Ruh kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Hati kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Mata Hati kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Suara kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Perkataan kita adalah Dzat yang sedang mengambil peranan.
• Tindakan kita adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.

Sekarang mari kita lihat pula PIKIRAN kita….

Bersambung

Read Full Post »

Dengan cara melihat yang sama kita akan bisa memahami bahwa apa yang dikemukakan oleh para SCIENTIST masa kini tentang The Hig Bosson (Partikel Tuhan), Fenomena Fisika Quantum, keajaiban Vibrasi, Energi, dan kehebatan berbagai hukum yang disebut orang sebagai The Universal Law, semuanya itu hanyalah sebatas SIFAT-SIFAT BELAKA. Ciptaan Belaka. Ia bukanlah Dzat. Sebab RUPA dari Dzat tidak bisa diserupakan dan diumpamakan dengan apapun juga.

Sekarang lengkap sudah perjalanan yang kita lalui. Kita sudah melihat bahwa dari Dzat terzahir menjadi Ciptaan-ciptaan yang mempunyai peranan masing-masing. Ciptaan dengan berbagai peran itu dapat pula kita sebut sebagai SIFAT, yang sangat beragam. Jadi dari DZAT sudah terzahir menjadi SIFAT.

Kalau sudah begitu, mari kita lihat ada berapa Kewujudankah yang ada sekarang…

Wujud Yang pertama adalah The Primasry Essense (TPE). Wujud Yang kedua adalah The Secondary Essense (TSE). Tetapi, baik TPE maupun TSE kedua-duanya adalah SATU KEWUJUDAN, yaitu DZAT. Tidak ada perbedaan antara TPE dan TSE itu. Sama-sama tidak bisa dirupakan dan diumpamakan. Kita membagi-baginya hanya untuk menegaskan bahwa yang menjadi semua ciptaan itu hanyalah sedikit saja dari Dzat-nya, Bukan Dzat-Nya secara Keseluruhan.

Wujud yang berikutnya adalah SIFAT dalam BENTUK atau RUPA berbagai Ciptaan-Nya. Ciptaan itu Zhahir, artinya bisa teraba dengan panca indera kita, maka Sifat atau Ciptaan itu kemudian disebut juga oleh Allah sebagai Dzat-Nya Yang ZHAHIR. “Akulah Yang Zhahir itu”, kata Allah.

Karena TSE ini tidak bisa kita raba dengan panca indera kita, maka Ia juga disebut sebagai Dzat Yang Bathin. Makanya Allah BERHAK menamai Dirinya juga sebagai AZ ZHAHIR dan AL BATHIN. Akulah Yang Zhahir dan Akulah Yang Bathin. Jadi, baik Yang Zhahir maupun Yang Bathin, kedua-duanya dapat pula disebut sebagai DZAT juga.

AZ ZHAHIR dan AL BATHIN itu adalah ibarat DUA MUKA uang koin. Baik gambar maupun angka, keduanya tetap hanya satu uang koin saja. Jadi Yang Zhahir maupun yang Bathin, ya keduanya adalah DZAT juga, The Secondary Essense.

Kalau begitu…, TPE adalah Dzat, TSE adalah Dzat, SIFAT-SIFAT Yang Zhahir maupun Yang Bathin juga adalah Dzat.

Untuk lebih meyakinkan diri kita, Lihatlah kembali dengan Mata Hati Yang sangat Tajam…

Bukankan pemain yang sedang memainkan peranan SETIAP SAAT sebenarnya HANYA SATU PEMERAN…!., yaitu DZAT. Dan Itupun hanya Dzat Yang sedikit saja.

Lihatlah lagi… semakin tajam….!. Bukankah pada SAAT YANG SAMA, DZAT itu memainkan SEMUA peranan SEKALIGUS dan SERENTAK untuk semua Peran Yang telah DITETAPKAN untuk terzahir pada Waktu-waktu tertentu?.

Dan…, Dzat Yang sedikit itu dipermain-mainkan oleh Sang Pemilik Dzat, Yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala…, seperti seekor gajah mempermain-mainkan ekornya.

Subhanallah…,
Subhanallah….
Subhanallah….

Dengan begitu, kita sudah bisa memandang bahwa Wujud yang sebenar-benar Wujud adalah DZAT. Ya… DZAT. Tidak ada yang lain. Alhamdulillah…, kita masih berada pada PAHAM Ketauhidan yang “on the track”. Tauhid kita masih utuh dan bulat. Bahwa Tiada Kewujudan kecuali hanya Kewujudan DZAT semata-mata.

Ya…, Yang Wujud Hanya SATU, yaitu DZAT yang WAJIBUL WUJUD. Sedangkan Wujud yang lain?. TIDAK ADA. FANA…!. Yang Kekal abadi adalah Wajah (DZAT) Allah.

“Semua yang ada di bumi akan FANA, Yang Kekal adalah Wajah Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan”, Ar Rahman 26-27

Lalu kita akan mengaku apa lagikah?. Masihkah adakah ruang bagi kita untuk mengaku WUJUD?. Apalagi untuk mengakui bahwa kita MEMILIKI apa-apa yang ada pada diri kita dan pada kehidupan kita.

Ya…, masihkah kita bisa mengaku WUJUD dan mengaku MEMILIKI apa-apa?. Sebab antara WUJUD dan MEMILIKI memang sangat berkaitan erat satu sama lainnya. Begitu kita merasa wujud, maka kita pasti akan merasa memiliki.

Sampai disini, tampaknya sudah pantas kita memutus artikel Sang Wajibul Wujud ini, untuk kemudian kita lanjutkan membahas serba-serba tentang makhluk ciptaan dalam artikel berikutnya “ Sang Fana…”.

Alhamdulillah…

Wallahu a’lam…

Cilegon, 22 Oktober 2014…
Wassalam.
Deka

Read Full Post »

DZAT-KETETAPAN-PERANAN.

Berbagai Ciptaan dan Peristiwa-peristiwa sudah dapat DIPASTIKAN akan TERZAHIR karena adanya INTERAKSI yang MAHA KUAT antara TSE yang merupakan UNSUR DASAR pembentuk dari SEMUA Ciptaan dengan LAUHUL MAHFUZ yang merupakan KETETAPAN yang harus DILALUI oleh MASING-MASING Ciptaan itu.

Sekarang mari kita lebih tajamkan lagi pandangan Mata Hati kita dengan TETAP memakai kacamata makrifatullah.

Hubungan antara TSE dan Lauhul Mahfuz ini sangat kuat. Keduanya TIDAK bisa dipisahkan sama sekali, ibarat tidak terpisahkannya KERETA API dengan RAIL ROAD, atau sebuah MOBIL dengan JALAN RAYA. Kereta api tidak akan jalan kalau tidak ada rail. Mobil tidak akan jalan kalau tidak ada jalan raya yang akan dilaluinya.

Dzat tidak akan Zhahir menjadi ciptaan kalau tidak ada Lauhul Mahfuz atau Ketetapan yang mendahuluinya. Begitu juga DZAT akan memastikan bahwa Ciptaan itu akan Terzahir mengikuti KETETAPAN yang telah rencanakan Allah sejak Firman KUN.

DEMI MASA…, lalu mulailah Ciptaan-Nya Terzahir satu persatu, sesuai dengan Waktu yang telah ditentukan. Setiap ciptaan akan menjalani ketetapan demi ketetapan yang sudah di sandangkan dan dikalungkan “DI LEHERNYA” masing-masing. Semuanya akan berjalan seperti sebuah PROSES yang terjadi di dalam SISTEM sebuah pabrik mobil OTOMATIS. Setiap bagian HANYA akan menjalankan tugas-tugas yang sudah ditetapkan untuknya.

Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahir 70 Lapisan Cahaya…
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahir Arasy…
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahir Lapisan Air di bawah Arasy…
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahir Sidratul Muntaha…
Demi Masa…, BUM, lalu dari DZAT terzahir 7 lapis langit, Bumi dengan segala kelengkapannya.
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahir apa-apa yang ada diantara langit dan bumi.
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahir, laut, gunung, hewan, tumbuhan…
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahirlah Malaikat, Jin, dan Manusia…
Demi Masa…, lalu dari DZAT terzahirlah…, terzahirlah…, terzahirlah…

MASA mengantarkan DZAT untuk TERZAHIR menjadi suatu CIPTAAN tertentu pada WAKTU yang telah DITETAPKAN dan untuk PERAN yang juga sudah DITETAPKAN pula untuknya.

Oleh sebab itu marilah sekarang kita melihat dengan mata hati kita dengan lebih tajam lagi…

• 70 lapis Tirai Cahaya adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Arasy adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Lapisan Air dibawah Arasy adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Sidratul Muntaha adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• 7 lapis langit dan bumi adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Milyaran gugus bintang adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Malaikat adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Jin adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Iblis adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Manusia adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Hewan adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.
• Tumbuhan adalah Dzat yang sedang menjalankan peranan.

Semua yang terzahir itu mempunyai peranan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Berbeda dalam hal rupa, warna, ukuran. Ramai dalam hal nama-nama dan sebutan-sebutan. Karena berbeda-beda dan ramai, maka peranan itu kemudian bisa disebut sebagai SIFAT. Jadi kalau kita berbicara tentang SIFAT-SIFAT, maka pastilah ia akan ramai, riuh-rendah, dan berbeda-beda.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: