Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2018

Lalu Sang Arif Billah melanjutkan pembukaan Pintu Makrifatullah untuknya.

 

“Akan tetapi, kalau kamu nanti paham bahwa Allah berfirman Kun hanya kepada SEDIKIT Diri-Nya, maka kamu akan dikejutkan oleh kebenaran-kebenaran yang akan menggoncangkan hatimu”.

 

“Ketahuilah olehmu bahwa sedikit Diri-Nya yang disabda-Nya dengan Firman Kun itu besarnya tidak lebih dari sebutir pasir dibandingkan dengan padang pasir yang sangat luas, atau sebesar setetes air masin dibandingkan dengan keseluruhan air dilautan, atau sebesar bulan mengambang yang engkau tutup dengan jari-jari tanganmu. Apakah kamu bisa melihat betapa kecilnya bagian Diri-Nya yang disabda-Nya dengan firman Kun itu?”.

 

Dengan kecut ia menjawab, “sangat kecil sekali ayah…”. Ia mulai memanggil sang Arif Billah itu sebagai ayah, karena ia memang seperti sedang berhadapan dengan ayahnya sendiri yang sangat penyayang kepadanya dalam mengajarinya.

 

“Kalau kamu sudah paham bahwa seluruh ciptaan ini, walaupun kamu bisa melihatnya dalam rupa alam semesta yang sangat luas seperti tak berujung dan berpangkal ini, namun jika kamu kumpulkan semua ciptaan itu, maka sebenarnya besarnya tidak lebih dari seperti sebutir pasir dipadang pasir yang sangat luas, atau seperti sebesar setetes air masin terhadap lautan yang sangat luas, atau sebesar bulan mengambang yang ia tutupi dengan jemari tangannya, terhadap Diri Allah Yang Sebenarnya atau keseluruhan”.

 

”Dengan begitu dapatkah kamu sekarang, wahai anakku, melihat akan KEBENARAN melalui pandangan Ilmu makrifatullah bahwa:

 

  • Dia adalah sangat Besar, Maha Besar?.
  • Dia adalah sangat Tinggi, Maha Tinggi?.
  • Dia adalah sangat Luas, Maha Luas?, dapatkah kamu melihat kebenaran-Nya wahai anakku”.

 

Buat sesaat, ia tidak bisa menjawab. Ia tercenung dengan kebenaran yang mulai menjalar memasuki alam kepahamannya. Tiba-tiba saja ia telah dipahamkan tentang makna sesungguhnya dari kalimat-kalimat yang selama ini sangat sering ia baca. Terlalu sering ia membaca kalimat-kalimat Allahu Maha Besar, Allah Maha Tinggi, Allah Maha Luas selama ini. Akan tetapi ia belum melihat kebenaran dari kalimat-kalimat agung tersebut.

 

Dahulu, ketika ia ingin memahami kalimat-kalimat diatas, ia harus bisa merasakan kebesaran, ketinggian, dan keluasan itu terlebih dahulu. Ia harus bisa membawa dan menjalankan perasaannya dari dalam dadanya untuk naik keatas kearah yang katanya tidak terbatas. Ia harus bisa menjalankan rohaninya naik keatas, meluas, dan membesar, katanya. Kalau ia sudah bisa merasakannya, sudah ada rasanya, sudah ada respon yang ia rasakan, misalnya, tubuhnya bergetar, atau isi dadanya seperti mau ditarik keluar, atau ia menangis dan merasa seperti ada siraman air dingin ke dalam dadanya, maka barulah ia dikatakan sudah masuk kepada keadaan atau hal dari kemahabesaran, kemahatinggian, dan kemahaluasan Allah itu. Keadaan seperti inilah dulu yang dipahaminya sebagai perjalanan ruhani. Makanya di dalam shalatpun ia harus bisa merasakan respon seperti itu kalau ia mau dikatakan khusyuk dalam shalatnya.

 

Sekarang barulah ia paham bahwa untuk memahami kebenaran dari kemahabesaran, kemahatinggian, dan kemahaluasan Allah SWT itu, ia tidak perlu melakukan perjalanan rohani sedikitpun seperti yang ia lakukan sebelumnya. Karena ternyata kalau ia melakukan perjalanan rohani seperti dulu itu, ia hanya akan sampai di alam pikirannya sendiri saja. Karena seberapa jauh dan tinggipun rohaninya ia bawa naik dan berjalan, ia hanya akan sampai kebatas alam pikiran yang pernah ia ketahui dan ia pahami saja.

 

Satu rahasia lagi yang ia pahami dari perjalanan rohani yang ia lakukan dengan cara yang dulu itu, adalah bahwa ternyata perjalanan yang ia lakukan dulu itu menggunakan TENAGA yang berasal dari kuasa Rohnya sendiri. Karena ia melatih kuasa tenaga rohnya itu, maka yang ia dapat juga adalah fenomena tenaga saja yang dengan perlahan ternyata akan menyeretnya masuk ke dunia MISTIK. Sebuah dunia yang tidak memerlukan syariat agama sedikitpun dalam melatih dan mendapatkannya, walaupun dalam melatihnya itu ia juga mengucapkan beberapa kalimat tahyyibah yang sangat erat hubungannya dengan syariat agama Islam.

 

Pantas saja sejak itu ia seperti sangat dekat dengan kuasa-kuasa MISTIK yang mengarah kepada dunia perdukunan atau dunia tuk bomoh dan cenayang. Ada getaran atau vibrasi, ada tenaga dalam, ada kekebalan, ada kuasa pikiran, ada kuasa hati, ada kuasa dalam mengetahui hal-hal yang gaib, ada kuasa untuk membuat celaka orang lain, ada kuasa untuk mendatangkan rizki, ada kuasa untuk mendatangkan kesembuhan bagi orang lain, ada kuasa untuk membuka dada seseorang agar ia bisa beriman dan mendapatkan respon kalau ia sedang beribadah, ada kuasa untuk membuat orang lain bahagia, ada kuasa untuk membuat orang lain berhasil di dalam hidupnya, dan kuasa-kuasa mistik lainnya.

 

Dari pintu makrifatullah yang telah dibukakan kepahamannya oleh Sang Arif Billah itu, ia juga menjadi paham bahwa ternyata dulu itu ia telah berani-beraninya menjalankan rohnya keluar dari tubuhnya sementara rohnya itu masih terikat kuat dengan badan atau tubuhnya. Makanya tubuhnya ketika itu menjadi bergetar-getar, terbanting-banting, dan jatuh bergulingan. Setiap ia menjalankan rohnya, ia akan merasakan rohnya itu ditahan oleh tubuhnya. Makanya tubuhnya itu harus ia buat lemah dan tidak berdaya dengan berbagai latihan fisik yang sangat berat dan dalam waktu yang lama.

 

Untuk itu ia harus berdzikir dalam jumlah yang sangat banyak (ratusan ribu) dan waktu yang lama (berhari-hari) dengan makanan seadanya. Atau ia berlari, berjalan, dan berputar-putar ditengah-tengah lapangan ditengah malam buta sampai pagi hari. Semuanya itu ia lakukan ternyata untuk melemahkan tubuhnya. Karena begitu tubuhnya lemah, tak berdaya dan lunglai, barulah rohnya itu ia rasakan bisa ia jalankan seperti keluar dari tubuhnya dengan agak lembut dan tanpa menyentuh tubuhnya. Dan dengan semua yang ia lakukan itu ternyata yang ia dapatkan juga hanyalah sekedar fenomena MISTIK saja. Fenomena yang memang kadangkala sangat mengasyikkannya dikala itu …

 

Karena itu hanyalah fenomena MISTIK, maka pantas saja tidak ada pengaruhnya ketika ia berbuat dosa, maksiat, melalaikan ibadah, tidak membaca al qur’an, tidak puasa-puasa sunnah, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya terhadap apa yang ia dapatkan dalam menjalaninya. Walaupun ia berbuat dosa, maksiat, dan perbuatan buruk lainnya itu ia lakukan, fenomena mistis yang ia dapatkan itu nyaris tidak berubah dan juga tidak berkurang. Ini yang membuatnya merasa aneh saat itu.

 

“Bagaimana anakku”, apakah kamu bisa melihat kebenaran-Nya itu”, tanya ayahnya memecah renungannya ke masa lalu itu.

 

Dengan perlahan ia mengangguk. “Ananda paham ayah…”.

 

Dengan berbekal pembukaan pembukaan ilmu Makrifatullah yang sudah ia dapatkan itu, Ia LIPAT semua ciptaan menjadi hanya sebesar sebutir pasir dipadang pasir, atau setetes air dilautan, atau sebesar bulan mengambang yang ada digenggaman jemari tangannya. Sebesar apapun alam semesta yang dapat ia ketahui dan ia kenali, maka alam semesta itu ternyata tidak lebih dari hanya sebesar sebutir pasir dipadang pasir, atau setetes air dilautan dibandingkan dengan Kemahabesaran Allah, Kemahatinggian Allah, Kemahaluasan Allah.

 

Ia jadi tercekat dan tercenung. Matanya terpejam. Tiba-tiba saja airmatanya jatuh bercucuran dari sudut-sudut matanya. Ia sesengukan. Ingusnya jatuh dengan deras dari lubang hidungnya membasahi bajunya. Saat ia mencoba memanggil Allah yang sudah ia kenali kebenaran-Nya itu, dan juga ketika ia melakukan shalat, airmatanya semakin jatuh berderai-derai. Walaupun begitu, tubuhnya seperti tidak terpengaruh apa-apa. Tubuhnya tidak bergetar-getar dan meronta-ronta seperti dulu lagi. Hanya saja bulu-bulu romanya saja yang agak berdiri meremang seperti orang yang sedang kedinginan. Entah kenapa bisa begitu…

 

Mungkinkah ini yang disebut oleh ayahnya sebagai munculnya parut di dalam hatinya?. Parut yang timbul akibat hatinya sudah pecah dan berdarah akibat dari ia telah mengetahui kebenaran akan kewujudan, kebesaran, dan keesaan Allah?. Parut itu akan berdarah dan terbuka kembali bila-bila masa untuk menguatkan kembali imannya kepada Allah. Entahlah…, ia sendiri tidak tahu…

 

Hanya saja setelah ia kenal dengan kebenaran-Nya itu barulah ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak kenal. Ia memang sudah tahu Dia Maha Besar, Maha Tinggi dan Maha Besar, akan tetapi bagaimana Maha Besar, Tinggi dan Luas-Nya Dia, ia tidak tahu. Hanya Allah sendirilah yang mengenal Allah kerana yang wujud hanya Dia Yang Tunggal.

 

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Si Celik

 

Pintu Makrifatullah itu sudah dibukakan oleh Arif Billah untuknya. Sebuah kepahaman baru seperti dihadiahkan begitu saja untuknya. Kepahaman yang sudah dicari-carinya sejak sekian lama, seperti juga hal yang dicari-cari oleh umat manusia sejak berbilang zaman, terutama setelah kewafatan Rasulullah SAW, para sahabat, para tabiin, dan para tabiit tabiin, yang merupakan 4 generasi awal Islam yang terbaik.

 

Dari yang awalnya ia sama sekali bingung, buta, tak tahu, tak paham apa-apa. Setelah ia memasuki pembukaan pintu makrifatullah itu, secara perlahan tapi pasti, tiba-tiba saja baginya keadaan berubah menjadi terang benderang, jelas, dan mengasyikkan. Bak mekar dan berkembangnya kuncup bunga disiram cahaya matahari pagi, dari hari kehari tak henti-hentinya mengalirlah ke dalam hatinya berbagai kepahaman baru yang tak terpikirkan olehnya sebelumnya.

 

Ia seperti “Balik ke Pangkal Jalan” setelah sekian lama, berbilang tahun, ia berjalan mengembara tak tentu arah. Jauh jalan yang sudah ia tempuh, banyak simpang yang sudah ia lewati, berpuluh tempat yang sudah ia singgahi, semuanya itu ia lakukan dengan satu harapan untuk melepaskan beban di kepalanya yang semakin lama semakin berat ia rasakan. Begitu ia diajarkan untuk Balik ke Pangkal Jalan, dan ia benar-benar balik ke pangkal jalan itu, ia jadi tercengang dan terheran-heran. Ternyata dipangkal jalan itu memang tidak ada apa-apa yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada beban, tidak ada yang perlu dipikirkan, tidak ada yang perlu dirasa-rasakan. Tidak ada yang perlu dibayangkan, tidak ada yang perlu diperebutkan, tidak ada yang perlu dipertentangkan…

 

Saking jelasnya kepahaman yang ia dapatkan itu, seringkali ia hanya bisa mengekspresikannya dengan satu huruf saja, “O…, O…,dan O…”, dengan wajah penuh gairah, kagum, dan takjub kepada Allah SWT yang mulai ia kenali KEBENARAN tentang Kebesaran-Nya, Keesaannya-Nya, dan Kewujudan-Nya.

 

Ia mulai dipahamkan tentang Allah Yang Maha Tunggal. “Diri-Nya Tak Serupa dan Tak Seumpama. Bahwa pada awalnya, sebelum ada ciptaan, hanya Dia sahaja yang Ada. Yang lain belum ada. Selain Diri-Nya tidak ada yang wujud. Sebab kalau ada Dia dan ada pula wujud yang lain, maka berarti sudah ada dua kewujudan. Kalau sudah ada dua kewujudan atau lebih, tentu ada banding-bandingan, sehingga tidak ada satupun yang berhak untuk disebut sebagai Allah. Sebab Allah adalah tidak serupa dan tidak ada seumpama. Kalau Allah sudah diserupakan dengan yang lain, maka itulah yang sebut sebagai SYIRIK. Artinya runtuhlah tauhidmu”, pesan Sang Arif Billah.

 

Sampai disini ia masih mudah untuk memahaminya. Karena ia memang sudah ada ilmu juga sebelumnya tentang itu. Bahwa Allah adalah Dzat Yang Laisa Kamistlihi syai’un. Dzat Yang tidak serupa dengan apapun juga.

 

Lalu dengan tersenyum Sang Arif Billah bertanya kepadanya: “kalau saat itu hanya Dia Sahaja Yang Wujud, Allah SWT, lalu kepada siapa Dia pertama kali berfirman Kun?. Sehingga dengan firman Kun itu bermulalah adanya Ciptaan”.

 

Ia mencoba melihat ke dalam memorinya. Disana ia temukan bahwa kalau Allah ingin menciptakan sesuatu Dia cukup hanya berfirman KUN, Jadilah, lalu FAYAKUN dan terjadilah suatu ciptaan. Artinya kepada setiap ciptaan yang akan diciptakan oleh Allah SWT, maka setiap kali pula Allah hanya tinggal berfirman kepada sesuatu, lalu dari sesuatu itu terciptalah ciptaan tertentu.

 

Dengan berbekal memori itu, ia jawab pertanyaan Arif Billah itu. “Allah berfirman Kun kepada sesuatu, lalu dari sesuatu itu terciptalah makhluk”.

 

“Sesuatu itu apa?”, tanya sang Arif Billah.

 

“Sesuatu itu boleh jadi adalah ketiadaan, atau kekosongan, atau suatu cikal bakal yang belum jelas wujudnya”, jawabnya agak ragu-ragu.

 

 

“Kalau saat itu ada Allah dan ada pula kekosongan, atau ketiadaan, atau cikal bakal yang kamu katakan belum jelas wujudnya, berarti saat itu sudah ada berapa wujud?. Bukankah saat itu sudah ada dua kewujudan?. Ada Allah dan ada ketiadaan, atau kekosongan, atau suatu cikal bakal yang belum jelas wujudnya?”, tanya Sang Arif Billah.

 

Dengan termangu ia mengangguk mengiakan. Karena ia mulai bisa melihat esensi dari kewujudan. Bahwa kalau ada Allah dan ada pula kekosongan atau ketiadaan, atau suatu cikal bakal yang belum jelas wujudnya, berarti saat itu sudah ada dua kewujudan. Dan itu artinya runtuhlah tauhidnya. Ia terdiam menunggu penjelasan lebih lanjut dari Sang Arif Billah.

 

“Ketahuilah olehmu, bahwa karena belum ada sesiapa kecuali hanya Allah SWT sahaja  yang ada, maka tentu firman KUN itu Dia tujukan kepada Diri-Nya sendiri. Ia berfiman KUN kepada Dirinya sendiri, lalu dari dirinya itu terciptalah semua ciptaan. Betul nggak?”, kata sang Arif Billah dengan tersenyum.

 

Ia tertegun mencerna kebenaran dari ucapan Sang Arif Billah itu yang mulai merekah di dalam pikirannya. Selama ini yang ia tahu hanyalah bahwa firman Kun itu ditujukan Allah SWT kepada “nya” dengan “n” kecil. Lalu dari “nya” itu terciptalah suatu makhluk ciptaan. Dengan paradigma baru bahwa firman Kun itu ditujukan Allah SWT kepada Diri-Nya sendiri, maka tentu boleh dikatakan bahwa firman Kun itu ditujukan-Nya kepada “Nya” dengan “N” besar. Dengan begitu, maka kewujudan tunggal bahwa hanya Allah SWT sahaja yang wujud masih bisa terjaga dengan rapi.

 

“Kalau kamu sudah paham bahwa Allah SWT berfirman Kun kepada Diri-Nya sendiri, sekarang coba kamu jawab pertanyaan saya ini. Dia berfirman Kun itu kepada keselurahan Diri-Nya atau kepada sedikit Diri-Nya?”, kata Sang Arif Billah mulai membuka sedikit demi sedikit pintu Makrifatullah kepadanya.

 

Ia belum paham arah dari pertanyaan Sang Arif Billah itu, sehingga ia hanya diam saja. Ia menunggu saja penjelasan lebih lanjut dari sang Arif Billah.

 

Dengan telaten sang Arif Billah menyampaikan:

“Ketahuilah olehmu bahwa Allah SWT berfirman Kun hanya kepada sedikit Diri-Nya saja. Bukan kepada keseluruhan Diri-Nya. coba kamu perhatikan dampak dari perbedaan antara sedikit dan keseluruhan ini”.

 

“Kalau Allah SWT berfirman Kun kepada keseluruhan Diri-Nya, lalu dari keseluruhan Diri-Nya itu terciptalah semua ciptaan, maka kamu akan sangat mudah untuk jatuh kepada pahaman Wahdatul Wujud. Kamu akan mudah sekali untuk mengatakan bahwa:

 

  • “aku” tidak wujud, yang wujud adalah Allah, atau Allah tidak wujud, yang wujud adalah aku.
  • Aku adalah dia, dia adalah Aku…
  • Engkau adalah engkau, engkau adalah Engkau…
  • Engkau adalah dia, Dia adalah engkau…
  • Dan sebagainya…”

 

“Kamu juga akan sangat mudah sekali berkata-kata bahwa bukan kamu yang  marah ketika kamu marah tetapi Allahlah yang marah. Seakan-akan kamu mengecilkan sekali marah Allah hanya sebesar marahmu itu saja”.

 

“Kamu akan mudah pula mengucapkan bahwa di dalam dirimu ada Allah, atau di dalam tubuhmu ada Ruh Allah, atau dirimu sendiri adalah bayangan diri Allah”.

 

“Kalau kamu sudah begitu, maka dengan mudah pula kamu akan mengatakan bahwa dirimu dan Allah sudah tidak bisa dibedakan lagi, seperti kamu tidak bisa membedakan lagi antara besi panas dengan api yang memanasi besi itu. Api dan besi itu sudah menjadi satu. Artinya HAKEKAT dirimu adalah Allah sendiri. Sehingga kamu akan kesulitan untuk beribadah, karena engkau sudah merasa menjadi Allah sendiri”.

 

“Dari Pahaman Wahdatul Wujud ini pulalah munculnya paham-paham lain semisal Pahaman Nur Muhammad. Karena Pahaman Wahdatul Wujud ini sudah ditentang sejak zaman Ali Bin Abi Thalib Ra, maka untuk mengakali agar terhindar dari pahaman Wahdatul Wujud ini, muncullah Pahaman Nur Muhammad. Pahaman ini menyatakan bahwa sebelum Allah berfirman Kun, Allah terlebih dahulu membelah Diri-Nya menjadi dua bahagian. Separohnya tetap menjadi Allah atau Ruh Allah, dan yang separohnya lagi berubah menjadi Nur Muhammad. Lalu Allah yang sudah tinggal separoh itu bersabda Kun kepada Nur Muhammad yang berasal dari separoh Diri Allah itu sendiri, sehingga dari Nur Muhammad itu terciptalah semua Ciptaan. Dengan berpahaman ini kamu akan mengatakan bahwa HAKEKAT dirimu dan semua ciptaan adalah Nur Muhammad, atau disebut juga dengan Hakaket Nur Muhammad”.

 

Dengan terkejut ia menoleh ke masa lalunya. Ternyata pahaman-pahaman seperti pahaman Wahdatul Wujud inilah dulu yang ia pakai tanpa ia sadari. Ia lama sekali merasakan hal-hal seperti yang disampaikan oleh Sang Arif Billah itu kepadanya.

 

Ia lalu sadar bahwa pantas saja selama ini ia merasa terbebani dan tersiksa. Karena ternyata ia telah berani-beraninya memakai selendang yang bukan miliknya. Ia telah memakai selendang milik Allah. Ia terdiam lama merenungi kesalahan dan kebodohannya selama ini…

 

Bersambung

Read Full Post »

  • Ditengah-tengah keadaan yang sangat membingungkannya seperti itu, setitik cahaya dan harapan mulai masuk kedalam hatinya. Ia dikenalkan, secara sangat tak terduga, dengan sebuah ilmu yang menjelaskan tentang kewujudan seluruh ciptaan dengan cara yang sangat mencengangkan. Ilmu yang memang sudah sangat lama dicari-cari oleh setiap umat manusia. Ilmu langka yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh orang yang mencari hakekat kehidupan. Ilmu yang dulu sebenarnya pernah disampaikan oleh Imam Al Ghazali, bahwa:

 

“Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pasti ia mengenal bahawa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya”. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981).

 

Dan pernyataan Imam Al Ghazali ini ternyata disokong pula oleh ayat Al Qur’an sbb.:

“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”, QS Mariam (19): 67

 

Ilmu ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Imam Al Ghazali sekitar abad ke 4-5 Hijriah. Akan tetapi ternyata perkembangan ilmu dan pemahaman tersebut agak tersendat kalau tidak mau dikatakan terhenti. Karena pada saat itu juga sedang berkembang dengan pesat ilmu tasawuf jalan wali-wali tarekat dan juga adanya benturan yang sangat keras diantara golongan golongan yang ada di dalam islam saat itu yang ternyata berketerusan selama ratusan tahun sampai ke zaman sekarang ini.

 

Melalui syarahan ilmu dari Arif Billah Ustad Hussien Bin Abdul Latiff yang sangat jelas dan gamblang yang ia ikuti, ia mulai bisa memahami bahwa setiap manusia dan juga semua makhluk ini ternyata tidaklah mempunyai kewujudan bagi dirinya sendiri. Ia mulai paham bahwa dirinya ternyata adalah tidak wujud. Karena ia sudah sadar bawah ia tidak wujud bagaimana bisa lagi ia akan mengaku “aku” dan merasa mempunyai kepemilikan, “ini milikku”?.

 

Ah…, ternyata aku benarlah tidak wujud…, tidak ada aku…

Karena aku tidak wujud, maka tidak ada pula yang bisa menjadi milikku…

 

Sederhana sekali memang akhir dari ilmu itu. Ilmu yang mengajarkan tentang ketidakwujudan dirinya dan ilmu yang mengajarkan pula tentang ketidakadaan kepemilikannya.

 

Walaupun ungkapan-ungkapan yang seperti itu juga sudah sangat sering ia dengar dari sejak lama, akan tetapi yang membuat ilmu yang diajarkan oleh Arif Billah ini berbeda dengan ilmu-ilmu terdahulu itu adalah tentang PINTU MASUKNYA.

 

Melalui pintu masuk yang diajarkan oleh Arif Billah ini, maka apa yang dulu sangat gelap baginya, apa yang dulu tidak pernah ia bisa mengerti dan pahami, dengan sangat mengejutkan berubah dengan drastis. Suatu saat dulu ia berjalan seperti orang buta dan tuli. Ia tidak tahu dan tidak paham apa-apa. Semua seperti gelap baginya. Akan tetapi, begitu ia masuk melalui pintu yang ditunjukkan oleh Sang Arif Billah Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff itu, tiba-tiba saja banyak hal yang bisa ia pahami dan mengerti. Dengan sekejap semua menjadi terang benderang dan menjadi sangat menakjubkan.

 

Yang sangat mengherankan lagi adalah, karena ia sudah paham bahwa ternyata pada hakekatnya ia adalah tidak wujud, maka ia sudah tidak mampu lagi untuk berkata-kata “ini aku dan itu adalah milikku”. Maka dengan sangat cepat, beban yang ia pikul-pikul selama ini satu persatu pun berguguran seperti butir-butir air hujan yang jatuh ke atas tanah.

 

Pikirannya menjadi lega, kepalanya menjadi ringan, dadanya menjadi lapang, tubuhnya menjadi enteng, wajahnya menjadi lembut berseri, senyumnya menyejukkan, otot-ototnya tubuhnya menjadi kendor. Ia seperti telah berubah dari orang yang tadinya lama, sangat lama malah, terpenjara oleh kewujudan dan kepemilikannyaia, menjadi orang yang bebas dan merdeka. Sebab ia telah menyerahkan semua pengakuan dan kepemilikannya selama ini kepada Sang Pemilik yang sebenarnya dari kesemuanya itu, yaitu Allah SWT…, dan itu sungguh amat sangat melegakannya sekali.

 

Karena sudah tidak ada lagi beban pengakuan dan kepemilikan yang ia pikul-pikul dan sandang-sandang dipundaknya, maka yang tinggal dan tersisa pada dirinya hanyalah keredhaan semata. Ia juga lalu hanya tinggal menjalankan ibadah-ibadah yang wajib dan beberapa ibadah yang sunah-sunah saja sebagai pertanda bahwa ia semata-mata hanyalah seorang biasa saja yang patuh dan tunduk kepada Tuhannya.

 

Dalam keredhaan itu:

 

  • Tidak ada lagi tanya “kenapa” yang terlontar dari mulut ataupun hatinya.
  • Walaupun ia masih tetap punya mata untuk melihat berbagai sifat yang tergelar di depan matanya, namun mata itu sekarang hanya ia pakai untuk sekedar melihat sifat sifat itu saja.
  • Walaupun ia masih tetap punya telinga untuk mendengarkan berbagai suara dan bebunyian, namun telinga itu sekarang hanya ia pakai untuk sekedar mendengarkan sifat-sifat suara dan bebunyian itu saja.
  • Walaupun ia masih tetap punya mulut dan lidah untuk bersuara dan berkata-kata, namun mulutnya itu sekarang lebih banyak diam dan terkunci. Lidahnya seakan sudah menjadi kaku. Mulutnya seakan sudah menjadi seperti dijahit dan terkunci rapat.
  • Setiap kali ia melihat berbagai peristiwa dan kejadian didepan matanya, ia hanya berkata di dalam hatinya: teruskan…, teruskan…, teruskan…

 

Hal seperti itu terjadi karena mata hatinya sudah tajam untuk dapat melihat bahwa disebalik semua sifat, kejadian dan peristiwa yang dihadapinya itu, ternyata yang berlaku adalah SATU KEHENDAK saja yang Maha Mengaturnya. Yaitu Kehendak Allah Swt terhadap Dzat-Nya sendiri yang berasal dari sedikit Diri-Nya. Kehendak yang sudah disabdakan-Nya kepada sedikit Diri-Nya itu sejak dari Firman Kun. Kehendak-Nya itu sudah tersusun rapi di dalam sebuah kitab rancangan tentang segala kehidupan, atau Lauhul Mahfuz.

 

Jadi dalam menjalani hidup ini baginya:

  1. Tiada lagi Penyesalan.
  2. Tiada lagi Nasib Malang
  3. Hidup Penuh Kepasrahan (berpaut kepada Allah SWT).
  4. Sentiasa dalam keredhaan.
  5. Tiada rungutan atau tidak puas hati.
  6. Tidak ada pertanyaan, “kenapa?”
  7. Hidup mengikut Lauhul Mahfuz tanpa mahu perubahan.
  8. Kejujuran adalah landasan hidupnya.
  9. Hidup dipenuhi dengan kasih-sayang
  10. Ibadah adalah tiang seri [pilar] dari kehidupannya.

 

Ia juga hidup dengan kadar tidak lebih dari seorang biasa saja. Kalau lapar ia tinggal makan, kalau haus ia tinggal minum, kalau sakit dan itu mengharuskannya berobat maka ia tinggal berobat, kalau punya masalah ia tinggal berdoa (naik, rujuk, dan berpaut dengan Allah), saat harus beribadah ia tinggal beribadah dengan penuh semangat, saat harus bekerja karena ada tugasan yang harus diselesaikannya ia tinggal bekerja dengan penuh dedikasi, saat sedang tidak ada tugasan ia tinggal mengasah kehidupan kerohaniannya. Hanya saja dalam melakukan semua hal diatas, hatinya selalu ia isi dan penuhi dengan hanya Ingat kepada Allah (Dzikrullah)…

 

Bersambung

Read Full Post »

Melalui seorang gurunya yang lain, dengan berbekal sebuah buku tasawuf terkenal, ia diberitahu tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Untuk itu dirinya perlu diklasifikasikannya menjadi 3 tingkatan diri, yaitu diri tingkat pertama (nafs awwal), diri tingkat kedua (nafs tsani) dan diri tingkat ketiga (nafs tsalis). Ia harus bisa berubah dari diri tingkat pertama menjadi diri tingkat ketiga. Dimana diri yang ketiga ini adalah diri yang sudah tidak lagi menggunakan pikirannya dalam bertindak dan berperilaku, karena pada level itu ia sudah menjadi orang yang semata-mata hanya diberikan ILHAM ketaqwaan oleh Allah.

 

Ia harus bisa membaca dan memahami berbagai ilham yang langsung diturunkan oleh Allah ke dalam dadanya. Ilham yang kata gurunya haruslah yang bukan berasal dari pikirannya sendiri. Ilham itu haruslah ilham yang langsung diturunkan oleh Allah ke dalam dadanya pada saat itu juga. “Aduh mak…, apalagi ini yang harus kulakukan?”, rintihnya di dalam hatinya.

 

Walaupun ia tidak mengerti, ia telan saja ucapan-ucapan gurunya itu agar dengan harapan suatu saat kelak ia bisa pula mendapatkan balasan-balasan dan respon dari Allah ketika ia melaksanakan shalat. Sebab kalau tidak ada respon dan balasan dari Allah atas prosesi shalat yang ia lakukan, gurunya mengatakan bahwa itu tandanya Allah tidak suka dengan shalat yang ia lakukan.

 

Dengan begitu, bebannya malah serasa semakin menggunung. Ia mencoba merasakan ilham yang katanya diturunkan Allah langsung kedalam dadanya. Ia lihat dadanya, ia amati dadanya, ia perluas dadanya sampai dadanya itu bisa merasakan apa-apa yang ada diluar tubuhnya dengan dadanya itu. Ia juga sibuk merasa-rasakan keadaan dada orang lain yang ada didekatnya. Ia seakan-akan bisa tahu bahwa dada seseorang itu sedang khusyu atau tidak. Di dalam shalatpun yang ia perhatikan adalah apakah Allah ada membalas atau merespon apa-apa yang ia ucapkan di dalam shalat itu. Ia menunggu-nunggu respon Allah atas bacaan dan sikap yang ia lakukan di dalam shalat itu. Ia lama-lamakan shalatnya sambil menunggu rasa yang muncul di dalam shalatnya itu. Ia tunggu rasa tenang, ia tunggu rasa sakinah, ia tunggu dan tunggu…!. Sebab kalau tidak ada rasa jawaban dari Allah itu, artinya shalatnya adalah shalat orang yang lalai, shalat orang yang munafik. “alamak…, kok jadi begini…?”, rintihnya di dalam hatinya.

 

Ia juga ingin merasakan dadanya bisa berdzikir seperti dada gurunya yang kata gurunya bisa berdzikir dengan sendirinya menyebut Allah…, Allah…, Allah…!. Ia coba berbulan dan bertahun, tetapi ia gagal pula untuk mendapatkan apa yang dinamakan oleh gurunya itu sebagai “hati di dalam dada yang berdzikir dengan sendirinya karena hati itu sudah dizikirkan sendiri oleh Allah”. Gurunya itu mengatakan bahwa dari dulu gurunya itu sudah bisa berdzikir dengan cara seperti itu. Dada yang berdzikir otomatis menyebut Allah…, Allah… Allah…!. Namun ia sendiri gagal total untuk mendapatkan dzikir seperti dzikir gurunya itu.

 

Padahal yang ia inginkan sebenarnya adalah sangat sederhana saja. Yaitu, ia ingin menggurangi atau malah menghilangkan kewujudan dan kepemilikannya sama sekali agar semua beban yang sedang ia pikul juga bisa terlepas dari pundaknya.

 

  • Lalu ia pelajari lagi berbagai keilmuan dibidang NLP, Hipnoterapy, vibrasi, LOA, dan sebagainya. Ilmu yang katanya bisa mempengaruhi orang lain dengan mempengaruhi pikiran orang lain itu dengan pola-pola tertentu.

 

Istilah-istilah berikut inipun jadi sangat familiar dengannya:

 

  1. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan…,
  2. Semakin banyak orang-orang berpikir tentang sesuatu yang mereka butuhkan, maka vibrasinya akan mengantarkan semesta untuk merealisasikan apa yang dipikirkan oleh sekian banyak orang itu.
  3. Menjadi kaya dengan cara…, menarik rezeki melalui…, dst.
  4. Sembuh dari sakit xyz dengan cara pqrs…
  5. Bagaimana memaksimumkan power Ar Rahman dan Arrahim untuk mendapatkan berbagai hal.
  6. Ah…, kok semakin banyak saja yang ia rasakan bisa ia lakukan untuk merubah nasib dan keadaannya. Hanya dengan mengubah kata-katanya, mengatur perasaannya, merancang pola pikirnya, dan sebagainya, maka ia seakan-akan bisa mengubah dan merealisasikan apa-apa yang ia inginkan. Dan ternyata juga ada dalil-dalil hadist atau ayat Al Quran yang mendukung kesemuanya itu. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q.S. [13] : 11”. Valid dah…

 

Dengan berbagai konsep keilmuan NLP dan berbagai variannya itu, ia pun semakin memantapkan keakuannya, kebisaannya, kewujudannya. Yang herannya, ia bisa menemukan beberapa ayat Al Qur’an dan Al Hadist yang bisa mendukung dan menguatkan dalil tentang keilmuannya yang baru itu. Sungguh ia bersemangat sekali. Dan tentu saja sekaligus juga menambah beban yang disandangnya dipundaknya. Ia seakan-akan bisa memerintahkan alam semesta, menguasai berbagai teknik untuk mewujudkan impiannya. Bahkan Allahpun ia anggap bisa patuh dan tunduk pula, walau dalam skala tertentu, untuk memenuhi dan mengabulkan apa-apa yang ya inginkan atau paling tidak yang ia butuhkan.

 

Lengkap sudah ilmu tentang kewujudan dirinya ia pelajari dan eksplorasi dari berbagai sudut dan segi. Begitu juga rasa kepemilikannya terhadap pikirannya semakin menjadi-jadi. Ia merasa memiliki pikiran, yang dengan pikiran itu ia bisa mengubah-ubah keadaan dirinya. Getaran pikiran dan perasaannya ia anggap bisa menggetarkan semesta pula, sehingga semesta itu mau tidak mau akan merealisasikan apa-apa yang yang pikirkan dan rasakan itu. Sedangkan Allah SWT, tinggal hanyalah Tuhan yang akan disembah-sembah dan dimintai pengkabulannya atas do’a-do’a yang ia lantunkan.

 

Ia menjadi semakin mewujud, dan sekaligus kepemilikannya terhadap berbagai hal termasuk terhadap pikirannya sendiri juga semakin kokoh membebaninya. “Aku adalah seperti apa yang aku pikirkan. Dan Allah SWT adalah seperti apa yang aku prasangkakan kepada-Nya”, katanya dengan mantap sekali.

 

Dan beban atas pengakuannya atas kewujudan dan kepemilikannya itu alangkah beratnya menggandoli kepala dan pundaknya. Keadaan di dalam dadanya seringkali berubah-ubah. Kadang dadanya terasa luas dan lapang, dan kadang dengan cepat berubah pula menjadi sempit dan mengecil.

 

Ketika dadanya terasa luas dan lapang, ia bisa tersenyum sumringah dan tertawa terbahak-bahak. Nafasnya bergerak dengan normal. Tekanan darahnya berada disekitar 120/80. Akan tetapi ketika dadanya terasa sempit, terutama saat kewujudannya direndahkan dan kepemilikannya diganggu, maka ia akan marah dan menghardik, senyumnya hilang berubah menjadi seringai yang sangat menakutkan. Gerakan nafasnya sesak dan memburu seperti ia sedang mendaki gunung yang sangat tinggi dengan kadar oksigen yang sangat tipis. Tekanan darahnya meningkat menjadi abnormal. Berbagai penyakitpun mulai menggerogoti dirinya. Iapun banyak bertanya: “kenapa…?, kenapa…?, bukankah aku sudah begini dan begitu?”. Penyakit dan perilaku lamanya kembuh kembali. Sungguh menyedihkan dan mengherankan sekali…

 

Bersambung

Read Full Post »

  • Ketika ada gurunya yang lain berkata: “panggillah Allah…, Allah…, Allah…, atau sebutlah Hu Allah…, Hu Allah…, dan saat memanggil-manggil itu arahkan hatimu atau jiwamu atau ruhmu naik ke alam yang maha tinggi yang tiada batas, rasakan hatimu atau jiwamu atau ruhmu itu, yang berada di dalam dadamu, bergerak naik keatas kepada alam yang tak terhingga”. Kalau dilihat sepintas, teknik yang diajarkan oleh gurunya yang baru itu memang lebih cepat dan lebih sederhana dari gurunya yang sebelumnya. Capaian yang didapatkanya dibandingkan dengan teknik dari gurunya yang lama adalah seperti naik kereta api “peluru” (shinkansen) dibandingkan dengan kereta api mutiara selatan.

 

Lalu dia lakukan wejangan gurunya itu dengan penuh semangat. Dia bawa hatinya atau jiwanya atau ruhnya naik menuju alam yang kata gurunya tidak terbatas. Buat sesaat, isi dadanya seperti mau tersedot keluar. Dia seperti mau muntah. Lehernya seperti tercekik. Allah…, Allah, Allah…, dan ucapan-ucapannya itu berubah menjadi seruan parau dan jeritan-jeritan histeris yang memecahkan kesunyian malam. Tubuhnya bergetar-getar dan bergerak-gerak secara tidak beraturan. Air matanya jatuh bercucuran membanjiri pipinya seiring dengan teriakan-teriakannya itu. Tiba-tiba dia jatuh tersungkur dan kepalanya tersujud menyentuh tanah.

 

Dalam sujud itu, dia terus memanggil-manggil Allah…, Allah…, Allah…, sehingga suatu saat tubuhnya malah jadi berguling-gulingan di atas tanah seperti sedang digerakkan oleh sebuah daya atau kekuatan yang sangat kuat. Daya yang tidak terlihat tapi dapat ia rasakan. Dia tidak bisa mengontrol tubuhnya yang sedang berguling-guling itu. Dia ikuti saja kemana tubuhnya mau dibawa oleh daya atau kekuatan itu berguling-gulingan. Dia hanya berusaha semakin kuat dan teguh dalam memanggil-manggil Allah, seperti yang diajarkan oleh gurunya.

 

Ketika gurunya menyuruhnya untuk memperhatikan gerakan keluar masuk nafasnya, ia perhatikan gerakan nafasnya itu dengan teliti. Ada memang kenyataan yang mengagumkannya, bahwa ternyata nafas itu bukan ia sendiri yang menggerakkannya. Nafas itu seperti bergerak dengan sendirinya tanpa ia ikut mengatur-aturnya. Ia amati terus gerakan keluar masuknya nafas itu. Pada saat yang bersamaan ia merasa pula bahwa beban yang dipikulnya ikut meluruh dan melebur bersamaan dengan gerakan nafasnya itu. Bebannya terasa menjadi sangat ringan. Karena memang pada saat itu ia sedang tidak mengingat apa-apa, termasuk semua beban-beban kepemilikannya. Ia  hanya fokus memperhatikan gerakan keluar masuknya nafas itu sambil mengafirmasi atau meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang menggerakkan nafasnya itu adalah Allah SWT.

 

Kemudian gurunya berkata: “bahwa coba engkau tahan nafasmu sebentar, nanti akan kau sadari bahwa ada daya yang mendorong nafasmu itu”. Ia tahan nafasnya buat beberapa detik. Suatu saat nafasnya menjadi terasa sesak. Dadanya terasa panas dan mau meledak. Kerongkongannya terasa tercekik seperti ia sedang melawan sebuah kekuatan yang sedang mendorong nafasnya itu. Karena sudah tidak kuat, ia lepaskan kembali nafasnya yang ia coba tahan tadi itu. Ia kembali merasa lega.

 

Pernah suatu ketika, ia coba menahan nafasnya itu selama mungkin. Dipuncak rasa tersiksanya seperti diatas, tiba-tiba saja ia merasakan ia seperti terbawa memasuki sebuah keadaan atau ruang yang meluas dan mengembang dengan sangat cepat. Dirinya menjadi sangat kecil dan ia merasa sendirian di dalam ruangan yang sangat besar dan luas itu. Ia merasa kaget dan buru-buru membuka matanya dan bernafas kembali dengan normal. Belakang barulah ia tahu bahwa keadaan seperti itu disebut orang juga dengan keadaan somnambulisme, atau keadaan trance yang sangat dalam, seperti yang sangat dicari-cari oleh orang dalam berbagai teknik hipnoterapi.

 

Gurunya selanjutnya berkata:

 

“Kamu perhatikan daya itu, ia bekerja untuk nafas setiap manusia, nafas semua binatang, bahkan ia bekerja untuk menggerakkan semua bintang-bintang, menggerakkan apa saja yang ada di alam ini. Nah daya itu adalah milik Allah. Allahlah yang  sedang menggerakkan semua itu seperti angin topan atau tornado yang sedang menggerakkan debu-debu. Tapi coba kamu sadari lagi, bahwa debu-debu itu hanya diam, seperti diamnya nafasmu, anginlah yang menggerakan debu-debut itu. Matamu memang melihat debu yang beterbangan, tapi kamu sadar sepenuhnya bahwa yang menggerakkan debu itu adalah angin…”.

 

“Begitu pulalah dengan kamu, nafasmu digerakkan oleh Allah, otakmu turut pada Kehendak Allah, kamu jadilah seperti debu, sehingga engkau akan merasakan Allah yang sedang menggerakkanmu…, lalu ikuti saja gerak yang sedang menggerakkan kamu itu…, kamu ikut saja kehedak Allah…, nanti kamu akan SADAR bahwa Allah ternyata sangat dekat dengan kamu. Allah lebih dekat kepadamu daripada kamu dengan urat lehermu…, kamu sudah tidak perlu lagi INGAT kepada Allah, karena ingat itu konotasinya adalah kamu sedang berjauhan dengan-Nya. Sebaliknya kalau kamu bisa SADAR bahwa Allah dekat, maka kamu akan dapat merasakan sensasi atau respon tentang kedekatan Allah denganmu itu…, dan lain seterusnya…”.

 

Lalu ia lakukan semua yang diajarkan oleh gurunya itu dengan penuh semangat juang 1945. Ia berjalan dan kadang berlari dilapangan rumput yang luas, ia kadang-kadang terguling-guling diatas rumput yang lembut digelap malam. Kadangkala ia berputar-putar seperti gasing. Kadangkala ia mengucap Hu… Hu… Hu… tanpa ia dengan menyegaja mengucapankannya. Ucapan itu seperti terlontar begitu saja dari dalam rongga dadanya keluar melalui kerongkongannya. Kadang ia sampai tertelentang dan terdiam lama di lantai atau di rumput seperti tanpa daya. Akan tetapi, walaupun ia sudah tidak berdaya untuk mengangkat kepalanya, apalagi tubuhnya, ia masih mencoba untuk mengangkat tubuh atau kepalanya itu, paling tidak dengan niat di dalam hati saja. Sehingga dengan begitu ia tetap bisa terjaga dan tidak tidur. Semua itu bisa dilakukannya berjam-jam. Dan diamnya itupun bisa berjam-jam pula. Bisa dari jam 11 malam, dari tengah malam sampai menjelang waktu subuh. Ia tidak ingat untuk shalat tahajud, ia tidak ingat pula untuk membaca al Qur’an.

 

Kadangkala ia pergi dengan teman-temannya ke gua-gua, masuk bangunan kuno, dan menapak menyusur jalan setapak jauh ke dalam hutan yang katanya itu adalah petilasan raja si anu /si itu pada zaman dahulu kala. Disitu memang ia rasakan berbagai getaran yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Semakin besar getaran itu, ia semakin menikmatinya. Getaran itu seakan menarik-narik sesuatu dari dalam tubuhnya untuk keluar. Disitu ia merasakan ada daya atau kekuatan yang sedang bekerja pada dirinya. Kalau daya itu tidak ada, maka ia akan berkata:  “kosong hari ini, tidak ada dayanya”.

 

Berhari, berbulan dan bertahun ia lakukan semua itu dengan penuh semangat. Tapi anehnya ia seakan merasa lebih cepat bisa melakukan hal-hal tersebut jika ia berdekatan dengan sang gurunya. Kalau ia jauh dari gurunya maka ia kurang bisa untuk mendapatkan hal tersebut kembali. Sehingga seringkali sang gurunya  berkata bahwa apa yang ia dapatkan itu adalah “tempelan” saja dari sang gurunya. Tempelan itu bisa dicabut kembali oleh gurunya sehingga ia tidak akan bisa lagi seterusnya untuk mendapatkan hal-hal tersebut. “Makanya jangan main-main dengan saya, jangan melawan saya”, kata gurunya.  Itulah yang menakutkankannya, sehingga ia pun menyerah total kepada gurunya. Apa kata gurunya ia lakukan saja dengan penuh semangat. Tempat, jarak, dan waktu, sudah tidak menjadi penghalang lagi baginya untuk mengikuti berbagai acara bersama sang gurunya dan teman-temannya yang lain.

 

Seiring dengan berjalannya waktu, ia malah merasakan keanehan lain pada dirinya. Ia merasa sudah jadi orang yang sangat spiritualis. Akunya malah menjadi semakin mengembang dan membesar. Ia merasa bisa membuka dada seseorang untuk bisa menjadi beriman kepada Allah. Ia merasa bisa membuat orang lain berketer-keter tubuhnya ketika ia mengajarkan kepada orang lain itu tentang ketuhanan. Ia merasa bisa melakukan sesuatu yang itu adalah tuntunan langsung dari Allah kepadanya. Ia merasa bisa berguru kepada Allah secara langsung. Ia merasa bisa dituntun penuh oleh Allah untuk hal-hal yang diperbuatnya. Duh…, beban yang ia pikul malah makin berat dari beban-beban yang pernah ia pikul sebelumnya. Ada apa ini…?.

 

Ia palingkan kembali wajahnya mencari tempat ia mengadu dan mengembalikan semua bebannya itu.

 

Bersambung

Read Full Post »

 

  • Ketika ada gurunya berkata: bersihkanlah hatimu dan sucikan jiwamu yang berada di dalam DADAMU. Caranya begini dan begitu. Lalu ia hadapkan wajahnya kepada wajah gurunya sambil ia membayangkan wajah gurunya itu di dalam pikirannya. Gurunya juga katanya tengah membayangkan wajah gurunya pula. Begitulah seterusnya. Ia harus meyakini bahwa antara dirinya dan gurunya melalui guru-gurunya yang terdahulu akan terhubung sampai ke Rasulullah SAW melalui sebuah rantai rohani yang akan menghubungkannya pula dengan Nur Muhammad. Dan Nur Muhammad inilah yang pernah mengenal Allah. Oleh sebab itu untuk bisa mengenal Allah, ia harus terlebih dahulu bisa berjumpa dengan Nur Muhammad itu….

 

Maka iapun asyik membersih-bersihkan hati dan jiwanya yang dikatakan oleh gurunya berada di dalam dadanya itu. Ia pun berusaha membersihkan hati dan jiwanya itu dengan cara berdzikir mengucapkan Allah-Allah-Allah, atau Laa Ilaha Illallah beribu-ribu kali yang dihunjamkannya ke dalam dadanya. Bahkan gurunya mengajarinya untuk menghunjamkan kalimat-kalimat tersebut kebeberapa titik yang ada di dada dan di badannya yang dinamakan oleh gurunya itu dengan LATHAIF. “Itulah tadzkiyatunnafs cara kita, cara tarekat yang muktabarah, yang riwayat ilmunya melalui Abu Bakar As Siddiq RA sampai bermuara kepada Rasulullah SAW…”, kata gurunya.

 

Namun anehnya, semakin dia bersihkan hatinya dengan cara seperti itu, malah hatinya itu semakin bergejolak dan terasa membakar dadanya. Tubuhnya sampai bergetar-getar hebat, bahkan sampai berguling-gulingan dan terbanting-banting di lantai atau di atas tanah. Suaranya berteriak-teriak nyaring dan tangisnya meraung-raung pilu menyayat hati. Berhari-hari ia seperti itu.

 

Walaupun pada akhirnya ia kemudian memang bisa menjadi tenang seperti orang fly, dan ia seperti berada di sebuah tempat yang sangat luas, tempat yang terang tapi tidak ada cahaya mataharinya, bahkan bertemu pula dengan berbagai macam rupa wajah yang aneh, akan tetapi ia sendiri bingung untuk apa semua yang dialaminya itu baginya. Beban yang dipikulnya tetap saja tidak kunjung hilang. Bebannya malah jadi semakin bertambah dengan berbagai macam dzikir yang harus dilakukannya saban hari dan saban waktu. Ia kemudian malah disuruh untuk “mati sebelum mati”. Malah ada beberapa rekan sejawatnya yang sama-sama melakukan dzikir-dzikir tersebut mengaku bisa sampai berjumpa dengan Allah, bisa bercanda dan bahkan bermain catur dengan Allah. Temannya itu mengaku pernah “menskak mat” Allah. Entah bagaimana pula kejadian itu.

 

Yang lebih mengherankan adalah, ia seringkali jadi bingung tentang kewujudan dirinya sendiri. Kadangkala ia merasa dirinya adalah wujud dan kadangkali ia merasa dirinya adalah tidak bisa wujud. Ketika ia merasa wujud, maka ia merasa bisa melakukan berbagai hal seakan-akan saat itu tidak ada Allah yang maha mengatur segala sesuatu.

 

Sebaliknya ketika ia merasa bahwa ia tidak wujud, lalu ia sendiri bingung untuk memahami yang wujud ini apa kalau begitu?. Sehingga kadangkala iapun mengambil kesimpulan sendiri bahwa ketika ia tidak wujud itu, maka yang wujud adalah Allah.

 

Lho kok jadi begini?. Bukankah pemahaman seperti ini sangat erat kaitannya dengan Pahaman Wahdatul Wujud  yang pernah ia baca?. Pahaman yang tidak bisa lagi membedakan mana yang Allah dan mana yang makhluk-Nya. Pahaman yang bingung tentang bagaimana hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya. Apakah Allah itu juga sekaligus juga adalah makhluk?, atau Apakah Allah dan makhluk itu terpisah?. Atau bagaimana?. Apakah hubungannya dengan Allah sama seperti hubungan antara besi panas dengan api yang sedang memanasi besi itu?. Hubungan yang sudah tidak bisa dibedakan lagi mana yang besi dan mana yang panas api. Sehingga iapun jadi sangsi tentang perlu atau tidaknya ibadah-ibadah yang selama ini ia lakukan. Kalau keadaannya sudah seperti ini apakah ia masih wajib untuk beribadah. “Siapa menyembah siapa dong jadinya?”, katanya. Hal Ini sangat membingungkan dan membebani pikirannya. Sangat membenaninya.

 

Padahal yang diinginkannya hanyalah sederhanya saja, yaitu adanya sesuatu “alamat” kemana dia bisa menyerahkan dan mengembalikan semua beban yang sedang dipikulnya. Beban yang muncul akibat adanya pengakuan atas kewujudan dirinya sendiri dengan segala bentuk kepemilikannya atas kewujudan dirinya itu. Hanya itu.

 

Lalu iapun berkelana dari satu guru kepada guru yang lain…

 

Bersambung

Read Full Post »

Lalu ia mulai berguru kepada berbagai orang yang mengaku bisa membantunya untuk melepaskan beban dipundaknya yang terasa semakin menghimpitnya. Berbagai buku ya lahap dengan harapan bahwa saripati yang ada di dalam buku itu bisa melepaskannya dari beban yang semakin lama semakin terasa berat itu. Satu persatu dia ikuti dengan penuh semangat.

 

  • Ia sempat mampir ke dalam jamaah kajian Islam yang katanya sumbernya adalah Al Qur’an dan Al Hadist yang pemahamannya adalah mengikuti pemahaman para Shalafus Shaleh. Setiap hari makanannya adalah kajian dalil demi dalil, mana yang boleh, mana yang tidak boleh, dan mana yang bid’ah.

 

Hari-demi hari ia merasa seperti sedang masuk kedalam pemahaman  bahwa ternyata masuk total (kaffah) kedalam Islam itu sulit sekali. Walaupun ada ganjaran syurga atas segala amal baik yang ia kerjakan, akan tetapi lebih banyak yang ia dengar adalah tentang DOSA, HARAM, BID’AH. Sedikit-sedikit ia mendengar cerita tentang DOSA, HARAM dan BID’AH yang hukumannya ternyata adalah siksa di neraka, siksa di hari kiamat, siksa di dalam kubur, siksa dan kesakitan ketika ia akan meninggal, dan bahkan siksa ketika ia masih hidup di dunia ini berupa bencana dan prahara yang disebabkan karena ketidakpatuhannya kepada perintah-perintah Allah atau karena ia malanggar larangan-larangan Allah.

 

Misalnya, masalah pakaian, celana cingkrang, kumis dan jenggot, serta hal-hal kecil dan ringan lainnya, membuat ia seringkali menggeletar ketakutan. Ia seperti sudah divonis masuk ke dalam neraka saja atas gaya hidup keseharian yang ia jalani. Ia tumbuh dengan pemahaman bahwa diluar apa yang ia pahami adalah tidak akan diterima oleh Allah. Apalagi orang-orang yang diluar agama Islam, mereka tentu lebih tidak akan diterima lagi amalannya oleh Allah Swt. Ia seperti tengah merancang sendiri syurga buat dirinya dan orang-orang yang sepaham dengannya. Orang lain kayaknya tidak akan pernah bisa masuk kedalam syurga yang tengah ia rancang itu.

 

Kesan yang timbul di dalam hatinya adalah bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha keras siksa-Nya. Dzat yang mudah sekali tidak suka kepada manusia atau suatu kaum ketika manusia atau suatu kaum itu tidak melakukan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai Utasan-Nya.

 

Kalau Allah SWT sudah tidak suka atau marah kepada suatu kaum, maka bencanalah yang akan menimpa kaum itu. Sebaliknya kalau Allah Swt suka kepada suatu kaum, maka kaum itu akan diberi-Nya Rahmat-Nya yang tidak terhingga dan tidak terduga-duga. Seakan-akan dengan begitu Allah SWT dianggapnya bersikap seperti sikap yang layaknya dimiliki oleh seorang manusia saja. Bisa suka dan bisa pula tidak suka. Bisa marah dan bisa pula memaafkan.

 

Hal ini sangat membingungkan dan menakutkan baginya, sementara setiap saat ia sering mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, yang nota bene artinya adalah dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tetapi ia tidak mampu memahami makna Kasih dan Sayang Allah itu terhadap seluruh umat manusia, sekan-akan Kasih dan Sayang Allah itu hanyalah milik umat Islam saja, dan itupun tertentu peruntukannya. Umat-umat lain diluar Islam, apalagi umat yang tidak mempercayai adanya Tuhan, seakan-akan jauh dan terhalangi dari Kasih dan Sayang Allah.

 

Akibatnya ia sendiri juga jadi kikuk kalau tidak mau dikatakan gagal merealisasikan makna kasih dan sayang itu kepada orang-orang yang ada disekitarnya, terlebih-lebih lagi terhadap orang-orang yang dianggapnya tidak termasuk kedalam golongannya dan orang-orang yang diluar agamanya (Islam). Hidupnya kaku sekali. Ia tidak bisa bergaul canda dengan orang-orang yang tidak segolongan dan tidak seagama dengannya. Seakan-akan mereka adalah musuh yang harus dijauhinya kalau tidak mau dikatakan dimusnahkannya.

 

Ia merasa seperti punya misi suci di dalam hidupnya untuk membuat orang-orang disekitarnya bisa beriman kepada Allah. Ia sampaikan satu dua ayat yang sudah dipahaminya, walau ayat-ayat itu belum tentu diamalkannya dengan sepenuh penghayatan dan pemahaman.

 

Ia lakukan pula berbagai macam amalan sunnah dengan harapan Allah akan menyukai amalannya itu dan sebagai balasan baginya, Allah akan memberinya rizki dari tempat-tempat yang tidak diduga-duganya, dan Allah akan menyesaikan pula segala permasalah yang ia hadapi.

 

Akan tetapi anehnya, ketika masalahnya tidak selesai, atau ketika rizkinya malah tetap saja seret, tidak seperti yang diharapkannya, masih saja ada perasaan kecewa di dalam hatinya. Walaupun perasaannya itu ditutupinya dengan ungkapan-ungkapan bahwa ia harus sabar, ia harus menerima keadaan, namun tetap saja ada tanya kenapa…?, kenapa…?, dan kenapa…?, yang terlintas di dalam pikirannya. “Bukankah aku sudah begini dan begitu?, akan tetapi kok hasilnya lain dan tidak sesuai dengan apa ku harapkan?”, keluhnya didalam hatinya.

 

Oleh sebab itu, dengan semua ilmu dan amalan yang dilakukannya itu, ia merasakan beban di pundaknya malah semakin berat saja. Padahal ia ingin membuang beban itu dari atas kepalanya. Lalu ia tinggalkan pula jemaah itu. Ia mencari guru lain yang barangkali bisa menolongnya agar ia terbebas dari segala beban yang sangat berat itu.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: