Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2011

PERPADANAN YANG ASYIK

Kehambaan hanya akan ketahuan saat kita punya kerinduan untuk patuh.

Ikhlas hanya akan ketahuan saat kita sedang melakukan sebuah amal.
Sabar hanya akan ketahuan saat kita sedang menghadapi masalah.
Syukur hanya akan ketahuan saat kita sedang hidup berkelimpahan.
Ihsan hanya akan ketahuan saat kita sedang berkomunikasi dengan Allah.
Islam hanya akan kelihatan saat kita menjalankan syariat.
Iman hanya akan ada saat kita tidak mampu untuk protes terhadap segala kejadian dan peritiwa yang datang dan pergi menjambangi kita.
Taqwa hanya akan ada ketika kita punya kerinduan untuk berbuat baik untuk sesama dan alam semesta.

Asyiknya, sebelum kejadian-kejadian itu terjadi, Allah ternyata berkenan menyiapkan kita untuk siap menerima keadaannya sehingga kita menjadi EFFORTLESS, MENGALIR tanpa beban menjalaninya, walau untuk itu kadangkala fisik kita harus terkapar lemah tak berkutik.

Tanpa padanannya itu, kita namanya hanya sedang berwacana ilmu.

Ya Allah, terima kasih…,alhamdulillah

Deka

Read Full Post »

TERSEDOT

Oleh Yusdeka Putra pada 19 Januari 2011 jam 19:01

Ketika apa-apa dan siapa-siapa berhasil kita sibakkan, maka saat itulah TABIR Allah siap terbuka. Lalu kitapun TERSEDOT KUAT dan HABIS seperti hilangnya bintang-bintang dan cahaya tersedot Black Hole.

Mungkin tidak banyak kita yang menyadari bahwa semua benda dialam semesta ini sebenarnya sedang TERSEDOT HEBAT mengarah ke KEKOSONGAN y…ang Maha Luas dengan kecepatan yang sangat mencengangkan menuju KETIADAAN.

Para ahli Barat dan para ATHEIS menyebut Alam ini sedang MENGEMBANG. Padahal sebenarnya sedang TERSEDOT MENUJU HABIS.

Nah…, ternyata RUH kita juga SANGAT MUDAH TERSEDOT oleh Sang Maha Tinggi. ALLAH. Karena RUH kita memang DIA yang punya. Dan kalau sudah tersedot, pastilah kita akan TERPEKIK. kita pastilah akan TERCEKAM. kita pastilah akan HISTERIS. Pastilah RUH akan menggerakkan lidah kita untuk mengucapkan HUU…

Kalau tidak Tersedot; kalau tidak terpekik; kalau tidak tercekam; kalau tidak histeris saat kita memanggil Sang Maha Menyedot, ALLAH; kalau tidak keluar HUU, maka waspadalah… waspadalah. Saat itu artinya ada apa-apa dan siapa-siapa yang sedang menghalangi PERJALANAN kita menuju HUU. Dan penghalang-penghalang itu namanya adalah BERHALA. TABIR.

Maka sibakkanlah TABIR itu. SIbaklah BERHALA itu…

Bersiaplah untuk TERSEDOT.

YA Allah…, aku siap di SEDOT ya Allah…, aku siap HABIS Ya Allah…

Ahh…, subhanallah…, ternyata:

Saat SHALAT seyogyanya Ruhani kita DISEDOT ALLAH, MI’RAJ.

Saat BERSEDEKAH, seyogyanya buat sesaat berhala harta terlepas dari perhatian kita, lalu kita juga pasti akan DISEDOT ALLAH.

Saat PUASA, terutama sesaat sebelum berbuka, sebenarnya RUH kita juga siap untuk DISEDOT ALLAH, tapi saat itu pulalah makanan dan minuman bergelantungan menahan RUH kita dari SEDOTAN ALLAH.

Saat di ARAFAH, diwaktu WUQUF HAJI, sebenarnya saat itulah SEDOTAN ALLAH yang sangat Hebat. Cuma saja lambaian naik onta, sibuk banyak berdo’a, banyak berbicara, telah melalaikan kita dari POSISI DIAM (WUQUF), sehingga kitapun TERLEWAT dari SEDOTAN ALLAH.

Saat kita mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH, seyogyanya kita juga DISEDOT ALLAH.

Dan saat kita Bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW, pastilah RUH kita juga akan tersedot untuk selaras dengan Rasulllah, sehingga muncul rasa kerinduan kita kepada Beliau.

Ah…, ternyata the FIVE Commandments, 5 Rukun Islam, adalah POSITIONING kita agar Allah kembali MENYEDOT kita. Sehingga kitapun kembali bersaksi kepada ALLAH dan bersaksi kepada Kerasulan Muhammad SAW.

Kalau sudah DISEDOT ALLAH. Maka barulah kita bekerja, berkarya, dan membangun peradaban dari sisi Allah bersama Allah, dan dituntun Allah.

Klau tidak begitu, maka pastilah kita akan bekerja, berkarya, dan membangun peradaban dengan sedotan apa-apa dan siapa-siapa yang selain Allah, sehingga kitapun menjadi budak dan permaian apa-apa dan siapa-siapa itu.

Hhhm, bagaimana dgn sepenuh kesadaran-Nya kita dapat menyikapi tabir sebagai tanda & bukti keberadaan-Nya?

Menurut pengalaman saya, itu TIDAK dengan olah PIKIR dan olah EMOSI. Tapi dengan olah LAKU.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh”. QS 18:110

Dan AMAL SHALEH itu hanya sederhana saja:

Berbuat baik dan minta keridoan Ibu kita…, sekali lagi ibu kita…, sekali lagi ibukita…, dan sesudah itu bapak kita.

Melakukan sedekah sebagian sezeki, bukan sebagian kecil rezeki yang diberikan Allah kepada kita.

Menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

YA…, dengan bekal amal shaleh yang sangat sederhana inilah yang menyebabkan Allah akan MENYEDOT hebat kita.

Sedangkan Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, Haji adalah POSITIONING kita terhadap Allah. sehingga kalau semua itu bisa kita lakukan dengan Sepenuh Penghayatan yang TEPAT dan BENAR akan membawa kita Kedepan PINTU Perjumpaan dengan Allah. Ya…, baru kedepan pintu-Nya.

Ketoklah Pintu Allah itu dengan Shalawat, dengan ucapan Ya Allah, Subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illallah, Allahu Akbar, dan Iqra Al Qur’an. Dan semuanya itu tidak perlu banyak hitungannya, dan tidak perlu pula lama waktunya. Cukup tiga kali saja, dan beberapa menit saja, karena Allah tidak PEKAK. Lalu DERR…

Ketoklah…, YA Allah…, Ya Allah…

Allah pasti akan bertanya. “Bawa Amal Shaleh apa engkau menghadap kepada-Ku kali ini wahai hamba-Ku???”.

Kita tinggal sebutkan saja satu persatu:

“Hamba sudah mendoakan ibu hamba ya Allah, hamba sudah minta rido ibu hamba, hamba sudah menelpon ibu hamba untuk minta didoakan Beliau. Juga kepada bapak hamba ya Allah”.

“Hamba tadi sudah sedekah, sejuta, sejuta setengah, sepuluh juta atau SEBAGIAN HARTA hamba untuk A, B, C, yang membutuhkannya ya Allah”.

“Hamba sudah santuni anak yatim, hamba telah biayai sekolahnya, hamba telah biayai sandang dan pangannya. Hamba sudah penuhi perintah Paduka”.

“Hamba sudah minta pula rido dan doa dari istri (suami) hamba dan anak-anak hamba setelah hamba penuhi kewajiban hamba sebagai suami (istri) dan kepada mereka”.

Kalau sudah begitu, kita tinggal diam saja. WUQUF, Dan hampir seketika, pastilah Allah akan membukakan PINTU TABIRNYA. Begitu terbuka, pastilah kita akan DISEDOT HABIS.

IKUTLAH sampai Allah SELESAI mengajari kita apa-apa yang tidak atau belum kita ketahui.

Setelah itu, ya kita tinggal ucapkan syukur kita dengan cara melakukan lagi amal shaleh-amal shaleh berikutnya, meluruskan lagi positioning kita, dan mengetok pintu-Nya dengan santun berkali-kali tanpa bosan…

Setiap saat berdirilah didepan Pintu-Nya, baik sambil berdiri, sambil bekerja, sambil berkarya, sambil duduk, sambil menulis, sambil merencana, dan sambil berbaring, sambil tidur, sambil istirahat, sambil terbasing sakit. Ah.., sambil segalanya.

Dan ternyata, tempo-tempo Dia akan menyedot kita kearah-Nya untuk menyadarkan kita kembali bahwa Ada Dia yang Meliputi kita. Innahu bikullisyaim muhith…, sesungguhnya Dia maha Meliputi Segala Sesuatu

Kalau tidak begitu kan kita namanya berteori saja.

Namun mungkin ada yang bertanya, kalau kita membawa segala kesalahan yang telah dilakukan kedepan pintu-Nya, karena beranggapan bahwa tidak ada satu amalanpun yang layak kita bawa ke Allah bagaimana?. Boleh-boleh-boleh…, ndak ada masalah.

Tapi itu biasanya akan beraroma “retreat” yang ujung-ujungnya adalah olah EMOSI akibat pengakuan dosa. Dan itu bisa pula menimbulkan tangis yang hebat. Proses seperti ini biasanya LAMA, berbelit-belit dan bertahun-tahun. Paling tidak itu menurut pengalaman saya. Kalau tidak percaya bolehlah dicoba sendiri. Dan hasilnya kita jadikan saja sebagai penambah pengalaman kita masing-masing.

Karena Olah Emosi sifatnya memang adalah BOLAK-BALIK (QALBUN) dan mudah BOSAN. Apalagi Olah Otak, ini akan lebih lama dan lebih membosankan lagi. Karena kedua-duanya, olah pikir dan olah emosi, melibatkan dua belahan otak kita. Olah Emosi melibatkan pengaktifan belahan Otak KANAN, dan Olah Pikir melibatkan eksploraso belahan otak KIRI. Nanti Masalah Belahan otak ini akan dibahas secara terpisah.

Selamat mencobanya.

Salam…

Deka…

Read Full Post »

ESENSI…

Oleh Yusdeka Putra pada 11 Januari 2011 jam 22:01

Setiap kata selalu punya makna ILHAMI, punya ESENSI, punya CITRA dan CITA RASA. Dengan memakai bahasa ibu, biasanya kita akan lebih mudah untuk mencium makna ilhami dari sebuah kata. Misalnya kata menghayati, akan mudah kita pahami dibandingkan dengan kata khusyu. Kata sungkan dan takut akan lebih berkesan bagi kita dari pada kata taqwa. Kata “ada Allah nih” mungkin bagi beberapa orang akan lebih renyah dan mudah diterima dari pada kata Ihsan.

Adanya makna ilhami itulah salah satu rahasia sederhana dari sekian banyak rahasia lainnya yang menyebabkan Al Qur’an diturunkan Allah kepada Muhammad SAW dalam bahasa Arab. Bukan dalam bahasa Persia, atau bahasa Yunani. Sebab bahasa ibu Beliau memang adalah bahasa Arab. Sehingga dengan itu Rasulullah bisa merasakan cita rasa setiap kata dan kalimat Al Qur’an dengan sangat baik dan dalam. Setiap kata dan kalimat ayat-ayat Al Qur’an itu bisa beliau dapatkan Esensinya. Termasuk ayat ALIF LAM MIM sekalipun.

Kemudian, ketika Beliau sampaikan ayat perayat Al Qur’an itu kepada para Sahabat Beliau, mereka juga berhasil mendapatkan esensi ayat itu dengan sama baiknya. Sehingga dizaman Rasulullah dan para sahabat itu nyaris tidak dibutuhkan TAFSIR Al Qur’an sama sekali. Salah satu dari sahabat itu adalah Abu Bakar. Setiap ayat Al Qur’an yang Beliau terima dari Rasulullah selalu Beliau dapatkan esensinya. Beliau tinggal berkata “Sadaqta ya Rasulullah, benar Engkau Ya Rasulullah”, sehingga sikap Beliau yang seperti itupun melekat menjadi nama Beliau, As Siddiq. Orang yang selalu membenarkan Rasulullah. Sebab Abu Bakar berhasil menangkap dan mencium Esensi dari Nama harum Nabi Muhammad SAW sampai keakar-akar-nya.

Akan tetapi saat sekarang ini, banyak juga orang yang sangat lancar berbahasa arab, bahkan orang arab sendiri, yang tidak berhasil mencium cita rasa ayat-ayat Al Qur’an itu saat mereka membacanya. Apalagi bagi kita orang-orang yang bahasa ibunya bukanlah bahasa arab. Inilah penyebab utama kenapa ayat-ayat Al Qur’an itu seperti menjadi bahasa langit bagi kita. Bahasa yang sulit untuk kita bumikan. Bahasa yang menyebabkan kita terkantuk-kantuk saat kita mendengarkan khotbah jum’at. Bahasa yang menyebabkan kita pulang dari ceramah agama dalam keadaan otak kosong dan tanpa peningkatan kesadaran kita.

Disinilah tugas berat para ulama dan da’I yang sebenarnya. Yaitu menyederhanakan ayat Al Qur’an yang lebih kurang 6666 ayat itu menjadi ESENSI demi ESENSI yang mudah dipahami dan dibuktikan kebenarannya. Ayat-ayat Al Qur’an itu bukan untuk ditafsir-tafsirkan. Sebab 6666 ayat saja sudah sedemikian banyaknya, apalagi kalau ditambah dengan tafsiran tafsiran yang jumlahnya menggunung. Begitu juga kalau ditambah lagi dengan tafsiran dari puluhan ribu hadist. Ah…, alangkah rumit dan sulitnya agama ini jadinya.

Tapi setiap ayat Al Qur’an itu sebenarnya adalah untuk kita temukan esensinya lalu keharumannya bisa kita reguk seteguk demi seteguk sehingga dahaga rohani kita terpuaskan. Ayat-ayat Al Qur’an itu mengajak kita BERJALAN selangkah demi selangkah untuk menemukan kembali esensi diri kita yang bercitrakan dan beresensikan Ilahi. Yaitu MIN RUHI. Esensi dan citra yang yang sudah hampir hilang dari kesadaran kita karena kita mengikuti citra dan esensi tanah pembentuk tubuh kita. Yaitu Min Nafsi.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW menyelami esensi ayat-ayat Al Qur’an itu telah menghasilkan Al Hadist. Kalaulah kita berhasil pula menghirup esensi ayat-ayat Al Qur’an itu dalam setiap langkah perjalanan kita, mau tidak mau pastilah hasilnya akan sama pula dengan beberapa Hadist dari sekian banyak hadist yang ada. Walaupun kata-katanya boleh jadi berbeda. Misalnya saat kata KHUSYU disandingkan dengan kata HAYATI, maka kita hanya akan tersenyum saja menangkap esensinya. Berbeda kata akan tetapi esensinya akan tetap sama. Karena esensi Al Qur’an bukanlah kata-kata, tapi sebuah suasana atau keadaan yang diturunkan dari Ilahiah yang hanya bisa ditangkap oleh wujud yang beresensikan Ilahiah pula. Yaitu RUH.

Hanya RUH lah yang bisa menangkap bahasa Ilhami, bahasa esensi, bahasa cita rasa. Bahasa yang bukan huruf-huruf, bukan pula kata-kata dan kalimat-kalimat. Tapi bahasa yang mendahului kata dan kalimat, yaitu bahasa keadaan atau suasana. Bahkan hanya RUH pulalah yang bisa membaca bahasa yang mendahului keadaan atau suasana, yaitu bahasa KUN. Sehingga tinggal selangkah lagi, Sang RUH pun dengan suka cita kembali kepada Sang Pemilik KUN………

Jadi tugas kita didunia ini, sebenarnya sederhana saja, yaitu dalam perjalanan hidup ini, kita bersedia dishibgah (dicelup) oleh Allah sehingga kita berubah dan bermetamorfosis dari diri yang beresensikan saripati tanah menjadi diri yang beresensikan Ilahi. Sehingga Allahpun berkenan memanggil kita dengan ungkapan yang menggetarkan: Ya RUHI…, wahai Ruh-Ku. Ya RUHI…, dan kitapun menyambutnya dengan ucapan: Ya Ilahi…, Ya Ilahi….

Dan kita tinggal menjalankan tugas-tugas kita di dunia ini dengan cita rasa dan esensi Ilahiah dalam penuh kesukacitaan. Adakalanya kita menjadi Abdur Razaq. Tempo-tempo kita menjadi Abdul Khalik. Lain kali kita menjadi Abdul Malik… Diatas semua itu, kita bingkai posisi kita itu dengan menjadi Abdur Rahman – Abdur Rahim…

Wasallam…

Deka, hari 11-bulan 1-tahun 11

Cilegon, Jl. Kabel 16



Read Full Post »

Diatas Air

Sebuah Pertanyaan dari Pak Faezal:

Dan Dialah yang menjadikan langit dan bumi dalam enam masa, sedang ArasyNya berada di atas air (Dia menjadikan semuanya itu untuk menguji kamu: … Hud ayat 7. Pak bisa bantuin maksud ‘diatas air’. Terima kasih

*
o

Pak Faezal, kalimat itu tidak bisa dijelaskan dengan rangkaian kata dan kalimat. Karena kata dan kalimat akan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya dari Arasy-Nya. Itu baru tentang Arasy-Nya apalagi tentang Diri-Nya, tentang Aku-Nya. Tak Terdefinisikan.

Tetapi tatkala kita mau memahami-Nya dengan cara bersedia berjalan dan berjalan tanpa henti dan bergerak SELARAS mengikuti Kehendak-Nya, maka selangkah demi selangkah kita akan diperkenalkan sendiri oleh-Nya tentang Diri-Nya.

Dia sendirilah yang akan menjelaskan, menyatakan, dan memperkenalkan Diri-Nya beserta segala Atribut-Nya kepada kita sesuai dengan yang kita butuhkan saat demi saat.

Jadi kita tidak perlu sedikitpun mengira-ngira makna kata tersebut dengan bahasa huruf dan kalimat. Biarkanlah Al Qur’an itu seperti apa adanya. Kita hanya perlu Selaras dengan Allah, berbaikan dengan Allah, mengalir bersama kehendak Allah. Dan dengan mencengangkan Allah akan membelajarkan kita, menumbuhkan kita, mengembangkan kita dalam hal KESADARAN kita.

Setiap kalimat Al Qur’an itu punya Makna INTUITIF nya sendiri.

JAdi, tentang kalimat “diatas air” itu hanya bisa saya jelaskan dengan sebuah anggukan ta’zim dan sepatah kata lirih: “ya…”. Tidak lebih…

Salam…



Read Full Post »

Makna Intuitif Sebuah Kata

Saat aku DIDUDUKKAN oleh ALLAH dalam SUASANA SABAR, aku dibawa untuk dapat memahami bahwa setiap KATA ternyata punya makna INTUITIF yang sangat mencengangkan.

Karena sebelum kata adalah huruf, sebelum huruf adalah suara, sebelum suara adalah daya, sebelum daya adalah gerak, sebelum gerak adalah diam. Dari diamlah bermunculan bibit-bibit kepahaman intuitif yang tak kunjung habis.

Kata: “ALLAH”, adalah sebuah bangunan huruf-huruf yang punya makna INTUITIF terhebat sepanjang masa, setidaknya itulah yang aku alami.

Ya Allah…, lalu aku hanya diam dalam ketercengangan.
Ya Allah…, lalu aku hanya berusaha MENYELARASKAN citra diriku dengan makna INTUITIF dari nama Allah itu tanpa aku memberikan PERLAWANAN sedikitpun.

Bagaiman aku akan bisa melawan SESUATU yang tak terlawan. Dialah Allahku.

Bagaimana aku akan bisa melawan sementara yang ku punya hanyalah semata-mata bentuk pikiran-pikiran, sementara Allahku punya KUN (jadilah) FAYAKUN (maka Jadilah).

Bagaimana aku akan bisa melawan untuk menjadi tidak selaras dengan KUN Allahku yang selalu bergerak maju tanpa henti tak kenal ujung. Karena saat aku berhenti dalam keselarasan dengan KUN Allahku, Kun itu TETAP meneruskan Arah geraknya tanpa diriku, sehingga akupun tertingal dan menjadi tertatih-tatih meniti zaman yang nyaris tak kukenal.

Ternyata KUN itu TIDAK akan pernah berhenti hanya gara-gara karena harus mengakomodasi keikutsertaanku. Kun tidak akan pernah berhenti menunggu peranku. Tidak. KUN akan singgah MENGADA pada diri orang-orang yang selaras dengan KUN itu.

Oooo…, akulah ternyata yang harus meyelaraskan diri dengan KUN Allahku, bukannya KUN Allahku yang harus ikut pikiranku.

YA Allah…, berkehendaklah kepadaku. Lalu akupun menyelaraskan diriku agar bisa mengalir bersama Kehendak Allahku…

Salam

Ujung Awal 2011, Kabel 16, Cilegon

Deka

Read Full Post »

Sabar

SABAR adalah saat kita bersedia DIDUDUKAN oleh ALLAH di dalam sebuah Ruang Spiritual, sehingga kita semata-mata hanyalah menjadi wujud PENGAMAT terhadap setiap peristiwa dan kejadian yang MELEWATI kita. KEADAAN saat itu sangatlah EFFORTLESS, karena ketika itu emosi kita tidak punya tempat untuk mengada

Read Full Post »

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 12,000 times in 2010. That’s about 29 full 747s.

In 2010, there were 41 new posts, growing the total archive of this blog to 78 posts. There was 1 picture uploaded, taking a total of 9kb.

The busiest day of the year was December 23rd with 255 views. The most popular post that day was Membuka Ruang Spiritual.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were mail.yahoo.com, dolinktome.com, search.conduit.com, google.co.id, and pulse.yahoo.com.

Some visitors came searching, mostly for yusdeka putra, yusdeka, yusdeka putra blog, membuka ruang spiritual, and yusdeka menjawab.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Membuka Ruang Spiritual January 2010
6 comments

2

KESADARAN DIRI January 2010
1 comment

3

Tentang Saya… June 2009
34 comments

4

IBLISPUN BERDO’A January 2010
7 comments

5

KHUSYUK LAH… June 2009

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: