Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2014

5. Jika kita BERPAHAM QADARIYAH (PQ), disamping kita beranggapan bahwa: “KITA adalah WUJUD, kita juga punya KEMAMPUAN, KUASA, QUDRAH, untuk melakukan sesuatu, bahkan untuk menentukan masa depan kita sendiri, sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Kita mengganggap bahwa hasil apapun yang kita dapatkan, itu nyaris tanpa campur tangan Allah sedikitpun. Kita bebas. FREE WILL dan FREE ACT. What we think, we become. Paham Qadariyah ini bisa pula disebut sebagai paham RASIONALIS.

Disini kita jadi tidak percaya lagi kepada Taqdir. Kita mengingkari iman kita kepada qadha dan qadar. Kita akan menganggap bahwa Allah BELUM selesai dalam membuat rencana. Allah BELUM SEMPURNA merencana, Allah tidak menentukan dan tidak mengetahui suatu perkara sebelum perkara itu terjadi. Untuk terjadinya sebuah perkara, kita mempunyai andil di dalamnya. Artinya Allah baru mengetahui sebuah perkara ada setelah perkara itu terjadi. Kita jadi meyakini bahwa semua manusia mempunyai kekuatan untuk menentukan nasibnya tanpa ada intervensi dari Allah SWT. Bahkan untuk mendapatkan surga dan neraka sekalipun, itu adalah atas kehendak kita sendiri, bukan karena taqdir dari Allah.

Ternyata Paham Qadariyah ini masih berkembang sampai sekarang, walau dalam penyampaiannnya dipoles dengan kata-kata modern atau istilah-istilah masa kini. Misalnya ungkapan-ungkapan:

“Hidup ini adalah permainan GETARAN PIKIRAN DAN PERASAAN manusia belaka. Kita BISA mengubah Nasib kita hanya dengan mengubah pola-pola Getaran Pikiran dan terutama Perasaan kita dengan cara kita MENGAKSES getaran perasaan tertentu yang menyebabkan keberhasilan”, kata salah seorang PAKARNYA disetiap kesempatan.

“Kita BISA MENGUBAH NASIB dengan melakukan RE-PROGRAM ALAM BAWAH SADAR. Ketika kita menghadapi berbagai kemelut kehidupan, kita sering kali merasa tak berdaya, semua jalan terasa buntu, kita merasa menjadi korban, yang pada akhirnya kita merasa putus asa. Padahal sebenarnya kita tidak perlu menjadi korban. Percaya atau tidak, sebenarnya kita dapat menciptakan sendiri semua yang kita inginkan. Itu melalui re-programing alam bawah sadar kita”

“Untuk proses itu kita hanya perlu melakukan proyeksi-proyeksi mental yang pakemnya adalah sebagai berikut:

• Kita masuk ke gerbang Alam Bawah Sadar melalui kondisi otak Gelombang Alpha (8-13,9 Hz), Untuk itu kita cukup hanya dengan mendengarkan suara-suara Digital tertentu, atau melakukan aneka meditasi.
• Kita menggambarkan bayangan mental dengan visualisasi, menciptakan ide, bayang mental, atau gambaran yang kita inginkan, atau bisa pula dengan memasukkan pemahaman-pemahaman tentang kata-kata seperti: tercerahkan, kedamaian, sukacita, cinta, penerimaan, rela untuk Power, atau berani, bangga, marah, ambisi, takut, depresi, minder, dan lain-lain, untuk Force.
• Afirmasi atau self talk, dengan mengucapkan kata-kata tersebut atau mantra tertentu secara berulang-ulang, sampai muncul keyakinan kita terhadap apa yang kita inginkan bahwa apa yang kita kehendaki itu pasti terlaksana. Sehingga keinginan kita itu terekam kuat dia alam bawah sadar kita.
• Tambahkan emosi atau perasaan yang menyenangkan, bahwa kita bisa menimbulkan rasa senang seakan-akan keinginan kita itu sudah terwujud. Karena Alam Bawah Sadar memang TELAH DIDEFINISIKAN TERLEBIH sebagai alam yang tidak bisa membedakan antara kenyataan atau khayalan.
• Lakukan hal itu secara terus menerus secara dan tekun. Tapi ingat, semuanya memerlukan proses dan waktu yang cukup untuk terwujud menjadi realitas yang kita harapkan”. Akhirnya kita diminta untuk melupakannya, dan menunggu…

“Mari…, marilah…, beramai-ramai, jangan sampai ketinggalan…, karena kesempatan sangat terbatas…”, kata kita dengan penuh antusias. Atau bisa pula dengan memakai kalimat-kalimat hipnosa lainnya: “Bagi yang sakit ingin sehat, atau yang miskin ingin kaya, atau yang nelangsa ingin bahagia, atau yang lemah dan lebay ingin sakti, atau yang ini ingin itu, maka bergabunglah dengan kami. Sebab kami adalah ahli dibidang tersebut. Kalau tidak percaya, lihatlah kesaksian pesohor negeri ini yang sudah membuktikan kehebatan teknik yang kami tawarkan…”, kata berbagai iklan di media cetak dan media sosial dengan sangat instens.

Natinya, yang akan membedakan teknik dari trainer yang satu dengan triner yang lain hanyalah kulit-kulitnya saja. Sebenarnya isi dari semua teknik itu adalah sebelas dua belas saja.

Bersambung

Read Full Post »

4. Kita juga sering mendengar ungkapan-ungkapan: “berusaha dong, jangan pasrah saja, jangan ngimpi saja, jangan hanya berdo’a saja, jangan hanya berpangku tangan saja, hayo ihktiar sana…!. Kan Allah juga sudah berfirman dalam surat QS. Ar-Ra’du (13): 11 : “… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…”. Jelas sekali ayatnya. Akan tetapi pada lanjutan ayat yang sama, Allah juga mengingatkan bahwa: “… Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.

Di ayat lain Allah juga berkata: “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min 60).

Pada kesempatan lain, Rasulullahpun pernah bersabda:

“Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad !, sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorangpun yang sanggup menolaknya”, HR Muslim.

“Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah kecuali do’a”, HR Tarmidzi

“Siapa saja yang ingin dimudahkan rezqinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturrahim”, HR Bukhari.

Kemudian ditambah lagi dengan ayat-ayat yang berkenaan dengan hubungan antara taqwa dan tawakkal dengan jalan keluar dari permasalahan kita dan kemudahan rezki yang sudah sangat familiar di telinga kita: “… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan penyelesaian. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”. (QS. Ath-Thalaaq: 2-3).

KEKELIRUAN dalam memahami rangkaian ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist diatas ternyata telah memecah belah umat Islam menjadi beberapa paham atau paradigma berpikir dalam menghadapi berbagai MASALAH KEHIDUPAN yang kelihatannya seperti saling bertolak belakang satu sama lainnya.

Di satu sisi extrim ada pemikiran QADARIYAH, di sisi extrim yang lain ada pula filsafat JABARIYAH, dan pada posisi pertengahan ada Paham ASY’ARIYAH. Pecahan dari paham-paham diataspun kemudian bermunculah, seperti: MU’TAZILAH (yang merupakan pecahan pemikiran Qadariyah); JAHMIYAH, NAJJARIYAH, DHIRARIYAH (yang merupakan varian dari filsafat Jabariyah); SYI’AH, Sunni, Wahabi, dan sebagainya.

Walaupun masih ada satu paradigma berpikir lainnya yang dianut oleh sebagian besar umat Islam, yaitu Paham AHLU AL-SUNNAH WA AL-JAMAAH, namun persentuhan paham ini dengan paham-paham yang lainnya tetap tidak dapat dihindarkan. Sehingga akhirnya hampir saja kita umat islam ini menjadi umat yang tidak mampu lagi untuk beriman secara UTUH kepada Rukun Iman ke-6. Yaitu percaya kepada TAQDIR (QADA, QADAR), bahwa yang baik maupun yang buruk, keduanya berasal dari Allah.

Iman kita menjadi sangat lemah untuk mempercayai Rukun Iman ke-6 ini, walaupun kita sudah tahu ada ayat Allah yang berkata: “maka Dia mengilhamkan kepadanya (jiwa) jalan kejahatan dan ketaqwaan”, (asy-Syams (91): 8, sehingga hanya dengan sebab ilham itulah kita semua akan bisa menjadi orang jahat atau orang yang bertaqwa.

PERSAMAAN UTAMA dalam hal SIKAP dari semua paham diatas, adalah adanya anggapan bahwa KITA sebagai manusia adalah WUJUD. Karena kita merasa ada, maka kita merasa berhak pula untuk mengaku bahwa kita merasa bisa pula untuk menentukan SIKAP kita sendiri ketika kita berhadapan dengan KEKUATAN dan KEKUASAAN ALLAH. Perbedaan SIKAP ketika menghadapi Kekuatan dan Kekuasaan Allah inilah yang menjadi PERBEDAAN UTAMA dari paham-paham diatas. KECUALI kalau kita mengikuti SIKAP seperti yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW, para salafus shaleh, dan beberapa penerus Beliau yang amanah.

Mari kita lihat perbedaan-perbedaan SIKAP dari para penganut Paham-paham tersebut.

Bersambung

Read Full Post »

2. Ketika terjadi musibah atau bencana di suatu tempat, seperti wabah penyakit menular, gempa bumi, tsunami, kebakaran hebat, kemarau panjang, banjir, dan sebagainya, maka kita dengan mudahnya mengungkapkan tanda-tanda keberadaan kita kepada orang lain.

Ketika kemarau panjang terjadi, kemudian kita berdo’a atau shalat istisqa beramai-ramai, lalu tak lama kemudian benar saja hujan turun dengan derasnya, maka kita akan mudah sekali berkata, alhamdulillah do’a dan shalat istisqa kita berhasil dikabulkan oleh Allah. Seakan-akan hujan yang turun itu adalah hasil dari do’a dan shalat yang kita lakukan.

Atau bisa pula dalam bentuk ungkapan pengkultusan kita terhadap seseorang yang dengan mudahnya kita ucapkan, misalnya, jika Pak XYZ datang kesuatu daerah maka di daerah itu akan segera turun hujan. Sehingga musim kering akan segera berakhir, asap dan debu pekat yang menyelimuti bumi karena kebakaran hutan (misalnya) akan segera hilang lenyap…

Di suatu musim penghujan, setiap hari hujan turun dengan derasnya, kemudian ada yang ingin mengadakan acara kenduri perkawinan, lalu ada orang tertentu (pawang hujan) yang dimintakan petolongannya untuk menunda atau menahan agar hujan tidak turun. Ketika hujan benar-benar tidak turun, maka kita akan berkata, hebat ya pawangnya. Seakan-akan tidak turunnya hujan itu adalah karena usaha dari si pawang. Sehingga muncul keraguan orang terhadap seberapa besar kekuasaan Allah untuk menurunkan hujan.

Untuk bagian ini, sungguh sangat banyak sekali hal-hal yang bisa kita pakai untuk menunjukkan keberadaan kita kepada orang lain. Mulai dari ilmu yang bisa diilmiahkan, sampai dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan batin manusia.

3. Ketika dikatakan bahwa “Tak seorangpun daripada kamu kecuali SUDAH DITETAPKAN tempatnya di SYURGA atau NERAKA…!. Terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk. 1, 66 (1992). Dan juga bahwa “tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya sebagaimana tetapnya kalung pada lehernya”, Al Israa (17): 13. Ditambah lagi dengan: “Semuanya akan dipermudahkan untuk yang mana telah ditentukan untuknya”, Terjemahan Sahih Al Bukhari Bk. 8, 402 (1987).

Maka kita dengan gagah berani kita seringkali berkata: “Kalau begitu dimana dong KEADILAN Allah?”. Kalau saya diciptakan Allah hanya untuk kelak masuk ke neraka juga akhirnya, dan dipermudah pula untuk berbuat jahat atau maksiat, kan lebih baik saya tidak diciptakan oleh Allah. Mana KEADILAN Allah ?”.

Oleh sebab itu, seringkali kita umat Islam ini MATI LANGKAH untuk menjawab pertanyaan yang datang dari seorang non-muslim seperti berikut: “Saya adalah seorang yang terlahir di keluarga kristen, misalnya, dari kecil saya sudah diajarkan untuk menjadi seorang kristen, ibadah saya secara kristen, hidup saya secara kristen, saya juga tidak pernah berbuat jahat atau maksiat, saya tidak pernah menyakiti orang lain. Akan tetapi menurut agamamu saya ini tetap akan masuk neraka kelak. Lalu keadilan Allah mu di mana…?.

Karena kita mati langkah, kemudian orang non-muslim itu menyampaikan kehebatan kasih sayang Tuhan di dalam agama mereka, maka tidak sedikit umat islam yang akhirnya berpindah agama menjadi non-muslim…

Jawaban tentang pertanyaan “mana keadilan Allah?” ini insyaallah akan kita bahas pada saatnya.

Bersambung

Read Full Post »

Dengan berpedoman ayat-ayat dan hadist-hadis diatas, lalu kita ikut-ikutan mengambil kesimpulan sendiri bahwa kerusakan yang timbul itu memang disebabkan tidak lain oleh perbuatan manusia sendiri. Kerusakan itu dapat terjadi dalam bentuk kerusakan lingkungan dan bencana alam yang bisa digolongkan sebagai kerusakan fisik, dan dapat pula dilihat dalam bentuk kerusakan moral yang ditandai dengan diabaikannya aturan hukum dan aturan Allah. Sehingga dengan sebab itu, maka Allah kemudian menurunkan bencana kepada kita.

Akan tetapi, nanti kita akan memandang masalah yang berkenaan dengan ayat-ayat dan hadist-hadist diatas melalui sebuah paradigma berpikir yang lain, yaitu paradigma berpikir orang-orang yang sudah bermakrifatullah. Paradigma yang akan membawa kita untuk beriman TOTAL kepada Rukun Iman yang ke-enam, bahwa yang Baik dan yang Jahat kedianya datang dari Allah.

Sebab kalau kita gagal dalam mengimani Rukun Iman yang ke-enam ini, kita akan seringkali bertindak seperti seorang JAKSA yang sedang menginterogasi Allah: “ya Allah, KENAPA terjadi gempa dan tsunami di daerah ini ?. Kan penduduknya banyak yang baik dan suka beribadah?. Kan harusnya begini dan begitu?. Kan SEHARUSNYA daerah yang terkena gempa dan tsunami itu adalah di Eropa, Amerika, atau Cina sana, yang penduduknya banyak yang suka berbuat maksiat.!”. Kalimat-kalimat yang mirip dengan yang diucapkan oleh Iblis kepada Allah ketika Allah menciptakan Nabi Adam AS. Artinya kalimat-kalimat itu sebenarnya adalah kalimat yang akan diucapkan oleh orang yang belum beriman kepada Allah. BELUM…

Dengan berkata seperti diatas, maka sebenarnya kita telah membuat rukun iman yang baru, Rukun Iman yang ke-7. Padahal rukun iman ke-6 mensyaratkan bahwa yang BAIK maupun yang BURUK yang kita lakukan, kita katakan, dan kita alami, semuanya itu adalah berasal dari Allah, karena Allah memang telah menakdirkan kita untuk melakukan sebuah perbuatan, mengatakan suatu perkataan itu, dan menerima sebuah keadaan yang kita alami. Ya…, yang BAIK dan yang BURUK, keduanya adalah berasal dari Allah.

Bersambung

Read Full Post »

1. Ada ungkapan:
“Apapun kebaikan yang saya lakukan, katakan, dan alami , itu semata-amat adalah dari Allah SWT, sedangkan apapun keburukan yang saya lakukan, katakan, dan alami itu adalah semata-mata karena kebodohan saya sendiri”. Kalimat itu seakan-akan sangat bagus sekali. Beberapa khatib jum’at dan penceramah agama seringkali mengucapkannya dengan mudah. Dengan ucapan kalimat itu, kita seakan-akan terlihat sudah menjadi orang yang sangat rendah hati dan tidak sombong.

Begitu juga kalau terjadi sebuah bencana alam ditempat kita berada, dengan gagah berani kita segera akan berkata bahwa bencana alam itu adalah semata-mata karena kesalahan kita sendiri. Kita mengatakan bahwa Allah telah menghukum kita karena kita telah menjadi orang yang jahil dan tidak mematuhi perintah Allah.

Ketika di suatu tempat terjadi bencana gempa yang kadangkala bisa pula diikuti oleh hantaman gelombang tsunami, dan membunuh ribuan bahkan ratusan ribu jiwa, dengan mudahnya kita seakan-akan telah berubah menjadi HAKIM terhadap masyarakat yang jadi korban, atau menjadi Jaksa terhadap Allah SWT. Kepada korban bencana kita seringkali berkata: “itu terjadi karena masyarakat di daerah yang terkena bencana tersebut sudah terlalu banyak berbuat dosa dan maksiat kepada Allah, sehingga Allahpun menghukum mereka karena perbuatan mereka itu.

Ungkapan kalimat kita diatas sekilas memang seperti sangat sesuai dengan ayat Al Qur’an yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghedaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, QS Ar-Rum (30): 41.

“Dan apa saja musibah yang menimpamu maka itu disebabkan oleh perbuatan dosamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”, QS Asy-Syuura: 30-

“Dan bila dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab, “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tapi mereka tidak sadar”, QS Al-Baqarah (2): 11-12.

Atau hadist-hadist:

Apabila kemaksiatan telah merajalela pada umatku, maka Allah azza wa jalla akan
meratakan mereka dengan adzab dari sisi‐Nya.” (Lihat: ash‐Shohihah no. 137)

“Apabila perzinaan dan transaksi riba telah merata pada suatu negeri maka Allah azza wa
jalla mengizinkan negeri itu untuk dihancurkan.” (ad‐Da` wa ad‐Dawa`, hlm. 70)

“Tidaklah bumi ini diguncang melainkan karena maksiat yang dikerjakan di atasnya.” (ad‐Da`
wa ad‐Dawa`, hlm. 74)

Bersambung

Read Full Post »

Iman atau percaya adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk kita ucapkan. Misalnya: kita dengan mudah berkata bahwa kita sudah beriman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab-kitab Allah, kepada Nabi dan Rasul Allah, kepada hari akhir, serta kepada takdir baik dan buruk. Namun ternyata banyak diantara kita yang sangat sulit untuk menjalani hidup ini dengan sikap yang sesuai dengan sikap seorang yang beriman, terutama untuk beriman kepada rukun iman yang ke-6, yaitu: kita tidak hanya harus percaya kepada adanya takdir yang baik dan yang buruk, akan tetapi kita juga diharuskan untuk beriman bahwa keduanya itu berasal dari Allah.

Kita seringkali diberi contoh tentang perilaku makhluk yang gagal dalam mengimani rukun iman yang ke-6 ini adalah seperti apa yang dilakukan oleh Iblis kepada Allah terhadap penciptaan Adam AS. Iblis memperlihatkan ketidakpercayaannya atas AF’AL atau Perbuatan Allah yang berkenan untuk menciptakan Nabi Adam AS, sehingga diapun berani membantah Allah dengan sombongnya. Dia tidak mau memenuhi perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Iblis telah berlaku sombong kepada Nabi Adam AS yang hanya tercipta dari tanah yang menurutnya lebih rendah dan hina dari dirinya yang tercipta dari dari api. Sehingga akhirnya diapun terpaksa keluar dari syurga karena ketidakpatuhannya itu. Dan kelak ia pun akan dimasukkan pula ke dalam neraka.

Dalam perjalanannya, Nabi Adam AS pun akhirnya harus keluar pula dari syurga. Namun selama ini kita lebih banyak diberitahu atau belajar bahwa keluarnya Nabi Adam AS dari syurga itu adalah karena Beliau telah gagal menghadapi godaan Iblis yang selalu menggoda Beliau untuk memakan buah Khuldi yang memang sebelumnya sudah dilarang oleh Allah untuk Beliau makan.

Di dalam banyak pengajian, kita juga sering diberitahu bahwa hanya satu jenis makhluk saja akhirnya yang berhasil untuk mengimani AF’AL atau Perbuatan Allah atas penciptaan Nabi Adam AS, yaitu Malaikat. Sehingga malaikatpun bisa tetap menjadi makhluk langit yang kebaikannya menjadi dambaan bagi umat manusia. Bukankah kita sering berkata bahwa kita ingin mempunyai kualitas diri yang sebersih dan sesuci malaikat?.

Dengan cara belajar seperti itu, kita akhirnya berkesimpulan bahwa iblis keluar Allah dari syurga dan kelak akan dimasukkan-Nya ke dalam neraka kelak adalah karena kesombongan dan kedurhakaan iblis kepada Allah. Begitu juga, kita menganggap bahwa keluarnya Nabi Adam AS dari syurga adalah karena kegagalan Beliau dalam menghadapi godaan iblis. Dan sebaliknya, keberhasilan Malaikat untuk tetap menjadi makhluk langit adalah karena kepatuhannya kepada Allah…

Lalu kitapun kemudian diperintahkan untuk bisa menjadi kuat dan tidak tergoyahkan dalam menghadapi godaan iblis yang ternyata tetap berlanjut sampai ke masa kita sekarang dan ke zaman anak cucu kita kelak. Kalau kita kuat menghadapinya, maka kita merasa seakan-akan itu adalah sebagai hasil usaha keras kita yang dibarengi dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan dengan semangat empat lima dan ditambah lagi dengan do’a-do’a perlindungan yang selalu kita panjatkan kepada Allah.

Dengan paradigma berpikir seperti itu, telah melahirkan beragam sikap kita dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan yang kita hadapi. Pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa paradigma itu, berikut dengan contoh-contoh perbuatan apa yang mungkin akan kita lakukan jika kita mengikuti salah satu paradigma berpikir itu.

Bersambung

Read Full Post »

Stephen Hawking dan orang-orang yang sependapat dengannya boleh jadi baru sampai pada sepenggalan jalan. Dia baru berbicara tentang apa-apa yang ADA dan TERJADI DI DALAM tatanan SEBUTIR PASIR ditengah-tengah padang pasir, atau pada SETETES AIR MASIN di dalam lautan luas. Walaupun yang dia bicara-bicarakan itu adalah the Universe, Alam Semesta, yang sekilas kelihatannya memang sudah sangat besar sekali, seperti tanpa batas, akan tetapi itu tetap tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Kemahaindahan Dzat yang MEMEGANG the Universe itu. Kehebatan-Nya yang bak kedahsyatan Padang Pasir terhadap sebutir pasir, atau keperkasaan Samudera Raya terhadap setetes air masin.

Sedangkan DIATAS the Universe itu masih ada TUJUH LAPIS LANGIT yang tak terperikan besarnya. Diatas tujuh lapis langit itu masih ada Kerajaan Allah yang disebut dengan Sidratul Muntaha. Diatas Sidratul Muntaha itu masih ada lagi Lapisan Air yang sangat Masiv. Diatas Lapisan Air itu masih ada pula Lapisan ARASY Allah yang besarnya tak terkirakan. Dan diatas lapisan Arasy yang sangat luas itupun masih ada lagi 70 Tirai Nur, yang menirai semua yang ada dibawah Tirai Nur itu dari hacur-musnah dan terbakar hangus karena terpandang oleh Dzat-Nya Yang Maha Sangat Suci, Yang Maha Indah.

Ya…, DIATAS 70 lapis Tirai Nur itulah bersemayam DZAT yang sudah TIDAK bisa disebutkan dengan sebutan apapun juga, yang menamakan Diri-Nya sendiri dengan ALLAH. The Primary Essense. Dzat yang membuat kita DIPAKSA untuk BERHENTI berpikir, berwacana, dan berpersepsi. Kita dipaksa untuk berhenti menggunakan panca indera kita. Mata kita seperti sudah buta, telinga kita seakan sudah tuli, hidung kita bak sudah buntu, lidah dan kulit kita seumpama sudah mati rasa. MATI sebelum mati. Kalau tidak berhenti, maka kita akan tersiksa dengan sendirinya.

Sebab untuk Dzat Yang Maha Suci itu, hanya tersisa satu ruangan lagi yang tersedia, yaitu RUANGAN IMAN. Tidak ada ruangan lain. Dan Ruangan Iman itu adanya adalah di dalam HATI atau AKAL kita. Hati atau Akal kitalah yang bisa memuat Dzat Yang Maha Indah itu dengan cara kita mengimani-Nya. Bukan memikirkan-Nya. Sebab kalau kita memikirkan-Nya maka jadilah kita tersesat kemana-mana. Misalnya: kita mengira satu di dalam tiga atau ramai, tiga atau ramai didalam satu; kita berucap Dia adalah Aku, aku adalah Dia, dan sebagainya. Iman inilah barangkali yang belum dimiliki oleh Stephen Hawking dan orang-orang materialistis lainnya, sehingga mereka berani berkata begitu.

Kalau kita sudah bersedia berhenti untuk berpikir, bahwa hanya Allah sajalah alamat terakhir kita dalam berpikir dan tempat berhenti kita dalam segala hal, maka dengan segera kita akan masuk menjadi golongan orang-orang yang BERMAKRIFATULLAH…

Oleh sebab itu marilah kita tuntaskan prosesi penafian tahap kedua, yaitu untuk menafikan Tirai Nur, menafikan Lauhul Mahfuz, untuk kemudian melakukan pengisbatan yang terakhir, Laa Maujud Illallah…, Laa Maujud Illallah…, Bahwa tidak ada wujud Tirai Nur, tidak ada Wujud Lauhul Mahfuz, tidak ada wujud the Secondary Essense. Wujud yang ada hanyalah SATU, yaitu semata-mata Dzat Yang Maha Indah. The Primary Essense. Ya…, yang exist semata-mata hanyalah Dzat saja. Dzat yang menamakan Diri-Nya dengan Allah.

Dzat-Nya yang sedikit, the Secondary Essense, ternyata adalah sebagian kecil saja dari Dzat-Nya Keseluruhan, the Primary Essense. Ini ibarat belalai terhadap gajah, ibarat kuku terhadap seluruh tubuh kita, ibarat sebutir pasir terhadap padang pasir, ibarat setetes air masin terhadap lautan. Begitu kita menyebut nama Allah, maka Ingatan kita sudah benar-benar langsung tertuju kepada Allah. Tidak ada lagi ingatan kita kepada yang lain.

Tapi ingat, belalai tidak bisa mengatakan dia adalah gajah, kuku tidak bisa mengatakan dia adalah tubuh, sebutir pasir tidak bisa mengatakan dirinya adalah padang pasir, setetes air masin tidak bisa mengatakan dirinya adalah lautan, the secondary essense tidak bisa mengatakan dia adalah the Primary Essense. Mereka tidak wujud. Dan untuk itu mereka tidak perlu berkata kemana-mana:”aku tidak wujud lho…, aku tidak wujud…!. Tidak perlu begitu. Sebab dengan berkata begitu, sebenarnya mereka masih wujud. Karena mereka masih mengaku-ngaku. Diam sajalah…

Sebaliknya gajah bisa mengatakan bahwa belalai itu adalah dia, tubuh bisa mengatakan bahwa kuku itu adalah dia, padang pasir bisa mengatakan bahwa sebutir pasir itu adalah dia, lautan bisa mengaku bahwa setetes air masin itu adalah dia. Ya…, the Primary Essense bisa mengaku bahwa the secondary essense itu adalah Dia.

Allahpun berhak berkata bahwa Dzat-Nya yang sedikit itu (Dzat Yang Bathin), yang berada di Lauhul Mahfuz, adalah Dia. Dan Allah juga berhak berkata bahwa penzahiran Dzat-Nya yang sedikit yang menjadi semua ciptaan, ilmu, dan nama-nama (Dzat Yang Dzahir) adalah Dia. Sehingga Allah bisa berkata: “Akulah Yang Bathin, Akulah Yang Dzahir. Yang membunuh bukan kamu (ya Muhammad), tapi Aku. Yang melempar bukan kamu ( ya Muhammad), tapi Aku !”.

Nah…, Allah inilah yang akan selalu kita INGAT-INGAT di dalam HATI atau AKAL kita pada semua kesempatan. Apakah itu saat berdiri, saat duduk, saat berbaring, di dalam shalat, diluar shalat, ketika bekerja, ketika berkarya, atau ketika berdagang. SETIAP SAAT. Agar kita tidak lupa lagi, maka kita TUMPUKAN Mata Hati kita pada ingatan kepada Allah itu. Mata hati kita akan terpandang pada kekosongan. Tidak ada rupa, tidak ada umpama, tidak ada huruf, tidak ada warna, tidak ada ejaan.

Keadaan seperti inilah yang disebut sebagai keadaan awal di dalam shalat, atau TAKBIRATUL IHRAM. Ketika kita mengucapkan Allahu Akbar…, ucapan kita itu akan seirama dengan ingatan di dalam Hati kita yang sedang ingat kepada Allah, dan pandangan Mata Hati kiita yang sedang memandang kepada Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan apapun juga. The Primary Essense. Kosong. Dan ketika itulah Allah akan membalas ingatan kita itu dengan memberikan tanda-tanda keberadaan-Nya kepada kita melalui Hati atau Akal kita. Sungguh “FADZKURUNI ADZKURUKUM” adalah sepotong ayat Al Qur’an yang bukan sembarangan ayat. Ini adalah ayat yang sangat luar biasa. Tapi kenyataan ayat itu HANYA akan bisa dirasakan oleh orang-orang yang BERIMAN saja. Beriman karena sudah bermakrifatullah. Dan itu akan bisa dirasakan kapanpun juga, sepanjang zaman.

Sampai disini, selesailah Artikel : “Bagaimana Kalau (Hati) Kita Buta dan Tuli”. Sungguh Setiap huruf, kata, dan kalimat hanya bisa tertuang dan tertulis karena sudah ada IZIN atau KETETAPAN dari ALLAH semata. Bagi sahabat dan pembaca yang bisa mengerti ataupun tidak, itu juga adalah ketetapan Allah. Bagi yang telah ditetapkan oleh Allah untuk bisa mengerti, bersyukurlah, karena insyaallah Allah akan menambah pengertian kita dilain waktu. Sebaliknya, bagi yang belum bisa mengerti, bersabarlah, karena di dalam ketidakmengertian kita itu tetap akan ada hikmah yang bisa kita petik.

Insyaallah kita akan bertemu kembali dalam artikel: “Kalung Yang Sudah Terpasang Dileher”

Akhirul kalam.
Asyhaduan llaa ilahaillallah, wa asyhaduanna Muhammadan Rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad…

Wallahu a’lam…

Selesai.

Wassalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: