Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2011

Entah dari mana awalnya:
Sejak berbilang tahun lamanya aku diberitahu bahwa Allahku ada dilangit.
Aku tidak diperbolehkan untuk bertanya banyak tentang Allahku. Tidak boleh.
Aku hanya diberitahu bahwa Allahku kini sedang bersemayan diatas Arasy.
Aku diberitahu bahwa Allahku turun kelangit dunia di sepertiga malam terakhir.
Aku dikabarkan bahwa hanya Rasulullah Muhammad SAW sajalah yang pernah bertemu Allah saat Beliau masih hidup. Yaitu saat isra’ dan mi’raj.
Sedang untukku, bertemu Allahku hanya bisa nanti diakhirat saja.

Duh…, bagaimana ini…?.
Padahal aku ingin sekali menyembah Allahku.
Aku ingin sekali sujud dan bersimpuh dihadapan Allahku.
Aku sangat ingin berbicara panjang dengan Allahku.
Aku teramat ingin mengadukan kegundahan hatiku kepada Allahku.

Saat shalatku, sebenarnya aku bertanya dan bertanya:
Dimanakah gerangan wajah Allahku.
Sebab aku ingin menghadapkan wajahku ke Wajah Allahku dengan tepat.
Aku ingin tidak ada apapun yang menghalangi Wajah Allahku dariku.
Sehingga aku bebas berkata-kata dengan-Nya.
Aku ingin sampaikan ketiadaanku dihadapan Allahku.
Karena aku memang tidak bisa melawan Allahku yang tak terlawan.

Dalam kegundahan itu Guruku berkata kepadaku:

Sudah…, kamu jangan bingung…
Rilekkanlah tubuhmu.
Anggap saja tubuhmu seperti seledang basah yang baru saja engkau angkat dari ember berisi air.
Selendang basah itu hanya luruh menjuntai saat engkau pegang.
Selendang basah itu bisa berdiri karena ada engkau yang memegangnya.
Selendang basah itu bisa digerakkan kekiri dan kekanan dengan mudah.
Selendang basah itu seperti tidak punya daya dan kekuatan apa-apa.

Nah buatlah tubuhmu seperti selendang basah itu.
Tubuhmu bisa berdiri hanya karena ada kekuatan mengangkat yang membuatmu hidup.
Kamu hanya bersandar pada yang memberi kamu hidup itu.

Selanjutnya kamu lakukan saja walau kamu belum mengerti.
Karena ini memang bukan untuk dimengerti, tapi untuk kamu lakukan.

Kendorkan kakimu…
Kendorkan badanmu…
Kendorkan tanganmu…
Kendorkan bahumu…
Kendorkan lehermu.
Kendorkan wajahmu.

Sekarang seluruh tubuhmu sudah kendor dan rileks.
Badanmu jangan kamu berdirikan.

Tubuhmu sudah seperti selendang basah yang sedang kamu gantungkan.
Ada kekuatan mengangkat yang membuat tubuhmu hidup.
Sekarang cobalah bersandar pada yang memberimu hidup itu.
Bersandar sajalah…
Gantungkan dirimu pada yang menyebabkan kamu bisa hidup,
Ikatkan dirimu pada yang menyebabkan kamu bisa bernafas.
Sandarkan dirimu pada yang membuat kamu bisa befikir.
Berpeganganlah pada yang menyebabkan kamu bisa hidup.

Heningkan cipta.
Tutuplah matamu buat sejenak.
Tarik nafas yang dalam,
Lepaskan dengan perlahan.
Lakukanlah itu beberapa kali tarikan nafas.

Dengarkan suara saya saja.
Yang lainnya abaikan saja.

Sekarang…
Rasakan dan amati nafasmu.
Masuk dan keluar tanpa kamu perintah.
Masuk dan keluar mengalir dengan sendirinya.
Bukankah nafasmu itu mengalir dengan sangat teratur??.

Biarkan keteraturan itu terjadi.
Jangan kamu ganggu keteraturan itu.
Masuknya nafas keparu-parumu tanpa kamu perintahkan.
Biarkan nafas itu mengalir apa adanya tanpa andilmu.
Rasakan udara masuk dan keluar paru-parumu dengan teratur tanpa andilmu.
Udara masuk melewati mulut dan hidungmu mengisi paru-parumu.
Udara dialirkan keseluruh pembuluh darah tanpa kamu suruh.

Biarkanlah keteraturan itu terjadi didalam dirimu.
Tanpa andilmu nafas itu mengalir dengan sendirinya.
Ketika memasuki paru-paru, tanpa andilmu sebagian udara itu dihembuskan keluar.
Sebagian lagi dialirkan kepembuluh darahmu.

Biarkan saja keteraturan itu berjalan tanpa kamu ganggu.
Keteraturan didalam paru-parumu
Keteraturan didalam jantungmu,
Keteraturan dipembuluh darahmu.
Keteraturan diseluruh jaringan tubuhmu.
Keteraturan yang tanpa kamu atur.
Keteraturan tanpa andilmu mengaturnya.
Lihatlah bahwa pada keteraturan itu ada kebijaksanaan.
Bahwa pada keteraturan itu ada keta’atan.
Bahwa pada keteraturan itu ada kepatuhan.

Udara dialirkan dari paru-parumu melalui darah ke jantungmu.
Udara itu disambut oleh jantungmu, sehingga jantungmu itu berfungsi.
Dari jantung udara itu dialirkan keseluruh tubuhmu sehingga tubuhmu berfungsi.
Ketika mencapai ususmu, ususmupun berfungsi.
Ketika mencapai levermu, levermupun berfungsi.
Ketika mengaliri ginjalmu, ginjalmupun berfungsi.
Ketika mengaliri betis dan kakimu, maka betis dan kakimu berfungsi.
Ketika mengaliri bahumu, bahumu terasa berfungsi.
Ketika mengaliri jemarimu, jemarimu berfungsi.

Ketika mengaliri telingamu, berfungsilah pendengaranmu.
Ketika mengaliri matamu, berfungsilah penglihatanmu.
Ketika mengaliri hidungmu, berfungsilah penciumanmu.
Ketika mengaliri otakmu, maka berfungsilah pikiranmu.

Semuanya jadi berfungsi karena ada ketaatan.
Ada kepatuhan yang terjadi didalam tubuhmu.
Ada kepatuhan yang sambung menyambung yang terjadi didalam tubuhmu.
Ada sebuah aturan yang sangat ditaati didalam tubuhmu.

Ada kepatuhan didalam tubuhmu.
Ada keikhlasan didalam tubuhmu.
Ada kepercayaa didalam tubuhmu.
Sang Jantung tidak hendak mendahuli Paru-paru.
Sang Lever tidak hendak menggantikan Ginjal.
Ada kepatuhan terhadap sebuah aturan
Ada kepatuhan terhadap satu kehendak.

Kepatuhan yang persis sama dengan kepatuhan udara.
Kepatuhan yang persis sama dengan kepatuhan tanaman.
Kepatuhan yang persis sama dengan kepatuhan matahari.
Kepatuhan yang sama persis dengan kepatuhan bumi.
Kepatuhan yang sama persis dengan kepatuhan bulan.
Kepatuhan yang sama persis dengan kepatuhan air.

Udara patuh tanpa sedikitpun memrotes.
Patuh kepada aturan Yang Berkehendak.
Patuh kepada Sang Punya Kehendak.
Patuh dalam liputan Sang Maha Kehendak.
Patuh dalam genggaman Sang Maha Kehendak.
Ada satu ketundukan seperti tunduknya angin, matahari dan awan.
Semua patuh dalam satu kehendak.

Ada keikhlasan angin untuk patuh didorong kekiri dan kekanan menjadi awan dan hujan.
Persis dengan keikhlasan tubuh, jantung, paru-paru, pembuluh darah mengikuti sebuah komando.
Ada satu komando yang diikuti.
Tubuhku hanya dalam satu genggaman kepatuhan.
Satu dalam kehendak.
Satu yang berkehendak ditubuhmu.
Persis dengan kepatuhan matahari.
Persis dengan kepatuhan angin.
Persis dengan kepatuhan air.

Ada kepatuhan.
Ada kerendahan hati tanpa harus mendahului yang lain.
Dia sangat patuh
Dia sangat penurut.
Disini ada keihkhlasan, ada kepatuhan.
Disini ada kejujuran, ada kesetiaan.

Seluruh fungsi tubuhmu menunjukkan fungsinya masing-masing.
Dia menunjukkan ada kebergunaan.
Aku berguna untuk memompakan darah.
Aku berguna mendorong udara ditubuhku.
Aku berguna untuk bisa melihat
Aku berguna untuk bisa mendengar.

Sama dengan kepatuhan dan kebergunaan sang matahari.
Aku berguna karena menyinari alam semesta.
Aku berguna untuk menyuburkan tanaman, katanya awan.
Aku berguna untuk memberi makanan dan menaungi manusia, katanya tanaman.
Aku berguna untuk memberi protein bagi manusia, katanya hewan.

Semuanya patuh pada satu kehendak.
Sumber kepatuhan itu hanya satu.
Sang Maha Kehendak.
Dibalik Sang Maha Kehendak itu ada satu kehendak didalam tubuhmu.
Sama dengan yang berkehendak terhadap alam semesta.
Tubuh kita berada dalam liputan kehendak Sang Pemegang alam semesta.

Satu yang berkehendak didalam dirimu. Satu…
Satu yang berkehendak didalam tubuh seluruh manusia. Satu…
Sama dengan yang berkehendak terhadap bulan, terhadap bintang, terhadap angin.

Aku berada dalam kepatuhan.
Dalam kepatuhan itu yang ada adalah keihklasan.
Dalam kepatuhan itu yang ada adalah kesederhanaan.
Dalam kepatuhan itu yang ada adalah kebersahajaan.
Dalam kepatuhan itu yang ada unsur untuk menyayangi.
Dalam kepatuhan itu yang ada unsur untuk mengasihi.
Dalam kepatuhan itu ada kejujuran
Dalam kepatuhan itu ada kesetiaan.
Dalam kepatuhan itu ada keinginan untuk bermakna.
Dalam kepatuhan itu ada keinginan untuk berguna.

Disini yang ada adalah rasa syukur.
Rasa syukur dari Sang Pencipta.
Disini ada tekad.
Disini ada kekuatan.
Disini ada niat.
Aku hanya patuh.
Aku hanya ikhlas

Sekarang duduklah kamu disitu.
Itulah rumahmu yang sebenarnya.
Rumah yang akan selalu kamu rindukan.
Rumah yang didalamnya tidak akan ada lagi ketakutan dan kekhawatiran.

Disitulah rumahmu yang hakiki…
Rumah tempatmu Dzikrullah (menggantungkan ingatmu) kepada Allahmu.
Rumah tempatmu taqarrub (mendekat dan mendatangi) Allahmu
Rumah tempatmu Liqa’ (menemui) Allahmu.
Rumah tempatmu (berma’rifat) mengenal Allahmu.
Rumah tempatmu beribadah (rukuk, sujud, menyembah, dan mengabdi) kepada Allahmu.

Lalu Guruku berbisik lembut ketelingaku:
“Disitu pulalah rumahku.
Disitu pulalah rumah para auliya.
Disitu pulalah rumah para Nabi dan Rasul.

Saya hanya bisa mengantarmu sampai disini.
Selanjutnya ada rahasia diatas rahasia (Sirr al Asrar) antara kamu dengan Allah.
Saya juga punya rahasia diatas rahasia (Sirr al Asrar) sendiri dengan Allah”.

Lalu Guruku terdiam…
Aku juga terdiam…

Berbilang saat berlalu…
Terdengar Guruku berbisik lirih ketelingaku:
“Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
Suara itu menyentuh jantungku.
Suara lirih itu menyentak sel-sel tubuhku.
Bisikan itu menyeruak memenuhi alam semesta raya.

Lalu aku membalasnya dengan takzim:
“alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”.

Lalu sudut-sudut mataku mengeluarkan tetesan cairan bening tanda kebahagiaanku…
Aku pun lalu sungkem kepada Guruku dengan ta’zim……

Wassalam

Deka
Cilegon…, 07 Juni 2011, 23:30.
Jl. Santani No. 31.

Iklan

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: