Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2013

Iman merupakan satu kata ibarat bunyi dawai yang bergema dan menggerakkan jiwa orang muslim, membuatnya rindu kepada-Nya dengan bashirahnya, membuat sanubarinya tergerak, kakinya melangkah dan perhatian tertuju kepada-Nya.

Setiap muslim dapat merasakan bias iman di dalam sanubarinya, dapat meraba bara iman dari sumber manapun yang bersinggungan dengan jiwanya, dan dia berusaha dalam hidupnya untuk meniti jalan yang mendekatkan kepada iman dan membuatnya suka kepada-Nya. Firman-Nya:

Tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu (Al Hujurat 49:7)

Kau lihat dia senantiasa mengerjakan sesuatu yang dapat menanamkan benih kebaikan di dalam dadanya dan segala sesuatu yang dapat membekali bashirah-nya dengan cahaya, agar imannya bertambah di samping iman yang sudah ada..

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (Al Fath 48:4)

Iman merupakan rahasia besar dan keadaan yang sangat penting berkaitan dengan perasaan hati, reaksi jiwa dan ketundukan sanubari…, yang didapatkan orang Muslim dalam rangka penyerahan diri, yang diterima dengan jiwa yang ridha dan ruh yang tenteram, yang merasuk kepadanya dengan penuh kerinduan dan cinta, dihadapi dengan kesenangan dan kepasrahan. Ini periode yang tidak dapat dicapai Muslim biasa.

Untuk mencapainya diperlukan pelepasan pemicu pikiran dan kebangkitan Ruh untuk mengamati kitab Allah (semesta) yang terbuka lebar, yang menggambarkan kerajaan Allah yang luas dan hal-hal yang diciptakan didalamnya yang berasal dari kebesaran ciptaan-Nya, dan setelah itu menjadi bekal iman kepada Allah dan kepasrahan kepada keagungan-Nya.

Kemudian orang Muslim beralih mendalami kitab Allah, mempelajari ayat-ayatnya dan memperhatikan hal-hal yang dapat diambil pelajaran serta “menyatukan rasa” dengan al-Qur’an, sehingga dapat memenuhi hati dengan iman dan kekhusyukan.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (Al Hasyr 59:21)

Puncak tataran iman tidak akan dicapai orang Muslim biasa. Firman Allah..

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) : “Kalian belum beriman, tapi katakanlah `kami telah tunduk`, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian”. (Al-Hujurat 49:14)

TANDA-TANDA IMAN

Iman merupakan tiupan Allah ke dalam hati orang-orang yang telah dipilih-Nya dari orang-orang yang memang mendapat petunjuk-Nya, lalu menyediakan sarana amal sesuai dengan keridhaan-Nya, menjadikan hati mereka bergantung kepada kecintaan dan kedekatan dengan-Nya.

Mereka berada di taman-taman syurga dan bersenang-senang. Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya.

Allah ridha kepada mereka karena amal mereka yang ikhlas dan ketaatan mereka. Mereka ridha kepada-Nya karena Dia telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang dicintai-Nya.. sebagaimana disifati-Nya..

“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al Maidah 5:54)

Mereka mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah pun mendekati mereka. Mereka mendekat dengan berbagai macam ketaatan, dan Dia mendekat kepada mereka dengan ampunan dan keridhaan.

“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepadaku dengan nafilah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya, yang dengannya dia mendengar, dan (Aku menjadi) penglihatannya, yang dengannya dia melihat.. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku benar2 memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar2 melindunginya.” (Hadits riwayat Bukhari).

Perasaan yang menyatu dengan hati dan bersemayam didalam dada inilah yang menyinari seluruh relung jiwa dan membangkitkan keyakinan terhadap Allah, kebersamaan dengan Allah dan ketenteraman karena mengingat Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d 13:28)

Inilah iman yang pernah diungkapkan Nabi s.a.w tentang Abu Bakar ash-Shidiq r.a

“Abu Bakar tidak mengalahkan kalian karena banyaknya shalat, dan karena banyaknya puasa, tapi dia mengalahkan kalian karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.”

Sesuatu yang bersemayam di dalam hati inilah yang membuat manusia saling berbeda-beda, kelebihan maqam dan tingkatan derajatnya, itulah IMAN.

Dari Kitabul Iman | Ibnu Taimiyah

Read Full Post »

Sehingga jadilah didalam shalat itu kita sedikit sekali mengingat dan menyembah Allah. Kita lebih banyak mengingat dan menyembah angan-angan kita daripada mengingat dan menyembah Allah, kita shalat dengan malas-malasan, kita seakan-akan baru bisa shalat dengan khusyu ketika ada orang lain yang memperhatikan shalat kita. Shalat orang munafik kata Al Qur’an (An Nisa 142).

Betapa tidak, ketika kita rukuk dan mengucapkan puja-pujaan yang seharusnya kepada Allah, saat itu kita malah sedang sibuk berada di alam angan-angan kita tentang harta-benda, anak-istri, dan tahta secara silih berganti. Kita juga sibuk menjaga yang kosong seperti filsafat china (IM-YANG). Tanpa kita sadari sebenarnya saat rukuk itu, kita telah rukuk, menyembah dan memuja kepada angan-angan kita itu. Filsafat yang kosong itu. Kosong tidak ada apa-apa. Padahal Allah bukanlah semua itu. Allah bukan angan-angan seperti itu. Itu hanya angan-angan kita saja yang difasilitasi oleh IBLIS.

Ya…, angan-angan kita itulah yang telah berubah menjadi tuhan-tuhan kita. Begitu pula ketika kita melakukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan shalat yang lainnya, kita sungguh sedikit sekali mengingat dan menyembah Allah di dalamnya. Sehingga shalat itu berubah menjadi sesuatu pekerjaan yang sangat membosankan.

Padahal seluruh gerakan dan bacaan di dalam shalat itu adalah ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan orang yang sedang berhadap-hadapan dengan Allah. Ia sedang memuja Allah, ia sedang menyembah Allah, ia sedang menghormat Allah, ia sedang meminta dan berdo’a kepada Allah. Sehingga Allahpun berkenan menurunkan RIQQAH, berupa rahmat yang menggetarkan hati, kedalam dadanya. Bersamaan dengan RIQQAH itu mengalir pula KHATAR ILHAM yang merupakan informasi tentang sesuatu, yang tidak tergoyahkan, di dalam hatinya yang diperlukannya di dalam menjalani kehidupannya. Inilah Shalat orang beriman kata Al Qur’an (Al Baqarah 45-46).

Makanya orang yang diperintahkan oleh Allah untuk shalat itu adalah orang yang beriman, orang yang hatinya sudah sama dengan kata-katanya ketika dia mengatakan telah beriman kepada Allah. Imannya sudah menembus sampai kedalam lubuk hatinya yang terdalam. Hatinya itu sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan Allah. IA telah mampu menangkap bahasa Allah berupa ILHAM dengan hatinya itu. Hatinya sudah dapat membedakan kapan Allah mendekat dan sayang kepadanya dan kapan pula Allah marah dan menjauh darinya. Ia telah dapat merasakan kehidupan bersama Allah. Kehidupan yang HIDUP dan DINAMIS bersama Allah. Bukan kehidupan MONOTON yang hanya mengikuti pikiran dan prasangka-prasangka atau angan-angannya sendiri.

Shalat itu bukan perintah untuk orang yang munafik. Sebab kalau orang munafik yang disuruh shalat, maka dia ingin cepat-cepat menyelesaikan shalatnya, karena yang dia dapatkan saat shalat itu hanyalah capek dan lelah saja. Sebab saat itu terjadi ketidaksinkronan di dalam dirinya antara alam batinnya dengan alam lahirnya. Saat shalat itu ia seperti berbicara dengan TEMBOK yang tidak bisa memberikan respon apa-apa. Makanya ia ingin cepat-cepat selesai.

Orang munafik itu, kalau didalam shalat saja ia mengalami keadaan diri yang tidak sinkron seperti ini, maka diluar shalatpun dia akan berada dalam ketidaksinkronan diri pula ketika dia berbicara dan melakukan berbagai kebaikan. Kebaikan-kebaikan yang dibicarakan dan dilakukannya itu hanyalah sampai ditenggorokan dan kulitnya saja. Kebaikan-kebaikan itu tidak sampai menembus dan mengisi lubuk hatinya yang terdalam.

Imannya tidak sampai menebus hatinya. Iman itu hanya sampai ditenggorokannya saja. Hatinya masih tetap terisi penuh dengan hawa nafsunya. Sehingga pada saat-saat tertentu, hawa nafsunya itu bermunculan keluar dari dalam hatinya membentuk kata-kata dan tindakannya yang penuh angkara murka. Bukan angkara murka yang main-main, tapi angkara murka yang beneran, angkara murka yang “khusyu”. Batiniah dan lahiriahnya sinkron untuk melakukan angkara murka itu.

Kalau dia marah, maka marahnya adalah marah benaran, bahkan sampai bisa membunuh orang lain. Kalau dia mencuri maka mencurinya adalah mencuri besar-besaran. Kalau dia korupsi, maka korupsinya adalah korupsi kelas wahid. Kalau dia berzina, maka berzinanya adalah berzina habis-habisan dan terus-terusan. Sebab ketika ia melakukan hal tersebut diatas, suasana batiniah dan lahiriahnya berada dalam keadaan yang sangat sinkron dan serasi. Penuh dan utuh.

Dan… ketika ia melakukan satu saja hal diatas, apalagi semuanya, sebenarnya imannya sudah tanggal dari dalam dadanya saat itu juga. Dia telah menjadi orang yang tidak beriman, walaupun saat itu dia tetap melakukan shalat, berdizikir, puasa, sedekah, bahkan melaksanakan haji. Tapi semuanya itu dilakukannnya dalam keadaan dada yang tidak beriman. Dada yang penuh dengan kemunafikan.

Nah masalah utama mayoritas umat Islam yang sangat mendesak untuk dicarikan solusinya saat ini adalah bagaimana caranya agar dimensi rohaniah umat Islam ini bisa bangkit seperti yang terjadi pada generasi Rasulullah, Sahabat, dan beberapa generasi terbaik setelah itu.

Kalau dilihat penyebab dari lenyapnya sisi rohaniah umat islam setelah generasi-generasi awal islam itu adalah hilangnya khusyu’ dari dada umat Islam. Dan ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah sejak awal. Sahabat Hudzaifah radliyallahu ‘anhu mengatakan: “Pertama kali yang hilang dari agama kalian adalah khusyu’. Dan akhir yang akan hilang dari agama kalian adalah shalat. Betapa banyak orang melakukan shalat tetapi ia tidak memperoleh kebaikan. Hampir-hampir kamu masuk ke dalam masjid tak melihat seorang pun yang khusyu’” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 7/140, no. 34808. Hilyah al Auliya’, 1/281.)

Lalu…, adakah solusi yang sebenarnya (HAKIKI) untuk menghidupkan kembali sisi dimensi rohaniah kita itu, sehingga setiap saat ia bisa seirama dan senada dengan sisi dimensi lahiriah kita ?. Kalau ada, solusi itu haruslah mudah, aplicable untuk seluruh lapisan umat, dan sudah ada pula buktinya dari zaman ke zaman.

Jawabannya…, Ada…, dan itu sudah ditulis dengan sangat runut dan detail oleh Ustad Abu Sangkan dalam buku baru Beliau: “Menemukan Khusyu’ Yang Hilang”. Beliau telah merangkumnya dari beberapa kitab ulama besar zaman awal, lengkap dengan dalil-dalilnya dari Al Qur’an dan Al Hadist, caranya, keadaanya, dan hasilnya. Bukan dari pikiran dan hawa nafsu Beliau sendiri. Waktu mengeditnya saya bercucuran airmata menikmatinya…

Sahabat semua…, sampai berjumpa di alam batiniah dan lahirian yang ternyata sangat mencengangkan…

Wassalam
Deka

Read Full Post »

Setiap ayat Al Qur’an adalah ibarat kacamata dua arah yang bisa melihat tembus pada kedua belah dimensi yang berseberangan, yaitu dimensi alam batiniah dan dimensi alam lahiriah. Akan tetapi, walaupun kedua dimensi itu kelihatan seperti berbeda, namun tatkala Al Qur’an bercerita tentang sesuatu, maka kedua dimensi itu akan tercakup dengan sangat mencengangkan.

Sungguh beruntunglah orang-orang yang dapat menangkap dan menembus kedua dimensi itu, dimensi lahiriah sekaligus dimensi batiniah, ketika ia membaca Al Qur’an. Karena setiap ayat Al Qur’an itu bercerita, ia ternyata bercerita tentang hal yang sama. Yaitu serba-serbi tentang Allah dan makhluk-Nya. Allah sebagai Dzat Yang Maha Gaib, mewakili dimensi alam batiniah. Sedangkan makhluk-Nya mewakili dimensi lahiriah yang exist (DZHAHIR) karena Yang Maha Ghaib itu berkenan Berkreasi dan Menyatakan keberadaan-Nya melalui makhluk-Nya itu.

Misalnya, ketika ayat Al Qur’an berkata tentang ALLAHU AKBAR, maka mata batiniah kita haruslah mampu membawa kita untuk menggigil seperti orang kedinginan, merinding, takut, dan takjub karena kita bisa merasakan Kemahabesaran Allah yang tak ada bandingannya, sementara mata lahiriah kita haruslah mampu pula membuat kita untuk tercengang, kagum, dan terkesima karena kita mampu melihat Kemahakuasaan Allah dalam menciptakan berbagai makhluk dan ragam kehidupan yang tergelar didepan mata kita. Sehingga dengan begitu akan muncul dampaknya pada keimanan kita kepada Allah. Yaitu, iman kita akan bertambah dan bertambah terus setiap kali kita membaca Allahuakbar itu.

Namun sayang, ketika membaca Al Qur’an, masih banyak umat islam yang hanya bisa melihat kesatu dimensi saja, hanya dimensi lahiriah saja atau hanya dimensi batiniah saja. Biasanya orang yang kental dengan dimensi lahiriah saja disebut sebagai orang SYARIAT, sedangkan orang yang banyak bergelut dengan dimensi batiniah saja biasa dinamakan sebagai orang HAKEKAT.

Biasanya kedua-duanya punya kesombongan dan keangkuhan sendiri-sendiri. Keangkuhan dan kesombongan orang syariat dan keangkuhan dan kesombongan orang hakekat. Akibatnya, seringkali kita lihat konfrontasi yang sangat ketat dan keras antara orang SYAREAT dengan orang HAKEKAT ini. Bahkan diantara sesama orang SYAREAT sendiri, atau diantara sesama orang HAKEKAT sendiri, juga seringkali terjadi konfrontasi yang sangat hebat. Sehingga dari sinilah munculnya golongan-golongan, kelompok-kelompok, atau aliran-aliran di dalam Islam. Masing-masing aliran itu seperti saling bermusuhan, saling berlomba, saling bersaing satu sama lainnya, sehingga jadilah umat Islam ini menjadi umat yang sangat ramai dan riuh rendah sekali. Padahal yang dibicarakan dan dikonfrontasikan itu adalah hal yang itu-itu juga, dan sudah berulang-ulang pula sejak berbilang zaman.

Keduanya juga masing-masing punya ciri-cirinya sendiri-sendiri. Orang syariat seringkali menampakkan keinginannya untuk merubah keadaan umat secara lahiriah disuatu wilayah dimana dia berada. Da’wahnya sangat transparan. Sering berbicara dan sangat bersemangat untuk merubah keadaan dengan tangannya sendiri.

Sedangkan orang hakekat biasanya ingin bersembunyi ditempat-tempat sunyi yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Ia sering bermeditasi di hutan-hutan, karena Ia ingin menghindarkan dirinya dari keramaian dunia. Sebab dunia itu dianggapnya akan menghalanginya dari akhirat. Misalnya, ia ingin menghindar dari menikah, harta, dan pekerjaan. Metoda pengajarannya juga biasanya lebih lama dan lebih enakan dalam laku berdzikir dan meditasinya dari pada Shalat wajib dan shalat-shalat sunah. Bahkan kadang-kadang shalatnya juga sudah tidak dilakukannya lagi. Pengajarnya, yang biasa disebut sebagai “Sang Guru”, juga punya kesaktian atau kepintaran ilmu batin tertentu diatas rata-rata muridnya atau orang lain. Semakin misterius Sang Guru, semakin dikejar oleh orang-orang yang juga penikmat alam hakekat ini. Kata-kata Sang Guru hampir saja telah berubah seperti kata-kata Tuhan dihadapan murid-muridnya. Kata yang tidak boleh dibantah…

Cuma saja banyak yang tidak tahu dimana letak pokok permasalahanya yang menyebabkan munculnya dua sisi pemahaman yang sangat berbeda seperti itu. Padahal Syariat dan Hakekat itu ya SATU hal yang SAMA saja. Dua sisi yang tak terpisahkan dari satu hal yang SAMA. Hanya beda dimensinya saja. Ada dimensi LAHIRIAHNYA yang merupakan SYARIAT yang dilakukan, dan ada dimensi BATINIAHNYA yang merupakan keadaan batin (HATI) kita ketika kita melakukan Syariat itu. Hanya itu saja kok.

Nah…, yang terjadi hanyalah karena banyak umat Islam yang tidak mampu masuk ke dimensi batiniah ketika kita masuk dan berbicara tentang sebuah dimensi lahiriah. Sementara kita punya kedua dimensi itu sekaligus di dalam diri kita. Ya…, diri kita punya dimensi alam batiniah, dan sekaligus punya pula dimensi alam lahiriah. Karena kita hanya bisa masuk ke satu dimensi alam saja, maka akibatnya, kita menjalani hidup ini seperti makhluk yang tidak utuh. Kita seperti berjalan dengan kaki yang timpang. Dan anehnya itu sudah berlangsung sejak lama sekali dan diturunkan pula dari generasi ke generasi. Dan betah lagi…

Ketidak utuhan kita itu akan sangat terasa sekali di dalam shalat. Lahiriah kita memang shalat, sementara batiniah kita sedang berkelana di alam angan-angan. Menghadap kepada “yang kosongpun” sebenarnya adalah angan-angan juga. Karena banyak pula meditor yang di dalam shalatnya menghadap kepada sesuatu yang kosong didalam pikirannya. Yang didapatkan ketika shalat dengan konsep mengosongkan pikiran itu hanyalah rasa tenang saja. Karena saat tidak berpikir itu, menghadap kepada yang kosong, memang melahirkan tidak ada rasa apa-apa. Tenang saja. Saking tenangnya, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak disukai Allahpun kita tenang-tenang saja. Damai dalam kesalahan…

Bersambung ke bagian ke dua.

Read Full Post »

SEREEEM SEKALI…

Hukuman terberat atas suatu dosa, adalah perasaan TIDAK berdosa. Itulah kain KAFAN yang membungkus hati yang MATI. (Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khathir)

Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Jika suatu kedurhakaan berulangkali dikerjakan. Maka jiwa menjadi akrab dengannya Hingga ia tak lagi peka, mati rasa —Hasan Az Zayyat, Rahimahullah—

أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
أَسْتَغفِرُاللهَ الْعَظيِمْ

أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
أَسْتَغفِرُاللهَ الْعَظيِمْ

Read Full Post »

PIKIRAN-PIKIRAN

Al Qur’an adalah Pikiran dan Kalam Allah. Sementara Al Hadist adalah adalah pikiran dan kalam Rasululllah yang DITUNTUN oleh Allah untuk  MENGIKUTI, MENJABARKAN, dan MENJALANKAN Al  Qur’an sesuai dengan apa-apa yang diinginkan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya, sehingga Al Hadist pastilah seirama dengan Al Qur’an.

Kalau ingin tahu Pikiran Allah, maka bacalah Al Qur’an, tafsirkan…lah Al Qur’an dengan Al Qur’an dan Al Hadist, lalu ikutilah cara-cara Rasulullah dalam memahami, menjabarkan dan menjalankan Al Qur’an sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah.

Kalau tidak begini, walau dengan alasan sebagus dan semasuk akal apapun, serta hasil yang sehebat apapun, yang kadangkala menggunakan ayat-ayat Al Quran dan Al Hadist pula sebagai dalil-dalil penguatnya, namun pastilah kita akan berkata-kata dan bertindak dengan pikiran dan kalam kita sendiri yang berasal dari dorongan HAWA NAFSU kita.

Dan akibatnya, tanpa kita sadari, saking samarnya, hawa nafsu kita itu akan membawa kita seirama dengan cara-cara iblis dalam mendustakan Allah dan Rasulullah, sehingga tahu-tahu kita sudah menjadi jauh, sangat jauuuuh, dan semakin jauh dari Allah dan Rasulullah.

Lalu ada yang bertanya tentang beragamnya kualitas hadist, bahkan ada yang palsu. Namun kita tidak usah khawatir, pakailah hadist yang berkenaan dengan tiang agama terlebih dahulu, yaitu SHALAT. karena shalat adalah dzikir yang tertinggi diantara dzikir- dzikir yang ada dan disyariatkan, dan Allah sudah menjamin dunia-akhirat bahwa kalau shalat kita khusyu (shalat yang ada keadaan berjumpa, berbicara, dan saling berbalas dengan Allah) dan baik, maka amalan-amalan lainnya insyaallah akan mengikuti menjadi baik dengan hampir secara otomatis. Karena amalan-amalan lainnya itu lebih banyak mengenai hubungan baik antar manusia saja, yang sebenarnya itu semua adalah fitrah belaka. Kita tidak perlu pusing dengan hadist-hadist palsu itu, karena begitu kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan fitrah, maka itu pasti sama dengan hadist.

Read Full Post »

Semua kejahatan yang terjadi di muka bumi ini, setan mempunyai peran di dalamnya. Kejahatan setan ini bisa dikelompokkan menjadi enam jenis dan setan akan berusaha keras untuk menyerang manusia dengan salah satu atau lebih dari enam kejahatan tersebut, yaitu:

a. Kejahatan kekufuran dan kesyirikan, melawan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ini tidak berhasil, setan berpindah pada langkah berikutnya:

b. Kejahatan bid’ah. Kejahatan ini yang paling disukai setan daripada kefasikan dan kemaksiatan. Jika penggiringan kepada perbuatan bid’ah tidak berhasil dikarenakan manusia yang diganggu sangat dekat kepada Allah dan getol memusuhi ahli bid’ah dan kesesatan, setan berpindah pada langkah berikutnya:

c. Kejahatan dosa-dosa besar dengan berbagai bentuknya. Jika ini tidak berhasil, setan berpindah pada langkah berikutnya:

d. Kejahatan dosa-dosa kecil yang jika dilakukan sedikit demi sedikit, bisa juga membinasakan pelakunya. Jika ini tidak berhasil, setan berpindah pada langkah berikutnya:

e. Setan akan menyibukkan dengan perbuatan-perbuatan yang hukumnya mubah – tidak berpahala jika dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan -. Jika setan tidak berhasil dikarenakan manusia yang diganggu selalu menjaga dan mengatur waktunya, maka setan berpindah pada langkah berikutnya:

f. Setan akan menyibukkan manusia dengan amalan-amalan yang baik sehingga manusia melalaikan amalan- amalan yang jauh lebih utama. Tujuannya adalah tidak lain dan tidak bukan, keutamaan amal lenyap dan pahala yang sangat besar terlewatkan.

Sangat sedikit manusia yang memperhatikan permasalahan ini. Jika setan gagal melancarkan langkah terakhir ini, langkah berikutnya adalah mengerah semua pasukannya, baik dari kalangan jin dan manusia, untuk mengganggunya dan membunuh karakternya sehingga orang-orang pun segan untuk mengambil manfaat darinya. [1]

Kutipan dari Draft Buku baru Ustadz Abu Sangkan: “Menemukan Khuyu’ Yang Hilang”

[1] Lihat Tafsir Al Qur’an al ‘Adhim, Ibnu Katsir, 14/529 – 532. Bada-i’ al Fawa-id, Ibnu al Qayyim, 2/2247. Lihat juga tafsir al Mu’awwidzatain (Surah al Falaq dan an Nas), penjelasan yang mendetail dalam Kitab yang sama, 2/198 – 276.

Read Full Post »

Iman ternyata bukan Filsafat

Iman kepada Allah itu ternyata bukan FILSAFAT. Kalau dibahas dengan filsafat ia akan menjadi lucu dan juga menghasilkan pemikiran dan praktek yang aneh-aneh. Kalau kita mencoba memraktekkannya, itu akan menyulitkan kita, dan juga akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk malah menjadikan kita semakin tidak mengerti.

Baru-baru ini saya dikirim sebuah artikel dibawah ini tentang sebuah FILSAFAT yang katanya adalah Pembaharu Dunia Abad 21.

Bagus memang… Namun sayang saya SUDAH MENINGGALKAN Filsafat-filsafat seperti ini.

———

Inilah Artikel itu:

Bagi IBNU SINA , AL GHAZALI, IBNU RUSYID, MUHAMAD QUTUB, AL KINDI, AL FARABI dll yang termasuk ketagori Filsuf Islam termasyhur, jika mereka masih hidup mungkin akan berdiskusi secara kondusif dengan Filsuf Sunda Mandalajati Niskala.

Atas segala pencapaian Produk Berpikir mereka, Mandalajati Niskala memberikan apresiasi dengan rasa hormat.

MANDALAJATI NISKALA
Seorang Filsuf Sunda Abad 21
Menjelaskan Dalam Buku
SANG PEMBAHARU DUNIA
DI ABAD 21,
Mengenai
HAKEKAT DIRI

Salah seorang peneliti Sunda yang sedang menulis buku
“SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21,
bertanya kepada Mandalajati Niskala:

“Apa yang anda ketahui satu saja RAHASIA PENTING mengenai apa DIRI itu? Darimana dan mau kemana?
Jawaban Mandalajati Niskala:
“Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa pertanyaan ini satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dibanding dari ratusan pertanyaan yang anda lontarkan kepada saya selama anda menyusun buku ini.

Memang pertanyaan ini sepertinya bukan pertanyaan yang istimewa karena kata “DIRI” bukan kata asing dan sering diucapkan, terlebih kita beranggapan diri dimiliki oleh setiap manusia, sehingga mudah dijawab terutama oleh para akhli.

Kesimpulan para Akhli yang berstandar akademis mengatakan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA.

Pernyataan semacam ini hingga abad 21 tidak berubah dan tak ada yang sanggup menyangkalnya. Para Akademis Dunia Barat maupun Dunia Timur banyak mengeluarkan teori dan argumentasi bahwa diri adalah unsure dalam dari tubuh manusia. Argumentasi dan teori mereka bertebaran dalam ribuan buku tebal. Kesimpulan akademis telah melahirkan argumentasi Rasional yaitu argumentasi yang muncul berdasarkan “Nilai Rasio” atau nilai rata-rata pemahaman Dunia Pendidikan.
Saya yakin Andapun sama punya jawaban rasional seperti di atas.
Tentu anda akan kaget jika mendengar jawaban saya yang kebalikan dari teori mereka.
Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya ingin mengajak siapapun untuk menjadi cerdas dan itu dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.
Coba kita mulai belajar melacak dengan memunculkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kata DIRI, JIWA dan BADAN, agar kita dapat memahami apa DIRI itu sebenarnya. Beberapa contoh pertanyaan saya susun seperti hal dibawah ini:
1)Apa bedanya antara MEMBERSIHKAN BADAN, MEMBERSIHKAN JIWA dan MEMBERSIHKAN DIRI?
2)Apa bedanya KEKUATAN BADAN, KEKUATAN JIWA dan KEKUATAN DIRI?
3)Kenapa ada istilah KESADARAN JIWA dan KESADARAN DIRI sedangkan istilah KESADARAN BADAN tidak ada?
4)Kenapa ada istilah SEORANG DIRI tetapi tidak ada istilah SEORANG BADAN dan SEORANG JIWA?
5)Kenapa ada istilah DIRI PRIBADI sedangkan istilah BADAN PRIBADI tidak ada, demikian pula istilah JIWA PRIBADI menjadi rancu?
6)Kenapa ada istilah KETETAPAN DIRI dan KETETAPAN JIWA tetapi tidak ada istilah KETETAPAN BADAN?
7)Kenapa ada istilah BERAT BADAN tetapi tidak ada istilah BERAT JIWA dan BERAT DIRI?
8)Kenapa ada istilah BELA DIRI sedangkan istilah BELA JIWA dan BELA BADAN tidak ada?
9)Kenapa ada istilah TAHU DIRI tetapi tidak ada istilah TAHU BADAN dan TAHU JIWA?
10)Kenapa ada istilah JATI DIRI sedangkan istilah JATI BADAN dan JATI JIWA tidak ada?
11)Apa bedanya antara kata BER~BADAN, BER~JIWA dan BER~DIRI?
12)Kenapa ada istilah BER~DIRI DENGAN SEN~DIRI~NYA tetapi tidak ada istilah BER~BADAN DENGAN SE~BADAN~NYA dan BER~JIWA DENGAN SE~JIWA~NYA?
13)Kenapa ada istilah ANGGOTA BADAN tetapi tidak ada istilah ANGGOTA JIWA dan ANGGOTA DIRI?
Beribu pertanyaan seperti diatas bisa anda munculkan kemudian anda renungkan. Saya jamin anda akan menjadi faham dan cerdas dengan sendirinya, apalagi jika anda hubungkan dengan kata yang lainnya seperti; SUKMA, RAGA, HATI, PERASAAN, dsb.
Kembali kepada pemahaman Akhli Filsafat, Ahli Budaya, Akhli Spiritual, Akhli Agama, Para Ulama, Para Kyai dan masyarakat umum BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA. Mulculnya pemahaman para akhli seperti ini dapat saya maklumi karena mereka semuah adalah kaum akademis yang menggunakan standar kebenaran akademis.
Saya berani mengetasnamakan Sunda, bahwa pemikiran di atas adalah SALAH.
Dalam Filsafat Sunda yang saya gali, saya temukan kesimpulan yang berbeda dengan pemahaman umum dalam dunia ilmu pengetahuan.
Setelah saya konfirmasi dengan cara tenggelam dalam “ALAM DIRI”, menemukan kesimpulan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR LUAR DARI TUBUH MANUSIA. Pendapat saya yang bertentangan 180 Derajat ini, tentu menjadi sebuah resiko yang sangat berat karena harus bertubrukan dengan Pendapat Para Akhli di tataran akademik.
Saya katakan dengan sadar ‘Demi Alloh. Demi Alloh. Demi Alloh’ saya bersaksi bahwa diri adalah UNSUR LUAR dari tubuh manusia yang masuk menyeruak, kemudian bersemayam di alam bawah sadar. ‘DIRI ADALAH ENERGI GAIB YANG TIDAK BISA TERPISAHKAN DENGAN SANG MAHA TUNGGAL’. ‘DIRI MENYERUAK KE TIAP TUBUH MANUSIA UNTUK DIKENALI SIAPA DIA SEBENARNYA’. ‘KETAHUILAH JIKA DIRI TELAH DIKENALI MAKA DIRI ITU DISERAHTERIKAN KEPADA KITA DAN HILANGLAH APA YANG DINAMAKAN ALAM BAWAH SADAR PADA SETIAP DIRI MANUSIA’.
Perbedaan pandangan antara saya dengan seluruh para akhli di permukaan Bumi tentu akan dipandang SANGAT EKSTRIM. Ini sangat beresiko, karena akan menghancurkan teori ilmu pengetahuan mengenai KEBERADAAN DIRI.
Aneh sekali bahwa yang lebih memahami mengenai diri adalah Dazal, namun sengaja diselewengkan oleh Dazal agar manusia sesat, kemudian Dazal menebarkan kesesatan tersebut pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ‘DI UFUK BARAT’ maupun ‘DI UFUK TIMUR’.
Sebenarnya sampai saat ini DAZAL SANGAT MEMAHAMI bahwa DIRI adalah unsur luar yang masuk menyeruak pada seluruh tubuh manusia. DIRI merupakan ENERGI KEMANUNGGALAN DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Oleh karena pemahaman tersebut DAZAL MENJADI SANGAT MUDAH MENGAKSES ILMU PENGETAHUAN. Salah satu ilmu yang Dia pahami secara fasih adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Ilmu ini dibongkar dan dipraktekan hingga dia menjadi SAKTI. Dengan kesaktiannya itu Dia menjadi manusia “Abadi” dan mampu melakukan apapun yang dia kehendaki dari dulu hingga kini. Dia merancang tafsir-tafsir ilmu dan menyusupkannya pada dunia pendidikan agar manusia tersesat. Dia tidak menginginkan manusia mamahami rahasia ini. Dazal dengan sangat hebatnya menyusun berbagai cerita kebohongan yang disusupkan pada Dunia Ilmu Pengetahuan, bahwa cerita Dazal yang paling hebat agar dapat bersembunyi dengan tenang, yaitu MENGHEMBUSKAN ISU bahwa Dazal akan muncul di akhir jaman, PADAHAL DIA TELAH EKSIS MENCENGKRAM DAN MERUSAK MANUSIA BERATUS-RATUS TAHUN LAMANYA HINGGA KINI.
Ketahuilah bahwa Dazal bukan akan datang tapi Dazal akan berakhir, karena manusia saat ini ke depan akan banyak yang memahami bahwa DIRI merupakan unsur luar dari tubuh manusia YANG DATANG MERUPAKAN SIBGHOTALLOH DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Sang Maha Tunggal keberadaannya lebih dekat dari pada urat leher siapapun, karena Sang Maha Tunggal MELIPUT SELURUH JAGAT RAYA dan kita semua berada TENGGELAM “Berenang-renang” DALAM LIPUTANNYA.
Inilah Filsafat Sunda yang sangat menakjubkan.
Perlu saya sampaikan agar kita memahami bahwa Sunda tidak bertubrukan dengan Islam, saya temukan beberapa Firman Allohurabbul’alamin dalam Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan untuk bertafakur, mudah-mudahan semua menjadi faham bahwa DIRI adalah “UNSUR KETUHANAN” yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk dikenali dan diserah~terimakan dari Sang Maha Tunggal sebagai JATI DIRI, sbb:
1)Bila hamba-hambaku bertanya tentang aku katakan aku lebih dekat (Al Baqarah 2:186)
2)Lebih dekat aku daripada urat leher (Al Qaf 50:16)
3)Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami disegenap penjuru dan pada nafasmu sendiri (Fushshilat 41:53)
4)Dzat Allah meliputi segala sesuatu (Fushshilat 41:54)
5)Dia (Allah) Bersamamu dimanapun kamu berada (Al Hadid 57:4)
6)Kami telah mengutus seorang utusan dalam nafasmu (AT-TAUBAH 9:128)
7)Di dalam nafasmu apakah engkau tidak memperhatikan (Adzdzaariyaat 51:21)
8)Tuhan menempatkan DIRI antara manusia dengan qolbunya (Al Anfaal 8:24)
9)Aku menciptakan manusia dengan cara yang sempurna (At Tin 95:4)
Jawaban mengenai APA DIRI ITU. DARIMANA & MAU KEMANA (Sangkan Paraning Dumadi), akan saya jelaskan secara rinci dan tuntas pada sebuah buku.

JAMAN BARU DATANG UNTUK MEMBUKA TABIR
SANGKAN PARANING DUMADI
SANGKAN PARANING DUMADI
SANGKAN PARANING DUMADI

Dalam Penggalian MANDALAJATI NISKALA
Memasuki Ruang Insun, Telah Melahirkan
Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
Yang Fitrah, Original & Sangat Anyar.
KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
(HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
JAWAHAR AWAL, yang menjadi sistem
TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
(Potensi HI~DI~RI meliputi:
HI adalah alam Subconcious
DI adalam alam Concious
RI adalah alam HIperconcious)

3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
(Tribaka, Panca Azasi Wujud &
Panca Maha Buta)

4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
akan memahami HI~DIR~nya.
(Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
(Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
pada Tribaka)

6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
akan memahami TAMAT~nya.
(Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
yang segera memasuki Blackhole
untuk keluar dari Jagat Raya
dan meledak menjadi Bigbang,
di ruang hampa, gelap gulita,
bertekanan minus)

7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
akan memahami WIWIT~nya.
(Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
yaitu berupa potensi Jawahar Awal
di Jagat Raya Baru)

Peringatan dari Mandalajati Niskala:
“JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)
════════════════════════════
Syair Sunda:
JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
ditulis ku Mandalajati NIskala

Atma na sakujur raga.
Hanargi museur na tazi.
Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
Paeunteung eujeung.

Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
Madet dina JAGAT LEUTIK.
Gumulung sakuliahing cahya.
Ngahideung Nu Maha Meles.
Ngan beuratna Maha Beurat.

Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

Tandaning Insun lulus nurubus.
Lolos norobos, Robbah lalakon.
Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
Bitu ngajelegur.
Manggulung-gulung kabutna.
Huwung nungtung ngahujung.

Jadi jumadi ngajadi.
INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
Gelar Ngajawahar Awal.
Gusti papanggih jeung Gusti.
Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

Ahuuung Ahuuung Ahuuung Aheeeng.
════════════════════════════
Artikulasi Sunda:
PANTO JAWAHAR AWAL
KA PANTO JAWAHAR AKHIR
ditulis ku Mandalajati NIskala

Manusa sategesna bagian ti Gustina.
Kum eusi samesta KOKOJAYAN
di jero HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
(Zibghotulloh).

Sagala rupa kaasup Manusa MANUNGGAL
DINA JERO HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
(Sapanunggalan).

Gusti NU MAHA AGUNG mibanda TILU
ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
nu gumulung jadi tunggal tampa wates
disebut;
JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH)

SANG MAHA AGUNG
nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MAKRO,
mibanda:
Energi “HU” Acining Cahi,
Energi “DA” Acining Taneuh,
Energi “RA” Acining Seuneu.
Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HUDARA,
salaku PANTO HAWAL Zat Abadi Makro,
nu disebut JAWAHAR HAWAL WHITEHOLE,
nyaeta proses DIA NGAJADIKEUN INSUN.

SANG MAHA LEMBUT
nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MIKRO,
mibanda:
Energi “HU” Proton,
Energi “DA” Netron,
Energi “RA” Elektron.
Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HATOM,
salaku PANTO HAKHIR Zat Abadi Mikro,
nu disebut JAWAHAR HAKHIR BLACKHOLE,
nyaeta proses INSUN JADI DIA.
════════════════════════════
Filsuf Sunda MANDALAJATI NISKALA, sbg:
Zaro Bandung Zaro Agung
Majelis Agung Parahyangan Anyar.

Klik di google Mandalajati Niskala
BACALAH SELURUH SULUR BUAH PIKIRANNYA.

Pengirim Komentar:
@Sandi Kaladia

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: