Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2012

Untuk proses ini, tidak bisa lagi kita lakukan hanya dengan cara sekedar resonansi diri, cara-cara memakai pikiran kita dan hawa nafsu kita yang merupakan esensi dari alam gelombang dan alam materi. Tidak bisa. Tapi yang dibutuhkan adalah sebuah proses RESTORASI besar-besaran terhadap diri kita.

Nah…, pas kalimat diatas selesai dibuat, maka tak lama kemudian masuklah BBM di Group Malam Reboan dari Ustadz Abu Sangkan seperti berikut ini:

Wejangan Halaqah Banyuwangi:

Malam itu sekitar jam 21.00 WIB, pengajaran tdk dimulai dgn melakukan dzikir (patrap). Kita ngobrol2 saja : mengapa tdk berzikir seperti biasanya dgn ngotot sampai terjatuh2.

Dlm kitab al baghawi diterangkan bahwa ibnu Umar melihat ada penduduk ‘Iraq yg terjatuh ketika berzikir, kemudian ibnu Umar berkata : ada apa ini ?

Mereka berkata ; innahu idza quri’a ‘alaihil qur’an au sami’a dzikrallah saqatha ! Apabila dibacakan Al qur’an atau mendengarkan dzirullah ia pasti terjatuh !

Berkata ibnu ‘Umar : Aku juga takut kepada Allah tapi tdk sampai terjatuh2 seperti ini !!

Dan berkata ibnu ‘Umar : syetan telah mempengaruhi orang ini ! Keadaan ini tdk pernah terjadi thd ummat Muhammad saw. Ummat Muhammad kalau berzikir jiwanya tetap sadar memandang kepada Allah tdk kehilangan akalnya. Sebab kalau kehilangan akal maka ia telah keluar dari syariat agama.

Sebagian dari kita pernah terjadi ketika berzikir sampai terjatuh2. Sehingga saya pernah berkata kpd kawan lama : sampean ini kalau dzikir kaya’ jaranan, keter-keter kelojotan.

Caranya nggak seperti itu mas. Coba sampean beriman dan percaya kpd Allah, menerima Allah seluruh apa yg dikerjakan Allah adlh benar, tdk akan pernah salah seluruh ketetapan Allah. Baik terhadap alam semesta maupun thd dirimu sendiri.

Dan engkau menerima semua sifat2-Nya Dzat dan Asma’ -Nya yag baik. Inilah bekal utama seorang pejalan menuju Allah.

Persoalan kita dgn Allah sudah selesai tdk ada lagi keluh kesah dan kekhawatiran atas perilaku Allah yg selama ini kita anggap tdk adil.

Firman Allah : Fabiayyi haditsin ba’dallahi wa ayatihi yu’minun. Dengan perkataan dan penjelasan apalagi agar kalian percaya kepada-Ku ?
( al ayat).

Setelah paham penjelasan ini, kemudian untuk apa kalian datang menemui Allah dgn ngotot dan memaksa sampai terjatuh bahkan berguling2 dilapangan ? Sementara ia berzikir sampai berteriak2 tdk jelas untuk apa ia memanggil yg Maha mendengar lagi Maha lembut.

.

** May 31 Thu 08:35 **
Benarkah getaran tubuhnya berasal dari perasaan takut kpd Allah kemudian mendapat respons dari Allah yg maha suci ?

Mungkinkah org yg takut kpd Allah, shalatnya tdk khusyu’, perkataannya tdk dipelihara dgn akhlak serta hatinya tetap menyimpan kebencian kpd org lain ?

Kebencian adlh ilham dari syetan yg juga menghasilkan power yg sangat kuat, semakin benci semakin kuat. Karena iblis menghadap Allah bermodalkan kemarahan thd Allah atas ketidak adilan mengangkat Adam sbagai Khalifah.

Banyak org berzikir tanpa tujuan yg jelas, untuk apa ia berzikir. Allah tdk akan menerima org yg tdk beriman dan bersih hatinya, Allah tdk akan memanggil seseorang yg tdk menjadi perwakilan kekhalifahan-Nya.

Allah tdk perduli dgn dzikirnya walaupun berguling-guling seperti kuda lumping. mengapa ? Karena ia tdk memiliki hubungan khusus komitmen menjadi sarana mengabarkan kebenaran Al qur’an dan sunnahnya serta membela kebenaran asma-asma yg husna.

(Mereka yg beriman dan percaya kepada Allah), Setiap saat ia membela apa yg dilakukan Allah sebagai takdir yg baik. setiap apa yg terjadi sebagai musibah kpd kita adalah kebaikan Allah. Allah maha benar atas segala perencanaannya.

Setelah penjelasan ini selesai, tiba2 suasana berubah . Kemudian mereka saya tanya : apa yg kalian rasakan , dan mengapa terasa ada perubahan, padahal kalian hanya duduk santai tdk berdiri ngotot sambil berteriak2 memanggil nama Allah yg seolah berbicara kpd yg Maha tuli.

Tiba-tiba turun pengajaran berupa daya kelembutan dan keimanan yg menggetarkan hati mereka sehingga jiwa mereka hadir tanpa ngotot tetapi dibawa dgn hidayah yg diturunkan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

Perjalanan menuju Allah tdk bisa dilakukan dgn hawa nafsu dan pikiran, tetapi dgn kekuatan ridha Allah, sehingga disebut diperjalankan ( asra bi’abdihi ).

Kita dipersilahkan masuk buka memasuki menurut kehendak hawa nafsu kita, Dialah Allah yg berhak memanggil untuk dipersilahkan hadir, bukan kemauan kita.

Siapa yg dipersilahkan ?

** May 31 Thu 08:37 **

Adalah hamba yg bersedia menjadi pejuang mengabarkan kebenaran agama Allah, bukan ingin mengabarkan kehebatan hawa nafsunya.

Adapun jalan menempuh musyahadah dan makrifat adalah, lenyapnya diri ( fana), ciri2 org fana, tdk ada sakit hati dalam jiwanya, tdk ada keluh kesah, tdk perduli dgn kekuatan alam ataupun kekuatan selain Allah, ia tegas dalam jiwanya untuk menetapkan Allah sebagai sandaran hatinya.

Langkahnya akan mendapatkan ilham sebagai penuntun perjalanan makrifatnya, tanpa ilham ia tdk akan mampu menembus hijabul qalbi wa nafsi.

Jika memang mereka telah fana, maka setiap ahli ruhani pasti berada pada wilayah yg sama !! Kita berjumpa dalam kalimat, assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullah, assalamu’alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin asyhadu an laa ilaha illallah wa asy hadu anna muhammad rasulullah.

Tidak akan ada konflik bagi ahli makrifat, tdk permusuhan bagi ahli fana, tdk ada kebencian bagi yg hawa nafsunya telah lenyap ditinggalkan dlm perjalanannya menuju yg maha suci. ( Abu Sangkan ).

sent by sms 31/5/2012

** May 31 Thu 09:41 **

Tatik Kasim: ‎

semakin jelas bagi saya….maturnuwun ust Abu, mas Bonny…..

** May 31 Thu 09:45 **

Jalan kita telah dilakukan para ulama’ seperti imam Al Ghazali, ibnu Qayyim, imam Al Baghawi, Imam An nafiri, para tabi’in, para sahabat menurut tuntunan kanjeng Nabi.

Kiblat orang khusyu’ tetap ka’bah bukan yg lain : saya tambahkan dalil dari para sahabat nabi ibnu Umar : dari sulaiman bin sulamah mengabarkan, yahya bin yahya dari sa’id bin abdirrahman, sungguh ibnu Umar berjalan bertemu dengan pemuda Iraq yg terjatuh .

Berkata Ibnu Umar : ma balin hadza ? Ada apa nih ? Qaaluu : Innahu idza quri’a alaihi al qur’an au sami’a dzikrullah , saqatha ! Mereka menjawab : dia kalau dibacakan Al qur’an atau mendengarkan dzikrullah langsung jatuh .

Qala ibnu Umar : sesungguhnya Aku orang yang sangat takut kpd Allah tetapi tidak sampai terjatuh !!

Wa qala ibnu Umar : inna syaithana yad’khulu fi jaufi ahadihim ; sesungguhnya syetan telah masuk kedalam jiwa mereka.

Ma kana hadza shani’u ash habi Muhammad Saw. Hal ini tdk pernah aku temui pada masa Muhammad saw. ( Kitab Al baghawi hal: 1125)

yang dibenarkan al qur’an oleh hadist dan al qur’an : kulit dan hati mereka bergetar yg berasal dari keimanan mereka.

Kemudian Allah menurunkan ketenangan dan kelembutan yg disebut riqqah, ightanimuu du’a ‘inda riqqati fainnaha rahmah ( hadist) .

Man iqsya’rra jilduhu min khasy yatillahi ta’ala tahatat ‘anhu dzunubuhu kama yatahatu ‘an asy syajratil yabisati waraquha ( hadist) / barang siapa yg bergetar kulitnya karena takut kepada Allah maka berjatuhanlah segala dosanya seperti daun2 yg kering dari pohon yg sdh mati.

Saya mengajak kalian kembali Al Qur’an dan hadist, insya Allah perjalanan kalian akan selaras dgn firman2 Allah, tdk harus lama seperti saya selama 26 tahun melakukan perjalanan.

Alhamdulillah kita telah menemukan kembali kitab yg telah ditulis para ulama’ yg shaleh dan sesuai tuntunan kanjeng nabi saw. ( Abu sangkan ).

** May 31 Thu 10:48 **

Hendro: Terima kasih pak Abu. Mas Bony nuwun sharenya

** May 31 Thu 11:02 **

DEKa – ¥usDEKa: Alhamdulillah…, saya bersaksi ini benar…

** May 31 Thu 11:13 **

Fiva

Ratu siti Afifah: Shadaqta……….
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dan ternyata tulisan saya dari 1-14 yang lalu adalah untuk menunggu wejangan Ustadz Abu Sangkan diatas. Dengan begitu saya sungguh menjadi lega. Dan dengan ucapan Alhamdulillah. Serial 1-15 ini saya tutup.

Untuk menjawab pertanyaan: Mau Kemana Lagikah Engkau Wahai Kawan?, sungguh adalah ranah pribadi kita masing-masing yang tidak bisa saya masuki.

Semua yang benar sungguh adalah dari Allah, sedangkan segala kekeliruan adalah dari hawa nafsu saya yang selalu ingin meronta untuk mengada.

Mohon diperbanyak maaf.

Wallahu a’lam.

Wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh…

Cilegon, hari 31, bulan 5, tahun 2012.

Jalan Santani no. 31.

Deka…

Iklan

Read Full Post »

Resonansi Diri…

Setelah kita tahu, apa-apa yang bisa kita jadikan sebagai diri kita, tubuh kita, maka sekarang kita sudah mudah sekali untuk melihat diri kita ini sedang dalam wujud apa. Apakah kita tengah memakai materi sebagai diri kita, atau kita sudah mula memakai gelombang sebagai diri kita, atau apakah kita sudah mulai memakai Ar Ruh sebagai diri kita. Masing-masing itu akan berbeda. Sangat berbeda. Karena masing-masing itu ada alamnya sendiri-sendiri, atau kata yang lebih tepat untuk itu adalah masing-masing itu ada ESENSINYA. Ya esensi…

Jeruk punya esensi, kopi punya esensi, rendang punya esensi. Esensi itu sudah mencakup dzat, rasa, sifat, karakter, bau, nyanyian, keadaan, dan sebagainya. Esensi itu adalah gambaran utuh, bulat, menyeluruh (kaffah), tentang sesuatu. Esensi itu seperti rumah dengan segala isinya. Rumah itu akan menentukan apakah disana akan membuat kita betah “duduk” berlama-lama untuk tidur, diam, berdiri, berjalan, dan berkarya. Semakin nyaman rumah kita, maka kita akan semakin betah berlama-lama untuk duduk didalamnya.

Masalah kita hanyalah, bahwa diantara kita banyak yang tidak tahu bagaimana caranya agar kita bisa masuk kedalam rumah yang semakin hari suasananya semakin nyaman, rumah yang semakin hari semakin membuat kita betah untuk duduk berlama-lama didalamnya. Pintu masuknya kita tidak tahu. Itu saja kok.

Kita saat ini, ujug-ujug (tiba-tiba), sudah terlanjur hanya tahu dan bisa memakai materi sebagai diri kita. Kita tidak tahu PINTU MASUK (yang BENAR dan PAS) untuk bisa memakai gelombang sebagai diri kita. Karena tidak tahu, maka kita tidak bisa. Sehingga bertahun-tahun kita terpaksa membetah-betahkan diri untuk duduk dirumah kita, didalam diri kita, yang beresensikan materi atau partikel. Walaupun didalamnya penuh penderitaan, penuh ketidaknyamanan, kita terpaksa duduk didalamnya. Kita menganggap memang itulah rumah kita. Kita menganggap itulah takdir kita.

Padahal kalau kita mau singgah dirumah “diri lain”, yang sudah memakai gelombang atau getaran sebagai dirinya, sebagai rumahnya, maka kita segera akan mengetahui bahwa diri kita yang tadinya beresensikan materi itu ternyata ESENSINYA terlalu SEMPIT.

Untuk itu kita hanya perlu datang, kepada seseorang, yang sudah memakai gelombang atau getaran sebagai dirinya, sebagai rumahnya. Saat datang, kita jangan membawa-bawa dan menggotong-gotong rumah kita lagi kehadapannya. Untuk lebih jelasnya “bacalah artkel saya tentang mengosongkan gelas”. Sebuah kalimat pendek: “kok begitu…?, rumah saya kan begini”, sudah akan menghalangi kita untuk masuk kerumah orang itu.

Kalau kita datang kepada diri lain yang masih memakai materi sebagai dirinya, sebagi rumahnya, sementara dia sudah berkata-kata tentang gelombang, maka pasti tidak akan ada efeknya bagi kita. Kita tetap tidak akan nyaman seperti kita berada dirumah kita sendiri yang juga berwujud materi. Itulah sebabnya Allah didalam al Qur’an mengingatkan kita begitu kerasnya agar kita tidak berkata-kata, tidak mengajak-ngajak orang untuk singah kerumah yang kita sendiri belum berada didalamnya.

Begitu kita bisa pula duduk didalam gelombang, artinya kita bisa memakai gelombang sebagai diri kita, maka saat itu pula kita segera akan memahami hubungan timbal balaik antara gelombang dan materi. Kita akan tahu kedua-duanya. Kita akan tahu esensi keduanya sebagai wujud dualitas. Wujud yang saling berpasang-pasangan. Wujud yang bisa saling mengada dan meniadakan.

Maka tugas kita berikutnya adalah membangun diri kita sendiri, membangun rumah kita sendiri, agar diri kita, agar rumah kita, bisa senyaman diri atau rumah orang lain yang sudah pernah kita rasakan kenyamanannya. Kita bisa merehabilitasi rumah kita, diri kita. Kita runtuhkan yang buruk, kita bangun yang lebih bagus. Sehingga akhirnya diri kita, rumah kita, menjadi seindah dan senyaman diri atau rumah orang lain yang pernah kita singgahi.

Kita dan teman-teman kita yang berada pada diri yang sama, yang duduk di dalam rumah yang BERESENSI sama, akan saling BERESONANSI, akan saling MENGGETARKAN. Kita akan saling memperkuat diri kita, rumah kita satu sama lainnya. Kalau kita saling berbicara, maka bicaranya akan sama. Bicara tentang dualitas getaran dan materi. Walau disana-sini kita berikan bumbu atau ramuan yang sedikit berbeda, tapi esensinya tetap terasa sama. Esensi gelombang dan materi, esensi getaran dan partikel.

Makanya tidak aneh ketika kita membaca tulisan seseorang, atau mendengarkan seseorang berbicara, kita seperti telah mengenal tulisan seseorang itu, kita seperti berada pada ruangan seperti yang sedang dibicarakan orang itu. Walaupun tulisan itu belum pernah kita baca, pembicaraan orang itu belum pernah kita dengarkan sebelumnya. Semua itu terjadi karena adanya resonansi diri kita dengan diri orang lain pada getaran gelombang yang sama.

Karena saling beresonansi, saling menggetarkan, saling memperkuat diri pada wilayah diri dan rumah yang sama, maka kemudian lahirlah sebuah KOMUNITAS, sebuah KULDESAK, sebuah KOMPLEKS, tempat dimana berkumpulnya diri-diri yang akan memperbincangkan, membicarakan, membesar-besarkan, segala hal yang berhubungan dengan gelombang dan materi. Semua orang dengan berpikiran yang sama, smelt yang sama, vibrasi yang sama, beraktifitas yang sama. Mengeksplorasi dualitas materi dan gelombang. Kuldesak yang sangat aktif sekarang ini adalah Hypno segala, dengan varian-variannya.

Cuma sedikit sekali kita yang tahu bahwa, bermain-main diwilayah diri seperti ini, dalam bentuk gelombang dan materi, ternyata telah menunggu dengan setia wujud lain yang sudah bermain-main diwilayah ini sejak penciptaan Adam dulu, yaitu wujud IBLIS. Sebuah kalimat saja: “Ana khairuminhu…, saya lebih baik dari dia”, telah cukup untuk terciptanya resonansi antara diri kita dengan diri iblis. Dan akibatnya…?, sungguh dahsyat tak terperikan. Walau tidak sekarang, tapi suatu saat nanti pasti akan terjadi. Pedih sekali… Saya menjadi saksi untuk kebenaran hal ini…

Itulah sebabnya kita perlu mencari alternatif diri kita dalam bentuk lain, rumah lain, badan lain, yang lebih baik dari alam getaran dan alam materi, lebih murni dari alam gelombang dan alam partikel. Dan itu wujudnya adalah GETARAN IMAN kepada ALLAH. Getaran DIATAS getaran-getaran alam dan getaran-getaran pribadi. Getaran yang sudah tidak berupa hawa nafsu lagi yang berasal dari alam getaran dan alam materi.

Bersambung kebagian TERAKHIR

Deka

Read Full Post »

Memakai Gelombang sebagai Diri Kita…

Kalau kita mau memakai gelombang atau getaran sebagai jati diri kita, boleh juga, sangat boleh malah. Saat kita memakai gelombang atau getaran yang menjadi diri kita, maka sebagai bagian dari alam kita sudah menjadi lengkap. Karena saat kita berbadan gelombang, kita hanya tinggal mengalihkan sedikit perhatian lebih kepada materi untuk menjadi diri kita yang dalam wujud materi. Dengan begitu kita menjadi selaras dengan alam semesta sendiri yang juga berada dalam dualitas wujud, bentuk materi dan gelombang, partikel dan getaran.

Salah satu ciri-ciri ketika kita memaki gelombang atau getaran sebagai diri kita adalah, ketika kita “duduk manis” didalam gelombang itu, kita akan ikut bergerak seirama dengan gerak gelombang itu yang kadang-kadang liar tak terkendali dan kadang-kadang mengalun indah mempesona. Dengan bisanya kita memakai gelombang atau getaran sebagai diri kita, maka tinggal selangkah lagi saja bagi kita untuk masuk dan terjun ke alam ilmu-ilmu yang penuh dengan pesona getaran dan alunan gelombang. Ya selangkah lagi saja…, maka kita akan jadi sakti dan hebat.

Pada awalnya biasanya adalah getaran pribadi yang gerakannya sangat kasar dan tidak beraturan. Kadangkala gerakan gelombang itu menyeret tubuh kita seperti gerak orang mabok, kadang seperti gerak terpatah-patah. Getaran pribadi yang dilatih terus untuk membesar dan membesar lagi akan menjadi getaran yang lebih besar yang disebut sebagai alam. Getaran alam itu berdenyut, menjalar, dan bergerak dengan pola-pola tertentu. Kalau kita duduk didalam getaran alam itu, lalu kita IKUT pola geraknya, maka tubuh kita bisa terguling-guling, terjatuh, terbanting-banting kesana kemari. Semakin kita ikuti, maka gerakannya juga semakin kuat dan kencang. Para sufi semasa Jalaludin Rumi, dan pengikutnya masih eksis sampai sekarang, mendapatkan gerak berputar untuk sekian lamanya saat mereka memakai getaran alam ini sebagai diri mereka. Patrap-1 (tentu saja istilah ini hanya untuk yang mengenal patrap), juga bekerja diwilayah diri kita yang berupa gelombang ini.

Saat kita memakai alam getaran ini sebagi diri kita, maka kita akan masuk ke alam yang sangat ramai dan riuh rendah dengan berbagai kehebatan. Alam yang bisa dinamai dengan berbagai nama dan disimboli dengan berbagai simbol. Namun, walaupun ramai, semuanya itu pada hakekatnya hanya satu alam, yaitu alam getaran, alam gelombang.

Sebutlah ilmu-ilmu KEREN dan TRENDI apa saja yang ada saat ini, ilmu Quantum segala, ilmu Hipno segala, ilmu kasih-segala, ilmu bahagia segala, ilmu rahasia segala. Misalnya, Taichi, Falun Dafa, Prana, Quantum Awareness, Quantum Healing, Quantum Anu, Tenaga Dalam, Tenaga Batin, dan nama-nama lainnya, sebenarnya berada pada wilayah yang sama. Yaitu pada tataran getaran dan gelombang. Dan yang akan bisa menggunakannya juga adalah orang-orang yang bisa memakai gelombang itu sebagai dirinya. Gelombang itu dirasa-rasakan, kemudian diikuti geraknya. Ada yang memakai getaran tubuh fisik atau getaran pribadi sebagai dirinya, dan ada yang sudah bisa memakai getaran alam sebagai dirinya.

Jadi…, semuanya itu sebenarnya adalah satu ilmu yang sama dengan menu dan racikan yang sedikit berbeda (sesuai selera). Yaitu ilmu Getaran dan Gelombang, bahasa kerennya Ilmu VIBRASI. Sehingga tidak salah jika ada diantara kita yang menyatakan bahwa hidup kita ini tidak lebih dari permainan vibrasi saja.

Itu betul, sebab dialam getaran ini, semua getaran seperti bisa mewujudkan menjadi materi tertentu dan kejadian-kejadian tertentu, dan pada saat-saat tertentu pula. Getaran akan menciptakan materi dan kejadian. Begitu juga sebaliknya. Dari kejadian dan materi akan menciptakan getaran. Diujung getaran akan muncul materi dan peristiwa. Diujung materi dan peristiwa akan muncul getaran. Selalu begitu. Dengan begitu kita seperti dengan mudahnya menjadi orang yang serba tahu dan serba bisa. Sakti. Hebat.

Dan untuk bisa begitu. Yang diperlukan hanya segaris tipis gelombang awal dan satu denyut getaran pikiran tentang suatu benda atau peristiwa yang kita inginkan untuk mengada dan menjadi. Kemudian getaran pikiran itu tinggal kita “lepaskan” kealam raya yang terlebih dahulu sudah dipenuhi dengan berbagai gelombang dan getaran yang terlibat dalam proses penciptaan maupun penghancuran yang lebih besar. Kemudian dilanjutkan dengan LANGKAH berikutnya menuju mengadanya materi atau kejadian yang kita pikirkan itu. Dan hasil itu tinggal kita tunggu dengan hati yang riang gembira.

Misalnya kalau ingin rumah, maka getarkanlah pikiran kita tentang rumah itu, lalu getaran pikiran kita itu kita antarkan memasuki alam getaran yang sudah ada sejak dulu didepan kita. Mengantarkan itu artinya menggetarkan lalu lupakan. Langkah berikutnya gambarlah rumah itu, lihatlah majalah-majalah tentang rumah yang indah-indah, gembiralah seakan-akan rumah itu sudah ada, dan bersyukurlah. Ya…, seperti yang ada dalam buku “The Secret” dan buku-buku variannya itulah…

Contoh yang paling mudah untuk diingat adalah, ketika sebuah BANK X di tanah air dengan gencar mengiklankan mobil yang berjatuhan dari langit akibat terbawa oleh angin puting beliung, maka saat itu pula terjadilah peristiwa berjatuhannya mobil-mobil dari parkiran Mall atau gedung bertingkat tinggi di beberapa tempat di Jakarta. Karena saat itu, secara tidak sadar, memang setiap orang sedang menginginkan ada sebuah mobil yang jatuh dari langit didepan matanya. Dan getaran pikiran mereka yang sama itu kemudian bertemu menjadi satu, sehingga yang muncul adalah peristiwa mobil berjatuhan dari lantai parkir gedung tinggi. Tapi begitu iklan itu ditarik, peristiwa itupun berhenti dengan sendirinya.

Di alam getaran ini, nyaris saja semua orang dengan berbagai agama, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun, bisa mendapatkan kemampuan yang sama. Kuncinya ternyata adalah dengan menganggap diri kita adalah wujud getaran dan kita kemudian mau untuk duduk memasuki alam getaran dan gelombang itu. Dengan begitu, ternyata diri kita langsung berubah menjadi gelombang dan getaran. Setelah itu kita tinggal bermain-main dengan getaran itu. Tentu saja dengan segala ciri, atribut dan dampaknya.

Yang bingungkan umat yang beragama. “Kalau begitu saya nggak perlu beragama lagi dong untuk bisa jadi kaya, untuk bisa hebat, untuk bisa sehat?”, kata sebagai besar kita dengan penuh keraguan. Ya begitu…

Untuk penjelasan yang lebih detail mengenai alam getaran ini bisa dilihat dalam artikel saya “Alam Ilmu”. Dan untuk mengetahui dimana posisi kita masing-masing apakah sudah dialam getaran dan gelombang, lihatlah check list ciri-cirinya dalam artikel Nafsul Lawwamah dan Nafsul Muhlamah (suffiyah). Itu boleh jadi dapat membantu kita.

Lalu apakah ada the ultimate choice???.

Bersambung

Deka

Read Full Post »

Nah…, diri kita, An Nafs, sendiripun ternyata juga bisa begitu. Ya…, diri kita ternyata juga mengikuti hukum Allah, mengikuti ketentuan Allah, mengikuti Qodrat Allah dalam bentuk dualitas gelombang dan materi itu. Kalau kita sudah memahami dualitas tadi, maka dengan sangat leluasa dan mudah kita akan bisa menganggap diri kita sebagai PARTIKEL atau MATERI apa saja. Semudah kita menganggap bahwa diri kita adalah GELOMBANG atau GETARAN. Dengan memilih salah satu, diantara materi atau gelombang itu, yang menjadi diri kita, maka kita langsung akan bersikap seperti gelombang atau materi itu lengkap dengan karakter dan ciri-cirinya masing-masing.

Kalau kita menganggap diri kita sebagai materi, artinya kita “duduk” pada diri kita yang berupa materi dan berbagai “variannya”, maka kitapun akan dibawa dan diikat oleh sifat-sifat dan perilaku materi atau partikel itu. Kita akan dibuat sibuk, diikat, diayun, dan tidak berkutik dengan sifat-sifat kematerian diri kita.

Sebaliknya, kalau kita menganggap diri kita adalah gelombang atau getaran, dan kita “duduk” manis didalam gelombang itu, maka kitapun akan diikat dan ikut terbawa oleh sifat-sifat dan karakter gelombang itu. Kita akan diputar, dibanting, digerakkan, dijungkirbalikkan tanpa ampun oleh sifat kegelombangan diri kita.

Nah…, sifat-sifat atau karekter diri kita, apakah sebagai materi atau sebagi gelombang, disebut sebagai kecenderungan diri kita, HAWA UN NAFS. Jadi yang sering disebut-sebut orang sebagai HAWA NAFSU itu tak lain dan tak bukan adalah kecenderungan diri kita yang selalu menarik-narik atau mendorong-dorong kita untuk ikut karakter dari apa saja yang kita jadikan sebagai diri kita.

Kita diberikan kebebasan oleh Allah untuk memilih jati diri kita, wujud diri kita, untuk kita pakai dan pergunakan dalam menjalani kehidupan kita. Mau memakai materi atau memakai gelombang sebagai jati diri kita, ya… terserah kita saja. Karena pada masing-masing pilihan kita itu, materi atau gelombang, telah ditentukan oleh Allah “qada” atau sifat-sifat, ukuran-ukuran, karakter-karakter, ketentuan-ketentuan serta “qadar” atau akibat-akibat yang akan kita alami sendiri sebagai hasil dari pilihan kita itu.

Memakai Materi sebagai Diri Kita…

Kalau kita mau memakai materi dan partikel sebagai diri kita, maka kita akan berjalan dimuka ini sebagai orang yang materialistis. Apa saja ingin kita materikan. Apa-apa ingin bisa kita lihat dengan mata, ingin bisa kita sentuh dengan tangan, ingin bisa kita dengar dengan telinga, ingin bisa kita rasakan, ingin bisa kita pikirkan, ingin bisa kita ilmiah-ilmiahkan. Dengan begini kita akan menjadi sibuk…, sibuk…, dan sibuk…, dengan diri kita itu. Karena alternatif materi yang bisa menjadi diri kita sangat tak terbatas jumlahnya. Dan kemudian kita akan DI IKAT, MELEKAT, LENGKET, BINDING pada diri kita itu. Kita akan sulit untuk melepaskan diri dari ikatan diri kita itu.

Misalnya, saat satu materi saja, yaitu uang yang kita pakai sebagai jati diri kita (an nafs), maka kita akan disibukkan oleh uang itu disetiap saat. Semua ingin kita uangkan. Serba uang…

Untuk contoh-contoh yang lain, lihat sajalah diri kita masing-masing. Kita sedang memakai materi apa yang menjadi diri kita. Dan akibat macam apa yang kita dapatkan saat ini. Untuk sekedar membantu saja, sebagai check list, bisa dipakai artikel yang memuat ciri-ciri dan karakter diri yang berada dalam posisi Nafsul Ammarah dan posisi Nafsul Lawwamah…

Nah…, mau begitu?. Ya boleh saja…, tapi akibatnya harus kita tanggung sendiri.

Kalau masih begitu, beranjaklah segera dari orang yang memakai materi sebagai dirinya menuju posisi yang berikutnya, yaitu orang yang memakai gelombang sebagai dirinya. Sebab kalau tidak, kita akan ditawan terus menerus, sampai kita tidak berkutik, oleh materi itu sepanjang hidup kita. Dan itu menyiksa sekali.

Bersambung

Deka

Read Full Post »

Dualitas An Nafs…

Dengan mengetahui proses perjalanan diri kita seperti diatas, maka sebenarnya “perjalanan” yang kita lalui menjadi sangat sederhana, tapi juga dahsyatnya tak terperikan. Yaitu bagaimana agar kita bisa mengetahui kembali asal-usul kita ditengah-tengah keberadaan kita saat ini. Sebab, mau atau tidak, rela atau tidak, suatu saat kita akan dipaksa oleh Allah untuk tahu tentang APA DAN SIAPA JATI DIRI kita yang sesungguhnya. Kita akan dipaksa untuk tahu: “aku ini siapa, dan wujud diriku apa”. Nah…, jati diri kita itu secara umum disebut sebagai AN NAFS.

Akan tetapi, hanya dan hanya, siapa-siapa diantara kita yang bisa menyadari jati diri kita adalah semurni-murninya AR RUH, yang berasal dari Allah, sajalah yang akan bisa membawa diri kita untuk bersikap dihadapan Allah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah terhadap penciptaan kita dimuka bumi ini. Yaitu untuk menjadi orang yang berguna bagi sesama…, bagi semesta…

Dan juga hanya siapa-siapa diantara kita yang menyadari diri kita (an nafs) adalah semurni-murni RUH (Ar RUH) milik Allah, dan kemudian bersedia “DUDUK” disitulah, yang akan dituntun oleh Allah dengan AMR Allah Sendiri untuk sujud, rukuk, dan mendekat kepada Allah. Sehingga tiada lagi yang lain selain Allah yang kita sebut-sebut, yang kita bangga-banggakan, yang kita ingat-ingat, yang kita bahas-bahas, yang kita besar-besarkan, yang kita agung-agungkan, yang kita bicara-bicarakan. Ya…, apapun pembicaraan kita, ujung-ujungnya pasti Allah. Tapi Allah yang benar. Bukan Allah yang berupa materi atau gelombang yang bisa kita rasa-rasakan dan bayang-bayangkan.

Semua proses itu dimulai dari sebuah Perbendahaaran Tersembunyi yang ingin dikenal. Ya, Ada Perbendaharaan Tersembunyi yang berkehendak untuk Dikenal. Kehendak Tunggal, KUN. “Aku Ingin Dikenal”. Kehendak itu berubah menjadi sebuah Energy atau Daya yang menjalar menyapa Sebuah keadaan yang bersifat DUALITAS, yaitu bersifat sebagai GELOMBANG yang BERGETAR dan sekaligus, pada saat yang sama, juga bersifat sebagai PARTIKEL yang MEMATERI. Saat kita memperhatikan sisi yang satu, maka sisi yang satunya lagi jadi menghilang. Saat kita memperhatikan gerlombang yang bergetar, maka materi atau partikelnya akan hilang dengan seketika. Begitupun sebaliknya ketika kita memperhatikan sisi partikel dan materinya, maka sisi gelombang dan getarannya akan hilang dengan seketika. Bukan sulap bukan sihir.

Tapi sekali kita memahami dan berhasil “duduk” dalam realitas dualitas gelombang dan partikel itu, artinya kita berada DIATAS dualitas itu, kita bisa menyadari kedua-duanya. Kita akan bisa menyadari bahwa gelombang atau getaran itu lebih dominan dari pada partikel atau materi. Saking dominannya, kita akan bisa merasakan bahwa ujung-ujung gelombang itu tidak ada batasnya. Getaran atau gelombang itu juga menembus seluruh bagian partikel atau materi tanpa sisa. Gelombang atau getaran itu meliputi segala bagian dan segala sisi dari setiap partikel atau materi yang ada. Makanya saat membuka matapun gelombang atau getaran itu masih bisa kita bedakan dengan materi atau partikel. Ini materi…, ini gelombang. Ini partikel…, ini getaran.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Participants:

————-

DEKa – ¥usDEKa, dan sahabat saya IB di Benua A.

Messages:

———

IB: Tepat sekali. Sungguh seperti ini pelajaran yang saya dapatkan dan telah saya tuliskan dalam kisah perjalanan. Saya sebut sebagai Prinsip Ketidakpastian kehendak atau jiwa. Sesuai dengan Hukum Ketidakpastian Heisenberg tentang partikel cahaya. Secara sederhana kita hanya bisa memilih salah satu saja. Yaitu posisi rasa atau arah kehendak. Tidak bisa keduanya. Dalam bahasa agama secara sederhana memilih rasa/jiwa/nafsu/nafs atau memilih ruh (arah menuju Allah). Ternyata harus ke sini terus. Terima kasih atas sharing yang semakin menguatkan dan meyakinkan. Sebetulnya itulah yang selama ini saya lakukan. Alhamdulillah.

DEKa – ¥usDEKa: Deleted….

IB: Betul sekali. Senang bisa diskusi.

IB: Bahasa gampangnya sih memilih arus listrik atau hasil dari listriknya.

IB: Kalau pilih arus listriknya kemungkinan hasilnya bisa tak terhingga.

IB: Tapi kalau pilih produknya ya sangat terbatas. Sempit sekali. Pilihannya ya sekedar yang kita tahu. Bahkan sering dipilihkan.

IB: Banyak produk yang kita tidak tahu karena pengetahuan kita terbatas.

IB: Padahal semua produk itu butuh listrik. Tanpa listrik tidak ada produk itu.

IB: Semua produk listrik tanpa adanya listrik hanyalah sampah saja.

IB: Kalau boleh milih tentu milih sumber listriknya. Lebih tinggi lagi sumber listrik dan magnet. Lebih tinggi lagi sumber gelombang listrik magnet (elektromagnet) yaitu cahaya. Cahaya diatas cahaya.

IB: Ternyata bicara apapun akhirnya kembali ke Tuhan ya…

DEKa – ¥usDEKa: Nyimak nih saya mas IB 😀

IB: Iya…, akhirnya dengan sangat sederhana dan mudah pasti kita memilih menghadapkan pengamatan kita kepada penjalaran gelombang (energy) listrik magnet dalam diri kita. Mengikuti arah penjalarannya berdasarkan tujuan yang kita tahu yaitu Allah.

IB: Kalau kita tahu posisi jiwa (cahaya) dan tahu tujuannya. Maka cahaya akan selalu bergerak lurus. Mengikuti sunatullah. Maka tidak bisa tidak pasti akan menempuh garis (jalan) lurus.

IB: Inilah manzillah masing-masing jiwa mengikuti uraian mas Deka. Jalan lurus. Jalan tersingkat dan terdekat dari posisi jiwa sekarang ini.

IB: Problemnya posisi jiwa itu berubah-ubah setiap detik mengikuti dualitas. Mengikuti terbolak-baliknya jiwa.

IB: Akhirnya sama persis dengan mengikuti gerak nafas. Tarik lalu ruh akan melesat ke ujung semesta. Lalu keluarkan nafas kembali ke dunia nyata untuk mengamati product perjalanan jiwa atau rasa hasil perjalanan ruh ini. Bagaimana posisi jiwa atau rasa. Dan terus akan diulang terus. Aneh ya. Kembali ke nafas lagi.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, itu yang saya latihkan di Bandung, Minggu 27 Mei kemaren, mereka sekitar 100 orang seperti bengong saking sederhananya tapi tokcer hasilnya. Untuk itu saya tidak bisa tidak harus memberikan status baru untuk mas IB, yaitu Guru Pembimbing saya, ha ha ha:D

IB: Wah ampuuuuuuuuuun…. Mas deka…. Ampuuuuuuuun. Ha….ha..ha..

IB: Nyerah saya…. Lha pelajaran saya itu setengahnya membaca tulisan mas Deka kok.

DEKa – ¥usDEKa: Memang enak kalau bicara dirumah yang sama:D

IB: Cuma tidak berhenti membaca saja. Setelah itu kepikiran berhari-hari dan berminggu-minggu. Bahkan sampai setahun.

IB: Soal sederhana yang mas Deka sampaikan yaitu untuk menerima Allah. Terus terang sampai detik ini masih ada atau banyak missing link

IB: Namun peningkatan pemahaman menerima Allah. Nyata dan sedikit demi sedikit.

IB: Padahal jujur lho. Ketika pertama. Tidak ada efek apapun. Namun semakin mendalami menerima Allah. Ampun… Tidak selesai-selesai.

IB: Rasanya sudah puluhan kali nyerah. Tapi kok muncul dan muncul lagi.

IB : Kalau boleh tanya. Bagaimana reaksi teman-teman ketika ditanya ini?. Bagaimana pengalaman teman-teman. Kok saya harus melewati jalan sangat panjang dan belum selesai.

DEKa – ¥usDEKa: Ha ha ha, gelombang kan memang tak pernah berhenti bergetar dan menjalar mas IB. Tapi diujungnga gelombang pasti ada materi baru yang muncul. Begitu materi hancur, maka bentuknya kembali menjadi gelombang untuk kemudian ujungnya pasti materi yang lain lagi

DEKa – ¥usDEKa: Saya hanya tinggal pada saat yang tepat dan keadaan yang sesuai mau memakai wujud apa yang akan menjadi diri saya, an nafs…, selesai sudah, karena materi atau gelombang itu pasti ikut Qodrat Allah yang selalu mengarah ke Allah dan patuh kepada gerak Allah….

IB: Betul. Proses penciptaan yang terus berlangsung termasuk diri kita di saat ini. Terus diperbarui. Terus tercipta sel atau atom baru. Sebagian besar kita terperangkap doktrin agama “XXXX” . Tuhan berhenti mencipta saat alam dan Adam selesai tercipta.

DEKa – ¥usDEKa: Ya karena “deleted” juga berperilaku seperti “deleted” yang selalu hanya melamun tentang syurga

IB: Tepat. Mantab. Wah kalau dilanjutkan pasti akan mengarah ke ilmu laduni ….ha…ha..ha. Padahal tengah membahas ilmu fisika lho. Makanya disebut Sufi sika. Sufisika…

IB: Oh ya terima kasih untuk tidak menjelaskan secara langsung cara untuk menerima Allah. Karena memang tidak akan pernah pas. Sangat pribadi. Individu. Privacy. Pengajaran langsung sesuai kadar dan ukuran. Kalau dijelaskan justru tidak akan pernah faham.:)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wassalam

Deka & IB

Read Full Post »

Participants:

————-

DEKa – ¥usDEKa, dan sahabat saya IB di Benua A.

Messages:

———

IB: Assalamualaikum wr.wb. Alhamdulillah saya baca tulisan mas Deka di blognya. Entah mengapa. Yang pasti ketika membaca tulisan mas Deka itu seolah sudah ada dalam jiwa. Sepertinya saya yang menulis. Atau tepatnya kalau saya yang nulis seharusnya seperti tulisan ini. Seperti tulisan ini adalah cermin atau bayangan jiwa saya. Aneh. Lalu perlahan ada sebuah pemahan yang kuat muncul. Sebuah keyakinan kuat yaitu ada sebuah kesadaran yang meliputi rasa tahu kita. Yang meliputi ilmu kita. Yang sebetulnya memiliki pengetahuan itu sendiri. Sang Maha sadar. Yang memiliki pengetahuan. Karena sewaktu-waktu ilmu kita dicabut yaitu lupa atau tidur dan diberikan kepada yang lain yang dikehendaki-Nya. Dan pengetahuan-Nya akan konsisten dan tetap. Sehingga tidak aneh kalau apa yng kita fahami klop atau sama.

DEKa – ¥usDEKa: Alhamdulillah mas IB, saya sungguh mengambil satu kepahaman dari mas IB tentang dualitas. Dan every thing can be explained easily. Begitu mas IB. Salam hangat.

IB: Alhamdulillah. Betapa seringnya saya sedih dan berfikir. Seandainya mereka tahu nikmatnya iman. Sungguh dengan merangkak orang yang sedang menderita itu akan mengejar. Sesuatu itu sedemikian sederhana dan hanya menerima saja. Tapi juga semakin menyadarkan diri akan arti dan makna sebuah HIDAYAH. Karena walaupun kenikmatan itu begitu nyata dan bukti sudah di hadapan. Ternyata godaan semakin berat. Akhirnya kembali hanya menyerah dan ikut Allah. Menerima Allah. Mengikuti apa saja yang disusupkan di hati. Maka hanya kelembutan dan kenikmatan jiwa yang luar biasa. Begitu indah dan nikmatnya kehidupan sehari-hari bersama Allah. Sebaliknya sangat kering hampa dan mati tanpa Allah. Lalu tentang “kebenaran” dan ilmu. Seolah hanya alat. Hanya sarana. Untuk mendapatkan rasa kedekatan itu. Tidak ada rasa sedikitpun memiliki ilmu itu atau memiliki pemahaman itu. Ada tapi juga tiada. Yang ada kok hanya Allah. Rasa dekat dengan Allah saja. Semakin dekat semakin nikmat. Rasa takut untuk kehilangan rasa dekat ini sangat kuat. Tapi juga masih ada rasa takut dengan cobaan rasa yg mungkin datang. Makanya masih aktif membaca banyak tulisan mas Deka termasuk yang lama. Dan semua tulisan itu seolah berasal dari dalam jiwa atau sudah ada. Saya seolah mampu memasuki ruang demi ruang dengan sangat kenal dan faham. Tentu dalam persepsi saya. Atau lebih tepatnya dalam keyakinan saya. Sehingga sayapun semakin yakin sedang berjalan di jalan yg sama. Alhamdulillah.

Kisah rasa yang saya ceritakan atau alami. Saya sendiripun sering tidak percaya kalau mengalami rasa demi rasa yang aneh dan tidak mampu diceritakan. Seperti yang saya ceritakan, saya tidak mencari dan tidak pula mengharapkan. Dan rasa demi rasa dihadirkan. Semua rasa ini telah menjadi candu. Rasanya sulit untuk dilepas. Hidup terasa hampa dan kering tanpa mengingat Allah. Disisi lain. Kembali ke pertanyaan mas Deka kesiapan menerima Allah. Menerima tugas Allah nanti. Karena ada satu keyakinan dalam diri ini. Bahwa ada tugas khusus yang Allah minta saya lakukan. Tanda atau isyarat itu kuat. Namun selalu masih ada ketakutan atas ketidaksiapan atau ketakutan meninggalkan “kemapanan” atau ketakutan salah jalan. Artinya masih ada satu sisi ketidaksiapan menerima Allah atau kehendakNya yang mungkin akan terjadi. Walaupun kalau dipaksa pasti siap. Namun seolah diminta secara suka rela untuk menempuh tugas khusus itu yang entah apa. Saya tidak tahu atau belum tahu. Sekarang ini hanya diberi candu rasa yang luar biasa. Nikmat dan nikmat dalam hidup setiap saat. Tapi saya kok selalu merasa tengah ditunggu sebuah tugas. Dan entah apa.

DEKa – ¥usDEKa: Mas IB, untuk saat ini saya diberi tugas oleh Allah untuk menunjukkan kepada orang-orang: bahwa ada Allah lho, dan saya mengajak orang untuk singgah sejenak ‘kerumah’ saya. Saya latih orang untuk sejenak menengok keruang ruang rumah saya itu. Tadi siang pelatihan di bandung 8 jam tak terasa. Dan itu sangat beda dengan pelatihan pelatihan sebelumnya. Effortless but so powerfull. Amazing.

Entah besok-besok tugas saya apa lagi. Saya nggak tahu mas IB.

Alhamdulillah saat ini saya hanya berusaha selalu dituntun oleh Allah untuk menjaga (wujud) diri saya, an nafs, tidak lebih dari hanya sekedar segaris tipis getaran atau gelombang halus yang ikut Qodrat Allah. Hanya begitu sekarang mas IB.

IB: Betul. Menggunakan daya Allah memang luar biasa. Diatas PD atau percaya diri tapi Percaya kepada Allah. Alhamdulillah mas Deka telah sanggup menerima Allah. Menerima tugas khususNya dan melaksanakannya. Namun rasanya tugas saya bukan itu. Hanya belum diberi tahu. Dan tugas itu memerlukan keikhlasan total kepada Allah. Dan saya telah diberi sample rasa ikhlas ini. Rasa yang menurut akal saya sangat menakutkan. Rasa yang luar biasa aneh. Ada seperti rasa cinta kepada Allah yang luar biasa dalam. Rasa penyembahan yang sangat luar biasa. Kerinduan yang tak mampu terukur. Hanya rasa ingin selalu dekat dan bersamaNya. Tidak perduli berada dimanapun. Bahkan tersiksa atau berada di mana saja. Asalkan rasa itu ada. Pasti sanggup. Rasa Allah itu menjadi poros. Menjadi pusat segala pemikiran dan apapun. Maka rasa ini jadi menakutkan. Namun rasa nikmatnya juga luar biasa. Tapi juga saya sadari bahwa diri saya masih belum mampu menerima Allah sepenuhnya. Masih ada satu sisi yang belum siap.

Terima kasih informasinya. Rasanya begitu pula yang sedang saya lakukan. Menjadi apa yg sekarang. Melalukan yang sekarang. Menikmati kehidupan yang sekarang. Penuh berkah dan kebahagiaan.

Hanya seperti ada panggilan atau ada isyarat atau ada keyakinan. Ada satu tugas yang Allah kehendaki untuk melakukan dengan penuh keikhlasan.

Dan itu harus menerima Allah seutuhnya.

Menerima Allah. Sungguh kata sederhana. Mudah. Simple. Ringan. Namun kenyataan timbangan dan bobot pelaksanaan luar biasa berat. Dan tak pernah mampu dan sanggup menerima. Ketika Allah memaksa dan tak ada jalan lain memang masih mampu. Namun ketika diminta suka rela dan masih ada beberapa pilihan. Maka kadang menerima pilihan Allah itu berat. Sungguh hanya dengan pertolongan-Nya saja sanggup memilih.

DEKa – ¥usDEKa: Saat diri saya, an nafs, hanya segaris tipis getaran atau gelombang halus itu, saya sudah tidak merasakan apa apa lagi mas IB. Tidak merasakan apa-apa itu bagi saya benar benar memerdekakan saya. Karena pernah saat saya memakai rasa cinta kepada Allah itu sebagai diri saya, an nafs, maka rasa cinta saya kepada Allah itu tetap terasa kecil teramat kecil. Saking kecilnya rasa cinta saya kepada Allah, walaupun saya rasanya sudah memberikan segala rasa cinta saya kepada-Nya, maka tetap saja saya dilanda oleh rasa cinta yang menyiksa. Rasa cinta yang kurang mencintai.

Karena saat itu saya merasa sungguh tidak sanggup untuk mendekati Allah dengan rasa cinta saya, maka suatu ketika saya menyerah. Saya mengangkat bendera putih tanda takluk. Dan ternyata dengan menyerah, saya terselamatkan dari penderitaan yang lebih besar.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wassalam…

Deka & IB

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: