Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2019

iv. AT bisa menerjemahkan ayat Al Quran secara Kontextual. Sehingga mereka BISA menguraikan pencanggahan (Pertentangan) yang terdapat di antara Ayat-ayat dalam Al Quran. Contohnya:

a. Ayat “masuklah ke dalam Syurga yang KEKAL selama-lamanya” berlawan dengan ayat “masuklah ke dalam Syurga SELAGI masih ada langit dan bumi Syurga itu (tidak kekal)”. Bagi AT mereka sudah paham bahwa dua ayat yang bertentangan ini menandakan adanya Kiamat KEDUA. Dimana pada kiamat kedua itu semua ciptaan pastilah akan Binasa dan yang tinggal hanyalah Dzat-Nya. Bahwa Syurga dan Neraka, Sidratul Muntaha, Lapiran Air, Arasy, dan Tirai Nur pastilah akan musnah dan yang Tinggal adalah Dzat-Nya. Terakhir kali, Dzat-Nya yang sedikit itupun akan kembali musnah dan yang tinggal Abadi (Kekal) hanyalah Diri-Nya.

b. Banyak ayat di dalam Al Quran mencegah manusia untuk berbuat kemungkaran. Namun dalam ayat lain dinyatakan bahwa Allah Swt yang mengilham kefasikan (kemungkaran). Juga kenapa Allah memerintah Khidir untuk membunuh seorang kanak-kanak. Kenapa Allah swt tidak berbuat sendiri untuk membunuh ayat itu. Bagi AT, perbedaan ini dengan mudah bisa terjawab, yaitu bahwa dengan Mengenal Allah dan Mengenal dirinya, maka AT sudah paham bahwa ternyata dirinya tidaklah Wujud. Karena semuanya hanyalah Dzat-Nya semata-mata, maka Allah bebas berbuat apa saja terhadap Dzat-Nya.

v. AS tidak dapat dapat menguraikan tentang pertanyaan: “kalau Allah Maha Pengasih dan Penyayang, kenapa harus diturunkan Tsunami, gempa bumi, dan bencana Alam lainnya yang memakan korban banyak nyawa?”.

vi. AT dapat menguraikan tentang pertanyaan: “kalau Allah Maha Pengasih dan Penyayang, kenapa harus diturunkan Tsunami, gempa bumi, dan bencana Alam lainnya yang memakan korban banyak nyawa?.

Bahwa semua itu terjadi adalah sebagai Bahan PELAJARAN bagi umat manusia untuk mengetahui hal-hal yang tidak atau belum mereka ketahui. Karena pada semua itu ada hikmah, ada pelajaran, ada ilmu yang nantinya ilmu itu akan bisa dipakai untuk sebagai bekal bagi kehidupan umat manusia di masa depan. Dimana di masa depan, umat manusia akan menghuni planet-planet di angkasa lepas, di bintang-bintang, yang keadaannya lebih keras dari keadaan di bumi. Tugas manusia di masa depan itu adalah untuk kembali mengajak iblis, jin-jin, dan syaitan-syaitan beserta konco-konconya untuk beriman kembali kepada Allah dan menyembah Allah Swt.

Sebab, begitu syaitan di usir dan dikeluarkan dari syurga, setelah mereka ingkar untuk sujud kepada Adam As, maka mereka menghuni planet-planet di angkasa lepas yang keadaannya mirip dengan keadaan di bumi. Bandingan jumlah mereka dengan jumlah manusia adalah, mereka 9 (sembilan) dan manusia 1 (satu). Lebih banyak mereka dibandingkan dengan manusia.

Tugas untuk mengajak mereka kembali beriman kepada Allah Swt dan kembali menyembah Allah Swt inilah tugas KEKHALIFAHAN manusia yang sebenarnya. Tugas yang dulu ditolak oleh langit dan bumi. Dan tugas inilah yang dulu tidak diketahui oleh Iblis sehingga ia menentang perintah Allah untuk sujud kepada Adam As.

Sehingga dengan begitu, firman Allah bahwa “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” terbukti adanya. Bahwa ternyata tugas manusia itu adalah sebagai Khalifah Allah untuk mengajak Iblis dan konco-konconya untuk beriman kembali kepada Allah Swt. Sungguh betul ayat Al Quran yang mengatakan bahwa: “Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”

Perbedaan diatas menunjukkan bahwa Ahli Syariah dan Ahli Tasawuf adalah sangat berbeda. Seolah-olah mereka berada di dalam 2 Alam yang berasingan (terpisah). Dengan ini, maka:

i. Ahli Syariah merasa pelik melihat akan Ahli Tasawuf. Mereka sulit untuk menerima pandangan dan sikap dari Ahli Tasawuf.
ii. Dan Ahli Tasawuf pun sulit melihat Ahli Syariah dengan berkata, “Apa yang mereka tahu dengan keadaan yang sebenarnya!”. Maknanya, apa yang mereka (Ahli Syariah) tahu berkenaan Bidang Tasawuf. Lalu kesemua pandangan serta fatwa dari Ahli Syariah yang masuk ke dalam Bidang Tasawuf, akan ditolak oleh Ahli Tasawuf. Begitupun sebaliknya.

 

Q/A

Zainul:
Ayah, Zainul mohon izin bertanya Ayah. Pada massa Baginda dan sahabat, adakah terjadi dua perbedaan ini AS dan AT yang seolah oleh mereka berada di 2 alam yang berbeda, atau apakah terjadinya perbedaan ini selepas massa Baginda dan sahabat ?

Utd Hussien Abdul Latiff:
Pada Masa baginda dan para sahabat memang sudah ada 2 cabangan ini. Namun hubungan mereka sangat erat. Karena Ahli Tasawuf pada Masa itu beribadah sangat keras hanya untuk mendekati diri kepada Allah Swt serta mau menundukkan nafsu mereka. Namun begitu mereka tetap beroperasi di dalam kerangka Syariah. Oleh karena itu, mereka di hormati dan disegani oleh Ahli atau Ulama Syariah. Mereka ini dipanggil Ahli Tasawuf Awal seperti Al Sarah, Kalabadhi, Hujwiri, Junaidi Al Baghdadi, dan lain-lain.

Masalah baru timbul apabila Tarikat menjelma pada abad ke-3 Hijriah. Mereka membawa amalan-amalan yang tidak disenangi oleh Ulama Syariah (dan juga oleh Ahli Tasawuf Awal) seperti Hulul, Fahaman Wahdatul Wujud, Fahaman Nur Muhammad, Syatahat, Rabitah, dan lain-lain.

Pada masa itu juga, Ulama Syariah tidak mau lagi menerima dan menghormati Ahli Tasawuf secara umum (tidak dibedakan lagi antara Tasawuf dengan Tarikat), sehingga munculnya Imam Ghazali (ra) yang dapat mengeratkan kembali dan menjembatani jurang yang ada di antara Ahli Syariah dan Ahli Tasawuf. Namun apabila Iman Ghazali (ra) wafat, maka jurang itu timbul kembali.

Catatan YusDeka:
Sampai dengan zaman sekarang, tasawuf lalu disamakan orang dengan Tarekat. Karena memang setelah Imam Ghazali tidak ada lagi Ahli Tasawuf yang berhasil memurnikan Ilmu Tasawuf kembali kepangkal jalan, seperti Ilmu Tasawuf di zaman Nabi dan Sahabat. Sekarang ini tasawuf seakan-akan hanya bisa didekati melalui Fahaman Wahdatul Wujud, Fahaman Nur Muhammad, Syatahat, Rabitah, dan lain-lain.

Tapi Syukurlah sekarang sudah ada Arif Billah yang kembali memurnikan Ajaran Tasawuf seperti Tasawuf di zaman Nabi dan Sahabat. Beliau adalah Arif Billah Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff…

 

Selesai

Wassalamualaikum.

Read Full Post »

Disarikan dari beberapa Pengajaran Ustadz Hussien BA Latiff

Anakku yang diingati dan yang dirindui selalu.

AHLI SYARIAH [AS] dan AHLI TASAWUF (yang sudah mencapai makrifatullah=Mengenali Allah)
[AT] amat berbeda sekali satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan itu adalah seperti berikut:

  1. Pandangan:
    i. AS – Melihat kepada SIFAT. Oleh karena itu mereka melihat kepada RUPA. Pandangan mereka tidak mempunyai “Nafi & Isbat”.
    ii. AT – Melihat kepada HAKIKAT. Oleh karena itu mereka melihat kepada DZAT. Pandangan mereka senantiasa “Nafi & Isbat”
  2. Kewujudan:
    i. AS – Senantiasa melihat ada 2 kewujudan iaitu MAHKLUK dan TUHAN. Oleh karena itu mereka melihat akan kewujudan dirinya.
    ii. AT – Senantiasa melihat hanya pada satu kewujudan iaitu Dzat yang meliputi segala sesuatu termasuk Ruang dan Masa. Oleh karena itu mereka tahu bahwa dirinya tidak wujud.
  3. Perbuatan
    i. AS – semua adalah lakonan Mahkluk.
    ii. AT – semua adalah lakonan Dzat.
  4. Pilihan:
    i. AS – manusia mempunyai akal, oleh karena itu manusia BISA membuat pilihan.
    ii. AT – Tiada pilihan karena semua sudah ditakdirkan dan ketetapanNya tidak akan berubah. Oleh karena itu, RencanaNya teguh.
  5. Doa:
    i. AS – doa BISA merubahkan Nasib atau Takdir.
    ii. AT – DOA serta PERUBAHAN yang mengikutinya sudah ada di dalam Takdir (semenjak “Kun”). Doa hanya menunggu masa untuk terjadi. Maka seseorang itu bukan (bebas) berdoa tetapi ia hanya KENA untuk BERDOA.
  6. Perubahan:
    i. AS – berpendapat kalau Kalian tidak berusaha maka Allah swt tidak akan menolong Kalian. Maka usaha itulah yang bisa membawa kepada perubahan.
    ii. AT – usaha dan perubahan yang mengikutinya sudah ada dalam Takdir (semenjak “Kun”). Perubahan hanya menunggu masa untuk terjadi. Maka seseorang itu bukan (bebas) berusaha tetapi ia hanya KENA untuk BERUSAHA.
  7. Menghukum:
    i. AS – sentiasa menghukum seperti pahala/dosa, Neraka/Syurga dan sebagainya.
    ii. AT – tidak mau menghukum serta menyerah semua perkara kepada Kebijaksanaan Allah swt.
  8. Ibadah:
    i. AS – Fardhu dan Sunat.
    ii. AT – Fardhu tetap Fardhu, namun ibadah Sunat dilakukan seperti Fardhu juga. Misalnya selalu Shalat Malam Hari (Tahajud) serta Puasa Sunat di siang hari, kecuali 5 hari (2 hari raya dan 3 hari tasyrik). Seakan-akan shalat tahajud dan puasa sunah itu sudah menjadi sesuatu yang Fardhu bagi mereka. Begitu juga dengan ibadah-ibadah sunnah yang lain seperti: membaca Al Quran, sedekah, hidup Zuhud, hati mau menjadi baik, berpegang pada amalan-amalan syariat, dan sebenar takut kepada Allah Swt, adalah hal-hal yang sangat dijaga oleh mereka, seakan-akan semua itu adalah amalan yang Fardhu pula bagi mereka.
  9. Ganjaran:
    i. AS – sentiasa mengharapkan Pahala dan Syurga.
    ii. AT – sentiasa mau mendekatkan diri kepada Ilahi, menundukkan nafsu, serta redha dengan apa juga ketentuan-Nya di Hari Kemudian.
  10. Sudut Terjemahan Al Quran:

i. AS karena tidak mempunyai ilmu Tasawuf maka terjemahan mereka hanya bersandarkan kepada sudut yang DZAHIR saja. Contohnya:

a. Ayat “Aku Yang Zahir”. AS menerjemahkan fakta adanya ciptaan yang Zahir inilah yang membuktikan bahwa Pencipta itu ada.

b. Di mana kamu memandangkan di situ Aku ada. Atau, “Aku meliputi segala sesuatu”. AS menyatakan kewujudan yang ada ini membuktikan bahwa Pencipta itu ada.

c. Ayat “Aku Yang Maha Halus”. AS menyatakan diri Tuhan itu yang sangat Halus

d. Ayat “Allah Maha Tinggi, Maha Luas & Maha Besar”. AS hanya menyatakan Tinggi, Luas dan Besarnya Allah swt tidak dapat Kita bayangkan sama sekali. Oleh karena itu konsep “Maha” susah untuk mereka terangkan.

e. Ayat “Allah Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, Mengawasi”. AS hanya menyatakan ini adalah sifat-sifat Allah swt tetapi tidak diterangkan bagaimana Allah Maha Melihat, Mendengar, Mengaetahui, Mengawasi.

ii. AT, karena mereka sudah mempunyai Ilmu Tasawuf, maka mata mereka sudah menjadi sangat tajam untuk melihat kepada Hakaket Ciptaan yaitu Dzat (Dzatullah Yang Agung) tanpa mereka terjerumus ke dalam Pahaman Wahdatul Wujud (hulul, pantheisme, syatahat, dan sebagainya), atau Pahaman Nur Muhammad. Contohnya:

a. Ayat “Aku Yang Zahir, Aku Yang Batin”. AT sudah tahu bahwa Yang Dzahir dan Yang Batin dari Ciptaan itu adalah Dzat.

b. Di mana kamu memandangkan di situ Aku ada, AT sudah paham bahwa maksudnya itu adalah Dzat. Atau, “Aku meliputi segala sesuatu” maksudnya itu adalah Dzat.

c. Ayat “Aku Yang Maha Halus”. AT sudah paham itu adalah Dzat yang memang lebih halus dari atom.

d. Ayat “Allah Maha Tinggi, Maha Luas & Maha Besar”. AT sudah paham bahwa Dzat yang merupakan Wajibul Wujud bagi semua ciptaan adalah sangat kecil dibandingkan dengan Diri Allah Swt. Hanya sebesar sebiji pasir di padang pasir, atau seperti setetes air dilautan, atau lebih kecil dari biji sawi, atau dalam dunia science disebut partikel Tuhan (Higgs Boson).

Karena Dzat itu memang hanyalah sedikit Diri Allah yang telah dikenai-Nya dengan Firman Kun, sehingga dari sedikit Diri Allah itu kemudian terdzahir menjadi Dzat Wajibul Wujud bagi terciptanya semua ciptaan. Sehingga dengan mengenali Dzat Wajibul wujud yang sangat kecil, AT bisa melihat KEBENARAN akan Kebesaran, Kewujudan, dan Keesaan Allah Swt. Oleh karena itu konsep “Maha” sangat mudah untuk diterangkan.

e. Ayat “Allah Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, Mengawasi”. AT sudah paham bahwa tentu saja Allah Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, Mengawasi. Karena semua ciptaan ini Hakekatnya adalah Dzat-Nya sendiri. Bahwa Allah Swt Melihat, Mendengar, Mengetahui, Mengawasi melalui Dzat-Nya,

iii. AS hanya bisa menerjemahkan saja ayat Al Quran secara textual. Tetapi mereka tidak dapat menguraikan pencanggahan (Pertentangan) yang terdapat di antara Ayat-ayat dalam Al Quran. Contohnya:

a. Ayat “masuklah ke dalam Syurga yang KEKAL selama-lamanya” berlawan dengan ayat “masuklah ke dalam Syurga SELAGI masih ada langit dan bumi Syurga itu (tidak kekal)”. AS kebingungan untuk memahami dua ayat yang saling bertentangan ini. Karena bagi AS manusia itu KEKAL (selama-lamany) di dalam Syurga dan di dalam Neraka. Titik

b. Banyak ayat di dalam Al Quran mencegah manusia untuk berbuat kemungkaran. Namun dalam ayat lain dinyatakan bahwa Allah Swt yang mengilham kefasikan (kemungkaran). Juga kenapa Allah memerintahkan Khidir untuk membunuh seorang kanak-kanak. Kenapa Allah swt TIDAK berbuat sendiri untuk membunuh ayat itu.

 

Bersambung ke Bagian 2

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: