Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2013

JALAN MERAIH RIDHALLAH-2/2

Lalu selama dua puluh tahun berikutnya, tidak ada satupun yang Beliau lakukan dan ucapkan yang bukan berasal dari proses dialog Beliau dengan Allah seperti diatas. Pada saat-saat dibutuhkan untuk membahasakan kalimat-kalimat Allah itu kedalam bahasa Arab, maka Malaikat Jibril pun turun tangan membantu Beliau. Sehingga Al Qur’an itu tidak sedikitpun memuat persepsi Beliau sebagai seorang manusia. Al Qur’an itu murni kalimat-kalimat yang diturunkan (ANZALA) dari sisi Allah untuk seluruh umat manusia. Yang akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.

Dengan proses yang demikian itu, begitu pulalah cara Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Tentu saja bedanya ada. Kalau kepada Nabi-Nabi dan Rasulullah Allah bisa saja Berbicara Langsung, atau mengirimkan Wahyu, atau mengirim Malaikat kepada Beliau-Beliau. Kalau Kalau kepada para Siddiqin disebut TAHDIST seperti yang terjadi Pada Umar Bin Khattab. Berikutnya dengan cara IFHAM, AL BAYAN AL AM, AL BAYAN AL KHASUN, ISMA’. Dan yang terakhir adalah ILHAM, yang merupakan kadar komunikasi yang bisa kita tangkap sebagai orang yang BERIMAN kepada Allah. Cuma saja, semakin kuat iman kita, maka semakin kuat dan jelas pula ILHAM yang bisa kita tangkap ketika kita berdialog dengan Allah. Qad alhamahullah rusydahu bihasbi imanihim, Sungguh Allah yang memberi ILHAM kepada orang-orang yang beriman sesuai tingkat keimanannya, kata Nabi.

Walaupun berbeda begitu, pada prosesnya itu tetap ada kalimat-kalimat dari Allah yang turun, yang bisa ditangkap oleh dada kita, yang serupa mutu ayatnya dan berulang-ulang sejak zaman dahulu kala sampai sekarang ini, kemudian saat itu ada perubahan yang terjadi di dalam rohani dan tubuh kita. Tubuh kita merinding dan bergetar dengan sangat halus dan lembutnya (ada RIQQAH yang turun), kadang-kadang kita bisa menangis dan menyungkur karena takutnya kita kepada Allah, kemudian setelah itu tubuh kita dan hati kita diproses oleh Allah menjadi TALINU (tenang yang siap untuk diberi ilmu, siap untuk diberi tahu). Hanya orang yang bodoh saja yang bisa tidur dalam saat-saat begini. Karena saat itu berarti dia tidak mengalami proses seperti diatas.

Sebab, siapapun yang tidak mengalami hal seperti itu, artinya saat itu Allah tidak memberi petunjuk kepadanya (dia disesatkan oleh Allah), maka tidak ada seorangpun yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Keadaan tidak mampunya kita membaca petunjuk Allah ini disebut oleh Allah sebagai sebuah kesesatan yang nyata, seperti yang di sebutkan Allah dalam Az Zumar ayat 22. Dimana saat itu, hati kita gelap, mati, dan keras membatu. Karena didalamnya telah bercokol IBLIS.

Ya…, iblis telah membuat singasananya di dalam hati kita. Adanya iblis didalam hati kita itulah yang mengalangi cahaya Allah menembus hati kita, sehingga dada kita tidak mampu lagi menerima Islam. Karena Islam itu masuk kedalam dada kita bersamaan dengan cahaya Allah yang menerangi dada kita itu. Akibatnya proses pengajaran Allah seperti diatas tidak bisa terjadi pada diri kita. Makanya keadaan yang seperti itu disebut oleh Allah sebagai kesesatan yang nyata.

Lalu apa yang terjadi kalau Iblis sudah bersingasana didalam hati kita?.

Iblis itu akan menyebar bersama aliran darah kita, iblis itu akan menempati seluruh sel-sel tubuh kita, dia akan mengalir bersama pikiran kita, dia akan menempati penglihatan kita, pendengaran kita, perkataan-perkataan kita. Jadi hati kita adalah pintu masuk Iblis kedalam diri kita.

Lalu Iblis akan menghalangi kita untuk melakukan kebaikan. Dia akan memenuhi hati kita dengan berbagai perasaan WAS-WAS dan RAGU-RAGU. Dalam surat Al A’raf 201, cara Iblis menyesatkan kita itu adalah dengan memunculkan THAAIFUN (dibayang-bayangi dengan pikiran-pikiran jahat) di dalam alam pikiran kita. Makanya kalau sering muncul pikiran galau, bingung, panik, jorok, dan berbagai pikiran-pikiran buruk lainnya, hati-hatilah. Itu tandanya, boleh jadi, Iblis sedang berpesta pora di dalam hati kita. Tanda-tandanya adalah, hati kita dijadikan sempit oleh Allah. Walaupun kebenaran disampaikan kepada kita secara berkali-kali dan sangat jernih, namun tidak satupun yang bisa merubah kita menjadi lebih baik. Sehingga kita tidak bisa lagi melihat alam malakut. Kita buta dengan alam malakut. Kita tidak bisa lagi melihat keindahan RAUDAH, taman syurga yang ada didunia ini. Walaupun kita berkali-kali shalat di RAUDAH, tapi kita tidak bisa melihat taman syurga itu di dunia ini. Rasanya biasa saja. Kita menjadi buta.

Padahal barang siapa yang buta di dunia ini, maka dia akan buta pula diakhirat kelak. Barang siapa yang tuli di dunia ini, maka di akhirat kelak dia juga akan tuli. Barang siapa yang tidak bisa merasakan syurga di dunia ini, maka dia juga tidak akan merasakan syurga diakhirat kelak.

Kalau sudah begini, tanpa sadar kita telah berubah menjadi iblis benaran. Tapi iblis yang mempunyai jasad. Sehingga keburukan yang kita lakukan juga mempunyai daya penghancur yang sangat dahsyat di alam jasadiah. Dilawan bagaimanapun juga, kita tidak akan bisa melawannya. Walau kita dibantu oleh orang-orang sakti seperti yang ada di acara-acara TELEVISI itu. Sebab iblis juga meminta kekuatannya kepada Allah agar dia bisa menggoda kita sepanjang zaman.

Kenapa iblis sampai bisa bersingasana di dalam hati kita?.

Jawabannya juga telah di beritahu oleh Allah dalam surat Az Zukhruf ayat 36, bahwa barang siapa yang ya’syu, berpaling, dari ingat kepada Allah yang Maha Rahman, maka Allah akan segera mengirimkan dan menurunkan syetan kedalam hati kita, sehingga saat itu juga syetan itu telah menjadi qarin kita, sebagai sahabat karib yang menyertai kita kemana-mana. Karena kita bersahabat karib dengan iblis inilah yang membuat kita tidak bisa lagi melihat kesalahan-kesalahan kita seperti diatas.
Jadi logis sekali sebab musabab dari kejadian demi kejadian yang menimpa kita diterangkan oleh Allah di dalam Al Qur’an, dan juga dalam berbagai hadist yang dikemukakan oleh Rasulullah.

Bahkan untuk terapinya, juga sudah diberitahu oleh Allah dengan sangat gamblang, agar kita tidak capek-capek lagi mencari solusinya kesana kemari. Dalam surat Al A’raf 200-201 Allah menerangkan caranya, yang intinya adalah, jika syetan datang menggoda kita, maka segeralah kita berlindung kepada Allah. Karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui cara-cara yang tepat untuk merestorasi kesalahan-kesalahan kita itu. Dan dengan bersegeranya kita berlindung kepada Allah, maka segera saja kita akan melihat segala kesalahan-kesalah kita dengan jelas dan nyata.

Dengan bisanya kita melihat kesalah-kesalahan kita itu, artinya saat itu kita sudah terpisah dengan kesalahan-kesalahan kita itu. Ketika itu juga, akan terjadi lompatan rohani kita yang prosesnya seperti yang telah diterangkan diatas. Bergetar kulit kita dengan sangat lembut, lalu kita terharu dan menangis, adakalanya kita tersujud dan tersungkur dalam keharuan, lalu tenang dan lembut kulit dan hati kita (TALINU). Tenang yang menyelimuti. Sehingga kitapun bisa merasakan turunnya (INZAL) ILHAM kedalam dada kita. Misalnya, IMAN kita semakin bertambah kuat kepada Allah, dan bentuk-bentuk Ilham ketaqwaan yang lainnya.

Sederhana sekali sebenarnya proses restorasi jiwa kita, dari jiwa yang gelap, keras, dan mati menjadi jiwa yang terang benderang, lembut, dan lunak. Akan tetapi kesederhanaan itu jadi tersembunyi karena kebanyakan kita sudah tidak beriman lagi kepada Allah. Ya…, nestapa itu berawal karena kita tidak lagi yakin dengan Allah yang sama dengan Allah yang diyakini oleh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, Abu Bakar dan Para Sahabat Beliau, Ash habul Kahfi, Siti Maryam, dan Siti Hajar.

Ustad Abu Sangkan dalam sebuah wejangan Beliau menyatakan:
“Rasulullah hanya menginginkan kita percaya Allah berada sangat dekat, dan Maha Mendengar. Lalu berbicaralah dengan-Nya dan dengarkan jawaban-Nya melalui Ilham. Kegagalan kita dalam beragama karena kita tidak mengenal Allah dan tidak memahami ilham-Nya. Ilham itu tidak dapat diperoleh jika jiwa kita tidak bersih.

Inti jiwa yang bersih, adalah terbebasnya hati kita dari ketergantungan kepada selain Allah. Lepas total hanya kepada Allah yang Maha dekat. Mungkin kalimat-kalimat ini sudah sering kalian dengar sehingga kurang sakral lagi bagi kalian. Bagiku, bagi nabi, bagi Abu bakar, bagi ashabul kahfi, bagi siti maryam, bagi siti hajar, Allah benar-benar ada dan dekat sehingga kemana saja bersama Allah dan membuat hati sangat tenang karena ada kepastian pertolongan dan perlindungan. Allah bukan lambang sebuah agama, tetapi Allah adalah Tuhan Yang Maha Hidup dan Mendengar serta Melihat.

Meyakinkan hal ini kepada hati kitalah yang menjadi problem agama sejak dulu. Akibatnya agama kehilangan ruhnya. Padahal tujuan seluruh misi Rasul adalah mengenalkan Sang Maha Pencipta.

Coba kalian diam !!. Posisikan jiwamu meyakini bahwa Allah Mendengar dan Melihat. Tak perlu konsentrasi, berbisiklah, panggilah nama-Nya dan tundukkan jiwamu, sebab Tuhan didepanmu. Lihatlah dadamu, apa yang kalian rasakan. Sambutlah sentuhan rahmat-Nya, sentuhan sambutan perhatian-Nya. Aku ada disini bersamamu, jangan bersedih, la tahzan innallaha ma’ana. Dan rasakan rasa sakinah. Ini awal perkenalan dirimu dengan Tuhanmu. Selanjutnya jika keyakinanmu akan keberadaan Allah semakin kuat tidak bergoyang lagi, disitulah tempat para Nabi meminta dan berkomunikasi. Aku menjadi saksi atas kebenaran para nabi itu. Kepercayaanku kepada Allah makin jelas, aku sekarang makin punya Tuhan, aku mulai bersama-Nya setelah merasakan kebenaran-Nya. Aku makin merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.

Inilah tempat kita, tempat para Auliya berkumpul disaat “tahiyyat”, kita satu rumah. Kalian akan keluar dari rumah ini jika kalian tidak memahami ilham yang dibisikkan. Keadaan ini Qad Alhamahullah rusydahu bihasbi imanihim. Sungguh Allah yang memberi ilham kepada orang beriman sesuai tingkat keimanannya.

Tolong kalian pegang ilmu ini sebagaimana para Ashabul Kahfi dan Para Rasul. Karena ilmu sudah langka, agama yang ada dijaman kita tidak mengenalkan Allah sebagai tempat berlindung dan meminta. Allah hanya sebagai lambang yang diperjuangkan, bukan sebagai Tuhan.

Kalau Allah tidak menghendaki membuka hati kita, maka Allah menyempitkan hati kita, walaupun kebenaran itu datang bertubi-tubi”.

Subhanallah…, sungguh sangat jelas dan gamblang sekali wejangan Ustadz Abu Sangkan ini.

Dan proses tadzkiyatunnafs seperti inilah yang harus kita asah setiap hari, baik di dalam Uzlah, maupun di dalam setiap shalat kita, dan di saat-saat kita bekerja, berjalan, berdiri, duduk, serta tidur-tiduran. Sampai kita mendapatkan ketetapan yang sudah tidak tergoyahkan lagi. Bahwa tidak ada lagi halangan (hijab) apapun juga antara kita dengan Allah.

Jadi dalam hal ini, tidak ada itu yang namanya proses jalan-jalan dulu ke Alam Astral seperti yang dilakukan oleh orang-orang dalam berbagai praktek meditasi atau yoga.

Demikian, bahasa tertulis yang bisa saya rangkum sebisa saya bu Yasmin. Sedangkan prakteknya tentu jauh lebih sederhana dan lebih singkat dari uraian kata-kata seperti ini.

Bagi siapapun yang mau menambahinya silahkan…

Wallahu a’lam.

Wassalam
Deka.

Iklan

Read Full Post »

Dari Ibu Yasmin…

Subhanallaah …….Alhamdulillah ……Allahu Akbar ….. tadi malam atas ijin Allah diperkenankanNYA tuk hadir ditengah-tengah jama’ah anak buahnya Ust. Abu Sangkan,.. (si Ust.anu …./maaf aku tidak bisa menyebut namanya), padahal sebelumnya aku sudah bertekat tidak mau lagi berada dilingkungan seperti itu karena ketakutanku pada gerak dan diamku yang sering kali tidak dapat diterima oleh orang-orang yang belum mengenalku. Tapi lagi-lagi aku tidak berdaya bila kehendakNYA sudah berlaku.

Pembelajaran yang dapat aku saksikan langsung pada anak buahnya Ust. Abu Sangkan, yang selama ini aku hanya bisa, lewat mendengar, lewat membaca dari tulisan-tulisan beliau, tidak jauh beda dengan ungkapanku selama ini kepada teman-temanku ketika mereka minta pendapatku tentang Ust.Abu Sangkan dan anak-anak buahnya serta pemahaman ilmu yang beliau-beliau bawakan, selalu aku katakan bahwa semua niat apapun, keinginan apapun mendapat jalan… namun yang sulit diraih adalah ridho. Baik ridho Allah maupun ridho mahkluk-NYA.

Ini terbukti ketika Ust. Anu atau anak buahnya Ust. Abu Sangkan mengajak jama’ahnya latihan khusu’ menghadap Allah, 15 menit berjalan aku perhatikan satu persatu jamaah yang hadir, ada yang menangis, ada yang tersedu-sedu, ada yang meraung, ada yang berdesah-desah, dan yang lebih parah lagi ada yang tertidur pulas…. harus berapa lama kah latihan seperti ini bila keadaannya seperti itu ?!

Untuk itu saya menyarankankan kepada pak Deka bukalah ilmu mu tentang BAGAIMANA JALAN MERAIH RIDHO ALLAH SWT DAN RIDHO MAKHLUKNYA (jalan ruh/jiwa bukan jalannya jasat) agar mereka sampai dengan mudah kepada Allah dan melihat Allah SWT. Aamiin.

Yasmin…

—-&&&—-

Respon Singkat Deka:

Sungguh ungkapan yang ibu sampaikan ini, adalah kegalauan dan pertanyaan yang selalu menggumpal di dalam dada seluruh umat manusia, baik ungkapan itu sampai terucapkan ataupun itu tetap tinggal menjadi beban yang memberati dada kita sepanjang hayat. Sebab jauh dilubuk hati setiap manusia, kita sangat merindukan sebuah suasana yang digambarkan oleh ayat Al Qur’an:

Wahai jiwa yang tenang, MUTHMAINNAH. Kembalilah kepada Tuhanmu, RAADHIYATAN MARDHIYYATAN, dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam JAMA’AH hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kedalam SURGA-KU. (Al Fajar 28-30).

Tidak bisanya kita memahami dan memasuki realitas dari ke 3 ayat diataslah yang menyebabkan kita selalu berada dalam kegalauan dan pertanyaan-pertanyaan tiada henti tentang apa yang telah kita dapatkan setelah sekian lama kita menjalankan syariat agama.

Misalnya, kita masih bingung dengan istilah Nafs, Jiwa, Ruhani, Batin, Hati, Ruh, Raga, sehingga kita pun bingung pula dengan istilah Nafs Muthmainnah, Nafs Mulhammah, Nafs Lawwamah, Nafs Ammarah. Karena bingung itu, kitapun jadi tercampur baur dalam memahami istilah-istilah dan praktek-praktek penyucian jiwa atau tadzkiyatunnafs menurut ajaran Islam dengan istilah-istilah dan praktek-praktek lain yang berkembang luas saat ini, yang berasal dari ajaran agama-agama lain, maupun yang berasal dari pengaruh perkembangan ilmu PSIKOLOGI dan gerakan NEW AGE MOVEMENT yang memang tumbuh dengan sangat cepat dan menggurita berkat adanya sistem informasi global yang sangat luar biasa saat ini.

Kebingungan kita yang berikutnya adalah gagalnya kita untuk memahami istilah KEMBALI kepada Allah, MI’RAJ, dengan baik dan benar. Karena memang pemahaman kita tentang kembali kepada Allah itu telah tercampur baur dengan istilah-istilah PERJALANAN ASTRAL yang dilakukan oleh berbagai MEDITOR yang induknya adalah praktek ibadah dalam Agama Hindu dan Budha, ataupun melalui kisah OBE (Out of Body Experience) dan NDE (Near Death Experience) yang sering dicerita-ceritakan orang di berbagai media masa ataupun pengajian-pengajian.

Karena cara kembali yang salah, maka alamat yang kita tujupun salah. Kita tidak berhasil mengaktualisasikan “Inni wajjahtu wajhiya…”, yang kita ulang-ulang dalam bacaan shalat kita, sehingga kitapun gagal pula untuk memahami jawaban dari Allah berupa bahasa ilham yang diturunkan oleh Allah kedalam dada kita. Sebab Ilham itu bukanlah berupa “pikiran pertama” yang muncul di benak kita ketika kita melakukan proses berdzikir. Bukan.

Ilham itu ada proses turunnya, ada prakondisi awalnya, ada rasa turunnya, ada keadaan yang mengikutinya, ada proses perubahan rohaniah dan lahiriah yang terjadi, dan pada akhirnya ada kemantapan yang tidak bisa digoyahkan lagi tentang sesuatu. Jadi Ilham itu bukan berupa kilatan pikiran pertama seperti anggapan sementara orang selama ini, ketika mereka mengaku sudah berada pada keadaan tidak berpikir. Bukan…!. lha…,Ilham kok pikiran.

Bahkan kitapun kurang bisa lagi memahami makna RADHIYAH dan MARDHIYAH, sebagaimana tidak bisanya kita memaknai kata “jama’ah hamba-hamba Allah” dan “Surga Allah”, hanya karena kemiskinan bahasa-bahasa manusia yang memang tidak akan pernah bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari semua istilah diatas.

Jadi kalau kita bergelut dengan bahasa tulisan, ya akan begitu-begitu saja. Tapi Rasulullah mengajarkannya dengan cara-cara praktek yang sangat aktual dan faktual yang dalam istilah Al qur’an disebut sebagai TADZKIYATUNNAFS. Salah satunya, yang sekarang ini seperti disepelekan orang, yaitu UZLAH. Yaitu proses meninggalkan semua aktifitas kenikmatan dunia untuk beberapa waktu lamanya, untuk kemudian kita melakukan komunikasi dan dialog langsung secara intens dengan Allah.

Selama uzlah itu kita bukannya asyik wiridan menyebut nama Allah dan dzikir-dzikir lainnya sebanyak ribuan kali, bukan membaca al Qur’an berlembar-lembar, bukan berdoa sampai mulut berbuih, bukan shalat berakaat-rakaat. Kita bukan pula melakukan meditasi untuk menenang-nenangkankan pikiran kita, atau melupa-lupakan masalah-masalah kita, bukan duduk tenang dan mengatur-ngatur nafas kita seperti orang yang sedang berlatih yoga, bukan mengatur-ngatur perasaan, bukan mengatur-ngatur kalimat-kalimat motivasi positif, bukan mengucapkan kata-kata auto sugestif seperti yang dilakukan orang dalam praktek-praktek hipnoterapi. Bukan…!.

Sebab semua yang bukan-bukan tadi itu bisa dilakukan oleh semua orang kok. Tidak pandang bulu apa agama dan kepercayaannya. Orang atheispun bisa melakukannya dengan sangat sempurna, dan hasilnya pasti akan sama. Pikiran kita bisa jadi tenang, perasaan kita bisa menjadi berbahagia, bekerja kita bisa jadi tambah bersemangat. Dan setelah itu siap-siaplah kita menjadi orang yang mengganggap bahwa semua agama adalah sama, seperti yang saat ini sangat gencar digaungkan oleh aliran New Age Movement yang mengimbas kepada seluruh agama-agama yang ada.

UZLAH yang dilakukan oleh Rasulullah di Gua Hira prosesnya sangat berbeda dengan semua yang bukan-bukan diatas. Beliau datang menghadap Allah dengan membawa segala persoalan umat yang Beliau hadapi. Beliau datang kepada Allah dengan kapasitas Beliau sebagai seorang hamba yang siap untuk diberi tugas oleh Allah. Beliau siap untuk diberi petunjuk oleh Allah. Beliau siap untuk diberitahu oleh Allah. Beliau hanya menghadapkan wajah Beliau kepada Wajah Allah, “Inni wajjahtu wajhiya…”, lalu Beliau berdialog dengan Allah, Beliau mengadu kepada Allah, Beliau merendah kepada Allah, Beliau sujud kepada Allah, Beliau memuja kepada Allah, Beliau minta petunjuk kepada Allah, Beliau minta tuntunan kepada Allah.

Karena Beliau berdialog dengan Allah, seperti di gambarkan oleh Al Qur’an di dalam surat Az Zumar 23, maka ada bahasa yang mengalir turun dari Allah kepada Beliau. Ada kalimat-kalimat Allah, yang paling baik, turun kepada Beliau, berulang-ulang, dan serupa mutunya. Setiap kalimat itu turun, gemetar kulit Beliau, karena saking takutnya Beliau kepada Allah. Kemudian setelah itu kulit Beliau dan hati Beliau menjadi TALINU. Secara bahasa talinu ini berarti tenang. Tapi tenangnya bukan tenang ala ZERO MIND. Bukan…!. Tenangnya itu tenang yang siap untuk turunnya Al Qur’an.

Ya Allah…, subhanallah…, subhanallah…, subhanallah…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Ini adalah sebuah sharing dari seorang sahabat saya (seorang wanita) tentang bagaimana dia mulai melangkah untuk mengenalkan Allah kepada orang-orang baru yang datang kerumahnya. Ternyata tidak sulit. Sungguh dia telah mulai menjalani tugas barunya, sebagai seorang waliyullah wanita. Alhamdulillah…

INILAH SHARING BELIAU ….
”Subhanallaaaah……pemahamanku mengenai muridNYA insya Allah tidak salah.

Kutulis ini agar aku dapat mengingatnya kembali.

Awalnya ngak ada keberanianku untuk membuka halaqah dirumah, siapa aku…? Ilmu apa yang kumiliki…? Ngak ada dibenakku untuk menjadi guru spiritual…..untuk didatangi jamaah…….ngeri bertanggung jawab atas ilmu yang harus kusampaikan…….

Karena kepatuhanku terhadap guru2ku, dengan Bismillahirahmanirahim…kubuka rumahku, ku terima tugas dariNYA…..

Halaqah yang kemarin berkesan sekali untuk ku……didatangi sahabat yang belum pernah kukenal…….

Saat halaqah dengan teman2 yang kita kenal….mudah untuk menyampaikan dan belajar bersama, tapi dengan orang2 baru…sulit karena tidak tau harus dimulai dari mana….

Kubiarkan kami berbicara awalnya, lalu kutanyakan sampai mana pemahaman mereka, sembari kuterus silatun dengan Allah…….dalam hati kecilku kubermohon…….

Yaa Allah………. KAU kirim mereka kerumahku, aku bukan siapa2, ijinkan mereka untuk mengenalMU……..Allaaaaah…….kurayu dalam hatiku………

Subhanallaaah……..dengan ketundukanku padaNYA ……

ketundukan mereka padaNYA……..
kutinggalkan akalku, mauku, nafsuku…..

ku bermohon hanya padaNYA,

kuhantar mereka ke pintuNYA……
maka tidak ada lagi aku, tidak ada lagi mereka….hanya satu jiwa yg ingin dekat denganNYA………

AKU yang membukakan hati mereka….

AKU yang mengajari mereka……….

ikut AKU maka kamu akan menjadi pengelihatanKU,
menjadi pendengaranKU,
menjadi lakuKU…………………..
tinggalkan semua ilmumu….
tunduk dan berserahlah pada KU……….

Yaa Allah……Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in…. Ihdina shirrattal mustaqim… Shirattal ladzi na an’am ta ‘alaihim… Wa ladhalliin………………

Amiin……
Yaa Rabbal Alamiiin……..

Pemahaman itu turun dengan derasnya, difahamkanNYA aku…..siapapun yg mengajarimu, siapapun dihadapanmu….ketika dia mengajak untuk ke Allah, tunduk, ikuti…..maka tidak ada hambatan, ketakutan, kegelisahan…….jika kamu mendekat selangkah, maka AKU berlari menangkapmu……
yaa Allah…………..

Subhanallaaah…….alam semestapun turut menghantar, dari mulai gerah panas, sampai bresss turunnya hujan yang deras……sampai ditenangkanNYA suasana disekitar kami, seolah turut turun tunduk, mengikuti mauNYA……..
Allahu Akbar………………….”

Wassalam,
Deka on behalf HRSA

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: