Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2015

NUANSA TAMAN LARANGAN…

Kalau kita membaca ayat 27-30 surat Al Fajr mulai dari ayat 30 lalu kembali ke ayat 27, maka kita akan mendapati sebuah KABAR GEMBIRA dari Allah buat seluruh UMAT MANUSIA. Bahwa ADA sebuah TEMPAT yang dinamakan oleh Allah sendiri sebagai JANNATI (Syurga-Ku). Di dalamnya di huni melulu oleh hamba-hamba-Ku (Orang-orang Allah). Tidak ada penghuni lain selain mereka. Ciri-ciri kehidupan mereka adalah bahwa antara mereka dan Allah sudah terjalin hubungan yang saling Ridha dan Meridhai. Mereka benar-benar telah merasakan bahwa Allah telah Ridha kepada mereka. Dan merekapan telah Ridho pula kepada Allah. Sehingga JIWA merekapun menjadi TENTERAM dan TENANG…

Allah tidak mengatakan bahwa JANNATI itu adanya nanti hanya di AKHIRAT. Tapi Allah menyebutkannya sebagi sebuah TEMPAT yang berlaku secara UMUM. Artinya tempat itu bisa ada Di DUNIA saat ini dan bisa pula ada DI KHIRAT kelak. Dua-duanya…

Penghuni JANNATI itu adalah orang-orang yang sudah TIDAK mempunyai masalah lagi dengan Allah, walau sedikitpun. Mereka telah MENYERAH bulat-bulat terhadap setiap KETETAPAN dan KETENTUAN Allah yang telah Allah buatkan untuk mereka maupun untuk semua ciptaan Allah yang lainnya. Jiwa mereka sudah TIDAK BERKOCAK dalam menghadapi berbagai hantaman dan Problematika Kehidupan.

Mereka sudah TIDAK BERGADUH sedikitpun dengan ALLAH dan dengan siapapun juga. Sebab mereka sudah tahu dan paham tentang RAHASIA disebalik segala yang BERLAKU. Bahwa:

• Allah swt adalah Dzat Yang Maha Bijaksana.
• Semua yang Dia buat ada hikmahnya.
• Semua adalah Hak-Nya.
• Semua adalah Dzat-Nya.
• Dia berbuat segala sesuatu terhadap Sedikit dari Dzat-Nya Sendiri.
• Mereka pada hakekatnya adalah tidak wujud.

Melihat kenyataan yang tak terbantahkan itu, jiwa mereka segera saja menyungkur seraya berucap “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Mereka sudah menyadari akan ketiadaan mereka. Ya…, mereka telah mati sebelum mati. Mereka “berkafankan” dan berselimutkan Dzat-Nya yang sejumput…

Sehingga JIWA (AN NAFS) merekapun segera saja menjadi SANGAT TENTERAM dan TENANG… Nafsul Muthma’innah…. Karena mereka sudah bersedia untuk MENYERAH dan RIDHA…

Mereka telah mendapatkan TEMPAT BERGANTUNG yang tidak ada lagi tempat bergantung yang lebih baik dari itu. Mereka telah bergantung TOTAL kepada ALLAH…, sehingga mereka SANGAT LAYAK untuk berkata kepada Allah:

• Inna shalati…
• Wanusuki…
• Wamahyaaya…
• Wamamaati…
• Lillahi rabbil ‘alamiin…

Sungguh…, semua shalat dan ibadah-ibadah mereka yang lain, segala romantika kehidupan dan kematian yang sedang dan yang akan mereka LAKONI, semata-mata hanya mereka dedikasikan sebagai Jalan Pengabdian mereka kepada Allah. Karena mereka semata-mata hanyalah Khalifah bagi Allah untuk merealisasikan Rencana-rancana Allah yang tidak bisa dipikul dan dilaksanakan oleh langit, bumi, dan gunung-gunung.

Oleh sebab itu, KEBERADAAN mereka akan meninggalkan BEKAS. Gerakan KAKI mereka akan membentuk jejak-jejak PERADABAN. TANGAN mereka akan berlimpah dengan KEMANFAATAN. Lidah mereka akan menaburkan KESEJUKAN. Sorot mata mereka akan merekahkan KETEDUHAN dan KESUKACITAAN.

KEGEMBIRAAN dan KESUKACITAAN itu akan bertaburan saat dan dimanapun mereka berada. Sebaliknya, KESUNYIAN dan KEHAMPAAN akan terasa sangat menggigit saat mereka sudah TIADA. Keberadaan maupun ketidakberadaan mereka benar-benar terasa bagi Alam. Karena mereka memang adalah Rahmatan Lil alamin. Petugas Allah untuk menyalurkan berbagai Rahmat Allah untuk Semesta Alam.

Bersambung

Read Full Post »

Untuk masuk kedalam wilayah kehidupan orang-orang Allah, kita terlebih dahulu harus tahu bagaimana KEADAAN atau HAL yang sedang dialami oleh orang-orang Allah itu, dimana tempatnya, dan bagaimana caranya agar kita bisa sampai masuk ke tempat itu yang penghuninya semata-mata adalah orang-orang Allah, dan apa saja yang dilakukan oleh mereka setiap saat untuk mengisi hari-hari mereka sebagai orang-orang Allah.

Ya Allah…, izinkanlah hamba Ya Allah….
Bismillahirrahmanirrahim…

Allah memanggil orang-orang-Nya sebagai orang-orang yang sudah mempunyai Jiwa Yang Tenang (Nafsul Muthamainnah).

Wahai Jiwa yang Tenang/Tenteram (Nafsul Muthaminnah)…
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan Ridha dan di Ridhai Tuhanmu…
Maka masuklah kamu kedalam golongan orang-orang-Ku (hamba-hamba-Ku)…
Dan Masuklah ke dalam syurga-Ku (Jannati).
Al Fajr (89): 27-30.

Jiwa yang Tenang atau Jiwa yang Tenteram (Nafsul Muthmainnah) adalah adalah sebuah Prasyarat Utama yang harus kita capai sebelum kita bisa dipanggil oleh Allah sebagai orang-orang Allah. Sebab hanya dan hanya orang-orang yang Jiwanya sudah Tenteram dan sudah Tenang sajalah yang akan bisa RIDHA atau MENYERAH dan MENERIMA apapun juga KETETAPAN Allah yang datang dan pergi menimpanya.

“Dan aku (Muhammad, SAW) diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama BERSERAH DIRI kepada Allah”, Az Zumar (39): 12 dan Al Anaam (6): 14.

Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan tentang bagaimana cara Beliau bereaksi dalam setiap keadaan dan situasi yang berlaku selama Beliau hidup sebagai seorang Rasullullah. Beliau selalu memegang erat keyakinan bahwa Kemulyaan adalah Milik Allah, Kedaulatan adalah Milik Allah, Kebesaran adalah Milik Allah.

Keyakinan itu tidak pernah Beliau langgar walau dengan resiko apapun juga. Walau ada saatnya Beliau dihina, disiksa, difitnah, dan diperangi, dan bahkan mau dibunuh akibat dari keyakinan Beliau itu, namun bagi Beliau Allah tetaplah tidak berkurang Kemulyaan, Kebesaran, dan Kedaulatan-Nya. Beliau tidak pernah bergaduh dengan Allah mengenai keadaan dan kejadian-kejadian yang memberatkan diri Beliau itu, karena Beliau sudah tahu dan paham tentang RAHASIA disebalik segala yang BERLAKU… Bahwa:

Walau kadangkala airmata Beliau jatuh berderai-derai akibat penderitaan Beliau itu, tetapi Beliau tetap berpegang teguh kepada Allah… Karena bagi Beliau hanya Allahlah tempat BERGANTUNG dan BERSANDAR (Allahush Shammad) Beliau dari segala keadaan yang menimpa Beliau.

“… Wa’tashimubillahi hua maulaakum…, fani’mal maulaa wa ni’man nashiir… (Berpegang teguhlah kamu kepada Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong)”, Al Hajj (22): 78.

Sejak berbilang zaman yang lalu, semua orang sebenarnya ingin MENIRU dan MENYONTOH aktifitas-aktifitas yang Beliau lakukan untuk mendapatkan keadaan demi keadaan seperti yang Beliau dapatkan selama Beliau menjalani kehidupan Beliau sebagai seorang Rasulullah sampai dengan Beliau Wafat.

Pada zaman Beliau, kemudian di zaman Khalifah yang Empat, sampai ke zaman Tabi’in dan zaman Tabi’ut Tabi’in Ra, proses meniru dan menyontoh aktifitas-aktifitas Rasululllah itu belumlah mengalami DISTORSI yang berarti. Walaupun di sana-sini sempat juga terjadi gesekan-gesekan, namun secara garis besar perjalanan umat saat itu masih “on the track”. Saat itu masih banyak orang-orang yang mendapatkan jiwanya TENANG dan TENTERAM sebagai ciri-ciri dari predikat golongan orang-orang Allah. Mereka memang tidak menjadi Nabi, sebab Muhammad SAW adalah Rasul Allah yang terakhir. Tetapi sebagian besar mereka termasuk kepada golongan orang-orang Allah yang akan selalu bersama Nabi di dalam “Taman Larangan Raja dari segala Raja” (Jannati), baik di dunia maupun di akhirat.

Bersambung…

Read Full Post »

Sang Raja mempunyai jangkauan kekuasaannya yang meliputi seluruh Negara yang berada di dalam wilayah kekuasaannya. Rentang pengaturan, perencanaan, pembangunan, penghancuran, pembinaan, penghukuman yang dia miliki meliputi seluruh wilayah negara yang dia kuasai.

Sesekali sang Raja menyuruh orang-orangnya itu untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu sesuai dengan tugas dan keahlian masing-masing orangnya itu. Begitu disuruh Raja, mereka segera bergegas menjalankan tugas itu dengan membawa semangat penuh, membawa amanah penuh, membawa bekal atau akomodasi penuh. Sebab yang menyuruh mereka adalah Raja yang mempunyai semua fasilitas, mempunyai semua otoritas, dan mempunyai semua akomodasi.

Akan tetapi, dalam menjalankan seberat dan sekeras apapun pekerjaan mereka itu, dalam menjalankan tugas mereka itu, mereka tetap selalu menjaga Kesambungan dan Komunikasinya dengan Raja yang menyuruhnya untuk melaksanakan tugas itu. Sebab tugas itu hanya tugas sementara dan sebentar saja sifatnya. Sakit dan susah, mereka adukan kepada Rajanya. Senang dan gembira, mereka juga sampaikan kepada Rajanya.

Dalam menjalankan tugas itu, mereka tidak memalingkan wajah mereka sedikitpun kepada pintu-pintu lain disekitar mereka yang di dalamnya sedang melambai-lambai rayuan agar mereka singgah sejenak untuk mereguk kenikmatan sesaat hawa nafsu mereka. Mereka tetap istiqamah dalam Menjaga kesambungan Komunikasi mereka dengan Rajanya.

Setelah selesai menjalankan tugas, mereka segera bergegas kembali masuk ke dalam Taman Larangan Istana untuk menunggu dan menunggu tugas-tugas berikutnya dari Rajanya. Mereka tidak akan keluar kalau tidak di suruh oleh Raja. Kalaupun mata mereka sesekali melihat keluar Pagar Taman Larangan Istana, mereka hanya melihatnya sebagai pandangan Orang Luar saja terhadap apa-apa yang terjadi diluar Taman larangan itu. Mereka tidak terpengaruh, mereka tidak berkocak, mereka tidak bertanya-tanya kenapa…, kenapa… Mulut mereka telah terkunci mati untuk menyoal apa-apa yang diluar urusan mereka.

Karena mereka sudah paham pula bahwa di luar itu adalah Urusan Raja untuk menyelesaikannya dengan cara yang mungkin mereka tidak ketahui. Diluar sana, untuk mengimbangi kejahatan, Raja juga sudah menugaskan aparatnya yang akan selalu bertugas untuk menegakkan hukum. Ada Jaksa, polisi, hakim, dan penegak hukum lainnya yang dalam tugasnya akan selalu berbenturan dengan kejahatan.

Untuk mengimbangi kebodohan, Raja akan mengutus para guru yang tugasnya adalah untuk meningkatkan kualitas AKAL dan PENALARAN umat manusia dari generasi ke generasi. Ada guru, dosen, Profesor, dan pembimbing perubahan paradigma berpikir dalam bidang-bidang lainnya yang berguna untuk pembangunan peradaban manusia.

Untuk mengimbangi penyakit, Raja akan mengutus para dokter yang akan bertugas mengalahkan berbagai sumber penyakit, sehingga rakyatnya bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan tanpa halangan.

Nah…, orang-orang Raja yang berada di Dalam Taman Larang Istana, dalam melihat semua kejadian diluar pagar Taman Larangan itu, mereka sudah kehilangan Pandangan Subyektifitas mereka. Karena mereka memang sadar bahwa tiada sedikitpun hak mereka untuk berkata-kata tentang semua kejadian dan peristiwa-peristiwa itu.

Bagi mereka cukup berada di dalam Taman Larang Istana, menunggu tugas-tugas yang akan diberikan oleh Raja kepada mereka. Karena mereka memang hanyalah sekedar orang-orang Raja, yang sudah tidak memerlukan siapa-siapa lagi kecuali Raja yang mereka cintai, dan Raja mereka juga mencintai mereka. Mereka Ridha dengan Raja mereka dan Raja mereka juga Ridha kepada mereka…

Itulah sekilas pembuka kata tentang orang-orang Raja, sebelum kita berbicara tentang orang-orang Allah. Sebab keduanya ada kemiripan yang bisa diambil sebagai bahan untuk pengandaian agar mudah untuk dimengerti.

Bersambung

Read Full Post »

Di dalam sebuah negara, kita sering mendengar istilah-istilah seperti “orang-orang Capres X (x’ers)”, “orang-orang Capres Y (y’ers)”, “orang-orang ex Presiden B (b’ers)”. Begitu juga di tingkat Menteri, Gubernur, Walikota, sampai ke level yang terendah (RT), mereka masing-masing mempunyai “orang-orang mereka” pula. Di dalam sebuah perusahaan pun ada istilah orang-orangnya Dirut Lama atau orang-orangnya Dirut Baru.

Di dalam sebuah negera yang sistem pemerintahannya adalah Kerajaan, orang-orang Raja artinya adalah orang-orang yang sudah rela untuk mengabdikan diri dan kehidupannya kepada Raja hampir seratus persen, misalnya seorang Ajudan Raja, Pengawal Raja, dan sebagainya. Mereka akan menjaga semua aktifitas dan tindakan mereka demi untuk menyenangkan Sang Raja. Mereka tidak mau berjauhan dengan Raja.

Kalau Raja tinggal di sebuah istana, maka mereka akan tinggal di “Taman Larangan Istana”, yang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang. Taman itu tidak berjauhan dengan Istana. Batas antara Istana dan Taman Larangan itu adalah dinding yang PINTUNYA sesekali saja bisa terbuka untuk Raja bisa memanggil mereka untuk melaksanan suatu keperluan Raja. Taman Larangan itu adalah Base Camp terakhir mereka sebelum mereka bisa bertemu dengan Raja. Disana mereka menunggu dan menunggu arahan demi arahan dari Raja untuk mereka kerjakan dengan bergegas dan penuh semangat.

Mereka adalah orang-orang khusus. Orang-orang yang hanya membaktikan hidupnya untuk Raja. Ingatan mereka dipenuhi dengan Ingatan kepada Raja. Anak dan istri mereka malah seperti hampir selalu berada diluar ingatan mereka. Mereka seperti hanya memikul satu ingatan saja, yaitu ingatan kepada Raja sepanjang hari.

Mereka begitu CINTA kepada Raja mereka dengan ditandai oleh rasa TAKUT mereka untuk kehilangan Raja mereka itu akibat digulingkan oleh Raja lain, misalnya. Sebab dengan turunnya Raja dari jabatannya, maka jabatan mereka sebagai orang-orang Raja juga akan sangat lemah dan mudah dicabut kembali oleh Raja yang baru.

Mereka akan menunggu dengan sabar panggilan-panggilan Raja kalau-kalau Raja membutuhkannya untuk melakukan sesuatu. Mereka akan melakukan apapun juga tugas dari Raja. Kadangkala mereka disuruh Raja kesana kemari untuk menyampaikan sesuatu atas nama Raja. Kalau bercerita kepada orang lain, mereka akan menceritakan betapa baiknya sang Raja. Mereka akan membesar-besarkan Raja. Mereka akan melihat semua yang dilakukan Raja kepadanya, walaupun itu melelahkan dan membuat tubuh mereka sakit, itu adalah tugas atau ujian belaka dari Raja bagi mereka.

Kalau ada orang lain yang berada diluar Taman Larangan Istana itu yang ikut-ikutan menunggu untuk disapa dan di panggil oleh Raja, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan mendapatkan kesempatan yang sangat kecil untuk itu. Walau mereka melakukan berbagai kegiatan untuk menarik perhatian Raja, mereka berlelah-lelah, mereka berteriak-teriak, mereka membuat suara-suara yang menghiba-hiba, boleh jadi mereka akan tetap didiamkan oleh Raja. Sebab mereka belumlah tergolong pada kelompok orang-orang Raja.

Apalagi kalau orang lain itu berada sangat jauh di luar Taman Larangan Istana, mereka hanyalah sekedar partisan, atau orang yang sedang bermimpi, atau bahkan gila. Mereka berbicara sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri. Mereka seperti tidak punya tempat berpegangan dan berpaut dalam mengarungi terjalnya jalan kehidupan mereka.

Kalaupun mereka tahu bahwa pada kehidupan yang dekat dengan Istana Raja, yaitu Taman Larangan Istana, adalah tempat bagi kehidupan yang sangat tenteram, mereka tidak menemukan jalan untuk pergi mendekati Taman Larangan itu. Karena dalam pandangan mata mereka, dihadapan mereka masih terbentang begitu banyak JALAN atau PINTU LAIN yang sekilas terlihat lebih menerbitkan selera untuk mereka masuki.

Dalam pandangan mata mereka, jalan dibalik pintu-pintu lain itu kelihatan lebih berwarna-warni, lebih gegap gempita, lebih semerbak harum, lebih riuh rendah, lebih memanjakan Hawa Nafsu mereka yang memang ingin liar bergerak dan berlari kesana kemari. Tapi mereka TIDAK mengetahui bahwa hanya ada SATU JALAN atau SATU PINTU saja yang bisa membawa mereka untuk masuk ke Taman Larangan Istana itu. Yaitu pintu Taman Larangan Istana, yang didalamnya hanya ada satu kegiatan saja, yaitu kegiatan Menjaga KESAMBUNGAN dan KOMUNIKASI mereka, yang berada di dalam Taman Larangan, dengan Sang Raja yang berada Di Dalam Istananya di balik Pagar Taman Larangan. Mereka yang berjauhan dengan Taman Larangan Istana tidak mengetahui itu.

Bersambung

Read Full Post »

Mereka benar-benar sudah kehilangan pandangan SUBYEKTIFITAS mereka untuk berkata-kata dan untuk bertindak. Lidah mereka seperti sudah kelu dan lunak, pita suara mereka seperti sudah rusak, bibir mereka sudah terkatup rapat seperti DIJAHIT untuk bisa berkata-kata. Akhirnya mereka lebih banyak DIAM dari pada berkata-kata, karena mereka juga sudah paham bahwa “cara berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari 10 bagian, 9 darinya terletak dalam DIAM…” (Syech Abdul Qadir Al Jilani dalam Futul Ghaib)

Mata mereka juga seperti sudah buta dari melihat sifat-sifat, telinga mereka juga seperti sudah tuli dari mendengar suara-suara, tulang-tulang mereka seperti sudah luruh dan luluh tak bertenaga menyangga tubuh mereka, otot-otot dan kulit mereka seperti sudah habis mrotol dan mengelupas, tangan dan kaki mereka seperti sedang terikat dan lumpuh pula…

Mareka sudah bak seperti kaleng atau ember, tapi kaleng atau ember itu sudah bolong-bolong, sehingga tidak ada lagi air yang tersisa di dalam kaleng atau ember itu. Mereka sudah seperti bola yang siap ditendang dan dilemparkan kesana kemari, seperti juga sabut kelapa yang siap terobang-ambing diayun oleh ombak dan gelombang. Mereka telah menjadi PERKAKAS ALLAH, BONEKA ALLAH. Mereka sudah tidak mempunyai kehendak mereka sendiri, karena kehendak mereka telah diganti oleh Allah dengan Kehendak-Nya melalui Dzat-Nya yang sedikit. Sehingga Allahpun tidak sungkan-sungkan untuk mengatakan:

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah yang melempar”. Al Anfaal (8):17

Mereka itulah orang-orang Allah. Mereka akan dilihat oleh orang-orang lain kebanyakan sebagai orang yang aneh. Kemanapun MATA mereka melihat, MATA HATI mereka telah hidup dan tajam sehingga yang terlihat oleh MATA HATI mereka itu semata-mata hanyalah DZAT-Nya. Dan…, dengan helaan sebuah langkah saja lagi, mereka lalu menafikan Dzat-Nya yang sedikit yang berada di dalam Lauhul Mahfuz itu… LAA MAUJUD… dan kemudian mengisbathkan ILLALLAH…!. Laa maujud illallah…!. Laa maujud illallah..!.

Lalu HATI merekapun segera saja dipenuhi dengan INGATAN KEPADA ALLAH. Hati mereka telah KOSONG dari ingatan kepada yang lain selain Allah. Hati mereka telah menjadi BERSIH dan bahkan bercahaya.

Sungguh, hanya dengan sebab mengingat Allahlah hati mereka itu menjadi bersih dan bercahaya. Sehingga Hati mereka itu telah menjadi terbebas pula dari segala rasa ketakutan, kekhawatiran, dan kesedihan. Mereka telah terbebas dari sebab-sebab dan akibat-akibat lain yang melelahkan.

Mereka benar-benar telah MELIHAT KEBENARAN ALLAH, sehingga…:

• “Kamu akan melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan KEBENARAN yang telah mereka KETAHUI; seraya berkata: “”Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.” (Al Maidah (5):83).

• Mereka akan menjadi sangat bersemangat untuk menjalankan ibadah-ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah-sunnah.

• Mereka akan rajin shalat malam dan puasa sunnah tanpa halangan.

• Mereka akan “getol” untuk membaca HIKMAH dari setiap peristiwa dan kejadian. Sebab Allah akan mengulang dan mengulang peristiwa-peristiwa dan kejadian itu dan memberi mereka ILHAM sampai mereka mengerti apa-apa pelajaran yang tersimpan di dalam setiap peristiwa dan kejadian itu.

• Mereka akan…, mereka akan…, mereka akan…,

• Mereka akan menjalankan Syariat dan Sunnah-sunnah seperti yang di dijalankan oleh Nabi dan Sahabat-sahabat Beliau dalam BERIBADAH. Dan semuanya itu seperti tak tertahankan untuk mereka lakukan…, lagi…, lagi…, dan lagi…

Sungguh, jika kita ditakdirkan pula oleh Allah untuk menjadi bagian dari orang-orang Allah yang seperti diatas, maka kita akan dapat pula mencicipi merekahnya makna innalillahi wa inna ilaihi raji’un itu di dalam hidup keseharian kita. Bahwa ternyata ia adalah sebuah paradigma berpikir yang akan MEMBEBASKAN (DETACH) kita dari semua permasalahan yang selama ini memberati hari-hari kita. Ia memberi kita JALAN KELUAR (Way Out) yang sangat hebat dan luas dari segala persoalan hidup yang sedang dan yang akan kita hadapi dengan cara yang sangat-sangat sederhana, sesederhana kita bernafas dan mengedipkan mata.

Paradigma berpikir orang-orang Allah ini akan membawa kita untuk mengenali HAKEKAT dari SIFAT-SIFAT dalam bentuk dan rupa semua Ciptaan dengan segala problematika dan romantika kehidupan yang menyertainya, yaitu DZAT-Nya yang sejumput, untuk kemudian kita berhenti berpikir dan berparadigna pada Garis Batas Akhir pemikiran, yaitu bermakrifat kepada Allah (Makrifatullah), Sang DZAT Yang Maha Indah, Sang Dzat Yang Maha Suci dari segala perbantahan. Tidak ada lagi yang lain setelah itu, sebab setelah itu yang ada adalah kesesatan dan kejahilan.

Semua ibadah yang kita lakukan akan akan kita bingkai dengan hanya satu Ingatan saja, yaitu Hati kita yang MENGINGATI ALLAH (dzikrullah).
• Shalat kita dari awal sampai akhir dan ibadah-ibadah kita lainnya, adalah Shalat dan ibadah Yang Mengingati Allah.
• Diluar shalat, kita akan berjalan dengan Mengingati Allah.
• Dipasar dan ditempat kerja, kita akan selalu Mengingati Allah.

Sungguh…, HATI kita akan menjadi TEMPAT atau BILIK KHALWAT kita yang tidak bisa dimasuki oleh INGATAN-INGATAN lain selain dari INGATAN kepada ALLAH. Kita masuk ke bilik khalwat itu dengan tidak membawa apa-apa dan siapa-siapa. Kita masuk sendirian dengan bersopan-sopan. Kita duduk sendirian dengan bersantun-santun. Dan kita menunggu sendirian dengan sepenuh harap-harap cemas. Karena kita sudah tahu dan sudah paham bahwa bilik khalwat kita itu sudah sangat berdekatan dengan ISTANA RAJA DARI SEGALA RAJA…

Sampai disini selesailah serial artikel Innalillahi wa inna ilaihi raji’un ini. Semoga ada diantara pembaca yang ditakdirkan oleh Allah untuk bisa mengambil manfaat dari artikel ini. Insyaallah kita akan bersua kembali dalam artikel lain yang tak kalah menariknya “Menjadi Orang-Orang Allah, Mungkinkah…?”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Wassalam…
DEKA…

Read Full Post »

Bahkan untuk PIKIRAN pun mereka tidak akan berani mengatakan bahwa pikiran ini adalah buah pikiranku, seperti mereka juga tidak berani mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapatku, analisa ini adalah analisaku. Tidak. Mereka sudah paham bahwa bukan merekalah sebenarnya yang berpikir, yang berpendapat, yang menganalisa. Tetap PIKIRAN atau buah pikiran itulah yang TURUN atau lebih tepatnya DITURUNKAN, pendapat itulah yang DITURUNKAN, analisa itulah yang DITURUNKAN (ANZAL) Allah memasuki AKAL atau HATI mereka.

Sebab Mata Hati mereka telah melihat dengan tajam bahwa Pikiran itupun adalah CIPTAAN yang sebelumnya telah di rencanakan, ditetapkan, dan diijinkan sejak Firman KUN di Lauhul Mahfuz. Dzat memastikan bahwa PIKIRAN itu akan terzhahir pada saat yang telah ditetapkan di dalam Hati atau Akal setiap manusia sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sehingga merekapun jadi tidak berani menghina pikiran orang lain. Sebab dengan jelas hati mereka bisa melihat bahwa saat menghina PIKIRAN seseorangpun sebenarnya, pada hakekatnya, ketika itu mereka sedang menghina Dzat-Nya…

Tatkala PIKIRAN yang datang itu adalah ketika mereka sedang mengingatI Allah (Dzikrullah), maka Pikiran itu akan selalu membawa ILMU PENGETAHUAN dan HIKMAH untuk mereka agar mereka bisa berbuat baik dan mengerjakan ketaqwaan. Gelombang otak mereka saat menerimanya tidak berkocak sedikitpun. Inilah yang disebut sebagai proses turunnya ILHAM tentang KETAQWAAN.

Mereka sudah paham, bahwa kalau pada suatu saat mereka ditakdirkan untuk tidak mengingat Allah, atau berpaling dari ingat kepada Allah Yang Maha Rahman, walau sebentar saja, maka PIKIRAN yang akan turun ke dalam hati atau Akal mereka adalah ILHAM tentang KEFUJURAN dan KEFASIKAN. Ciri-cirinya adalah gelombang otak mereka akan berkocak hebat. Itu terjadi karena saat mereka tidak ingat kepada Allah itu mereka akan terlempar memasuki wilayah kehidupan iblis atau syaitan. Pikiran mereka akan beresonansi dengan pikiran syaitan. Ilham untuk mereka beresonansi dengan ilham untuk syaitan yang pasti untuk kefujuran, ehingga mereka akan terlempar semakin menjauh dari Allah. Mereka akan menjadi mudah untuk melakukan dosa kecil yang satu ke dosa kecil yang lain. Bahkan dosa besarpun dengan sangat mudah akan mereka lakukan. Mereka sudah tahu itu, sehingga mereka akan selalu berdo’a agar Allah tetap memegang ingatan mereka: “allahumma a’inni ‘ala dzikrika…”

Begitu juga ketika mata mereka memandang semua makhluk di alam di alam semesta ini, misalnya ketika mereka melihat keindahan berbagai tumbuh-tumbuhan dengan batang, ranting, dedaunan, buah, dan warnanya yang sedap dipandang mata; atau melihat binatang mulai dari yang kecil sampai yang besar, yang hidup di darat atau di laut, yang berbisa atau tidak, yang bisa dimakan atau tidak, yang menjijikkan atau tidak, yang jinak atau yang liar; bahkan ketika mereka memadang dinding tembok, lantai rumah, perabotan, kursi meja, dan alat-alat rumah tangga lainnya; mereka tidak berani gegabah untuk menyakiti, membunuh, merusak, atau lebih umumnya berbuat jahil terhadap semua makhluk itu. Bahkan secara mengherankan mereka bisa berkata-kata untuk mengucapkan kata terima kasih kepada semua mahkluk diatas yang mereka jumpai. Karena memang semuanya itu mereka anggap punya andil dalam kemanfaatan buat kehidupan mereka.

Semua itu terjadi karena MATA mereka sudah tidak melihat siapa-siapa lagi. Mata mereka hanya melihat SECARA SEKILAS kepada SIFAT-SIFAT yang terbentang dan sedang berlakon dihadapan mata mereka. Sifat-sifat itu hanya berbeda satu sama lainnya dalam hal karakter, peran, dan tugas-tugasnya saja. Sedangkan MATA HATI mereka sudah sangat tajam melihat bahwa disebalik semua sifat-sifat itu adalah DZAT yang sedang berperan menzhahirkan berbagai Sifat-sifat itu. Pemainnya hanyalah pemain Tunggal yaitu Dzat, Dzat-Nya yang sejumput yang patuh kepada pemilik-Nya. Tanpa Dzat, tidak akan pernah ada sifat-sifat yang terzhahir.

Mata mereka dapat melihat bahwa pertunjukan dan kelakonan sifat-sifat itu seperti mereka melihat sebuah FILM ANIMASI belaka. Bahwa di sebalik Sifat-sifat yang sedang berlakon dalam Film Animasi itu adalah KERTAS yang sedang bergerak-gerak. Ketika sifat-sifat itu saling berbicara dan bersuara, disebaliknya adalah KERTAS yang sedang berkomat-kamit. Tanpa adanya kertas yang digerak-gerakkan dan yang sedang berkomat-kamit itu, maka tidak akan ada pula sifat-sifat yang akan tertayang dalam Film Animasi itu.

Dengan semua sikap seperti itu, mereka sudah bisa mewujudkan makna INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN itu dalam sebuah sikap hidup dari orang-orang Allah yang ciri-cirinya adalah mereka BERPANDANGAN OBJEKTIF terhadap semua HAL yang berkenaan dengan CIPTAAN, termasuk terhadap DIRI mereka sendiri. Mereka melihat seperti melihatnya ORANG LUAR yang berdiri DILUAR PAGAR terhadap semua drama kehidupan yang mereka lihat, dengar maupun yang mereka alami sendiri. Karena mereka sudah tahu bahwa semua itu hanya FILM ANIMASI yang dibuat Allah terhadap DZAT-NYA sendiri. Dzat-Nya yang sejumput yang telah Dia RELAKAN untuk terzhahir menjadi semua adengan di dalam film ANIMASI itu.

Yang lebih menenteramkan mereka adalah, bahwa bagi mereka sudah tidak ada lagi masalah yang berkenaan dengan Al Qur’an seperti yang terjadi dalam pergaduhan pemikiran sesama umat Islam selama ini. Lama sekali… Ada yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu adalah MAKHLUK, dan ada yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu BUKAN MAKHLUK tapi KALAM ALLAH. Golongan yang mengatakan Al Qur’an itu adalah BUKAN MAKHLUK sampai-sampai MENGKAFIRKAN golongan yang mengatakan Al Qur’an itu adalah MAKHLUK.

Sebab dengan pandangan Kacamata Makrifatullah yang mereka kenakan, mereka sudah dapat memahami bahwa APAPUN yang berada DI DALAM LAUHUL MAHFUZ semuanya adalah CIPTAAN yang terzhahir dari Penzhahiran DZAT-NYA Yang sejumput. Oleh sebab itu, ketika MATA mereka memandang huruf-huruf Al Qur’an yang ada di atas kertas atau alat tulis lainnya, mereka tidak ragu lagi mengatakan bahwa itu adalah Ciptaan. Karena ia memang berada di dalam Lauhul Mahfuz.

Akan tetapi, mata hati mereka sudah tajam pula melihat bahwa disebalik huruf-huruf Al Qur’an itu ternyata adalah PERKATAAN-PERKATAAN ALLAH yang Dia firmankan MELALUI Dzat-Nya Yang sejumput yang berada Di Dalam Lauhul Mahfuz. Jadi Al Qur’an itu ZHAHIRNYA adalah Ciptaan, sedangkan BATHINNYA adalah PERKATAAN-PERKATAAN ALLAH yang Melewati Dzat-Nya yang sejumput. Tidak ada keterpisahaan antara Yang Zhahir dan Yang Bathin, seperti tidak terpisahnya dua sisi mata uang…

Bersambung

Read Full Post »

Mereka juga sudah paham bahwa tiada SATUPUN PENGAKUAN yang berhak mereka ungkapkan kepada diri mereka sendiri maupun kepada orang lain terhadap suatu peristiwa atau kejadian yang menimpa mereka atau keluarga mereka. Misalnya:

• Suatu saat terjadi musim kemarau yang panjang. Lalu masyarakat berduyun-duyun datang kelapangan untuk melakukan Shalat Istisqa (Do’a Minta Hujan). Tidak berapa lama kemudian atau besoknya, turunlah hujan dengan derasnya.

Mereka tidak akan pernah mengatakan bahwa turunnya hujan itu adalah karena Allah mendengar do’a mereka dalam shalat Istisqa itu, sehingga kemudian turunlah hujan. Tidak akan…!.

Mata Hati mereka telah melihat dengan tajam bahwa: kemarau itu sudah ditetapkan untuk terjadi, masyarakat shalat istisqa itu juga sudah dtetapkan untuk terlaksana, do’a-do’a yang diucapkanpun juga sudah tertulis, dan hujan yang turun sesudahnyapun sudah ditetapkan pula. Semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz sejak firman KUN.

• Suatu saat mereka atau keluarga mereka sakit. Lalu mereka berdo’a, atau mereka minum obat tertentu. Setelah itu penyakit mereka atau keluarga mereka itu berangsur sembuh dan akhir membaik.

Mereka tidak akan pernah berkata bahwa sembuhnya mereka atau keluarga mereka itu adalah karena Allah mengabulkan do’a mereka atau karena mereka telah memakan obat yang mujarab. Tidak akan pernah berkata begitu.

Mata hati mereka sudah sangat tajam melihat bahwa sakitnya mereka atau keluarga mereka itu sudah ditulis dan diijinkan untuk terjadi, berdo’anya mereka atau minum obatnya mereka juga sudah dituliskan, dan kesembuhan merekapun begitu juga. Semua sudah dituliskan dan diijinkan untuk terzhahir dan terjadi.

• Hal yang sama juga berlaku dalam melihat proses do’a yang dipanjatkan mereka di Raudhah, di Multazam, saat hujan turun, dan lain-lainnya, yang menurut hadist adalah tempat-tempat dan waktu-waktu yang makbul untuk berdo’a. Waktu berdo’anya, tempat berdo’anya, penyebab berdo’anya, matan dari do’anya sendiri, dan akibat yang muncul setelah mereka berdoa’ itu, baik do’anya terkabul atau tidak, atau diganti Allah dengan pengakabulan-pengkabulan lainnya, semuanya itu sudah tampak bagi mereka sebagai sebuah kesatuan yang sudah dituliskan di Lauhul Mahfuz. Mereka berdo’a itu karena mereka memang harus berdo’a. Tidak bisa tidak. Dzat memastikan bahwa mereka akan berdo’a. Dzat akan mengantarkan ILHAM dari Allah agar mereka bisa berdo’a. Dzat jugalah yang akan mematuhi dikabulkan, atau tidak dikabulkannya do’a mereka itu.

• Ketika sebuah Negara menerapkan hukuman mati terhadap pengedar narkoba. Walau beberapa Negara melakukan protes dan langkah-langkah diplomati untuk membatalkan hukuman mati itu, namun hukuman mati itu tetap dilakukan juga, DOOR…

Orang-orang Allah itu juga tidak akan mengatakan bahwa Presiden negara itu dan para penegak hukumnya hebat, tegas, dan tidak termakan oleh gertak sambal Negara lain. Tidak pernah begitu

Mata Hati mereka hanya melihat bahwa ditembak matinya para penjahat narkoba itu hanyalah ketetapan Allah belaka yang memang sudah semestinya terjadi. Kalaupun kemudian untuk hukuman mati tahap ke dua terkesan ada keragu-raguan dari pemerintah negara itu, hal itupun sudah tertulis pula seperti itu di Lauhul Mahfuz.

Sungguh TIDAK ada lagi kekaguman dan pujian mereka kepada manusia manapun juga dan dengan pangkatnya yang setinggi apapun juga. Semuanya hanyalah hal yang memang sudah seharusnya terjadi. Akan tetapi pada saat yang sama mereka juga tidak akan menghina, melecehkan, mencemooh, mengumpat, menista, mencaci, memberikan nama buruk kepada orang lain akibat dari aktifitas atau perbuatan yang dilakukannya. Bagaimana mereka akan bisa mencela pada sesuatu yang mereka tidak punya hak apa-apa.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: