Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2014

MENGINGAT ALLAH…

Saat mengingat Allah, tidak boleh ada bentuk / bayangan apapun, tulisan, suara, cahaya, warna, dan apapun juga di dalam fikiranmu. Semua itu bukanlah Allah, melainkan ciptaan.

Mengingat Allah adalah seperti mengingat namamu atau nama seseorang. Kamu tidak membayangkan namamu, tidak juga kamu mengeja namamu di dalam fikiranmu ketika seseorang memanggil namamu, melainkan kamu langsung meresponnya.

Maka dari itu, saat mengingat Allah, kamu tidak boleh memvisualisasikan/ membayangkan Allah, tidak juga mengeja nama-Nya. Cukup ingat Allah seperti kamu mengingat dirimu sendiri saat ada orang lain memanggil kamu. Atau seperti kamu ingat kepada orang tua kamu. Misalnya ingat kepada ibumu, atau bapakmu.

Allah telah berfirman bahwa tiada apapun serupa dengan Dia, tidak ada pengelihatan yang mampu mencapai-Nya. Simpelnya, Dia adalah Tuhan yang tidak tercapai oleh penglihatan matamu.

Untuk mengingat Allah dalam pikiranmu (minda), kamu harus membersihkan dulu pikiranmu itu dari segala kotoran.
Kekotoran atau pikiran yang kotor akan menghambat peningkatan spiritualmu. Seperti yang Nabi telah katakan, di dalam tubuh anak Adam terdapat segumpal daging, bila segumpal daging itu baik; maka baik pulalah pemiliknya, dan hal tersebut adalah HATI (hati yang halus/ minda / akal). Bukan hati LEVER atau JANTUNG.

Untuk membersihkan semua kotoran di dalam pikiranmu, lakukan hal berikut:

1. Tutup kedua mata fisikmu dan (dengan mata fisik yang masih tertutup) fokuskan kedua matamu secara internal menuju yang ada di dalam fikiranmu. HITAM bola matamu di naikkan sedikit keatas. Setelah itu, coba tarik kelopak matamu, kamu akan mendapati bahwa kelopak matamu seperti tertutup kuat / terkunci. Ini menandakan bahwa matamu sekarang sudah fokus secara internal. Matamu yang fokus secara internal itu (fokus meski dalam keadaan tertutup itu) disebut juga mata hati / mata mental / mata batin.

2. Sekarang, dengan menggunakan fikiranmu, baca ayat-ayat Al Quran berikut: Al Ikhlas 3x, Al Falaq 1x, An Nas 1x, Al fatihah 1x. Semua bacaan itu dilakukan di dalam fikiranmu atau secara mental, bukan kamu ucapkan dengan lidah atau mulutmu. Jika setelah membaca ayat2 tersebut, mata mental atau mata hatimu masih melihat bahwa fikiranmu masih belum bersih dan belum kosong, maka ulangi lagi membaca ayat-ayat diatas di dalam fikiranmu sampai mata hati atau mata mentalmu melihat bahwa di dalam fikiranmu sudah kosong atau bersih. Biasanya membersihkan pikiranmu dengan cara seperti itu cukup hanya dua putaran saja dalam sekali latihan.

3. Setelah fikiranmu bersih atau kosong, letakkan ingatan kepada Allah di dalam pikiranmu itu, atau ingatlah Allah segera di dalam fikiranmu, dan FOKUSKAN atau TUMPUKAN mata hatimu kepada INGATAN kepada ALLAH itu.

4. Tetaplah fokus selama kamu mampu. Jika kamu bisa terus menerus mempraktekkan ini, maka suatu saat ingatanmu kepada Allah akan terpatri / terkonci / berurat akar di dalam fikiranmu.

5. Begitu mata hatimu bisa fokus pada ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu, bukalah pelan-pelan mata fisikmu, pada saat yang sama pertahankan mata mental atau mata hatimu fokus pada ingatan kepada Allah dalam fikiranmu tadi. Sekarang mata mentalmu tidak akan terganggu dengan apapun juga yang kamu lihat dengan mata fisikmu. Latihlah seperti ini secara ISTIQAMAH hingga kamu berhasil atau mahir.

Begitu kamu bisa mempertahankannya, mata mental atau mata hatimu akan fokus pada ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu, meskipun saat itu mata fisikmu sedang terbuka. Sebagai latihan alternatif, kamu juga bisa memraktekkannya dalam keadaan mata fisikmu tertutup. Lakukalah masing-masingnya sekitar sepuluh menit.

Jika kamu melakukan praktek ini terus menerus, pada akhirnya mata mental / mata hatimu akan dapat fokus pada ingatan kepada Allah baik dengan mata fisik terbuka ataupun dengan mata fisik tertutup, setiap saat.

Mempertahankan ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu, seperti kamu menyalakan lilin. Pastikan lilin itu menyala setiap saat, pastikan mata hatimu bisa tertumpu pada ingatanmu kepada Allah di dalam pikiranmu setiap saat, karena begitu padam, maka setan akan bermain di dalam fikiranmu.

Sekarang, dengan mata mental/ mata hatimu akan bisa pula menyaksikan “Dzat yang sedikit” meliputi segalanya, dan pada saat yang sama kamu juga akan mampu untuk fokus secara mental (dengan mata hati) pada ingatan kepada Allah di dalam fikiranmu / mindamu.

Inilah keadaan “IHSAN”, yang Nabi Muhammad SAW telah sabdakan:

Beribadahlah seperti melihat Allah, jika tidak mampu yakinkan bahwa Allah melihat kamu.

(Ustadz Hussien B. A Latiff, melalui terjemahan Rio Benny Arya)

—- &&& —-

DI DALAM SHALAT dan juga ketika kamu BERDO’A…

Lakukanlah SIKAP IHSAN seperti diatas, lalu kamu bacalah BACAAN SHALAT atau DO’A-DO’A secara NORMAL sesuai dengan ILMU FIKIH. Di dalam shalat mana yang harus kamu JAHAR-KAN ucapkanlah dengan JAHAR. Mana yang harus kamu SIRRI-kan, bacalah dengan BERBISIK dan JELAS. JANGAN hanya kamu baca DI DALAM PIKIRAN atau HATIMU…!!!.

Di dalam berdo’a, lakukanlah dengan berbisik kepada Allah yang sedang kamu ingat, Allah yang sedang kamu jumpai. Tidak perlu kamu berdo’a dengan suara keras dan berteriak-teriak.

Wassalam

Iklan

Read Full Post »

DzikrullahMakanya ketika kita berpakaian IHRAM, kita dilarang untuk bergunjing, berkata kotor, bertengkar, membunuh binatang, mematahkan ranting pohon, dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Subhanallah, inilah ternyata makna rahasia dari larangan-larangan ketika kita berpakaian IHRAM. Bahwa semua yang ada disekeliling kita ternyata hakekatnya adalah DZAT semata-mata. Sehingga tidak ada hak kita untuk berlaku tidak baik kepada apapun dan siapapun juga.

Suatu saat saya pernah memraktekkan pengajaran Sang Arif Billah untuk berkata-kata dengan rumah, kursi, pintu, tumbuhan, pohon, dan binatang yang bertemu dijalan, bahkan sampai kepada mobil dan kendaraan. Mata saya melihat benda-benda itu, Hati saya mengingat Allah, mata hati saya melihat Dzat disebalik semua benda-benda itu, dan lidah saya mengucapkan salam kepada mereka, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka. Dan rasanya saya seperti sedang berjalan dan bersahabat dengan mereka semua. Aneh sekali memang…. Terasa sekali bahwa saya dengan mereka hakekatnya sama saja, yaitu bagian dari Dzat Allah yang sedikit.

Nah…, berubah atau tidaknya PARADIGMA kita itupun sebenarnya sudah ditetapkan sejak dari Firman KUN untuk kita lalui tepat pada waktunya. Namun, adakalanya dengan keterangan seperti apapun juga, paradigma kita tidak akan berubah sedikitpun dari paradigma lama yang telah kita anut. Akan tetapi adakalanya hanya dengan sebab yang sangat sederhana, tiba-tiba saja paradigma kita sudah berubah saja dengan cara yang sangat mencengangkan.

Begitu juga dengan do’a-do’a yang kita sampaikan kepada Allah. Semuanya sudah dituliskan sejak Firman Kun. Kapan waktunya kita akan berdo’a, masalah apa yang sedang kita hadapi, kalimat-kalimat apa yang akan kita ucapkan di dalam do’a itu, apakah kita akan menangis atau tidak di dalam berdo’a itu, dan bagaimana pula hasil dari do’a-do’a kita itu, semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Dzat yang berada di dalam diri kita, dilidah kita, di pita suara kita, di dalam otak kita, di nafas kita akan memastikan bahwa do’a itu akan kita ucapkan sesuai dengan waktu dan apa-apa yang sudah DITETAPKAN.

Sebaliknya kalau kita sudah ditetapkan oleh Allah untuk tidak berdo’a, maka tidak akan ada sepatah do’apun yang akan terucap dari lidah kita. Seberat apapun masalah kita, tidak ada sebutir bibit pikiranpun muncul di dalam pikiran kita untuk berdo’a. Walaupun sudah ada orang lain yang menyuruh kita untuk berdo’a, kalau tidak ada ketetapan Allah bahwa kita akan berdo’a, maka Dzat akan memastikan kita untuk tidak berdo’a.

Jadi dari sudut pandang dengan menggunakan kacamata makrifatullah ini, kita ini benar-benar sudah tidak wujud. FANA. Yang Wujud adalah Sang Wajibul Wujud, yaitu DZAT. Kita sudah meninggalkan alam SIFAT-SIFAT untuk kemudian duduk di dalam alam HAKEKAT.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 49).
“Setiap orang akan dimudahkan kepada sesuatu yang dia telah ditakdirkan untuknya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Sekarang terpulanglah kepada taqdir kita masing-masing, sedang dimana kita saat ini “didudukkan” oleh Allah untuk beriman kepada Rukun Iman yang ke-enam ini. Percaya kepada TAQDIR BAIK dan BURUK, yang keduanya berasal dari ALLAH. Sebab beriman kepada rukun iman yang ke-enam inilah salah satu SYARAT UTAMA agar kita bisa mendapatkan IHLAM TAQWA dari Allah. Kalau tidak, maka kita akan selalu saja diberikan ILHAM FUJUR oleh Allah…

Sampai disini, pembahasan tentang Sang Wajibul Wujud dan Sang Fana ini sudah pantas pula untuk kita akhiri. Semoga kitapun bisa memahami tentang Taqdir ini dengan lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Sekarang kita hanya tinggal untuk ISTIQAMAH saja dalam menyikapinya dalam aktifitas Dzikrullah.

Ketika MATA kita melihat SIFAT dalam bentuk semua Ciptaan, MATA HATI bisa melihat kepada HAKEKAT dari semua ciptaan, yaitu Dzat, lalu HATI kita pertahankan untuk tetap BERMAKRIFAT dan mengingati Allah. Dari SIFAT kita ke HAKEKAT untuk kemudian BERMAKRIFAT. Lalu setelah itu kita tinggal menjalankan SYARIAT dan KEHIDUPAN tanpa kita terlalu terpengaruh lagi dengan segala permasalahan yang menghadang di depan mata kita. Masalah tetap ada dan muncul silih berganti menimpa kita. Namun karena kita sudah tidak ada, maka masalah itu malah seperti mengantarkan dan mengangkat kita ketempat yang sangat mencengangkan. Dimana proses itu bisa kita lakukan tanpa proses yang bertele-tele dan tanpa memakan waktu bertahun-tahun pula, seperti kalau kita memasukinya melalui pintu praktek-praktek TAREKAT.

Kita juga tidak perlu untuk menghindar dari kehidupan dunia ini seperti dalam dunia kerahiban. Kita tidak perlu untuk hidup di puncak-puncak gunung, di goa-goa, atau ditempat-tempat sunyi dan terpencil dari peradaban. Kita tidak perlu untuk menyiksa-nyiksa FISIK kita terlebih dahulu dalam bentuk latihan-latihan yang akan menguras ketahanan Fisik, mental, dan pikiran kita.

Kita bisa melakukannya sebagai orang biasa-biasa saja. Kita bisa hidup seperti orang biasa. Kita bisa bertindak seperti orang biasa. Kita bisa bekerja seperti orang biasa. Namun dari tangan kita bisa bermunculan hal-hal yang akan berguna bagi kita dalam menjalani kehidupan di zaman kita saat ini, atau untuk anak cucu kita kelak.

Insyaallah pada kesempatan berikutnya, kita akan membahas tentang: kalau kita ini sebenarnya adalah sang Fana, apa dong tugas kita sampai-sampai Allah berkenan mengutus kita ke muka bumi ini. Insyaallah kita akan masuk lebih dalam kepada pembahasan tentang “Innalillahi wa inna ilahi raaji’uun”, atau pembahasan tentang “Alam Ilmu”, atau tentang “Alam Kekhalifahan…”. Subhanallah…, entah yang mana dulu yang akan kita bahas. Semuanya begitu menarik, dan pintu-pintunya sedang DIBUKAKAN oleh Allah untuk kita masuki.

Semoga Allah terus berkenan untuk memberikan kepahaman kepada kita bersama…

Akhirul kalam.
Asyhadualla ilahaillallah, wa asyhaduanna Muhammadan Rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad…

Wallahu a’lam…

Selesai.

Wassalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-13

Hubungan antara TAQDIR dengan ayat-ayat diatas sebenarnya sudah menjadi sangat sederhana sekali. Bahwa yang harus kita UBAH itu ternyata hanyalah PARADIGMA berpikir kita saja. Walaupun peristiwa-peristiwa yang kita alami itu tetap sama dan berulang-ulang dari waktu ke waktu, namun dengan paradigma berpikir kita yang berbeda, maka kita benar-benar akan berbeda pula dalam menyikapinya. Paradigma berpikir itupun cuma DUA macam saja, yaitu apakah kita akan mengaku WUJUD atau sebaliknya kita akan mengaku TIDAK WUJUD.

Kalau kita tidak wujud, maka kita akan bisa memandang bahwa apapun taqdir yang datang menimpa kita, maka kita akan bisa MENERIMA bahwa itulah yang terbaik buat kita. Karena itu datangnya dari Allah Yang Maha Bijaksana. Lalu Allah akan membacakan kepada kita Hikmah dari taqdir yang kita lalui itu, dan kita bisa menggunakannya untuk mengubah kehidupan kita kepada yang lebih baik.

Sebaliknya, kalau kita merasa wujud, maka kita akan sering menilai bahwa Allah TIDAK bijaksana ketika kita mengalami taqdir yang menurut prasangka kita adalah tidak baik, sehingga kita diluputkan oleh Allah dari membaca Hikmah disebalik taqdir yang sedang kita alami itu. Akhirnya kita TIDAK akan mengalami perubahan apa-apa untuk bisa hidup dalam keadaan yang lebih baik.

Agar kita bisa merasa TIDAK WUJUD, maka pandanglah segala sesuatunya, segala kejadian dan peristiwa, dari sudut pandang Orang Luar. Kita seakan-akan hanyalah “orang luar” yang sedang memandang Ada Yang sedang Beraktifitas, Ada Yang sedang Sibuk mengatur-atur sedikit dari Diri-Nya sendiri untuk menciptakan berbagai Kehidupan. Yaitu PERLAKUAN Allah terhadap Dzat-Nya. Sehingga mulut kita mau tidak mau akan terkunci dan tertutup rapat untuk berbicara. Kita jadi tidak sanggup untuk berbicara dan mengaku-ngaku lagi bahwa kita ikut pula berperan dalam menentukan apa-apa yang terjadi di dalam proses kehidupan itu. Sebab ternyata kita tidak punya peran apa-apa, karena kita memang tidak memiliki apa-apa, dan itu karena kita bukanlah siapa-siapa.

Kita ini ternyata hanyalah sedikit-sedikit-sedikit dan sedikit dari sedikit Dzat-Nya. Artinya, Allahlah yang telah berkenan untuk menciptakan atau mewujudkan kita dari Dzat-Nya. Dan Allah pulalah yang telah berkenan memberi kita kekuatan-Nya melalui Dzat-Nya, Allahlah yang telah berkenan memberikan kita penglihatan-Nya melalui Dzat-Nya, Allahlah yang telah berkenan memberikan kita pendengaran-Nya melalui Dzat-Nya, Allahlah yang memberikan kita pikiran-Nya melalui Dzat-Nya, Allahlah yang memberikan kita perasaan-Nya melalui Dzat-Nya, Allahlah yang telah berkenan memberikan kita kehidupan-Nya melalui Dzat-Nya…

Ya…, Semuanya hanyalah karena perkenan Allah belaka melalui Dzat-Nya. Dan dari Dzat-Nya itulah semuanya akan terzhahir, termasuk melalui diri kita masing-masing sesuai dengan apa-apa yang telah Ditetapkan-Nya untuk kita.

Dengan begitu, maka kita akan menjadi sangat jelas melihat bahwa pemain atau seniman yang sedang bermain hanyalah SATU, yaitu DZAT. Sehingga memang sudah sepantasnyalah kita untuk sering-sering berkata: Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun, dari Dzat kembali kepada Dzat; laa haula wala quwwataa illa billah, hanya Dzatlah yang kuat. Dan itu kita lakukan TANPA kita merasa telah menjadi Allah. Kita akan terhindar dari Paham Wahdatul Wujud. Sebab kita tetap hanyalah semata-mata Sang Fana saja. Tidak Wujud. Sehingga kita bisa DETACH, terpisah, terlepas dari segala permasalahan, termasuk permasalahan dengan diri kita sendiri.

Dan Inilah sebenarnya makna atau maksud hakiki dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw yang tidak banyak diketahui oleh Umat Islam. Di dalam proses itulah akhirnya Allahpun berkenan menurunkan Syariat Shalat untuk Orang-orang YANG BERIMAN, yang tujuannya adalah agar supaya kita bisa MERASAKAN bagaimana rasanya menjadi seorang Hamba Allah. Hamba yang bisa merasakan bahwa di dalam shalat itu, Allah sendirilah sebenarnya yang sedang menggerakkan Dzat-Nya untuk menyembah dan memuja Diri-Nya sendiri, yang penzhahirannya adalah dalam bentuk PERGERAKAN milyaran umat manusia yang bergelombang-gelombang mendirikan shalat di setiap pelosok bumi…

Lihatlah dengan memakai kacamata makrifatullah…
Allahu akbar…
Allahu akbar…
Allahu akbar…

Maka yang sebenarnya terjadi adalah sedikit dari DZAT Allahlah yang sedang DIGERAKKAN oleh Allah untuk membesarkan Diri-Nya Sendiri. Dzat Allah lah yang sedang membesarkan Allah. Dan itu akan berdampak sangat hebat sekali terhadap keimanan kita kepada Allah. Sebab kadangkala, sebagai hasil dari kita melaksanakan shalat dan ibadah-ibadah sunnah yang lainnya, Allah akan berkenan mengenalkan Diri-Nya kepada kita bahwa Dia adalah AL JALAL ( Maha Indah, Maha Bagus dan Maha Sempurna), dan kadangkala Dia mengenalkan Diri-Nya kepada kita sebagai AL JAMAL (Maha Perkasa). Dan keadaan itu sangatlah mengharu birukan perasaan kita. Kita jadi harap-harap cemas. Karena Allah mengenalkan dan memberitahukan Siapa diri-Nya itu secara bergelombang, mengalun, dan silih berganti. Bahkan kadangkala Allah juga tidak memberikan kita rasa apa-apa, sehingga kita merasa tercekat. Sungguh terasa sekali hidupnya interaksi kita dengan Allah. Sehingga kita tidak ingin melupakan-Nya barang sesaatpun. Dzikrullah…

Akan tetapi, kalau kita memandangnya dari sisi kita, dari sudut pandang kita sendiri, artinya kita merasa bahwa kita adalah wujud, maka kitalah yang terlihat sedang membacanya. Kitalah yang seakan-akan sedang membesarkan Allah. Dan…, pastilah Kemahabesaran Allah tidak akan sama dengan apa yang kita kira. Inilah yang menyebabkan ucapan kita itu seperti tidak ada pengaruh apa-apa terhadap keimanan kita kepada Allah. Hambar, garing, kering, dan tidak berkesan apa-apa.

Sebab, kalau kita mengaku wujud, maka kita akan menjadi sibuk sekali menjaga kewujudan kita… Tiba-tiba kita akan segera saja merasa memiliki. Kalau kita sudah merasa memiliki, maka kita akan mati-matian untuk menjaga milik kita itu agar jangan hilang dari tangan kita, agar milik kita itu tidak di ganggu oleh orang lain.

Kalau kita bisa mempertahankan milik kita, maka kita akan merasa sebagai si pemenang. Kita akan merasa bangga, senang, dan berbunga-bunga. Kita akan pamer tentang kekuatan dan keberhasilan kita itu kepada orang lain dengan harapan akan ada orang lain yang memuji-muji kita. Semakin banyak orang yang memuji kita, maka kita akan semakin merasa besar kepala dan merasa hebat. Kalau tidak ada yang memuji kita, bahkan sebaliknya ada yang mencela kita, maka kita akan marah dan benci kepadanya.

Akan tetapi kalau kita tidak berhasil mempertahan milik kita, maka kita akan merasa menjadi korban, menjadi orang yang dizalimi, menjadi orang yang teraniaya. Dan kita akan pergi kemana-mana mencerita-ceritakan keteraniayaan kita itu dengan harapan agar ada orang yang bersimpati kepada kita. Kalau tidak ada yang simpati, maka kita semakin merasa tidak berharga, merasa menjadi orang yang tidak berguna. Kita akan duduk di dalam ruang penyiksaan…

Kalau kita merasa WUJUD, maka ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Kita akan berpaham QADARIYAH, dimana kita merasa berkuasa untuk mengubah taqdir kita. Atau berpaham JABARIYAH, dimana kita berasa tidak kuasa mengubah taqdir kita. Atau menjadi berpaham ASY’ARIYAH, dimana kita kadang-kadang merasa bisa mengubah taqdir kita, kadang-kadang kita merasa tidak bisa mengubah taqdir kita. Ibarat dalam permainan JUNGKAT-JUNGKIT, Qadariyah berada pada ujung yang satu, sedangkan Jabariyah berada pada ujung yang kedua, dan Asy’ariyah berada pada titik tumpuan ditengah-tengahnya. Enaknya kalau kita berpaham Asy’ariyah adalah, sesekali kita bisa berpaham Qadariyah, dan sekali-sekali kita bisa pula berpaham Jabariyah. Namun semuanya itu ada rasa enak dan tak enaknya yang datang silih berganti.

Akan tetapi kalau kita sudah TIDAK WUJUD, ya selesai sudah. Kita tidak akan bisa lagi mengaku. Kita tidak bisa mengaku bahwa kita bisa mengubah taqdir ataupun tidak bisa. Kita tidak akan mengaku memiliki. Bagaimana akan mengaku, kalau kita tidak wujud. Kalau tidak wujud, maka tidak ada milik. Kalau tidak ada milik maka tidak akan ada pula beban untuk mempertahankan milik kita itu. Kalau tidak ada beban, maka tidak akan ada pula masalah-masalah.

Walaupun kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang seberat apapun juga, walaupun pada kenyataannya rasa sakitnya sampai menusuk tajam di ulu hati kita, dan air mata kita jatuh bercucuran menahan sakit dan pedih itu, namun kita tetap hanya akan diam. Kita hanya AKAN DIAM. Mulut kita akan terkunci rapat, lidah kita menjadi bisu dan kelu. Bahkan kita hanya akan TERSENYUM dengan senyuman Makrifatullah. Sebab sebenarnya itu tidak ada urusan apa-apa dengan kita, wong semuanya itu hanyalah permainan Allah dengan Dzat-Nya sendiri. Kita sudah tidak ada…, FANA.

Pantas saja Syeihk Abdul Qadir Jilani pernah berkata: “Pada hakekatnya tidak ada pelaku atau penggerak atau yang mendiamkan kecuali Allah SWT. Tidak ada baik dan tidak ada jahat, tidak ada rugi, tidak ada untung dan tidak ada faedah, tidak ada anugerah dan tidak ada sekatan, tidak terbuka dan tidak tertutup, tidak ada mati dan tidak ada hidup, tidak ada mulia dan tidak ada hina, tidak ada kaya dan tidak ada kaya, bahkan segala-galanya adalah di dalam tangan Allah”, Futh Gaib (1990).

Semuanya adalah perbuatan Allah terhadap sedikit dari Dzat-Nya. Dan itupun tidak terbatas hanya pada diri kita saja. Benda-benda, binatang, tumbuhan, batu, pasir, meja kursi, dinding rumah, mobil, motor, HP, dan sebagainya, semuanya itu sebenarnya juga adalah penzhahiran dari Dzat-Nya yang sedikit.

Nah…, sekarang kita tinggal melihat saja tentang taqdir yang mana yang sedang kita jalani saat ini.. Apakah kita sedang di taqdirkan oleh Allah untuk merasa Wujud, atau sedang ditaqdirkan untuk merasa Tidak Wujud. Dan sedang mengarah kemana pula kita dituntun oleh Allah saat ini. Apakah kita sedang di tahan Allah untuk tetap menjadi Wujud, atau kita sudah dituntun Allah mengarah untuk menjadi Tidak Wujud.

Bersambung

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-12

Di dalam sebuah perusahaan, tidak ada pula yang bisa menolak bahwa memang ada orang yang sudah ditaqdirkan untuk menjadi Direktur, GM, Manager, ataupun operator. Seseorang yang menjadi Direktur bukanlah karena kehebatanya sehingga dia bisa menjadi Direktur. Begitu juga yang menjadi operator bukanlah karena kebodohannya sehingga ia hanya bisa menjadi operator. Tidak begitu. Tapi Dzatlah yang memastikan bahwa seseorang harus menjadi Direktur atau Operator sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untuknya di Lauhul Mahfuz.

Begitu juga, siapapun yang sakit, yang menderita, yang dirawat dirumah sakit, bahkan bagi yang sampai meninggal, semuanya juga tidak ada hubungannya dengan sial atau tidaknya kita. Semua sudah dituliskan dan ditetapkan sejak Firman Kun di dalam Kitab Yang Sangat Sempurna. Dzat memastikan apa-apa yang kita alami itu Tidak meleset sedikitpun dari KETETAPAN yang telah ditulikan untuk kita lalui.

Kalau kita ataupun ada saudara kita meninggal, maka itu sebenarnya hanyalah peristiwa kembalinya Sifat menjadi Hakekat saja. Dari Ciptaan kembali menjadi Dzat. Dari Dzat Yang Dzahir kembali menjadi Dzat Yang Bathin. Tidak ada urusannya dengan kita. Karena kita sebenarnya memang tidak wujud. Yang wujud adalah Dzat. Dan Allah bermain-main dengan sedikit dari Dzat-Nya sesuka-Nya.

Kalau suatu saat rumah kita dirusak orang atau harta kita dicuri oleh orang lain, maka yang melakukan perusakan atau pencurian itupun hanyalah penzhahiran Dzat yang memang sudah ditakdirkan untuk merusak atau mencuri. Beda kita dengan si perusak atau si pencuri itupun hanyalah dalam hal KETETAPAN yang harus kita dan dia jalani. Kita sudah ditakdirkan sebagai orang yang dirusak atau dicuri dan dia sudah ditetapkan pula sebagai orang yang merusak atau mencuri. Kita masing-masing tidak bisa menghindar dari ketetapan itu. Dzat yang ada pada diri kita dan Dzat yang ada pada diri si perusak atau si pencuri akan memastikan semua itu akan terjadi.

Oleh sebab itu, apapun tindakan orang lain terhadap kita, apakah itu menyenangkan kita, membahagiakan kita, ataupun menyakitkan kita, membuat kita menderita dan tersiksa, dalam pandangan kacamata makrifatullah, itu semua adalah karena memang itu sudah seharusnya terjadi. Karena itu sudah dituliskan untuk kita hadapi tepat pada waktunya. Dzat memastikan itu akan terjadi pada kita.

Kalau pandangan mata hati kita sudah tajam seperti ini, saat kita melihat atau mengalami bencana apapun juga, kita tidak akan merasa menjadi korban lagi, kita tidak akan merasa jadi orang yang teraniaya lagi. Bagaimana kita akan merasa menjadi korban dan merasa teraniaya, wong kita sudah tidak wujud. Sebab ternyata yang terlibat dan yang terkena bencana itu semata-mata adalah Dzat saja. Allah sedang bermain-main dengan sedikit dari Dzat-Nya.

Akan tetapi kalau kita merasa dan mengaku wujud, maka saat itulah kita akan mulai bermasalah. Kita akan merasa menjadi korban, kita merasa menjadi objek penderita, sehingga kitapun akan protes kemana-mana, termasuk kepada Allah. Kita akan memberontak. Kita tidak akan menerima. Kita akan banyak berkata tentang: kenapa, andai kata, seharusnya, kok begitu, duh kasihan, dan kata-kata lainnya yang menggambarkan ketidakmenerimaan kita terhadap apa-apa yamh kita alami. Dan untuk ketidakmenerimaan kita inilah yang disebutkan oleh Allah sebagai SIKSAAN buat kita.

Nah…, ketetapan-ketetapan inilah yang disebut sebagai TAKDIR yang akan dijalani oleh setiap ciptaan. Takdir itulah yang akan membawa DZAT menjalankan peranannya. Sedangkan Dzat memastikan Takdir itu untuk Terlaksana.

Lalu bagaimana hubungan takdir ini dengan ayat:

“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…”, QS. Ar-Ra’du (13): 11.

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..” (QS Al-Mu’min 60).

Bersambung

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-11

Kemudian, mari kita layangkan pula padangan mata kita kepada peristiwa-peristiwa di sekeliling kita. Misalnya, gempa bumi, banjir, kebakaran, kecelakaan (mobil, kereta api, pesawat, kapal laut), gedung runtuh, sakit, kematian…, dan sebagainya.

Tanpa memakai kacamata makrifatullah kita akan melihat semua hal diatas itu sebagai sebuah bencana, atau sebagai hukuman Allah terhadap suatu kaum yang tidak patuh kepada Allah, atau sebagai ujian dari Allah untuk menguji iman umat manusia. Ketika peristiwa itu terjadi, kitalah yang dengan gagah berani berkata untuk menyalahkan orang-orang-orang yang ada disekitar tempat bencana itu terjadi. Kita sendirilah yang menetapkan hubungan sebab dan akibat ini sesuka hati kita. Misalnya, bencana itu terjadi karena penduduk di daerah itu sudah banyak yang bermaksiat, banyak yang tidak shalat, banyak riba, dan sebagainya. Bahkan untuk menguatkan penetapan kita itu, disana sini kita menambahkan pula beberapa dasar-dasar ayat Al Qur’an atau Al Hadist.

Dengan begitu kita jadi sibuk menghakimi, menyalahkan, dan mencari-cari kambing hitam dari peristiwa-peristiwa itu. Sehingga akhirnya kita menjadi LUPUT dari MELIHAT HIKMAH atau FAEDAH dari semua persitiwa itu. Yang melihatnya adalah orang lain, sehingga mereka menemukan berbagai paralatan dan teknologi canggih yang akan menjinakkan “bencana-bencana” itu. Dengan alat itu, dampak bencanannya diperkecil, korbannya bisa diminimalkan, kerusakannya bisa dilokalisir. Sementara kita hanya bisa membeli dan membeli alat-alat itu untuk kita gunakan di tempat kita. Kita hampir tidak pernah menciptakan sendiri alat-alat yang akan bermafaat untuk kehidupan kita.

Akan tetapi kalau kita memakai kacamata makrifatullah dalam memandang peristiwa-peristiwa itu, kita akan tercengang melihatnya bahwa semua peristiwa itu terjadi karena memang ia harus terjadi. Mata hati kita sudah bisa melihat bahwa Dzatlah yang memastikan semua itu terjadi mengikuti ketetapan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan Dzat juga memastikan bahwa peristiwa-peristiwa itu memuat HIKMAH di dalamnya, yang akan berguna dan bermanfaat bagi kita dalam menjalani kehidupan kita. Pasti.

Dengan memakai kacamata makrifatullah, kita akan dapat pula melihat bahwa apapun perbuatan orang-orang yang ada disekitar kita, apakah itu anak kita, istri atau suami kita, ibu dan bapak kita, saudara kita, handai taulan kita, ataupun orang lain yang tidak punya hubungan keluarga dengan kita, maka kita akan dapat melihat dengan mata hati kita, bahwa semuanya itu adalah Dzat yang sedang mengambil peranan sesuai dengan ketetapan Allah yang telah dikalungkan dileher mereka masing-masing. Mereka tidak punya pilihan, mereka tidak bisa menghindar, mereka harus menjalaninya. Karena Dzat memastikan itu untuk terjadi sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan.

Kita akan mudah menerima keberadaan kita yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk menjalani peran sebagai orang Islam dari sejak lahir, makanya kita dilahirkan dalam keluarga islam, mendapat pendidikan secara Islam, dan beribadah sesuai dengan syariah Islam. Kita akan dihalangi oleh Dzat untuk beribadah secara agama lain.

Kita akan mudah pula menerima bahwa ada pula beberapa orang yang ditengah-tengah jalan hidupnya sudah ditetapkan oleh Allah untuk berpindah agama menjadi agama lain, maka Dzat memastikan pindah agamanya itu akan terjadi. Dzat memastikan peristiwa-peristiwa pendukungnya juga akan terjadi. Misalnya melalui perkawinannya, pergaulannya, pendidikannya, atau tiba-tiba saja ia ingin berubah agama…

Kita akan sangat cair melihat ada pula orang-orang yang telah ditetapkan oleh Allah untuk berperan sebagai pemuka agama tertentu seperti Ustadz, Kyai, Pandita, Bikkhu, Empu, Resi, Biarawan, Pastor, Uskup, Pendeta, Rabi, dan sebagainya. Dzat memastikan peran-peran itu terzhahir, tanpa ada yang bisa menghalang-halanginya. Mereka akan terlahir, berpengetahuan, beribadah, berdakwah, dan berperilaku sesuai dengan agamanya masing-masing pula. Tidak ada yang bisa menolaknya. Tidak ada masalah antara kita dengan mereka, karena mereka juga sedang menjalankan taqdir mereka, seperti kita juga sedang menjalankan taqdir kita.

Adakalanya mereka bisa membenci kita, atau mereka bisa berbuat makar kepada kita, atau mereka bisa menyakiti kita, atau bahkan bisa memerangi kita. Itupun mereka lakukan karena sudah dituliskan untuk terjadi. Kita melawan atau tidakpun sudah dituliskan pula dengan lengkap. Dzat akan memastikan apa-apa yang sudah dituliskan itu untuk terjadi.

Jadi peperangan di Palestine, di Labanon, di Irak, fenomena ISIS, kegaduhan umat beragama di Miyanmar, dan lain-lain, semuanya itu memang sudah seharusnya saja terjadi. Karena semua itu sudah ditulis di Lauhul Mahfuz untuk terjadi. Dzat akan memastikan semua itu untuk terjadi.

Masalahnya bagi kita adalah, apakah kita dalam melihat semua pergolakan itu kita sudah ditaqdirkan atau belum oleh Allah untuk bisa menerimanya dengan sikap yang seharusnya?. Sikap bermakrifatullah. Sikap Fana, sikap tidak mengaku-ngaku. Kalau sudah, maka kita akan diam, tidak bergaduh, dan tidak bergeming melihat Dzat yang sedang bermain-main. Kita hanya akan berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. What will be will be…

Akan tetapi kalau belum, maka kita akan protes, akan geram, bahkan akan melaknat pihak-pihak yag tidak kita sukai. Kita sendiri juga tidak tahu, entah apa hak kita untuk bisa melaknat-laknat seperti itu. Tiba-tiba saja kita berbuat seperti itu tanpa kita bisa melawannya. Dan karena kita sudah ditaqdirkan untuk merasa masih ada, maka kitapun akan merasakan rasa sakit akibat dari keberadaan kita itu…

Bersambung

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-10

Orang boleh saja terpesona buat sesaat dengan perilaku yang ditunjukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Banyak orang yang kesemsem dengan apa-apa yang beliau lakukan. Mereka menyanjung dan memuji Ibu Susi melebihi Menteri-menteri yang lainnya. Namun tidak kalah punya banyaknya orang-orang yang memandang rendah beliau karena beliau hanya berijazah SMP, perokok pula, dan tidak menyukai protokoler yang berbelit-belit. Namun tidak banyak yang bisa melihat bahwa Dzatlah yang memastikan beliau untuk bisa menjadi Menteri. Dan Dzat pulalah yang menyebabkan beliau mempunyai karakter seperti itu. Beliau tidak punya pilihan untuk menjalani apa-apa yang telah ditetapkan untuk beliau.

Begitu juga, kegagalan Pak Prabowo-Hatta dalam menduduki Kursi RI-1 dan 2, itu bukanlah karena Pak Prabowo dan Pak Hatta serta pada pendukung beliau tidak hebat. Tidak begitu. Dzatlah yang memastikan kegagalan itu terjadi karena itu memang sudah ditetapkan untuk gagal.

Bagaimana para Anggota DPR, DPD, MPR mendapatkan kedudukannya, berperlaku, berkata-kata, dan bertindak, semuanya juga hanyalah cermin dari penzharian DZAT dalam menjalani KETETAPAN Allah belaka. Mereka semua tidak ada pilihan. Mereka pasti menjalankannya tanpa bisa menolaknya. Sebab saat itu yang terjadi hanyalah permainan Dzat saja. Allah sedang bermain-main, dengan Dzat-Nya sendiri. Sedikit dari Dzat-Nya. Seperti kita sedang bermain-main dengan jari-jari tangan kita. Jempol kita memukul jari manis kita. Kelingking dijentik oleh si jari telunjuk. Dan seterusnya…

Dan kesemuanya itu adalah bahan pelajaran yang SARAT mengandung HIKMAH, MANFAAT, dan FAEDAH, bagi para ULUL ALBAB. Yaitu orang-orang yang mampu melihat bahwa disebalik semua yang terjadi dialam semesta ini mereka melihat Dzat dan Ketetapan Allah yang sedang berinteraksi. Mereka bisa melihat semua interaksi itu dengan mata hati mereka baik saat berdiri, saat duduk, maupun saat berbaring. Mereka bisa pula mereguk hikmat dari peristiwa-peristiwa itu.

Dari situ para Ulul Albab itu bisa belajar tentang watak-watak manusia. Mereka dapat pula melihat bahwa selama antar sesama manusia masih saling bertengkar dan berkelahi satu sama lain, maka tidak akan ada pula terbentuk hal-hal yang akan menyejahterakan rakyat. Tidak ada. Sebab energi orang-orang itu hanya akan habis untuk bertengkar dan berkelahi. Seperti juga dengan apa-apa yang telah diperlihatkan oleh umat islam sejak ratusan tahun yang lalu, sehingga hampir saja umat islam ini kehilangan wibawanya di dalam kancah pergaulan dunia.

Dari pembelajaran itulah para Ulul Albab itu dimatangkan pemahamannya oleh Allah tentang Kemahabesaran Allah sendiri, sehingga akhirnya keimanan mereka akan semakin tumbuh dan berkembang dengan kuat. Sebab kemanapun mata mereka melihat, mata hati mereka dikejutkan dengan kenyataan bahwa kewujudan yang wujud hanyalah SATU, yaitu DZAT. Allahlah yang sedang bermain-main dengan sedikit dari Dzat-nya sehingga dari Dzat-Nya itu terzhahirlah Drama Kehidupan yang akan terus berjalan secara otomatis sejak pertama kali Firman KUN difirmankan oleh Allah.

Firman KUN itu menggetarkan DZAT-Nya yang sedikit (TSE) secara terus menerus sampai dengan Akhir Zaman, sehingga getaran Firman Kun itu menzhahirkan berbagai ciptaan di alam semesta raya ini. Sehingga sebenarnya alam semesta yang kelihatannya begitu luas dan penuh dengan berbagai ciptaan, fenomena, dan hukum-hukum, hanya dimainkan oleh SATU pemain tunggal saja, SATU pelakon tunggal saja, yaitu sedikit dari DZAT-Nya sendiri.

Untuk lebih memudahkan lagi pemahaman kita, marilah kita melihat kesemuanya itu seperti kita sedang melihat sebuah permainan sepak bola. Ada Kiper, ada pemain, ada wasit, ada penjaga garis, ada bola, ada rumput, ada gawang, ada penonton. Semuanya berperan dengan peran dan sikapnya masing-masing. Dan dengan memakai kacamata makrifatullah kita ternyata akan bisa melihat bahwa kesemuanya itu dimainkan oleh satu wujud saja, yaitu DZAT…

Ya…, Dzatlah yang menjadi kiper, Dzat pulalah yang menjadi pemain, wasit, penjaga garis, bola, rumput, gawang, dan puluhan ribu penonton lainnya. Dzatlah yang menjadi Dalang Tunggal dari Pelakonan Sandiwara Kehidupan itu. Dzatlah yang memainkan peranan tentang siapa yang akan menang dan yang kalah, siapa yang senang dan siapa yang sedih. Semua itu Tak ubahnya seperti pertunjukan Wayang. Tetapi Penontonnya hanya Tunggal, yaitu Allah sendiri. dan Pemainnya juga Tunggal, Yaitu Dzat-Nya sendiri, yang sedikit.

Itu tak ubahnya seperti kita sedang bermain-main dengan tangan kita sendiri. Jari-jari tangan kitalah yang menjalankan peran A, peran B, peran C, peran D, peran E. Kuku-kuku tangan kitalah yang menjalankan peran X,w,z. Persendian jari-jari tangan kitalah yang meliuk-liuk menjalankan perannya masing-masing. Semuanya berperan secara serentak.

Bedanya dengan pertunjukan wayang kulit hanyalah dalam hal kolosalitas pergerakan pemainnya saja. Dalam pertunjukan wayang kulit, para wayangnya bergerak satu persatu, sedangkan dalam pertunjukan Wayang Kehidupan, para wayangnya hidup dan bergerak secara serentak semuanya. Kolosal sekali.

Bersambung

Read Full Post »

Sang Fana, Bagian-9

Untuk lebih memahami bagaimana Taqdir ini berkerja, marilah sejenak kita melihat peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi di Indonesia saat ini. Misalnya peristiwa Pak Jokowi-JK dalam meraih tiket menuju Kursi Indonesia-1 dan 2.

Pak Jokowi menjadi presiden RI yang ke-7, sebenarnya juga adalah penzhahiran dari Dzat yang sedang menjalankan peran. Pak Prabowo yang kalah dalam Pilpres baru-baru ini juga adalah penzhahiran dari Dzat yang sedang menjalankan peran pula. Dzat memastikan Pak Jokowilah yang akan menang dan Pak Prabowo yang akan kalah. Para pendukung Pak Jokowi maupun para pendukung Pak Prabowo juga adalah penzhahiran dari Dzat yang sedang menjalankan peran, sehingga mereka masing-masing pasti akan memilih dan mendukung Pak Jokowi atau Pak Prabowo semaksimal mungkin, HABIS-HABISAN, sesuai dengan KETETAPAN yang harus mereka jalani masing-masing.

Para pelaksana pemilu seperti KPU, Pengawas Pemilu, KPK, dan MK, semuanya juga adalah penzhahiran DZAT yang sedang menjalankan peran sesuai dengan ketetapan untuk mereka yang akan memudahkan jalan bagi Pak Jokowi untuk menjadi Presiden.

Dzat memastikan setiap pemeran akan melakukan peranannya yang sesuai dengan apa-apa yang telah ditetapkan. Dzat memastikan ada yang marah dan ada yang dimarahi, ada yang memfitnah dan ada yang difitnah, ada yang menganiaya dan ada yang dianiaya, ada yang dihukum dan ada yang menghukum, bahkan kalau perlu ada yang membunuh dan adapula yang dibunuh, ada yang diadili dan ada yang mengadili. Dan setiap pemeran itu tidak bisa keluar dari peran yang telah ditetapkan untuknya.

Dzat juga memastikan adanya para pendukung Pak Jokowi yang akan menyalurkan syahwat kesenangannya karena merasa menang dengan berbagai macam acara seakan-akan mereka sendirilah yang telah menjadi Presiden. Mereka merasa bebas dan merdeka untuk berbuat apa saja, paling tidak saat hari pelantikan Pak Jokowi sebagai Presiden. Mereka merasa berkuasa pula. Mereka merasa memiliki apa saja yang ada didekat mereka. Dan tentu saja ada pula lawannya, yaitu para penentang yang tidak menyukai acara-acara seperti itu. Mereka akan menghina, menjelekkan, dan bahkan mengumpat dan mencaci acara-acara tersebut.

Dzat akan memastikan bahwa semua peran akan dimudahkan untuk terjadi dan terlaksana kalau itu memang sudah ditetapkan untuk terjadi dan terlaksana. Sebaliknya, Dzat juga memastikan bahwa peran yang sudah ditetapkan untuk SUSAH dan SULIT akan benar-benar menjadi susah, sulit, dan berliku-liku.

Pemilihan Menteri Kabinet yang berliku-liku juga sudah dipastikan oleh Dzat untuk terjadi seperti itu. Semua tidak ada pilihan. Ada yang protes, ada yang memuji, ada yang kecewa, ada yang membully, semuanya sudah dipastikan untuk terjadi karena ada Dzat yang memastikan semua itu terzahir.

Pertarungan KIH dan KMP di parlemen pun memang harus untuk terjadi. Karena kedua kubu tidak bisa keluar dari peran atau taqdir yang telah disandangkan dileher masing-masing pendukungnya. Kata-kata yang jatuh menjatuhkan, plintir-plintiran, bahkan banting-bantingan kursi dan mejapun memang harus terjadi. Adanya fakta bahwa muncul pula DPR Tandingan dengan ketua-ketuanya, itupun sebenarnya adalah penzhahiran peranan dari Dzat belaka. Karena semua itu sudah dituliskan dan ditetapkan untuk terjadi. Dzat memastikan semua itu untuk terjadi tanpa ada yang bisa menolaknya.

Dalam lima tahun mendatang, Dzat juga akan memastikan hasil yang akan dicapai oleh Pak Jokowi-JK dalam pemerintahan Beliau. Kalau sudah ditetapkan untuk gagal maka kegagalan itu akan dimudahkan oleh Dzat untuk terjadi. Sebaliknya kalau sudah ditetapkan untuk berhasil dengan gemilang, maka keberhasilan itu juga akan dipermudah pula oleh Dzat untuk terjadi.

Begitu juga, jika pemerintahan Beliau sudah ditaqdirkan untuk menjadi pemerintahan yang penuh DAGELAN, SANDIWARA, atau sebaliknya bisa pula menjadi pemerintahan yang SERIUS dan BERSUNGGUH-SUNGGUH dalam mengurus kepentingan Rakyat Indonesia, maka Dzat memastikan setiap orang akan menjalani peran dagelan, atau peran sandiwara, atau peran serius dan bersungguh-sungguh itu untuk terjadi.

Nanti, dalam perjalanan waktu, cobalah lihat dengan tajam…, bahwa berhasil atau tidaknya Pak Jokowi-JK dan para mentri Kabinet menjalankan pemerintahan, sebenarnya itu bukanlah disebabkan oleh karena kehebatan atau tidak hebatnya Pak Jokowi-JK dan para Menteri Beliau. Bukan. Akan tetapi Dzatlah yang memastikan atas keberhasilan atau ketidakberhasilan itu untuk terjadi karena memang itu sudah ditetapkan untuk berhasil ataupun tidak berhasil.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: