Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2010

RABBIGFIRLII (4-4)

Nah…, dalam keadaan rohani yang masih bening seperti itu, barulah kemudian kita duduk IFTIRASY untuk bermohon kepada Allah. Kita bermohon pertolongan Allah atas hal-hal terpenting yang kita perlukan didalam hidup kita.

Rabbigfirlii…, Duhai Allah…, ampunilah hamba….

Dalam keadaan rohani seperti diatas, ungkapan permohonan ampun kita ini terasa begitu dalam. Begitu menghunjam menembus kedalaman rohani yang tak terbatas. Setelah ucapan itu kita tinggal duduk diam sejenak untuk menunggu Allah memproses jawaban-Nya atas do’a minta ampun kita itu. Kita jangan buru-buru untuk pindah mengucapkan do’a yang berikutnya. Diamlah sejenak.

Dalam sehirupan nafas kemudian, akan ada daya lembut yang turun membasuh rohani kita. Rohani kita seperti di celup (di shibgah) oleh daya yang turun tersebut. Segala beban rohani kita tercabut sampai keakar-akarnya. Dalam sehirupan nafas berikutnya, daya itu seperti diambil kembali oleh Allah dengan membawa serta semua beban, rasa bersalah, rasa berdosa yang tadinya ada dalam rohani kita. Yang tersisa kemudian hanyalah sebentuk rohani yang begitu lapang, tenang dan bening. Rohani yang pekat dengan rasa diampuni.

Munculnya rasa diampuni inilah jawaban Allah yang sangat jelas bisa kita rasakan. Andaikanlah kita bersalah kepada seorang yang jauh lebih kuat dari kita. Kita merendah mohon ampun kepadanya. Kita menunggu-nunggu jawaban orang tersebut atas permintaan maaf kita. Begitu orang tersebut memberi kita maaf. “Ya sudah…, kamu saya maafkan”. Alangkah lega rasanya dada kita ini. Masak jawaban Allah tidak punya bekas sedikitpun bagi kita. Sunguh benarlah kata Al Qur’an bahwa untuk bisa membaca bahasa Allah itu memang perlu rohani yang bening dan lapang. Bukan rohani yang keras membatu dan mati.

Dan yang sangat-sangat mencengangkan sebenarnya adalah, ketika kita dikemudian hari dihadapkan pada keadaan dimana 100 % atau bahkan lebih kita sangat-sangat punya kesempatan untuk melakukan keburukan yang sama dengan yang pernah kita lakukan dulu, namun anehnya tidak sedikitpun muncul rasa kita ingin kita untuk kembali melakukan perbuatan buruk itu. Kita seperti dihalangi Allah oleh untuk berbuat buruk itu. Yang namanya tidak ingin, walau kesempatan untuk itu sangat ada, ya…, kita tidak capek dan lelah sedikitpun.

Inilah sebagai tanda bahwa do’a kita: rabbigfirly…, dikabulkan oleh Allah. Dan ini akan sangat sesuai dengan Al Hadist. Bahwa salah satu syarat dari “taubatan nasuha” itu adalah kita tidak lagi melakukan kejahatan yang pernah kita lakukan dulu setelah kita bertaubat.

Dan ternyata ketidakmauan kita untuk melakukan ulang perbuatan buruk itu bukanlah sebagai hasil dari rekayasa fikiran dan rekayasa emosi kita sendiri. TIDAK sama sekali. Tapi itu adalah atas ampunan Allah dengan cara Allah mencabut sendiri keinginan berbuat buruk itu dari rohani kita. Proses itu berlangsung dengan tanpa daya dan tanpa usaha kita sedikitpun.

Begitulah cara Allah menjawab dan mengabulkan do’a kita. Rabbgigfirlii…, DERR.

Subhanallah…, sungguh Rabbigfirlii adalah sepenggal kalimat sederhana, namun dulu begitu sering terlontar dari celah bibir manusia agung, Muhammad Salallaahuu ‘alaihii wa sallaam dan para sahabat-sahabat terpilih Beliau.

________________________________________________________________________
CATATAN: Kenapa hanya para sahabat yang terpilih?. Jawabnya juga sederhana saja. Andaikan posisi rohani semua sahabat yang hidup sesudah wafatnya Rasulullah adalah tepat, maka tidak akan ada pembunuhan Usman bin Affan, tidak akan ada pembunuhan Ali bin Abi Thalib, tidak akan ada pembunuhan cucu-cucu Beliau yang sangat Beliau sayangi Hasan dan Husein, tidak akan ada perang Shiffin, tidak akan ada Syi’ah dan Sunni berikut dengan segala variannya. Tidak akan ada !. Tidak ada penggolongan-penggolongan islam. Islam ya Islam. Titik. Karena memang pada saat posisi rohani kita berada didalam “Rumah” yang sama. Semua adalah satu. Karena memang semua berasal dari RUH yang satu. RUH Milik Allah.

Sementara kalau kita berada didalam “Rumah Pikiran”, maka keramaian dan keriuhrendahanlah yang akan tercipta. Kita menjadi tanah-tanah yang selalu ramai dan ribut dengan berbagai perselisihan dan pertentangan pikiran dan persepsi.

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”, (Al Baqarah 213).
_______________________________________________________________________

Dan kalimat Rabbigfirlii itu ternyata akan mengantarkan siapapun yang membacanya (pada posisi rohani yang TEPAT) untuk menjemput celupan daya pengampunan total dari Allah.
Setelah itu barulah kita ungkapkan bait do’a iftirasy berikutnya…, Warhamnii…, sampai celupan Rahmat Allah yang kita mohonkan itu turun membasuh rohani kita dan setiap DNA kita.

Lalu adakah yang lebih baik dari Shibgah Allah (SHIBGATULLAH) …?.

Rabbigfirlii…, rabbigfirlii…, rabbigfirlii… DERR.

SELESAI….

Wallahu a’lam..
Deka
Jalan Kabel no 16, Cilegon
Jam 10:30, Hari 5, bulan 4, tahun 2010

Iklan

Read Full Post »

PESAN ABU SANGKAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…! .

Sahabat…!.
Dimana letak Singasana Allah Yang Agung….!.
Jika kalian wahai sahabat ada disana, berarti kita satu rumah…!.
Ketika kita satu rumah…, apa kata pikiranmu…?.
Apakah kita masih mengatakan:

“Oh Tuhan-ku Yang Maha Agung…, Aku diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah…!. Ana khairun minhu khalaqtani min naarin…”
Kalau masih…, maka dimanakah gerangan letak kesatuan RUH …??.
Namun begitu…, tanda-tanda untuk itu masih ada dalam suasana hati kita…!!.

Padahal katanya: “Aku ikut Allah saja…”.
Akan tetapi tanpa sadar kita pecah seperti orang syariat… lainnya,
Akan tetapi tanpa sadar kita pecah seperti orang hakekat… lainnya,
Kalau begitu pastilah diantara kita ada yang tidak duduk dalam ketundukpatuhan… .!
Karena yang diperdebatkan adalah pikiran si Anu, pikiran Abu Sangkan, pikiran Deka…!

Kenapa kita tidak berada saja dalam satu rumah-Nya Yang Maha Dekat…!.
Lalu kenapa kita tidak saling membaca dengan kerendahan hati…
Bahwa syariat itu disatukan oleh apa….?.
Bahwa hakekat itu juga disatukan oleh apa…?
Dua-duanya ternyata disatukan oleh RUH…!.
RUH lah yang membuat syariat mempunyai kedalaman makna…
Dan…, RUH jualah yang membuat hakekat mempunyai keindahan aturan-aturan…

Coba tengoklah sejenak sejarah nenek moyang kita…!.
Walau saat itu Adam, Malaikat, dan Iblis bersatu dalam Rumah-Nya Yang Maha Dekat…
Walau mereka masing-masing bermakrifat kepada Allah dengan kualitas yang prima sekali…
Walau Malaikat saat itu menyatakan: “Aku ikut Allah…”, namun nyaris saja mereka ikut pikirannya sendiri. Hanya kelembutan Allahlah yang menyelamatkan Malaikat dari keangkuhan pikirannya sendiri…

Walau Iblis saat itu menyatakan: “Aku ikut Allah…”, namun saat itu (bahkan sampai kapanpun) iblis ternyata masih keukeuh (ngotot) memakai fikirannya sendiri:

“Ana khairun minhu khalaqtani min naarin…”, katanya angkuh.

Lalu ada apa dengan kita…, wahai sahabat…?.
Kalau kita berani mengatakan : “Aku ikut Allah…”,
Lalu kenapa kita tidak mau ikut alur PIKIRAN ALLAH….?.

Dan tidaklah PIKIRAN ALLAH itu melainkan Al Qur’an…,
Dan tidaklah PIKIRAN ALLAH itu melainkan Syariat…,

Malaikat akhirnya ikut PIKIRAN ALLAH, dengan sujud menghormat kepada Adam…
Karena malaikat sadar ada RUH (milik) TUHAN yang meliputi Adam…
Dan bersujud, patuh, serta bertasbih itulah bentuk kepatuhan Malaikat dalam bersyariat…

Akan tetapi…, Iblis malah memilih untuk TETAP ikut pikirannya sendiri…
Akibatnya Sang Iblis dalam wilayah kemakrifatannya kepada Allah, justru jatuh menjadi makhluk yang sama sekali tidak bersyariat…

Semoga dalam Ramadhan ini kita semua berada dalam wilayah BUKAN syetan…
Wilayah yang BUKAN pikiran kita sendiri.

Oleh sebab itu, selama ramadhan ini targetkan dan raihlah agar kita berada diwilayah:

“Aku mau ikut Allah,
Dan …, Aku mau pula ikut PIKIRAN ALLAH…,
yaitu Al Qur’an dan Syariat (sunnah)…!”.
Inilah suasana Idul Fitri yang sebenarnya…!.
Suasana Kesadaran RUH…!.
Yang membuat Mailaikat harus sujud…!

Abu Sangkan

Read Full Post »

RABBIGFIRLII (3-4)

Dalam kalimat yang sangat sederhana ini, kita tidak perlu sekelebatpun untuk mengingat-ngingat berbagai kesalahan dan dosa-dosa masa lalu yang pernah kita lakukan. Sebab begitu kita mengingat berbagai kesalahan dan dosa kita itu, biasanya objek fikir dan kesadaran kita akan berpindah kembali kepada kesalahan demi kesalahan kita itu. Begitu kita ingat sebuah kesalahan dan dosa yang dulu pernah kita lakukan, maka secara otomatis suasana saat kita sedang melakukan kesalahan dan dosa itu akan di recall kembali dari memori kita. Kesalahan dan dosa itu seperti baru saja kita lakukan dan menyata kembali. Namun pada saat yang sama rasa takut kita akan hukuman dan siksaan dari Allah atas dosa dan kesalahan itu juga meningkat, sehingga perasaan kita seperti terombang ambing tak menentu. Dada kita seperti ditekan dari atas dan dari bawah. Ilmu kita (olah pikir) mengatakan itu dosa, tapi suasana jiwa kita terlempar keruangan masa lalu yang penuh dosa yang kita ingat kembali. Suasana seperti ini membuat kita seperti orang dengan kepribadian ganda. Sehingga kita sering dipanggil sebagai TOMAT BALI, habis (TO)bat ku(MAT) kem(BALI). Tersiksa sekali sebenarnya.

Namun, kalau membaca Rabbigfirlii itu kita lakukan dengan positioning yang tepat, maka hasilnya akan sangat berbeda. Proses positioning itu adalah sebagai berikut:

• Pertama proses persiapan. Ketika sujud.

Saat sujud sebenarnya rohani kita sedang berada pada posisi yang sangat rendah dihadapan Allah. Kalau positioning kita tepat, maka Rohani kita dipegang oleh Allah. Akan muncul suasana kerendahan rohani kita dihadapan Allah. Kerendahan rohani itu bukanlah hasil dari sebuah olah fikir dan olah emosi. Yang kita dapatkan itu adalah keadaan rendah yang dituntun, rendah yang bersuasana, rendah yang diperjalankan. Pada saat yang samapun kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kita sedang berjumpa dengan Sang Maha Tinggi.

Biasanya sujud kita yang seperti ini akan menjadi lama. Kita tidak rela buru-buru untuk duduk. Karena saat itu rohani kita tengah duduk pada posisinya yang sebenarnya, yaitu posisi yang selalu ingin merendah, meringkuk, dipegang dan dituntun oleh Allah. Saat sujud itu kita biarkan rohani kita berserah total kepada Allah. Suasananya seperti orang yang sedang bergantung dan kita tidak ingin gantungan kita itu copot. Posisi seperti orang yang sedang terpesona dan kita tidak ingin keterpesonaan kita itu copot. Tidak jarang muncul sedikit suara menggeram halus yang keluar bersamaan dengan keluarnya nafas kita. Itulah suara rohani kita. Sungguh suasana yang sangat pribadi sekali.

Setelah itu dari “DALAM” akan mengalir daya yang begitu halus yang merambat dan menyentuh pita suara kita sehingga kemudian membentuk bunyi dalam bentuk bahasa manusia.

“Subhanarabbial a’la wa bihamdihi…”, ungkap kita dengan suara berbisik yang sangat santun dan lirih.
“Sungguh hamba bersaksi akan kemahasucian Allah, Sang Maha Tinggi”.

Ungkapan kita itu adalah sebentuk pernyaan persaksian rohani kita atas sebuah kebenaran tentang Allah. Sungguh benar hadist Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa saat yang paling dekat seorang hamba dengan Allah adalah saat sujud itu. Sungguh ucapan pujian kita itu bukan hanya ungkapan sekedar pemanis lidah saja. Tapi sebuah kebenaran yang menyata.

Sampai pada saatnya, suasana itu akan berakhir dengan sendirinya. Muncul suasana seperti selesai. Dess begitu…!. Dengan itu kita seperti dipersilahkan oleh Allah sendiri untuk duduk iftirasy.

“Ya… sudah wahai hambaku…, sekarang tenanglah”.
“La Khaufun…, janganlah takut…, LaTahzan…, janganlah khawatir dan bersedih hati. Ada Aku yang akan menjagamu…”. Sangat pribadi sekali suasananya.

Ketika kita dijaga oleh seorang pengawal pribadi saja rasanya begitu nyaman dan tenang, masak sih SAAT dijaga dan dituntun oleh Allah tidak ada rasanya sama sekali. Kelewatan sekali memang membatunya hati kita ini.

CATATAN: Akan tetapi kalau prosesi perendahan rohani kita dihadapan Allah ini tidak sampai tuntas, artinya sujud itu kita lakukan secara cepat dan sekelebatan saja, maka rohani kita seperti terlempar di kegersangan gurun pasir. Rohani kita menggelepar kehausan dan merintih dengan memilukan. Akibatnya pun segera akan terasa. Sujud kita itu jadi hambar dan itu akan berpengaruh pula pada perilaku dan perbuatan kita selanjutnya. Kita akan menjalani hari-hari kita dengan kegersangan dan kegaringan perilaku pula. Perilaku orang-orang yang hatinya telah membatu dan mati kata Al Qur’an.

Bersambung…

Read Full Post »

RABBIGFIRLII (2-4)

Rabbigfirlii…, ya Allah ampuni aku…

Kalau dalam mengucapkan kalimat diatas, keadaan atau suasana yang kita temui adalah yang seperti diatas, maka dengan terapi tertawa nggakak sampai keluar airmata juga akan sama hasilnya. Buat sesaat dada kita akan terasa lapang. Beban yang menindih dada kita rasa terlepas buat beberapa waktu. Ada rasa lega yang muncul. Hal seperti ini pernah saya lihat di discovery channel bahwa ada sekelompok orang yang sering berkumpul untuk “stress release” dengan cara mereka menciptakan suasana lucu sehingga pesertanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. Walaupun kadang tidak lucu, tapi kalau urat syaraf tertawanya sudah kena, maka mereka akan tetap tertawa terbahak-bahak. Kalau keadaannya seperti ini, namanya kita tengah mengolah dan memakasa otak kita agar otak kita ini percaya betul bahwa kita lagi senang, kita lagi gembira, atau kita lagi sedih, kita lagi menyesal, dan sebagainya.

Fitrahnya, otak kita ini kan tidak bisa membedakan apakah kita ini tengah berimajinasi, melamun, atau mengalami kejadian yang sebenarnya. Reaksi otak kita sama saja. Masalah ini akan saya bahas lebih lanjut dalam artikel “Suka-sukamulah”. Apakah kita beragama atau tidak, otak kita tidak bisa membedakannya. Juga, sekresi hormon yang dikeluarkan oleh otak sama saja antara kita membayangkan sedang memakan jeruk nipis dengan sedang memakan jeruk nipis benaran. Kalau kita merasa punya dosa, lalu kita merintih dan menghiba-hiba penuh penyesalan, maka otak kita akan meresponnya dengan mensecresikan hormon penyebab airmata kita keluar. Setelah kita menangis, otomatis hormon pembentuk rasa bahagia juga mengalir kedalam dada kita, sehingga beban yang selama ini ada didalam dada kita seperti menghilang. Lalu sejenak dua jenak kemudian mucul rasa senang dan bahagia didalam dada kita. Sehingga kita merasa bahwa apa yang kita lakukan barusan adalah sudah benar. Kalau tadinya kita merasa berdosa dan tertekan, setelah bedo’a, dan bertangis-tangisan itu kita merasa tenang dan bahagia, kita lalu merasa proses tobat dan rasa penyesalan kita itu sudah benar adanya. Raut wajah kita sumringah, mata kita berbinar. Kitapun dengan bangga berkata bahwa apa yang telah kita lakukan itu sudah benar adanya.

Akan tetapi sayangnya rasa puas dan bahagia seperti itu tidak bisa bertahan lama. Tidak berapa lama kemudian kita sudah lupa kembali. Begitu sebuah keadaan yang sangat mendukung kita untuk berbuat buruk seperti sebelumnya muncul, maka kitapun dengan mudahnya akan kembali melakukan berbagai perbuatan buruk seperti sebelum-sebelumnya itu. Lho…, tiba-tiba saja kita sudah terpuruk kembali melakukan perbuatan nestapa. Rasa bersalah kita kembali mengharu biru.

Inilah salah satu jebakan atau hijab yang sangat halus kalau kita dalam beragama ini semata-mata hanya berpedoman kepada proses olah otak atau olah pikir saja dan olah tubuh semata, walau didalamnya ada perubahan-perubahan fisik dan kejiwaan yang mengikutinya.

Alhamdulillah…, sepengalaman saya, islam telah memberikan kemudahan yang amat sangat kepada siapapun yang mau mencobanya untuk bisa terbebas dari segala duka nestapa akibat rasa bersalah dan rasa berdosa atas perbuatan buruk yang pernah dia lakukan dimasa lalu. Proses itu begitu sederhananya, yaitu sebentuk do’a pendek yang selalu kita ucapkan dalam posisi duduk diantara dua sujud. Do’a itu adalah: “Rabbigfirlii…, ya Allah ampuni aku…”. Sangat-sangat sederhana.

Bersambung…

Read Full Post »

RABBIGFIRLII (1-4)

Ya Allah ampuni aku…

Begitulah belasan kali mulut kita menggurimin (menggumam) mengucapkan kalimat singkat tersebut dalam do’a kita didalam shalat. Namun saat kita ditanya: “bagaimana jawaban Allah terhadap do’a kita tersebut?”. Kita biasanya hanya bisa tersenyum kecut menjawabnya. Seakan-akan kita menyembunyikan sesuatu yang tidak jelas didalam jawaban kita itu. Sesuatu yang kita sendiri tidak yakin akan adanya jawaban Allah itu. Kita seperti berada di dalam dunia absurditas. Dunia antara ada dan tiada.

Karena belum puas berdo’a didalam shalat tersebut, makanya setelah shalat biasanya kita kemudian kembali berdo’a dan berdo’a dengan semangat empat lima untuk minta ampun kepada Allah. Kadangkala kita sebutkan satu persatu kesalahan dan dosa-dosa masa lalu yang mungkin pernah kita lakukan. Kita kadang juga merintih: “kalaulah tidak Engkau maafkan aku ya Allah, maka aku akan menjadi orang yang sangat merugi dan menderita…”. Tidak jarang do’a minta ampun kita itu begitu panjangnya (lebih panjang dari durasi shalat kita), dan kadang diiringi pula dengan deraian airmata kita yang membanjir. Semakin kita ingat akan dosa kita, biasanya sedu-sedan penyesalan kita juga akan bertambah hebat.

Kalau sudah begini, biasanya barulah kita “merasa” puas. Seakan-akan kita sudah curhat habis kepada Allah. Kita menganggap bahwa do’a kita itu sudah diterima oleh Allah. Apalagi setelah bertangis-tangisan itu ada segumpal rasa lega yang menggelayuti dada kita. Puas sekali rasanya. Makanya dimana ada pengajian atau Ustadz yang bisa membuat orang menangis seperti ini, biasanya akan dicari-cari orang. Sejauh apapun tempatnya, akan dijambangi orang dengan mata berbinar-binar. Ustadznyapun kemudian akan dielu-elukan dan dihormati orang dengan kadar yang lebih dari orang biasa. Bahkan tidak jarang kita minta do’a kepada sang Ustadz, seakan-akan kalau sudah dido’akan oleh Beliau semua urusan tentang kesalahan dan dosa-dosa masa lalu kita itu sudah selesai. Kita merasa sudah aman….

Namun saat kita kembali ditanya orang: “sebenarnya jawaban Allah atas do’a-do’a mu yang berbalut oleh air mata tadi apa?”. Jawaban kita mulai sedikit agak berbentuk. “Setelah menangis tadi, aku jadi puas…, aku lega…, aku tenang…, dsb…”. “Lalu bagaimana…?”. “Ya besok-besok, kalau ada acara yang sama aku ingin ikutan lagi”, kata kita dengan raut wajah sumringah. Seakan-akan kalau kita berdo’a sendirian dirumah itu tidak afdal. Tidak keren.

Anehnya tidak lama berselang, sambil terheran-heran, kita tiba-tiba telah melakukan kembali dosa-dosa yang kemaren-kemaren kita minta ampunkan oleh Allah. Dosa itu seperti terjadi begitu saja, walau kita tahu bahwa itu adalah dosa, dan kita telah minta ampun pula kepada Allah. Misalnya betapa sering kita kembali dan kembali bergunjing, berbohong, iri, dengki, bertengkar dan marah yang nggak karuan, sampai kepada perbuatan maksiat, mencuri, korupsi, setelah kita tadinya berdo’a dengan diiringi tangisan pula.

Lalu bagaimana ini ?. Apa yang terjadi dengan do’a-do’a kita kalau yang terjadi adalah seperti itu?. Sebenarnya jawaban Allah atas do’a kita diatas itu apa sih bentuknya?.

Mau tahu….?.

Bersambung…

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: