Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2010

Barang siapa yang ingin melakukan AMAL SHALEH, maka syarat WAJIBNYA adalah…

Dia Sudah Tidak Lagi:
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang siapa dirinya.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang dari mana asalnya.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang buat apa dia ada.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang apa tugasnya.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang kemana dia akan kembali.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan dirinya sendiri.

Kalau dia belum SELESAI dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia SELESAI dengan YANG LAIN?. Dan bagaimana bisa pula dia melakukan AMAL SHALEH?. IMPOSSIBLE…!. Karena dia akan MENJADI sibuk dengan dirinya sendiri untuk selamanya.

Kalau dia sudah SELESAI dengan dirinya,

Lalu Dia Sudah Tidak Lagi:
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang siapa ALLAH.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang dimana ALLAH.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Zat ALLAH.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Wujud ALLAH.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Sifat ALLAH.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang nama-nama ALLAH.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Laa Ilaha Illallah.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan Allah.

Kalau dia belum SELESAI dengan ALLAH, bagaimana bisa dia SELESAI dengan Tuhan-Tuhan YANG LAIN Selain ALLAH?. Dan bagaimana bisa pula dia melakukan AMAL SHALEH?. IMPOSSIBLE…!. Karena dia akan MENJADI sibuk dengan Tuhan-Tuhan YANG LAIN Selain ALLAH itu untuk selamanya.

Kalau dia sudah SELESAI dengan ALLAH,

Lalu Dia Sudah Tidak Lagi:
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Muhammad Rasulullah.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang tugas Beliau.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang akhlak Beliau.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang syariat Beliau.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan Rasulullah.

Kalau dia belum SELESAI dengan Rasulullah, bagaimana bisa dia SELESAI dengan orang-orang YANG LAIN Selain Rasulullah?. Dan bagaimana bisa pula dia melakukan AMAL SHALEH?. IMPOSSIBLE…!. Karena dia akan MENJADI sibuk dengan orang-orang YANG LAIN Selain Rasulullah selamanya.

Agar BISA SELESAI dengan diri sendiri, dan BISA pula SELESAI dengan Allah dan Rasulullah, maka lakukanlah ibadah-ibadah: Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (bagi yang mampu). Karena semua ibadah itu tadi merupakan fasilitas dan pintu pembuka agar seseorang bisa selalu INGAT (DZIKIR) dan bisa pula berhadapan-hadapan dengan ALLAH. Karena Rasulullah pun melakukan hal yang sama untuk membetulkan positioning Beliau dihadapan Allah.

Kalau sudah SELESAI dengan Allah dan Rasulullah, maka namanya dia SUDAH BERSYAHADAT kepada Allah dan Rasulullah. Artinya dia saat ini juga SUDAH BERSAKSI; Sudah Melihat; Sudah Beriman; Sudah Yakin kepada Allah dan Rasulullah.

Lalu Dia Sudah Tidak Lagi:
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Al Qur’an.
Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Al Hadist.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan Al Qur’an dan Al Hadist. Dia tinggal hanya membacanya berulangkali untuk mengkalibrasi apa-apa yang telah dan yang akan dia lakukan didalam hidupnya.

Karena Al Qur’an hanyalah kitab dimana Allah bercerita tentang Allah SENDIRI dan segala Kemahahebatan-Nya terhadap semua ciptaan-Nya (termasuk terhadap Malaikat dan Iblis).

Sementara Al Hadist adalah kitab yang berisikan “sebagian” Akhlak Rasulullah ditengah-tengah para Sahabat Beliau dalam mencontohkan posisi Beliau sebagai seorang Hamba Allah.

NAMUN, barang siapapun yang sudah SELESAI dengan semua itu diatas, dan dia juga sudah melakukan semua ibadah-ibadah itu dengan benar sesuai yang dicontohkan Rasulullah, maka sebenarnya saat itu dia masih BELUM ada apa-apanya. Dia masih BELUM dianggap apa-apa oleh Allah. Saat itu seseorang itu baru berada pada posisi segerombolan orang di garis START. Posisi orang yang siap untuk berlari dan saling mendahului untuk berlomba-lomba melakukan AMAL SHALEH. Posisi orang-orang yang belum berhak mereguk perjumpaan dengan Allah. Lho…, kok begitu?.

Ya…, karena orang yang berhak dan bisa BERJUMPA dan MEJUMPAI Allah hanya dan hanya orang yang membawa AMAL SHALEH nya kehadapan Allah.

“…Barangsiapa mengharap PERJUMPAAN dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan AMAL YANG SALEH…” (Al Kahfi 110).

Saat seseorang ingin menjumpai Allah, maka Allah akan bertanya: “Kau membawa amal shaleh apa untuk datang kepada-Ku kali ini wahai hamba-Ku?”.

Saat seseorang tidak bisa menunjukkan Amal Shalehnya ketika dia menghadap Allah, maka Allah akan berpaling: “Menjauhlah kau dari Ku, karena kau bukanlah Hamba-Ku”. Kalau sudah begini sungguh sangat memiriskan sekali akibatnya. Astagfirullah…

Akan tetapi, ketika seseorang datang merendah-rendah kepada Allah sambil berkata, “Ya Allah, hari ini hamba menghadap Paduka hanya dengan membawa amal shaleh yang sangat kecil dan remeh, yaitu hamba tadi telah menyingkirkan sepotong DURI dari jalanan yang sering dilalui orang…”.

Dengan lembut, Allahpun berkata kepada para malaikat dan kepada para iblis: “Lihatlah wahai malaikat dan iblis. Dialah hamba-Ku, dialah hamba-Ku yang memelihara orang lain agar tidak celaka, dialah Abdul Muhaimin (hamba-Ku yang Memelihara). Itulah Amal Shaleh yang tidak bisa kalian lakukan. Dan itu pulalah yang menyebabkan Aku memerintahkan kalian untuk sujud menghormatinya. Karena dia adalah Abdul Muhaimin, Ruh-Ku”.

Adakalanya seseorang datang sambil merintih: “Ya Allah, sebelum datang menghadap, tadi hamba membacakan Al Fatihah dan berharap agar Paduka berkenan menyampaikannya kepada Ibunda hamba, dan sudilah Paduka memberkati, merahmati, mengampuni Beliau, hanya do’a kecil itu yang hamba bawa ketika hamba ingin berjumpa dengan Paduka”. Atau yang lebih dahsyat adalah, kalau dia langsung duduk menyungkur dihadapan ibunya untuk minta maaf dan ridho ibunya, lalu dia laporkan itu kepada Allah: “Ya Allah hamba datang menghadap Paduka setelah tadi hamba minta maaf dan ridho dari ibunda hamba. Karena maaf dan ridho Paduka kepada hamba adalah hanya dengan sebab adanya maaf dan ridho ibu hamba kepada hamba, Ridha Allah fii ridha walidayn. Sungguh syurga Paduka untuk hamba ada ditelapak kaki ibu hamba”.

Dengan lembut, Allah berkata kepada malaikat dan iblis: “Lihatlah oleh kalian. Dialah hamba-Ku, dialah Abdul Rahim (hamba-Ku yang berkelimpahan dengan Kasih dan Sayang-Ku), karena, dengan maaf dan ridha dari ibunya itu, Aku telah masukkan dia kembali kedalam suasana Rahim ibunya. Akulah yang menciptakan dia di dalam rahim ibunya. Rhido-Ku dan ridho ibunyalah yang menyebabkan dia bisa lahir kebumi ini. Kalau saja ibunya tidak ridho dulu, maka Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dia tidak akan lahir kedunia ini”. Dan sekarang sujudlah kalian kepadanya untuk menghormat. Karena dia adalah Abdul Rahim, Ruh-Ku”.

Dilain kesempatan seseorang datang untuk berjumpa dengan Allah dengan merayu-rayu: “Ya Allah, kali ini hamba datang menghadap setelah tadi terlebih dahulu hamba menunaikan perintah Paduka untuk memberikan 10.000 rupiah kepada seorang bapak tua yang sedang bersandar disebuah pohon. Orang tua itu kelihatan letih. Mungkin dia telah berjalan sekian lama membawa seperangkat peralatan “sol sepatunya” mencari-cari kalau-kalau ada seseorang yang ingin memperbaiki sepatunya yang robek. Saat hamba melihatnya, hamba lihat dada hamba Paduka aliri dengan sebuah kehendak dan sekaligus daya untuk menyampaikan sedikit rezki kepadanya. Dengan tersenyum dan mengucapkan salam, lalu hamba tunaikan perintah paduka itu, walau hanya 10.000 rupiah saja”.

Dengan tegas lalu Allah kembali berkata kepada malaikat dan iblis: “Lihatlah oleh kalian. Dialah hamba-Ku. Dialah Abdul Razak, hamba-Ku yang bersedia menolong-Ku memberikan rezki kepada si Fulan. Nanti si Fulan itu, ketika dia makan siang disebuah warung nasi seharga 5000 rupiah sepiring, dia akan memberikan tambahan 2000 rupiah sebagai hadiah kepada si ibu tua penjaga warung nasi itu. Sebab tadi pagi cucu si nenek tua itu, yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak, merengek-rengek kepada neneknya minta dibelikan dua potong roti. Karena dia ingin memberikan roti yang sepotong lagi kepada seorang temannya yang tidak pernah membawa bekal roti kesekolah. Karena temannya itu memang anak dari seorang bapak yang kurang mampu. Kemaren anak itu, ketika melihat cucu si nenek makan sepotong roti, dia ingin pula mencicipi sepotong roti seperti itu. Aku tahu itu, sehingga Aku alirkan kehendak itu kedalam dada hamba-Ku si Abdul Razak itu. Dan dia memenuhi perintah-Ku itu. Lihatlah begitulah cara-Ku memberi rezki dan sekaligus kebahagian kepada seorang anak kecil yang memimpikan bisa makan sepotong roti besok pagi. Itulah yang kalian tidak bisa lakukan, sehingga aku memerintahkan kalian untuk segera sujud menghormat kepada hambaku itu. Karena dia adalah Abdul Razak, Ruh-Ku”.

Dengan bekal amal-amal shaleh kecil seperti itu, Allahpun berkenan menyambut kedatangan seseorang hamba-Nya itu dihadapan-Nya. Allahpun berkenan menaikkan derajat hambanya itu ketingkat yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Proses perpindahan derajat itu akan sangat terasa sekali. Ada sebuah tarikan halus, sangat halus sekali malah, yang membawa ruhani si hamba naik membubung tinggi menuju ASSSIRR UL ASRARR. Rahasia diatas Rahasia yang hanya Allah dan hambanya itu saja yang mengetahuinya. Wilayah yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain. Wilayah sangat rahasia. Dan setiap orang ternyata punya wilayah Rahasia diatas Rahasia itu, yang untuk memasukinya sungguh tergantung dari AMAL SHALEH apa yang dia bawa saat dia datang menghadap Allah untuk berjumpa dengan-Nya.

Kalau sudah begini, maka kualitas suasana dan keadaan SHALAT si hamba itu akan berlipat ganda dari kualitas yang sebelumnya. Shalat yang betul-betul ada rasa menghadap dan kumunikatifnya. Shalat yang dialogis antara Allah dengan hamba-Nya. Kecukacitaan si hamba juga seketika akan meningkat ke level yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dan itulah yang menyebabkan IMAN si hamba kepada Allah akan meningkat pula dengan sangat drastis.

Itu pulalah yang menyebabkan malaikat mau tidak mau kembali tersungkur bersujud dan menghormat kepada si hamba Allah, Abdullah. Dan iblispun kembali pula bersaksi atas ayat Allah bahwa dia tidak bisa berkutik apa-apa saat berhadapan dengan hamba Allah yang Mukhlasin…

Sesaat sebelum lebaran kemaren, sebelum aku datang menghadap Allah, dengan terlebih dahulu bershalawat kepada Rasulullah dan keluarga Beliau, kusampaikan sebaik kalimat pendek kepada Ustad Abu Sangkan: “Pak Abu…, saya mohon maaf dan ridhonya. Wassalam Yusdeka, Pupun & Ima”. Dan Beliau juga menjawabnya dengan sangat singkat: “Insyaa Allah sama-sama. Semoga rahasia sirr menjadi pembuka kita dalam rahasia Allah”. Aku sampaikan hal yang sama kepada Bapak Haji Slamet Utomo, kepada Ibuku H. Arni Burhan, kepada Bapakku H. Bustami Thaib, kepada ibu mertuaku H. Suwarsih, dan tak lupa sebait do’a pendek kepada almarhum Ayahku Ali Syarkawi, almarhum Bapak mertuaku H. Eman Sulaeman, almarhum Kakekku H. Burhan St. Bandaro Putiah, dan almarhumah Nenekku H. Dayana (yang sangat menyayangiku sampai Beliau meninggal tahun 2002 dalam umur lebih dari 80 tahun). Kemudian kupeluk istriku Pupun Agusrini dan anakku Karima sambil berbisik: “maafkan dan ridhoi papa ya…, Papa sudah memaafkan dan meridhoi kalian terlebih dahulu…”.

Labbaik Allahumma labbaik…, Ya Allah…, hamba datang dengan bekal ucapan maaf dan permintaan ridho dari orang-orang yang sangat hamba hormati dan cintai….

Dan akhirnya akupun meninggalkan ramadhan tahun ini dengan sebungkah Rahasia diatas Rahasia, Assirr ul Asrarr, antara aku dan Allahku ketingkat yang belum pernah kualami sebelumnya.

Ya Allah…, terima kasih…
Subhanallah…
Alhamdulillah…
Allahu Akbar…

Wassalam
Deka, 26 September 2010
Jalan Kabel No 16, Cilegon, Banten.

Read Full Post »

Haa miim, ‘Ain Siin Qaaf.

Haa miim, ‘Ain Siin Qaaf…, Lalu Sebutir benih pencerahan telah diletakkan oleh Sang Hidup kedalam dadaku. Kemudian Gerak Sang Hidup telah mengembangkan benih pencerahan itu menjadi tunas kepahaman yang siap mengakar dan mengada dalam kehidupanku.

Ternyata agar aku bisa bermetamorphosis menjadi kupu-kupu rohani yang sempurna, aku terlebih dahulu haruslah mampu mengenali sebuah ketidakbenaran sebagai sesuatu yang betul-betul tidak benar, dan mengenali pula sebuah kesalahan sebagai sesuatu yang benar-benar salah. Kalau tidak begitu, aku akan selalu saja terbawa kealam yang penuh dengan bentuk-bentuk khayalan dan ilusi yang membingungkan.

Ketidakbenaranku selama ini adalah bahwa aku telah menjadikan pikiranku sebagai identitas utama diriku. Kesalahanku yang paling besar selama ini adalah bahwa aku telah terlalu lama menjadi budak dan bahan permainan dari pola pikiranku sendiri.

Akibatnya…
Kesadaranku tercerabut dari Sang Hidup Yang Maha Dekat Dekat…
Keberadaanku menjauh dari Sang Hidup Yang Maha Nyata…
Tali bergantungku terlepas dari Sang Hidup Yang Maha Meliputi…

Sekarang…
Haa miim, ‘Aiin Siin Qaaf…,
Akupun tiba-tiba menyadari keberadaanku…
Aku hanyalah semurni-murninya Ruh milik Allah…
Akupun duduk meringkuk disisi Allahku…
Akupun merunduk bersiap menerima titah dari Allahku.

Haa miim, ‘Aiin Siin Qaaf…,
Dan akupun tinggal bergegas menjalankan titah Allahku…

Haa Miim. `Ain Siin Qaaf…, Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan (mengilhamkan) kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. (Asy Syuura 1-3)

Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan, dan Allah juga mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy syams7-10)

Salam
Deka

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: