Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2012

Kemudian kukirimkan sebaris SMS kepada sahabatku dan sekaligus guruku: Ustadz Salim Bahreisy.

“Assw pak Salim. Tahajud barusan saya baru merasakan Allah benar benar mengizinkan saya menyebut NamaNya. Bismillahi Allahu Akbar. Subhanallah…”

“Ya pak, ilmu ini adalah pergaulan dengan Allah, seperti berjodoh, kadang terasa mesra, kadang terasa dijauhi, kadang dicemburui, dan tidak mau di poligami”, balas Beliau.

Tiba-tiba istriku memelukku. “pah selamat ulang tahun ya…”.

Singkat saja. Tapi aku merasakan dia menyampaikannya dengan segenap rasa syukurnya pula kepada Allah.

Akupun tersadar bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku yang kesekian kalinya.

Dan…, ternyata Allahku telah terlebih dahulu memberiku sebuah kado istimewa dan terindah buatku.

“Allahku mengizinkanku dan menuntunku untuk menyebut Nama-Nya…”.

Beberapa saat kemudian Ustadz Salim Bahreisy memberikan wejangan Beliau lebih lanjut: “Buat pak deka : lambat laun kalian akan paham wilayah hakikat yang sebenarnya, La yafhamu anhu illa man hua ma’ahu. Engkau tidak akan paham kecuali berada pada wilayah tersebut. Proses yang sungguh lama, aku menunggu kalian merasakan apa yang kurasakan. Dengan kebersihan jiwa, kalian akan masuk dalam panggilan irji’i wahai yusdeka ila rabbiki. Jadi dzikir hakiki itu atas panggilan Allah sendiri. Tugas kita hanya melakukan perjalanan mendekat (muraqabah) dan menetapkan secara istiqamah (tamakkun) sampai Allah ridho. Sungguh dahsyat dzikir yang diperintahkan Allah, sebab dzikir kepada Allah hanya diperintahkan kepada orang yang beriman saja, ya ayyuhal ladzina amanuu…. udzkuruullah dzikran katsiran….. bukan ya ayuhal munafiquun…. udzkurulllah!!. Ketika yusdeka dalam keadaan iman, keadaan di ridhoi, keadaan bersih dan muuthmainnah, panggilan itu otomatis terjadi. Maka dzikirmu menjadi keadaan yang berbeda dengan dzikir selama ini. Inilah yang dimaksud dengan wilayah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Dzun nun berkata ; araftu rabbi bi Rabbi, Aku kenal Allah oleh Allah sendiri”.

Dan hari itu telah menjadi hari terindah bagiku…

Shallallah ‘ala muhammad… Shallallah ‘alaihi wa sallam…
Shallallah ‘ala muhammad… Shallallah ‘alaihi wa sallam…
Shallallah ‘ala muhammad… Shallallah ‘alaihi wa sallam…

Wassalam
Deka
Jl. Santani No 31, Cilegon..

Read Full Post »

Setelah salam…
Aku bersandar kesisi tempat tidur.
Untuk beberapa saat aku hanya diam.
Aku tidak ingin menggangu Qodrat-Nya.
Aku berserah untuk tiada.
Aku berada dalam diam, dalam tiada…
Qodrat Allah menghadap Allah…
Min Ruhi menghadap Allah…
Diam …………………

Berbilang menit kemudian, tiba-tiba Allahku seperti mengizinkanku untuk menyebut Nama-Nya. Ya…, Allahku mengizinkanku untuk menyebut Nama-Nya. Bahkan bukan hanya mengizinkan, tapi juga Allahku menuntunku untuk menyebutkan Nama-Nya. Ya…, Allahku menuntun ku…

“Allah…”
Hanya sepatah kata…, Allah…

Dan Allahku pun membalas ucapakanku itu dengan menurunkan kebahagiaan yang amat sangat kepadaku. Bahagia yang melampaui segala rasa bahagia yang pernah kurasakan selama ini. Bahagia diatas bahagia…

Namun aku tidak mau berlama-lama tenggelam dalam rasa bahagia diatas bahagia itu. Sebagai bentuk rasa syukurku, akupun segera mewujudkannya dengan melanjutkan shalat malamku dan kemudian witir. Tapi kali ini shalatku telah berubah seperti menjadi sebuah alatku untuk bersyukur kepada Allahku. Takbirku adalah bentuk syukurku. Ucapanku adalah bentuk syukurku. Rukukku adalah bentuk syukurku. Sujudku adalah bentuk syukurku. Iftirasyku adalah bentuk syukurku. Tumakninahku adalah bentuk syukurku. Tasyahudku adalah bentuk syukurku. Salamku adalah bentuk syukurku. Syukurku kepada Allahku… Subhanaka…, subhanaka…

Kulihat istriku juga sedang menyampaikan rasa syukurnya diatas sajadah barunya…

Semua kejadian dan peristiwa itu berakhir sekitar jam 04:05.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Sebelum shalat tahajud, aku sengaja berdiri dengan luruh dan lunak. Aku tidak mau melawan Qodrat Allah yang sedang menarik tubuhku melekat kuat ke bumi. Karena tidak melawan itu, maka akupun tidak lagi merasa capek sedikitpun. Aku sudah tidak disibukkan lagi oleh tubuhku.

Namun pikiranku masih mencoba untuk meronta. Dia masih ingin berlari menjelajahi ruang dan waktu. Dia masih ingin berkunjung kemasa lalu dan menerabas kemasa depan. Aku mencoba untuk menahannya. Ehh…, semakin kutahan, dia malah semakin kuat meronta.

Lalu kubiarkan saja pikiranku itu untuk lepas dan berlari. Tapi arahnya saja yang kutuntun agar dia bisa ikut dengan Qodrat Allah yang selalu patuh menghadap kepada Allah. Kutuntun pikiranku. Kuletakkan pikiranku dibalik nafasku. Karena memang nafasku itu adalah bentuk Qodrat Allah yang selalu menghadap dan kembali ke Allah, yang selalu bergerak ke Allah. Buat beberapa saat kubiarkan pikiranku itu mengikuti pergerakan Qodrat Allah yang sedang menghadap kepada Allah.

Tiba-tiba pikiranku seperti ditawan oleh Qodrat Allah. Ya…, Qodrat Allah seperti memegang pikiranku itu agar dia bisa ikut bersama Qodrat Allah yang sedang menghadap dan bergerak menuju Allah. Dengan begitu akupun sudah tidak disibukkan lagi oleh gerakan liar pikiranku.

“Allaaaahu Akbar…”, aku berbisik lembut sambil mengangkat kedua tanganku sejajar dengan kupingku.

Bisikanku itu seperti ikut berjalan bersama Qodrat Allah yang telah terlebih dahulu menawan pikiranku dan tubuhku. Aku seperti ikut terseret bersama bisikanku itu mengikuti Qodrat Allah yang sedang menghadap ke Allah… Akupun menjadi tidak berkutik…, seperti ketidakberkutikan pikiranku dan tubuhku.

Tak berapa lama, muncul kerinduanku yang amat sangat untuk mengucapkan: “inna shalatii…, wanusukii, wamahyaya…, wamamati… lillahi rabbil ‘alamiin…”. Kerinduan itu seperti muncul dari dalam yang sangat dalam. Rasa rindu yang lebih mengarah kepada pengungkapan sebuah keadaan daripada hanya sekedar sebuah ucapan basa basi. Keadaan bahwa yang aku lakukan dan yang aku alami, baik itu berupa shalatku, ibadahku, maupun hidupku dan matiku, ternyata terjadi “di Wilayah atau Ruangan” yang tak lebih dari jarak diantara “dua jaringan tangan” Allah. Wilayah yang kalau kita misalkan, itu tidak lebih dari jarak ruang antara jari telunjuk dan jari jempol kita saat keduanya kita disentuhkan atau pertemukan. Kecil sekali dan sempit sekali wilayah atau ruangan itu. Sebuah Wilayah atau Ruangan yang juga ditempati oleh seluruh alam-alam ciptaan Allah. Alam Qodrati yang dipenuhi oleh Qodrat Allah yang selalu bergerak, mengarah, dan kembali menuju Allah. Aku seperti diperangkap dan ditawan oleh Qodrat Allah. Aku tidak berkutik, sehingga dengan sangat deras meluncurlah ungkapan pengakuanku: “lillah…, lillah…, lillahirabbil ‘alamin…”. Lalu akupun seperti meluncur ikut bersama Qodrat Allah yang selalu mengarah ke Allah.

Empat rakaat pertama kulalui dalam waktu 25 menit dengan suasana hanya ikut menumpang bergerak bersama Qodrat Allah yang selalu bergerak menuju Allah. Setiap gerakanku, setiap ucapanku, setiap rukukku, setiap sujudku, dan bahkan setiap diamku seperti telah menjadi nafasku semata. Ya…, aku seperti telah menjadi hanya sekedar segaris tipis nafas yang bergerak ikut Qodrat Allah. Hanya sebentuk nafas, selembut nafas bayi. Hanya segaris lembut angin (RIH) yang ikut Amr Allah. Min Ruhi…

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Tulisan ini hanyalah sebentuk berita kepada kawan seperjalanan tentang suatu malam beberapa hari yang lalu.
Malam itu rasanya aku dibangunkan oleh Allahku dari tidurku lebih awal dari biasanya. Aku yakin, tentu Allahku punya maksud khusus untuk itu. Biasanya sih aku dibangunkan oleh Allahku sekitar jam 3-an lebih. Segera aku berkata: hamba siap ya Allah… Sejenak kulirik jam dinding yang sudah menemaniku belasan tahun untuk mengenal waktu. Tepat jam 1:50.

Seperti biasa…,
Terlebih dahulu kupadang Wajah Allahku, Sang Maha Meliputi Segala sesuatu…, lalu aku menunduk ta’zim. Kurasakan Ada Hidup yang tengah mengalir lembut bersamaan dengan keluar masuknya nafasku.
“Ya Allah, Ya Hayyu…, terima kasih… Paduka masih berkenan memberikan kembali sejumput kehidupan melalui aliran nafas hamba. Dengan ini hamba mohon izin ya Allah untuk menghirup udara milikmu ini”.

Kuhirup udara dengan sengaja setarik dua tarikan nafas. Lalu kemudian kusimpan pikiranku “dibalik” nafas itu. Kubiarkan pikiranku dituntun lembut oleh alunan nafasku yang merupakan Qodrat Allah yang sedang patuh menghadap kepada Allah. Kulihat pikiranku telah ikut Qodrat Allah yang sedang menghadap ke Allah. Akupun lega…, karena aku sudah tidak perlu capek-capek lagi untuk mengarahkan-ngarahkan pikiranku yang biasanya selalu saja asyik berlari liar kesana-kemari.

“Ya Allah…, hamba mohon izin untuk menginjak bumi milikmu ini Ya Allah… Bismillahi Allahu Akbar”.
Kubiarkan tubuhku luruh mengikuti tarikan daya yang dinamakan orang sebagai gaya grafitasi bumi. Kakiku melekat erat kebumi. Aku tidak melawan sedikitpun. Tanganku sedikit terasa bergetar lembut seperti sedang dijalari oleh ratusan semut halus. Kuamati daya yang memaku tubuhku kebumi itu. Kupandang pula rembesan semut-semut halus yang menyebar ditelapak dan jari-jari tanganku. Semuanya itu ternyata hanya berada diantara “dua jari tangan” Allahku. Lalu akupun mengucap syukur: “Laa haula wala quwwata illa billah…, semua kuat ini, semua gaya ini, semua daya ini, semua getaran ini adalah milik-Mu Ya Allah. Semua itu adalah Qodrat-Mu Ya Allah…”. Lalu pikiranku kuletakkan pula dibalik daya dan getaran halus itu yang sebenarnya juga adalah Qodrat Allah. Ya…, Qodrat Allah, yang pastinya akan selalu menghadap dan patuh kepada Allah. Kubiarkan pula pikiranku patuh mengikuti Qodrat Allah yang sedang menghadap ke Allah itu. Sehingga semua daya dan semua getaran halus itu sudah tidak menjadi perhatianku lagi. Yang kuikuti adalah Qodrat Allah yang sedang menghadap dan kembali ke Allah.

Lalu aku bergegas kekamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu. “Ya Allah, hamba mohon izin memakai air milikmu ini untuk bersuci ya Allah. Atas nama-Mu Ya Allah, kuusap lembut wajahku, kusucikan tubuhku, kubasuh kulitku, kubasahi rohaniku…”. bisikku lembut.

Beberapa saat kemudian kulakukan shalat pendahuluan yang ringan sebanyak dua rakaat. Suasananya masih tidak jauh berbeda dengan suasana shalat-shalatku yang lalu. Kulirik jarum jam menunjukkan waktu 2:10.

Bersambung
Deka

Read Full Post »

Alam Ilmu

Dengan sangat majunya pemahaman orang tentang otak sekarang ini, terutama yang berkenaan dengan gelombang-gelombang otak seperti Alfa, Theta, dan Delta, kita seperti dipertontonkan dengan berbagai fenomena luar biasa yang bisa kita lakukan yang dulunya mungkin dianggap sihir atau aktifitas yang dibantu oleh jin atau makhluk halus lainnya.

Dulupun sebenarnya saya pernah merasakan dan memperdalam keadaan gelombang otak alfa dan theta ini ketika saya masih aktif berlatih dalam sebuah perguruan silat tenaga dalam ternama. Dalam posisi ini, dulu saya bisa dengan mudah mematahkan besi baja, genteng, buis beton, dan beberapa lapis batangan es dengan sabetan tangan telanjang. Juga beberapa kali saya bisa menemukan benda-benda dalam keadaan mata tertutup. Adakalanya juga penyembuhan dari berbagai gejala penyakit sepertinya sangat mudah sekali dilakukan.

Keadaan diatas sebenarnya adalah hal yang sangat-sangat biasa jika kita berhasil mengolah pikiran dan tubuh kita dengan metoda-metoda tertentu sampai mendapatkan state of mind alfa atau bahkan ke theta. Belasan tahun yang lalu, saya sangat hafal dengan cerita-cerita Kho Ping Hoo yang berkisah tentang bagaimana seseorang bisa mendapatkan kesaktian yang sangat hebat setelah dia bertapa dibawah air terjun, atau terdampar sendirian disebuah gua. Artinya dia berhasil menjadi sakti setelah dia terlebih mengalami berbagai penyiksaan terhadap tubuh dan pikirannya. Bahkan Sunan Kalijaga dikisahkan berhasil mencapai ma’rifatnya setelah Beliau berendam di sungai untuk sekian lamanya.

Kenapa harus sampai ke state of mind alfa atau theta?. Karena memang sebenarnya state of mind alfa dan theta ini adalah gudang ilmu kesaktian kalau kita mau berlama-lama mengolah diri disini. Saya masih ingat sebuah percobaan sederhana dan singkat untuk kembali memasuki wilayah ini bersama Pak Haji Slamet Oetomo. Suatu saat dulu, ketika saya dan beberapa orang teman “patrap”, sedang berlatih di Bumi Perkemahan Cibubur, dilapangan Rajawali, Pak Haji Slamet Oetomo berkata kepada kami: “Jangan kalian kira orang ketuhanan itu tidak bisa ilmu apa-apa. Coba kamu maju kedepan. Minta kepada Allah agar kamu bisa mendapatkan pakertinya Willem Daendels, seorang Gubernur Jendral Belanda dahulu kala”. Eh…, mulai dengan terbata-bata kemudian bertambah lancar, saya seperti bisa berbahasa Belanda, yang sebenarnya tidak pernah saya ketahui, untuk beberapa lama. Lalu Pak Haji berkata: “ya sudah…”. Dan sayapun bisa berhenti berbahasa Belanda itu dengan sangat mudahnya.

Kemudian Pak Haji memanggil kami berpasang-pasangan dan berkata: “kamu minta kepada Allah agar dipahamkan pakerti Prabu Siliwangi, dan kamu yang satu lagi minta kepada Allah agar mendapatkan pakerti Gajah Mada. Dan tidak berapa lama kemudian terjadilah perkelahian yang sangat seru antara kami berdua. Wah seru juga silat yang keluar malam itu. Untuk menghentikannya Pak Haji hanya cukup berkata: “ya sudah…”, dan kamipun segera berhenti berkelahi dengan sangat mudahnya. Puluhan teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama. Kami saling menonton pertunjukan silat gratisan malam itu. Seru juga…

Catatan: Sebagai percobaan, setelah itu saya juga pernah melakukannya dengan beberapa orang teman di Cilegon. Hasilnya juga sangat mengasyikkan.

Nah semua ilmu yang berkenaan dengan hypnotis, hypnoterapi, ilmu bahagia, ilmu sembuh-sembuh, ilmu energi-energi, ilmu getaran-getaran, ilmu quantum-quantum, dan berbagai ilmu sejenisnya, yang sekarang ini membanjiri otak orang Indonesia dengan sangat deras, berada dan bermain dalam wilayah state of mind alfa atau theta ini.

Hanya saja setelah itu Beliau dan juga Ustadz Abu Sangkan diberbagai kesempatan berkata:

“Nah…, kalian cukup hanya sekedar tahu saja dengan wilayah ilmu ini, yang salah satu contoh kecilnya adalah yang kalian lakukan tadi itu. Banyak sekali ilmu-ilmu yang lain diwilayah ini. Namun kalian nggak usah berlama-lama di wilayah ini. Karena wilayah ini adalah wilayah yang akan membawamu kepada keangkuhan. Ini adalah WILAYAH PENGAKUAN. Jika engkau berada dalam wilayah ilmu, engkau dengan mudah akan mengaku-ngaku bisa ilmu ini, bisa ilmu itu. Sebab semua ilmu memang ada dan terpapar luas diwilayah ini. Nanti kamu akan disibukkan sendiri oleh ilmu-ilmu itu. Engkau akan mencari ilmu yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Sebab diatas sebuah ilmu selalu masih ada ilmu yang lebih tinggi dan hebat. Kamu akan sibuk sekali mencari dan mencari ilmu yang lebih sakti dan lebih sakti lagi. Suatu saat nanti, ketika kamu telah merasa bisa, pasti ilmu itu akan mendorong kamu untuk mengajari orang lain. Dan saat kamu mengajari dan melatih orang lain itu, kamu pasti hanya akan membawa ruhani orang lain kewilayah ilmu-ilmu itu. Pasti itu…”.

“Ingat…, saat kalian berda’wah, atau memberikan wejangan, atau mengajar, atau mungkin hanya sekedar menulis sekalipun, kalian sebenarnya sedang memasukkan alam pikiranmu sendiri kedalam otak seseorang. Nanti alam pikiranmu itu akan dipakai oleh orang itu dalam kesehariannya. Nantinya, mungkin dia akan mengajarkan pula alam pikiranmu itu kepada orang lain, atau paling tidak kepada anaknya. Hasil dari alam pikiranmu itu, akan membentuk cikal bakal sikap yang tertanam di dalam untaian Chromosomnya. Itu pulalah yang akan diturunkannya, melalui air maninya, kepada anak cucunya kelak. Yang pasti…, alam pikiranmu tadi itu akan beranak pinak menjadi pikiran-pikiran orang lain yang kamu da’wahi, yang kamu ajari, yang kamu wejangi, atau yang kamu beritahu melalui tulisanmu. Kalaulah alam pikiranmu itu suatu saat malah menjauhkan orang itu dari Allah, alangkah besarnya tanggung jawabmu kelak dibelakang hari. Saat dia berkata kepada Allah: “ya Allah…, saya jadi begini karena diajarkan oleh si fulan itu, saya mohon keadilanmu ya Allah…”. Dan sungguh Allah punya cara yang sangat unik dan hebat untuk menunjukkan keadilan-Nya…”.

“Ingat pula…, saat kalian kelak melatih seseorang, sebenarnya kalian sedang mengajak batin, jiwa, atau ruhaninya untuk bergerak kepada suatu objek pikir tempat dia nantinya menghentikan pikirannya, membawa perasaaannya, mengantarkan batinnya, meletakkan ruhaninya pula. Tanggung jawabmu sebenarnya sangat berat saat melatih itu. Sebab engkau sedang bermain-main diruangan batin (ruhani) seseorang. Engkau ajak ruhnya untuk berhenti di objek pikir ilmu-ilmu. Engkau kuasai ruhnya. Bahkan engkau masukkan pula keinginanmu kedalam ruhaninya. Artinya saat itu, engkau hentikan perjalanan ruhnya, gerak ruhnya pada ilmu-ilmu yang kamu miliki itu. Padahal ruhnya sebenarnya ingin pulang kerumahnya, datang kepada pemiliknya, yaitu Allah. Nanti keinginanmu itu akan dilakukannya seakan-akan itu adalah keinginannya sendiri. Dan kelak, malah dia bisa pula mengajarkannya kepada orang lain. Nah kamu bisa bayangkan betapa besarnya tanggung jawabmu sekarang???”, kata Beliau lirih.

“Ingatlah, kalau dia nanti punya masalah, dia akan mengingat kamu, dia akan mengingat pikiran-pikiranmu, dia akan mengingat ilmu-ilmu yang kamu pernah perkenalkan kepadanya. Dia bukannya ingat kepada Allah. Tapi dia malah ingat kepadamu dan kepada ilmumu yang kamu ajarkan kepadanya. Saat itu engkau sebenarnya telah menjadi alatnya untuk menjadi syirik dihadapan Allah. Kelak… juga pikirannya, tulisannya, jualannya, omongannya, tindak tanduknya, dan yang dibesar-besarkannya tidak akan jauh-jauh dari pikiran-pikiranmu itu. Yang lebih mengerikan sebenarnya adalah alamat parkir ruhaninya akan sama dengan alamat dimana ruhanimu berhenti, yaitu di alam ilmu-ilmu”, kata beliau hampir berbisik.

“Sekarang dapatkah kamu renungkan??”, andaikan kamu mengajarkan sesuatu kepada seseorang dan kamu tidak mengenalkan seseorang itu tentang Allah, tentang datang ke Allah, tentang pulang ke Allah, tentang merendah kepada Allah, itu sama saja artinya dengan kamu menghambat dan menawan ruhnya yang sebenarnya ingin untuk kembali kepada Allah dengan penuh ridho. Sebab saat itu kamu memang telah menghambat ruhnya untuk kembali ke Allah dengan dirimu, dengan pikiranmu, dan dengan ilmu-ilmu yang kamu ajarkan kepadanya. Engkau telah menjadi berhalanya…!. Alangkah berani kamu kalau begitu…”, suara Beliau terdengar seperti bergetar dan dari suatu tempat yang sangat jauh…

Lalu Beliau terdiam untuk beberapa lama, seperti ingin memberi waktu kepada kami untuk mencerna wejangan Beliau. Tak lama berselang, kamipun serentak meninggalkan alam ilmu-ilmu itu, untuk kemudian menjumpai Sang Pemilik semua ilmu…!. Ya Allah…, Ya Rahman…, dan kamipun tidak mau mengganggu kesibukan-Nya yang sedang menata alam semesta dengan segenap Maha Daya-Nya…

Asyhadu anlaa ilaha illallah…, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah…

Kami tidak ingin merampas Kehidupan-Nya.
Kami berserah untuk tiada..
Kami berada dalam diam dalam tiada….
Diam…, Diam…, Diam…

Sebagai kelanjutannya, pada tahapan berikutnya, saya ditunjukkan lebih dalam lagi oleh Ustadz Abu Sangkan tentang sebuah keadaan yang sangat berbeda dengan wilayah ilmu-ilmu itu. Keadaan itu adalah WILAYAH IMAN, WILAYAH TAQWA, WILAYAH PERJALANAN (SALIK). Walaupun dengan tertatih-tatih dan terseok-seok, saya tetap mencoba mengamalkannya dengan semangat 45. Hanya saja dalam perjalanan waktu, saya seperti dapat merasakan dan menjadi saksi bahwa pada wilayah iman dan taqwa ini ada perbedaan yang sangat signifikan yang didapatkan antara seorang yang hanya sekedar Beribadah (ABID) dengan seorang bersedia menjadi SALIK (SALIKUN). nyata sekali bedanya. Subhanallah…

Betapa tidak. Lihatlah beberapa muatan ayat Al Qur’an berikut:

• Untuk bisa diajari Allah dengan ilmu-ilmu, sebenarnya kita cukup bertaqwa saja: “wattaqullaha wayu’allimukumullahu (al baqarah 282)
• Untuk mendapatkan keberuntungan, kita cukup dengan bertaqwa saja (ali imran 130)
• Sebagai bukti kita sudah beriman, cukuplah dengan bertaqwa. (al maidah 112)
• Agar diberi rahmat, kita cukuplah dengan bertaqwa (al an’aam 155)
• Agar mendapatkan berkah dari langit dan bumi, kita cukuplah dengan bertaqwa (al a’raf 96)
• Agar tidak was-was dan bisa melihat kesalahan-kesalahan, kita cukuplah ingat kepada Allah (al a’raaf 201
• Agar mengerti berbagai tanda-tanda (ayat) Allah, kita cukuplah dengan bertakwa. (yunus 6)
• Agar bisa bersama Allah, kita cukuplah dengan bertaqwa dan berbuat kebaikan (an nahl 128)
• Agar bisa menjadi aman, kita cukuplah dengan bertaqwa (Ad dukhaan 51)
• Agar terlindung, kita cukuplah dengan bertaqwa (Al Jaatsiyyah 19)
• Agar mendapatkan jalan keluar dari berbagai masalah, kita cukuplah dengan bertaqwa (ath thalaq 2)
• Agar diberi rezki dari tempat yang tidak disangka-sangka, kita cukuplah dengan bertaqwa (ath thalaq 3)
• Agar dicukupi segala keperluan, kita cukuplah dengan bertaqwa (atha thalaq 3)
• Agar dimudahkan segala urusan, kita cukuplah dengan bertaqwa (ath thalaq 4)
• Agar bisa mendapatkan pelajaran dari al qur’an, kita cukuplah dengan bertaqwa (al haaqqah 48)

Dan kesemuanya itu adalah sebuah PERJALANAN yang Tiada Akhir…, SALIK

Sesederhana itu saja sebenarnya. Kalau sudah begini sederhananya, kita akan mencari-cari cara yang bagaimana lagikah???. Entahlah kalau memang masih ada…

Hanya saja disini kita memang perlu kemampuan untuk bisa menangkap dan membaca ILHAM yang diturunkan Allah langsung kedalam Dada kita. Karena memang Petunjuk Allah tentang Taqwa itu datangnya melalui ILHAM dari Allah sendiri kepada kita. Bukan dari yang lain.

Lalu..
Bagaimana agar bisa menangkap dan membaca ilham itu ?.
Bagaimana membedakan itu benar adalah Ilham dari Allah atau itu malah jalan pikiran yang berasal dari hawa nafsu kita sendiri?.
Bagimana membedakan bahwa itu ilham dari Allah atau itu adalah was-was dari syaitan?.
Hal-hal beginilah yang seharusnya dilatih dan disempurnakan oleh umat islam sekarang ini.

Monggo jadi Salikun…

Subhanallah…

Wassalam Deka

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: