Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2012

Menikmati Sebuah Pengulangan 3-13

Saya atau kita umumnya selalu merasa sudah bersedia menerima Allah
namun pada kenyataannya sering masih sangat jauh dari “keadaan” yang Allah inginkan
maka Allah akan “menguji” atau “memproses” dengan pengulangan-pengulangan kejadian
agar diri kita mampu lebih dalam untuk “menerima Allah”, dalam tahap atau tingkat yang lebih dalam

Saya atau kita selalu merasa sudah mengenal atau mengetahui tentang Allah
namun pada kenyataannya sering masih sangat jauh dari “keadaan” yang Allah inginkan
maka Allah akan “menguji” atau “memproses” dengan pengulangan-pengulangan kejadian
agar diri kita mampu lebih dalam untuk “menerima Allah”, dalam tahap atau tingkat yang lebih dalam

Setiap tahap kita merasa sudah mengenal Allah, maka akan dibenturkan oleh kejadian
sehingga akhirnya kita merasa “belum sanggup” menerima takdir/kehendak Allah
kita hanya bisa menerima itu atas bantuan dan nikmat serta rahmatNya saja
sebetulnya bukan usaha kita sama sekali, kita hanya tanpa daya upaya sama sekali
upaya kita seolah seperti mendorong tembok baja, tiada guna
ketika merasa bisa, kembali dibenturkan lagi, sampai hancur berkeping-keping
sehingga sampai tunduk, menyerah, pasrah dalam sebuah penerimaan rasa “suka rela”
yang terasakan sebagai sebuah “hal” yang lebih dalam dan lebih dalam lagi
setiap pelajaran akan meningkatkan rasa ini semakin dalam

setiap tahapan atau kemajuan, kita meyakini bahwa kita sudah semakin mengenal Allah,
maka akan dibenturkan dan diulangi ujian/cobaan/masalah dalam hidup
yanga akhirnya akan sampai pada suatu titik, dimana akhirnya saya menyerah
dengan sebuah hal yang sederhana: “Aku tidak tahu”
aku menyerah dan aku tidak tahu apa-apa
semua rasa tahuku hanyalah pemberian, atau titipan atau pinjaman
aku menyerah saja, otak berputar tanpa henti mencapai titik jenuh penuh rasa lelah
hampa, letih dan hanya akan sampai di satu titik itu lagi: Aku tidak tahu

perjalanan ini akhirnya menjadi sebuah perjalanan yang tidak diketahui
tanpa perlu difikirkan, bahkan rasanya pun hanya perlu bersedia dan rela diberi rasa apapun
apapun rasa yang muncul, hanya bersedia dan rela untuk menerimanya
rela menerima Allah dalam bahasa sederhananya adalah:
“Rela menerima rasa apa saja yang disispkan Allah di dalam jiwa kita”.
Bersambung…

Wass Deka on Behalf of IB

Iklan

Read Full Post »

Catatan di tanggal 28 Oktober 2012.

Pagi ini saya meneruskan tulisan yang ingin saya kirimkan untuk mas Deka.
Ternyata benar firasat untuk menunda pengiriman ke mas Deka, yaitu untuk memahami pembelajaran
atas makna pelajaran atau untuk menambah pemahaman, karena kalau sudah terkirim maka selesai
namun ketika masih tertahan maka saya mampu menahan diri, mampu bersabar, tidak terburu nafsu,
mampu melihat dari banyak sisi yang belum terfikir, sehingga tidak terpengaruh “ego”
tidak terpengaruh kesombongan, bangga diri dan tidak larut dalam kebenaran semu
saya mampu lebih dalam memasuki “rasa” atas pengulangan yang terjadi
bersabar dalam melihat peristiwa
bersabar dalam memahami sebuah makna
menahan diri dari sifat tergesa-gesa
menahan dari hawa nafsu dari rasa ingin “menonjolkan diri”
dari rasa sudah “hebat” atau “rasa dekat dengan hal gaib” atau sebangsanya

namun yang timbul justru rasa tidak tahu dan rasa tunduk
ada sebuah “pemahaman inti” yang muncul kembali dengan menahan diri tidak langsung mengirim
selain menghindarkan diri dari “rasa lebih yang saya sebutkan di atas”
yaitu makna sebenarnya dari semua pelajaran atas “pengulangan” ini.
Inti sederhana yang pernah mas Deka sampaikan, yaitu:

“BERSEDIA MENERIMA ALLAH”.

Inilah inti yang ingin disampaikan, dan ternyata baru muncul setelah saya mampu menahan diri
sebuah pelajaran sederhan dan sangat sederhana, yaitu proses menerima Allah
dan rasa menerima Allah.

Bersambung…

Wass Deka on Behalf of IB

Read Full Post »

Minggu, 28 Oktober 2012 9:14

Ass.wr.wb.

Sudah lama kita tidak kontak. Semoga kabar mas Deka baik dan sehat selalu.
Selalu dalam lindungan Allah swt.

Semoga keselamatan dan kesejahteraan berlimpah dari Allah untuk mas Deka sekeluarga.

Ada tulisan dari email mas Deka “tepat setahun yang lalu” 27 Oktober 2011.

Saya cuplik email mas Deka itu:

ya…., begitulah yang saya tangkap setelah membaca tulisan Mas IB yang ke sekian. Dengan tulisan kesekian itu, Mas IB telah selesai menjalani satu putaran proses dari awal sampai mampu menerjemahkan pesan yang Allah sampaikan kepada Mas IB. Lalu menyampaikannya kepada orang-orang. Proses berikutnya adalah pengulangan-pengulangan dengan intensitas yang meningkat. selamat berkiprah Mas IB.

salam hangat dari cilegon.

deka

Ada satu keanehan yang saya alami.

Saya mengalami “pengulangan proses”. Sepertinya sejarah diulang. Dengan tempo dan intensitas yang lebih cepat dan lebih kuat.

Seolah mengulangi dari pelajaran dasar dan mengikuti kelas demi kelas setingkat demi setingkat.

Demikian banyak hal-hal yang berulang. Banyak kejadian yang berulang, banyak kisah yang berulang. Banyak pelajaran yang berulang.
Sebetulnya banyak kejadian. Tetapi nanti saya kisahkan di lain waktu, kalau ada “feel”nya.
Dan email ini juga membuktikan “pengulangan tersebut”.

Secara garis besarnya, sekarang lebih mampu menikmati “rasa”. Seolah kesadaran selalu mengapung bersama “alam semesta”.
Rasanya nyaman dan enak, lega dan nikmat selalu.
Rasa seolah menjadi sangat sensitif dan peka dengan alam. Sehingga mampu menikmati keindahan alam semesta.

Menjadi seperti tiada diri. Namun menapak realitas dan membumi dan bekerja keras.
Menjadi kosong namun penuh berisi. Menjadi berisi, namun seolah tiada apa-apanya.
menikmati hidup dengan penuh rasa syukur, hidup yang sangat nikmat dalam kesempatan yang sekali ini saja.

Menyadari betapa lemah dan tiada daya, sehingga hanya selalu memohon ampun.

Maka menikmati hidup dalam syukur dan istighfar, menikmati kegembiraan dan kebahagiaan hidup secara realitas.

Mungkin akan saya kisahkan dalam bagian lain. Insya Allah.

Bersambung…

Wass Deka on Behalf of IB

Read Full Post »

Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Segala puji dan puja bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam kepada penutup para Nabi dan keluarganya. Salam kepada para Nabi dan keluarganya, yang disucikan Allah SWT. Salam kepada para shalihin atas perjuangan mereka dalam beribadah kepada Allah. Keteladanan mereka selalu menjadi inspirasi bagi kami dan orang-orang kemudian.

Yaaa Allah, ampunilah aku, maafkanlah aku. Aku telah mengabaikan apa yang sudah Engkau amanatkan kepadaku. Yaaa Allah, melalui tulisanku inilah, aku berjuang untuk memegang amanat-Mu, merawat benih-benih yang Engkau sandarkan kepadaku. Aku sebenarnya tidak pantas menerima amanat itu. Namun aku yakini bahwa itu adalah penghormatan-Mu untukku. Penghormatan kepadaku bukan karena hamba-Mu merasa lebih baik dari yang lain atau karena dihormati atau diikuti oleh hamba-Mu lainnya, tetapi penghormatan karena Engkau sempurnakan perjuanganku dengan amanat itu. Merawat benih-benih manusia agar bersedia kembali kepada-Mu adalah bagian dari proses penyempurnaanku. Yaaa Allah, terima kasih, segala puji untuk-Mu, salam dan shalawat untuk penutup Nabi dan Rasul-Mu. Yang dengan tuntunan beliau kami meneladani. Yaaa Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau dan Muhammad saw adalah Rasulmu.

Yaaa Allah, masih kuingat dalam diriku, tatkala pada tahun 2002 di Puncak Jawa Barat Engkau turunkan amanat-Mu agar aku mengajak manusia kepada-Mu. Ketika itu, aku melihat beliau yang aku hormati, Haji Slamet Utomo, menatap langit dan Engkau tarik diriku mendekati beliau agar bisa memahami amanat-Mu. Kulihat sahabat-sahabatku bergelimpangan tidak mampu menerima getaran amanat-Mu. Saat itu, hanya kami berdua yang berdiri dan beliau berkata lirih kepadaku, “Ilmumu sudah cukup. Mulai sekarang, berdakwahlah! Sekarang bertapalah kamu di situ!” Aku bingung, aku merasa aku tidak pantas, aku juga tidak tahu, apa makna bertapa?

Di saat aku kembali ke tempat tinggalku, Engkau masih juga mengirim peringatan untukku agar aku berdakwah. Lidahku selama beberapa minggu bergetar mengucap, “Qum Fa-andzir!” Lalu akupun menyatakan diri, aku bersedia. Engkaulah yang mengirim hamba-hamba-Mu kepadaku. Karena aku bukan ahli agama, bukan ahli bahasa Arab. Ternyata betul, Engkau kirim hamba-hamba-Mu datang kepadaku. Yaaa Allah, janji-Mu pasti, sedangkan janjiku lemah, meski aku berjuang. Oleh karena itu, ampuni aku yaaa Allah. Kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku berharap, kepada-Mu aku bergantung.

Kemudian Engkau tuntun aku, melalui nasehat beliau, Haji Slamet Utomo agar aku pergi berangkat berhaji. Sebelum aku berangkat, Engkau memintaku untuk bersilaturahmi dengan para orang-orang shalih yang sudah mendahului. Mereka para shalihin mendoakanku dan ada yang menyarankan agar aku melaksanakan arba’in di Masjid Nabawi.

Tatkala aku berangkat haji pada tahun 2007, dalam perjalanan di atas pesawat, Engkau beri aku mimpi. Dalam mimpiku, aku berjalan berdua dengan saudaraku, lalu aku lihat ada sebuah tanaman kecil, dengan tangkai terdapat dua buah yang besar, seperti buah pir. Aku petik salah satu buah-Mu dan aku nikmati, terasa manis dan menyegarkan. Semuanya aku nikmati, hingga tinggal bijinya. Bijinya begitu besar dan berselaput sesuatu yang tipis. Saat aku perhatikan, ternyata dalam buah tersebut terdapat benih manusia. Aku kaget dan aku lemparkan biji itu. Yaaa Allah, aku mohon ampun, aku mohon maaf, aku menyesal, namun semua sudah terjadi. Dalam sesalku, aku fahami bahwa Engkau mengamanatkan kepadaku agar merawat benih-benih itu. Yaaa Allah, aku bersedia meski aku tak tahu harus bagaimana.

Saat sampai di Tanah Haram, Engkau tempatkan aku di Madinah Al Munawarah. Ternyata betul, karena sudah aku niatkan dengan basmallah, aku bisa melaksanakan arba’in tepat empat puluh tanpa kurang, tanpa lebih. Di sana aku memohon kepada-Mu agar bisa menyalami Nabi-Mu. Engkau muliakan diriku, dengan Engkau kabulkan doaku agar bisa menyalami hamba-Mu yang Engkau muliakan. Beliau datang dengan baju gamis hitam mewah bersulam emas yang sedemikian indah. Wajahnya begitu teduh, namun tegas, cambangnya lebat namun indah dipandang. Tangannya begitu lembut, seolah terbuat dari awan putih yang menggantung di langit. Aku ingin meyakininya, namun pikiranku selalu membantahku akibat banyaknya kitab yang kubaca.

Kemudian saat aku bermunajad dalam diamku, menyimak Eksistensi-Mu di Arafah, Engkau anugerahkan kepadaku sepasang pedang. Yang saat aku meminta penjelasan, Engkau fahamkan bahwa itu adalah hujjah-Mu. Yaaa Allah, Alhamdulillah. Yaaa Allah, Engkau pula Yang memudahkanku dalam perjalanan Hajiku. Hingga di saat aku harus kembali, meninggalkan Tanah Haram, aku memohon kepada-Mu, agar Engkau menemui-Ku di RumahMu. Engkau betul-betul tidak ingin mengecewakan hamba-hamba-Mu, Engkau kabulkan do’aku. Engkau sepikan mereka yang sedang berthawaf, hingga aku bisa masuk ke dalam Hijir Ismail, bagian dalam RumahMu.

Aku shalat di dalamnya, beserta hamba-hamba-Mu yang lain, meski dengan berdiri. Di akhir shalatku, aku bertanya kepada-Mu, “Yaaa Allah, aku dalam RumahMu. Dimanakah Engkau?” lalu Engkau menjawab, “Aku di sini.” Yaaa Allah, antara percaya dan tidak, antara ragu-ragu dan yaqin, aku bersyukur atas penghormatan-Mu kepadaku. Yaaa Allah, Engkaulah Al Muhith, Engkaulah Al ‘Alim, pertemuan dengan-Mu bukanlah pertemuan fisik. Engkau tak terjangkau dengan indraku, tak terjangkau dengan pikiran dan perasaanku.

Yaaa Allah, untuk mengenal-Mu, aku berjuang untuk memahami-Mu. Aku jalankan apa yang Engkau tuntunkan kepada-Ku, melalui Nabi-Mu. Lalu Engkau sempurnakan diriku melalui dakwahku kepada hamba-hamba-Mu. Yaaa Allah, aku tahu bahwa dakwah bukanlah tujuanku, tetapi ini adalah bagian dari penyempurnaanku sendiri. Yaaa Allah, aku faham bahwa aku tidak boleh mencari pengikut, tetapi hanya mengajak bersama-sama untuk beribadah kepada-Mu. Yaaa Allah, pasti akan ada yang membantahku. Dan Engkaulah penggemblengku, melalui mereka semua Engkau menggemblengku. Melalui mereka pula, Engkau sempurnakan diriku. Yaaa Allah, terima kasih, aku tak tahu, harus bagaimana aku memuliakan-Mu. Oleh karenanya, aku hanya bisa menyerahkan diriku kepadamu, memohon cahaya-Mu. Alhamdulillahirabbil’alamin.

Yaaa Allah, ampuni aku atas kelemahanku. Dengan basmallah, aku hanya bisa bersedia kepada-Mu. Aku berjuang, yaaa Allah. Tulisan ini saksiku, sahabat-sahabatku pun juga saksiku. Yaaa Allah, hambamu berdoa dengan membawa umat ini agar membuka diri menerima-Mu. Yaaa Allah, bila aku dikenal hamba-hamba-Mu, janganlah Engkau membiarkan aku menghijab hamba-Mu untuk menyembah-Mu. Biarkanlah aku tiada, karena sesungguhnya, hanya Engkaulah Yang Wujud. Aku hanyalah tentara-Mu. Segala puji dan puja untuk-Mu.

Shalawat dan salam untuk Nabi-Mu beserta keluarga dan keturunannya, yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Salam buat mereka-mereka yang bersedia menempuh jalan mendaki, jalan mulia dan bukan jalan yang mudah namun tercela. Segala puji dan puja untuk-Mu, Sesembahan seluruh makhluk.

Sang Sahabat….

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: