Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2015

Resonansi Kidung Panembrama-7

7. Jalan pulang Sang Pengelana cahaya

Telah sekian lama aku berhenti menulis, memang ada satu dua kali menulis, termasuk menulis disini berkomentar dan sebagai usikan kesadaran. Cukup lama sudah ber-resonansi disini dan beberapa waktu ini hanya berdiam diri. Sebuah panggilan untuk mengisi resonansi adalah sebuha tugas dari Allah yang harus diterima dengan sukarela. Entah harus kutuliskan apa untuk mengisi forum yang mulia disini. Apa yang harus kubicarakan di hadapan para akhli dan para pemuka disini.

 

Aku tak tahu apa yang kutuliskan, memang ada rencana apa yang ingin kutuliskan, namun pada saat akan mengirimkan, selalu saja berubah total. Selalu ada perintah atau keyakinan untuk mengirimkan ini saja. Maka tulisan ini terutama bukan untuk orang lain. Terutama resonansi untuk diriku sendiri. Untuk memperbaiki diriku sendiri. Sebuah kisah untuk meyakinanku sendiri. Bila ada cahaya yag mampu menerangi di hati yang membaca maka cahaya iytu bukan berasal dariku.

 

Memang betapa inginku ikut menyalakan lilin atau api dalam jiwamu, siapapun adanya engkau yang membaca ini, namun semua itu diluar kemampuanku, kecuali dirimu sendiri yang meletakan api (energy) ini yang menyalakan obor untuk menerangi jalan dan langkahmu. Semoga.

Resonansi adalah “peristiwa turut bergetarnya suatu benda karena pengaruh getaran gelombang luar”. Misalnya ada pesawat terbang lewat dan kaca ikut bergetar, atau ada truk lewat kursi kita ikut bergetar. Resonansi dalam tulisan disini adalah resonansi hati atau jiwaku atas getaran yang lain bias jadi berasal dari sini, atau setelah melihat yang di youtube atau membaca di tempat lain. Getaran hati inilah yang coba dituliskan dan tentu saja kadar dan kualitasnya bias jadi jauh lebih lemah dari sumber gelombang. Tetapi paling tidak ini hanyalah sebuah kisah pembanding.

Masalah terbesar kita adalah tidak mampu atau tidak bisa “berkomunikasi” dg Allah. Krn Allah “bicara” dari balik layar. Dari screen. Bila kita ada di dalam layar komputer. Maka yg sebenarnya bicara dg kita adalah yg ada di dalam komputer. Karena kita tidak akan mampu mengerti bahasa langsung dari Allah. Kita hanya mampu mengerti bahasa yg ada di dalam komputer. Komputer alam inilah yg berbicara dalam program. Rencana. Ketentuan. Ketetapan. Kesadaran yg ada di komputer alam inilah yg bicara dengan ruh dalam diri. Micro dan makro. Alam kecil dan alam semesta. Kesadaran alam mikro. Ketika bicara dengan alam makro. Sederhananya dimisalkan kesadaran anak balita ketika bicara dg orang tuanya. Yg akhli Ilmu alam misalnya. Bandingkan kepandaian balita dg saintis yaitu orang tuanya. Anak itu hanya berkata orang tuanya sangat pandai. Tapi tdk tahu sampai dimana kepandaian orang tuanya itu. Maka untuk belajar kepandaian orang tuanya memerlukan proses dan waktu. Demikian permisalan sederhana.

 

Perumpamaan lainnya, semisal seorang pengarang kisah novel, dan bagaimanakah caranya tokoh di dalam kisah novel itu “berhubungan” dengan pengarang itu. Bagaimanakah tokoh yang diciptakan itu berkomunikasi dengan sang penciptanya?. Bagaimana bila tokoh yang jahat berdoa ingin berganti peran?. Bagaimana pula bila semua orang dalam novelnya ingin kaya?. Dan bagaimana pula semua tokohnya memohon untuk baik dan sempurna?. Bisakah tokoh di dalam kisah itu bias bicara dan mengenal sang pengarangnya, sang penciptanya, yang menghidupkan dan mematikan hidupnya dalam novel itu?. Bagaimana caranya keluar dari kisah novel dan masuk ke dimensi sang pengarang?. Apakah dimensi sang pengarang sama dengan dimensi kisah dalam novel?. Samakah wujud sang tokoh dengan sang pengarang?. Samakah bahasa sang tokoh itu dengan bahasa penciptaannya?. Sang tokoh dalam novel itu hanya bias mengenali sang pengarang novel bila mampu mengenali sebanyak mungkin tanda-tanda yang ada di dalam novel itu yang membuktikan bahwa novel itu adalah ciptaannya, perasaan sang pengarang, konsep cerita, renungan, bahasa, kata, kalimat dan hal lainnya yang membuktikan novel itu ciptaannya.

 

Demikian perumpamaan demi perumpamaan untuk memudahkan membayangkan hubungan atau komunikasi hamba dengan tuannya, manusia dengan Tuhannya. Bagaimana memikirkan Allah, bagaimana mengenali Allah. Bagaimana membuktikan keberadaan Allah. Bagaimana melihat kenyataan Allah, bagaimana mengenali kegaiban Allah. Bagaimana memikirkan Allah.

 

Ya sayangnya ketika berfikir tentang Allah. Fikiran kita lbh banyak kosong. Kita sering tdk mampu merasa kalau Allah itu hidup. Allah itu merasa. Allah itu mendengar. Allah itu melihat. Allah itu berfikir. Allah itu berkehendak. Allah itu memiliki sifat. Dan dalam gerak. Aktivitas. Fikiran kita selalu dalam angan tentang apa-apa yg kita sendiri menganggap hampa atau mustahil. Tidak mungkin. Atau kita sebut keraguan. Mk ketika berkomunikasi kpd Allah. Biasanya kita hanya “bicara sendiri”. Dan tak pernah menangkap apa yg dijawab oleh Allah.

Mengingat Allah…
Kalimat sederhana dan teramat sederhana ini menjadi teoriris
Berpilin. Ruwet.. kompleks.. dan sulit difahami..
Begitu carut marut.. dengan dogma.. dengan teori..
Dengan harus begini dan begitu..

Suatu hal yg teramat sangat sederhana
Kita mengingat sebagaimana mengingat biasanya
Berfikir sebagaimana biasanya berfikir..
Lalu berproses terus menerus
Tergantung tingkat kesadaran
Atau tergantung ilmu yg dimilikinya
Meningkat dari SD..SMP..SMA..Universitas dan seterusnya..
Tingkat kelas pengajaran Allah..

Maka apapun yg bisa dilakukan untuk mengingat mari kita gunakan. Kita tidak bisa berenang. Hanya dengan membaca kitab juara olimpiade renang. Kita harus mencari sungai atau kolam renang dan mencoba berenang. Kita tidak bisa bersepeda..komputer. Dan lain-lain dg hanya membaca kisah saja. Belajar..berusaha. Kita tidak bisa mendapatkan gigi yg bersih dan sehat. Dengan hanya meyakini sebuah metode gosok gigi terbaik saja. Maka berusahalah gosok gigi.
Belajarlah berenang. Berlatihlah naik sepeda. Semisal itu berusahalah berfikir tentang Allah, apa saja
Terserah bagaimana metodenya.Yg penting tetap tekun memikirkan Allah
Memikirkan alam dan ciptaanNya yg lain. Biar Allah yg menunjukkan jalan-jalannya. Tentu saja bila ingin mengikuti salah satu jalan atau metode yg ditunjukkan. Akan lebih baik karena lebih mudah dan lebih cepat. Seperti berlatih silat. Dengan bertemu guru silat tentu saja akan lebih cepat. Karena tanpa guru memang jauh lebih besar kemungkinan tersesat. Mengingat Allah. Adalah proses sederhana dan biasa. Mari kita mulai dengan yg paling sederhana dan mudah..
Mengenali Dzat yg Hidup..
Dzat yg pandai dan cerdas
Dzat yg penuh gerak dan aktivitas
Selalu menjaga dan mencipta
Dzat yg menyayangi
Dzat yg memiliki sifat…
Sifat-sifat yg disebutkan olehNya..
Dzat yg memiliki sifat demikian ini
Menyebut nama dirinya dg nama yg indah Allah..

Maka ingatlah keindahannya dan keindahan alam ciptaanNya saat mengingat Alam

Maka ingatlah kehebatanNya saat mengingat keluarbiasaan dan kesempurnaan alam ciptaanNya..

Maka ingatlah dan fikirkan apapun tentang alam semesta ini..
Lalu naikkan kesadaran sedikit saja
Bahwa semua itu dalam ketentuan dan aturan serta liputan dan kekuasan Allah..

Maka berfikirlah
Lalu rasakan komunikasi itu
Rasakan saat Allah menjawab
Rasakan saat Allah mengajari
Rasakan saat Allah menyayangi
Rasakan saat Allah mencintai
Rasakan saat Allah menggerakkan
Rasakan saat Allah mengalirkan energy
Rasakan saat Allah meniupkan rasa
Rasakan saat Allah memberi kesadaran

Amati atas semua rasa
Saksikan

Saksikan dalam persaksian

Maha suci Allah
Sesungguhnya semua ini Engkau ciptakan tidak sia-sia..
Dan aku yg pertama-tama berserah diri
Dalam perlindunganMu

 

Melanjutkan langkah yang sudah dimulai dengan mengikuti surah Permulaan (Al Fatihah)

 

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan, Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; 

bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al Fatihah)

 

Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)

 

Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan Rab di muka bumi.

 

Allah memberikan perumpamaan dan permisalan demi permisalan untuk kita berfikir, untuk memudahkan kita menerima pesan kesadaran. Untuk mendapat pengetahuan dan mendapat petunjuk. Maka perumpamaan inipun hanya akan berguna bagi yang mau mencoba mengerti dan memahaminya.

Dalam berkisah inipun akan selalu menggunakan perumpamaan demi perumpamaan. Mungkin salah satu atau lebih perumpamaan ada yang mampu memahaminya tergantung tingkat pengetahuan yang memberi cobtoh (diriku) dan juga tergantung yang membaca. Karena begitu sederhananya yang ingin disampaikan tetapi sedemikian rumitnya untuk disampaikan.

Sebagai contoh sederhana, bila saya ingin mencoba memberi pengertian tentang “rasa buah persimon”. Sangat mudah bila saya hanya memberikan buah itu dan orang memakannya. Tetapi bagaimana caranyapun saya menyampaikan maka teramat sangat sulit kecuali saya membuat perumpamaan. Misalnya, itu seumpama buah kesemek rasanya, dan orang yang sudah pernah makan buah itu akan mampu mendekati rasanya, sehingga suatu saat bila dia menemukan buah persimon yang sebenarnya, dia akan mampu meyakini bahwa itulah buah persimon yang saya coba katakan.

Masalahnya bila orang itu belum pernah makan buah kesemek, maka diapun akan kebingungan, maka saya akan memudahkan lagi dengan contoh yang agak lebih jauh yaitu buah apel. Tetapi sekalipun apel orang masih akan berdebat, apakah apel malang, apel yang ini atau apel yang itu. Tetapi semuanya tetap salah, sampai dia mampu menemukan buah persimon seperti yag digambarkan dan memakannya. Namun bias jadi saat makan buah persimon, dia akan memiliki persepsi yang berbeda, ada yang berkata enak, atau tidak enak, ada yang berkata sangat beda dan lainnya.

 

Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)

 

Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan Rab di muka bumi.

 

Allah memberikan perumpamaan tentang cahaya dalam Al Quran dalam surah yang berjudul Cahaya. Sebuah perumpamaan yang sangat sederhana, tetapi juga teramat sangat sulit dan luar biasa. Karena makna cahaya yang menurut sains itu sedemikian dalam dan luar biasa. Sedemikan hebat rumit dan luar biasa makna cahaya ini. Ummat manusia atau akhli ilmu alam telah bergabung, berlomba-lomba mencoba mengerti makna cahaya ini. Sedemikan banyak dana dan waktu yang telah diusahakan. Berkumpul begitu banyak manusia cerdas dan mencurahkan seluruh waktu dan hidupnya untuk mengerti tentang cahaya ini.

Kemajuan makna cahaya ini telah membawa ummat manusia ke era yang tak terbayangkan, era technology yang luar biasa. Kemajuan yang tak terbayangkan, seolah mimpi. Kita mampu melihat “hal-hal ajaib” bahkan saat kita masih kecil tak terbayangkan sekalipun dalam mimpi. Komputer, robot, pesawat terbang, televisi, mobile phone adalah hal sehari-hari yang biasa kita lihat. Tetapi bila kita bawa ke 50 tahun yang lalu maka kita akan menjadi makhluk aliens yang ajaib. Bayangkan kita dating dengan pesawat terbang ke tahun 1900 membawa televisi, hp, dll, mungkin kita dianggap dewa, dan bila kisah itu dikisahkan ke anak cucunya maka akan menjadi legenda para dewa.

Para akhli yang menekuni cahaya ini memang sudah mampu menguak sebagian kecil makna cahaya itu, tetapi masih begitu banyak misteri cahaya yang tak terpecahkan. Para akhli masih tetap “tidak tahu” apa itu cahaya. Seperti sesuatu itu bias dikatakan sebagai tumbuhan, tetapi juga hewan, atau bias dikatakan sebagai hidup tetapi juga tidak hidup. Bisa dikatakan sebagai materi, tetapi gelombang dan juga sebagai energy.

 

Al Quran membuat perumpamaan yang diberikan kepada manusia sekitar 1500 tahun yang lalu di padang pasir yang terbelakang, dan bisa difahami oleh manusia di jaman itu dan di tempat itu. Dan tetapi juga bias difahami manusia di jaman ini, dimanapun tempatnya berada.

Perumpaannya adalah berikut:

 

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misbah (lubang yang tak tembus), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An nur 35)

 

Aku tidak mencoba menjelaskan ayat demi ayat dalam surah ini, silahkan dimaknai dan silahkan mencoba bertanya kepada akhlinya. Yang akan kuceritakan adalah membuat perumpamaan atau contoh atau permisalan berdasarkan surah itu tentu saja berdasarkan kefahaman saja. Mungkin ada yang bias mengambil hal yangs sederhana ini.

 

1.     Seorang akhli robot sedang berusaha menciptakan dan menyempurnakan robot. Lalu akhli robot itu merencanakan membuat taman di sebuah hutan yang jauh dari rumahnya. Dia mengirimkan robot-robotnya untuk membangun taman dan perumahan yang indah di hutan itu. Setiap robot dengan tugas dan desain khusus. Dan setiap robot terprogram untuk menemukan jalan pulang. Dan robot itu terhubung dengan remote control dengan sang pencipta robot itu. Sang robot adalah robot cerdas namun dikirim dengan kondisi “baru” kosong dan siap menerima program, hanya terisi operating system, namun program aplikasinya harus diinstal setelah tiba di tempat. Program demi program akan diinstal dari jarak jauh bila robot itu telah terkoneksi dengan server utamanya. Robot yang baik pasti mampu menghidupkan saluran frekuensi “wifi” nya sehingga selalu terhubung dengan pusat pemancar. Dengan wifi ini mampu menghubungi web pusat. Dan tentunya harus memilih program yang sesuai dengan peruntukannya. Sehingga mampu membangun taman bermaimn ini. Bila tugasnya selesai maka mampu menerima petunjuk jalan pulang ke tempat penciptanya. Dan sang pencipta tahu mana robot yang sempurna. Bagi robot yang gagal maka tentu akan di daur ulang, masuk keranjang sampah. Sang pencipta akan memilih robot-robot yang berhasil dengan tugasnya.

2.     Perumpamaan kedua, bila seandainya robot ini berasal dari dimensi lain, dan robot ini berupa cahaya. Seperti ksatria langit atau entitas cahaya langit. Kita sebut saja robot ini dengan istilah robot RH (ruh) yang berasal dari jutaan atau milyaran robot RH di langit. Robot RH yang terpilih oleh sang pencipta robot RH untuk disempurnakan, untuk menyempurnakannya robot ini dikirimkan kea lam lain yaitu dunia untuk menjalankan tugas dari sang pencipta dan juga untuk menentukan mana robot RH yang terbaik. Bersama robot RH ini, sang pencipta menciptakan operating system yang kita istilahkan dengan M (semisal unix atau semacam itu) dan juga menciptakan program tugas di dunia yang diistilahkan dengan N (semisal Microsoft office atau yang lebih hebat lagi, program membuat rumah, program membuat jembatan, membangun bandara atau yang lebih hebat semisal membuat pesawat terbang, tv, hp dll). Progam MN inilah yang akan diberikan sedikit demi sedikit disempurnakan untuk robot RH. Sang Pencipta robot RH ini ingin menyempurnakan RH ini sesuai dengan rencananya. Inilah MNRH yang kita sebut sebagai ksatria langit yang diturunkan ke alam dunia ini yaitu MNRH (MiN RuHi) yang terpilih dan berasal dari jutaan atau milayaran RHMN di alam lain atau dari RHMN (RaHMaN). MN RH ini setelah selesai menjalankan tugasnya di bumi ini harus mampu kembali pulang ke alamnya yaitu ke RHMN atau kembali ke Entitas Rahman.

3.     Petunjuk bagi Ksatria langit MNRH selama di alam dunia ini adalah Huda atau koneksi internet. Ksatria langit adalah cahaya. Cahaya adalah entitas dari entitas langit karena keberadaan cahaya inilah yang membuat entitas di alam ini terlihat dan nyata. Begitu entitas langit ini masuk ke raga, maka ada cahaya dalam diri raga ini yang membuat raga ini tahu, membuat raga ini mendengar, melihat, juga merasakan, ada entitas yang bekerja di telinga, mata dan hati. Ksatria langit ini akan berbentuk pas dengan apapun yang raganya tempati. Entitas ini seperti pelita yang berasal dari minyak zaitun yang siap dinyalakan untuk menerangi alam di sekitarnya. Entitas ini semisal sang raga memiliki lampu senter yang menggunakan solar cell, atau cahaya matahari. Bila siang hari maka tidak perlulah menyalakan lampu center ini. Tetapi sayangnya sejak awal kita berasal di dalam ruang gelap atau ruang ketidaktahuan sama sekali, ruang tanpa cahaya saat bayi, dan mulai terbuka sedikit demi sedikit ada cahaya demi cahaya, namun ada yang tetap tertutup. Tetapi dalam diri selalu ada lampu senter yang siap dinyalakan agar kita mampu mencari jalan menuju jalan terang atau sumber cahaya. Kita bayangkan kita berada dalam terowongan yang gelap total namun kita “seolah melihat dalam angan-angan”, padahal kita tidak melihat yang sebenarnya. Kita perlu menyalakan lampu senter kita untuk mencari jalan agar keluar ke tempat terbuka dimana ada sinar matahari. Lampu Center inilah MNRH dan cahaya Matahari inilah seperti RHMN.

 

Entitas langit (MNRH/minruhi) yang berada di dalam diri seumpama cahaya mata, dengan mata inilah kita bias melihat dunia nyata asalkan ada cahaya di luar yaitu bulan, matahari, bintang atau pelita. Entitas langit (RHMN/rahman) yang berada di luar diri adalah semua yang ada di luar diri semisal cahaya matahari. Bila ada cahaya matahari maka semua akan terlihat.

 

MNRH (minruhi) yang mampu terhubung dengan RHMN (rahman) adalah koneksi yang kuat, terhubung dengan kuat. Sehingga mampu download program, download peta, mendapat petunjuk.

Cahaya MN atau ruh MN adalah cahaya iMaN (MN) atau ruh (RH) iMaN atau RHMN. Cahaya Iman yang berada di cahaya Rahman. MNRH yang pulang kembali ke RHMN, seperti cahaya kecil berada di siang matahari. Selama berada di cahaya matahari maka jelaslah semuanya. Semua nyata, jelas dan tampak.

Petunjuk cahaya Matahari inilah yang diperlukan untuk agar mampu berjalan, mampu membangun, mampu melakukan tugas, bekerja, membangun dan apapun program yang harus dilakukan. Dan juga mampu kembali pulang. Tetapi bila tetap berada dalam kegelapan maka sulit sekali melakukan tugas dan juga sulit kembali pulang.

 

Seolah sangat sulit menjelaskan ini, karena menjelaskan cahaya memang sangat sulit, tetapi juga sangat sederhana. Sesederhana membuka mata atau menyalakan api MNRH saat gelap. Dan bila saat siang hari dimana berlimpah RHMN maka cahaya api kecil dalam diri ini memang tidak diperlukan.

Mengenali entitas “Cahaya langit” dalam diri ini sangat mudah, sedemikian mudah dan sederhananya, tetapi juga sedemikian sulit dan luar biasanya. Sama persis dengan mengenali cahaya matahari. Anak umur satu tahun bisa dan mampu mengerti makna cahaya ini namun bisa disangkal oleh semua orang lain, dan juga setiap tingkat selanjunya memahami cahaya, tingkat demi tingkat, sd, smp, sma, kuliah dan lebih lanjut. Semakin mengenali cahaya dan semakin dalam dan semangin mengerti. Semakin luas dia melihat alam dalam kesadarannya. Sampai misalnya menjadi doctor Fisika yang mengenali cahaya. Apakah bedanya pengetahuan anak satu tahun dengan Sang doktor Fisika itu saat berkata, aku tahu cahaya itu.

Mengenali entitas sang aku, mengenali sang diri, mengenali diri sendiri yang sebenarnya adalah mengenali entitas cahaya yang ada di dalam raga kita. Entitas yang diturunkan dari AND dan untuk menjalankan tugas di bumi dan untuk disempurnakan dan diminta pulang kembali ke AND lagi.

 

Apakah tugas utama ksatria langit atau MNRH ini, atau apakah Amanah (MNH) yang dibebankan untuk MNRH ini, tugasnya adalah disempurnakan atau proses menyempurnakan (Q) MN menjadi NM, atau menyempurnakan anam atau nikmat Allah. Atau menyempurnakan nimat Allah. Inilah rencana (R) Allah, inilah Hukum Allah, inilah program universal (R) dari Allah. Program untuk menyempurnakan (Q)  ini adalah program aplikasi yang diawal diistilahkan dengan N. Sehingga program aplikasi untuk menyempurnakan ini adalah QRN atau Quran. Quran adalah program aplikasi yang harus di download untuk menyempurnakan diri dan juga untuk mampu kembali pulang. MNRH (minruhi) untuk kembali ke RHMN (rahman). Inilah proses membalik kesadaran MNRH menjadi RHMN. Membalik kesadaran kita melihat yang gaib. Melihat Rahman.

Mata realitas kita melihat cahaya yang nyata yaitu MNRH, sedangkan entitas langit melihat yang gaib yaitu RHMN. MNRH membalik RHMN.

 

Perumpamaan ini hanyalah perumpamaan, istilah dan istilah seperti saya mengumpakan engkau berani seperti singa yang perkasa. Perumpamaan ini untuk memudahkan atau menyerupakan, tetapi tidak ada satupun yang serupa. Maka perumpamaan lambing inipun hanya untuk menyerupakan. Agar mau berfikir, agar mau melihat secara lebih mudah.

 

Apakah sama seorang tuli dengan seorang yang mendengar?

Apakah sama seorang buta dengan seorang yang mampu melihat?

Apakah sama seorang yang berada di ruang yang gelap total dengan seorang yang di bawah sinar matahari?

Apakah sama seorang yang hatinya terang benderang oleh cahaya dengan seorang yang hatinya sempit, tertekan, gelap gulita, dengki, iri, marah kecewa dan tanpa petunjuk?.

 

 

Memahami apa yang kutuliskan ini semudah anak satu tahun memahami cahaya

Tetapi bisa jadi lebih sulit disbanding seorang akhli alam memahami cahaya

 

Tetapi apapun itu tergantung kesadaran, maukah kita melihat alam semesta ini?

Maukah berada dibawah cahaya matahari?

Salam sejahtera

Iklan

Read Full Post »

6. Kidung untuk Para penempuh jalan yang penuh kenikmatan

Menjalani beragama sering sangat menyulitkan, berat dan menekan, betapa banyak aturan dan ritual yang harus dijalani, untuk menjalaninya semua terasa berat dan menekan. Beribadah dengan terpaksa, beribadah tanpa rasa nikmat, beribadah tidak menghasilkan kebaikan, beribadah hanya ritual dan tidak membawa manfaat dan kebaikan bagi diri sendiri. Ritual ibadah yang sangat banyak dan berat, sungguh agama telah menjadi beban, agama telah menambah kesulitan bagi sebagian orang, agama telah menjadi masalah atau menambah masalah dalam kehidupannya, terasa sulitnya memeluk agama, sulitnya menjalani agama.

Padahal seharusnya mudah, sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja., agama justru untuk kebaikan bagi pemeluknya, agama justru seharusnya bermanfaat, menambah keberuntungan, kebaikan, ketenangan, kedamaian hidup dan kebahagiaan hidup yang hakiki, agama menjadi penyelesai masalah, jalan hidup, jalan keberuntungan, jalan kebaikan.

Mengapa menjadi beban yang berat?. menjalankan agama seperti membangun sebuah tempat berlindung atau rumah maka harus membangun pondasi, tiang dan atap rumah itu, sehingga kita bisa tinggal di dalam rumah itu dengan aman, dengan nyaman dan dengan nikmat, menikmati kenyamanan dan keteduhan rumah itu. Seharusnya setiap pemeluk agama tahu tujuan beragama,, mengerti pokok-pokok agama, tahu pondasi, mengerti kekuatan agama itu, itulah inti agama, semakin mengerti maka semakin mudah menjalani agama,
semakin sederhana mengerti agama, sehingga agama akan membawa kebaikan, agama akan membawa keberuntungan, agama akan menjadi pelindung, menjadi tempat berteduh yang nyaman dari segala macam gangguan dari luar.

Manusia senantiasa berdoa memohon kepada Tuhannya, memohon diberikan jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah di berikan nikmat.

Namun apakah manusia mengerti nikmat seperti apakah yang diinginkan manusia itu bagi dirinya  sendiri ?.

Marilah kita bertanya  dalam diri, apakah sesungguhnya kita mengerti nikmat yang dimaksudkan oleh jiwa kita sendiri ?.

Apakah realitas nikmat itu sendiri bagi manusia?.

Seperti apakah referensi nikmat dalam kesadaran manusia ?.

Apakah sama hakekat nikmat yang dimaksudkan antara satu manusia dengan manusia yang lainnya ?.  

Apakah manusia benar-benar memahami doa yang mereka panjatkan kepada Tuhan mereka itu ?.

Jangan-jangan kita ber doa asal berdoa, mengikuti apa saja yang mereka ajarkan, tanpa bertanya lagi ?.

==================================

Surah Al Fatihah (Pembukaan) ayat 1-7

[1]Dengan menyebut nama AllahYang Maha Pemurah lagi MahaPenyayang.

[2]Segala puji bagi Allah, Tuhansemesta alam,

[3]Maha Pemurah lagi MahaPenyayang,

[4]Yang menguasai haripembalasan.

[5]Hanya kepada Engkaulah kamimenyembah dan hanya kepadaEngkaulah kami mohonpertolongan

[6]Tunjukilah kami jalan yang lurus,

[7](yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

(QS. Al Fatihah)

==================================

 Jalan yang lurus yaitu jalannya orang-orang yang telah diberikan nikmat. Sebuah rangkaian doa yang sempurna. Jalan lurus adalah jalannya orang yang diberikan nikmatBegitulah keadaannya. Maka jika manusia tidak mendapatkan nikmat setelah menempuh jalan tersebut maka jalan tersebut tidak dapat di katakan jalan yang lurus. Dengan kata lainnya, jika manusia benar-benar telah mendapatkan jalan yang lurus pastilah manusia tersebut akan mendapatkan nikmat yang banyak.

Kenikmatan yang terindah

Kenikmatan apakah yang terindah di dunia ini ?.

Seluruh umat manusia mencari hakikat ini.

Tak terhitung banyaknya manusia mencoba mencari kesana kemari, menghambakan dirinya kepada materi demi mencari kenikmatan sejati.  Tiada satupun manusia yang mau dirinya hidup dalam penderitaan. Semua diri dalam hakikat pencarian kenikmatan sejati dalam hidup . Sehingga banyak manusia kemudian menghambakan dirinya, menjual harga dirinya demi kenikmatan-kenikmatan yang tak dimengertinya sendiri. Mencari sensasi rasa nikmat yang tak kunjung terpenuhi. Memuja kepada ilusi, memuja angan dan imajinasi-imajinasi yang senantiasa melingkupi.

Pertanyaan dalam diri manusia terus menggeliat akan hal ini. Beguliran di dalam diri yang ingin mencari jalan. Dalam peradaban dalam kajian, dalam wacana, dalam pencarian jati diri manusia itu sendiri.

Dimanakah kenikmatan sejati ?.

Mereka terus mencari dan mencari lagi.

Sekali lagi dan sekali lagi, kemudian di coba lagi dan di coba lagi.

Apakah kemudian terpenuhi ?.

Tidak !. Manusia kemudian kebingungan sendiri.

Karena banyak jalan, banyak peradaban, banyak pemikiran,

yang kemudian berkembang melingkupi diri manusia dalam upaya              pencarian ini.

Manakah jalan yang lurus ?.

Manakah jalan yang pas buat diri ini ?.

Semua bertanya tak berkesudahan.

Begitu sulitkah mendapatkan kenikmatan hakiki ?.

Manusia resah dan selalu gelisah di himpit beban-beban hidup, di terpa gelombang peradaban yang mereka buat sendiri. Dalam perambahan kota, tidak ada sisa ruang untuk bernafas. Kerja, kerja dan kemudian kerja lagi. Penat sekali melakoni ini.

Begitulah keadaan yang  selalu terjadi atas diri manusia. Setiap peradaban dalam kurun waktunya sendiri. Dalam dimensi dan kegalauan mereka masing-masing. Kegalauan yang sama atas hidup itu sendiri. Tidak pandang kasta, yang miskin atau yang kaya. Yang berkuasa ataupun papa, semua jiwa dalam keadaan yang sama. Resah akan dirinya. Yang beragama ataupun tidak beragama. Semua dalam keadaannya. Begitulah keadaan jiwa manusia.

Manusia di harapkan mampu mencari jalannya sendiri, mampu menentukan arah, mampu menikmati keadaan dirinya. Mampu menemukan hakekat kehidupan sejati. Hakekat kenikmatan hidup di dunia ini. Mampu menerima takdir mereka masing-masing. Sanggupkah mereka menjalani takdir mereka sendiri ?. 

 

 Maka manusia kemudian ber doa, di ajarkannya doa kepada mereka agar senantiasa memohon kepada Tuhannya. “Tunjukanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat “Pertanyaannya adalah: maukah manusia kemudian mengikuti jalannya orang-orang yang telah diberikan nikmat-Nya?.

Ketika manusia di tunjukkan jalan-Nya orang-orang yang telah diberi nikmat. Mereka kebanyakan meragukan jalan tersebut, mengingkari, mendustakannya. Sebab jalan tessebut tidaklah seperti yang diangankannya. Manusia telah ber presepsi atas jalan tersebut. Mereka sudah mengangankan jalan tersebut dalam akal pikirannya sendiri. Mereka terhijab angannya sendiri. Maka ketika datang petunjuk atas jalan tersebut, mereka mendustakannya. Mengapakah manusia begitu  ?.

Keadaan yang sama halnya, sebagaimana kita orang tua, memberitahu anak kita. Jika ingin menjadi dokter belajarlah yang baik, pelajarilah ini dan itu. Berdisiplinlah dan lain sebagainya. Namun sang anak tidak percaya, sang anak tetap dalam imajinasinya, mereka malas berfikir, mereka enggan mendengarkan, sebab mereka berada dalam imajinasi pikiran mereka sendiri. Begitu juga manusia dewasa. Kesadarannya tetap tidak mau bergerak dari masa kanak-kanaknya, yang penuh imajinasi itu. Mengapakah anak kita begitu, tidak mengertikah mereka ?.

 

Langit dibentangkan…bumi dihamparkan…

Tumbuhan dihidupkan…perhelatan akbar. Dipentaskan.

Semua diberikan untuk manusia, alam ditundukkan baginya

Jalan dilapangkan, lautan dimudahkan, binatang ternak dijinakkan

Diberikan secara gratis, percuma untuk seluruh kepentingan manusia

Agar digunakan sebesarnya bagi kepentingan manusia

Sehingga mereka mau meletakkan wajah dengan kesungguhan

Bersujud sepenuh jiwa dalam syukur atas nikmat yg diberikan

….

Itulah tujuan sang entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi

Menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan tugas Tuhannya di muka bumi.

Itulah entitas cahaya (sang ksatria) langit, dialah sang satria yg terpingit dalam hati terdalam

Hati nurani, atau hati kecil,

Sedemikian kecilnya penjara hati ini, sehingga tak ada ruang untuk bergerak

Terpingit, terjepit, terhimpit, mengecil dan semakin mengecil

Hanya mereka yang mau melepaskan ksatria langit ini

Membiarkan mengisi hati,

Sehingga semakin membesar dan membesar dan meluas

Mengisi rongga dada, meluas meliputi alam semesta bersatu dalam langit

Maka sang ksatria ini mampu mengendarai nafs,

Ksatria putih bak legenda diatas kuda perangnya

Ksatria yg pantang mundur menempuh perjalanan,

Menghadapi setiap pertempuran hidup,

Menyongsong kematian sebagai jalan pulang ke langit, jalan kembali

Nafs tak lagi dikuasai oleh hawa, karena dihuni oleh cahaya langit,

Ksatria langit yg sering disebut aku, jiwa, ruh, min ruhi, atau apapun sebutannya

Kadang dipanggilnya bashiroh, yang tahu, yang sadar, kadang disebutnya kesadaran sejati,

Kadang disebutnya hati nurani, entah apapun itu

Ksatria langit yg tahu jalan pulang ke langit

Dia mengenal peta ruhani, dia mengenal jalan pulang ke langit

Dia yang mampu “membaca”, mengenal, memahami,

Dia yang mampu menjadi pengendara di atas punggung kuda nafs

…dialah ksatria langit

….

Bebaskan dia dari pingitan…

Lepaskan…

Biarkan dia yang menunjukkan jalan

Membentuk sang nafs…

Menyongsong penyucian sang nafs, menyempurnakannya

….

 

==================================

Surah Al Fath (Kemenangan) ayat 1-7

[1]. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,

[2]. supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,

[3]. dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

[4]. Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

[5]. supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka.  Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah,

[6]. dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahanam. Dan (neraka Jahanam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.

[7]. Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

==================================

Membaca perjalanan mengikuti sebuah jalan atau angkah hidup yang harus dilakukan:

Al Fatihah (Pembukaan) menuju Al Fath (kemenangan) (Secara lambang FATIHAH menuju FATH)

Jalan yang ditempuh adalah menerima Huda (petunjuk) untuk mengikuti Jalan orang terdahulu

Yang selalu berada dalam kenikmatan. Jalan penuh kenikmatan. Itulah Huda, petunjuk bagi para penempuh jalan hidup.

Maka perjalanan adalah jalan dimana jalan itu dipenuhi kenikmatan. Inilah titik awal para penempuh jalan yang dipenuhi rasa nikmat ini. Bagaimana kita mampu menemukan jalan ini?.

Bagaimana kita mampu menjadi saksi adanya jalan penuh kenikmatan ini?.

Menemukan seseorang yang selalu dipenuhi rasa nikmat sepanjang hidupnya.

Sepanjang menempuh jalan lurus ini.

Mendengar kata “hidup yang dipenuhi nikmat” ini, seolah menjadi sedemikian asing, seolah tidak percaya. Adakah orang yang selama hidup penuh rasa nikmat. Adakah ada dalam realitas yang seperti itu?. Sungguh sulit sekali memiliki kesadaran akan rasa nikmat ini.

Setiap perbuatan yang menimbulkan nikmat yang dirasakan raga, apapun itu apakah hiburan, lawak, rekreasi, makan minum ataukah nafsu birahi (seks), segala sesuatu yang menimbulkan kenikmatan pada raga atau tubuh kita maka akan mudah dan suka rela kita menjalaninya

Namun kita kesulitan merasakan nikmat dalam ibadah, nikmat sholat, nikmat iman, nikmat Islam

Nikmatnya sholat khusyu. Nikmatnya shodaqoh dan berbagai macam nikmat yang disebutkan. Raga belum pernah merasakan rasa nikmat itu, maka sangat sulit sekali menjalaninya dengan suka rela.

Pembukaan mengikuti Huda atau petunjuk adalah selalu dikaitkan dengan rasa nikmat yang mampu dirasakan dalam raga. Itulah yang disebutkan dalam Al Fatihah. Langkah awal menuju Kemenangan (Al Fath). Kemenangan itu adalah untuk Menyempurnakan Nikmat Allah.

Kemenangan Rasulullah secara sederhana bila kita bertanya atau membaca sejarah adalah saat penaklukan Mekah atau Fathu Mekah. Inilah realitas kemenangan dari seluruh sejarah Rasulullah.

Namun Kemenangan menurut Allah bukan itu. Surat pernyataan kemenangan justru pada perjanjian Hudaibiyah. Disinilah turunnya surah Al Fath setelah terjadinya baiatur Ridwan. Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah perjanjian yang secara sepintas seolah melecehkan dan merendahkan ummat Islam, melemahkan dan tiada keuntungan apapun. Dari segi apapun tidak ada bukti “kemenangan” pada saat itu. Namun demikianlah “kriteria” kemenangan menurut Allah. Di titik inilah atau di posisi inilah “Kesuksesan Rasulullah”. Real Victory, kemenangan yang nyata menurut Allah. Kemenangan saat mampu “menaklukkan “jiwa” sahabat untuk bersumpah setia. Kemenangan jiwa adalah kemenanangan yang sebenarnya menurut kriteria Allah dalam surah Al Fath.

Kemenangan Rasulullah bukan pada kemenangan peperangan atau penaklukan. Tetapi pada ketundukan, kepasrahan, dan baiat, sumpah setia kepada Rasulullah. Pada saat mereka semua bersumpah setia menjadi shahabat karena Allah. Mengikuti perintah Rasulullah dan bertekad sehidup semati. Inilah puncak kemenangan Rasulullah. Secara realitas, justru pada kondisi lemah, tak bersenjata, dilecehkan dan harus kembali ke Madinah karena gagal untuk thawaf ke Kabah.

Inilah kemenangan jiwa, inilah kesempurnaan jiwa, inilah Taqwa. Ketundukan sepenuhnya.

Demikian pula penyempurnaan jiwa kita, kemenangan dalam jiwa kita, sehingga berada dalam keadaan seumpama keadaan jiwa para shahabat dalam baiat kepada Rasulullah. Inilah “Kemenangan yang Nyata” menurut Allah. Dan semua ini demi kebaikan kita sendiri:

–        Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang

–        menyempurnakan nikmat-Nya dan memimpin kepada jalan yang lurus

–        supaya Allah menolong dengan pertolongan yang kuat (banyak).

–        supaya keimanan kita bertambah di samping keimanan (yang telah ada).

–        supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan kekal di dalamnya

–        supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan kita.  Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah,

Sepanjang jalan penuh nikmat ini adalah mengikuti petunjuk demi Kemenangan yang nyata.

Sebuah jalan dari awal (Al Fatihah/Pembukaan) sampai ke kemenangan (Al Fath).

Sebuah jalan penuh kenikmatan menuju Kenikmatan yang paling sempurna.

Selamat datang para penempuh jalan penuh kenikmatan

Kidung penyambut tamu kehormatan kupersembahkan

Kukidungkan untukmu semua untuk teguh di jalan ini

Untuk merasakan kenikmatan dan ditambah lagi dengan kenikmatan

Serta ditambah lagi dengan kenikmatan agar sempurnalah kenikmatan itu

Kidungku ini yang menggelarkan karpet terindah

Sutra terlembut, nada termerdu, warna-warni nan mempersona

Dendang nyanyi penuh keceriaan, tawa penuh kegembiraan

Dalam setiap apapun kejadian realitas takdir menurut rencananya

Apapun yang manusia anggap, sedih, sengsara, sakit dan derita

Selalu dalam rasa nikmatNya yang hakiki

Demikianlah jalan para penempuh jalan lurus

Jalan yang sepenuh kenikmatan sepanjang jalan

Dan semakin bertambah dan bertambah

Sampai sempurnalah kenikmatan sebagaimana yang direncanakanNya

Salam sejahteraku untukmu

Read Full Post »

5. Engkaulah tamuku… Engkaulah yang kutunggu
– Hidup adalah sebuah lingkaran, pengulangan demi pengulangan. Semua kisah yang dikisahkan disini atau yang pernah dilakukan oleh diriku sendiri, atau orang lain, atau kisah-kisah umat terdahulu. Maka kita harus mampu melihat pelajaran itu dari arah mana saja. Menerapkannya dalam kekinian.
– Kesungguhan (keseriusan) dalam ketaatan kepada Allah, menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya dengan sepenuh keyakinan dan dilakukan dengan suka rela.
******************************************************
Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga. dan barangsiapa
yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya,
niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya,
dan baginya siksa yang menghinakan.
An-Nisaa’ (4): 13-14
*************************************************************
Berproses misalnya dalam
Memelihara kesadaran, Teguh dalam keyakinan (Kesungguhan, keseriusan, dalam ketaatan kepada Allah, melakukan aturan-Nya sepenuh keyakinan dan secara suka rela), Berserah diri kepada Allah,  Konsisten mengasah pemahaman,Mengendapkan visi hidup dan Mengarahkan tujuan hidup
Sebuah perjalanan jiwa, semoga menjadi hikmah kebijaksanaan bagi siapapun yang membaca.
Allah memberikan Hikmah kebijaksanaan
(ilmu yang berguna) kepada sesiapa yang dikehendakiNya
(menurut aturan yang ditentukanNya). Dan sesiapa yang diberikan hikmah itu
maka sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat
mengambil pengajaran (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya.
(Surah Al-Baqarah, Ayat 269)
 
Ku kidungkan kembali luapan rasa hatiku kepadamu
————
Dalam sujud,
menengadah tangan,
memohon kepadaMu, Ya Tuhanku
memohon dengan bersungguh
maafkanlah aku, ampuni hamba
sungguh tiada daya dalam kelemahan ini
pabila tanpa daya dan kekuatanMu
dengan bersimpuh, penuh rasa malu
aku mengadu kepadaMu
“telah kuberanikan diriku
menuliskan semua ini disini
telah kutebalkan mukaku
seumpama
menempelkan tinta emas pada diriku
seolah sudah merasa baik
seolah sudah semakin membaik
bahkan berani memberitakan
menceritakan kisah dan pengajaran (kebaikan) Mu ini
ampuni aku, maafkan hambamu ini”
Kepadamu
siapapun engkau, yang membaca tulisan ini
dengan bersungguh hati, aku memohon maafmu
aku mengaku di hadapanmu semua
tidaklah aku sebaik apa yang mungkin engkau kira
tidaklah aku lebih baik dari padamu
masih banyak dosa-dosa yang kulakukan
masih ada lintasan-lintasan rasa yang tak kukatakan
angan dan fikiran kotor yang menguasai
jangankan meniru sebaik malaikat
atau untuk menjadi orang suci, atau manusia pilihan
menjadi orang bertakwa saja masih tertatih-tatih
menjadi beriman saja masih penuh goda dan cobaan
aku hanyalah seorang biasa
yang teramat sangat biasa
penuh kelemahan
keletihan
dan tiada daya
menggapai sebuah tonggak terakhir
sebelum hanyut dan tenggelam
dalam badai kehidupan yang deras ini
dalam samudra takdir yang keras ini
Kurendahkan suaraku menyapamu
kulembutkan suaraku menegurmu
kubisikkan dalam nada-nada yang santun
dalam kata-kata penghormatan
dalam kata-kata memuji
Semoga (semua ini)
kata-kata yang menuliskan kebaikan
kata-kata yang menuliskan keindahan
kata-kata yang menyebarkan keteduhan
kesantunan, kelembutan, kasih sayang dan
semoga pula sebuah kebenaran
kubisikkan dalam irama yang hangat
dalam irama yang menyenangkan
dalam irama yang membahagiakan

 

Semoga
kata-kata yang menuliskan kebaikan
kata-kata yang menuliskan keindahan
kata-kata yang menyebarkan kebenaran
Semoga kebenaran ini adalah kebenaran
yang berasal dari Tuhan semesta Alam
Sekali lagi kukatakan, kuakui
dalam kata-kata yang berterus terang
dengan rasa malu yang menggodam jiwa
Diriku belum mampu melakukan banyak hal
masih tengah belajar dan belajar
mencoba melangkah satu langkah demi satu langkah
menuju satu tujuan yang pasti
“betapapun panjang sebuah perjalanan
suatu saat akan sampai kalau tetap terus melangkah ke depan”
Sekali lagi kukatakan, kuakui
dalam kata-kata yang berterus terang
sungguh, hanya dengan memberanikan diri saja
diriku mampu menuliskan kalimat (kisah) ini
seolah menggoreskan sebuah tinta emas di muka
yang terlihat indah di luar
namun masih seperti biasa, dan apa adanya di dalam
diriku, tidaklah sebaik apa yang terlihat dalam tulisan ini
namun
hanyalah seorang biasa dan sangat biasa
dan, maafkanlah diriku
yang mungkin terlhat begitu beraninya seolah “menasehatimu”
menuliskan dan mengisahkan sebuah “kebenaran ini”
(dalam keyakinanku)
maafkanlah aku
karena ini terutama untuk diriku sendiri
mengingatkanku agar lebih baik dan lebih baik lagi
……”terus melangkah, menuju satu tujuan
kebaikan di jalan Allah”
dan
tolong ajari diriku terus
tolong ingatkan terus
agar selalu berada di jalan yang lurus
Ya Tuhanku
tetapkan hatiku
agar selalu menuju kepadaMu
Amin
=======================================
Barangsiapa yang mengamalkan apa-apa yang ia ketahui,
maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya,
dan Allah akan menolong dia dalam amalannya sehingga ia mendapatkan surga.
Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tersesat oleh ilmunya itu,
dan Allah tidak menolong dia dalam amalannya, sehingga ia akan mendapatkan neraka.
(mengutip: Rasulullah saw)

=============================================================
Sahabat sesungguhnya tiada keberanianku untuk menasehimu atau memberi petuah kepadamu, karena seharusnya sebelumnya aku sudah harus mampu terlebih dahulu menasehati diri sendiri, sementara diri inipun masih belum baik ilmu agamanya. Namun juga kekhawatiran ajal yang datang tak terduga yang datang kepada diriku , sehingga hal ini tidak pernah terlaksana. Maka dengan memberanikan dan menguatan diri, biarlah kusampaikan ini sebagai sebuah ajakan, atau sebuah himbauan, walaupun diri ini belum mampu benar melakukannya, semoga akan tercatat sebagai amal bagiku walaupun sedikit. Menjadi bagian dari kisah perjalananku ini, sebagai bagian dari akhlak yang harus kuamalkan, yang merupakan sebuah bukti dari iman. Tanpa perlu menunggu sampai kuat dan sempurna. Maka ajakan ini kusampaikan, terimalah dengan hati terbuka, lapang dada, dan ambillah hanya yang baik dan kebaikan saja.
Sahabat yang kukasihi dalam iman, engkau tak sendiri dalam perjalanan menuju Tuhanmu. Perjalanan yang harus dilakukan oleh setiap insan, setiap makhluk, setiap hamba Allah. Perjalanan menuju sebuah kepastian, yaitu kematian.
Perjuangan hidup, berlari, berkelahi, bertarung ataupun hal-hal lainnya, semuanya menuju ke satu muara, menuju ke satu pintu yang sama, yaitu kematian. Maka itulah terminal terakhir kita di dunia, itu pemberhentian kita di dunia.
Mungkin beban kehidupan di dunia saat ini memberatkanmu, membuatmu terhuyung, jatuh tersungkur. Engkaupun saat ini mungkin sedang terjembab dalam derita.
Kepadamulah kidung-kidung ini kunyanyikan
karena pada dirimulah segala harapanku berada
engkaulah penegak panji-panji yang indah (suatu saat nanti)
engkaulah sejuta keindahan di alam semesta ini
engkaulah rencana kesempurnaan Tuhan di alam ini
engkaulah cahaya putih yang memiliki segala warna
Engkaulah air kesejukan yang akan mengalirkan kehidupan
engkaulah yang akan menjadi aliran sungai yang menghidupkan
dimanapun aliran sungaimu mengalir
maka tumbuhlah tunas-tunas kehidupan
karena air sungaimu adalah aliran rahman dan rahiemNya
Engkaulah yang mengalirkan kebahagiaan
karena sumber aliran sungaimu berasal dari syurga Al Hamd
sungai syurga yang terpuji, sungai penuh aliran rasa syukur
maka kemanapun kau mengalir maka akan menyebarkan
benar kebahagiaan
Engkaulah sungai rejeki yang mengalirkan kehidupan
bagi sesama yang membutuhkan
karena sungaimu akan berlimpah rejeki
Engkaulah sungai kasih sayang
yang mengalirkan kesejukan kasih sayang
 
apapun air sungai yang kau alirkan
saat mewakili kehendakNya
 
maka akan menjadi berkah dan rahmat bagi semesta alam
 
Engkaulah Ksatria alamku
 
ya engkau..dirimu
yang tengah membaca tulisanku ini
bila saja kau meyakini tulisan ini
 
maka engkaulah yang kutunggu.. dirimulah tamuku
kepadamu Kidungku ini kunyanyikan
Ijinkan ku katakan kepadamu
Aku menyambutmu…bersamamu saudaraku
Salam sejahtera untukmu

Read Full Post »

Resonansi Kidung Panembrama-4

4. Menunggu (tamu) yang dinanti

 

Tulisan ini mengalir menemuimu pada hari ini, saat langit biru gemerlap warna-warni benderang oleh cahaya matahari yang tenggelam, malam akan segera menelan terang, kegelapan akan menyelimutinyakegelapan untuk menutupi cahaya matahari, cahaya akan ter-cover sehingga tak akan sampai, cahaya saat ini masih ada namun bersisa warna-warni yang amat cerah, kemerahan yang menyilaukan, cahaya yang nampak teramat indah bagi mata yang memandang,dimanakah keindahan itu?.. apakah di langit biru?… ataukah di warna-warni yang berkilauan?. tapi mengapa begitu banyak mata yang memandang namun hanya sedikit yang merasakan keindahan ini? sebagian besar tengah terbenam dalam derita dan permasalahan mereka masing-masing apakah tak ada yang mampu membaca keindahan ini? jadi masih ada artinya keindahan ini? ataukah keindahan ini bermakna?
ataukah keindahan ini hanya bagi yang menyadarinya?
 dimana letak keindahan senja ini?
apa di mata?, rasanya tidak disitu? apakah di hati, juga bukan disitu?

lalu bagaimana kita bisa merasakan keindahan saat senja ini
lalu bisa berkata
Oh sungguh luar biasa indahnya senja ini
tak mampu kuutarakan dengan kata-kata
karena hanya mampu ku “rasakan” keindahan senja ini, anehnya pula, ketika kukatakan tentang keindahan ini
sebagian besar yang membaca akan menganggukkan kepala
ya… langit saat senja memang indah…..
mereka semua mengakuinya
, namun ada berapa diantara mereka yang mau menunggu datangnya senja, lalu menangkap keindahan senja ini

padahal menatap keindahan senja ini menimbulkan rasa yang teramat luar biasa, mempesona, membahagiakan, melegakan dan menentramkan. dimana sebenarnya “keindahan senja ini”
pertanyaan sederhana ini rasanya teramat sulit untuk dijawab
dicari kemanapun masih ada satu celah untuk mencari yang lain

yang pasti hanya satu saja:Aku menyadari senja ini indah. Ya itu saja.

Bagaimana ini terjadi. Nah ini akupun bisa menjawab. Karena aku mempunyai panca indera.
Mata, telinga, hidung, kulit dan lidah yang mampu mendeteksi, melihat, memantau dan merasakan sesuatu yang ada di sekitarku, sehingga Nampak dan sebuah gambar berada dalam fikiranku. lalu apakah selesai? tidak juga karena kalau hatiku tengah sedih dan marah
akupun tidak akan perduli dengan hal-hal lainnya, aku hanya terikat oleh masalahku sendiri
hal-hal di luar diriku akan kusepelekan, kuabaikan

jadi hatiku harus tengah berada dalam netral kondisi yang wajar untuk menerima dan berlaku, sebagai indera juga, untuk merasakan apa yang terasa oleh panca indera (raga), jadi hati adalah panca indera jiwa

ketika panca indera jiwa tidak disibukkan oleh tugas lain maka panca indera jiwa mampu menerima informasi yang berasal dari panca indera raga

kerja sama antara panca indera raga dan panca indera jiwa yang membentuk sebuah keseimbangan yang tepat akan mampu membaca informasi yang nampak di hadapan
saat senja ini yaitu, sebuah keindahan saat senja.

Luar biasa …..
…………….. menakjubkan

hanya untuk membuat jiwa mengerti tentang keindahan ini, sebuah proses yang luar biasa tengah terjadi di alam semesta ini

Sang pencipta harus membuat banyak sekali dan sibuk sekali, mengatur agar muncul sebuah keajaiban yang terjadi saat senja ini agar seorang manusia mampu mengagumi “kreativitas” dan “hasil karya” yang menakjubkan dari Sang Pencipta ini
agar muncul sebuah keluhan (pujian)  lembut dari hati yang bening

“Maha suci Engkau Ya Tuhanku”
Tidak sia-sia Kau ciptakan semua ini

“Maha Agung Engkau yang menciptakan keindahan ini”
Aku memujiMu tanpa henti, kuucapkan segala puji syukur kepadaMu
telah memberikanku kesempatan melihat Maha KreasiMu yang tiada banding ini.

Luar biasa……
………………menakjubkan

namun berapa banyak manusia yang sadar dan mengerti ini, tetapi tetap saja Sang Pencipta tak henti-hentinya menyajikan keindahan ini agar salah satu diantara maqkhlukNya mau diam dalam hening dan menyadari ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh sang Pecipta lewat karyaNya yang luar biasa, manusia menganggap biasa karena tak mau memikirkannya
dan terbiasa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari

Pernahkah kau sadari sebatang perdu di pinggir jalan?.

Untuk apakah keberadaannya?.

Pernahkah kau sadari pohon dan langit, untuk apakah diciptakan?

Pernahkah kau fikirkan, sesuatu yg bukan dirimu?.

Dia, mereka atau aku?. Rumput, pohon atau awan?.

Tapi pernahkah kau perdulikan tentang semua itu?.

Seandainyapun kau perhatikan, pernahkah kau merasakan?.

….

Pernahkah kau bayangkan kesepian dan kesendirian pohon?.

Atau justru ketundukan dan kerelaannya?

Apakah mampu kau rasakan dan bayangkan dirimu terpasung seumpama pohon

Kau mungkin mengira mereka tak merasa?…

Namun bagaimana dg makhluk lainnya….

Kucing..anjing dan lainnya

Nyatanya mereka merasa sedih…takut…senang dan sakit…

Perhatikan dan perhatikan…. Perhatikan sekali lagi

Maka akan kau dapati mereka menggunakan rasa

Rasa yg satu bersama alam semesta

Mereka tak menggunakan rasa milik mereka saja

Mereka menggunakan isyarat alam

Mereka tahu isyarat bahaya dari alam

Mereka menggunakan petunjuk alam bsgi rejeki

Karena rasa dan kesadaran mereka adalah kesadaran alam (i).

….

Maka mereka menjadi makhluk masa kini

Tak mengenang rasa dari keadaan masa lalu

Dan tak mengkhawatirkan yang akan datang…

Coba lihatlah burung-burung…

Lihatlah bagaimana mereka belajar terbang…

Lihatlah keadaan mereka terbang?

Bagaimana mereka bisa mengapung?…

 

Nikmatilah

Daya dan kekuatan apa yang membuat badan mereka (burung-burung) terangkat bagaimana rasanya terbang ke udara?…Sang burung hanya merasakan keadaan udara, mengikuti arah angin dan mengapung. Tak melawan dan menentang arus angina, membiarkan dirinya diangkat udara dan diterbangkan ke arah mana udara membawanya. Allah yg memegang burung-burung sehingga mampu mengapung bersama alam

….

Demikian keadaannya sehingga burungpun tak kelelahan mengepak-epakkan sayapnya, dia hanya perlu sewaktu-waktu. Saat lepas landas untuk terbang. Saat berbalik. Saat hinggap. Selebihnya… Dia hanya mengapung…tak lagi menggunakan daya dan usahanya

…..

Demikianlah permisalan jiwa…Sedemikian mudah dan sederhananya untuk “mengapung”, sehingga dalam kehidupan tak lagi menggunakan daya dan usaha sendiri. Bergerak tanpa tenaga. Berpindah tanpa kekuatan. Hanya perlu mengapung mengikuti kehendak alam (Allah yg meliputinya).

….

Maka beribadah tanpa rasa lelah

Bekerja tanpa resah…menjalani hidup dengan mudah…

Mengapung atas apapun yg terjadi

Ketika angin keras bertiup…ketika hujan…ketika panas…ketika badai

Apakah yg bisa dilakukan?. Bersiap cari perlindungan…

Siapkan diri untuk terbang lagi saat tenang…

Jiwa yg tenang…jiwa yg ridho saat jiwa dalam genggaman alam (Allah yg meliputinya).

Jiwa yg mengapun, rasa yg mengapun, jiwa yg merasa, rasa yg mengapung

Ketika jiwa telah merasakan alam meliputi alam. Hening…kepakkan sayap-sayap jiwa dengan dzikir, Kuatkan, teguhkan dzikir. Kepakkan sekuat tenaga…Terus..dan terus…dan terus..

Sehingga sang aku merasakan seolah jiwa terangkat naik. Merasa naik, merasa terangkat, merasa ringan. Kepakkan terus dan terus sampai mencapai suatu keadaan ketinggian yaitu ketenangan jiwa

Seolah jiwa merasakan bersatu dengan udara dan alamLalu biarkan udara memegang jiwa kita, merasakan berada bersama alam. Biarkan alam memegang jiwa yang mengapung. Sebagaimana alam memegang burung-burung Ikuti saja kearah manapun alam membawa jiwa kita. Nikmati dan rasakan saja (gunakan rasa). Perhatikan saja apa yg Nampak. Nikmati saja perjalanan itu Maka terasa mudah. Terasa teduh..aman..damai..tenang

Kenikmatan mengapung bersama alam Dan ini sedemikian mudah sederhana bagi yg memperhatikan

Tapi akan sangat sulit bagi yg menutup rasa (hati). Tidaklah mungkin hati (jiwa) yg membatu akan mengapung Hanya yg berongga saja yg akan mengapung. Jiwa yg mau mengisi dengan alam (hawa/udara)

Maka jiwa akan mengapung bersama alam. Aku hanya menikmati perjalanan jiwa ini mengapung, Entah akan dibawa kemana jiwa ini Karena suka atau tidak suka, dan mau tidak mau alam ini akan membawakumenuju akhir perjalanan. Mengapa tidak kubiarkan saja jiwaku dibawa dan terapung oleh daya dan arah perjalanan sang alam dan aku hanya menikmati dengan tenang perjalanan (hidupku) ini

AKU MENUNGGUMU

ku kidungkan panembrama, kidung menyambut tamu kehormatanku

Dan itulah engkau…dirimu…Karena engkaulah tamu kehormatanku

dan demimulah kukidungkan kidung panembramaku

Engkaukah yang kutunggu?

Engkaukah tamu terhormatku?

dengan membungkuk dan merendahkan diriku

menyambutmu..aku menunggumu

kidungku telah kulantunkan

kidungku telah mengalun

bersama asap stanggi yang mengharumi hatiku

kita diminta menggunakan semua entitas dalam diri secara utuh
secara kaffah (menyeluruh) dan semoga tidak hanya sepotong-sepotong saja

Biasanya spiritualitas seolah dimaknai menyepi di gunung-gunung dan mendekatkan diri kepada Allah, ajaran Islam menyempurnakan itu, ada waktunya memang menyepi dan berduaan bersama Allah, ber mihrab, dan ber doa, sholat, puasa dan semua bentuk ibadah namun itu belum sempurna
yang tahu dan mengerti kesempurnaan itu hanya Allah dan kita hanya berusaha untuk lebih baik dan lebih baik

kebenaran dari sebuah Hukum itupun ada dalam dimensi masing-masing

Hukum materi hanya berlaku di dimensi materi. Hukum energy berlaku di dimensi energy, cahaya (jiwa) yang memiliki sifat dualitas, materi energy, gelombang, partikel. maka tidak bisa menggunakan Hukum partikel ketika berada di dimensi energy (gelombang), demikian pula pemahaman ruhani (energy), bersama-sama Hukum ruhani hendaklah dipergunakan dalam ruang ruhani, sedangkan ketika kita menapak di bumi dalam dimensi realitas, maka gunakan Hukum-hukum realitas..

maka di alam ruhani saat menghadap Allah, maka kita dalam keadaan bodoh
lemah tiada daya tak memiliki kekuatan, tak berpengetahuan tak tahu dan tak mengerti, tak berkehendak, seperti bayi
inilah Hukum di alam ruhani

ketika ketika telah berada di alam realitas, kita menggunakan segala daya dan kekuatan kita
atas namaNya (mungkin inilah ikhlas, menjadikan Allah sebagai poros hidup)

inilah dimensi perspektif kita, dan hanya diri kita dan Allah yang tahu apa yang kita niatkan
apakah benar kepada Allah ataukah nafsu kita

Sedangkan di alam materi ini manusia adalah makhluk cerdas, makhluk perkasa, sehingga berkewajiban saling mengajarkan (makhluk yg tahu.. berpengetahuan)
saling menyempurnakan, saling membantu, saling memberi pencerahan, di alam inilah kita mewakili Allah, kita adalah Khalifah Allah

Daya yang mengalir penuh kekuatan adalah daya Allah. Pengakuan diri yang lemah adalah pengakuan mutlak di alam ruhani.

di alam materi kita adalah makhluk penuh kekuatan, penuh energy, penuh kehendak
penuh semangat. Makhluk berpengetahuan. Makhluk berkesadaran..

maka kita gunakan dan arahkan semua kehendak dan kekuatan itu
demi Allah kita, demi Tuhan kita

atas nama Allah Tuhan semesta alam

dengan daya dan kekuatan Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang,

dan memang benar hanya diri sendiri yang tahu

dan tidak usah kita risaukan pandangan yang lain yang ragu dan tidak percaya, selama diri sendiri meyakini, sebuah kebenaran dalam persepsi diri sendiri, dan selalu memohon petunjuk jalan lurus
dan membuktikan rasanya ketika menetapi jalan itu

dan membuktikan serta menjadi saksi
atas tanda-tandaNya yang akan dihadirkan
olehNya dalam realitas hidup kita

(semoga penjelasan sederhana ini bisa difahami)

ya jalan spiritual, hanyalah jalan biasa, jalan yang teramat biasa, yang ditempuh dengan keyakinan
dan dibuktikan dengan akal fikiran, dan dirasakan, sehingga diri mampu menjadi saksi, saksi sejati (syahid) atas keberadaanNya,tanda-tandaNya di seluruh ufuk semesta dan dalam diri kita (manusia) itu sendiri. Berada dalam keyakinan pada diri sendiri

Keyakinan kuat teguh.. Keyakinan yg tak ada keraguan sedikitpun. Tak ada ruang bagi keraguan No doubt..Tak menyisakan keraguan. Menghadapkan wajah dengan lurus

Hanya kepada Allah..
Tuhan semesta alam

Dan itulah dirimu.. Engkau..ya engkaulah yang kutunggu Aku menunggu kehadiranmu menjadi tamu terhormatku …. Kidung penghormatanku telah kualunkan

selamat datang…salam sejahteraku untukmu 

Read Full Post »

Resonansi Kidung Panembrama-3

Read Full Post »

Resonansi Kidung Panembrama-2

2. Bersedia menerima Allah

 

Kita umumnya selalu merasa sudah bersedia menerima Allah namun pada kenyataannya sering masih sangat jauh dari “keadaan” yang Allah inginkan maka Allah akan “menguji” atau “memproses” dengan pengulangan-pengulangan kejadian agar diri kita mampu lebih dalam untuk “menerima Allah”, dalam tahap atau tingkat yang lebih dalam


Kita selalu merasa sudah mengenal atau mengetahui tentang Allah 
namun pada kenyataannya sering masih sangat jauh dari “keadaan” yang Allah inginkan, maka sewajarnya Allah akan “menguji” atau “memproses” dengan pengulangan-pengulangan kejadian, agar diri kita mampu lebih dalam untuk “menerima Allah”, dalam tahap atau tingkat yang lebih dalam lagi.

Setiap tahap ketika kita merasa sudah mengenal Allah, maka akan dibenturkan oleh kejadian sehingga akhirnya kita merasa  “belum sanggup” menerima takdir/kehendak Allah, kita hanya bisa menerima itu atas bantuan dan nikmat serta rahmatNya saja, dalam sebuah keyakinan bahwa sebetulnya bukan usaha kita sama sekali, kita hanya tanpa daya upaya sama sekali, upaya kita seolah seperti mendorong tembok baja, tiada guna, ketika merasa bisa, kembali dibenturkan lagi, sampai hancur berkeping-keping, sehingga sampai tunduk, menyerah, pasrah dalam sebuah penerimaan rasa “suka rela” yang terasakan sebagai sebuah “hal” yang lebih dalam dan lebih dalam lagi, setiap pelajaran akan meningkatkan rasa ini semakin dalam.

Setiap tahapan atau kemajuan, kita meyakini bahwa kita sudah semakin mengenal Allah,
maka akan dibenturkan dan diulangi ujian/cobaan/masalah dalam hidup, yang akhirnya akan sampai pada suatu titik, dimana akhirnya aku menyerah, dengan sebuah kalimat yang sederhana: “Aku tidak tahu
aku menyerah dan aku tidak tahu apa-apa (tentang apa yang sebenarnya Allah rencanakan)
semua rasa tahuku hanyalah pemberian, atau titipan atau pinjaman, aku menyerah saja, otak berputar tanpa henti mencapai titik jenuh, penuh rasa lelah, hampa, letih dan hanya akan sampai di satu titik itu lagi: Aku tidak tahu (aku berserah diri tulus ikhlas kepadaNya)

“Sebuah proses penyempurnaan jiwa kita sesuai dengan ketetapan yang mendahului”.
 


perjalananku ini akhirnya menjadi sebuah perjalanan yang tidak diketahui
tanpa perlu difikirkan, bahkan rasanya pun hanya perlu bersedia dan rela diberi rasa apapun
apapun rasa yang muncul, hanya bersedia dan rela untuk menerimanya
rela menerima Allah dalam bahasa sederhananya adalah: 
“Rela menerima rasa apa saja yang disisipkan Allah di dalam jiwa kita”.

Ketika tidak sanggup dan tidak mampu lagi maka aku hanya mengembalikan semua rasa ini kepadaNya dalam sebuah doa dan permohonan yang dalam
“Ya Tuhanku, mohon angkat dan bantu atau kuatkan diri ini untuk menerima
rasa yang terasa sangat berat dan menyakitkan ini
dan sangat aneh, dalam hitungan detik, maka rasa inipun lenyap digantikan oleh sebuah rasa lain yang bertolak belakang
rasa nikmat yang belum pernah dirasakan bahkan tak terbayangkan, tak pernah terlintas oleh fikiran dan sangat sulit untuk diceritakan.
mungkin hanya yang pernah merasakan saja, yang bisa menikmati apa yang saya ceritakan ini.

kalimat demi kalimat mengalir lembut, perlahan tapi pasti, karena
ada sebuah dorongan dan kehendak yang lembut dari dalam
dorongan yang selembut benang, tapi sekokoh batu karang
yang tak akan mampu kutahan, dorongan yang jika kulawan
justru menimbulkan keresahan dan rasa sakit di dalam jiwa yang sangat terasa
terasa menghujam jauh ke dalam jiwa dan melemahkan seluruh otot dan persendian
seperti sebuah hujaman pedang tajam yang menghentak dan jauh menembus ke ujung dada
kesakitan yang menyengat, begitu dalam, membuat kepala berat dan pening dan kehilangan arah

namun dorongan atau daya ini ketika diikuti dengan suka rela dan rasa pasrah
seolah belaian lembut tangan seorang yang terkasih, tersayang, tercinta
sedemikian lembut dan halus terasa membelai hati, sedemikian merasuk dan mengusap
sebening air yang sangat menyegarkan, seindah warna-warni pelangi
sehangat cerahnya mentari saat pagi hari bersinar, selembut sepoi-sepoi angin yang menyejukkan
terasa mengusap seluruh sel-sel di dalam dada, berdenyut lembut dan penuh rasa nikmat
terasa menggeletar dan mengayun, melenakan, terasa seolah aliran rasa dingin dan sejuk
namun juga hangat dan lembut, terasa seperti dipenuhi hawa yang tembus dengan udara
terasa mengembang dan meluas menembus angkasa, dan bersatu dengan angin di luar tubuh

seluruh panca indera terasa menjadi sedemikian peka
dalam getaran dan frekuensi yang sama dengan alam sekitar
seperti ketika merasakan angin berdesir lembut maka merasuk ke dalam jiwa lembut dan silirnya angin itu
atau ketika musik alami terdengar yaitu, keciap burung dan derit daun pintu atau gerak dahan dan daun tertiup angin, desau angin dalam symphoni alam nan indah
terasa jiwa menikmati keindahan yang ribuan kali lipat dari apa yang terdengar

ketika mata memandang langit nan biru dengan sepenuh kekaguman
maka jiwa terasa memberontak dan menggelagak dalam riuhnya pujian atas segala keindahan
terasa keceriaan yang menari-nari, terasa gejolak keriangan yang entah seperti apa
terasa lonjakan kegembiraan yang terasa sangat aneh yang menggelora
terasa betapa kehidupan begitu penuhnya dengan keindahan
dan terasa betapa sayangnya bila manusia sangat sedikit yang mau menyadarinya
terasa betapa nikmatnya menikmati keindahan alam semesta ini
terasa nikmatnya rasa syukur ketika kesadaran berada bersama alam semesta
berada dalam frekuensi yang sama, terasa berada dalam frekuensi gelombang dzikir yang sama
yaitu Ketundukan dalam penerimaan Allah.


Ketika indera perasa menikmati seluruh rasa, rasa nikmat makanan
rasa nikmat minuman dan rasa yang lain, dan juga indera perasa lainnya menikmati rasa nikmat lainnya maka seperti impulse getaran gempa yang menjalar ke dalam jiwa
getaran rasa nikmat ini menjalar dari dada, menyebar ke seluruh tubuh
mengisi setiap sel dan mengisi setiap titik di seluruh bagian tubuh
maka terasa betapa nikmatnya rasa ini, terasa betapa nikmatnya rasa menerima Allah

terasa betapa nikmatnya rasa dekat dengan Allah
yang ada semakin dalam: dalam rasa syukur

semakin kuat dalam menempuh realitas
berjuang dalam kehidupan dan menikmatinya
menikmati pekerjaan dan kebersamaan dengan keluarga
menikmati keakraban dengan sesama manusia
menikmati kedekatan dengan binatang
menikmati sentuhan dengan alam dan tumbuhan
menikmati nikmatnya menjadi manusia
dan sungguh tiada sia-sia menjadi manusia
yang menyadari keberadaan Sang Pencipta

Dan justru menjadi semakin manusiawi
menjadi seorang manusia biasa yang sangat biasa
menjadi seorang yang penuh ketidaktahuan
dan siap untuk mencari tahu
menjadi khawatir dan takut untuk sombong dan merasa tahu
menjadi tidak banyak berfikir dan hanya berbuat

dan justru menjadi semakin takut kepada Dzat Sang Pencipta
Semakin dipenuhi rasa “tiada daya”

Sedangkan semua daya adalah milikNya
Sedangkan semua ilmu adalah milikNya
Sedangkan semua kesadaran adalah milikNya
 
Apalagi yang harus dibanggakan?
Apalagi yang harus dipertentangkan
Apalagi yang harus diperdebatkan
 
 
Dialah yang meliputi gaib
Dan Dia pula yang meliputi yang nyata
Dia meliputi diri dan kesadaran
Dia meliputi darah dan nafas kita
Dia meliputi sadar dan tidur kita
Dia menguasai kita
Dia memiliki kita
 
Dia menggerakkan kita kemanapun
Apabila Dia inginkan, tanpa kita mampu melawan dan mencegahnya
 
Dia bisa membuat kita miskin atau kaya
Dia bisa membuat kita terkenal atau hancur dalam nista
 
Dia bisa saja membuat kita berkuasa
Siapakah yang mampu mencegah diriNya
 
Siapakah yang sanggup mengangkat langit?
Siapakah yang sanggup menghamparkan bumi?
Siapakah yang sanggup menggerakkan angin?
 
Siapakah yang sanggup menahan matahari dan bulan?
Siapakah yang sanggup menghidupkan tanaman
Siapakah yang sanggup menghidupkan binatang
 
Siapakah yang sanggup menggerakkan siang dan malam
Siapakah yang sanggup membentuk alam semesta

Seperti sekarang ini?

Hanya Dia. Dia menyebut dirinya Allah.
 
Dialah yang permulaan dan Dialah yang akhir.
 
Dialah yang menyatakan keperkasaan diriNya
Dialah yang Agung dan layak mengangungkan dirinya
Dialah yang suci dan Maha suci dan layak sebagai sang Maha suci
 
Maka dimana diri kita?
Layakkah bersombong?
Apakah yang sebenarnya kita miliki?
 
Apakah yang kita banggakan?
Layakkah kita berbangga atas diri
 
Dimanakah kebaikan kita?
Apakah yang sudah kita perbuat
 
 
Sudahkah kita mampu bersyukur
Atas penciptaan alam untuk kita?
 
Sudahkah kita bersyukur
Atas pemberian raga untuk merasakan
 
Sudahkah kita bersyukur
Atas segala warna dan rasa
 
Sudahkah kita bersyukur
Atas pemeliharaan Nya dari waktu ke waktu
Gerak nafas, jantung paru, otak dlll
 
Sudahkah kita bersyukur
Atas limpahan keselamatan dan perlindungan
 
Sudahkah kita bersyukur

 
Atau layakkah kita berbangga
Atas penyembahan yang kita lakukan
 
Atau layakkah kita merasa benar
Atas kedangkalan fikiran kita
 
Atau layakkah kita berdebat
Atas sesuatu yang sebenarnya kita tidak tahu?
 
Atau layakkah kita merasa tinggi?
Sedangkan kita hanyalah berasal dari setetes air mani
 
 
Layakkah kita berbangga diri
Ketika semua ‘alat pengeluaran kita” hanyalah “kotoran”
 
Layakkah kita merasa sadar
Sedangkan kesadaran itu selalu dicabut saat kita tidur
 
Dimanakah kepandaian kita saat kita tidur
Dimanakah harga diri kita saat kita tidur?
Dimanakah kesucian kita saat kita tidur?
 
Dimana keakuan kita saat kita tidak sadar
 
 
Maka, apakah kita masih merasa hebat
Maka masihkah kita merasa baik
Maka masihkah kita merasa tulus
Maka masihkah kita merasa lebih
 
Sedangkan semua itu hakekatnya adalah anugerah dan nikmatNya
 
Ketika energy yang ada di tubuh adalah energyNya
Ketika nafas yang mengalir adalah nafasNya
(atas qada dan qadarNya)
 
Ketika gerak jantung dan seluruh organ tubuh adalah dalam perawatanNya
Kita tidak melakukan apapun
 
Lalu kita menepuk dada
Merasa sudah lebih
Atau merasa sudah berbuat sesuatu untuk Tuhan
 
Sementara selalu melupakan apa yang sudah Tuhan perbuat untuk diri kita
 
Masihkah tidak sadar apa saja yang Tuhan lakukan
Masihkah harus bertanya-tanya
Apa saja yang telah Tuhan persiapkan
 
Masihkah terus menerus berfikir apa saja yang Tuhan rencanakan
 
Masihkah tidak melihat tumbuhnya kuku
Masihkah tidak memperhatikan tumbuhnya rambut
Siapakah yang menumbuhkan
Apabila Dia kehendaki, maka tidak akan tumbuh
 
Masihkah tidak diperhatikan, siapakah yang menggerakkan nafas
Kalau Dia kehendaki maka bisa ditahan dan disulitkan
 
 
Masihkan tidak terlihat
Semua yang tertera di alam semesta ini
Sinar matahari dan pergerakan awan
 
Mari lihat dan lihat sekali lagi
Apakah lebih sulit mengatur alam semesta ini atau mengatur kehidupan manusia
 
Mari lihat dan lihat sekali lagi
Alam semesta dan bersama bintang-bintang
 
Maka manakah yang lebih sulit mengatur gerak alam dan bintang-bintang ini
Ataukah sulit mengatur nasib manusia
 
 
Maka mengapakah kita sebagai manusia tidak mau berfikir
Maka mengapakah kita tidak mau menyadari
 
Mengapa tidak mau melihat energy yang menggerakkan alam ini
Maka tidakkah melihat “tangan-tangan” gaib yang mengatur dan merencanakan
Sehingga sempurna dan teratur pergerakan alam ini
 
Lalu seberapa besarkah manusia dibanding alam dan isinya
 
Maka seberapa besar manusia di alam ini
Maka seberapa besar kekuasaan manusia di alam ini
Maka mengapakah sangat sedikit yang mau sadar
 
Maka mengapakah tidak mau sujud dalam syukur
Maka mengapakah tidak mau tertunduk menangis dalam penyerahan diri
 
Maka mengapakah masih ingin meninggikan diri di hadapan Tuhan
 
Maha suci nama Tuhanmu
Maha suci Dia sekalipun seluruh umat manusia mengingkarinya
Maha agung Dia sekalipun seluruh umat manusia menentangnya
 
 
Seberapa besar dan banyak penyembahanmu tak akan menambah keagunganNya
Berapa banyakpun ibadahmu tak akan menambah kesucianNya
 
Semoga salam dan kesejahteraan berlimpah dari Tuhanmu
 
Selamat sejahtera bersama sinar matahari yang memancar
Bersama datangnya cahaya yang penuh warna warni
Bersama hembusan angin yang datang setiap waktu
Bersama tumbuhnya benih menjadi pohon dan tanaman
Bersama curah hujan yang memberi kehidupan
 
Bersama manusia-manusia yang masih mau menyadari kekuasaan Tuhan
Maka hadapkan wajah dengan kesungguhan
Dengan penuh kepatuhan
Dengan penuh ketakwaan
 
Dia lebih mengerti apa yang ada di dalam dada setiap jiwa manusia
Dia yang lebih tahu desir hati bahkan sebelum tersirat
Dia yang mengetahui apa yang ada di balik dada
 
Dia yang Maha lembut
Apa yang Dia inginkan pasti akan menjadi kenyataan
 
Dialah Penguasa mutlak
Yang gaib dan nyata
 
 
Dia tahu setiap helai daun yang tumbuh di pohon bahkan yang paling tersembunyi
Dia mengetahui setiap jenis makhluk bahkan di dasar lautan sekalipun
 
 
Dia…Dia …Dia
 
Dialah satu-satunya yang ada di alam ini
Yang lain adalah milikNya
 
Terserah apapun yang Dia kehendaki.
 
Maka apapun yang dikehendakiNyalah yang akan terjadi
Walaupun hal itu tidak disukai oleh manusia
 
Semua ada di “tangan”Nya
 
Maka selayaknya kita berlindung
Selayaknya kita bermohon
Hanya kepadanya
Memohon kasih sayangNya
 
Dalam kasih sayang yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
 
Melepaskan diri dari keakuan
 
Dan memakai sifat kasih sayangNya
 
Menyapa dan bersilaturahmi serta memberi salam
Akhirnya diri ini hanya menyerah
menikmati apa adanya
menerima Allah dalam kemampuan yang ada
bersyukur dalam setiap kejadian
memohon ampun atas ketiada daya
dan selalu memohon selalu dibimbing di jalan lurus
sebuah hal: Yang semuanya meliputi dalam sebuah doa
yang selalu kita ulang: Al fatihah

Read Full Post »

Resonansi Kidung Panembrama-1

Sementara saya duduk, entah untuk berapa lama, di dalam “bilik khalwat”, sebuah tempat yang tanpa PENGERTIAN dan tanpa KEPAHAMAN, sahabat saya Kidung Panembarama telah berkenan untuk mengisi kerinduan sahabat semua…, selamat menikmati kicauan Sang Kidung Panembarama.
Salam Deka…
 .
.
1. Membaca buku tanpa huruf
 
 
Ketika rengkuhan sayap perkasamu, menerbangkanku melintas awan menuju negeri impian
biarlah kupejamkan mata, bersandar pada percayaku
pabila angin dingin tengah menusuki kulit, kurapatkan hati dan kubenamkan dalam keteduhan matamu
sedih yang kadang mengusik karena sebuah ketidakpastian, apakah yang akan menghadang nanti?
mungkin angin beliung yang menghempas, ataukah petir yang menghanguskan
biarlah tetap saja kurebahkan hatiku pada sayapmu, kutidur dalam kidung lembut yang melenakan
yang selalu kau senandungkan sepanjang perjalanan, berayun dalam kelembutan sebuah harapan, hari esok nan penuh kebahagian, menyongsong manis madunya cinta kasih sepanjang masa
wahai dikau sang pengharap cinta
masihkah ada sayap-sayap cinta yang akan merengkuhmu, pabila ada dan nyata di hadapanmu
peluklah dalam rengkuhan yang terdalam, karena mungkin ini adalah sayap terakhir
yang akan membawamu ke negeri harapan
ingatlah selalu, lembutkan hatimu, lidahmu dan matamu
dalam senyum dan bisik teduh yang menyenangkan, dalam saling genggam kepercayaan
menuju satu cinta dan harapan
bersama 
Dalam kasih sayang Tuhan semesta alam
 
 
Pelajaran demi pelajaran, seolah sulit dan rumit, namun akan menjadi mudah dan simple
dan mengendap menjadi sebuah fitrah, atau sebuah kewajaran. Itulah sebabnya mungkin sebaiknya belajar Al Quran itu sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan memaknai, memahami, meresapi.

Yang mengajar Al Quran itu Allah, yang menempatkan Al Quran di hati kita adalah Allah. 
Kita memahami Al Quran sebatas pemahaman saat ini. Al Quran itu akan selalu up to date sampai hari kiamat. Banyak yang diketahui dahulu tapi saat ini jauh lebih banyak lagi, demikian pula yang diketahui saat ini mungkin nanti akan jauh lebih banyak lagi.
Mampukah kita membaca yang tersirat di dalam yang tersurat?
Bisakah kita membaca ruh yang terkadung di dalam Al Quran dan alam semesta (hukum alam?)
Membaca sebuah kitab terbuka namun tak berhuruf dan tak bersusun sebagaimana layaknya buku

Bagaimana kita?.

Kita hanyalah seorang biasa, mungkin mempunyai kesempatan membaca Al Quran saja sebuah karunia, memiliki iman adalah sebuah karunia, mempunyai kesadaran bahwa Allah bersama kita adalah karunia, memiliki Islam adalah karunia. Semua adalah kesempatan dalam sebuah kemungkinan
Semua untuk kita dan demi kita, untuk kepentingan kita di saat ini.
Bukan hanya di hari nanti. Di akherat adalah hak mutlak Allah, mau diapakan kita, hanya terserah kepadaNya. Kita mau mengaku beriman, mengaku beribadah atau mengaku apapun,
Dia lebih tahu kita itu bagaimana. Maka seluruh ajaran agama (dalam kitab tanpa huruf, kitab alam) adalah untuk hidup kita selama di dunia, mampu menggunakan seluruh ajaran agama untuk diri kita di saat ini.
Mampu bersyukur atas apapun yang telah kita dapatkan. Mampu merasakan sebuah keberuntungan telah diberi kesempatan untuk hidup di saat ini.

Kita bersyukur diberi kesadaran, coba bayangkan saat akan tidur, ada apa saat tidur, tidak ada kesedihan, tidak ada sakit, tidak ada gembira, tidak ada apa-apa, tidak mampu melihat atau merasakan apapun. Dimana kita?.

Bersyukur kita selalu dibangkitkan untuk mampu merasakan kehadiran sang Pencipta.
Ketika kita buka mata, semua yang dihamparkan di depan mata kita yang seolah biasa
adalah sebuah kejadian yang luar biasa, sebuah maha karya yang teramat hebat,
kesempurnaan yang teramat sangat, langit telah ditinggikan tanpa retak sedikitpun.
Matahari telah digantung dan beredar pada tempatnya. Bulan yang selalu setia, bintang-bintang yang bercahaya.
Tumbuhan dan bunga-bunga yang warna-warni. Begitu banyak keindahan demi keindahan.
Adakah usaha kita, semua sudah ada dan disajikan dalam keindahan bentuk yang sempurna.
Lihatlah manusia, betapa cantik dan gagahnya. Betapa sempurna.
Lihatlah bintanang, penuh keindahan. Lihat bintang ternak dan binatang peliharaan.

Tiada henti dan tak henti memuji, memuja, kesempurnaan.
Setiap mata melihat disini secara sadar “melihat” Allah, melihat dalam kesempurnaan ciptaanNya,
menyadari keindahan ciptaan.

Lihat diri kita, 
terganggu sedikit saja, betapa payah dan sakit yang kita rasakan.
Tak terkirakan. 
Betapa rumit susunan tubuh kita, terganggu sedikit saja,
sudah payah kita menahan derita. 
Siapa yang begitu setia “menjaga:” tubuh kita.
Kita hanya berusaha sedikit saja, namun seluruh organ fital kita bekerja otomatis,
jantung, paru-paru, ginjal, otak, sel-sel syaraf dan banyak sekali organ 
di dalam tubuh kita yang bekerja otomatis.
Siapa yang memperkerjakan itu.

Betapa sering kita protes atas kekurangan sedikit tapi lupa akan hal-hal yang prinsip.
Kalau Dia telah begitu sayang kepada kita.
Mempersiapkan segala yang terhampar di alam semesta ini untuk kepentingan kita, apakah hanya untuk menghukum kita.
Rasanya tidak mungkin.
Kasih sayangnya jauh melebihi siksaNya. 
KemurahanNya melampaui kemarahanNya.
Kita hanya perlu merelakan jiwa kita.
Mengakui seluruh kelemahan diri kita
menghadapkan diri kita apa adanya
sederhana dan mudah
menyerah dan mengakui
tidak merendah dengan maksud berbangga atau suci

tapi betul-betul dalam kerendahan hati yang sesungguhnya
mengakui diri kita apa adanya
bukan sombong karena merasa mampu begini dan begitu di hadapanNya
mampu beribadah mampu beramal shaleh
mampu ini dan mampu itu

namun melakukan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri
sebagai bukti rasa syukur kepadaNya
yang telah memberikan segala yang nampak
melakukan seluruh ini sebagai sebuah kewajaran
seorang hamba sahaya kepada tuannya
sebagai bagian dari tugas
tanpa terpaksa
ikhlas tanpa merasa ber-ikhlas

menyerahkan apapun sepenuhnya kepadaNya
tanpa kesombongan sedikitpun
mau jadi apa saja yang dikehendakiNya

seperti sebuah pensil yang digenggang,
digerakkan kemanapun hanya ikut dan tunduk

Mulai menyadari kondisi saat ini
apa yang telah terjadi itu karena telah diijinkan olehNya untuk terjadi
inilah takdir
janganlah kita menyesal dan marah atas takdir yang telah terjadi
janganlah kita mengajari Allah akan takdir yang diinginkan
jangan mendikte apa yang akan Allah kerjakan
tapi mari kita ikuti saja seperti penonton
yang aktif dalam aturan main
ikut menangis dan tertawa dalam sandiwara

ikut bahagia dan berduka
takdir yang telah digariskan
hanya perlu diikuti

mari amati terus maka kita akan tahu
diri kita dan arahnya akan kemana
kita hanya mampu memohon dan memohon
agar diberi peran yang baik
agar diberi kemudahan memainkan peran
namun Dialah yang menentukan akhir peran kita
maka jadilah peran saat ini
ketika saat ini kita tengah dalam peran yang baik
berbuatlah peran sebaik mungkin di saat ini
mumpung kesempatan untuk itu masih ada

Kita tidak tahu seperti apa di hari akhir di akherat nanti,
namun ada sebuah permisalan sederhana
kalau kita mampu merasakan ridho Allah di dunia
kita mampu merasakan syurga Allah selama di dunia
kita mampu “bertemu” Allah di dunia

kita telah merasakan kebahagiaan sejati
telah merasakan dunia, tidak sia-sia kita merasakan dan hidup di dunia

sebagaimana ketika sayidina Ali menjawab ketika ditanyakan
bagaimana kalau di akherat tidak ada surga dan neraka?.

Yaitu telah merasakan kebahagiaan hidup di dunia
kalau di akherat tidak apa-apa ya tidak ada kerugian sedikitpun
namun kalau ada maka sungguh kasihan orang yang melalaikannya

maka dalam agama yang terutama adalah
membentuk manusia yang sempurna selama di dunia
merasakan kebahagiaan hidup di dunia
telah ridho dengan Islam
telah ridho dengan Muhammad sebagai tuntunan
telah ridho dengan Allah sebagai Tuhan

telah dipenuhi rasa syukur diatas rasa syukur
atas apapun yang terjadi pada dirinya

maka telah mampu disebut sebagai hamba Allah.

apakah kita telah mampu begini?.

mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri
hanya kita yang menjawab dan tentu Allah yang tahu.

janganlah terpaku pada hukuman dan sanksi dari Allah saja
itu hanya sebagian kecil saja dan terutama bagi yang masih awal
bagi yang sudah tahu adalah bagaimana memahami
maksud penciptaan kita dan maksud keberadaan kita di dunia
mengapa kita diadakan disini?.
apakah yang sudah kita berikan dan tunjukkan kepada yang mengadakan kita
dengan menggelar seluruh keindahan alam semesta ini?.

Mari kita sama-sama tafakur alam semesta.

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: