Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘INSPIRASI’ Category

AKTIFASI RUH – 20

l) JIWA YANG TENTERAM:

1. Dari apa-apa yang telah kita pelajari diatas, maka dapatlah diambil sebuah kesimpulan yang sangat sederhana bahwa Jiwa yang tenteram ini maksudnya adalah KEADAAN JIWA orang-orang yang sudah bisa merasakan bahwa dia SEDANG HIDUP BERSAMA ALLAH SWT. Dimana Pikirannya bersih dari sampah dan sarap, karena ia selalu hanya INGAT kepada Allah Swt. Pikirannya hanya dipenuhi oleh ingatan kepada Allah Swt saja. Dia seakan-akan telah lupa dengan hal-hal yang lain, sehingga pikirannya itu menjadi tenang, luas dan tidak berkocak. Karena ia memang seakan-akan tidak perlu lagi memikirkan apa-apa. Bagaimana mau memikirkan sesuatu, sementara segala kebutuhannya telah disediakan Allah di depan matanya. Dan ia juga merasa selalu berada dalam pengaturan dan penjagaan Allah Swt setiap saat. Belum sempat ia meminta, Allah Swt malah telah memberinya. Karena Allah Swt memang tahu betul apa yang ia butuhkan. Sehingga keinginannya pun menjadi hilang berganti dengan rasa syukurnya yang tak henti-hentinya. Kekhawatiran dan ketakutannya menjadi lenyap disapu oleh rasa tenteram yang datang bergelombang dan berirama seperti ombak yang selalu datang menyapu bibir pantai. Hal-hal seperti inilah yang membuatnya sering, terlalu sering malah, bercucuran air mata walaupun tanpa diiringi kata-kata. Hanya dadanya saja yang acap kali bergemuruh tidak karuan seperti ia sedang menahan rasa rindunya yang membuncah kepada Tuhannya.

2. Keadaan jiwa yang seperti ini sangat mirip dengan keadaan Jiwa yang dipunyai oleh seperti seorang bayi, dimana dia merasa tenteram karena setiap saat dia merasa sedang HIDUP BERSAMA IBUNYA. Setiap kali dia membuka matanya, dia LIHAT ada ibunya disisinya. Saat dia menangis, ada ibunya yang menghiburnya. Setiap dia merasa sakit, ada ibunya yang memeluknya dengan kasih sayang. Setiap dia membutuhkan sesuatu, ada ibunya yang akan memenuhi segala kebutuhannya. Saat dia merasa takut, ada ibunya yang merengkuhnya dengan lembut. Saat dia menangis, ada ibunya yang lari tergopoh-gopoh menghiburnya. Setiap dia kesal, ada ibunya yang tersenyum lembut kepadanya. Setiap dia lapar dan haus, ada ibunya yang dengan penuh kasih sayang menyuapkan makanan dan minuman ke dalam mulutnya. Bahkan tanpa dia minta, karena dia belum mengerti arti sebuah pakaian, ibunya sudah melengkapinya dengan pakaian yang terindah, bersih dan wangi.

3. Saat dia dipanggil oleh ibunya, dia akan segera menoleh kepada ibunya dengan penuh antusias. Dia tidak pedulikan apapun juga yang di sampingnya, karena perhatiannya hanya fokus kepada ibunya saja…, ya ibunya. Bahkan kalaulah dia sudah bisa berjalan saat itu, maka dia akan berlari kepada ibunya. Dia akan menyuruk ke dalam pelukan ibunya. Dia seperti akan berusaha masuk kembali ke dalam RAHIM ibunya. Karena rahim ibunya itulah syurga yang pernah dihuninya sebelum dia lahir ke alam dunia ini.

4. Walaupun dia belum bisa berkata-kata, saat dia tidak melihat ibunya disisinya, dia akan segera menangis dengan keras seakan-akan saat itu dia sedang memanggil-manggil ibunya dengan penuh rasa kerinduan: “ibu dimanakah kau…, ibu…, ibu…”. Lalu ibunyapun dengan sangat cepat datang menghampirinya, sehingga diapun kembali menjadi tenteram.

5. Nah…, begitu pulalah keadaan Jiwa orang-orang yang sudah bisa merasakan bahwa dia sedang Hidup Bersama Allah Swt. Jiwa-jiwa yang seperti inilah yang disebut oleh Allah sebagai Jiwa Yang tenteram, Jiwa yang sudah redha untuk hidup bersama Allah, Jiwa yang sudah hidup di syurga Allah (paling tidak syurga dunia), Jiwa yang juga dimiliki oleh orang-orang yang dikelompokkan oleh Allah Swt Sendiri sebagai kelompok atau jamaah “ORANG-ORANG ALLAH”, yang di dalamnya tentu saja termasuk jiwa Nabi-nabi dan Rasul-Rasul, serta jiwa orang-orang Allah swt yang lainnya.

6. Ciri-ciri dari Jiwa yang Tenteram ini adalah ketika Hati kita juga sudah menjadi TENTERAM (Muthmainnah) atau Tenang, tidak berkocak, tidak bergejolak. Hal ini hanya dan hanya akan bisa terjadi dengan DUA persyaratan berikut ini, yaitu:

a) Pikirannya sudah berisikan hanya INGATAN kepada Allah Swt (Dzikrullah).
b) Dia beribadah dan menyembah Allah Swt dengan TIDAK Mensyirikkan Allah Swt dengan sebarang Rupa dan Umpama apapun juga.

7. Dengan Pikiran Mengingat Allah, secara SERENTAK juga Penglihatan (Mata Hati) tidak akan melihat rupa, huruf, warna, bentuk, dan Pendengaran (Telinga Hati) tidak mendengar bunyi, suara, irama, dan gema. Keadaan seperti inilah yang dsebut sebagai Hati yang tenteram. Hati yang sudah bersih, suci, kosong, dan bahkan bisa Bercahaya.

8. Jadi dalam Dzikrullah yang sebenarnya seperti ini, tidak terpakai metoda-metoda yang ada di dalam berbagai tradisi meditasi atau dzikir yang menggunakan visualisasi tempat, rupa, warna, dan bantuan irama-irama serta rentak tari-tarian sebagai alat bantu bagi pelakunya untuk berkonsentarasi.

9. Disamping menjadi tenteram, Hati yang sedang Mengingat Allah itu akan berada dalam PENJAGAAN yang sangat Hebat, yaitu Penjagaan Allah Swt. Sungguh…, Ingat kepada Allah itu adalah Benteng Allah Swt yang sangat Kuat.

10. Ketika Hati sudah tenteram, maka Roh juga akan ikut menjadi tenteram. Lalu Hati dan Roh yang sudah Tenteram itu akan bercantum menjadi satu, yaitu menjadi Jiwa Yang Tenteram (nafsul Muthmainnah). Dan hanya Jiwa yang sudah tenteram inilah yang selalu dipanggil oleh Allah Swt untuk selalu Balik, Rujuk, Kembali kepada-Nya.

11. Inilah rahasianya, dan ini juga yang membedakan orang-orang KHUSUS yang sudah mendapatkannya dengan orang yang ramai. Karena Allah swt sudah menetapkan keimanan ke dalam Hatinya, sehingga dia bisa beribadah dengan tidak menysirikkan Allah dan senantiasa pula mengingati Allah swt setiap waktu. Sebab inilah kehormatan yang diberi Allah swt sendiri kepadanya yang di panggil oleh Allah swt sebagai “Orang-orang Allah”

12. Memang bisa juga sih Pikiran seseorang itu berada dalam keadaan kosong. Akan tetapi keadaan Pikiran yang kosong itu dia dapatkan karena ia mengingat kepada KEKOSONGAN atau melalui meditasi-meditasi yang di dalamnya tidak ada mengingat Allah Swt sama sekali. Maka keadaan hati yang seperti itu TIDAK dapat dikategorikan sebagai Hati Yang Tenteram (Muthmainnah). Karena Hati yang tenteram itu syarat utamanya adalah ia harus Ingat kepada Allah Swt dan ia harus sudah beribadah kepada Allah Swt dengan tidak mensyirikkan-Nya dengan sebarang apapun juga.

Dan kalau Pikiran menjadi kosong karena tidak mengingati Allah Swt seperti itu, maka Pikiran itu TIDAK mempunyai penjaganya. Pikiran itu akan sangat mudah dimasuki oleh propaganda dan wis-was (telepati) yang berasal dari Syaitan. Dan hanya butuh waktu yang tidak berapa lama, ia akan segera menjadi Tuk Bomoh, Dukun, Orang Pintar. Dimana kesemua mereka itu saling bantu membantu dan berinteraksi dengan Jin atau Syaitan.

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 19

i) QARIN:

Qarin adalah istilah yang dipakai oleh Al Quran dan Al hadist untuk Jin dan Malaikat yang selalu mendampingi setiap manusia mulai saat ia dilahirkan sampai ia meninggal dunia. Qarin inilah yang akan menjadi SALAH SATU Kalam atau Tempat (sarana) bagi tersalurnya Ilham-Ilham ke dalam Pikiran setiap orang. Karena kalam-kalam yang lain juga sangat banyak, misalnya seorang guru terhadap muridnya, seorang ibu terhadap anaknya, hamparan alam beserta kejadian-kejadian yang berlaku diatasnya terhadap para pemerhatinya, dan sebagainya.

Dalil-dalil yang penting tentang Qarin ini:

Qorin itu adalah dari golongan malaikat dan dari golongan jin” seperti hadis di bawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ، وَقَرِينُهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ “… (اخرجه أحمد وصححه الألباني)

Dari Abdullah Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: “Setiap kalian (manusia) ada Qarin (pendamping) dari bangsa jin, dan juga Qarin dari bangsa Malaikat…” (Shahih HR Ahmad, dishahihkan al-albani (Shahihul jami’:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan]: “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu””, (Fussilat (41): 30)

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah…”, (Ar Rad (13): 11)

“Dan barangsiapa yang BERPALING (lupa) dari (Dzikrullah) INGAT KEPADA ALLAH Yang Maha Pengasih, Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkannya), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (QARIN)”, (Az Zukhruf (43):36)

“Dan sesungguhnya syaitan itulah benar-benar menghalangi mereka dari dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”, (Az Zukhruf (43):37)

Barangsiapa menjadikan syaitan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (syaitan itu) adalah teman yang sangat jahat, (AN NISA’ (4):38)

Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?”, (Maryam (19):3).

Jadi, syaitan adalah Qarin dari golongan Jin yang ditugaskan oleh Allah sebagai Pendamping setiap manusia di alam dunia ini. Setiap manusia didampingi oleh satu Qarin Jin ini, termasuk Rasulullah Saw sendiri. Akan tetapi Allah Swt sudah menyelamatkan Beliau dari gangguan Qarin yang mendampingi Beliau itu. Tugas Qarin dari golongan Jin ini adalah untuk MEMBISIKKAN FIKIRAN-FIKIRAN DAN MEMBAWA KEPADA KEMAKSIATAN.

Sedangkan Qarin dari golongan Malaikat adalah pendamping setiap manusia yang tugasnya adalah untuk MEMBERI ILHAM ATAU MENGAJARKAN KEBAIKAN.

j) ILHAM dan PEMIKIRAN:

Ayat yang sangat penting tentang Ilham ini adalah:

“Demi Jiwa serta penyempurnaanya. Maka Allah mengilhamkan kepada Jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwa itu”, (Asy Syams (91): 7-10)

Tapi sebelum membahas tentang Ilham dan Pemikiran ini, terlebih dahulu ada sedikit catatan yang perlu kita pahami tentang ILMU. Yaitu bahwa ILMU itu sendiri adalah CIPTAAN yang mengajarkan KEPAHAMAN. Jadi Ilmu itu sudah ada sejak Firman Kun. Ilmu itu juga patuh kepada aturan-aturan yang ada di LM. Misalnya, kepada siapa ilmu itu akan turun, kapan ia akan turun, dan bagaimana dan melalui jalan apa turunnya, semuanya sudah terencana dengan sangat sempurna di Lauhul Mahfuz (LM).

Maksud dari ilham itu diturunkan kepada Jiwa adalah bahwa Ilham itu akan turun kedalam Pikiran. Ia hanya butuh Minda atau Pikiran saja untuk menerimanya. Karena memang turun atau muncul ilham itu adalah di dalam Pikiran. Jadi ilham itu tidak memerlukan Jiwa (Hati+Ruh) untuk mendapatkannya. Cukup Pikiran saja. Tetapi untuk merealisasikan Ilham itu memang diperlukan Jiwa yaitu Hati yang telah bersatu dengan Roh. Hati kemudian memerintahkan Roh untuk menggerakkan Jasad untuk beramal dan beraktifitas. Itulah sebabnya ayat tersebut menyantakan bahwa Ilham itu seakan-akan turun kepada Jiwa.

Pertemuan suatu ILMU dengan Pikiran sesorang itu adalah ibarat Perjodohan bagi seorang Lelaki dengan Perempuan, atau kepastian kematian bagi seseorang yang hidup. Artinya sesuatu yang pasti akan terjadi karena hal itu sudah dituliskan di LM. Tidak bisa tidak.

Artinya walaupun ilmu itu sudah datang kepada seseorang, namun orang tersebut tidak berjodoh dengan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut akan pergi meninggalkannya. Ilmu itu tidak masuk ke dalam pikirannya. Atau boleh jadi ilmu itu masuk sebentar ke dalam pikirannya, namun setelah itu ilmu itu dengan cepat menghilang kembali dari dalam pikirannya.

Akan tetapi bagi seseorang yang berjodoh dengan sebuah Ilmu, maka Ilmu itu akan mengejarnya sampai kemanapun dia pergi. Ilmu itu akan masuk kedalam Pikiran orang itu dengan berbagai cara. Dan secara berulang-ulang ilmu itu akan mengajarkan orang itu sampai dia paham tentang sesuatu. Proses masuknya Ilmu itu kedalam Minda (Pikiran) inilah yang disebut sebagai Ilham dan Pemikiran.

Lalu setiap orang akan bertindak, beramal, berperilaku, berakhlak, beraktifitas sesuai dengan arahan dari Ilmu itu kepadanya. Disini Pikiran akan memakai Raga untuk beraktifitas, sedangkan tenaga penggeraknya adalah dari Roh. Jadi Pikiran akan memakai tenaga Roh untuk menggerakkan Raga agar manusia bisa beramal, beraktiftas, dan sebagainya. Dengan kata lain itulah TAKDIR yang harus dijalani oleh setiap orang.

Jadi Ilham yang turun ke dalam Pikiran itulah kemudian yang membuat manusia bisa beraktifitas dan beramal. Dimana untuk beramal dan beraktifitas itu manusia memerlukan Jiwa dan Raga. Itulah sebabnya Allah berfirman Dia mengilhamkan suatu ilmu tentang ketaqwaan dan kefasikan itu seakan-akan kepada Jiwa (anasir diri manusia yang halus), bukan kepada OTAK manusia.

Nah…, ILHAM itu sendiri adalah IDEA yang muncul di dalam Pikiran. Ia MUNCUL di DALAM Pikiran dengan tidak bersuara. Idea itu kemudian bertunas, mekar, tumbuh, dan berkembang membentuk sebuah PENGANJARAN menuju sebuah KEPAHAMAN. Ia menguraikan masalah-masalah dan mengajarkan solusi-solusi untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Pengajaran itu bisa dalam bentuk sebuah jalan cerita, kesadaran, maklumat, gambar, huruf (firman, hadist, kekata dll) yang diiringi oleh KEPAHAMAN. Ilham yang turun seperti ini sangat disukai oleh Pikiran, karena ia tumbuh, mekar dan berkembang di dalam pikiran secara lembut dan tidak berkocak atau bergolak.

Karena ilham itu masuk ke dalam pikiran, maka keadaan dari Pikiran yang akan menerima Ilham itu akan sangat berpengaruh kepada ilham macam apa yang akan turun ke dalam pikiran itu. Apabila Pikiran itu bersih dan suci, maka ilham yang akan turun juga selalu tentang hal yang baik-baik (ketaqwaan).

Akan tetapi jika Pikiran itu kotor dan penuh sampah, maka yang masuk ke dalam pikiran itu adalah was-was. Dan Syaitan akan senantiasa pula berusaha untuk lebih mengeruhkan Pikiran kita yang sedang kotor itu dengan memasukkan pemikiran-pemikiran dari luar ke dalam Pikiran kita.

Oleh karena Ilham itu bisa tentang Ketaqwaan dan bisa pula tentang Kefasikan, maka untuk membedakan ilham taqwa dengan ilham fasik itu adalah sebagai berikut:

1. Ilham Ketaqwaan muncul di dalam Pikiran seperti benih atau Kuntum Bunga yang mekar dan berkembang menuju sebuah kepahaman. Ilham itu bisa langsung dari Allah Swt dan bisa pula diantar oleh Allah Swt kepada kita melalui Malaikat yang mendampingi kita (Qarin).

Ilham taqwa ini muncul ketika Pikiran kita bersih, apalagi kalau kita bisa Ingat kepada Allah (dzikrullah). Ini akan lebih baik lagi. Karena dengan ingat kepada Allah, maka Pikiran kita menjadi kosong dari berbagai sampah dan sarap. Pikiran yang sudah kosong dan bersih seperti inilah yang akan sanggup menumbuhkan benih-benih kepahaman untuk menebarkan berbagai kebaikan dan kemaslahatan bagi sesama.

Karena dalam mendapatkan ilham itu, Pikiran kita sedang ingat kepada Allah Swt, maka ciri-ciri utama dari ilham taqwa ini adalah bahwa kepahaman itu selalu membawa kita untuk beraktiftas kepada hal-hal yang akan memberikan penghormatan kepada Allah Swt dengan penghormatan yang sebenar-benarnya penghormatan.

2. Sedangkan Ilham tentang Kefasikan, selalu diantar ke dalam minda kita oleh Allah Swt melalui Jin Qarin, syaitan-syaitan dan sekutu-sekutunya. Artinya ilham itu diantara dari luar masuk ke dalam minda kita melalui bisikkan-bisikan atau sinyal-sinyal telepati yang dikirim ke dalam Pikiran kita. Atau Ilham itu bisa pula masuk ke dalam Pikiran kita dalam bentuk tulisan-tulisan dan pembicaraan-pembicaran yang berisikan PEMIKIRAN-PEMIKIRAN tentang perbuatan FASIK.

Karena ilham Fasik itu datang melalui syaitan dalam bentuk pemikiran-pemikiran, maka ia membuat Pikiran kita menjadi berkocak atau tidak tenteram. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak disukai oleh Pikiran. Makanya ia seakan-akan membuat kita pusing tujuh keliling, dan kepala terasa berat.

Ilham tentang kefasikan itu munculnya ketika kita lupa (tidak ingat) kepada Allah. Artinya, begitu kita lupa (tidak ingat) kepada Allah, maka Jin Qarin, syaitan dan konco-konconya (tak terkecuali dari golongan manusia) akan membisikkan kalimat-kalimat, was-was, serta pemikiran-pemikiran ke dalam Pikiran kita. Ilham tentang kefasikan ini selalu membawa kita kepada perbuatan kemaksiatan dalam arti yang seluas-luasnya.

Pemikiran-pemikiran dari syaitan yang masuk ke dalam Pikiran kita itu bergerak seperti gerombolan burung unggas yang terbang dengan tak tentu arah dan tujuannya. Pemikiran itu selalu membawa kita untuk berkhayal, suka marah, merungut, mengomel, sebal, risau dan bermasalah baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.

Ciri-ciri Utama dari ilham kefasikan ini adalah konten yang muncul di dalam Ilham itu selalu berisikan hal-hal yang tidak menghormati Allah Swt dengan penghormatan yang sebenar-benarnya. Kemudian Ilham berlanjut untuk membawa kita kepada penghormatan yang berlebihan kepada diri kita sendiri seraya meremehkan orang lain.

 

k) PEDANG TAUHID:

• Hati kamu hendaklah kosong dari yang lain dan dipenuhi oleh Allah semata-mata. Maka kamu akan menjadi penjaga pintu hati kamu, dan kamu diberi PEDANG TAUHID dan kekuatan serta kekuasaan. Apa saja selain Allah yang hendak masuk ke dalam hati kamu itu hendaklah kamu penggal lehernya dengan pedang tauhid agar tidak ada dalam diri kamu nafsu kamu dan kerinduan kamu kepada dunia dan akhirat. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 70 (1990).

• Untuk Dzikrullah, mengingati Allah swt, kita hanya perlu paham bahwa Allah tidak serupa dan tidak seumpama dengan apapun juga. Jadi ketika kita ingat kepada Allah, maka di dalam Pikiran kita Tidak ada rupa, tidak ada umpama, tidak berhuruf, tidak berbunyi, tidak berbentuk.

• Oleh sebab itu, ketika kita ingat kepada Allah, muncul rupa dan umpama yang masuk ke dalam Pikiran kita, maka rupa dan umpama itu langsung kita tebas dengan pedang tauhid diatas. Bahwa Allah Tidak berupa, tidak berumpama, tidak berhuruf, tidak berbunyi, tidak berbentuk. Dia maha Ghaib, sampai Pikiran kita bisa kembali bersih dari rupa dan umpama itu.

• Walaupun saat mengingat Alllah itu Pikiran kita kosong dan bersih dari segala rupa dan umpama, namun Pikiran kita itu ada penjaganya, yaitu Allah Swt. Sehingga syaitanpun yang selalu mendampingi kita tidak punya kesempatan lagi untuk mengirimkan was-wasnya ke dalam Pikiran kita. Inilah kelebihan Pikiran kosong karena kita mengingat Allah Swt dengan Pikiran kosong karena kita mengolah Pemikiran atau tidak ingat kepada Allah Swt.

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 18

h-5. BRAIN (OTAK):

• Otak adalah tempat bagi kedudukan Hati yang halus yang paling PAS. Ketika Hati berkedudukan di dalam Otak ini, maka hatipun bisa berfungsi untuk untuk memroses semua aktifitas melihat, mendengar, berpikir, berpersepsi, emosi, tekad, INGATAN, imajinasi, memahami, dan bergerak yang melibatkan Jiwa dan Raga.
• Jadi otak ini fungsinya adalah lebih banyak sebagai HUB yang menghubungkan JIWA dengan RAGA saja. Apa-apa informasi atau KEADAAN yang ada didalam Jiwa akan diperlihatkan oleh Raga menjadi bentuk aksi atau reaksi setelah informasi dan keadaan itu melalui Otak dan disebarkan melalui jaringan syaraf, hormon, dan enzym ke bagian-bagian tubuh tertentu yang fungsinya sesuai dengan jenis Informasi atau keadaan itu. Kalau Hub (otak) ini rusak, maka rusak pula harmonisasi fungsi antara aktifitas Jiwa dan Raga.
• Orang seringkali salah memahami bahwa Brainlah yang melakukan proses berpikir, memahami, imaginasi, mengingat, dan sebagainya. Padahal Brain itu hanya TEMPAT yang dipakai oleh Hati (yang dalam hal ini adalah PIKIRAN) untuk berpikir, memahami, berimaginasi, mengingat, dan sebagainya. Jadi boleh dikatakan Brain (otak) ini adalah hardware bagi Pikiran yang berfungsi sebagai Software untuk menjalankan Jiwa dan Raga manusia dalam mengharungi samudera kehidupan.
• Bagi Pikiran, belahan otak kiri dan otak kanan akan akan mempunyai fungsi yang berbeda, begitu juga otak perempuan dengan otak laki-laki. Oleh sebab itu antara orang-orang yang Pikirannya lebih banyak bekerja pada otak kirinya akan berbeda karakter dengan orang yang Pikirannya bekerja pada otak kanannya. Begitu juga antara pria dan wanita akan memunyai karakter yang berbeda pula. Makanya hal ini akan menimbulkan potensi konflik kalau tidak tahu rahasia perbedaan ini.

h-6. RASA & HAWA NAFSU:

• RASA atau Perasaan dan Hawa Nafsu ini, semuanya berhubung kait dengan Hati atau Pikiran.
• Oleh sebab itu, orang Tidur, Pingsan, Koma, Angin Ahmar & Lumpuh tidak bisa MERASAKAN apa-apa apabila kita berbuat sesuatu terhadap jasadnya. Karena saat kejadian-kejadian itu, Pikiran tidak ada di dalam kepala kita.
• Makanya orang yang berada dalam keadaan sakit yang amat sangat dan sudah tidak tertahankan, maka orang itu menjadi pingsan, atau bahkan koma. Itulah sebabnya orang yang mengalami kecelakaan dan mengalami cedera otak, ia bisa koma dan bahkan bisa pula langsung meninggal. Inilah salah satu tanda kasih sayang Allah kepada kita agar kita tidak mengalami RASA SAKIT yang tidak bisa kita tanggungkan.
• Saat Koma, Hati sudah tidak berada di dalam kepala. Atau bisa pula sekalian Roh ikut keluar dari Badan menjadi Jiwa. Dan Jiwa yang sudah berada diluar badan ini akan melihat tubuhnya tergeletak ditempat tidur.
• HAWA NAFSU (kecenderungan Nafs) adalah Jiwa yang menerima arahan-arahan dari Pikiran yang menimbulkan berbagai kecenderungan, hasrat, dan keinginan yang harus segera dipenuhi atau direalisasikan, seperti makan, minum, seksual, kesenangan, dihormati, dan sebagainya.
• Hawa Nafsu ini muncul dan merajalela ketika Pikiran kita tidak bersih, kotor, penuh bintik-bintik hitam dari berbagai sampah dan sarap pikiran dan ingatan.
• Makanya Pikiran yang kotor ini juga akan menghasilkan tindakan pemenuhan keinginan yang kotor-kotor pula seperti untuk makan dan minum makanan dan minuman yang haram, menyalurkan hasrat seksual yang menyimpang, serta pemenuhan kesenangan dan penghormatan dengan cara yang kotor, jorok, dan tidak mengenal belas kasihan.
• Perlu dipahami bahwa tenaga Roh yang menggerakkan Jiwa dan Raga untuk memenuhi hasrat Hawa nafsu itu sangatlah besar dan sulit untuk ditahan sebelum hasrat itu terpenuhi atau terlaksana. Tenaga Roh yang sudah terkumpul itu harus tersalurkan. Kalau tidak maka tenaga itu akan balik memakan sel-sel tubuh kita sendiri dan menimbulkan berbagai macam penyakit (baik jiwa maupun raga). Dan kalau hawa nafsu itu sudah terlaksana atau terlampiaskan, maka barulah kemudian muncul penyesalan dan penyesalan. Tobat, akan tetapi selalu akan kumat kembali seperti semula, bahkan bisa menjadi lebih buruk.
• Inilah rahasianya kenapa ada Al hadist yang melaknat istri yang menolak suaminya untuk berhubungan badan. Karena begitu tenaga Roh sudah dibangkitkan untuk siap berhubungan badan, dan ia tidak tersalurkan, maka tenaga Roh itu akan sangat mengacaukan pikiran dan dan merusak badan suaminya.
• Sebaliknya, kalau Pikiran itu bersih dan suci maka bersih pulalah Hawa Nafsu itu. Karena itu kalau Pikiran itu bersih seperti Pikiran kanak-kanak, maka bersih pulalah Hawa Nafsu itu. Jadi kalau ingin Kecenderungan Nafs (hawa Nafsu) kita bersih dari segala maksiat dan angkara murka, maka bersihkanlah Pikiran itu dengan Mengingati Allah. That’s simple. Ini sesuai dengan hadith Rasulullah saw yang maksudnya bahwa kalau rusak Hati (Minda) maka rusaklah orang itu.
• Pikiran yang bersih dan suci karena Pikiran itu ingat kepada Allah Swt akan menjadikan Hawa Nafsu yang muncul itu juga berada dalam Rahmat Allah Swt, Nafsu yang dirahmati, sehingga pemenuhan hasrat untuk makan, minum, seksual, kesenangan dan lain-lain sebagainya itu juga akan berada dalam batas-batas yang diridhai oleh Allah Swt.

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 17

h-3. NYAWA:

• Sebagaimana halnya dengan Roh, Nyawa inipun juga adalah Rahasia Allah Swt. Ia adalah anasir yang Suci dan Bersih juga seperti halnya Roh. Namun banyak orang yang keliru tentang nyawa ini. Nyawa dikira Roh atau Roh dikira Nyawa. Padahal Roh dan Nyawa itu adalah anasir yang berbeda dan dengan fungsi yang berbeda pula. Walaupun kedua-duanya adalah berbentuk energy atau kuasa yang juga bisa saling mempengaruhi. Dimana Roh adalah kuasa yang bisa dipakai oleh Hati untuk bergerak dan beraktifitas melalui alam fisik maupun alam non fisik. Sedangkan Nyawa ini adalah Anasir kekuatan yang memberi Kehidupan bagi Jasad.
• Pusat Nyawa ini terletak di bawah Jantung. Nyawalah yang mengerakkan atau membuat jantung berdeyut, dan sekaligus membuat nafas bergerak menarik dan mengeluarkan oksigen dari dan ke dalam paru-paru. Nyawa jugalah yang bertugas untuk mengatur keluarnya berbagai enzim dan hormon di dalam tubuh kita.
• Jadi Nyawa itu adalah juga sebentuk Energy, tetapi wujudnya lebih lemah dari Roh yang juga adalah energy atau tenaga. Nyawa inilah juga membuat Jasad menjadi tidak membusuk di udara terbuka. Selama Hayat masih dikandung badan, maka Nyawa akan selalu melekat kuat dengan Jasad seperti melekatnya kulit dengan daging. Walaupun Roh ataupun Jiwa bisa keluar dari Tubuh, namun Nyawa akan tetap tinggal bersama Jasad selama kita masih belum meninggal.
• Dalam peristiwa sakaratul maut, Gelombang Nyawa ini akan menolak Roh untuk naik kekerongkongan, lalu masuk ke dalam kepala dan berputar kebelakang kepala kemudian berbalik arah untuk keluar dari tubuh melalui Pintu Mata ke-3 (ditengah kening). Lalu Gelombang Nyawa itu akan terus menolak Roh sampai ke Pintu Alam Bazakh. Setelah itu barulah Hati menyusuli Roh yang sudah menunggu di pintu alam barzah itu menjadi Jiwa, untuk segera masuk ke Alam Barzah.
• Apabila Hati sudah menyusul Roh dan bersatu dengan Roh menjadi Jiwa di Pintu Alam Bazakh, maka berhentilah pernafasan (Heart stopped beating). Sesudah itu Nyawa ditarik (Cardiac arrest). Nyawa lalu disimpan bersusun-susun di alam Nyawa bersama-sama dengan Nyawa-nyawa lainnya. Sedangkan Jasad harus segera ditanam (dikuburkan). Sebab kalau tidak, maka Jasad itu “umumnya’ dengan sangat cepat akan membusuk.
• Akan tetapi, pada beberapa kasus, walaupun jantung sudah berhenti berdenyut, namun selagi Minda belum keluar dari dalam tubuh, orang yang nazak (proses sakaratul maut) itu masih bisa berpikir, mendengar dan melihat. Akan tetapi tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi, karena Roh sudah keluar dari tubuh. Sebab untuk bergerak itu dibutuhkan tenaga dari Roh.
• Kadangkala Minda lambat keluar dari tubuh karena sebab-sebab tertentu, seperti amalan ilmu hitam dan lain-lain. Namun Minda tetap akan dikeluarkan sebelum nyawanya ditarik. Hanya saja proses keluarnya minda atau hati dari dalam tubuh itu akan menjadi lebih lama…
• Kadangkala, Hati yang Halus (Minda, Pendengaran dan Penglihatan) tidak mau keluar karena ia tidak mau meninggalkan orang yang dikasihinya (Anak, isteri, Suami, ibu-bapa, adik beradik, kekasih, dll). Namun Setelah yang orang yang dikasihinya menyatakan kepadanya, “Pergilah, jangan risaukan kami!”, maka barulah Minda atau Hati pergi menyusuli Roh yang sudah menunggu di pintu Alam Barzah. Dan sesudah itu, Nyawapun ditarik (dari atas melalui ubun-ubun, atau dari bawah melalui kaki).

h-4. JIWA (NAFS):

• Istilah Jiwa ini memang sangat membingungkan kalau kita tidak mengerti tentang Roh dan Hati. Banyak yang menyangka Jiwa ini adalah tidak ada hubungannya dengan Roh. Mereka menganggap Roh adalah Anasir sendiri yang berasal dari Tiupan Roh Allah, dan Jiwa adalah anasir tersendiri pula yang berbeda dan mempunyai fungsi “aku” yang menyadari, yang tahu, dan sebagainya. Padahal itu adalah keliru.
• Jiwa adalah sebutan untuk Roh dan HATI yang sudah bercantum menjadi SATU. Jadi Jiwa = Roh + Hati. Ketika anasir Roh dan Hati ini sudah berpadu menjadi satu, maka Roh yang tadinya Blur akan menjadi bisa berpikir, memahami, mengingat, mendengar, melihat, emosi, dan beraktifitas. Begitu juga, Hati yang tadinya tidak bisa melakukan aktifitas di alam fisik maupun di alam non fisik, dengan adanya Roh, membuat hati itu bisa beraktifitas di alam fisik menggunakan Raga dan dialam non fisik menggunakan Roh.
• Kalau Hati dan Roh terpisah, maka ia dinamakan secara sendiri-sendiri. Yaitu Roh saja, atau Hati saja. Jika hanya Roh saja, maka Roh itu akan menjadi anasir diri halus yang Blur, bingung, seperti pesawat yang tidak ada pilotnya. Jika Hati saja, maka hati itu bisa pergi ketempat-tempat yang pernah ia datangi, atau berjumpa dengan apa-apa yang ia ingat. Akan tetapi semuanya itu hanya terjadi di dalam Pikiran saja.
• Jika Roh dan Hati sudah berpadu menjadi Jiwa, dan ketika Jiwa itu sudah bisa keluar dari jasad (OBE), maka ia bisa melakukan Astral Journey dan Astral Projection ketempat-tempat yang pernah ia ketahui dan kunjungi, atau bertemu dengan makhluk-makhluk rohani lainnya seperti Jiwa-Jiwa yang lain, atau Jin dan yang sejenisnya. Pertemuan kejiwaan itu terjadi seperti pertemuan dengan jasad, tetapi jasad yang halus. Jiwa atau Jin yang ditemui itu juga ada, dan pertemuan itu terjadi disuatu tempat tertentu pula. Bukan di dalam Pikiran.
• Dalam hidup keseharian, sebenarnya Jiwa inilah yang beraktifitas. Yang berjalan adalah Jiwa, yang berkata-kata adalah Jiwa, yang berbuat adalah Jiwa, yang ruku dan sujud adalah Jiwa. Sedangkan Badan hanya mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Jiwa. Misalnya, ketika kita berbicara, maka yang berbicara itu sebenarnya adalah Jiwa, sedangkan mulut, lidah, dan suara yang keluar dari mulut kita hanyalah sebagai PENERUSAN saja dari aktifitas Jiwa yang sedang berbicara itu. Walaupun begitu, semua aktititas Jiwa dan Raga itu tetap dikontrol dan dipiloti oleh Hati, yang dalam hal ini adalah Pikiran. Karena Hati adalah paduan dari tiga serangkai Pendengaran, Penglihatan, dan Pikiran.
• Ketika Jiwa (Roh dan Hati) berkumpul di dalam Kepala atau sedikit (paling kurang sejengkal) diatas Ubun-ubun, dimana saat itu Roh sudah menjadi “Kecil”, maka keadaan seperti itu disebut FANA. Kita serasa duduk di dalam kepala, atau bahkan bisa pula serasa duduk sejengkal diatas ubun-ubun kita.
• Saat Fana seperti ini, badan atau tubuh kita sudah tidak terasa lagi. Kalau sudah FANA seperti ini, kita bisa duduk dengan tenang dan tidak bergerak-gerak selama 1 jam, 2 jam atau lebih. Keadaan Fana ini bisa disebut juga sebagai keadaan Halusinasi, Khayal, atau Relax one Corner (ROC).
• Syeikh Abdul Qadir Al Jilani menggambarkan Keadaan Fana seperti ini dengan indahnya sebagai berikut: “Maka dengan itu dirinya pun hancur dan hawa nafsunya pun hilang dan hapuslah niat dan cita-citanya. Segala-segalanya kosong baginya. Perkara ini berkekalan sementara dan mungkin dihebatkan lagi penderitaannya itu. Sehingga sampailah masanya bila ia merasa tabiat-tabiat dan sifat-sifat kemanusiaannya hilang terus dan dia tinggal seolah-olah Roh saja. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 116 (1990)
• Ya…, seolah-olah kita hanya tinggal Roh saja, yaitu Roh yang telah bersama Hati, membentuk Jiwa yang sudah duduk sejengkal diatas ubun-ubun.
• Keadaan seperti ini (jiwa sudah naik sejengkal diatas ubun-ubun), disebut juga sebagai Jiwa yang sudah berada di Base Camp.
• Bagi orang-orang Allah, Base Camp ini adalah salah satu tanda-tanda khusus yang mereka miliki. Di dalam base Camp inilah orang-orang Allah diam menunggu untuk dinaik tarafkan oleh Allah Swt ketingkat kerohanian yang lebih tinggi.
• Sedangkan bagi orang-orang yang bergerak dalam dunia MISTIK yang mengolah kesaktian dan kebatinan lalu mendapatkan base camp, maka Base Camp ini adalah pencapaian kerohanian mereka yang paling tinggi, dan setelah itu mereka akan terpalingkan menjadi orang-orang yang sakti, orang pintar, kebatinan, dukun, bomoh, dan sebagainya, yang kesemuanya itu sangat mudah sekali bersentuhan dengan Syaitan dan konco-konconya.
• Bagi orang-orang kebatinan, Tenaga yang dipakai untuk melakukan berbagai aktifitas kebatinan tersebut berasal dari dua sumber, yaitu dari tenaga Rohnya sendiri, atau bantuan tenaga dari Syaitan berserta konco-konconya.
• Ketika SHALAT, kita TIDAK BOLEH dalam Keadaan Fana. Karena untuk semua aktifitas itu kita masih membutuhkan jasad atau tubuh fisik kita untuk melakukan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan shalat. Begitu juga dalam berbagai aktifitas kehidupan keseharian seperti bekerja, mengendarai kendaraan, berjalan, bergaul dan bermasayarakat. Yang perlu dijaga dalam kita melakukan aktifitas seperti ini hanyalah minda kita harus senantiasa ingat kepada Allah Swt.
• Dalam aktifitas shalat dan aktifitas keseharian itu, walaupun kita tidak fana, akan tetapi bagi yang sudah bisa merasakannya, semuanya sebenarnya kita lakukan dengan Jiwa. Jiwa yang menggerakkan Raga.
• Ketika Jiwa (Roh dan Hati) berkumpul di dalam Dada, maka kita akan TERTIDUR. Artinya, Roh kita sudah mengecil dan berkumpul di ulu hati, Lalu Hati turun pula ke Ulu Hati dan bercantum dengan Roh membentuk Jiwa. Saat itulah kita akan tertidur. Tubuh kita berada dalam keadaan yang sangat lemah. Hati kita juga sudah tidak dapat lagi berfungsi untuk mendengar, melihat, dan berpikir. Hati kita menjadi buta, tuli, bisu, dan bodoh. Saat Hati turun ke dada ini bukan hanya tubuh kita saja yang lemah lunglai, IMAN kitapun berada dalam keadaan yang sangat lemah pula.
• Karena Roh selalu berusia 33 tahun, maka Jiwa ini juga selalu berusia 33 tahun. Jadi sudah dewasa. Makanya Jiwa ini bisa berperan menjadi bayi ketika bayi baru lahir ke dunia. Kemudian perannya terus berkembang menjadi anak-anak, remaja, dewasa, orang tua seiring dengan perkembangan Pikiran dan Raga tempat dimana ia berada.
• Jiwa inilah, kalau kita sudah meninggal, yang akan masuk ke Alam Barzah bergabung dengan Jiwa-Jiwa lain. Semuanya dalam masa penungguan untuk dibangkitkan kembali dengan badan yang baru untuk menjalani kehidupan di Alam Akhirat. Kehidupan yang sebenarnya.
• Saat berbangkit itu, badan baru diciptakan, nyawa yang tadinya ditempatkan di dalam nyawa dikembalikan ke dalam badan, dan Jiwa yang ada di Alam Barzah dimasukkan kembali ke dalam Badan. Dan mulailah saat itu semua manusia, jin, syaitan, dan malaikat menjalani prosesi kehidupan di Alam Akhirat…

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 16

h-2. ROH:

• Allah Swt mengatakan bahwa tentang Roh ini adalah Rahasia Allah Swt, yang hanya sedikit saja pengetahuan tentangnya diberikan Allah Swt kepada orang-orang tertentu. Diantara pengtahuan yang sedikit itu telah diberikan oleh Allah Swt kepada Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff. Inilah beberapa point yang saya coba rangkum dari apa-apa yang pernah Beliau sampaikan kepada kami para pengikut Beliau.
• Banyak yang beranggapan bahwa Roh ini adalah Roh Allah (MIN-RUHI) yang ditiupkan ke dalam tubuh manusia. Jadi Roh itu dianggap bagian dari ROH Allah yang ditiupkan ke dalam diri manusia. Akan tetapi anggapan ini adalah keliru. Roh ini juga adalah ciptaan Allah. Sebab semua yang ada di dalam Lauhul Mahfuz ini adalah ciptaan.
• Usia Roh ini selalu 33 tahun sejak ia diciptakan sampai dengan kehidupan di alam akhirat kelak. Ia bisa juga disebut sebagai Badan Halus yang pusatnya di ULU HATI kita.
• Roh ini diciptakan Allah Swt TANPA memiliki Hati (Penglihatan, Pendengaran dan Pikiran). Makanya jika Roh tanpa ia bercantum (bersatu) dengan Hati membentuk Jiwa, ia akan Blurr dan tidak Memahami apa-apa.
• Roh diberikan sedikit Kuasa, Kekuatan, atau Daya, atau ENERGI yang bisa dipakai oleh Hati untuk berbagai keperluan.
• Roh berfungsi seperti PESAWAT, sedangkan Hati adalah PILOT yang mengendalikan Roh itu. Roh kemudian menggerakkan tubuh fisik yang dalam hal ini adalah Pesawatnya, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Pilot. Misalnya, untuk menggerakkan jari tangan sedikit saja, atau mengerakkan bola mata, menelan ludah, dan melakukan gerakan-gerakan kecil lainnya, kita membutuhkan tenaga Roh. Itulah sebabnya ketika Roh berada di luar tubuh saat kita Comma, atau Roh mengecil dan berada di dalam dada ketika kita tidur, kita tidak bisa bergerak sedikitpun, termasuk menggerakkan bola mata, menelan ludah, dan menggerakkan jari tangan walau sedikitpun.
• Tenaga Roh juga bisa digunakan untuk mempengaruhi dan mengatur keluar masuknya Pernafasan. Walaupun tanpa tenaga Rohpun, nafas itu sebenarnya sudah bisa keluar masuk dari dan ke dalam paru-paru, yaitu dengan dorongan dari Gelombang Nyawa. Menggunakan tenaga Roh inilah yang banyak dipakai oleh praktisi tradisi MISTIK tertentu untuk mengatur keluar masuknya nafas sebagai cara untuk menghentikan pergerakan pikiran yang selalu ingin bergerak liar kemana-mana.
• Yang tidak banyak diketahui orang adalah, bahwa untuk berpikir tentang sesuatupun diperlukan juga tenaga Roh. Karena proses berpikir itu adalah Pikiran bergerak dari satu Pemikiran ke Pemikiran yang lainnya sehingga membentuk sebuah Pemikiran yang baru. Pokoknya tanpa tenaga Roh, hati dan berbagai instrumen jasad tidak akan bisa melakukan aktifitas apa-apa.
• Roh ini keadaannya adalah anasir yang SUCI dan BERSIH. Artinya Roh ini TIDAK mempunyai fungsi-fungsi yang lainnya seperti untuk fungsi NAFSU & RASA. Sebab fungsi nafsu dan rasa itu dilakukan oleh Hati. Sedangkan Roh hanya bisa tenang atau berkocak, membesar atau mengecil mengikuti keadaan Nafsu dan Rasa yang sedang bergejolak di dalam Hati.
• Jadi Roh ini bisa menjadi Tenteram (tenang, tidak bergejolak, tidak berkocak) dan bisa pula menjadi Tidak Tenteram (tidak tenang, bergejolak, berkocak). Keadaan Roh ini sangat tergantung pada keadaan Hati kita. Artinya, apa-apa yang kita Ingat dan pikirkan di dalam pikiran kita juga akan mempengaruhi Roh yang berpusat di dalam dada kita.
• Ketika Roh kita berkocak karena kita ingat kepada sesuatu objek pikir tertentu, maka dada kita akan terasa menjadi sempit dan nafas kita akan tersengal-sengal, tubuh kita terasa menegang dan keras. Sebaliknya ketika Roh kita menjadi tenteram ketika kita mengingat suatu objek pikir tertentu, maka dada kita akan terasa lapang, nafas kita menjadi ringan, dan tubuh kita menjadi sangat rileks dan santai.
• Keadaan Roh yang bisa membuat dada kita terasa sempit ataupun lapang seperti inilah yang membuat banyak orang KELIRU dengan menganggap bahwa HATI itu bertempat Di dalam dada kita, atau hati itu adalah Jantung kita (heart). Jelas ini adalah keliru. Keliru pemahaman, maka keliru pula perlakuan yang akan kita perbuat untuk menenangkan hati yang sedan berkocak itu.
• Roh bisa pula mengecil dan membesar. Ia jadi MENGECIL semasa kita TIDUR atau semasa kita SAKARATUL MAUT. Dan ia MEMBESAR ketika kita TERJAGA. Ini sesuai dengan firman Allah swt bahwa Allah Swt memegang roh (jiwa) kita saat kita tidur atau mati dan mengembalikannya saat kita jaga.
• Semasa Roh mau membesar (apabila kita bangun dari tidur) dan pada masa itu kita ditindih oleh syaitan, maka kita tidak bisa bergerak. Karena Roh itu tidak dapat berkembang sepenuhnya. Keadaan seperti ini disebut TINDIHAN.
• Bagi siapapun yang sudah bisa mengolah kuasa Roh ini, maka ia akan dapat memanfaatkan kuasa Roh ini untuk berbagai keperluan dan penggunaan. Misalnya pengobatan, tenaga, dan kuasa-kuasa kerohanian atau aktifitas MISTIK lainnya.
• Roh ini dalam keadaan Normal seperti MELEKAT ERAT dengan jasad kita. Akan tetapi kalau Roh ini sudah bisa kita longgarkan dengan jasad kita, maka ia akan bisa lepas dan keluar dari jasad kita. Inilah yang disebut sebagai OBE (Out of Body Experience), Astral Projection, dan sebagainya. Untuk bisa melakukan hal-hal seperti ini, Roh harus sudah bersatu dengan Hati membentu JIWA. Sebab tanpa Hati, Roh tidak akan bisa berfungsi atau pergi kemana-mana.
• Dalam berbagai tradisi mistis, dzikir tarekat, dan meditasi-meditasi lainnya, yang terjadi sebenarnya adalah proses melonggarkan ikatan Jasad terhadap Roh ini. Bahkan inilah yang menjadi tujuan utama dari tradisi-tradisi ini. Sehingga mereka bisa menemukan Diri sejati mereka.
• Sedangkan dalam tradisi Dzikrullah yang disampaikan oleh Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff, semua hal tersebut hanyalah hal Insidental atau sampingan saja. Yang utama adalah Dzikrullah itu sendiri dan Ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah.
• Ketika sakaratul maut, dimana Roh ini harus terlebih dahulu meninggalkan tubuh, sementara hati yang bisa mengarahkan Roh itu masih berada di dalam kepala kita, maka yang menolak Roh itu ke pintu Alam Barzah dilakukan oleh Gelombang Nyawa.
• Dimana, ketika sakaratul maut, Roh akan didorong oleh Gelombang Nyawa naik kerongkong, setelah itu naik ke mata, masuk ke dalam otak dan berbalik keluar melalui mata ke-3, lalu ditolak terus oleh Gelombang Nyawa ke pintu ALAM BAZAKH. Lalu setelah itu barulah Hati menyusuli Roh yang sudah menunggu di pintu Alam barzah itu. Setelah itu barulah Roh dan Hati yang sudah menjadi satu membentuk Jiwa itu masuk ke Alam Barzah. Namun dalam keadaan tidak melalui proses sakaratul maut seperti mati terkejut (ditabrak oleh durian jatuh he he), ia terus ke pintu alam bazakh di dalam bentuk JIWA.

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 15

 

h-1.2. MATA HATI (PENGLIHATAN):

• Mata hati ini selalu bersama dengan Pikiran dan Pendengaran.

• Sebenarnya kita melihat adalah dengan menggunakan Mata hati ini. Sedangkan kedua mata kita hanyalah berfungsi seperti kacamata (Spectacle) saja bagi Mata hati kita. Misalnya ketika kita melihat sebuah gambar, maka yang melihat itu adalah Mata hati atau Mata Batin kita melalui mata kita.

• Mata hati adalah paduan yang melekat pada Hati. Dia akan bersama Hati di mana saja Hati itu berada. Walaupun kalau diperhatikan bahwa mata hati itu bisa pula bersama dengan Roh, akan tetapi mata hati tetap tidak melekat pada Roh. Mata hati itu hanya melekat pada Hati saja, bukan pada Roh. Keadaan seperti inilah yang dimaksud oleh ayat berikut ini:

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah HATI dalam rongganya.” (Al Ahzab (33):4)

• Ketika mata hati melihat sesuatu melalui mata, maka penglihatan itu akan dibawa ke dalam PIKIRAN. Lalu Pikiran akan mengilhamkan pengertian dan pemahaman atas apa yang kita lihat itu. Dengan hubungan Mata hati dan Pikiran seperti itu, maka dapatlah kita menjalankan hidup keseharian kita dengan dibantu oleh Pendengaran, Roh dan Jasad kita.

• Apabila Pikiran tidak mengilhamkan pengertian atas apa yang kita lihat itu, maka “butalah” Mata hati itu. Artinya Mata hati itu hanya bisa melihat TANPA KEFAHAMAN. Orang yang buta Mata hatinya seperti ini adalah orang yang berada dalam kegelapan serta kerugian.

• Salah satu pertanda bahwa Mata hati kita sudah menjadi “Tajam” adalah ketika Mata hati melihat, walaupun apa yang kita lihat itu tidak tertangkap oleh pandangan mata (wujud ghaib), lalu Pikiran kita sudah bisa memberikan kefahaman bahwa disebalik semua ciptaan ADA WUJUD HAKIKAT yang meliputi semua ciptaan itu, yaitu Dzat-Nya. Inilah yang disebut sebagai Pandangan HAKEKAT. Artinya, ketika mata kita memandang kepada ciptaan apa saja, maka mata hati sudah bisa pula memandang bahwa disebalik semua ciptaan yang terpandang mata itu ada Dzat-Nya yang tersembunyi yang menjadi batin dari ciptaan itu. Maka dengan begitu, fahamlah kita bahwa Dzat-Nya adalah Wajibul Wujud untuk kesemua ciptaan karena tanpa Dzat-Nya, tidak akan ada ciptaan.

• Jadi, kita MENGENAL akan adanya Dzat-Nya itu kita ketahui dengan menggunakan Pikiran (Minda), dan kita MELIHAT adanya Dzat-Nya itu adalah dengan Ilmul Yakiin menggunakan Mata hati.

• Dengan begitu, maka kitapun akan dengan mudah bisa pula mencapai kepada pandangan Makrifatullah, yaitu bahwa Dzat-Nya itu tiada lain dan tidak bukan adalah berasal dari Sedikit Diri-Nya (Yang Maha Halus) yang telah dikenai-Nya dengan Firman “Kun”. Dan diatas pandangan Makrifatullah inilah kemudian segala pembentukan aktifitas kerohanian dan ibadah di dalam diri kita akan kita dilakukan. Dengan pencapaian ini, maka kita juga akan bisa dengan mudah senantiasa mengingat Allah (dzikrullah).

• Natijah (dampak) dari pencapaian pandangan hakekat dan makrifat yang seperti ini adalah air mata kita akan dengan sangat mudah jatuh bercucuran karena kita sudah bisa melihat KEBENARAN tentang Kewujudan, Keesaan, dan Kebesaran Allah Swt yang selama ini kita seakan-akan buta akan KEBENARAN-NYA itu.

• Salah satu fungsi Mata Hati ini yang sangat penting adalah untuk MENGUNCI agar pikiran kita bisa FOKUS untuk INGAT hanya pada SATU Objek Pikir saja dalam waktu tertentu. Caranya adalah dengan menumpukan pandangan mata hati kepada Pikiran kita yang sedang mengingat sesuatu. Hal ini akan kita bahas dalam bagian cara mengingati Allah Swt.

• Matahati ini juga berfungsi untuk mengikat Roh dengan Hati ketika Dzikrullah. Dimana Hati mengingat Allah dan Mata Hati naik dan ditumpukan kepada Hati yang mengingat Allah itu, maka Roh seakan-akan ditarik untuk ikut naik ke dalam Kepala mengikuti Mata hati itu.

h-1.3. TELINGA HATI (PENDENGARAN):

• Sama halnya dengan melihat, maka yang mendengar itu sebenarnya adalah Pendengaran atau Telinga Hati. Telinga hanya sebagai Corong bagi Pendengaran untuk mendengar berbagai, suara, bunyi, nada dan irama.

Oleh sebab itu apapun yang diingat oleh Pikiran, maka Pendengaran dan Penglihatan akan mengkonfirmasi atau memfalidasi kebenarannya. Penglihatan akan mengkonfirmasi dalam bentuk rupa, dan umpama dari sesuatu yang sedang diingat oleh Minda. Sedangkan Pendengaran akan memfalidasinya dalam bentuk suara, gema, dan irama dari sesuatu yang sedang diingat oleh Pikiran. Kalau mata hati dan pendengaran sudah mengkorfimasi apa yang diingat di dalam Pikira itu adalah benar, artinya ia sesuai dengan pandangan mata hati atau pendengaran, maka kita disebut sudah memahami sebuah Kebenaran. Kalau tidak sesuai, maka kita boleh dikatakan sebagai sedang berbohong.

Jadi jelaslah bahwa Hati itu sendiri adalah tidak wujud baik secara zahir maupun batin. Hati itu hanya sebuah istilah saja untuk menamakan suatu paduan tiga serangkai yang tidak pernah berpisah, yaitu Pikiran, Penglihatan, dan Pendengaran.

 

Bersambung

Read Full Post »

AKTIFASI RUH – 14

h-1.1. MIND (MINDA atau PIKIRAN:

 

• Selama ini banyak orang yang mengira bahwa PIKIRAN itu hanyalah milik manusia saja. Mereka mengatakan bahwa yang membedakan manusia dengan binatang atau tumbuhan adalah bahwa manusia mempunyai PIKIRAN sedangkan Binatang dan Tumbuhan tidak mempunyainya. Anggapan ini adalah salah. Sebab PIKIRAN itu adalah satu anasir atau instrumen yang SANGAT AMAT ISTIMEWA yang diberikan Allah Swt kepada SELURUH Ciptaan-Nya.
• Ya…, seluruh ciptaan diperlengkapi Allah dengan Pikiran. Apakah itu benda padat, benda cair, manusia, binatang, tumbuhan, bintang-bintang, langit, bumi, gunung, lembah, atau malaikat dan jin. Semuanya mempunyai PIKIRAN, tapi dengan kadarnya masing-masing. Makanya suatu ketika pernah terjadi dialog antara Allah Swt dengan langit, bumi dan gunung-gunung apakah mereka mau menerima suatu amanah Allah Swt:

” Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).

Dalam dialog ini terlihat bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung menolak amanat Allah Swt untuk melaksanakan suatu tugas tertentu dari Allah Swt. Artinya pikiran dari langit, bumi, dan gunung-gunung itu paham bahwa mereka tidak sanggup untuk memikul amanah itu. Pikiran manusia merasa sanggup untuk memikulnya, sehingga manusia menerima amanah itu.

• PIKIRAN itu sebenarnya adalah sebuah ALAT atau WADAH RUHANIAH yang sangat berguna bagi MANUSIA (khususnya) untuk melakukan berbagai PROSES atau AKTIFITAS PIKIRAN seperti berikut ini:

 FIKR > BERPIKIR RASIONAL (to think)  (AF KAAR)
 DZIKR > MENGINGAT (to remember) (ADZKAAR)
 LUBB > MEMAHAMI (to understand)  (Ulul Albab)
 SHADR > MENYADARI (be aware of, to realize)  (SHUDUUR)
 FU’AD > MERASAKAN EMOSI (to feel emotion) (AF IDAAT)
 AQL > MENGETAHUI (to know), (UQUUL)
 QALB > MENGIMANI (faith)  (QULUUB)

• Semua proses atau aktifitas pikiran itu dilakukan terhadap suatu OBJEK PIKIR tertentu. Sedangkan hasil atau keluaran dari proses itu adalah seperti berikut ini:

 BERPIKIR  hasilnya adalah buah PEMIKIRAN (thought)
 MENGINGAT  hasilnya adalah INGATAN (remembrance)
 MEMAHAMI  hasilnya adalah KEPAHAMAN (understanding)
 MENYADARI  hasilnya adalah KESADARAN (awarenes, consciuousnes)
 MERASAKAN  hasilnya adalah PERASAAN, EMOSI (feeling, emotion)
 MENGETAHUI  hasilnya adalah PENGETAHUAN (knowledge)
 MENGIMANI  hasilnya adalah KEIMANAN (belief)

Jadi kalau diringkas fungsi Pikiran itu adalah sebagai berikut:

Anasirnya disebut PIKIRAN,
Prosesnya disebut BERPIKIR,
Yang DIPIKIRKAN adalah suatu OBJEK PIKIR tertentu, dan
Hasilnya adalah PEMIKIRAN (ILMU).

Lalu dengan berbekal ILMU, kemudian lahirlah Pengetahuan, Kesadaran, Perasaan, Kepahaman, dan Pengenalan. Yang kesemuanya itu ternyata akan membawa kita pula untuk BISA MEYAKINI atau TIDAK MEYAKINI akan sesuatu, MENGIMANI atau TIDAK MENGIMANI akan sesuatu. Dan kesemua proses itu terjadinya di dalam Minda atau Pikiran kita.

Kalau kita sudah yakin dan beriman kepada sesuatu, misalnya Allah Swt sebagai Tuhan kita, maka dengan mengingat Allah Swt yang sudah kita yakini dan imani itu saja, dampaknya akan sangat luar biasa bagi kita baik secara Rohani maupun Jasmani.

• Jelaslah sekarang bahwa semua proses BERPIKIR ini tidak ada kena mengena sedikitpun dengan fungsi JANTUNG (Heart), ataupun DADA, ataupun PANCREASE (hati fisik). Semuanya itu adalah fungsi dari MINDA atau PIKIRAN (yang merupakan salah satu unsur dari 3 serangkai, disamping pendengaran dan penglihatan, yang membentuk hati).

• Satu hal yang sangat penting untuk diketahui adalah bahwa PIKIRAN itu sendiri adalah ibarat sebuah MANGKOK KACA yang bening dan bersih. Apabila dituangkan air hitam ke dalamnya, maka mangkok itu akan berubah warnanya menjadi hitam. Kalau dituangkan air putih bersih ke dalamnya, maka warna mangkok itupun akan berubah menjadi putih bersih. Dan kalau di dalamnya diletakkan hanya satu biji kelereng (marbles) saja, maka selama tidak dimasukkan benda lain kedalamnya, selama itu pula hanya ada satu biji kelerang itu saja yang wujud di dalamnya.

• Sebelum kita bisa memulai suatu aktifitas, biasanya kita mulai dengan MENGINGAT sesuatu yang sudah pernah kita kenali, ketahui, dan pahami. Lalu barulah sesudah itu kita bisa melakukan proses-proses berikutnya sampai kita bisa beraktifitas sesuai dengan apa-apa yang telah kita kenali, ketahui, dan pahami itu.

• Dari sini pulalah dapat kita ambil sebuah kesimpulan sementara (yang perlu keterangan dan penjelasan lebih lanjut nantinya) bahwa ketika ke dalam PIKIRAN itu diletakkan Allah Swt KITAB TAKDIR kita masing-masing, maka takdir kita masing-masing itu sajalah yang ada di dalam Pikiran kita itu. Dan kita akan menjalani apa-apa Ketetapan Takdir yang sudah disematkan Allah Swt ke dalam Pikiran kita itu dari waktu ke waktu, sampai hari kebangkitan kelak. Ini sesuai dengan firman-Nya bahwa kita akan hidup mengikut kitab (takdir) itu sampai hari kebangkitan.

• Artinya, uraian dari Kitab Takdir itu dari waktu ke waktu turun ke dalam Pikiran kita dalam bentuk Ilham, baik itu Ilham Taqwa maupun Ilham Fasiq. Lalu setiap manusia akan bertindak, berperilaku, beraktifitas sesuai dengan Ilham itu dengan mempergunakan tenaga Roh untuk menggerakkan Jasad.

• Salah satu karakter atau sifat PIKIRAN yang sangat hebat diciptakan oleh Allah Swt adalah bahwa PIKIRAN itu bisa bisa bergerak dengan sangat amat cepat (melebihi kecepatan cahaya) dari satu objek pikir kepada objek pikir yang lainnya. Hanya dengan MENGINGAT suatu objek pikir tertentu saja, terutama objek pikir yang kita sukai, senangi, dan cintai (seperti anak, istri, suami, harta benda, dan status kepemilikan kita), maka pikiran kita akan langsung bergerak dengan sangat cepat menuju objek pikir itu. Dan kita akan menjadi LUPA dengan objek-objek pikir yang lainnya, bahkan LUPA dengan Allah Swt.

• Ini berarti bahwa HANYA DENGAN MENGINGAT suatu objek pikir tertentu saja, seakan-akan kita sudah bisa langsung BERTEMU dengan OBJEK PIKIR yang kita INGAT itu tanpa jeda WAKTU, TEMPAT, dan JARAK. Kalau tidak percaya cobalah ingat bulan, matahari, bintang-bintang, galaksi, sejarah masa lalu, dan bahkan impian masa depan, maka seketika itu pula kita seakan-akan langsung bisa bertemu dengan bulan, matahari, bintang-bintang, galaksi, sejarah masa lalu dan impian kita itu. Sangat cepat sekali, nyaris seketika.

• Ada TIGA SLOT WAKTU tempat dimana objek pikir itu berada yang bisa dijangkau oleh pikiran kita, yaitu objek pikir pada slot WAKTU MASA LALU (Past), SAAT INI (Now), dan MASA YANG AKAN DATANG (Future).

• Walaupun begitu, slot waktu yang sangat disenangi oleh Pikiran adalah Slot Waktu Masa Lalu (Past) dan Slot Waktu Masa Depan (Future). Karena pergi ke masa lalu dan ke masa depan itu, Pikiran akan bergerak. Gerakan ini sangat disukai oleh Pikiran. Sedangkan Slot Waktu Saat Ini (Now) Kurang disukai oleh Pikiran. Karena berada di masa sekarang berarti pergerakan Pikiran itu tidak terlalu banyak, kalau tidak mau dikatakan Diam.

• Ketika pikiran kita sedang menjelajah ke Masa Lalu atau ke Masa Depan, maka kita tidak akan bisa menikmati, menghayati, menyenangi, dan mencintai apa-apa yang sedang kita kerjakan dan apa-apa yang sedang ada dihadapan kita pada Saat Ini.

• Ketika Pikiran kita sedang ingat kepada kejadian-kejadian di masa lalu, maupun harapan-harapan di masa yang akan datang maka akan muncul perasaan atau EMOSI. Baik emosi Positif maupun emosi Negatif.

• Ketika mengingat MASA LALU, Emosi Negatif yang sering muncul adalah: rasa bangga diri, rasa rendah diri, rasa marah, dendam, benci, trauma, menyesal, dan sebagainya. Sedangkan Emosi positif yang sering muncul adalah munculnya keinginan kita untuk mengevaluasi dan mengubah diri.

• Ketika mengingat MASA YANG AKAN DATANG, Emosi Negatif yang sering muncul adalah rasa takut, cemas, khawatir, tidak percaya diri, dan sebagainya. Sedang Emosi Positif yang bisa muncul adalah Rasa percaya diri dan rasa optimis dalam menghadapi hidup.

• Sebaliknya, ketika kita bisa menahan Pikiran kita untuk tetap berada pada Saat Ini, artinya pikiran kita itu DIAM dan TIDAK BERGERAK, maka kita akan bisa menikmati, menghayati, menyenangi, dan mencintai apa-apa yang sedang kita kerjakan dan apa-apa yang sedang ada didepan kita. Hormon yang keluar dari dalam benak kita adalah hormon Endorphins, Serotonin, Dopamin, Qxytocin, yang kesemuanya itu adalah hormon-hormon yang memberikan efek kegembiraan, semangat, motivasi, dan hal-hal yang positif lainnya.

• Ada pula DUA TEMPAT dimana objek pikir itu berada yang bisa kita jangkau oleh pikiran kita, yaitu DISANA dan DISINI, serta DUA JARAK, yaitu DEKAT dan JAUH.

• Kita lebih bisa menikmati apa yang kita kerjakan ketika pikiran kita berada DISINI atau DEKAT dengan kita. Sebaliknya ketika kita mengerjakan sesuatu pikiran kita sedang berada JAUH DISANA, kita tidak akan bisa mengerjakan sesuatu itu dengan sepenuh perhatian kita.

• Yang lebih hebat lagi, Pikiran itu juga bisa menjangkau wujud yang terdeteksi dengan panca indera (yang ZAHIR), maupun wujud yang tidak terpindai oleh panca indera (yang BATIN).

• Dengan begitu, jelaslah bahwa pikiran itu bisa bergerak dengan sangat cepat bergerak menembus waktu ke masa lalu (Past) maupun ke masa depan (Future) dengan sama baiknya, bergerak menembus tempat yang berada nun jauh disana, kemudian balik dan mendekat kembali ke sini. Ia juga bisa bergerak menembus tembok baja setebal apapun, menembus ketinggian langit, menembus kedalaman lautan, menembus alam impian dan alam kenangan, dan bahkan menembus ke alam zahir maupun ke alam batin. Seakan-akan gerakan pikiran itu tidak ada yang bisa membatasinya. Selagi kita masih bisa mengingat suatu objek pikir, maka pikiran kita akan bisa bertemu dengan objek pikir itu dengan seketika.

• Walaupun begitu, Pikiran kita hanya bisa berisikan SATU OBJEK PIKIR SAJA dalam satu WAKTU tertentu. Ketika pikiran ingat pada satu objek pikir, maka objek pikir lainnya TIDAK akan bisa kita ingat. Akan tetapi Pikiran kita itu sekaligus juga sangat suka bergerak atau pergi dari satu objek pikir kepada objek pikir lainnya. Jadi Pikiran kita itu SEAKAN-AKAN sulit untuk berhenti hanya pada satu objek pikir saja dalam waktu yang lama. Ia seperti suka jalan-jalan atau bepergian dari satu objek pikir kepada objek pikir lainnya, dan juga bepergian dari satu slot waktu kepada slot waktu yang lain.

• Ketika kita berhasil menahan pikiran kita untuk tidak bergerak kemana-mana dan pikiran kita itu hanya INGAT kepada SATU objek pikir tertentu saja dalam waktu yang lama, maka kita disebut sedang FOKUS atau berkonsentrasi kepada satu objek pikir itu. Dan untuk bisa fokus ini dibutuhkan fungsi MATA HATI dan di bantu pula oleh tenaga yang berasal dari ROH. Hal ini akan kita bahas dalam bagian Pentingnya Dzikrullah.

• Ketika pikiran kita hanya INGAT kepada satu objek pikir tertentu saja, kemudian kita melakukan berbagai aktifitas seperti membaca, bergerak, memandang, mendengar, dan merasakan hal-hal yang berkenaan atau berkaitan HANYA dengan objek pikir tertentu itu saja, maka kita disebut sedang KHUSYU melakukan aktifitas tersebut. Dan KHUSYUK itu pasti ada RASANYA.

• Makanya kalau kita sedang menonton sepak bola atau memancing kita masih ingat dengan objek pikir yang bukan berhubungan dengan sepak bola atau memancing itu, maka artinya kita tidak khusyuk menonton sepak bola atau memancing itu, dan rasanya pastilah hambar.

• Begitu pula dengan Shalat yang kita lakukan. Ketika kita shalat, akan tetapi ingatan kita saat shalat itu BUKAN kepada Allah swt, maka shalat kita itu disebut shalat yang TIDAK KHUSYUK.

Dan anehnya, tidak khusyuk di dalam shalat inilah yang menjadi problem utama bagi mayoritas umat Islam saat ini. Shalat sih shalat, tapi pikiran kita sedang berkelana kemana-mana. Kita sedikit sekali mengingat Allah swt, atau bahkan tidak ingat sama sekali kepada Allah swt selama waktu shalat kita itu, apalagi diluar waktu-waktu shalat dan dalam kehidupan keseharian.

• Keadaan Pikiran yang sangat didamba-dambakan orang-orang adalah keadaan Pikiran seorang BAYI. Dimana pikiran seorang bayi belum terisi oleh objek pikir apapun juga. Pikirannya masih bersih dan suci. Artinya, di dalam pikiran bayi itu belum berisikan sampah dan sarap dalam bentuk objek-objek pikir seperti yang dimiliki oleh Pikiran orang dewasa.

• Oleh karena Pikiran bayi itu masih suci dan bersih, maka tidak ada kekhawatiran dan ketakutan sedikitpun pada bayi itu. Yang ada di dalam Pikirannya hanyalah Rasa tenteram dan aman sentosa yang memancar keluar dan memengaruhi orang-orang yang ada disekitarnya, sehingga orang-orang itupun merasa ikut senang, bahagia, dan sentosa.

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: