Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2011

Mati Sebelum Mati

“Muutu Qobla An-Talmauta, atau Antal maut qoblal maut” artinya :”matilah kamu sebelum kamu mati”. Al Hadist

Beragam sekali pemaknaan umat islam terhadap hadist yang sederhana ini. Ada pemaknaan yang sulit dan rumit ala tasawuf, ada pula yang dengan semangat 45 sering mengunjungi pemakaman orang-orang mati, dan ada yang tidak mau tahu dengan makna hadist yang sederhana ini. Sehingga hadist tersebut tidak mampu meningkatkan dan mengembangkan kesadaran umat islam ketingkat yang seharusnya bisa terwujud. Sebab tujuan hadist-hadist Nabi itu, hadist tentang apa saja, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat hakiki, sesuatu yang ringan, seringan nafas kita sendiri. Sesuatu yang tak mungkin kita tidak dapat melaksanakan dan menjalankannya.

Berikut ini hanya pemahaman alternatif saya saja tentang hadist tersebut. Bahwa mati sebelum mati itu bukanlah mati secara fisik, atau praktek-praktek meraga sukma dan sejenisnya. Tidak…

Tetapi mati sebelum mati itu adalah sebuah cara untuk melatih diri kita agar kita bisa mengalami kelahiran kembali disetiap saat. Untuk itu hanya perlu hal yang sederhana saja. Hanya butuh sekedar kesediaan kita, disetiap saat, untuk memandang segala kejadian dan peristiwa dengan cara pandang yang baru.

Sebab menjelang kematian tidak ada waktu untuk menengok kembali kebelakang atau merangkai fantasi masa depan kita. Tidak ada waktu untuk mengingat masa lalu, ataupun terlena dengan fantasi masa depan yang penuh khayal. Menjelang kematian itulah saatnya kita untuk hidup dimasa sekarang. Now.

Dengan hidup dimasa sekarang, kita bisa segera berdamai dengan diri kita, berdamai dengan pikiran kita, berdamai dengan perasaan kita, berdamai dengan lingkungan kita, berdamai dengan peristiwa-peristiwa, sehingga kita bisa membebaskan energi kita yang terkurung selama ini diberbagai masalah kita itu, untuk kemudian energi itu dapat kita fokuskan kepada tekad kita untuk mewujudkan tujuan keberadaan kita dimuka bumi ini.

Dampaknya yang paling terasa adalah, kita jadi punya tekad yang kuat untuk tidak menunda-nunda melakukan prioritas-prioritas terbaik kita demi tercapainya keharmonisan dan keseimbangan batin kita. Mati sebelum mati membuat kita tidak punya waktu lagi menunda-nunda untuk melakukan hal-hal yang baru dan benar-benar penting dalam hidup kita sampai TUNTAS.

Untuk itu kita hanya perlu berlatih untuk BERADA dalam Slot Waktu Masa SEKARANG.Now

KLEK…, DERR… gitu.

Wallahu a’lam…

Deka.

Read Full Post »

Titah Teragung

Titah Teragung yang terus membahana di Seluruh Petala Langit dan bumi adalah:

“Aku adalah Perbendaharaan Tersembunyi, Aku ingin dikenal, Aku ciptakan makhluk-Ku, dengan Allah lah mereka mengenal Aku”.

Oleh sebab itu barang siapa yang telah dituntun Allah sendiri untuk mengenal Allah di ”Tempat Persembunyian-Nya”, maka dia telah masuk kedalam benteng Allah yang sangat aman dan penuh kesukacitaan.

Akan tetapi tatkala kita umat manusia ini terus disibukkan oleh problematika kehidupan, sibuk berjalan dengan pongah mengaku-ngaku, sehingga Sang Perbendaharaan Tersembunyi terlupakan, maka Sang Tersembunyi akan MENGENALKAN Diri-Nya dengan cara takterperikan. Bukit Thursina hancur Luluh. Musa pun pingsan. Artinya alam tidak akan kuat menanggung beban Kehadirannya. Saat Dia Menampakkan tanda kehadiran-Nya kepada Bumi, maka bumipun berguncang dan lautpun tergulung menggelora hebat.

Kalau kemudian dengan tanda-Nya itu masih tidak ada satupun diantara umat manusia ini yang bersedia menemui-Nya di Persembunyian-Nya, maka Dia akan menampakkan tanda Kehadiran-Nya di gunung, sehingga gunungpun berhamburan.

Demikianlah, dengan menampakkan berbagai tanda kehadiran-Nya sebelumnya, kalau dengan itu masih saja tidak ada umat manusia yang bersedia menemui-Nya di Persembunyian-Nya, maka tinggal tunggu waktu saja Dia menampakkan tanda Kehadiran-Nya di seluruh petala langit dan bumi, sehingga Petala langit dan bumi itupun lumat tergulung habis. Kiamat.

Salam

Deka

Jl. KH. Santani, Clgn

11 Maret 2011, jam 07:55 pagi

Read Full Post »

Ku kira perjalanan mengenal Allah bisa lewat logikaku.

Tapi logikaku seringkali sudah jadi buntu diawal-awal perjalananku.

Kukira perjalanan mengenal Allah itu bisa lewat rasaku yang dirasa-rasa.

Tapi rasa-rasa itu datang dan pergi silih berganti.

Ku kira perjalanan mengenal Allah itu bisa kuperjuangkan sekuat tenagaku.

Tapi tenagaku tak pernah cukup untuk membawaku untuk melangkah dan berjalan.

Duhai…, kenapakah gerangan …?

Ohhh… Pantas…, pantas…, selama ini aku jadi buntu.

Karena aku ternyata sedang menjelajah Ruang Hidup yang tak kasat mata.

Karena aku ternyata sedang mengayun dalam Ruang Hidup yang tak berbatas.

Karena aku ternyata sedang tersedot mengarungi Ruang Hidup yang tak bertanda.

Ruang Hidup yang berisikan jalinan 99 Daya Yang Memaksa.

Ruang Hidup yang dihiasi rangkaian 99 Daya Yang Tak Terlawan.

Dan ternyata aku selama ini telah melawan Daya Perkasa itu dengan logikaku.

Ternyata aku selama ini telah mengecilkan Daya Perkasa itu dengan rasa sebatas rasaku.

Ternyata aku telah berani-beraninya merampas Daya Perkasa itu dengan pengakuanku.

Dan itu semua ternyata menyiksaku tanpa kusadari bahwa aku sedang disiksa-Nya.

Semua itu menyesakkan dadaku berhari dan bermalam tanpa kusadari bahwa aku sedang disiksa-Nya.

Ohhh… Pantas…, pantas…,

Dan untuk itu, kini aku hanya perlu takluk seutuhnya.

Aku kini hanya perlu “berhenti melawan”,

Berhenti melawan Dzat yang tak terlawan.

Agar aku terhindar dari “luka” yang lebih lanjut.

Akhirnya akupun menyerah dan takluk.

Akupun lalu hanya berbisik:

Ya Allah mohon Paduka Berkehendak untuk mengenalkan Diri Paduka kepada hamba…

Ya Allah mohon kenalkanlah Diri Paduka kepada hamba sebatas apa yang Paduka Kehendaki…

Lalu akupun hanya diam memandang Wujud-Nya dengan segumpal asa yang rapuh.

Araftu Rabbi bi Rabbi…

Ohhh… Pantas…, pantas…,

Ternyata hanya Allah sendirilah yang bisa mengenalkan Dirinya kepadaku.

Aku hanya bisa mengenal Allah sebatas Allah berkenan mengenalkan Diri-Nya kepadaku.

Aku tidak akan pernah bisa mengenal Diri-Nya kalau Dia tidak berkenan mengenalkan Diri-Nya kepadaku.

Araftu Rabbi bi Rabbi…

Ohhh… Pantas…, pantas…,

Aku hanya perlu lebih sabar mengharapkan.

Araftu Rabbi bi Rabbi…

Ohhh… Pantas…, pantas…,

Dahsyat…

Salam

Deka…

Jl. KH. Santani, Clg

11 Maret 2011, jam 00:20 Tengah Malam

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: