Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2011

PERBENDAHARAAN TERSEMBUNYI

Sebelum ada apa-apa…
Dari DIAM ABADI…
Dari GELAP ABADI…
Dari HENING MENCEKAM…
Dari KOSONG MELOMPONG…

Waktu itu masih Alam Ahadiat…
Tidak ada rupa…
Tidak ada warna…
Tidak ada nyala…
Tidak ada aksara…
Tidak ada Nada dan Irama…
Tidak ada materi…

Yang ADA adalah Wajah Tunggal Yang Maha Meliputi…
Innahu bi kullisyai in MUHITHUN…

Yang ADA adalah Perbendaharaan Tersembunyi…
Sang Maha Hidup…
Sang Maha Kuat…
Sang Maha Cerdas…
Sang Maha Tahu…
Sang Maha Melihat…
Sang Maha Mendengar…
Sang Maha Mencipta…
Sang Maha Mengatur…
Sang Maha Menakar…
Sang Maha Mengajar…
Sang Maha Berkehendak…

Sang Maha Ingin Dikenal…

Kemudian ADA SIRR…
“Aku ini perbendaharaan tersembunyi,
kemudian Aku ingin dikenal,
kemudian Aku menciptakan makhluk-Ku,
dengan Allah-lah mereka mengenal Aku…”.
(hadits qudsi)

ADA KEHENDAK TUNGGAL YANG MENYUSUP PETALA…

KUN… (Jadilah…)
FAYAKUN…, (maka jadilah).

Kemudian Alam Wahdat,
Ada CAHAYA TUNGGAL YANG Menerangi KEGELAPAN…
Ada ENERGI TUNGGAL Yang Menganyam KABUT…
Ada MAHA GURU TUNGGAL Yang Maha Menuntun…

Ada Hukum dan Kepastian Tunggal yang dikukuhkan … (Qadha…)
Ada Ukuran dan Takaran Tunggal yang diikatkan… (Qadhar…)

Kemudian semua tumbuh dari Yang Tunggal
Ada beragam rupa…
Ada beragam warna dan warni…
Ada beragam nyala…
Ada beragam aksara…
Ada beragam Nada dan Irama…
Ada beragam Materi…

Alastu birabbikum…
Bukankan Aku ini Tuhanmu…?

Lalu akupun tidak berkutik…
Balaa syahidna…
Benar ya Allah, hamba bersaksi terhadap-Mu…
Dan akupun menyerahkan diri kepada Sang Muhith…

Asyhadu anlaa ilaha illallah…
Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…

Wassalam
Deka…

Read Full Post »

Dengan cara yang sangat lembut, sahabat saya, Mas “I”, diantarkan oleh Allahnya untuk sampai kepada sebuah awal yang sangat indah untuk merangkai tugasnya di hari-hari berikutnya…

Inilah prosesnya…, selamat menimba paham dari sebuah sumur tanpa dasar…. Al Lathief…

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Manusia

Dalam ayat Al Quran penciptaan Adam,
ketika malaikat dan Iblis diminta tunduk dan sujud menghormat
pernahkan kita fikirkan mengapa?.
Apa yang terjadi saat itu?.
Mengapa akhirnya terjadi seperti itu?
Mengapa malaikat akhirnya tunduk dan akhirnya iblis menentang

Ketika kufikirkan dalam-dalam jawabnya satu:

Mereka tunduk setelah Adam diberi pelajaran oleh Allah dan bisa
Malaikat percaya akan daya belajar manusia
Iblis tidak percaya, karena dia merasa lebih cerdas

apakah malaikat tidak cerdas?
apakah iblis tidak cerdas?

coba kuperhatikan
alam sekitar, burung-burung, kupu-kupu, serangga, dll
betapa cerdasnya mereka, mampu membuat sarang
bahkan semut, mereka juga cerdas
bahkan benda materi misalnya unsur
mereka juga cerdas
ketika saling bergabung mampu menjadi senyawa yang baru
lihat dimana-mana, bahkan kesemuanya yang kita lihat
membawa kecerdasan masing-masing
bahkan kecerdasan mereka itu bisa jadi lebih baik dibanding manusia
karena itu manusia sering meniru dari makhluk-makhluk itu
semua benda yang ada di alam semesta ini membawa kecerdasan masing-masing
mereka sudah cerdas “dari sananya”, sudah membawa kecerdasan bawaan

demikian pula malaikat dan iblis, sudah membawa kecerdasan bawaan
sementara manusia, tidak membawa kecerdasan itu
karena yang manusia miliki adalah “potensi kecerdasan”

itulah essensi dari min ruhi yang membuat malaikat tunduk
dan membuat iblis tak percaya,
yaitu “daya belajar”, atau saya sebut saja “daya iqro”

Siapa yang mengajari?
Allah berjanji: Dialah yang akan mengajari manusia!.
Itu janji Allah. Dan itu pasti. Sebuah kepastian mutlak. Sunatullah.

Jadi kembali lagi dalam perenungan:
manusia sebenarnya adalah potensi-potensi untuk menggunakan daya-daya dari:
– daya materi , dari pantulan daya tarik materi
– daya gerak atau energy, yang merupakan pantulan dari ruh
– daya pengingkaran (nafsu) bisa dianggap sebagai daya pantulan hawa Iblis,
– daya ketundukan (ruhani ) bisa dianggap sebagai pantulan malaikat

dan yang terutama:
– daya Illahi, yaitu daya pengajaran atau daya belajar atau daya tahu, atau daya iqro

Daya belajar ini hanya dimiliki oleh manusia, sedangkan makhluk yang lain hanyalah “insting”.
sebuah daya menerima ilham dari Allah.

Daya belajar inilah yang merupakan cikal bakal “kecerdasan” manusia
kecerdasan manusia bisa digolongkan menjadi dua besar:
Yaitu kecerdasan jasmani atau kecerdasan akal
dan kecerdasan ruhani atau kecerdasan hati

Peradaban manusia secara turun temurun adalah merupakan perkembangan kecerdasan
yang merupakn “rencana besar” Tuhan untuk menurunkan manusia di muka bumi
yaitu menjadi “makhluk yang cerdas”
maka Tuhan menitipkan kecerdasan ini kepada siapa saja yang mau menerima
tidak perduli dia percaya atau tidak kepada Tuhan
itulah kecerdasan akal
sehingga kita lihat bangsa Amerika dan Eropa yang telah maju
mereka telah dititipi “kecerdasan” oleh Tuhan untuk rencana peradaban Tuhan
yaitu “makhluk cerdas” manusia
sekalipun manusia yang materialis atau ateis
yang mau menggunakan daya belajar ini
akan diberi titipan kecerdasan Tuhan
yaitu Tuhan yang Maha cerdas

Cerdas adalah satu sifat Tuhan
dalam penciptaan alam semesta ini
dimana manusia ada di dalamnya

namun kecerdasan akal ini bukanlah sebenarnya rencana Tuhan
karena Tuhan juga menitipkan kecerdasan ruhani
kecerdasan dimana akan mengenal Tuhan
meyakini keberadaan Tuhan
mengetahui hal-hal gaib yang tidak hanya nampak bagi indera

Kecerdasan ruhani ini dibagi dua lagi
Yang pertama:
yaitu kecerdasan ruhani yang menggunakan akal jasmani saja (bisa dianggap mewakili syariat)
mereka hanya meyakini apa saja yang nampak dan terukur
dalam kisah-kisah Al Quran dimulai ketika nabi Ibrahim mencoba mengenal Tuhan
menggunakan akalnya, melihat alam semesta ini, lalu pada puncaknya Nabi Musa ingin melihat Tuhan
maka golongan ini lebih banyak menggunakan akalnya untuk mengenal Tuhan,
sehingga sifat-sifat Tuhan akan mengikuti akal dan fikiran mereka
kita bisa melihat golongan ini semakin ekstrem misalnya pada kaum yahudi

Yang kedua:
yaitu kecerdasan ruhani yang menggunakan akal ruhani saja atau hati saja (bisa dianggap mewakili hakekat)
mereka ini sangat meyakini Tuhan, sehingga tidak perlu bukti, dan tidak perlu berfikir,
sehingga semakin ektrem dan menjadi sebuah dogma saja
dalam kisah Al Quran golongan ini dimulai dari masa nabi Khidir,
dalam Al Quran dikisahkan pertemuan antara kecerdasan ruhani yang berdaya akal yaitu Nabi Musa
bertemu dengan kecerdasan ruhani yang berdaya hati yaitu Nabi Khidir, maka terjadilah kisah yang sangat menarik
ketika kedua nabi ini bertemu, terlihatlah arah perpecahan disini, keduanya tidak mampu berjalan bersama
hanya mampu berjalan satu kali saja dan terpaksa berpisah, masyarakat pada saat itupun tidak akan mampu menerima
golongan ini mencapai puncaknya pada masa nabi Isa, yaitu kaum nasrani, yang menggunakan hati
yang hanya berlandaskan cinta kasih, namun bisa menjadi sangat kolot dalam mempertahankan pandangan
serta keyakinan yang mereka anut, mereka tidak perlu bukti dan menjauhkan diri dari penggunaan akal dalam hal ruhani

Kedua golongan ini tentu saja cocok dan sesuai pada jamannya,
yaitu saat kecerdasan jasmani (biologis) manusia pada saat ini
hanya sesuai denga masyarakat yang ada pada masanya.
Masa Nabi Musa hanya cocok bagi kecerdasan ruhani “model” Nabi Musa,
sehingga bukan risalah Nabi Khidir yang diterapkan, padahal Nabi Khidir nampak lebih “mengenal” Allah.
sementara Nabi Musa ngotot menggunakan akalnya untuk mencari bukti

Masa nabi Isa demikian pula, kecerdasan ruhaninya (berdasarkan hati)
harus menggantikan kecerdasan ruhani berdasarkan akal
yang sudah semakin ekstrem pada kaum Yahudi

nabi Muhammad adalah merupakan penutup para nabi,
yang menyempurnakan risalah Nabi Musa dan nabi Isa:

Maka kecerdasan ruhani yang digunakan
adalah keseimbangan antara kecerdasan akal
dan kecerdasan hati,
yang merupakan
penyeimbang antara risalah Nabi Musa dan risalah Nabi Isa.
Sebuah agama penyempurna agama sebelumnya.
Yaitu agama yang akan menggabungkan golongan:
materialisme dan golongan rohani
(baik yang menggunakan akal maupun hati).

menggunakan seluruh “potensi” yang ada pada manusia
menempatkan pada posisi keseimbangan
sesuai dengan “rencana” Allah.

Betul-betul sebuah ajaran yang sempurna.

namun sayangnya ajaran Nabi Muhammad itupun
kembali terpecah bahkan menjadi 70 golongan lebih
namun pada intinya tetap dua golongan besar,
yaitu golongan yang menggunakan kecerdasan akal (syariat)
dan golongan yang menggunakan hati (hakekat)
Perdebatan dan pertarungan kedua golongan ini
semakin seru dan meruncing,
sehingga semakin memisahkan agama ini
sehingga meninggalkan Tuhan di “pojok” pengajaran
mereka tak lagi mau menerima Tuhan sebagai guru

Ustadz dan ulama telah menggantikan fungsi Tuhan
sebagia guru, mengajar dogma, memisahkan agam Islam yang satu

Sehingga golongan ini semakin jauh dari “rencana Tuhan”
yaitu memberi pelajaran atau memberi kecerdasan ruhani
yang langsung diajarkan kepada manusia
sebagaimana Tuhan mengajarkan langsung kepada nabi Adam

Berguru kepada Allah

Menjadi khalifah adalah siap menerima pengajaran Allah
siap untuk menggunakan daya belajar sehingga
mencapai: Kecerdasan akal dan kecerdasan ruhani
siap dan bersedia, ikhlas menerima pengajaran langsung dari Allah.

mengarahkan potensi kecerdasan yang ada dalam diri kita kepada sumber daya
yaitu kepada Allah, apakah potensi kecerdasan ini?

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”.
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya RUH-KU;
maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”, (Shaad 71-72)”.

“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam)
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya RUH-KU,
maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Al Hijr 28-29).

“… Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka
dan menguatkan mereka dengan RUH-NYA …” (Al Mujadilah 22).

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang RUH.
Katakanlah: “RUH itu patuh kepada perintah (amr) Tuhan-ku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al Israa’ 85).

Kecerdasan ruhani adalah “potensi” yang ditiupkan langsung dari Sang Pencipta
bersama dengan kecerdasan jasmani (biologis), yang akan membawa manusia
kepada sebuah peradaban makhluk cerdas jasmani dan ruhani, makhluk tengah
makhluk seimbang, insan kamil. Yang akan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Inilah Entitas murni yang akan diajari oleh Allah, yaitu min ruhi atau Bashiroh,
atau Sang hakim, atau Sang Bijaksana, atau hati nurani, atau akal nurani, lubuk hati
apapun sebutannya, tergantung penempatannya, yaitu sesuatu entitas yang tahu
entitas yang sadar, entitas yang mau menerima pengajaran, yang mau belajar

Inilah salah satu “potensi” terpenting dari manusia, merupakan Energi potensional
yang harus digunakan, ketika digerakkan sedikit saja maka akan bergerak
menuju langsung kepada Allah, karena entitas ini hanya mengenal Allah
tak ada yang dikenali lagi, hanya menuju kepada Allah
hanya akan mendekat kepada Allah, hanya mau mendengar Allah
hanya mau melihat Allah
hanya mau mematuhi Allah
hanya mau mentaati Allah
karena bagi entitas ini
Hanya dan hanya jika bersama Allah
maka entitas ini ada

maka begitu kita mampu mengubah energy diam dari entitas ini
yaitu potensi entitas ini menjadi energy gerak
maka …. Go … entitas ini akan membawa jiwa
menuju kepada Tuhannya
mengenalkan kepada Tuhannya
mendekat kepada Tuhannya
karena ini satu-satunya
tujuan entitas ini diadakan
dari sisinya
dengan sebutan yang paling mesra dari Sang Pencipta

wahai Ruh-Ku

adakah yang lebih indah dan dekat dari ini?.

Masa sekarang ini, kecerdasan akal, sedang dititipkan kepada golongan non muslim
karena merekalah yang saat ini mau menerima dan menggunakan “entitas” ini
untuk membaca ayat-ayat Allah yang berada di alam semesta

Apakah kita yang mengaku muslim, bersedia menggunakan “entitas kecerdasan” ini
untuk membaca ayat-ayat Allah?
tentu saja dalam sebuah keseimbangan, bukan hanya kecerdasan akal jasmani
namun juga kecerdasan akal ruhani

berjalan bersama dalam keseimbangan
membaca ayat-ayat Allah yang jelas tertulis di alam semesta ini
membaca ayat-ayat Allah dalam kitabNya
berguru kepadaNya secara langsung
untuk mengerti hakekat dari apa yang dibaca

maka bacalah
bacalah
bacalah
bacalah

Iqro
Iqro…..
Iqro….

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Itulah tugasku saat ini.

Ijinkan hambamu, menjadi murid yang patuh
ijinkan menggunakan dayaMu
untuk menggerakkan “potensi-potensi” yang telah kau siapkan khusus bagiku
potensi materi, potensi nafs, potensi ruh, potensi akal, potensi bashiroh
apapun potensi yang ada dalam tubuhku

telah kuniatkan untuk kugerakkan Dengan NamaMu Yang Maha besar

apapun daya-daya yang meliputiku
entah itu daya tarik materi
ataukah daya tarik nafsu
atau daya penolakan dan daya ketundukan
apapun daya itu
kuserahkan kepadaMu
sungguh sudah tiada daya lagi dalam tubuhku
karena telah kusiapkan diriku
menerima pantulan dayaMu
menerima pantulan yang berasal dari Sumber daya
Sang Maha Daya

Bagaikan Cahaya di atas cahaya
yang akan menggetarkan “potensi-potensi” energy
dalam sel-sel tubuh, di dalam atom, di dalam elektron
bergerak, bergetar, berdzikir
menjadi energy gerak, energy dzikir

yang akan mengisi angkasa
memantulkan cahayanya ke seluruh alam semesta
bagaikan bulan purnama
memantulkan sinar matahari
menerangi kegelapan malam

Wassalam

Deka on behalf of Mas “I”

Read Full Post »

Atas Pengalaman Sahabat saya Mas “I”, kita diajarkan kembali bagaimana beliau dipahamkan oleh Allah tentang Esensi dan Makna Khalifatullah…

Inilah prosesnya…

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagiMaha Penyayang

Seperti kemarin
aku tengah berdiri di atas bukit, memandang kejauhan
sungai angsa yang berkelak-kelok
di senja yang indah, penuh kedamaian
sinar matahari senja nampak kemerahan, meredup
turun, terbenam, perlahan-lahan
saat pergantian matahari turun ke peraduan begitu cepat
mendadak hilang, menyisakan warna kemerahan di langit barat
benda-benda yang nampak benderang, jelas dan tegas
sungai yang berkelok, pohon yang menghijau di sepanjang sungainya
sedikit demi sedikit menghilang, lenyap ditelan kegelapan
hilang dan tiada lagi semua keindahan ini
ditelan misteri, di tutup ketiadaan, kegelapan
aku tak melihat apa-apa,
aku tak tahu ada apa di hadapanku
semua tak ada
semua gelap.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam
terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran: 190)

Juga dalam firman-Nya yang lain:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang,
serta bahtera yang berjalan di lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al Baqarah: 164)

Melanjutkan tafakur
setelah mengamati pergerakan bayang-bayang, sepanjang pagi, siang dan malam
aku “dipaksa” mengamati pergantian siang dan malam, harus mencari hikmahnya
kejadian ini sebetulnya sama dengan beberapa hari lalu,
dalam tidur ketika yang dimiliki hanya kesadaran, ada kalimat yang begaung
muncul dalam kesadaran, ada dan nyata
kalimat ini bergaung dan nyata diulang-ulang
terus menerus
“Sesungguhnya dalam pergantian siang dan malam ada tanda-tanda”
“Sesungguhnya dalam pergantian siang dan malam”
……
“Pergantian siang dan malam”

……

“Pergantian….”
…..
Pergantian.

aaahhh.
apa maknanya.
apa hikmahnya.

Sesungguhnya pada pergantian siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang mau menggunakan akal
pergantiang siang dan malam?
aku sudah mengamati sepanjang siang ini
lalu pergantiannya?
ya saat siang berganti malam apa yang terjadi
bagaimana akibatnya?
ada apa ketika siang itu hilang?.
apakah siang itu?

ada sesuatu yang membisik keras di dalam hatiku
Al Quran adalah petunjuk
dia menunjukkan sesuatu yang ingin kutanyakan
ingin ku ketahui, carilah maknanya
makna hanya berguna bagiku, menjawab tanyaku
dalam pencarian Tuhan
dalam pencarian apa rencana Tuhan bagiku

Aku diam, dalam tafakur
mengamati pergantian malam
blank…. tersedot
hilang …. lenyap
hanya ada kesadaran
hatiku perlahan-lahan menjawab

ketika terjadi pergantian siang dan malam
yang terjadi adalah tidak ada matahari
sinar matahari perlahan-lahan lenyap
sinarnya meninggalkan tempat-tempat di muka bumi
tempat yang ditinggalkan menjadi gelap
menjadi tidak nampak
menjadi tidak ada bagi pandanganku
menjadi tidak berarti
“hilang”
jadi sesuatu yang ada tadi, menjadi tidak ada
kalau matahari tidak ada
…uuuh… kok sederhana saja
jadi sesuatu ada bagi mataku
kalau ada matahari dan ada sinarnya yang tak terhalang
(ingat bayang-bayang kemarin)
jadi semua yang ada di alam semesta ini
ada bagi mataku dan bagi kesadaranku
jika dan hanya jika matahari itu ada dan tak tertutup sinar

pergantian siang ke malam hari merambat
gelap total, apapun tak nampak, semua menjadi tak ada apa-apanya
semua tiada, hampa, kosong …. bagi kesadaranku
lalu perlahan muncul bintang-bintang
ya … sinarnya muncul menerangi satu demi satu
namun tiada satupun yang mampu menerangi bumi

Kesadaran muncul, ketika mengibaratkan
matahari bagi bumi adalah ibarat Tuhan kepada Alam semesta
ketika orang menyadari adanya Tuhan maka dia akan melihat alam semesta
namun ketiadaan Tuhan maka yang terjadi adalah munculnya bintang-bintang
yaitu Tuhan-Tuhan semu (bintang adalah sumber cahaya) sepeerti matahari
yang tak mampu menandingi Tuhan, sangat tak berarti
cahaya matahari kepada bumi adalah seumpama cahaya Tuhan
yang menerangi hati manusia …

ya … ternyata berkaitan dengan hati
seperti contoh kemarin dalam bayang-bayang yaitu hati
ternyata pergantian siang dan malam ini berkaitan dengan pergerakan hatiku
hatiku yang bergerak antara gelap dan terang
hatiku yang menerima cahaya matahari atau tidak

duh gampangnya
kalau hatiku menerima cahaya Tuhan ini seperti bumi menerima cahaya matahari
alam semesta ada dan nyata bagi mataku,
maka kalau aku menerima cahaya Tuhan di hatiku
kesadaranku akan melihat semuanya secara nyata

Kulanjutkan pengamatanku
setelah itu apa yang terjadi
yang muncul adalah bulan, yang bersinar penuh keindahan
cahayanya begitu indah kuning keemasan berkilau
menyejukkan, begitu menawan hati
sinarnya mampu menerangi alam semesta tetapi begitu lembutnya
begitu penuh aura keindahan, kenyamanan, keteduhan

apakah bulan itu?
apakah dia memancarkan sinarnya?

oh tidak!
bulan adalah seumpama hati manusia
dia hanyalah memantulan cahaya matahari
ketika bulan menerima cahaya matahari dan berada pada posisi yang tepat
maka bulan akan purnama, sepenuh dan sebulat matahari namun dia bukan matahari
dia hanya memantulkan cahaya matahari dalam keindahan yang nyata
dan mampu menerangi alam semesta ini
cahaya mampu menyaingi bintang-bintang di langit

pergantian siang dan malam
ya… siang dan malam selalu berganti
sehingga menimbulkan perubahan bentuk bulan dari waktu ke waktu
itulah sebuah ketetapan Allah, itulah kehendak dan kepastian Allah
demikian pula ketentuan Allah kepada hati yang akan selalu
berubah ke arah kegelapan, akan bergerak perlahan-lahan
setiap waktu akan menuju ke kegelapan
kalau kita tidak mengarahkan kepada sumber cahaya lagi

Itulah gunanya sholat
secara ketentuan hati kita akan menuju ke arah ke gelapan
dari waktu ke waktu, dan Allah mengetahui kapan waktu-waktu itu terjadi
ketika waktu itu terjadi maka Allah menentukan waktunya
agar kita menghadapkan wajah kita kepada sumber cahaya lagi
agar mampu memantulkan cahayaNya lagi
itulah ketentuan dan guna sholat
sehingga waktu antara sholat, hati akan mengalami
perubahan bentuk dari bulat sabit dan membesar lagi
sampai penuh seumpama bulan purnama sebesar sumber cahaya yaitu matahari

Bulan tidak melakukan apa-apa
hanya begerak, berputar, mengiringi
maka demikian pula hati, hanya perlu membuka kesadaran
menyadi dirinya hanyalah sebuah pemantul
menghadapkan dirinya kepada matahari
dan mengarahkan sisi pemantul

karena bulan mempunyai dua sisi yaitu sisi pemantul
dan sisi penyerap, sebagaimana sisi hati
hati kita mempunyai disi sisi mata uang
sis yang bening dan sisi gelap
maka arahkan sisi bening ini agar mampu menjadi pemantul
yang memantulkan cahaya Ilahi

Sang Khalifah

Maka itulah tugas hati dan juga tugas manusia di bumi
ketika siang hari, dunia sudah diterangi matahari
bulan tidak perlu bertugas apapun
namun ketika matahari tidak ada
maka tugas kita menerangi alam semesta
menjadi bulan
karena kita bukanlah matahari
kita bukanlah sumber cahaya
namun hati kita mampu menjadi bulan
hati kita bisa menjadi pemantul cahaya

Maka jadilah bulan purnama
yang akan menerangi alam semesta
itulah tugas khalifah
itulah tugas manusia di muka bumi
memancarkan sinarnya penuh kelembutan
penuh kasih sayang
sinar yang teramat indah
bukan sinar yang membuat hidup
namun sinar yang menerangi

Sebagai Khalifah Allah di bumi
maka jadilah seperti bulan purnama
yang mewakili matahari pada tempat dan posisinya
bukan menggantikan matahari
hanya memantulkan sebagian kecil
fungsi matahari

kata “pergantian” dalam ayat di atas sangat penting
kita sang khalifah harus tahu kapan pergantian tugas
mewakili itu terjadi, bukan untuk menggantikan
sehingga kita tidak “merasa” menjadi matahari
hanya menyalurkan cahaya matahari
menjadi bulan
yang selalu Purnama
bagi Alam semesta

Indahnya Bulan.

Pergantian

Pergantian?????

ya… mengapa kata ini begitu memikatku
mengapa kata ini selalu bergema terus menerus
memaksaku untuk mengerti dan memahami
pergatian siang dan malam…. hem….ah.
kucoba menjelajah apa yang terjadi pada saat siang berganti malam
ya…. kemungkinan …
betul kemungkinan
kemungkinan menjadi gelap total
kemungkinan ada bulan sabit
kemungkinan menjadi bulan purnama

jadi pergantian adalah kemungkinan serah terima menjadi wakil
kemumgkinan serah terima menjadi khalifah
kemungkinan hati menjadi bulan atau tidak
jadi inilah “pilihan” bagi yang menyadari
inilah hikmahnya
sebuah pilihan … sebuah penentuan …. sebuah keputusan

….. tunggu dulu ….
masih ada lagi
kuamati pergantian siang dan malam ini teramat singkat
coba lihat baik-baik
mungkin hanya satu jam … ah kurang dari itu
mungkin hanya satu menit
bahkan kurang, saat matahari terbenam hanya satu detik

setelah itu akan ada malam yang sangat panjang
maka sebetulnya pilihan kita sungguh singkat
hanya sebuah pilihan menjadi bulan penuh
menjadi bulan sebagian
ataukah tidak menjadi apa-apa

mungkin kesempatan ini akan datang lagi esok
mungkin kesempatan inilha yang terakhir
tetapi pastikan bahwa ketika kesempatan ini tidak diambil
memerlukan waktu yang cukup lama
untuk mendapatkan kesempatan itu lagi

sekarang ini
tergantung kesadaranku
apa yang akan kuambil setelah kusadari ini
kesempatan itu ada di depan mataku
hanya perlu satu detik untuk meraih kemungkinan ini
hanya satu detik untuk menjadikan hatiku menjadi bulan
apakah pilihanku?.
menjadi bulan sabit? ataukah bulan purnama?.
menjadi khalifahnya sehingga mampu menerangi semesta?
ataukah mengambil sumber cahaya lain, bintang-bintang, lilin ataukah kunang-kunang.
karena hatiku ini hanya mampu menjadi seperti bulan.
hanya itu saja satu-satunya pilihan
maka tentu saja harus kupilih sumber cahaya yang benar, sumber yang asli
dan kupilih membuka seluruh hatiku
agar seluruh hatiku sebesar sumber cahaya
seumpama matahari dan bulan

siapkah aku dengan pilihan ini?

Ya Tuhanku
Teguhkan hatiku.

Semoga kita semua
mampu menjadi bulan purnama yang indah
bagi alam semesta

Wassalam

Deka on behalf of Mas “I”

Read Full Post »

Menyerah Pasrah

Pasrah itu seperti KAPAS di tengah lautan luas, tanpa daya tanpa upaya. Tapi laut akan menggerakkan dan membawa kapas kemana saja sesuka hatinya. Semua sel kapas terisi oleh air. Semua sel kapas diliputi oleh air lautan.

Ciri-cirinya adalah kapas tidak punya daya dan kemampuan sama sekali. Kapas berserah pada arus lautan. Sedangkan kita kebanyakan seperti ikan dilautan, yang masih punya daya dan upaya untuk melawan aliran arus lautan. Kita sulit sekali untuk melepas daya kita karena memang ada nikmat Allah dengan mengaku punya daya dan kuasa itu. Biasanya untuk kita bisa tidak berdaya ini kita DIPAKSA oleh Allah… dan itu sakit sekali…

bagaimana caranya?, ya tinggal dilatih…, dilatih…, dilatih…, mujahadah….

Kalau tidak, ya kita akan selalu disiksa Allah, karena Allah punya cara sendiri untuk menyadarkan kita atas ketidak berdayaan kita itu. Wong daya milik Allah kita akui sebagai milik kita, sementara kita selalu komat kamit mengatakan la haula wala quwwata illa billah…, tapi ucapan kita biasanya bohong seribu bohong.

Karena merasa punya daya, saat Allah ingin mengingatkan kita bahwa daya itu milik-Nya, maka itu akan sangat perih dan pedih sekali. ya seperti keadaan kebanyakan kita sekarang itulah. Selama kita tidak bersedia menjadi kapas dilautan, maka yang namanya berserah kita itu adalah berserah intelektual. dan itu capek sekali.

Masak sih Allah ingin menyusahkan kita dengan berislam dan beriman, ya ngak lah…

Kalau sudah berserah kepada Allah PAstilah Allah akan memanjakan kita. Masak sih kita berserah kepada yang maha hebat kita malah disengsarakan-Nya?. ya nggak lah…

Deka

Read Full Post »

Benteng Allahku…

Yang KUTUJU adalah Allahku…

Ohh…, ternyata…

Dia dikelilingi oleh benteng “Laa ilaha illallah” yang berlapis-lapis…

Aku teguhkan tekadku untuk sampai KETUJUANKU.

Melalui Ibadah dengan cara Menemui-Nya…

Menemui-Nya…,

Menemui-Nya…,

Menemui-Nya… tapi tanpa daya tanpa upaya.

Ohh…, ternyata Aku punya Allahku yang amat sangat memanjakanku…

Deka

Read Full Post »

Membaca Bayang-Bayang

Saya Sangat TERCENGANG dengan cara Allah mengajari seorang Teman Saya pada bulan Ramadhan 2011 yang lalu tentang bagaiman Cara Allah MEMBENINGKAN hati siapapun yang bersedia untuk dibeningkan oleh Allah. Saya tidak tahan untuk tidak sharingkan artikel ini di FB saya. Boleh ya mas “I” ya…, please….

Ini dia artikel itu….

Aku tengah berdiri di atas bukit pagi ini

memandang matahari yang mulai muncul dari balik peraduannya

sinarnya putih keemasan berkilauan, mengusir Kegelapan malam

dimana saja sinar itu menerobos, maka hilanglah kegelapan

nampaklah dan jelaslah bagian-bagian yang dilalui sinar itu

sedikit demi sedikit merambah mulai dari pucuk-pucuk pohon yang tinggi

menampakkan daun-daun yang menghijau subur

perlahan merambat ke bawah, semak dan belukar

mulai nampak hidup dan bercahaya, penuh kilau warna

pojok-pojok yang tak terjangkau, mulai nampak jelas

bahkan bukit di kejauhan yang nampak gelap penuh misteri

kini tersentuh oleh cahaya matahari pagi

Aku masih berdiri termangu, menunggu

matahari muda yang baru menggeliat dari peraduannya

muncul di ufuk timur, memancarkan sinarnya menembus tubuhku

sinarnya terserap, tak mampu menembus tubuhku, menyisakan bayang-bayang kegelapan

yang tak terjangkau oleh sinar matahari, di belakang tubuhku, masih terpeta “kegelapan”

matahari seolah terus bergerak, -naik dan naik-, ~perlahan sedikit demi sedikit

dan bayang-bayang itu, dari setiap benda yang dikenai sinar matahari ini

pepohonan, batu, tonggak, apa saja termasuk bayangan tubuhku

“seolah” tersedot oleh gerak matahari, sedikit demi sedikit

mengecil, perlahan, sangat pelan, bayang-bayang itu ditarik

oleh tarikan matahari yang semakin mendekati puncaknya

sampai di puncak terdekat matahari di atas kepalaku, siang hari

bayang-bayang itu hilang dan lenyap, entah kemanakah perginya bayang-bayang itu

lalu perlahan, – sedikit demi sedikit – ketika matahari bergerak menjauhiku

menjelang sore, bayang-bayang itupun bergerak semakin jauh memanjang

sampai akhirnya lenyap di telan kegelapan, bersama lenyapnya matahari

dimanakah bayang-bayangku saat kegelapan, saat tak ada matahari

bayang-bayangku = sebenarnya adalah kegelapan itu sendiri =.

Mengapa sebelum ini aku tak pernah memperhatikan bayang-bayang

~aneh~, sepertinya hal ini masalah sepele dan biasa saja

namun mengapa saat ini, aku begitu memperhatikan bayang-bayang

mengapa aku ingin meneliti dan mencari tahu apa bayang-bayang itu

dan kaitannya dengan matahari serta hubungannya dengan diriku

sungguh, tidak kumengerti … sesuatu yang aneh dan sangat aneh …

kapankah pernah kuperdulikan masalah bayang-bayang

apapula keinginan., memikirkan dan memperhatikannya

uuuh… seperti membuang-buang waktu saja …,

bayang-bayang kan hal biasa, setiap hari bisa dilihat, ada dan terlihat setiap hari

terlalu sering bahkan setiap saat, setiap ada cahaya selalu ada bayang-bayang

maka sungguh membebani fikiran saja, menambahi fikiran.

aneh ….

====================================================================

Bayang-bayang

Ketika duduk diam menghadap Allah, mengheningkan cipta

melanjutkan tafakur hari kemarin, mengikuti daya atau tarikan Allah

blank … kosong … hanyut … seperti jarum tersedot oleh magnet

tak ada daya dan kekuatan untuk meronta

ditarik perlahan namun pasti

kosong … hening

hati mulai hidup dalam sebuah kesadaran

kemudian mengalir kefahaman yang disusupkan:

ada hikmah yang harus dipelajari dari keberadaan bayang-bayang

aku harus mencarinya

Secara bahasa: = bayangan (shadow) diartikan sebagai sebuah efek cahaya atas benda
yang tak tembus pandang=, sehingga menghasilkan sisi gelap sebagai bayangan benda tersebut. (Shadow juga berarti Comparative darkness that results from the blocking of light rays).

Kemudian muncul keinginan untuk mencari maknanya dan memahami hal ini.,

lalu ada keinginan untuk mencari ayat tentang bayang-bayang ini dalam Al Quran

akhirnya kutemukan ayat tersebut yaitu QS. Al- Furqan (25): 42-45

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.

Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.

Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan.

Ada makna yang dalam masuk ke dalam hatiku, bahasa tanpa kata

kalimat-kalimat dalam Al Quran ini hanya sebuah perantara

untuk meniupkan rasa tentang tarikan bayang-bayang secara perlahan

matahari akan menarik bayang-bayang itu perlahan

sesungguhnya Allah yang menciptakan bayang-bayang itu

memanjangkan dan memendekkan serta menarik bayang-bayang itu perlahan

Makna tentang ayat di atas bagiku ternyata berhubungan

dengan fungsi hati yang kucatat di malam 17 Ramadhan

sangat cocok, tepat dan sederhana dalam permisalan ini

pada hal yang dicontohkan dalam bayang-bayang ini

ada matahari dan ada cahaya matahari yang berasal dari matahari

cahaya matahari itu bukan matahari namun berasal dari matahari

cahaya matahari itu menyinari tubuhku, kalau kuhadapkan tubuhku pada matahari

maka cahayanya akan menembus tubuhku, namun tubuhku adalah dzat yang tidak tembus cahaya

maka cahayanya tidak akan mampu diteruskan melalui tubuhku

semakin kuat daya “absorbsi/daya serap tubuhku ” maka cahaya itupun semakin lenyap

tidak akan mampu diteruskan dan akan membentuk bayang-bayang sebagai akibatnya

seandainya tubuhku semakin bening, maka sinar itu akan diteruskan

misalnya tubuhku terbuat dari kaca yang bening, maka seluruh cahaya akan diteruskan

tidak perduli dari arah manapun cahaya matahari itu maka tidak akan ada bayang-bayang

karena bayang-bayang itu “hilang” ketika cahaya melewati benda bening.

kalau seandainya benda itu bukanlah bening, maka haruslah diarahkan tepat ke puncak sumber cahaya

yaitu badanku harus diarahkan di siang hari, dimana matahari berada tepat di hadapan atau di atas kepalaku

posisi tersebut adalah posisi dimana matahari memancarkan cahaya dengan sempurna

tarikan bayang-bayang menuju ke posisi puncaknya adalah sebuah kepastian

ketika aku terus menghadapkan badanku ke arah sumber cahaya

tapi tarikan itu terjadi perlahan-lahan dan tidak ada usaha atau daya yang kulakukan

sampai di puncaknya maka hilanglah bayang-bayang itu.

Selanjutnya apakah kita mampu selalu berada tepat di posisi puncak itu?

jawabnya tentu saja sulit, maka yang memungkinkan adalah mengganti tubuh

menjadi sebuah benda bening, sehingga tak ada lagi bayang-bayang

karena tubuh akan ditembus cahaya, tubuh sebening kaca, mungkinkah?.

Bagiamana dengan hati?.

jawabnya adalah bisa dan mungkin, menjadi sebening kaca!

Itulah janji Allah, dengan mensucikan jiwa kita.

====================================================================

Bayang-bayang dari hati yang tak disinari

Dalam catatan sebelumnya telah dituliskan bahwa

sebetulnya tiada kegelapan, yang ada adalah ketiadaan cahaya disitu

bayang-bayang adalah kegelapan yang diakibatkan cahaya yang tidak diteruskan

atau cahaya yang diserap oleh sebuah benda hitam

benda hitam sebagaimana black hole di angkasa luar adalah sebuah benda

yang menyerap cahaya atau menyerap semua warna sehingga sebetulnya tidak ada benda hitam, yang ada adalah benda

yang tidak memantulkan warna atau benda yang tidak memantulkan cahaya benda hitam adalah yang menyerap semua warna, atau benda yang menyerap cahaya

hati yang tidak disinari adalah hati berada dalam kegelapan

yaitu yang diisi oleh hawa nafsu, yaitu hati yang menuhankan hawa nafsu

adalah hati yang tidak mau menghadapkan wajahnya kepada Allah

agar menerima cahaya Allah, hati yang tidak mau melihat, mendengar

hati yang tidak mau merasakan, mencium, memahami

hati yang diibarkan seperti hati dari binatang ternak bahkan lebih buruk lagi

ketika sebuah benda disinari tetapi cahayanya diserap sebagian

tetapi sebagian dari cahaya tersebut diteruskan

maka yang terjadi adalah bayang-bayang

yaitu kegelapan

bisa kegelapan sebagian atau kegelapan total,

tergantung berapa banyak cahaya yang dipantulkan

Itulah fungsi hati

yang akan menyerap cahaya Illahi

ketika hati dihadapkan kepada Allah

(Bayangkan tubuh yang dihadapkan kepada matahari)

ketika hati masih hitam, maka arahkan kesadaran hati ini

menghadap Allah maka kegelapan (bayang-bayang) hati akan disedot oleh Allah

perlahan-lahan, pelan, sedikit demi sedikit

jangan berharap akan terjadi cepat, prosesnya akan perlu waktu

namun ini sebuah kepastian, sebuah sunatullah

memang saat itu masih terdapat bayang-bayang hati

yaitu kegelapan hati yang merupakan hawa nafsu

sebuah kepastian yaitu ketika kita tetap

menghadapkan hati kepada Allah maka bayang-bayang hati

yaitu hawa nafsu akan sedikit demi sedikit akan ditarik dan hilang

inilah proses menyucikan hati, proses membeningkan hati

proses membuat hati menjadi sebening kaca,

sehingga akan tembus dan memantulkan cahaya matahari

ke seluruh tempat yang mampu dilaluinya

kebalikannya juga sama

ketika kita sedikit demi sedikit memalingkan diri kita kepada Allah

maka akan seumpama matahari yang terbenam

hati akan sedikit demi sedikit menghitam

sinarnya akan terserap, bayang-bayang semakin panjang

bahkan lebih panjang dari tubuh kita sendiri

sehingga akhirnya ditelan kegelapan malam

matahari telah lenyap

====================================================================

Membeningkan hati

hadapkan saja hati kepada Allah

seumpama menghadapkan tubuh kepada sinar matahari

biarkan cahaya Allah yang akan membeningkan hati kita

sedikit demi sedikit, sampai bening

biarkan kalau masih ada bayang-bayang

suatu saat pasti akan menghilang

karena ketentuan Allah

karena kepastian Allah

ketika cahaya matahari telah menyinari pada puncak hidup kita

maka tidak ada lagi bayang-bayang

hati kita telah disinari sepenuhnya oleh Allah

hati kita telah memantulkan seluruh cahaya Allah

hati kita telah sepenuhnya bening

dan hanya cahaya Allah saja yang akan dilewatkan

karena cahaya-cahaya lainnya hanyalah seperti cahaya kunang-kunang

dibandingkan dengan cahaya matahari

apalagi cahaya Allah, yaitu cahaya di atas cahaya

maka kemana kegelapan hati ketika seluruh hati diisi cahaya Allah

sama seperti sebuah pertanyaan

dimana kegelapan, ketika matahari berada di puncaknya

Sebagaimana langit yang menjadikan cahaya matahari menjadi pelangi

yang juga merupakan cahaya tampak yang terdiri dari berwarna-warni

maka hatipun bisa menjadi sebuah prisma yang memantulkan

hanya salah satu warna saja, apakah warna merah, kuning, hijau atau biru

atau memantulkan seluruh warna yaitu warna putih cahaya matahari

warna-warni matahari itu bisa diibaratkan sifat-sifat dari cahaya Tuhan

apakah kita memilih warnha berikut:

Pemurah, Pemaaf, Penghukum, dan lainnya

atau

memilih warna dasar yaitu, Pengasih dan Penyayang

atau

mau memilih sebagian besar warna yang mampu kita tiru

atau warna-warna yang mampu kita pantulkan

Apapun itu

Hati yang bening

yang terang benderang

menerima

cahaya di atas cahaya

akan memantulkan cahaya itu

ke seluruh alam semesta

karena hanya hati manusia
yang mampu memantulkan cahaya Ilahi.

Catatan penting:

Hadapkan hati kita kepada Allah dalam sholat untuk membeningkan hati, agar cahaya Allah mengisi hati
mensucikan hati, sehingga hati akan mudah ditembus oleh cahaya Allah, memantulkannya

Catatan kecil bagi yang tertarik, pada saat sholat:

ketika menghadapkan ruh kepada Allah

maka ruh akan tersedot bagaikan logam didekatkan pada magnet yang kuat

perlahan-lahan sedikit demi sedikit, seperti bayang-bayang yang ditarik oleh Allah

dengan kekuatan yang pasti dan tak terlawan, maka biarkan dan menyerah saja, pasrah

lalu mendadak bayang-bayang sang aku (nafs) itu lenyap dan tak ada

yang ada hanyalah pantulan cahaya Allah yang menerangi jiwa

karena hati telah begitu bening sehingga cahaya Allah mampu menembus

menerangi jiwa dan memantulkan ke luar raga kita yang sholat

Wassalam

Deka

Read Full Post »

Bertemu Allahku

(.) Titik… ohh masih ramai…

LAA ILAHA…., tidak ada titik sekalipun…

Hening…, diam…, tenang… (muthmainnah)

ILLA ALLAH…., ooohhh…, DIBALIK keheningan, ketenangan dan diam itu ternyata ada Allahku yang SEDANG MENUNGGUKU membawa dan melaporkan amal shaleh apa yang telah kukerjakan hari ini, walau amal shalelh itu baru hanya sekedar niat didalam hatiku sekalipun.

Karena niat itu ternyata adalah sebentuk perintah Allah yang disusupkan-Nya kedalam dadaku sehingga tiba-tiba saja aku INGIN berbuat sesuatu. NIAT itu adalah bentuk nyata dari ILHAM dari ALlah kepada semua manusia.

Saat tiba-tiba saja aku ingin berbuat JAHAT (KELIRU), maka itu adalah sebuah pertanda bahwa saat itu sikapku ada yang keliru kepada Allahku sehingga Allahku menyatakan ketidaksukaan-Nya dengan memasukkan kedalam hatiku sebentuk keinginan untuk berbuat JAHAT, walau logikaku menolaknya sebenarnya, tapi aku tidak berdaya melawan Maha daya dari Allah yang sangat memaksaku untuk berbuat jahat itu.

Saat tiba-tiba aku INGIN berbuat BAIK (TAQWA), maka saat itu sebenarnya sikapku sedang betul kepada Allahku. Lalu Allahku membalasnya dengan mengirimkan kedalam hatiku sebentuk keinginan untuk beramal shaleh bagi sesama dan alam semesta. Walau aku mencoba untuk melawannya, tapi daya Allah itu tetap memaksaku untuk melaksanakan perbuatan baik itu.

Akan tetapi saat aku belum ILLALLAH…, belum bertemu dengan Allahku, maka niat yang telah disusupkan Allah kedalam dadaku itu dihalang-halangi oleh hawa nafsuku, yang merupakan teman akrab dari iblis, agar aku tidak melaksanakannya. Dan memang itu tidak jadi terlaksanan. Sehingga besok-besoknya Allahku tidak berkenan lagi menyusupkan niat untuk berbuat baik itu kedalam dadaku, walau logikaku mengatakan bahwa aku seharusnya berbuat baik.

Kalaulah iblis tidak berkerumun didalam hatiku, pastilah aku telah berlari untuk berbuat seribu kebaikan…

Lalu aku akupun segera memandang kepada apa-apa yang ada disekelilingku. Menunggu perintah apa lagi yang akan Allahku susupkan kedalam hatiku untuk kukerjakan hari ini. Moga-moga saja Allahku masih berkenan mempercayakan tugas-tugas dari-Nya kepadaku untuk apa-apa yang ada disekitarku.

Ya Allah…, aku bersedia…

Lalu akupun disuruh oleh Allahku untuk berlari………, berlari….., dan berlari

Untuk mengantarkan kebaikan-kebaikan dari Allahku…

Kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allahku untuk mendapatkan kebaikan dari-Nya

Subhanallah….

Deka

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: