Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2016

Sekarang sudah saatnya saya kembali duduk diam dan balik NAIK ke bilik khalwat…

Saya tinggal hanya mengingat Allah di dalam Minda…(inilah makna sebenarnya dari  Dzikrullah). Minda akan otomatis menjadi bersih dari segala rupa dan umpama. Suci dari segala sampah sarap pikiran. 

Lalu saya tinggal mengunci ingatan saya kepada Allah itu dengan menumpukan pandangan matahati saya naik ke dalam  minda yang sedang mengingat Allah itu. Dan istiqamah…

Sederhana dan mudah sekali. Nggak perlu banyak acting dan berhalusinasi. Saya juga tidak perlu lagi menyepi ketempat yang sunyi dan gelap. Tidak perlu banyak cakap.

Di dalam bilik khalwat itu sungguh sangat-sangat TENTERAM. Di dalamnya tidak ada  lagi kekhawatiran, tidak ada lagi ketakutan, dan tidak ada lagi kesedihan. Karena di dalam bilik khalwat itu hanya ada SATU penghuni saja, yaitu Ingatan Kepada Allah (Dzikrullah).

Ingatan kepada yang lain, semuanya sudah tertinggal di luar bilik khalwat. Sebab Ingatan kepada yang lain selain Allah memang sangat terlarang untuk masuk ke dalam bilik khalwat itu.

Kalau ada ingatan kepada selain Allah yang mencoba masuk menyelidap kedalamnya, saya hanya tinggal menebasnya dengan pedang tauhid: “bahwa Allah tidak serupa dan tidak seumpama”. Insya Allah semua itu langsung lenyap.

Sekarang, saya nggak perlu pakai istilah mau berjalan atau bergerak LURUS ke Allah segala, atau istilah menghadap kepada Allah segala, atau istilah mau nyambung-nyambung ke Allah segala, seperti yang saya lakukan dulu-dulu.

Memangnya mau berjalan dan bergerak kemana?. Mau menghadap kemana?. Mau nyambung-nyambung bagaimana?. Memangnya Allah jauh, memangnya Allah ada dihadapan kita, memangnya Allah putus hubungan dengan kita selama ini. Bahkan untuk bisa bertemu Allah itu dulu ada istilah mau mati sebelum mati segala.

Sekarang saya baru paham bahwa selama ini pemahaman untuk hal-hal seperti diatas ternyata yang tersisa nyaris hanyalah sebatas khayalan belaka. Semuanya masih hanya sebatas sensasi alam-alam getaran saja.

Makanya untuk mendapatkannya perlu JANGKAR seperti NAFAS, ARAH DEPAN, ARAH ATAS. Semuanya itu hanya akan mengantarkan saya untuk merasakan sensasi tentang adanya perasaan seperti sedang bergerak keluar dari dalam dada saya menemui Allah yang saya anggap ada di depan saya atau ada jauh diatas langit sana. Atau sensasi seperti sedang masuk kedalam dada atau jantung, atau merasa-rasakan tenaga, daya, gerak, atau acting seperti sedang menyerah-nyerahkan diri kepada Allah sampai merasa NOL, dan sebagainya.

Dan saya ternyata telah terjebak dalam alam khayalan seperti ini selama belasan tahun. Sungguh capek dan melelahkan sekali.

Padahal ternyata saya hanya perlu masuk dan duduk diam-diam di dalam bilik khalwat saya, yaitu Minda atau Hati saya yang sudah selalu Mengingat Allah.

bilik khalwat

Sedangkan diluar bilik khalwat, ternyata alamnya penuh dengan kekekerasan, kekejaman, dan kegaduhan.

Akan tetapi dari dalam bilik khalwat itu, saya masih bisa memandang kegaduhan yang di luar itu seperti saya sedang memandang dari dalam rumah keluar melalui “sebuah jendela”. Dan ternyata segala kegaduhan yang diluar itu, dengan sangat mengherankan sudah tidak bisa teregistrasi lagi di dalam. Karena memang di dalam bilik khalwat itu hanya sedang ada satu penghuni saja, yaitu INGATAN KEPADA ALLAH.

Salam…, sampai jumpa lagi dilain kesempatan jika Allah mengijinkan.

 

Read Full Post »

ALLAH, RABBUL A’LAMIIN (YANG MAHA MENGASUH ALAM SEMESTA).

Tidak terpisah antara Makhluk dengan Allah. “Bahawa tidak ada wujud ini sesuatu yang berdiri sendiri selain dengan Dzat-Nya. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.7, 427 (1981).

Makhluk bagi Allah adalah ibarat ekor bagi seekor gajah. Gajah bisa berkata bahwa ekor gajah itu adalah gajah. Begitu juga, Allah bisa berkata bahwa Makhluk itu adalah Dia. Akulah yang Dzahir, Akulah Yang Bathin.

Allah juga bisa berkata bahwa apapun perbuatan makhluk itu adalah perbuatan-Nya. “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah yang melempar. Al Anfaal (8):17”

Akan tetapi ekor gajah bukanlah gajah. Ekor gajah tidak bisa mengaku bahwa dia adalah gajah. Begitu pula, Makhluk bukanlah Allah. Makhluk tidak bisa mengaku bahwa dia adalah Allah.

Sekarang perhatikanlah dengan seksama. Ekor gajah hanya akan ikut apapun yang diingginkan oleh gajah. Ekor gajah tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak saggup melakukan mengapa-ngapa tanpa gajah mengerakkannya. Seakan-akan Gajahlah yang setia MENGASUH ekornya itu untuk melakukan apa saja.

Begitu jugalah HUBUNGAN antara Allah dengan semua makhluk-Nya. Allahlah YANG MENGASUH semua makhluk-Nya. Karena memang Dia adalah Rabbul Alamin, Tuhan Yang Maha Mengasuh Alam Semesta yang notabene adalah sedikit dari Dzat atau Diri-Nya Sendiri yang telah Dia sabda degan sabda KUN untuk menjadi Lauhul Mahfuz.

Karena Dzat yang ada di dalam Lauhul Mahfuz itu, baik Yang Bathin maupun Yang Dzahir semata-mata adalah Dzat-Nya saja, maka tiada sesiapa dan tiada sesuatu apapun yang berhak untuk Mengasuh Dzat-Nya itu kecuali hanya Dia Sendiri. Dialah yang setiap Waktu Dia selalu Maha Sibuk Mengasuh Dzat-Nya yang berada di dalam Lauhul Mahfuz itu, tanpa ada interfensi sedikitpun dari apapun dan siapapun juga.

Dialah yang mengasuh matahari bersinar memberikan kehangatan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan.

Dialah yang mengasuh bulan tersenyum simpul dalam berbagai rupa.

Dialah yang mengasuh bintang-bintang mengintip para perindu dari celah-celah langit yang gelap gulita.

Dialah yang mengasuh awan dan mega menari dan berkejaran bersama angin.

Dialah yang mengasuh burung-burung mengepakkan sayapnya membelah udara.

Dialah yang mengasuh rebung menyeruak tanah untuk menjadi bambu.

Dialah yang mengasuh butiran embun menyusup celah diantara rimbunnya dedaunan

Dialah yang mengasuh rusa menari genit ditengah singa yang siap menerkamnya.

Dialah yang mengasuh seorang bayi beranjak tumbuh menjadi seorang remaja yang ceria.

Dialah yang mengasuh manusia mengetahui apa-apa yang tidak mereka ketahui.

Dialah yang mengasuh manusia menjalankan peran fujur ataupun taqwa dengan sama mudahnya.

Dialah yang mengasuh si fujur menjalankan kefujurannya dengan leluasa.

Dialah yang mengasuh si taqwa menjalankan ketaqwaannya dengan mudah dan ringan.

Dialah yang mengasuh si sombong menjalankan kesombongannya sambil tersenyum.

Dialah yang mengasuh si bohong untuk berbohong dan berbohong berkepanjangan.

Dialah yang mengasuh setiap makhluk memerankan Jalan Ceritanya masing-masing tanpa bisa mengelak.

Semua berada dalam Pengasuhan-Nya. Karena semuanya memang adalah Dzat-Nya sendiri.

Dialah Rabb al ‘alamin, Sang Maha Mengasuh atas segala sesuatu.

Salam…

Read Full Post »

MEMAHAMI HAKEKAT.

Yang Bathin, Dzat Wajibul Wujud adalah Dzat-Nya. Satu

Yang Zhahir, Dzat Mungkinul Wujud adalah juga Dzat-Nya. Ramai
Segala makhluk adalah Dzat-Nya jua.
Segala Sifat adalah Dzat-Nya jua.

Kemanapun matamu memandang, maka engkau akan terpandang pada Dzat-Nya semata. Maka dengan begitu, engkau akan menghargai apapun yang terzhahir dihadapanmu. Karena semuanya memang adalah Dzat-Nya juga, tapi hanya dari Dzat-Nya Yang sedikit sahaja.

Saat engkau terpandang pada yang ramai, pada Yang Dzahir, maka segeralah nafikan yang ramai dan yang dzahir itu, dan segeralah isbathkan Yang Bathin. Maka eengkau hanya akan memandang pada Dzat yang Satu saja, yaitu Dzat Wajibul Wujud.

Dengan begitu, maka pastilah paham bahwa pada hakekatnya semua Ciptaan Tidak Wujud. FANA. Yang Wujud adalah Dzat-Nya semata. BAQA.

Orang yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya niscaya sudah pastlhi ia mengenal bahawa ia tiada mempunyai wujud bagi dirinya. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk. 7, 427 (1981).

Ketahuilah bahawa Maujud yang paling terang dan nyata ialah Allah Ta’ala. Dan ini menghendaki kepada Makrifatullah. Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin Bk.7, 478 (1981).

Bersambung

Read Full Post »

MEMAHAMI AYAT-AYAT MAKRIFATULLAH

Sebelum ada apa-apa, hanya ada Dzat-Nya:
Dzat Yang Tiada Awal
Dzat Yang Tiada Akhir
Dzat-Nya Yang Maha Suci.

Setelah Firman Kun, Sedikit Dzat atau Diri-Nya dikenai-Nya dengan Firman Kun. Dengan adanya Dzat-Nya Yang Sedikit yang terkena Firman Kun itu, maka pastilah sekarang dalam pandangan kacamata makrifat kita dapat memahami:

Dzat-Nya Sungguh Maha Besar,
Dzat-Nya Sungguh Maha Luas,
Dzat-Nya Sungguh Maha Tinggi

Adanya “Si kecil” di dalam Lauhu Mahfuz telah membuat kita tahu dan paham tentang adanya Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Luas, Dzat Yang Maha Tinggi…, Dialah Allah…

Dzat-Nya yang menjadi Wajibul Wujud diber-Nya Awal dan Akhir.
Yang Awal adalah Dzat Wajibul Wujud, Awal dari semua Ciptaan.
Yang Akhir adalah Dzat Wajubul Wujud, Akhir dari semua Ciptaan.

Yang Zahir adalah Dzat Mungkinul Wujud, semua Ciptaan dan Sifat-sifat. RAMAI
Yang Batin adalah Dzat Wajibul Wujud, SATU.
Yang Maha Halus adalah Dzat Wajibul Wujud
Yang Meliputi segala sesuatu adalah Dzat Wajibul Wujud.
Yang Ada dimana-mana adalah Dzat Wajibul Wujud
Yang bersamamu dimanapun kamu berada adalah Dzat Wajibul Wujud.
Yang lebih dekat dari urat nyawamu adalah Dzat Wajibul Wujud.

Yang Maha Melihat, adalah Allah melalui Dzat Wajibul Wujud.
Yang Maha Mendengar, adalah Allah melalui Dzat Wajibul Wujud.
Yang Maha Mengawasi, adalah Allah melalui Dzat Wajibul Wujud.
Maha Mengetahui, adalah Allah melalui Dzat Wajibul Wujud.
Yang Maha Berkuasa, adalah Allah melalui Dzat Wajibul Wujud.

Bersambung

Read Full Post »

Sebelum ada apa-apa, hanya Allah saja yang Ada. Tidak ada sesiapa bersama-Nya. Hanya Dzat atau Diri-Nya sahaja yang Wujud.

Dzat yang Laista kamistlihi syai’un..
Dzat yang tidak serupa dan tidak seumpama.
Dzat Yang Maha Suci dari segala persepsi rupa dan umpama…
Dzat-Nya yang tiada Awal dan tiada pula Akhir.

Dia lalu Berkehendak untuk menciptakan Makhluk-Nya.

Karena hanya Dzat atau Diri-Nya sahaja yang Ada, maka pastilah Dia bersabda kepada Dzat atau Dirinya Sendiri pula. Bukan kepada kekosongan, bukan kepada tiada. Karena tiada dan kekosongan pun saat itu tiada. Yang ada hanya semata-mata Dzat atau Diri-Nya sahaja.

Akan tetapi untuk keperluan penciptaan semua Makhluk-Nya itu, Dia HANYA perlu Bersabda kepada Sedikit dari Diri atau Dzat-Nya saja. Bukan kepada Keseluruhan Diri atau Dzat-Nya.

Sedikit Dzat atau Diri-Nya yang terkena Sabda-Nya itu besarnya hanyalah seumpama seukuran sebutir pasir dibandingkan dengan Padang Pasir, atau seukuran setetes air masin dibandingan dengan Lautan. Sungguh Kecil sekali.

“KUN”, maka dari sedikit Dzat atau Diri-Nya yang terkena Firman KUN itu kemudian terjadilah Proses dan Perubahan-perubahan yang akan Menzhahirkan semua Alam Ciptaan pada Saat atau Waktu yang telah ditetapkan.

Semua proses perubahan dan penzhahiran ciptaan itu terkurung rapat di dalam sebuah Wadah Penggodokan yang terlindungi oleh 70 Tabir Cahaya dari Keagungan dan Keindahan Dzat atau Diri-Nya yang bisa membakar sesiapa yag terpandang kepada-Nya.

Wadah Penggodokan itu disebut sebagai Lauhul Mahfuz. Semua rencana, proses penciptaan, dan perubahan-perubahannya hanya terjadi di dalam Lauhul Mahfuz ini. Sedangkan di luar Lauhul Mahfuz semua akan mampus karena terpanggang hangus oleh Kegungan dan Keindahan Dzat atau Diri-Nya.

Di dalam wadah penggodokan itu, semenjak Firman KUN tersabda:

Semua sudah direncanakan,
Semua sudah dituliskan,
Semua Jalan Cerita sudah ditetapkan
Segala Izin sudah dikeluarkan,
Segala Waktu dan Umur telah dipatok.
Segala Baik dan Buruk sudah ditetapkan.
Segala Hikmah telah disandingkan,
Rencana itu Sungguh Maha Teguh.
Rencana itu Sudah Maha Sempurna.
Rencana itu Sudah Maha Lengkap.
Tidak ada sedikitpun yang dilupakan,
Tidak akan ada lagi perubahan.

Dzat atau Dirinya Yang Sedikit itu, yang telah terkena Firman KUN-Nya, kemudian disebut sebagai Dzat Wajibul Wujud. Dzat Tunggal, Satu, yang Wajib Keberadaannya sebagai Fondasi atau Bahan Azaz (Awal) yang digodog-godok-Nya bagi terciptanya semua Ciptaan.

Sedangkan bagi Semua Ciptaan, karena ia bisa terdzahir dalam berbagai Wujud dan Sifat, maka ia disebut juga sebagai Dzat Mungkinul Wujud. Dzat yang Wujud dan Sifat Dzahir-Nya Mungkin ini dan Mungkin pula itu. Banyak dan Ramai…

 

Bersambung

Read Full Post »

MEMAHAMI JALAN CERITA

Saat engkau melihat seseorang, jangan terpesona dengan aktifitas, perkataan, ataupun perbuatan RAGANYA ini…

MANUSIA

 

Karena yang sedang beraktifitas sebenarnya bukanlah RAGANYA tapi adalah JIWA atau NAFSNYA

JIWA-RAGA

 

 

JIWA atau NAFS adalah Entitas Diri manusia ketika MINDA tengah bersama dengan ROH.

ROH saja bukanlah Jiwa

Minda saja juga bukanlah Jiwa.

MINDA adalah salah satu entitas diri manusia yang terpenting, yang akan bertindak sebagai PILOT atau KUSIR bagi JIWA (NAFS) dan RAGA. Ia akan mengantarkan RAGA mengarungi Alam Zhahir dan ia juga akan mengantarkan JIWA (NAFS) mengarungi alam ROH.

JIWA-RAGA-2.jpg

 

Sedangkan MINDA itu sendiri adalah ENTITAS BEBAS yang dia bisa bersama ROH saja dan dia bisa pula bersama RAGA saja. Minda ini seperti bola pimpong. Ia bisa bersama ROH dan bisa bersama RAGA.

Saat Mindamu bersama ROH saja, engkau akan melihat RAGAMU terbujur kaku, dan engkau akan bisa memasuki Alam Roh.

Saat Mindamu bersama RAGA saja, engkau akan melihat ROHMU melayang.

Saat Mindamu bersama Roh dan Raga, maka engkau hanya akan bermain di alam zhahir.

minda-roh

minda-jasad

 

Kualitas JIWA itu sangat tergantung kepada KUALITAS dari MINDA.

Kualitas MINDA itu sendiri tergantung dari apa ISI yang sedang memenuhi MINDA itu dari waktu ke waktu.

Seorang pencuri, mindanya sedang dipenuhi oleh ingatan dan taktik untuk mencuri.

Seorang koruptor, mindanya sedang dipenuhi oleh ingatan dan taktik untuk korupsi.

Seorang pemaksiat, mindanya sedang dipenuhi oleh ingatan dan taktik untuk bermaksiat.

Seorang pengibadah, mindanya sedang dipenuhi oleh ingatan atau taktik yang menyebabkan dia mau dan bersedia untuk beribadah.

Seorang penceramah, atau pengajar, atau pelatih, atau motivator, atau tor… tor.. tor… lainnya, mindanya sedang dipenuhi oleh ingatan bahwa dia harus menyampaikan sesuatu kepada orang lain.

Seorang yang sombong dan angkuh, mindanya sedang dipenuhi oleh ingatan bahwa bahwa dia adalah si pintar, si hebat, si tahu, si bisa, si mengerti, si punya, si berkuasa, dan lain-lain yang melebihi orang lain yang ada didepannya, sehingga orang lain akan selalu salah di hadapannya.

Seorang yang sedang terlihat marah, benci, rindu, cinta, takut, sedih, jijik, senang, sedih, bingung, bodoh, dan sebagainya, mindanya juga sebenarnya sedang dipenuhi dengan ingatan atau ISI yang berkenaan dengan hal-hal tersebut diatas.

Minda memang telah diciptakan oleh Allah untuk mempunyai perangkat yang sangat hebat untuk menampung semua hal yang berkenaan dengan keadaan diatas.

Slide12

 

Melalui minda itulah Allah mengilhamkan kepada setiap manusia tentang kebaikan dan keburukan. Alhamaha fujuraha wataqwaha.

Saat minda diberi Allah ilham Taqwa, maka Jiwanya akan menjadi taqwa pula. Karena ROH akan mengantarkan Jiwa dan Raga seseorang untuk melakukan perbuatan Taqwa.

Saat minda diberi Allah dengan ilham fujur atau fasiq, maka jiwanya akan menjadi fujur dan fasiq pula. Karena ROH akan mengantarkan Jiwa dan Raga seseorang untuk melakukan perbuatan Fujur/Fasiq

ilham

 

Dengan Ilham itulah setiap orang akan menjalankan sebuah Jalan Cerita yang harus dia perankan tanpa dia bisa menolaknya sedikitpun.

jalan cerita

 

Kalau engkau sudah paham tentang ini, maka apapun yang datang dan pergi menghampirimu, JANGAN BERSUARA, JANGAN BERTANYA KENAPA…, JANGAN MEMIKIRKAN, JANGAN MEMUTUSKAN…

JAHIT…, TUTUP MULUTMU. Buatlah TAK TAHU.

Sebab kalau engkau masih bersuara, maka engkau berarti sudah kembali menjadi WUJUD.

Padahal sebenarnya, hakekatnya, kamu adalah TIDAK WUJUD.

..                                            jahit

SALAM…….

 

Read Full Post »

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide12 Slide13 Slide14

SANG KUSIR

Slide17 Slide18

JADI, HATI (QALB) TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN JANTUNG, TAPI DENGAN MINDA.

DAN SHADR TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN DADA, TAPI DENGAN MINDA ATAU QALB YANG DILIPUTI OLEH SEBENTUK KESADARAN

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: