Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2018

Yang perlu dipahami tentang Roh dan Hati ini adalah bahwa saat Roh dan Hati itu berpadu menjadi SATU (baik di dalam tubuh ataupun di luar tubuh) barulah ia disebut sebagai JIWA, atau NAFS.

Kalau Roh dan Hati sedang tidak berpadu, maka ia akan disebut masing-masing. Kalau Roh saja, maka ia disebut Roh. Kalau hati saja, maka ia disebut Hati. Roh tanpa hati ini akan bersifat wujud yang bengong saja, tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa berpikir. Sedangkan kalau Hati saja tanpa Roh, maka Hati itu hanya bisa berpikir, mengingat, melihat dan mendengar saja.

Roh ini juga bisa mengecil dan membesar tergantung dari aktifitas tubuh kita. Saat kita tidur pulas, Roh ini akan mengecil dan menyusut menuju pusatnya, yaitu ke dada kita disekitar ulu hati. Kalau Roh ini sudah mengecil seperti itu, anggota tubuh kita tidak akan bisa bergerak dan berbicara, bahkan untuk menggerakkan kelopak mata saja kita tidak bisa. Keadaan ini biasa disebut orang sebagai Sleep Paralysis. Kita bahkan tidak bisa berpikir dan mengingat. Karena saat tidur itu, Hati yang kalau dalam keadaan kita bangun berada di kepala kita, juga turun ke dalam dada bersatu dengan Roh. Hati dan dan Roh yang sudah bersatu ini disebut juga dengan JIWA. Dan Jiwa inilah yang dipegang oleh Allah saat kita tidur, sampai kita kembali dibangunkan.

Saat kita bangun dari tidur, minda yang tadinya bersatu dengan Roh di dalam dada membentuk Jiwa, lalu dengan cepat naik menuju kepala, sedangkan Roh menyebar kembali dari ulu hari ke seluruh tubuh. Sehingga kitapun kembali dalam keadaan terjaga atau sadar.

Perubahan-perubahan keadaan otot kita akibat dari kita sedang mengingat sesuatu sampai kemudian muncul emosi dan perasaan kita itu, ternyata membutuhkan energi untuk merubahnya. Dan energi untuk mengubah itulah yang berasal dari Roh. Roh itu juga ikut mengembang atau menciut sesuai dengan keadaan dari otot-otot kita. Saat emosi dan perasaan kita memuncak, otot kita akan menjadi kejang, kaku, dan berkontraksi, yang tujuannya adalah untuk membela dan mempertahankan diri kita dari mara bahaya, sehingga hampir secara otomatis Roh kita akan menyuplai kebutuhan energi untuk perubahan keadaan otot itu dengan secepatnya. Hal ini akan membuat dada kita seperti terasa sempit dan nafas kita terasa sesak. Jantung kita jadi berdenyut lebih cepat dan dengan tekanan yang lebih besar.

Akan tetapi, ketika emosi dan perasaan kita memudar dan melerem, otot-otot kitapun menjadi kendor, seakan-akan semua bahaya telah lenyap dari hadapan kita. Roh kita pun kembali dalam keadaan normal. Energi yang disuplai ke tubuh kita hanyalah sekedar cukup untuk melakukan gerakan sederhana, berbicara, berpikir, mengingat, dan pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Keadaan seperti inilah yang membuat dada kita terasa lega dan lapang, nafas kita menjadi halus, denyut jantung kita menjadi normal kembali.

Nah…, semua perubahan di dalam tubuh kita seperti diatas, bermula dari HATI kita yang halus yang di dalamnya ada MINDA. Apapun yang kita ingat-ingat di dalam minda kita, akan berdampak sangat besar kepada keadaan fisik kita. Dan tentu saja, apapun objek yang diingat-ingat oleh MINDA itu akan berpengaruh besar pula terhadap ROH kita yang menyuplai energi keseluruh tubuh kita untuk beraktifitas sesuai dengan objek apa yang kita ingat-ingat itu.

Jadi apapun juga tindakan dan aktifitas yang kita lakukan sebenarnya tergantung kepada apa yang sedang kita ingat. Kalau kita ingat kepada objek yang bisa membawa kita kepada KEFUJURAN atau KEFASIKAN, maka tindakan dan aktifitas kita pasti akan mengarah kepada kefasikan dan kefujuran pula. Sebaliknya, kalau kita ingat kepada Objek yang bisa membawa kita kepada KETAKWAAN, maka tindakan dan aktifitas kita hampir bisa dipastikan akan mengarah kepada ketaqwaan pula. FAALHAMAHAA FUJUURAHAA WATAQWAAHAA, kata Al Quran di dalam surat As Syams ayat 8…

Dan yang paling menarik lagi nanti untuk kita ketahui nanti (insyaallah akan dibahas dalam tema lain) adalah bahwa ingatan kita itu sendiri ternyata adalah juga sebuah PEMBERIAN dari Allah. Bahwa Allah Swt telah merancang sejak Firman KUN sebuah SISTEM KERJA yang akan berjalan pada setiap ciptaan secara otomatis mengikuti perjalanan waktu. Rencana Sistem kerja untuk semua ciptaan itulah yang disebut sebagai Lauhul Mahfuz. Sebuah “kitab” yang berisikan tidak hanya aturan-aturan, akan tetapi juga segala hubungan-hubungan seperti sebab-akibat, masalah dan solusi, penzahiran dan penghancuran, baik dan buruk, yang akan terjadi TEPAT pada setiap ciptaan dan TEPAT antara ciptaan dengan ciptaan lainnya melalui Slot Waktunya masing-masing yang juga TEPAT pula. Tetapi yang pasti adalah bahwa Lauhul Mahfuz itu berisikan hanya SATU KEHENDAK saja, yaitu Kehendak Allah Swt sendiri. Tidak ada apa-apa dan sesiapa yang mempunyai hak untuk ikut campur tangan untuk mengatur dan mempengaruhinya.

Karena Kehendak itu sudah berjalan secara OTOMATIS semenjak Firman KUN, maka pada saatnya, Kehendak Allah swt akan turun dari Lauhul Mahfuz ke dalam Minda kita dalam bentuk ILHAM. Melalui Ilham inilah kita diingatkan untuk melakukan suatu pembicaraan, perbuatan, atau amalan tertentu pada waktu yang sudah ditentukan pula. Kalau kita memang sudah dituliskan akan berbuat Fasik, maka yang akan turun kedalam minda kita adalah ilham tentang perbuatan fasik itu, lalu tanpa kita bisa melawannya, terjadilah perbuatan fasik itu pada diri kita. Akan tetapi kalau yang dituliskan untuk kita lakukan itu adalah perbuatan Taqwa, maka dari Lauhul Mahfuz akan turun ilham berupa perbuatan-perbuatan taqwa yang akan kita lakukan tanpa kita bisa menolaknya pula.

Bersambung

Iklan

Read Full Post »

Banyak yang menyangka selama ini bahwa energi atau tenaga itu berasal dari makanan yang kita makan sehari-hari, atau bisa pula dari cadangan tenaga dalam bentuk lemak yang tersimpan di dalam jaringan otot kita. Tidak ada salahnya memang pandangan yang seperti ini. Tetapi anggapan seperti ini barulah anggapan yang belum sampai pada keadaan yang sebenarnya. Sebab sumber energi atau tenaga yang sebenarnya di dalam tubuh kita adalah berasal dari ROH dan dari NYAWA. Sedangkan makanan hanya berfungsi untuk mengganti unsur-unsur HARA yang ada di dalam JASAD kita yang habis umurnya dan lenyap terbakar setelah beberapa waktu terpakai dalam kegiatan kita sehari-hari.

NYAWA adalah sumber TENAGA DASAR yang hanya cukup untuk menggerakkan JANTUNG, PERNAFASAN, PENCERNAAN, ENZIM, dan HORMON kita dalam keadaan NORMAL. Yang dimaksud dengan keadaan normal ini adalah keadaan fisik kita yang berada dalam keadaan rileks dan santai. Otot-otot kita tidak dalam keadaan berkontraksi. Keadaan ini sangat cocok digambarkan sebagai keadaan tubuh seorang BAYI, atau keadaan saat kita tidur.

Jadi NYAWA ini adalah anasir diri kita berupa tenaga yang membuat tubuh kita bisa HIDUP tanpa kita perlu mengatur-aturnya sedikitpun juga. Saat kita, tidur, pingsan, atau bahkan coma pun, NYAWA inilah yang membuat tubuh kita masih tetap bisa HIDUP. Nyawa inilah yang menggerakkan paru-paru dan jantung kita berikut dengan aliran darah, hormon, dan enzim yang dibutuhkan oleh tubuh untuk hidup. Dalam istilah ilmiahnya, nyawa inilah yang menggerakkan Otot Tak Sadar.

Sedangkan ROH adalah anasir diri kita yang sangat POWERFUL. Ia adalah sumber energi dan tenaga kita untuk bergerak, berjalan, berbicara, dan aktifitas-aktifitas fisik lainnya, termasuk untuk berpikir dan mengingat. ROH inilah yang sering disebut orang juga sebagai badan halus, badan astral, atau tubuh non fisik kita. Roh ini terikat erat dengan fisik kita. Ia boleh dikatakan berada disetiap inchi tubuh kita. Ia memenuhi tubuh kita dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Dalam istilah ilmiahnya, Ruh inilah yang bisa menggerakkan Otot Sadar di dalam tubuh kita.

Yang tak kalah pentingnya adalah, Roh itu berfungsi juga untuk mengantarkan Minda untuk bisa BERPIKIR, dan mengantarkan TUBUH untuk mengaktualisasikan apa yang diingat oleh MINDA menjadi bentuk Gerak dan Aktifitas Fisik. Roh pulalah yang akan mengantar Minda untuk pergi ke alam rohani atau yang disebut juga sebagai, perjalanan keluar tubuh fisik (OBE), wisata Jiwa, Astral Projection.

Perbedaan Roh dengan Nyawa adalah bahwa, walaupun kedua-duanya adalah dalam bentuk tenaga atau energi, namun pelekatan Roh dengan jasad kita itu tidaklah sekuat pelekatan Nyawa dengan tubuh kita. Nyawa lebih kuat melekat dengan jasad kita dibandingkan dengan roh dengan jasad kita. Nyawa adalah anasir diri kita yang paling terakhir di cabut dari tubuh ketika kita sudah meninggal.

Sedangkan bentuk Roh itu adalah seperti bentuk tubuh fisik kita juga, dan seringkali disebut sebagai tubuh halus, atau tubuh astral. Bentuk dari nyawa kitapun juga mirip dengan bentuk Roh kita, akan tetapi nyawa kita itu keadaannya jauh lebih lemah dari roh kita. Nanti kalau kita meninggal, setelah nyawa mendorong Roh ke pintu Alam Barzah dan Hati melesat mengikuti Roh untuk masuk ke Alam Barzah, lalu kemudian barulah Nyawa dicabut dan di kembalikan ke alam Nyawa untuk ditidurkan berbaris-baris menunggu hari berbangkit. Sedangkan ROH bersama Minda Yang disebut sebagai Jiwa akan di antar masuk ke Alam Barzah berkumpul dengan Jiwa-Jiwa yang lainnya juga untuk menunggu hari berbangkit.

Saat hari berbangkit, Nyawa di kembalikan kepada Badan atau Jasad kita yang baru, begitu juga dengan Roh dan Hati (menjadi Jiwa). Semuanya kemudian bersatu kembali membentuk diri kita yang baru. Lalu kita semua, Manusia, Jin, Iblis, Malaikat, bersama-sama akan menghadapi prosesi Hari Hisab… dst.

 

Bersambung

Read Full Post »

Lalu apa instrumen di dalam diri kita yang berfungsi untuk mengingat itu?. Dimana letak insrumen itu, dan apa hubungannya dengan Hati?. Sebab katanya hati itu juga bisa mengingat dan berpikir?.

Instrumen di dalam diri kita yang fungsinya untuk mengingat itu adalah MINDA kita. Minda ini adalah salah satu anasir dari HATI KITA YANG HALUS. Perlu diketahui juga bahwa HATI kita yang halus itu terdiri dari tiga anasir yang tak terpisahkan satu sama lainnya, yaitu MINDA, PENDENGARAN, dan PENGLIHATAN. Jadi kalau kita berbicara tentang HATI, maka saat itu secara tidak langsung kita juga sedang membicarakan tentang Minda, Penglihatan dan Pendengaran. Karena Minda, Penglihatan, dan Pendengaran itu berada di dalam HATI kita YANG HALUS itu.

Sifat dari hati yang halus ini (yang untuk selanjutnya kita sebut dengan HATI saja) adalah bahwa ia merupakan anasir BEBAS yang bisa “pergi dan bergerak” kemana saja. Ia akan bisa pergi ketempat yang ia ingat, atau ia lihat, atau ia dengar. Kalau ia (minda) ingat durian, maka ia akan pergi kepada durian itu, matahati akan mengkonfirm bentuk, rupa, dan rasa durian itu. Kalau durian itu diguncang-guncang, pendengaran akan mengkonfirmasi apakah durian itu sudah matang atau masih muda. Kalau ia ingat durian itu, maka ia bisa lupa kepada keadaan disekililingnya. Jadi hati itu tidak akan bisa pergi kepada sesuatu yang ia lupa atau yang tidak dikenalnya. Ia hanya bisa pergi ke tempat yang sudah pernah ia kenal dan ia ingat.

Yang perlu dipahami tentang hati ini adalah bahwa kalau hati itu turun ke dalam dada, maka saat itu minda tidak akan berfungsi. Minda menjadi tidak bisa mengingat dan berpikir. Dan tidak lama kemudian kita akan tertidur. Keadaan seperti itulah yang terjadi hampir di setiap khotbah jumat, atau dalam pengajian-pengajian yang monoton dan tidak menarik, atau dalam keadaan kita duduk diam yang agak lama, misalnya dalam waktu 5-10 menit. Dimana seseorang kelihatan menunduk dan memejamkan mata, lalu lama kelamaan hatinya turun ke dalam dada, dan tidak lama kemudian terjadilah dengkurannya. Orang itu akan tertidur dengan cepat. Jadi kalau kita ingin cepat tidur, bawalah hati itu turun ke dalam dada. Caranya sederhana saja, pejamkan mata, matahati pandangkan ke dalam dada, dan insyaallah dalam 1 atau 2 menit kita akan tertidur.

Akan tetapi, kalau kita bisa mempertahankan hati tetap berada diatas (di kepala, atau bahkan sejengkal diatas ubun-ubun), maka kita akan biasa terjaga dalam waktu yang lama. Nanti akan kita bahas lebih lanjut tentang hal ini, karena keadaan inilah yang akan kita pakai dalam dzikrullah.

Jadi Hati yang sering disebut-sebut orang yang ada di dalam diri manusia itu tidak ada kena mengena dengan LIVER ataupun JANTUNG (HEARTH) yang berada di dalam dada kita. Hati itu juga bukanlah benak atau otak kita. Hati itu adalah sebuah anasir halus dan bebas dari diri kita. Hati itu mempunyai tiga unsur pembentuknya, yaitu Minda (mind), penglihatan (atau biasa pula disebut dengan mata hati), dan pendengaran (yang biasa pula disebut sebagai telinga hati).

SAAT INI, tentang HATI inilah sebenarnya yang paling penting untuk diketahui kembali oleh umat Islam. Sebab sudah terlalu sangat lama umat Islam tersalah dalam memaknai hati ini. Saat berkata hati, selalu saja umat Islam digiring untuk menunjuk sesuatu yang ada di dalam dada, atau malah ada yang mengatakan secara terang-terangan bahwa hati itu adalah jantung (hearth). Dan sejak itu pulalah umat Islam sangat kesulitan dalam memaknai dan melakukan Dzikrullah (mengingat Allah Swt). Mana bisa Jantung (Hearth) atau QALB itu mengingat. Tidak bisa. Lalu Dzikrullah itupun berubah makna dari mengingat Allah swt menjadi menyebut-nyebut nama Allah swt atau mengulang-ulang menyebut nama-nama Allah seirama dengan detak jantung, atau gerakan keluar masuk nafas ke dalam paru-paru. Atau ada pula yang melebih-lebihkan dari itu dengan mereka mencoba merasa-rasakan kedekatannya dengan Allah.

Padahal yang mempunyai fungsi untuk mengingat itu adalah Minda. Ya…, hati kita melakukan fungsi mengingat, mengetahui, memahami, memikirkan, dengan menggunakan MINDA. Sementara Penglihatan atau Matahati akan mengkonfirmasi apa yang diingat oleh Minda itu dalam bentuk gambar, rupa, dan umpama. Sedangkan Pendengaran akan mengkonfirmasinya pula dalam bentuk bunyi dan suara.  Dan semua itu hanya akan bisa terjadi saat HATI kita itu berada di dalam BENAK atau OTAK kita.

Dari minda jugalah lahirnya perasaan dan emosi kita saat kita sedang mengingat-ingat sesuatu. Ingatan kita itu akan merangsang otak kita untuk mengeluarkan hormon-hormon dan enzim tertentu yang akan mengalir ke dalam aliran darah di seluruh tubuh kita. Setiap perubahan aliran hormon dan enzim itu akan akan mempengaruhi pula otot-otot yang ada di dalam tubuh kita. Kadangkala otot kita menjadi kendor dan rileks, dan kadangkali otot kita menjadi tegang dan kuat. Setiap perubahan keadaan otot kita itu tentu saja akan mempengaruhi tekanan dan aliran darah kita dari jantung ke pembuluh darah diseluruh tubuh kita. Untuk setiap perubahan itu juga akan membutuhkan oksigen yang lebih banyak atau lebih sedikit yang perlu kita hirup dengan hidung dan paru-paru kita. Semua perubahan itu tentu membutuhkan energi atau tenaga.

Lalu dari mana sumber energi atau tenaga ini kita dapatkan.?.

 

Bersambung

Read Full Post »

Fungsi ingatan ini sering dieksplorasi di dalam berbagai pelatihan yang dilabeli dengan kata-kata jiwa, atau ruhani, atau hati, atau mental, atau spiritual, yang tujuannya adalah untuk mendapatkan kedamaian, mencari ketenteraman, dan agar bisa terhindar dari tekanan-tekanan perasaan akibat dari berbagai masalah yang menerpa para perserta pelatihan tersebut.

Tahapan pelatihan seperti ini umumnya adalah:

Tahap pertama yang dilakukan oleh mentornya adalah “MENGINGATKAN” para peserta pelatihan tersebut tentang “sesuatu” yang bisa memberikan mereka rasa aman, tenang, bahagia, dan terlepas dari tekanan berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Lalu setelah itu, pada tahap kedua, mereka dibimbing untuk melakukan suatu aktifitas fisik maupun batin terhadap sesuatu itu yang sebelumnya sudah diingatkan kepada mereka dan caranyapun sudah dicontohkan pula oleh mentornya kepada mereka. Dan pada tahap ketiga, dari para peserta diharapkan munculnya sebuah keadaan atau hal yang mengaduk-aduk perasaan dan emosi mereka, sehingga buat sejenak mereka jadi lupa dengan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Setelah itu, pada tahapan keempat, mereka diyakinkan secara berulang-ulang bahwa setiap kali mereka menghadapi permasalahan, mereka cukup mengulang proses yang sudah diajarkan kepada mereka itu, atau mereka disarankan pula untuk mengikuti pelatihan lanjutan yang sudah dirancang pula oleh sang mentor dengan objek ingatan dan cara olah fisik dan batin yang lain lagi dari yang sebelumnya.

Misalnya begini; mentornya meminta agar para perserta latihannya MENGINGAT sebuah OBJEK yang pernah memberikan perasaan yang sangat senang dan bahagia kepada mereka. Agar ada efek lebihnya, maka dari sekian banyak objek yang bisa mereka ingat, mereka di minta untuk memilih satu objek yang paling berkesan bagi mereka. Lalu setelah itu mereka diminta untuk melakukan aktifitas fisik seperti berjalan dan berinteraksi dengan objek itu, ataupun melakukan aktifitas batin dengan membayangkan bahwa mereka sedang berinteraksi kembali dengan objek yang dulu mereka pernah begitu sangat akrab (dekat) dengannya.

Anehnya, pertemuan fisik ataupun hanya pertemuan batin di dalam angan-angan mereka dengan objek yang sudah pernah mereka kenal itu, tetap saja memberikan efek yang sama bagi mereka. Emosi dan rasanya sama saja. Seakan-akan dengan mengingat objek itu saja, objek itu hadir di depan mata mereka pada saat itu juga dan mereka seakan-akan berinteraksi kembali dengan objek tersebut seperti aslinya. Sehingga perasaan dan emosi merekapun kembali bangkit terhadap objek tersebut melampaui emosi dan perasaan mereka akibat dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Buat sejenak mereka seperti bisa terlepas dari ikatan atau lekatan dari permasalahan mereka itu. Mereka jadi senang dan gembira. Tapi keadaan itu sayangnya hanya berlaku buat sesaat saja. Karena setelah itu mereka, mau tidak mau, akan kembali ke alam realita yang sedang mereka hadapi.

Objek yang paling sering digunakan orang dalam proses seperti ini adalah dengan mengingat-ingat: misalnya, pemandangan alam (laut, udara, pegunungan, lembah, pantai, sawah, sungai, dll); orang-orang atau keluarga terdekat. Cara ini adalah cara yang paling netral dan banyak dilakukan orang, karena ia tidak perlu bersentuhan banyak dengan agama atau kepercayaan seseorang. Bahkan orang yang tidak beragamapun akan mendapatkan manfaat yang sama dengan orang yang beragama.

Untuk tingkat yang lebih rumit, objek itu bisa pula berupa kehebatan dan kesempurnaan orang lain, atau penderitaan orang lain; atau penilaian baik atau buruk atas kelompok-kelompok dan golongan-golongan tertentu oleh kelompok dan golongan yang lain, dan sebagainya.

Kalau seseorang sudah diingatkan untuk memuja-muja orang lain yang dianggap hebat dan sempurna, maka begitu seseorang mengingat-ingat orang yang sangat diidolakan itu, seakan-akan orang itu sudah ada pula disampingnya, sehingga ketika ia melakukan aktifitas fisik seperti mengunjungi orang hebat itu, atau hanya sekedar mengingat-ingat kebaikan dan kesempurnaan orang itu, akan ada pula emosi dan perasaan positifnya yang akan terbangkitkan. Kalau yang diingat kepadanya itu adalah seseorang dengan penderitaan yang pedih, maka emosi dan perasaannya pun akan menjadi negatif dan penuh kesedihan pula.

Yang sedang marak di media sosial dan ditengah-tengah masyarakat saat ini adalah ketika suatu kelompok atau golongan tertentu MENGINGAT kelompok dan golongan lain baik sebagai lawan maupun sebagai kawan. Kemudian kelompok lain itu dilabeli mereka sebagai kelompok atau golongan yang lebih baik atau lebih buruk dari kelompok atau golongan mereka. Labelisasi itu lalu terus diulang-ulang dalam arti diingat-ingatkan kembali oleh orang yang sangat berkepentingan untuk mendapatkan keuntungan dari polarisasi umat itu, sehingga tanpa disadari oleh umat, tiba-tiba saja terjadilah keriuh rendahan, emosi, dan gesekan antar kelompok dan golongan. Setelah itu, seakan-akan tiada lagi hari yang dilalui oleh umat itu tanpa kericuhan dan pertengkaran, sehingga pihak yang berkuasapun dengan tenang menjadi penonton dari segala kekisruhan itu.

Demikianlah sekilas pembahasan tentang INGATAN. Sungguh hebat sekali ingatan itu diberikan oleh Allah Swt untuk kita gunakan dalam hidup keseharian kita. Dengan hanya mengingat sesuatu saja, tanpa diikuti dengan perjumpaan fisik dengan apa yang kita ingat itu, kita sudah bisa merasakan realitas perjumpaan kita dengan sesuatu yang kita ingat itu, berikut pula dengan segala emosi dan perasaan kita yang ikut menyertainya.

Yang lebih hebat lagi adalah bahwa INGATAN kita itu malah bisa pula menembus jarak yang seberapapun jauhnya, menembus tembok dan rintangan yang seberapapun tebalnya, menembus kedalam yang seberapapun dalamnya, menembus kegelapan yang seberapapun kelamnya, menembus cahaya seberapapun berkilaunya, menembus tempat yang seberapapun tersembunyinya, menembus masa yang seberapapun lamanya, menembus perasaan seberapapun halusnya. Ingatan kita bisa menembus Arasy dan bahkan 70 Tirai Nur. Bukan hanya itu, ingatan juga bisa menembus Dzat untuk menemukan apa yang disebalik Dzat, yaitu Diri-Nya yang sedikit. Begitulah tajamnya ingatan kita itu. Sangat amat tajam sekali.

Kalau kita ingat kepada sesuatu, maka saat itu artinya kita sedang DZIKR dengan sesuatu itu. Saat kita ingat kepada pepaya, maka artinya kita sedang DZIKIR KEPADA PEPAYA itu. Hanya saja agar kita bisa ingat kepada pepaya itu, instumen diri kita yang berfungsi untuk mengingat itu harus terlebih dahulu diberitahu tentang pepaya itu. Instrumen itu harus dikenalkan: “ini lho yang namanya pepaya, warnanya begini, kulitnya begini, isinya begini, bijinya begini, dan sebagainya…”. Proses ini disebut juga proses belajar atau transfer ILMU dari orang yang sudah tahu kepada orang yang belum tahu. Orang yang sudah tahu itu disebut juga dengan si Celik atau si melihat dan tahu, sedangkan orang yang belum tahu disebut juga dengan si buta, atau si jahil.

Setelah INGATAN dikenalkan dengan pepaya, maka dengan sangat mudah kita akan bisa kembali mengingat-ingat pepaya itu kapan pun dan dimanapun juga kita berada. Dengan hanya mengingat pepaya itu, kitapun bisa bercerita tentang ciri-ciri, karakter, sifat, atau apapun juga yang berkenaan dengan pepaya itu. Saat kita bercerita tentang pepaya itu, dalam hal apanya juga, ingatan kita tetap bisa berada di pepaya itu. Artinya apa yang kita bicara-bicarakan sangat seirama dengan apa yang kita ingat-ingat.

Kalau kita belum kenal dengan pepaya itu, belum pernah melihatnya, belum kenal namanya, maka ketika kita disuruh untuk ingat kepada pepaya itu, kita tidak akan bisa mengingatnya. Begitu juga, kitapun tidak akan bisa menyebutkan sifat-sifat atau keadaan dari buah pepaya itu. Kalau kita lakukan juga menyebut-nyebut nama pepaya itu, kita sebutkan ciri-cirinya sekenanya saja, seperti ciri-ciri dari sesuatu buah yang sudah ada didalam ingatan kita, misalnya kulitnya berduri, warnanya coklat muda, dan buahnya putih bersih, maka artinya saat itu kita sedang tidak DZIKIR kepada pepaya. Walaupun kita tetap membaca berulang-ulang nama dan sifat-sifat dari pepaya itu, namun ternyata bukan sifat-sifat dari pepaya yang sebenarnya yang sedang kita ungkapkan. Sebab saat itu sebenarnya kita sedang mengungkapkan sifat dari buah durian.

Jadi jelaslah bahwa makna DZIKIR yang sebenarnya adalah MENGINGAT. Setelah kita bisa mengingat sesuatu, barullah kita akan bisa pula secara berulang-ulang bercerita, memuja, memuji, menyanjung kepada apa yang kita ingat-ingat itu, yang dalam istilah agama islam disebut juga sebagai WIRID, WARID, atau mengulang-ulang kata tentang karakteristik, nama-nama, atau sifat-sifat dari sesuatu yang sedang kita ingat-ingat itu, atau kita bisa pula melakukan SHILATUN (shalat) yang maknanya membuat sambungan dan berinteraksi dengan objek yang sedang kita ingat-ingat itu.

BERSAMBUNG

Read Full Post »

Setelah merasa bertemu, “aku” bersambung dengan “Aku”, dan sudah bisa pula merasakan sensasi-sensasi, lalu bagaimana.?

 

Disinilah kemudian munculnya berbagai tafsiran atau kesimpulan yang seringkali tidak dikalibrasi ulang terlebih dahulu dengan Al Qur’an dan Al Hadist. Alat kalibrasinya seringkali malah diambil dari pengalaman-pengalaman orang lain yang juga melakukan dan mengalami hal atau keadaan yang serupa di zaman yang lalu atau di zaman sekarang. Pengalaman tradisi olah kebatinan saja sebenarnya. Sehingga secara garis besar ada TIGA kesimpulan yang muncul dari cara pengenalan kepada Tuhan melalui proses perjalanan Rohani seperti ini.

 

  1. Kesimpulan Wahdatul Wujud.

Kesimpulan ini muncul setelah seseorang yang berdzikrullah dalam waktu yang lama itu sudah merasa FANA BILLAH (Fana Bersama Allah), lalu BAQA BILLAH (Abadi Bersama Allah). Kesimpulan ini membuat seseorang telah bisa pula menuhankan dirinya sendiri. Bahwa “aku” adalah “Aku”. Tidak ada bedanya lagi antara “aku” dengan “Aku”. Dengan kata lain bisa pula diungkapkan bahwa “aku” adalah “Dia”, atau “aku” adalah “Allah”, dan lain-lain sebagainya. Sungguh banyak pula variasi yang kemudian muncul dari kesimpulan wahdatul wujud ini. Silahkan buktikan sendiri.

 

Yang jelas adalah bahwa seseorang yang berkesimpulan Wahdatul Wujud ini suatu saat akan kesulitan untuk beribadah. Misalnya shalat. Bagaimana ia akan bisa mendirikan shalat, kalau shalat itu ternyata hanya akan menyembah dirinya sendiri saja. Karena ia memang merasa sudah menjadi Allah pula.

 

Salah satu kesimpulan lain (tapi masih dalam kerangkan Wahdatul Wujud) yang sangat sering diulang-ulang adalah bahwa Allah ada DISINI. DEKAT. Allah dibawa masuk ke dalam Lauhul Mahfuz atau ke alam ciptaan. Disebalik alam ciptaan ini adalah Allah sendiri. Sehingga “aku” bisa sangat dekat dan menyentuh “Aku”. Karena dekat, maka Allah itu sudah bisa disadar-sadari atau dirasa-rasakan. Sebab kalau hanya diingat-ingat, Allah itu kesannya jauh, kata penganut paham ini.

 

Karena “aku” sudah sangat dekat dengan “Aku”. Bahwa “aku” telah bisa menyentuh “Aku”, bahwa “aku” telah bisa berkata-kata langsung dan dapat pengajaran langsung pula dari “Aku”. Bahwa “aku” bisa berguru langsung kepada Allah. Bahwa apapun yang “aku” lakukan semuanya itu adalah lakuan Allah pada “diri-ku”.

 

Sehingga kemudian bermuncullah berbagai pengakuan orang seperti misalnya:

  • “aku” adalah khalifah Allah…
  • “aku” adalah wakil Allah di muka bumi ini untuk melakukan tugas-tugas dari Allah…
  • “aku” melakukan ini dengan Allah, bersama Allah, dan untuk Allah…
  • “aku” adalah tidak wujud, FANA. Yang Wujud adalah Allah.
  • Melawan dan menentang “aku” berarti engkau melawan dan menentang Allah, sehingga engkau akan celaka dan dibenci oleh Allah.

 

  1. Kesimpulan Nur Muhammad.

Karena banyak pula yang agak khawatir atau takut dengan dampak dari Pahaman Wahdatul Wujud, karena sangat banyak yang menentangnya, maka kemudian ada yang mengenalkan Pahaman Nur Muhammad. Di mana Inti dari pahaman Nur Muhammad ini adalah bahwa “AHMAD” ketika kehilangan “M” lalu menjadi “AHAD”. Sehingga Tidak ada bedanya antara “AHMAD” dengan “AHAD”. Allah telah terbagi dua menjadi separo “Nur Muhammad” dan separonya lagi adalah “Nur Allah”. Untuk bisa mengenal dan berjumpa dengan Allah, maka terlebih dahulu seseorang haruslah mengenal dan menjumpai Hahekat Nur Muhammad. Setelah itu barulah ia bisa mengenal dan menjumpai Nur Allah…

 

Pahaman Nur Muhammad ini kemudian secara cepat membawa sebagian Umat Islam yang mengamalkannya seperti menyembah kepada Rasulullah Muhammad Saw. Penghormatan dan pengkultusan kepada Beliau nyaris sama seperti pengkultusan dan penghormatan Umat Nasrani kepada Nabi Isa Al Masih. Bahkan benda-benda yang pernah Beliau pakai, yang sekarang tersimpan rapi di beberapa musium pun disakralkan orang sedemikian rupa sehingga dapat pula membangkitkan emosi atau fenomena mistis bagi yang orang melihat dan memegangnya.

 

  1. Kesimpulan Rabithah.

Kesimpulan Rabithah ini menyatakan Bahwa seseorang tidak akan pernah bisa mengenal dan menjumpai Allah tanpa adanya perantara atau bantuan secara rohani dari seorang Guru Mursyid. Oleh sebab itu sebelum seseorang beribadah terlebih dahulu ia harus mengingat dan membayangkan wajah Guru Mursyidnya terlebih dahulu, agar rohani Guru Mursyidnya itu menyambungkan Rohaninya dengan Allah melalui Rohani-Rohani Guru-Guru Mursyid nya yang sebelumnya sampai kepada Rohani Rasulullah. Dimana Rohani Rasulullah itu sudah tersambung dengan Allah.

 

Pahaman Rabithah ini tanpa disadari telah membawa orang yang mengamalkannya menyembah kepada Guru Mursyidnya. Sehingga guru mursyidnya itu tidak boleh dibantah dan ditentang sedikitpun juga. Karena kalau dibantah dan ditentang, maka ilmunya akan putus dan ia akan tidak bisa lagi tersambung dengan Allah…

 

Dengan berkembangnya TIGA Kesimpulan seperti ini ditengah-tengah umat Islam, maka sejak berabad-abad lamanya sampai dengan sekarang ini, Negara Islam di Timur Tengah dan juga umat Islam di nergara-negara lain menjadi terpecah belah.  Walaupun semuanya mengaku bertuhankan yang satu, yaitu Allah Swt, namun ternyata dari segi aqidah banyak yang tersesat kepada fahaman-fahaman diatas, yang tidak sesuai dengan aqidah yang sudah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff mengumpamakan keadaan umat Islam yang seperti ini seperti buah KUINI yang di dalamnya ada banyak ulatnya. Diluar terlihat cantik, akan tetapi di dalamnya ternyata sudah rusak berat.

 

Salah satu rahasia yang tidak diketahui orang tentang prosesi Salik atau Perjalanan Rohani ini adalah bahwa setelah “aku” merasa sudah bertemu dengan “Aku” (Allah), maka puncaknya kemudian adalah tercapainya Makrifatullah (pengenalan kepada Allah) dimana “aku” sudah merasa luas tak terbatas, lalu “aku” merasa sudah menjadi “Aku” pula dengan cara “aku” menyerahkan kewujudkan “aku” kepada “Aku”. Artinya pada puncaknya barulah minda sang Salik Berhenti bergerak, berhenti berjalan, karena merasa sudah sampai kepada Allah. Lalu setelah itu banyak yang hanya duduk-duduk berdiam diri dan tidak melakukan ibadah apa-apa karena memang rasanya saat itu maunya hanya mau diam “jumeneng” saja. Mau menyembah siapa lagi?, wong dirinya sendiri sudah merasa menjadi Allah…

 

Padahal berdasarkan Tasawuf Jalan Nabi-Nabi, Makrifatullah itu baru hanyalah BASIC, DASAR, atau FONDASI untuk diatasnya akan didirikan bermacam-macam Ibadah kepada Allah Swt.

 

Atau yang lebih banyak lagi dilakukan orang-orang yang menjalankan pahaman diatas adalah “aku” merasa bisa memerintah-merintah “Aku” untuk memuluskan realisasi dari apa-apa yang muncul di dalam pikiran “aku”, karena apa-apa yang muncul di dalam pikiran “aku” itu sudah dianggapnya pula sebagai pikiran dari “Aku” (Allah) Sendiri…

 

Bersambung

Read Full Post »

Selanjutnya, sedangkan “Aku”, menurut mereka, adalah Wujud yang menamakan dirinya sebagai Allah. Dengan Allahlah mereka akan mengenal “Aku” ini. Dengan menyebut-nyebut Nama Allah, maka suatu saat mereka akan mengenal “Aku”. Salah satu dasar yang sering dipakai orang yang berkenaan dengan “Aku” ini (katanya sih Hadist Qudsi, tapi tidak ada riwayat tentang itu) adalah:

 

Kemudian Allah punya sir (kemauan):

“Aku ini Perbendaharaan Tersembunyi,

kemudian Aku ingin dikenal,

kemudian Aku menciptakan makhluk-Ku,

dengan Allah-lah mereka mengenal Aku…”.

 

Setelah seseorang diyakinkan tentang “aku” dan “Aku” ini, artinya ia selalu diminta untuk mengingat-ingat bawa “aku” adalah dirinya sendiri dan “Aku” yang satu lagi adalah Allah, maka barulah setelah itu ia diminta untuk MEMPERJALANKAN “aku” menuju “Aku”.

 

Selanjutnya, karena dikatakan pula kepadanya bahwa “aku” itu berada di dalam dadanya, maka ia harus berusaha mendorong “aku” yang berada di dalam dadanya itu itu naik keatas menuju “Aku” yang hampir selalu pula dikatakan kepadanya berada DIATAS atau bahkan Jauh di atas Langit Yang Tak Terhingga. Inilah yang biasanya disebut orang sebagai perjalanan Rohani.

 

Sambil menjalankan “aku” kepada “Aku” itu, ia bisa pula diminta untuk memanggil-manggil atau menyebut-nyebut Allah…, Allah…, atau Huu…, Huu, atau Huu Allah…, Huu Allah…, tergantung kepada ajaran yang diberikan oleh gurunya. Itu semua dilakukan harus sampai muncul sebuah fenomena yang mengiringi proses dzikrullah seperti diatas.

 

Begitu ada fenomena-fenomena yang muncul, maka iapun diyakinkan pula bahwa itu adalah respon atau balasan dari Allah atas dzikrullah yang ia lakukan. Dengan begitu, maka iapun menjadi bertambah yakin akan kebenaran ilmu yang telah diajarkan oleh gurunya kepadanya. Lalu fenomena-demi fenomena itu menambah keyakinannya dari Ilmul Yakin menjadi Haqqul Yakin atau bahkan menjadi Isbatul Yakin (yakin yang tak akan goyah lagi) bahwa apa yang ia lakukan itu adalah benar.

 

Fenomena yang umum terjadi adalah munculnya sensasi-sensasi atau getaran-getaran, seperti tubuhnya bergetar atau bergoyang, suara tangis dan kadangkala sampai pada teriakan histeris, atau tubuhnya jatuh berdebam ke atas permukaan tanah, atau bisa pula tubuhnya menggeliat-geliat dan meronta ronta seperti orang yang sedang tersiksa.

 

Hanya saja banyak yang tidak paham bahwa sensasi-sensasi ini terjadi adalah karena seseorang sudah mencoba-coba menjalankan rohnya yang berpusat di dalam dadanya untuk naik keatas menuju titik-titik tertentu di dalam tubuhnya yang biasa dinamakan mereka sebagai LATHAIF, ataupun ketempat-tempat yang diasosiasikannya sebagai tempat yang tinggi dan jauh tak terhingga. Akan tetapi saat menjalankan rohnya itu mindanya masih KOTOR dan BELUM BERSIH dari sampah dan sarap yang sudah mengendap disana selama bertahun-tahun lamanya. Artinya, mindanya yang kotor itu mencoba menarik atau mendorong roh yang bersih dan suci. Tentu saja roh itu seperti dibawa menuju tempat sampah yang kotor dan sempit. Sehingga perjalan roh itu menjadi terhenti-henti dan tersendat-sendat.

 

Rohnya seperti dipaksa berjalan untuk masuk ke dalam lathaif-lathaif atau keluar dari tubuhnya. Jadi…, kemana arah dan tujuan dari roh itu untuk pergi sangat tergantung dari apa yang sedang diingat oleh mindanya. Karena minda itu memang adalah sang pilot bagi roh yang akan menentukan arah kemana roh itu akan dibawa pergi.

 

Ketika minda saat itu mengingat alam materi atau CIPTAAN, dan roh dijalankan menuju materi ciptaan tersebut, maka roh akan dibawa untuk bersentuhan dengan dengan berbagai karakateristik dari materi atau ciptaan itu yang tentu saja dengan berbagai frekuensinya pula.

 

Misalnya, pada keadaan awal, orang yang belum pernah menjalankan rohnya keluar dari tubuhnya, lalu ia dipaksa untuk menjalankan rohnya keluar dari tubuhnya, maka ia seakan bisa merasakan bahwa dirinya yang tadinya kecil dan hanya sebatas ukuran tubuhnya berubah menjadi lebih luas dan lebih besar melebihi ukuran tubuhnya. Perubahan suasana inilah yang biasanya membuat orang akan menangis atau berteriak kaget dan bahkan sampai histeris. Ya…, dirinya serasa berubah menjadi lebih besar melebihi ukuran dirinya sendiri.

 

Sensasi demi sensasi seperti inilah yang akan dialami oleh seseorang tatkala ia berusaha menjalankan rohnya menuju sesuatu yang diingatnya di dalam mindanya. Kalau mindanya ingat kepada gerak, misalnya gerak keluar masuk nafasnya ke dalam paru-parunya, ia rasakan gerak nafasnya itu, maka secara tidak langsung rohnya juga akan bersentuhan dengan gerak keluar masuk nafasnya itu. Karena roh itu sendiri adalah tenaga dan gerak keluar masuk nafas itu sendiri juga adalah tenaga yang berasal dari nyawa, maka pertemuan dua tenaga itupun akan memberikan efek benturan antar tenaga itu di dalam dadanya. Tubuhnya akan bergetar-getar dalam beberapa saat, sampai tenaga roh dan tenaga nyawa itu menjadi seimbang. Biasanya tenaga roh akan mengikuti kekuatan tenaga nyawa dengan cara tenaga roh itu melemah dan tidak memberontak lagi. Diam. Dan dalam keadaan diam seperti itu mucullah rasa tenang dan damai di dalam dirinya untuk sementara waktu lamanya.

 

Begitu juga seterusnya, kalau mindanya ingat sebuah jarak misalnya apa yang dikatakan langit atau tinggi yang tak terbatas (hanya sebatas prasangkanya saja), rohnya pun akan ditarik atau didorong menuju prasangka ketinggiannya itu, sehingga terjadi pula perubahan suasana di dalam dirinya seperti merasa dirinya semakin luas dan tinggi. Perubahan suasana itupun bisa menimbulkan goncangan-goncangan pada tubuhnya. Untuk kemudian diam kembali… begitulah seterusnya… sampai suatu saat ia tidak bisa lagi menggerakkan rohnya, karena ia merasa sudah bertemu dengan “Aku” yang sangat luas seperti luasnya pepadang…

 

Sensasi-sensasi seperti itulah yang meyakinkannya bahwa saat itu seperti “aku” bisa bersentuhan atau tersambung dengan “Aku”. Ada “aku” di ujung yang satu bertemu dengan “Aku” diujung yang satunya lagi. Lalu membentuk sambungan atau paduan. Biasa pula orang menyimbolkannya seperti bertemunya antara ujung jari telunjuk yang satu dengan ujung jari telunjuk yang satunya lagi saat kedua jari telunjuk itu didekatkan. Dulu saya sebut proses seperti itu dengan istilah DERR…

 

Bersambung

Read Full Post »

Nampaknya sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang ini masalah DZIKRULLAH ini memang telah menjadi sebuah teka teki yang nyaris tak terjawab bagi umat Islam. Ia seperti sebuah misteri yang sulit untuk dipecahkan, Ia seperti sebuah rahasia yang sulit untuk diungkapkan. Beribu orang yang berlomba untuk mencarinya dan beribu pula orang yang gagal untuk mendapatkannya. Beratus metoda, cara, dan trik yang telah dicoba untuk memahaminya, sebanyak itu pula kebingungan yang menyertai umat islam dalam mempraktekkannya. Sebab pada akhirnya saat melakuan Dzikrullah kok yang kita dapatkan tidak lebih dari fenomena MISTIK, Perdukunan, dan juga kesaktian serta kehebatan-kehebatan saja, yang tidak ada bedanya dengan cara, metoda dan trik NON DZIKRULLAH yang banyak dipakai dalam berbagai tradisi olah kebatinan.

 

Semua orang sebenarnya setuju bahwa makna DZIKR adalah MENGINGAT. Semua orang sepaham tentang itu, sehingga DZIKRULLAH pun maknanya seharusnya juga mudah saja, yaitu MENGINGAT ALLAH. Prosesnyapun tidak jauh berbeda dengan proses kita mengingat orang tua kita seperti yang disebutkan Allah Swt di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 200:

 

“… Fadzkurullaha kadzikrikum aabaa akum au assyadda dzikra…, ingatlah Allah seperti kalian mengingat-ingat orang tua atau nenek moyang kalian, atau bahkan lebih banyak atau lebih lama dari itu…”.

 

Kita dengan mudah bisa mengingat bapak atau ibu kita. Ketika ingat kepada bapak atau ibu kita, di dalam minda kita akan ada bayangan, atau gambaran, rupa, wajah, atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh bapak atau ibu kita itu. Kita bahkan bisa mengingat bapak atau ibu kita itu dalam waktu yang lama, atau ketika kita bekerja, atau ketikan kita sedang duduk, berbaring, atau berdiri. Mudah sekali.

 

Jadi ayat surat Al Baqarah 200 tersebut mengisyaratkan bahwa kita bisa mengingat orang tua kita, lalu kita bisa pula melanjutkannya dengan menyebut-nyebut apakah nama, atau sifat, atau wajah, atau karakater dari orang tua kita itu dalam waktu yang lama. Bisa sekali.

 

Nah semudah itu pulalah sebenarnya untuk Mengingat Allah. Ini Al Qur’an yang mengatakan demikian. Referensinya haruslah Al Qur’an, bukan kata guru saya, bukan kata ulama ini dan itu, bukan kata orang yang masih buta. Ya…, kita sangat bisa pula untuk mengingat Allah dalam waktu yang lama, lebih lama dari ingat kepada orang tua kita malah. Sangat bisa. Lalu kita bisa pula melanjutkannya untuk menyebut-nyebut, atau membaca-baca semisal Nama, Sifat, atau Kehebatan Allah yang sedang kita Ingat itu agak beberapa kali saja.

 

Akan tetapi, ternyata sejarah telah menorehkan tinta merah bagi peradaban umat Islam yang hampir 1000 tahun lamanya, sejak habisnya generasi Tabit-tabiin Ra, bahwa mengingat Allah ini telah menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan oleh Umat Islam. Sampai sekarangpun begitu. Hampir-hampir umat Islam kehilangan makna Dzikrullah ini selama berabad-abad lamanya…

 

Ketika makna kata DZIKR sebagai INGAT disandingkan dengan Nama ALLAH menjadi DZIKRULLAH, maka maknanya pun seharusnya juga menjadi INGAT ALLAH saja. Tidak berubah dari makna INGAT. Akan tetapi ternyata banyak malah yang jadi bingung. Bagaimanakah gerangan caranya untuk mengingat Allah itu?, Yang diingat Apa-Nya?. Sementara semua umat Islam juga sudah tahu bahwa Allah adalah Dzat yang Laisa Kamistlihi Syaiun, ‘tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia’, asy-Syura’ ayat ke 11. Semuanya pada bingung. Bagaimana caranya mengingat Allah yang tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Mengingat yang tidak ada rupa dan umpama. Bagaimana caranya?. Keluh umat Islam sudah berbilang zaman.

 

Sementara itu, Dzikrullah itu sendiri adalah sebuah Ibadah yang sangat tinggi nilainya. Rasulullah saw berkata, “Mahukah aku beritahukan kepada kamu semua dengan amal-amal yang terbaik dan paling diredhai di sisi Tuhan kamu dan membuat anda mencapai derajat tinggi dan lebih baik untuk kamu semua daripada memberi sedekah emas dan perak dan lebih baik daripada kamu semua bertemu musuh lalu kamu penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kamu semua.” Mereka menjawab, “Mahu!” Baginda menjawab, “Dzikrullah (Mengingati Allah).” Terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk 4, 494 (1993).

 

Sayidina Umar (ra) berkata: Seseorang yang beribadah sehingga hari tua dan putih janggut-nya, ibadah-nya terhapus hanya karena jiwa-nya gagal mengingati Tuhan (Dzikrullah) dan pada masa yang sama dia gagal dalam melakukan dan tidak memberi perhatian penuh kepada ibadah-nya. Imam Ghazali, Rahsia Hakikat Sembahyang Menurut Tauhid, Fekah dan Tasawuf, 149 (1994).

 

Ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Al Jumu’ah (62):10.

 

Lelaki dan perempuan yang banyak mengingati Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Al Ahzab (33):35.

 

Sesungguhnya ingat akan Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Al Ankabut (29):45.

 

Sesungguhnya Allah swt telah berfirman, “Apabila hamba-Ku mendekati Aku sejengkal maka Aku mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati Aku sehasta maka Aku mendekatinya sedepa. Dan bila dia mendekati Aku sedepa, Aku akan datang menemuinya lebih cepat lagi.”   Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

 

Aku bersamanya jika ia mengingati Aku. Sekiranya ia mengingati Aku dalam dirinya, Aku akan mengingatinya dalam DiriKu. Sahih Muslim Buku 4, 608 (1994).

 

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Setan itu mendekam pada hati manusia. Jika ia luput dan lalai (dari ingat Kepada Allah), setan akan menggodanya. Jika manusia MENGINGAT ALLAH (dzikrullah), setan akan bersembunyi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 13: 469-470, Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtar 10: 367 dengan sanad yang shahih)

 

“Barangsiapa yang berpaling dari INGAT kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)

 

Lihatlah, begitu pentingnya amalan Dzikrullah ini sebenarnya bagi seluruh umat manusia. Akan tetapi jalan cerita sudah terjadi. Umat Islam selama berabad-abad seperti kehilangan pengertian tentang Dzikrullah ini.

 

 

Lalu, dalam perjalanan waktu, makna Dzikrullah pun kemudian dilencengkan oleh syaitan dan konco-konconya (yang memang punya kepentingan untuk melalaikan manusia dari Mengingat Allah, sehingga mereka bisa menyesatkan manusia yang lalai dari mengingat Allah tersebut) menjadi misalnya: menyebut-nyebut nama Allah atau memanggil-manggil Allah baik secara JAHAR maupun secara SIRRI dalam jumlah yang banyak; atau menyadari-nyadari atau merasa-rasakan keberadaan Allah Yang Dekat atau Sangat Tinggi dan Sangat Besar.

 

Kemudian berkembanglah berbagai cara atau metoda baru untuk melakukan dzikrullah yang seperti itu misalnya:

  1. Dzikir lisan, dzikir lidah bertongkat langit, dzikir lathaif, dzikir qalb, dzikir sirr, yang kemudian semuanya itu lebih dikenal sebagai Dzikir Tasawuf tarekat Jalan Wali-wali.
  2. Dzikir nafas, dzikir sadar Allah, dzikir patrap (bersuara, diam, atau bergerak), dzikir shilatun, dzikir Tai-Chi, dzikir tarian Rumi, yang berkembang akhir-akhir ini, yang semuanya itu ada kemiripan dengan fenomena POWER dan FORCE yang berkembang dalam praktek-praktek Psikologi dan Spiritualitas New Age Movement.

 

Dengan berbagai metoda itu mereka seakan-akan bisa mencari Allah mulai dari di dalam diri mereka, seperti di dalam Lathaif, di dalam Gerak Nafas, di dalam Suara, sampai kepada sesuatu yang berada di luar diri mereka seperti di dalam jarak, arah, diatas langit, bersama gerakan tubuh dan gerakan alam, dan berbagai hal lainnya yang fungsi sebenarnya itu tidak lain hanyalah sebagai titik konsentrasi saja. Titik untuk menghentikan gerakan ingatan atau pikiran mereka agar tidak liar bergerak kemana-mana. Titik MEDITASI saja sebenarnya

 

Saat ingatannya berhenti mengikuti sesuatu objek ingatan saja, lalu mereka menyebut-nyebut kalimat Allah…, Allah…, Allah, atau Huu Allah…, Huu Allah, atau Laa ilaha illallah…, dan sebagainya, yang mereka sebut sebagai Dzikrullah, maka kemudian muncullah fenomena-fenomena tertentu, seperti getaran-getaran tubuh atau teriakan-teriakan histeris, atau gerakan-gerakan tubuh tak terkontrol lainnya, atau boleh jadi hanya sekedar tangisan saja. Adanya fenomena-fenomena inilah yang disimpulkan oleh para pelaku dzikir-dzikir itu bahwa Dzikir yang mereka lakukan itu adalah benar Dzikrullah. Dan kesimpulan itupun mereka anggap sebagai sebuah kebenaran yang sebenarnya. Makanya makna dzikrullah itupun bisa menjadi bermacam-macam, sesuai dengan dzikir-dzikir diatas yang dilakukan oleh para pelakunya.

 

Karena para pelakunya selalu bermain-main dengan fenomena-fenomena ini, dimana mereka seperti BERGERAK dari satu fenomena kepada fenomena lainnya, maka dzikir yang mereka lakukan itupun mereka namakan pula sebagai proses Memperjalankan Rohani mereka lurus menuju Tuhan. Dan para pelakunya disebut pula sebagai SALIK. Sang Pejalan Rohani. Padahal sebenarnya rohani atau jiwa mereka hanya bergerak dari satu fenomena kepada fenomena yang lainnya saja. Fenomena yang ada rasa dan sensasinya.

 

Dalam perjalanan rohani ini, hampir selalu ada istilah “aku” (sebagai pengganti istilah manusia) yang seakan-akan sedang bergerak dan berjalan menuju “Aku” (sebagai pengganti istilah Allah).

 

Karena “aku” harus bergerak atau berjalan menuju “Aku”, maka si salikpun diajarkan pula untuk mengenal siapa “aku” ini yang sebenarnya dan siapa pula “Aku”. Proses ini dimulai dengan mengenal siapakah “aku” ini yang sebenarnya. Apakah “aku” ini hanyalah kekedar tubuh atau jasad ini saja atau bagaimana. Maka bermunculanlah berbagai filsafat yang menerangkan siapa “aku” ini, dan bagaimana cara menemukan sang “aku yang sejati” pada diri setiap manusia. Muaranya tidak jauh-jauh dari anggapan seperti berikut ini, bahwa:

 

  • “aku” yang sejati adalah Sang Jiwa yang berada di dalam diriku (di dalam dada), atau
  • “aku” yang sejati adalah Sang Nafs yang hidup di dalam diriku (di dalam dada), atau
  • “aku” yang sejati adalah Sang Ruh yang berasal dari Ruh Allah, atau
  • “aku” yang sejati adalah Sang Sadar yang berasal dari Tuhan, atau
  • “aku” yang sejati adalah Sang Penyaksi yang menyaksikan aktifitas Tuhan di dalam diriku dan di dalam alam semesta…

 

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: