Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2014

Makanya ada orang yang rela pergi kemana-mana untuk menjajakan getaran kasih sayang, getaran ikhlas, getaran penyembuhan, getaran quantum, dan getaran-getaran lainnya. Sebab memang banyak pula orang-orang percaya kepada mereka, sebab memang mereka bisa melihat ada hasilnya. Ada perubahannya…

Akan tetapi bagi orang yang sudah bermakrifatullah, keadaannya sungguh sangat berbeda sekali. Berbeda seperti berbedanya langit dan bumi. Mereka bisa melihat dengan sangat tajam melalui mata hati mereka, yang memang sudah terbuka, bahwa proses mereka berdo’a itu, do’a-do’a yang mereka baca, dan juga waktu ketika mereka berdo’a itu, termasuk perasaan mereka yang muncul saat berdo’a itu, misalnya rasa tenang, bahagia, cinta, dan ikhlas, semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. SUDAH TERTULIS. Lidah mereka hanyalah sekedar tempat penzahiran saja dari do’a-do’a itu agar bisa terlantun pada saatnya. Dan hati mereka hanya sekedar tempat untuk menikmati rasa-rasa yang muncul itu dengan penuh rasa syukur.

Begitu juga, ketika terjadi perubahan-perubahan ataupun tidak pada diri mereka sendiri ataupun terhadap lingkungan disekitar mereka setelah mereka berdo’a itu, mereka bisa melihatnya dengan mata hati yang sangat bening, bahwa keadaan yang berubah ataupun tidak itu, sudah tertulis dengan sangat sempurna di Lauhul Mahfuz.

Sehingga lidah orang-orang yang sudah bermakrifatullah menjadi kelu untuk mengaku-ngaku, karena memang ternyata tidak ada sesuatu apapun yang bisa mereka akui sebagai hasil jerih payah mereka, walau hanya sekedar do’a mereka, apalagi sebagai kehebatan mereka. Sebab semua perubahan di alam materi maupun di dimensi quantum itu ternyata hanyalah semata-mata penzahiran dari sedikit Dzat-Nya menjadi berbagai sifat-sifat yang tak terbatas.

Mereka juga bisa melihat dengan jernih bahwa untuk penzahiran semua sifat-sifat itu, sudah tertulis pula dengan matang tentang siapa-siapa yang akan berperan sebagai penerus peran tukang sihir Fir’uan, siapa-siapa yang akan bertugas untuk meneruskan tongkat estafet peran Iblis, Fir’aun, Qarun, dan siapa-siapa pula yang akan kukuh meneruskan peran Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul. Tak lupa pula penerus peran orang-orang munafik, kafir, malas, bodoh, pandai, pintar, dan sebagainya.

Semua pemeran itu akan kukuh dan matian-matian dalam menjalankan peran mereka dalam sebuah panggung sandiwara kehidupan yang maha kolosal. Skenarionya, dan pemeran-pemerannya selalu berubah dan diperbaharui setiap saat, sampai datangnya saat kehidupan di kampung akhirat kelak. Sungguh kehidupan dikampung akhirat itu jauh lebih baik, dan kampung akhirat itu tidak ada satupun yang akan dianiaya oleh Allah.

Lalu dengan begitu, apakah orang-orang yang sudah bermakrifatullah hanya tinggal diam dan menjadi orang yang pasrah begitu saja?, atau tidak melakukan apa-apa lagi?, sebab semuanya kan sudah ditakdirkan dituliskan oleh Allah di Lauhul Mahfuz.

Iklan

Read Full Post »

Mereka juga paham bahwa dengan munculnya sebuah benih pikiran di dalam pikiran mereka, mereka hanya perlu waspada untuk melihat apakah bibit pikiran itu akan membawa mereka kepada takdir yang baik (Ilham Taqwa) ataupun takdir yang buruk (Ilham FUJUR) yang akan terjadi beberapa waktu yang akan datang. Dua-duanya terjadi atas ijin dari Allah.

Sebab ketika Allah telah mengijinkan sesuatu takdir (kejadian atau peristiwa) terjadi untuk beberapa waktu yang akan datang, sesuai dengan yang tertulis di Lauhul Mahfuz), yang peristiwanya bisa saja terjadi beberapa saat lagi atau beberapa waktu yang akan datang, Allah terlebih dahulu berkenan mengirimkan sinyal-sinyal-Nya kedalam alam pikiran (mata hati) orang-orang tertentu, berikut dengan rasanya sekaligus ke dalam dada mereka. Peristiwa diberitahu lebih awal, sebelum sebuah peristiwa terjadi, disebut juga sebagai Ilham, atau Firasat, atau Wahyu, yang tergantung kepada siapa penerimanya. Ilham dan firasat adalah biasanya didapatkan oleh orang-orang yang sangat dekat dengan Allah, sedangkan Wahyu adalah berita-berita kepada Nabi dan Rasul Allah.

Karena pemberitahuan itu hanyalah berupa penyingkapan sedikit dari peristiwa-peristiwa yang akan datang, yang kesemuanya itu sudah tertulis di Lauhul Mahfuz, maka lidah merekapun kelu untuk mengaku hebat dan mengetahui hal-hal yang gaib. Sebab mereka memang hanyalah sekedar diberitahu dan diperlihatkan saja untuk sekilas. Memang untuk Nabi Muhammad SAW agak berbeda, karena Beliau sudah diberitahu dan diperlihatkan peristiwa-peristiwa sejak mulainya proses penciptaan alam semesta ini sampai dengan proses berkumpulnya seluruh umat manusia kelak di dalam syurga. Beliau dikenalkan dengan tuntas dan paripurna. Tapi tidak pernah Beliau mengaku bahwa Belia adalah orang yang sangat hebat. Beliau selalu mengaku hanya sebagai Rasulullah, hamba Allah. Tidak lebih.

Yang menarik adalah sikap orang-orang yang sudah bermakrifatullah tentang do’a. Selama in sangat umum orang berpendapat bahwa, setiap orang bisa mengubah nasibnya dengan cara berdo’a. Mereka bisa berdoa secara sendiri-sendiri, maupun secara berjamaah, ataupun minta dido’akan oleh orang-orang tertentu, baik dengan imbalan maupun dengan tanpa imbalan. Tujannya adalah satu, yaitu agar Allah berkenan mengubah nasib atau takdir yang ia rasakan tidak baik untuk saat ini. Yang miskin ingin menjadi kaya, yang sakit ingin jadi sembuh, yang kaya ingin tambah kaya, yang sehat ingin tambah panjang umur, yang gagal ingin jadi berhasil, yang sedang ikut test tertentu ingin lulus, dan sebagainya. Dan ternyata memang banyak pula orang yang terkabul apa-apa yang mereka do’akan itu. Hidup mereka telah berubah menjadi lebih baik.

Nah…, bagi orang yang belum bermakrifatullah, mereka benar-benar menganggap bahwa do’a-do’a mereka itulah, atau paling tidak kata-kata dan pikiran merekalah, yang telah mengubah nasib mereka menjadi lebih baik. Lalu mereka kemudian berkata dengan sumringah. “berdo’a dong…, atau mari kita berdo’a bersama-sama untuk kebaikan sebuah kaum atau wilayah, atau minta do’a kepada si anu tuh… do’anya makbul, atau saya berubah begini karena saya rajin berdo’a…”, dan sebagainya. Atau bisa pula dengan menggunakan istilah-istilah dunia quantum yang memang sangat populer saat ini, bahwa ada yang mengaku bisa mengubah sebuah keadaan di suatu tempat dengan menggetarkan vibrasi tertentu kealam semesta yang nanti akan di respon oleh alam semesta itu sesuai dengan vibrasi yang dilepaskan oleh orang-orang tersebut.

“Hebat sekali mereka ya..!”, kata orang yang tidak atau belum bermakrifatullah kepada mereka. Seakan-akan Allah terpaksa menghapus rencana awal-Nya terhadap suatu kejadian atau peristiwa gara-gara ada intervensi do’a-do’a atau getaran-getaran bermuatan kehendak tertentu dari orang-orang tertentu yang sangat hebat. Sehingga Allahpun menyerah dan terpaksa mengubah rencana-Nya menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang hebat itu.

Bersambung

Read Full Post »

Hanya orang-orang Jakarta (khususnya) dan orang Indonesia (pada umumnya) yang nampaknya kurang belajar dan membaca hikmah atas peristiwa-peristiwa banjir dan bencana alam lainnya, seperti kabut asap, yang terjadi setiap tahunnya. Mereka lebih sibuk mencari kambing hitam yang ternyata mereka lekatkan kepada Gubernur, Wakilnya dan pihak-pihak lainnya. Sehingga setiap kali terjadi banjir atau bencana asap, yang jadi sasaran kemarahan adalah Gubernur dan Wakilnya itu. Dan akhirnya semuanya jadi lupa untuk menundukkan banjir dan asap itu sendiri.

Yang sedang hangat, berkali-kali bangsa Indonesia telah melaksanakan Pemilu, Pilkada, Pilpres, Pilgub, dan pil-pil lainnya, yang katanya untuk memperbaiki taraf kehidupan rakyat, namun ternyata semua aktifitas itu tidak serta merta bisa mengubah taraf hidup rakyat dan martabat bangsa kita digelanggang sandiwara kehidupan antar bangsa. Yang ingin dipilih memang sangat antusias menjajakan partainya dan dirinya diawal-awal kampanyenya, tapi kemudian ia jadi sibuk dengan dirinya sendiri dan partainya setelah ia duduk dengan empuk di kursi pemerintahan dan dewan yang terhormat. Lalu kegagalan dan kerakusan bin centang-perenang seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya pun berulang dengan magnitute yang lebih mencengangkan. Rakyat kembali hanya bisa menikmati hidup dalam rasa keterpurukan, sambil bersungut-sungut dan memaki-maki di dalam hati, lalu kemudian mereka kembali lupa untuk menarik hikmah dan pelajaran.

Ada memang yang mampu mengambil hikmat dan pelajaran dari peristiwa-peristiwa itu, namun bagi orang-orang yang tidak bermakrifatullah, ketika mereka merasa bisa membaca dan berpikir atas berbagai peristiwa, mereka akan melihat bahwa mereka sendirilah yang berpikir. Sehingga mereka berkata dengan gagah berani: “karena aku berpikir begini maka hasilnya jadi begini, karena saya berani berpikir begitu, maka hasilnya pun jadi begitu”. Ada rona atau nada keangkuhan dan pengakuan mereka atas sebuah proses berpikir yang telah mereka alami dan lalui itu. Dan merekapun kemudian berani pula menjual dan memasarkan keangkuhan dan pengakuan mereka itu dengan gagah berani kepada orang lain.

Namun bagi orang yang sudah bermakrifatullah, mata hati mereka juga telah menjadi sangatlah tajam untuk melihat bahwa dalam membaca hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa itupun sebenarnya mereka tidaklah sulit-sulit amat. Sebab tenyata Allah sendirilah yang telah berkenan mengalirkan kepahaman itu kedalam hati dan pikiran mereka. Tiba-tiba saja Allah memunculkan atau menzahirkan sebutir benih pikiran di dalam pikiran mereka. Benih pikiran itu lalu berkembang dan membesar untuk kemudian berubah menjadi sebuah kepahaman baru atas apa-apa yang sebelumnya belum mereka ketahui, atau bisa pula terjadi dalam bentuk perubahan-perubahan peristiwa dan kejadian dengan secepat kilat.

Dan yang terpenting adalah, karena mereka sadar bahwa semua peristiwa dan kejadian itu, termasuk hikmahnya, sudah tertera dan tertulis pula dalam Buku Perencanaan Induk Yang Sangat Sempurna (Lauhul Mahfuz), maka mereka benar-benar sudah tidak punya tempat lagi untuk mengaku bisa, merasa hebat dan tahu atas pencapaian mereka dalam membaca hikmah dari berbagai peristiwa dan kejadian-kejadian itu. Mereka hanya berkata: Subhanallah, semua adalah ayat-ayat Allah yang nyata, yang terzahir dari sedikit Dzat-Nya.

Bersambung

Read Full Post »

Oleh sebab itu orang-orang yang sudah bermakrifatullah akan kelu lidahnya untuk mengumpat dan mencela semua ciptaan yang ada dihadapannya, akan lunglai tangannya untuk merusak dan mencelakai semua ciptaan yang ada didepannya, akan lemah kakinya untuk menghancurkan semua ciptaan yang ada dibawah kakinya. Mereka jadi tak kuasa untuk berbuat makar, membunuh, dan merusak terhadap semua ciptaan yang ada didepannya. Mereka akan berbuat sebaik-baiknya kepada semua ciptaan itu. Mereka akan memeliharanya dengan sungguh-sungguh. Mereka akan menjadi penjaga yang setia untuk kelestarian semua ciptaan itu. Karena mereka sadar bahwa yang mereka jaga sebenarnya adalah Dzat-Nya Yang Dzahir..

Mereka juga akan kelu lidahnya untuk mengakui apa-apa sebagai miliknya. Mereka akan sungkan untuk berkata aku. Mereka tak kuasa berkata ini milikku. Mereka malu untuk menuntut ini adalah hakku. Mereka sungguh menjadi tak berkutik, karena mereka terkejut bahwa disebalik semua yang terzahir itu ternyata adalah semata-mata Dzat-Nya sendiri. Mata hati mereka menjadi sangat tajam untuk menyadari bahwa Wujud yang sebenarnya Wujud, Wajibul Wujud, ternyata adalah Dzat-Nya. Sedangkan semua ciptaan, termasuk diri mereka sendiri, pada hakikatnya adalah tidak wujud. Karena mereka tidak wujud, apa yang akan mereka akui ?. Ya nggak ada…

Untuk setiap peristiwa, mereka akan membaca (IQRA) apa-apa hikmah dan pelajaran yang terkandung didalamnya. Lalu mereka akan menyesuaikan diri, akan belajar, akan mengembangkan pengetahuan dan kemampuan mereka untuk menghadap hal-hal yang sama atau bahkan hal yang lebih dahsyat dari apa-apa yang mereka alami sekarang ini dimasa-masa mendatang.

Mereka merubah nasib mereka sendiri untuk menjadi lebih baik di masa depan dengan cara mereka tekun membaca dan mempelajari peristiwa demi peristiwa dan kejadian demi kejadian. Sebab mereka paham betul bahwa Allah tidak akan merubah nasib mereka kalau mereka tidak merubahnya sendiri dengan jalan membaca hikmah-hikmah dan pelajaran-pelajaran dari berbagai takdir (baik atau buruk) yang telah menimpa mereka sebelum-sebelumnya.

Namun dalam proses membaca peristiwa-peristiwa itu mata hati mereka juga sangat tajam melihat bahwa apa yang mereka lakukan dalam proses membaca (iqraa) itu, semuanya sudah tertulis pula di Lauhul Mahfuz, berikut dengan segala hasilnya. Dengan begitu mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa sebenarnya bukan merekalah yang membaca, tapi mereka hanya DIBACAKAN, DIDIKTEKAN tentang peristiwa-peristiwa atau sifat-sifat.

Berikut ini akan kita lihat beberapa suku bangsa yang berhasil ataupun yang gagal dalam membaca hikmah dan pelajaran dari beberapa peristiwa yang berulang.

Orang Jepang berhasil merubah nasibnya untuk masa-masa mendatang dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami justru dengan cara membaca hikmat dan pelajaran yang terkandung di dalam peristiwa gempa bumi dan tsunami itu. Mereka tidak sibuk mencari kambing hitam yang akan disalah-salahkan atas terjadinya peristiwa gempa dan tsunami itu. Sehingga gempa dan tsunami itu “nyaris” sudah ditundukkan oleh mereka dengan korban manusia yang sangat sedikit.

Orang Amerika dan Eropa, dari membaca angin, mereka berhasil menciptakan berbagai pesawat terbang mulai dari pesawat komersial sampai dengan pesawat terbang yang aneh-aneh untuk berperang dengan sesama. Dari membaca bulan, plannet-plannet, dan bintang-bintang, mereka juga berhasil membangun cikal bakal alat transportasi antar plannet. Dan banyak lagilah keberhasil bangsa-bangsa di dunia ini dalam membaca ayat-ayat Allah yang bertebaran di muka bumi ini untuk kemudian menghasilkan ilmu-ilmu baru yang sangat menakjubkan.

Bersambung

Read Full Post »

Dengan mengetahui secara garis besar peran-peran yang selalu berulang dalam drama atau sandiwara kehidupan dari zaman kezaman seperti diatas, maka sekarang tinggal terpulang kepada setiap pribadi untuk meneropong dirinya masing-masing. Peran itu akan tetap berulang dan berulang setiap hari, seperti hal berulangnya kita menonton acara-acara serial di televisi. Pemerannya boleh jadi berbeda-beda, tetapi alur ceritanya selalu saja hampir sama dari satu serial keserial yang lain. Hanya berbeda dalam bumbu dan remeh temehnya saja. Sama juga halnya dengan kita menonton sepakbola atau bulu tangkis, perannya dari dulu ya itu-itu saja, tetapi para pemeran atau para pemainnyalah yang membuat tontonan yang sama dari hari kehari itu tetap disukai oleh orang banyak.

Tanpa kita sadari, saat ini ujug-ujug kita sudah jadi penerus peran tukang sihir dari zaman Fir’aun saja, ujug-ujug kita sudah jadi penerus peran Abu Jahal saja, tanpa dinyana kita sudah jadi penerus peran orang-orang munafik saja, entah kenapa kita sudah jadi begitu dekat saja dengan peran iblis dan syetan, tahu-tahu kita sudah menjadi orang yang begitu gigih melanjutkan tongkat estafet peran Nabi-nabi dan Rasul-rasul saja. Semuanya seperti sudah diatur dengan sangat matang dan sempurna, baik berupa pikiran awalnya, rasa yang mengikuti pikiran awal itu, dan juga proses-proses berikutnya yang mengikuti pikiran awal itu. Ia hanya seperti dialirkan begitu saja dari Dzat-Nya untuk terzahir mengikuti takdirnya masing-masing.

Bagi orang-orang yang sudah bermakrifat kepada Allah (makrifatullah), bahwa ada orang yang menolak ataupun menerima ketika mereka mengatakan bahwa seseorang itu sedang menjalan peran ini ataupun itu, sudah menjadi sesuatu yang tidak penting lagi baginya. Sebab mereka sudah merasakan esensinya, bahwa semua peran-peran itu semata-mata adalah penzahiran peran Dzat-Nya yang sedikit menjadi berbagai ciptaan, peristiwa, aktifitas, kejadian, dan pemusnahan, atau dapat diistilahkan sebagai SIFAT-SIFAT, di dalam Lauhul Mahfuz yang sangat sempurna.

Sangat sempurna dalam arti kata: Sudah jelas QADA dan QADARNYA, sudah ada IJIN oleh Allah untuk Dzat-Nya terzahir menjadi Sifat-sifat, sudah ada HIKMAH atau PELAJARAN disetiap penzahiran sifat-sifat itu, tidak ada satupun detail yang terlupakan oleh Allah, sudah lengkap sebab dan akibatnya, tidak akan pernah berubah, tepat waktu dan tempat penzahiran segala sifat-sifat itu.

Bersambung

Read Full Post »

Dengan memahami alam hakikat seperti ini, maka mereka akan berhenti untuk bertengkar dan berbantah-bantahan. Apa yang mau dipertengkarkan dan diperbantahkan?. Karena di alam hakikat itu sudah TIDAK ada nama-nama, sudah TIDAK ada rupa-rupa, sudah TIDAK ada suara-suara, sudah TIDAK ada getaran-getaran dan rasa-rasa, sudah TIDAK ada sifat-sifat, sudah TIDAK ada yang bisa ditulis-tulis dan dijabar-jabarkan. STOP…!. Kita hanya bisa berkata DZAT… !.

Karena mereka sadar bahwa yang Wujud hanya Dzat-Nya. Sang Wajibul Wujud. Sedangkan mereka sudah tidak punya hak apa-apa lagi untuk MENGAKU wujud. Sebab mereka TAHU DAN SADAR bahwa kalau mereka mengaku wujud pula, maka saat itu berarti ada DUA wujud yang ada, yaitu wujud mereka sendiri dan Wujud Dzat Yang Wajibul Wujud. Sehingga saat itu juga runtuhlah TAUHID mereka.

Tambahan lagi, mereka juga tahu dan sadar bahwa ketika mengaku wujud, artinya mereka mengakui: “ini adalah pikiran saya, ini adalah milik saya, ini adalah kebenaran saya”, maka mereka segera saja akan berhadap-hadapan dengan pikiran, milik, dan kebenaran orang-orang lain yang juga mengaku wujud seperti mereka. Lalu mereka akan saling berbantah-bantahan, saling bertengkar, dan bahkan bisa sampai saling bunuh-bunuhan satu sama lainnya. Ramai sekali…

Sebab, kalau turun dari alam hakikat ke alam sifat, maka kita akan segera berhadapan dengan sifat-sifat berbagai ciptaan yang tak terbatas. Kita lalu akan membahas semua sifat-sifat itu tanpa habis-habisnya. Kita bisa pula berdebat sepanjang masa, tanpa akhir. Bahkan seandainya seluruh air lautan yang akan kita jadikan sebagai tinta untuk menulisnya, sampai keringpun lautan itu, tidak akan selesai-selesai kita menulisnya.

Jadi mereka berjalan meninggalkan semua alam Sifat untuk menuju ke Alam Hakikat, yaitu Alam Dzat. Sehingga mereka berhasil menafikan wujud-wujud yang lainnya kecuali hanya wujud Dzat, “Laa maujud illa Dzat”. Bahwa hanya Dzat lah Yang Wajubul Wujud, sedang yang lain selain dari Dzat adalah Sirna, Fana, Tidak Wujud.

Lalu mereka terkejut memandang dengan mata hati mereka akan Kewujudan-Nya, Keesaan-Nya, Kemahabesaran-Nya. Mereka segera bermakrifatullah. Bahwa wujud itu menamakan diri-Nya sendiri dengan nama Allah, sehingga merekapun segera sadar bahwa tiada yang wujud itu kecuali Allah, Laa maujud Illallah…, Laa muajud illallah…

Setiap kali mereka memanggil-Nya dengan sebutan Allah, maka tubuh merekapun tergetar, hati merekapun remuk redam.

Ya Allah…, lalu lutut merekapun lunglai
Ya Allah…, lalu merekapun tersungkur.
Ya Allah…, lalu tubuh merekapun bergetar.
Ya Allah…, lalu hati merekapun remuk redam.
Ya Allah…, lalu mata merekapun jadi sembab

Merekapun segera saja berenang di alam Makrifat, bermakrifat kepada Allah (Makrifatullah). Lalu Makrifatullah inilah yang melandasi setiap aktifitas mereka, melandasi SIKAP mereka, baik itu untuk beribadah kepada Allah maupun untuk berhubungan dengan sesama umat manusia. Sikap Berketuhanan.

Bersambung

Read Full Post »

Sungguh Lauhul Mahfuz itu adalah sebuah Rencana Induk (Grand Scenario) Yang Maha Sempurna untuk Sebuah Maha Karya Yang Tak Tertandingi dari Dzat Yang Maha Indah dan Maha Agung. Allahu Akbar…!.

Rencana Induk itu tidak akan pernah berubah dari rencana awal yang sudah sangat-sangat matang itu. Selanjutnya, Takdir, Ruang, dan Waktulah yang akan mengawal Semua Ciptaan dan Semua Peristiwa itu untuk mengada, untuk terzahir.

Demi Masa…, lalu FAYAKUN, maka terjadilah apa yang harus terjadi, terciptalah apa yang harus tercipta. Semuanya tepat pada Qada, Qadar, dan Ijin-ijinnya, tepat pada Waktunya, tepat pada Ruangnya, dan tepat pula Hikmah atau Pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kejadian dan setiap ciptaan itu. Semuanya patuh kepada Rencana Induk yang telah ditetapkan pada saat sabda KUN pertama kali disabdakan-Nya yang gemanya akan tetap menjalar sepanjang zaman.

Orang-orang yang sudah makrifat bisa melihat dengan mata hatinya, yang telah menjadi sangat tajam, bahwa semua peristiwa dan peran yang tergelar dan terhampar di alam semesta ini ternyata pada hakikatnya adalah Dzat-Nya semata-mata. Langit, bintang-bintang, matahari, bumi dan segala isinya ternyata adalah sedikit dari Dzat-Nya yang terzahir menjadi berbagai bentuk, rupa, dan warna, dengan peran dan sifatnya masing-masing pula.

Karena semua yang terzahir itu adalah dari Dzat-Nya sendiri, sehingga apapun yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, teraba oleh kulit, terbaui oleh hidung, dan terasa oleh lidah, bisa pula disebut sebagai Dzat-Nya Yang Zahir.

Jadi…, tanah, gunung dan lembah, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan, manusia, semua benda dan ciptaan yang ada, pada hakikatnya adalah Dzat-Nya Yang Zahir yang berasal dari Dzat-Nya Yang Batin. Sabda KUN-Nya lah yang telah menjadi sebab musabab terzahirnya Dzat-Nya Yang Zahir yang tadinya berazal dari Dzat-Nya Yang Batin. Sehingga mereka akan bisa memahami bahwa Dialah Yang Dzahir dan Dia pulalah Yang Bathin.

Ketika mereka terpandang (dengan mata zahir mereka) kepada Dzat Yang Zahir, maka mereka akan melihat berbagai SIFAT (banyak dan beragam). Akan tetapi ketika mereka terpandang (dengan mata hati mereka) kepada Dzat Yang Batin, maka mereka hanya akan melihat Hakikat Yang satu. Wujud Yang Tunggal, Wajibul Wujud, Yaitu DZAT-Nya yang sedikit dari DZAT-Nya keseluruhan Yang Maha Indah…

Ya…, Mata hati mereka dapat melihat dengan sangat tajam bahwa Dzat Yang Batin yang berada disebalik Dzat Yang Dzahir itu besarnya terhadap Dzat-Nya yang Maha Indah hanyalah sebesar sebutir pasir ditengah-tengah padang pasir yang sangat luas, seukuran setetes air asin ditengah lautan yang sangat luas. Sangat kecil sekali. Sehingga lidah merekapun KELU untuk mengucapkan kata-kata: “akulah Al Haq, akulah Tuhan, yang ada dalam jubahku adalah Allah, subhani, aku adalah Aku, Dia adalah aku, aku adalah Dia, engkau adalah Engkau, dan sebagainya. Mereka tidak terjerumus untuk mengucapkan kata-kata yang memang sering muncul dari lidah orang-orang yang berpaham Wahdatul Wujud. Paham yang mempercayai bahwa SEMUA ciptaan ini berasal dari penzahiran SEMUA Dzat Allah. Sebab kalau memang begitu, Allah akan menjadi kecil sekali…, sebesar alam ciptaan. Diapun menjadi tidak pantas untuk kita puja dengan ungkapan Allahu Akbar…

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: