Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2015

Sedangkan “KATA HATI” itu sendiri ditentukan oleh apa yang SEDANG ADA atau bercokol di DALAM hati kita. Apa-apa yang ada di dalam hati kita itu sangat tergantung kepada apa-apa yang sedang kita INGAT-INGAT di dalam hati atau akal kita itu. Allah sudah membukakan sebuah rahasia maha besar tentang hati ini di dalam Al Qur’an bahwa; isi hati itu hanya dua, yaitu hati yang berisikan INGATAN KEPADA ALLAH (Dzikrullah), atau hati yang TIDAK berikan ingatan kepada Allah.

Hati yang tidak berisikan ingatan kepada Allah akan segera saja diisi oleh QARIN dengan ingatan-ingatan kita kepada objek pikir yang lain yang akan membuat kita terlalu mudah untuk melakukan kefasikan. Qarin ini adalah satu Jin yang selalu menemani setiap manusia sejak lahir sampai kita wafat. Setiap orang pasti punya qarin, termasuk Nabi sekalipun. Akan tetapi Qarin yang menemani Nabi sudah dibuat tidak berdaya oleh Allah untuk menggoda Nabi…

Insyaallah kita akan bercerita lebih panjang tentang Qarin ini pada kesempatan lain… Ini akan sangat menarik sekali. Karena kalau melihat ciri-ciri apa yang dilakukan umat manusia saat ini, hampir sebagian besar kelihatannya adalah karena ulah QARIN yang telah mengotori hati kita dengan ingatan-ingatan yang selain kepada ingatan kepada Allah.

Dengan melihat fungsi HATI dan MATA HATI yang seperti ini, maka tidak mungkinlah HATI dan MATA HATI itu terletak di dalam dada atau di dalam jantung kita. Tidak Bisa. Pada kesempaan yang lalu kita sudah bahas bahwa satu-satunya TEMPAT di dalam tubuh kita yang sesuai dengan definisi hati sebagai MUDGAH yaitu GUMPALAN yang hampir serupa daging yang lembut tapi bukan daging adalah OTAK kita.

Tapi OTAK itu sendiri bukanlah HATI. Sebab yang dimaksud dengan HATI itu adalah sebentuk anasir diri manusia yang HALUS yang mempunyai tempat DUDUKAN di dalam otak kita seperti halnya DUDUKAN udara di dalam paru-paru kita, atau dudukan RUH di dalam tubuh kita. Jadi otak kita hanyalah tempat atau dudukan bagi hati kita saja.

Segala informasi dan perintah dari dalam hati kita akan sampai kepada tubuh kita untuk dilaksanakan akan disalurkan melalui jaringan otak ini. Begitu pula dengan segala umpan balik dan informasi dari luar tubuh kita yang akan masuk kedalam hati kita juga melalui jaringan otak ini terlebih dahulu. Ruh akan menggerakkan raga kita sesuai dengan kehendak hati, dan dalam perjalanan mengikuti gerak itu, RUH juga mengantarkan umpan balik berupa RASA yang akan terasa terutama di dalam dada kita. Simple sekali sebenarnya prosesnya.

Jadi satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah bagaimana caranya kita membersihkan hati kita yang halus ini agar RUH kita bisa mengantarkan tubuh kita ketujuan yang baik dengan lembut dan ringan serta rasanya juga dingin dan suejuuk. Itu saja kok repot…

Dengan mengetahui dimana letak atau kedudukan hati kita yang halus ini, yaitu di dalam otak kita, maka kita hanya tinggal membersihkan saja HATI kita itu lagi dan lagi secara ISTIQAMAH. Dan untuk itupun kita hanya perlu dengan satu cara saja, yaitu dengan cara mengisi hati kita itu dengan INGATAN kepada Allah.

Karena Allah TIDAK bisa kita rupakan, kita hurufkan, kira warnakan, kita suarakan, kita bayangkan, maka ketika hati kita telah selalu kita isi dengan INGATAN kepada Allah (Dzikrullah), maka ingatan kita kepada apapun yang lain selain dari Allah otomatis akan hilang dengan seketika itu juga. Hati kita akan otomatis menjadi bersih dalam sekejap. Sebab hati kita memang hanya akan bisa mengingat satu hal dalam satu waktu.

Hanya saja kalau kita belum terbiasa mengingat Allah seperti ini, biasanya ingatan kita kepada Allah itu tidak akan bisa bertahan lama. Lama-lama ingatan kita kepada Allah menjadi kendor dan mulai dimasuki oleh ingatan kita kepada yang lain selain Allah, yang saat itu sedang kita cintai atau senangi.

Begitu ingatan kita kepada Allah telah hilang, artinya kita beralih dari ingatan kepada Allah Yang Maha Rahman, maka seketika itu juga Qarin akan menyusupkan ingatan-ingatan yang lain yang sangat banyak silih berganti kedalam hati kita. Qarin akan memperkuat ingatan kita kepada apa-apa yang selain Allah itu sampai akhirnya suatu saat kita terlanjur melakukan satu perbuatan FASIK atau FUJUR.

Begitu kita terlanjur melakukan satu perbuatan fasik, maka hati kita mulai ada bintik hitam atau bintik kuningnya. Jika perbuatan fasik itu telah kita lakukan berulang dan berulang, maka lama-lama hati kita akan hitam, keras membatu, buta, pekak, dan tuli. Otak kita sih tetap seperti biasa. Darahnya tetap merah, urat-urat syarafnya tetap berwarna susu.

Kalau kita menyesal, qarinnya akan istirahat dulu sebentar membiarkan kita merasakan penyesalan itu. Boleh jadi kita menangis karena menyesal itu. Atau boleh jadi pula kita berusaha mengucapkan kata-kata motivasi positive seperti yang banyak diseminarkan orang, atau kita membaca ayat-ayat kitab suci dan dzikiran seperti di dalam pengajian-pengajian. Tapi setelah itu Qarin kita akan datang kembali dengan tugasnya untuk mengantarkan kita melakukan perbuatan fujur berikutnya. Jadilah kita seperti orang yang tobat berkali-kali dan kumat berkali-kali pula.

Mengunci Hati agar tetap hanya mengingat Allah setiap saat (dzikrullah) inilah yang telah menjadi topik perbincangan, pencarian, dan kerinduan umat Islam sejak berbilang Abad semenjak 300-400 tahun setelah kewafatan Rasulullah. Dan inilah yang telah melahirkan berbagai Tarekat Dzikir dengan ciri-ciri dan prakteknya masing-masing. Saya termasuk salah seorang yang telah melanglangbuana dengan berbagai cara dzikir ini, tanpa hasil yang berarti.

Namun Alhamdulillah, lewat syarahan, seminar, dan tuntunan langsung dari Arif Billah Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff, sudah ribuan orang diberbagai benua yang sudah merasakan lezatnya berkekalan dalam mengingat Allah… Akan tetapi masih ada jutaan-jutaan orang yang masih mencarinya…

Bersambung

Read Full Post »

7. Dengan memakai atau menerima pengaruh dari ilmu-ilmu diatas, umat Islam hampir-hampir saja kehilangan pemaknaan TOTAL tentang HATI dan DIMANA LETAK dari HATI tersebut. Karena memang sejak 400 tahun setelah Rasulullah Wafat, banyak umat Islam yang TERSILAP dalam memaknai HATI ini. Hati itu dikira ada di dalam DADA (SUDUR), atau Hati itu dikira ada di dalam JANTUNG yang diistilahkan dengan QALB.

Lalu dada atau qalb itu dijadikan orang sebagai OBJEK yang paling utama dan paling pertama untuk DITAMPAR dengan lafaz-lafaz dzikir dan istighfar agar dada atau qalb itu bisa menjadi tenang dan bersih sehingga mudah dimasuki oleh ilham TAQWA berupa munculnya rasa cinta, senang, tenang, damai, bahagia dan pelajaran-pelajaran lainnya. Sebab ternyata hampir bagi semua orang, kita merasakan dada kita itu sempit dan sakit terus melihat apapun yang terjadi disekeliling kita. Kita mengira saat itu dada kita sedang dimasuki oleh ilham FASIK berupa munculnya rasa marah, iri, benci, tamak, loba, susah, takut, khawatir yang terasa ada di dalam dada kita itu.

Praktek ini menggejala hampir kesemua lapisan masyarakat, karena sejak itu pengamal tasawuf jalan wali-wali yang kebanyakan adalah wali tarekat, memang mewarnai spiritual Islam dengan sangat kuat. Berbagai macam tarekat bermunculan dengan cepat, seakan-akan agama Islam itu sudah dipecah-pecah orang menjadi Islam dengan pengamalan tarekat model A,B,C, dan sebagainya.

Sedangkan ulama-ulama tasawuf jalan Nabi-Nabi seperti Imam Al Ghazali sudah mewanti-wantinya sejak awal bahwa bahwa kaum sufi wali-wali (tarekat) tidak mau mengakui bahwa bahwa mereka telah salah dalam memberi nama HATI itu. Kesalahan itu sudah sangat sulit untuk terhapus dari kepahaman mereka. Ia sudah sangat berkembang dari mulut kemulut, dari tulisan ke tulisan, dan melekat erat pada hati mereka. Kaum sufi tersebut mencela minda atau akal dan apa-apa yang bisa dipahami oleh akal tersebut.

Akan tetapi peringatan Iman A Ghazali itu tidak menjadi perhatian lagi bagi kaum sufi jalan wali-wali tarekat karena mereka asyik sendiri mencari rasa demi rasa dalam berdzikir. Sedangkan umat Islam yang lainnya yang tidak mengikuti tasawuf jalan wali-wali, asyik sendiri pula menghafal dalil demi dalil untuk saling diperdebatkan. Jadilah umat islam itu terpecah-belah menjadi dua golongan besar. Yang satu golongan asyik berburu rasa dan ilham dengan caranya masing-masing yang disebut dengan TAREKAT A,B,C…, dan yang satu golongan lagi asyik pula saling berburu dalil dan hukum untuk saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Dengan begitu maka lengkaplah prasyarat untuk terzhahirnya umat yang sangat mudah untuk dilecehkan, umat yang terpecah belah, umat yang saling berperang dan menumpahkan darah. Umat yang sudah tidak dapat lagi melihat HIKMAH dari setiap kejadian dan peristiwa selama hampir 1000 tahun kemudian, sehingga nyaris tidak ada satupun lagi penemuan-penemuan ilmu dan teknologi yang dihasilkan oleh umat Islam sejak saat itu. Umat Islam asyik berzikir di dalam rumah-rumah dzikir bagi yang mengikuti jalan tarekat, dan bagi yang tidak ikut jalan tarekat asyik pula membolak-balik berbagai buku dan kitab yang tebal-tebal untuk menemukan sesuatu yang entah apa. Keduanya asyik, tapi tujuan dalam melakukan keasyikan itu nyaris tidak dketahui oleh kedua golongan ini. Entah apa yang dicari, entah apa…

Padahal tujuan Allah dalam menciptakan manusia dan Jin adalah untuk mengenal dan beribadah kepada Allah. Kalau kita sudah sudah bisa beribadah hanya kepada Allah, maka insyaallah kita akan dijadikan PERKAKAS oleh Allah untuk mengujudkan rahmat dan kesenangan bagi umat manudia dan alam semsta. Sedangkan kalau kita tidak bisa beribadah kepada Allah, kita tetap akan dijadikan perkakas juga oleh Allah, tetapi perkakas untuk mengujudkan keangkaramurkaan bagi umat manusia dan alam semesta.

Melihat begitu pentingnya HATI atau AKAL ini yang di dalam Al Qur’an dikatakan fungsinya adalah untuk MENGERTI (Ta’qilun, MENGINGAT (Tadzakkarun), BERPIKIR (Tafakkarun), BERTAQWA (Tattaqun) dan untuk itu Hati tersebut dilengkapi dengan MATAHATI / MATA AKAL yang berfungsi untuk MELIHAT dan MENDENGAR, maka sudah seharusnya umat Islam mulai memperhatikan masalah HATI dengan sebenar-benarnya.

Sebab RUH hanya akan IKUT dan PATUH MENGANTARKAN RAGA kita kemana saja kata hati kita berdetak sembari ia memberikan UMPAN BALIK berupa RASA tentang hasil demi hasil dari pelaksanaan kata hati kita itu. Sebab fungsi RUH itu memang utamanya adalah untuk MENGGERAKKAN raga kita dan mengirimkan umpan balik kembali ke tubuh kita dalam bentuk RASA.

Karena RUH itu berada dan melayang di dalam seluruh jaringan tubuh kita. Maka umpan balik dari RUH kepada raga kita itu akan terasa pula di sekujur tubuh kita. Perubahan-perubahan rasa itu ternyata lebih terasa atau sangat kentara sekali terasa di dalam dada kita. Perubahan di dalam dada kita itu adalah seperti menyempit dan melapang. Kalau dada kita terasa menyempit, maka nafas kita akan menjadi terengah-engah, jantung kita akan berdenyut lebih cepat, dan kitapun menjadi sangat mudah untuk menjadi terbakar api benci, dendam, marah, dan hal-hal fasik lainnya, yang dikatakan orang sebagai emosi negatif.

Sebaliknya, kalau kita melakukan hal-hal yang baik dan penuh ketakwaan, umpan balik yang diberikan oleh RUH yang terasa di sekujur tubuh kita dan dada kita adalah, dada kita itu akan berubah menjadi lapang dan luas. Ada rasa lega dan lepas dari beban berat yang menyeruak dan menyembul dan memancar dari dalam dada kita itu. Nafas kitapun akan bergerak seperti nafas bayi yang sedang tidur. Denyut jantung kita akan berada pada denyut yang optimum, otot-otot kita akan rileks dan kendor. Hal ini merupakan prasyarat untuk RUH kita itu bisa berdesir keluar dari tubuh kita dengan ridha dan tanpa halangan.

Setiap perubahan rasa berikutnya, akan sangat terasa pula dikulit kita. Kulit kita kadangkala merinding-rinding seperti orang yang kedinginan. Akan tetapi tubuh kita sendiri tidak sampai berkocak dan berkelojotan secara kasar. Dinginnya itu bahkan akan terasa sampai ke daging di bawah kulit kita dan bahkan bisa sampai ketulang kita. Itu sangat tergantung dari keadaan yang sedang kita alami… Inilah yang membuat kita seringkali menangis dan menangis…

Bersambung

Read Full Post »

Saya tersentak dan terkaget-kaget tatkala Ustad Hussien Bin Abdul Latiff menyatakan bahwa kita semua, dan bahkan seluruh ciptaan selalu di indoktrinasi oleh Allah setiap saat agar kita tidak melenceng dari takdir yang sudah ditetapkan bagi kita masing-masing untuk kita jalani.

Penyampaian indoktrinasi itu adalah tentang suatu isu yang akan selalu kita pegang kuat dalam perjalanan hidup kita. Penyampaian isu itu benar-benar berat sebelah. Isu itu seperti isu satu arah yang sangat kuat. Kita tidak diberikan kesempatan atau hak oleh Allah untuk melihat secara terang dan adil kesemua bagian dari isu itu. Isu itu akan selalu berulang-ulang disusupkan Allah kedalam PINTU INGATAN KITA mulai dari saat kita bayi sampai saat kita meninggal.

Saat kita bayi, semua kita adalah sama. Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara kita. Paling yang terlihat adalah perbedaan warna kulit saja dan perbedaan berat badan. Saat bayi itu kita adalah makhluk innocent, makhluk yang suci, fitrah dan tanpa dosa.

Sejak kita dilahirkan itu, sampai kita remaja, dewasa, tua, dan mati, setiap saat kita diindoktrinasi oleh Allah tentang apa yang harus kita lalui. Apa yang akan kita lalui itulah yang disebut sebagi TAKDIR yang sudah dicatat, ditulis, digambar, diijinkan, diberi waktu,masa, dan tempat, serta diberi hikmah.

Untuk menjamin agar takdir yang akan kita lalui itu tidak berubah dari SCRIPT atau skenario yang telah ditetapkan, berbagai ISU disusupkan-Nya kedalam Minda/Hati kita. Bahkan kita dihantarkan-Nya berbagai lantaran-Nya agar isu itu bisa kita pahami dan kita mengerti. Sampai ke dalam mimpipun kita dikejar-Nya untuk itu.

Contoh indoktrinasi yang sangat mencengangkan adalah indoktrinasi tentang isu halal dan haram. Allah telah mengharamkan umat Islam untuk makan daging babi. Bahkan umat Kristiani dan umat Yahudipun sebenarnya diharamkan Allah untuk makan daging babi.

Lalu Allah mengindoktrinasi umat Islam setiap saat, diingatkan setiap saat, bahwa babi itu haram…, haram…, sehingga melihat daging bagi saja, apalagi sampai memakannya, umat islam akan muntah-muntah dibuatnya. “haram…, haram…?, kata umat islam berapi-api ketika disuguhi makanan daging babi.

Akan tetapi, Allah telah mengindoktrinasi sebagian umat manusia yang lain pula bahwa daging babi itu enak dimakan, menimbulkan selera untuk memakannya. Mereka didoktrin Allah untuk tidak mengenal halal-haram. Mereka hanya terheran-heran saja mendengar halal-haram. “halal-haram?, apaan tuh”, kata mereka.

Untuk memastikan siapa-siapa yang akan memasuki wilayah halal maupun wilayah haram itu, sungguh Allah akan mengilhamkan (mengindoktrinasi) kepada setiap jiwa itu tentang kefasikan dan ketakwaannya Dan Allah telah mengajar (mengindoktrinasi) kamu hal-hal apa yang kamu tidak mengetahuinya.

Salam….

Read Full Post »

MENITI TAKDIR YANG BERLIKU…

yusdekaTulisan ini sengaja saya buat untuk Sahabat Yamas Indonesia, sebagai testimoni saya dalam menempuh perjalanan panjang saya, yang entah bagaimana, sepertinya memang sudah ditakdirkan Allah untuk selalu bersentuhan dengan jalan spiritual atau dalam olah raga dan olah jiwa.

Selepas SMA-I Bukitinggi Tahun 1980, saya mulai bersentuhan dengan Ilmu Al Hikmah yang saya dapatkan dari sebuah perguruan di Kampung Ambon, Jakarta Timur. Saat itu pulalah awal saya mulai berkenalan dengan dunia ilmu kontak dan dunia ilmu hipnotis. Sebelum-sebelumnya saya hanya belajar ilmu-ilmu itu dari membaca berbagai buku saja.

Bangga rasanya saat itu ketika saya turun naik bis kota berkeliling Jakarta. Turun dari satu terminal keterminal yang lainnya, menantang copet yang saat itu memang sangat banyak berkeliaran di dalam bis kota dengan lipatan koran ditangan sebagai ciri utama mereka.

Tahun 1984, saat saya masih kuliah di ITB, saya mulai bersentuhan lagi dengan sebuah perguruan Silat yang tempat latihannya adalah di bilangan Gudang Utara, Komplek Militer, Bandung. Sungguh gagah rasanya saat itu, dengan sabuk merah dengan pita kecil berwarna tertentu melilit di pinggang saya, latihan fisik yang sangat berat diimbangi dengan pengolahan pernafasan, sungguh merupakan pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan.

Latihan pembersihan CAKRA, MEDITASI, dan pengolahan berbagai GETARAN adalah bentuk rutinitas keseharian saya disamping kuliah yang tentu saja sangatlah ketat.

Pembajaan diri ke gunung-gunung di sekitar Bandung, dan di beberapa Pantai di Selatan Jawa, juga sangat sering saya ikuti. Kaki melepuh, tangan lecet dan sedikit luka, kaki bengkak-bengkak saat ujian naik tingkat adalah beberapa hal sudah sangat biasa saya alami.

Pada saat yang sama, saat itu saya seperti sedang mencari-cari sesuatu yang saya sendiri tidak tahu yang saya cari itu apa. Yang ada hanya seperti sebuah kerinduan untuk menemukan sesuatu yang rasanya sangat-sangat dekat. Akan tetapi dengan berbagai latihan yang saya lakukan itu, walau sekalipun dengan meditasi yang terdalam di atas gunung yang sepi di CIATER BANDUNG, kerinduan itu seperti tak pernah terpuaskan. Ada sih sesaat terasa lega dan tenang, rasa rindu seperti terhapus untuk sesaat, akan tetapi hanya dalam hitungan setarikan nafas kemudian, kerinduan itu kembali membuncah. Rindu yang membuat dada terasa kering kerontang.

Tanpa terasa, dalam dunia kerja yang saya lalui di sebuah BUMN di Cilegon, sampai dengan tahun 1991, latihan-latihan dari perguruan silat itu tetap saya lakukan. Ada memang terputus sebentar dari tahun 1992-1995, yaitu saat saya dibiayai oleh negara (Program STAID sebagai buah tangan dari Bapak Habibi) untuk Kuliah lanjutan di Las Cruses, USA. Namun sepulang dari kuliah itu, tahun 1995, saya masih melanjutkan kembali latihan-latihan di perguruan silat itu, walau intensitas fisiknya sudah mulai berkurang. Saya lebih banyak hanya mengolah PERNAFASAN, CAKRA, GETARAN, dan MEDITASI saja.

Walaupun tengah melakukan semua kegiatan itu, saya alhamdulillah juga masih tetap tidak pernah meninggalkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Hanya saja kadangkala saat shalat itu saya malah gabungkan dengan pengaturan nafas dan berkonsentrasi kepada beberapa cakra tertentu, terutama cakra dada. Ya…, saya seperti sedang bermeditasi saja layaknya. Tapi bacaan dan gerakan saya adalah bacaan dan gerakan shalat. Aneh sekali sebenarnya. Shalat kok malah latihan nafas. Tapi… ya hanya itulah yang bisa saya lakukan. Karena tanpa itu, pikiran saya pasti akan melayang-layang entah kemana.

Saat melakukan itu, tenangnya ada sih memang terasa, tapi kerinduan, yang entah kerinduan kepada apa dan siapa, itu malah semakin sering datang membuncah. Kerinduan itu pulalah yang membawa saya untuk ikut melakukan SULUK di sebuah desa di Kaki gunung Merapi.

HALABAN, itulah nama desa tempat saya suluk itu. Tahun 1999, di dalam sebuah surau sederhana, sunyi dan terpencil, di lembah yang penuh dengan tumbuhan itu, saya habiskan 20 hari ramadhan di dalam proses suluk yang menurut saya itu adalah cukup berat. Di dalam surau yang gelap, karena semua pintu dan jendelanya ditutup itu, siang dan malam hanya saya isi dengan dzikir Lisan, Dzikir Qalb, dan dzikir Sirr di dalam kelambu kecil yang saling berdempetan dengan kelambu yang lain. Di dalam kelambu itu pulalah saya tidur dan makan selama 20 hari itu.

Pada hari kedua suluk yang saya lakukan, mulailah terjadi proses yang memang wajar bagi seseorang yang sedang suluk. Saat melakukan Tawajuh, Rabithah, dan dzikir melingkar setelah Shalat Wajib, tubuh saya mulai menggigil dan bergetar hebat. Saat itu sampai saya berguling-guling dan menggelepar-gelepar seperti hewan yang sedang disembelih.

Semakin saya kuatkan dzikir saya, semakin kuat pulalah fenomena itu terjadi. Dari dalam dada saya seperti ada yang sedang bergera-gerak ingin naik keatas dan keluar. Tapi mursyid saya waktu itu hanya duduk disamping saya seperti sedang mendoakan saya.

Pas hari raya Idul Fitri, saat itu saya masih ada di rumah suluk itu, siangnya (waktu dhuha) mulailah terasa ruh saya seperti berdesir keluar. Saya seperti meninggalkan tubuh saya, dan saya jadi bebas pergi kemana-mana. Saya terbang ke awan, masuk ke alam yang berwarna warni dan indah. Sampai di tempat yang terang benderang tapi tidak ada mataharinya. Bahkan kalau mau ke Mekkah rasanya sekejap saja saya sudah sampai disana. Entah ia entah tidak, rasanya kening saya juga sempat dikecup oleh Nabi di Masjid Medinah. Ya… seperti cerita-cerita orang-orang yang pernah mengambil jalan tarekatlah…

Sejak itu, rumah dinas saya di tempat saya bekerja, mulai ada sebuah kamar khusus untuk saya berdzikir. Anak dan Istri saya, saya larang masuk saat saya berdzikir itu. Yang saya harapkan saat itu adalah Ruh saya bisa kembali keluar dari tubuh saya. Karena dalam pemahaman saya, yang saya dapatkan dari mursyid saya saat itu, keluar Ruh dari tubuh itulah yang dinamakan MIKRAJ. Kalau bisa malah saat sedang shalat ruh saya itu harus bisa keluar.

Dari hari kehari begitu terus. Tapi walaupun begitu, kerinduan akan sesuatu, yang itu entah apa, selalu menggedor-gedor relung hati saya untuk terpenuhi. Rasanya masih ada yang tidak kena dengan apa yang saya lakukan saat itu. Rasanya bukan begini deh yang dicontohkan oleh Rasulullah. Kok sulit dan ribetnya nggak ketulungan begini.

Dalam ibadah Haji Milenium tahun 2000, di Padang Arafah saya tidak banyak berdo’a dari buku yang diberikan oleh Departemen agama. Sebab buku do’a-do’a itu hilang diatas mobil dalam perjalanan dari Jeddah ke Mekkah. Saya hanya duduk bersimpuh dan berdoa agar saya dituntun oleh Allah untuk menemukan jalan keluar dari kerinduan yang entah kenapa malah semakin memuncak itu.

Dan…Sepulang dari haji itu, tahun 2001 awal, tiba-tiba saja saya telah mengikuti latihan spiritual yang saat itu dinamakanPATRAP. Saya begitu dekat dengan H. Slamet Utomo dan Ustad Abu Sangkan yang merupakan motor penggerak utama Patrap saat itu.

Bertahun-tahun, setiap minggu, saya bersedia datang dari Cilegon ke Bekasi yang jaraknya sekitar 140 Km, untuk berlatih bersama Ustad Abu Sangkan. Bumi perkemahan Cibubur juga merupakan tempat langganan kami waktu itu untuk melakukanPATRAP GERAK dan PATRAP JALAN PAGI.

Tahun berganti tahun, pada 2012, akhirnya saya meninggalkan metoda latihan PATRAP dan bergabung hanya dengan Ustadz Abu Sangkan saja, yang kemudian hanya bergerak dalam mengembangkan Shalat Khusyu saja. Wadahnya adalah Shalat Center.

Saya mengikuti berbagai latihan yang Ustadz Abu Sangkan lakukan dengan semangat yang tetap tidak berubah dari saat-saat awal. Apalagi sejak Beliau memakai Kitab Madarijus Salikin karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, kajian demi kajian saya hadiri, uzlah demi uzlah saya ikuti.

Ilmu dari kitab Madarijus Salikin itu secara logika sangat bisa diterima oleh akal. Karena buku itu lahir dari proses laku yang dialami langsung oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Buku yang ternyata masih tetap bisa bertahan selama ratusan tahun.

Dengan semua itu, ditambah dengan umur saya yang sudah beranjak senja, saya seharusnya akan menjadi lebih mudah untuk mendapatkan apa yang selama ini saya rindukan. Harusnya begitu. Akan tetapi kenyataannya berkata lain. Tiga belas tahun lamanya saya belajar seperti ini, selama itu pula saya sepertinya tidak memahami apa yang saya pelajari. Entah memang karena sayanya yang bodoh atau apa. Saya sendiri tidak tahu.

Hal yang paling saya takutkan adalah ketika saya di suruh jadi IMAM SHALAT dalam acara uzlah atau kajian-kajian lain yang dihadiri oleh banyak orang di Shalat Center Jatibening. Karena banyak yang katanya bisa membaca bahwa dalam saya mengimami shalat itu, saya tidak nyambung. Nggak ada getaran imannya. Menakutkan sekali. Saya nyaris putus asa. Saya akhirnya tetap bertanya-tanya. Saya ini sebenarnya sedang mencari apa sih?. Kenapa sulit sekali?.

Sejak tahun 2013, saya mulai jarang mengikuti acara-acara yang diadakan di Shalat Center. Disamping saya sudah berputus asa, ditambah pula dengan keterbatasan fisik saya yang sudah mulai menua untuk bepergian jauh, saya lebih banyak berada di rumah saja. Saya hidup hanya menjadi orang biasa saja. Hanya saja shalat malam dan puasa sunnah senen kamis selalu saya lakukan sejak tahun 2012 itu. Tapi saya tetap memendam rindu yang belum kesampaian sampai saat itu.

Tahun 2014, seorang teman mengantarkan link : FARHAN4U2C ke-email saya. Yang isinya saat itu adalah mengenai MAKRIFATULLAH. Klik pertama kali itu, rasanya sangat mengena di dalam hati saya.

Bulan Februari 2014 saya langsung datang menghadiri kajian Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff di Singapore. Kali berikutnya saya datang lagi ke Singapore. 16 Video kajian asas saya download dari Youtube. Sejak itu, berbagai pertemuan dengan Beliau sudah saya ikuti. Di Semarang, Ciloto, Jogja, Makassar, dan insyaallah bulan oktober 2015 ini di Jakarta.

Sampai sekarang saya sudah mendownload sekitar 130 video Syarahan Beliau yang juga sudah saya konversi ke WMA sehingga saat saya pergi kemana-mana, saya masih bisa mendengarkan syarahan Beliau. Dengan kunci ilmu yang ada ditangan Beliau, puzzle-puzzle kehidupan, yang selama ini saya jumpai bercerai berai, dapat disatukan oleh Beliau dalam sebuah pemahaman yang Jati. Dan sejak itu pulalah secara sangat mengejutkan, rasa RINDU yang selama ini membuncah seperti telah menemukan MUARANYA. Tidak ada lagi masalah. Tidak ada lagi takut. Tidak ada lagi sedih. Tidak ada lagi khawatir. Tidak ada lagi tanya kenapa. Semuanya ternyata sudah diatur terlalu sempurna oleh Allah untuk saya bisa menemukan cela dan tanya.

Sekarang…, dipenghujung umur saya, saya sudah berketetapan bahwa saya hanya akan memakai dan mengabarkan ilmu yang diajarkan oleh Arif Billah Ustadz Hussien bin Abdul Latiff saja, sampai akhir hayat saya, kecuali kalau Allah menakdir hal yang lain lagi yang harus saya jalani.

Kalau Beliau berkenan, biarlah saya hanya bersikap seperti seorang Bilal terhadap Rasulullah SAW, atau barangkali boleh jadi hanya sebagai seorang jelata saja, yang tidak ada apa-apanya, yang sedang bersikap dihadapan seorang Arif Billah…

Walaupun begitu, dengan semua sahabat saya selama ini, tentu saja kalau mereka berkenan, saya tetap tidak ingin memutuskan hubungan silaturahim dengan mereka. Kita hanya berbeda wadah dalam pergerakan, dan berbeda pula dalam hal ilmu yang disampaikan. Dan diatas semua itu, begitulah TAKDIR Allah yang harus saya lalui. Sungguh berliku dan berbelit…

Ya Allah…., hamba menyerah seperti menyerahnya orang-orang yang pertama-tama menyerah kepada-Mu ya Allah…

Wassalam…

Read Full Post »

New Theme, Pelita Dzatiyah

HEADER PAK DEKA REV 2

Read Full Post »

6.Ilmu-ilmu diatas, tidak hanya banyak gagalnya untuk membawa kita memahami ayat-ayat tentang makrifatullah, akan tetapi juga banyak gagalnya dalam memahamkan kita tentang ayat-ayat, Al Hadist, dan Pendapat Arif Billah yang berkenaan dengan TAKDIR atau RUKUN IMAN KE-6, misalnya:

Tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Al Israa (17):13.

Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam kitab. Al Araaf (7):37.

Dan berkatalah orang-orang yang berilmu serta beriman: Demi sesungguhnya, kamu telah tinggal menurut yang terkandung dalam Kitab Allah sampai ke hari kebangkitan. Ar Rum (30):56

Orang-orang golongan bahagia mereka akan dipermudahkan untuk melakukan amalnya orang-orang bahagia. Adapun golongan orang celaka, dia juga pasti akan mengarah pada amalnya orang-orang celaka. Terjemahan Sahih Muslim Bk.4, 575 (1994); Terjemahan Sahih Al Bukhari Bk. 8, 402 (1987).

Tak seorang pun daripada kamu kecuali sudah ditetapkan tempatnya di syurga atau di neraka. Terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk.1, 66 (1992).

Kamu tidak ada pilihan sendiri dalam perkara ini. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futh Ghaib, 32 (1990)

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Muhammad (47):36

Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Muhammad (40):39

Dengan yang demikian itu, janganlah kamu menyalahi-Nya dalam lakuan-Nya yang terzahir melalui kamu meskipun itu tidak kamu sukai dan tidak sesuai dengan kehendak kamu dan meskipun pada zahirnya membahayakan kamu. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib,163; 149; 145; 83; 56 (1980).

Hendaklah sentiasa sabar, redha dan menyesuaikan diri kamu dengan Allah, dan tenggelamkan diri kamu ke dalam lautan lakuanNya. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 153(1990)

Sesungguhnya rencana-Ku amatlah teguh: Al Araaf (7):183.

Kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah: Al Ahzab (33):62.

Allah … Maha Bijaksana: An Nisa (4):170

Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab: Al Anaam (6):38.

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata Loh Mahfuz.  Yunus (10):61; Al Qamar (54):52-53.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.  At Taghabun (64):11.

Tiadalah memberi mudarat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Al Mujadilah (58):10

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah.  Ali Imran (3):145.

Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu At Talaq (65):3)

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Yunus (10):100

Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya. Al Maidah (5):16

Sesungguhnya Allah Berkuasa atas segala sesuatu. Al Baqarah (2):20

Dan Dialah yang Berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Al An’aam (6)18

Mereka berkata, “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campurtangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Tuhan.” Ali Imran (3):154.

Katakanlah, “Semuanya dari Allah”. Mengapa orang-orang itu hampir tidak memahami perbicaraan sedikitpun?. An Nisa (4):78.

Maka adakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu sahaja dengan tiada sebarang hikmah pada ciptaan itu?. Al Mu’minun (23):115

(Ingatlah), tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya melainkan dengan ada gunanya yang benar . Al Ahqaf (46):3.

Allah tidak menjadikan semuanya itu melainkan dengan adanya faedah dan gunanya yang sebenar. Yunos (10):5.

Kerana boleh jadi kamu bencikan sesuatu, sedang Allah hendak menjadikan pada apa yang kamu benci itu kebaikan yang banyak. An Nisa (4):19

Sesunguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan maka celakalah dia ! Bagaimana dia menetapkannya? Kemudian celakalah dia ! Bagaimana dia menetapkannya?. Al Muddathsir (74):18-20.

Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. An Nahl (16):77

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? . Al Baqarah (2):107.

Bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya. Al Baqarah (2):165

Ketahuilah, bahwa segala hukum kepunyaan-Nya. Al An’aam (6):62

Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, dan Hari Akhir (kiamat) serta beriman kepada takdir dan buruknya takdir. Terjemahan Sahih Muslim Jilid 1, 5 (1994).

Seandainya salah seorang di antara mereka mempunyai emas segunung Uhud yang dia nafkahkan maka Allah tidak bakal menerimanya sebelum dia beriman kepada TAKDIR. Terjemahan Sahih Muslim Jilid 1, 5 (1994).

Maka perlu engkau ketahui bahawa musibah yang menimpa kamu tak akan hilang daripadamu. Dan sesuatu yang mesti terlepas daripadamu tak akan dapat memberikanmu musibah. Dan jika engkau mati dengan keyakinan selain ini, pasti engkau akan masuk ke neraka: Terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk. 1, 65 (1992).

Dan jika engkau tertimpa dengan sesuatu musibah maka janganlah berkata, “Seandainya sahaja aku berbuat begini dan begini.” Akan tetapi katakanlah, “Allah sudah mentakdirkan dan apa yang Dia kehendaki pasti dilaksanakan-Nya.” Ketahuilah bahawa kata, “Seandainya” akan membuka jalan bagi syaitan untuk menggoda. Terjemahan Sunan Ibnu Majah Bk 1, 67 (1992).

Nabi Musa as berkata, ” Hai Adam, engkau adalah bapa kami tetapi engkau telah mempersia-siakan kami serta mengeluarkan kami daripada syurga kerana dosa-dosamu.” Nabi Adam as menjawab, ”Hai Musa, Allah telah memilihmu dengan Kalam-Nya dan menulis Taurat untukmu dengan tangan-Nya maka apakah engkau menyalahi aku atas perkara yang telah ditakdirkan Allah kepadaku 40 tahun sebelum aku diciptakan?”. Terjemahan Sunan Ibnu Majah Buku 1, 68 (1992).

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.   An Nisa (4):40.

Kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.   An Nisa (4):77.

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. Yunos (10):44; Ar Rum (30):9.

Ayat-ayat, hadist-hadist dan pendapat Arif Billah di atas dengan jelas ataupun tersamar menyatakan bahwa takdir yang BAIK maupun takdir yang BURUK semuanya, 100 %, adalah berasal dari Allah. Namun kita gagal untuk memahaminya. Kita gagal memahami bahwa apapun yang terjadi pada diri kita maupun orang lain semuanya itu (sejak FIRMAN KUN):

Sudah dituliskan oleh Allah,
Sudah sudah ditetapkan oleh Allah,
Sudah diizinkan oleh Allah,
Sudah tersusun dengan teguh, rapih, lengkap, dan sempurna. Karena semua itu memang disusun oleh Allah Yang Maha Sempurna.
Sudah tidak bisa berubah lagi, sebab segala perubahan dan persyaratan atas penzhahirannyapun sudah dituliskan.
Sudah terukur dengan sempurna. Tidak ada satupun yang terlupakan.
Sudah diselipkan pula berbagai HIKMAH yang wajib kita baca sebagai bahan pelajaran bagi kita khususnya, dan bagi umat manusia umumnya, untuk bekal kita dalam mengarungi kehidupan dikemudian hari.

Kebanyakan kita GAGAL dalam mengimanai takdir seperti ini karena kita keliru dalam memahami ayat Al Qur’an, semisal:

“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. Ar-Ra’du (13): 11 .

Satu ayat ini saja, yang kita keliru memahaminya, telah membawa kita MERASA BISA untuk mengatur-atur diri kita, mengatur-atur nasib kita, mengatur-atur masa depan kita. Kita merasa bisa untuk merencana-rencanakan masa depan kita. Dan itupun katanya bisa kita dapatkan dengan hanya mengatur-ngatur pikiran kita, imaginasi kita, kata-kata kita, dan perasaan kita.

Kita merasa hal seperti itu tidak hanya bisa kita pakai untuk kepentingan diri kita sendiri, akan tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Sehingga akhirnya kita menjadi orang yang dikenal luas dimana-mana. Dan dengan gagah berani kita mengiming-imingi orang lain bahwa mereka akan menangguk manfaat yang sangat besar bila mengikuti saran-saran kita. Seperti dijamin berhasil begitu.

Akan tetapi, supaya tidak berkesan sombong, kita kemudian menutupnya dengan ucapan: “apa-apa hasil yang baik adalah dari Allah, sedangkan apa-apa hasil yang buruk dari kebodohan kita sendiri ”.

Yang lebih parah lagi adalah segala sesuatunya mulai jadi BERMASALAH bagi kita. Kita mulai tidak bisa menerima apapun yang terjadi yang tidak sama dengan apa yang kita harapkan baik pada diri diri kita, maupun pada keluarga kita, dan pada kelompok kita. Makanya apapun yang kita lihat, kita baca, dan kita dengar membaca apa yang tertulis dan tergambar didepan mata kita.

Kalau pada sesama manusia, sudah dapat dipastikan bahwa, dengan kata-kata yang alangkah kasarnya (walau kadangkala sudah dicoba dihalus-haluskan, namun tetap terasa kasar dan menusuk perasaan), kita akan menolak, mencaci, menghujat, melaknat, dan memaki orang yang kita anggap berseberangan dengan kita.

Sedangkan kepada Allah, untuk setiap peristiwa dan kejadian buruk yang menimpa kita, kita akan selalu dan selalu berkata: “Kenapa ya Allah ini terjadi pada saya, pada keluarga saya, bukankah saya selalu berbuat baik dan selalu menjalankan perintah-Mu?”.

Gagal dalam mengimani TAKDIR atau Rukun Iman ke-6 inilah sumber permasalahan kita yang akan selalu membuat kita menderita, dan ilmu-ilmu diatas hanya akan menyelesaikan permasalahan kita itu pada tingkat kulit luarnya saja. Dengan sangat mengejutkan kita juga akan segera merasakan tingkat keberadaan atau tingkat KEAKUAN kita meningkat dengan sangat cepat. Selalu akan ada kita dan ada pula Allah. Akan selalu ada dua wujud yang saling kalah mengalahkan, dan pada akhirnya dengan terpaksa kita akan selalu merasa kalah dan menjadi korban permainan takdir Allah. Merasa ada tapi akhirnya kita harus merasa kalah, itu alangkah sakitnya. Tersiksa dan menderita…

Firasat kita akan menjadi lemah dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Dan kita juga akan selalu gagal untuk memetik HIKMAH dan membaca PELAJARAN dari setiap peristiwa yang kita hadapi. Pada akhirnya kita akan selalu saja tertinggal dari perputaran zaman yang selalu menuntut kebaharuan…

Bersambung

Read Full Post »

5. Ilmu-ilmu diatas akan sangat sulit sekali mengantarkan kita untuk paham dengan berbagai ayat-ayat dan hadist-hadist tentang MAKRIFATULLAH yang ciri-cirinya disebutkan Allah di dalam ayat:

“Engkau melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang mereka ketahui, sambil mereka berkata: Wahai Tuhan kami, kami beriman, oleh itu tetapkanlah kami bersama-sama orang-orang yang menjadi saksi”, Al Maidah (5):83. Akan tetapi kenyataannya berkata lain, ayat ini tetap menjadi ayat langit yang realitasnya entah seperti apa. Semua kita seperti tak henti-hentinya mencari dan mencari, tangis seperti apakah gerangan yang diberitakan oleh ayat ini…

Ayat-ayat dan hadist-hadist itu sudah sering kita baca, kita tulis, kita diskusikan, dan bahkan kita khutbahkan. Sudah ada pula beribu-ribu buku yang membahasnya, akan tetapi beribu pula ketidakmengertian malah yang kita dapatkan.

Tidak ada satupun dari ayat-ayat itu yang berhasil memberikan PUKULAN yang memberikan LUKA menahun pada HATI kita. Luka yang akan kembali menganga setiap kali kita membaca ayat-ayat Makrifatullah, sehingga kulit kita, daging-daging yang berada dibawah kulit kita, bahkan tulang kita, menjadi menggigil seperti kedinginan karena perasaan takut kita kepada Allah. Ayat-ayat yang sebenarnya akan menyebabkan air mata kita jatuh bercucuran, disebabkan KEBENARAN yang akhirnya kita dipahamkan oleh Allah. Kita benar-benar menjadi SADAR dan DIKEJUTKAN tentang KEBENARAN akan:

Dia Yang Maha Besar, Ar Rad (13):9

Allah yang Maha Luas, Al Hajj (22):62

Yang Maha Tinggi, Al Mukmin (40):12

Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Al Hadid (57):3

(Dia-lah) Yang Zahir dan Yang Batin, Al Hadid (57):3

Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?, Al Mulk (67):14

Tiada sehelai daun jatuh tanpa Dia mengetahuinya, Al An’aam(6):59

Allah sentiasa Meliputi akan tiap-tiap sesuatu, An Nisa (4):126.

Demi Dzat yang menguasai diriku!, Sahih Muslim Bk.1, 57 (1994)

Sesungguhnya Dia Maha Melihat, Al Mulk (67):19

Sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu, Al Hijr (15):25.

Dan Allah Maha mengetahui segala isi hati, At Taghabun (64):4

Dialah yang Maha Mendengar, Al Mukmin (40):56

Allah Maha Mengawasi segala sesuatu, Al Mujadilah (58):7.

Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu menghadap di situ ada wajah (Dzat) Allah, Al Baqarah (2):115

Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada, Al Hadid (57):4.

Kami lebih dekat kepadanya dari urat nyawanya, Qaaf (50):16.

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah yang melempar, Al Anfaal (8):17.

Anak Adam melukaiKu dengan mencaci Masa kerana Masa itu adalah Aku, Sunan Abu Dawud Vol. 3, 1452 (1990).

Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, An Nur (24):35

Jutaan, ratusan juta, bahkan milyaran orang sebenarnya ingin bisa mereguk madu Makrifatullah yang indikasinya telah Allah hamparkan di dalam ayat-ayat Al Qur’an seperti diatas, dan sebanyak itu pula orang yang ingin untuk duduk tenteram dalam Dzikrullah yang mengasyikkan. Akan tetapi hampir sebanyak itu pula yang gagal mendapatkannya. Kita bertanya dan bertanya, kita mencari dan mencari.
Akan tetapi PINTU untuk kesana seperti sudah ditutup rapat oleh Allah. Kunci Ilmunya seperti masih tersimpan rapi disuatu tempat menunggu seorang Arif Billah untuk menerimanya yang akan bisa membuka pintu tersebut. Seorang Arif Billah yang akan menggairahkan umat manusia diseluruh dunia dan bahkan bangsa Jin untuk kembali mengikuti ajaran-ajaran Rasulullah SAW dengan mudah. Semudah para sahabat Nabi dahulu menerima pelajaran dari Nabi.

Demikianlah….
“Maka apabila Allah berkehendak untuk memilih seseorang Hamba-Nya dan melebihkannya dari sekalian makhluk-Nya yang lain serta melengkapkan ke dalam batinnya cahaya makrifat, niscaya akan dilihat-Nya orang itu dengan pandangan keutamaan dan kerahmatan, dibukakan baginya pintu-pintu hidayat, lalu dimuliakanNya dengan sifat kesedaran, dikejutkanNya daripada lelapan orang-orang lalai”. Saiyid Ahmad Ar Rifai, Benteng Diri Ahli Hakikat Dalam Meniti Makrifat kepada Allah, 42 (1994).

“Allah anugerahkan kepadanya ilmu ladunni (ilmu yang langsung dari sisi Allah) suatu ilmu yang diilhamkan oleh Allah ke dalam hati seseorang hamba-Nya tanpa belajar melalui perantaraan guru (talqin masyayikh) ilmu mana tidak akan hilang dan tidak akan dilupakan. Seseorang yang mendapat ilmu yang seperti ini adalah yang benar-benar alim”. Syekh M. Nafis Al Bajaree, Ad Darunnafis, 84 (?).

“Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahsia-rahsia yang tidak diberinya kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka ke sisi-Nya. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahsia-rahsia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi. Allah jadikan mereka itu pelaku dan lakuanNya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu “orang-orang Allah”. Mereka mendapat bimbingan yang benar. Mereka boleh memberi pertolongan kepada orang-orang yang benar dan mengesahkan kebenaran orang lain. Mereka ibarat timbalan nabi-nabi dan rasul-rasul Allah. Mereka sentiasa mendapat taufik dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung”. Syeikh Abdul Qadir Al Jilani, Futuh Ghaib, 95 (1990).

“Hendaklah kamu segera mencari cahaya bicara orang-orang Arif-Billah itu sebelum kewafatannya”. Saiyid Ahmad Ar Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 112 (1994).

“Pada satu-satu zaman ataupun di dalam satu wilayah ataupun di peringkat antarabangsa hanya ada satu”. Martin Lings, Shaikh Ahmad Al Alawi Wali Sufi Abad 20, 70 (1995).

Dengan Kunci Ilmu yang ada ditangan Arif Billah tersebut, maka barang siapa yang dikehendaki oleh Allah, ia akan dengan penuh gelora akan bersedia menerima kucuran ilmu dari Arfi Billah tersebut, sehingga satu persatu pintu ilmu yang lainpun terbuka pula baginya dengan sangat terang benderang.

“Andaikata kamu mengenali Allah Ta’ala dengan sebenar-benar pengenalan, niscaya kamu akan diajarkan-Nya suatu ilmu yang tiada lagi sesudahnya sifat kejahilan”. Sayid Ahmad Rifai, Benteng Ahli Hakikat, 33 (1994).

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan kebaikan padanya maka Allah memberikan kefahaman dalam soal Agama”. Sunan At Tirmidzi Bk 4, 273 (1993).

Dan alhamdulillah, ternyata saya termasuk salah satu dari segelintir orang yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk meyakini akan kearifbillahan Ustadz Hussien Bin Abdul Latiff. Kepada Beliaulah saya sekarang ini menimba Ilmu. Dan sikap saya kepada Beliau hanya mencontoh sikap seorang BILAL terhadap Rasulullah Muhammad SAW. Saya hanya seorang bodoh yang sedang dalam masa bimbingan seorang Arif Billah.

Bersambung…

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: