Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2011

Malam Penuh Kemulian dan Rahmat ini, hanya diperkenankan bagi yang mempunyai tugas dari Tuhan akibat ia telah bersepakat dalam hidupnya untuk Allah. Yaitu menjadi wali-Nya, menjadi perantara Kalam-Nya, Ya menjadi…

Apa saja yang sudah kalian sepakati bersama Allah. Malaikat turun membawa pesan bagi yang berhak dalam tugasnya. Ia tidak mungkin melepaskan amanah yg dibawanya dari Tuhannya, Ia akan mencari hamba2 Allah yg terpilih, yang ingin meneruskan perjuangan Nabi-Nya.

Malaikat sebagai utusan yang amanah, TIDAK akan memberikan pesan2 dari Tuhannya kepada orang-orang yang HANYA punya tujuan MENCARI URUSAN PRIBADI atau DUNIAWI.

Maka puasamu akan menjadi sarana memudahkan ruhanimu untuk menangkap Malam Penuh Kemuliaan dan Ramat tersebut. Jangan kalian sia-siakan dudukmu yang TIDAK mempunyai Tujuan. Kalau kalian paham, maka segeralah berjalan, temui sang utusan untuk menanyakan pesan Apa yang telah dibawanya dari Tuhanku.

Kalian harus berusaha mampu menemuinya, yaitu redamlah PENGIKAT HAWA NAFSU ini, agar kalian secepat kilat pergi meninggalkan alam ini.

“Laula syayathina yahumuna ‘ala qulubi bani adam, lanadharuu ‘ala malakutissama…, Kalaulah syaitan-syaitan itu tidak berkerumun dihati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang kealam ghaib, alam malakut…’, (HR Ahmad dari Abu Hurairah R.a)

(Abu sangkan).

Read Full Post »

Malam Penuh Rahmat…

Pesan Abu Sangkan untuk Sahabat Little Madinah…

Coba rasakan sabda Nabi : ightanimuu dua’ ‘inda riqqati ,
fainnaha rahmat, segeralah berdoa disaat hati sedang hening, krn itu adalah rahmat sedang turun.

Akhirnya, malam ini dengan jelas…
subhanallah,
laailaha illa Allah,
Allahu Akbar,

Mengapa ada takbiran, mengapa harus mengatakan walau karihal kafirun, walaukarihal musyrikuun, walau karihal munafiquun.

Diturunkan malam ini, Allah-mu sama dengan Allah-nya Rasulullah, Allahnya Nabi Isa, Allahnya para nabi dan auliya’. Yang pernah menolong rasulullah di goa tsur, menolong perang badar, menolong para nabi dan Auliya’.

Bersikaplah sebagaimana mereka bersikap berketuhanan.

Allah-ku Maha Mendengar dan Maha menolong, Allah-ku yang
menciptakan alam semesta, Allah-ku sama dengan Allah-nya Muhammad saw. Allah-ku Maha Kaya mengapa takut miskin, Allah Maha Mendengar mengapa takut berdoa, Allah-ku Hidup mengapa tidak percaya .Allah-ku terbukti menciptakan alam semesta mengapa tidak total berbakti.

Insya Allah inilah pelajaran akhir ramadhan untuk bekal kedepan menjelang ramadhan akan datang. Kalau benar itu dari Allah, kalau salah itu berasal dari iblis mengiringi hawa nafsuku.

Kutulis, tepat pukul 1.50 WIB, dihalaman parkir shalat center, tinggal beberapa orang duduk beralas karpet, subhanllah, turun daya cukup kuat, dan kutatap langit tak berawan, tampak terang yupiter lebih menyala dari bintang lainnya. Sejuk udara malam terasa menembus jiwa diiringi keheningan rasa, lalu aku instruksikan kepada sahabat:

“ightanimuu du’a, inda riqqati fainnaha rahmat, segeralah berdoa ketika hatimu terasa hening, sesungguhnya rahmat sedang turun”.

Pada saat itulah, perubahan rasa merasuk jiwa menguasai tanpa kuasa. Aku biarkan keadaan itu sambil kupelajari apa gerangan yang turun, subhanllah, cukup sederhana:

“Allahmu sama dengan Allahnya Muhammad. Yang pernah menolong di Gua Tsur, subhanallah.

Allahmu sama dengan Allah nabi Isa, Ia maha mendengar, ia maha kuasa, ia maha hidup, Ia maha menguasai alam semesta.

Allahku sama dengan Allahnya Muhammad saw. Allahku sama dengan Allahnya para Auliya’ “.

Mudah-mudahan seluruh sahabat memahami makna yang terdalam, bukan sebagai wacana. Tetapi bersikaplah seperti para Auliya dan Nabi yang memiliki keyakinan sangat kuat, wa’bud rabbaka hatta ya’tiyaka al yaqin.

Abu Sangkan

Read Full Post »

KHOTBAH DI KAKI BUKIT

Bahan Khotbah Idul Fitri di Bukitinggi, Sumatera Barat
Lebaran Tahun 2011, 1432H.

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Tak terasa, sebulan penuh puasa ramadhan telah kita lalui. Hari ini kita berada dipenghujung bulan yang sungguh sangat istimewa. Bulan yang didalamnya penuh dengan ampunan, rahmat, dan berkah dari Allah atas segala amalan-amalan wajib dan sunnah yang kita lakukan. Selama ramadhan, kita seperti diberikan kesempatan oleh Allah untuk berlomba-lomba memperbanyak infaq, sedekah, zakat mal, zakat fitrah, tarawih, tadarus dan sunah-sunah lainnya.

Bahkan saking sayangnya Allah kepada kita, di sepertiga akhir bulan Ramadhan, Allah juga telah menyiapkan sebuah malam yang penuh dengan manfaat dan keselamatan untuk orang-orang yang beriman yang sedang berpuasa. Malam yang suasana dan keadaannya melebihi manfaat beribadah seribu bulan lamanya. Itulah malam Lailatul Qadar yang menggetarkan dan mempesonakan bagi siapapun yang pernah dibawa masuk oleh Allah untuk merasakan keindahan suasana dan keadaannya.

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Hari ini, ribuan khatib diseluruh pelosok dunia berkhotbah tentang hari kemenangan bagi umat islam. Takbir, tahmid, tahlil dikumandangkan oleh jutaan orang, seakan-akan kita ingin meluapkan kegembiraan kita bahwa hari ini kita telah mencapai kemenangan dalam sebuah perjuangan keras untuk kembali menuju ke kefitrahan kita. Idul fitri. Hari-hari dimana kita berharap kita berhasil kembali menemukan kefitrahan kita. Seakan-akan selama sebelas bulan sebelumnya kefitrahan kita itu telah hilang, atau paling tidak berkurang dari yang seharusnya. Kita berharap bahwa kita semua bisa kembali suci dan bersih seperti bayi. Kita mengatakan bahwa kita hari ini telah kembali bersih dan suci dari dosa dan maksiat seperti bayi yang baru dilahirkan.

Namun sungguh sayang sekali, bahwa banyak umat islam yang memaknai Idul Firti ini hanya sekedar kita kembali bisa melampiaskan pemenuhan segala rasa dahaga, lapar, dan larangan-larangan yang tidak boleh kita kerjakan selama bulan puasa. Sekarang kita kembali bisa melakukan apa saja. Kita siapkan makanan dan minuman selengkap dan selezat mungkin. Kita siapkan pakaian terindah bak pengantin baru. Kita seperti berada dalam suasana pestapora sehabis masa-masa penderitaan kita selama sebulan penuh berpuasa.

Kita seperti tidak sadar bahwa dengan bertindak seperti itu, sebenarnya Hawa Nafsu kita sedang berteriak kegirangan.

“Saya bebas…, saya merdeka…, saya bisa melakukan apa saja setelah sebulan penuh saya dikurung tidak boleh ini dan itu”, hawa nafsu kita bersorak kegembiraan.

Entah disengaja atau tidak, kita kembali memanjakan hawa nafsu kita. Kita elu-elukan dan sambut kedatangan dan kembalinya hawa nafsu kita dengan makanan, minuman terlezat, dan pakaian yang terbaik. Kita kembali meminta hawa nafsu kita untuk menjadi raja atas diri kita. Sehingga besok-besoknya kita dengan terheran-heran telah melihat betapa kita kembali berada dalam ketidakberdayaan menghadapi dorongan hawa nafsu kita itu.

Allahu akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar… Walillahilhamd…

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Hari ini khatib akan mencoba merangkai makna tentang kenapa kita seperti dipaksa Allah untuk berpuasa sebulan penuh. Dan puasa yang seperti apa yang dikatakan puasa yang berbuah KEFITRAHAN…

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (al Baqarah 2: 183).

KUTIBA ‘alaikummush shiyam…, Ku-paksa kalian dengan tegas untuk berpuasa”, kata Allah. Sebuah kalimat pemaksaan yang sangat kuat sebenarnya. Namun begitu, siapapun sebenarnya tidak usah khawatir. Karena paksaan itu hanya tertuju kepada orang-orang yang beriman saja dengan harapan agar orang beriman itu bisa menjadi lebih bertaqwa.

Kenapa?. Sebab puasa bagi orang yang TIDAK beriman pengaruhnya hanyalah sekedar mendapatkan suasana lapar dan haus saja (pengaruh ketubuhan). Tidak lebih. Sedang bagi orang beriman puasa itu punya pengaruh ketubuhan sekaligus juga pengaruh dalam dimensi rohani, yaitu ketaqwaan. Bahkan bagi orang yang beriman sekalipun, taqwa yang akan dia dapatkan itu juga baru sebatas harapan saja.

Sebab proses dari beriman, berpuasa, lalu bertaqwa itu haruslah dikatakan berhasil kalau ada wujudnya yang nyata. Kalau wujud taqwa itu tidak muncul dalam keseharian kita, maka boleh jadi saat itu kita belum termasuk kedalam kelompok orang-orang yang beriman. Mungkin kita baru sebatas orang islam saja seperti seorang badwi yang pernah mengaku beriman kepada Allah dihadapan Rasulullah, lalu Allah sendiri yang membantah pernyaan orang badwi itu:

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al Hujuraat 49: 14)

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Jadi disini ada hubungan yang sangat kuat antara IMAN…, PUASA…, dan TAQWA.

Marilah kita lihat persyaratan tentang siapa yang dipaksa oleh Allah untuk berpuasa itu. Yaitu untuk orang-orang yang BERIMAN saja.

Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang SUDAH SELESAI dari memperbincangan, mendiskusikan, membahas, dan mendefinisikan, apalagi dari pertengkaran dan perebutan tentang Allah, Malaikat, Nabi dan Rasul, Kitab-kitab Allah, Hari Kiamat, dan Qada-Qadar. Semua itu sudah tidak perlu dibahas panjang lebar lagi (kecuali untuk meningkatkan keyakinan kita). Tapi dalam tahapan ini, kita sudah berada pada tahapan yakin betul, Haqqul yakin. Orang beriman hanya akan berkata Ya…!. Orang beriman sudah selesai membicarakan semua itu dikeramaian kata-kata dan buku. Karena KENYATAAN IMAN itu TIDAK akan bisa kita temukan didalam kitab. Iman itu adanya didalam DADA kita. Sedangkan kitab, termasuk Al Qur’an sekalipun, hanya menyatakan ciri-ciri dan aktifitas dari orang yang beriman itu. Ciri-ciri orang beriman itu adalah:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (ni`mat) yang mulia. (QS al Anfaal 8: 2-4)

Ternyata iman itu bukanlah hanya sebatas kata-kata, atau definisi-definisi, atau pengakuan-pengakuan tentang telah berimannya kita. Bukan. Akan tetapi iman itu adalah suasana jiwa kita dihadapan Allah. Saat kita menyebut nama Allah dada kita bergetar, kulit kita merinding, mata kita menangis, tubuh kita tersungkur dan tersujud. Hal ini akan sangat berbeda dengan ketika memanggil nama benda, seperti pisang, nasi, sendok atau piring. Kalau sama saja keadaan jiwa dan tubuh kita saat menyebut nama Allah dengan saat menyebut nama benda-benda itu, maka sudah sepantasnya kita mulai mempertanyakan keimanan kita kepada Allah.

Kenapa harus berbeda?. Jawabannya adalah bahwa ketika kita bersedia memanggil nama Allah dengan tadarru’an wa khifatan wa dunaljahri, penuh kerendahan hati, penuh hormat, sambil berbisik lembut, maka Allah akan menjawabnya dengan menurunkan Cahaya-Nya kedalam dada kita sehingga dengan seketika kita akan bisa menerima Islam dengan utuh dan penuh.

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 205)

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 22-23)

Allah mengumpamakan cara-Nya menerangi hati manusia itu dengan memberi cahaya kedalam CERUK MISYKAT (yang ternyata itu adalah perumpaan hati kita) didalam surat An Nuur sebagai berikut:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An Nuur 35).

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Begitulah cara Allah menurunkan rasa iman dan islam kedalam dada kita menurut Al Qur’an. Hasil selanjutnya adalah dada kita akan dipenuhi rasa bahagia untuk melakukan perintah-perintah agama. Dada kita BUKAN lagi dada yang hambar. Ya…, dada kita BERUBAH menjadi dada yang penuh rasa senang, bahagia, dan tenang ketika kita melakukan berbagai perintah agama. Perubahan itu seketika dan nyata. Bukan hanya mimpi-mimpi tentang bahagia dan senang, seperti hasil dari menonton acara TV Opera Van J….!. Tapi bahagia dan senang sungguhan yang bisa bertahan lama.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya… (Al Mukminuun 1-5)

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Al Mukminuun 8-11)

Kepada orang-orang yang SUDAH mengalami PROSES BERIMAN seperti inilah Allah memaksa mereka agar mau berpuasa. Sebab Allah akan segera memberikan tuntunan-Nya kepada para Sang Beriman itu disetiap saat. Allah akan memfasilitasi dan menuntun mereka agar bisa berperilaku dan bertindak dalam KETAQWAAN seperti bertaqwanya Nabi-nabi, Rasul-rasul dan orang-orang shaleh terdahulu. Sebab TAQWA bukanlah dimensi kata-kata, bukan dimensi pemaksaan diri. Taqwa bukanlah berasal dari aktifitas otak dan proses berfikir. Tapi taqwa adalah sebuah proses rohani, proses ILHAMI. Karena dia berada dalam dimensi rohani

Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy Syams 7-10).

Allahu akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar… Walillahilhamd…

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Inilah kunci taqwa yang sudah lama dilupakan oleh umat islam, yaitu melakukan tindakan taqwa yang disebabkan oleh karena adanya ILHAM TAQWA dari Allah. Allah sendirilah yang MENGILHAMKAN kepada kita agar kita bersedia berbuat baik. Ilham inilah yang membuat kita tidak merasa capek dan lelah dalam melakukan perbuatan baik itu. Ilham ini pulalah yang menyebabkan dada kita dialiri oleh rasa senang dan bahagia saat kita melakukannya. Sehingga secara otomatis kita akan terhindar dari perbuatan buruk dan jahat (kefujuran).

Ilham kebaikan (ketaqwaan) ini hanya akan bisa ditangkap oleh orang-orang yang bersedia melakukan proses TADZKIYATUNNAFS, proses penyucian jiwa. Sebab ilham tentang ketaqwaan itu hanya akan bisa ditangkap oleh dada yang sudah lembut dan hidup. Ilham ketaqwaan itu tidak akan pernah bisa ditangkap oleh dada yang keras membatu dan mati. Karena dada yang keras, membatu, dan mati, hanya akan bisa menangkap ILHAM tentang KEFUJURAN (keburukan).

Kalau begitu, kenapa sekarang ini kita cenderung lebih mudah untuk melakukan keburukan dan kejahatan dari pada untuk melakukan kebaikan?.

Salah satu jawaban yang sangat sederhana adalah bahwa saat RUH kita ingin DATANG MENGHADAP kepada Allah, INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI RAJI’UUN, hawa nafsu kita menahan gerakan RUH kita itu. Hawa nafsu kita menjadi beban yang sangat berat menahan gerakan naiknya RUH kita pulang menghadap ke Allah.

Saat shalat, misalnya, RUH kita ingin menghadap kepada Allah, tapi hawa nafsu kita menahan gerakan RUH kita, sehingga RUH kita nyangkut dipikiran kita, RUH kita tertahan di perut kita, RUH kita dipegang oleh syahwat kita. Hawa nafsu kita seakan akan memerintahkan kita agar segala keinginannya dipenuhi terlebih dahulu. Tapi begitu kita penuhi yang satu, maka datang keinginannya yang lain. Seakan-akan keinginan hawa nafsu kita itu tidak ada henti-hentinya. Tahu-tahu kita sudah selesai saja shalatnya. Jadilah kita sedikit sekali mengingat Allah didalam shalat kita. Itu shalat orang munafik kata Allah didalam Al Qur’an. Shalat orang-orang yang suka MENIPU ALLAH.

Sesungguhnya orang-orang MUNAFIK itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka BERDIRI DENGAN MALAS. Mereka bermaksud RIYA di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka INGAT KEPADA ALLAH kecuali hanya SEDIKIT SEKALI. (An Nisaa 142).

Makanya Allah melarang kita shalat saat kita MALAS, saat kita TIDAK SADAR (seperti orang mabuk) kepada kepada Allah:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, … (An Nisaa’ 43)

Karena kita menipu Allah, maka Allah balik menipu kita. Dan tipuan Allah itu sangatlah keras dan dahsyat. Dengan terheran-heran kita melihat bahwa bekas-bekas shalat itu tidak ada didalam dada kita. Cahaya shalat tidak tercermin didalam perilaku kita. Saat kita berkiprah sehari-hari kita dibuat Allah menjadi tukang tipu terhadap sesama kita. Kita sekarang ini benar-benar melihat PESTA TIPU MENIPU ditengah-tengah kehidupan berbangsa, bernegara, dan bergama dinegara kita. Banyak wakil rakyat yang menipu rakyat yang diwakilinya. Banyak aparat pemerintahan dan penegak hukum yang menipu rakyat yang diperintah dan diayominya. Banyak pedagang yang menipu para pembelinya. Bahkan banyak ahli agama yang menipu umatnya. Banyak guru yang menipu muridnya ketika UAN dilaksanakan. Banyak atasan yang menipu bawahannya. Ataupun sebaliknya sama saja.

Hampir semuanya berjuang untuk memenuhi kebutuhan HAWA NAFSUNYA sendiri-sendiri. Bukan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah wakil Allah dimuka bumi ini. Padahal mereka sering memulai aktifitasnya dengan membaca BISMILAH: atas nama Allah, mewakili Allah. Akan tetapi sebenarnya semuanya beraktifitas untuk mewakili hawa nafsunya sendiri.

Dampak lain lain dari sedikitnya kita ingat kepada Allah adalah, saat kita sedang tidak ingat kepada Allah, maka Allah seketika itu juga mengirimkan syaitan kedalam hati kita sebagai teman akrab kita (Qarin). Dengan izin Allah, syaitan itulah yang mengilhamkan kepada kita untuk berbuat jahat…, jahat…, dan jahat. FUJUR.

Barangsiapa yang berpaling dari ingat kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruf 36).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar…” (An Nuur 21).

“Kalaulah syaitan-syaitan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang kealam ghaib”,(HR Ahmad dari Abu Hurairah R.a).

Akhirnya kita semua menjadi BINGUNG DAN GALAU. Entah bagaimana lagi caranya agar kita bisa keluar dari badai permasalahan berbangsa, bernegara, dan beragama kita saat ini. Mau dimulai dari mana kita merubah permasalah bangsa ini yang benar-benar sudah sangat kompleks. Kalaulah tidak ada rahmat Allah turun kepada kita, mungkin bangsa kita ini sudah hancur bercerai berai dari sejak dulu.

Allahu akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar… Walillahilhamd…

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Ditengah rasa bingung dan galau itu, Allah didalam al Qur’an seakan-akan selalu berkata: puasalah…, puasalah wahai hambaku yang beriman. Keruwetan permasalahan seperti ini juga terjadi pada umat-umat terdahulu. Dan begitu mereka berpuasa, maka mereka seperti menemukan kembali kesejatian (kefitrahan), kesucian diri mereka. Dan dengan berpuasa itu, ternyata mereka juga menjadi lebih mudah untuk menangkap ILHAM kebaikan (ketaqwaan) yang Aku turunkan kedalam dada mereka.

Kenapa bisa…?.

Inilah rahasia puasa yang tidak pernah diperhatikan oleh umat islam selama ini. Bahwa Allah sendiri telah menciptakan mekanisme yang sangat hebat didalam tubuh kita saat kita berpuasa. Ketika kita INGAT dan SADAR bahwa kita sedang berpuasa, hampir secara otomatis dorongan nafsu syahwat kita dibuat lemah oleh Allah; kekuatan nafsu makan dan minum kita dikecilkan oleh Allah; rasa ingin berbuat JAHAT (FUJUR) kita diambil oleh Allah; pikiran-pikiran kotor kita ditahan oleh Allah agar tidak muncul; keinginan kita untuk ribut dan berkelahi juga dihilangkan oleh Allah.

Subhanallah…, keadaan jiwa seperti ini kan benar-benar persis dengan keadaan kemurnian jiwa seorang bayi yang baru lahir. Jiwa yang tidak rumit, jiwa yang lapang, jiwa yang tidak punya beban, jiwa yang membuat sang bayi mudah sekali tertidur lelap. Jiwa yang terpisah dari diri kita yang terbuat dari tanah yang punya kecenderungan kepada tanah pula. Tanah yang selama ini menarik-narik jiwa kita agar ikut keinginan fitrah ketanahan itu.

Dengan berpuasa, ternyata Allah ingin mengembalikan keadaan jiwa kita kepada kesucian dan kemurnian jiwa seorang bayi selama sebulan penuh. Dengan begitu…, RUH (Jiwa) kita dengan mudah bisa naik membubung tinggi kembali kehadapan Allah Yang Maha Luas. Ruh kita seperti tidak ada lagi yang membenaninya. Ruh kita bisa kembali memasuki dimensi alam malakut, alam ghaib. Keadaan saat itu sama persis dengan keadaan kita menjelang tidur, lalu lenyap tertidur dan bermimpi.

Dengan tetap mengingat Allah (bukan tidur dalam keadaan tidak sadar) pada posisi seperti ini, maka kita benar-benar akan bisa menyadari bahwa kita yang sejatinya ternyata adalah RUH milik Allah, yang selalu cenderung ingin kembali menghadap kepada Allah. Ruh yang selalu ingin pulang ke Allah. Dimana selama ini keinginan pulangnya ruh kita ke Allah itu telah ditahan oleh hawa nafsu kita. Hawa nafsu kita menggandoli ruh kita ketika dia ingin pulang ke Allah.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Az Zumar 42).

Ternyata, keadaan jiwa yang seperti jiwa bayi ini juga SANGAT MEMPERMUDAH kita untuk selalu ingat dan sadar kepada Allah didalam shalat kita. Saat shalat, RUH kita dengan mudah meluncur bebas menghadap kepada Allah karena Sang RUH sudah tidak dibebani apa-apa lagi.

Pantas saja Nabi mengatakan bahwa saat-saat menjelang berbuka puasa adalah saat-saat do’a kita lebih mudah untuk dikabulkan oleh Allah. Karena saat itulah perjuangan kita semakin berat. Karena didepan mata kita sudah tersaji berbagai hidangan lezat yang nyaris saja membuat RUH kita kembali berada dibawah kekuasaan HAWA NAFSU kita. Tapi kalau kita berhasil tetap mempertahankan RUH kita membubung tinggi di saat-saat berbuka puasa itu, dengan cara hanya menyiapkan buka puasa dengan seteguk air dan tiga butir korma, maka rasanya sungguh lain. Ruh kita seakan-akan tidak mau lepas dari Allah. Karena saat semua makanan dan minuman lezat sudah boleh kita makan, tapi kita tetap tidak menuruti kehendak hawa nafsu kita. Rasanya kita benar-benar lepas dari cengkraman hawa nafsu kita yang sangat kuat mempermainkan kita diluar bulan puasa.

Dengan begitu sangatlah mudah pula kita memahami makna hadist yang mengatakan bahwa selama bulan puasa iblis dan syaitan dibelenggu oleh Allah sehingga kita bisa bebas dari was-was mereka selama bulan puasa itu. Itu tak lain adalah karena dengan kualitas puasa kita yang sesuai dengan manual yang diberikan oleh Allah, maka seluruh media yang selama ini dipakai oleh iblis untuk menghasut kita telah dibuat lemah (nyaris tidak berfungsi) oleh Allah sendiri. Sehingga iblis kehilangan kendaraan atau alatnya untuk menghembus-hembuskan kesesatan kepada kita. Jadi sederhana saja sebenarnya.

Subhanallah…

Allahu akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar… Walillahilhamd…

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Semua proses seperti itu diciptakan Allah bukanlah dengan tidak ada maksud-maksud tertentu. Ada sebuah maksud besar, terlalu besar malah, yang sedang disiapkan Allah dengan mengembalikan jiwa kita sejenak kedalam suasana kefitrahan jiwa seorang bayi. Karena pada suatu malam dibulan puasa itu, Allah akan menurunkan MALAIKAT dan RUHU FIHA…, untuk mengantarkan pesan-pesan suci dari Allah buat orang-orang yang bersedia memanggul amanah dari Allah… Buat orang-orang yang sedang bersiap-siap menunggu perintah Allah atas sesuatu pekerjaan yang besar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (AlQadr 1-5)

Kedatangan Malaikat dan Ruhu-fiha hanya bisa ditangkap oleh dimensi RUH kita pula. Makanya akan sangat NAIF kalau kita yang mencoba mencari-cari Malam LAILATUL QADAR itu dalam dimensi alam kebendaan. Begitu juga tidak akan didapatkan oleh orang-orang yang ujug-ujug duduk diam menunggu tanpa alasan dan tanpa tujuan yang jelas. Tujuan sebagai perwujudan tugas kita sebagai khalifatullah.

Ternyata lailatul qadar adalah sebuah malam yang dimensinya adalah alam Ruh. Hanya ar Ruh lah yang mampu melihat para malaikat, hanya ar Ruh pulalah yang mampu melihat alam ruhani. Pantas saja kita selama ini tidak mampu mendapatkan pengalaman-pengalaman malam seribu bulan ini. Karena kita selama ini ternyata ingin menyaksikannya dengan memakai mata, telinga dan rasa kita. Kita telah memakai alat yang salah untuk menyaksikan keluarbiasaan lailatul qadar itu.

Saat Allah berkenan, sekali lagi berkenan, mempertemukan kita dengan Malam LAILATUL QADAR, maka interaksi Malaikat dan Ruhu fiha… dengan Ruh kita akan membuat dada kita dialiri getaran halus seperti angin semilir (nasafat) tapi sangat padat…, yang membuat kita berubah seketika… Subhanallah…, subhanallah…, subhananallah…

Dan selanjutnya kita tinggal melaksanakan tugas dari Allah yang diantarkan oleh para malaikat kepada kita itu untuk satu tahun kedepan.

Allahu akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar… Walillahilhamd…

Hadirin sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah..

Puasa yang berbuah adalah puasa yang mampu membangkitkan kesadaran kita untuk memisahkan keberadaan kita dengan diri kita. Sebab kita semata-mata adalah semurni-murninya Ar ruh. Sedangkan diri kita sendiri tak lain dan tak bukan hanyalah saripati tanah yang sudah dibentuk dengan sangat sempurna oleh Allah untuk kita pakai dalam menjalankan segala atribut kekhalifahan kita dimuka bumi ini.

Kalau sudah begini, maka saat itu sebenarnya kita telah berada di alam ruhani yang mampu pandang memandang dengan Allah, bisa saling mendoakan dengan Nabi-nabi dan hamba-hamba Tuhan yang shaleh. ALAM TAHIYYAT… Sehingga kitapun berhak untuk menyatakan kesaksian kita kepada Allah dan Rasulullah, SYAHADAH…

Lalu dengan penuh kegembiraan, kita bersama-sama dengan para malaikat bisa turun kembali kebumi, kealam saripati tanah, kealam diri kita sendiri untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas pokok kita dimuka bumi ini. Yaitu untuk memakmurkan bumi dan segala isinya, serta untuk membentuk peradaban kita sendiri dengan sebaik-baiknya.

Demikianlah khutbah Idul fitri yang bisa khatib sampaikan. Melalui shibgahtullah yang sangat hebat selama sebulan penuh, mudah-mudahan kita semua bisa keluar dipenghujung bulan ramadhan ini menjadi jiwa-jiwa yang fitrah. Jiwa yang selalu ingin dekat dengan Allah. Jiwa yang dari kedekatan dengan Allah itu siap pula untuk berkarya menunaikan tugas-tugas yang akan diberikan oleh Allah kepada kita masing-masing.

Semua tugas itupun bisa kita lakukan dengan rasa bahagia yang amat sangat, karena kita sudah dibekali pula oleh Allah dengan modal dasar yang sangat melimpah. Ada keselamatan, ada rahmat, ada berkat dari Allah untuk kita tebarkan bagi seisi bumi dan bagi sesama.

Selamat Hari raya Idul Fitri.

Maaf lahir dan batih.

Assalamu’alaikum warah matullahi wa barakatuh…

Deka
—-

Read Full Post »

by Kamarul Bahrin on Tuesday, August 2, 2011 at 4:50pm

Kehidupan masa kecil Abu Sangkan, ternyata penuh dengan guliran air mata. Baru berumur 15 hari sebagai orok, sudah ditinggal wafat oleh ayahandanya. Lalu dirinya diasuh oleh kakeknya Abdul Wahid, yang lebih dikenal sebagai pendekar sekaligus tokoh agama yang cukup disegani masyarakat di Banyuwangi. Lingkungan keluarga yang religius ini, memang sudah turun temurun sejak eyang buyutnya Mbah Mas Mohammad Shaleh – sang pendiri Masjid Jami’ Baiturraman Banyuwangi Kota.

Bahkan eyangnya Kyai Mas Sulaiman memiliki sebuah pesantren, yang kental dengan tradisi salafiyah syafi’iyah. Kelak pemikiran model salafiyah inilah, yang banyak mempengaruhi sikap hidupnya. “Sewaktu kecil, saya dilarang oleh kakek untuk bersiul, adu jago dan nonton tari janger. Bahkan kalau bunyi gamelannya terdengar sampai ke rumah, telinga saya langsung disumpel kapas,” tuturnya mengenang masa silam kanaknya. “Kalau sampai mendengar bunyi-bunyian itu, kata nenek nanti di akhirat kuping saya akan dicor dengan besi panas. Mendengar itu saya langsung tidur,” tambahnya sambil tertawa lirih.

Sayangnya, keceriaan masa balita itupun keburu lenyap dari kehidupannya. Sewaktu dirinya masuk ke SD Al-Irsyad, kakeknya pulang ke rahmatullah. Kesepian pun tiba-tiba saja bergelayut di pelupuk matanya; hidup serasa tak punya siapa-siapa lagi. Karena selama ini sentuhan kasih sayang yang paling dirasakannya, adalah dari kakek tercintanya. “Beliau adalah idola saya. Cita-cita saya waktu itu adalah ingin seperti kakek. Oleh karenanya saya sering disuwuk, agar kalau besar nanti bisa jadi pendekar dan kyai seperti kakek,” ungkapnya bernada pedih. “Keempat saudara saya juga meninggal semua sewaktu masih kecil-kecil, sehingga saya menjadi anak tunggal,” tambahnya.

Ketika beranjak meremaja, pria kelahiran 8 Mei 1965 di desa Alasbuluh kecamatan Wongsorejo – 25 km sebelah utara Banyuwangi – ini sudah terbiasa hidup mandiri. Kegemarannya waktu itu, adalah memperdalam ilmu keagamaan. Itulah sebabnya dia lantas masuk ke pondok pesantren Al-Ihya’ Bogor asuhan KH. Mohammad Husni Thamrin dan KH. Abdullah bin Nuh. “Beliau berdualah yang banyak membimbing saya untuk memperdalam agama,” tukasnya singkat.

Lalu putra pasangan Mohammad Abdush Shamad dan Hj. Sayu Shalihah ini, melanjutkan studinya ke Fak. Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah jurusan Aqidah dan Filsafat. Di saat itulah dirinya mengalami kekurangan ekonomi untuk bisa tetap hidup di Jakarta. Untungnya, sejak keluar dari sekolah Perkebunan (SpbMA) Abu Sangkan sudah terbiasa mandiri secara ekonomi. Dia lantas memutuskan untuk segera mencari kerja, dan diterima di PT Des Art – milik keluarga Titik Puspa – sebagai designer lansekaping. “Setelah tiga tahun di sana, lalu saya keluar dan mengelola perusahaan sendiri di bidang kontraktor dan sebagai eksportir ikan hias,” jelasnya.

Ketika kuliah di IAIN, anak bungsu dari lima bersaudara ini justru meninggalkan dunia dakwahnya. Padahal semasih mondok, begitu getol dunia itu digelutinya. Sebab waktu itu dirinya banyak terlibat dengan aktivitas di berbagai organisasi keislaman. Bahkan pernah juga dia menjadi anggota Ikhwanul Muslimin dan Darul Arqam. “Saya merasa ada yang hilang dari jiwa saya. Jiwa saya telah mengering. Pelajaran agama yang saya dapatkan, juga tak bisa berbuat banyak untuk meredam gejolak jiwa,” keluhnya. “Lalu saya kembali mendalami olah spiritual, yang telah saya dapatkan dari paman guru saya di Banyuwangi,” simpulnya.

Sejak itulah hampir seluruh malamnya dihabiskan untuk berdzikir dan shalat sunnah. Bahkan menjelang pagi pun, dirinya kerap masih tampak duduk diam berdzikir. “Kalau sudah duduk seperti ini, saya merasakan sebuah ketenangan yang tiadatara. Bahkan kondisi tenang ini terbawa sampai ketika saya mengurus pekerjaan di lapangan,” akunya. “Bagi saya, agama itu merupakan persoalan pribadi dengan Allah SWT. Sehingga yang saya perjuangkan justru bukan dakwahnya, melainkan bagaimana saya menjadi orang yang sabar dalam menjalankan agamaNya,” katanya menambahkan.

Itulah yang membuatnya tak merasa terbebani dengan persoalan cita-cita dakwah. Sebab yang ingin selalu dilakukannya, adalah bagaimana senantiasa dekat dengan Allah. Di sisi lain, bagaimana mencari nafkah keluarga serta mengelola zakat penghasilan pribadi untuk para fakir miskin. “Saya rasa ini secara otomatis sudah bermakna sebagai dakwah bil hal. Jadi.. ya tak merasa beban lagi sebagaimana sewaktu saya jadi penceramah,” ujarnya.

Ketenangan semacam itulah, yang membuat dirinya berani menghadapi segala tantangan. Sebab segala apa yang terjadi, hal itu telah diizinkan oleh Allah. Dan dari setiap peristiwa yang terjadi, pasti terdapat hikmah yang sangat luar biasa. Peristiwa itulah yang menggerakkan kehidupan. “Semisal ada kecelakaan. Bagi si korban, tentu pasti menderita. Namun bersamaan dengan itu, banyak orang yang mendapatkan rezki darinya. Seperti dokter, polisi, suster rumah sakit, satpam, tukang parkir dan lain-lainnya,” katanya mencontohkan.

Dari perjalanan panjang pencarian diri itulah, akhirnya Abu Sangkan menemukan metode untuk melakukan shalat khusyu’. Lalu hal itu diterapkannya di rumah bersama keluarga. Setelah banyak teman-teman dari pengajian kecil yang mendengarnya, lalu mereka bersama-sama ingin shalat berjamaah bersamanya. Dan tak terasa jumlah mereka kian hari makin bertambah banyak.

Menjelang tahun 2000, ada yang menuliskannya di milis islam net. Sejak itulah dirinya diminta untuk menuliskan setiap pengalamannya. Dari kumpulan artikel itulah lalu disunting menjadi sebuah buku yang berjudul “Pelatihan Shalat Khusyu’”. Dan dari buku itulah nama Abu Sangkan berkibar menjadi sebuah fenomena, tak hanya di Indonesia namun pula sampai ke negeri tetangga. “Tapi tolong jangan salah paham, ini bukan hasil penemuan saya. Ini hanyalah merupakan dorongan kegelisahan dari seorang santri yang merasa malu dengan dirinya sendiri,” tukasnya bersahaja.

Namun ungkapan itu serius. Sebab selama ini, masih ada saja orang yang salah paham terhadapnya. Mereka mengira, bahwa dirinya telah membuat suatu ajaran baru tentang shalat. “Padahal saya mengajarkannya tanpa pernah mengubah syari’at yang telah ditetapkan,” tegasnya. “Makanya jika ada yang dianggap masih kurang sesuai dengan ajaran Nabi, tolong diperbaiki dan jangan langsung memusuhi. Berilah saya ilmu untuk menutupi kekurangan tersebut, sehingga tiada lagi kesalahan di kemudian hari,” pintanya berendah hati.

Yang pasti, dengan shalat khusyu’ itulah dirinya menjadi lebih mengerti; bahwa ternyata ilmu yang telah diperolehnya selama mengaji tak menjamin bisa menjadi penyejuk hati. Semua itu merupakan pemberian Allah semata, yang diturunkan ke dalam hati hambaNya. Sehingga ketika seseorang meyakini adanya Allah dan hanya kepadaNya dirinya bergantung, maka otomatis rasa khusyu’ itu akan muncul dengan sendirinya. “Maka hatipun menjadi lunak lantaran getaran dzikir kepadaNya. Setiap dari bacaan shalat, sungguh akan senantiasa mempengaruhi hati sehingga menjadi terharu dan menagis,” terangnya.

Dengan melakukan gerakan shalat secara perlahan dan memahami bacaan yang disampaikan kepada Allah, paparnya, maka ketenangan akan muncul dalam hati seseorang. Oleh karenanya dia menyarankan, agar paradigma shalat sebagai kewajiban diubah menjadi sebuah kebutuhan. “Sebab kalau sudah merasa tidak butuh, meskipun dia ahli di bidang agama ya tetap saja tak akan mendapatkan getaran shalat yang nikmat,” jelasnya.

Itulah pasalnya, dalam setiap pertemuan dirinya selalu memulai dari sisi manfaat gerakan rukuk dan sujud. Ketika kita melakukan ruku’ dengan sempurna, maka punggung akan lurus sehingga otot tendon di betis dengan sendirinya akan mengendor. Begitupun saat sedang sujud, maka mengalirlah darah hingga mencapai ke otak. Sehingga oksigen yang dibutuhkan sebanyak 20 persen bisa tercapai. “Dengan begitu mereka akan merasa butuh shalat. Terutama untuk ketenangan hati dan mengatasi rasa stress,” tuturnya sambil mengulum senyum.

Menurut Ustadz Abu – demikian dirinya kerap dipanggil, lewat shalatlah seorang hamba bisa berkomunikasi denganNya. Shalat itu merupakan jalan terpendek menuju Allah. Sebab shalat merupakan perjumpaan dengan Allah Yang Maha perkasa. “Saya telah membuktikan, bahwa shalat itu enak dan bisa menghilangkan stress. Dan inti dari shalat khusyu’ itu, adalah penghambaan diri kepada sang Pencipta,” tuturnya. “Dengan memohon kepadaNya agar diturunkan rasa tenang ke dalam hati, insya Allah dalam beberapa menit saja hati akan bisa sambung kepada Allah. Maka hati pun rasanya damai dan penuh getaran yang menyejukkan,” katanya menambahkan.

Untuk itulah Ustadz Abu Sangkan menyarankan, agar setiap Muslim mau mengajak keluarganya untuk sama-sama menghadapkan hati ke Allah. Dengan getaran iman itulah, semuanya akan dapat mengontrol kejiwaannya masing-masing. Jika terjadi ketegangan dalam keluarga, segeralah berwudhu’ dan lakukan shalat mohon diberi ketenangan agar menjadi keluarga sakinah. “Insya Allah seketika itu pula akan terasa hasilnya,” ujarnya. “Jadi.. sebenarnya sangat sederhana. Tinggal dipraktekkan saja. Ibarat minum pil. Tak perlu berdebat terlalu ruwet. Langsung saja minum dan tinggal tunggu saja hasilnya,” tandasnya.

Sumber:http://ruangbening.wordpress.com/2010/01/24/ustadz-abu-sangkan/

diposkan ulang oleh deka…

Read Full Post »

Menangkap Kegalauan

Pagi ini (17 AGT 2011) setelah shalat subuh di As Salam…

Aku duduk menyerahkan ruhku kepada Allah Sang Pemilik ruhku itu.

Al Fatihah…

Tak lama berselang…

Tubuhku seperti melepaskan cengkaramannya terhadap ruhku.

Pikiranku dengan rela melepaskan pagutannnya terhadap fitrah ruhku.

Saat “suasana itu” muncul…, kucoba sadari Allahku…

Ruhku seperti sudah tidak sabar untuk pulang kerumahnya.

Disisi Allah…

Dipagutan Allah…

Allahku memanggil-manggil milik-Nya…

Ya Ruhi…, Irji’iii…, irji’ii…,irji’ii ila rabbiki…

Datanglah wahai ruh-Ku,

Kemarilah wahaii ruh-Ku.

Mendekatlah wahai ruh-Ku.

Ruhku lalu seperti dituntun oleh Allahku menghadap kepada-Nya.

Lalu Allahku menunjukkan kepadaku…

Kegalauan Rasulullah Muhammad SAW…

Rasa galau yang membuat Beliau menyendiri ke Gua Hiro’

Rasa galau yang membebani Beliau saat menjelang Beliau wafat.

Ummati…, Ummati…

Karena Beliau sudah diberitahu…

Bahwa umat Beliau nanti itu akan seperti buih.

Bahwa umat Beliau nanti akan terpecah belah…

Bahwa umat Beliau nanti akan saling mementingkan dirinya sendiri-sendiri…

Duhai Allah…, ummati.., ummati…

Lalu Beliau diberi Allah seorang Abu Bakar…, seorang Umar

Lalu Beliau diantarkan Allah seorang Usman…, seorang Ali…

Setarikan nafas berikutnya…

Allahku juga berkenan merasakan kepadaku…

Kegalauan Bapak Haji Slamet Utomo…

Kegalauan seorang Abu Sangkan…

Dalam galau, jiwa Beliau bergemuruh…

Duhai Allah…, sahabatku…, sahabatku…

Entah kenapa memang…

Setelah belasan tahun…

Ternyata tidak banyak murid dan sahabat Beliau yang bisa mengerti makna perjuangan Beliau.

Setiap malam Beliau membawa kegalauan Beliau itu ke Allah…

Duhai Allah…, sahabatku…, sahabatku…

Agar Allah juga berkenan mengantarkan semisal Abu Bakar…, seumpama Umar untuk Beliau.

Agar Allah juga berkehendak memberikan semisal Usman…, seumpama Ali untuk Beliau.

Beliau hanya ingin Allah mengirimi Beliau beberapa sahabat yang tagguh…

Beliau menunggu-nunggu Allah mengirimi Beliau sahabat yang sudah tidak sibuk dengan kenikmatan dirinya sendiri.

Beliau hanya butuh sahabat yang bersedia meneruskan tongkat estafet dari Rasulullah.

Estafe…

Untuk mengabarkan keindahan shalat…

Untuk menebarkan kekhusyu’an shalat…

Untuk memasyarakatkan keelokan karakter shalat…

Shalat orang-orang yang berketuhanan…

Sahabat…

Yang bukan hanya sebagai penggembira…

Yang bukan hanya sebagai penambah jumlah…

Yang bukan hanya sebagai penikmat shalat untuk dirinya sendiri…

Ditengah kegalauan itu…

Akupun dibuat Allah maklum dengan rasa galau Beliau selama ini.

Aku juga dipahamkan Allah tentang kenyinyiran Beliau kepadaku selama ini.

Akupun merasakan kegalauan itu ada didalam dadaku sendiri.

Karena ternyata para sahabatku di Cilegon juga telah banyak yang asyik dengan dirinya sendiri.

Ohh…, begitulah gerangan rasa galau Beliau dari sejak lama…

Diujung rasa galau itu.

Muncul kesukacitaanku.

Ternyata Allahku masih berkenan sekedar menegor kealpaanku dengan santun…

Bukan dengan menyiksaku…

Ternyata Allahku juga masih berkenan memberikan kesempatan bagiku untuk kembali jadi BERGUNA…

Akupun berbisik kepada Allahku, Sang Maha Dekat

Aku bergumam kepada Allahku, Sang Maha Aqrab…

“hamba paham ya Allah…”

“hamba BERSEDIA ya Allah…”

Al Fatihah…, al Fatihah…

Lalu Allahkupun seperti memerintahkan angin menggendong al fatihah ku itu untuk Beliau…

Subhanallah…

Alhamdulillah…,

Terima kasih ya Allah atas pengajaran hari ini….

Wassalam

deka..

Read Full Post »

Didadanya telah ada Al Qur’an

aslmkum pak deka?
Sy anton asal gorontalo,sy hnya ingin mncritakan pngalaman sy stelah mmbaca buku dan mmpraktekkannya,sy tlah mngalami sprti apa yg bpk jelaskn,

sy ditarik,didudukkan,ditangiskn,
sy diguncang dr dlm utk mnyebut nama allah,
sy dibikin kyk ayam yg hbs disembelih,dasyhat skali pak,saking dasyhatnya sampe2 para napi dan sipir penjara berkumpul utk mngtahui kjadian itu,

kbtulan sy lg dirutan salemba pak dlm kasus narkoba,

pd suasana zikir itu, napas sy ditahan sy gak bisa brnafas lg,
sy brpikir mngkin inilah akhir hdup sy,dlm keadaan sekarat itu sy mngucapkn innalilahi wa innailahi rojiun,

smbl menangis sy brkata,ambilah y allah semua ini adlah milikmu,

tiba2 sy diguncang dr dlm dan keluarlah nama yg mngetarkan ALLAH yg tdk bisa sy tahan dgn pekikan yg sangat keras skali.

stlah itu trjadi zikir yg brbalas,stiap sy mnybut nama allah nafas sy mmblasnya pula,dgn sengaja sy merubah suara sy dr rendah,sedang,tinggi.tp nafas sy mmblasnya dgn nada dan intonasi yg sama pula,keadaan itu brlangsung lama,stlah itu sy didudukan dan kepala sy ada getaran yg brputar,

krna trgangu dgn keadaan sy memaksakan brdiri dan duduk dikursi jdnya kyk org mabok,

kbtulan ada yg mau shalat krna sy zikirnya dimushala sy ikutan jd makmum,

bgtu sy brtakbir suara sy brgetar dan langsung senyap,

stlah selesai imam brbercerita bhwa dia kebawa dgn takbir sy,sekian dl lain wkt disambung lg,wasalam

deka on behalf of anton, as it is

Read Full Post »

Ekspresi Allah.

Umumnya dalam hidup kita, RASA TAKUT lebih mendominasi kita dari pada RASA SENANG. Rasa takut telah membuat kita berhenti berjalan dan kemudian berbalik arah menengok kembali kebelakang. Kita seperti menjadi orang yang tidak punya siapa-siapa untuk dimintai pertolongan, termasuk dari Allah sekalipun. “Aduh…, bagaimana ini?. Siapa yang bisa membantu saya?, kita membatin dengan penuh keraguan. Atau malah dengan penuh keraguan kita sering berkata di dalam hati: “Masih bersediakah gerangan Allah menolongku?”. Ungkapan-ungkapan beginikan sebenarnya adalah bentuk lain saja dari kata ateisme, walau pada saat yang sama kita mengaku sebagai orang yang bertuhankan Allah. Atau paling tidak kita menjadi ragu dengan Allah. Lalu kita menjadi terhenti dan membeku lagi dan lagi…

Ketika orang bertanya kepada kita, apakah Allahmu akan menolongmu, maka kita menjawab dengan penuh keraguan, “Gelap…, nggak tahu lah…”. Ya… kita ragu…, lalu dari ragu itu takut kitapun menyeruak. Kita merasa lepas kendali terhadap segala kenyataan hidup saat ini. Kita merasa tidak berguna. Ketakutan itu telah membuat kita menjadi terhenti, karena energinya telah mendominasi apapun yang akan kita lakukan.

Sebagai pelarian dari rasa takut ini, kita lalu tambah menggapai kesana kemari. Kita malah mencari hubungan-hubungan, kita mencari berbagai lambang dan atribut sebagai alamat atau tempat kita berpegangan. Juga kita semakin larut dalam komat-kamit do’a dan keluh kesah kepada Allah yang sebenarnya masih belum benar-benar kita percayai. Itu kita lakukan dengan harapan semua itu bisa mengalihkan kita dari ENERGI rasa takut yang tengah mendera.

Tiba-tiba saja, tanpa kita sadari, kita telah berada dalam suasana kehiruk-pikukan pemikiran. Dengan sangat bersemangat kita kemudian membuat pulau-pulau pemikiran kita tentang agama. Seribu pulau pemikiran tentang Tuhan, tentang alam-alam akhirat, tentang lam ruh, yang nota bene tidak akan pernah bisa kita pikirkanpun, dengan gagah berani kita gagas dan munculkan. Kompleks sekali.

Dan tanpa kita sadari pula, alat alih perhatian (sementara) kita itu telah menimbulkan ketakutan kita yang baru. Takut kalau-kalau kita kehilangan kendali atas alat dan atribut baru kita itu. Takut orang lain tidak seirama dengan pulau pemikiran kita. Ternyata dengan cara apapun yang telah kita lakukan, energi rasa takut itu tetap muncul, walau dengan penyebab yang berbeda.

Kalaulah kita bisa memahami dan sejenak bersedia duduk dalam suasana ayat al qur’an Al Baqarah 155-156, yaitu ketika di dalam dada kita muncul rasa takut (walau hanya sepercik sekalipun dan dengan sebab apapun juga), kitapun buru-buru bersikap kepada Allah, menghadap kepada-Nya, menyerah kepada-Nya, menghamba kepada-Nya, maka dengan sangat mencengangkan kitapun jadi mampu “berteman” dengan rasa takut kita. Bahwa sebenarnya percikan rasa takut itu hanyalah sebuah perlambang saja dan tidak akan melukai kita. Kitapun akhirnya bisa melihat bahwa rasa takut kita itu sebenarnya adalah sebentuk EKSPRESI ALLAH jua kepada kita.

YA itu rasa takut kita adalah ekspresi kedatangan-Nya dalam bentuk lain kepada kita. Itulah Ekspresi kedatangan-Nya sebagai Al Qaabidh القابض Maha Menyempitkan, Al Muntaqim المنتقم Maha Penyiksa, Al Khaafidh الخافض Maha Merendahkan. Sebab entah kenapa, seandainya saja Allah menyodorkan ekspresi-Nya kepada kita dengan cara-cara yang kita inginkan. Misalnya saja dengan Allah menyodorkan ekspresi kedatangan-Nya dengan cara menurunkan seporsi makanan yang sedap untuk dicerna dan ditata apik pula di dalam sebuah piring emas, tetap saja kita tidak akan dapat mengenali-Nya. Barulah kita berseru, “Ya Rabb…, Ya Allah…, Ya Tuhan”, saat Dia menyatakan ekspresi kedatangan-Nya secepat dan sekuat topan, sedahsyat badai, dan sekuat gelombang lautan…

Sementara setiap keraguan kita sebenarnya juga adalah ekspresi-Nya kepada kita sebagai Al Waliyy الولى Maha Melindungi, Ar Ra`uuf الرؤوف Maha Pengasih, Ar Raqiib الرقيب Maha Mengawasi. Semua itu untuk menjaga kita agar kita tidak terperosok kedalam jurang dan kesengsaraan lebih lanjut. Dengan begitu setiap ada keraguan kita, walau kepada-Nya sekalipun, itu adalah bentuk peringatan-Nya kepada kita bahwa kita mendekati jurang yang tidak seharusnya kita dekati.

Dengan menyadari bahwa rasa ragu dan rasa takut kita sebenarnya adalah bentuk-bentuk Eskpresi Allah kepada kita agar kita terlindung dari luka dan penderitaan lebih lanjut, kita bisa lebih bersikap kepada-Nya. Kita bisa lebih berserah kepada-Nya. Kita bisa lebih menghamba kepada-Nya.

YA Allah…, terima kasih pengajaran-Mu pagi ini kepada hamba…
Alhamdulillah…

Salam
Deka

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: