Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2015

Ilham itu akan tetap menjadi misteri yang Agung, yang dengan itu kita akan selalu hidup dalam keadaan harap-harap cemas dan rindu yang membara kepada Allah. Sehingga dengan begitu, mau tidak mau kita akan selalu menggantungkan segala harapan kita kepada Allah agar Allah berkenan memberikan kepada kita ilham tentang ketaqwaan. Sebab kalau kita tidak mendapatkan Ilham Taqwa, berarti saat itu kita sedang mendapatkan ilham fasiq atau fujur. Sesederhana itu…

 

Dengan adanya misteri itulah ternyata Allah akan berkenan untuk menuntun kita. Allah sendiri akan menuntun kita untuk merasakan nikmatnya beribadah kepada-Nya. Sahabat saya, Ustadz AS menggambarkan keadaan itu dengan sangat menakjubkan:

 

“Alhamdulillah, nikmatnya seperti hari-hari di bulan Ramadhan dan seperti di Mekkah dan Medinah. Karena yang di pikirkan dan yang dikerjakan hanya ibadah untuk memperoleh Ridha-Nya”.

 

“Selalu ingat kepada-Nya sampai Rindu yang tak tertahankan. Persis seperti yang dinyanyikan Evi Tamala, kemanapun…, dimanapun…, sedang apapun…, rindu pada-Nya. Nggak apa-apa sudah menjadi orang sinting”.

 

“Kok bisa ya?. Apa gerangan yang memenuhi pikiran dan ingatan ini, sampai rela bangun tengah malam dan bergegas shalat 23 rakaat…, puasa…, duduk termenung merindukan berhari-hari, berminggu-minggu?. Ada ada dengan diri ini?”.

 

Ternyata keadaan seperti yang dialami Nabi SAW dan para shalihin pada masa yang lalu bisa pula kita rasakan saat sekarang ini. Walaupun kadar yang kita dapatkan itu tidak seujung kukupun dari apa yang beliau-beliau dapatkan, namun ternyata itu sudah sangat menenteramkan. Siang kita bekerja seperti biasa, tapi malam kita bisa beribadah dengan sepuas hati. Puasa dan ibadah-ibadah sunnah jadinya menjadi sebuah kebiasaan yang kalau tidak dilakukan akan membawa diri kita merana. Aneh memang. Tapi mau bagaimana lagi…?.

 

Begitulah cara ilham bekerja. Kita akan melakukan apa-apa yang diilhamkan oleh Allah kepada kita. Dan itu akan menentukan masa depan kita. Boleh jadi kita pada awalnya dilahirkan sebagai orang Islam dan dikeluarga yang Islam pula. Akan tetapi kalau di akhir hidup kita sudah ditakdirkan bahwa kita akan menjadi penghuni neraka, maka pada akhir-akhir kehidupan kita, Ilham tentang kefasikan dan kefujuran akan mengantarkan dan memaksa kita untuk masuk ke neraka itu. Kita akan berbuat fasik dan fujur menjelang ajal menjemputa kita.

 

Boleh jadi juga, kita dilahirkan di dalam keluarga yang beragama lain yang bukan Islam, akan tetapi kalau akhir kehidupan kita sudah ditulis bahwa kita akan menjadi penghuni syurga, maka pada saatnya Ilham akan mengantarkan kita untuk beramal dengan amalan-amalan penghuni syurga.

 

Artinya, tidak ada satupun perbuatan kita yang tidak tertulis di Lauhul Mahfuz. Semuanya sudah ditulis, dan bahkan sudah disiapkan pula ILHAM untuk menzhahirkan perbuatan kita itu. Kita tidak akan bisa marah tanpa adanya ilham marah yang turun ke dalam hati kita. Kita tidak akan bisa korupsi kalau tidak ada ilham, untuk kita melakukan korupsi itu, turun ke dalam hati kita. Kita tidak akan bisa berzina, bermaksiat, menganiaya orang, mencuri, iri, dengki, memakan makanan yang haram, dan perilaku negatif lainnya tanpa itu didahului dengan turunnya ILHAM FUJUR kedalam hati kita. Tidak bisa.

 

Sama halnya juga, kita tidak akan pernah bisa beriman, khusyu dalam beribadah, bersedekah, berbuat baik, memakan makanan yang halal, tidak iri dan dengki, sabar, tidak mencuri, dan berbagai perbuatan positif lainnya tanpa itu didahului dengan turunnya ILHAM TAQWA ke dalam hati kita. Tidak bisa.

 

Bersambung…

Read Full Post »

Ternyata selama ini saya, dan barangkali hampir sebagian besar umat Islam, tidak patuh kepada apa yang dikatakan oleh Al Qur’an dan Al Sunnah. Misalnya, “awaluddin makrifatullah”, bahwa awal dari agama itu adalah Makrifatullah, mengenal Allah. Sederhana sekali untuk mengawali agama Islam itu. Mengenal Allah…!. Tapi itu tidak kita laksanakan sama sekali. Padahal mengenal Allah itu bisa kita berikan kepada anak kecil sekalipun, dan juga kepada orang yang paling awam.

Hal berikutnya yang tidak kita patuhi adalah tentang Dzikrullah, MENGINGATI ALLAH. Dengan sederhana Al Qur’an mengatakan bahwa mengingat Allah itu adalah seperti kita mengingat ayah kita (abaa akum), Al Baqarah 200. Mengingat Allah itu juga dikatakan Al Qur’an adalah di dalam JIWA kita, Al A’raaf 205. Dengan mengingat Allah di dalam jiwa kita, seperti kita mengingat ayah kita, maka sikap tadarruk dan takut kita kepada Allah ternyata lahir dengan sendirinya. Rasa tadarruk dan takut itu seperti dihadiahkan oleh Allah ke dalam hati kita, sehingga kitapun tidak perlu lagi memanggil-manggil Allah sambil berteriak-teriak.

Kita juga tidak perlu lagi menyediakan waktu-waktu khusus untuk berdzikir seperti yang saya lakukan dulu di dalam praktak Tarekat. Sebab, ternyata kita bisa ingat kepada Allah kapan saja dan di mana saja. Mau berdiri, mau duduk, mau tiduran, mau pagi, mau petang, mau malam, di dalam shalat dan di luar shalat, insyaalah kita ternyata bisa mengingati Allah. Bahkan saat kita dikamar mandipun kita bisa mengingati Allah.

Akan tetapi petunjuk Al Qur’an inipun juga tidak kita patuhi dan lakukan. Kita mengingat Allah malah di dalam Jantung, di dalam dada, di dalam Cakra-cakra atau lathaif-lathaif. Ia nggak bisa. Wong jantung, dada, cakra, dan lathaif itu TIDAK BISA mengingat apa-apa kok, apalagi kalau hanya di dalam gerakan keluar masuknya nafas kita. Semua itu tidak bisa MENGINGAT ALLAH. Jadilah dengan itu kita hanya bisa menyebut dan menyebut, wirid dan wirid, komat dan kamit, tanpa kita bisa mengingat Allah sedikitpun.

Tentang kepatuhan dan ketidakpatuhan ini, saya punya pengalaman yang menarik. Suatu ketika saya harus pergi kesuatu tempat di Jakarta. Alamatnya, kalau dicari di peta, akan sangat sulit sekali menemukannya. Jalannya kecil, masuk gang, dan lingkungannya juga sangat padat sekali. Istri saya sudah khawatir kalau-kalau kami tidak sampai kealamat yang akan dituju. Tapi saya tenang-tenang saja, karena saya punya peta interaktif yang bisa menuntun, yaitu W..E, yang ada di Ip.d saya. Alamat tujuan tinggal saya ketik, lalu Go…

Saya tinggal hanya mengikuti saja arahan dari W..E. Disuruh ke kiri, saya kekiri, disuruh kekanan saya kekanan, disuruh berputar saya berputar. Ada juga yang tidak saya ikut arahannya. Saya melawan dan mencari jalan lain. W..E langsung mengingatkan bahwa saya salah jalan dan mengkalkulasi ulang arah yang harus lewati. Cuma saja jaraknya agak menjadi lebih jauh, tapi saya tetap sampai di tujuan.

Kepada petunjuk yang dibuat oleh manusia saja, kalau kita patuhi, kita akan mendapatkan manfaat yang sangat besar di dalam kehidupan kita. Apalagi kepada petunjuk yang telah disiapkan oleh Allah untuk kita dalam menjalani kehidupan ini, yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Tentu manfaatnya akan sangat besar sekali bagi kesejahteraan hidup kita.

Akan tetapi Al Qur’an dan As Sunnah itu mempunyai nilai khusus yang sangat mencengangkan. Ia akan berbicara kepada siapa saja sesuai dengan keadaan HATI kita masing-masing. Karena ia memang adalah gambaran keadaan HATI seluruh Umat Manusia dan bahkan gambaran dari seluruh seluk beluk Ciptaan dalam menjalani takdirnya masing-masing.

Hampir seluruh isi Al Qur’an dan As Sunnah itu bercerita tentang seluk-beluk Lauhul Mahfuz dan Perlakuan Allah terhadap segala sesuatu yang ada di Lauhul Mahfuz itu. Perlakuan Allah terhadap sedikit Dzat-Nya yang telah Dia sabda dengan Firman KUN, sehingga Dzat-Nya yang sedikit itu kemudian berubah menjadi Lauhul Mahfuz, tempat dimana segala peristiwa, segala ciptaan, dan segala keadaan terzhahir menurut Takdir yang telah ditetapkan-Nya.

Begitu Allah berfirman KUN kepada Dzat-Nya yang sedikit itu, maka Dzat-Nya yang sedikit itu langsung dilindungi-Nya dengan 70 lapis cahaya. Sebab Dzat-Nya yang sedikit itu telah berubah SIFAT menjadi Bahan Dasar bagi terciptanya semua yang berkenaan dengan Ciptaan. Kalau tidak dilindungi-Nya dengan 70 tabir cahaya, maka pastilah semua Ciptaan akan kembali hancur musnah karena terpandang kepada Keagungan Dzat-Nya Yang Maha Indah.

Saat firman KUN itu juga selesailah tergambar sebuah rencana yang Maha Lengkap yang tidak melupakan satu hal sekecil dan sesepele apapun juga. Semua sudah lengkap. Untuk kita masing-masing, juga telah ditentukan pula takdir yang akan kita lalui. Apakah kita akan menjadi orang yang berjalan di jalan ketaqwaan ataukah sebaliknya di jalan kefasikan, semua sudah dituliskan. Untuk mengantarkan kita berjalan di jalan ketaqwaan atau kefasikan itu, sejak firman KUN itu, telah disiapkan pula ILHAM oleh Allah untuk kita masing-masing. Ilham itu akan TURUN pada saatnya ke dalam HATI kita, sehingga mau tidak mau kita akan menjalani takdir kita, sesuai dengan apa-apa yang telah dituliskan itu.

Kalau kita sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang taqwa, maka Ilham yang akan turun kepada kita adalah juga Ilham yang akan mengantarkan kita untuk berbuat taqwa. Sebaliknya, kalau kita sudah ditakdirkan pula oleh Allah menjadi orang yang fasiq atau fujur, maka Ilham yang akan turun kedalam Hati kita adalah ilham tentang bagaimana cara berbuat fasiq.

Ilham yang turun itu akan BERUBAH pada saatnya. Setiap perubahan dari ilham yang turun itu, maka akan berubah pulalah apa yang akan kita perbuat. Akan tetapi perubahan-perubahan itu tetap tidak akan keluar dari apa-apa yang sudah dituliskan untuk kita masing-masing. Hanya saja, sebagai misteri yang agung, kita tidak diberitahu oleh Allah kapan perubahan itu akan terjadi dan apa akhir dari perubahan itu yang akan kita hadapi, kecuali hanya sedikit yang Dia berikan pengetahuan kepada orang-orang yang telah ditetapkan-Nya..

Bersambung

Read Full Post »

Karena ketidakmampuan saya untuk mengamalkan dzikir Tarekat tersebut, maka kemudian pada tahun 2001 saya tinggalkan semua praktek Dzikir Tarekat tersebut untuk kemudian masuk ke dalam Jamaah PATRAP yang pada saat itu dibina oleh H. Slamet Utomo dan Ustad Abu Sangkan. Dalam Jamaah ini saya juga diajarkan untuk berdzikir dan sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir yang diajarkan di dalam Jamaah Patrap ini sudah tidak melalui objek pikir cakra-cakra atau lathaif-lathaif lagi.

 

Sebenarnya dzikir ini sudah cukup bagus, lebih cepat, dan lebih mudah untuk melakukannya dibandingkan dengan dzikir lathaif ataupun meditasi cakra. Kita cukup memulainya dengan memanggil-manggil Allah saja dan kemudian mengikuti saja fenomena-fenomena yang muncul setelah itu. Ada menangis, berteriak-teriak, tubuh bergetar-getar, berguling-guling, berputar-putar, bergerak mengikuti getaran, diam, hening, dan sebagainya menjadi sebuah permainan mengasyikkan yang saya lakukan sampai dengan tahun 2012. Lapangan bola di sebelah rumah dan juga Bumi Perkemahan Cibubur adalah tempat favorit bagi kami untuk melakukan aktifitas yang disebut dengan Patrap Gerak.

 

Tapi akhirnya praktek patrap itu kembali menyeret-nyeret saya untuk “memiliki” segudang pengakuan. Sebab terlalu banyak yang bisa diakui sebagai hasil dari latihan patrap itu yang bisa dianggap sebagai kelebihan saya dari orang-orang yang tidak melakukannya. Tetapi anehnya semakin banyak pula berkurangnya gairah saya untuk bersyariat, misalnya shalat-shalat sunnah (terutama tahajud), puasa sunnah, membaca Al Qur’an, berdo’a, dan ibadah-ibadah sederhana lainnya. Pertanyaan saya tentang rasa dingin yang mengaliri tubuh saat berdzikir dulu, seperti yang dialami Rasulullah saat menerimam wahyu pertama di Goa Hira, juga belum terjawab sama sekali.

 

Akhirnya pada tahun 2012 saya mohon pamit langsung kepada H. Slamet Utomo. Saya akan meninggalkan latihan Patrap dan kemudian saya bergabung total, yang sebelumnya setengah-setengah, dengan Ustad Abu Sangkan yang telah terlebih dahulu keluar dari Jamaah Patrap sejak beberapa tahun yang lalu.

 

Dengan Ustad Abu Sangkan, saya belajar dari beliau tasawuf melalui buku Madarijus Salikin, dan beberapa buku lainnya. Fokus utama yang diajarkan beliau kepada saya sungguh menarik sekali. Dengan Beliau saya mengenal apa yang disebut dengan RIQQAH, yaitu rasa dingin yang sangat sejuk yang mengalir di dalam Dada ketika saya berdzikir. Dan itu memang terasa. Ada riqqah, ada ilham, dan khusyu, dan sebagainya yang memang bisa dirasakan. Apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan saya selama ini mulai terjawab dan terasakan.

 

Hanya saja tetap rasanya ada yang belum saya dapatkan, saya ingin merasakan semua itu dimana saja dan kapan saja. Selama ini saya mendapatkan fenomena-fenomena itu hanya kalau berdekatan dengan beliau, sehingga beliau selalu dan selalu menyalahkan saya dalam berbagai pertemuan. Buku Madarijus Salikin itupun terasa sangat berat untuk saya pahami. Rasanya ada satu konci ilmu yang belum saya dapatkan. Dan itu entah apa…

 

Ustad Abu Sangkan berkali-kali mengatakan bahwa syarat untuk mendapatkan ilmu khusyu, riqqah, ilham, dan sebagainya itu syaratnya adalah: PERTAMA, percaya total kepada RUKUN IMAN KE-6,  dan KEDUA, selalu melakukan TADZKIYATUNNAFS (pembersihan jiwa) dengan terus-menerus Dzikir kepada Allah.

 

Akan tetapi ternyata dua syarat ini pulalah yang menjadi beban terberat bagi umat manusia untuk memenuhinya. Sebab Rukun Iman ke-6 akan membawa kita untuk tidak bergaduh lagi dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Karena Rukun Iman ke-6 ini akan membawa kita kepada paradigma berpikir bahwa apapun yang BAIK dan yang BURUK yang terjadi kepada kita dan kepada orang lain, semuanya itu 100% datang dari Allah. Sehingga tidak ada lagi yang perlu kita pergaduhkan. Semua sudah ditakdirkan, sudah dituliskan, dan sudah diizinkan oleh Allah untuk terjadi. Semua yang terjadi memang sudah harusnya begitu. Ini yang berat. Sangat berat sekali.

 

Sedangkan Dzikir kepada Allah telah menjadi beban berat yang tidak berkesudahan bagi umat manusia dalam mempelajari dan menjalaninya. Dzikir melalui ajaran Tarekat dan juga beralihnya sebagian umat Islam masa sekarang kepada ajaran Hipnoterapi, NLP, dan metoda-metoda New Age Movement lainnya dalam menemukan ketenangan dan kebahagiaan adalah sebagai bukti bahwa Dzikir kepada Allah dianggap orang bukanlah sebuah cara yang paling bagus untuk menyucikan Jiwa.

 

Kalau begitu, mungkinkah Dzikir kepada Allah ini hanya akan bisa dilakukan oleh segelintir orang saja?, yaitu Wali-Wali Allah saja?.  Dan kita sebagai umat kebanyakan ini hanya bisa meneguk air liur saja menyaksikan orang-orang yang dianggap sebagai Wali-Wali Allah itu menikmati Dzikir mereka kepada Allah…

 

Pada bulan Februari tahun 2014, dengan sebuah cara yang tidak terduga, saya bertemu dengan Arif Billah, Ustad Hussien BA. Latiff di Singapore. Awalnya saya “terklik” sebuah video di Youtube yang berjudul “Syarahan Makrifatullah”. Setelah itu saya telah terbang saja ke Singapore untuk mengikuti seminar Beliau tentang Ilmu Dasar yang diperlukan kalau kita ingin mengikuti Tasawuf Jalan Nabi-Nabi. Dan sejak itulah paradigma berpikir dan beribadah saya menjadi berubah dengan sangat drastis.

 

Pelajaran Makrifatullah ternyata telah membuat saya menjadi percaya penuh kepada Rukun Iman ke-6. Bahwa apapun yang baik dan buruk yang menimpa kita dan orang lain, semuanya itu datang dari Allah. Paradigma itu begitu CLEAR dan tak terbantahkan, sehingga satu syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh umat manusia alhamdulillah sudah bisa terpenuhi. Tinggal satu syarat lagi, yaitu Dzikir kepada Allah.

 

Pelajaran tentang Hati dan Mata Hati, dan Dzikrullah dari Ustad Hussien BA Latiff, telah melengkapi Pelajaran Makrifatullah yang telah saya dapatkan sebelumnya. Sehingga dengan sangat menakjubkan hal itu, alhamdulillah, telah membawa saya pula menjadi sangat mudah untuk MENGINGATI ALLAH. Saya mencoba mengkonfirmasi apa yang saya rasakan dan dapatkan itu kepada beberapa orang teman yang juga telah melakukannya. Jawaban mereka sungguh melegakan. Mereka mendapatkan hal sama dengan apa yang saya dapatkan, bahkan ada banyak orang yang mendapatkan lebih baik lagi dari apa yang saya dapatkan.

 

Bersambung

Read Full Post »

Selama beberapa tahun, 1999-2001, saya mendawamkan praktek Dzikir menerusi sebuah Tarekat yang saya ikuti itu. Karena sebelumnya saya juga sudah sering berlatih mengolah cakra-cakra ala meditasi Hindu di sebuah perguruan silat, maka ketika melakukan Dzikir melalui beberapa Cakra di dalam dada, yang disebut Lathaif, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk melakukannya. Kalau dulu, saat melatih cakra-cakra, saya mengkhayalkan bulatan cahaya dan merasa-rasakan getaran pada setiap cakra, maka di tarekat yang saya ikuti itu saya hanya mengganti objek pikirnya itu dengan huruf Allah yang dihunjamkan ke dalam lathaif-lathaif yang sedang saya dzikiri.

Kalau dalam meditasi cakra dikenal adanya proses Attunement (penyelarasan getaran) antara guru dan murid. Proses ini adalah pembukaan atau Inisiasi sebelum murid bisa melakukan meditasi. Guna inisiasi ini katanya adalah untuk membuka aliran energi dipanjang cakra-cakra, sehingga dengan begitu murid akan lebih mudah untuk merasakan aliran energi dan getaran disetiap cakra yang akan dibersihkan dalam meditasi itu. Attunement ini bisa dilakukan dalam jarak dekat ataupun dalam jarak jauh. Salah satu persyaratannya kalau ingin dari jarak jauh adalah dengan MEMBAYANGKAN wajah sang Inisiator atau Attuner sambil kita merasa-rasakan getaran pada cakra tertentu. Setelah itu barulah sang murid dianggap bisa melakukan meditasi dari cakra terbawah (dasar) sampai ke cakra Mahkota.

Puncak pencerahan dalam meditasi Cakra ini adalah naiknya Kundalini dari cakra dasar sampai mencapai Cakra Mahkota yang berada diatas Ubun-ubun. Dan setelah itu sang murid sudah bisa pula disebut menjadi orang yang suci. Orang yang katanya punya berbagai kelebihan dibandingkan dengan orang-orang biasa.

Dalam dzikir Tarekat yang saya ikuti, proses attunement ini disebut dengan ber-Bai’at dan ber-Rabithah kepada Mursyid yang Kamil Mukamil. Yaitu mursyid yang katanya punya silsilah keilmuan sampai kepada Rasulullah SAW, Malaikat Jibril, dan Nur Muhammad. Salah satu persyaratan untuk bisa mulai berdzikir adalah juga dengan membayangkan wajah Guru Mursyid. Dengan Rabithah itu, membayang wajah Mursyid, dikhayalkan adanya keselarasan rohani antara murid dengan gurunya, dan dengan guru-guru sebelumnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril, dan Nur Muhammad. Harapannya dengan begitu adalah, kalau kita sudah sampai melihat Nur Muhammad, maka setelah itu barulah kita bisa melihat Allah, karena Nur Muhammad itu adalah setengah dari Nur Allah.

Saya telah mencoba mencari dalil-dalil tentang proses Rabithah ini di dalam Hadist-Hadist. Tapi tidak pernah saya temukan satupun hadist yang menyatakan bahwa Abu Bakar Siddiq Ra, Umar bin Khattab Ra, Usman bin Affan Ra, dan Ali bin Abi Thalib Ra membayangkan wajah Rasulullah dulu sebelum Beliau-beliau itu berdzikir. Tidak pernah. Begitu juga dalam sejarah Tabi’in dan Tabiut Tabi’in, mereka juga TIDAK melakukannya. Proses Rabithah ini baru muncul 400 tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Yaitu semenjak maraknya praktek tasawuf tarekat dilakukan umat Islam.

Kan aneh sekali sebenarnya, suatu aktifitas yang sangat penting dan sangat mendasar sekali, yaitu Dzikrullah (mengingati Allah), malah kita mulai dengan mengingati suatu objek pikir yang bukan Allah, yaitu wajah orang yang kita jadikan sebagai mursyid kita. Saya sangat setuju dengan pendapat Ustad Hussien BA. Latiff yang menyatakan bahwa membayang wajah guru mursyid seperti itu adalah sebuah SYIRIK YANG SANGAT BESAR.

Karena proses Dzikrullah itu, yang seharusnya mengingati Allah, malah dimulai dengan sebuah kesyirikan, maka hasilnya ternyata juga telah menyulitkan umat Islam sendiri. Semenjak proses rabithah yang dipraktekkan dalam tasawuf Tarekat mulai menyebar luas ke berbagai penjuru dunia, ditambah lagi dengan peristiwa dendam mendendam antara Sunni dan Syi’ah, maka sejak itu mulailah zaman kegelapan menyelimuti peradaban umat Islam. Walaupun Islam menyebar luas keberbagai benua, namun umat Islam tidak serta merta berhasil mendapatkan penghormatan masyarakat dunia seperti yang seharusnya.

Sejak itu, Allah telah memperlihatkan bagaimana jadinya kalau umat Islam tidak lagi mengingati Allah (SYIRIK). Sehingga akibatnya Umat Islam tidak bisa lagi menjadi Umat yang berkualitaskan Ulul Albab, yaitu umat yang bisa membaca hikmah-hikmah dari setiap ciptaan dan setiap peristiwa. Umat Islam juga telah berubah dari umat yang seharusnya menjadi rahmatan lil ‘alamin menjadi umat yang saling salah menyalahkan, umat yang saling bunuh-bunuhan.

Sebagian besar Umat Islam malah menjadi asyik sendiri berdzikir membersihkan lathaif-lathaif. Untuk itu sang murid diwajibkan melakukan berbagai dzikir yang jumlahnya bisa puluhan bahkan sampai ratusan ribu kali dalam sehari semalam. Sebelum berdzikir, murid harus rabithah dengan membayangkan wajah guru terlebih dahulu. Kemudian barulah berdzikir. Saat berdzikir itu sang murid harus pula memasukkan objek pikir berupa kalimat ALLAH kedalam setiap lathaif yang harus didzikirinya. Kalau dzikir itu dilakukan dalam sebuah prosesi SULUK, maka “penyiksaan” terhadap tubuh lebih berat lagi. Tidur, makan, berdzikir dilakukan di dalam kelambu diruangan yang kurang cahaya. Makanan yang mengandung daging juga dikurangi. Saya pernah menjalaninya selama 15 hari.

Puncak pencapaian di dalam tasawuf Tarekat ini sungguh merupakan sebuah maqam yang sangat-sangat sulit untuk dicapai. Sang Murid akan merasa dianugerahkan oleh Allah berupa Ruh Al Quds dalam bentuk Nur Muhammmad yang akan berfungsi sebagai guru sejati bagi sang murid. Di sini pulalah nantinya akan muncul perasaan tentang Wahdatul Wujud, Hulul, Fana Fillah, Baqa Billah, dan sebagainya, seperti yang telah diterangkan dalam artikel-artikel sebelumnya.

Karena cara, objek pikir, dan aktititas yang dilakukan antara Meditasi Cakra (misalnya Reiki), dan Tasawuf Tarekat itu nyaris sama saja, maka hasilnya pun tidak akan banyak berbeda pula. Yang membedakannya hanyalah istilah-istilah atau bahasa keagamaannya saja. Tapi mengenai perasaan, kesaktian, dan kehebatannya tidak bayak perbedaan sama sekali. Ada kemampuan OBE, ada kemampuan untuk melihat hal-hal yang gaib (khasyaf), bahkan sampai kepada terbukanya mata ketiga.

Semuanya itu mempunyai keasyikan tersendiri, sehingga kadangkala itu malah MELUPAKAN kita untuk INGAT kepada ALLAH, membuat kita malas untuk beribadah seperti shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Sebab berdzikir dan bermeditasi terasa jauh lebih enak dari pada shalat, puasa, membaca Al qur’an, dan ibadah-ibadah lainnya. Aneh memang…, tapi nyata.

Bersambung

Read Full Post »

Jawabannya juga sangat logis sekali.

 

Ketika kita bermain-main dengan khayalan dan imaginasi kita tentang seluk beluk cakra, warna, bentuk, dan getaran-getaran, maka berarti saat itu kita sedang mengalirkan data dan informasi dari luar ke dalam Hati kita melalui port atau terminal Otak Kanan kita. Dengan begitu, maka otomatis pula informasi yang melalui terminal Otak Kiri kita menjadi terhenti. Makanya selama pengolahan cakra demi cakra itu, kita seperti bisa terbebas dari keramaian Logika Bahasa dan Matematis yang memang salurannya adalah melalui Otak Kiri kita. Otak kiri kita itu sekarang menjadi Silent dan tidak gaduh lagi dengan berbagai inner ataupun outer chatting.

 

Karena saat itu kita sedang mengkhayalkan warna, bentuk, dan getaran-getaran, maka RUH akan memastikan khayalan dan imaginasi kita itu terwujud seperti apa yang kita khayalkan. RUH akan patuh mengantarkan kita untuk merasakan warna, bentuk, dan getaran-getaran itu sesuai dengan khayalan yang kita punyai. Sekarang khayalan-khayalan kita itu akan menjadi Objek Ingatan kita yang akan kita ingat-ingat setiap saat. Setiap kali kita ingat cakra, maka Ruh akan mengantarkan umpan balik dari cakra itu kedalam Hati kita dalam bentuk rasa yang berubah-ubah.

 

Tidak hanya itu, RUH juga akan mengantarkan kita untuk mengujudkan kalau kita kemudian ingin mengolah getaran-getaran itu lebih lanjut untuk berbagai penggunaan. Kalau kita ingin menggunakan getaran itu sebagai Power atau kekuatan, maka RUH akan mengantarkan kita kepada power atau kekuatan itu untuk kita gunakan. Kalau kita ingin menggunakan getaran itu untuk pengobatan, atau untuk keperluan lain, maka RUH juga akan mengantarkan kita untuk bisa melakukannya.

 

Hanya saja banyak yang tidak tahu dan tidak percaya bahwa ketika kita bermain-main dengan alam khayalan itu, maka kita akan segera saja ditemani oleh iblis atau syaitan. Karena setiap kali INGATAN kita melenceng dari INGAT kepada Allah Yang Maha Rahman, maka seketika itu juga Allah akan mengirimkan syaitan sebagai teman kita. Syaitan itulah yang akan menambah-nambah khayalan kita, sehingga kita akan bergerak dari satu khayalan ke khayalan lain. Karena memang syaian sudah ditakdirkan oleh Allah untuk tugas yang seperti itu.

 

RUH, dengan setia, akan mengantarkan kita mengujudkan khayalan-khayalan itu, sehingga kitapun merasa BISA ini dan itu. Karena merasa bisa, maka kitapun akan merasa ADA dan WUJUD. Kita akan mudah sekali untuk mengucapkan kata-kata sebagai penanda akan beradaan dan kewujudan kita itu. Ungkapan pengakuan, “Aku…, milikku…, pendapatku”, segera saja mengalir dengan deras keluar dari mulut kita. Pengakuan-pengakuan kita itu akan langsung bertabrakan dengan pengakuan orang lain yang juga sedang mengaku-ngaku. Akibatnya, terjadilah tabrakan pengakuan yang menimbulkan kegaduhan. Gaduh dan ramai sekali…

 

Walaupun RUH mengantarkan kita kepada alam-alam khayalan seperti itu, akan tetapi Sang RUH akan sangat menderita dan tersiksa sekali. Karena semua alam khayal itu punya getarannya masing-masing yang sangat kasar, dan ditambah pula adanya resonansi dengan getaran yang dipunyai oleh syaitan. Padahal RUH mempunyai kedekatan yag amat sangat dengan Allah. Oleh sebab itu, karena RUH dibawa kepada alam-alam getaran yang sangat rendah, maka RUH yang tersiksa itu akan menggetarkan tubuh kita, bahkan kadangkala kita sampai terguling-guling dan muntah-muntah.

 

Dulu saya tidak tahu kenapa bisa tubuh saya dan juga teman-teman saya bisa bergetar-getar dan bahkan sampai kelojotan ketika BERDZIKIR mengikuti cara sebuah TAREKAT dan juga ketika mengikuti dzikir dengan cara PATRAP. Walaupun setelah beberapa saat getaran itu memang menghilang dan diganti dengan suasana tenang dan luas, tapi itu tetap membuat saya terheran-heran dan bertanya-tanya. Dulu Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat Beliau juga mengalami hal yang seperti inikah?.

 

Pertanyaan dan keheranan itu tetap saya pendam cukup lama. Saya menghibur-hibur diri dengan anggapan bahwa Nabi saat menerima wahyu pertama kali di Gua Hiro juga bergetar dan merasa kedinginan sehingga Beliau minta diselimuti oleh Istri Beliau, Bunda Khadijah. Apalagi setelah merasakan diam, tenang, dan luas itu saya disuruh untuk membaca sesuatu yang turun. Ada memang getaran-getaran yang terasa turun dan mengalir ke dalam tubuh, dan kadang ada pula bahasa-bahasa dalam bentuk pengertian yang datang bersama getaran itu. Namun getaran itu tidak membawa RASA DINGIN seperti yang dirasakan oleh Rasulullah sehingga Beliau minta diselimuti oleh istri Beliau.

 

Bersambung

Read Full Post »

Sempurna…, Maha Sempurna…!.
ILHAM…, demikianlah cara Allah memaksakan kepada setiap jiwa untuk melakukan segala sesuatu, dalam bentuk sifat-sifat yang terbaca dan terlihat, yang akan membuat jiwa itu sempurna pula dalam menjalankan peran dan tugas yang sudah ditakdirkan untuknya.
.
Dengan ilham itulah:
Mau tidak mau, Malaikat akhirnya harus mau menjalankan takdirnya sebagai makhluk yang selalu berdzikir kepada Allah.
Mau tidak mau, Adam AS harus memakan buah Khuldi agar Beliau bisa turun ke bumi untun menjalankan tugas Beliau, karena Bumi memang sudah disiapkan untuk Beliau dan keturunan Beliau. Dan mau tidak mau, Beliau serta keturunan Beliau akan selalu pula menghadapi godaan demi godaan dari Iblis.
Mau tidak mau, Iblis juga harus mau menjalankan tugasnya yang akan selalu menggoda manusia untuk berbuat tidak baik.
.
Kalaulah semua itu bukan karena ILHAM dari Allah tentang sesuatu yang sudah ditetapkan dan dituliskan-Nya di Lauhul Mahfuz, siapakah kalau begitu yang menggoda Malaikat untuk pada awalnya mempertanyakan penciptaan Adam AS ?. Dan siapa pula yang menggoda Iblis untuk berani menolak perintah Allah agar sujud kepada Adam AS?.
.
Akan tetapi, selalu ada jiwa-jiwa yang kemudian diberikan sebentuk kesadaran oleh Allah untuk bisa melihat Hakekat dari peran atau takdir yang sedang dijalankan oleh masing-masing pelakon itu. Sehingga bagi mereka sudah tidak ada lagi kekaguman ataupun kebencian terhadap peran-peran dan pemeran-pemeran dari peran-peran itu. Karena ternyata Allah sendirilah  yang TELAH mengilhamkan kepada sedikit dari Dzat-Nya sendiri. Sehingga dari Dzat-Nya yang sedikit itu bermunculanlah berbagai peran sebagai bentuk pendzahiran dari Ilham itu.
.
Karena itu dari Dzat-Nya sendiri, Makanya Allah MENEGASKAN:
Akulah yang Dzahir dalam bentuk peran-peran itu.
Akulah yang Batin disebalik Yang Dzahir itu.
Akulah yang membunuh,
Akulah yang memanah,
Akulah yang mengilhamkan kebaikan.
Akulah yang mengilhamkan kejahatan.
Daripada Akulah yang baik-baik terdzahir, dan
Daripada Akupulalah yang jahat-jahat terdzahir.
.
Ada masalah…?

Read Full Post »

Agama Hindu ini adalah sebuah agama yang menyimpang dari Agama Hanif (LURUS) yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS. Penyimpangan itu dimulai oleh SHAMIRI yang karena kebingungan untuk mengkaji dan menjelaskan Dzat Tuhan kepada kaumnya, akhirnya dia terperosok kepada sikap yang menganggap SAPI adalah Wujud dari TUHANNYA. Mereka akhirnya menjadi umat yang menyembah sapi. Keturunan mereka lalu sampai ke India dan beranak pinak di sana.

Walaupun saat itu mereka menyembah Sapi sebagai Tuhannya, atau paling tidak sekarang ini mereka menganggap sapi adalah hewan yang Suci, namun secara samar-samar mereka masih ingat terhadap ajaran Nabi Ibrahim AS yang berlandaskan Tauhid. Mereka masih ingat bahwa Nabi Ibrahim menyembah Tuhan yang tidak bisa dirupakan dan diserupakan, serta tidak bisa diumpamakan. Mereka menyebut Tuhan dari NABI IBRAHIM AS itu dengan nama BRAHMAN.

Sebagai manusia yang telah dibekali oleh Allah ingatan kepada Allah sejak kita semua lahir, mereka juga masih punya naluri untuk bisa kembali mengingat-ingat Allah sebagai alamat tempat bergantung mereka dalam keadaan apapun juga. Mereka ingin bisa kembali mengingat BRAHMAN, Tuhan dari Nabi Ibrahim AS. Akan tetapi karena apa-apa yang mereka lakukan saat itu sudah sangat lama dan sangat jauh menyimpang dari cara-cara Nabi Ibrahim AS mengenal Allah, maka merekapun menjadi bingung sendiri untuk melakukannya.

Mereka bingung bagaimana caranya untuk mengosongkan PIKIRAN mereka dari berbagai Objek Pikir yang telah memenuhi HATI mereka. Sementara untuk,  memahami BRAHMAN, mereka tahu bahwa BRAHMAN itu tidak bisa DIPIKIRKAN, tidak bisa DIRUPAKAN, tidak bisa KHAYALKAN. Ada konflik di dalam Hati mereka.

Entah bagaimana awalnya, maka muncullah kemudian konsep KHAYALAN tentang pembersihan PIKIRAN dengan jalan berkonsentrasi atau menumpukan Pandangan Mata Hati mereka kepada beberapa bagian tubuh mereka yang ada di sepanjang Tulang Belakang. Mulai dari bawah (di Tulang Ekor) sampai ke ubun-ubun (di atas kepala). Tempat-tempat tersebut mereka sebut dengan CAKRA, yang menjadi TITIK KONSENTRASI atau tempat MENGHENTIKAN PIKIRAN mereka untuk sesaat dari begitu banyaknya Objek Pikir  yang sebelumnya sudah ada di dalam Hati Mereka.

Cakra itu bukan hanya sekedar objek konsentarasi saja, tetapi juga kemudian menjadi Objek Khayal bahwa di dalam Cakra-cakra tertentu ada pula warna-warna dan energi-energi tertentu yang sedang bergetar disana. Jadi ketika mata hati ditumpukan kepada Cakra-cakra tertentu, maka mata hati mereka mengkayalkan warna-warna tertentu, bentuk-bentuk tertentu, dan getaran-getaran tertentu. Mereka mulai dari Cakra Dasar dan bergerak terus sampai ke Cakra Mahkota.

Karena sudah ada objek pikirnya, yaitu Cakra-cakra, dan sudah ada pula khayalannya yang harus dilihat oleh mata hati, yaitu warna-warna dan getaran-getaran, maka RUH akan memastikan semua yang dikhayalkan itu akan TERWUJUD dan TERLAKSANA. Begitu mereka berkonsentarasi kepada sebuah cakra, maka RUH akan mengantarkan agar mata hati mereka akan melihat warna-warna tertentu, dan hati akan merasakan pula getaran-getaran tertentu. Dengan begitu, maka mereka akan lupa dengan berbagai objek pikir lainnya yang selama ini telah menyengsarakan mereka.

Mereka menafikan pikiran-pikiran mereka yang selama ini sangat banyak, dan mengisbathkan warna, bentuk, dan getaran-getaran dengan cara berkonsentrasi kepada sebuah pikiran saja yang berkenaan dengan cakra. Bagitulah, mereka akan mengolah Cakra Dasar terlebih dahulu, lalu kemudian mereka menafikan cakra dasar itu untuk mengisbathkan cakra berikutnya yaitu cakra sex dengan segala warna dan getarannya pula. Setelah itu mereka akan menafikan cakra sex untuk mengisbathkan cakra solar plexus. Begitulah seterusnya sampai akhirnya mereka mengishbatkan cakra mahkota dengan segala fenomenanya tentunya.

Perjalanan yang mirip dengan proses nafi-isbath Nabi Ibrahim AS itu, yang dimulai dari mengolah cakra dasar sampai kepada cakra mahkota, akan memakan waktu yang sangat lama dan dengan praktek-praktek yang tidak mudah. Ia akan menyita waktu dan tenaga kita, sehingga fungsi kita dalam kehidupan di dunia ini akan menjadi terbengkalai, Kita jadi sibuk bermeditasi siang dan malam. Kita akan meninggalkan kehidupan normal untuk menjadi seorang PERTAPA, yang kalau di India sana identik dengan orang-orang  yang rambutnya awut-awutan, pakaian tidak terurus, dan tidak punya keluarga. Tetapi, seperti juga mereka, kita bisa menjadi sakti. Kita bisa berbuat sesuatu yang tidak bisa diperbuat oleh orang-orang biasa yang tidak terlatih.

Kita seperti sudah tidak bermain di tingkatan alam materi lagi. Kita seperti telah menafikan alam materi dan mengisbathkan alam energi sebagai objek konsentrasi kita. Kita sudah mengeksplorasi alam energi dan alam vibrasi sehingga menimbulkan daya-daya yang bisa mengubah peran dan sifat materi menjadi permainan-permainan yang sangat mengasyikkan. Perginya selalu ke situ. Dan inilah cikal bakal kita akan berperilaku seperti DUKUN-DUKUN, TOK BOMOH, SHAMAN, PENYEMBUH berbagai PENYAKIT dengan memakai energi dan vibrasi, dan sebagainya.

Kenapa bisa hampir selalu begitu?.

Bersambung

Read Full Post »

Older Posts »

%d blogger menyukai ini: