Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2018

Mohd Zain Othman:

Aslkm ustaz.. Maaf kalau2 saya mengganggu ustaz. Saya ada kemuskilan untuk di tanya kepada ustaz.

Pertama:  Jasad kita berfungsi melalui arahan dari hati setelah mendapat ilham dari LM. Pertanyaan saya ialah: adakah ilham itu datang terus dari al-mustawa (di mana pena di tempatkan) di dalam LM.

Kedua: tentang skrip kita yang tergantung di leher kita apakah yang ini juga di ilhamkan kepada hati melalui LM? Atau bagaimana cara nya ustaz. Harap dapat pencerahan ustaz, terima kasih.

Utd Hussien Abdul Latiff:

Waalaikum salam slm pak Zain.

Makna hati mendapat arahan dari LM merujuk kepada skrip yang sudah tergantung di leher kita iaitu buku Takdir kita yang datang dari LM sesuai dengan firmanNya bahawa hendaklah kita hidup mengikut kitab ini sehingga hari kebangkitan.

Arahan di al Mustawa adalah untuk malaikat-malaikat (untuk dijalankan) kerana Allah swt tidak berhubung langsung dengan mereka seperti nabi-nabi walaupun kekadangkali, wahyu itu turun melalui al Mustawa untuk disampaikan ke nabi-nabi seperti Jibrail as menyampaikan wahyu kepada Rasulullah saw.

 

Buku Takdir dileherketerangan buku takdir

Hal ini membatalkan anggapan orang yang banyak beredar di masyarakat saat ini.

Bahwa selama ini banyak orang yang mengaku-ngaku dapat ilham ini dan itu karena dia melakukan suatu amalan-amalan atau aktifitas-aktifitas tertentu yang dengan itu ia merasa menjadi orang yang sangat istimewa, orang yang dapat menerima dan membaca ilham akibat dari apa yang ia amalkan.

Ternyata pandangan seperti ini adalah pandangan orang yang BUTA. Pandangan orang yang merasa WUJUD.

Sedangkan bagi orang yang sudah celik, ia sudah tahu bahwa sebenarnya dirinya adalah tidak wujud, sehingga iapun paham bahwa ilham yang dimaksudkan oleh Allah swt yang diberikan untuk semua manusia berupa ilham Taqwa dan Ilham Fujur adalah apa-apa yang sudah tertulis di dalam buku taqdir masing-masing manusia yang sudah digantungkan dileher setiap manusia sejak ia dilahirkan. Dari buku takdir itulah turun arahan-arahan untuk dikerjakan dan diamalkan oleh tiap-tiap orang selama ia masih hidup di dunia.

Dan ilham itu akan berakhir dihari kematiannya. Karena di alam Barzah sudah tidak ada lagi Skrip yang harus dijalankan. Di alam Barzah itu jiwa-jiwa hanya tinggal menunggu hari Kebangkitan,

Iklan

Read Full Post »

Banyak orang di 10 malam terakhir ramadhan berbondong-bondong iktikaf dimasjid, terutama di malam-malam ganjil 21, 23, 25, 27, dan 29. Semuanya seakan terfokus untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Sebuah malam yang sangat di damba-dambakan oleh umat Islam untuk mendapatkannya, yang kemulyaan malam itu setara dengan 1000 bulan.

 

Pada tanggal 22 Juli 2013 saya sempat menulis tentang menyambut Lailatul Qadr ini dengan memakai paradigma berpikir lama. Bahwa tungguhlah Lailatul Qadr itu dengan: “membawa URUSAN untuk membantu Allah memperjuangkan agama-Nya. Islam. Kita hanya datang dengan menyatakan kesiapan kita secara tulus dan teguh. Bawalah urusan itu kepada Allah, sehingga Allahpun kemudian mempunyai urusan dengan kita. Ketika Allah sudah punya urusan pula dengan kita, maka urusan Allah kepada kita itu pastilah dalam bentuk pemberian segala fasilitas yang dengannya kita bisa menjalankan urusan kita dengan sempurna untuk memperjuangkan agama Allah”.

 

Sekilas ungkapan diatas sungguh bagus dan logik sekali. Akan tetapi dengan paradigma berpikir yang baru, paradigma makrifatullah, “bahwa barang siapa yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya, maka ia akan menyadari bahwa ia ternyata adalah tidak wujud”, maka ungkapan diatas terasa sangat jumawa sekali. Ungkapan orang yang wujud dan punya kehendak untuk memaksa-maksa Allah Swt.

 

Padahal, kriteria dan siapa-siapa yang akan mendapatkan malam Lailatul Qadar itu sudah ditetapkan oleh Allah Swt sejak Firman Kun.

 

  • Bagi orang yang memang sudah dipilih oleh Allah untuk mendapatkan anugerah Tugasan tertentu, maka JIWANYA (Ruh dan Mindanya) akan akan diangkat kelangit melalui pintu langit berwarna merah marun yang hanya terbuka selama 10 menit saja di malam ke 29 Ramadhan.

 

Untuk itu, bagi yang mendapat anugerah tugasan ini, mereka ini sudah dilatih secukupnya oleh Ilahi sebelumnya, dan apabila sampai masanya untuk mendapat tugasan mereka, dan Jiwa mereka di bawa naik, maka di mana pun mereka berada, maka lailatul qadar akan datang menjemput mereka.

Dan kalau sudah mendapatkan tugasan seperti ini, maka waktunya 100 % akan terpakai untuk menjalankan tugasan itu seperti halnya juga matahari yang bertugas tanpa henti siang dan malam untuk menyinari setiap sisi bumi.

 

  • Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak terpilih untuk mendapatkan sebuah tugasan tertentu dari Allah?.

 

Itulah indahnya Kasih Sayang dan Rahmat Allah untuk Ummat Nabi Muhammad SAW. Walaupun seseorang sudah ditetapkan untuk tidak mendapatkan suatu tugasan tertentu, di malam Lailatul Qadar itu, ibadah-ibadah dan doa’doa mereka akan tetap mendapatkan pahala yang besar dan Rahmat-Nya. Sebab malam itu memang adalah malam yang penuh dengan keampunan dan rahmat-Nya.

 

Diatas semua itu, ada tugasan atau tiada tugasan kenapa diambil kira, itu semua ada di dalam skrip. Toh akhirnya apabila kita sudah di alam barzah, semua skrip akan tertinggal di dunia dan tiada lagi dipedulikan.

 

Oleh sebab itu Arif Billah Ustadz Hussien BA Latiff, hanya berwasiat kepada kami: “teruskan Dzikrullahmu disamping ibadah-ibadah yang lain, karena kalian memang sedang dan masih dilatih oleh Ilahi”.

 

Salam…

Read Full Post »

Rio Benny Arya:

Assalamualaikum ustadz.

 

Saya tiba-tiba teringat dengan ayat “Faman kana yarju liqaa-rabbihi, falya’mal amalan shalihan ….. Maka barangsiapa yang berharap akan menemui Tuhannya, hendaklah ia *mengerjakan amal kebajikan*.

 

Dan teringat juga dalam satu kesempatan, ustadz pernah mengutip sebuah hadits, dimana Rasulullah SAW berkata kepada Ali, jika orang lain mendekati Allah SWT dengan *amal*, maka wahai Ali dekatilah Allah dengan *mindamu*.

 

Jika berkenan, mohon dijelaskan kembali ustadz. Apa bedanya dua approach ini ?

 

Terimakasih ustadz

 

Utd Hussien Abdul Latiff:

Waalaikum salam.

 

Amal kebajikan adalah amal yang awam.

 

Amal dengan mindamu ini adalah amal yang tinggi, lebih tinggi dari sedeqah segunung emas ataupun jihad. Inilah  amalan Dzikrullah.

 

  • Amalan ini adalah amalan yang senyap lagi tidak berbunyi dan tidak kelihatan di mata orang ramai.
  • Amalan ini hanya bisa diamalkan oleh mereka yang dikatakan sebagai “Orang-Orang Allah swt”. Yaitu orang-orang yang hati mereka sudah tenteram lalu dijemput oleh Allah swt: “Hai jiwa yang tenteram, kembali kepada-Ku dan masuklah ke dalam jemaah-Ku.”

 

Dzikrullah adalah:

 

  1. Line, Link, atau saluran Telekomunasi langsung kepada Allah swt:

 

  • Firman-Nya: “Engkau ingat Aku, Aku ingat kau.”.
  • Begitu juga hadith, “Engkau ingatKu dalam dirimu (mindamu), Aku ingatmu dalam DiriKu (DzatKu)”

 

  1. Saluran yang dapat kalian berhubung langsung dengan Allah swt. Yaitu di dalam Shalat, selepas Shalat dan dalam hidup keseharian.

 

  1. Saluran yang dapat kalian pakai untuk menceritakan apa jua masalah kalian kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh Nabi Ayub as dan Nabi Yakub as. Inilah pintu Do’a.

 

  1. Saluran yang dengannya kalian dapat menyatakan akan Keyakinan kalian yang sudah tidak berbelah bagi lagi atau mutlak kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as semasa di bakar, Mashita semasa di campak ke dalam khawah minyak yang mendidik, ahli sihir firaun semasa mahu dibunuh oleh firaun, dll.

 

  1. Saluran yang melaluinya kalian dapat menyatakan rasa kerinduan kalian yangsangat dalam kepada-Nya.

 

  1. Saluran yang melaluinya kalian bisa berhubungan langsung sambil duduk di Pintu Belakang atau Base Camp.

 

  1. Saluran yang melaluinya Allah swt mengirim Jemputan-Nya kepada kalian untuk menjadi “Fana”, yang akan membawa kalian ke Alam Sakinah.

 

  1. Saluran tempat turunnya naiktaraf (promotion) kalian dari Allah swt.

 

  1. Saluran tempat turunnya ilmu-ilmu yang akan meninggikan kefahaman dan paradigma kalian.

 

  1. Saluran yang akhir sekali adalah saat Allah swt menjadikan kalian Perkakas atau Boneka Ilahi.

Read Full Post »

Perkataan Arif Billah…,

Anakku, karena ilmu kamu dalam Makrifatullah sudah tinggi maka Ayah akan memperkatakan pula berkenaan 3 macam Makrifat.

 

Makrifat maknanya mengenal yang membawa kepada menjadi spesialis atau mahir atau bijaksana atas sesuatu perkara. Seperti kekata melayu, “Hanya Jauhari mengenal manikam” Kalau hanya mengenal sahaja itu belum makrifat.

 

Bersandarkan pengertian di atas ini, makrifat bisa dibahagi kepada:

 

  1. Makrifat Sifat – Mereka bermakrifat kepada Rupa, dan mereka Spesialis atau mahir atau bijaksana kepada bahagian-bahagian Rupa seperti rambut, muka, bentuk badan dll.

 

Apabila mereka berjumpa sesama sendiri dalam bahagian kemahiran mereka tertentu, mereka akan ngobrol dengan mendalam penuh dengan kemahiran lagi  bijaksana berkenaan perkara yang mereka sama-sama bermakrifat. Seperti ngobrol berkenaan:

  1. Rambut – lembutnya, halusnya, cantiknya,.panjangnya, warnanya dll.
  2. Muka – bentuknya, hidungnya, bibirnya, giginya, pipinya dll
  3. Bentuk Badan – “Size” nya, tingginya, pinggangnya, perutnya, gaya dll.

 

Mereka akan adakan peraduan (lomba) seperti Miss World, Miss Olympic, Miss Universe, Miss Asia dll.

 

Hanya mereka yang bermakrifat Sifat tertentu inilah yang tahu apa yang diperhatikan, dicari, diterima, ditolak dan sebagainya dalam peraduan-peraduan (perlombaan-perlombaan) ini.

 

Yang tidak bermakrifat Sifat tidak akan mengerti obrolan mereka, karena hanya mereka sendirilah yang faham akan bahasa makrifat (Sifat) mereka.

 

  1. Makrifat Hakikat – Mereka bermakrifatkan af’al atau perbuatan (Dzat). Mereka mahir lagi bijaksana berkenaan af’al-af’al tertentu seperti musik, nyanyian, lakonan, kesenian, penyakit, mesin, angkasa lepas, sains dll.

 

Apabila mereka berjumpa, mereka akan ngobrol tentang af’al tertentu ini. Kita yang bukan dalam golongan mereka mendapati sukar untuk memahami kata-kata mereka.

 

Mereka adalah spesialis dalam bidang-bidang tertentu. Contoh, dokter melihat tanda-tanda penyakit pada tubuh seorang pesakit akan tahu apakah penyakit yang pesakit alami. Atau mekanik ketika mendengar bunyi mesin mobil akan tahu apa yang perlu diperbaiki.

 

Inilah mereka yang bermakrifatkan Hakikat.

 

  1. Makrifatullah – Inilah penghujung makrifat.

 

Mereka yang dalam golongan ini, ilmu mereka sudah mengatasi makrifat Sifat dan Hakikat dan sudah sampai ke penghujung jalan iaitu Makrifatullah. Ibarat sudah menafikan Sifat dan Hakikat lalu kelihatan ekor (gajah) yang kecil, lalu mereka segera mengerti bahawa ekor itu walaupun kecil namun ia adalah sebahagian dari gajah, dan kalau ekor itu bergoyang ini adalah kerana gajah yang mengoyangkannya.

 

 

Maka setelah itu kita boleh merumuskan hal hal seperti berikut ini:

 

  1. Mereka yang tidak bermakrifat adalah mereka yang dhaif di atas perkara-perkara yang bersabit (berkaitan dengan kata-kata makrifat diatas). Kalau mereka mendengar kata-kata makrifat (Sifat, Hakikat atau Makrifatullah) mereka tidak mengerti atau mereka langsung tidak ada minat.

 

  1. Mereka yang bermakrifat adalah mereka yang spesialis, mahir dan bijaksana dalam bidang yang berkait.

 

Namun apabila kita kaji atau renungkan kemahiran atau kebijaksanaan ini, kita dapati ia bukanlah hak individual, akan tetapi ia akan dikongsikan dengan sesama mereka sehingga menjadilah:

  1. Satu kefahaman atau pengertian.
  2. Satu bahasa.
  3. Satu keluarga yang besar, tidak kira di mana tempat mereka berada.
  4. Satu Hati.

 

Selain dari yang tersebut di atas ini, kefahaman dan pengertian berkenaan ilmu ini bertambah dengan masa yang dapat diterima lagi difahami oleh mereka semua.

 

Nah, sekarang kita lihat pula kepada ilmu yang tidak benar serta natijahnya:

 

  1. Tiada penerangan yang jelas lagi memuaskan. Guru dan murid pun pusing karena kedua-duanya tiada kefahaman akan ilmu yang disampaikan atau dipelajari.
  2. Tidak ada satu bahasa yang dapat menunjukkan atau mencerminkan kefahaman, karena kesemua mereka pusing serta jalannya juga samar-samar.
  3. Tidak ada keluarga besar kerana banyak yang lari karena tidak ada kefahaman apa yang hendak disampaikan serta pusing.
  4. Kerana tidak ada kefahaman akan ilmu yang hendak disampaikan lagi pusing maka sukarlah untuk mereka bersatu hati.

 

Maka rumusan yang dapat menunjukan  ilmu itu benar ialah:

  1. Satu kefahaman
  2. Satu bahasa
  3. Satu keluarga besar
  4. Satu Hati

 

Kita bisa melihat fakta – fakta di atas ini dalam kumpulan para saintis, kedoktoran, bijak pandai ilmu hisab dan lain lain lagi. Juga ilmu mereka bukan sahaja “stagnant” (terhenti) malahan berkembang. Kerana itu kumpulan mereka masih ada lagi berkembang.

 

Lalu bagaimana bagi orang yang menyadari jamaal atau jalaal Allah?

 

Prof Abubaker Atjeh ada menulis bahawa Hakikat membawa seseorang itu kepada Makrifat.

 

Maka apabila seseorang itu makrifat hakikat (disebalik semua adalah Dzat) dan sejurus dari itu dia sadar bahawa Allah swt melihat, mendengar dan sebagainya menerusi (melalui) Dzat-Nya, maka di sini makrifat Hakikatnya menjadi Makrifatullah. Pada masa ini Jamal dan JalalNya akan terasa olehnya, lalu Makrifat Hakikat baginya berubah menjadi Makrifatullah.

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: